Kasus pemboman yang terjadi saat aksi pencurian Kaito Kid berlangsung memakan korban dan menjadi berita yang menggemparkan yang banyak digosipkan oleh orang-orang. Kaito Kid seperti biasa mengembalikan permata yang dicurinya kepada Conan. Beberapa pelaku pemboman yang berhasil ditangkap diamankan oleh polisi. Aku untungnya tidak terluka sehingga tidak perlu dibawa ke rumah sakit walau aku jadi kewalahan menghadapi kepanikan dan sikap protektif Papa dan Mama.

Jantungku berdebar-debar saat mengingat bahwa aku benar-benar harus segera memberi penjelasan yang kujanjikan pada Conan nantinya. Tentunya anak itu pasti penasaran kenapa aku bisa tahu bahwa akan terjadi sesuatu di acara pameran permata tersebut. Aku beberapa hari ini memikirkan apa yang bisa kuberitahu kepadanya dan apa yang sebaiknya dirahasiakan.

Tadinya kukira Conan akan langsung menginterogasiku saat kami bertemu lagi, apalagi kami juga satu sekolahan tetapi aku merasa lega karena anak itu tidak gencar mencariku.

Aku tidak menyangka bahwa Conan benar-benar membicarakan soal diriku dengan Ai. Suatu hari, saat jam istirahat di sekolah, aku tidak sengaja mendengar percakapan keduanya tentang diriku.

"Bagaimanapun anak itu sungguh aneh, dia benar-benar tahu sesuatu yang buruk akan terjadi pada orang-orang disekitarnya..." tutur Conan.

"Kudo, jangan bilang kau benar-benar percaya bahwa anak itu adalah cenayang?"

Conan menceritakan soal kecurigaannya kepadaku yang selalu bertingkah seperti orang kebingungan dan ketakutan beberapa kali.

Aku meringis saat mendengarkannya. Aku memang payah, sama sekali tidak bisa berakting cool. Memang aku selalu ketakutan sampai merasa seperti sembelit saja.

"Aku tak tahu..."

"Kau, tuan berlogika tinggi, penggemar Sherlock Holmes ini bisa percaya juga akan keberadaan cenayang?" goda Ai dengan sarkastis.

Conan terlihat agak kesal namun dia juga terlihat terganggu. "Aku melihat sesuatu yang aneh akan dirinya...waktu itu...saat aku masuk rumah sakit..."

"Maksudmu saat kau koma mendadak?"

Conan mengeryitkan dahi. "Rasanya...aku mungkin melihat shinigami..."

Aku terhenyak mendengarnya. Apakah maksudnya dia menyadari keberadaan Yohan?

Conan tertawa renyah sembari meremas sejumput rambut dikepalanya. "Aku tak pernah mengatakan ini kepada siapapun karena...walau aku melihatnya dengan mata kepala sendiri, aku sulit menerimanya. Tetapi hari itu... Orangtuaku mengatakan anak itu datang menjengukku dan tak lama aku langsung bangun dari koma-ku. Tetapi..."

"Kudo..."

"Haibara, aku...aku mendengarnya berbicara dengan seseorang...dan orang itu...sepertinya menggunakanku untuk menemukannya." tutur Conan masih dengan tampang terganggu. "Dan...aku tak bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas...tetapi...aku hampir yakin bahwa aku mendengarnya mengatakan bahwa anak itu...Eva...dia sekarat."

Aku mendadak merasa seperti sesak nafas. Aku tidak mengira bahwa Conan mendengarkan percakapanku dengan Yohan dan bahwa dia tahu bahwa aku sekarat. Aku merasa pusing tujuh keliling mendadak. Aku tak tahu harus bagaimana.

Ai kelihatan khawatir akan kewarasan Conan. "Maksudmu, kau mendengarkan anak itu berbicara dengan shinigami? Kudengar saat koma, kau sempat demam, apa mungkin jika kau salah menafsirkan yang kau lihat antara realita dengan mimpi?"

"Iya, sempat terbersit dipikiranku demikian juga tetapi...entahlah apa yang kupikirkan soal anak itu...yang pasti aku merasa anak itu sungguh mencurigakan. Sepertinya beberapa kali anak itu terlibat kasus yang hampir melayangkan nyawanya. Jika aku tidak mengetahui jelas bahwa anak itu benar-benar anak kecil tulen dan bukan seorang seperti kita, aku merasa nyawanya sedang diincar." ujar Conan.

Ai memasang tampang terganggu juga saat dia menuturkan kecurigaannya soal diriku yang sempat buta mendadak waktu itu dihadapan dia dan bahwa saat aku kehilangan kesadaranku, tubuhku mendingin seakan aku sudah tak bernyawa. "Tetapi anak itu sekarang kelihatannya baik-baik saja jadi aku tak memikirkannya lebih lanjut." ujarnya.

"Apa kau ingat, Haibara, saat di lift waktu itu, wanita yang mendadak jatuh sakit dan memiliki kondisi medis yang jarang, wanita itu menunjuk anak itu dan mengatakan bahwa shinigami akan datang kepadanya...tetapi itu cuma racauan tidak masuk akal seorang wanita yang sedang sakit, bukan? Aku menanyakan kepada orangtuaku apakah Eva datang menjengukku bersama orang lain tetapi mereka mengatakan bahwa anak itu datang seorang diri namun dia terlihat pucat saat berada dikamarku." Conan mendesah. "Lalu, aku juga ada berbicara dengan Sera, dia pun mengatakan bahwa kondisi Eva agak aneh, anak itu pernah kehilangan kesadarannya saat bersamanya dan dia juga bersumpah bahwa anak itu, sama seperti katamu, seperti sudah tak bernyawa sesaat."

"Mungkin anak itu memiliki kondisi medis tertentu yang membuatnya jatuh sakit secara random." ujar Ai.

"Mungkin kau benar. Tetapi, tetap saja, anak itu benar-benar seperti memiliki pengetahuan akan bahaya yang mungkin menimpa orang disekitarnya."

"Jika kau penasaran sekali, kenapa tidak menanyakannya saja langsung kepada anak itu?" saran Ai.

"Aku memang berniat mendekatinya untuk menyelidikinya tetapi..." Dia terdiam sesaat. "Kurasa aku harus membuatnya mempercayaiku dulu..."

Aku tercengang mendengarnya. Kukira dia akan dengan sengit menyelidikiku dengan cara dia, tetapi dia menginginkan kepercayaanku? Aku jadi merasa sedikit tersanjung.

"Jadi, kau ingin berteman dengannya?" tanya Ai.

"Mungkin. Anak itu kemarin memang telah mengatakan bahwa dia akan memberikanku penjelasan jika aku mau membantunya...tetapi aku tidak yakin dia akan memberitahuku kebenaran yang sesungguhnya begitu saja..." tutur Conan.

"Kau benar-benar berpikir anak itu memiliki rahasia? Rahasia yang juga membahayakan nyawanya?" Ai terdengar seperti tidak percaya. "Dan bahwa dia benar-benar semacam cenayang?"

"Lho? Kak Eva? Kau sedang apa?" tanya Ayumi yang mendadak muncul dibelakangku.

Conan dan Ai tersentak kaget dan segera menoleh ke arah suara Ayumi dan melihatku yang berdiri dengan wajah pucat pasi tak jauh dari mereka.

Aku menatap keduanya dengan gelisah akibat percakapan keduanya tentangku dan bahwa aku ketahuan mendengarkan percakapan mereka.

Ayumi, yang melihat ada Conan dan Ai, tersenyum riang dan menghampiri keduanya. "Rupanya kalian disini. Aku mencarimu kemana-mana." tukasnya sembari sedikit memanyunkan bibirnya.

Ai mengamatiku dengan tajam. Dia kelihatan tidak senang. "Tidakkah kau diajarkan bahwa tidak sopan menguping pembicaraan orang?" tegurnya dingin.

Aku sempat ketar-ketir sendiri sebelum aku bisa menenangkan diriku. Aku pun membalas tatapan Ai dengan sama dinginnya. "Membicarakan seseorang dibelakang mereka juga tindakan tidak sopan. Salah kalian sendiri membicarakan soal diriku di tempat terbuka seperti ini. Aku hanya kebetulan lewat saja saat aku mendengar kalian membicarakanku."

Ayumi kelihatan kebingungan dan khawatir saat merasakan ketidaknyamanan dalam situasi tersebut. Conan juga terlihat merasa bersalah karena dia-lah yang blak-blakan membahas soal diriku kepada Ai ditempat terbuka seperti ini.

Aku menatap Conan. "Aku memang sudah menjanjikan kepadamu sebagai ganti pertolonganmu kemarin dan aku berniat menepatinya." ujarku. "Jika kau benar ingin tahu, temui aku saat kau siap. Tetapi jika kau tak ingin tahu, juga tidak apa-apa."

Sebenarnya aku ingin menanyakan kepada Conan apakah dia benar menyadari kehadiran shinigami. Ini pertama kalinya orang luar, selain pemilik mata shinigami dan orang yang mentalitasnya terganggu, menyadari sendiri keberadaan supernatural. Akan tetapi keberadaan Ai dan Ayumi membuatku tutup mulut. Aku hanya menjanjikan kepada Conan dan aku tak yakin mau melibatkan Ai.

Padahal Ai adalah karakter favoritku tetapi betapa dinginnya sikapnya kepadaku saat ini yang memang sesuai dengan dirinya. Namun aku tidak senang dengan tatapannya yang seakan menghakimi? Merendahkan? Entahlah, mungkin aku yang terlalu sensi.

Mengenai Conan, apakah mungkin mentalitas anak itu cukup terganggu membuat naluri dia akan hal berbau supernatural terusik? Ataukah perbuatan Yohan kepadanya memiliki efek samping? Haruskah aku menanyakan soal ini kepada Yohan juga? Tetapi shinigami brengsek itu belum ada muncul lagi dihadapanku. Aku agak heran juga mestinya bukankah dia ingin tahu soal nasib Tatsuo? Ataukah dia menungguku untuk menghabisi Tatsuo sendiri? Ah, pusing!

Karena adanya Ayumi, aku pun segera berpamitan sebelum dia pun jadi terlibat juga. Tetapi, Conan tiba-tiba melesat mengejarku, meninggalkan Ai dan Ayumi yang untungnya tidak ikutan mengejarnya.

"Kak Eva, aku ingin bertanya, kemarin aku melihatmu diam-diam mengambil foto Pak Gerald. Apakah orang itu dalam bahaya?" tanyanya.

Aku tidak mengira dia akan blak-blakan seperti ini. Untuk sesaat aku tak mampu berkata-kata. "Tidak, setidaknya setahuku tidak." jawabku dengan dahi berkerut.

"Lalu kenapa kau memotret orang itu? Apakah dia berbahaya?"

Wah, pengamatan Conan memang hebat.

Aku mendesah. "Jujur, aku belum tahu. Aku hanya tahu bahwa dia sama denganku."

"Sama denganmu?" Conan mengerutkan dahi berusaha memahami jawabanku yang agak tidak jelas itu.

Untungnya jam istirahat sudah berakhir dan bel berbunyi menandakan murid-murid harus kembali ke kelas.

Conan mengamatiku, menyadari kelegaan yang meliputi raut wajahku. "Kak Eva, aku ingin membantumu..." ujarnya dengan suara pelan sembari melihat sekeliling kami seakan dia paranoid akan ada orang lain yang mendengarkan. "Apapun yang kau ketahui...tentang orang-orang yang dalam bahaya maupun orang-orang yang berbahaya..."

Aku tercengang mendengarnya. Seharusnya bukankah aku merasa senang? Akhirnya ada orang yang menawarkan diri untuk membantuku mengatasi moralitas akan penyelamatan warna kuning. Kenapa aku masih saja ragu-ragu?

"Kenapa? Kenapa kau ingin membantuku?" tanyaku.

Sebenarnya aku bisa memperkirakan alasannya karena insting detektif dia.

Conan terdiam sejenak. "Perlukah alasan untuk membantu orang lain?"

Aku jadi teringat perkataan dia sebagai Shinichi Kudo kepada penyamaran Vermouth. Mau tak mau aku jadi tersenyum kecil. "Kau benar-benar orang baik, Conan." pujiku.

Sebelum kami bisa berbicara lebih lanjut, seorang guru yang lewat menegur kami dan menyuruh kami masuk ke dalam kelas masing-masing dan kami pun menurutinya.

Aku dan Conan saling bertukar pandang sejenak sebelum pergi tanpa lagi mengucapkan kata-kata. Aku sebenarnya sangat ingin menanyakan kepada anak itu perihal perkataannya pada Ai tadi tentangku dan Yohan tetapi kurasa pembicaraan soal itu harus ditunda sampai saat selanjutnya.

Tapi dengan ini, apakah aku sebaiknya memberitahu anak itu bahwa shinigami itu benar ada? Akankah dia mampu menerima semua itu? Jangan sampai otaknya yang cemerlang itu jadi meledak gara-gara tak sanggup menerima penjelasan supernatural. Ah, tapi jika seorang Shuichi Akai saja mampu setidaknya menerima penjelasan supernatural dariku, masa Shinichi Kudo tidak bisa? Tapi, memang, Shuichi itu agak aneh karena dia mampu menerimanya begitu saja dan jarang bertanya-tanya soal itu kepadaku, apakah mungkin dia menanyakannya kepada Caleb? Tapi dia memang mengurangi bebanku dengan tidak bertanya-tanya pertanyaan yang sulit ku jawab atau yang tidak kuketahui jawabannya.

Aku hanya berharap nanti Conan tidak mendesakku terus-menerus soal itu. Sama seperti kepada Shuichi, aku sama sekali tidak berniat memberitahu keseluruhan kebenarannya kepadanya. Aku tak akan mau mengakui bahwa aku bukanlah anak kecil tulen bernama Eva atau bahwa dunia ini adalah dunia palsu.

777

Aku memperlihatkan foto yang diam-diam kupotret tentang seorang Gerald dan menanyakannya kepada Caleb dan Lizzie saat kami janjian bertemu siang itu. Kami saat ini berada di gazebo sebuah taman.

"Apakah kalian mengenalinya?" tanyaku sembari mengamati raut wajah keduanya yang terlihat terganggu.

Caleb mengerutkan dahinya. "Aku tak mengenalinya. Kau bilang kau bertemu kebetulan dengan dia di acara..."

"Kenapa kau ke acara pencuri itu?" tanya Lizzie dengan agak sewot.

Aku mengangkat bahu. "Aku bisa dibilang penggemarnya...?" jawabku dengan sedikit meringis.

Lizzie memutar bola matanya setelah mendengar jawabanku. Dia mendesah. "Sudah kuduga, pencuri ekstravagan itu memang mencurigakan, dia pasti bagian dari kepalsuan suatu cerita." tuturnya. "Apakah dia bagian dari ceritamu itu?"

Aku hanya tersenyum kecil dan memilih tidak menjawab.

Lizzie mendengus. "Terserahlah, pokoknya jangan membeberkan rahasia kita ke semua tokohmu itu..." tegurnya.

Aku jadi tidak enak hati karena sebentar lagi aku harus membeberkan sedikit rahasia tersebut kepada Conan dan mungkin juga kepada Kaito Kid agar dia bisa bersedia membantuku dengan Akako Koizumi. Tetapi aku berjanji dalam hati aku tak akan memberitahu keberadaan Caleb dan Lizzie kepada siapapun.

Dipikir-pikir aku heran karena Kid tidak ada mengontakku, apakah aku gagal menarik perhatiannya dalam insiden kemarin? Bagaimana caraku selanjutnya meminta bantuan kepada penyihir bernama Akako itu nantinya?

"Aku tidak mengenali orang bernama Gerald ini." ulang Caleb. "Bisa jadi dia bagian dari Letifer. Aku tak akan terlalu tahu karena aku tidak tahu jelas seberapa banyak anggota mereka sebenarnya yang benar-benar sama dengan kita. Bisakah kau kirimkan foto ini kepadaku?"

Aku mengangguk dan segera mengirimkan foto yang diminta ke nomor kontak Caleb.

"Agak mencurigakan memang bahwa orang itu muncul saat dimana sebentar lagi akan ada pertemuan dengan Letifer." tutur Lizzie.

"Lizzie benar, kau harus berhati-hati, Eva, jika kau melihat orang ini. Apalagi dia juga telah menyadari keberadaanmu. Jika dia seseorang yang sama seperti Souji..."

Aku merasa terbebani saat mendengarnya. Jika Gerald sama seperti Souji berniat mengoleksi esensi shinigami, maka itu berarti dia itu ancaman terhadap kami semua. Aku hanya bisa berharap dia bukan orang seperti itu.

Aku mendesah galau. Aku tidak bisa fokus akan percakapan kami selanjutnya. Aku menoleh melihat sekelilingku dan terkesiap saat aku menyadari keberadaan seorang petugas kebersihan yang berdiri tak jauh dari gazebo. Pasalnya nama pada data kematian diatas kepala orang tersebut adalah Kaito Kuroba.

Aku merasa sedikit lega karena berhasil menarik perhatian orang itu sehingga orang itu berada didekatku saat ini tetapi juga merasa agak terganggu karena orang itu diam-diam seperti mencuri dengar percakapanku dan benar saja aku melihat seekor burung merpati bertengger di sesuatu cabang didekat kami. Dalam manga DC, dikatakan Kid suka menggunakan merpati yang dibebatkan alat kamera kecil atau alat pendengar suara, jadi aku yakin bahwa Kid tengah mencuri dengar pembicaraan kami.

Tak ingin memperingati Caleb dan Lizzie soal keberadaan pencuri itu, aku pun beralasan hendak pulang karena ada urusan mendadak. Walau agak heran, keduanya untungnya tidak mencurigaiku dan mereka pun segera pergi. Begitu mereka pergi, aku langsung melesat mengejar penyamaran dari Kaito Kid yang untungnya juga masih berada ditempat.

"Kid?" sapaku dengan nada sepolos mungkin.

Penyamaran Kid agak tersentak karena disapa demikian namun dia pura-pura tidak menyadari bahwa aku tengah menegurnya.

Aku mendesah dengan agak sebal lalu menghalangi jalannya. "Aku tahu kau adalah Kid."

Awalnya dia masih tidak mau mengakuinya tetapi melihat keyakinanku akan dirinya akhirnya dia menyerah juga.

"Bagaimana kau tahu, gadis kecil? Observasimu setajam detektif cilik lain yang kukenal..." ujarnya.

"Eva, namaku Eva, bukan gadis kecil." tukasku. "Aku bukan detektif. Aku punya cheat code jadi aku tahu."

"Cheat code?"

Aku memilih tidak menjelaskan soal itu. "Apakah kau sudah memberitahu kepada Akako Koizumi tentang diriku?"

"Aku tidak tahu siapa orang yang kau maksud itu."

Jawabannya hampir membuatku naik darah. "Jangan bermain-main dengan nyawaku, Kaito Kuroba." tukasku. Aku langsung menyesalinya karena membeberkan namanya yang pasti membuat orang itu semakin mencurigaiku.

"Siapa Kaito Kuroba?" tanyanya pura-pura tidak tahu.

Aku mendesah. "Mungkin sebaiknya aku mencari cara menemui Saguru Hakuba saja. Dia mungkin akan lebih membantuku untuk menemukan Akako." tuturku kepada diriku sendiri. Tetapi bagaimanapun memang lebih baik menemui Akako dengan dibantu Kaito Kuroba. Aku berusaha menenangkan emosiku.

Aku menengadah menatap penyamaran Kid. "Kak Kaito Kuroba, aku benar-benar bukan ancaman bagimu...ataupun bagi Akako Koizumi. Aku benar-benar membutuhkan pertolongan dia. Tetapi aku mengerti jika kau sulit mempercayaiku. Apa yang bisa kulakukan agar kau bersedia membantuku?" tanyaku.

Orang itu terdiam sejenak mengamatiku. Dia mendesah. "Apa kau ini benar-benar anak kecil? Caramu berbicara kadang seperti orang dewasa."

"Aku memang lebih dewasa daripada anak kecil umumnya, memangnya tidak boleh?" tukasku dengan agak sebal.

Dia tertawa. "Bagaimana kau selalu tahu penyamaranku? Padahal aku yakin penyamaranku sempurna."

"Bukankah sudah kubilang bahwa aku memiliki cheat code? Kau bisa menyamar jadi siapapun dan aku akan selalu tahu dirimu." tukasku.

Dia terdiam mendengarnya. "Kemampuan cenayangmu itu adalah cheat code-mu? Kau mengatakan nyawamu dalam bahaya, kenapa?"

Aku mendesah. "Ada beberapa orang...yang menganggap kemampuan cheat code-ku ini tidak abnormal dan mereka berniat membunuhku. Aku punya beberapa teman yang bisa membantuku soal itu. Ancaman yang paling buruk adalah sesuatu yang mungkin gadis bernama Akako Koizumi bisa membantuku. Setidaknya aku harap begitu..." tuturku lirih.

"Darimana kau tahu soal Akako Koizumi? Apakah dari cheat code-mu itu juga?"

Aku hanya mengulum senyum dan memilih tidak menjawab. Aku menatap orang itu. "Aku tak tahu seberapa banyak yang kau dengar dari percakapanku tadi dengan teman-temanku tadi...tapi aku akan memperingatimu...jika lain kali kau muncul dihadapan mereka lagi, mereka mungkin akan menyadarimu juga bahkan dengan penyamaranmu yang berbeda." Karena Caleb dan Lizzie lumayan paranoid, mereka akan menyadari jika nama Kaito Kuroba muncul dimanapun mereka berada saat bersamaku.

"Karena mereka sama denganmu?"

Aku tidak menjawabnya. "Lebih baik jika kau tidak muncul terlalu dekat dengan keberadaan kami. Mereka tak akan menyukai keberadaanmu yang mencurigakan. Apalagi jika mereka tahu bahwa kau mengamati dan mencuri dengar percakapan kami." jelasku. "Selain itu...mereka tidak tahu bahwa aku tengah meminta bantuanmu soal Akako."

"Kenapa kau tidak memberitahu mereka? Apa mereka tahu soal Akako?"

"Tidak. Mereka tidak tahu." jawabku. "Jika permintaan tolongku terhadap Akako ditolak atau terjadi hal buruk, aku tak ingin menempatkan mereka dalam bahaya. Apalagi yang benar-benar membutuhkan pertolongan gadis itu adalah diriku, bukan mereka. Aku tak tahu apakah aku melakukan hal yang benar meminta pertolongan penyihir itu tapi...aku agak putus asa jadi aku nekat saja mempertaruhkan kemungkinan bahwa mungkin penyihir itu memiliki kemampuan untuk menyelamatkanku."

Kid terdiam mencermati setiap perkataanku.

Aku menatap dia dalam-dalam dan membungkukkan badan memberi hormat. "Tolong bantu aku, Kak Kuroba."

"Aku akan mempertimbangkannya." tuturnya pelan.

Aku tersenyum secemerlang mungkin kepadanya. "Terima kasih."

"Jangan berterima kasih dulu kepadaku." tukasnya.

Aku tetap mempertahankan senyumku. "Aku tahu kau akan membantuku karena Kakak adalah orang baik."

"Kau tahu bahwa aku ini pencuri bukan? Seorang kriminal? Aku bukan orang baik." tegurnya seakan dikatakan sebagai orang baik mengganggu dirinya.

Sebelum aku sempat menjawab, aku merasakan getaran pada smartphone-ku. Aku mengambil smartphone-ku dan melihat bahwa aku menerima sebuah email tidak dikenal. Ada sebuah link pada email tersebut dan saat aku membukanya, ada animasi sebuah undangan dengan lambang familiar L.

Aku menyadari bahwa email tersebut dari Letifer. Isinya tentang lokasi, tanggal dan jam pertemuan dimana kami akan bertemu nantinya. Aku menyadari bahwa pertemuan itu dijadwalkan pada hari dan jam sekolah. Apa mereka tidak menyadari bahwa aku masih anak sekolahan? Tapi, sudahlah, bolos juga tak apa.

Aku lupa bahwa Kid masih disisiku sampai dia berkomentar soal lokasi pertemuan yang tercantum pada email. Dia bilang lokasinya tempat baru yang sangat mewah. Aku buru-buru menutup email tersebut walau tahu bahwa sudah telat dan dia sudah membacanya.

Entah kenapa jantungku jadi berdebur keras memikirkan soal pertemuan dengan Letifer. Jika mereka benar memiliki jawaban atas permasalahanku dengan shinigami, mungkin saja aku jadi tak memerlukan bantuan Akako.

Aku menoleh kepada Kid dan tersenyum. "Terima kasih, Kak, sudah bersedia mempertimbangkan untuk membantuku." Aku pun langsung pergi berpamitan kepadanya.

Kid mengejutkanku karena memberiku kartu nama berisi sebuah nomor telepon yang akan dia gunakan untuk mengontakku.

Aku tersenyum-senyum dan sekali lagi mengucapkan terima kasih kepadanya. Dia tersenyum kepadaku dan menggunakan trik sulapnya untuk menghilang dari hadapanku.

"Keren..." tuturku pelan dengan mata berbinar-binar.

777

Akhir minggu kali ini, Papa mengajakku dan Miyuki ke sebuah hotel yang sedang dia kunjungi demi perusahaan Suzuki. Manager di hotel itu meluangkan sebuah kamar VIP untuk kami. Sementara Papa pergi untuk berbicara soal bisnis, aku dan Miyuki bermain-main di kamar hotel sebelum turun untuk pergi berenang di kolam renang hotel. Sebenarnya aku agak ragu karena aku tak bisa berenang, setidaknya diriku yang asli. Aku tak tahu apakah Eva bisa berenang tetapi jalan-jalan di kolam renang juga tak apa-apa, hitung-hitung termasuk olahraga juga. Miyuki berjanji akan mengajariku cara berenang.

Tak disangka saat kami sedang menuju ke kolam renang hotel, kami berpapasan dengan Sera. Gadis tomboy itu tersenyum kepadaku saat dia dengan riang gembira memanggil namaku. Aku memperkenalkan Miyuki kepada gadis itu. Miyuki tersenyum malu-malu kepada Sera ketika gadis itu memuji baju renang yang dipakainya sungguh imut.

"Kalian mau berenang yah?" tanya Sera.

"Iya, apa Kak Sera juga mau berenang?"

"Oh, tidak, aku mau ke kantin hotel untuk makan. Tapi, nanti aku akan datang ke kolam renang dan membawakan kalian snack, bagaimana?"

Aku dan Miyuki tersenyum penuh terima kasih lalu gadis itu pun berpamitan untuk pergi duluan. Kami berdua saling bertukar senyum dan melangkah bersama menuju kolam renang.

Kolam renang hotel sangat luas dan bersih. Untungnya saat itu kolam renang lagi agak sepi. Tumben sekali, kukira bakal ramai. Aku terperangah saat melihat seorang gadis kecil berambut pirang keluar dari kolam renang karena aku mengenalinya sebagai Mary Sera atau Mary Akai, ibunda dari tiga bersaudara Akai. Wah, aku tidak mengira akan dapat melihat tokoh satu itu. Sepertinya Mary menyadari aku memandanginya karena orang itu mendadak memandangiku dengan tajam membuatku jadi kikuk sendiri.

Miyuki menarikku masuk ke kolam renang dan mulai mengajariku cara berenang. Aku menyadari ternyata tubuh kecil yang menjadi ragaku ini ternyata bisa berenang. Aku mati-matian berusaha untuk tidak memandangi Mary Sera lagi dan fokus untuk bermain-main dengan Miyuki. Hitung-hitung lumayan untuk istirahat karena rasanya alur hidupku ini seperti tegang terus saja.

Tentu saja saat aku mengira aku bisa santai, sesuatu yang buruk terjadi padaku. Mendadak aku merasa lemas dan tak bertenaga, seperti layangan putus saja aku pun kehilangan kemampuanku untuk tetap mengapung dan aku tak bisa mengeluarkan suara untuk meminta tolong sebelum tiba-tiba pandangan mataku menggelap.

Saat aku tenggelam dalam air, yang kupikirkan sebelum kegelapan itu menguasai nalarku adalah apakah waktu hidupku sudah berakhir?

Selanjutnya yang aku tahu aku berada di tepi kolam dan Mary ada didekatku, sepertinya orang itu yang menolongku. Ada Miyuki yang panik dan Sera yang berusaha menarik perhatianku. Pandanganku masih agak buram namun aku seperti melihat seorang anak lelaki yang pernah muncul dalam mimpiku waktu itu.

Anak itu sepertinya tengah memandangiku walau aku tidak begitu bisa melihat kedua matanya yang tertutup poni rambut ikalnya namun senyum dingin yang menghiasi bibirnya. Aku menjadi tak yakin apakah aku benar-benar sudah bangun atau belum jadinya saat melihat anak itu.

Tiba-tiba suara anak itu bergema dalam kepalaku. 'Apakah kau masih belum membunuh orang itu? Kau sungguh mengecewakanku, Kak Eva, bukankah sudah kubilang aku mendukungmu? Aku bahkan memberimu kunci itu pula. Jangan mengecewakanku. Do it before it is too late for you.'

Aku mengerjap-ngerjapkan mata dan terbatuk-batuk. Saat aku membuka mataku lagi, anak kecil itu sudah menghilang.

Mulai ada kerumunan disekitarku akibat kehebohan yang kutimbulkan. Aku terbatuk-batuk lagi sembari berusaha bangun. Sera menepuk-nepuk punggungku. Mary sudah tidak ada. Tentu saja orang itu tak ingin menarik perhatian orang. Aku menoleh kepada Sera dan berbisik lirih berterima kasih kepadanya.

Setelahnya aku beralasan bahwa kakiku mendadak kram sehingga aku tenggelam, aku tak ingin membuat Papa khawatir jika aku mengatakan bahwa aku lagi-lagi kehilangan kesadaran dan jadi hampir mati karenanya.

Malam itu, aku sulit tidur memikirkan bahwa sepertinya raga ini mulai bertingkah lagi. Sebelumnya Yohan mengatakan bahwa dia memberikan sedikit esensinya kepadaku untuk membantuku. Apakah esensi itu sudah mulai pudar sehingga raga ini mulai gagal lagi? Aku tercekat memikirkannya. Aku tahu aku harus melakukan sesuatu demi menyambung nyawaku secepatnya. Aku tak ingin memikirkan topik ini sebenarnya karena sampai detik ini pun aku tak memiliki keberanian untuk mencabut nyawa Tatsuo. Tetapi anak kecil itu...kenapa anak itu sangat ingin aku membunuh Tatsuo? Apa maksudnya dia mendukungku?