Aku berdiri diatas gedung rumah sakit, berada di pinggiran balkon. Angin malam bertiup keras membuat helai-helaian rambutku tertiup beterbangan. Aku menatap hampa ke arah bawah. Jika jatuh dari sini, aku pasti akan mati, batinku.
"Apa kau benar-benar ingin mati?"
Aku menoleh ke belakang dan melihat Yohan. "Apa pedulimu?" tukasku. "Kau meninggalkanku dalam cengkraman orang sinting itu!" tudingku dengan marah.
Yohan mengerutkan keningnya atas tuduhanku. "Kau ini bicara apa?"
"Jangan pura-pura! Aku melihatmu!" seruku semakin marah.
Yohan memutar bola matanya seakan mencemooh reaksiku.
Rasa benci menjalariku saat melihat tingkahnya yang selalu menganggapku rendah.
Tiba-tiba dia melangkah mendekatiku. "Jika kau memang ingin mati, mati saja..." ujarnya santai lalu dia mendorongku jatuh.
Aku masih tak menyadari saat aku jatuh. Serasa waktu bergerak lambat saat aku terperangah menatap wajah dingin Yohan di atas sana saat aku jatuh bebas ke bawah menuju kematianku.
Aku memekik keras saat aku jatuh ke ranjang. Aku bangkit duduk di ranjang sembari mengalami serangan panik hebat saat aku berusaha mencerna realita di sekelilingku. Untuk beberapa saat aku merasa sulit bernafas. Akhirnya setelah beberapa lama, nafasku kembali normal setelah menyadari aku hanya bermimpi buruk.
Aku memandangi sekelilingku dan menyadari aku masih di rumah sakit dan saat itu memang sudah malam. Aku menoleh ke sampingku dan melihat di ranjang sebelah ada Papa yang tidur lumayan pulas dan sedikit mendengkur. Mama tidak ada. Papa sepertinya izin cuti kerja demi menjagaku dan membiarkan Mama yang pulang untuk beristirahat. Untungnya pekikan-ku tadi tak membuat Papa bangun.
Aku menarik nafas panjang lalu kembali berbaring sembari memandangi langit-langit kamar. Aku menyadari diujung ranjangku ada sebuah sosok hitam. Aku mulai merasakan kengerian yang amat sangat saat aku perlahan-lahan menoleh ke arah bawah. Aku melihat sosok anak kecil berambut hitam berbentuk mop ikal dan mengenalinya sebagai anak kecil yang waktu itu.
Anak itu tersenyum kepadaku.
"Apakah aku sudah mati?" tanyaku kepadanya.
"Mungkin saja. Atau kau masih berada didalam kandang..." jawabnya santai.
Aku tercekat mendengar perkataan anak itu dan tiba-tiba aku menyadari bahwa aku kembali dalam kurungan kandang yang waktu itu. Kakiku masih terikat oleh belenggu rantai besi. Aku dengan gemetaran menoleh menatap anak itu namun anak itu sudah tak ada. Aku pun hanya bisa menjerit saat teror yang kurasakan kembali menggerogotiku.
Aku menjerit keras-keras dan ada beberapa orang menyentuhku dan berbicara denganku namun aku tak bisa berpikir jernih atau mencerna realita disekelilingku sehingga aku memberontak keras kepada siapapun yang menyentuhku. Aku merasakan sakit pada lenganku saat ada seseorang yang menyuntikku sembari mengatakan kata-kata yang seharusnya menenangkan namun aku sungguh tak mengerti apa yang dikatakannya.
Perlahan aku mulai tenang dan aku menyadari aku aman di rumah sakit. Aku sudah selamat dan yang tadi itu semua hanya mimpi buruk beruntun. Sepertinya mereka memberiku obat penenang.
Untuk beberapa hari selanjutnya kesehatanku menurun dan aku terkena demam tinggi dan selama itu, aku terus-menerus dilanda teror mimpi buruk beruntun yang hampir membuatku merasa kehilangan kewarasanku karena tiap kali aku mengira sudah bangun dari mimpiku, ternyata aku masih belum bangun juga, bahwa diriku terperangkap dalam mimpi yang berlapis-lapis.
Karena kondisiku yang tidak stabil, aku tidak bisa menerima penjenguk dan tak apa-lah karena aku pun tak ingin bertemu siapapun. Rasanya jika aku bisa jadi kura-kura, aku ingin bersembunyi dalam tempurungku selamanya. Tetapi bahkan kura-kura saja tidak aman karena mereka juga masuk dalam menu makanan juga.
Lagipula aku rasa saat ini orang-orang yang terlibat denganku akan meletakkan sebuah jarak diantara kami karena sekarang aku sedang dalam pengawasan polisi, bukan? Iya, aku melihat ada petugas polisi di depan kamarku. Untuk melindungiku? Tubuhku menegang saat sebuah pemikiran bahwa pembunuh berantai yang menyiksaku itu mungkin tidak tertangkap saat Amuro menemukanku. Apakah polisi khawatir si pembunuh akan kembali mencariku dan menghabisiku?
Aku menjadi panik sendiri. Aku menoleh kepada Papa yang tengah mengupas apel untukku. Perlahan-lahan aku membuka mulutku untuk memanggilnya. Suaraku kecil, serak dan terputus-putus.
Papa terlihat agak terkejut mendengar suaraku karena memang ini pertama kalinya aku berbicara semenjak kejadian yang menimpaku. Sepertinya biasanya aku hanya menjerit-jerit saja. Dia segera menghampiriku dan menanyakan berbagai macam hal kepadaku bertubi-tubi tanpa menunggu jawabanku, membuatku sedikit kesal dan geli.
Aku akhirnya menampilkan senyum kecil kepada Papa. Papa yang melihatku tersenyum terlihat sungguh lega. Dia memelukku erat-erat dan meminta maaf karena dia selalu tak bisa melindungiku dari bahaya. Aku ingin mengatakan kepadanya bahwa semua itu bukan salah dia namun suaraku seperti tidak mau bekerja sama denganku. Akhirnya aku hanya memeluknya kembali lalu menepuk-nepuk kepalanya seperti yang sering orang dewasa pada umumnya lakukan kepada anak kecil.
Papa terperangah sebentar sebelum dia tersenyum sayang kepadaku.
Sedikit aneh rasanya karena kedua orangtua-ku yang ini tidak segan untuk memperlihatkan rasa sayang dengan sentuhan jika dibandingkan dengan kedua orangtuaku yang sebenarnya. Biasanya keluarga semacam ini hanya kulihat dalam gambaran di beberapa film atau manga saja dan ya...mengingat saat ini aku sedang berada dalam manga, seharusnya aku tidak begitu terkejut, bukan? Aku selalu ingin tahu bagaimana rasanya memiliki keluarga yang semacam ini dan sepertinya keinginanku terkabulkan. Aku hanya bisa berharap tidak ada hal buruk terjadi pada keluargaku yang ini.
Aku teringat akan salah satu mimpiku yang aneh dimana aku melihat pantulan bayangan keluarga asli-ku dari dunia nyata, bahwa mereka sudah berhasil menjalani hidup mereka tanpa dilanda kepedihan akibat kehilanganku. Itu bagus, bukan? Tapi, entah kenapa aku jadi agak sedih juga. Aku buru-buru menggeleng-gelengkan kepala keras-keras seakan berusaha untuk mengusir pikiran jelek. Tidak boleh begitu, Eva. Aku harus bersyukur bahwa mereka baik-baik saja bahkan tanpa diriku. Aku menuturkan doa kecil bahwa hal itu benar adanya, bukan mimpi semata, bahwa mereka benar-benar baik-baik saja.
Papa menyalakan TV dan ada pemberitaan soal pembukaan Tohto Aquarium yang telah selesai direnovasi. Papa menoleh kepadaku dan menjanjikan bahwa setelah aku keluar dari rumah sakit nanti, jika aku mau, dia akan mengajakku kesana. Aku hanya mengangguk cuek dan menanyakan apakah Papa melihat smartphone-ku.
Papa mengambil smartphone-ku dari jaketnya yang digantung. Papa mengatakan kemarin dahulu Subaru sempat menelepon menginformasikan bahwa smartphone-ku ada padanya dan dia juga ada datang untuk mengantarkan smartphone tersebut yang katanya tertinggal dirumah keluarga Kudo. Untunglah aku mengunci smartphone tersebut dengan pin dan sidik jari-ku jadi Papa dan Mama akan susah untuk membukanya. Aku menggunakan pin ulang tahun-ku sebenarnya di dunia nyata yang jadi seperti nomor random disini karena tak ada yang tahu makna angka-angka tersebut bagiku selain diriku sendiri...dan Reina kurasa.
Sepertinya pikiranku jadi melenceng kemana-mana sampai aku jadi lupa hendak mempertanyakan soal polisi yang bertugas didepan kamar. Ketika aku menanyakannya kepada Papa, dia terdiam sesaat sebelum dia berkata bahwa penugasan polisi didepan kamar hanya standar formalitas saja dan bahwa pelaku penjahat yang menculikku sudah ditangkap oleh polisi. Dia memintaku agar tidak khawatir dan fokus untuk kesembuhan diriku saja.
Aku merasa lega setelah mendengar perkataan Papa dan aku memandang smartphone-ku berpikir apakah sebaiknya aku mengirimkan pesan kepada Shuichi dan menanyakan lebih detailnya soal penangkapan pelaku penjahat itu. Aku melihat orang itu tidak ada mengirimkan pesan kepadaku. Aku berpikir sedang apa dia saat ini. Mungkinkah dia merasa bersalah kepadaku karena aku diculik saat bersamanya? Aku teringat bahwa aku sendiri sempat merasa marah saat dilanda keputusasaan kenapa orang itu tak ada bersamaku. Tentu aku tahu hal itu bukan salahnya. Semoga saja dia tahu dan tak menyalahkan dirinya.
777
Betapa bodohnya diriku. Aku sama sekali tidak menyadarinya saat pemberitaan soal Tohto Aquarium kemarin dahulu. Hari ini aku kebetulan melihat berita di TV bahwa adanya serangan teroris pada tempat tersebut kemarin malam yang menyebabkan bianglala raksasa ditempat itu lepas kendali dan kejadian itu memakan beberapa korban jiwa.
Kejadian itu adalah film manga DC dimana adanya Curacao yang mencuri data NOC dari PSB dan bahwa Amuro hampir kehilangan nyawa-nya ditangan Gin akibat email yang dikirimkan Curacao soal pengkhianat organisasi tetapi Shuichi berhasil menyelamatkannya. Jantungku berdebur keras saat memikirkannya. Seharusnya semua berjalan sesuai filmnya, bukan? Aku khawatir adanya penyimpangan dari jalan cerita yang seharusnya karena diriku. Aku tak mengira kejadian dalam film itu terjadi dalam kurun waktu yang berdekatan dengan kejadian yang menimpaku. Bagaimana jika ada dampaknya juga dengan jalan cerita untuk film tersebut?
Aku segera mengambil smartphone-ku dan menelepon Amuro namun teleponnya tidak dijawab. Akhirnya aku nekat menggunakan nomor telepon rahasia yang diberikan olehnya. Jantungku berdebur keras saat aku menunggu telepon masuk dan ketika aku mendengar suara familiar orang itu, aku merasa beban di pundakku seperti lepas dan aku bisa bernafas lega lagi. Dia baik-baik saja, tidak terjadi hal buruk kepadanya.
"Eva? Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Amuro terdengar sungguh khawatir.
Untuk sesaat aku tak bisa menjawab. Akhirnya dengan suara lirih, aku mengucapkan terima kasih kepadanya karena telah menyelamatkanku dan aku juga minta maaf kepadanya jika mengganggunya saat ini.
Gantian Amuro yang tidak menjawab untuk sesaat. "Bagaimana keadaanmu sekarang, Eva? Apakah kau...baik-baik?" tanyanya pada akhirnya.
Aku tertawa kecil mendengarnya. Entah kenapa airmata membasahi wajahku mendadak. "Aku...aku rasa aku sudah tak apa-apa." Aku berpikir haruskah aku menyinggung menanyakan bagaimana cara dia menemukanku? Aku memutuskan untuk tidak melakukannya tetapi aku menyinggung soal bahwa aku kehilangan kalung pemberian dia.
"Tak apa-apa, Eva, nanti saat kita bertemu lagi, saat Eva sudah sehat kembali, saya akan memberikan kalung lain lagi untukmu." ujarnya.
Aku terdiam sesaat memikirkan kenapa kalung itu bisa hilang padahal jelas-jelas aku masih memakainya saat Amuro mengeluarkanku dari kandang jika ingatanku saat itu tidak salah. Apakah Amuro yang mengambilnya? Kenapa? Apakah dia tak ingin ketahuan bahwa dia menyematkan alat pelacak jejak itu?
"Eva?"
Aku menyadari aku kelamaan melamun. "It's a date." tukasku tanpa pikir panjang.
Amuro terdiam sesaat mungkin terpana akan pernyataanku tersebut lalu dia tertawa kecil. "Ok." tuturnya lagi-lagi meladeni keinginanku. "Saya senang Eva terdengar sehat saat ini. Sampai jumpa nanti."
Aku tersenyum-senyum sendiri sebelum menutup telepon. Rasanya aku merasa sedikit lega setelah berbicara dengan orang itu dan sepertinya dia terdengar baik-baik saja walau mungkin saja dia sedang terluka namun tetap berakting seakan dia baik-baik saja. Aku mana bisa mengetahui lebih jelas jika tidak melihat dirinya secara langsung. Mengingat kemampuan orang itu, aku rasa walau dia terluka, mungkin saja dia tetap berakting dan bertingkah seakan dia tidak terluka, bukan?
Saat aku memikirkan percakapan kami tadi, tiba-tiba aku jadi merasa malu sendiri. Apa-apaan aku tadi? It's a date? It's a date? Aku mengerang sembari membenamkan wajahku pada bantal merasa malu pada diri sendiri dan jadi ingin bisa mengulang waktu supaya aku tidak mengatakan hal bodoh semacam itu. Namun tak bisa dipungkiri aku merasa sangat senang dapat berbicara dengan Amuro lagi walau ada sebersit rasa khawatir tentang apa yang dipikirkannya kepadaku saat ini. Aku mengerang lagi sambil memukul-mukul bantal, merasa diriku sungguh bodoh.
Bodoh sekali kau, Eva? Untuk apa kau bicara begitu? It's a date? Memalukan! Ugh, cepat gali lubang dan kubur dirimu sendiri! Minta ampun, kau bodoh sekali!
Setelah puas memaki-maki diri sendiri dan mulai agak tenang, aku berbaring memandang langit-langit kamar. Sayangnya pikiranku masih melayang kepada seorang Amuro. Orang itu benar-benar telah menyelamatkanku. Aku harus bagaimana membalas budi orang itu? Aku rasa tak lama lagi kemungkinan aku harus memberitahukan setengah kebenarannya kepada Amuro seperti yang kulakukan untuk Shuichi, bagaimanapun Amuro telah menyelamatkanku, dia berhak untuk mengetahui apa yang kurahasiakan, setidaknya setara dengan Shuichi.
Senyumku memudar saat aku memikirkan Shuichi dan keadaannya saat ini. Aku berharap bisa membaca pikiran seorang Shuichi atau setidaknya mengerti apa yang kira-kira dipikirkan olehnya.
Iya, alangkah baiknya jika aku bisa tahu apa yang dipikirkan para tokoh favoritku tentang diriku sendiri. Tetapi...apa aku yakin mau tahu? Bagaimana jika pandangan mereka padaku negatif? Bagaimana jika mereka berpikir bahwa aku menyebalkan atau menyusahkan?
Sungguh tidak tahan dengan diriku sendiri yang selalu berpikir negatif terhadap diri sendiri seperti ini. Aku harus bisa mengubah diriku sendiri entah bagaimana caranya. Aku hanya bisa mendesah dengan hati terasa pedih.
Aku berusaha mengusir pemikiran yang tidak menyenangkan dan fokus pada Shuichi. Aku memutuskan mengirimkan pesan singkat kepadanya, menanyakan apakah dia baik-baik saja. Entah kenapa aku lebih pengecut dalam menghadapi seorang Shuichi Akai padahal sebenarnya aku sudah lebih jujur kepadanya ketimbang dengan Amuro tetapi entah kenapa sulit bagiku untuk mendekatkan diri kepadanya.
Untuk beberapa lama, aku kira dia tidak akan membalas pesanku tetapi lalu smartphone-ku bergetar dan aku buru-buru membaca pesan singkat dari orang itu.
Okiya: Aku baik-baik saja. Seharusnya aku yang menanyakan hal itu kepadamu.
Me: Aku juga baik-baik saja saat ini. Terima kasih sudah datang menyelamatkanku.
Okiya: Maaf. Aku seharusnya lebih berhati-hati denganmu.
Me: Bukan salah-mu.
Me: Tentang orang itu...apakah polisi menangkapnya?
Okiya: Kau tak perlu khawatir soal dia.
Me: Namanya...siapa nama orang itu?
Okiya: Kenapa Eva ingin tahu nama orang itu?
Aku bingung mau jawab apa.
Me: Yohan.
Okiya: Namanya Tatsuo Sugiyama. Dia sekarang sedang mendekam di penjara. Jadi kau tak perlu khawatir akan dia lagi.
Me: Terima kasih.
Tatsuo Sugiyama... Jika aku menuliskan nama orang itu pada buku Death Note, apakah aku akan menyelamatkan diriku sendiri? Aku bertanya-tanya kepada diriku dengan perasaan hampa. Apakah akan berhasil? Aku berasumsi itu nama dari raga yang dia pakai saat ini tetapi bagaimana dengan nama aslinya? Penulisan pada buku Death Note akankah bisa dilakukan jika jiwa dan raga dalam seseorang itu berbeda?
Aku jadi sakit kepala memikirkannya. Seharusnya mungkin bisa karena Death Note itu fungsinya mematikan raga. Jika raga itu bernama Tatsuo Sugiyama, seharusnya bisa, bukan? Aku tidak percaya aku memikirkan soal ini dan mempertimbangkan menuliskan nama orang itu.
Apakah sebaiknya aku memberitahukan kepada Yohan soal nama orang itu dan menyerahkan nasibnya kepada dewa kematian? Entah apa yang akan dilakukan Yohan kepadanya. Tetapi apakah aku benar-benar akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menyelamatkan diriku seperti ini?
Dan apakah kau juga tidak tertarik untuk mengetes buku Death Note itu kepadanya? Aku merasakan bisikan-bisikan yang terdengar jahat pada batinku. Kau tahu dia pantas menerimanya. Dia itu pembunuh berantai. Jika Light Yagami ada disini, dia tak akan ragu menuliskan namanya pada buku tersebut. Selain itu, orang brengsek itu telah menculik dan menyiksamu, tak maukah kau balas dendam kepadanya? Buatlah dia menderita berkali-kali lipat lebih dari saat dia membuatmu menderita. Do it, Eva! You know you want to...
Aku menggeleng-gelengkan kepala berusaha mengusir pemikiran buruk itu. Aku menyadari tubuhku gemetaran sendiri tanpa sadar saat tengah mempertimbangkan mencabut nyawa seseorang.
777
Aku sedang berada di taman rumah sakit untuk melatih kedua kakiku yang masih cedera dan menghirup udara segar. Papa sudah kembali bekerja jadi sekarang Mama yang kembali mengurusiku. Seharusnya tak lama lagi aku akan bisa keluar dari rumah sakit. Sebelumnya polisi ada datang lagi untuk menanyakan kondisiku dan ingin menginvestigasi soal penculikanku kemarin. Aku pura-pura tidak begitu ingat soal itu dan kedua orangtua-ku cukup protektif padaku sehingga mereka menghentikan pertanyaan polisi karena tak ingin aku tambah trauma.
Memang sebenarnya juga aku tak ingin begitu membicarakan soal kejadian waktu itu. Aku melangkah dengan tertatih-tatih dengan bantuan tongkat penyangga tubuh. Aku mengamati sekelilingku lagi dengan wajah agak muram. Jika aku berdiam diri dan melamun, aku selalu mendapatkan kilas balik saat aku masih berada dalam cengkraman orang bernama Tatsuo Sugiyama itu. Aku merasakan rasa ngeri saat teringat sorot matanya yang dingin dan...aku tak tahu apakah itu hanyalah khayalan atau halusinasi tetapi aku yakin saat itu warna mata orang itu seperti bersinar kemerahan dibawah cahaya lampu temaram.
Aku hampir saja menjatuhkan tongkat penyanggaku namun seorang gadis berwajah imut berkacamata bulat dan rambut dikepang dua tiba-tiba muncul dihadapanku dan mengambilkan tongkat itu sekaligus menahan tubuhku yang oleng. Aku menoleh kepada gadis itu hendak berterima kasih dan saat itu aku hanya bisa tertegun.
Gadis itu tersenyum ramah kepadaku dan mengajakku bicara namun aku terlalu berfokus pada nama familiar di atas kepalanya. Makoto Fueta. Mako. Pemuda yang iseng kuselamatkan dari para perundungnya dan pemuda yang menyelamatkanku yang terjatuh pada peron kereta.
Kenapa dia ada disini? Dan kenapa dia berdandan seperti seorang gadis? Dia bahkan memakai topeng kulit palsu yang kualitasnya mungkin setara dengan yang dipakai Shuichi Akai... Sungguh mencurigakan, bukan?
Orang yang biasanya memakai topeng kulit ala mission impossible itu biasanya hanya Kaito Kid, Yukiko Kudo, Vermouth, Amuro dan Shuichi. Siapa sebenarnya Mako ini? Kenapa dia mendatangiku dengan penyamaran? Penyamarannya pun sungguh sempurna baik penampilan dan suaranya. Aku tak mungkin bisa menyadarinya jika bukan karena mata shinigami-ku.
Aku menyadari bahwa Mako tengah menanyakan apakah aku baik-baik saja karena wajahku terlihat pucat. Aku buru-buru berusaha untuk fokus kepadanya. Aku mengucapkan terima kasih kepadanya karena telah membantuku. Aku berusaha bersikap sepolos mungkin namun sepertinya aku kurang bisa menyembunyikan kegugupanku. Mungkin masih bisa diterima mengingat aku baru saja selamat dari kasus penculikan dan penyiksaan dari orang asing. Jika aku terlihat gugup berhadapan dengan orang asing, itu normal, bukan?
Aku mengamati Mako diam-diam dan teringat akan kecurigaanku dulu kepadanya bahwa dia melakukan sesuatu kepada para perundungnya. Aku memang tidak memiliki bukti dan aku tidak terlalu tertarik mencari tahu.
Aku memang payah. Dimana rasa keadilan-ku? Jika Conan berada dalam posisiku, anak itu pasti sudah akan menyelidiki dan mungkin bahkan menemukan bukti pendukung kecurigaannya.
Sebuah pemikiran tiba-tiba terbersit dalam diriku. Selama ini aku tidak berusaha melibatkan diri dalam kasus-kasus pembunuhan yang dialami Conan. Aku berpikir aku tak ingin merusak alur jalan ceritanya. Cerita? Orang-orang ini seharusnya bukan lagi sekedar karakter dalam manga bagiku, bukan? Benar-benar ada korban mati berjatuhan dalam...cerita ini... Aku selalu beranggapan semua kasus yang ditemui Conan dan korban meninggal dalam kasus tersebut nasibnya memang sudah tertulis untuk mati sehingga aku sama sekali tidak pernah berusaha mengecek warna mereka. Bagaimana jika aku salah?
Terus, jika aku salah, aku mau apa? Sudah jelas, bukan, aku ini pengecut? Aku sama sekali tak bisa membantu warna kuning sejak pertama kali aku muncul didunia ini. Tak bisa atau tak mau? Sama sekali tak mau berusaha, ejek batinku.
Aku menggeram dengan gusar sembari mencakar pergelangan tanganku sendiri dengan kuku jari jemari-ku. Diam! Aku tidak memiliki obligasi apapun untuk menyelamatkan mereka! Aku bukan Peter Parker dengan moralitas 'with great power come great responsibility'-nya.
Aku mendengus sendiri. Dan kau berani menyatakan rasa suka kepada kedua orang itu yang menjunjung keadilan tinggi? Jangan harap mereka akan menyukaimu. Kau menyedihkan, Eva. Lebih baik kau mati saja daripada jadi beban.
Aku harus berusaha menahan diri untuk tidak menyambak rambut-ku sendiri saking merasa bencinya pada diri sendiri. Aku sampai lupa bahwa Mako tengah mengamatiku namun dia tak mengatakan apa-apa. Senyum kecil manis menghiasi wajahnya. Untunglah saat itu Mama menghampiriku dan Mako segera berpamitan dariku.
Aku memandangi kepergian Mako dengan perasaan gundah yang berbelit-belit. Aku memutuskan akan memberitahu soal Mako kepada Shuichi Akai. Aku khawatir jika aku memberitahukan soal orang itu kepada Caleb atau Lizzie, mereka akan bertindak berlebihan kepadanya. Aku hanya ingin agar Shuichi menyelidiki sedikit soal Mako. Bagaimanapun pemuda itu sungguh mencurigakan, bukan? Apalagi dengan kemampuan menyamarnya itu...
Aku tak ingin Caleb dan Lizzie memutuskan Mako berpotensi berbahaya dan akan menyingkirkannya. Dipikir-pikir entah kenapa aku mendapat vibe bahwa keduanya tidak segan menyingkirkan orang yang menghalangi jalannya terutama Lizzie. Aku lumayan beruntung saat ini karena keduanya kurang lebih berada di pihak-ku saat ini.
Catatan Penulis: Terima kasih kepada yang sudah meninggalkan berbagai macam bentuk komentar yang mendukung untuk cerita ini. Untuk selanjutnya, mohon komentar dukungannya tetap diteruskan selama masih menyukai jalan ceritanya. Jika sudah tidak suka, pasti pada menghilang saja, kan? Yaa, memang tidak bisa dipaksakan untuk selamanya menyukai ini apalagi kedepannya mungkin cerita ini akan makin ngawur.
Dan selama saya masih bisa mendapatkan inspirasi untuk menulis sesuai yang saya suka, saya juga akan tetap update tetapi selanjutnya mungkin tak bisa lagi cepat-cepat updatenya...kecuali lagi mood sekali. Makanya, dorongan semangatnya jangan lupa didonasikan ke saya ya!
Cerita ini sejak awal selalu dari sudut pandang Eva jadi pembaca hanya tahu yang Eva tahu dan pikirkan saja. Saya tidak yakin saya bisa menulis dari sudut pandang karakter lain terutama karakter-karakter favorit Eva. Ada yang menanyakan bagaimana pendapat Conan dan lain-lainnya tentang Eva dan sebenarnya saya sendiri tidak tahu. Saya khawatir jika saya menuliskan sudut pandang Shuichi, Amuro atau Conan, nantinya out of character-nya jadi terlalu berlebihan. Jadi lebih baik semua dari sudut pandang Eva biar dia bisa tetap halu terus akan perlakuan orang favoritnya kepadanya.
Eva itu...narator yang tidak bisa diandalkan. Semua yang Eva tahu adalah pendapat dan asumsi dirinya sendiri jadi bisa saja semua itu salah. Dan Eva mungkin terlalu menyukai Shuichi dan Amuro secara berlebihan sehingga mungkin saja dia salah menafsirkan perkataan dan pandangan mereka kepadanya selama ini. Dan mungkin juga Eva menutup matanya supaya tidak melihat kebenarannya karena jika dia mengetahui adanya kemungkinan bahwa orang-orang favorit-nya tidak menyukainya atau menganggapnya menyebalkan, dia pasti akan sedih dan tak bisa menerima.
Saat menulis cerita ini pertama kali sampai detik ini, saya sebenarnya masih penuh tanda tanya juga apakah bisa menamatkan cerita ini tetapi akhirnya saya memutuskan untuk tetap menuliskannya sekedar untuk menyenangkan diri sendiri dan para pembaca yang mungkin juga lumayan suka juga, selain itu biar lupa galau sendiri juga. Kemungkinan cerita ini jika sudah sampai poin tertentu, akan kehilangan daya tariknya dan akan berakhir sebagai discontinued. Doakan ya bahwa poin itu masih jauh di ujung sana, jauh-jauh sekali!
Saya berusaha untuk membuat ceritanya se-simple mungkin soal sebenarnya saya kurang bisa menuliskan cerita beradegan tegang makanya Eva itu hampir selalu jadi damsel in distress, kena bius melulu saat diculik karena saya juga kesulitan menceritakan momen penculikan ataupun penyiksaannya. Mungkin suatu hari Eva bakal digetok kepalanya sampai pingsan seperti Conan saat kebetulan terlibat bahaya lagi.
Sekali lagi terima kasih yang sudah bersedia memberikan komentar pendukung.
