p class="MsoNormal"Akhirnya tiba juga hari yang ditunggu-tunggu. Aku merasakan ketegangan yang amat sangat dalam tiap lekak-lekuk tubuhku. Rasanya seperti akan meledak saja. Aku berusaha menenangkan diriku dan meminum air terus-menerus karena tenggorokanku terasa kering, tetapi hal itu membuatku jadi tak bisa menahan keinginan untuk buang air kecil untuk setiap seteguk minuman yang kuminum./p
p class="MsoNormal"Caleb tak bisa menahan senyum melihat keteganganku, membuatku melototi dirinya yang seakan menertawakan kesengsaraanku, itu tidak sopan bukan? Kami berdua saat itu sedang di lobby gedung tempat pertemuan yang ditentukan Letifer./p
p class="MsoNormal"Aku dengan gugup mengawasi sekelilingku dan langsung saja mataku dimanjakan dengan berbagai macam warna pada data kematian disekitarku. Aku mengerutkan dahiku saat melihat beberapa orang berwarna kuning yang lalu lalang. /p
p class="MsoNormal"Aku menoleh kepada Caleb. "Bagaimana kau dan Lizzie melakukannya?"/p
p class="MsoNormal"Caleb masih membaca sebuah artikel pada majalah random yang diambilnya. "Melakukan apa?"/p
p class="MsoNormal""Tidak mempedulikan warna kuning. Apakah kalian tidak merasakan obligasi untuk berusaha menyelamatkan atau setidaknya memperingati mereka?"/p
p class="MsoNormal""Dan menimbulkan resiko ditemukan oleh emshinigami/em?" tukas Caleb sembari menaikkan satu alisnya dengan nada yang seakan mempertanyakan kewarasanku./p
p class="MsoNormal"Aku memandangi raut wajahnya dengan heran kenapa beberapa orang bisa menaikkan satu alis seperti itu. "Tapi kau tahu bukan bahwa emshinigami/em tak selalu menyelamatkan warna kuning? Apakah kau tidak merasa berat hati jika melihat orang-orang ini? Apalagi jika nanti warna itu ada pada orang yang dekat denganmu..." gumamku lirih. /p
p class="MsoNormal"Aku jadi merasa gundah lagi tiap kali pikiranku mengarah ke arah sana. Aku benar-benar sengsara dalam kekhawatiranku dan nantinya pasti lebih sengsara lagi saat kenyataan yang tak bisa dihindari itu terjadi./p
p class="MsoNormal"Caleb mengamatiku agak lama membuatku jadi jengah dan menyesal mengangkat pembicaraan ini. Dia mendesah. "Tentu saja pikiran ingin menolong sempat terbersit dalam pikiranku bahkan aku pun sempat bertindak melaksanakannya tetapi aku sudah belajar dari pengalaman, yakinlah, kau tak ingin menjadi penyelamat. Tidak sepadan dengan resikonya...ataupun rasa sakit secara emosional saat kau gagal menyelamatkan mereka atau saat mereka menyalahkanmu untuk kehilangan lainnya."/p
p class="MsoNormal"Aku tertegun mendengar perkataan Caleb. Sepertinya pemuda itu mengalami hal buruk dalam tindakan penyelamatan yang dilakukannya. Aku mendesah merasa tidak enak hati karena membuat pemuda itu terlihat agak tertekan. Padahal aku hanya ingin tahu bagaimana bersikap...tidak peduli akan sekitar? /p
p class="MsoNormal"Aku sungguh berharap mata emshinigami/em ini memiliki emoff switch/em. Aku tak ingin terus menerus melihat warna kematian yang dijematkan kepada semuanya. Lebih mudah untuk tidak peduli jika tidak tahu bahwa akhir orang disekitar sudah hampir mendekat./p
p class="MsoNormal""Apakah mata emshinigami/em memiliki emoff switch/em?" tanyaku akhirnya./p
p class="MsoNormal"Caleb tertawa renyah. "Entahlah...betapa memudahkan hidup jika benar bisa, bukan?" Dia terdiam sesaat. "Ada yang berteori jika kau terus mengoleksi esensi emshinigami/em, maka mungkin saja ada cara untuk mematikan fungsi mata tersebut. Sayangnya aku belum menemukan bukti langsung kemampuan tersebut."/p
p class="MsoNormal"Aku berusaha menahan rasa kecewa dalam diriku. Mengoleksi esensi emshinigami/em? Aku saja tidak bisa mencuri satu esensi tersebut demi menyambung nyawaku sendiri./p
p class="MsoNormal"Aku tak lagi mengganggu Caleb yang langsung menyibukkan dirinya dengan membaca majalah seakan dia pun berat hati untuk membicarakan soal itu juga. Aku menoleh ke sekelilingku dan tercekat saat aku melihat seseorang dengan nama yang familiar di atas kepalanya. Aku pun segera beralasan ingin ke toilet lagi dan meninggalkan Caleb untuk menghampiri orang itu. Memang salahku yang sengaja menarik perhatiannya jadi seharusnya aku tidak kaget dengan kehadiran seorang Kaito Kuroba di lobby./p
p class="MsoNormal"Padahal aku sudah memperingati dia untuk tidak memunculkan dirinya didekat Caleb dan Lizzie. Pemuda itu benar-benar tidak menghiraukan peringatan dariku. Untungnya sepertinya Caleb tidak menyadari kejanggalan akan keberadaan pemuda itu. Setidaknya jika dia mencurigai sesuatu, dia tak mengatakan apapun kepadaku./p
p class="MsoNormal"Kaito sedang berpakaian sebagai salah satu pelayan di hotel dan menggunakan sosok penyamaran seorang gadis muda. Aku terpukau dengan penyamarannya yang super itu. Tetapi penyamarannya sebagai gadis muda membuatku jadi teringat akan Mako. Shuichi belum mengabarkan tindakan pengawasan yang katanya akan dia atur terhadap pemuda satu itu./p
p class="MsoNormal"Sudahlah, sekarang fokus pada Kaito dan pertemuan dengan Letifer dulu. Setelah memastikan bahwa Caleb tidak mengawasiku, aku pun diam-diam mendekati Kaito yang sedang membawa meja dorong berisi alat-alat kebersihan./p
p class="MsoNormal"Aku menatap tajam penyamaran Kaito itu dengan agak sebal. Awalnya dia masih saja pura-pura tidak mengenaliku dan aku menegurnya tanpa basa-basi lagi. Aku menariknya masuk sebuah ruangan kecil tempat pihak hotel menyetor alat-alat kebersihan, yang penting jauh dari mata semua orang./p
p class="MsoNormal"Kaito memasang tampang terheran-heran. "Serius, bagaimana kau mengetahui bahwa aku disini dan bahwa aku bahkan sedang menyamar jadi gadis pelayan manis ini?" tanyanya seakan tidak rela karena aku terus-menerus mengenalinya./p
p class="MsoNormal""Sudah kukatakan sebelumnya aku memiliki emcheat code/em." jawabku masih tak ingin menjelaskan lebih lanjut./p
p class="MsoNormal""Iya, tapi cara kerja emcheat code/em-mu bagaimana? Kau mengklaim bahwa kau akan selalu tahu keberadaan diriku apapun penyamaranku saat itu..."/p
p class="MsoNormal"Aku menatap tajam orang itu. "Jadi, kau sedang mengujiku? Apakah karena itu Kak Kaito ada disini?" tanyaku dengan ketus./p
p class="MsoNormal"Aku tahu dia disini kemungkinan karena diriku. Dia mengetahui keberadaanku disini juga karena dia membaca email yang ku terima dari Letifer. Ataukah dia ada misi lain disini? Tapi, rasanya tidak mungkin. Namun sekilat ekspresi diwajahnya membuatku terperangah saat menyadari bahwa dia benar-benar sengaja mengujiku dengan muncul dihadapanku dengan berbagai penyamarannya./p
p class="MsoNormal""Sekarang Kak Kaito tahu bahwa aku akan selalu mengenalimu apapun samaranmu, bukan? Apakah sudah puas untuk memastikannya?" tanyaku sambil berusaha mengontrol kesinisan dalam diriku terhadapnya./p
p class="MsoNormal"Kaito hanya diam saja. Sepertinya dia sulit sekali menerimanya. Ataukah ada pemikiran lain dalam dirinya tentangku? Tapi, bagaimanapun aku khawatir akan posisi orang ini. Dia tak boleh terlihat bersamaku./p
p class="MsoNormal"Saat itu aku menerima pesan dari Caleb yang menanyakan keberadaanku dan bahwa ajudan dari pihak Letifer sudah berada ditempat. Aku menelan ludah saat ketegangan kembali menguasai diriku./p
p class="MsoNormal"Kaito mengamati diriku dengan seksama. "Apakah pertemuan para cenanyang-mu sudah mau dimulai?" tanyanya penuh rasa ingin tahu./p
p class="MsoNormal""Pokoknya Kak Kaito harus segera pergi jika kau masih menginginkan privasi atas namamu." tukasku dengan agak sebal. Aku berusaha menampilkan keseriusanku akan hal ini. "Ini penting, kau tak boleh terlihat bersamaku...aku tak ingin terjadi hal buruk kepadamu karena diriku."/p
p class="MsoNormal"Kaito terdiam mendengarnya. "Apakah saat ini kau dalam bahaya?"/p
p class="MsoNormal"Aku tak tahu harus menjawab apa. "Kakak, pergilah dan usahakan jangan bertatap mata dengan orang-orang disekitar sini selama kau berada di hotel ini." pintaku. /p
p class="MsoNormal"Aku khawatir karena pasti ada pemilik mata shinigami lain di dalam hotel saat ini. Jangan sampai mereka mengetahui identitas Kaito karena aku tak mempercayai orang-orang tersebut dengan nyawa pemuda itu./p
p class="MsoNormal""Dan tolong perkataan saya diikuti...ini demi keselamatanmu sendiri." pintaku lagi./p
p class="MsoNormal"Tanpa menunggu jawaban dari pemuda itu, aku pergi meninggalkannya duluan karena aku tak ingin terlihat bersamanya. Aku khawatir mungkin sudah telat jika berparanoid memikirkan Letifer yang menyiapkan pertemuan ini mungkin meletakkan mata-mata mereka disekeliling. /p
p class="MsoNormal"Aku pergi ke toilet untuk membasuh wajah dan mempersiapkan diri untuk pertemuan yang mungkin menentukan nasib diriku kedepannya. Aku mengatur nafasku, berusaha menenangkan jantungku yang berdebur keras dan menahan rasa keinginan untuk minum atau buang air kecil yang terus menerus saking tegangnya./p
p class="MsoNormal"Aku segera melangkah menuju lobby dan aku agak terhenyak melihat seorang wanita yang dikatakan sebagai ajudan Letifer itu adalah wanita yang sama yang mengunjungi Tatsuo. Aku menelan ludah dengan susah payah. Ini kesempatan untuk menanyakan juga tujuan letifer mengunjungi Tatsuo juga. Dengan berat hati, aku melangkah mendekati mereka./p
p class="MsoNormal" /p
p class="MsoNormal" /p
p class="MsoNormal"Wanita bernama Mitsuko Katagiri dari data kematiannya itu membungkuk memberi hormat kepadaku saat melihatku seakan aku ini tamu kehormatan. Dia lalu mengantarku dan Caleb masuk menaiki lift menuju ke lantai ruangan dimana petinggi Letifer berada. Caleb dengan tenang mengajak wanita itu berbicara namun wanita itu hanya menjawab singkat seakan tak ingin berbicara lama dengan kami./p
p class="MsoNormal"Ada beberapa orang berpakaian serba hitam dan berkacamata hitam khas bodyguard memeriksa kami agar tidak membawa senjata apapun ke dalam ruangan. Caleb memutar bola matanya atas tindakan tersebut dan dia menoleh kepadaku sembari tersenyum kecil./p
p class="MsoNormal"Aku tak bisa membalas senyumnya saking gugupnya./p
p class="MsoNormal""Jangan lupa bernafas, Eva, jangan tegang begitu. Kita adalah tamu kehormatan. Mereka tak akan melakukan apapun kepada kita." ujarnya berusaha menenangkanku./p
p class="MsoNormal""Tapi entah kenapa aku merasa sedang melangkah ke tempat eksekusi..." gumamku lirih lebih kepada diriku sendiri./p
p class="MsoNormal"Caleb tertawa kecil. "Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja."/p
p class="MsoNormal"Kami akhirnya dipersilahkan masuk ke dalam ruangan. Mitsuko menyuruh kami masuk dan menunggu sebentar. Menunggu lagi? Sopan sekali... Rasanya seperti sedang menunggui orang penting saja. Mengingat situasinya, memang sepertinya hal itu benar./p
p class="MsoNormal"Caleb hanya mengangkat bahu dengan cuek dan langsung duduk disalah satu kursi pada meja bundar lebar yang berada didalam ruangan. Aku tidak langsung duduk, mengamati ruangan tersebut masih dengan jantung berdebar keras. Aku melangkah ke arah jendela kaca besar didalam ruangan dan menarik tirainya supaya pemandangan di luar dapat terlihat./p
p class="MsoNormal"Caleb menyuruhku duduk disampingnya dan aku menurutinya. "Tenanglah, Eva, kau kelihatan seperti sudah mau pingsan saja..." tegurnya pelan./p
p class="MsoNormal"Aku mengeryitkan hidung dengan agak sebal. Aku benci bertemu orang penting atau orang yang memiliki kekuasaan, entah kenapa mereka selalu membuatku gugup. Dahulu orang yang memiliki kekuasaan dalam hidupku adalah guru-guru dan polisi. Aku sering mimpi buruk soal guru yang menentukan bagaimana hari-hariku selanjutnya lancar atau tidak bergantung pada PR, PS dan ujian ulangan dari mereka. Tiap kali terbangun aku merasa lega menyadari aku sudah tak ada kaitan dengan pendidikan appaun. Dan sekarang di dunia ini, aku harus mengulanginya lagi. emUgh. /emKali ini orang yang memiliki kekuasaan adalah orang-orang dari Letifer ini./p
p class="MsoNormal"Aku tersentak kaget saat pintu terbuka dan beberapa orang memasuki ruangan. Ada seorang pria tua bertongkat, seorang pria berkacamata dengan wajah yang serius dan seorang wanita berpakaian elegan. Aku tercekat melihat ketiganya tak memiliki data kematian diatas kepala mereka. Aku menoleh ke arah Caleb merasa semakin gugup namun pemuda itu malah duduk santai dan sama sekali tidak memperdulikan kehadiran ketiganya./p
p class="MsoNormal"Ketiga pemilik mata shinigami itu pun mulai duduk dan menyuruh para bodyguardnya untuk keluar. Wanita bernama Mitsuko itu juga tidak menetap diruangan namun sebelum pergi, wanita itu menutup tirai jendela lagi sehingga ruangan agak redup./p
p class="MsoNormal"Aku menelan ludah lagi dengan dahi berkerut dan bertukar pandang sekilas dengan Caleb sebelum mengalihkan pandanganku ke arah kedua tanganku yang tengah meremas-remas rok yang kupakai berusaha memerangi ketegangan dalam diriku./p
p class="MsoNormal"Pria tua itu menoleh kepadaku langsung dengan wajah super serius sebelum tiba-tiba tersenyum lebar. "Akhirnya kita bertemu juga, selamat datang, Nona Eva." sapanya. "Kau boleh memanggilku Shirou. Dan mereka adalah Fuuma dan Julia."/p
p class="MsoNormal"Fuuma dan Julia mengangguk kepala mereka kepadaku. Fuuma terlihat serius sedangkan Julia tersenyum kecil kepadaku./p
p class="MsoNormal"Aku dengan gugup memberikan hormat kepada ketiganya. Aku mengamati ketiganya. "Pak...Shirou, apakah itu nama asli ataukah...?"/p
p class="MsoNormal"Shirou tertawa. "Apakah itu penting?"/p
p class="MsoNormal"Menurutku penting karena sampai detik ini pun aku bahkan tidak tahu apakah nama Caleb dan Lizzie itu benar nama raga mereka saat ini atau nama palsu semata demi jaga-jaga keamanan identitas mereka. "Rasanya sedikit tidak adil kalian tahu namaku dan mungkin segalanya tentang diriku saat ini tetapi aku tidak tahu apapun soal kalian." ujarku pelan./p
p class="MsoNormal"Shirou tersenyum mendengarnya. "Maka itu bergabunglah dengan organisasi kami, Nona Eva, jadilah bagian dari keluarga besar kami..." Dia seakan tengah mempromosi saja. "Lagipula, mengatakan kami tahu segalanya tentangmu adalah tidak benar. Banyak hal yang kami tidak tahu dan kau, Nona Eva, superior diantara kami karena kau strongbertemu/strong dengan emshinigami/em dan strongberhasil selamat/strong." Entah kenapa nada pria tua itu terdengar dingin saat menyebutkan bahwa aku berhasil selamat dari dewa kematian./p
p class="MsoNormal""Shirou, berhenti membuatnya bingung." tukas Caleb. "Kami disini karena kalian mengatakan punya info soal emshinigami/em. Kukira Pak Ketua kalian akan menghadiri pertemuan ini sepertinya lagi-lagi tidak."/p
p class="MsoNormal"Fuuma kelihatan tidak senang kepada Caleb. "Orang sepertimu...mana pantas bertemu muka dengan Ketua."/p
p class="MsoNormal"Caleb memutar bola matanya dan tersenyum mengejek. "Tapi kalian tak berhenti berusaha merekruitku...jadi sepertinya aku pantas."/p
p class="MsoNormal"Fuuma sepertinya hendak marah akan kesombongan Caleb namun Julia menenangkannya. Shirou hanya tertawa-tawa seakan kami semua sedang bercanda saja./p
p class="MsoNormal"Aku hanya bisa melongo. Rasanya aneh juga melihat Caleb yang biasanya sopan dan ramah bersikap seperti ini. Memang sebenarnya setiap orang bermuka dua bahkan diriku sendiri. Sepertinya Caleb benar-benar tidak senang berada didekat orang-orang ini sampai tingkahnya dalam menanggapi mereka pun berbeda./p
p class="MsoNormal"Aku menoleh kepada Shirou yang masih saja mengamatiku sambil tersenyum-senyum membuatku sedikit jengah./p
p class="MsoNormal"Shirou berdeham kecil lalu menatap ke semua orang didalam ruangan. "Kita semua disini adalah saudara dalam artian yang spesial." ujarnya pelan sambil mempertahankan pandangannya ke setiap orang dalam ruangan satu per satu perlahan-lahan./p
p class="MsoNormal"emSaudara dalam artian spesial?/em Apa maksudnya karena semua orang di ruangan ini sama-sama senasib sebagai jiwa ilegal ataukah karena kami semua pemilik mata emshinigami/em? Aku memandangi orang-orang disekitarku dan tiba-tiba aku terkesiap karena entah apakah mataku sudah rusak atau aku kurang tidur semalam gara-gara gugup akan pertemuan Letifer hari ini, tetapi aku melihat mata semua orang didalam ruangan berbinar merah termasuk mata Caleb./p
p class="MsoNormal"Aku tercengang dan pastinya keherananku itu muncul di wajahku. Aku menelan ludah dan mengusap mataku dan kali ini mata semuanya normal./p
p class="MsoNormal""Ada apa, Nona Eva?" tanya Shirou./p
p class="MsoNormal""Mata kalian...tadi sepertinya...berubah merah...?" tuturku pelan. "Aku mungkin kekurangan tidur." Aku perlahan-lahan memijit dahiku sambil menutup mata./p
p class="MsoNormal"Shirou tertawa mendengarnya bahkan yang lain pun mulai tersenyum termasuk Fuuma walau senyumnya hampir tidak kelihatan dengan ekspresinya yang agak kaku. "Kau tidak salah lihat." tuturnya./p
p class="MsoNormal"Aku tercengang mendengarnya. "Mata kalian bisa bercahaya seperti efek film?" tanyaku. Dan tiba-tiba aku jadi teringat akan Tatsuo yang matanya pun sempat berbinar merah dahulu saat dia menangkap dan menyiksaku./p
p class="MsoNormal""Matamu juga sama, bukan? Kau benar-benar tidak tahu?" tanya Julia./p
p class="MsoNormal"Aku menggeleng-gelengkan kepala. Selama ini aku bercermin tidak pernah sekalipun aku melihat kedua mataku berbinar merah seperti tadi. Aku menoleh kepada Caleb yang memasang tampang tak berdosa dan bertanya, "Kenapa kau tidak pernah memberitahuku bahwa mata kita bisa berubah seperti itu?"/p
p class="MsoNormal"Caleb hanya mengangkat bahu. "Rasanya hal itu tidak begitu penting menurutku..."/p
p class="MsoNormal"Jawabannya membuatku agak gusar. Mata pemilik mata emshinigami/em bisa berbinar merah bagai setan dan dia tak berpikir itu penting? Sebenarnya tidak seperti setan juga, tapi aku jadi teringat akan karakter emCrossroad Demons/em dari film seri Supernatural. Jujur sebenarnya menurutku keren juga mataku bisa berbinar merah seperti itu, rasanya seperti seseorang yang memiliki emsuperpower/em./p
p class="MsoNormal""Apakah orang lain juga bisa atau menyadari perubahan mata itu? Apakah karena itu juga mungkin para pemburu mengenali kita?" tanyaku agak khawatir. Jika orang awam bisa melihat perubahan mataku juga, bisa-bisa nanti aku dikira kerasukan atau apa lagi./p
p class="MsoNormal""Orang biasa tidak bisa melihat perubahan mata kita. Hanya orang-orang yang memiliki kekuatan supernatural seperti cenayang atau orang yang mentalitasnya terganggu atau rusak." jawab Fuuma sambil membetulkan letak kacamatanya sembari menatapku dengan serius. "Tetapi kadang-kadang ada suatu pengecualian dimana orang biasa pun mampu melihat perubahan mata kita..."/p
p class="MsoNormal""Pengecualian? Seperti apa?" tanyaku./p
p class="MsoNormal"Shirou menyela pembicaraan kami. Dia sudah memesan hidangan makanan untuk disantap bersama sebelum melanjutkan pembicaraan lagi./p
p class="MsoNormal"Aku merasa ingin menjerit. Aku sungguh tegang jika aku harus memaksakan diri untuk makan juga, bisa-bisa aku tersedak makanan dan mati ditempat! Dan aku sungguh penasaran ingin mengoreksi informasi yang diberikan bebas oleh orang bernama Fuuma itu. Aku melirik ke arah Caleb yang sepertinya menyadari ketidaksenanganku./p
p class="MsoNormal""Kudengar makanan disini enak dan mahal... Bawa santai saja." bisik Caleb sebelum memberantakan rambutku membuatku melototi pemuda itu./p
p class="MsoNormal"Beberapa pelayan berderet masuk mengantarkan hidangan berupa sup krim hangat yang kelihatan lezat dan beberapa makanan yang kelihatan mewah namun berporsi kecil. Untunglah makanan yang dihidangkannya sepertinya yang mudah dicerna./p
p class="MsoNormal"Aku merasa tenggorokanku terasa kering jadi aku meminum segelas air di meja walau mengetahui hal itu akan membuatku ingin ke toilet./p
p class="MsoNormal"Shirou tersenyum saat dia menyuruh pelayan menuangkan segelas wine untuk semuanya namun dia memberikanku segelas sirup kuning mengingat aku satu-satunya anak kecil diruangan ini. Dia mengerlingkan mata kepadaku./p
p class="MsoNormal"Aku menatap orang itu dengan agak sebal karena seperti secara tidak langsung mengejekku yang terjebak dalam tubuh anak kecil. Dalam kehidupan nyataku, aku belum pernah bisa menyicipi wine dan sampai aku mati pun, hal itu belum pernah terwujud. Bukannya aku ingin sekali minum wine. Aku hanya merasa seperti aku ini suatu candaan dimata mereka hanya karena ragaku adalah raga anak kecil padahal jiwa asliku bukan dan mereka mengetahui jelas soal itu. Ah, sudahlah, mungkin aku terlalu sensitif./p
p class="MsoNormal"Caleb dengan tenang menyisip wine-nya. Aku pun mengikuti dirinya dan menyisip sirupku mengikuti gaya dia seakan aku juga sedang meminum wine./p
p class="MsoNormal" /p
p class="MsoNormal" /p
p class="MsoNormal" /p
p class="MsoNormal"Aku memaksakan diri untuk menikmati hidangan didepanku sambil berharap-harap cemas menantikan tetapi juga ingin menunda topik berat perihal dewa kematian. Akan jadi kabar baik atau kabar buruk?/p
p class="MsoNormal"Sambil menikmati hidangan, Shirou mengajak kami bercakap-cakap akan keseharian kami. Akhirnya Caleb angkat bicara, menegur Shirou agar berhenti menunda memberitahukan informasi yang kami cari. Pria tua itu tersenyum tanpa dosa dan malah menganjurkan kami menikmati hidangan penutup yang sebentar lagi akan diantar./p
p class="MsoNormal""Saya hanya ingin perjamuan ini berjalan menyenangkan." jelas Shirou selaku 'tuan rumah' atas perjamuan ini. "Nona Eva kelihatannya tegang sekali, saya hanya ingin pertemuan pertama ini tidak semenakutkan yang anda kira."/p
p class="MsoNormal"Aku meringis menyadari semua orang tahu bahwa aku diliputi oleh ketegangan yang amat sangat. Aku juga merasa sedikit tersanjung karena Shirou bertindak baik berusaha membuatku santai walau agak kurang berpengaruh./p
p class="MsoNormal""Tentu saja dia akan tegang..." tukas Caleb. "Dia dalam bahaya dan kau menahan informasi yang kami perlukan. Apakah kau bisa menolong kami atau tidak?"/p
p class="MsoNormal"Aku meringis lagi akan perkataan Caleb yang sungguh blak-blakan tapi bersyukur juga karena aku sulit untuk mengangkat topik pembicaraan itu./p
p class="MsoNormal"Shirou tersenyum sama sekali tidak tersinggung namun aku melihat Fuuma terlihat tidak senang dengan Caleb. "Tentu saja, tapi sebelum itu, mari kita nikmati hidangan penutup yang sudah kupesan untuk kalian." Dia menoleh kepadaku. "Kau pasti akan suka dengan hidangan satu ini."/p
p class="MsoNormal"Aku terlalu kehilangan kata-kata dan hanya bisa melongo lagi./p
p class="MsoNormal"Pintu terbuka dan seorang pemuda berpakaian seperti pelayan memasuki ruangan membawa nampan. Untuk sesaat, kami semua mengira dia adalah pelayan yang mengantar hidangan penutup yang dikatakan Shirou. Namun wajah Shirou mendadak memucat saat dia mengenali pemuda yang masuk ke dalam ruangan. Dia berdiri dan dengan geram berseru, "Kau!"/p
p class="MsoNormal"Wajah Fuuma dan Julia juga memucat, mereka bergegas berdiri dan mereka kelihatan tegang. Aku dan Caleb berdua yang kebingungan karena kami tidak mengenal siapa pemuda itu namun kami tahu jelas bahwa pemuda itu adalah pemilik mata emshinigami/em juga./p
p class="MsoNormal"Pemuda itu menatap kami semua dengan senyum sinis. "Ah, Shirou, strongemall-you-can-eat buffet just for me?/em/strong" tukasnya dengan nada riang sembari meletakkan satu tangan di dada seakan merasa terharu./p
p class="MsoNormal"Caleb beranjak berdiri sepertinya menyadari sesuatu namun sebelum kami dapat melakukan apapun tiba-tiba semacam bom asap memasuki ruangan mengeluarkan asap yang langsung membuat kami terbatuk-batuk dan mata perih sementara pemuda itu telah memakai topeng pelindung yang diletakkannya diatas nampan yang dibawanya./p
p class="MsoNormal"Dengan gaya dramatis, pemuda itu tertawa histeris sambil mengacungkan jempol saat mengamati kepanikan kami. Entah apa yang terjadi pada para penjaga yang seharusnya menjaga pintu ruangan menuju tempat kami, yang pasti pemuda itu tidak datang seorang diri. Dua orang berpakaian serba hitam dan bertopeng yang sama dengan pemuda itu memasuki ruangan. Salah satu-nya memukul Fuuma yang hendak melawan balik bahkan saat sedang terbatuk-batuk. Namun tak lama, kami merasakan kengerian karena mendadak tubuh kami terasa lemas dan kami menyadari efek asap pada bom itu membuat kami sulit bergerak./p
p class="MsoNormal"Caleb berusaha merangkak mendekatiku yang sedang terbatuk-batuk sambil bertekuk lutut di lantai. Jantungku berdebur keras dan aku sangat ketakutan namun tubuhku terasa berat sekali dan kegelapan pun menyelimutiku saat pelupuk mata-ku memberat dan menutup pemandangan disekitarku./p
p class="MsoNormal"Saat aku membuka mataku kembali, kesadaranku akan sekitarku masih kurang namun aku menyadari bahwa aku sedang duduk lagi di kursiku. Iya, aku perlahan menyadari kami semua sedang duduk kembali di tempat duduk masing-masing namun kami semua tak bisa bergerak bahkan menggerakkan jari kelingking pun sulit. Kepanikanku perlahan kembali saat aku bertukar pandang dengan Caleb./p
p class="MsoNormal"Aku baru menyadari pemuda yang menyerang kami sudah tak lagi memakai topengnya dan sepertinya dia sedang asyik berbicara lebih kepada dirinya sendiri daripada kami. Sangat jelas ada rasa tidak senang diantara pemuda itu dengan ketiga orang dari Letifer ini. Apapun masalahnya, aku dan Caleb terjebak bersama mereka./p
p class="MsoNormal"Shirou berusaha membuka mulutnya untuk berbicara namun sepertinya efek asap tadi membuat kami juga kesulitan untuk berbicara namun dia memanggil pemuda itu sebagai Rido. Rido menyeringai dan dengan kasar menepuk-nepuk pipi Shirou sembari mengejeknya yang tak mampu mengeluarkan sepatah katapun dengan jelas./p
p class="MsoNormal"Aku menggigit bibirku dengan tegang sebelum aku menyadari fokus Rido kini ada padaku./p
p class="MsoNormal""Jadi kau-kah calon anggota terbaru yang dimaksud Shirou tua?" Pemuda itu menekukkan lutut disamping kursiku sambil tersenyum-senyum. "Ragamu adalah anak kecil?" Dia bersiul kecil. "Kau yang termuda diantara sesama jiwa ilegal ya..." Dia menggelengkan kepala dengan prihatin. "Harus melewati masa pubertas lagi...kasihan..."/p
p class="MsoNormal"Sedikit rasa kesal melintas dalam pikiranku. Padahal sendirinya juga masih remaja, pakai mengejek-ejekku segala. Namun ketegangan kembali menggerogotiku mengalahkan kekesalanku tersebut./p
p class="MsoNormal""Bagaimana kau...tahu kami...disini?" tanya Fuuma dengan terbata-bata./p
p class="MsoNormal"Rido menyeringai. "Magic..." jawabnya lalu tertawa terbahak-bahak, jelas dia tak menanggapi kami semua dengan serius. Namun senyum diwajahnya langsung hilang. Dia mendesah. "Aku kecewa aku tidak diundang dalam pertemuan ini... Aku sungguh sakit hati, tahu?" tukasnya. Dia melangkah membelakangi Fuuma lalu menarik rambutnya dengan keras sampai kepalanya mendongak ke atas. "Aku tidak lolos seleksi? Aku?"/p
p class="MsoNormal"Aku tercekat memandangi mereka. Aku sungguh tidak berdaya melakukan apapun. Aku menoleh ke arah Caleb yang sedari tadi hanya diam saja namun raut wajahnya penuh kalkulasi saat dia mengamati Rido./p
p class="MsoNormal""Apa hebatnya mereka berdua?" tanya Rido kepada Shirou sambil menunjukku dan Caleb. "Hey, Shirou, kau yang pertama mencari-cariku untuk merekruitku, mengiming-imingi kekeluargaan segala, lalu membuangku begitu saja?"/p
p class="MsoNormal"Ah, sial. Kami berdua bakal jadi sasaran amukan orang sinting ini./p
p class="MsoNormal""Dan kau, emJuli, Juli, Juli,/em kau sungguh mengecewakanku..." Rido kini berdiri membelakangi Julia sembari berbisik didekat telinganya. Wanita itu terlihat sungguh ketakutan saat dia bersusah payah memohon kepada pemuda itu. Tiba-tiba pemuda itu menyayat leher wanita itu dengan pisau yang entah muncul darimana./p
p class="MsoNormal"Mataku membelalak lebar saat melihat kengerian dihadapanku namun aku tak mampu menjerit. Darah keluar dari luka sayatan di leher Julia saat wanita itu mulai mengeluarkan suara seperti tersedak. Wanita itu memandangiku dengan ekspresi yang tertahan dalam rasa takut dan sakit./p
p class="MsoNormal"Fuuma menggelengkan kepalanya seakan tidak bisa terima akan kejadian tersebut dan seperti berhasil mengumpulkan tenaga untuk bergerak. Dia langsung menyerodok ke arah Rido dan keduanya terjatuh ke lantai namun jelas Fuuma masih tidak bisa bergerak sementara pemuda itu tertawa terbahak-bahak. Salah satu orang yang datang bersama Rido menarik Fuuma dari lantai dan memaksanya kembali duduk./p
p class="MsoNormal"Rido berdiri dan menepis debu dari tubuhnya. "Tadi aku mau melakukan apa ya?" tanyanya pada diri sendiri. "Ah." Dia melangkah mendekati Julia yang sekarat dan langsung menikam jantung wanita itu tanpa ba-bi-bu lagi. Dia terlihat senang, matanya menutup dan seakan dia sedang menghirup sesuatu./p
p class="MsoNormal"Momen saat Julia meninggal, entah kenapa aku merasakan seperti ada energi panas menghembus keluar dari wanita itu sebelum energi tersebut seakan menghilang./p
p class="MsoNormal""Oh, rasanya segar sekali..." gumam Rido yang masih menutup matanya dengan tubuh sedikit bergoyang seakan berdansa dengan nada musik yang hanya dia yang bisa dengar./p
p class="MsoNormal"Aku perlahan menyadari bahwa energi panas yang kurasakan itu adalah esensi emshinigami/em Julia yang keluar dari tubuhnya dan diserap oleh Rido. Tiba-tiba saja aku jadi teringat perkataan pemuda itu saat dia pertama kali muncul. emAll-you-can-eat-buffet? /emMaksudnya kami semua? Dia akan membunuh kami semua demi esensi emshinigami/em? Aku semakin ketakutan dan panik./p
p class="MsoNormal"Rido kembali fokus pada diriku. "Hei, gadis kecil, siapa korban pertama-mu? Apakah kau sudah pernah membunuh orang?"/p
p class="MsoNormal"Aku tak mampu berkata-kata. Namun sesuatu pada ekspresi wajahku sepertinya memberitahu dia sesuatu./p
p class="MsoNormal""Kau belum pernah?" tanyanya dengan agak heran, seakan membunuh orang demi menyambung nyawa itu sudah realita yang normal saja. em"Oh, that's so sad, kid."/em ujarnya kepadaku dengan prihatin. Dia melangkah mendekatiku dan kembali berlutut disampingku. "Jadi, saat ini, kau sekarat, bukan?"/p
p class="MsoNormal"Aku hanya menatap pemuda itu dengan takut-takut dan mengangguk perlahan./p
p class="MsoNormal"Rido menatapku agak lama sebelum dia tiba-tiba tersenyum. "Mau kubantu? Aku akan membiarkanmu membunuh salah satu dari ketiga orang disini...bagaimana?"/p
p class="MsoNormal"Aku membelalakan mata dengan kaget./p
p class="MsoNormal"Rido menarikku berdiri hampir membuatku jatuh terhuyung. "Pilih..." pintanya padaku sambil menunjuk pada Caleb, Fuuma dan Shirou./p
p class="MsoNormal""Hentikan ini semua, Rido..." pinta Shirou sepertinya sudah mulai bisa berbicara dengan lancar./p
p class="MsoNormal"Rido tidak menghiraukan mereka, fokus sepenuhnya kepadaku./p
p class="MsoNormal"Tiba-tiba Caleb melangkah bangkit dari kursi dan dengan tergesa-gesa berusaha lari namun tentu saja dia dihentikan oleh orang yang datang bersama Rido. Caleb dipukul oleh salah satu dari mereka dan jatuh tersungkur ke arah jendela kaca dan menarik lepas tirai jendelanya./p
p class="MsoNormal"Rido kelihatan tidak senang. "Dia saja kalau begitu. Lihatlah, dia berniat meninggalkanmu..." ujarnya kepadaku. "Hei, namamu siapa?"/p
p class="MsoNormal""E-Eva." jawabku perlahan./p
p class="MsoNormal"Rido tersenyum agak ramah kepadaku. em"Nice to meet you, Eva. Today is your lucky day."/em ujarnya. Lalu dia menginstruksikan kedua orangnya untuk menarik Caleb dan menyeretnya ke dekat kami. Rido mencengkramkan pisau yang tadi digunakannya untuk menikam mati Julia ke dalam genggaman tanganku. Dia juga menyeretku mendekati Caleb./p
p class="MsoNormal"Aku hanya bisa menatap Caleb dalam kengerian yang amat sangat./p
p class="MsoNormal"Tiba-tiba orang yang menahan Caleb menjerit kesakitan saat sebuah peluru menembus tubuhnya dari arah jendela. Kejadian itu membuat ricuh lagi. Caleb terjatuh tersungkur ke tanah. Rido kelihatan bingung sebelum sebuah peluru lagi menembus tubuh orangnya yang satu lagi./p
p class="MsoNormal""Yang benar saja? emSniper?/em" tukasnya dengan tidak percaya. Dia menarik pisau yang tadinya ada ditanganku namun terhentikan oleh sebuah peluru yang bersarang di bahunya yang membuatnya melepaskanku dan dia mulai menanggapi serius ancaman penembak jitu seorang Shuichi Akai namun dia tentu tidak tahu siapa yang menyerangnya. Dia menjatuhkan diri ke lantai untuk bersembunyi dari sasaran tembak./p
p class="MsoNormal"Untunglah Shuichi bersikeras untuk ikut serta dalam pertemuan dengan Letifer. Walau tak bisa berada dalam tempat yang sama dengan kami, kami bisa berkomunikasi dengan alat buatan Profesor Agasa yang Shuichi berikan kepadaku dan Caleb untuk berjaga-jaga./p
p class="MsoNormal"Rido terlihat geram karena kejadian diluar dugaan ini dan kini aku menjadi sasaran kemarahannya karena saat itu aku yang paling dekat disisinya. Dia merangkak mendekatiku sembari menggenggam pisaunya dengan niat jelas untuk menikamku. /p
p class="MsoNormal"Namun tiba-tiba muncul bom asap berwarna pink entah darimana dan beberapa tembakan berupa kartu melukai tangannya membuatnya menjatuhkan pisaunya./p
p class="MsoNormal"Aku beringsut berusaha menjauhi Rido dan tahu-tahu ada yang menarikku membuatku terpekik kaget. Tahu-tahu aku berada dalam pelukan seseorang yang membawaku keluar ruangan. Aku terkejut melihat Kaito Kuroba yang kini menyamar sebagai pelayan pria./p
p class="MsoNormal""Kenapa...kau masih disini?" tanyaku dengan agak kaget, gemas dan bersyukur. Lagi-lagi kami berakhir di ruangan janitor./p
p class="MsoNormal""Kau benar-benar anak yang aneh." tukasnya. "Bagaimana bisa anak sekecil dirimu bisa terlibat bahaya terus? Kau seperti detektif cilik satu itu. Lalu, seharusnya kau berterima kasih padaku." gerutunya. Setelah puas menggerutu sendiri, dia mulai memperhatikanku baik-baik seakan mencari tahu apakah aku terluka atau tidak./p
p class="MsoNormal"Aku menyadari bahwa aku memang berhutang budi pada orang ini. Bom asap pink tadi pasti adalah miliknya begitu pula kartu-kartu tajam yang setahuku berasal dari pistol khas Kaito Kid. "Terima kasih, Kak Kaito." ujarku pelan./p
p class="MsoNormal"Kaito tersenyum lembut. "Sama-sama, Eva." Dia menoleh sekelilingnya. "Kita harus segera pergi dari sini."/p
p class="MsoNormal"Aku menelan ludah dengan berat hati. "Kau yang harus pergi dari sini."/p
p class="MsoNormal"Kaito menoleh kepadaku dan mengamatiku. "Kau ingin kembali?"/p
p class="MsoNormal""Temanku ada disana..."/p
p class="MsoNormal""Maksudmu pemuda yang tadi ingin lari meninggalkanmu?" tanyanya dengan sarkastis./p
p class="MsoNormal""Dia tidak sedang lari, dia sedang memberi akses..." jawabku membela Caleb./p
p class="MsoNormal""Memberi akses? Kepada sniper tadi?" Kaito terlihat sangat terkejut. "Bagaimana anak kecil sepertimu bisa mengenal seorang sniper?"/p
p class="MsoNormal"Kenapa dia sangat terkejut? Bukankah seharusnya dia terbiasa mengingat dia mengenal seorang Conan Edogawa? Aku hanya mengangkat bahu dengan cuek./p
p class="MsoNormal"Kaito mengamatiku dengan heran./p
p class="MsoNormal"Aku membalas tatapan Kaito. "Kau harus pergi. Kalau bisa jangan sampai terlihat siapapun disini. Mungkin lebih baik jika kau memakai sesuatu yang menutupi seluruh wajahmu seperti helm saat pergi dari sini. Penyamaranmu tak akan berguna jika ada mereka disekitar sini."/p
p class="MsoNormal""Mereka? Maksudmu para cenayang?"/p
p class="MsoNormal"Aku menatap serius pemuda itu. "Beberapa dari mereka sangat berbahaya."/p
p class="MsoNormal""Aku bisa melindungi diri sendiri."/p
p class="MsoNormal""Tidak terhadap mereka..."/p
p class="MsoNormal"Aku semakin tertekan menyadari kekuatan macam apa sebenarnya seorang pemilik mata shinigami bisa miliki hanya dengan membunuh dan mencuri esensi emshinigami/em milik yang lain. Bisakah mereka mengontrol orang lain untuk membunuh mereka seperti fungsi buku Death Note? Aku teringat kejadian dahulu saat Shuichi pertama kali menyelamatkanku, bahwa para penculik yang tertangkap polisi malah membunuh diri mereka sendiri. Entah mereka melakukannya demi merahasiakan keberadaan para pemburu ataukah benar-benar ada yang mengontrol mereka? Waktu itu aku melihat Souji ditempat. Ada kemungkinan pemuda bertopeng itu memiliki kekuatan shinigami yang lebih dari sekedar melihat data kematian seseorang./p
p class="MsoNormal"Bagaimanapun aku khawatir seseorang melihat keberadaan Kaito didekatku dan akan menargetkan dirinya. Bisa saja Rido tidak seorang diri dan bahwa dia memiliki teman yang sama dengannya. Bisa juga orang-orang dari Letifer yang sama denganku bukan hanya tiga orang yang muncul hari ini. Ah, aku keterlaluan paranoidnya./p
p class="MsoNormal""Kau benar-benar ingin kembali?" tanya Kaito./p
p class="MsoNormal"Aku mengangguk dengan berat hati. "Aku belum mendapatkan informasi yang kuperlukan dari mereka." jawabku serius. "Kak Kaito sebaiknya segera pergi. Seperti kataku tadi jangan sampai terlihat. Menggunakan helm memang lebih aman tetapi jika kau terlihat, mereka bisa jadi salah sangka kepadamu juga jadi berhati-hatilah."/p
p class="MsoNormal""Memakai helm?" Kaito terdengar bingung./p
p class="MsoNormal""Jika kau memakai pelindung semacam helm, aku tak akan tahu siapa dirimu." jelasku. "Yang lain juga tak akan tahu dan jadi tak bisa menargetkanmu." Aku tersenyum kepadanya. "Terima kasih telah menyelamatkanku lagi."/p
p class="MsoNormal"Kaito menghalangiku. "Apakah kau yakin sudah aman? Bagaimana jika orang-orang jahat itu masih disana?"/p
p class="MsoNormal"Aku tahu kemungkinan itu ada tapi aku hanya bisa berharap bahwa Rido tidak sebodoh itu dan segera pergi dari sana tanpa menyerang yang lain. "Aku rasa aku akan baik-baik saja. Aku harus menemui temanku secepatnya."/p
p class="MsoNormal"Melihat sikap keras kepala-ku, Kaito akhirnya membiarkanku pergi./p
p class="MsoNormal"Aku pun meninggalkan pemuda itu dan segera menelepon Caleb berharap bahwa pemuda itu baik-baik saja. Pemuda itu menyuruhku menemuiku di ruangan lain dalam hotel./p
p class="MsoNormal"Caleb terlihat lega saat melihatku tak apa-apa. Dia sempat panik saat melihatku menghilang. Dia berlutut dihadapanku, memeriksa keadaanku lalu memelukku saking leganya. Aku pun memeluknya kembali merasakan kelegaan yang sama./p
p class="MsoNormal"Shirou dan Fuuma sedang berbicara berdua. Keduanya terlihat berduka atas kematian Julia./p
p class="MsoNormal"Caleb menuntunku mendekati keduanya. "Kalian mengatakan akan menjamin keselamatan kami dalam pertemuan ini tetapi nyawa kami malah hampir melayang." tukasnya dengan geram./p
p class="MsoNormal"Fuuma pun tak kalah geram. "Hei, kawan kami baru saja dibunuh dengan kejam!"/p
p class="MsoNormal"Shirou menyela Fuuma dan meminta maaf kepada kami berdua. "Situasi dengan Rido terjadi di luar dugaanku." ujarnya lirih./p
p class="MsoNormal""Sepertinya ada mata-mata dalam organisasi kalian." ujar Caleb. "Siapapun itu memberitahu Rido lokasi pertemuan ini."/p
p class="MsoNormal""Sepertinya hal itu benar. Seharusnya tidak ada yang tahu karena semua persiapannya dilakukan diam-diam dan kadang dilakukan perubahan mendadak." Shirou mengakuinya./p
p class="MsoNormal""Kau berhutang informasi kepadanya..." ujar Caleb sembari menunjuk kepadaku./p
p class="MsoNormal"Shirou menatap Caleb dengan seksama lalu menatapku dengan prihatin. Dia menugaskan Fuuma untuk melakukan tugas organisasi lain seakan tak ingin orang itu terlibat dalam percakapan selanjutnya. Dia kembali menatapku. "Maafkan saya, seperti yang saya katakan sebelumnya, Nona Eva lebih superior dibanding kami karena kau bertemu dengan dewa kematian dan selamat."/p
p class="MsoNormal""Pak Shirou, saya bingung. Superior apanya? Saya memang selamat untuk saat ini tetapi hal ini bersifat sementara saja dan saya tak mempercayai shinigami itu yang menganggap rendah jiwa-jiwa seperti kita." tukasku./p
p class="MsoNormal""Jadi, Shirou, apakah kau benar-benar tahu sesuatu yang bisa bermanfaat untuk Eva?" tanya Caleb./p
p class="MsoNormal"Shirou terdiam sesaat. "Tidak ada anggota Letifer saat ini yang seperti dirimu, Eva atau pernah dalam situasi yang kurang lebih mirip denganmu...namun..." Dia menghela nafas. "Mungkin ada seseorang yang bisa membantumu, hanya saja orang itu sudah agak lama menghilang entah kemana."/p
p class="MsoNormal""Siapa orang itu?" tanya Caleb./p
p class="MsoNormal""Namanya Fuyuka Magami. Dia sama seperti kita. Tetapi yang harus kau temui adalah anaknya." ujar Shirou. "Jika anak wanita itu, mungkin dia bisa membantumu."/p
p class="MsoNormal"Aku dan Caleb saling berpandangan dengan kaget dan bingung. Seorang jiwa ilegal hidup cukup lama sampai berkeluarga dan melahirkan anak? Aku menelan ludah dengan susah payah. Bagaimana nasib anak itu? Bagaimana status anak itu dimata para emshinigami/em?/p
p class="MsoNormal""Mengejutkan, bukan? Memiliki seorang anak bagi orang seperti kita...seharusnya tidak boleh. Jiwa yang setengahnya lahir dari seorang jiwa ilegal...konsekuensinya..." Shirou menghela nafas. "Saya sudah memperingati wanita itu. Tetapi dia bersikeras ingin melahirkannya dan melakukan segala sesuatu untuk mempertahankan dan melindungi anak terlarang itu."/p
p class="MsoNormal""Anak wanita itu...benar-benar dilahirkan? Benar-benar ada? Apakah kau melihatnya sendiri?" tanyaku dengan terkesima./p
p class="MsoNormal"Shirou menggelengkan kepalanya. "Saya tidak melihatnya sendiri tetapi Fuyuka pernah mengontakku bahwa dia dan anaknya baik-baik saja. Dan bahwa anak itu spesial."/p
p class="MsoNormal"Aku dan Caleb saling berpandangan lagi sebelum memandangi Shirou. "Spesial bagaimana?"/p
p class="MsoNormal""Anak itu sama seperti kita memiliki mata emshinigami/em dan dia lebih spesial karena ayahnya..." ujar Shirou dengan mata menerawang jauh./p
p class="MsoNormal""Jika perkataan Fuyuka bisa dipercayai, katanya ayah anaknya adalah seorang emshinigami/em." tutur Shirou pelan./p
p class="MsoNormal"Aku dan Caleb membelalakan mata dengan sangat terkejut. Hubungan percintaan antara manusia jiwa ilegal dengan dewa kematian? Jadi seperti plotline novel romansa fantasi saja./p
p class="MsoNormal""Jika perkataan Fuyuka bisa dipercayai, tadi katamu...jadi ada kemungkinan dia berbohong?" tanya Caleb./p
p class="MsoNormal"Aku hanya bisa menghela nafas karena tidak memperhatikan baik perkataan Shirou, terlanjur terjerumus akan keberadaan terlarang romansa antara manusia dengan emshinigami/em./p
p class="MsoNormal"Shirou menghela nafas. "Apa kau tahu berapa banyak pemilik mata shinigami di dunia ini?" tanyanya. "Tahukah kau jumlah orang seperti kita berkurang seiring berjalannya waktu jika bukan karena tertangkap emshinigami/em, kemungkinan dibunuh pemburu atau dibunuh oleh sesama jiwa ilegal? Nasib pemilik mata emshinigami/em, jiwa ilegal seperti kita adalah untuk jatuh dalam kesengsaraan dan ketidak-warasan semakin lama kita bertahan hidup bahkan dengan mencuri esensi emshinigami/em milik yang lain tak akan mengubah nasib kita...suatu hari nanti, cepat atau lambat, kau akan menyadari kewarasanmu perlahan terkuras dan tahu-tahu kau akan menjadi orang-orang yang mendadak melukai diri sendiri atau orang sekitarmu tanpa alasan tertentu."/p
p class="MsoNormal"Aku mencermati perkataan Shirou dengan agak tertegun. Wajahku memucat saat aku berusaha memahami perkataan dia yang seakan mengatakan bahwa suatu hari nanti kami semua, para pemilik mata shinigami, akan kehilangan kemampuan rasional dan menjadi gila? Aku menoleh menatap Caleb dan bertanya, "Apakah kau tahu soal ini?"/p
p class="MsoNormal"Wajah Caleb terlihat sendu membuatku menyadari bahwa dia mengetahui hal itu juga. Caleb menatapku dengan raut wajah seakan kelelahan. "Aku pastinya akan memberitahu semua itu padamu...satu per satu, tak ingin membanjirimu dengan kenyataan pahit semacam itu."/p
p class="MsoNormal""Aku bukan anak kecil, kau tahu itu, bukan? Kau tak perlu terlalu merasa harus melindungiku. Aku bisa menerimanya." tegurku./p
p class="MsoNormal""Benarkah? Aku yang tahu saja sulit menerimanya..." ujar Caleb sambil tertawa getir./p
p class="MsoNormal"Aku tercekat saat melihat ekspresi pahit pada wajah pemuda itu./p
p class="MsoNormal""Kita tak tahu kapan, tapi suatu hari nanti, seakan ada yang menekan tombol OFF pada kemanusiaan kita, kita akan kehilangan kewarasan dan menjadi pemangsa bagi yang lain." tutur Caleb dengan mata menerawang jauh seakan kembali mengenang kejadian di masa lalunya./p
p class="MsoNormal""Hal itu memang tidak bisa dihindari, bukan?" sambung Shirou juga tertawa getir./p
p class="MsoNormal"Aku menatap keduanya. "Jika demikian, kenapa kita masih berusaha untuk bertahan hidup?" tanyaku lirih./p
p class="MsoNormal"Caleb dan Shirou bertukar pandang dan memandangiku. Caleb mengacak-acak rambutku seakan ingin mengusir keheningan yang melankolis diantara kami semua./p
p class="MsoNormal"Caleb menoleh kepada Shirou. "Maksudmu tadi apakah wanita bernama Fuyuka itu sudah masuk ke tahap itu?" tanyanya./p
p class="MsoNormal"Shirou kelihatan agak ragu tetapi dia mengangguk perlahan. "Kemungkinan demikian. Saya bahkan tak tahu bahwa dia pernah bertemu shinigami. Dia tak pernah mengatakannya."/p
p class="MsoNormal""Apakah dia bagian dari Letifer?" tanyaku./p
p class="MsoNormal"Pria tua itu menggelengkan kepala. "Saya berusaha merekruitnya juga tetapi dia lebih memilih tak ingin campur dengan intrik sesama pemilik mata emshinigami/em walau saya sudah memberitahunya jika dia tak bergabung dengan kami pun, fakta bahwa dia adalah jiwa ilegal dengan esensi emshinigami/em akan membuatnya tak bisa hidup dalam damai."/p
p class="MsoNormal""Tidakkah anak itu menjadi target bagi para shinigami?" tanya Caleb./p
p class="MsoNormal""Itu sudah jelas...jika mereka menyadari keberadaannya...namun sepertinya dia memiliki kekuatan spesial yang membuatnya bisa tak terdeteksi." ujar Shirou. Dia menatapku lekat-lekat. "Jadi mungkin dia bisa membantumu, Nona Eva, jika kau bisa menemukannya."/p
p class="MsoNormal"Aku mengerang. "Bagaimana aku bisa menemukan anak itu? Aku bahkan tak tahu siapa dia."/p
p class="MsoNormal""Hanya ini yang kau ketahui?" tanya Caleb juga dengan tidak puas./p
p class="MsoNormal"Shirou mengangkat bahu. "Saya bisa menggunakan koneksi Letifer untuk menyusuri jejak Fuyuka dan anaknya...tetapi jujur saja saya tidak yakin akan dapat menemukannya...namun saya akan terus berusaha menginvestigasi keberadaan mereka...anggap saja sebagai balas budiku kepada kalian..." Dia menatap lekat-lekat diriku dan Caleb. "...dan teman sniper kalian yang telah menyelamatkan nyawaku dan Fuuma."/p
p class="MsoNormal"Aku terkesiap dengan tampang agak bersalah karena ketahuan membawa pihak lain ke dalam pertemuan ini. Caleb malah terlihat tidak merasa berdosa./p
p class="MsoNormal"777/p
p class="MsoNormal"Subaru berlutut dihadapanku dan mengamatiku dengan cermat, membuatku merasa segan. Setelah puas memastikan bahwa aku baik-baik saja, dia terlihat agak lega. "Syukurlah kau baik-baik saja. Saya sempat khawatir saat alat komunikasi diantara kita bertiga rusak." Dia menoleh kepada Caleb yang hanya terdiam mengamati kami berdua. "Jadi apakah kalian menemukan informasi yang berguna?"/p
p class="MsoNormal"Caleb mendesah. "Mungkin. Untuk saat ini informasi itu hanya akan berguna, jika kita bisa menemukan orang yang telah lama hilang."/p
p class="MsoNormal"Subaru menoleh menatapku. Aku pun menceritakan keberadaan seseorang yang memiliki kemampuan untuk menghindari emshinigami/em. "Jadi jika kita menemukan orang ini, mungkin dia bisa membantu Eva?"/p
p class="MsoNormal"Caleb terlihat sendu seakan dia meragukan hal itu namun dia tak berkata-kata. Dia menggelengkan kepalanya seakan berusaha mengusir kesenduan dalam dirinya. Dia menatapku lekat-lekat. "Semua itu tak akan berarti jika kau tak bisa menyambung nyawamu, Eva."/p
p class="MsoNormal"Aku menelan ludah dengan susah payah. "Aku tahu."/p
p class="MsoNormal"Caleb menatap Subaru. "Kau mengatakan ingin membantu Eva, apakah kau masih akan bersikukuh untuk hal itu jika untuk membantu anak ini, seseorang harus mati?"/p
p class="MsoNormal"Aku tercekat menyadari bahwa Caleb akan mengangkat topik soal Tatsuo lagi kepada Subaru. Namun pria itu mengejutkanku dengan perkataannya bahwa dia bersedia membantuku untuk memastikan aku tetap hidup. Aku terperangah menatap Subaru dengan agak terkesima karena kebulatan tekadnya untuk menolong seorang Eva./p