Aku meringis saat mendengar teriakan Lizzie kepadaku yang saat itu ada dirumah keluarga Kudo dalam jam les dengan Subaru.
"Bagian dari apa dari 'jangan menarik perhatian' yang tidak kau mengerti? Kenapa pula kau bisa ada di London?" serunya marah.
Aku menjauhkan smartphone-ku dari telingaku.
Subaru terlihat menahan senyum, melihatku kelabakan menghadapi kemarahan Lizzie.
"Habis aku harus bagaimana? Gadis itu hampir saja merusak rancangan kematian warna merah! Aku harus menghentikannya. Dia juga salah satu dari kita..." tukasku. "Dan sepertinya dia kurang paham soal rancangan kematian jadi aku harus menjelaskannya supaya dia tidak menarik perhatian mereka..."
Gadis yang kumaksud bernama Lucille yang tinggal bersama keluarganya di England, London. Aku bertemu dengannya di bandara saat hendak kembali ke Jepang. Aku berhasil menghentikan gadis itu yang berniat menyelamatkan warna merah yang sepertinya ditakdirkan untuk mati dalam kecelakaan pesawat.
Gadis itu sangat terkejut dan lega melihat seseorang selain dirinya yang data kematiannya tak terlihat. Aku pun berusaha menjelaskan kepadanya soal rancangan warna pada kematian. Akan tetapi aku dikejutkan oleh fakta bahwa dia sebelumnya buta dan dia menjalani transplantasi kornea mata beberapa minggu yang lalu.
"Lalu, apa saja yang kau beritahukan kepadanya?" tanya Lizzie dengan gemas.
"Aku hanya memberitahu dia bahwa dia tidak seorang diri. Ada beberapa orang lain yang sama seperti aku dan dia. Aku tak menyebutkanmu atau Caleb." jawabku buru-buru. "Lagipula, ini juga salah kau dan Caleb, kenapa kalian susah sekali dihubungi? Saat aku disana bersama dia, aku berusaha menghubungi kalian tapi kalian tak mengangkat telepon dariku!" tukasku jadi agak kesal. "Lucille itu sama tapi juga beda dengan kita!"
Aku pun menjelaskan soal transplantasi kornea mata yang dijalani Lucille. "Katanya dia terbangun, awalnya belum melihat data kematian orang-orang tapi lalu perlahan-lahan jadi melihatnya... Dia sempat mengira operasinya gagal karena dia melihat yang aneh-aneh tapi lalu dia mulai menyadari orang-orang yang mati sesuai tanggal yang dilihatnya..."
"Jadi kemungkinan pendonor kornea mata gadis itulah pemilik mata shinigami yang sebenarnya ya?" ujar Subaru tiba-tiba menimbrung percakapan kami.
Aku membelalakkan mata menyadari kemungkinan itu. "Apakah mata shinigami benar-benar bisa ditransfer ke orang lain dengan cara itu?" tanyaku kepada Lizzie.
"Ini pertama kali kudengar soal semacam ini." ujar Lizzie. "Aku akan mencari tahu soal pendonor asli mata tersebut. Ini bahaya. Jika sampai para pemburu mengetahui soal ini, aku khawatir mereka akan menyalahgunakan informasi ini." Gadis itu terdengar serius dan tegang membuatku jadi tertekan juga.
"Tunggu, bagaimana dengan Lucille? Bukankah kita harus melakukan sesuatu untuk keamanan dia? Jika para pemburu mengetahui keberadaannya..."
"Kirimkan informasi dia kepadaku. Kau...ada bertukar informasi dengannya, bukan? Nomor telepon, email atau alamat rumahnya?" tanya Lizzie dengan nada sedikit merendahkan.
"Aku kirim informasinya kepadamu...sekarang." tukasku dengan sebal.
Setelah mengakhiri percakapan dengan Lizzie, aku mendesah dengan berat hati. Aku menoleh kepada Subaru yang tengah mengamatiku dengan serius.
Subaru menepuk kepalaku. "Jika kau mau, saya juga akan membantumu untuk mengamankan gadis itu. Saya memiliki beberapa koneksi di London yang bisa membantu mengawasinya dari jauh." ujarnya. "Saya juga agak penasaran soal informasi pendonor mata gadis itu..."
"Apakah Kakak bisa lebih cepat mencari tahu soal itu?" tanyaku.
"Akan saya usahakan secepatnya." jawabnya kalem. "Ayo, sekarang fokus pada PR-mu."
Aku mengerutkan hidungku dengan tidak senang.
Seusai jam les hari itu, sebelum pulang, aku memberikan sebuah kotak kecil berisi gelang tali berbandul sosok seorang astronot. Seharusnya gelang itu terlihat netral untuk dipakai kaum Adam maupun Hawa. "Ini untuk Kak Subaru. Dipakai yah!" pintaku tak tahu malu sambil tertawa sepolos mungkin.
Subaru terpana melihat gelang itu sebelum tersenyum kecil. "Terima kasih, Eva." Dia lalu mengelus-ngelus kepalaku.
Sebenarnya gelang tali berbandul sosok seorang astronot itu ada 2 buah karena katanya bisa dianggap gelang couple. Rencananya yang satu ingin kuberikan kepada Amuro. Bukannya aku ingin menjadikan mereka berdua couple, walau aku tahu dalam fandom DC, memang banyak yang nge-ship keduanya. Aku pun sebenarnya tak mempermasalahkannya, walau aku lebih nge-ship mereka dengan lawan jenisnya seperti Jodie atau Azusa.
Dalam pandanganku, aku memberi dua buah gelang yang sama persis kepada Subaru dan Amuro lebih seperti menyatakan bahwa kedua orang ini adalah favoritku dan mungkin sedikit seperti 'menandai' mereka dengan gelang itu. Tapi karena aku 'hanyalah' anak kecil semata, hadiah itu benar-benar harmless, tidak merugikan juga.
Aku juga menyiapkan macam-macam souvenir kecil untuk semua karakter manga DC yang aku kenal. Aku juga menyiapkan hadiah untuk Miyuki dan Yuka. Aku menitipkan hadiah untuk Yuka kepada orangtuanya karena anak itu masih saja menolak keluar kamar atau untuk ke sekolah.
777
Aku tersenyum-senyum memandangi pergelangan tangan Amuro yang terjemat gelang astronot pemberian dariku. Aku memanjakan mataku dengan sosok orang itu yang dengan gesit bergerak menyiapkan makanan untuk para tamu di Poirot.
Aku mendengar desahan para gadis yang merupakan penggemar seorang Amuro. Mereka bahkan membicarakan soal gelang yang dipakai Amuro, penasaran siapa yang memberikan gelang itu kepadanya dan bertanya-tanya apakah yang memberikannya adalah kekasih orang itu.
Aku menyembunyikan senyumanku dibalik tanganku, merasa menang sendiri.
"Kenapa tampangmu seram begitu?"
Aku membelalakkan mata dengan kaget mendengar ada yang menyapaku. Tahu-tahu aku melihat Yohan berada disampingku sambil menyeruput minuman chocolate milkshake. Mulutku menganga sesaat melihat dia. Aku baru menyadari bahwa waktu berhenti berjalan disekitarku.
Aku terpana sesaat sebelum menyadari sesuatu dan aku langsung melototi dewa kematian satu itu. "Seram apanya?" tukasku kesal.
Yohan mengamatiku lalu menunjuk kepada Amuro. "Kau suka dengan dia?" tanyanya.
Wajahku memerah ditanya secara blak-blakan seperti itu soal perasaanku kepada orang itu.
Yohan memutar bola matanya seakan bosan. "Aku ada tugas untukmu."
Aku mengerutkan dahi dengan bingung. "Tugas?"
"Kau bekerja untukku, ingat?"
"Sejak kapan?!" tanyaku dengan tidak rela.
"Sejak aku mengatakannya barusan." jawabnya seenaknya.
Ugh, rasanya aku ingin menimpuk botol kecap ke kepala orang ini. Dia sepertinya tahu bahwa aku sebal kepadanya karena dia menampilkan senyum yang sangat memprovokasi.
Tiba-tiba beberapa dokumen jatuh dari atas entah darimana, jatuh dengan rapi dimeja depanku. Aku melongo heran memandangi dokumen-dokumen tersebut.
"Apa-apaan ini?"
"Baca."
"Semuanya?"
Yohan menatapku dengan sinis. "Kenapa? Otak kecilmu tidak sanggup bahkan untuk membaca beberapa dokumen?"
"Aku tak suka denganmu." tukasku.
"Sama-sama." balasnya.
Aku membuka dokumen pertama. Isinya file tentang data kematian seorang wanita. Dikatakan wanita itu akan mati dalam kecelakaan, namun foto yang terjemat pada dokumen tersebut memperlihatkan kondisi mengenaskan wanita itu yang sepertinya mati dibunuh. Aku kebingungan akan hal ini dan menoleh menatap Yohan seakan ingin meminta penjelasan namun dia menyuruhku membaca dokumen-dokumen lainnya.
Kira-kira isinya semua sama. Orang-orang yang mati sesuai tanggal kematiannya namun mereka tidak mati sesuai dengan kematian yang dirancangkan untuk mereka, malah mereka mati dibunuh semua. Dan para korbannya ini dari berbagai usia, dari anak kecil sekitar 12 tahunan (sepantaran dengan ragaku saat ini) sampai seorang kakek berusia 70 tahunan. Cara mereka dibunuh pun berbeda-beda juga seakan si pembunuh tengah bereksperimen dengan mereka.
Entah kenapa aku merasakan seperti aku mengenali kasus yang mirip dengan ini.
Beyond Birthday.
Aku membelalakan mataku saat aku menyadari sesuatu soal kasus ini.
Kalau tidak salah ada novel sampingan dari Death Note yang menceritakan soal seorang pembunuh serial yang dikatakan memiliki mata shinigami. Aku belum pernah membaca novel tersebut tetapi Beyond Birthday sering disebutkan dalam beberapa fanfiction untuk fandom Death Note dan salah satunya menceritakan bahwa Beyond Birthday memilih korbannya yang juga memang akan segera mati juga. Aku tak tahu bahwa itu benar atau tidak mengingat aku belum membaca novelnya yang katanya melibatkan Naomi Misora. Berbicara soal Naomi Misora, aku sangat sedih karena tokoh wanita itu tak sempat membalaskan dendamnya kepada Kira. Sungguh sangat disayangkan pengarangnya memutuskan untuk mematikan tokoh tersebut.
Aku menggeleng-gelengkan kepala keras-keras menyadari pikiranku jadi melenceng.
Yohan masih saja mengamatiku dengan cermat.
"Yang membunuh mereka...apakah orang yang memiliki mata shinigami sepertiku?"
Yohan tersenyum seakan puas.
"Kau mau aku melakukan apa dengan semua ini?"
Yohan mengangkat bahu dengan cuek. "Cari pelakunya. Banyak detektif disekitarmu bukan? Mintalah mereka membantumu. Atau bahkan kau boleh melibatkan teman-teman senasib sepenanggunganmu..."
Tubuhku menegang mendengar perkataannya. "Apa maksudmu?"
Yohan mendengus kecil sembari tersenyum sinis. "Kau pikir aku tak menyadari soal teman-teman sesama jiwa ilegalmu itu?"
Aku tercekat mendengarnya. "Aku tak tahu apa maksudmu."
Dia mendesah. "Terserah jika kau tak mau mengakuinya." Dia meletakkan telunjuknya pada salah satu dokumen. "Aku ingin kau mencari dan menangkap pelakunya..."
"Kenapa?"
"Kenapa? Orang itu seenaknya membunuh orang-orang tak berdosa ini, apakah itu tidak menjadi alasan yang cukup untukmu, gadis kecil?" tanyanya dingin.
Aura hawa dingin mendadak seperti menyelubungi dirinya dan membuatku merasa sesak nafas.
"Jika kau tahu soal keberadaan jiwa ilegal lainnya, kenapa tidak kau sendiri yang menangkap mereka?"
"Apakah kau ingin aku menangkap kedua temanmu itu?"
Aku menelan ludah dengan berat hati, menyadari bahwa dia benar-benar mengetahui keberadaan Caleb dan Lizzie disisiku. "Jika kau tahu soal mereka, kenapa hanya menangkapku saja?"
"Kau menarik...jiwa ilegal pertama yang berada di tubuh anak kecil..." tuturnya. "Aku ingin tahu seberapa lama kau akan bertahan jika dibanding yang lain..."
Aku mengerutkan dahiku. "Bukankah kau bilang aku sekarat? Berarti aku tak akan bertahan selama itu juga bukan? Apanya yang menarik dariku jadinya?"
Yohan menutup mulutnya, memilih tak menjawab namun dia tersenyum sinis.
Aku merasa takut kepada orang ini tapi juga sebal rasanya ingin aku menampar wajah tampannya itu keras-keras.
"Jika kau bisa menangkap orang itu, aku pun akan berdermawan dan membiarkanmu mengambil esensi shinigami miliknya..."
Tubuhku menegang lagi mendengar perkataannya. "A-apa?"
"Tak usah pura-pura bodoh. Aku tahu kau tahu." ujarnya dengan tampang bosan. "Kau ambil esensi miliknya dan kau tak lagi sekarat... Problem solved."
"Kau... Kau ini benar-benar dewa kematian, bukan? Apa kau tahu bahwa kau baru saja menyatakan bahwa kau ingin aku mencabut nyawa orang lain? Walau pun dia juga jiwa ilegal, bukankah semestinya tugasmu membimbing jiwa tersesat seperti kami?"
"Kenapa?"
"Huh?"
"Kenapa kami harus mempedulikan akan kalian para jiwa ilegal yang sudah sengaja mencurangi kematian?"
Aku menelan ludah dengan susah payah. "Bukankah itu sudah tugas kalian sebagai dewa kematian?"
"Kalian semua seperti parasit saja. Jika semuanya bergantung kepada kemauanku, aku akan membiarkan kalian saling membunuh sampai tinggal satu, barulah aku akan mencabut nyawa jiwa satu itu." tukasnya dengan senyum jahat. "Lagipula sepertinya beberapa manusia disini mengetahui soal keberadaan kalian, bukan? Mereka sungguh lumayan membantu saat membantai kalian para jiwa ilegal satu per satu. Lalu, tempat itu...yang akan menyelesaikan sisanya." Dia menatapku dengan sinis. "Masih ingat dengan preview yang kuberikan kepadamu dahulu?"
Aku merasa tubuhku gemetaran. Dewa kematian ini rupanya tidak peduli dengan keselamatan jiwa ilegal, tak ada niat di hatinya untuk mengadili kami dan memberi keputusan terbaik untuk apapun kesalahan kami, besar ataupun kecil, rupanya kami semua hanya akan langsung dijatuhkan ke tempat itu.
Jika demikian, untuk apa aku membantunya? Apapun yang kulakukan...aku hanya akan berakhir di tempat itu, bukan? Rasa putus asa yang sungguh berat mulai menggerogotiku lagi.
"Lagipula kami para dewa kematian tak perlu melakukan terlalu banyak mengenai kalian...karena cepat atau lambat esensi shinigami, yang seharusnya tidak ada pada jiwa manusia biasa, akan memangsa kalian, melenyapkan kewarasan kalian dan membuat kalian merasakan takdir yang lebih buruk daripada kematian."
Perkataan Yohan membuatku teringat perkataan Reina akan nasib buruk bagi para pemilik mata shinigami.
"Walau demikian...kerusakan yang dapat kami lakukan kepada dunia ini...jika ada yang menyalahgunakan kekuatan mereka dan merusak rancangan kematian kalian, apa kalian masih bisa mengatakan tidak peduli?"
Dia tersenyum. "Karena itulah aku merekrutmu, Eva. Aku mengukuhkan dirimu sebagai...tangan kananku untuk menemukan jiwa-jiwa ilegal yang nakal ini... Kau boleh mencabut nyawa mereka atau menyerahkannya kepadaku jika kau tak ingin mengotori tanganmu."
"Aku bahkan tak bisa menggunakan mata shinigami ini untuk menyelamatkan warna kuning, dan sekarang kau ingin aku menjadi judge, jury, executioner untuk jiwa ilegal lainnya? Aku rasa kau merekrut orang yang salah untuk misi ini..." ujarku dengan agak pedih. Aku sangat menyadari kekuranganku. Aku tak memiliki jiwa pemberani layaknya para tokoh utama.
"Jadi, kau menyerah? Begitu saja?" tanya Yohan dengan nada menghakimi. "Mengecewakan..." tukasnya. "Jika demikian, kau tak ada gunanya untukku."
"Tunggu! Aku tak bilang aku tak mau melakukannya, bukan?" tukasku sembari menahan rasa takutku, menyadari sedetik lagi dia kemungkinan akan mencabut nyawaku dan mengirimku ke tempat itu.
Yohan tersenyum puas. "Good luck then." Lalu sosok dia memudar dan waktu kembali berjalan.
"Brengsek..." makiku dengan suara gemetaran.
Tubuhku juga masih gemetaran dan aku memeluk diriku sendiri, mengusap-ngusap kedua lenganku ingin mengusir rasa dingin dalam diriku.
Barulah aku menyadari dokumen-dokumen didepanku tadi sudah tak ada, tetapi ada USB drive tertinggal di meja. Aku segera mengantongi USB drive tersebut sambil berpikir apa yang sebaiknya kulakukan sekarang.
Aku menoleh ke arah Amuro dan kebetulan dia juga sedang melihat ke arahku. Dia tersenyum cemerlang kepadaku. Aku benar-benar dibuat silau olehnya. Dan sepertinya bukan aku seorang yang merasa demikian karena para penggemar orang itu sampai heboh sendiri juga. Kehangatan senyum orang itu mengurangiku rasa takut nan dingin yang menggerogotiku namun aku tak bisa membalas senyumnya dengan baik. Aku hanya tersenyum lemah.
Tiba-tiba aku mendapat panggilan telepon dari Miyuki. Aku mengangkat telepon untuk berbicara dengan anak itu, ada baiknya supaya aku bisa melupakan sejenak ketakutanku tadi dan mengalihkannya kepada anak ini...temanku. Aku mendengarkan perkataan Miyuki dan mataku membelalak lebar setelah mendengar perkataannya.
Aku beranjak berdiri kemudian lari keluar dari Poirot, meninggalkan tasku dan bahkan aku belum membayar pesananku. Aku berlari tanpa mempedulikan panggilan Azusa ataupun Amuro.
Aku berlari secepat yang aku bisa namun sayangnya stamina-ku memang tidak begitu bagus. Dengan nafas terengah-engah, akhirnya aku berhasil sampai ke tempat tujuanku. Rumah Yuka.
Miyuki mengatakan dia mendapatkan informasi bahwa Yuka dan kedua orangtuanya akan pindah ke luar kota. Aku terkejut dengan pindahan mendadak itu. Aku bahkan belum sempat memperbaiki hubungan dengan anak itu dan aku masih belum mengorek informasi soal Souji pula dari anak itu.
Saat aku tiba, pas saat mobil milik keluarga Yuka sedang melesat pergi dan aku melihat sekilas Yuka yang duduk termenung didekat jendela mobil. Aku tak berdaya menghentikan kepergian mobil itu. Sebersit kesedihan menjalari batinku, rasanya aku merasa seperti kehilangan seorang teman walaupun sebenarnya Yuka itu teman milik Eva yang asli, bukan diriku. Tadinya aku berharap aku bisa mempertahankan hubungan persahabatan yang ditinggalkan Eva yang asli sampai akhir hidupku. Tapi, Nanno sudah tidak ada, dan sekarang Yuka juga. Aku tak punya teman sekarang...
Tidak, aku masih punya Miyuki. Dan dia lebih baik karena aku yang membangun hubungan persahabatan diantara kami, bukan teman yang kuterima dari Eva yang asli. Sebenarnya aku khawatir juga akan kehilangan kedua orangtuaku yang sekarang suatu hari nanti. Entah apakah ini perbuatan Eva yang asli untuk mengambil kembali teman dan keluarga miliknya. Aku merasa agak konyol dengan pemikiran tersebut.
Aku masih merasakan kegalauan dan kepedihan yang amat sangat saat aku melangkah kembali menuju Poirot. Ditengah jalan, aku melihat Amuro yang tengah mengamatiku dengan raut wajah seakan dia prihatin kepadaku. Dia membawa tas ranselku di satu tangan. Dompetku ada padanya dan dia mengatakan dia sudah menyelesaikan pembayaranku yang tertunggak di Poirot. Dia mengamatiku lagi.
"Apa kau baik-baik saja?"
Aku tak bisa menahan airmata yang mendadak merembes keluar. Apakah aku sebegitu terganggu karena Yuka pergi tanpa mengucapkan apapun kepadaku atau bahkan mengucapkan selamat tinggal? Aku tak mengerti kenapa kepergian Yuka sangat menggangguku sampai aku menangis seperti orang bodoh.
Amuro melangkah mendekatiku dan jongkok dihadapanku. Dia menepuk-nepuk punggungku seakan ingin menghiburku. Dia mengeluarkan saputangan dari sakunya dan menghapus airmata yang mengalir deras diwajahku.
Setelah aku agak tenang, Amuro berniat mengantarku pulang namun aku menolaknya karena tak ingin merepotkan dia yang seharusnya masih bekerja di Poirot. Aku merasa malu karena lagi-lagi aku menangis didepan orang ini. Tidak heran orang ini hanya akan melihatku sebagai adik kecil untuk seterusnya juga. Ugh! Sepertinya aku sudah membaik karena pikiranku mulai melenceng lagi.
Catatan Penulis: Saya tidak tahu sebenarnya ada yang membaca dan menyukai cerita ini atau tidak, jika ada, mohon dukungan moralnya dengan meninggalkan komentar pendukung semangat supaya hati penulis jadi senang juga. Terima kasih.
