Author's note: Karir Penulis di Fanfic Shingeki no Kyojin memasuki babak kedua! Mari bertepuk tangan *prok prok prok!*! Kita masih berada di pasangan yang sama alias Armin x Annie. Bagi yang tak suka, harap pergi jauh-jauh.

Berbeda dari fanfic Penulis sebelumnya yang bertema dunia orang dewasa, kali ini temanya anak sekolahan. Tapi Penulis bosan dengan tema anak SMA, jadi Penulis memilih sesuatu yang lain. Sebuah sekolah yang juga setingkat dengan SMA. Tentu saja fanfic ini dibalut oleh berbagai genre seperti; romance, drama, humor, friendship, daily life, dan action. Mari berharap di chapter pertama ini para pembaca tidak menemukan kebosanan.

Oh, ya. Penulis memaksudkan fanfic ini lebih lama daripada fanfic Benang Tak Terlihat. Karena kalian 'kan tahu sendiri kalau yang namanya sekolah itu banyak event, 'kan? Belum lagi penggambaran kondisi ketika mereka belajar. Yaa, begitu deh. Sebenarnya bisa dikatakan untuk pembangunan karakter juga.

Kalau begitu, langsung baca saja dan jangan lupa tinggalkan komentar.

.

.

Disclaimer : Isayama Hajime

GADIS IKON SEKOLAH

Halaman Satu: Musuh Utama Adalah Perempuan?

By Josephine Rose99

Notes: Peringatan dari Penulis. Beberapa tokoh di fanfic ini memiliki sifat atau karakter yang berbeda dari manga atau anime aslinya. Singkatnya, OOC (Out of Character). Penulis memaksudkan ini sebagai pemanis atau sebagai humor belaka. Karena itu jangan protes. Kalau protes, Penulis akan lempar ke laut.

.

.


Prolog...

.

Terkadang ada tujuan lain di balik pemikiran murid-murid sekolah menengah yang sebentar lagi menuju dunia kampus atau lebih jauhnya lagi, dunia kerja. Mereka yang muak mempelajari mata pelajaran umum berpikir bahwa sudah saatnya mereka menemukan keinginan di dalam bakat masing-masing. Dengan membuat diri ini menguasai beberapa bidang tertentu, mereka dapat bersaing di dunia kerja profesional meskipun tidak menjadi mahasiswa. Ya, jawaban dari keinginan mereka hanya satu. Dan itu adalah...

Sekolah Kejuruan.

Bicara soal Sekolah Kejuruan, salah satu negara adidaya di dunia bernama Eldia memiliki sebuah Sekolah Kejuruan paling terkenal yang berpusat di Ibukota negara, kota Sina. Tepatnya di jalan Carnaby nomor 60, blok 1 kota Sina. Setiap tahun jumlah calon murid yang ingin menjadi bagian dari sekolah itu terus meningkat, bahkan dari negara lain sekalipun. Mengingat itu sekolah spesial, tentu saja harus melewati serangkaian tes ketat seperti tes tertulis, tes fisik dan kesehatan, tes bakat, dan wawancara. Hanya orang-orang cerdas, berbakat atau beruntung saja yang bisa diterima.

Eldia Shingeki Gakuen adalah nama dari Sekolah Kejuruan itu. Sekolah ini menyediakan delapan jurusan bagi para murid, yaitu:

Industri, Pertanian, Kesehatan, Sosiologi, Praktik Komersial, Busana dan Kecantikan, Budaya, dan Tata Boga.

Salah satu kehebatan dari sekolah ini adalah para siswa belajar sambil bekerja juga digaji. Berbeda dengan karyawan, para murid hanya bekerja minimal 25 jam per minggu dan maksimal 30 jam per minggu. Dan itupun bekerja di sekolah. Permintaan proyek atau pekerjaan lainnya akan datang ke sekolah ini, lalu para guru akan menyerahkannya pada siswa-siswi sesuai jurusan dan bidang minat mereka. Itu telah diatur dalam sistem peraturan sekolah Elshin. Maklum, sekolah ini banyak bekerja sama dengan berbagai perusahaan.

Hebat, bukan? Elshin Gakuen atau ESG itu. Karena itulah banyak seniman, artis, sutradara, penyuluh, dokter, kimiawan, chef, dan pebisnis terkenal berhasil dicetak dari Sekolah Kejuruan ini baik melanjutkan ke universitas atau tidak.

Eit, tapi jangan kagum dulu. Karena apa? Pertanyaan bagus. Sehebat-hebatnya sekolah ini dilihat dari luar, ada pertempuran habis-habisan di dalamnya. Pertempuran yang tak pernah menemui akhir dari era para senior dulu. Tingkat premanisme yang tinggi di sekolah ini benar-benar membuat para guru pusing tujuh keliling. OSIS pun sampai kewalahan. Karena itu, mereka hanya bisa berharap pada sebuah organisasi siswa yang tidak dinaungi OSIS ini. Sebuah organisasi yang menjadi tonggak harapan sekolah.

Organisasi siswa ini didirikan oleh tiga murid saat mereka masih di kelas satu dulu. Meski sekarang mereka sudah duduk di kelas tiga, harapan mereka masih menyala terang tatkala melihat para 'pewaris' di kelas satu yang siap menerima misi dari mereka.

Menyatukan Elshin Gakuen.


.

.

.

GADIS IKON SEKOLAH

HALAMAN SATU

MUSUH UTAMA ADALAH PEREMPUAN?

By Josephine Rose99

.

.

.

Trio sekawan sejak kecil menghentikan langkah mereka tepat di depan gerbang Elshin Gakuen. Berdiri tegak membelakangi sinar mentari pagi dengan perasaan bangga. Mereka menatap lekat-lekat tulisan 'Selamat Datang di Eldia Shingeki Gakuen' di atas gerbang. Ya, saat ini adalah waktu yang ditunggu-tunggu setelah sekian lama belajar dan mengembangkan bakat mati-matian supaya bisa menjadi murid di Sekolah Kejuruan ternama.

Seorang anak laki-laki yang berambut coklat pendek dan bermata tegas di antara mereka sedang tersenyum unjuk gigi. Tak memedulikan murid-murid berlalu lalang di sekitar, dia fokus untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan sejak dulu.

"Kita sudah sampai, Mikasa, Armin. Tempat tujuan kita."

Seorang murid perempuan berambut hitam pendek yang dipanggil Mikasa mengangguk kecil, "Hm."

Diikuti oleh anggukan mantap dari seorang anak laki-laki berambut bob pirang sebahu bernama Armin di sampingnya, "Ya."

Namun kemudian perhatian si rambut bob teralihkan pada sebuah keributan yang mendadak terdengar dari balik sekolah. Armin menyipitkan mata, melihat baik-baik dari kerumunan orang di depan. Baiklah, hasil kesimpulan menyatakan bahwa ada sesuatu yang tak beres.

"Umm... Eren...?"

"Yossha! Di sekolah ini aku akan berusaha menjadi nomor satu di jurusan Industri! Akan kutunjukkan kalau aku bisa menguasai seluruh perindustrian di Eldia!" walah, bocah bernama Eren ini malah bermain drama sambil mengacungkan tinju ke atas segala. Apa dia tidak lihat para murid sudah berhamburan masuk supaya bisa menjadi saksi mata atas entah apa yang terjadi?

"Eren!" beruntung Mikasa langsung menyadarkan bocah gila dengan mengguncang bahunya.

Drama Eren terpaksa diganggu dulu karena dia sudah melirik Mikasa kesal, "Ada apa, Mikasa?"

"Lihat itu," balas Mikasa menunjuk keributan di depan mereka. Eren pun melihat ke arah yang ditunjuk Mikasa, sebelum kemudian kedua alisnya terangkat terkejut.

"Apa yang terjadi disana?" tak ada orang yang bisa menjawab pertanyaanmu sekarang, Eren. Karena itu hanya ada satu solusi, bukan? "Ayo, Mikasa! Armin!" serunya yang selanjutnya langsung berlari maju melewati gerbang.

Tanpa banyak protes, Armin dan Mikasa ikut berlari mengikutinya dari belakang.

.

.

Lalu apa yang terjadi di lorong paling depan di Elshin Gakuen yang menjadi pusat perhatian para murid ini?

"Hoi, anak Kecantikan! Hari ini juga aku akan membalaskan dendamku!" seorang murid laki-laki menunjuk laki-laki di depannya dengan tidak senonoh. Tak peduli orang-orang berkumpul di sekitar mereka berdua, dia tetap akan menyelesaikan pertikaian ini.

Melihat nama jurusannya dibawa-bawa, laki-laki ini membalas, "Heh! Pergilah ke dapur dan hitamkan saja wajahmu dengan arang, dasar tata boga sialan!"

Tinju kedua orang itu sudah dalam posisi ancang-ancang. Siap saling baku hantam. Tapi anehnya tak ada satupun dari orang-orang di sekitar mereka berniat menghentikan. Malah bersemangat menyoraki bak bocah-bocah labil. Hhhh... dasar anak-anak era sekarang.

"HAJAR! HAJAR! HAJAR!" teriak mereka menggebu-gebu, mengangkat kepalan tangan.

"PUKUL DIA!"

"HABISI JURUSAN KECANTIKAN!"

"AKHIRI JURUSAN TATA BOGA YANG HANYA BISA MEMASAK MAKANAN BABI ITU!"

Waduh.

Tampaknya situasi memburuk ya, saudara-saudara? Sampai keluar kata-kata yang tak pantas. Jadi, sekarang bagaimana? Yang benar saja di hari pertama trio sekawan bersekolah di sekolah impian, mereka sudah harus melihat pertengkaran senior kelas dua. Di lorong utama paling depan sekolah pula!

"Apa-apaan orang-orang ini? Kenapa tidak ada para senior yang mencoba menghentikan?" Armin celingukan menatap semua orang disana. Suaranya saja nyaris ditelan keramaian yang sekarang mengumandangkan semangat pertarungan.

Mikasa hanya diam saja. Hanya menjadi penonton setia. Beda cerita dengan Eren. Pria ini menggeretakkan giginya penuh emosi. Jiwa pahlawan dan cinta damai sepertinya merasa terpanggil untuk segera maju. Mikasa yang menyadari hal itu segera menahan bahu Eren. Dia takut saja kalau bocah itu main maju serampangan tanpa melihat bahwa dirinya hanya murid baru.

"Eren, jangan!"

"Lepaskan, Mikasa! Aku tak bisa membiarkan ini!"

"Ini hari pertama kali kita masuk ke sekolah. Sebisa mungkin, kita tak boleh terlibat dengan masalah apapun," alasan cerdas, Mikasa. Sayangnya itu belum cukup bagi Eren.

"Jadi kau ingin aku hanya melototi mereka, begitu? Pokoknya aku takkan—"

"Tenanglah, Eren. Semua akan baik-baik saja," Armin menyela protes Eren. Memperlihatkan senyum kecil serta raut wajah tenang, "Kalau ini memang benar-benar Elshin Gakuen yang kita dengar, berarti orang-orang itu akan segera datang!"

Mata Eren membulat.

Benar juga. Benar yang dikatakan Armin. Isu yang sering mereka dengar sejak masih di SMP Shiganshina dulu. Karena isu itulah timbul keberanian mereka untuk semakin memantapkan diri masuk kemari.

Drap drap drap!

BUAGH! BUAGH! DUAGH!

BRUKK! PLETAKK!

Itu dia sinyalnya!

Suara seseorang berlari yang secepat kilat melewati kerumunan orang-orang yang menghalanginya. Menggunakan kedua sapu yang diambil dari gudang sekolah, laki-laki pendek bermata sinis ini menghantamnya pada setiap murid yang dia lalui. Benar-benar sangat kuat sekaligus cepat! Para murid yang kena tabok dua sapu itu berjatuhan dengan posisi tidak elit sekali. Bukan hanya itu, melihat sosoknya saja berhasil membuat murid-murid lainnya buru-buru menjauhkan diri sebelum ikut menjadi korban.

"MINGGIR! MINGGIR!" teriak seorang murid perempuan yang juga ikut melarikan diri.

"DIA DATANG, TEMAN-TEMAN! SELAMATKAN DIRI KALIAN!"

"ITU LEVI! LEVIIIIII!"

Kedatangan seseorang yang bernama Levi itu juga memiliki dampak pada dua murid yang sedang berkelahi tersebut. Seketika tubuh mereka merinding serasa dipelototi Sadako. Pertengkaran tampaknya harus ditunda dulu karena menyelamatkan nyawa masing-masing lebih wajib di situasi begini. Namun belum sempat mereka lari, mata Levi sudah berkilat-kilat ke arah mereka dan sedetik kemudian, kedua sapu yang dia jadikan senjata dadakan itu mendarat cantik di kepala kedua murid. Tubuh mereka spontan berputar-putar di udara yang lalu jatuh menghantam lantai.

BRUKK! BRUKK!

Begitulah backsound jatuhnya dua murid bermasalah tersebut. Mari berdo'a semoga kepala dan punggung mereka masih baik-baik saja setelah ini.

Dari posisi tubuh membungkuk nyaris berlutut, Levi kemudian berdiri tegak membelakangi mereka. Sungguh pose yang sangat keren untuk menunjukkan dedikasi dirinya kepada sekolah.

"Jangan mencari masalah di sekolah ini. Buta domo ga..." ucapnya sambil melirik ke belakang. Kepada dua murid laki-laki yang sedang tak sadarkan diri.

Berikan tepuk tangan padanya, para pembaca! Benar-benar penyelesaian masalah yang cukup apik dari Levi Ackerman! Eren, Mikasa dan Armin hanya melongo melihat adegan aksi barusan. Sangat terpukau pada kharisma dan kekuatan seorang Levi.

Hiraukan orang-orang dari UKS yang datang membawa tandu untuk dua korban. Karena setelah kehadiran Levi, datang seorang murid perempuan berkacamata yang berambut coklat kemerahan diikat ekor kuda dari belakangnya. Murid tersebut memakai jas laboratorium yang melapisi pakaiannya. Kemeja putih berpola garis-garis biru itu dan celana panjang bewarna biru gelap dalam pola kotak-kotak itu semakin menambah style dirinya.

Oh, benar juga. Berbeda dengan trio sekawan yang memakai seragam utama Elshin, yaitu blazer merah, dasi hitam berpola garis-garis biru, dan rok atau celana hitam berpola kotak-kotak, pemuda bernama Levi dan murid perempuan itu memakai pakaian bebas. Jadi, mereka berdua adalah senior di sekolah ini?

"Hahaha! Lagi-lagi kau bisa mengatasi ini dalam waktu singkat, Levi!" ujar perempuan itu tertawa renyah.

Levi hanya mendengus kasar, "Itu karena kau terlalu sibuk dengan penelitian bodohmu, kuso megane."

Perempuan itu cuma menyengir tanpa dosa. Kemudian matanya menangkap sosok tiga murid baru kita yang jadi patung disana. Padahal semua orang sudah melarikan diri.

"Hm? Aku tak pernah melihat kalian sebelumnya? Murid baru?" tanyanya.

Mereka bertiga begitu gugup ditanyai teman dari laki-laki yang barusan begitu memukau. Namun Armin adalah orang yang menjawab pertanyaannya, "Ha-Ha'iii.."

"Begitu? Heeee..." perempuan itu memegang dagunya, pose berpikir. Lalu seketika melemparkan senyum ramahnya, "Salam kenal, para junior! Namaku Hange Zoe, dari jurusan Kesehatan. Dan orang mengerikan ini adalah Levi Ackerman dari jurusan Industri. Kalian tak perlu takut, dia ini tak menggigit sama sekali."

"Sa-salam kenal, senpai!" tanpa komando mereka bertiga membungkukkan tubuh, memberi salam.

Meski mendapat salam sopan begitu, Levi tak begitu mempedulikan. Padahal satu di antara mereka adalah adik sepupu dari keluarga Ibunya. Dia lebih memilih meninggalkan tempat itu dengan memanggul kedua sapunya di bahu kanan, "Ayo pergi, Hange!"

"Ooosh!" jawab Hange. Kemudian dia menoleh pada Eren dan yang lain, "Sampai ketemu lagi!" begini katanya sambil melambaikan tangan dan berlari mengikuti Levi.

Masih terpukau, tak ada satupun dari mereka yang bergerak dari sana. Walau seharusnya mereka menuju aula dimana acara penyambutan murid baru dilaksanakan, Eren, Mikasa dan Armin tak percaya melihat dua tokoh dari sebuah organisasi yang selama ini mereka dengar kabar burungnya saja. Terutama saat tak sengaja melihat logo sayap burung yang mengepak di bahu kanan pakaian Levi. Mata mereka semakin berbinar-binar saja.

"Kalian melihatnya?" tanya Eren sambil berharap dia tak salah lihat.

"Ya," jawab Mikasa singkat.

Armin meneguk ludahnya saking terkejutnya. Dengan tubuh sedikit gemetar, dia berkata, "Tidak salah lagi... Mereka adalah Survey Corps..."

Pertemuan pertama dengan kesan luar biasa.

Mulai hari ini perjalanan mereka di sekolah ini akan mengubah hidup para murid yang terlibat. Bahkan mengubah tujuan serta pandangan salah satu dari trio sekawan tersebut.

...

~Gadis Ikon Sekolah Page One~

...

.

.

Ekspresi pertama yang ditampilkan ketiga orang ini saat memasuki aula adalah shock.

Kenapa? Baiklah. Siapa sangka aula sekolah ini luar biasa besar!? Sudah begitu, para siswa bukannya berdiri seperti aula saat masih SMP dulu. Telah disediakan kursi layaknya kursi bioskop bewarna merah yang berjejer panjang. Aula sebesar ini pasti mampu menampung hampir lima ribu murid! Di depan aula, terlihat jelas sebuah panggung yang tirainya sudah dibuka. Bukan hanya itu. Di panggung tersebut ada beberapa kursi serta sebuah podium.

Saking bersemangatnya, mereka bertiga berlari menuruni tangga-tangga kecil demi mengincar kursi paling depan. Ya, mereka duduk tepat di depan tengah dengan posisi Eren diapit oleh Armin dan Mikasa. Setelah itu, murid-murid baru pun juga ada yang memburu kursi terdepan juga. Mereka berlomba-lomba untuk merasakan aula sebesar ini dari posisi terbaik. Yaah, terlepas dengan apa yang terjadi di lorong depan sekolah sebelumnya.

Wah, tampaknya acara penyambutan murid baru akan semakin mendebarkan.

Tak sampai 15 menit setelah trio sekawan duduk, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dari seluruh speaker yang dipasang di setiap sudut atas aula.

Sebentar lagi acara penyambutan murid baru Eldia Shingeki Gakuen akan dimulai. Harap bagi seluruh murid untuk segera duduk dan menjaga ketertiban selama acara berlangsung. Terima kasih.

"Woowww..." gumam trio sekawan kompak dengan noraknya. Maklum, dulu saat masih bersekolah di SMP Shiganshina, speaker aula hanya satu. Sudah begitu, karena usianya hampir ratusan abad, kualitasnya pun jadi jelek dan terkadang suara terputus-putus.

Hhhh... menyedihkan sekali. Mereka bersyukur bisa bersekolah di tempat elit begini.

Tak lama setelah pengumuman, dari kiri panggung muncul satu per satu para guru. Suasana jadi mendadak hening. Para guru pun duduk di kursi masing-masing, sementara seorang pria tua botak berkumis berdiri di podium. Menatap seluruh isi aula yang diisi murid-murid barunya. Tiap tahun tak berubah. Suasananya tetap sama. Yup, inilah yang dipikirkan pria ini.

Tapi... siapa pria tua ini?

"Ehem!" berdeham basa-basi adalah hal yang pertama kali dia lakukan. Selanjutnya, matanya menatap lekat pada semua murid, "Selamat datang di Eldia Shingeki Gakuen. Saya adalah kepala sekolah dari Sekolah Kejuruan ini, Dot Pixis. Senang bertemu dengan kalian semua,"

Oooohh...

Kepala sekolah, ya?

"Alasan kenapa saya langsung menyambut kalian tanpa pembawa acara adalah karena ini adalah hal yang selalu saya lakukan setiap kali penyambutan murid baru. Bicara langsung pertama kali pada orang-orang muda seperti kalian setidaknya bisa memberikan jiwa muda pada diri saya yang sudah tua ini. Hahahaha!"

Hening. Tak ada yang tertawa. Setidaknya tak ada yang ingin tertawa hambar. Benar-benar lelucon tak lucu, Pak Kepsek.

Namun dia sudah menambahkan lagi, "Meskipun begitu, saya tetap menaruh harapan pada kalian untuk tetap menjaga nama baik sekolah ini. Jadilah generasi muda yang baik juga berguna. Jangan malu jika kalian payah. Malulah jika kalian tetap payah. Ambil semua ilmu pengetahuan ataupun ilmu terapan di tempat ini. Tetap lakukan yang terbaik. Sekian," setelah berkata begini, dia turun dari podium dan duduk di kursinya bersama para guru.

Sangat padat dan jelas namun mengena di hati. Beri hormat kepada Pak tua Pixis yang memberikan kata-kata mutiaranya yang membuat hampir semua murid baru terharu!

Hampir semua. Hampir.

Baiklah, hiraukan semua haru diatas. Karena selanjutnya adalah pertunjukan dari serangkaian aksi para senior yang memeriahkan panggung. Seperti drama cinta yang membuat para murid perempuan ber-KYAAA ria, pertunjukan musik, tarian, peragaan busana, eksperimen sains—yang sudah pasti nyaris membuat semua orang tidur dalam lima detik kecuali Armin—, aksi bela diri sampai podiumnya ambrol jadi dua yang tentu saja mendapatkan pelototan maut dari para guru, paduan suara, dan sebagainya.

Hanya satu kata yang dapat menggambarkan semua hal di atas.

Awesome.

.

.

.

"Oke, Armin. Kita berpisah disini," ujar Eren pada Armin di salah satu perempatan lorong sekolah. Armin mengangguk paham dan berjalan ke sisi timur sekolah.

Meski kemudian dia berhenti lagi dan menoleh pada Eren juga Mikasa, "Saat jam istirahat, kita bertemu di depan aula, ya!" begini katanya melambaikan tangan.

"Baiklah!" jawab Eren singkat.

"Jaa ne, Armin!" sahut Mikasa ikut melambai.

Setelah Armin pergi, Eren kemudian mengajak Mikasa menuju kelas mereka yang sudah ditunjuk setelah acara penyambutan, "Ayo, Mikasa."

"Hn."

Ah, jika kalian ingin bertanya apa jurusan yang mereka ambil sampai berpisah begitu, maka jawabannya adalah sebagai berikut;

Eren Yeager: Jurusan Industri.

Mikasa Ackerman: Jurusan Industri.

Armin Arlert: Jurusan Kesehatan.

Oop, jangan tanyakan kenapa jurusan dan bidang Eren dan Mikasa sama. Tanpa Penulis beritahu pun, kalian pasti sudah tahu jawabannya. Biasa lah. Sang Juliet masih ingin bersama sang Romeo.

.

Time Flies

.

Satu jam pelajaran di masing-masing kelas tiap jurusan terjadi hal yang sama alias fase perkenalan. Namun bukannya wali kelas yang datang, melainkan para senior OSIS. Mereka masuk masuk ke habitat(?) murid baru masing-masing, mengabsen para murid, dan tentunya perkenalan diri. Trio sekawan a.k.a EMA (Eren, Mikasa, Armin) juga ikut memperkenalkan diri sekaligus mengungkapkan cita-cita ambisius mereka. Yah, katakan saja bahwa fase perkenalan di hari pertama berjalan lancar.

Namun semuanya berubah ketika waktu istirahat tiba.

Sesuai janji, Armin berlari kecil melewati koridor sekolah menuju tempat janji temu dengan Eren serta Mikasa, yaitu perempatan koridor yang menghubungkan antara gedung guru, gedung kelas, aula, dan gedung klub. Armin berlari terburu-buru karena bocah ini sadar dia terlambat 10 menit. Salahkan kenapa seniornya kebanyakan curhat soal keluarga sampai tangis drama segala. Dan asal kalian tahu. Mengingat Armin adalah siswa rajin, kata 'terlambat' bukan kamusnya.

Mata Armin membulat saat melihat sosok kedua sahabatnya bersandar pada dinding koridor. Segera dia memanggil mereka.

"Eren! Mikasa!"

"Armin," Eren berdiri tegak dari posisi bersandar. Memasukkan kedua tangannya ke kantung celana sembari menatap Armin yang datang mendekat, "Kau lama sekali. Dari mana saja?"

"Ah, maaf. Tadi seniorku terlalu banyak mengenalkan hal-hal tak penting," balas Armin terlalu jujur, "Baiklah, jadi kita mau kemana? Keliling sekolah?"

Mendengar pertanyaan Armin, Eren langsung unjuk gigi, "Tidak, Armin. Aku punya tujuan yang lebih menarik dari itu."

Armin mengernyitkan dahi. Padahal dia yakin semua siswa baru juga berpikir sama. Berkeliling sekolah itu pasti hal pertama yang dilakukan bocah-bocah yang baru berpakaian SMK. Tapi Eren justru berpikir lain dari yang lain. Si bocah pirang jadi berfirasat buruk.

"Kemana?"

"Apa kau lupa laki-laki yang menghentikan pertengkaran tadi? Kita akan menemuinya!" jawab Eren penuh semangat. Otomatis Armin melotot horor.

Bocah gila penyuka pertempuran ini mengajaknya menemui laki-laki yang menghabisi dua senior yang bertengkar tadi!? Armin lebih baik menghabiskan waktunya di perpustakaan daripada menemuinya!

"Hah? Levi-Senpai? Ta-tapi kenapa?"

"Levi-Senpai adalah Kakak sepupu Mikasa. Dulu Ibunya pernah bercerita pada Mikasa, dia sering mampir ke ruang OSIS. Mungkin saja dia disana. Makanya ayo temui dia! Kita akan memintanya untuk menerima kita menjadi anggota Survey Corps!"

Jiah, si bodoh ini. Sifat nekatnya belum hilang juga.

"EEEEEHHH!?"

Yang benar saja! Hari pertama dia ingin masuk ke organisasi yang paling ingin dijauhi Armin!? Ah, benar juga. Armin mengingat sesuatu. Alasan kenapa temannya yang ber-IQ satu digit itu mati-matian belajar demi lulus masuk Elshin. Ternyata ada udang dibalik batu. Bukannya karena ingin masuk ke sekolah terkenal berakreditasi elit, bocah bernama Eren itu cuma ingin bergabung dengan Survey Corps. Sungguh pikiran absurd diluar nalar, para pembaca.

Demi apapun, Armin harus cepat-cepat mengubah pola pikir Eren yang hobi bunuh diri, "Ka-kau serius, Eren?! Kau 'kan tahu sendiri kalau katanya Survey Corps diisi orang-orang kuat yang mengendalikan sekolah! Memangnya bisa?"

Bukannya sadar, Eren justru mengacungkan kepalan tinjunya, "Tentu saja bisa! Kita harus optimis!"

Percuma. Sangat percuma. Eren benar-benar tak mendengarkan seruan hati Armin sama sekali. Sekarang bagaimana?

"Tapi, Eren. Tunggu dulu," oh, benar juga! Kita melupakan sosok Mikasa yang lebih peka pada keadaan. Well, mengingat dia selalu memperhatikan Eren sampai diajak kenalan dengan pria-pria lain pun ditolak.

Maklum, sebagai sahabat sejak kecil, dia paham level kekuatan Armin. Apalagi ini soal Survey Corps! Organisasi yang diberi hak khusus oleh kepala sekolah Elshin untuk 'menjinakkan' kenakalan para siswa. Singkatnya, para siswa adalah samsak sasaran. Kalau Armin bergabung, justru dia yang jadi samsak, bukan siswa lain.

Sayangnya Eren belum peka, "Ada apa, Mikasa?" begini tanyanya super polos, tak menyadari puppy eyes dari bocah pirang di depannya.

"Kalau kita memang mungkin, tapi Armin... apa bisa?"

"Tentu saja dia bisa! Armin tidak selemah itu!" gagal total. Mikasa hanya bisa sweatdrop melihat Eren sekarang memegang erat kedua bahu Armin, "Armin, bulatkan tekadmu! Kau hanya butuh tekad! Kau pasti bisa menjadi kuat seperti kami!"

Hello, Eren bego.

Kau pikir ini komik sampai bawa-bawa tekad segala? Kau pikir bacot no jutsu mempan melawan siswa-siswa berandal ala preman kampung?

Cukup. Armin tak mau cari mati. Kalau begini, dia perlu mengeluarkan mengelak no jutsu yang sering dia gunakan menghadapi pendapat orang-orang keras kepala.

"A-ah! Aku baru ingat! Ponselku tertinggal di kelas! A-aku harus kembali! Kalian duluan saja ke ruang OSIS, nanti aku menyusul! Jaa!" yup, sesuai dugaan, Armin langsung lari terbirit-birit meninggalkan Eren yang cengo tak mengerti. Ck ck ck ck.

...

~Gadis Ikon Sekolah Page One~

...

.

.

Ambisi Eren terlalu besar sampai memilih lanjut mencari ruangan OSIS bersama Mikasa. Dan setelah bertanya kesana kemari, akhirnya langkah mereka dituntun pada sebuah gedung kecil yang dipisah dari gedung klub lainnya. Halamannya cukup asri. Beberapa pohon rindang ditanam disana serta dikelilingi beberapa jenis bunga. Ternyata orang-orang OSIS punya minat dalam dekorasi luar ruangan.

Tapi masalahnya bukan itu. Bukan pohon ataupun bunga-bunga, melainkan tekad Eren untuk terus maju menuju pintu ruangan OSIS. Tentu saja Mikasa selalu mengekor di belakangnya.

"Yoshaaa!" ini dia! Hari yang ditunggu-tunggu Eren sejak SMP!

KLAP!

Eren segera membuka pintu tersebut dan memberi salam, "Selamat pagiiii!"

Jika kalian berpikir yang didapat Eren adalah balasan salam, maka kalian salah besar. Kenapa? Itu karena Eren dan Mikasa mengangkat kedua alis mereka, bingung begitu menyaksikan beberapa murid sedang berbaris rapi menghadap tiga orang senior. Dan dua dari tiga senior tersebut adalah dua orang yang mereka lihat sebelumnya.

Suasana tegang memenuhi ruangan. Eren bisa merasakan atmosfer berat itu. Makanya, dia tak berani melangkah lebih jauh. Hanya berdiri diam di ambang pintu. Sampai akhirnya, senior ketiga yang tak mereka kenal menoleh pada mereka dan bertanya tepat sasaran.

"Apa kalian juga ingin mendaftar menjadi anggota Survey Corps?" beginilah tanya senior yang tingginya hampir dua meter tersebut.

Ditanyai begitu, Eren spontan menjadi gugup. Tapi itu belum mengendurkan semangat juangnya (halah)! "I-iya, Senpai! Kami sangat ingin menjadi bagian dari organisasi ini!"

"Kalau begitu, ikut berbaris seperti mereka. Tenanglah, hari ini Survey Corps menguasai ruang OSIS," ucapnya kalem.

Singkat cerita, Eren dan Mikasa juga ikut berbaris. Meskipun kedua mata Eren asyik melirik murid-murid disampingnya, penasaran akan tujuan mereka datang ke tempat ini. Apakah sama sepertinya?

Sebelum pertanyaan itu terjawab, salah satu senior yang sudah dia temui a.k.a Hange segera mengambil alih.

"Selamat datang, murid-murid baru! Biarkan aku memperkenalkan namaku dan kedua temanku ini," wah, orang ini benar-benar seperti matahari. Begitu bersinar dan tak membuat suasana tidak terus-menerus canggung, "Aku Hange Zoe, jurusan Kesehatan. Dan ini Levi Ackerman, jurusan Industri," Hange menunjuk Levi yang bersandar pada meja, melipat tangannya dalam pose keren, "Lalu dia adalah Mike Zacharias, jurusan Praktik Komersial," kali ini Hange menunjuk senior bertubuh tinggi besar yang berdiri tegak disampingnya, "Kami bertiga adalah pendiri organisasi ini sekaligus senior kelas tiga. Salam kenal!" kata Hange menutup sesi perkenalan.

"Salam kenal, Senpai!" jawab mereka serempak.

Eren akhirnya tersadar berkat kata-kata Hange. Jadi orang-orang disampingnya ini juga sama sepertinya, eh? Para murid baru. Ini membuat semangat Eren tambah membara.

"Nah, sekarang perkenalkan nama dan jurusan kalian berasal. Mulai dari kiri."

Sesi perkenalan anggota baru Survey Corps pun dimulai. Ingat baik-baik, para pembaca! Mereka lah calon pahlawan penyatu sekolah!

"Marco Bodt. Jurusan Praktik Komersial," seorang siswa berambut hitam pendek yang pipinya dihiasi bintik-bintik jerawat sebagai pemanis.

"Sasha Blouse! Jurusan Tata Boga!" seorang siswi berambut coklat panjang yang diikat ekor kuda.

"Eren Yeager! Jurusan Industri! Salam kenal, Senpai!" kalau ini tak perlu Penulis jabarkan. Lupakan soal dia, "Oh ya, Senpai. Saya juga mendaftarkan teman saya, Armin Arlert dari jurusan Kesehatan untuk bergabung. Tapi dia sedang sibuk, jadi tak bisa ikut kemari," eit, jangan lupakan dulu. Tepatnya ingatlah baik-baik betapa kampretnya Eren mengikut sertakan Armin dalam neraka bersamanya.

Kasihan sekali dirimu, Armin.

"Mikasa Ackerman. Jurusan Industri," ini juga sama. Lupakan dia.

"Jean Kirstein! Jurusan Praktik Komersial!" kali ini seorang siswa berambut coklat terang pendek yang wajahnya seperti... apa itu? Umazura (muka kuda)?

"Connie Springer! Jurusan Pertanian!" siswa botak, eh? Tubuhnya cukup pendek untuk orang yang tampak hiperaktif sepertinya.

"Historia Reiss. Jurusan Busana dan Kecantikan," ah, ini dia. Layaknya mentari di tengah kegelapan. Bagai setetes air di gurun sahara. Wajahnya yang sangat cantik itu sukses menjadi pelipur lara setelah melihat wajah-wajah dibawah standar seperti mereka.

Hiraukan Penulis yang malah mendiskriminasi. Lanjut!

"Reiner Braun. Jurusan Sosiologi. Salam kenal semua," hei, laki-laki berambut pirang pendek ini benar-benar siswa atau binaragawan? Kekar dan berotot begitu.

"Namaku Bertolt Hoover dari Jurusan Sosiologi," wah, siswa berambut hitam pendek ini memiliki tinggi hampir sama dengan Mike. Perbedaannya hanya dia bertubuh cukup kurus, sementara Mike lebih berotot.

Betapa beruntungnya Hange mendapat sembilan rekrutan baru. Ini sungguh hari yang harus dia ingat seumur hidupnya karena para murid baru itu nekat mendaftar di hari pertama sekolah.

"Oke! Mulai hari ini, mohon kerja samanya!" ucap Hange.

"HA'I!"

Berbeda dengan Hange, Mike langsung menyadari kondisi janggal di sela-sela sesi perkenalan. Wajahnya berubah serius, seserius ketika dirimu memasukkan air comberan ke dalam kopi untuk gurumu yang terus mengataimu bodoh di depan kelas.

"...Sesuai dugaan, huh? Levi?"

Sama sepertinya, Levi juga menyadari hal tersebut, "...Ya..."

"Eh? Apa ada yang salah, senpai?" tanya Connie bingung apa maksudnya.

Tidak ada jalan untuk mundur, Levi. Kalian memang harus menjelaskan titik masalah utama.

"Sebelum kalian kami terima menjadi anggota, ada sesuatu yang harus kami sampaikan," ucap Levi datar, "Hange."

Sial. Hange sempat mengira Levi yang akan menjelaskan, tapi malah dia sendiri. Apa-apaan laki-laki yang tak mau repot itu? Apa boleh buat. Kalau begini, terpaksa Hange turun tangan.

"Kami membentuk organisasi ini saat kami masih kelas satu. Tujuan organisasi ini didirikan untuk mengendalikan tingkat kenakalan bahkan kriminalitas semua murid. Kalian 'kan tahu sendiri kalau banyak murid preman disini, hahaha!"

Mata Jean langsung berbinar-binar. Terpukau dengan niat suci para seniornya, "Keren sekali, senpai!"

"Berarti senpai semua sudah menaklukkan seluruh sekolah ini, 'kan? Kami sudah lihat tadi bagaimana Levi-senpai menghentikan pertengkaran pagi ini!" sahut Eren terlalu naif.

Naif? Kenapa bisa? Ahahaha, bocah itu tak tahu saja soal perang dingin antar jurusan di sekolah ini.

Maka Hange langsung berceletuk, "Justru disitulah masalahnya."

"Eh?"

"Sebelum penerimaan murid baru tahun ini, Survey Corps memang sudah menyatukan seisi sekolah atas dasar sistem peraturan di sekolah ini. Murid-murid yang tak tunduk atau tak takut pada OSIS, kami selalu menghentikan mereka sehingga tingkat premanisme di sekolah ini menurun. Namun itu semua tak berlaku lagi sejak tahun ajaran baru ini dimulai."

Wow, kedengarannya serius.

Dengan takut-takut, siswi bernama Sasha ikut bertanya, "Apa maksud senpai?"

"Dari tahun ke tahun, ada satu jurusan yang menjadi musuh alami Survey Corps. Murid dari jurusan ini tak pernah mengikuti organisasi murid disini, kecuali kegiatan ekstrakurikuler. Sebelum Survey Corps berdiri, para senior terdahulu pun sering berkelahi dengan jurusan tersebut demi bisa menyatukan sekolah. Tak heran dari semua jurusan, jurusan itulah yang paling tinggi tingkat premanismenya."

"Jurusan apa yang senpai maksud?" Sasha masih belum paham.

"Jurusan yang tak ada disebutkan di antara kalian bersembilan," sahut Mike kalem.

Ooh, saatnya bermain tebak-tebakan.

Elshin memiliki delapan jurusan. Jika jurusan Armin dihitung, berarti hanya ada perwakilan tujuh jurusan. Tinggal satu jurusan lagi. Tapi apa itu? Industri. Praktik Komersial. Kesehatan. Pertanian. Tata Boga. Sosiologi. Busana dan Kecantikan. Sial, apa satu lagi?

Ah.

"Jangan-jangan—!" Reiner adalah orang pertama yang menyadari hal itu. Benar, tak ada lagi tersangka lain selain jurusan 'itu'.

Sebuah jurusan dimana menjadi tempat berkumpul para calon artis. Hanya satu jurusan yang mampu menampung orang-orang sombong begitu.

"Jurusan Budaya!?" mereka bersembilan langsung mengungkap analisis jitu bersamaan.

Akhirnya mereka paham. Kalau begini, tugas Hange sedikit lebih ringan.

"Yup, tepat sekali," Hange mengangguk kecil sembari tersenyum, "Jurusan itu memang penuh murid-murid akan bakat musik yang luar biasa. Namun disaat yang sama, mereka menganggap bahwa merekalah artis di sekolah ini. Ya, semacam idol atau icon sekolah. Mereka jadi sombong dan bersikap seenaknya pada murid-murid di jurusan lain, bahkan pada beberapa guru juga. Meski sudah dihukum sesuai peraturan sekolah, tampaknya mereka tak jera dari generasi ke generasi."

Kemudian Levi ikut membantu Hange melanjutkan penjelasan visi-misi organisasi mereka, "Perdamaian dan persatuan sekolah ini tidak akan terpenuhi sampai jurusan Budaya takluk di tangan kita. Apalagi, setahun sebelum kalian masuk kemari, kasus premanisme yang awalnya menurun menjadi meningkat drastis. Itu terjadi di semua jurusan. Mereka berpikir jika jurusan Budaya saja tak tunduk, untuk apa mereka tunduk? Makanya terkadang kami terpaksa memakai jalan kekerasan. Salah satunya, ya seperti yang kalian lihat tadi pagi," katanya datar sembari mengingatkan para juniornya perihal dirinya yang menabok kedua murid dengan sapu, "Tapi ada alasan dibalik meningkatnya kasus premanisme di sekolah ini. Itu semua dikarenakan jurusan Budaya akan menyambut pemimpin jurusan mereka yang baru. Dan pemimpin itu seangkatan dengan kalian."

Pemimpin jurusan Budaya, katanya?

Ada orang yang mampu memimpin murid-murid badung itu? Para senior saja kesusahan menaklukkan mereka, namun ada seseorang yang bisa? Sehebat itukah orang tersebut sampai para pendiri Survey Corps kalang kabut?

Reaksi para rekrutan baru adalah shock.

"Apa?" ini sih Eren megap-megap tak percaya. Persis ikan koi kekurangan air.

Diikuti Bertolt yang dalam sekejap menjadi sedikit takut sekaligus terpukau, "Seangkatan dengan kami? Be-berarti dia kelas satu?"

"Wow... belum masuk saja, dia sudah diperlakukan begitu..." gumam Marco tak habis pikir. Tampaknya mereka memiliki musuh berat, saudara-saudara.

"Se-seperti apa orangnya, senpai? Beritahu kami!" Connie tak mau bertele-tele. Dia hanya ingin tahu siapa bos penjahat tersebut.

Melihat kegugupan dan antusias para junior, Levi pun berkata, "Sabar dulu. Kami pun juga tak pernah bertemu dengan orang itu sebelumnya. Jadi kami tak tahu seperti apa wajahnya."

"Karena itu, kalian akan kami terima menjadi anggota Survey Corps tanpa tes dan langsung kami berikan misi penting," perkataan Hange ini sukses membuat sembilan orang tersebut shock part dua.

"EEEEEHHH!?"

Semudah ini?

Padahal mereka sudah wanti-wanti kalau ujian masuknya jauh lebih sulit daripada ujian masuk sekolah. Hanya demi menangani pemimpin baru jurusan Budaya saja para senior tersebut melangkah sejauh ini?

Tapi seperti perkataan Hange, mereka juga tak mau membuang-buang waktu. Waktu mereka hanya tinggal setahun di sekolah ini. Setidaknya sampai saat terakhir, mereka ingin melihat ideologi mereka tertanam sedikit saja di jurusan Budaya.

Baiklah, saatnya memberikan misi penting ini pada rekrutan baru.

"Temukan orang ini dan kalahkan dia. Kalahkan disini bisa berarti apa saja. Kami tak peduli apapun itu. Pokoknya buat dia tunduk pada peraturan sekolah. Sebagai senior, kami agak sulit membaur di antara murid kelas satu. Jadi kami serahkan dia pada kalian."

"BAIK, SENPAI!"

"Oh ya. Nama orang itu adalah..."

.

Sementara itu...

.

.

Mengambil ponsel yang tertinggal di kelas? Bleh! Itu hanya kibulan Armin! Meski pada akhirnya itu sukses besar. Dia bisa menjauhi organisasi bertempur itu selama bersekolah disini. Aman, tentram, tanpa luka-luka. Begini pikirnya polos, para pembaca.

Hhhh... sungguh bodohnya engkau, Armin. Dia tak tahu kalau dia didaftarkan sepihak oleh sahabatnya sendiri. Entah bagaimana reaksinya kalau dia sampai tahu.

Dalam pelariannya, Armin berakhir berkeliling sekolah sendirian. Mengunjungi satu per satu wilayah jurusan di Elshin. Ah, tentu saja belum semua jurusan yang dia jelajahi. Hingga sampai lah tokoh jenius kita ini di jurusan Budaya. Tepatnya bagian pinggir wilayah jurusan tersebut. Dan mengingat dia tidak tahu menahu soal perang dingin antar jurusan, bocah ini melenggang santai masuk ke wilayah terlarang.

Beruntung Armin adalah murid baru, sehingga tak satupun murid di jurusan tersebut yang mengenalnya. Semua berpikir bahwa orang Kesehatan itu adalah bagian dari mereka. Mereka biarkan Armin tanpa menyadari bahwa Armin adalah seorang musuh. Tapi tentu saja itu hanya berlaku sementara. Karena ini hanya soal waktu, bukan?

Sayangnya, hari penjelajahan wilayah jurusan Armin terganggu berkat hidungnya yang mencium bau asap rokok. Seketika si bocah rajin terkejut. Ini wilayah gedung kelas, bukan gedung guru! Siapa yang merokok? Bukankah di wilayah gedung kelas adalah wilayah dilarang merokok? Walhasil, jadilah bocah ini celingukan mencari sumbernya, sampai kemudian matanya menangkap sebuah ruangan tak jauh di depannya. Sebuah ruangan dengan papan nama bertuliskan 'Gudang Siaran'.

Hooo, jadi ini salah satu aset murid klub siaran sekolah? Oke, Armin tak mau berpikiran buruk dulu sampai dia masuk ke dalam. Tapi apa yang dia temukan? Seorang gadis berambut pirang yang diikat gulung berantakan sedang merokok di atas meja dengan santainya sambil memandang keluar jendela!

Sudut mata Armin berkedut-kedut. Dia tak percaya bahwa dia baru saja memergoki sesama murid sedang melakukan pelanggaran kelas atas. Darimana dia tahu sesama murid? Jelas saja. Lihatlah seragam yang dikenakan gadis itu. Blazer merah, dasi hitam berpola garis-garis biru, dan rok hitam berpola kotak-kotak. Itu seragam khusus utama Elshin setiap menghadiri acara formal seperti upacara atau semacamnya. Tapi apa-apaan gadis itu? Seragamnya sungguh berantakan! Bahkan blazernya tidak dikancing! Dan dasinya yang tak menempel sempurna pada kerahnya itu. Oke, gadis ini kehilangan imej baiknya di depan Armin.

Duduk di atas meja di pojok ruangan tak membuat gadis ini untuk tak menyadari keberadaan Armin. Dia hentikan kegiatan merokoknya sementara dan menoleh pada Armin dengan tatapan tak suka.

Tanpa basa-basi, gadis itu langsung bertanya sinis, "Siapa kau? Apa yang kau lakukan disini?"

Jujur, Armin tak suka nada bicara itu, "Kau sendiri? Apa yang kau lakukan sendirian disini? Merokok pula."

"Apa urusanmu dengan itu?"

"Kita masih di bawah umur! Merokok itu tidak baik! Cepat buang!" benar-benar anak teladan. Namun Armin kali ini benar. Dia tak tahu siapa gadis itu, tapi sudah jelas dia dibawah umur. Dan orang di bawah umur dilarang merokok!

Ini berhasil membuat si gadis mulai muak. Wajah datar tanpa ekspresinya itu menatap Armin dingin, sedingin es, "Dengar, orang asing. Aku tak tahu siapa dirimu dan kenapa kau bisa kemari, tapi menyingkirlah dari sini sebelum moodku berubah jadi buruk."

"Bagaimana kalau ketahuan guru? Orangtuamu bisa dipanggil ke sekolah! Lebih buruknya lagi, kau bisa dikeluarkan!"

"Kau cerewet sekali. Padahal laki-laki,"

"Kau sendiri perempuan. Dan sebagai perempuan, kau harus menjaga tubuhmu dengan baik. Nah, ayo buang,"

Tampaknya sang gadis pirang tak ingin memiliki pertengkaran di hari pertama masuk sekolah. Mungkin itulah penyebabnya dia mematikan rokoknya dengan menggeseknya pada meja. Setelah itu, dia membuangnya ke sembarang arah sembari masih dipelototi Armin.

Dia menoleh lagi pada Armin, "Baiklah. Kau sudah puas, orang asing?"

"Aku punya nama. Namaku Armin Arlert," balas Armin malah memperkenalkan diri. Namun disisi lain, dia penasaran identitas gadis tak tahu aturan itu, "Siapa namamu?" tanyanya lagi.

"Bukan urusanmu," jawab gadis tersebut bangkit dari posisinya. Dia berjalan mendekati Armin.

"Bu-bukan urusan? A-apa maksud—Hei, kau mau kemana?" siapa yang tidak sewot ketika kita berbicara, lawan berbicara kita malah melengos pergi? Itulah yang dirasakan Armin sekarang. Gadis perokok itu menghiraukannya dan meninggalkannya sendiri di gudang itu. Apalagi tak ada balasan keluar dari mulutnya.

Kesal. Armin kesal!

Apa-apaan dia!? Benar-benar tak tahu tata krama! Kalau mereka berjumpa lagi, Armin bersumpah akan mengomelinya ala Ibu tiri seperti di drama cinta kesukaan Mikasa.

"Apa-apaan perempuan itu? Perokok! Pakaiannya berantakan pula!" batin Armin dengan emosi hampir meledak, "Ah, aku tak sengaja melihat sekilas name tag di seragamnya. Kalau tak salah namanya..."

.

Disisi lain...

Di ruangan OSIS...

.

"Oh ya. Nama orang itu adalah... Annie Leonhart," Hange akhirnya mengungkap sedikit identitas bos besar tim penjahat yang sebentar lagi akan Eren dan kawan-kawan buru.

Hening menyapa.

Para rekrutan baru berusaha mengumpulkan kesadaran mereka karena mereka tak percaya pada apa yang baru mereka dengar.

Serius? Apakah ini serius?

Jadi, lawan mereka adalah...

PEREMPUAN!?

"...Annie Leonhart?"

.

.

"...Kalau tak salah namanya..." ayo, Armin! Ingat baik-baik nama yang tertulis disana dengan kemampuan daya ingatmu yang luar biasa.

Selang beberapa detik, Armin berhasil mengingat nama itu. Nama yang akan selalu dia ingat berkat kesan buruk di perjumpaan pertama.

Yup, nama gadis itu terlalu manis untuk orang luar biasa cuek sepertinya.

"Annie Leonhart! Ya, ya! Nama perempuan itu Annie Leonhart!" timbul kebanggaan sendiri dalam diri Armin karena berhasil mengingat nama meski sekilas. Tapi itu tak membuatnya kagum terlalu lama. Dia tahu bahwa gadis itu sama sekali bukan tipenya.

"Astaga... Aku tak menyangka ada murid senakal dia di sekolah elit ini," gumam Armin geleng-geleng kepala. Tak habis pikir ada murid preman berani merokok di hari pertama masuk.

Armin tak mau berlama-lama disana. Dia juga ikut pergi dari gudang sebelum disangka sebagai pelaku kasus merokok mengingat bau asap rokoknya masih tertinggal. Kalian tanya kemanakah gadis bernama Annie Leonhart itu? Ah, masa bodoh. Gadis itu menghilang entah kemana.

Sayangnya dia tak menyadarinya, para pembaca. Armin tak menyadari ketidaktahuannya di tengah kepergiannya meninggalkan wilayah jurusan Budaya. Bahwa petualangan dia baru saja dimulai.

Dimulai dari pertemuan pertama di gudang siaran.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Author's note: Penulis sedang bosan dengan ide fanfic tema sekolahan yang seperti you-know-what. Di SMA, kebetulan jadi murid pindahan, kebetulan jadi teman sekelompok, lalu jatuh cinta. Biasanya begitu, 'kan? Awalnya Penulis ingin buat begitu juga, lho. Hahahaha! Tapi Penulis berubah pikiran. Kali ini Penulis ingin membuat spesial Sekolah Kejuruan. Yah, meski sistem belajarnya meniru sekolah di luar negeri. Eheheh...

By the way, Penulis sengaja membuat chapter pertama atau prolognya lebih panjang. Kenapa? Sederhana. Penulis ingin penjelasan tentang ESG itu lebih lengkap. Seperti apa sekolah itu, masalahnya, jurusan-jurusannya, dan lain-lain. Memang masih belum ada yang dijelaskan seperti apa bentuk atau gedung sekolah itu. Jadi, mudah-mudahan Penulis bisa menjabarkannya di halaman mendatang.

Lalu bagaimana kesan kalian pada fanfic kedua Penulis bertema Shingeki no Kyojin pairing AruAni ini? Jelek? Biasa saja? Bagus? Katakan lewat kolom komentar, ya. Karena komentar dari pembaca semua itu menjadi semangat tambahan bagi Penulis. Penulis bukan tipikal gila review yang sampai 1K+ itu, tapi setidaknya ada pembaca setia yang selalu hadir, 'kan? Hehehe.

THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!