Aku memikirkan tentang yang kuketahui soal insiden penculikan diriku oleh Tatsuo.

Subaru mengatakan bahwa orang itu menyuntikkan berbagai macam obat sebagai alat penyiksaan pada diriku. Kata Subaru, kebanyakan obat yang digunakan bisa membuatku sakit secara fisik dan sisanya untuk mengusik mentalku dengan memperlihatkan halusinasi. Dia juga mengonfirmasi bahwa Tatsuo juga memberiku obat yang membuatku lengah dan lebih mudah mencari jawaban yang dia inginkan dariku.

Ini benar-benar membuatku khawatir. Aku khawatir hal-hal apa saja yang Tatsuo dapat dariku saat itu. Bagaimana jika aku memberitahu dia soal Death Note?

Aku menggeram dengan gusar akan situasi yang membuatku tegang terus.

Diantara kekhawatiranku akan Tatsuo, undangan dari Letifer dan soal Ben Hope, aku jadi melupakan niatku untuk meminta Shuichi menyelidiki Mako.

Aku benar-benar sudah pikun padahal otak raga-ku saat ini baru berusia 13 tahun seharusnya masih dalam perkembangan. Apakah mungkin karena jiwaku yang asli jauh lebih tua dari raga ini jadi menghambat perkembangan otak? Ah, sudahlah, jangan ngawur, Eva.

Aku mendesah memikirkan kenapa aku selalu mengejek diriku sendiri. Be nice to yourself, Eva, don't be mean!

Aku merebahkan diri diatas ranjang sembari menatap langit-langit kamar. Setelah beberapa saat, aku bangkit mengambil smartphone-ku dan mengirim pesan kepada Caleb menanyakan perkembangan penyelidikan mereka akan Tatsuo. Aku penasaran bagaimana cara Caleb dan Lizzie mencari tahu apakah Tatsuo benar mengetahui soal esensi shinigami atau tidak. Jangan-jangan mereka akan berkunjung langsung ke penjara untuk menemuinya? Aku tercekat memikirkannya. Tidaklah, mereka tak mungkin gegabah memperlihatkan keberadaan mereka kepada Tatsuo, bukan? Tapi...bagaimana jika Tatsuo memang sudah tahu soal mereka...dariku?

Semenjak keluar dari rumah sakit, aku belum pernah lagi ke Poirot dan bertemu langsung dengan Amuro. Orang itu juga tidak ada mengontakku. Batinku terjerat antara rasa lega karena bisa menunda tagihan bahwa aku berhutang penjelasan kepada orang itu dan rasa sedih karena dia tidak mencariku. Aku tertawa renyah saat pemikiran bahwa aku itu ingin caper memasuki kepalaku. Caper? Ah, sudah, lelah juga akan suara-suara judes dalam kepalaku ini.

Tetapi tak bisa ku pungkiri aku memang ingin bisa berinteraksi dengan Amuro lagi. Aku memang bodoh seharusnya bisa saja aku menemui dia jika aku ke Poirot tapi aku malah galau tidak jelas seperti ini. Aku agak khawatir kecurigaannya kepadaku sudah seperti apa sekarang. Dan jangan lupa soal Conan juga yang rupanya mengetahui bahwa aku berada dengan Shuichi sesaat sebelum diculik. Ah, aku merasa tenggorokanku seperti terhimpit sesuatu akibat rasa gugup yang kurasakan mengenai kedua orang itu. Shuichi benar, aku harus segera memutuskan apakah melibatkan mereka atau tidak.

Aku jadi teringat akan Lizzie, gadis itu sangat menentang jika aku mempertimbangkan hendak memberitahu perihal mata shinigami kepada orang lain lagi. Tapi, bukankah itu hak-ku jika aku nantinya memberitahu orang lain soal mata-ku? Selama aku tidak memberitahu identitas Caleb dan Lizzie kepada orang lain, seharusnya tak apa, bukan? Aku merasa kepalaku mulai berdenyut-denyut lagi. Ugh, pusing! Kenapa sangat berbelit-belit sekali diriku dalam mengambil keputusan untuk memberitahu kebenarannya kepada Amuro atau Conan? Aku memijat-mijat pelipisku dengan ekspresi masam.

Sebuah pesan masuk membuyarkan lamunanku. Aku membuka dan membaca pesan tersebut yang ternyata dari Caleb. Mataku membelalak lebar saat membaca isi pesannya. Caleb mengatakan bahwa dia mendapatkan info bahwa seseorang mencoba membunuh Tatsuo dipenjara namun nyawa orang itu masih selamat dan sekarang sedang dirawat dirumah sakit yang bekerja sama dengan pihak penjara. Aku pun buru-buru menelepon Caleb untuk mencari tahu lebih jauh namun orang itu malah tidak mengangkat telepon dariku membuatku merasa sebal.

Akhirnya aku memutuskan menelepon Subaru namun dia juga tidak mengangkat telepon dariku. Aku melototi smartphone-ku dengan geram. Aku menyadari jantungku berdebur keras jadi aku berusaha menenangkan diriku sendiri. Setelah beberapa saat, aku mulai merasa normal lagi namun aku jadi kepikiran soal orang yang mencoba membunuh Tatsuo. Apakah pelakunya seorang pemburu? Atau perkelahian sesama tahanan seperti di film-film? Aku menoleh menatap smartphone-ku dengan gemas, masih agak geram karena tak bisa menghubungi Caleb ataupun Subaru.

Dipikir-pikir aku tidak tahu apakah para pemburu mengetahui keberadaan Tatsuo atau tidak. Aku tercekat lagi memikirkan jika mereka mengawasiku, kemungkinan mereka mengetahui bahwa aku terlibat konflik dengan Tatsuo. Mungkinkah mereka jadi akan menyelidiki Tatsuo karena diriku? Dan...jika mereka mendapatkan data dan mengonfirmasi bahwa Tatsuo juga mungkin pernah koma 6 bulan yang sepertinya menjadi ciri-ciri seorang pemilik mata shinigami, bukankah orang itu dalam bahaya jadinya?

Aku mengerutkan hidung akan pemikiran bahwa aku mengkhawatirkan soal keselamatan Tatsuo. Tetapi, tidak bisa tidak, aku khawatir akan Tatsuo karena keberadaan orang itu adalah bukti nyata bahwa pemilik mata shinigami adalah orang jahat. Jika mereka menggunakan Tatsuo sebagai contoh demi mengesahkan keyakinan mereka bahwa kami semua pantas mati, bagaimana? Aku mendesah galau sembari memandangi smartphone-ku. Aku ingin berkonsultasi akan kegalauanku ini kepada Subaru atau Caleb tetapi susah sekali sepertinya.

Aku mendesah lagi dengan pasrah. Aku tahu kemungkinan Subaru ada kesibukan sendiri dengan FBI jadi mana bisa dia terus-menerus meladeniku. Tetapi Caleb...teganya dia memberikanku informasi semacam itu lalu tak bisa dihubungi untuk kejelasannya lebih jauh. Aku bisa saja menanyakan langsung ke Amuro karena aku tahu dia pasti tahu, tapi bagaimana aku bisa menjelaskan kepadanya darimana aku tahu soal informasi itu? Ah, saat seperti inilah aku merasa memang lebih baik aku melibatkan Amuro dalam rahasia-ku supaya seperti yang Subaru katakan kurang lebih jadi aku memiliki koneksi juga.

Aku menggeram dengan keras, kesal sendiri dengan kebimbangan dalam diriku. Aku bangkit berdiri dari tempat tidurku dan keluar kamar. Tak ada gunanya aku menyendiri dalam kegalauan, lebih baik aku mengalihkan perhatianku ke hal-hal lain saja dulu. Aku menuju ke ruangan bawah dan duduk di sofa untuk bergabung dengan Mama yang sedang menonton drama di TV sembari memegangi dan melihat tabletnya sesekali.

Mama tersenyum saat melihatku dan menepuk tempat disampingnya dan aku pun duduk merapat didekatnya. Mama merangkulku dan membelai kepalaku dengan lembut. Aku memposisikan diriku senyaman mungkin sebelum mengalihkan perhatianku pada acara drama di TV. Aku sebenarnya tidak begitu mengikuti alur ceritanya karena mendadak merasa agak ngantuk akibat dibelai-belai terus oleh Mama seakan aku ini anak kucing saja. Akan tetapi sesaat sebelum aku akan jatuh dalam godaan untuk tidur, aku dikejutkan oleh breaking news di TV tentang Kaito Kid.

Aku membelalakan mata dan memperbaiki posisi dudukku sembari mencermati berita di TV. Rupanya terjadi kehebohan karena Kaito Kid mengirimkan pemberitahuan bahwa dia akan mencuri permata random yang tengah dipamerkan oleh Jirokichi Suzuki, pamannya Sonoko. Aku berusaha mengingat-ngingat apakah ini salah satu kasus pencurian yang ada di manga atau bukan. Malu juga mengaku sebagai penggemar Kaito Kid, namun aku tak terlalu peduli dengan aksi pencuriannya, bahkan aku tidak ingat nama-nama permata apa saja yang pernah menjadi targetnya.

Sebelum adanya Shuichi Akai dan Rei Furuya, aku sangat mengagumi Kaito Kid di momen penampilan pertamanya sampai pernah terbawa dalam mimpi. Waktu itu, pengarangnya belum membuat manga khusus Kaito Kid, atau mungkin aku yang telat mengetahuinya keberadaan manga itu, jadi aku juga belum tahu siapa nama aslinya Kaito Kid. Ketika membaca manga Magic Kaito, jujur aku agak kecewa dengan jalan ceritanya. Kaito Kid atau Kaito Kuroba memiliki teman semenjak kecil dan calon kekasih, Aoko Nakamori, yang kebetulan anak dari Inspektur polisi yang bertugas untuk menangkap pencuri berbalut setelan serba putih itu. Kemiripan wajah kedua tokoh utamanya dengan Shinichi dan Ran sedikit mengecewakan. Lalu, kenapa harus teman semenjak kecil pula? Aoyama Gosho benar-benar suka sekali dengan childhood friends to lovers trope.

Saat membaca lebih lanjut ceritanya, aku jadi mengetahui sikap Kaito Kuroba yang kadang konyol dan kadang cool. Mungkin aku memang dangkal karena aku menyukai ilusi penampilan Kaito Kid, the gentleman thief, daripada orang asli dibalik topeng. Habis sulit menyukai Kaito Kuroba yang diceritakan sangat nakal dan suka mengintip celana dalam gadis-gadis disekolahnya tetapi dia dideskripsikan sebagai seorang yang sangat pintar dan cerdik. Kemunculan Saguru Hakuba juga saat di manga DC membuat hatiku berdebar-debar karena dia pun sangat cool.

Alangkah menariknya jika Aoyama Gosho menampilkan lebih banyak detektif remaja perempuan dalam manga-nya. Kalau tidak salah, ada cerita dalam manga DC dimana ada detektif remaja perempuan saat para detektif dikumpulkan di satu lokasi tetapi berakhir dengan detektif tersebut sebagai pelakunya, sayang sekali. Memang sekarang sudah ada Masumi Sera tapi aku ingin lebih banyak detektif perempuannya ditampilkan dalam manga.

Dulu, sempat diriku berharap bahwa love interest-nya Kaito Kid adalah seorang detektif, pasti akan lebih menarik. Sayangnya hal itu tidak terjadi. Maka, aku sungguh menaruh harapan pada fanfiction untuk menampilkan cerita yang semacam itu. Tetapi kebanyakan sepertinya lebih tertarik memasangkan Kaito dengan Shinichi atau Hakuba jadinya. Aku tidak mempermasalahkan itu, namanya juga fanfiction, terserah yang menulis dan yang membaca untuk menyukai pemasangan yang mereka sukai, bukan?

Aku pun jadi berusaha mengingat-ingat detail-detail manga Magic Kaito namun aku sepertinya kurang ingat karena memang manga tersebut baru berjalan sedikit saja, atau mungkin aku sudah ketinggalan jauh juga. Sepertinya aku lebih fokus akan manga DC ketimbang MK. Aku ingat ayahnya Kaito dibunuh oleh organisasi misterius dan bahwa mereka mengincar permata pembawa keabadian bernama Pandora. Aku ingat ibunya Kaito kemungkinan juga seorang pencuri? Masih kurang jelas info-nya soal itu. Lalu...

Mataku membelalak lebar saat aku teringat akan salah satu karakter dalam MK. Akako Koizumi. Kalau tidak salah namanya itu? Akako Koizumi itu adalah satu-satunya bukti nyata keberadaan supernatural di dunia ini. Gadis itu adalah penyihir yang muncul dalam manga MK dan merupakan teman sekelas Kaito. Tetapi, aku pernah membaca wikipedia yang menyatakan bahwa Aoyama Gosho mengatakan bahwa karakter Akako bukan karakter canon untuk dunia manga DC. Jadi, apakah gadis itu ada di dunia ini atau tidak?

Jika Akako benar-benar ada, kemungkinan dia satu-satunya harapan-ku untuk mengatasi situasi supernatural pada diriku.

Jantungku berdebur keras saat menyadari kemungkinan itu. Tetapi, jika gadis itu nyata pun, apa bisa dia membantuku? Lebih tepatnya apa dia mau membantuku? Ugh! Aku berusaha mengingat-ingat nama SMA dimana Kaito dan Akako berada. Aku hampir ingin menjambak rambutku sendiri saat menyadari pikiranku kosong akan soal itu. Aku padahal tahu soal kota Beika dan Sekolah Teitan tetapi kenapa aku tak bisa ingat nama sekolah Kaito ataupun daerah tempat tinggal pemuda itu. Aku mengerang.

Aku menyadari Mama tengah mengawasiku dengan agak kebingungan melihat tingkahku. Aku pun segera menampilkan senyum sepolos mungkin dihadapan Mama. Mama menanyai ada apa dengan diriku. Aku pun mengalihkan pembicaraan kepada Kaito Kid. Di TV sedang ditampilkan beberapa sosok Kaito Kid yang bagai selebriti dikarenakan banyaknya penggemar si pencuri misterius.

"Mama, aku ingin bertemu Kaito Kid." tukasku.

Mama menatapku dengan heran. "Kenapa?"

Lalu, aku dengan gaya heboh, berusaha menjelaskan bahwa aku adalah penggemar Kaito Kid dan mulai memuji pencuri itu secara berlebihan. Setelah berbicara panjang lebar soal Kaito Kid, Mama malah tertawa geli dan berkata, "Bagaimana pendapat Kak Amuro-mu yang detektif jika dia tahu bahwa Eva menyukai Kaito Kid yang seorang kriminal?"

Aku melongo, tidak mengira Mama akan menggodaku dengan mengungkit soal Amuro. Aku pun pura-pura merengek, ingin ikut menonton kemunculan Kaito Kid di tempat dimana dia akan melakukan aksi pencuriannya yang selalu penuh gaya.

"Aku akan meminta bantuan Kak Sonoko! Permata yang ditargetkan Kaito Kid adalah milik pamannya Kak Sonoko. Boleh, ya, Ma, aku boleh pergi kan?" rengekku, tidak malu-malu lagi bertingkah layaknya anak kecil yang tengah menginginkan sesuatu. Mama akhirnya mengalah dan mengizinkanku jika memang Sonoko akan membantuku mendapatkan akses pada acara tersebut.

Aku tersenyum riang dan buru-buru mengambil smartphone-ku untuk mengontak Sonoko. Aku bersiap-siap berakting memelas saat berbicara dengan Sonoko. Untungnya dulu aku memang sudah pernah menunjukkan ketertarikan akan Kaito Kid didepan Sonoko jadi gadis itu bersedia membantuku, sebagai sesama penggemar Kaito Kid-sama, katanya. Aku merasa lega telah mendapatkan akses untuk tempat dimana Kaito Kid akan beraksi.

Selanjutnya, aku harus memikirkan bagaimana bisa memojokkan pencuri itu sebentar untuk meminta bantuannya agar dapat menghubungi Akako. Ugh, jika saja aku ingat nama sekolah Kaito, aku hanya perlu mencari tahu lokasinya dan dari sana akan lebih mudah mencarinya. Tetapi dipikir-pikir, Akako sepertinya bukan orang yang akan mau membantu orang dengan cuma-cuma. Apa yang bisa kuberikan kepadanya sebagai ganti bantuannya? Memang lebih baik aku mendekati Kaito dulu, dan mungkin, mungkin Kaito bisa membantuku membujuk Akako. Setahuku Akako memiliki titik lemah terhadap Kaito jadi mungkin saja berhubungan dengan Kaito dahulu bisa menambah nilai plus bagiku di mata Akako?

Sebenarnya aku agak takut juga untuk menemui Akako, bagaimana jika dia tidak suka padaku dan aku disihir diubah jadi kodok terus dimasukkan ke gentong kuali untuk dijadikan bahan obat ramuan penyihir? Hiih!

Aku mendesah. Bisa saja aku meminta bantuan Caleb tetapi aku tak tahu bagaimana reaksi Akako terhadap keberadaan kami. Jika reaksinya buruk, bukankah berarti aku menempatkan Caleb dalam bahaya akibat kecerobohanku? Tetapi, jika ada Caleb yang tampan, mungkin saja Akako yang suka pemuda tampan akan lebih bersedia membantu. Tetapi, aku khawatir mengingat Akako dikatakan ingin menjadikan semua pria di dunia ini sebagai budak cintanya, aku tak ingin sampai Caleb jadi korbannya. Sama hal-nya jika aku meminta tolong pada Subaru, aku tak rela jika sampai Subaru juga jadi korban penyihir satu itu. Tidak! Tidak bisa! Aku memang harus menemuinya sendiri. Be brave, Eva!

Jadi, pertama-tama, temui Kaito Kid dan pastikan bahwa Akako itu nyata ada di dunia ini. Tetapi, apakah aku bisa membuat Kaito Kid bersedia membantuku? Tapi, Kaito adalah orang baik jadi jika dia melihatku yang anak kecil meminta bantuannya, pasti dia akan membantu, bukan? Kecuali dia mengira aku setara dengan Conan dan berarti baginya, aku sosok yang mencurigakan? Duh, pusing, dipikirkan nanti saja kalau sudah bertemu langsung dengannya. Aku memijat-mijat pelipisku yang mulai terasa berdenyut-denyut lagi.

Aku memandang berita yang masih membicarakan Kaito Kid dan targetnya kali ini. Sebuah permata bernama Persephone's Heart diperlihatkan sekilas fotonya di layar kaca dan pemberitanya memberitahu sedikit soal sejarah dari permata tersebut. Aku mengenali nama Persephone yang berasal dari mitologi yunani dimana dia anak dewi Demeter yang diculik dan dijadikan istri oleh dewa penguasa dunia bawah, Hades.

Aku termenung memikirkan soal aksi Kaito Kid ini ada dalam manga atau tidak. Aku sama sekali tidak mengingatnya dan dari nama permatanya, apa mungkin aku melewati membacanya? Itu mungkin saja karena memang belakangan aku malas mengikuti manga DC kecuali itu soal organisasi hitam atau jika jalan ceritanya ada kedua orang favoritku. Aku tak pernah mengaku sebagai penggemar fanatik manga DC, ok? Rasanya malah aku lebih banyak membaca fanfiksinya jadinya ketimbang manganya.

Aku kembali merasakan kegalauan saat memikirkan apa tindakanku benar berusaha mencari dan meminta bantuan dari Akako. Aku berusaha mengusir keraguanku dan berusaha fokus pada fakta bahwa jika aku melakukan ini, aku juga bisa bertemu Kaito Kid. Itu nilai plus, bukan? Aku hanya bisa berharap dan berdoa aku tidak akan dikutuk oleh Akako. Ugh, kenapa aku selalu memikirkan yang buruk-buruk terus?

777

Akhirnya dari Subaru, aku mendapatkan info lebih lanjut soal kejadian yang menimpa Tatsuo. Tatsuo ditikam oleh salah satu tahanan lainnya saat sedang mandi. Kenapa ya setiap ada percobaan pembunuhan pada tahanan, kebanyakan selalu dikamar mandi? Rasanya aku pernah menonton beberapa film yang menampilkan kejadian semacam itu. Tahanan yang menikam Tatsuo sudah diamankan dan diinterogasi namun alasan penyerangannya kurang jelas.

Subaru mengatakan dia mendapat info dari Caleb bahwa beberapa hari sebelum Tatsuo diserang, dia menerima kunjungan dari seorang wanita misterius yang Caleb sepertinya mengenali sebagai salah satu ajudan dari Letifer. Wanita itu tidak memiliki mata shinigami, hanya manusia biasa yang kebetulan sangat loyal terhadap salah satu petinggi di dalam organisasi tersebut.

Subaru memperlihatkan sebuah foto yang diambil dari rekaman cctv di ruangan kunjungan para tahanan. Dia menunjukkan kepadaku sosok wanita itu. Aku mencermati baik-baik foto tersebut dan wajah wanita itu.

"Bagaimana? Apakah Eva pernah melihat wanita itu sebelumnya?" tanyanya.

Aku berusaha mengingat-ingat. "Sepertinya tidak." Aku menoleh ke arah Subaru. "Caleb bilang dia utusan Letifer? Untuk apa Letifer mengontak Tatsuo?" tanyaku. Aku terkesiap saat sebuah pemikiran melintas dalam kepalaku. "Jangan bilang Letifer juga mau merekrut orang itu?" Rasa gusar dan takut mulai menggerogotiku lagi.

"Caleb sepertinya sedang membicarakan untuk kejelasannya dengan Letifer." jelas Subaru. "Dia akan mengontak kita nanti untuk informasi lebih lanjut.""

"Jika...Letifer sampai merekrut orang itu, aku tak mau berhubungan dengan mereka." tukasku.

Subaru mengangguk setuju. "Saya juga akan meragukan tujuan mereka jika mereka sampai berniat merekrut orang macam Tatsuo." ujarnya dengan dahi berkerut.

Aku jadi khawatir Letifer sepertinya mengetahui sesuatu soal Shinigami yang mungkin benar bisa membantuku dan mereka akan menahan informasi itu dariku kecuali aku menghadiri pertemuan dengan mereka nanti. Tapi jika sampai mereka benar ingin melibatkan Tatsuo juga dalam organisasi mereka, apa yang harus kulakukan? Oh, aku sungguh tergoda saat ini untuk menggunakan Death Note dan menuliskan nama orang sialan satu itu. Padahal jika aku melakukannya, aku akan menyelamatkan diriku sendiri, kenapa aku ragu melakukannya?

Aku merasa kepalaku jadi pening. Subaru menatapku dengan prihatin dan membiarkanku beristirahat sejenak. Dia lalu menyiapkan snack dan teh untuk kami nikmati berdua. Saat itulah aku jadi teringat akan niatku akan Mako. Ketika Subaru kembali, aku segera memohon bantuannya mengenai seorang Mako.

"Begitu... Kelihatannya anak bernama Mako itu memang mencurigakan." tutur Subaru setelah mendengar penjelasanku soal pertemuan pertamaku dengan Mako beserta menghilangnya para perundungnya sampai dengan kemunculannya dihadapanku dengan penyamaran topeng wajah yang super. "Baiklah, saya akan mencoba mencari tahu perihal anak itu lebih lanjut."

Aku menyarankan agar dia tidak menggunakan Jodie atau orang yang pernah muncul disisi-ku. Aku mengatakan bahwa aku mencurigai bahwa Mako kemungkinan juga mengintaiku mengingat dia pun bisa muncul dimanapun aku berada.

Subaru mengangguk setuju. "Masuk akal."

Aku mendesah galau. Aku jadi tidak enak hati sendiri karena mencurigai Mako sedemikian rupa padahal pemuda itu pernah menyelamatkan nyawaku saat dulu aku jatuh dari atas peron kereta. Aku harap Mako itu bukan orang jahat. Dia memang mencurigakan tetapi tidak semua orang yang mencurigakan itu jahat, bukan? Semoga saja penyelidikan Subaru terhadap pemuda itu berhasil baik. Aku tidak memberitahu Subaru soal rencanaku untuk menemui Kaito Kid karena aku sendiri masih tidak yakin bahwa aku akan berhasil menemui Kid dan meminta bantuannya soal Akako.

Aku tidak tahu bagaimana perasaanku soal Akako, apakah aku ingin keberadaan dia nyata benar ada di dunia campuran DC dan MK ini atau tidak? Semoga saja gadis penyihir itu bersedia membantuku dan tidak mempersulitku saat meminta bantuannya. Tetapi...tak ada yang benar-benar gratis di dunia ini, bukan? Entah apa aku mampu membayar apapun keinginan gadis penyihir itu sebagai ganti kesediaannya untuk membantuku.

777

Aku mengerutkan hidung saat aku menatap bangunan gedung dimana Kid akan melakukan aksi pencuriannya. Keramaian yang amat sangat dari kerumunan para penggemar Kid yang dengan setia menyemangati si pencuri dan para petugas polisi yang berusaha mengatur keramaian agar tidak menjadi rusuh, membuat kepalaku berdenyut-denyut saja.

Sonoko dengan riang gembira menggandeng tanganku dan menuntunku masuk dalam gedung. Aku tersenyum seceria mungkin dihadapan gadis itu yang sudah berbaik hati mengabulkan keinginanku untuk menghadiri pameran permata yang menjadi target Kid.

Perutku sempat terasa sembelit saat aku menyadari Conan dan Ran juga ada ditempat. Yaa, tidak heran jika anak itu ada disana, bukan? Conan sudah terkenal sebagai Kid Killer karena berkali-kali berhasil menggagalkan aksi Kid. Menurutku Conan agak ceroboh juga membuat dirinya seterkenal itu sebagai anak kecil.

Conan mengamatiku dan memasang senyum. "Halo, Kak Eva."

"Halo, Conan." sapaku juga, berusaha sebisa mungkin menampilkan keceriaanku.

"Aku tidak tahu bahwa Kak Eva menggemari Kaito Kid juga." tuturnya.

Aku menatap Conan lalu tersenyum-senyum. "Tentu saja, Kaito Kid memang keren, bukan?" Aku berusaha menyalurkan rasa kagum-ku akan Kaito Kid yang memang benar adanya walau memang sekarang aku lebih menggilai Akai dan Furuya. Aku tertawa cekikikan saat melihat Conan memasang tampang masam setiap ada yang memuji Kaito Kid secara berlebihan. "Sulap yang digunakan Kid di setiap aksinya...kereen!" seru-ku masih sengaja memuji-muji Kid.

Ran tersenyum prihatin kepadaku. "Lega rasanya melihat Eva sudah seriang ini lagi..." tuturnya.

Aku menoleh ke arah Ran dengan agak bingung sebelum menyadari bahwa gadis itu pastinya juga sudah mendengar soal kasus penculikan yang menimpaku. Sepertinya gadis itu mengkhawatirkan diriku. Aku tersenyum kepadanya. "Eva sudah sehat dan kuat lagi tentu saja..." tukasku sembari mengacungkan kepalan tangan membuat gadis itu tertawa kecil.

Diam-diam aku mendesah lega setelah perhatian Ran teralihkan oleh Sonoko. Capek juga harus pura-pura ceria seperti ini. Tapi aku juga tak bisa terus-terusan kelihatan depresi, memang mendapatkan simpati dari orang lain itu kadang membantu, tetapi kalau keseringan nanti dikira hanya mau cari perhatian saja dan nantinya tak lagi ditanggapi dengan serius. Lagipula membiarkan diriku sendiri dalam kemurungan juga melelahkan. Mungkin tingkat kedepresianku belum separah orang-orang lain? Entahlah, aku tak mau lagi memikirkannya. Focus on Kid, Eva! Gosh!

Conan mengamatiku tanpa berkata-kata. Mengingat aku tak memiliki poker face yang baik, entah apa saja yang dapat dia cerna dari memperhatikan ekspresiku selama ini. Yang pasti aku sendiri tahu bahwa aku tidak pandai berbohong. Aku merasa lelah mendadak dan aku membalas tatapan anak itu, membuat anak itu malah jadi kagok sendiri dan memalingkan wajahnya.

Aku mengamati Conan saat dia berbaur dengan Jirokichi, paman Sonoko dan Inspektur Nakamori dan mendengarkan percakapan mereka soal Kid. Aku pun mulai mengamati orang-orang disekitarku berusaha mencari tahu apakah Kid ada diantara mereka. Ran dan Sonoko mendekatiku dan menuntunku agar aku bisa melihat permata yang sedang dipamerkan. Permata yang menjadi target Kid itu benar-benar indah sekali sampai aku sendiri pun terpesona.

Tiba-tiba aku mendengar Jirokichi berteriak keras menyambut seseorang. "Gerald, kau datang!"

Seorang pria tua berpakaian formal dan bertongkat melangkah mendekati Jirokichi dengan senyum sabar. Jirokichi menerangkan dengan bangga bahwa permata tersebut merupakan milik pria itu dan dipinjamkan kepada Jirokichi demi memancing Kid.

Aku terpaku menatap pria bernama Gerald itu, pasalnya aku tak bisa melihat data kematian orang itu. Apakah dia seorang pemilik mata shinigami lagi? Untunglah aku berhasil sadar diri dan segera menjauhi kerumunan. Aku melihat Jirokichi memperkenalkan Gerald kepada Sonoko, Conan, Ran, Kogoro dan Inspektur Nakamori.

Ketika ditanya kenapa Gerald mau saja meminjamkan permata berharga seperti itu untuk dicuri oleh Kid, pria itu hanya tersenyum dan mengatakan Jirokichi telah meyakinkannya bahwa Kid selalu mengembalikan barang curiannya dan aksi pencurian oleh Kid itu sendiri memberikan nilai tambah pada permata itu. Lalu, Jirokichi meminta Gerald untuk menceritakan sedikit sejarah permata itu hingga sampai ditangannya.

Gerald memukau perhatian para penonton saat dia menceritakan soal kisah dibalik permata itu yang dirumorkan mampu memberikan keabadian kepada pemiliknya. Aku terhenyak saat mendengar cerita Gerald karena permata itu sepertinya memang pantas menjadi target Kid. Bukankah Kid memang sedang mencari permata yang menjanjikan keabadiaan juga? Pandora, kalau tidak salah namanya. Permata yang katanya diincar oleh organisasi misterius yang menyebabkan kematian ayah Kaito Kuroba. Dalam manga MK, dikatakan niat Kaito untuk menghancurkan permata tersebut sebelum benda itu jatuh ke tangan organisasi yang membunuh ayahnya.

Apakah cerita semacam ini ada dalam manga? Ataukah ini...semacam kejadian baru yang terjadi karena pihak-pihak seperti aku dan pemilik mata shinigami lainnya? Bagaimanapun Gerald ini mencurigakan. Apakah dia aslinya tahu menahu juga soal manga DC dan MK? Jika tidak, apa hanya kebetulan dia jadi bisa terlibat dengan Kid?

Aku diam-diam memotret Gerald dengan smartphone-ku dan berpikir untuk mengirimkan foto tersebut kepada Caleb dan Lizzie. Aku mengamati Gerald, sepertinya orang itu tidak menyadari kehadiranku. Ataukah dia pura-pura tidak tahu akan keberadaanku? Aku buru-buru menggeleng-gelengkan kepala keras-keras berusaha fokus untuk tujuanku semula yaitu meminta bantuan Kid mengenai Akako. Aku hanya harus menghindari Gerald sebisaku saja dan fokus menemukan samaran Kid diantara kerumunan yang ada dalam gedung.

"Kak Eva sedang apa?"

Aku terpekik kaget saat melihat Conan tahu-tahu sudah ada disampingku. Kapan dia kesini? Bukannya tadi dia bersama yang lain? Aku menepuk-nepuk dadaku sambil melototi Conan dengan agak sebal. "Jantungku hampir copot..." tukasku.

Conan tersenyum dengan kepolosan palsunya. Dia sama sekali tidak merasa bersalah karena mengejutkanku. Dia menatapku dengan serius sekarang. "Ada apa dengan orang bernama Gerald itu?"

Aku menatap Conan dengan agak sebal namun aku juga mempertimbangkan apa ini saatnya aku membiarkan anak ini masuk dalam lingkup rahasiaku. Hal yang terjadi selanjutnya semakin memperkuat pertimbanganku untuk melibatkan Conan karena aku menyadari kemunculan warna kuning yang mendadak berada disekelilingku. Sesuatu yang buruk akan terjadi disini. Menilik banyaknya warna kuning disekitarku dan dalam satu gedung, sepertinya kami berhadapan dengan bom lagi. Aku berasumsi ini perbuatan organisasi yang mengincar Kid dan permata tersebut.

Aku membelalakkan mata saat aku menyadari benang pada pergelangan tanganku juga berubah kuning. Aku menjadi panik, menyadari jika aku terus disini, aku juga menempatkan diriku dalam bahaya. Aku menatap Conan dan melihat warna anak itu tetap hijau. Memang sebagian orang didalam gedung warnanya tetap hijau yang berarti apapun bahaya yang akan muncul, mereka mungkin akan selamat tanpa luka suatu apapun.

Aku sangat tergiur untuk kabur pulang sekarang. Kalau melihat situasinya, rasanya memang lebih baik aku pergi saja. Tapi...batinku menyusahkanku akan rasa bersalah jika aku menyelamatkan diri sendiri saja tanpa setidaknya memberikan peringatan kepada orang-orang ini.

Aku melihat Conan masih mengamatiku dengan serius. Aku pun membulatkan tekadku. "Conan, aku membutuhkan bantuanmu. Kau sangat pintar menemukan sesuatu yang janggal, bukan?"

Conan terlihat agak kaget karena aku mendadak berbicara banyak kepadanya tetapi dia mengangguk mengakui kemampuannya sendiri.

"Aku tak bisa menjelaskan alasan kenapa aku mencurigai hal ini tetapi aku tahu sesuatu yang buruk akan terjadi disini malam ini dan mungkin kau bisa mencegahnya."

Conan semakin terlihat waspada saat aku menjelaskan kemungkinan bahwa ada bom didalam gedung.

"Aku tak tahu apakah benar ada bom disini ataukah ada sesuatu lain yang sama membahayakannya dengan itu...yang pasti..." Aku menoleh melihat beberapa warna kuning yang lalu lalang disekitarku. "...hal itu akan terjadi malam ini disini..."

Conan terdiam sesaat. "Apakah kau benar-benar cenayang?"

Aku tertawa renyah mendengarnya. "Jika iya, apakah kau akan menganggapku perkataanku tidak bisa diandalkan?"

Conan menatapku dengan tajam. "Apakah insting cenayang-mu itu yang membuatmu tahu bahwa anak bernama Kenji itu dalam bahaya?"

Aku tercekat tidak mengira dia akan mengungkit soal Kenji. "Kenji, dia...memang sudah takdirnya, apapun yang kau lakukan, kau memang tak akan bisa menyelamatkannya..." tuturku dengan mata menerawang jauh. Aku menoleh ke arah Conan. "Tetapi yang akan terjadi malam ini, ada kemungkinan bisa dicegah jika ada yang dapat bertindak cepat dan tepat..." Aku menatap tajam ke arah Conan seakan menumpukan harapanku kepadanya.

Conan mengamatiku agak lama sebelum mendesah. "Aku akan berkeliling mencari tahu. Tetapi, kau berhutang penjelasan lebih lanjut kepadaku, Kak Eva."

Aku hanya bisa tersenyum lega menyadari anak itu bersedia membantuku bahkan dengan penjelasan seminim itu. Jika ternyata aku salah soal malam ini... Ah, tidak mungkin, bukan? Saat ini benar-benar banyak warna kuning disekitarku.

Aku menelan ludah dengan susah payah saat aku melirik ke arah benang di pergelangan tanganku.

Conan sudah pergi untuk melakukan penyelidikan. Aku langsung menoleh ke arah salah satu tamu yang berada didekatku dan mendekatinya.

Dengan nada sekanak-kanakan mungkin, aku menarik tamu samaran Kid itu menjauh dari kerumunan dengan mengatakan bahwa aku membutuhkan pertolongan.

Betapa leganya diriku karena penyamaran Kid itu tidak menyusahkanku dan mengikutiku menjauhi keramaian.

Aku sambil memperhatikan gerak gerik Gerald karena khawatir dia menyadari keberadaanku namun sepertinya tidak. Aku langsung memfokuskan perhatianku kepada Kid yang masih menyamar dan aku menariknya mencari tempat yang agak sepi.

"Adik kecil, sebenarnya kau mau minta tolong apa?" tanya Kid masih dengan suara palsunya.

Aku mengamati Kid dan dahiku berkerut melihat warna kuning terpampang pada data kematiannya. Bukankah ini artinya dia dalam bahaya? Rasanya agak aneh juga melihat langsung karakter manga yang kutahu berwarna kuning. Tetapi, untunglah dia hanya warna kuning berarti nasibnya bisa diubah.

Tetapi, bagaimana ini? Apa asumsiku benar bahwa nyawa Kid mungkin sedang diincar oleh anggota organisasi yang membunuh ayahnya?

"Kaito Kid." panggilku terang-terangan.

Kid memang hebat poker face-nya karena dia sama sekali tidak bereaksi terkejut malah dia menampilkan ekspresi bingung. "Eh? Saya bukan pencuri itu!" serunya dengan nada panik yang dibuat-buat.

Aku mendesah sembari menatap dia dan menengadah mengamati nama Kaito Kuroba yang terpampang jelas diatas kepalanya via mata shinigami-ku. "Tak ada gunanya pura-pura, aku tahu bahwa kau adalah Kaito Kid." tukasku. "Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu. Ini soal hidup dan mati."

Kid masih bersikeras berkilah bahwa aku salah menuduh.

"Tetapi sebelum itu, aku ingin memperingatkanmu akan aksimu malam ini. Lebih baik kau ekstra hati-hati malam ini. Orang-orang jahat akan datang untuk menyerangmu demi permatanya."

Kid terdiam mendengar perkataanku.

"Persephone's Heart memiliki latar belakang yang mirip dengan permata yang mereka incar, bukan?"

"Darimana kau tahu soal itu, gadis kecil?" tanyanya dengan nada dingin.

Aku menatap tajam balik orang itu. "Aku tahu beberapa hal tetapi jika kau ingin tahu apakah permata itu yang kau cari, aku tidak tahu jawabannya. Yang pasti malam ini mereka akan mengincarmu dan sepertinya mereka tak segan untuk menyakiti yang lain demi mendapatkan permata itu sebelum dirimu."

Kid terlihat khawatir. "Aku mendengar percakapanmu dengan detektif cilik itu. Kau pikir ada bom disini?"

"Jujur aku tidak tahu jelas, yang ku tahu bahwa orang-orang akan terluka dan bahkan mungkin mati malam ini, tetapi mungkin masih ada harapan untuk mereka."

"Darimana kau tahu bahwa akan ada yang terluka atau mati?"

"Anggap saja aku ini cenayang."

Kid terlihat tidak percaya dengan perkataanku.

"Kau tahu bahwa penyihir asli benar-benar ada di dunia ini, kenapa sulit menerima keberadaan cenayang?" tanyaku.

Wajah orang itu berubah waspada saat aku menyebutkan soal penyihir membuatku tersenyum-senyum. "Jadi Akako Koizumi benar-benar ada, bukan?" tanyaku. "Karena aku sangat membutuhkan bantuan dia."

"Aku tak tahu siapa Akako Koizumi." ujarnya dengan wajah datar.

"Jangan bohong padaku, aku tahu kau tahu siapa dia." tukasku dengan agak kesal. "Aku akan menemuinya sendiri jika saja aku ingat nama kota dan sekolah-mu." Aku melihat orang itu akan terus memungkiri apapun yang kuucapkan. "Aku tahu nama aslimu. Aku tahu nama pacar-mu. Aku tahu kelemahan-mu. Aku bahkan tahu bahwa Hakuba Saguru tahu identitas aslimu, hanya saja dia tak memiliki bukti sehingga tidak menangkapmu."

Kid terdiam mendengar perkataanku.

Aku mendesah lagi. "Aku bukan sedang mengancam-mu. Aku hanya ingin kau membantuku untuk..." Aku menatap orang itu. "Sudahlah, yang penting aku sudah memperingatimu. Kau harus berhati-hati malam ini, jangan sampai kau terluka atau mati. Aku bukan Conan, aku tak bisa menyelamatkan orang. Hanya ini yang bisa kulakukan. Jadi aku mohon tolong dengarkan aku."

Tidak mungkin Kid akan mati, bukan? Dia kan tokoh utama juga. Kepalaku terasa berdenyut-denyut memikirkan kemungkinan terburuk.

Saat itulah lampu dalam gedung mendadak mati dan aku mendengar kericuhan bahwa itu sudah jam yang ditandai sebagai kedatangan Kid. Sesaat kemudian lampu kembali menyala tetapi Kid sudah tak ada di sisiku. Aku hanya bisa berharap dia mendengarkan peringatanku dan lebih ekstra hati-hati.

Aku mendengar Sonoko dan Ran sepertinya tengah mencariku dan aku pun buru-buru menghampiri mereka. Aku tak ingin Sonoko panik sendiri soalku dan melaporkanku kepada Papa dan Mama. Aku beralasan bahwa aku baru dari toilet.

Aku mendengar suara Kid yang terdengar sombong memberitakan bahwa permata itu sudah ditangannya. Semua orang jadi kaget saat melihat permata yang tadinya terpampang memang sudah hilang.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari suatu tempat di dalam gedung dan beberapa lampu di dalam ruangan mati. Orang-orang pun mulai panik.

Aku tercekat. Apakah Conan jadi gagal menemukan bom? Para polisi dan petugas sekuriti ditempat berusaha menenangkan para tamu sekaligus mengatur pengungsian.

Ditengah-tengah kericuhan itu, aku melihat Gerald yang dengan tenangnya meminum gelas berisi wine yang disajikan. Aku pun jadi mencurigai apakah orang itu terkait dengan kejadian ini melihat betapa cueknya dia dengan keadaan disekitar dia.

Dari salah satu pojok ruangan jauh dariku aku mendengar Conan berteriak memperingati orang-orang. Aku menatap benang pada pergelangan tanganku yang masih berwarna kuning. Aku tahu aku harus segera pergi dari tempat berbahaya ini.

Aku menoleh ke sekelilingku dan tercekat saat mataku tak sengaja berpandangan langsung dengan Gerald yang tengah memandangiku. Dia tersenyum kecil, mengangkat gelasnya sedikit seakan bersulang untukku. Aku terpaku menatap dia, tubuhku rasanya seperti mendingin saking takutnya.

Aku buru-buru berlari menjauhi Gerald sebelum dia bisa mendekatiku. Aku berlari entah kemana dan terpekik kaget ketika ada yang menyambarku. Ternyata Kid dan kini dia tengah memakai tuxedo putih-nya.

Aku tak ingat apa yang terjadi selanjutnya karena kepalaku terasa pening. Kid menuntunku mencari jalan keluar lain dan kami berada ditempat sepi ketika suara tembakan mengagetkan diriku dan aku terpaku melihat darah yang muncrat dari lengan Kid.

Aku memekik kaget. Kid mengeryit menahan sakit namun dengan singgap membawaku menjauhi tempat berbahaya itu.

Kami mendengar suara seseorang yang meminta Kid untuk menyerahkan Persephone's Heart kepadanya.

Kid membebatkan kain pada lukanya dan aku hanya bisa melongo seperti orang bodoh, tidak membantunya sama sekali.

Aku tak bisa menahan rasa takut-ku dan Kid sepertinya menyadari bahwa aku ketakutan karena dia tersenyum lembut padaku dan menghiburku. "Jangan khawatir, nona kecil, aku tak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu."

Sebagai fan girl, aku normalnya pasti akan senang mendengar perkataan semacam itu dari seorang Kaito Kid tetapi yang ada di pikiranku saat itu hanyalah keresahan dan ketakutan yang tiada tara. Aku tak bisa berhenti mengutuk diriku sendiri dalam hati. Seharusnya aku pergi dari sini begitu aku menyadari banyaknya warna kuning. Apalagi benang di pergelangan tanganku saja sudah memperingatiku akan bahaya yang akan menimpaku. Malah seharusnya aku langsung pergi juga jauh-jauh dari sini saat melihat Gerald. Aduh, kenapa aku begitu bodoh?

"Hey, nona kecil, siapa nama-mu? Fokuslah padaku. Atur nafasmu baik-baik."

Aku menyadari aku mendapat serangan panik dan Kid saat ini tengah berusaha menenangkanku. "Eva, namaku Eva..." ujarku dengan lirih setelah berhasil menenangkan diri.

Kid tersenyum. "Senang bertemu denganmu, Eva. Jangan khawatir, kita akan baik-baik saja."

Aku menatap Kid dengan rasa tidak percaya. "Kau terluka. Dan ada orang yang tak akan segan menembaki kita."

Dia tertawa. "Sesuai peringatanmu...yah?"

Aku terdiam mendengarnya. "Aku seharusnya pergi dari sini saat aku tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Kenapa aku begitu bodoh?" Aku dengan gemas menjambak rambutku sendiri.

Kid menghentikanku dari melukai diriku sendiri. "Hei, jangan salahkan dirimu. Kau hanya ingin menolong orang-orang, bukan? Kau bahkan memperingatkan diriku yang seorang kriminal ini. Kau orang baik, Eva." hiburnya.

"Aku bukan Conan atau detektif, aku tak bisa menjadi penyelamat bagi siapapun. Aku bahkan tak bisa menyelamatkan diriku sendiri... Aku bukan orang baik. Aku pengecut. Apa yang kupikirkan membuat rencana sendiri? Aku sungguh bodoh..." gumamku dengan lirih, lebih kepada diriku sendiri daripada kepada orang disisiku itu.

Kid terdiam mengawasiku. "Kenapa kau ingin bertemu dengan orang bernama Akako Koizumi itu?"

Aku berusaha fokus akan pertanyaan Kid. "Aku...memiliki masalah supernatural. Aku berharap-harap bahwa Akako Koizumi mungkin bisa dan mau membantuku."

"Tadi kau bilang itu soal hidup dan mati. Apakah kau dalam bahaya?" tanyanya.

Aku tertawa renyah. Airmata menetes membasahi pipiku. Sebenarnya aku tidak ingin menangis tapi aku tak memiliki kontrol akan kelenjar airmataku yang mendadak seperti bocor.

Sebuah bunyi membuat Kid waspada dan dia menarikku mendekat kepadanya. Terdengar suara-suara orang yang mengejek Kid sebagai tikus kecil yang terperangkap dan menyuruhnya agar menyerah. Sepertinya mereka tidak tahu aku berada bersama Kid dan jika tahu pun aku rasa mereka tak akan peduli.

Kid menyuruhku bersembunyi di tempat yang dia temukan sementara dia akan pergi untuk 'mengusir' orang jahat. Aku menatap data kematiannya yang warnanya masih kuning. Aku tahu dia masih dalam bahaya.

Aku mencengkram pergelangan tangan. "Jangan menghadapi mereka sendirian. Kau masih dalam bahaya." bisikku.

Kid menatapku dengan cermat. "Jangan khawatir, Eva, aku akan baik-baik saja."

"Cari-lah bantuan. Jangan sendirian." pintaku.

Kid tersenyum lembut kepadaku dan tiba-tiba saja aku merasa mengantuk. Aku telat menyadari bahwa orang itu membiusku agar tidur dan menyembunyikan diriku. Apakah Kid membawa obat bius kemana-mana? Aku berpikir saat mataku menutup sendiri. Iya, memang di manga bukankah dia ada menggunakan juga beberapa gas yang membuat petugas polisi yang mengejarnya jadi tertidur.

Aku terbangun selanjutnya saat Conan membangunkanku dengan kasar sembari memanggil-manggil namaku. "C-Conan?"

Conan terlihat lega melihatku sudah sedikit sadar. "Apakah kau terluka?" tanyanya.

"Bagaimana kau menemukanku?" tanyaku lirih.

"Kid memberitahuku." jawabnya.

"Apakah dia selamat? Ada yang menembakinya..."

"Aku tahu. Beberapa dari mereka sudah ditangkap." Conan memegangi wajahku dan memandangiku dengan cermat. "Sepertinya kau tidak apa-apa. Tak ada luka di bagian kepala atau semacamnya."

"Apakah kau menyelamatkan semuanya?" tanyaku setengah sadar.

Conan terdiam mendengarnya.

Aku mengamati anak itu. "Tak apa-apa. Kau tak bisa menyelamatkan semua orang secara keseluruhan. Setidaknya kau sudah berusaha." ujarku antara untuk dia atau diriku sendiri.

Conan mendesah. "Petugas medis sebentar lagi akan kesini untuk memeriksamu." Dia mengalihkan pembicaraan.

Aku mengerang pelan. "Aku tak apa-apa. Aku tak mau diperiksa. Papa dan Mama akan khawatir lagi nanti."

"Mereka sudah pasti akan khawatir." tukas Conan. "Mereka pasti sudah dalam perjalanan kesini begitu tahu dari berita bahwa ada bom disini."

Aku mengerang lagi menyadari anak itu benar. Sial, inginnya hari ini berjalan lancar dengan Kid tapi aku malah terlibat musibah lagi. Setidaknya kali ini aku tak akan berakhir di rumah sakit.