Aku memandangi benang yang melingkari pergelangan tanganku dengan dahi berkerut. Aku ini benar-benar payah, tidak bisa fokus dengan informasi yang ada disekitarku.
Benang ini bisa berubah warna bagaikan sinyal pada warna kematian namun berkali-kali aku gagal memperhatikannya sehingga aku gagal menyikapi peringatannya. Dua kali aku berakhir diculik bahkan saat yang terakhir tidak terlintas dipikiranku untuk memperhatikannya padahal aku tahu nyawaku tengah diincar orang jahat. Mungkin masih diterima mengingat saat itu aku sedang tegang sehabis menggunakan Death Note sehingga benang peringatan ditanganku itu sangat jauh dari pikiranku.
Aku meringis. Betapa bodohnya diriku. Aku harus lebih fokus dan berhati-hati kedepannya. Sayangnya aku sulit beradaptasi dengan lingkungan hidup baruku yang berbahaya. Tidak heran cepat atau lambat aku akan kehilangan nyawa. No self-preservation. No instinct for survival. Yang benar saja... Mengingat seberapa seringnya aku berakhir dirumah sakit saja seperti sudah meneriakkan 'red flag' yang banyak sekali dalam kehidupanku ini.
"Eva?" tegur Dokter Komui pelan, berusaha menarik perhatianku yang tenggelam dalam lamunan.
Papa dan Mama mendaftarkanku untuk terapi dengan Dokter. Mereka khawatir dengan kondisi mentalku akibat kejadian-kejadian buruk yang terus menimpaku. Aku menyetujuinya karena aku tak ingin jika mereka sampai memutuskan pindah ke luar negeri demi perlindunganku. Iya, saking stressnya, mereka sempat membicarakan untuk pindah untuk perubahan lingkungan hidup. Tentu saja aku menolak keras, kiri-kanan, atas-bawah. Aku sampai menghentakkan kaki untuk memperlihatkan pendirianku penolakan untuk pindah.
Aku tak mau jika sampai harus meninggalkan Jepang yang berarti tak lagi bisa bertemu dengan Subaru, Amuro dan Conan. Lagipula aku yakin kemanapun aku pergi, bahaya akan terus mengikuti. Bukankah itu nasib buruk yang menjemati semua pemilik mata shinigami?
"Orangtuamu mengatakan kau ada kesulitan untuk tidur. Mimpi buruk?" tanyanya.
Daripada mimpi buruk lebih tepat disebut mimpi yang mengganggu. Aku melihat Tatsuo. Orang itu berbicara kepadaku, menekanku yang telah membunuhnya, lalu aku melihat dirinya diseret oleh sosok-sosok hitam yang menariknya masuk ke dalam sebuah lubang hitam tak berdasar.
Orang itu bisa merasakan takut juga dan memohon bantuanku namun aku hanya memandangi orang itu dengan datar. Aku tak berniat membantunya sama sekali. Apakah aku merasakan kepuasan melihatnya sengsara?
Aku tak tahu apakah kejadian itu benar mimpi semata ataukah benar-benar terjadi, suatu kejadian yang terjadi di alam lain? Aku ingat berdiri dan mengamati saat sosok-sosok itu menekan Tatsuo dan menariknya secara paksa ke dalam lubang. Mungkin dia dibawa ke tempat itu? The bad place.
Rasanya seperti sedang melihat film horor saja saat ku melihat tangan-tangan hitam itu menarik dan meraba orang itu. Sesaat kemudian aku melihat sosok orang itu yang tak lagi memiliki raut wajah. Aku hanya diam saja memandanginya. Seharusnya aku merasakan ketakutan dan berusaha lari namun aku hanya diam ditempat dan memandangi orang itu meronta-ronta sebelum akhirnya berhenti melawan seakan menyerah. Apakah aku senang melihat orang yang menyiksaku sedemikian rupa akhirnya mendapatkan semacam balasan?
Aku tak merasakan apapun. Hanya kehampaan saja. Bahkan saat aku menonton Animal Planet saja saat predator memakan mangsanya membuatku meringis melihatnya namun dalam isu dengan Tatsuo, aku hanya merasakan ketidakpedulian. Ketika sosok-sosok hitam itu menoleh kepadaku dan merangkak mendekatiku pun, aku hanya diam saja sembari mengamati mereka mendekatiku. Namun sebelum mereka berhasil menyentuhku, aku tersentak bangun dengan agak kaget.
Setelah selesai jam sesi terapi, aku pun melangkah pulang bersama Mama yang tengah menungguku di ruang tunggu sambil mengerjakan sesuatu pada laptopnya. Ketika dia melihatku keluar, dia tersenyum kepadaku sembari menutup laptopnya dan membereskannya. Kami pun beranjak pulang. Menurutku terapi ini sepertinya agak sia-sia...atau mungkin aku yang tidak terlalu mengeluarkan usaha untuk menjalani terapi dengan baik. Entahlah.
777
Entah apakah karena esensi shinigami yang kuserap dari Tatsuo, luka-lukaku jadi lebih cepat sembuh. Dokter pun sampai keheranan dan menganggap diriku memiliki mukjizat perlindungan dibalik keburukan yang menimpaku.
Saat aku keluar rumah sakit, Takagi ada datang menemuiku dan dia memberikan jepitan rambut matahari milikku yang tadinya disita oleh polisi. Takagi tahu bahwa aku menerima jepitan itu dari Subaru karena dia waktu itu yang mengantarku les ke rumah Kudo. Aku memang ada mengatakan kepadanya bahwa aku sangat menyukai jepitan itu karena benda itu pemberian dari Subaru. Takagi tersenyum saat dia mendengarkanku jadi berbicara soal Subaru. Dia bahkan berani menggodaku dengan mengungkit soal Amuro. Rupanya dia menyadari bahwa aku sepertinya juga ada rasa suka kepada Amuro.
Ah, ada-ada saja diriku. Kenapa bisa sampai semua orang bisa tahu bahwa aku ada rasa suka dengan kedua orang itu? Apakah ketara begitu jelas perasaanku kepada kedua orang itu? Jika demikian pun, tak bakal ada yang menanggapi perasaan suka itu dengan serius mengingat diriku yang anak kecil semata. Paling dikira 'cinta monyet' karenanya.
Aku mengucapkan terima kasih kepada Takagi karena begitu perhatian membawakan jepitan itu kembali kepadaku. Aku langsung memakai jepitan itu pada rambutku.
Melihat wajah sendu Takagi, aku jadi tak enak hati, memperkirakan dia masih merasa bersalah terhadap diriku. Aku pun memasang senyum secemerlang mungkin dan membungkuk hormat kepadanya sembari berterima kasih karena telah menjagaku dahulu.
Takagi jadi salah tingkah melihatku. Dia masih saja terlihat sedih. Aku melarangnya meminta maaf kepadaku.
"Yang terjadi sudah berlalu. Dan lihatlah, aku kembali dengan selamat, bukan? Aku tak menyalahkan Pak Takagi, jadi Pak Takagi pun tak perlu merasa bersalah lagi padaku." ujarku.
Takagi tertegun memandangiku. Lalu dia tiba-tiba bertanya, "Eva, apakah kau benar baik-baik saja?"
Aku memandangi Takagi dan terdiam untuk beberapa saat lalu aku menampilkan senyum yang kuharap dapat meyakinkan dirinya bahwa aku baik-baik saja walau sekelebat pikiran buruk dalam diriku sempat menggerogoti diriku akibat pertanyaan dari dirinya.
777
Saat pulang dari rumah sakit, untuk menghiburku, Mama mengajakku makan di Poirot. Mama mengerlingkan mata kepadaku dengan penuh arti, melihat diriku tak menolak ajakannya untuk kesana, yang pasti demi bisa melihat Amuro dipikirnya.
Tak bisa kupungkiri, sampai detik ini pun, aku sangat senang jika bisa bertemu dengan Amuro. Aku juga senang bertemu dengan Shuichi Akai walau dengan wujudnya sebagai Subaru Okiya. Tetapi tentu aku lebih senang bertemu Amuro karena aku tak perlu mengerjakan PR saat bersamanya, kecuali jika dia melihat kepayahanku dalam soal itu.
Tapi sayangnya saat kami tiba di Poirot, ternyata hari itu Amuro tidak sedang bekerja. Azusa menyambutku dengan ekstra ramah, sepertinya dia tahu kejadian yang menimpaku dan dia memberikanku sepotong kue gratis untukku sebagai perayaan bahwa aku sudah sehat kembali. Mama berterima kasih kepadanya sembari tersenyum-senyum. Aku membagi kue itu dengan Mama karena aku sedang tidak nafsu makan kue saat itu. Mama menggodaku apakah aku tidak nafsu makan kuenya karena bukan Amuro yang menyajikannya. Aku melototi Mama karena dia mengatakan itu didepan Azusa yang menutup mulutnya menahan tawa geli.
Jujur, aku sedikit kecewa tidak melihat Amuro hari ini namun aku juga sedikit lega karena aku tak tahu apa yang sebaiknya kulakukan perihal orang itu. Aku agak heran karena Amuro tidak ada mendesakku untuk mengatakan kebenarannya kepadanya apalagi setelah dia jelas melihatku muncul dadakan waktu itu dan menghilang begitu saja. Tidakkah dia penasaran? Aku yakin dia pasti sudah mencekati laporan penculikanku yang terakhir. Polisi ditempat waktu itu ada memotret penampilanku saat pertama 'ditemukan'. Tentunya detektif satu itu pasti akan menyadari bahwa dia tidak berkhayal saat melihatku karena penampilanku sama persis dengan foto bukti yang diambil polisi, bukan? Makanya aku agak heran kemarin di rumah sakit, dia masih bisa muncul dengan tenang dihadapanku. Benar-benar deh poker face-nya orang itu.
Lalu aku juga teringat bahwa bahkan Shuichi Akai juga menyarankan kepadaku agar aku melibatkan Amuro dan Conan dalam situasiku supaya aku bisa menjadikan mereka koneksi-ku di saat aku membutuhkannya. Bahkan Caleb dan Lizzie pun memiliki koneksi sendiri yang entah apakah melibatkan karakter pada fandom dimana mereka berada. Mereka masih saja sangat merahasiakan soal fandom mereka itu dan juga soal koneksi yang mereka miliki.
Tapi apakah tak apa-apa jika aku benar melibatkan sebagian karakter manga DC pada situasiku? Akankah aku menempatkan mereka dalam bahaya, merubah nasib mereka menjadi buruk? Rasanya ngeri juga jika berpikir keterlibatan mereka denganku bisa saja membuat mereka kehilangan nyawa lebih awal dari jadwal kematian mereka atau mengubah nasib yang dijematkan kepada mereka oleh Aoyama Gosho sendiri. Aku menggeleng-gelengkan kepala berusaha untuk tidak berpikir buruk.
Saat kami sedang menikmati makanan, tiba-tiba aku merasakan nyeri pada kedua bola mataku. Mama menanyakan apakah aku baik-baik saja. Aku izin ke toilet dan begitu masuk, aku langsung menghampiri cermin. Kedua mataku berkilau kemerahan. Lalu aku merasakan nyeri lagi pada mataku. Saking sakitnya aku sampai merasa kepalaku jadi ikutan terasa sakit. Rasanya seperti ada yang sedang mengukir sesuatu pada kedua bola mataku. Aku mendekati cermin dan menatap cermat kedua mataku seakan ingin mengecek apakah benar ada yang mengukir sesuatu pada kedua bola mataku. Lagi-lagi rasa sakit yang tajam menghujamku membuatku terpekik kecil.
Aku mulai agak panik. Apakah ini normal? Aku hendak mengambil smartphone-ku untuk menanyakan perihal sakit mataku itu pada Caleb ketika perhatianku teralihkan oleh seorang pria yang baru keluar dari salah satu bilik toilet. Pria itu mencuci tangannya sebelum dia menoleh kepadaku. Otomatis aku melihat data kematian diatas kepalanya. Keigo Ishikawa. Warnanya masih hijau.
Tiba-tiba rasa sakit itu kembali menghujamku membuatku memegangi kedua mataku dengan kesakitan.
"Hey, anak kecil, kau tak apa-apa?" tanya pria itu saat dia melihatku terlihat kesakitan.
Aku membuka mataku perlahan dan menatap pria itu. "Aku tak apa-apa..." ujarku dengan lirih.
"Hei, namamu Eva, bukan?" tanya pria itu mendadak.
Aku memandangi dia dengan curiga saat dia menyebutkan nama lengkapku dan aku melangkah mundur darinya.
Pria itu tersenyum kepadaku sembari mengangkat kedua tangannya. "Aku bukan orang jahat, nak, aku ini penulis artikel majalah Crime Around Us." Dia memperlihatkan kartu identitasnya berikut kartu bukti bahwa dia bekerja pada majalah yang dikatakannya. Nama pada kartu identitasnya sesuai dengan nama pada data kematiannya. "Kau...korban dari pria bernama Tatsuo Sugiyama, bukan? Bolehkah aku menginterview dirimu soal kejadian yang menimpamu?"
Aku tak tahu harus berkata apa kepadanya. Aku baru hendak menolaknya ketika Mama masuk ke dalam dan ketika melihat pria itu berjongkok dihadapanku, Mama langsung panik dan menarikku menjauh dari pria itu.
Keigo Ishikawa kembali memperkenalkan dirinya kepada Mama. Namun Mama memintanya agar tidak berbicara kepadaku dan menolak interview yang dimintanya. Pria itu akhirnya menyerah ketika Azusa memasuki toilet juga saat mendengar teriakan Mama ketika pria itu agak memaksa Mama untuk mengizinkannya berbicara denganku.
Aku memandang kepergian pria itu saat dia membayar tagihannya lalu keluar dari Poirot. Mama menanyakan kepada Azusa apakah pria itu ada bertanya-tanya soal diriku kepadanya. Azusa mengatakan pria itu belakangan ini sering bertamu ke Poirot namun tidak pernah bertanya soal diriku. Apakah cuma kebetulan semata saja dia melihatku disini ataukah dia tahu benar bahwa aku suka mampir ke Poirot?
777
"Rasa sakit di mata? Oh, itu normal." ujar Caleb saat aku menghubunginya malam itu.
"Benarkah? Rasanya sakit sekali." tukasku sambil memandangi cermin dikamarku. Mataku saat itu sedang berkilau kemerahan lagi namun untungnya tidak terasa sakit.
"Iya, tak apa-apa, nanti juga tak akan terasa sakit lagi...kecuali saat kau menambahkan esensi shinigami pada dirimu."
"Hmm, tapi kenapa baru sekarang terasa sakitnya? Bukankah aku menyerapnya sudah lewat beberapa hari yang lalu?"
"Ya, esensi itu butuh waktu untuk berbaur baik dengan dirimu. Selain rasa sakit itu, apakah kau melihat kejanggalan lain?" tanya Caleb.
"Memangnya bisa ada kejanggalan apa lagi?" tanyaku dengan ngeri.
Caleb tertawa kecil. "Jika kau tidak melihat kejanggalan lain ya tak apa, aku hanya bertanya-tanya saja..." Dia mendesah kecil. "I'm glad you're okay now, Eva."
Aku tersenyum. "Me too." Aku berusaha menyingkirkan perasaan tidak enak yang tiba-tiba menggerogoti diriku. "Apakah ada info dari Letifer soal Fuyuka Magami?"
"Hmm, tidak ada. Jangan khawatir, aku memiliki teman yang bisa membantu kita soal mencari wanita itu. Mungkin akan agak lama prosesnya, semoga kita segera mendapat kabar baik."
Setelah menyudahi percakapan telepon dengan Caleb, aku mendesah teringat akan Akako Koizumi, satu-satunya makhluk supernatural didunia manga DC ini. Kaito telah mengatakan bahwa gadis penyihir itu bersedia menemuiku. Mungkin aku harus secepatnya menemui Akako dan memohon bantuannya agar aku bisa melindungi diriku dari shinigami. Setidaknya aku sungguh berharap dia bisa dan bersedia membantuku. Tapi lagi-lagi aku diliputi keraguan yang membuatku sulit mengambil keputusan yang cepat dan bijak. Aku hanya bisa mendesah pasrah akan diriku yang mengecewakan ini. Sementara ini sepertinya aku belum dalam bahaya dari Yohan tapi lain halnya jika shinigami dari dunia nyata nantinya juga muncul, belum lagi shinigami pemilik Death Note yang muncul dalam mimpiku. Mengingat keberuntunganku selama ini aku hanya bisa meringis.
777
Aku menatap layar smartphone ditanganku. Aku menatap nomor telepon Amuro yang terpampang pada layar. Apakah aku akan menghubungi dirinya dan memenuhi janji kami untuk pergi jalan-jalan bersama? Aku hanya agak ragu-ragu karena aku masih saja khawatir apakah akan melibatkan orang itu atau tidak. Setidaknya aku harus menyatakan kebenarannya jika dia ingin mengetahuinya, apakah dia memutuskan terlibat atau tidak, itu tergantung orang itu. Hal yang sama dengan Conan juga harus diterapkan. Aku meragukan apakah aku menginginkan keterlibatan mereka karena mereka karakter favoritku dalam manga DC atau karena aku benar membutuhkan pertolongan mereka? Aku berusaha mengusir pikiran buruk dalam diriku yang menudingku menginginkan perhatian dari mereka. Apakah salah jika benar menginginkan perhatian mereka? Aku merasa jika dari diriku, rasanya salah.
Mama yang akhirnya menyuruhku menghubungi Amuro daripada aku bengong tidak jelas dirumah. Kata Mama, aku harus menganggapnya sebagai penghargaan karena aku selamat dan sudah sehat kembali. Diberikan alasan semacam itu oleh Mama membuatku tersenyum-senyum sendiri dan akhirnya aku jadi memberanikan diri untuk menghubungi orang itu.
Jantungku berdebur keras saat aku menghubungi Amuro dan untungnya orang itu tidak menolakku membuatku sungguh lega. Tapi...dimata orang, apakah aneh pria dewasa seperti dirinya terlibat dengan anak kecil seperti diriku? Memang aku sebenarnya bukan anak kecil tulen tapi bagaimanapun dimata semua orang aku tetap saja terlihat seperti anak kecil, bukan? Yang aku agak heran kenapa Mama seperti agak mendukungku? Sebagai orangtua, bukankah seharusnya dia mengkhawatirkan hubunganku dengan Amuro? Ya, memang Amuro memberikan kesan baik pada semua orang jadi tak ada yang curiga, bukan? Ya, kecuali Conan dan Ai, kurasa.
Mama tersenyum memandangiku yang mulai senyum-senyum sendiri bagai orang sedang kasmaran benaran saja. Aku memang menyukai orang itu, rasanya hatiku hampir membuncah karena memikirkannya. Aku tahu jelas posisiku yang tidak mungkin untuk menginginkan 'lebih' kepadanya namun aku tak berdaya mengendalikan diriku. Bisa berada disisinya walau bukan sebagai yang kuinginkan kedepannya, aku harus bisa menerimanya dengan lapang dada.
Lalu aku mengutuki diriku yang masih bisa-bisanya berpikir soal rasa suka saat seharusnya yang kupikirkan adalah menjaga nyawaku agar tetap aman di dunia ini. Aku langsung menjitaki kepalaku berkali-kali sambil mencak-mencak tidak jelas.
777
Aku berpamitan dengan Papa dan Mama pagi itu sebelum 'kencan'-ku dengan Amuro. Aku berjanji untuk bertemu dengannya di halte bus. Papa sudah menyuruhku membawa pepper spray dan mewanti-wantiku untuk tidak takut menyemprot orang mencurigakan yang mendekatiku dan mendepaknya seperti nyamuk. Tentu aku memakai jepit rambut bunga matahari pemberian Subaru dan bros SOS dari Conan. Dengan keberuntunganku selama ini, bisa saja aku akan berakhir bertemu orang mencurigakan atau orang jahat.
Saat Amuro melihat kedatanganku, dia tersenyum mempesona membuat jantungku berdebur-debur keras. Ah, tidak bisa, mana bisa aku membuat perasaanku move on dari orang ini jika seperti ini?
Amuro tersenyum kepadaku dan mengulurkan tangannya kepadaku. Aku berusaha tersenyum untuk menyembunyikan rasa canggungku dihadapan orang itu dan menyambut uluran tangan orang itu. Kami pun naik ke dalam bus yang datang. Namun bus agak penuh jadi kami berdua harus berdiri. Beberapa penumpang perempuan melihat Amuro dengan tatapan mengagumi. Iya, pria itu sangat tampan dengan penampilannya yang kasual itu.
Amuro tidak mempedulikan perhatian orang-orang itu, hanya memfokuskan perhatiannya kepadaku, membuatku merasa bisa membohongi diriku bahwa aku itu spesial baginya.
Hah, tahu diri donk, Eva, di mata dia kau hanyalah anak kecil menarik karena diliputi misteri. Memang suara dalam diriku tak pernah bisa baik pada diriku sendiri. Terus-terusan saja menjatuhi self esteem diriku sendiri. Setidaknya tidak ada orang-orang disekitarku dalam hidupku kali ini yang juga ikut-ikutan menjatuhkanku. Small blessing. Tentu saja aku tahu hal itu bisa berubah kedepannya seiring waktu dan saat raga ini beranjak dewasa nanti. Aku menggeleng-gelengkan kepala keras-keras berusaha mengusir pemikiran jelek dalam diriku dan fokus untuk menikmati acara kami hari ini. Berpikir soal hari ini, jantungku kembali berdebur keras soal pemikiran bahwa akankah nanti Amuro mempertanyakan kepada diriku kebenarannya?
Saat ada satu tempat duduk kosong, Amuro langsung menyuruhku duduk disana supaya aku tidak capek berdiri terus. Aku diam-diam, ikut-ikutan yang bergender perempuan pada bus, mengagumi profil orang itu. Tiba-tiba pandanganku terusik oleh suatu pemandangan menjijikkan. Ada seorang pria tengah menggerayangi seorang gadis tanpa izin. Aku melongo melihatnya. Benaran bisa terjadi kejadian seperti itu di dunia ini? Memang pada manga-manga kadang ada digambarkan kejadian seperti itu dimana seorang lelaki bersikap tidak senonoh pada perempuan tapi itu hanya ada pada manga saja, bukan? Lagi-lagi aku lupa bahwa aku ini memang sedang ada dalam dunia manga, bukan? Bukankah pada manga DC sendiri Sonoko juga sempat jadi korban pria tidak senonoh? Aku ingat kejadian itu karena itu adalah pemunculan pertama dari Masumi Sera.
Dahiku berkerut saat memandangi wajah gadis itu terlihat tidak tenang namun dia tidak berteriak atau memperingati yang lain. Aku menoleh kepada Amuro berniat memberitahukannya namun aku telat karena orang itu sudah menyadarinya duluan dan langsung mencekal tangan pria tidak senonoh itu. Lalu terjadilah keributan soal menyerahkan si pelaku pelecehan itu kepada polisi.
Aku memandangi dengan agak suram saat melihat Amuro tengah berbicara dengan gadis yang tadi jadi korban pelecehan. Gadis itu dengan wajah bersemu merah mengungkapkan rasa syukurnya kepada orang itu. Aku mengamati data kematian gadis itu dan sialnya warnanya kuning dan tertanggal hari itu juga. Ugh, aku jadi tidak enak hati kalau begini. I should do something...right? Ugh, aku jijik dengan diriku yang sepertinya tak berniat menyelamatkan orang.
"Tak perlu berterima kasih kepadaku..." ujar Amuro. "Aku hanya melakukan yang sewajarnya saja..."
Mendengar jawaban Amuro, aku makin yakin karakter orang itu benar-benar bagus. Kalau aku yang ada diposisinya, aku tak yakin aku bisa membawa diriku melakukan sesuatu bahkan yang dikatakannya sebagai kewajaran. Betapa jeleknya inti diriku, bukan?
"Lagipula, kau seharusnya berterima kasih pada Eva ini, karena dia-lah aku mengetahui kejadian yang menimpamu." lanjut Amuro membuatku terbelalak kaget.
Rupanya pria itu mengawasiku bahkan saat dia tidak terlihat seperti melakukannya di bus tadi.
Gadis itu juga bingung mendengarnya dan dia menoleh kepadaku.
Tiba-tiba aku merasakan rasa sakit pada kedua bola mataku lagi membuatku menutupi mataku dengan kedua tangan. Aku berdesis berusaha menahan rasa sakit.
"Eva, ada apa? Kau kenapa?" tanya Amuro mendadak menghampiriku. Kukira perhatiannya masih pada gadis itu, ternyata dia tetap menyadari keberadaan diriku. Dia memang seorang detektif yang cermat sama seperti Conan.
Gadis itu juga menghampiriku. "Apakah adikmu itu baik-baik saja?" tanyanya membuatku agak kesal karena asumsinya bahwa aku adik Amuro. Memangnya kami mirip?
Aku menoleh menatap gadis dan terperangah saat data kematian gadis itu bertambah. Sebuah countdown berwarna kuning yang menghitung mundur yang memperlihatkan waktu kematiannya yang sepertinya akan terjadi hari itu pada malam hari.
"Eva?" panggil Amuro khawatir melihat wajahku yang pastinya berubah pucat. "Apakah kau tidak enak badan?"
Aku masih memandangi data kematian diatas kepala gadis itu sampai gadis itu pun jadi bingung melihatku terus-menerus melihat ke atas kepalanya. Amuro pun juga ikut memperhatikan gadis itu namun tentunya dia tak menemukan kejanggalan. Aku berusaha mengontrol diriku sendiri. Caleb memperingatiku bahwa kemungkinan adanya kejanggalan yang akan kualami, apakah ini maksudnya? Pertambahan data pada data kematian seseorang? Aku menoleh menatap data kematian Amuro namun tidak ada penambahan pada data dia yang memang masih hijau. Jadi apakah penambahan data hanya berlaku pada warna kuning…dan mungkin merah-biru? Nanti aku harus memastikannya saat melihat warna merah-biru.
Aku masih merasakan rasa sakit pada mataku yang membuat air mata keluar dari mataku. "Aku kelilipan debu..." jawabku asal.
Gadis itu pun mengeluarkan sebuah tisu dari tasnya dan menawarkannya kepadaku. Aku berterima kasih kepadanya dan menerima tisu tersebut untuk mengelap kedua mataku.
Setelah melihat bahwa diriku baik-baik saja, gadis itu yang kuketahui bernama Keiko Mishima dari data kematiannya, menoleh pada Amuro dan mengatakan bahwa dia ingin mentraktir kami berdua untuk makan atau minum sebagai tanda terima kasihnya.
Amuro awalnya menolaknya namun gadis itu agak sedikit memaksa. Amuro menoleh kepadaku seakan meminta persetujuanku. Aku ingin orang itu menolaknya karena seharusnya ini acara kami berdua tetapi aku juga tak sanggup mengusirnya apalagi saat melihat data kematian tambahan pada gadis itu. Haruskah aku melakukan sesuatu soal ini? Apa yang sebaiknya kulakukan? Aku sungguh tidak tahu. Moralitas ini sungguh mengganggu. Yang pasti pertambahan waktu kematian pada gadis itu membuatku tambah tak bisa menutup mata terhadap posisi gadis itu sekarang.
Jika Amuro yang berada di posisiku, aku yakin dia tak ragu untuk bertindak menolong gadis itu. Conan juga sama. Jika aku ingin melibatkan mereka, aku harus mau melakukan tindakan baik menolong orang, bukan? Kalau tidak, bagaimana aku bisa menjelaskannya saat mereka tahu fungsi mata shinigami-ku? Aku takut dihakimi karena selama ini aku tak melakukan apapun menolong orang lain. Aku bersyukur bahwa setidaknya Shuichi Akai tidak menghakimiku soal itu, atau setidaknya dia tidak terang-terangan melakukannya. Entah apa yang dipikirkan orang satu itu tentangku.
Memang Reina mengatakan kepadaku bahwa aku tak perlu merasa bertanggung jawab akan warna pada data kematian dan bahwa aku bukan tokoh utama dalam sebuah cerita. Namun dengan keberadaan orang-orang berkeadilan tinggi disekitarku, apakah pantas jika aku terus memutuskan bersikap tidak peduli? Apa yang akan orang lain lakukan jika dalam posisiku?
Kenapa aku terlalu terbebani untuk harus melakukan sesuatu dan menolong orang? Iya, sepertinya karena aku kebanyakan mengkonsumsi media fiksi film, manga dan sebagainya. Aku jadi teringat akan serial TV Tru Calling dimana seorang wanita bernama Tru mendapati dirinya bisa mengulangi hari. Wanita itu mengetahui kewajibannya yang dirasanya harus dilakukan menyelamatkan orang yang tadinya akan mati saat harinya terulang kembali. Kebanyakan film atau manga dimana karakternya memiliki semacam kemampuan misterius entah kenapa berhasil membawa diri mereka melakukan kebaikan dan berjiwa heroik.
Aku mendesah pasrah. Aku memang tidak berjiwa heroik.
Gadis bernama Keiko itu mengajak kami ke sebuah cafe dan memesankan kami minuman. Dia kembali mengucapkan rasa terima kasihnya kepada kami berdua. Padahal secara teknis aku tidak melakukan apapun namun perkataan Amuro tentangku membuat gadis itu memasukkanku dalam lingkup ucapan syukurnya. Hal ini jadi tambah membuatku tak enak hati mengingat potensial akhir hidupnya pada hari ini jika aku tak melakukan sesuatu.
Reina bilang warna kuning memiliki kemungkinan 50-50 untuk bisa selamat tergantung shinigami yang bertugas. Jika aku lepas tangan dan memutuskan tidak peduli, bagaimana nasib Keiko? Akankah dia selamat atau tidak? Lalu jika aku campur tangan, bagaimana jika nanti jadi menarik perhatian shinigami yang bertugas?
Aku diam-diam menoleh ke arah Amuro. Walau bisa saja aku meminta Amuro untuk mengirimkan orang lain untuk menjaga Keiko sehingga tidak menempatkan Amuro sendiri dalam pandangan mata shinigami. Tapi, lalu bagaimana dengan orang yang dikirimkan Amuro? Akankah dia berakhir seperti Conan nantinya jadi menarik perhatian Yohan dan dimanfaatkan untuk memaksa diriku muncul? Ataukah aku tak akan peduli karena siapapun yang dikirim oleh Amuro, yang penting orang itu bukan orang yang kupedulikan? Apakah aku seegois itu?
Tapi keterlibatan Conan adalah karena anak itu tidak sengaja mengubah warna merah menjadi hitam sehingga membuat shinigami Yohan harus turun tangan. Sedangkan Keiko, dia berwarna kuning jadi mungkin ini bisa aman saja kan? Aku melirik ke arah Amuro. Jika aku memang ingin melibatkan orang ini, menggunakan, bukan, menyelamatkan Keiko bisa menjadi bukti bahwa aku memiliki kemampuan khusus, bukan?
Keiko tiba-tiba beranjak berdiri untuk pamit kepada kami membuatku jadi terkaget-kaget karena aku masih belum memutuskan apakah aku ingin membantunya atau tidak. Tanpa pikir panjang, aku meminta nomor teleponnya. Gadis itu terlihat bingung. Aku pun membisikinya bahwa aku ingin minta diajarin cara memakai kosmetik olehnya karena riasan wajah gadis itu terlihat lembut dan elegan. Ya, itu memang benar, gadis itu memang terlihat cantik, tidak norak.
Keiko tersenyum tersipu-sipu mendengarnya dan memberikan nomor teleponnya kepadaku. Gadis itu membisikkan kepadaku apakah aku ingin belajar dandan demi Amuro. Sesuatu pada ekspresi wajahku membuatnya tertawa kecil. Ugh, apakah aku terlihat begitu jelas sangat menyukai Amuro di mata orang-orang?
Setelah gadis itu berpamitan kepada kami berdua, aku menoleh kepada Amuro. "Kak Amuro, bolehkah aku meminta tolong sesuatu padamu?"
Amuro mengamatiku dengan cermat saat dia mendengarkan permintaanku agar dia mengirimkan seseorang untuk mengawasi Keiko apalagi saat aku memberikan nomor telepon gadis itu kepadanya dan mengklaim bahwa orang itu bisa menemukan identitas dan alamat gadis itu juga pada nomor yang terdaftar. Dia menatapku dengan agak tajam.
"Kak Amuro dulu bilang memiliki teman yang bekerja pada kepolisian, bukan?" tambahku dengan gugup.
"Apakah akan terjadi sesuatu pada Nona Mishima?"
Sepertinya orang ini memang mencurigai bahwa aku memiliki semacam pengetahuan akan bahaya, bukan? Seharusnya aku memang tidak terkejut karena selama ini tingkahku mungkin ada yang agak mencurigakan di matanya.
Aku menarik nafas panjang dan menganggukkan kepala. "Aku tidak tahu jelasnya, apakah dia akan mengalami kecelakaan atau hal lain...yang pasti hal itu akan terjadi hari ini..." Aku pun memberitahukan perkiraan sekitar waktu kematiannya.
Amuro masih mengamatiku.
Aku menelan ludah dengan susah payah. "Apakah Kak Amuro mempercayaiku?"
Amuro mengambil smartphonenya dan mengetik pesan dengan cepat lalu mengirimkannya. "Aku sudah meminta temanku untuk membantu mengawasi Keiko."
Benaran? Langsung begitu saja dia menanggapi permohonanku? Siapa orang yang dikirimkannya? Apakah pria bernama Kazami yang menjadi bawahannya? Aku ingat dalam manga DC, Amuro pernah memerintahkan Kazami naik kereta hanya untuk mendapatkan jejak nafas pada kaca supaya bisa memecahkan kasus dengan Conan. Dan sekarang dia melakukan hal yang sama untukku, supaya dia bisa memperjelas keanehan dalam diriku?
Aku mendesah. Moment of truth. Karena aku telah melakukan hal ini, aku harus memberikan penjelasan kebenarannya kepada orang ini. "Aku rasa awal semuanya terjadi saat aku bangun dari koma... Aku mendapati diriku bisa melihat sesuatu yang kebanyakan orang tidak bisa melihatnya."
Aku pun menjelaskan soal data kematian dan warna yang dijematkan pada data kematian.
Amuro terdiam sesaat. "Pantas saja aku memperhatikan Eva seringkali melihat ke atas kepala semua orang." ujarnya pelan.
Aku mengangguk pelan. "Aku tak suka melihatnya. Aku berusaha untuk tidak terlalu memperhatikannya."
"Kau bilang kau bisa melihat nama semua orang dari data kematian diatas kepala mereka."
Aku menatap Amuro dan mengangguk pelan. Aku menariknya mendekat dan membisiki nama asli orang itu. Sekilas aku bisa melihat keterkejutan pada ekspresi wajah orang itu namun secepat kilat dia memperbaiki ekspresi wajahnya menjadi tenang dan kalkulatif.
"Karena kemampuanmu itu, kau tahu soal pria bernama Shogo dan temanmu, Nanno, bukan? Kau memperingati Shogo akan musibah yang akan menimpanya. Lalu saat ulangtahun sahabatmu itu, aku menyadari kau terlihat agak tertekan, itu karena kau menyadari sesuatu yang buruk akan terjadi padanya, bukan?"
Aku tidak mengira dia akan mengungkit Nanno namun aku mengangguk pelan. Batinku diliputi rasa bersalah. "Dia berwarna merah. Aku tak bisa melakukan apapun untuknya karena itu sudah takdirnya."
"Bagaimana Eva mengetahui jelas soal fungsi data kematian ini?" tanyanya. "Apakah orang bernama Reina itu terlibat? Orang yang memberikanmu kalung yang identik dengan korban kasus-kasus yang terjadi beberapa tahun lalu?"
Aku agak terkejut karena dia mengungkit soal Reina juga, membuat jantungku jadi berdebur keras. "Reina...Iya, dia memang memberitahuku soal fungsi mata shinigami-ku ini kurang lebih."
"Mata...shinigami?"
Aku menelan ludah dengan susah payah dan menatap Amuro lekat-lekat. "Singkatnya karena kecerobohan seorang shinigami, raga yang seharusnya sudah tak bernyawa ini jadi memiliki esensi yang tidak seharusnya ada."
"Shinigami...dewa kematian?"
"Mereka nyata dan ada didunia ini. Memang penjelasanku ini diluar logika, makanya aku agak enggan memberitahu kebenaran ini kepada siapapun. Apakah Kak Amuro bisa menerimanya?"
"Aku masih memprosesnya saat ini..." jawabnya dengan jujur.
Aku tersenyum kecil mendengarnya.
"Raga yang seharusnya tidak bernyawa...maksud Eva..."
Aku mengangguk pelan. "Seharusnya aku sudah mati saat kecelakaan yang membuatku koma namun karena suatu kecerobohan, aku tetap hidup dan dengan ada tambahan mata shinigami ini."
Amuro kelihatan sedikit tidak tenang saat dia berusaha memahami yang kukatakan kepadanya. "Tadi kau bilang kau terbangun dan jadi bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh kebanyakan orang... Apakah ada orang lain yang sama denganmu? Apakah ada orang yang memiliki mata...shinigami?" Dia terdiam sesaat. "Tatsuo Sugiyama. Aku membaca riwayat medis orang itu. Dia pernah koma 6 bulan. Sama sepertimu. Sama seperti korban-korban pada kasus yang lalu. Mereka memiliki kemampuan yang sama denganmu...?"
Tidak bisa tidak, aku sungguh terpukau dengan kemampuan analisa orang ini. Aku mengangguk pelan mengonfirmasi kecurigaannya.
"Mengapa Tatsuo Sugiyama mengincarmu?"
"Dia menginginkan esensi shinigami dalam diriku untuk menyambung nyawanya. Tetapi, akhirnya malah aku yang berhasil menyambung nyawa."
"Menyambung nyawa? Eva sekarat?!" Amuro memandangiku dengan penuh kecemasan.
Aku tersenyum menenangkannya. "Aku baik-baik saja sekarang. Aku tadinya sudah pasrah untuk mati karena mana bisa aku membunuh orang lain bahkan untuk menyambung nyawa. Akhirnya malah aku yang selamat walau aku melakukannya dengan harus mencabut nyawa orang itu."
Amuro terdiam. "Yang terjadi kepadanya bukan salahmu. Eva hanya membela diri untuk bertahan hidup. Tidak ada yang salah dengan itu."
"Bisa dibilang dia juga sama, bukan? Dia mengincarku karena ingin bertahan hidup..."
"Jangan menyamakan dirimu dengan pembunuh satu itu. Orang itu sudah banyak menyiksa dan membunuh orang. Dia bahkan menyiksa anak kecil sepertimu. Eva melakukan hal yang benar bertahan hidup dari dirinya. Kau tak perlu merasa bersalah atas kematian orang itu."
Aku terdiam mendengarnya. Aku tak tahu haruskah kuberitahu dia bahwa aku memang tidak merasa bersalah atas kematian Tatsuo. Aku hanya tidak suka bahwa aku jadi harus membunuh orang hanya demi bertahan hidup. Rasanya hidup ini terasa bagai beban karena aku tahu kedepannya pun aku akan berada dalam bahaya dan kemungkinannya besar bahwa aku akan harus mencabut nyawa orang juga.
Amuro terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Kalung yang Eva miliki dulu...pemberian gadis bernama Reina itu sebenarnya apa? Kenapa kau dan korban kasus yang lalu bisa memilikinya?"
"Ah itu, katanya bisa melindungi kami dari pandangan mata shinigami di dunia ini."
"Apakah Reina itu benar berkaitan juga dengan korban kasus yang lalu? Dia-kah yang memberikan kalung itu juga pada yang lain? Siapa sebenarnya Reina?"
Aku meringis mendengarnya. "Reina adalah shinigami..."
Amuro terlihat sulit mempercayainya. Tentu saja keberadaan makhluk supernatural didunia ini tentu sulit diterima oleh orang berlogika kuat seperti dirinya. "Dimana Reina sekarang?"
Apakah dia ingin bertemu Reina supaya bisa memastikan sendiri bahwa klaim dia sebagai shinigami adalah benar dan nyata? Sayangnya aku tak tahu dimana Reina sekarang. Bisa saja aku memperkenalkan Amuro kepada Yohan namun aku rasa Yohan tidak akan mau muncul dan memperlihatkan dirinya. "Aku tidak tahu. Dia sudah lama tidak muncul. Aku pun ingin bertemu dengannya. Dia sama sekali tidak memberitahuku bahwa ada pemilik mata shinigami lain di dunia ini."
"Tatsuo Sugiyama...aku tidak melihat kalung itu padanya..." ujar Amuro pelan.
Aku menatapnya dengan agak kaget. Jujur saja sama sekali tidak terlintas olehku apakah Tatsuo memiliki kalung jimat itu atau tidak. Tapi seharusnya dia memilikinya. Jika tidak, bagaimana bisa dia meloloskan diri dari pengamatan para shinigami? Apakah efisiensi shinigami didunia ini begitu buruk sampai Tatsuo yang tak memiliki perception filter saja tetap bebas membunuh orang sesuka hati? Kepalaku jadi berdenyut-denyut memikirkannya.
"Apakah Eva ada mengetahui keberadaan pemilik mata shinigami lain selain Tatsuo Sugiyama?"
Aku terdiam. "Aku tahu mereka ada di luar sana."
"Apakah mereka ada mengontakmu?"
Aku terdiam. Aku ingin menghormati keinginan Caleb dan Lizzie yang tak ingin hubungan mereka denganku dibeberkan.
"Apakah mereka membawa bahaya bagimu, Eva?" tanya Amuro. "Apakah kau masih dalam bahaya?"
Aku bahkan belum memberitahu dia soal pemburu. Rasanya aku mau sakit kepala. "Beberapa dari mereka berbahaya... Tidak, aku rasa mereka semua berbahaya jika mereka mau. Tapi untuk saat ini, tidak."
Amuro terlihat tidak puas dengan jawabanku.
"Maaf, Kak Amuro, aku tak bisa memberitahukan keseluruhan kebenarannya kepadamu saat ini."
"Aku mengerti. Terima kasih karena Eva sudah bersedia memberitahukan setengah kebenarannya kepadaku." jawab Amuro dengan kalem. "Kenapa akhirnya Eva bersedia memberitahuku soal ini?"
"Iya, karena aku berhutang nyawa kepada Kak Amuro. Kak Amuro juga sudah banyak membantu Eva selama ini. Dan...Kak Amuro pernah mengatakan jika aku membutuhkan bantuanmu..." Suaraku perlahan menghilang seakan aku merasa malu sendiri.
Amuro tiba-tiba memegangi bahuku. "Kau tidak berhutang apapun kepadaku, Eva. Dan terima kasih karena mempercayaiku dengan rahasiamu."
Aku tersenyum kepadanya.
"Satu lagi, Eva, kemarin saat kau diculik, aku ada melihatmu...?"
Ah, akhirnya dia menanyakan juga. "Ya, Kak Amuro benar melihatku. Ada penjelasannya namun itu diluar logika juga..." Aku enggan memberitahukan soal kunci hitam dan orang itu sepertinya menyadari keenggananku juga. Dia menepuk kepalaku membuatku menoleh menatapnya.
"Aku akan menunggu sampai Eva mempercayaiku sepenuhnya untuk memberitahu sisa kebenaranmu." ujarnya.
Aku terpana. Aku perlahan tersenyum kepadanya lagi. "Terima kasih atas pengertiannya, Kak Amuro."
Amuro lalu mengajakku untuk ke taman satwa yang tertunda akibat percakapan kami tadi. Kami lumayan menikmatinya. Orang itu memenangkan sebuah boneka badak dari salah satu permainan yang ada di lokasi.
Saat ini kami sedang disebuah kafe kecil yang ada di lokasi. Amuro menerima panggilan telepon penting dan dia berpamitan untuk mencari tempat yang agak sepi untuk berbicara. Aku mengamatinya sesaat sembari tersenyum. Aku merasa sedikit lega sudah memberitahu kebenarannya kepada orang itu.
Aku mengalihkan perhatianku dan pergi ke kounter untuk memesan minuman lain. Saat aku kembali aku melihat secarik kertas kecil didekat boneka badak. Dengan dahi berkerut aku mengambil kertas tersebut dan mataku membelalak lebar saat melihat isinya.
Pada kertas kecil itu tercantum jelas tulisan yang kutulis pada Death Note soal kematian yang kurancang untuk Tatsuo Sugiyama.
Aku tercekat melihatnya. Aku menoleh sekelilingku namun aku tak mampu memastikan keberadaan orang mencurigakan.
Ini tidak mungkin. Aku sudah membakar kertas kecil itu. Kenapa benda itu bisa muncul lagi disini?
Aku terkesiap saat Amuro mendadak menyapaku kembali dari belakang. Aku panik dan tanpa pikir panjang, aku menelan bulat-bulat kertas kecil itu. Susah sekali untuk menguyah kertas tersebut dan aku buru-buru mengambil minumanku untuk membantu menelan kertas tersebut.
Setelah berhasil melakukannya, aku menoleh menatap Amuro sambil tersenyum gugup, untungnya dia sepertinya tidak curiga.
