Aku membuka mataku dan menyadari aku berada di dalam kegelapan. Aku kebingungan. Tiba-tiba aku merasakan hawa dingin yang membuatku menggigil. Aku menyadari ada sosok dibelakangku. Perlahan-lahan aku menoleh dan dibelakangku tampak makhluk berwajah menyeramkan dengan tubuh besar yang meringkuk mengerikan.

Makhluk itu memandangiku dengan kedua mata hitamnya. "Belatung. Belatung sialan! Berani-beraninya kau mencuri buku-ku!" pekiknya. Kedua tangannya yang panjang dan terlihat agak kurus kering mengarah ke arahku seakan ingin menangkapku, mencekikku. "Kembalikan Death Note-ku!"

Aku menjerit dan meronta-ronta namun aku merasakan kesulitan untuk bergerak.

Aku memekik kecil sebelum aku jatuh ke lantai dengan keras. Aku perlahan-lahan membuka mataku dan menyadari yang membuatku sulit bergerak adalah selimut yang menutupi tubuhku. Dengan agak linglung, aku melihat sekelilingku dan mulai bernafas lega menyadari bahwa aku hanya mimpi buruk.

Aku dengan gemetaran naik lagi ke atas ranjang, lalu aku meminum segelas air dari meja disamping tempat tidurku perlahan-lahan supaya tidak tersedak. Aku melirik ke arah laci meja belajarku. Aku beranjak berdiri dan melangkah dengan agak oleng.

Aku membuka laci dan melihat kotak berisi Death Note. Aku langsung menjatuhkan diri ke lantai sembari menjambak rambutku dengan gemas.

Sial, ternyata benaran ada. Aduh, Reina, kau ini hendak membantuku atau ingin memperumit kehidupanku?

Aku kembali mengunci laci tersebut. Aku tak ingin memikirkan soal buku tersebut. Aku bertekad tak akan menggunakan buku tersebut.

Situasiku saja sudah rumit. Aku harus menyembunyikan baik-baik benda itu. Aku mendesah galau. Aku merasa tengah menyembunyikan alat kejahatan saja. Dan jika teringat mimpi burukku tadi, aku merasa seperti pencuri saja jadinya. Aku sungguh berharap mimpiku itu hanya mimpi buruk belaka bukan suatu peringatan dari...siapapun pemilik asli Death Note itu.

777

Aku memandangi kue terbaru keluaran kafe Poirot dan jadi teringat akan kemungkinan signature yang ditinggalkan si pembunuh.

Setelah berminggu-minggu menyelidiki kasus dari Yohan bersama dengan Subaru, Caleb dan Lizzie, akhirnya mereka menemukan kesamaan pada korban. Sepotong kue ulang tahun selalu ditemukan di tiap rumah korban tetapi diletakkan di tempat yang tidak begitu menarik perhatian. Kadang kuenya seperti sudah setengah dimakan.

Menurut Lizzie, daripada sebuah birthday cake, sepertinya lebih pantas disebut deathday cake, mengingat para korban memang meninggal di hari yang telah dijadwalkan dewa kematian. Lizzie bertanya-tanya apakah kue yang ditinggalkan oleh si pelaku adalah sebuah permainan yang menggunakan birthday dalam Beyond Birthday jadi apa mungkin pelakunya juga memiliki pengetahuan manga Death Note?

Rasanya aku kurang bisa percaya jika ada psikopat yang membaca manga dalam keseharian mereka tapi siapa yang tahu...

Tetapi sepertinya signature yang berupa deathday cake itu benar-benar nyata karena dalam minggu saat kami menyelidikinya, ada jatuh korban baru lagi dan dirumahnya juga ditemukan sepotong kue.

Aku meringis saat mendengarkan penjelasan Caleb tentang korban terbaru. Menurutnya, penyiksaan terhadap korban makin lama makin sadis. Subaru melarangku melihat foto TKP atau foto hasil pemeriksaan mayat korban yang menurutnya tak baik bagi anak kecil sepertiku, membuatku merasa sedikit sebal karena aku bukan anak kecil tulen tetapi aku bersyukur juga karena aku sebenarnya tak tahan melihat yang gore. Menonton film yang ada adegan semacam itu saja membuatku mual dan biasanya aku hanya menutup mata di bagian yang mengerikan. Dan sekarang aku berada di dunia dimana adanya pembunuh sadis yang mampu melakukan kekejaman semacam itu dan itu adalah nyata, bukan palsu seperti di film-film.

Amuro tiba-tiba meletakkan sepotong kue didepanku padahal aku tidak memesannya. Katanya aku kelihatan seperti ingin makan kue. Sebenarnya itu tidak benar tetapi aku tidak enak menolaknya karena dia sudah mengantarkannya padaku. Aku pun menampilkan senyum gembira didepan orang itu dan mulai memaksakan diri untuk makan kue tersebut, setidaknya setengahnya saja. Tetapi mataku melebar setelah memasukkan potongan kue ke mulutku, rasanya enak. Aku agak pemilih soal kue dan kue ini benar-benar sesuai seleraku. Aku menoleh kepada Amuro dan tersenyum lebar kepadanya sembari memujinya bahwa kue itu benar-benar enak.

Sehabis makan kue, aku mengamati Amuro yang tengah mencuci piring. Wajahnya kelihatan tentram. Aku menyadari dia masih memakai gelang astronot pemberianku. Tadinya aku kira dia bakal melepasnya setelah mengetahui bahwa Subaru juga memakai gelang yang serupa.

Azusa sedang tidak ada ditempat, sepertinya keluar melaksanakan tugas dari Bos Poirot dan saat itu kafe sedang agak sepi. Menurutku ini menjadi kesempatan untuk menanyakan kepada Amuro, memastikan apakah diriku yang di masa depan memiliki kesempatan dengan orang ini.

Ah, aku ini konyol, saat seperti ini saja, apa masih penting mengutamakan soal perasaan? Ugh, kenapa setiap aku ingin melakukan hal yang aku suka, yang mungkin membawa energi positif, aku malah diberatkan seperti ini? Seakan bagian dari diriku percaya bahwa aku tak pantas merasa bahagia.

Aku menggeleng-gelengkan kepala, berusaha mempertahankan kepositifan. Lakukan apapun yang aku mau, bukan? Life, for me, is about to get short.

Aku menatap orang itu dan aku jadi ingat aku pernah menggodanya dengan menyatakan perasaan sukaku kepadanya di depan Mama, Conan, Ran dan yang lain. Saat itu, Amuro hanya tersenyum lembut kepadaku. Dia mengatakan dia menghargai perasaan sukaku kepadanya tetapi dia sedang tidak memikirkan soal romansa untuk jangka waktu saat itu.

Aku bahkan menanyakan apakah karena aku masih anak kecil dan aku memintanya untuk menungguku karena beberapa tahun lagi usiaku akan legal. Wah, benar-benar seperti lagu oldies, don't cry Joni, bukan? Orang itu tertawa sabar kepadaku dan hanya mengelus kepalaku.

Mama kelihatan senang karena Amuro bersikap layaknya gentleman dan bahkan ikut menggodanya bahwa dia tidak keberatan jika Amuro menjadi pacarku di masa depan saat usiaku sudah legal.

Terima kasih atas dukungannya, Mama!

Wajah Amuro saat itu sedikit memerah tetapi dia tidak mengatakan apapun. Aku jadi sedikit tidak enak karena menggodanya sedemikian rupa.

Dan melihat dia saat ini aku hanya bisa mendesah. Aku tahu bahwa jangka waktu hidupku sudah tak berapa lama kecuali aku benar-benar berniat untuk mencabut nyawa si pembunuh itu untuk mendapatkan esensinya. Jika tidak, aku bahkan tak akan hidup cukup lama untuk melihat sendiri bagaimana akhir pertarungan Conan dan yang lain dengan organisasi hitam. Dan yang paling penting jika ada kemungkinan untuk diriku yang di masa depan untuk memiliki kesempatan bersama dengan orang ini atau orang yang satu lagi tetapi menyangkut Shuichi, mungkin lebih tidak mungkin.

Berpikir bahwa akhir hidupku sudah tak lama lagi, aku memutuskan untuk bersikap jujur akan perasaan suka-ku kepada Amuro walau mungkin perasaanku kepadanya itu dangkal dan sudah jelas sebenarnya bertepuk sebelah tangan.

Tanpa pikir panjang lagi, aku mengatakan kepada orang itu bahwa aku sangat menyukainya. "Kak Amuro, aku suka padamu."

Amuro memandangiku sesaat dan tersenyum sabar. "Saya juga suka dengan Eva..." tuturnya namun aku merasa dia menjawab hanya sekedar meladeni saja.

Merasa jadi ingin bersikap kekanak-kanakan, aku dengan sedikit cemberut bertanya, "Benarkah? Kau benar-benar suka juga kepadaku? Lebih dari siapapun? Seberapa besar rasa sukamu kepadaku? Lebih besar daripada rasa suka dengan Kak Azusa?"

Dia tersenyum saat aku menyebutkan nama Azusa, membuatku bimbang. "Tentu saja saya suka dengan Eva jika tidak saya tidak akan pergi kemana pun denganmu."

Tetapi aku tahu jelas bahwa dia juga pergi kemana-mana dengan anak-anak lain. Aku tahu benar karena aku membaca manga khusus yang memfokuskan kepada dia. Ugh, rasanya aku tidak percaya bahwa aku cemburu terhadap anak-anak lain. Dasar Eva bodoh.

Berarti sikap dia kepadaku hanya sekedar meladeni saja, hanya sengaja memanjakan tanpa bersungguh-sungguh kepadaku.

"Apakah Kakak bersikap baik kepadaku demi kesopanan dan keramahan saja? Apakah menurutmu aku anak kecil yang rewel dan menyusahkan?" tanyaku dengan tidak adil karena aku tahu orang ini kepadaku memang baik jadi mana mungkin dia akan menyatakan yang sebenarnya jika dia benar menganggapku rewel dan menyusahkan.

Amuro menghentikan apa yang dikerjakannya dan menatapku dalam-dalam. "Sebenarnya apa yang sedang mengganggu pikiranmu, Eva?"

Nyaliku jadi sedikit menciut. Aku buru-buru berkata, "Aku hanya ingin tahu saja...jika aku punya tempat spesial di dalam hati Kakak." Setelah mengatakan itu, aku jadi malu sendiri tetapi aku memang harus mengatakannya, mendengar jawabannya yang pastinya mengecewakan, supaya aku bisa menerima kenyataan.

Sepertinya aku 'suka' menyakiti diri sendiri dengan kenyataan pahit. Memangnya jika dia menolakku mentah-mentah, apakah aku akan mulai menjauhkan diriku darinya? Apa aku mampu menjauhkan diriku darinya? Dasar Eva bodoh, abort! Abort! Tapi tentu saja sudah terlambat karena aku sudah menyatakannya sedemikian rupa.

Lalu dalam pikiranku terlintas pertanyaan bodoh. "Jika aku dan Kak Azusa jatuh ke sungai, siapa yang akan Kakak selamatkan lebih dahulu?" Aku ingin memukul diriku sendiri karena benar-benar mempertanyakan pertanyaan yang sungguh kekanak-kanakan itu. Seakan aku tak lagi memiliki kontrol akan mulutku, aku terus menerus mempermalukan diriku.

Amuro tertawa mendengar pertanyaanku. Dia tetap meladeniku dan kelihatan sedang memikirkan pertanyaan tersebut. "Saya rasa tergantung situasinya. Apakah salah satu dari kalian ada yang tidak bisa berenang? Saya tahu jelas bahwa Azusa bisa berenang. Jadi kemungkinan saya akan menyelamatkan Eva lebih dahulu karena Eva anak kecil."

Benarkah? Azusa bisa berenang? Aku malah tidak tahu. Apakah di manga ada disebutkan bahwa Azusa bisa berenang? Rasanya gadis itu kebanyakan hanya muncul di Poirot saja...

Aku baru menyadari bahwa Amuro tengah menanyakan kepadaku apakah aku bisa berenang. Aku menyadari aku belum pernah berenang semenjak datang di dunia ini. Aku tidak tahu apakah raga ini memiliki kemampuan berenang. Aku yang asli tidak begitu bisa berenang. Gaya berenangku agak kacau balau. Gaya berenang kodokku selalu seperti miring sebelah, seperti mau setengah tenggelam jadinya. Aku tak pernah bisa mempertahankan keseimbanganku.

Aku bersyukur aku tidak pernah dalam situasi dimana aku harus berenang sekeras mungkin demi hidupku. Seram jika dikejar hiu aku pasti mati karena tak bisa berenang cepat. Sejujurnya semua film hiu yang aku tonton dahulu membuatku tak akan pernah ingin berenang di laut ataupun underwater diving.

Aku menggaruk-garukkan kepalaku sembari mengerutkan dahi. "Jadi...jika aku tak bisa berenang dan karena aku anak kecil, yang diselamatkan olehmu adalah aku duluan?" tanyaku.

Entah kenapa aku jadi teringat suatu film yang mempertanyakan siapa orang yang akan kau selamatkan duluan jika ada yang terjebak dalam suatu perangkap, keluarga atau orang asing? Sepertinya jawaban yang baik menurut film itu adalah orang asing. Tetapi menurutku pada dasarnya bukankah tiap orang akan lebih mementingkan keluarga? Aku merasa dalam situasi itu aku pasti lebih ingin menyelamatkan keluarga. Tetapi bagaimana jika suatu hari nanti kedepannya aku dihadapkan situasi semacam itu dimana aku harus memilih antara Amuro dan keluargaku?

Aku menolak pemikiran itu. Aku tak mau memikirkannya atau mencari tahu jawabannya apalagi membiarkan pemikiran bahwa aku sebenarnya sebatang kara di dunia ini, bahwa Papa dan Mama bukan orangtuaku yang sebenarnya, bahwa aku menyayangi mereka hanya semata karena esensi Eva pada raga ini. Aku berusaha mengusir pemikiran negatif dan fokus kepada Amuro.

Amuro mengamatiku, melihat raut wajahku yang kelihatan terganggu. "Apakah Eva benar-benar suka kepadaku?"

Aku langsung mengangguk tanpa ragu. "Aku suka sekali denganmu. Kau adalah orang favoritku."

Dia perlahan tersenyum mendengar jawabanku.

Mumpung lagi bersikap jujur, kukatakan juga bahwa dia dan Subaru adalah dua orang favoritku.

Sumpah, detik itu walau hanya sekilas aku dapat melihat keretakan pada topeng ekspresi wajah-nya saat aku menyebutkan nama Subaru. Rasanya aku hampir ingin menertawakannya.

Mungkin aku salah karena memberitahu Amuro soal rasa sukaku kepada Subaru mengingat keduanya masih tidak akur dengan satu sama lain. Tapi, bagaimanapun aku ingin adil karena sebelumnya pun aku sudah mengakui kepada Subaru bahwa aku menyukai dirinya yang Shuichi dan juga bahwa aku menyukai Amuro.

"Begitu? Eva suka dengan Subaru Okiya itu? Apa yang membuat Eva suka dengan orang itu?"

Aku pura-pura seperti sedang memikirkan pertanyaan dia. "Aku tidak tahu aku suka saja kepadanya, Kak Subaru baik padaku, dan kata Ayumi, dulu dia pernah diselamatkan olehnya dari orang jahat. Jadi, dia dan Kak Amuro mirip...musuh orang jahat..." tuturku dengan mata berbinar-binar khas seorang fangirl.

Untuk sesaat ekspresi wajahnya kelihatan tidak senang tetapi mau tak mau dia tersenyum kecil mendengar penjelasanku. "Kenapa Eva yakin sekali bahwa saya adalah musuh orang jahat?"

"Aku tahu saja." tukasku sembari tersenyum secemerlang mungkin.

Yang terjadi selanjutnya sungguh menggelikan karena dia menanyakan kepadaku jika dia dan Subaru jatuh ke sungai, siapa yang akan kuselamatkan dahulu? Aku tak menyangka dia membalikkan pertanyaan bodoh itu kepadaku.

"Memangnya Kakak tidak bisa berenang? Dan darimana Kakak tahu bahwa dia, Kak Subaru, tak bisa berenang?" tanyaku jadi ingin mengisengi dia. Mengingat keduanya orang yang atletis, pastinya keduanya bisa berenang dengan baik. Apakah bisa berenang juga suatu kriteria yang harus dimiliki seorang agen? Mungkin saja, seharusnya mereka dilatih agar serba bisa, bukan?

"Anggap saja karena suatu hal kami berdua tak bisa berenang..."

"Aku tidak bisa berenang juga, bukan? Kalau sudah begitu, aku pasti akan mencari orang yang bisa berenang untuk menyelamatkan kalian secepatnya..." ujarku. Aku berpikir sejenak. "Mungkin aku harus belajar renang juga kalau begitu..."

Amuro tersenyum mendengar perkataanku dan tak lagi mengatakan apapun soal itu.

Dan dengan begitu saja, aku akhirnya membiarkan bahwa dia tidak benar-benar mengonfirmasi apakah aku memiliki kesempatan dengannya. Iya, tidak mungkin dia berani memberiku harapan, bukan, mengingat dimatanya aku hanya anak kecil? Tetapi, aku ingin dia tahu bahwa aku sungguh menyukai dia dan ingin mengenal dia lebih jauh. Tentu aku tahu hal itu sulit karena saat ini saja dia belum mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya kepadaku. Dan, ya, sebenarnya aku juga dalam posisi yang sama dengan dia.

Saat itu Poirot kedatangan tamu dan Amuro langsung mengalihkan perhatiannya untuk menyambut mereka. Aku kembali ke tempat duduk semula yang berada di dekat jendela. Senyum riang menghiasi wajahku saat aku memandangi Amuro sebelum beralih melihat keluar jendela. Senyum di wajahku langsung pupus.

Ada sosok seseorang berpakaian serba hitam dengan hoodie yang menutupi wajahnya berdiri di sebrang jalan. Sepertinya orang itu tengah mengamatiku...walau aku sebenarnya tak bisa melihat raut wajahnya.

Entah darimana aku mendapat keberanian, aku pun bangkit berdiri dan beranjak keluar Poirot untuk menyebrang, berniat untuk menghampiri orang itu namun seseorang menarikku kembali. Aku baru menyadari yang menarikku ternyata Conan.

"Hati-hati, Kak Eva!" pekiknya.

Anak itu menyelamatkanku dari hampir tertabrak mobil karena aku main seenaknya menyebrang tanpa lihat kiri-kanan.

"Kak Eva, kau tak apa-apa?" tanya Conan saat melihat wajahku agak pucat.

Aku berusaha tersenyum untuk menenangkan anak itu. "Aku tak apa-apa..." Aku menoleh ke sebrang jalan namun sosok itu tentu sudah tak ada. Aku mengerjap-ngerjapkan mata seakan seperti baru sadar dari melamun.

Amuro keluar dari Poirot dengan wajah khawatir setelah mendengar suara teriakan Conan.

Aku pun menampilkan senyum sepolos mungkin dihadapan Amuro dan Conan namun Conan memasang wajah yang kelihatannya mencurigai sesuatu membuatku ketar-ketir sendiri.

Amuro menegurku agar lebih berhati-hati. "Eva, kau harus lebih hati-hati. Jangan sampai kau berakhir di rumah sakit lagi." tegurnya.

"Iya, maaf, aku memang tadi ceroboh." Aku mengakui kesalahanku. Aku menoleh ke arah Conan. "Terima kasih, Conan, jika tidak ada kau, aku bisa tertabrak." Aku berterima kasih pada anak itu.

"Kak Eva tadi menyebrang memangnya mau kemana? Mencari siapa?" tanyanya.

Conan dan Amuro mengamatiku sembari menunggu jawabanku, membuatku merasa seperti sedang diinterogasi saja.

"Aku kira aku melihat seseorang yang mungkin aku kenal tetapi sepertinya aku salah lihat..." ujarku sembari menggaruk-garuk kepalaku dan tertawa renyah akan jawabanku yang payah.

Aku mengambil smartphoneku dari saku celanaku yang bergetar saat menerima pesan dan aku membaca pesan dari Subaru bahwa dia sudah mendapatkan data yang dikumpulkan kepolisian Jepang mengenai profil pelaku beserta daftar nama orang yang kemungkinan pelaku.

Memang beberapa minggu yang lalu, Subaru sudah mengirimkan USB drive itu kepada PSB ditujukan untuk Rei Furuya sesuai yang disetujui. Sebenarnya aku bingung apakah kepolisian akan menganggap kasus itu saling berkaitan atau tidak karena informasi paling relevan yang mengaitkan semua kasus itu adalah keberadaan pembunuh yang memiliki mata shinigami dan fakta bahwa korban dibunuh sesuai tanggal kematian mereka.

Tetapi Subaru meyakinkanku bahwa kepolisian pasti akan menyelidikinya dan akan menemukan benang yang mengaitkan semua korban. Menurutnya, si pembunuh memilih korbannya tidak secara random hanya karena kebetulan orang itu akan segera mati, bahwa dia memiliki alasan tertentu apapun itu dalam memutuskan pemilihan calon korbannya.

Aku mempercayai saja perkataan dia karena dia yang memiliki nalar yang kuat untuk lebih mengerti soal itu.

Aku melihat Amuro menerima telepon dari smartphonenya dan wajahnya kelihatan serius sekali. Dia berbicara dengan suara yang pelan supaya tidak ada yang mencuri dengar percakapan dia.

Conan beralih dari mengamatiku jadi mengamati Amuro. Mungkin karena itu, Amuro bersikap tenang dan tidak langsung minta izin untuk pergi saat Azusa kembali. Conan tanpa malu-malu menghampiri Amuro dan menanyakan jika terjadi sesuatu. Mungkin anak itu mengira Amuro menerima sebuah perintah dari organisasi hitam. Sebenarnya aku juga tak tahu apa panggilan telepon yang diterima orang itu berhubungan dengan kasusku atau bukan.

Aku pun memutuskan untuk pergi dari Poirot dan berpamitan kepada keduanya. Aku mendesah saat memikirkan sosok yang mengawasiku tadi. Entah siapa orang itu? Kenapa dia tak langsung saja menghampiriku daripada mengawasiku seperti itu? Apakah sebaiknya aku memberitahu Subaru, Caleb dan Lizzie soal orang itu juga?

Dipikir-pikir semenjak aku berada di dunia ini, aku melihat orang-orang mencurigakan seperti pemuda bertopeng putih yang sekarang kuketahui sebagai Souji pemilik mata shinigami, lalu ada juga pemuda bertopeng kucing yang menyelamatkanku dan Miyuki. Dan aku juga melihat langsung orang-orang yang masih tidak jelas apakah shinigami ataukah orang yang sama dengan diriku memiliki mata shinigami. Pria di pesta keluarga Sonoko, pria di kereta bell tree express dan wanita yang perawakannya mirip Vermouth di rumah sakit dimana Rumi Tsukasa sempat dirawat inap tetapi diantara ketiga orang itu, wanita yang dirumah sakit itulah yang pastinya atau kelihatannya seperti menyadari keberadaan diriku. Tetapi sampai sekarang aku tak pernah bertemu lagi dengan wanita itu ataupun yang lainnya kecuali Souji. Sekarang malah nambah lagi satu orang mencurigakan...

Sayangnya aku tak memiliki memori yang kuat sehingga aku tak bisa menghafal perawakan semua orang mencurigakan yang kutemui selama ini. Belum lagi jika ada yang mengawasiku tanpa aku menyadarinya. Seharusnya aku lebih sadar akan lingkungan sekitarku tetapi kadang sulit untuk melakukannya karena kebanyakan pikiranku melayang-layang kemana-mana tanpa bisa kuhentikan.

Caleb mengatakan bahwa aku pasti bisa langsung menyadari mana yang shinigami dan mana yang pemilik mata shinigami. Tetapi, aku merasa aku tak bisa membedakannya. Aku hanya merasakan ketegangan yang luar biasa setiap kali melihat orang yang data kematiannya tak bisa aku lihat. Ya, belakangan ini, aku rasa aku sudah mulai terbiasa, aku rasa aku menangani keberadaan Lucille dengan baik, bukan?

Tetapi lain halnya jika nanti aku bertemu shinigami lain selain Yohan, bagaimana jika mereka tidak bereaksi baik karena aku adalah jiwa ilegal? Apakah kesepakatan yang kubuat dengan Yohan akan mengamankan-ku atau...?