Amuro mengantarku pulang. Dia tak lagi menyinggung soal mata shinigami, membuatku lega karena saat itu pikiranku tengah mumet akibat kemunculan mendadak kertas kecil bukti pembunuhan yang kulakukan atas Tatsuo via Death Note.
Entah siapa yang mengirimkannya? Bagaimana bisa? Kertas yang seharusnya sudah kubakar kenapa bisa muncul lagi? Apakah ini perbuatan dewa kematian pemilik Death Note itu?
Aku berusaha menikmati sisa waktu kebersamaan kami dan setengah mati berusaha untuk tidak membiarkan kecemasanku mengalahkan tekadku untuk menikmati hari ini.
Diam-diam aku melirik orang itu. Kali ini orang itu tidak tengah mengamatiku, sepertinya dia pun sedang memikirkan sesuatu. Dia menyadari tatapan mataku dan tersenyum kepadaku. Namun senyumnya agak memudar saat dia melihat sesuatu diatas kepalaku.
Dia menyentuh pelan jepitan rambut bunga matahari yang terjemat pada rambutku, membuatku jadi salah tingkah.
"Eva, saya ingin menanyakan sesuatu padamu, apakah boleh?"
Aku menatap dia dengan ragu-ragu. "Iya?"
"Apakah Eva pernah melihat atau bertemu orang-orang yang mengenalkan diri mereka tetapi berbeda dengan nama yang kau bisa lihat?"
Aku menatap orang itu dalam-dalam seakan ingin mengetahui maksud dia mempertanyakan hal itu namun tentu aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Apakah dia ingin tahu soal Subaru Okiya atau Conan Edogawa? Menurut perkiraan timeline, seharusnya saat ini dia sudah tahu bahwa Subaru Okiya memang benar Shuichi Akai, bukan? Dan seingatku sepertinya dia juga mencurigai Conan. Aku mendesah.
"Iya ada."
"Apakah Eva mengenal Shuichi Akai?" tanyanya sembari mencermati ekspresi wajahku baik-baik. "Orang itu…bagaimana bisa berkaitan denganmu? Dia tahu rahasiamu, bukan? Dan dia ada membantumu…"
Aku mendesah pelan dan mengangguk. "Eva berhutang nyawa kepada orang itu. Jika tidak ada dia, aku pasti sudah mati." tuturku dengan lirih. Aku menatap Amuro dan tersenyum sepolos mungkin. "Eva berharap Kak Amuro dan Kak Shuu bisa berteman dengan baik soalnya kalian berdua adalah orang-orang favoritku."
Amuro sepertinya berusaha mempertahankan ekspresinya dari memperlihatkan rasa jijik. "Kak Shuu…? Kalian sedekat itu?" tanyanya dengan wajah tidak senang.
I wish. Shuichi Akai itu hanya terbebani obligasi untuk menolongku karena dia orang baik. Dan aku yang memaksakan memanggilnya Kak Shuu tanpa izinnya tetapi dia juga tak menolakku memanggilnya demikian jadi aku menebalkan muka saja.
Aku tak mengatakan hal itu didepan Amuro supaya tidak kelihatan betapa insecure-nya diriku.
"Aku diwanti-wanti untuk tidak sembarangan memberitahu atau mengonfrontasi orang yang memperkenalkan dirinya dengan nama yang tidak sesuai dengan data kematiannya karena kita tak tahu bagaimana mereka akan bereaksi."
Amuro mengangguk setuju. "Itu benar. Eva memang harus lebih waspada."
Aku menatap Amuro. "Apakah Kak Amuro mempercayai semua yang kukatakan?"
Sebelum dia bisa menjawab, smartphone-nya berdering menandakan ada panggilan masuk dan dia menerima panggilan itu dengan wajah serius. Sesudah menyudahi panggilan, dia menoleh kepadaku.
"Panggilan dari temanku. Keiko Mishima mengalami kecelakaan, dia terjatuh pingsan dan mengalami cedera kepala yang serius. Jika bukan karena peringatan darimu, tak akan ada yang tahu bahwa dia terluka dan mereka mungkin telat menemukannya. Gadis itu bisa saja mati." tuturnya kepadaku.
"Oh." Aku hampir lupa akan Keiko. "Syukurlah dia selamat."
"Menjawab pertanyaan Eva tadi, ya, saya mempercayaimu." ujar Amuro. "Kau tahu namaku. Tentu ada kemungkinan Akai itu yang memberitahumu tapi dia tak memiliki alasan untuk memberitahukan namaku kepadamu. Dan apa yang menimpa Keiko Mishima… Jadi, ya, saya mempercayaimu." ulangnya.
Dia tiba-tiba berlutut dihadapanku lalu mengelus-elus lembut kepalaku. Dengan wajah prihatin, dia berkata kepadaku, "Pasti berat ya untukmu…beban pada warna kematian yang kau lihat setiap saat…"
Seandainya saja aku berhak menerima simpati dari orang ini. "Aku tak melakukan apapun. Aku selalu tak tahu harus bagaimana." tuturku. "Aku payah. Aku bukan orang baik." Ugh, insecurity-nya keluar lagi deh.
Amuro masih menatapku dengan prihatin dan menghiburku. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Eva. Kau hanyalah anak kecil. Menyelamatkan orang bukan tanggung jawabmu."
"Conan juga anak kecil dan dia lebih muda dariku tetapi dia tidak segan menyelamatkan orang kiri-kanan, atas-bawah." tukasku. "Dia bahkan hampir selalu dalam bahaya saat melakukannya."
Amuro tertawa kecil. "Conan adalah kasus istimewa. Dan itulah, dia selalu menempatkan dirinya dalam bahaya. Dia terlalu sembrono. Itu bukan hal yang baik."
Aku menatap Amuro dan berpikir apakah dia memang sudah mencurigai Conan bukan anak kecil semata dan apakah dia sudah mengkaitkan anak itu dengan Shinichi Kudo?
777
Saat aku sudah sampai rumah dengan selamat dan sudah dikamarku berbaring santai diranjang, aku menerima pesan masuk dari smartphone-ku. Aku terhenyak melihat isi pesan dari Subaru yang mengatakan bahwa dia turut senang untukku karena kencan-ku dengan Amuro berjalan baik.
Huh? Darimana dia tahu? Aku pun memutuskan untuk menelepon orang itu dan memberitahunya bahwa aku sudah memberitahu Amuro kebenarannya. Aku juga memberitahunya soal pertambahan data pada data kematian yang kulihat.
"Apakah Eva berniat untuk memberitahu Conan juga?"
"Aku tak tahu, aku rasa itu tergantung Conan, jika dia memang ingin tahu dan mau terlibat denganku, dia pasti akan mendatangiku." ujarku. "Aku lebih khawatir bagaimana memberitahu Caleb dan Elizabeth bahwa aku telah melibatkan orang lain lagi…"
"Eva tak perlu mengkhawatirkan mereka. Melibatkan Amuro dan Conan adalah hak-mu, pilihanmu. Yang penting Eva mempercayai kedua orang itu dengan rahasia Eva." ujar Subaru.
Aku tak bisa berhenti memikirkan bahwa diriku memiliki motif egois untuk melibatkan mereka. Iya, mereka tokoh favoritku, melibatkan mereka berarti aku bisa lebih sering berinteraksi dengan mereka.
"Oh ya, Kak Subaru, apakah ada waktu akhir minggu depan? Mama ada lebih tiket ke pameran lukisan karena Papa tak bisa ikut. Maukah Kak Subaru pergi ke pameran itu?" pintaku.
Hening sesaat.
"Boleh saja. Tapi, apa tak apa mengundang saya? Bagaimana dengan Kak Amuro-mu itu? Bukankah lebih baik jika Eva membuat janji dengan dia?"
"Kata Mama, lebih tiket ini untuk Kak Subaru saja, karena Kak Subaru sudah banyak membantu memperbaiki nilai pelajaranku." jelasku.
"Begitu? Baiklah, saya akan menerimanya. Ucapkan terima kasih saya kepada Mama Eva yah."
Aku tersenyum senang dan segera menjelaskan lokasi dan jam pameran. Tiket pameran itu Mama dapatkan dari kliennya dan bisa pilih tanggal dari 3 hari yang ditentukan. Aku menjelaskan semua itu padanya.
"Baiklah, saya akan menemui Eva disana nanti."
Aku tersenyum-senyum mendengarnya. "Tidak perlu mengikuti Eva, jika Kak Subaru ingin pilih tanggal lain." ujarku.
"Tak apa. Saya juga ada yang saya ingin bicarakan dengan Eva."
Jika memang ada yang ingin dibicarakannya, bukankah dia bisa melakukannya saat les nanti? Ah, biarlah, aku senang dia mau menghabiskan sedikit waktu denganku.
777
Aku pergi bersama Mama ke pameran lukisan. Mama meninggalkanku untuk berbicara dengan kliennya sementara aku menunggu Subaru untuk datang sesuai perjanjian.
Saat melihat orang itu melangkah mendekatiku, aku tersenyum senang sembari mengagumi penampilan orang itu. Ah, sebagai Shuichi Akai saja, dia sudah sangat tampan. Bisa-bisanya penyamaran dia sebagai Subaru Okiya juga sama tampannya. Hatiku tak kuat, Mama!
Aku berusaha mengontrol diriku agar tetap bersikap normal dan tidak malu-maluin. Aku tersenyum kepada orang itu. "Kak Subaru, terima kasih sudah datang menemaniku."
"Seharusnya saya yang berterima kasih kepada Eva dan Mama Eva." ujarnya sembari tersenyum tipis. Dia menoleh kesekelilingnya. "Sepertinya pameran ini menarik."
Awalnya kami mengikuti guide yang mengantar kami berkeliling seluruh tempat pameran sembari mendengarkan penjelasannya tentang beberapa lukisan yang agak terkenal. Dia mengulurkan tangannya kepadaku dan aku pun menggenggam tangan orang itu dengan hati riang gembira. Iya, aku tahu dia menggandengku karena aku anak kecil. Tidak usah merusak mood-ku deh.
Aku berusaha mempertahankan kegembiraanku hari itu, tak ingin keburukan dalam diriku menang. Tanpa sadar, aku melepaskan genggaman tangan orang itu saat aku melihat sebuah lukisan di sebuah tempat dipojokan.
Lukisannya menggambarkan seorang gadis kecil berambut pirang berpakaian hijau tengah menangis pilu. Bola mata biru kemerahan gadis kecil itu terlihat sungguh hidup. Lukisan itu dibuat terkesan sedang terbakar dan gadis kecil itu seakan terjebak dalam lukisan. Judul lukisan itu: Alone in the abyss.
Entah kenapa saat aku melihat lukisan itu, mendadak batinku merasa terbebani oleh rasa sedih yang tidak jelas. Untuk beberapa lama, aku terkesima memandangi lukisan itu seakan terhipnotis.
Subaru menepuk pundakku, membuyarkan hipnotisnya. "Eva suka dengan lukisan ini?" tanyanya. Dia mencermati kartu pertanda dibawah lukisan. "Pelukisnya anonim."
Aku menatap Subaru sembari tersenyum tipis. "Iya, entah kenapa lukisan ini...memberi perasaan sedih...tetapi juga bukan hanya itu..."
Aku merasa pernah melihat gadis dalam lukisan ini. Tapi, mana mungkin, bukan? Semakin kulihat rasanya semakin familiar, gadis kecil berambut pirang berbaju hijau...dimana aku pernah melihatnya? Apakah aku mengenalinya dari dunia ini atau dunia nyata? Tapi seberapapun aku berusaha, aku tak bisa mengingatnya.
Subaru mengamatiku, menunggu lanjutan ucapanku.
Aku menoleh kepadanya dan tersenyum kecil. "Sepertinya cuma perasaanku semata..." ujarku sambil menggaruk kepala.
Subaru tidak mengatakan apapun.
"Anonim yah. Lukisan ini bagus sekali tapi kenapa ditaruh dipojokan seperti ini?" tanyaku.
Kami pun pergi untuk melanjutkan melihat-lihat.
"Oh ya, kemarin Kak Subaru bilang ingin mengatakan sesuatu padaku?"
Subaru menuntunku ke tempat yang agak sepi. "Tentang Makoto Fueta...apakah dia ada muncul dihadapanmu lagi?"
"Tidak ada. Memangnya kenapa?" tanyaku.
"Orang yang kutugaskan untuk mengawasinya...meninggal dalam kecelakaan."
Aku sangat terkejut mendengarnya. "Apakah Kak Mako yang...?"
Subaru memperbaiki letak kacamatanya. "Ada kemungkinan begitu. Namun tidak ada bukti pasti yang mengarah kepadanya..."
Aku menelan ludah dengan susah payah. "Apa yang terjadi pada...agen yang kau tugaskan?"
"Menurut saksi mata, ada yang melihat seorang gadis mendorongnya dari peron kereta menuju kereta yang tengah berjalan."
Aku merinding mendengarnya. "Mengerikan sekali."
"Sayangnya rekaman CCTV di stasiun kereta itu saat itu sedang mengalami kerusakan. Satu-satunya saksi mata adalah seorang wanita tua bermata agak rabun sehingga dia tidak bisa melihat jelas perawakan pelakunya."
"Seorang gadis ya...?" Mako memang pernah muncul dihadapanku dengan berwujud seorang gadis dengan topeng kulitnya yang sempurna.
"Saat kejadian terjadi, pemuda itu memang ada ditempat, sedang ke toilet dan CCTV lain memperlihatkan dia keluar dari toilet sesudah kejadian." jelas Subaru. "Itu memberinya alibi. Tentu ada kemungkinan dia menggunakan trik lain namun saya dalam posisi yang tak bisa menginvestigasinya secara langsung. Dan bisa juga pelakunya memang bukan dia."
"Maaf, Kak Subaru, semua ini gara-gara aku. Rekan kerjamu jadi meninggal karena aku." Aku buru-buru meminta maaf kepadanya.
"Itu bukan salahmu. Rekan kerjaku itu tahu resikonya dalam mengawasi pelaku mencurigakan." ujar Subaru.
Namun rasa bersalah tetap menggerogoti diriku. Aku khawatir akankah Shuichi Akai yang menggerakkan agen FBI itu untuk mengawasi Mako jadi terlibat masalah oleh atasannya. Pastinya James Black yang pemimpin grup FBI di Jepang ingin tahu kenapa salah satu agennya bisa meninggal tragis seperti itu, bukan?
Subaru memperingatiku untuk berhati-hati jika bertemu dengan Mako lagi. Ah, aku takut bertemu dengannya walau belum ada bukti jelas bahwa dia pelakunya.
777
Keluarga Suzuki mengundang keluargaku untuk ikut berlibur dengan mereka. Kami akan tinggal di hotel di sebuah pegunungan. Sonoko juga mengundang Ran, Conan, Ai dan trio detektif.
Seperti biasa yang terjadi manganya, mereka selalu terlibat secara langsung atau tidak langsung berinteraksi dengan orang disekitar mereka. Aku mendesah dan berasumsi suatu kasus akan terjadi nantinya cepat atau lambat namun aku tak berusaha mencari tahu apakah ada warna merah atau kuning disekitarku.
Aku membawa sebuah buku novel misteri karya Yusaku Kudo dan menikmati membacanya di sofa besar pada lobby hotel, dari sana aku bisa melihat pemandangan pegunungan indah disekitar.
Aku melihat Conan dan teman-temannya sedang bersiap-siap untuk jalan-jalan bersama Ran dan Sonoko. Ayumi yang melihatku, dengan keramahan khas dia, ikut mengajakku untuk pergi bersama namun aku menolaknya dengan mengatakan bahwa aku sedang dibagian seru pada novel yang kubaca.
Ayumi kelihatan agak kecewa karena penolakanku namun dia tak memaksa.
Aku memandang kepergian mereka dengan senyum kecil diwajahku sebelum kembali fokus pada novelku.
Beberapa lama kemudian, aku dikagetkan Conan yang tiba-tiba muncul dihadapanku dan menepukku yang tengah bengong sembari memakai headset mendengarkan lagu-lagu yang membawaku berkhayal. Aku melepas headsetku.
"Kak Eva, bolehkah kita berbicara sebentar?" pinta Conan.
Aku menatap dia dengan agak ragu. "Iya?"
"Kenapa matamu terkadang berkilau kemerahan seperti itu?" tanyanya blak-blakan.
Aku tercekat mendengar konfirmasi darinya bahwa dia memang bisa melihat kilauan mata shinigami-ku. Setelah tenang, aku menatapnya dalam-dalam. "Conan, apakah kau benar-benar ingin tahu?"
"Jika aku tak ingin tahu, aku tak akan menanyakannya. Aku ingin tahu…apakah aku mengalami cedera pada otak membuatku halusinasi akan matamu itu atau tidak."
Aku jadi tidak enak hati kepada Conan yang membuatnya sampai mempertanyakan hal itu. Aku menoleh sekelilingku lalu aku mengajaknya ke tempat yang agak sepi karena saat itu lobby sudah mulai ramai.
Akhirnya aku memberitahukan dirinya bahwa aku bisa melihat data kematian orang diatas kepala mereka dan bahwa semua itu terjadi setelah aku bangun dari koma.
Conan terlihat tidak percaya.
"Perkataanmu waktu itu pada Haibara, apakah kau benar-benar melihat seseorang bersamaku waktu itu?" tanyaku.
Conan mengangguk pelan dengan wajah sangat terganggu. "Kau benar-benar bersama seseorang saat itu, bukan?"
Aku mengangguk juga. "Yohan."
"Yohan?"
"Jika kau memang melihatnya dan mendengar percakapan kami, kau tahu bukan siapa dia?"
"Dewa kematian?" Conan meringis saat mengatakannya seakan itu melukai dirinya. "Tetapi itu tidak mungkin!" Dia menatapku dengan serius. "Apakah kau benar-benar sekarat?"
"Ah, soal itu…sudah tak bermasalah, sudah beres…kurasa…" tuturku pelan.
Conan masih terlihat sulit untuk mempercayaiku dan aku tahu aku bisa membuktikannya.
"Apakah kau yakin ingin tahu? Masih belum telat untuk berubah pikiran dan menganggap tidak ada kejanggalan."
Dahi Conan berkerut dengan tidak senang. "Aku ingin tahu."
"Ok." Aku membungkuk sedikit dan membisikkan sesuatu pada telinganya. Dua nama. Shinichi Kudo. Shiho Miyano.
Wajah Conan berubah pucat dan dia menatapku dengan mata terbelalak lebar.
"Aku bukan seorang detektif sepertimu. Aku juga tidak pintar beranalisa sepertimu. Aku tahu informasi itu melalu mata ini…mata shinigami…" ujarku dengan nada agak drastis.
Sepertinya aku membuat anak itu kehilangan kata-kata. Aku pun perlahan menjelaskan soal data kematian yang bisa kulihat.
Conan terlihat sedang berpikir kemudian dia menoleh kepadaku. "Jadi kau tahu soal sesuatu akan menimpa Kenji dari…kemampuanmu ini…? Dan…dia berwarna merah…"
Aku mengangguk dan memberitahukan soal Kenji yang warnanya sempat berubah jadi hitam karena interferensi darinya.
Wajah Conan sedikit memucat. "Bagaimana dengan adiknya Kenji? Apakah dia memang juga berwarna merah?"
"Aku tidak tahu. Aku tak pernah melihat data kematian adiknya itu."
"Kau bilang shinigami yang datang untuk mencabut nyawa anak itu juga harus mengurus perubahan yang terjadi akibat interaksi Kenji dengan orang lain, apakah itu termasuk soal adiknya?"
Aku mengetahui bahwa Conan perlahan mulai merasa bersalah karena telah menyelamatkan Kenji yang berbuntut kematian kedua anak itu. Aku pun juga merasa bersalah karena sikap diriku yang anehlah yang membuat Conan jadi mengamatiku dan mencurigaiku lalu berdasarkan kecurigaannya itu, dia bertindak sendiri terhadap Kenji. It's me. I'm the problem.
Tiba-tiba ekspresi Conan berubah waspada dan dia melihat sekelilingnya dengan pandangan tajam.
"Ada apa?" tanyaku heran.
Dia terlihat ragu-ragu. "Mungkin cuma perasaanku saja rasanya ada yang mengawasi…"
Aku ikut menatap sekelilingku namun tentu saja aku tak bisa menemukan kejanggalan apapun. Aku mempercayai insting Conan karena pada manga-nya pun saat dia merasakan ada yang mengawasinya, hal itu benar adanya. Akhirnya kami menghentikan pembicaraan kami namun anak itu membuatku berjanji untuk meneruskan percakapan kami lagi nanti.
777
Selanjutnya waktu berjalan damai saja, tidak ada masalah. Setelah acara makan bersama, Papa harus kembali bekerja dengan Ibu Sonoko dan asisten-asisten lainnya. Mama memutuskan untuk menikmati fasilitas spa didalam hotel. Ran dan Sonoko ikut bersamanya.
Conan dan teman-temannya juga berkeliaran entah kemana. Aku sudah selesai membaca novel dan jalan-jalan di taman. Ada seekor kucing liar yang lumayan ramah dan aku memberikannya makanan kucing yang kubawa.
Ayumi dan Ai melihatku dengan kucing dan jadi ikutan bermain dengan kucing. Conan, Genta dan Mitsuhiko juga ikut menghampiri, mengamati kami semua.
Aku berdiri memberi tempat agar anak-anak itu bisa bermain dengan kucing. Conan menghampiriku dan bertanya dengan suara kecil. Dia bertanya apakah aku mengenal salah satu tamu yang datang ke hotel karena dia menyadari ada seorang wanita yang sempat terlihat tengah mengawasiku. Aku memintanya menunjukkan wanita itu padaku.
Mei Kurosu. Warna hijau.
Conan terlihat masih sulit mempercayaiku bahwa aku bisa tahu nama orang lain begitu saja.
Tiba-tiba saja dari dalam hotel ada yang menjerit. Conan langsung dengan sigap segera berlari ke arah sumber suara diikuti anak-anak lain.
Aku hanya mendesah, mengetahui suatu kasus tengah terjadi. Aku tidak mengikuti mereka. Aku yakin Conan pasti akan segera menyelesaikannya. Smartphone-ku berbunyi, ada telepon dari Papa yang menanyakan keberadaanku dan aku menenangkannya bahwa aku aman-aman saja.
Aku melihat sekelilingku namun wanita bernama Mei Kurosu itu juga tak ada.
Tak lama polisi pun datang untuk mengamankan TKP. Aku hanya duduk saja di sofa di lobby sambil menonton berita di TV sembari browsing internet dengan smartphone-ku.
Agak bosan, aku pun memutuskan jalan-jalan keluar. Pemandangan disekitar hotel memang indah karena letaknya dikelilingi bukit-bukit kecil. Udaranya pun segar.
Ayumi tiba-tiba muncul dan ikut berjalan-jalan denganku. Anak itu mengajakku mengobrol dengan riang. Rupanya kasus sudah selesai. Aku agak heran juga kenapa Ayumi mau saja berdekatan denganku tapi mengingat sikap anak ini yang aktif dan ramah jadi sepertinya wajar saja baginya.
Saat itulah aku melihat Mei Kurosu. Dia terlihat tidak tenang dan sepertinya tengah mencari sesuatu. Aku mendengarnya terdengar galau.
Ayumi dengan prihatin mengajak wanita itu berbicara sebelum aku bisa menghentikannya. Wanita itu mengatakan dia kehilangan liontin peninggalan ayahnya yang meninggal saat dia masih kecil. Wanita itu terlihat seperti mau menangis membuatku dan Ayumi, mau tak mau, jadi kasihan.
Ayumi langsung menawarkan diri untuk membantunya dan memintaku untuk membantunya juga. Aku tak mampu berbicara ataupun menolak dan hanya bisa pasrah.
Wanita itu terlihat gembira dan sangat berterima kasih pada kami.
Ayumi lalu langsung menanyakan kemana saja wanita itu berkeliaran hari ini supaya kami bisa menelusuri jejaknya.
Aku tak ingin membantu wanita itu, apalagi mengingat peringatan Conan tadi bahwa wanita itu sepertinya tengah mengawasiku. Namun aku tak berdaya menghindari wanita itu karena Ayumi.
Aku menoleh menatap benang pada pergelangan tanganku dan tercekat saat melihat warna kuning pada benang. Waduh!
Aku menatap wanita itu berusaha melihat sikapnya mencurigakan atau tidak namun wanita itu sama sekali tidak memperhatikanku. Aku jadi paranoid. Mungkin jika bukan wanita ini, ada orang lain-kah ditempat ini yang bisa jadi potensi penyerang bagiku?
Jantungku berdebur keras. Aku ingin pergi dari sana namun aku tak enak dengan Ayumi dan tak ingin anak itu jadi melihatku sebagai seorang yang tidak sopan jika aku menolak membantu wanita itu. Ayumi kelihatan sangat bertekad untuk membantu wanita itu.
"Perlulah kita meminta bantuan Conan?" usulku. Conan memiliki alat-alat yang bisa melumpuhkan wanita ini jika dia berniat macam-macam.
Ayumi hendak menyetujuinya namun wanita itu menolak dengan alasan tak ingin merepotkan yang lain. Wanita menyuruh kami berpencar untuk mempercepat pencarian kalungnya.
Saat aku sendirian, aku segera mengeluarkan smartphone-ku dan mengontak Conan namun tidak dijawab. Aku langsung mengetikkan pesan SOS pada anak itu. Aku terganggu akan sesuatu yang kulihat disalah satu gundukan tanah. Sebuah kalung. Aku memasukkan smartphone-ku ke dalam saku dan memungut kalung tersebut. Mataku membelalak lebar saat melihat bandul kalung itu karena bandulnya sama dengan yang pernah diberikan oleh Reina kepadaku.
Jantungku berdebur keras menyadari bahwa ada seorang pemilik mata shinigami lain ditempat ini. Tapi…siapa? Aku tak melihat orang yang data kematiannya tidak bisa kulihat sebelumnya disini.
Aku merasakan ada seseorang yang mendekatinya. Dengan tenggorokan tercekat, aku perlahan menoleh ke belakang dan aku melihat wanita itu tengah mengamatiku dengan wajah dingin.
"Ah, kau menemukan kalung ayahku..."
Aku tercekat mendengarnya. "Kalung ayahmu...?"
Mei perlahan tersenyum dingin. "Kau sangat mengingatkanku akan dirinya...dengan mata-mu itu yang berkilat kemerahan...seperti...seorang yang kesurupan..."
Aku perlahan melangkah mundur hendak menjauhi wanita itu.
"Aku tak mengira akan bertemu lagi orang yang seperti ayahku...dengan mata terkutuk itu..."
"Aku tak mengerti apa maksudmu..."
Senyum diwajahnya memudar dan dia menatapku dengan datar. "Masih mau berbohong?" Dia melesat mencengkram satu tanganku dan tangannya yang lain mencengkram daguku. "Padahal matamu pun saat ini tengah memerah seperti setan?"
Aku berontak berusaha melepaskan diri namun cengkraman wanita itu kuat juga. Aku melihat dari jauh Ayumi tengah mendekati kami. Aku langsung menjerit. "Ayumi lari!"
Wanita itu segera membengkam mulutku dengan sebuah saputangan. Untungnya Ayumi yang sempat kebingungan cepat melihat situasi dan segera berlari. Aku harap dia mencari Conan dan memberitahu situasiku. Namun aku kehilangan kesadaranku, menyadari lagi-lagi aku kena obat bius.
Saat aku tersadar kembali, aku berada dalam cengkraman lengan wanita itu. Kepalaku terasa berat dan tubuhku lemas. Aku melihat Papa, Conan, Ran, Sonoko, Ai dan anak-anak lainnya tengah berdiri dengan wajah tegang mengamati kami.
"Anak ini sama seperti ayahku! Dia akan menjadi pembunuh juga cepat atau lambat! Aku tahu jelas! Apalagi setelah mendengar percakapan anak ini denganmu...koma 6 bulan...sama seperti ayahku. Awalnya ayah masih bersikap normal walau dia kehilangan ingatan namun beberapa bulan kemudian, dia mulai bersikap aneh dan matanya sama seperti anak ini berkilat kemerahan. Lalu ayah seperti kehilangan kewarasannya dan membunuh ibu lalu mencoba membunuhku... Aku nyaris mati karenanya...tapi aku selamat...setelah itu beberapa kali selama bertahun-tahun ini, aku bertemu dengan orang yang sama dengan ayahku...dan sama seperti ayah, mereka seperti kesurupan..."
Aku perlahan menyadari bahwa wanita ini sudah terpojok karena dia berada diujung bukit bersamaku dan Conan yang lainnya tengah menghalanginya. Wanita itu mengancamku dengan pisau membuat yang lain tak berdaya untuk menyerangnya.
"Sadarlah! Anak itu hanya anak kecil biasa! Mata merah apaan?!" seru Sonoko.
"Hentikan ini semua! Tolong lepaskan anakku!" pinta Papa.
Semua orang berusaha membujuknya.
"Aku melihatnya dengan jelas! Aku tahu kau juga melihatnya!" Dia menunjuk Conan. "Aku mendengar percakapanmu dengan anak ini! Jangan berbohong! Ini adalah tujuan hidupku sekarang! Setelah kejadian dengan ayah dan bertemu dengan orang-orang dengan mata berkilat kemerahan sepertinya, aku tahu! Aku tahu bahwa aku harus memusnahkan orang-orang yang bermata seperti itu! Ini pasti sudah takdir, karena aku berada disini saat anak ini juga ada disini..."
Aku mulai menangkap penjelasan wanita itu dan menyadari dengan ngeri bahwa wanita itu sepertinya, entah kebetulan atau tidak, bertemu dengan pemilik mata shinigami. Juga sepertinya dia bertemu dengan mereka yang memang berniat membunuh seperti Tatsuo atau kemungkinan terburuk, dia bertemu dengan mereka yang seperti dikatakan Shirou, pemilik mata shinigami yang sudah kehilangan kewarasannya. Entah bagaimana, wanita ini, sama seperti Conan, bisa melihat kilauan mata shinigami. Dan dari penjelasan dia tadi, sepertinya aku bukan korban pertamanya. Dan aku sepertinya memang sial karena kebetulan bisa bertemu wanita itu disini. Aku perlahan bertukar pandang Conan, ketakutan dan kengerian terpancar jelas pastinya pada wajahku.
"Nona Kurosu, tolong hentikan semua ini, Kak Eva hanyalah anak kecil biasa..." bujuk Conan.
Namun wanita itu tak mau mendengarkan bujukan semua orang. Tiba-tiba saja, dia melemparku dari atas bukit. Aku sangat tidak berdaya saat tubuhku melayang jatuh kebawah bukit. Aku dapat mendengar jeritan semua orang.
Aku memejamkan mataku kuat-kuat. Yohan! Aku meneriakkan nama shinigami itu, berharap dia akan menolongku.
777
Antara setengah sadar dan tidak, aku menyadari paramedis datang tengah berusaha memindahkan tubuhku yang terluka. Aku mengerang pelan saat rasa sakit menyerangku. Sekilas aku melihat dedaunan hijau dalam pandanganku. Rupanya aku jatuh dan mendarat diatas sebuah pohon, namun aku tetap terluka.
Antara setengah sadar dan tidak, aku melihat Papa dan Mama tengah menangisiku saat aku dibawa dengan brankar ambulan. Paramedis melarang mereka masuk ke ambulan karena mereka harus fokus memberi pertolongan pertama kepadaku.
Antara setengah sadar dan tidak, aku melihat salah satu paramedis mempersiapkan sebuah suntikan dari sebuah tabung berisi cairan warna biru dan sepertinya dia sedang berbicara dengan seseorang yang tak bisa kulihat.
"Do it."
Aku menjerit kesakitan setelah dia menyuntikku namun aku tak tahu apakah suaraku keluar atau tidak. Seluruh tubuhku terasa seperti terbakar.
UNUNUNUN
Jatuh. Aku jatuh dalam kegelapan yang dingin. Aku perlahan membuka mataku dan melihat kilatan cahaya-cahaya putih yang menyerupai layar putih disekitarku ditengah kegelapan. Aku masih terus jatuh dan aku merasakan ketakutan karena jatuhnya terasa cepat dan seperti tanpa akhir.
Ada suara-suara dari dalam cahaya putih tersebut.
Aku menggerakkan tangan seakan berusaha meraih salah satu cahaya itu, berharap itu bisa menghentikan arus jatuhku. Namun saat aku menyentuhnya, tanganku serasa seperti terbakar.
UNUN
Aku sedang duduk dilantai. Ada kertas-kertas berserakan dihadapanku. Aku mengambil salah satu kertas yang ternyata secarik artikel dari koran yang sudah agak lama. Diberitakan seorang gadis kecil bernama Miyuki menghilang seusai menghadiri pesta ultah temannya.
UNUN
Aku sedang berjalan dikeramaian dan aku melihat Azusa tersenyum cemerlang kepadaku. Aku ingin membuka mulut untuk berbicara namun rasa sakit menghantam kepalaku.
UNUN
Aku sedang duduk dikursi penumpang bagian depan mobil. Aku melihat ada Amuro disisiku. Dia sepertinya tengah berusaha menarik lepas sabuk pengamanku yang macet, membuatku terperangkap ditempat. Tak jauh dari jendela disisiku aku melihat kereta api yang tengah mengarah ke arah kami. Mobil itu tak bisa jalan dan terhenti tepat direl kereta api. Aku menyuruhnya lari meninggalkanku namun dia menolak. Aku pun sengaja memanggilnya Rei Furuya yang sangat mengejutkan orang itu.
UNUN
Tubuh Akai berlumuran darah dipangkuanku dan aku hanya bisa menangis sekeras-kerasnya. Saat itu, aku melihat bayangan diriku yang terpantul pada permukaan berkaca. Seorang wanita yang terlihat asing balik memandangiku pada pantulan tersebut. Dan dibelakang wanita itu berdiri seorang pria berpakaian serba hitam tengah mengarahkan pistolnya tepat dibelakang kepalaku.
UNUN
Aku berdiri ditengah hujan badai yang lebat. Furuya dan Akai tengah menodongkan pistol kepadaku yang tengah menggenggam erat sebuah remote trigger.
UNUN
Aku melihat sesosok gadis kecil tengah menangis dalam kegelapan. Dan dari sudut pandangku itu, aku merasa melihat diriku menjulurkan satu tangan kepadanya.
UNUN
Aku melihat...
Aku melihat...
Aku melihat...
UNUN
Aku menjerit kesakitan dan aku merasakan diriku mencengkram kepalaku kuat-kuat sembari memejamkan mata.
"Go deeper. See past the lies."
UNUN
"Miyuki? Rasanya aku tahu anak ini...tapi...rasanya tidak mungkin..."
"Apa-apain sih, Azusa? Aku sudah bilang aku bukan suka kepada dia!"
"Rei Furuya! Pergilah! Aku tak perlu kau mati disini bersamaku!"
"Akai? Akai! Tidak boleh! Kau tak boleh meninggalkanku seperti ini!"
"Jangan menghentikanku..."
"Aku hanya ingin menghilang saja... Aku lelah."
"Reset button? Memangnya ini game?"
"Satu mati semua mati! Itu kan yang kalian mau?!"
"Kesalahan terbesarku adalah keberadaanku didunia ini? Kalau begitu, singkirkan aku sekarang juga! Aku tak berminat memainkan game bodoh kalian!"
"Jika aku melakukan yang kau mau, kau akan berhenti menggangguku?!"
UNUN
Aku mengerang kesakitan. Tolong aku! Sakit sekali! Papa! Mama!
UNUN
Aku jatuh dalam pusaran kegelapan tanpa henti. Kapan berhentinya?
UNUN
Aku tersentak bangun dalam kegelapan. Aku merasakan ada sesuatu disekitar kepalaku. Semacam sebuah helm namun benda itu sungguh menyesakkanku. Aku berusaha membuka helm itu dan merasakan kepanikan saat aku menyadari aku tak bisa membukanya.
Suara alarm yang keras mengagetkan diriku. Aku segera berusaha fokus untuk menarik lepas helm itu namun sia-sia saja.
"Wow, lihat, dia benar-benar bangun. Ngeri sekali."
Aku tersentak kaget mendengar suara seorang pria namun helm itu menutupi pandanganku sehingga aku tak bisa melihat apa-apa. Aku membuka mulut untuk berbicara namun tak ada suara yang keluar.
"Kalian sedang apa? Cepat kembalikan dia ke tempatnya!" tegur seorang wanita.
Ada yang menyentuhku dan aku langsung memberontak. Aku membuka mulut untuk menjerit walau aku tahu bahwa tak akan ada suara yang keluar.
UNUN
Seorang anak kecil berambut mop ikal yang menutupi kedua matanya berdiri didepan sebuah pintu besi. Dia tersenyum kepadaku.
UNUNUNUN
Aku perlahan bangun kembali. Kesadaranku masih pulang-pergi tidak jelas. Aku merasa kepala dan seluruh tubuhku sakit. Sepertinya aku sudah berada di kamar rumah sakit.
Aku menoleh ke samping saat mendengar suara beberapa orang yang tengah berbicara namun aku tak bisa melihat siapa yang tengah berbicara.
"Itu cuma ucapan wanita sinting. Mata merah apaan?"
"Tapi dia bilang koma 6 bulan? Dia benar bilang begitu?"
Aku memejamkan mata kembali, gagal untuk tetap bangun.
Saat aku bangun lagi, seseorang tengah mempersiapakan suntikan dengan tabung berisi cairan kuning.
"Bertahanlah, nak, ini demi kebaikanmu."
Lagi-lagi aku merasakan rasa sakit yang amat sangat dan aku ingin menjerit namun suaraku sepertinya tidak ada.
777
Saat aku bangun setelah demam yang panjang yang membuatku terus bermimpi aneh dan buruk, aku mendapati diriku benar sudah ada dirumah sakit.
Papa menggenggam erat tanganku sembari menangis dan dia mencium tanganku.
Mama berdiri disampingku sembari memandangiku dengan mata kemerahan sehabis menangis. Dia merangkul dirinya sendiri. Dia kelihatan sungguh lelah.
Rupanya aku selamat karena secara kebetulan aku jatuhnya mendarat pada cabang pohon yang lumayan rindang. Bahkan dokter dirumah sakit pun mengatakan diriku sungguh beruntung.
Setelah pemeriksaan rutin, kondisiku dinyatakan sudah aman.
Aku termenung sendiri saat memikirkan kejadian yang menimpaku. Aku sungguh sial bisa bertemu terus dengan orang yang berniat membunuhku terus-menerus.
Kata Papa, selama demam, aku sepertinya mengalami mimpi buruk berkepanjangan namun aku sama sekali tak teringat aku mimpi apa. Tetapi kesan yang kudapatkan...rasanya aku tengah berada dalam berbagai macam fanfiction? Percuma saja aku berusaha mengingat-ingat karena ingatanku akan itu kosong melompong. Aku hanya ingat berada dalam kegelapan dan sebuah suara.
"Kau membuatku repot saja... Aku bukan pembantumu. Jangan sembarangan memanggil-manggilku."
Aku mengenali suara Yohan. Sepertinya orang itu yang telah menolongku. Aku tak begitu ingat jelasnya. Aku menoleh memandangi benang pada pergelangan tanganku yang sudah kembali berwarna hijau.
