Author's note: Ada angin apa sampai Penulis merilis halaman selanjutnya seperti ini? Sedang rajin kah? Tebak saja sendiri. Tapi sambutan untuk kisah AruAni baru ini lumayan hangat. Maka dari itu Penulis sangat berterima kasih kepada para pembaca Benang Tak Terlihat yang mau beralih fungsi sebagai pembaca Gadis Ikon Sekolah. Yah, seperti Raden Wijaya, Latte-0-0, Ackerman20Clan, xydexonn, loeybby, dan cherrylate. Love you so much! Terima kasih atas komentar kalian. Mengatakan halaman pertama itu menarik, bagus, kocak banget, penasaran... semuanya! Untuk loeybby, tentu saja kita hanya menunggu waktu sampai waktu ketika Annie tergila-gila pada Armin. GYAHAHAHA!

Baiklah. Penulis tak mau terlalu banyak bacot. Mari kita baca saja halaman kedua kisah AruAni ini. Untuk pembaca baru, Penulis nantikan kesediaan kalian dalam berkomentar atau favorite atau follow cerita. Terima kasih.

.

.

Disclaimer : Isayama Hajime

GADIS IKON SEKOLAH

Halaman Dua: Hari Kedua Di Sekolah

By Josephine Rose99

Notes: Peringatan dari Penulis. Beberapa tokoh di fanfic ini memiliki sifat atau karakter yang berbeda dari manga atau anime aslinya. Singkatnya, OOC (Out of Character). Penulis memaksudkan ini sebagai pemanis atau sebagai humor belaka. Karena itu jangan protes. Kalau protes, Penulis akan lempar ke laut.

.

.

.

.

.

GADIS IKON SEKOLAH

HALAMAN DUA

HARI KEDUA DI SEKOLAH

By Josephine Rose99

.

.

.

Umumnya bagi siswa-siswa pemalas, datang ke sekolah merupakan hal paling menyebalkan—kecuali jika tujuan utama mereka bukan belajar tentunya. Bicara soal pemalas, mari katakan jika Eren adalah salah satunya. Dia bukan tipikal seperti Armin yang dengan senang hati ke sekolah meskipun di hari libur atau Mikasa yang tak memiliki semangat hidup kalau bukan karena mengekorinya kemanapun dia pergi. Namun hari ini ada yang berbeda. Laki-laki ini bersenandung ria selama perjalanan menuju sekolah. Apakah karena dia masih terjebak dalam nuansa murid baru? Entahlah. Tapi yang pasti, Armin sedikit heran pada perubahan sikap Eren. Lain hal dengan Mikasa yang tahu sejak awal.

"Kau semangat sekali hari ini, Eren," ujar Armin tersenyum canggung.

Mewakili Eren, Mikasa menyahut. Memberi penjelasan pada Armin sebelum dia menganggap Eren mulai gila, "Jelas, 'kan? Kita diberi misi penting oleh para senpai Survey Corps. Makanya Eren sangat bersemangat untuk mengintai hari ini."

Mulut Armin membulat. Dia mengerti sekarang. Dia melupakan satu faktor kemungkinan besar dimana berhasil membuat sang sahabat lama bisa sesenang itu ke sekolah.

Survey Corps. Sebuah organisasi paling bebas di sekolah karena tak dinaungi oleh OSIS. Ternyata Eren benar-benar membuktikan perkataannya waktu itu dengan menemui Levi supaya bisa bergabung. Ck, dasar bocah nekat.

Meski begitu Armin belum mengerti maksud perkataan Mikasa sebelumnya, "Misi penting? Mengintai?"

Mikasa mengangguk.

Dan selagi Armin sibuk menerka misi tersebut, datang celetukan santai dari Eren.

"Oh, ya, Armin. Aku lupa mengatakan kalau aku juga mendaftarkanmu ke Survey Corps. Dan kau tahu hebatnya lagi? Kau diterima tanpa ujian masuk!"

"Oohh..." wah, bocah ini belum sadar rupanya, para pembaca. Hanya menjawab 'oh' panjang sambil angguk-angguk. Walau tiga detik kemudian kedua mata Armin melotot horor seakan dia mendapat nilai 0 dalam sejarah hidupnya, "APA!?" teriakan Armin ini sukses menghentikan senandung Eren. Sebuah kokoro attack yang menjelma menjadi ribuan panah menancap telak di dadanya.

Apa-apaan ini!? Susah payah dia mengibuli teman-temannya, tapi pada akhirnya hasilnya sama juga!? Terutama ekspresi tanpa merasa bersalah Eren sekarang. Sangat polos dia tunjukkan pada Armin yang hampir kena asma ala Kakek-Kakek dipanggil maut.

"Kenapa, Armin?"

"Bukan 'kenapa'! Apa aku baru saja mendengar kau memasukkanku juga, Eren!?"

"Memangnya tak boleh? Aku hanya ingin kedua sahabatku ikut bersamaku," sudut mata Armin berkedut. Dia tak percaya alasan Eren dibalik tindakan membawanya ikut bersama ke neraka berdarah.

Armin segera menoleh pada Mikasa yang wajahnya tetap datar, sedatar papan cucian milik Ibu Eren, "Kenapa kau tak mencegahnya, Mikasa?" tanyanya tak habis pikir. Seharusnya Mikasa tahu level kekuatan Armin, 'kan? Bergabung dengan organisasi itu sama saja dengan bunuh diri! Satu-satunya orang yang dapat dia harapkan untuk menyingkirkan dirinya dalam ambisi Eren justru sama sekali tak bisa diandalkan.

Mikasa hanya menghela napas berat, "Sebelum aku mencegah, dia sudah mendaftarkanmu duluan. Aku saja kaget."

Hmm, tak bisa disangkal. Memang benar. Saat itu Eren sudah terlanjur mendaftarkan Armin seenak jidat di depan para senior. Mikasa yang disampingnya hanya bisa sweatdrop, antara ingin mendamprat laki-laki itu atau mengirimkan do'a kepada Armin.

Aah... Surga kedamaian Armin hilang sempurna.

Bagaimana sekarang? Haruskah dia mencari sekolah lain yang lebih aman? Haruskah dia meminta Kakeknya untuk memindahkannya sebelum dirinya berakhir di rumah sakit?

Eren kemudian berbalik dan memegang kedua bahu Armin. Dia sunggingkan senyuman cerianya seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan, "Tenang saja, Armin. Aku pasti akan melindungimu!" begini kata bocah idiot ini tak peka.

Seseorang, tolong hantamkan benda apapun ke kepalanya dan buat otaknya cedera!

"Bukan itu masalahnya!" sabar, Armin. Sabar. Hentikan rencana pembantaian mautmu saat ini. Yah, meski gagal total karena laki-laki ini berteriak lantang di wajah Eren.

Masih cengar-cengir, Eren melanjutkan lagi, "Pokoknya, ikut kami untuk rapat kecil bersama anggota baru. Kau tahu? Ternyata ada juga murid baru seperti kita yang semangat menaklukkan sang bos besar!"

"Bo-bos besar?"

"Mm-hmm. Aku akan menjelaskannya nanti."

Tidak, Eren. Masalahnya bukan itu sekarang. Seharusnya kau harus segera menjelaskan tentang bagaimana cara Armin untuk tetap bertahan hidup di sekolah yang banyak berisi preman itu.

Ck, percuma. Harapan Armin pupus. Kalau begini, terpaksa dia harus mengikuti jejak Mikasa alias mengekori Eren lagi sampai akhir. Mari berharap semoga dia masih hidup sampai hari kelulusan.

.

.

.

Armin tak bisa terus-terusan memikirkan kemungkinan terburuk setelah bergabung 'secara paksa' ke dalam Survey Corps. Bel panjang tanda jam pelajaran pertama usai dibunyikan. Benar, untuk sekarang lebih baik fokus pada apa yang akan disampaikan wali kelasnya nanti. Mungkin karena itulah Armin duduk di barisan kedua nomor 4 dari kanan sembari memainkan jarinya. Duduk dengan tegang karena memikirkan dua hal sekaligus. Tegang karena tak sabar mengetahui sang wali kelas dan tegang karena kematian semakin dekat, ck ck ck ck.

Oh, kalian ingin bertanya di kelas manakah Armin? Bocah kutu buku itu duduk di kelas 1-1. Sekedar informasi, setiap jurusan memiliki dua kelas, yaitu 1-1 dan 1-2. Dan setiap kelas jurusan diisi dengan jumlah murid lebih kurang 30 orang. Total lebih kurang 60 orang jika digabung. Mengingat Armin keturunan jadi-jadian Einstein, dia terdampar di kelas pertama.

Eren, Mikasa, atau Annie? Mari Penulis sampaikan di halaman lain.

Omong-omong soal kelas, mungkin Armin bisa bernapas lega sekarang karena akhirnya mengetahui karakter wali kelasnya yang baru saja masuk. Seorang guru pria dengan tinggi rata-rata, berkumis tipis dan sedikit berjanggut. Kelihatannya guru ini ramah jika dilihat dari tampangnya yang selalu mengumbar senyum itu.

Guru tersebut berdiri sambil meletakkan kedua tangannya pada meja. Memberi sapaan hangat kepada murid-murid baru, "Selamat pagi, anak-anak!"

"Selamat pagi, Sensei!"

"Dieter Ness. Salam kenal. Saya mengajar Genetika sekaligus menjadi wali kelas kalian setahun kedepan. Mohon kerja samanya!" oke, perkenalan singkat cukup sampai disini. Guru Ness kemudian mengambil dokumen yang dibawanya serta lalu melanjutkan, "Kegiatan belajar-mengajar akan dilakukan besok. Jadi pada hari ini sama saja seperti kemarin. Saya akan menjelaskan sistem belajar di sekolah ini beserta jadwalnya."

"Haaaaaa'iii..."

"Eldia Shingeki Gakuen memiliki penilaian berdasarkan tiga kriteria, yaitu nilai teori, nilai praktikum, dan nilai sikap. Persentase teori adalah sebesar 40%, praktikum 35% dan sikap 25%. Kalian sudah tahu bahwa kalian belajar sambil bekerja disini. Karena itu, saya mengharapkan kalian untuk serius mengikuti pelajaran dan praktikum sebelum diberikan beberapa proyek. Tentunya diiringi sikap yang baik. Semua demi tidak mempermalukan nama sekolah. Mengerti?"

"Mengerti, Sensei!"

"Kedua. Sistem mata pelajaran dibagi menjadi dua, yaitu kelas mata pelajaran wajib dan mata pelajaran peminatan. Mata pelajaran wajib adalah Matematika, Biologi, Fisika, Kimia, Sejarah, Ekonomi, Geografi, Bahasa Jerman, Bahasa Inggris, dan Olahraga. Sementara mata pelajaran peminatan sesuai jurusan masing-masing," what? Ada sepuluh mata pelajaran wajib? Sungguh? Sebanyak itu? Murid-murid menjadi kasak-kusuk sendiri sementara guru Ness menjelaskan tentang peminatan jurusan Kesehatan, "Karena kalian jurusan Kesehatan, maka mata pelajarannya adalah Hukum Kesehatan, Ilmu Gizi, Histologi, Anatomi, Fisiologi, Biokimia, Genetika, Reproduksi, Paramedis, Keperawatan, Laboratorium, Kesehatan Gigi, Terapi, Farmakologi dan Toksikologi, serta Imunologi. Ada pertanyaan?"

Seorang murid mengangkat tangannya.

"Sensei, kenapa mata pelajaran peminatannya lebih banyak daripada wajib? Apakah itu bermaksud membunuh kami secara perlahan?" wah, pertanyaanmu sungguh polos, wahai murid baru. Sangat mencerminkan kekesalan hatimu yang mendapatkan serangan dendam di hari kedua bersekolah di Elshin.

Guru Ness? Halah, pria itu cuma cengar-cengir tidak jelas.

"Apa maksud kamu mengatakan itu? Tentu saja tidak."

"Lalu apa, Sensei?"

"Jumlah mata pelajaran peminatan adalah lima belas. Jadi setiap tingkat, para murid mempelajari lima saja. Singkatnya, tahun ini kalian hanya mempelajari Hukum Kesehatan, Anatomi, Histologi, Fisiologi dan Biokimia. Lalu tahun kedua adalah Ilmu Gizi, Genetika, Laboratorium, Reproduksi, dan Paramedis. Sementara di tahun terakhir kalian akan ditendang dari tempat ini adalah sisanya, yaitu Imunologi, Keperawatan, Kesehatan Gigi, Terapi, lalu Farmakologi dan Toksikologi."

Heee... ternyata begitu? Penulis pikir kelima belas pelajaran peminatan itu akan dipelajari sekaligus dalam satu tahun. Tapi syukurlah jika tidak. Karena kalau memang benar, para murid pasti akan kejang-kejang bak ikan koi kekurangan air dalam sebulan.

"Ooooooohhhh..." para murid akhirnya ber'ooh' panjang, sepanjang tali kenangan antara kamu dan dia(?).

"Oh, ya. Untuk mata pelajaran wajib, kalian akan digabung dengan jurusan lain di gedung kelas khusus untuk tiap mata pelajaran. Hanya ketika belajar mata pelajaran peminatan saja kalian akan belajar di gedung jurusan."

"Eeeeh?"

Digabung dengan jurusan lain, katanya? Berarti ada kemungkinan Armin dapat sekelas dengan Eren dan Mikasa? Atau lebih buruknya lagi...

Dengan Annie?

"Total kelas untuk tiap mata pelajaran wajib adalah sepuluh kelas. Kelas A hingga J. Kami, para guru sudah menentukan kelas wajib manakah kalian. Tentu saja setiap mata pelajaran memiliki kelas berbeda-beda. Singkatnya, kelas Matematika kalian tidak sama dengan kelas Biologi. Tidak sama pula dengan kelas Sejarah. Jadi, kalian harus menghapal dan tahu dimana letak kelas wajib kalian. Paham?"

"Paham, Sensei!"

"Nah, ini saya bagikan jadwal mata pelajaran kalian. Ingat, mulai besok kalian akan belajar," guru Ness pun mulai berjalan mengelilingi kelas sambil membagikan selembaran kertas dimana tertera kelas wajib manakah para murid kelasnya. Termasuk Armin tentunya.

Begitu guru Ness memberikan kertas itu pada Armin, segera Armin membacanya dari awal hingga akhir.

Hmmm... baiklah. Kelas manakah dia?

.

PEMBAGIAN KELAS PELAJARAN WAJIB DAN PEMINATAN

Nama Siswa: Armin Arlert

Jenis Kelamin: Laki-Laki

Kelas: 1-1 Jurusan Kesehatan

KELAS PELAJARAN WAJIB

Matematika: Kelas A

Bahasa Jerman: Kelas D

Bahasa Inggris: Kelas A

Biologi: Kelas E

Fisika: Kelas C

Kimia: Kelas I

Sejarah: Kelas B

Ekonomi: Kelas G

Geografi: Kelas F

Olahraga: Kelas A

KELAS PELAJARAN PEMINATAN

Hukum Kesehatan: Kelas 1-1

Anatomi: Kelas 1-1

Histologi: Kelas 1-1

Fisiologi: Kelas 1-1

Biokimia: Kelas 1-1

.

"Hmmm..." Armin hanya ber-hmm panjang membaca kelas-kelas itu. Tak ada satupun komentar yang keluar. Well, bagaimana lagi? Dia tak bisa berkomentar sampai masuk ke kelas itu, 'kan? Seperti apa guru dan teman-temannya—anggaplah begitu.

Setelah membagikan semua kertas tersebut, guru Ness kembali ke mejanya. Menatap satu per satu murid-muridnya yang sekarang sibuk bertanya ke teman sebelah dengan pertanyaan umum. Yah, seperti apakah kelas mereka. Atau apakah mereka sekelas. Semacam itu.

Guru Ness pun bersuara lagi sehingga perhatian semua murid teralihkan, "Satu hal lagi. Saya lupa menyampaikan kalau kalian diwajibkan mengikuti hanya satu klub sebagai kegiatan ekstrakurikuler. WAJIB."

Ohooo! Datang juga akhirnya!

Dunia klub ektrakurikuler! Pemanis dunia pendidikan! Terlihat sekali senyum-senyum merekah muncul di wajah kelas 1-1 Kesehatan. Err, tolong kecualikan bagi Armin, saudara-saudara. Dia merasakan ironi dari sebuah ironi. Hanya dia satu-satunya yang tak bersemangat begitu topik klub disinggung. Jangan salahkan dia. Bagaimana bisa dia bersemangat jika klub yang 100 persen akan dia masuki adalah klub yang 100 persen ingin dia jauhi? Eren sialan. Sepertinya sumbangan contekan harus dihentikan untuk sementara waktu.

Wah, ternyata seorang Armin bisa dendam juga.

"Hanya satu, Sensei?" seorang murid perempuan mengangkat tangannya sembari bertanya. Jika didengar dari pertanyaannya, tampaknya perempuan ini tipikal hipearktif sampai tak menyukai fakta bahwa dia hanya boleh bergabung dengan satu klub.

Masalahnya guru Ness mengangguk seakan mengetok palu di meja pengadilan. Harapan si cewek pupus sudah, "Ya, hanya satu. Kami tidak ingin kalian tidak bisa menyeimbangkan kegiatan klub dengan belajar. Dokumen pendaftaran klub akan diberikan pada kalian tiga hari lagi. Kalian ingat semua klub di sekolah ini dari upacara penerimaan, bukan? Pikirkan baik-baik."

"Pikirkan baik-baik? Aku bahkan sudah tahu ke klub manakah aku sebelum tiga hari mendatang..." sangat sarkasme sekali, Armin. Benar-benar sarkasme.

"Baiklah, itu saja. Saya harus kembali ke gedung guru untuk menghadiri rapat. Kalian bisa berkenalan satu sama lain asal jangan coba-coba keluar kelas. Ingat, setiap koridor memiliki CCTV."

Jiah! Guru Ness faktanya guru stres! Meninggalkan muridnya di hari kedua begitu saja dengan alasan rapat. Tidak mengabsen, tidak meminta para murid memperkenalkan diri, atau basa-basi memberi nomor telepon dan semacamnya. Sungguh dia adalah guru Elshin? Mungkin sudah sepatutnya mereka mengadakan pemungutan suara untuk menentukan apakah sang kepsek benar-benar gila sampai tak bisa menyaring guru normal.

Bagi Armin si maniak belajar, guru Ness tentu stres. Namun tidak bagi teman-temannya. Sederhana sekali membaca pikiran mereka. Jika guru tidak ada di kelas, artinya kebebasan mereka dimulai, 'kan? Makanya mereka menjawab kesenangan diiringi perginya pak tua yang rambutnya hampir habis ditelan zaman.

"Siap, Sensei!"

...

~Gadis Ikon Sekolah Page Two~

...

.

.

Bel istirahat makan siang berbunyi juga. Rasanya lama sekali menunggu berkat sang wali kelas pergi seenak jidat. Ck, tapi tidak selalu begitu. Armin bersyukur dapat dikelilingi teman-teman berisik namun ramah di kelas 1-1 ini. Meski Armin bukan tipe penggosip, jangan anggap remeh kemampuan pendengar baiknya. Mendengarkan kisah sewaktu SMP teman-teman barunya rupanya tak begitu buruk.

Sampai beberapa saat kemudian, Armin mendengar suara Eren memanggil namanya.

"Armin!"

Ketika Armin menoleh ke sumber suara, Eren dan Mikasa telah berdiri di ambang pintu kelas—melambai ke arahnya. Oke, kembali lagi mood Armin jadi jelek. Ya, dia masih belum bisa memaafkan Eren yang mendaftarkannya ke Survey Corps secara sepihak.

Salah satu teman barunya juga ikut melihat kedua sahabatnya. Mereka yang duduk di kursi yang posisinya sengaja dibuat melingkar pun bertanya pada Armin, "Temanmu?"

Sejujurnya sesaat Armin berpikir untuk tak mengakui, tapi mengingat bohong adalah dosa, terpaksa dia jujur, "Hn, secara teknis..."

Armin bangkit dari kursinya dan berjalan menuju Eren serta Mikasa. Begitu berdiri di hadapan mereka, Armin ingin bertanya tujuan mereka datang. Yup, ingin. Tapi tak sempat karena Eren menyela lebih dulu.

"Ayo, kita pergi! Sebentar lagi rapat kecil kita dimulai!" ujar Eren penuh semangat kemerdekaan.

Mikasa pasang tampang datar, sedatar ketika kamu mendengar ocehan omong kosong temanmu tentang betapa populernya dia di kalangan lawan jenis. Sementara Armin cuma sweatdrop.

"Jadi aku benar-benar resmi bergabung, ya?" batin Armin pasrah. Harapannya jatuh. Armin pun menghela napas berat persis Kakek-Kakek.

Eren kemudian berkata lagi, "Kita akan berkumpul di kantin C. Ayo, cepat! Mereka pasti sudah menunggu."

"Kenapa harus disana?" tanya Armin bingung.

"Kantin itu jauh lebih nyaman dari kantin lain," sahut Mikasa kalem.

"Heeee..."

.

.

.

Mari Penulis jabarkan sedikit informasi tentang kantin-kantin di Elshin.

Elshin memiliki lima kantin yang diberi nama dengan huruf alfabet, yaitu kantin A, B, C, D dan E. Kantin A terletak di wilayah murid tingkat dua sehingga disana bisa dikatakan wilayah makan para senior tingkat dua. Kantin B terletak di antara wilayah jurusan Budaya, jurusan Praktik Komersial dan jurusan Tata Boga tingkat satu. Tapi murid-murid jurusan Tata Boga lebih banyak makan siang disana karena para guru jurusan tersebut sering menyuruh mereka untuk menjual makanan resep baru mereka di kantin B. Kantin C adalah kantin yang disebutkan Eren dan Mikasa sebelumnya. Kantin ini letaknya dekat dari gedung guru, jadi tentunya banyak para guru makan siang di tempat itu. Alasan mengapa Mikasa menyebut kantin C lebih nyaman adalah kantin C tak pernah didatangi murid jurusan Budaya. Yah, mengingat murid jurusan tersebut selalu mengundang keributan dimanapun mereka berada.

Bagaimana dengan kantin D dan E? Kantin D berada di wilayah jurusan Industri dan jurusan Busana dan Kecantikan tingkat tiga. Sebenarnya juga ada murid tingkat satu dan dua makan siang disana, namun lebih dominan para senior tingkat tertinggi. Sedangkan kantin E adalah kantinnya murid jurusan Budaya. Semua tingkat murid jurusan Budaya selalu makan siang disana. Hampir tak ada murid jurusan lain berani menginjakkan kaki di tempat itu.

Apa ini? Masalah kantin saja sampai membuat Elshin serasa berada di dunia GTA. Pakai istilah wilayah jurusan atau tingkatan segala. Namun itulah faktanya. Karena itulah kalian harus mengingat baik-baik wilayah jurusan musuh kalian sebelum dikeroyok sampai tak berbentuk.

Bicara soal kantin, saat ini trio sekawan akhirnya menginjakkan kaki mereka di kantin C. Mengingat metode penyediaan makanan di seluruh kantin di Elshin adalah prasmanan, maka mereka bertiga mengantri bersama murid atau guru lainnya untuk mengambil makanan dan minuman. Setelah mengisi piring mereka, Eren celingukan mencari kawanan Survey Corps lainnya yang sudah datang duluan.

Oke, dimana mereka?

"Eren! Disini!" teriakan Connie berhasil menarik perhatian Eren untuk menoleh cepat padanya.

"Minna!"

Aha! Disana mereka! Duduk di kursi panjang berhadapan satu sama lain di pinggir kantin. Segera Eren meluncur ke lokasi sementara Mikasa dan Armin setia mengekor. Sesampainya di meja itu, mereka bertiga duduk bersebelahan. Menghadap teman-teman baru organisasi yang sekarang memberi pandangan menyelidik pada diri Armin. Maklum, Armin tidak datang saat penerimaan anggota baru, 'kan?

"Jadi ini Armin Arlert yang ikut kau daftarkan kemarin?" tanya Reiner menunjuk Armin.

"Ya! Dia sahabatku sejak kecil seperti Mikasa," jawab Eren, "Armin, ini Jean, Connie, Marco, Sasha, Historia, Bertolt, dan Reiner," katanya pada Armin sembari menunjuk setiap anggota baru Survey Corps satu per satu.

"Salam kenal!" ucap kawanan baru Armin kompak

"Sa-salam kenal juga. Senang bertemu dengan kalian," Armin membalas salam tersebut dengan sedikit kikuk.

"Armin ini sangat jenius! Kita bisa mengandalkannya untuk mengatur strategi mengintai kita," mulut ember Eren tak henti-hentinya berceloteh. Kali ini dia malah mengobral Armin layaknya sedang berdagang di pasar.

Armin pasrah tatkala melihat teman-temannya barunya menatapnya terpukau.

"Benarkah?" tanya Historia tak percaya.

"Hm. Kurasa kalian menyadarinya begitu melihat daftar nilai ujian masuk beberapa bulan lalu."

"Tunggu!" Bertolt langsung mengangkat tangannya begitu dia ingat akan sesuatu. Ya, benar. Dia pernah melihat nama Armin di daftar nilai ujian masuk beberapa bulan lalu bersama Ayahnya, "Aku ingat sekarang! Armin Arlert! Nama itu berada di posisi teratas dari semua calon murid yang mendaftar!"

"Aaaah! Benar juga! Orangtuaku yang ikut bersamaku saja sampai kagum! Kalau tak salah kau mendapat nilai sempurna, 'kan?" sahut Sasha juga baru ingat. Dia yang melihat kertas itu di papan informasi bersama Ayahnya tentu melihat nama Armin di nomor satu. Seperti perkataannya, nilai Armin adalah 100. Ayahnya saja sampai cengo, bahkan sempat membandingkan nilai Sasha yang lewat satu poin dari nilai KKM dengan nilai Armin. Disitu Sasha merasa sedih sekaligus malu kebodohannya diumbar oleh sang Ayah. Hahaha!

Sedangkan Connie ikutan kagum pada kejeniusan bocah Einstein tersebut, "Padahal ujian masuk sangat sulit, tapi kau berhasil mendapat nilai 100. Hebat juga kau, Armin!"

"Lalu kenapa kau bisa berteman dengan orang bodoh seperti Eren?" ini sih Jean yang hobi memercik drama permusuhan.

Spontan Eren tak terima—meski kenyataannya dia memang bego, "Jean, apa maksudmu berkata begitu?"

"Oke, jangan bertengkar di hari indah ini. Bisakah kita mulai saja rapatnya?" Reiner mencoba menengahi sebelum perang dunia ketiga dimulai.

Namun itu berhasil. Situasi sedikit lebih tenang dari sebelumnya.

Hingga kemudian Mikasa berceletuk, "Eren, Armin baru bergabung, bukan? Bagaimana kalau kau menjelaskan dulu padanya tentang misi kita?"

"Oh, kau benar, Mikasa! Aku lupa soal itu!" Eren yang baru saja akan menyantap supnya jadi terhenti sejenak. Sementara teman-teman lainnya menikmati makan siang, Eren menoleh pada Armin dan berkata, "Nah, Armin. Aku akan menjelaskan sejarah pertempuran panjang jurusan di sekolah kita ini. Dengarkan baik-baik."

.

Setelah penjelasan panjang lebar ala guru membosankan yang membuatmu tumbang dalam sepersekian detik...

.

Kelihatannya sejarah panjang Elshin ini harus segera dimasukkan ke dalam suatu bab di buku sejarah. Apa-apaan itu? Sejarah penuh pertempuran dan darah itu? Mereka hanya bocah SK (Sekolah Kejuruan)! Kenapa para senior terdahulu mereka bertingkah seperti preman geng yang berkelahi bak drama-drama aksi? Armin pusing jika terus memikirkan itu. Dia yang menyangka dengan masuknya dirinya ke Survey Corps adalah hal memusingkan, ternyata misi mereka ini jauh lebih memusingkan.

"Aku tak menyangka masalahnya sampai serumit itu..." gerutu Armin sembari mengusap-usap dahinya.

Eren menyuapkan sup ke dalam mulutnya, mengunyahnya sebentar lalu menjentikkan jarinya pada Armin, "Benar, 'kan?"

"Ta-tapi kalau jurusan Budaya punya pemimpin sehebat itu, bukannya ini misi bunuh diri? Kenapa para senior malah menggunakan alasan tidak bisa membaur di antara kelas satu?" tanya Armin tak mengerti. Oh, ayolah. IQ tiga digit sepertinya takkan tertipu dengan alasan konyol begitu. Ini pasti ada udang di balik batu.

Diam-diam Jean kagum pada daya pikir Armin, sampai memikirkan segala hal ke akarnya. Maka Jean menggigit apelnya kemudian bersuara, "Tadi aku menanyakannya pada Mike-senpai."

"Oh, ya?" Sasha menoleh padanya sambil terus menyantap nasi kare. Hiraukan mulutnya yang belepotan itu.

"Hn. Dia bilang alasan tepatnya mereka, para senior terkuat tak bisa turun tangan karena sifat protektif para murid jurusan itu."

"Apa maksudnya?" kali ini Reiner yang bingung.

Sifat protektif? Memangnya anak-anak jurusan Budaya merasa diri mereka keluarga besar atau apa?

Setelah semua orang menaruh perhatian pada Jean, dia berkata lagi, "Siapapun yang berusaha mencelakai si pemimpin, para murid lainnya akan langsung melindunginya. Tak peduli junior ataupun senior. Sebenarnya bisa saja para senior kita langsung turun tangan, tapi Survey Corps dilarang menghajar semua murid satu jurusan sampai babak belur. Itu namanya kriminalitas. Apalagi wajah Hange-senpai, Levi-senpai, dan Mike-senpai sudah dikenal banyak orang disini. Jadi, kalau mereka menginjak wilayah jurusan Budaya sedikit saja, calon-calon artis itu akan langsung menyerbu mereka."

Tanpa berbicara apapun, semua orang di meja itu berpikir hal sama. Bahwa misi ini adalah misi kelas atas—misi level S. Setiap pergerakan bisa mengundang pertikaian dengan jurusan Budaya. Gerutuan beserta decihan keluar dari beberapa mulut. Bodohnya mereka yang terlalu menganggap enteng misi ini.

Connie adalah salah satunya, "Cih, dalam keadaan begitu, mencari tahu identitas Annie Leonhart juga sulit..."

Sendok Armin yang menampung nasi kare berhenti di udara.

Tunggu. Apakah dia tidak salah dengar? Connie barusan menyebut nama perempuan yang dia temui kemarin, 'kan? Konsentrasi sang Einstein muda teralihkan dari piringnya. Armin mengangkat wajahnya dan memasang ekspresi kaku.

Tidak ada yang menyadari perubahan pada diri Armin itu selain Mikasa. Namun gadis itu memilih diam karena Historia bergumam pelan.

"Pantas saja para senpai meminta bantuan anak kelas satu seperti kita..." begini gumamnya yang akhirnya mengerti. Untuk masuk ke wilayah tingkat satu atau lebih bagusnya lagi—berteman dengan beberapa musuh, sesama tingkat satu pasti mudah melakukannya.

"Kau sudah mengerti, Armin?" tanya Eren memastikan sang sobat mendengarkan sampai akhir.

"Tidak, tunggu..." melihat Armin yang meletakkan sendoknya lagi ke piring membuat pikiran Eren dipenuhi tanda tanya.

"Ada apa?"

"Siapa tadi nama pemimpin baru jurusan Budaya?" tolong, siapapun katakan ini hanya mimpi!

"Hm?"Sasha mengerjapkan matanya, "Oooh! Annie Leonhart maksudmu?"

Sesaat kemudian Armin bisa merasakan jantungnya berhenti berdetak.

Takdir macam apa ini?! Apakah dewi keberuntungan sedang bermain-main dengannya!?

Mari Penulis sampaikan dua kesialan yang menghampiri Armin hari ini. Pertama, setengah mati dia menghindari ajakan Eren untuk bergabung dengan Survey Corps, nyatanya dia didaftarkan. Kedua, misi mereka adalah menaklukkan pemimpin jurusan Budaya yang notabene adalah gadis perokok sinis yang dia temui di gudang siaran! Masalahnya semua teman satu organisasinya menilai raut wajah shocknya sebagai hal lumrah. Menyangka bahwa Armin tak percaya jika musuh utama mereka adalah perempuan.

"Ya, aku tahu kau terkejut karena dia perempuan. Kami juga bereaksi begitu saat tahu pertama kali," begini kata Connie sambil menunjuk Armin dengan paha ayam gorengnya.

Tidak, Connie. Bukan itu! Tapi bukankah ini aneh. Menurut analisis Armin dari pembicaraan teman-temannya, dapat diartikan mereka belum tahu identitas gadis bernama Annie Leonhart itu.

"Kalian tak tahu wajahnya?" Armin mempertaruhkan analisisnya dalam satu pertanyaan.

"Mm-hmm. Para senpai pun juga. Makanya kita diminta mencari tahu, lalu kalahkan dia," oke. Jawaban dari Sasha sudah cukup bagi Armin untuk merutuki nasib sendiri.

Hei, bukankah ini berarti Armin adalah satu-satunya saksi mata? Dia bisa merasakan pandangan semua orang tertuju padanya. Dia tahu jika mereka merasakan ada sesuatu yang tak beres. Kerongkongan Armin mendadak kering. Dia kemudian meneguk segelas air sampai habis, menyeka mulutnya, lalu melipat tangannya. Ohooo! Masuk mode keren rupanya.

Sesungguhnya Eren ingin bertanya ada apa, tapi Armin sudah bersuara.

"Perempuan bernama Annie Leonhart itu berciri-cirikan, satu; berambut pirang yang rambutnya diikat gulung acak-acakan, dua; tingginya hampir sama denganku, tiga; bermata biru, empat; kulitnya putih pucat, lima; ekspresinya stoic, enam; berpakaian tidak rapi, perokok, dan sikapnya sangat dingin."

"Eh?"

Kali ini mereka selain Armin yang gantian serangan jantung.

Apa itu barusan? Baru sehari mereka diberikan misi dan sekarang mereka mendapatkan informasi sedetail itu dari orang yang baru bergabung? Mereka semua saling bertukar pandangan, terkejut tak percaya bahwa Armin lebih dulu bertemu dengan pemimpin jurusan Budaya dibanding mereka.

"A-Armin... kau mengenalnya?" tanya Historia malah gemetar.

Jawaban Armin sangat simpel dan datar, "Aku tak sengaja bertemu dengannya di gudang siaran kemarin."

"Kau pergi ke wilayah jurusan Budaya!?" sahut Eren.

Disusul Bertolt yang tak habis pikir Armin bisa kembali selamat dari sarang buaya, "Kau tidak dihajar mereka? Mereka sangat anti jika ada murid jurusan lain masuk ke wilayah mereka, tahu!"

"Tapi kemarin aku baik-baik saja. Mungkin itu karena mereka tidak tahu," benar sekali. Inilah satu-satunya alasan logis dari balik penjelasan kenapa Armin bisa kembali hidup-hidup, "Pokoknya, aku tidak mau berurusan dengan perempuan itu kalau dia benar-benar pemimpin jurusan Budaya. Kalian pergi saja sendiri," hahaha! Tentu saja Armin memilih mundur teratur, bukan? Memang, jika dilihat sepintas, Annie terlihat tomboy dan errr... macho? Entahlah. Tapi kalau memang benar dia musuh besar mereka, itu artinya kematian Armin semakin dekat. Dan dia tak mau bersusah payah menemui dewa kematian lewat tinju wanita itu atau mungkin ratusan rekannya.

Namun Historia menangkap suatu informasi yang belum 100 persen dipercaya. Maka dia bertanya pada Armin, "Tadi kamu bilang dia perokok. Apa maksudmu? Kamu baru bertemu dengannya kemarin, 'kan?"

"Dia merokok di gudang siaran."

"Hah!?"

"Waaah... tampaknya kita berurusan dengan murid bermasalah, kawan-kawan," benar sekali, Reiner. Annie Leonhart adalah murid paling bermasalah di sekolah ini.

"Benar-benar misi sulit," Connie geleng-geleng kepala frustasi.

"Tapi setidaknya kita sudah selangkah di depan. Kita sudah tahu seperti apa ciri-cirinya," Sasha benar-benar penuh aura positif. Bisa mengambil poin penting dalam situasi terburuk.

"Benar," Jean juga ikut setuju pada perkataan Sasha.

Baiklah, aura-aura positif ini harus tetap dipertahankan. Saatnya memulai langkah pertama mereka.

Eren menoleh kembali pada Armin. Melempar senyum semangatnya itu lagi, "Armin, kami butuh bantuanmu," begini kata si idiot ini yang langsung disambut pandangan tak suka dari sang sahabat.

Hello, Eren. Kau tuli atau apa? Bukankah Armin bilang dia tidak ingin ikut campur?

"Sudah kubilang aku—"

"Kami diminta untuk mengubah Annie Leonhart menjadi murid baik dengan mengalahkannya dalam berbagai cara. Ini misi suci, kau tahu? Kau benar-benar tak ingin menyadarkan perempuan itu dari kebiasaan buruknya? Bukannya kau orang baik?"

Hei, siapa yang mengajari Eren lihai dalam penggunaan ceramah no jutsu? Lihatlah Armin. Dia hampir terbujuk rayu supaya ikut serta dalam misi bunuh diri ini.

Well, benci untuk mengakuinya, tapi sejujurnya Armin penasaran akan siapakah gerangan Annie Leonhart itu. Apa alasan para murid jurusan Budaya mengangkatnya sebagai pemimpin? Terlebih lagi, kedatangannya sampai ditunggu-tunggu oleh senior mereka. Karena bakat? Kekuatan? Karisma? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu takkan terjawab jika dia memilih menerka saja tanpa mau masuk ke sarang mereka, 'kan? Selain itu, Armin menemukan fakta jika gadis itu menurutnya—ehem—lumayan manis. Hei, bukan berarti dia percaya pada istilah cinta pandangan pertama. Armin sama sekali tak menaruh hati pada gadis itu.

Lalu Armin sebut apa rasa ingin tahu ini?

"Hhhh... baiklah. Terserah kalian saja..." dengan ini, resmi Armin bergabung ke dalam pasukan misi menaklukkan sang bos besar Elshin.

Eren tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya begitu sang sobat mau ikut serta, "Yosshh!"

"Kalau begitu, sudah diputuskan!" ujar Sasha.

"Jadi, kapan menurutmu waktu tepat untuk mengintai perempuan itu?" tanya Jean tak sabar.

Armin menyuap sesendok nasi karenya lagi. Setelah itu tampak dia sedang berpikir panjang. Memikirkan waktu terbaik dimana dia dapat menunjukkan wajah bos besar musuh yang pernah dia temui, "...Sepulang sekolah? Dia pasti tidak dikawal seketat di sekolah, 'kan?"

"Jenius, Armin!" balas Connie mengacungkan jempol. Armin hanya meringis.

Tatapan Eren berubah menjadi berkilat-kilat. Tak sabar menantikan jam kelas terakhir dan bunyi bel pulang. Jantungnya berdebar keras karena segera ingin tahu identitas musuh dalam misi karir pertamanya sebagai Survey Corps, "Baiklah. Sepulang sekolah, kita semua berkumpul di gerbang masuk. Bersembunyi sampai Annie Leonhart muncul di hadapan kita."

"Ouuu!"

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Author's note: Annie tak muncul sama sekali di halaman ini, eh? Tenang, dia akan muncul di halaman selanjutnya. Sampai jumpa!

THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!