Aku sudah tak sabar ingin pulang ke rumah. Akhirnya dokter sudah mengizinkan aku untuk pulang besok. Ini hari terakhirku di rumah sakit.
Aku tengah memakan menu makanan dari rumah sakit sembari menonton TV. Aku sedang menikmati makanan penutup puding. Aku melirik Mama yang tengah fokus mengetik sesuatu di tabletnya. Mama lalu menerima telepon dari smartphone-nya. Mama segera melangkah keluar dari kamar dan menutup pintunya untuk mendapatkan privasi saat berbicara.
Aku tak terlalu mempedulikannya masih menikmati puding-ku sembari menggonta-ganti channel pada TV.
Saat itulah aku menyadari sesuatu. Pintu kamar dimana aku berada menghilang dan sebagai gantinya sebuah pintu besi tua muncul. Aku terkesiap menyadari pintu besi itu adalah pintu yang pernah muncul dalam mimpiku...atau jika itu suatu kenyataan, pintu itu muncul saat aku berada di dunia arwah?
Aku tidak menyadari saat aku melangkah mendekati pintu tersebut seakan terhipnotis untuk menghampirinya. Aku tidak tahu mengapa aku tiba-tiba merogoh saku piyama-ku dan mengeluarkan sebuah kunci hitam tua. Bentuk kunci itu terasa familiar seakan aku pernah melihatnya selain dalam mimpiku yang kemarin.
Entah kenapa aku merasa harus menggunakan kunci itu untuk membuka pintu itu. Pikiranku menyadari bahwa aku pasti sedang bermimpi lagi ataukah...aku sudah mati lagi? Karena itukah aku melihat pintu itu lagi?
Aku memasukkan kunci pada lubang kunci dipintu dan berhasil membuka pintu besi tersebut yang berbunyi menderik saat aku membukanya.
Sebuah lorong suatu tempat yang tidak kukenal ada dibalik pintu dan aku terkejut saat melihat anak kecil yang waktu itu. Anak itu tersenyum ramah kepadaku lalu memberikan tanda dengan tangannya seakan menyuruhku untuk masuk.
Aku tak mau masuk tapi entah kenapa kedua kakiku melangkah sendiri dan melewati pintu tersebut. Aku melangkah mendekati anak itu yang langsung menyematkan salah satu tangannya kedalam genggamanku.
Anak itu masih saja tersenyum sembari menuntunku untuk mengikutinya. Tiba-tiba sekeliling kami seperti membuyar dan aku mendapati diriku berada disebuah ruangan tertutup.
Aku ingin bertanya kepada anak itu dimana kami saat ini dan apakah aku sudah mati namun entah kenapa aku tak bisa mengeluarkan suara untuk mempertanyakan hal itu.
Butuh waktu untuk beberapa saat untuk menyadari keberadaan seorang pria di dalam ruangan tertutup tersebut. Aku terkesiap saat menyadari bahwa aku tak bisa melihat data kematian pria didalam ruangan yang tersendiri itu.
Pria itu mendadak menoleh ke arahku, wajahnya kelihatan terkejut melihatku. "Kau...darimana kau masuk kesini?"
Aku tak ingat jelas wajah orang yang menculik dan menyiksaku namun aku mengenali suaranya. Tubuhku serasa mendingin saat aku menyadari siapa pria itu sebenarnya. Tatsuo Sugiyama.
Aku melangkah mundur dengan wajah pucat dan diliputi rasa takut yang luar biasa namun anak kecil itu mempererat genggamannya padaku. Aku pun menoleh ke arah anak itu penuh tanda tanya. Kenapa dia membawaku menemui Tatsuo? Apa maksudnya?
Anak itu seperti tengah menatapku walau aku tak bisa melihat kedua matanya yang tertutup rambut mop ikalnya. "Cabut nyawanya dan selamatkan dirimu." ujarnya.
Aku terkejut mendengar perkataannya. Aku buru-buru melepaskan tangannya dariku. "Siapa kau sebenarnya? Kau ini apa? Bagaimana kau tahu soal itu?"
Anak itu tersenyum yang terkesan creepy kepadaku namun tak menjawab pertanyaanku. Malah dia mengeluarkan sebilah belati dan mengulurkannya kepadaku.
Apa-apaan ini? Apa anak ini benar-benar ingin menyuruhku membunuh Tatsuo? Tidakkah dia menyadari aku ini saat ini berwujud anak kecil, mana bisa aku menang melawan Tatsuo yang bertubuh besar dan jauh lebih kuat dan lebih yakin dalam perihal mencabut nyawa?
Tatsuo tengah mengamatiku. Aku baru menyadari bahwa dia bisa melihat diriku namun dia tak bisa melihat anak kecil yang bersamaku.
"Bunuh dia jika kau ingin tetap hidup, Kak Eva." ujar anak kecil itu terdengar begitu polos jika bukan kalimatnya seperti itu.
"Hey, nak... Apakah...kau benar-benar ada disini?" panggil Tatsuo. "Ataukah aku sedang bermimpi?"
Aku menoleh ke arah pria itu dengan ngeri namun aku tak berdaya untuk menjawabnya. Aku buru-buru melangkah menjauhi Tatsuo berniat untuk keluar dari sana namun aku terkejut melihat pintu besi yang tadi sudah tidak ada.
Aku menoleh kepada anak kecil itu dengan wajah memelas. "Aku tak ingin berada disini. Tolonglah kembalikan aku ke tempat semula."
"Kau...bicara dengan siapa?" tanya Tatsuo sembari melangkah berdiri.
Aku menelan ludah dengan susah payah.
Anak itu masih saja tersenyum kepadaku. "I'm rooting for you so please don't die here..." ujar anak itu mendadak. Lalu dia menjatuhkan belati tadi ke lantai dan benda itu berbunyi keras saat jatuh ke lantai.
Aku tersentak saat aku menyadari bahwa pria itu juga menyadari dan melihat belati yang terjatuh di lantai.
Tatsuo tertawa seperti merasa geli. "Jadi kau datang kesini untuk membunuhku?"
Aku merasa tubuhku kegemetaran.
Pria itu tersenyum kepadaku. "Kau mengatakannya kepadaku sebelumnya...harus mencabut nyawa sesama pemilik mata shinigami demi mendapatkan esensinya...bukan?"
Aku terkejut karena dia mengetahuinya dan aku agak bingung juga karena aku tak ingat pernah memberitahukan soal esensi shinigami kepadanya.
Untuk beberapa saat aku hanya bisa menatap pria itu dengan kengerian yang tak bisa kukontrol. Aku tahu aku harus segera mengambil belati itu namun aku tak yakin aku akan bisa melukai pria itu. Aku berusaha fokus untuk segera mengambil belati itu namun aku kalah cepat karena saat aku melesat untuk mengambil belati itu, pria itu juga melesat ke arahku dan dengan sukses berhasil mencengkram leherku.
"Jika kau mati, aku akan selamat, bukan?" tanya Tatsuo dengan senyum sinis.
Sakit. Sakit sekali. Leherku sakit dan aku tak bisa bernafas. Apakah ini benar-benar terjadi? Apakah aku akan mati disini?
Tanganku meraba-raba lantai berusaha meraih belati yang tergeletak tak jauh dariku.
Pria itu tertawa terkekeh-kekeh seakan menertawakan usahaku untuk melawan balik.
Walau aku berhasil meraih belati tersebut, aku kekurangan tenaga untuk menusuk si brengsek itu. Dari awal, ini memang sudah tidak adil, bukan? Aku hanyalah anak kecil, ya dalam tubuh anak kecil, mana bisa aku melawan orang dewasa?
Dengan mudah pria itu merebut belati itu dariku. Dia melepas cengkramannya kepadaku. Aku terbatuk-batuk keras saat dia melepasku namun aku tak berdaya mencegah serangannya atau menghindarinya. Pria itu tanpa ampun melayangkan belati tersebut untuk menusukku.
Aku hanya bisa menutup mata dengan ketakutan dan tanpa daya akan situasiku yang sepertinya tiada harapan.
Tiba-tiba seseorang menjentikkan jarinya dan aku terbangun.
Aku terbangun dengan nafas terengah-engah dan aku memegangi leherku menyadari rasa sakit saat dicekik pria itu benar-benar nyata terasa. Aku dengan panik menghambur ke kamar mandi dan pada cermin, aku melihat cap cengkraman tangan yang ditinggalkan pria itu kepadaku.
Tubuhku gemetaran menyadari kejadian tadi itu bukan mimpi semata, bahwa itu benar-benar terjadi?
Siapa anak kecil itu sebenarnya? Semacam versi mini Freddy Krueger? Jika tadi Tatsuo berhasil menikamku sampai mati, apakah aku akan mati benaran?
Aku menyadari cap cengkraman tangan Tatsuo perlahan memudar sehingga tak lagi terlihat jelas dan tak akan menarik perhatian orang lain namun rasa sakit akibat serangan tersebut masih terasa jelas bagiku.
Aku memandangi cermin untuk beberapa saat. Lututku melemas dan aku pun menjatuhkan diri ke lantai.
777
Mama tengah menyelesaikan administrasi rumah sakit. Aku sudah berpakaian normal dan tak lagi memakai piyama dari rumah sakit.
Saat aku dan Mama hendak pergi, seorang suster menghentikan kami. Dia menyodorkan sebuah kunci hitam tua kepadaku yang membuatku sungguh tercekat. Suster mengatakan dia menemukan benda itu pada kantong piyamaku.
Sebenarnya siapa anak kecil itu? Anak itu sungguh aneh, sungguh mencurigakan. Aku mendesah menyadari tambah lagi orang aneh muncul disekitarku.
Yohan sepertinya mengenali anak itu, mungkin nanti aku bisa menanyakan soal identitas anak itu kepadanya. Tetapi pemikiran akan Yohan membuatku geram. Aku masih kesal karena shinigami itu meninggalkanku begitu saja dalam kandang.
Aku tahu bahwa sejak awal Yohan memang sudah mengatakan bahwa dia tidak peduli kepadaku. Tetapi aku kira kesepakatan yang kami buat setidaknya akan memberikanku sedikit perlindungan darinya.
Sepertinya tidak.
Mama menanyakan kepadaku apakah aku baik-baik saja. "Itu kunci darimana?" tanyanya juga.
"Oh ini...kunci mainan yang diberikan seorang anak kecil disini untukku..." jawabku setengah jujur.
Mama tersenyum kepadaku dan tidak menanyakan lebih lanjut soal itu. Dia mengelus kepalaku dan lalu menggandengku untuk pulang.
Aku tersenyum kepada Mama juga sebelum mengantongi kunci itu pada saku baju-ku. Terbersit dalam pikiranku untuk membuang kunci itu jauh-jauh dariku namun entah kenapa aku merasa itu hal yang salah sehingga aku memutuskan menyimpannya.
777
Aku harus belajar banyak setelahnya untuk menyusul ketinggalanku akan pelajaran di sekolah. Miyuki membantuku dengan sukarela, dia jadi sering main ke rumahku untuk belajar bersama.
Jujur aku tak begitu bisa konsentrasi karena pikiranku diselimuti banyak kekhawatiran akan bagaimana melepaskan diriku dari radar Yohan, soal anak kecil misterius itu yang sepertinya terlalu tertarik kepadaku dan aku tak tahu apakah itu baik atau buruk kedepannya, soal Tatsuo yang sepertinya mendapatkan informasi shinigami dariku walau aku tak merasa memberitahukannya dan aku harus mengonfirmasi apakah Tatsuo benar-benar tahu soal esensi shinigami dariku, dan jangan lupa soal kemunculan Mako dengan penyamaran sempurnanya.
Rasanya seperti aku itu tidak bisa mendapatkan jeda untuk istirahat menyantaikan batin.
Disekolah, aku menyadari kadang-kadang Conan dan Ai seperti terang-terangan untuk mengawasiku. Aku merasa mereka membicarakan soal diriku. Tapi bisa saja aku salah, mungkin aku terlalu paranoid?
Aku mendesah dengan pahit, menyadari bahwa aku itu sudah hampir seperti Conan saja selalu terlibat masalah, bedanya Conan lebih bisa menyelesaikan masalah sendiri dan menyelamatkan dirinya dengan kepintarannya. Sungguh memalukan diriku ini padahal sebenarnya dibandingkan dengan Shinichi, usiaku yang sebenarnya jauh lebih tua daripadanya tetapi aku sungguh tak berdaya, tak berguna dalam hal apapun. Oh, aku sungguh benci diriku ini.
Jadi apa yang akan aku lakukan soal itu? Bagaimana caraku berubah agar aku tidak lagi membenci diriku yang seperti ini? Apakah aku akan tetap menjadi seperti dulu, membenci diri sendiri, merasa iri pada orang lain dan menjalani kepahitan dalam hidup tanpa berusaha sebisaku untuk mengubah jalan hidupku agar lebih baik?
Beberapa kalipun aku mempertanyakan pertanyaan yang bersifat krisis eksistensial tersebut, aku selalu tak pernah mendapat jawabannya. Kemungkinan sekarang pun tak akan jauh berbeda.
Coba aku juga memiliki cheat code pribadi untuk diriku sendiri, buku pedoman untuk menjalani hidup dengan baik dan bahagia sampai akhir hayat. Memang hidup itu tidak mudah. Tentu saja pasti banyak juga yang kebingungan dan tersesat dalam menjalani hidup ini. Tetapi entah kenapa aku merasa orang lain sepertinya selalu bisa menemukan jalannya dan hanya diriku sendiri yang terjebak terus.
Aku lega karena Conan atau Ai tidak ada mendekatiku. Aku tahu jika Conan saat penculikan kemarin itu benar-benar ada ditempat, dia pasti memiliki pertanyaan soal kenapa aku bisa disana. Aku juga harus menanyakan pada Shuichi apakah Conan benar-benar ada saat itu dan jika iya, bagaimana dia bisa ada disana? Apakah Shuichi meminta bantuan anak itu demi menemukanku? Sayang sekali aku tidak mengetahui jelas bagaimana ketiganya, Shuichi, Amuro dan Conan sampai bisa bekerja sama.
777
Rasanya sedikit canggung pada saat aku kembali bertatap muka dengan Subaru saat jam les kami. Subaru tersenyum kecil menatapku sembari mengatakan bahwa aku harus bekerja keras demi mengejar ketinggalanku, membuatku sedikit resah karena kenapa agen FBI satu ini benar-benar niat sekali jadi guru les?
Agak sulit bagiku untuk memulai pembicaraan soal kejadian waktu itu. Ternyata benar Conan memang ada ditempat saat mereka menyelamatkanku. Awalnya Shuichi mengontak Amuro karena dia mengetahui bahwa orang itu memiliki alat pelacak jejak untuk memonitor diriku via kalungku.
Aku terkesiap saat konfirmasi bahwa kalung pemberian Amuro itu memang sudah dipasangi alat pelacak jejak olehnya dari awal. Tapi kapan dia memasangnya? Aku teringat saat kami pergi bersama ke aquarium dimana dia memberikan kalung itu padaku. Jadi sejak awal dia memang sudah merencanakan untuk memasangnya? Aku tak bisa kesal juga, bagaimanapun hasil akhirnya aku terbantu berkat itu.
Yang aku heran jika Shuichi menyadarinya, kenapa dia tidak memberitahuku? Bagaimana jika Amuro mengirimkan anak buahnya untuk mengawasiku dan jadi mengetahui keberadaan Caleb dan Lizzie? Ugh, aku pusing. Apa kekhawatiranku ditempat yang benar atau salah yah? Ah, aku ini sungguh bebal...
Subaru melanjutkan ceritanya bahwa saat dia kembali ke rumah Kudo untuk mempersiapkan dirinya, dia menemukan Conan yang tengah membaca file kasus pembunuhan yang sedang kami selidiki diam-diam. Rupanya anak itu melihatku naik mobil dengan Shuichi tanpa samarannya membuatnya curiga. Anak itu lalu masuk ke rumahnya sendiri untuk menyelidiki dan menemukan file kasus tersebut. Saat Shuichi kembali, dia lalu mempertanyakan kenapa Shuichi menyelidiki kasus itu. Walau berusaha menepis kecurigaan anak itu, akhirnya Conan jadi terlibat juga karena dia yang memang dasarnya tak bisa menghindari kasus. Lalu dia mengetahui bahwa aku diculik pelaku pembunuh dan akhirnya ketiganya jadi bekerja sama.
Walau Amuro memasangkan alat pelacak jejak pada kalungku, menemukan posisi tepatnya dimana aku disekap membutuhkan waktu cukup lama karena mereka harus mengitari daerah sekitar rumah pelaku bahkan ke area lainnya demi mendapatkan sinyal pada kalungku. Aku sungguh beruntung aku tidak melepas atau kehilangan kalung itu saat disekap.
Aku jadi bertanya-tanya apakah ketiganya ada membicarakan soal diriku. Memang aku sudah termasuk dalam posisi yang mencurigakan mengingat banyaknya kejadian buruk menimpa diriku secara beruntun.
"Sepertinya tak lama lagi Eva harus segera memutuskan apakah mau melibatkan kedua orang itu atau tidak." tutur Subaru.
Aku mengeryitkan dahi. "Jadi, yang kulihat waktu itu benar yah?" Aku menoleh kepada Subaru. "Apakah Kak Subaru dan Kak Amuro ada bertengkar didepan kamar rumah sakit dimana aku berada?" tanyaku.
Subaru terlihat agak terkejut saat aku menceritakan bahwa aku 'melihat' mereka bertengkar dan bahwa dari sanalah aku tahu soal kalungku. Dia terlihat sedang berpikir namun aku tak tahu apa yang dipikirkannya tetapi dia mengonfirmasi bahwa dia memang dikonfrontasi oleh Amuro soal diriku.
"Kak Subaru, aku ingin minta tolong, bisakah kau menyelidiki soal Tatsuo?" pintaku. Aku menyebutkan malam saat aku bermimpi diserang oleh Tatsuo. "Orang itu mengatakan bahwa aku memberitahu dia soal esensi shinigami tetapi aku tak ingat pernah memberitahunya. Sebenarnya banyak yang tidak kuingat soal hari itu..."
"Tidak heran jika Eva tidak begitu mengingat soal hari itu...Tatsuo Sugiyama...orang itu menyuntikan tubuhmu penuh dengan obat. Orang itu berniat menyiksamu." ujar Subaru dengan prihatin.
"Apakah dia memberiku obat yang membuatku berbicara yang sebenarnya?" tanyaku dengan tenggorokan tercekat. "Bagaimana jika dia tahu juga soal Caleb dan Lizzie? Bagaimana jika aku juga memberitahu soal dirimu dan yang lain?" Aku mulai panik memikirkan kebocoran apa saja yang kuberitahukan kepada penjahat satu itu.
Subaru berusaha menenangkan diriku yang hampir bengek saking paniknya. "Orang itu saat ini sudah dipenjara, dia tak akan bisa keluar untuk menyerangmu ataupun menyerang Caleb dan Elizabeth." ujarnya menenangkanku.
"Aku...harus tahu apakah aku benar-benar memberitahu dia semua itu..." ujarku sambil berusaha menahan ketegangan dalam diriku. Aku mengetahui bahwa Tatsuo mengetahui esensi shinigami karena dia menyatakannya dalam mimpiku itu, aku harus mengonfirmasi juga apakah hal itu benar terjadi, bahwa orang itu benar-benar tahu. Lalu bahwa konfrontasi diantara kami dalam mimpi itu apa benar terjadi? Tapi, apakah aku mau menemui Tatsuo? Bertemu dalam mimpi saja sudah membuatku menggigil ketakutan. Bukankah aneh jika seorang korban berusaha menemui penyiksanya?
Subaru mengamatiku lekat-lekat dan ketika aku menyadarinya, aku menjadi sedikit jengah.
"Saya rasa Eva belum siap mental untuk menemui orang itu lagi dan saya kurang setuju juga jika Eva menemuinya lagi." ujar Subaru. Dia mengelus dagunya sembari memikirkan alternatif lainnya.
Aku mendesah. "Besok aku akan menemui Caleb dan Lizzie juga. Mereka ingin bertemu denganku." tuturku. "Aku akan memperingatkan mereka juga soal kemungkinan Tatsuo mengetahui soal esensi shinigami."
"Hoh? Mereka sudah kembali?" tanya Subaru.
Terakhir kali Caleb dan Lizzie tengah memenuhi undangan dari Letifer untuk membicarakan soal diriku. Semoga mereka membawa kabar baik soal bagaimana agar aku bisa bebas dari shinigami. Walau rasanya aku merasa mereka kemungkinan tak bisa membantu, aku berusaha berpikir positif saja bahwa ada anggota Letifer yang mungkin pernah mengalami pertemuan dengan shinigami dan berhasil lolos.
Aku tenggelam dalam pemikiranku sehingga nyaris tidak mendengar saat Subaru meminta untuk ikut serta dengan pertemuanku besok dengan keduanya. Aku pun menyetujui keinginan dia.
777
Aku merasa Caleb dan Lizzie sungguh sangat paranoid karena dia membuatku dan Subaru berputar-putar kesana kemari sebelum akhirnya memberitahu lokasi keberadaan mereka.
Subaru mengetuk pintu kamar hotel dimana mereka berada. Lizzie yang membuka pintu dengan wajah sedikit cemberut saat dia melihat Subaru.
"Apakah kau harus 'membawa' dia ke setiap pertemuan kita?" tanyanya dengan agak sebal.
Subaru memperbaiki letak kacamatanya yang sempat berkilau sesaat sembari tersenyum misterius. "Saya sudah menjadi bagian dalam ini bagaimanapun."
Aku hanya tertawa renyah menatap keduanya.
Caleb menyambutku dengan hangat dan menyambut Subaru dengan sopan yang terkesan berhati-hati.
"Bagaimana? Apakah kalian menemukan sesuatu?" tanyaku akhirnya tidak tahan dengan keheningan tidak nyaman diantara kami.
Caleb dan Lizzie saling bertukar pandang dan ekspresi mereka kelihatan tidak senang membuatku berusaha mempersiapkan diri untuk kabar buruk.
Caleb menyodorkan sebuah undangan kepadaku. "Mereka bilang mereka tahu sesuatu tetapi sebelum mengungkapkannya, mereka ingin bertemu denganmu dulu."
Aku mengamati undangan pada tanganku dengan cermat. Ada ukiran huruf L disampul undangan dengan font unik yang mengingatkanku akan font yang mereka gunakan untuk L dari Death Note. Aku mendengus menyadari ironi bahwa organisasi pemilik mata shinigami seperti Kira dalam Death Note malah memakai lambang L. Salah satu atau lebih pemilik mata shinigami dalam Letifer sepertinya mengetahui soal Death Note.
Aku melongo setelah membaca surat undangan bernada super formal itu. Mereka ingin menemuiku...dua minggu lagi. Wow, mereka benar-benar tidak terburu-buru untuk menemuiku mengingat seharusnya mereka menyadari posisiku yang dalam bahaya dari ancaman dewa kematian. Aku mulai merasa bahwa organisasi tersebut pasti terdiri dari orang-orang yang menyebalkan. Sabar, Eva, sabar, jangan menghakimi duluan sebelum mengetahui lebih jelas.
Aku menyodorkan undangan tersebut kepada Subaru. Undangan itu bahkan tidak mencantumkan lokasi pertemuan dan bahwa mereka akan mengontakku untuk lokasinya dua minggu lagi. Mungkin mereka khawatir jika dicantumkan sekarang, akan ada kebocoran informasi dari pihakku. Apakah mereka berpikir aku hendak menyiapkan jebakan untuk mereka nantinya? Hah, sudah seakan aku ini semacam dalang manipulatif yang hebat saja.
Subaru lalu berbicara dengan Caleb soal anggota Letifer namun aku tidak terlalu mendengarkan. Aku hampir tersentak kaget saat Caleb menyentuhku, rupanya dia tadi memanggilku dan menanyakan keadaanku.
Aku menyadari Subaru, Caleb dan Lizzie mengamatiku dengan prihatin. Aku pun berusaha menampilkan senyum polos bahwa aku baik-baik saja namun menilik reaksi mereka, aku rasa aku gagal meyakinkan mereka.
Aku pun lalu mulai memberitahu mereka soal mimpiku akan Tatsuo.
Subaru menyarankan untuk melibatkan Amuro yang memiliki akses kepolisian jika aku benar-benar ingin mendapatkan akses akan Tatsuo. Namun Lizzie menolak mentah-mentah soal itu dan mengatakan bahwa dia dan Caleb akan mengatasi Tatsuo dengan koneksi mereka.
Lagi-lagi aku tenggelam dalam lamunanku. Aku sulit fokus sepertinya sehingga tidak mendengar jawaban mereka ketika ditanya oleh Subaru niat mereka terhadap Tatsuo. Aku merasa telingaku mendenging.
"Apakah kau sudah bertemu lagi dengan shinigami bernama Yohan itu?" tanya Caleb kepadaku.
Aku mengerjap-ngerjapkan mata berusaha untuk fokus. Aku mendesah. "Aku bertemu dengannya dalam mimpi? Atau saat aku dalam keadaan tidak sadar? Aku tak tahu jelasnya...tapi jika itu benar nyata, dia yang membawaku kembali?"
"Apakah dia menanyakan soal Tatsuo Sugiyama?" tanya Lizzie.
Aku menyadari bahwa Yohan memang tidak ada menyinggung soal Tatsuo. "Tidak...seingatku..." jawabku lirih dengan dahi berkerut. Sebenarnya pemikiranku makin tambah kacau saja rasanya. Apakah aku melupakan telah melaporkan soal Tatsuo pada Yohan? Aku mencengkram rambutku tanpa sadar. Aku menggigit bibirku. "Tidak." ujarku seakan meyakinkan diriku sendiri.
Ketiganya saling bertukar pandang membuatku sedikit gusar namun aku tak mengatakan apa-apa.
"Saya menemukan sesuatu yang harus kalian lihat." ujar Subaru tiba-tiba. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah USB. Dia meminjam laptop milik Caleb untuk membuka USB tersebut. Dia menoleh padaku. "Jadi semalam koneksi saya memberikan informasi mengenai pendonor mata Lucille Monroe."
Dia membuka file pada USB dan memperlihatkan data seorang pemuda bernama Ben Hope. Caleb dan Lizzie pun segera mencermati data tersebut denganku. Terkonfirmasi bahwa Ben Hope itu sama dengan kami dengan adanya informasi bahwa orang itu pernah koma selama 6 bulan setahun sebelum kematiannya.
Aku terkesiap saat membaca laporan kematian pemuda tersebut. Ternyata pemuda itu bunuh diri.
"Apakah dia benar bunuh diri?" tanya Caleb. "Bisa saja salah satu pemburu membunuhnya dan merancangkannya seakan dia bunuh diri."
Subaru menggelengkan kepala. "Sudah dipastikan bahwa Ben Hope bunuh diri." Dia lalu membuka sebuah file video yang memperlihatkan Ben sedang berada di sebuah tepian kolam renang sembari meminum berkaleng-kaleng bir.
Aku, Caleb dan Lizzie menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya. Rupanya insiden bunuh diri pemuda itu terekam dalam CCTV. Ben meminum sebotol pil sebelum melanjutkan minum. Mendadak pemuda itu menoleh ke arah CCTV dengan tatapan sendu. Mulutnya membuka seakan mengatakan sesuatu. Lalu dia menyelam ke dalam kolam, membiarkan dirinya mengapung di permukaan air dengan tatapan kosong sebelum perlahan-lahan tubuhnya melemas dan... Entah kenapa batinku merasa sedih saat melihat ekspresi wajah pemuda itu.
Caleb mengutak-ngatik video itu untuk memperbesar sebagian area pada video dan memutar balik video ke detik dimana Ben mengucapkan kata-kata.
Aku mengamati Caleb menyadari dia tengah berusaha mencerna kata-kata terakhir seorang Ben Hope. Aku mengamati video namun aku menyerah, tak bisa membaca pergerakan bibir.
Caleb segera mencari kertas dan pen untuk menuliskan apa yang dia tangkap dari pergerakan bibir Ben.
"This world is not real. Escape while you still can."
Sesaat pikiranku jadi buntu saat mendengar Subaru mengatakan kalimat itu bersamaan saat aku membaca kalimat yang ditulis Caleb.
Aku, Caleb dan Lizzie saling bertukar pandang dengan gundah.
Subaru mengamati kami bertiga. "Apa kalimat tersebut memiliki makna tertentu bagi kalian?" tanyanya.
Tentu saja kami kurang lebih mengerti makna perkataan tersebut. Menurutku, Ben sepertinya tak bisa menerima kenyataan bahwa dia terperangkap dalam dunia yang tidak nyata baginya dan akhirnya lebih memilih mati. Tetapi kenapa dia mengucapkan kalimat itu sambil memandang CCTV? Seakan dia tengah meninggalkan pesan untuk seseorang atau siapapun yang mungkin dalam kondisi yang sama dengannya?
Aku jadi penasaran kehidupan macam apa yang dijalani Ben Hope sebelum kematiannya. Apakah dia tak memiliki siapapun di dunia ini sehingga dia sampai putus asa dan memilih mati? Apakah dia pernah bertemu dengan pemilik mata shinigami lain?
Entah kenapa aku merasa sungguh terusik akan kata-kata terakhir Ben. Aku tak bisa memahami kenapa aku merasa tertekan mendadak. Mungkin karena sebagian diriku masih merasa ingin mati?
Aku menggeleng-gelengkan kepala keras-keras berusaha mengusir jauh pemikiran itu. Jangan menjadikan soal ini tentang dirimu, Eva! Ini tentang Ben Hope. Tapi sebenarnya aku tak tahu apa-apa soal Ben Hope.
Aku tak bisa fokus lagi dengan sekelilingku dan akan pembicaraan yang tengah terjadi diantara Caleb, Lizzie dan Subaru. Tetapi aku menangkap bagian dimana Subaru mengatakan Ben Hope itu sebenarnya bukan pendonor, bahwa sepertinya jasadnya ditukar karena seharusnya jasadnya dikremasi.
Aku tertegun, dipikiranku masih terbayang cuplikan video wajah sendu Ben saat dia mengucapkan kata-kata terakhirnya.
