Gelap gulita. Belakangan ini aku selalu mendapati diriku berada didalam kegelapan baik dalam mimpi maupun dalam kenyataan. Tetapi kali ini aku mendengar suara ribut orang-orang dan suara mesin flatline yang biasanya kita lihat atau dengar dalam film yang melibatkan medis.
Flatline?
Apakah aku sudah mati? Aku memandangi benang pada pergelangan tanganku yang berada diantara warna kuning dan merah. Apakah saat ini aku berada di ambang kematian?
Tiba-tiba aku melihat ada sebuah cermin panjang berbingkai muncul didepanku. Aku perlahan melangkah mendekati cermin itu. Dengan telunjukku aku menyentuh cermin tersebut. Permukaan cermin itu terasa dingin dan bayangan yang terpantul pada cermin adalah bayangan gadis kecil berwajah pucat. Aku mengamati diriku pada cermin. Tidak, sebenarnya itu bukanlah diriku. Sosok itu adalah penampilan milik Eva kecil yang dari dunia manga DC.
Kenapa penampilan jiwa-ku juga tetap terlihat bagai Eva kecil? Bagaimana dengan sosok asli-ku sesungguhnya yang seorang dewasa? Apakah semua bagian dari diriku yang asli sudah memudar dan diserap sehingga aku pun saat ini meyakini sosok-ku adalah sosok seorang gadis kecil bahkan saat diluar raga Eva kecil?
Aku memandangi cermin itu dengan agak pahit saat aku memikirkan tentang sosok diriku yang dahulu dan bahwa aku merasa seperti hampir melupakan bagaimana wajahku sebelumnya. Tiba-tiba sosok gadis kecil pada cermin berubah menjadi sosok wanita dewasa yang terasa agak familiar namun aku tak bisa melihat jelas raut wajahnya.
Aku meletakkan telapak tanganku pada permukaan cermin dan pantulan bayangan sosok dewasa itu juga melakukan hal yang sama. Aku menatap sosok tersebut dengan berat hati. "Aku...tak suka kepadamu." ujarku. "Kau lemah, tak berpendirian dan pengecut... Aku benci kau yang seperti itu... Tak ada orang yang mampu menyukaimu karena semua kelemahan dan kenegatifan pada dirimu..."
Sebersit rasa bersalah menjalari diriku karena membenci diri sendiri. Jika aku saja tidak bisa menyayangi diri sendiri, bagaimana orang lain bisa mencintaiku? Aku selalu merasa kepribadian diriku kurang dalam segala hal dan seharusnya aku bertekad mengembangkan diri tetapi kelemahanku yang menjijikan malah membuatku sulit untuk mengubah diri. Dimana ada kemauan, pasti ada jalan...itu kata semua orang dan aku merasa tertekan oleh hal itu. Bahwa diriku ini sama sekali tak memiliki kemauan untuk mengembangkan diri, itu sungguh menyedihkan dan terkadang membuatku berpikir lebih baik mati saja. Dan sepertinya keinginanku itu terkabul. Aku tak lagi menjadi beban bagi keluargaku, bukan? Aku bahkan tak perlu merasakan kepedihan kehilangan keluargaku karena aku duluan yang meninggalkan mereka.
Sosok wanita dewasa itu tiba-tiba meneteskan airmata. Aneh betapa jelas airmatanya padahal aku tak bisa melihat jelas mata, hidung atau mulutnya. Aku baru menyadari bahwa aku sendiri tengah meneteskan airmata juga. Memang setiap kali aku mengatakan bahwa aku membenci diriku sendiri, hatiku merasa sakit sendiri dan kadang aku ingin menangis.
Change the voices in your head, make them like you instead.Seandainya saja bisa semudah itu. Kadang aku berharap dapat menemukan seseorang yang bisa mengalahkan suara-suara jahat dalam pikiranku. Tetapi, rupanya yang bisa menyelamatkan diriku sendiri hanyalah diriku sendiri dan entah kenapa aku merasa harapanku pupus jika harus menggantungkan harapan pada diri sendiri. Semoga suatu hari nanti hal itu berubah dan aku bisa menjadi seorang yang setidaknya menyukai diriku apa adanya dan tidak terpengaruh oleh opini orang lain, bahkan opini dari keluarga sendiri.
Tiba-tiba aku mendengar suara-suara yang sepertinya memanggil-manggil diriku namun aku sulit mencerna siapa pemilik suara itu. Aku membalikkan badan membelakangi cermin berusaha mencari tahu darimana sumber suara itu. Tiba-tiba sepasang tangan hitam melesat dari belakangku dan menarikku keras-keras membuatku terpekik kaget. Sosok wanita dewasa yang tadi terpantul pada cermin menarikku masuk ke dalam cermin. Aku hanya bisa menjerit tanpa daya.
Aku membuka mataku lebar-lebar dan menyadari bahwa aku berada diranjang di rumah sakit. Aku bangun dari ranjang dan menyadari adanya keributan didepan ruangan tempatku berada. Aku hendak membuka pintu namun tanganku malah menembus pintu membuatku terkejut setengah jiwa. Perlahan aku menoleh kembali ke arah ranjang dan aku membelalak melihat sosok mengenaskan seorang gadis kecil di ranjang yang menggunakan alat bantu pernafasan. Aku menyadari aku saat ini menjadi...hantu lagi? Aku tercekat menyadarinya dan sedikit merasa merinding.
Aku menarik nafas sebelum melangkah untuk menembus pintu dan aku melihat Shuichi dan Amuro didepan. Amuro tengah menekan Shuichi ke sebuah dinding dan menarik kerah baju orang itu dengan raut wajah yang kelihatannya murka.
"Jangan berbohong padaku, FBI! Aku tahu kau bersama Eva sebelum dia diculik! Apa yang kau lakukan dengannya? Kenapa kau melibatkan anak itu dalam bahaya?!" seru Amuro.
Shuichi terlihat tenang menghadapi kegarangan seorang Amuro. "Sepertinya kau sendiri juga sudah mengira bahwa Eva akan terlibat bahaya...bukankah karena itu kau meletakkan alat pelacak pada kalung yang kau berikan padanya?"
Aku terkesiap mendengarnya. Kalung? Otomatis tanganku meraih kalung yang seharusnya ada melingkari leherku namun aku menyadari kini aku tak memakai kalung apapun. Jadi Amuro menyematkan alat pelacak pada kalung lumba-lumba itu? Kapan dia melakukannya? Tetapi aku hanya bisa merasa lega menyadari berkat alat pelacak yang dia pasangkan pada kalung tersebut itulah dia berhasil menemukan dan menyelamatkanku.
Aku menatap keduanya yang masih seperti berargumentasi, lebih dengan Amuro meneriaki Shuichi. "Tolong jangan bertengkar..." tuturku sebelum aku menyadari mereka tak akan bisa mendengarku.
Tiba-tiba lampu di seluruh koridor rumah sakit itu satu per satu mati seperti adanya sosok yang menghampiriku pada setiap lampu yang mati. Jantungku terasa berdebur keras padahal saat ini aku berada di luar raga-ku. Aku menyadari bahwa Shuichi dan Amuro juga sudah tak ada ditempat. Aku ketakutan dan langsung menghambur masuk ke kamar dimana raga-ku berada. Saking terburu-burunya, aku sampai jatuh tersungkur ke tanah.
Saat aku menembus pintu, aku menyadari bahwa aku tak berada di kamar yang tadi. Aku mendapati diriku berada disuatu jalanan setapak ditengah kegelapan namun dikejauhan aku melihat sebuah cahaya. Karena aku tak tahu harus melakukan apa, aku pun melangkah menuju sumber cahaya tersebut.
Setelah berjalan beberapa lama, aku menyadari bahwa sumber cahaya itu adalah sebuah gedung besar dengan tanda welcome pada pintu kaca. Untuk sesaat aku jadi ragu-ragu apakah aku mau masuk ke dalam atau tidak. Namun suasana dalam gedung yang bercahaya lembut itu terasa lebih mengundang daripada berdiri didalam kegelapan. Maka aku memberanikan diri untuk masuk.
Ternyata di dalam gedung yang seperti aula sebuah hotel besar nan elegan itu banyak orang-orang juga...orang-orang yang sepertinya sama denganku...sudah mati? Entah kenapa vibes-nya mengingatkanku pada suatu film yang pernah aku tonton dahulu namun aku tak bisa mengingat judul film itu atau plotline ceritanya.
Seorang petugas yang berdiri di lobby tengah melayani beberapa orang yang sedang mengantri. Petugas itu sepertinya tengah mencocokkan identitas para pengunjung dengan data dikomputernya.
Aku menoleh memandangi sekelilingku. Entah kenapa aku merasa asing sendiri disini seakan aku tak seharusnya berada disini. Dan ketika aku mengamati apa yang dilakukan petugas lobby itu, aku menyadari apakah identitasku akan ada pada data komputernya sebagai Eva kecil? Tapi bagaimana jika nanti bermasalah mengingat Eva yang asli mungkin juga pernah berada di hotel ini saat kematiannya? Bagaimana jika nanti mereka menyadari bahwa aku adalah jiwa ilegal?
Merasa ketakutan sendiri, aku melangkah ingin keluar dari hotel ini sebelum terkena masalah. Namun, diluar sana, aku harus kemana? Aku jadi tak berani juga keluar. Akhirnya aku memutuskan duduk disalah satu sofa yang ada di aula, hanya mengamati keadaannya untuk sementara.
Aku menyadari ada yang mengamatiku dan aku melihat seorang anak lelaki yang kelihatannya seusia Conan. Anak itu berpakaian rapi seperti anak bangsawan. Rambutnya hitam berbentuk mop ikal pendek yang menutupi matanya sehingga aku hanya bisa melihat hidung dan mulutnya yang membentuk suatu senyuman geli seakan dia menemukan sesuatu yang lucu atau mengetahui sesuatu yang orang lain tidak tahu. Walau matanya tidak terlihat, entah kenapa aku menyadari bahwa anak itu tengah mengamatiku.
"Kau tersesat?" tanyanya tiba-tiba.
"Hah? Eh, iya mungkin..." jawabku dengan tampang bodoh.
Anak itu meraih salah satu tanganku. "Ikut aku." Lalu tanpa menunggu jawabanku, dia menarikku untuk mengikutinya ke sebuah taman. Ada beberapa orang juga di taman yang kelihatan damai itu namun anak itu tidak membiarkanku menikmati pemandangan malah dia menarikku lagi menuju taman bagian dalam yang sepertinya membentuk labirin.
Sebuah pancuran kolam berada ditengah labirin. Dia menunjuk kolam itu. "Ini kolam untuk yang tersesat. Saat kau memandang air didalam kolam, itu akan memberikan petunjuk supaya tidak tersesat lagi. Cobalah melihat kesana." ujarnya terlihat sangat bangga saat menyatakannya.
Aku mengamati anak itu yang tersenyum-senyum polos kepadaku namun aku tak bisa menyingkirkan perasaan tidak tenang didalam batinku. Aku menelan ludah dengan susah payah sebelum melangkah mendekati kolam. Aku mendekati kolam itu dengan was was. Aku menoleh menatap anak itu yang sepertinya tengah menungguiku untuk melakukan apa yang dia suruh. Aku menarik nafas panjang sebelum memberanikan diri menatap air pada kolam tersebut.
Untuk sesaat aku tak melihat apa-apa, lalu airnya seperti berpusar dan aku melihat sosok diriku yang berada di ranjang rumah sakit, sepertinya dalam keadaan koma. Papa menangis sembari menggenggam salah satu tanganku sedangkan Mama memeluk dirinya sendiri sembari menatap sosok diriku pada ranjang dengan datar. Terlihat sekali bahwa keduanya sungguh lelah lahir dan batin. Semua karena diriku.
Aku menghapus airmata yang mendadak membasahi wajahku dan hatiku terasa sakit.
Air pada kolam kembali berpusar tetapi kali ini menampilkan sosok-sosok familiar keluargaku yang dari dunia nyata namun sulit melihatnya seakan ada gangguan pada sinyal. Mereka terlihat baik-baik saja tapi. Aku tak tahu yang diperlihatkan kepadaku ini sudah dalam jangka waktu berapa lama setelah kematianku. Time heals all wounds. Walau aku merasa kematianku tak akan membawa banyak luka bagi mereka. Bagaimanapun aku merasakan sedikit kelegaan bahwa mereka baik-baik saja bahkan tanpa diriku. Dan memang seharusnya begitu, bukan? Kematian tak bisa dihindari, perpisahan yang permanen pasti menghampiri setiap manusia, tetapi mereka yang ditinggalkan tetap harus melanjutkan menjalani hidup.
"Hmm, aneh seharusnya gambarnya jelas, kenapa kelihatannya buram seperti itu?" gumam anak itu mendadak membuatku kaget karena sepertinya aku lupa akan kehadiran anak itu disisiku.
Tiba-tiba sebuah alarm berbunyi dari arah gedung.
"Ah, sepertinya mereka menyadari adanya tamu tak diundang..." tukas anak itu.
Aku pun jadi panik. Apakah alarm itu dimaksudkan untukku? "A-aku harus pergi dari sini. Aku tak boleh tertangkap oleh mereka."
Anak itu menoleh kepadaku, mengamatiku dengan cermat. "Aku tahu jalan keluar rahasia."
Aku memandang anak itu dengan tampang memelas dan memohon bantuannya.
"Kau yakin ingin meminta bantuanku?" tanyanya sembari tersenyum-senyum.
Aku merasakan bunyi yang seakan memperingatiku untuk berhati-hati namun saat itu aku terlalu panik. "Tolong bantu aku keluar dari sini."
"Sesuai keinginanmu." Anak itu membungkukkan badannya sedikit seakan memberi hormat kepadaku. Dia masih saja tersenyum. Senyumannya membuatku agak gelisah. Anak itu lalu menyuruhku mengikutinya.
Tanpa pikir panjang lagi aku mengikutinya apalagi setelah mendengar kegaduhan dari arah gedung dan taman yang semakin mendekatiku. Anak itu membimbingku melewati taman labirin yang rumit itu sebelum aku melihat sebuah pintu besi disalah satu dinding labirin.
Aku takut akan apa yang akan aku temui dibalik pintu tersebut namun aku tak memiliki pilihan jika aku ingin menghindari ditangkap. Aku menelan ludah dengan berat hati sebelum melangkah untuk membuka pintu namun aku tak bisa membukanya. Sepertinya terkunci. Aku menoleh ke arah anak itu dengan putus asa.
Anak itu segera menyodorkan sebuah kunci hitam tua kepadaku dan aku pun segera berkutat dengan lubang kunci untuk membuka pintu tersebut. Akhirnya kami berhasil membuka pintu tersebut dan sepertinya pintu itu membukakan sebuah lorong gelap yang ujungnya tampak bercahaya.
"Cepat, masuk kesana, Kak." seru anak itu.
Aku menoleh ke arah anak itu untuk berterima kasih sebelum aku menyadari bahwa anak itu tengah mengamatiku masih sambil tersenyum-senyum. Pengalaman dari membaca dan menonton film horor tiba-tiba membuatku jadi curiga akan anak itu. Apalagi aku menyadari kesunyian disekitar kami. Dimana para pengejar yang 'seharusnya' mencariku? Dan darimana anak ini mendapat kunci pintu ini?
"Pintu itu akan membawaku kemana?"
"Masuk saja dan kau akan tahu."
Aku jadi semakin curiga jadinya. "A-aku takut, bagaimana jika kau yang masuk duluan saja?"
Senyum anak itu sama sekali tidak memudar sedikitpun saat dia mendengar perkataanku. Dia mengulurkan tangannya kepadaku. "Bagaimana kalau kita masuk sama-sama?" tanyanya dengan senyuman hampir semanis madu.
Aku mengamati anak itu berusaha mencerna apakah anak itu bisa kupercayai atau tidak. Aku tak tahu harus bagaimana, aku tidak pintar membaca situasi atau membaca kepribadian seseorang. Tapi saat ini, hanya anak ini yang bisa membantuku. Perlahan-lahan, walau masih merasa ragu, aku pun menjulurkan tanganku kepadanya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tegur seseorang.
Aku tercekat mendengar nada suara dingin dan familiar itu. Yohan. Tanpa sadar, aku melangkah mundur saat melihat orang itu dan tidak jadi menyambut uluran tangan anak tadi.
Yohan menatap tajam kami berdua.
Sesaat aku tak mampu berkata-kata, tetapi entah kenapa rasa murka menerjang batinku saat aku melihat orang itu walau saat itu aku lupa alasan kenapa aku merasa ingin memaki orang itu. Namun, sebelum aku sempat menyemprotnya dengan api amarahku, dia sudah melangkah cepat ke arahku dan menarikku dari belakang kerah bajuku sehingga kedua kakiku tak lagi menginjak tanah.
"Hei, turunkan aku!" protesku sembari memberontak.
Yohan menatapku dengan datar seakan aku ini serangga yang menyebalkan. Dia menoleh ke arah anak itu yang namanya masih saja tidak kuketahui. Anak itu tengah mengamati diriku dan Yohan, masih dengan senyum yang sepertinya permanen diwajahnya.
"Kau tidak seharusnya berada disini." ujarnya. Dia lalu menoleh kepadaku masih dengan tatapan datar yang merendahkan. "Sudah waktunya untuk bangun." Dia lalu menjentikkan jarinya dan sekelebat kilatan putih membuatku sulit untuk terus membuka mata namun aku melihat sekilas anak itu melambaikan tangannya kepadaku dan membuka mulutnya seperti mengatakan sesuatu namun aku tak mampu mencernanya.
Aku membuka mataku lebar-lebar sembari terkesiap dan langsung terbatuk-batuk saat aku berusaha memasukkan udara ke dalam tubuhku lagi. Aku tak tahu aku ada dimana untuk sesaat. Aku tak mengenali semua orang disekitarku. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku sebelumnya.
Semua orang didalam ruangan menjadi heboh saat melihatku 'terbangun' dan suasananya menjadi berisik. Rupanya jantungku sempat berhenti berdetak beberapa kali dan saat-saat terakhir tadi, sepertinya semua sudah menyerah kepadaku ketika alat kejut jantung tak lagi mampu mendetakkan jantungku kembali.
Papa dan Mama juga terpana sesaat melihatku bangun kembali sebelum keduanya segera menghambur ke arahku dan memelukku erat-erat sambil mengucapkan syukur kepada Tuhan namun beberapa dokter dan suster ditempat meminta mereka untuk menjaga jarak agar aku bisa diperiksa kembali oleh dokter.
Aku terpaksa harus membiarkan diriku disentuh oleh dokter dan suster dan menjalani berbagai macam pemeriksaan fisik sebelum akhirnya aku diizinkan beristirahat. Mereka menanyakan beberapa hal kepadaku namun aku tidak berbicara kepada mereka, hanya mengangguk atau menggelengkan kepala dengan agak linglung.
Perlahan-lahan aku mulai teringat soal bahwa aku diculik oleh seorang pembunuh serial pemilik mata shinigami juga, disiksa secara fisik dan mental sebelum...sebelum seseorang menyelamatkanku. Untungnya kilas balik saat aku berada dalam genggaman si psikopat itu tidak terlalu merajarela dalam pikiranku. Aku hanya ingat sedikit dan sepertinya urutan kejadiannya terpecah-pecah. Tetapi rasa sakit dibeberapa bagian pada badanku saat itu menerjangku, membuat airmata jatuh membasahi wajahku.
Papa segera memelukku lagi. "Sudah tak apa-apa. Eva, kau sekarang sudah aman. Orang jahat itu tak akan lagi bisa menyakitimu." tuturnya.
Orang jahat? Iya, benar, apa yang terjadi pada orang itu? Aku ingin menanyakannya namun aku terlalu lelah untuk membuka mulutku dan mengeluarkan kata-kata.
Papa segera memberiku segelas air dengan sedotan dan menyuruhku minum pelan-pelan.
Aku terbatuk-batuk saat minum. Mama mengelus-elus punggungku berusaha menenangkan diriku. Mendadak merasa lelah, aku pun membaringkan badanku dan segera memejamkan mata.
Tiba-tiba aku teringat kilasan Shuichi dan Amuro yang tengah berargumentasi dengan satu sama lain. Aku membuka mataku dan buru-buru meraba leherku namun aku tak menemukan kalung lumba-lumba pemberian Amuro. Aku ingat bahwa Shuichi mengatakan bahwa Amuro menyematkan alat pelacak jejak pada kalung tersebut. Apakah yang kulihat saat itu benar-benar nyata terjadi?
"Ada apa, Eva? Apa dadamu terasa sakit?" tanya Papa panik saat dia melihatku meraba-raba tubuhku sendiri.
Aku menggelengkan kepala dan memejamkan mata lagi. Aku pun menyerah pada perasaan lelah yang meliputiku dan aku jatuh tertidur. Aku tak tahu Papa dan Mama mengatakan apa kepadaku tetapi aku merasakan bahwa mereka berdua masing-masing menggenggam tanganku seakan takut aku menghilang dari sisi mereka.
Saat aku terbangun selanjutnya, aku membuka mata perlahan-lahan dan melihat Papa dan Mama tengah bercakap-cakap dengan Takagi dan Miwako. Apakah mereka membicarakan soal kasusku? Aku pun tetap pura-pura tidur tetapi aku berusaha mempertajam pendengaranku agar bisa mendengarkan apa yang mereka katakan.
Dari yang kudengar, sepertinya polisi tidak tahu bahwa yang menyelamatkanku adalah Amuro dan Shuichi, dan mungkin juga Conan namun aku tak bisa menghandalkan ingatanku yang seperti putus-putus mengenai kejadian traumatis yang telah menimpaku. Aku kurang yakin sebenarnya soal keberadaan Conan di TKP mengingat saat itu aku sedang kesakitan dan tidak dapat berpikir jernih.
Takagi dan Miwako sendiri sepertinya kesulitan menjelaskan urutan kejadiannya. Bagaimana aku bisa menjadi target pembunuh serial yang kebetulan kasusnya sedang diselidiki diam-diam oleh pihak kepolisian saja mereka tidak tahu. Tentunya mereka berpikir bahwa nasibku itu buruk mengingat aku sering berakhir di rumah sakit setelah terlibat kasus. Mereka mana mungkin tahu bahwa aku berada dalam penglihatan pelaku kejahatan itu karena kesalahanku sendiri.
Takagi juga mengatakan bahwa yang menyelamatkanku adalah seorang petugas kepolisian yang sedang menginvestigasi pelaku kejahatan tersebut dan secara kebetulan menemukan keberadaanku. Sepertinya si pelaku menculikku tanpa persiapan yang lebih teliti sehingga petugas itu berhasil mendeteksi jejak keberadaannya. Tentu saja pihak PSB ingin menutup fakta bahwa Amuro terlibat kasus itu demi kerahasiaan, bukan?
Sebenarnya yang paling ingin kuketahui adalah apa yang terjadi pada penjahat yang menyiksaku itu. Aku yakin dengan keberadaan Shuichi, Amuro dan mungkin Conan, penjahat itu tak mungkin berhasil lolos, bukan? Lalu apa yang terjadi padanya saat ini? Sedang mendekam di penjara-kah dia? Aku menahan diriku agar tidak mendesah saat memikirkan apa yang harus kulakukan perihal pemilik mata shinigami satu itu. Mencabut nyawa-nya menjadi tidak mungkin jika dia berada dalam 'perlindungan' polisi. Aku tercekat menyadari arah pemikiranku. Apakah aku serius mempertimbangkan ingin mencabut nyawanya? Apakah aku melakukan itu untuk membalas dendam ataukah demi menyambung nyawa?
Tidak usah sok suci, Eva. Aku ingin balas dendam, bukan? Orang brengsek itu menyiksaku sedemikian rupa, jika mencabut nyawanya bisa menyelamatkan diriku sendiri, kenapa ragu-ragu? Tetapi...pemikiran untuk mencabut nyawa orang itu...membunuh orang itu dengan tanganku sendiri, aku mana bisa melakukannya, bukan? Aku merasa sungguh ingin menjerit akan ketidakadilan yang kualami.
Aku berusaha memikirkan kejadian hari itu saat aku diculik namun rasa takut dan kengerian tiba-tiba melanda diriku akibat kilas balik yang kurasakan. Aku meringis dan meringkukkan badan sebisaku. Miwako melihatku bergerak dan segera menarik perhatian semua orang kepadaku. Aku terpaksa membuka mata namun aku tak bisa menahan tubuhku yang sedikit kegemetaran. Aku mendadak terbatuk-batuk membuat Mama buru-buru menghampiriku dan menepuk punggungku sementara Papa memberikan kepadaku segelas air lagi untuk diminum.
Takagi dan Miwako memandangiku dengan prihatin dan untungnya mereka tidak menginterogasiku soal kenapa aku bisa sampai diculik orang jahat. Aku memutuskan akan pura-pura tidak begitu ingat saja soal awal mula penculikanku. Ini juga demi melindungi Shuichi yang bersamaku saat itu. Aku sungguh berharap identitas orang itu tidak akan terbongkar gara-gara diriku. Ah, pikiranku mumet. Aku tak mampu meluruskan jalan pikiranku. Aku memegangi pelipisku yang mulai berdenyut-denyut. Untunglah mereka tidak memaksaku berbicara. Sepertinya semua menganggap kondisiku masih rapuh dan aku membiarkan mereka berpikir demikian. Sebenarnya aku sendiri tak tahu, hanya saja aku merasa tak ingin bicara.
Kedua polisi itu mengucapkan rasa prihatin mereka kepadaku dan segera pamit agar tidak menggangguku. Aku bisa sedikit lega setelah mereka pergi. Papa dan Mama hanya bisa menatapku dengan senyum sedih namun keduanya untungnya juga pengertian dan tidak memaksaku untuk mengatakan apapun.
Dokter Komui yang bekerja sama dengan kepolisian mendatangiku menawarkan semacam terapi.
Sepertinya orangtuaku mengkhawatirkan trauma yang ku alami kemarin. Aku menatap orang itu dengan agak curiga, mengira dia akan mencoba menghipnotisku lagi. Terapi kepositifan yang sebelumnya diajarkan kepadaku sepertinya gagal kuterapkan dalam hidupku.
Jujur aku agak malas berbicara atau bertemu orang lain saat ini. Aku bahkan tidak terlalu nafsu untuk bertemu dengan Shuichi, Amuro, Conan, juga Caleb dan Lizzie. Aku tidak tahu apakah mereka ada mencariku atau berniat menjengukku atau tidak. Bagus juga jika mereka memberiku waktu sendiri supaya aku bisa mencerna keburukan yang menimpaku.
Aku mendesah, merasa sungguh sangat lelah.
Dokter Komui akhirnya meninggalkanku sendiri setelah jelas bahwa aku tak ingin membuka mulut namun dia mengatakan dia akan menjengukku lagi nanti. Dia menepuk-nepuk kepalaku sebelum pergi.
Aku mulai teringat kenapa aku merasakan kemarahan kepada Yohan. Shinigami itu menemukanku dalam keadaan mengenaskan namun tak melakukan apapun untuk membantuku. Aku teringat tatapannya yang dingin dan datar itu. Dia sama sekali tidak peduli kepadaku dan malah pergi meninggalkanku dalam cengkraman si pembunuh serial, pembunuh yang kukejar karena perintah dari dewa kematian brengsek itu. Tubuhku gemetaran akibat luapan emosi kemarahan yang menggerogotiku.
Yohan memang muncul lagi dan memasukkan jiwaku kembali ke tubuhku namun masih dengan gaya acuh tak acuh-nya yang sungguh membuatku geram. Aku sungguh marah, aku ingin menyakiti orang itu. Aku ingin melukai dewa kematian itu. Tapi, mana bisa aku melakukannya, bukan? Dia adalah dewa kematian dan aku hanya manusia biasa yang terkutuk.
Wajahku terasa panas saat airmata membasahi pelupuk mataku akibat ketidak berdayaan yang kurasakan. Aku menarik selimut menutupi wajahku agar Papa dan Mama tidak menyadarinya. Aku mencakar kuat-kuat pergelangan tanganku dimana gelang kesepakatan yang kubuat dengan Yohan berada. Aku berusaha menarik lepas benang tersebut namun tentu aku tak bisa melakukannya.
Aku sungguh ingin menjerit. Aku menjambak rambutku keras-keras dari balik selimut. Aku benci Yohan, si brengsek! Aku ingin memukulnya, menyiksanya! Namun secepat itu juga aku merasa lemas karena aku bisa apa melawan dewa kematian itu? Aku pun saat ini berada dalam cengkraman dia, selama benang ini ada padaku dan selama dia mengetahui keberadaanku... Apa yang bisa kulakukan soal itu?
Aku berharap bahwa Caleb mungkin mendapatkan info yang berguna dari Letifer soal shinigami. Jika tidak, habislah aku!
Entah berapa lama aku berkutat dalam pikiran yang menyesakkan dan menyedihkan yang dipenuhi keputus-asaan yang tiada tara sebelum aku pun jatuh tertidur lagi.
