Warning: chapter ini menyebutkan child abuse.

Aku memandangi pulpen lentur bentuk gelang dan buku Death Note di meja tulis dikamarku. Aku hendak mempertimbangkan merobek secarik kertas pada halaman buku Death Note untuk menyelipkannya pada lubang pada pulpen gelang tersebut. Aku berpikir untuk mempersiapkannya sebagai precaution jikalau aku bertemu bahaya lagi. Namun seperti biasa moralitasku meragukan kemampuanku untuk menuliskan nama pada Death Note.

Aku menghela nafas dengan berat hati dan menggigit bibirku saat memikirkan soal Tatsuo. Apakah aku berani melakukannya, menuliskan namanya pada Death Note? Aku masih tidak tahu apakah akan berfungsi untuk menuliskan nama pada raga palsu jika jiwa aslinya memiliki nama lain. Jujur, aku menakuti diriku sendiri karena semakin hari aku semakin mempertimbangkan untuk menulis nama Tatsuo pada buku tersebut.

Tetapi katakanlah jika aku benar melakukannya dan jika orang itu mati mendadak lalu esensinya berhasil kudapatkan, bagaimana aku menjelaskan pada semuanya soal itu? Berarti aku harus memberitahukan keberadaan Death Note pada Caleb, Lizzie dan Shuichi?

Entah kenapa aku enggan untuk melakukannya. Jujur aku juga takut akan pendapat mereka jika aku melakukannya via Death Note. Apakah mereka akan menghakimi aku karenanya? Apakah mereka akan berpikir aku pengecut menggunakan teknik Death Note? Lalu aku harus bagaimana? Apakah aku harus melakukannya seperti Rido dengan sebilah pisau?

Aku menggigil memikirkannya saat teringat kematian tragis wanita bernama Julia. Kejadian itu membuatku mimpi buruk bahwa aku masih di tempat itu dan Rido secara bergilir menyayat leher kami semua. Saat tiba giliranku, aku sungguh tak berdaya. Sungguh melegakan bahwa hal itu hanya mimpi buruk belaka. Akan tetapi, kejadian itu bisa saja benar terjadi padaku entah karena para pemilik mata shinigami yang semacam Rido dan Souji atau karena para pemburu kedepannya.

Aku mengerang pelan. Gosh, I'm so hopeless. Apakah aku benar bisa bertahan hidup nantinya walau sudah menyambung nyawa? Dan kenapa mau hidup harus dipersulit seperti ini? Jika ingin mati pun, aku takut akan berakhir ditempat yang menakutkan yang ditunjukkan oleh Yohan dahulu. Ah, aku hanya ingin menghilang saja dari muka bumi ini dan kalau bisa, aku ingin agar tak perlu lagi merasakan atau memikirkan apapun lagi. I just want to be at peace. Tapi, apakah diriku sudah pantas untuk menerima kedamaian lahir batin?

Apakah ada makna dalam kehidupan dan kelahiran tiap manusia? Aku tidak meminta untuk dilahirkan untuk hidup sebagai gumpalan emosi negatif yang selalu merasa tidak kukuh. Orang-orang selalu mengatakan kepadaku untuk keluar dari zona kenyamananku. Lebih mudah mengatakannya daripada menerapkannya. Aku sungguh berharap aku memiliki cheat code pedoman hidup khusus diriku sendiri dahulu maupun sekarang namun mana mungkin ada, bukan? Setiap kali aku digerogoti oleh rasa ketakutan semacam ini, kenapa aku jadi berharap ingin menghilang saja? Aku tak ingin lagi merasakan ketakutan, ketegangan yang tiada habisnya. Aku sudah berusaha untuk berpikir positif dan berusaha bersyukur atas apa yang kumiliki saat ini namun kepositifan itu tak bisa mengalahkan kenegatifan dalam diriku. Ah, aku sungguh iri pada orang lain yang berhasil memerangi kegelapan dalam dirinya atau setidaknya memukul mundur untuk beberapa lama kegelapan tersebut.

Bagaimanapun aku harap aku bisa melakukan semua ini dengan baik. Ha-ha, aku bahkan tidak tahu ''semua ini'' itu mencakup apa? Apakah aku akan bisa menjadi versi terbaik dalam diriku kelak? Bagaimana jika aku hanya begini-begini saja terus? Aku menggeram kesal dan menjambak rambutku. Krisis eksistensi ini sungguh menyebalkan meskipun itu semacam peringatan kepada diri sendiri.

Aku menatap lagi kedua benda dihadapanku tadi. Dengan berat hati sambil berusaha mengusir jauh kegelapan dalam diriku, aku menyelipkan kertas tersebut ke dalam lubang penyambung gelang pulpen tersebut dan menutup kaitannya. Aku mendesah sembari memandangi gelang tersebut. Perhatianku teralihkan oleh Mama yang memanggilku maka akupun segera menyimpan gelang dan buku Death Note ke dalam laci dan menguncinya. Aku keluar kamar dan bergegas menemui Mama.

777

Kasus pembunuhan yang terjadi saat pertemuan dengan Letifer itu anehnya tidak ada beritanya dimanapun. Caleb mengatakan koneksi Letifer itu pastinya digunakan untuk menutupi keberadaan kami semua disana. Dia juga mengatakan Rido berhasil kabur, meninggalkan bawahannya yang kini sedang diinterogasi oleh orang-orang dari Letifer. Aku pun jadi khawatir bagaimana jika nantinya Rido kembali, akankah dia mengincar nyawaku dan Caleb? Pemuda itu mengatakan kepadaku bahwa aku tak perlu mengkhawatirkan soal Rido, tak mungkin orang itu juga bodoh langsung mengejar kami lagi secara beruntun namun aku sulit mempercayainya. Dahulu juga dia mengatakan aku tak perlu mengkhawatirkan para pemburu akan mengincarku lagi sementara waktu, namun dia agak salah, bukan? Memang sulit sepertinya memprediksi tindakan orang-orang, bukan? Kecuali kau jenius seperti Conan yang mampu memprediksi tindakan Gin saat mempersiapkan pemalsuan kematian seorang Shuichi Akai atau bahkan karakter jenius lainnya dalam DC.

"Eva, ada apa denganmu?" tanya Miyuki dengan prihatin setelah melihatku yang dahinya berkerut terus seperti sedang berpikir keras.

Aku tersenyum tipis kepada anak itu. "Aku tak apa-apa."

Miyuki memandangiku dengan raut wajah seakan tidak percaya namun sepertinya dia menyadari bahwa aku tak berniat untuk membicarakannya. "Aku ingin memberimu sesuatu." ujarnya tiba-tiba dengan senyum kecil. Dia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak hitam kecil dan menjulurkannya kepadaku.

Aku menatap kotak tersebut lalu ke arah anak itu. "Apa itu?"

"Ambil dan bukalah." pintanya.

Aku mengambil kotak tersebut dan mengamati sebuah lambang yang tidak aku kenali. Aku terkesiap saat melihat isinya yang berupa gelang emas yang terlihat mahal. Aku menatap Miyuki dengan bingung.

Miyuki tersenyum. "Gelang itu untukmu, Eva."

Aku mengerutkan kening dengan bingung. Gelang emas ini untukku? Tidak salah? "Darimana kau mendapatkan ini?"

"Salah satu Pamanku memberikannya kepadaku." jawab Miyuki. Dia memperlihatkan sebuah kalung emas yang dipakainya dari balik bajunya dengan bangga.

"Kita tidak boleh menggunakan perhiasan mahal, bukan? Nanti kena jambret bahaya." tukasku. Aku mengembalikan kotak berisi gelang itu padanya. "Aku tak bisa menerima ini. Pamanmu memberikannya untukmu, bukan? Mana boleh kau memberikan benda semahal ini secara random kepada orang lain."

"Aku hanya ingin sesekali memakainya." ujar Miyuki sambil mengelus pelan bandul pada kalungnya. "Aku akan melepasnya dan menyimpannya lagi nanti. Memang sebenarnya Ayah-ku bilang aku harus menyimpannya baik-baik dan tidak boleh memperlihatkannya kepada orang lain, bahkan kepada Ibu. Tapi aku dapat banyak hadiah macam-macam dari Ayah dan teman-temannya. Jadi memberikan gelang itu kepadamu, tak apa-apa juga, bukan? Kau adalah teman baikku."

Aku tertegun mendengar perkataan anak itu yang mendadak membuat perasaanku tidak enak. Hadiah dari salah satu Paman? Tidak boleh memperlihatkan kepada Ibu-nya? Mendapat banyak hadiah macam-macam dari Ayah masih mungkin tapi dari teman-temannya? Dan barang mahal pula? Mungkin saja memang teman Ayah Miyuki orang kaya yang loyal tapi kenapa harus merahasiakan dari Ibunya? Tiba-tiba saja aku mendapatkan firasat buruk. Apa mungkin ya...? Ah, mungkin aku terlalu overthinking dan kebanyakan menonton film yang memperlihatkan keburukan manusia. Aku pun memutuskan menanyakan kepada Miyuki alasan mereka memberikan hadiah kepadanya.

"Mereka bilang aku anak baik."

Ah, tidak, jangan berpikir buruk dahulu. Miyuki memang anak baik.

"Aku tak pernah bertemu langsung teman-teman Ayah. Tapi, mereka menyukai album pemodelan miliku."

Album pemodelan? Pikiranku langsung mengarah ke arah macam-macam.

"Aku seharusnya tidak boleh mengatakan kepada siapapun soal album pemodelan privat milik Ayah. Jadi, ini rahasia, ya. Eva, kau tak boleh memberitahukan kepada siapapun." tukas Miyuki serius.

Album pemodelan privat dan rahasia? Aku tak bisa berhenti berpikir buruk jadinya.

"Apakah boleh aku melihat album pemodelan milikmu itu?" tanyaku.

"Album-nya ada dikantor Ayah dirumah dan selalu dikunci." jawab Miyuki. "Tapi mungkin aku bisa memperlihatkan kepadamu kapan-kapan."

Ah, yang benar saja? Di dunia nyata mana pernah aku dihadapi oleh situasi mengerikan seperti ini secara langsung? "Hei, kapan-kapan apakah boleh aku main dan menginap dirumahmu?" tanyaku.

Miyuki terlihat senang akan permintaanku dan sesuai dugaanku, dia menyarankan agar aku menginap ke rumahnya secepatnya karena dia ingin bermain-main denganku.

Aku sebenarnya tidak tahu apa niatku sebenarnya menginap ke rumah Miyuki. Apakah aku ingin membujuk Miyuki untuk diam-diam memperlihatkan album pemodelan-nya itu? Aku harus memastikan sendiri bahwa album pemodelan itu tidak seperti yang aku pikirkan. Maka aku pun mempercepat rencana menginap ke rumah anak itu. Kepada orangtuaku dan orangtua Miyuki, kami sepakat mengatakan bahwa kami memiliki tugas sekolah bersama agar mendapat izin menginap di hari sekolah.

Aku hanya bisa berdoa bahwa pemikiranku salah, bahwa album pemodelan itu benar-benar harmless. Setelah mendapat izin dari kedua orangtua kami, sepulang sekolah keesokannya, aku langsung pulang ke rumah Miyuki. Ayah Miyuki tidak ada dirumah, hanya ada Ibu-nya. Miyuki mengetahui letak kunci cadangan kantor Ayah-nya dimana album dan hadiah-hadiah yang mewah yang diterimanya disimpan oleh sang Ayah. Beruntung untuk kami karena dia mengetahui letak kunci tersebut karena aku tak memiliki kemampuan membuka kunci pintu seperti maling.

Kami mengendap-endap masuk ke dalam kantor tersebut diam-diam bagai mata-mata saja agar tidak ketahuan. Miyuki dengan luwes mengambil sebuah buku album di sebuah peti terkunci yang bahkan dia tahu letak kuncinya juga. Dia memanggilku mendekat dan memperlihatkan album tersebut. Album itu berisi foto-foto Miyuki yang sedang berpose macam-macam dan terlihat tak bermasalah namun perlahan-lahan aku menyadari apa yang kutakutkan ternyata benar. Memang dalam foto Miyuki selalu berbusana namun perlahan-lahan gaya posenya terlihat agak salah. Dan busana yang dipakai anak itu dalam foto pun agak minim.

Aku menoleh mengamati Miyuki yang sepertinya tidak menyadari ada yang salah dengan situasinya, malah dia dengan bangga memperlihatkan album-albumnya yang membuatku ngeri sendiri karena melihat dari volumes-nya, album pemodelan ini sudah berjalan bertahun-tahun. Aku berpikir untuk mencuri beberapa foto tersebut sebagai bukti pelecehan anak namun sebelum aku bisa melakukannya, Miyuki sudah meletakkan kembali semua album ke dalam peti dan beralih untuk memperlihatkan berbagai macam hadiah yang diterimanya dari bermodel. Hadiah yang mahal seperti perhiasan atau baju disimpan didalam lemari tetapi jika hadiahnya berupa boneka, biasanya ayahnya membiarkannya mengambilnya dan boleh diperlihatkan.

Aku tak tahu harus bagaimana menangani situasi ini. Malam itu, aku bertemu ayah Miyuki yang ramah namun menyadari apa yang telah kuketahui tentangnya dan Miyuki, aku merasa jijik akan kepalsuan orang tersebut. Aku tahu harus mencuri foto-foto tadi sebagai bukti jika aku ingin ayah Miyuki ditangkap. Jika aku mengatakan yang sebenarnya tanpa bukti, akankah orang lain percaya? Ah, tapi bagaimana aku bisa mengakses foto-foto itu lagi? Aku bukan mata-mata ataupun maling. Tapi, aku tahu seorang pencuri, bukan? Aku pun mengambil smartphone-ku dan mengetikkan pesan kepada Kaito Kuroba agar dia bertemu denganku besok siang.

Aku memandang Miyuki yang sudah tertidur disampingku. Aku sungguh merasa kasihan pada anak ini. Aku mendesah sebelum menutup mata untuk tidur. Namun tengah malam aku terbangun saat ada yang memasuki kamar dan orang itu membangunkan Miyuki. Aku pura-pura tidur terus.

"Ayah?" Aku mendengar Miyuki bergumam pelan masih mengantuk. Mereka berbisik-bisik sesaat. Lalu, aku mendengar Miyuki memanggil namaku seakan ingin memastikan aku tidur. Lalu keduanya beranjak pergi dari kamar.

Aku perlahan-lahan membuka mata dan bangkit duduk di ranjang memandangi pintu. Beranikah aku pergi mengikuti mereka? Aku pun mengumpulkan keberanianku untuk keluar kamar namun aku menunggu sekitar setengah jam sebelum keluar. Aku perlahan-lahan menghampiri ruangan kantor ayah Miyuki yang herannya tidak tertutup rapat seakan mereka tidak takut ketahuan oleh Ibu Miyuki ataupun diriku. Miyuki sedang dalam pangkuan ayahnya dan tertawa pelan. Ayahnya mencium leher anak itu sambil membelainya membuatku merinding. Ayahnya berbisik pelan pada telinga anak itu.

Aku seharusnya membawa smartphone-ku untuk merekam ini namun bodohnya tidak terpikir olehku untuk membawanya. Aku tak bisa melakukan apa-apa saat ini namun tekadku bulat untuk memohon bantuan Kaito mendapatkan bukti yang akan menjerat ayah brengsek satu ini. Aku pun melangkah kembali ke kamar dengan jantung berdebur keras namun sialnya aku tak sengaja menimbulkan bunyi pada salah satu perabot. Dengan panik aku buru-buru lari menuju kamar dan pura-pura tidur. Aku mendengar derap langkah kaki namun aku bertekad untuk terus menutup mata apapun yang terjadi. Moga-moga saja akting pura-pura tidurku tidak ketahuan. Aku tak berani membuka mataku sama sekali.

Keesokan paginya, jantungku berdebur keras saat aku menyadari Ayah Miyuki tengah menatapku namun tak berkata-kata. Aku terus berusaha bersikap normal dan pura-pura masih lemas mengantuk.

777

Siang itu, aku agak terkejut karena Kaito muncul tanpa penyamaran kali ini. Bahkan dia memakai seragam sekolahnya. Mungkin dia berasumsi aku akan mengira bahwa dia kini tengah menyamar juga. "Apakah kau sedang menyamar menjadi Shinichi Kudo?" tanyaku meledek.

Aku pun menceritakan dilema yang kuhadapi saat ini. Wajah pemuda itu mendingin saat mendengar penuturanku dan dia setuju untuk membantuku. Aku pun menjelaskan yang kuketahui soal kantor ayah Miyuki. Aku merasa sedikit tidak enak hati karena merusak kepercayaan Miyuki kepadaku namun ini demi kebaikan dia juga, bukan?

"Ada apa?" tanya Kaito kepadaku ketika dia menyadari dahi-ku yang makin mengkerut.

Aku menoleh menatap Kaito dengan raut wajah seakan merasa terganggu. "Pertama kali aku bersahabat dengan Miyuki, malam itu kami diculik orang jahat yang hendak menjual kami kepada pedopil." tuturku.

Kaito terlihat terkejut mendengarnya. Dia menatapku sambil mendesah berat. "Kau ini...magnet pembawa masalah yah?"

Aku tak menghiraukan ucapannya tersebut. "Target mereka sebenarnya hanya Miyuki. Aku kebetulan terlibat saja." Aku menatap Kaito dalam-dalam. "Menurut Miyuki, ayahnya mengupload foto-fotonya untuk dibagi kepada teman-temannya dan hal ini sudah terjadi bertahun-tahun."

"Kau berpikir bahwa salah satu penggemar anak itu yang berusaha menculiknya." ujar Kaito. "Anak itu memang dalam bahaya jika demikian. Suatu hari nanti, mungkin saja ada lagi yang berusaha menculiknya."

"Kenapa ayahnya melakukan ini kepadanya? Dia menempatkan anaknya sendiri dalam posisi buruk!" tukasku dengan geram.

Kaito memandangiku. "Terkadang...aku berpikir apakah kau ini benar-benar anak kecil?" tuturnya pelan lebih kepada dirinya sendiri daripada kepadaku.

Aku memilih untuk tidak menghiraukan perkataannya dan fokus pada Miyuki. "Kita harus menjauhkan Miyuki dari ayahnya. Kak Kaito, kau benar-benar akan membantu ya?" pintaku. "Aku takut Ayah Miyuki menyadari semalam bahwa aku melihat mereka. Bagaimana jika dia jadi melenyapkan buktinya nanti?"

Kaito berusaha menenangkanku yang agak panik. Lalu kami pun mulai membicarakan agar rumah Miyuki kosong penghuni nantinya saat Kaito beraksi. Aku yang masih menginap dirumah Miyuki akan meminta tolong pada Ibu Miyuki agar mengantarku dan Miyuki pergi ke suatu tempat supaya rumah tersebut kosong jadi Kaito bisa lebih leluasa melakukan aksinya.

Saat aku, Miyuki dan Ibunya pulang balik ke rumahnya sehabis berbelanja, kami dikejutkan oleh kejadian tak terduga. Aku dan Miyuki sedang membantu Ibu Miyuki merapikan barang-barang belanjaan, ketika suara heboh siren mobil polisi terdengar keras dan berhenti tepat depan rumahnya. Aku kaget melihat ada beberapa mobil polisi dan berpikir apakah Kaito langsung menyerahkan buktinya kepada polisi atau apa.

Aku melihat Takagi dan Miwa turun dari salah satu mobil dan menghampiriku. Wajah mereka kelihatan tegang membuat jantungku berdebur keras. Ada apa ini?

"Eva, kau harus ikut kami sekarang ke kantor polisi." ujar Takagi pelan.

Aku membelalakan mata dengan terkejut. "Ada apa, Pak Takagi? Apakah terjadi sesuatu pada Papa dan Mama?" tanyaku panik.

"Ah, orangtuamu baik-baik saja, mereka juga sedang dalam perjalanan ke kantor polisi." jawab Takagi menenangkanku.

"Jadi, ada apa? Kenapa tiba-tiba aku jadi disuruh ke kantor polisi?" tanyaku bingung.

Takagi dan Miwa saling berpandangan. Miwa mendekatiku dan berkata, "Ini untuk perlindungan dirimu, Eva."

"Perlindunganku? Kenapa?" desakku. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. "Orang itu...dia akan datang untukku?"

Takagi dan Miwa terlihat agak terkejut lalu wajah mereka mencerminkan rasa prihatin.

Aku menelan ludah dengan susah payah. "Dia berhasil kabur dari penjara, bukan? Dan kalian berpikir dia akan datang kepadaku?"

Miwa mengamatiku dengan cermat. "Jangan khawatir, Eva, kami akan melindungimu. Orang jahat itu tak akan bisa mengusikmu lagi."

Jadi...aku benar. Tatsuo Sugiyama kabur dari penjara. Terakhir, kudengar dia sedang dirawat di rumah sakit karena ada yang menyerangnya, selanjutnya aku tak tahu apa yang terjadi padanya. Kemungkinannya besar dia akan mengincarku apalagi dia sekarang sudah tahu bahwa dirinya akan sekarat jika tidak mendapatkan esensi shinigami.

Aku menoleh menatap gelang yang kupakai pada pergelangan tanganku, gelang yang kupersiapkan untuk keadaan semacam ini. Apakah sudah saatnya aku bertindak drastis dan menuliskan nama orang itu pada Death Note?

Aku pun berpamitan dengan Miyuki dan Ibunya. Miyuki terlihat khawatir untukku. Aku hanya bisa menampilkan senyum tipis dengan harapan itu cukup untuk menenangkannya.

Aku lalu memeriksa smartphone-ku saat aku masuk mobil polisi dan menjelaskan situasiku pada Kaito. Pemuda itu sudah mengonfirmasi bahwa dia berhasil mendapatkan bukti yang diperlukan untuk menjerat ayah Miyuki.

Mendengar situasiku, Kaito menyarankan agar dia juga bergerak untuk melaksanakan dan mengubah rencana kami semula karena adanya sedikit kekhawatiran bahwa ayah Miyuki akan jadi gugup akibat keberadaan polisi didekat rumahnya dan mungkin akan melenyapkan bukti. Aku pun menyerahkan tindakan selanjutnya kepadanya. Miyuki memang harus segera diselamatkan dari ayahnya yang bejat itu bukan?

Saat sampai di kantor polisi, mereka membawaku ke sebuah ruangan dimana aku disuruh menunggu. Aku berusaha mengorek keterangan kepada Takagi yang disuruh untuk menemaniku namun pria itu agak enggan untuk memberitahuku.

Saat Papa dan Mama datang, aku melihat mereka langsung berdiskusi dengan Inspektur Megure. Mereka terlihat ketakutan untuk diriku. Megure berusaha meyakinkan mereka bahwa diriku akan memiliki perlindungan total dari polisi.

Aku mengambil smartphone-ku dan mengirim pesan kepada Caleb dan Subaru soal situasiku saat ini.

Dari penyelidikan oleh Caleb, aku mengetahui bahwa Tatsuo kabur dari rumah sakit dan sebelum dia kabur, dia telah menyiksa dan membunuh suster dan petugas yang menjagai dirinya di shift malam.

Mau tak mau, aku tambah gugup dan ketakutan. Aku memutar-mutar gelang pada pergelangan tanganku. Telapak tanganku jadi keringatan saking tegangnya dan perut serasa sakit. Aku menggunakan kuku jari jemariku untuk menusuk kulit pergelangan tanganku seakan sedikit rasa sakit itu mampu mengusir sejumput kecil rasa takutku. Tentu saja tidak berhasil.

Aku harus menuliskan nama orang itu, bukan? Lagipula sudah jelas orang itu orang jahat yang sama sekali tidak memiliki penyesalan atas apa yang dilakukannya. Lihat saja dia masih sempat menyiksa dan membunuh orang saat hendak kabur. Jika dibiarkan saja, dia akan terus melakukannya. Aku takut mengetahui aku akan jadi korban selanjutnya.

Aku menerima email dari Caleb menyuruhku untuk tetap tenang karena dia dan Subaru akan mengatur suatu rencana untuk menangkap Tatsuo dan menyambung nyawaku. Aku terkesiap membacanya. Apakah keduanya benar akan bekerja sama untuk menolongku? Benarkah Shuichi Akai tidak keberatan untuk membiarkanku membunuh Tatsuo demi mendapatkan esensi shinigami-nya? Dan apakah aku bisa melakukannya, mencabut nyawa orang?

Megure menetapkan perlindungan polisi kepada keluargaku untuk jangka waktu kedepan selama Tatsuo menjadi buron. Mari berharap bahwa mereka sanggup menemukan dan menangkapnya. Tapi, apa itu yang kuinginkan? Aku harus menyelamatkan diriku sendiri, bukan? Aku harus mendapatkan esensi shinigami dari Tatsuo apapun caranya.

Entah bagaimana caranya Caleb dan Subaru akan membantuku? Aku tak bisa membayangkannya. Apakah mereka akan menekuk Tatsuo sementara aku harus...menusuk jantungnya? Memberinya racun? Memukulinya kepalanya sampai bocor? Menggantungnya dengan tali sementara aku menendang kursi penahan tubuhnya? Aku mendesah merasa sudah mau gila dengan semua khayalan buruk yang mendadak muncul dalam pikiranku soal Tatsuo.

Aku tak bisa membayangkan bahwa Subaru akan baik-baik saja membiarkanku melakukan hal semacam itu. Tetapi dia mengatakan dia bersedia melakukan apapun demi menyelamatkan nyawaku. Apakah benar demikian?

Aku menatap gelang yang kupakai yang menyembunyikan secarik kertas dari buku Death Note. Apakah akan berhasil jika aku menuliskan nama pada raga Tatsuo saat ini? Ataukah aku harus tahu nama jiwa aslinya? Only one way to find out..., right?