Rasanya seperti suatu mimpi buruk...atau sebuah film horor... Saat itu dimana kau bangun dalam suatu kegelapan yang pekat ditempat yang sungguh asing...seorang diri dan dalam kesakitan...

Kepanikan yang kurasakan dan keputusasaan yang menggerogoti jiwaku saat aku menyadari aku terperangkap tanpa jalan keluar sejauh mata memandang. Aku bisa merasakan belenggu rantai yang mengikat pergelangan kakiku. Lantai kotor dan dingin dibawah kakiku yang terluka dan bertelanjang kaki. Dan kandang mengerikan yang memerangkapku di satu tempat...

Aku menjerit. Jeritanku terasa serak dan aneh di telingaku. Tapi, akhirnya aku bisa menjerit juga. Aku tak mengira aku akan menjerit demi nyawaku. Aku menjerit dan menangis. Aku berteriak meminta tolong padahal aku tak tahu dimana aku berada.

Aku tak pernah mengira hal semacam ini bisa terjadi padaku. Hal semacam ini hanya terjadi dalam film atau cerita horor. Tentu aku tahu kekejaman semacam ini juga mungkin ada di dunia nyata di luar sana tetapi...aku selalu merasa hal itu tak akan pernah terjadi padaku. Tak terbanyangkan bahwa hal semacam ini bisa terjadi.

Lalu...kenapa ini bisa terjadi padaku...saat ini?

KENAPA?

KENAPA AKU?

INI TIDAK ADIL!

AKU TIDAK MAU MATI SEPERTI INI!

Aku menuruni tangga sembari mengusap pelupuk mataku dan menguap lebar.

Diruang tamu, Papa tengah membaca koran di meja makan. Mama sedang menyuguhkan sarapan pagi hari itu pada meja.

Kakak perempuanku sedang menyisir rambutnya yang hitam lurus bercahaya bagai iklan shampoo dengan gemas. Mulutnya mengomel bahwa hari ini dia akan sibuk dikarenakan rekan kerjanya tidak masuk dan pekerjaannya jadi ditimpakan kepadanya.

Adik lelakiku baru keluar dari kamar mandi memakai handuk yang menutupi pinggangnya dengan agak menggigil. Dia mengelap kedua kakinya yang basah pada kesetan sebelum melesat ke kamarnya untuk memakai baju.

Aku menguap lagi dan melangkah menuju sofa dan berbaring disana untuk beberapa saat.

Aku mendengar Mama memarahi adikku yang membasahi lantai menuju kamarnya.

Papa meminum kopinya dengan santai dan cuek.

Aku memasuki kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi sebelum bergabung dengan yang lain di meja makan.

Saat itu, semuanya sudah duduk ditempatnya masing-masing dan sudah mulai makan sembari mengobrol satu sama lain. Aku menarik kursi dan menghempaskan diri pada kursi. Aku merasa senang karena hidangan hari itu kebanyakan makanan yang aku suka. Aku mengambil sendok untuk menyendok hidangan yang kusuka sebelum aku menyadari bahwa ditempatku duduk belum ada piring dan gelas. Aku mengerutkan alisku dengan bingung karena biasanya Mama sudah menyiapkan piring berisi nasi dan segelas air di meja untuk semuanya.

Mereka masih saling mengobrol satu sama lain seakan mereka tidak menyadari keberadaanku.

Saat itulah aku mulai merasa aneh, seakan aku melupakan sesuatu. Aku memandangi keluargaku itu. Aneh, seharusnya ini normal, bukan? Tapi...rasanya kami jarang makan bareng-bareng bersama seperti ini kecuali itu hari besar. Dan...aku memandangi mereka semua...bukankah kami tak lagi tinggal di satu rumah yang sama?

Aku juga baru menyadari di salah satu dinding dekat foto almarhum Kakek dan Nenek juga terpampang foto berbingkai hitam, foto diriku.

Barulah aku teringat apa yang telah kulupakan...

Aku sudah mati, bukan?

Aku baru menyadari bahwa suasana tiba-tiba hening. Aku menoleh dan menyadari bahwa Papa, Mama dan kedua saudaraku seperti tengah memandangiku namun sekarang mereka tak memiliki wajah. Aku terpekik kaget.

Aku mendapati diriku berada di sebuah restoran yang kelihatan mewah dan aku sedang duduk di meja yang berdekatan dengan jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota yang mengkilap.

Didepanku, ada Amuro yang berpakaian rapi sedang memotong steaknya dengan santai. Dia seperti menyadari bahwa aku tengah mengamatinya. "Ada apa? Apakah kau tidak suka steaknya? Mau tukar dengan punyaku?" tawarnya.

Aku menggelengkan kepala sembari tersenyum gugup. Aku memperhatikan sekelilingku dengan bingung sementara Amuro kembali berbicara namun aku tak bisa mengerti apa yang tengah dikatakannya.

Lalu, detik selanjutnya aku berada di tengah ruangan, berdansa dengan Amuro. Pria itu tersenyum lembut kepadaku.

Aku tak bisa menghilangkan perasaan tidak enak yang mendadak menggerogoti diriku. Sepertinya aku melupakan sesuatu lagi.

Aku memakai gaun pesta yang elegan dan mengikuti instruksi orang itu saat dia menuntun dansa kami.

Aku mengerutkan alis. Aku tak mengenali gaun pesta ini. Apakah aku punya gaun pesta lagian? Jika punya pun, aku ragu aku akan memakai gaun pesta seperti ini. Walau elegan, bahunya agak terbuka. Aku tak akan pernah memakai gaun semacam ini. Aku terlalu insecure untuk melakukannya. Dan yang lebih penting...bukankah Amuro itu bukan orang asli? Apakah ini mimpi?

Tunggu, bukan, aku saat ini...aku seharusnya...berwujud anak kecil, bukan?

Detik saat pikiran itu terbersit dalam kepalaku, Amuro dan ruangan disekitarku menghilang dan menggelap. Aku memandangi kedua tanganku yang sekarang berukuran kecil. Aku tak lagi memakai gaun pesta. Aku memakai pakaian standar anak kecil.

Oh, iya, aku baru ingat. Aku sekarang bukannya sedang berada dalam dunia manga DC sebagai Eva kecil, bukan?

Tapi, aku sekarang ada dimana?

"Aku tak yakin dengan situasi ini, Eva. Kau hanyalah anak kecil. Jika kita benar, orang itu adalah pembunuh serial yang bahkan tidak segan membunuh anak kecil..." ujar Shuichi Akai. "Kenapa bukan Caleb atau Elizabeth saja yang pergi bersamaku untuk memastikan bahwa orang itu benar pemilik mata shinigami?"

Aku membelalakan mata memandang orang itu yang tidak dalam penyamarannya sebagai Subaru Okiya. Aku berada dalam mobil Shuichi tetapi aku tak tahu kami sedang mau kemana dan aku tidak menyambung dengan perkataan orang itu. Namun mulutku membuka sendiri membentuk suatu jawaban atas perkataan orang itu.

"Yohan menugaskan ini kepadaku. Jika aku hanya diam saja dirumah, dia pasti akan mengganggapku tidak berguna. Aku tak mau dijadikan mainan kunyahan anjing neraka ataupun terperangkap di tempat itu." tukasku. "Lagipula kau yang bilang kita cuma mau memastikan bahwa dia orangnya, aku tak akan berada dalam bahaya, bukan?"

Ya, ternyata aku salah.

Telat aku menyadari bahwa benang pada pergelangan tanganku berubah warna dan sebelum aku bisa menginformasikan kemungkinan bahaya yang akan menimpaku kepada Subaru, aku kehilangan kesadaran saat seseorang membekapku dari belakang dan membiusku.

Aku membuka mataku dengan mendadak dan menyadari bahwa aku sedang terikat di sebuah kursi. Aku merasakan dingin pada kedua kakiku dan menyadariku kedua kakiku itu berada dalam baskom air. Seluruh tubuhku terasa sakit entah kenapa.

Aku ingat. Saat Shuichi dan aku sedang memeriksa daftar kemungkinan pelaku kejahatan yang akhirnya berhasil kami dapatkan, aku diculik oleh salah satu orang dalam daftar pelaku. Sebenarnya kami datang supaya aku bisa memastikan apakah data kematian mereka semua terlihat tetapi sepertinya orang itu melihatku lebih dahulu. Shuichi saat itu sedang berbicara dengan orang yang mengenal pelakunya dan meninggalkanku di mobilnya sesuai kesepakatan kami. Dia tak ingin menempatkanku dalam bahaya. Tetapi sepertinya kami berdua salah perhitungan.

Kepalaku terasa berat dan sakit. Aku tak tahu sudah berapa lama aku disini. Pipiku terasa agak aneh akibat airmata kering. Tenggorokanku juga sakit seakan aku habis menjerit tanpa henti.

Seperti layaknya ruang interogasi dalam film, sebuah lampu redup yang menggantung di langit-langit adalah satu-satunya cahaya di dalam ruangan gelap itu.

Aku tercekat saat melihat sosok seseorang dibalik kegelapan yang sempat tersorot oleh cahaya lampu. Senyum dingin di wajah orang itu sungguh menakutkanku dan saat dia melangkah mendekatiku dan membiarkan dirinya tersorot oleh cahaya lampu, hal itu mengonfirmasi bahwa dia memang sama denganku, pemilik mata shinigami.

Mungkin karena aku sedang kesakitan dan kehausan juga, aku bersumpah untuk sesaat aku melihat kedua mata orang itu seakan berkilau warna merah pekat. Ditambah senyum mengerikan orang itu... Seperti setan, batinku menyetujui.

Orang itu tersenyum lebar, senyuman seorang psikopat yang biasa digambarkan dalam manga thriller atau horror.

Yang bisa kupikirkan saat itu, dimana Shuichi saat ini? Kenapa dia tidak ada disini bersamaku?! Kenapa dia membiarkanku berada dalam genggaman tangan orang ini? Aku bisa melihat bahwa penyekapku ini tak memiliki belas kasihan untuk diriku.

"Aku tak mengira ada orang lain seperti diriku di dunia ini..." tuturnya. Dia menatapku dalam-dalam dan mengeluarkan pertanyaan yang seharusnya konteksnya tidak menakutkan tetapi karena orang ini... "What fandom are you in right now?"

Aku tercekat. Tetapi, aku menyadari bahwa orang ini mungkin tidak tahu menahu soal manga DC karena jika dia tahu, seharusnya dia menyadari soal Shinichi Kudo atau bahkan Kaito Kid. Tapi, psikopat macam dia...fandom apa yang dia sukai dan fandom macam apa yang saat ini bagi dia nyata? Jangan-jangan film atau anime mengerikan soal pembunuhan yang gore lagi? Jika mengingat cara dia bereksperimen pada korban-korbannya, aku ketakutan menyadari bahwa kemungkinan itulah yang terjadi padanya.

Dia mengamatiku sembari memegangi dagunya. "Bukan Doraemon, yah? Beda kota..."

Aku melongo mendengar perkataan dia. Dan aku juga sedikit tersinggung. Doraemon? Really? Hanya karena aku berwujud anak kecil?

Menyadari aku sama sekali tidak berniat memberitahu dia soal fandom-ku, dia tak lagi memaksa malah dia seperti sudah kehilangan ketertarikan untuk mengetahuinya.

"Tak masalah. Ini bagus juga. Aku selalu membunuh orang yang memang akan mati. Kupikir dengan demikian, shinigami-shinigami bodoh itu juga tak akan terlalu terganggu olehnya."

Shinigami bodoh? Aku menelan ludah menyadari orang ini bahkan tahu soal shinigami. Tetapi sepertinya ini pertama kalinya dia bertemu dengan orang yang sama dengannya. Sialnya, aku kebetulan menjadi orang pertama yang ditemuinya. Tetapi ini berarti dia tidak tahu soal esensi shinigami? Sudah berapa lama dia di dunia ini? Bukannya dia seharusnya juga akan sekarat sepertiku? Ugh, aku ingin menangis ke langit menyadari jika aku mati ditangan orang ini, dia akan selamat, bukan? Raganya tak akan lagi sekarat...berkat diriku.

Tidak! Aku tidak relaaaaaa!

"Menarik juga, apa yang akan terjadi jika aku membunuhmu sekarang? Jika kau sama denganku, jiwa yang tak seharusnya ada di dunia ini, kemungkinan mereka tak akan peduli apapun yang terjadi padamu, bukan?" Dia terlihat senang akan prospek itu. "Atau mungkin aku akan lebih bisa santai saja dan perlahan-lahan saja saat membunuhmu?"

Aku hampir tak bisa bernafas mendengar perkataan dia saking ketakutannya.

Diantara semua hari yang ada untuk diculik, aku malah kena sial dapatnya di hari dimana aku tak menggunakan lencana pemberian Conan. Bagaimana aku bisa mengontak dia? Lalu boneka kelinci pemberian Subaru yang terjepit pada tas selempangku tertinggal di mobilnya. Bagaimana ini sekarang? Akankah aku mati disini?

Dilihat situasinya orang ini sepertinya berniat akan menyiksaku untuk beberapa waktu sebelum mencabut nyawaku. Kenapa aku bisa sesial ini? Apakah ini karma buruk?

Orang itu melangkah mendekatiku dan kali ini dia menggenggam sebilah pisau yang mengkilat.

Aku hanya dapat melihat tanpa daya dan seluruh tubuhku diselubungi kengerian yang amat sangat.

777

Entah sudah berapa lama aku berada di dalam kandang ini. Orang brengsek itu memasukkanku ke kandang anjing yang lumayan besar dan merantai salah satu kakiku. Seakan ingin tambah mempermalukanku, dia meletakkan mangkok anjing didalam kandang yang berisi sedikit air kotor.

Apakah ada yang mencariku? Dimanakah Shuichi berada? Dimana para detektif yang biasanya selalu menyelamatkan hari?

Aku memegang erat bandul kalung lumba-lumba pemberian Amuro di tanganku. Aku hanya bisa berdoa seseorang segera menemukanku.

Tolonglah, siapapun, temukan aku... Tolong aku...

Aku sangat marah dan membuang air kotor tersebut. Sungguh tidak manusiawi ini orang!

Mungkin aku melakukan kesalahan karena aku sungguh lapar dan haus padahal aku rasa ini baru beberapa jam saja...mungkin. Aku tak tahu tepatnya. Mungkin karena waktu berjalan terasa sungguh lamban disini saat ini, detik ini.

Kepalaku bertambah sakit dan terasa berat. Lengan dan pahaku terasa sakit akibat sayatan pisau orang itu walau dia akhirnya memperban luka-lukaku tanpa mengobatinya sebelum mendorongku ke dalam kandang. Tetapi dia menyuntikku dengan suatu obat yang aku tak tahu apa dan semenjak itu aku merasa panas seakan aku sedang demam saja.

Kepalaku terasa berkunang-kunang dan aku pun jatuh pingsan. Saat aku bangun, aku seperti merasakan sosok dingin Yohan tengah memandangiku di luar kandang namun dia tak membebaskanku, hanya menatapku dengan datar.

Aku menjerit kepadanya untuk menolongku namun dia sama sekali tidak bergeming dari posisinya.

Kenapa? Kenapa dia diam? Kenapa dia tidak membantuku?! Tolong aku!

Ketika sosok Yohan memudar, aku merasa harapanku seakan pupus dan aku menangis dan menjerit agar dia tidak pergi meninggalkanku disini.

Entah berapa lama aku menangis sembari terkapar di lantai yang kotor namun aku tak peduli. Aku melihat seseorang meletakkan segelas air didepan kandang. Aku pun segera bangun dan berusaha meraih gelas itu dari sela-sela teralis kandang sebelum menyadari orang itu sengaja meletakkannya agak jauh dari jangkauanku.

Orang itu menertawakan upayaku. Rasa marah dan benci menguak dari dalam batinku.

Aku sungguh berharap aku memiliki Death Note pemberian Reina ditanganku saat ini atau setidaknya secarik kertas dari buku itu. Aku memang bodoh tidak sepintar Light Yagami yang mampu memiliki rencana cadangan untuk menghadapi L. Tetapi, lalu aku menyadari walau saat ini aku memiliki secarik kertas itu pun, aku tak akan mampu menuliskan nama orang itu...karena aku tak bisa melihat data kematian orang itu.

Aku sungguh tenggelam dalam keputusasaan.

777

"Eva?"

Dengan tatapan hampa, aku perlahan-lahan menoleh kepada orang yang terus-menerus memanggil-manggil namaku.

Amuro jongkok didepan kandang, berkutat untuk membuka kandang. Dia berhasil membukanya lalu dia masuk untuk melepaskan rantai yang membelenggu kakiku. Wajahnya kelihatan pucat saat dia melepaskan kakiku dan berusaha menarik perhatianku.

Untuk sesaat aku seakan masih tidak menyadari bahwa orang itu benar-benar ada dan disini untuk menyelamatkanku.

"Kak Amuro?" panggilku dengan setengah tidak percaya.

Dia kelihatan sedikit lega melihat aku mulai bereaksi akan kehadirannya.

Aku mulai menangis sebelum menghambur ke dalam pelukan orang itu. Aku menangis meraung-raung.

Amuro mengelus-elus punggungku dengan lembut sembari mengatakan bahwa aku kini sudah aman.

Sekilas aku seperti melihat Shuichi Akai dan mungkin juga Conan di dekat pintu keluar ruangan namun mungkin saja aku salah lihat. Yang aku yakin benar ada disini adalah Amuro karena aku merasakan kehangatan tubuhnya dalam genggaman tanganku pada kedua bahunya.

Aku memeluknya erat-erat seakan-akan dia adalah tali penolong hidup-ku. Dia memang penyelamatku, bukan?

Amuro mengeluarkanku dari kandang, menggendongku dalam pelukannya dengan protektif. Seseorang menjematkan jaketnya pada tubuh kecilku dengan bantuan dari Amuro.

Orang itu menyuruhku menutup mataku sampai dia bilang aku boleh membukanya. Aku menuruti permintaan dia dan memejamkan mataku rapat-rapat.

Dia membawaku keluar dari tempat dimana aku disekap. Udara dingin yang menghambur ke arahku saat pintu dibuka membuatku menggigil. Amuro memperbaiki letak jaket yang menutup tubuhku. Aku mendengarnya mengatakan sesuatu kepada seseorang namun aku tak mampu mencerna apa yang dikatakannya.

Tiba-tiba aku merasa mual dan aku menggeliat dari dalam pelukannya, tak ingin memuntahi orang itu. Dengan susah payah, aku berhasil melepaskan diri atau dia yang meletakkanku di tanah sembari mengucapkan kata-kata penenang yang tidak jelas.

Aku berusaha ingin muntah namun aku tak bisa dan aku hanya bisa menangis lagi. Aku merasa seluruh tubuhku pegal dan sakit dimana-mana. Kepalaku terasa berat dan pandanganku berkunang-kunang dan saat itu aku menyadari benang di pergelangan tanganku berwarna kuning. Aku tertawa saat melihatnya lalu menangis lagi sebelum akhirnya kehilangan kesadaranku.

Hal terakhir yang kudengar adalah suara orang memanggil-manggil namaku dan selanjutnya aku tak tahu apa-apa.