Author's note: Halaman ketiga datang juga! Penulis tak sabar menampilkan adegan dimana kedua tokoh utama kita bertemu lagi. Dan tak bosan-bosannya Penulis menyampaikan terima kasih kepada para pembaca yang hanya sekedar numpang lewat, follow or favorite, dan meninggalkan jejak seperti durrendurrendol1993, Ackerman20Clan, xydexonn, dan Latte-0-0. Penulis menunggu komentar atau kritik dari pembaca lain tentunya. Jangan lupa menyertai nama. Ok?
.
.
Disclaimer : Isayama Hajime
GADIS IKON SEKOLAH
Halaman Tiga: Annie Leonhart
By Josephine Rose99
Notes: Peringatan dari Penulis. Beberapa tokoh di fanfic ini memiliki sifat atau karakter yang berbeda dari manga atau anime aslinya. Singkatnya, OOC (Out of Character). Penulis memaksudkan ini sebagai pemanis atau sebagai humor belaka. Karena itu jangan protes. Kalau protes, Penulis akan lempar ke laut.
.
.
.
.
.
GADIS IKON SEKOLAH
HALAMAN TIGA
ANNIE LEONHART
By Josephine Rose99
.
.
.
Pelajaran untuk menjadi penguntit sejati; nomor satu = Membaur dengan sesuatu atau siapapun supaya persentase keberhasilan kamuflase meningkat. Nomor dua = bertingkahlah seperti biasa agar target kuntitmu tak menyadari dirinya sedang dikuntit. Nomor tiga =Ketika target mulai bergerak, pastikan mengikuti dari jarak aman. Pelajaran selesai.
Paragraf diatas menyampaikan trik-trik cara menguntit yang benar dalam dunia perkuntitan. Sampai sekarang penguntit profesional masih melakukan cara yang sama. Tidak ada satu target pun bisa lolos dari penguntit jika sang penguntit mengikuti trik-trik tadi. Yah, seharusnya sih begitu. Masalahnya, rekrutan baru Survey Corps tidak memiliki bakat sama sekali dalam menguntit, sehingga penjelasan trik-trik barusan hanya angin lalu belaka.
Why? Sangat sederhana. Itu karena para bocah itu bukannya bersembunyi di semak-semak atau di balik dinding sekolah, mereka justru berdiri tepat di depan gerbang utama sekolah. Sebuah titik dimana target dipastikan akan melewatinya. Sungguh luar biasa bodoh. Parahnya, mereka semua—kecuali Armin—pasang pose sok cool dan tampang seseram mungkin. Walhasil, para murid sekolah yang berlalu-lalang pulang bisik-bisik tetangga sambil memberikan pandangan aneh pada mereka. Ck ck ck ck.
Kalian tahu? Sejujurnya Armin ingin segera kabur dari tempat itu. Harga dirinya bisa jatuh jika terus berada di dekat mereka! Padahal berkali-kali dia katakan untuk tak mencari tahu wajah Annie Leonhart dengan cara seperti itu, tapi pendapatnya digubris. Alasan teman-temannya sangat kompak untuk mengatakan; "Kami ingin menunjukkan pada Annie Leonhart jika dia bukan pemimpin disini!".
Aargh. Kepala Armin tambah sakit.
"Yang itu?" Eren menunjuk seorang murid perempuan yang barusan melewati mereka.
Armin mengibaskan tangannya, "Bukan. Sudah kubilang tatapan matanya sinis. Selain itu, warna pirangnya sedikit berbeda."
"Atau dia?" kali ini Sasha ikut menunjuk perempuan lain yang ciri-cirinya mirip dengan target.
Mikasa kemudian memperhatikan gadis yang ditunjuk Sasha dari atas ke bawah. Dia menggeleng pelan lalu berkomentar, "Kurasa tidak, Sasha. Armin bilang tinggi badannya hampir sama dengannya, 'kan? Kalau perempuan itu tampaknya sedikit lebih tinggi."
"Hmmmm..."
Lagi-lagi mereka ber-hmm panjang. Tentu saja dalam pose sok keren.
Tapi, bukankah ini aneh? Cukup lama mereka berdiri di gerbang itu tapi sang target belum menampakkan diri. Para murid yang berlalu-lalang saja semakin lama semakin sedikit jumlahnya. Artinya, hampir semua murid sudah meninggalkan sekolah. Aneh.
Jean adalah orang kedua setelah Armin yang menyadari kejanggalan tersebut, "Sial. Sudah hampir setengah jam kita disini, tapi dia belum muncul juga."
Mau tak mau yang lainnya mengangguk setuju seraya berpikir ada apakah gerangan.
Ayo, Armin. Ini giliranmu. Pikirkan alasan logis kenapa Annie Leonhart tak muncul di hadapan kalian meski sudah 25 menit menunggu.
Butuh tiga detik bagi sang jenius untuk mengetahui sebuah kemungkinan lain.
"Apa jangan-jangan dia pulang lewat gerbang belakang?"
Angin dingin berhembus.
"Ah."
AAAARGH! BENAR JUGA! Mereka lupa kalau sekolah mereka itu punya dua gerbang—gerbang utama alias gerbang depan dan gerbang belakang! Bodohnya mereka hanya menunggu di satu gerbang saja padahal masih ada satu gerbang lagi yang seharusnya ikut hitungan. Yup, beginilah jika manusia-manusia purba yang otaknya masih tertinggal di zaman Paleolithikum sementara tubuhnya di zaman modern.
"Gyaaaa! Benar juga! Kita melupakan satu kemungkinan itu!" Connie mencengkeram kepalanya, frustasi akan keidiotannya.
Sial! Berarti bisa saja Annie Leonhart sudah pulang dari tadi, 'kan? Tapi Eren tak mau menyerah. Dia masih menaruh harapan bahwa sang target belum meninggalkan sekolah. Ini saatnya bergerak cepat! "Oke! Kalau begitu kita akan dibagi menjadi dua tim. Tim A adalah Reiner, Connie, Bertolt, Marco, dan Historia. Sementara tim B adalah aku, Armin, Mikasa, Jean, dan Sasha. Tim A tetap disini dan kami akan ke gerbang belakang sekolah."
"Ooosh!"
"Sejak kapan kau berlagak menjadi pemimpin?" Jean tak bosan-bosannya mengkritik bocah penuh semangat itu.
Eren otomatis melirik jengkel padanya, "Bukan saatnya bertengkar, muka kuda! Kita dikejar waktu! Ayo!"
Cepat, teman-teman! Larilah!
Jangan sampai kehilangan Annie Leonhart!
.
.
.
Bagus. Setelah mereka melewati koridor ini, di kiri mereka akan ada lorong yang menuntun menuju gerbang belakang. Jangan pergi dulu, Annie Leonhart! Survey Corps masih memiliki urusan denganmu!
Eren berlari paling depan dan pastinya Mikasa setia mengikutinya. Jean dan Sasha juga tak mengurangi kecepatan mereka meski berbeda beberapa langkah. Armin seperti biasa selalu menjadi orang yang mati-matian mengejar keempat temannya. Err, harap maklumi kenapa Armin berada di urutan paling belakang, ladies and gentlemen. Ayolah, kita sedang membicarakan soal stamina dan kelincahan disini.
Tapi mendadak Eren mengerem—mengurangi kecepatannya hingga sepatunya berdecit menggesek lantai sekolah. Entah apa alasan dibaliknya, masalahnya berkat tindakan tiba-tibanya tersebut, otomatis Mikasa, Jean, Sasha dan Armin ikut berhenti berlari namun sedikit terlambat. Mereka berempat saling bertubrukan di belakang Eren.
"Ittai!" hidung Sasha beradu dengan punggung Jean.
"Aduh!" Jean lain lagi. Kepala bocah ini malah beradu dengan kepala Mikasa.
Armin tak ketinggalan ketiban sial. Dahinya memerah karena sakit bertabrakan dengan Sasha. Sembari mengusap-usap dahinya, dia melongok dari punggung Sasha—menatap Eren yang terpaku di depan, "Ke-kenapa kau tiba-tiba berhenti, Eren?"
Kenapa dia? Wajahnya jadi serius begitu.
Sedetik kemudian, Eren mengangkat tangannya. Menunjuk seseorang yang sedang berjalan melalui koridor di depannya bersama sekumpulan murid lainnya. Seorang murid perempuan yang tak asing dengan ciri-ciri dari informasi sang sobat.
"Armin, apa itu orangnya?" begitu tanyanya.
"Hah?" Armin seketika melangkah maju dan berhenti disamping Eren. Memperhatikan baik-baik karakteristik si murid perempuan.
Rambut pirang, ceklis. Diikat gulung, ceklis. Tinggi hampir sama dengannya, ceklis. Pakaian berantakan, ceklis. Kulit putih, ceklis.
Kedua alis Armin terangkat sempurna. Tidak salah lagi! Itulah gadis yang dia temui di gudang siaran kemarin! Si gadis perokok sinis nan dingin!
"Ya! Itu orangnya! Gadis pirang yang berjalan di depan mereka," ujar Armin memberikan konfirmasi positif.
Lagi-lagi para rekrutan baru organisasi penyatu sekolah tersebut menoleh pada perempuan yang diyakini sebagai bos besar jurusan Budaya.
"Dia?" Jean mengerjap-kerjapkan matanya. Karena—yang benar saja! Kenapa gadis sekecil itu bisa menundukkan para preman jurusan berwajah sangar!? Singkatnya, laki-laki ini menolak kenyataan.
Maklum. Jean sempat berpikir jika penglihatan Armin akan kejadian kemarin itu salah besar. Yang namanya pemimpin preman itu pastinya bertubuh tinggi, kekar, wajah super seram, dan intimidasi luar biasa. Tapi apa yang dilihatnya sekarang? 180 derajat berbeda!
Tanpa pikir panjang, kelima orang ini langsung balik badan. Buru-buru bersandar pada dinding koridor, pura-pura mengobrol tak jelas supaya sang target dan pasukannya tidak menyadari kehadiran mereka. Tentunya sesekali mereka melirik ke arah target diam-diam. Apalagi tampaknya sang target menghentikan langkahnya dan sedang bicara pada pasukannya.
Sasha menghitung orang-orang yang mengikuti si pemimpin jurusan Budaya di dalam hati. Ada 12 orang, huh? Banyak juga. Terutama yang mengikutinya semuanya adalah laki-laki bertubuh tinggi besar. Benar-benar tampang tak bersahabat, "Waaah... sampai dikawal begitu. Memangnya dia ketua mafia?"
"Sssst! Jangan berisik!" Jean menempelkan telunjuknya di bibirnya, "Ayo kita berjalan di belakang mereka. Pura-pura tidak peduli," ujarnya lagi karena sang target kembali bergerak. Kali ini dia berjalan menuju lorong yang menuju gerbang belakang.
Survey Corps berhasil! Mereka memang belum kehilangan bos besar musuh yang ingin mereka taklukkan! Untung saja Armin cepat menyadari kesalahan fatal mereka, sehingga masih menemuinya di jam segini.
Tapi perkataan Eren menarik perhatian mereka lagi, "Aku punya ide."
"Eren?" kepala Mikasa dipenuhi tanda tanya.
Ide, katanya? Baiklah, apa yang dipikirkan Eren kali ini?
"Kalau dia mengenal kita juga, akan sulit menyelidikinya karena dia akan menghapal seluruh anggota baru Survey Corps. Jadi biar Armin saja yang maju," idemu sangat jenius sekali, Eren! Tepat seperti yang Penulis pikirkan.
Dalam kasus ini, bukankah Annie Leonhart hanya bertemu dengan Armin dibandingkan rekrutan lain Survey Corps? Terlalu berisiko jika perempuan itu mengenal mereka semua. Jadi, selagi hanya Armin yang mengenalinya, lebih baik Armin saja yang menjadi mata-mata, 'kan?
Meskipun idenya ini sempat ditolak.
"Haaah?" Armin melotot horor. Bola matanya hampir keluar dari tempat.
Mikasa sendiri mengakui rencana Eren terlalu berlebihan. Sudah cukup dia tak bisa menyelamatkan Armin dari pendaftaran maut itu. Kali ini dia tak bisa membiarkan Armin terjun sendiri ke sarang musuh, "Kau sudah gila, Eren? Armin akan dihajar babak belur kalau pergi sendiri."
"Tenang saja. Armin bukan mengajaknya berkelahi, kok. Hanya mengobrol," walah, bocah satu ini masih kukuh rupanya.
"E-Eren!"
Gawat. Tak ada satupun yang bisa menyelamatkan Armin dari posisinya saat ini. Jean dan Sasha sudah setuju. Mikasa mengalah sementara Eren memaksa.
Apakah tak ada hari buruk lebih dari ini?!
.
Sementara itu...
.
.
Annie Leonhart. 17 tahun. Seorang siswi kelas 1-1 jurusan Budaya dari sekolah kejuruan terkenal, Elshin Gakuen. Ya, untuk murid tingkat pertama di sekolah menengah, dia memang setahun lebih tua dari murid-murid lainnya. Tapi itu tak menghentikan karisma yang dia miliki untuk mendapatkan pengikut setia di hari kedua bersekolah. Tanpa ada satupun yang menyadari bahwa itu bukan karena keinginannya sendiri.
Demi tidak menjadi perhatian mencolok, dia sengaja pulang lebih lama. Menunggu sampai waktu dimana semua murid telah menuju rumah masing-masing. Meskipun itu percuma karena 12 orang laki-laki itu tak memberinya privasi untuk pulang sendiri. Benar-benar menyebalkan. Terpaksa dia menghiraukan mereka dan terus berjalan menuju gerbang belakang.
"Ketua, pidatomu tadi benar-benar keren!" salah satu pengawalnya(?) kelihatannya belum bisa melupakan masa lalu. Ya, sebuah masa lalu ketika Annie memberikan pidato sebagai pemimpin jurusan Budaya yang baru saat jam makan siang.
Jika kalian ingin tahu lebih, benar bahwa pemimpin jurusan Budaya yang baru adalah Annie, sesuai hasil penyelidikan para pendiri Survey Corps. Mengingat jurusan itu ditinggal oleh pemimpin sebelumnya selama tiga tahun, tentu kedatangan Annie disambut luar biasa. Kemarin, tepatnya hari pertama dia masuk ke Elshin, namanya bahkan dielukan di seluruh tingkat jurusannya. Sampai harus memberikan pidato visi dan misi sebagai pemimpin baru. Tak heran seluruh pandangan para calon artis tertuju padanya.
Bicara soal pidato, pengawal lain ikut setuju dengan perkataan pengawal sebelumnya, "Benar! Saya saja sampai terpesona! Pantas saja ketua sangat ditunggu para senior!"
"...Aku tidak begitu peduli soal itu," Annie memasang raut muka dingin seperti biasa.
Lupakan soal pidato. Karena demi apapun, Annie ingin menjungkir-balikkan sekelompok pemuda yang terus mengikuti langkahnya dan meninju wajah mereka karena mengganggu privasinya di waktu tenang. Tapi jika Annie melakukannya, pintu ruang BK atau lebih buruknya lagi, pintu ruang kepala sekolah terbuka lebar untuknya. Singkatnya, tindakan pembantaiannya akan mengundang keributan besar. Jelas dia tak mau memasang taruhan sebesar itu.
"Ada apa, ketua?" tanya mereka begitu Annie menghentikan langkah.
Annie kemudian berbalik. Melempar pandangan membunuh yang sukses membuat para pengawalnya merinding, "Kenapa kalian terus mengikutiku?"
"Ta-tadi para senior berpesan untuk mengantar ketua sampai di rumah. Kami harus memastikan Survey Corps tidak macam-macam..."
"Be-benar, ketua! Ba-bagaimana kalau ketua dikeroyok?"
"Apa kau pikir aku selemah itu?" ekspresi Annie semakin dingin, sedingin tatapan cinta pertamamu yang menolak pernyataanmu di depan kelas.
Nyali para pengawalnya mendadak ciut. Kaki mereka bergetar hebat seolah akan kencing di celana saat itu juga.
"Ti-tidak, ketua. Sama sekali tidak..."
"...Aku akan pulang sendiri. Jika aku tahu kalian mengikutiku, aku akan membuat kalian menyesal mengenalku. Tak peduli pada apa yang senior katakan."
"Ba-baik, ketua..."
Ancamannya berhasil. Dalam waktu sepersekian detik, kedua belas orang itu lari sekencang mungkin dari sana. Bukan lari melewati gerbang belakang, mereka justru lari menuju gerbang depan. Ya, pada dasarnya rumah mereka memang lebih dekat jika lewat sana. Hanya karena menemani Annie saja mereka rela memutar jauh.
Bagus. Tidak ada lagi murid di sekitarnya. Sekolah benar-benar menjadi sepi. Sepertinya ini saatnya Annie melangkahkan kakinya lagi melewati gerbang. Terus berjalan sembari memegang kedua strap tas ranselnya dengan erat. Ternyata Annie bisa menikmati semilir angin di siang hari mendung ini tanpa gangguan apapun.
"Hei,"
Setidaknya sampai dia mendengar suara laki-laki menyapanya dari belakang.
Baiklah. Orang bodoh mana lagi?
Annie berbalik, siap mengeluarkan makian pada siapapun itu. Sayangnya dia justru mendapati laki-laki yang mengganggu gugat waktu merokok santainya kemarin telah berdiri tegak beberapa langkah darinya. Jelas dia sedikit terbelalak, tak menyangka akan bertemu dengan orang ini lagi.
"Kau..." Annie menautkan kedua alisnya. Ingatannya tak salah. Pemuda pendek berambut bob pirang sebahu itu sangat dia kenal.
Untuk kedua kalinya, seorang Annie Leonhart bertemu pandang dengan Armin Arlert. Pria cupu pengganggu hari pertama Annie bersekolah.
Kebetulan? Takdir? Entahlah. Tapi Annie hanya berdiri diam.
Berikan tepuk tangan pada Armin Arlert yang sukses menjalankan langkah pertama ide Eren. Menyapa hangat dan memberikan senyum canggung terbaiknya. Ya, dia cengar-cengir tak jelas di depan Annie, takut jika perempuan itu menghajarnya.
Hah? Kalian bertanya dimana teman-teman Armin? Mereka tidak jauh dari dua orang itu, kok. Mengawasi diam-diam dari balik pohon seperti mata-mata menguntit buronan. Well, setidaknya kali ini mereka mengikuti trik-trik menguntit dengan baik.
"Gyaaa! Dia benar-benar menyapanya!" Sasha semakin mengepal tangannya. Gadis ini terbawa suasana ketika melihat langsung Armin melakukan kontak.
"Hei, benarkah ini tak masalah? Kudengar kekuatan perempuan itu setara Levi-senpai," jujur, Mikasa masih khawatir. Ingin sekali dia menyusul Armin supaya bisa melindungi laki-laki itu kalau bukan karena ditahan Eren.
"Serius?" sudut mata Jean berkedut, "Sepertinya kita harus membuat acara pemakaman setelah ini, Eren."
"Tenang. Mereka hanya berdua. Tak ada murid-murid sekolah kita di sekitar mereka, 'kan?" yup, Eren yakin situasi baik-baik saja. Dia serahkan ini semuanya kepada Armin, sang sahabat paling dia percayai.
Nah, sekarang apa yang akan kau lakukan, Armin?
"Apa maumu? Ingin menceramahiku lagi? Jika iya, lebih baik menyingkir dari hadapanku sebelum aku mematahkan seluruh tulangmu," percakapan belum dimulai, Annie langsung memberi tuduhan tak beralasan. Ya, terlihat sekali tatapan dingin menusuknya itu seolah melihat Armin sebagai serangga pengganggu. Tak jauh beda dari 12 pengawal yang dia usir.
Namun bukan Armin namanya jika mundur begitu berdiri di garis depan, "Namamu Annie Leonhart, bukan?"
Annie tidak menunjukkan reaksi apapun. Matanya masih menatap datar pada Armin.
"Darimana kau tahu namaku?" wajar Annie merasa aneh. Mereka baru bertemu kemarin dan laki-laki itu sudah tahu namanya, "Apa dia satu jurusan denganku? Tapi aku tak melihatnya saat berpidato tadi..." ya, Annie yakin dia tak melihat Armin di antara teman-temannya di aula musik ketika berpidato. Well, gadis ini belum tahu Armin berasal dari jurusan yang berbeda.
"Kemarin aku memperhatikan name tag-mu ketika kamu melewatiku," jawab Armin santai.
Hooo? Jadi begitu, ya? Annie mengerti sekarang, "Aaah, benar juga. Kalau tak salah kau bilang namamu adalah... Armin Arlert," mana mungkin dia melupakan perkenalan singkat dari pengganggu waktu merokoknya itu? Wajah serta sikapnya sangat membekas dalam ingatan Annie. Suatu kebetulan mereka bertemu dalam 24 jam, "Kau bukan dari jurusanku, 'kan?"
Untuk sesaat, jantung Armin serasa berhenti berdetak.
"Eh?"
Ketahuan?! Sungguh, secepat ini!?
Armin spontan berkeringat dingin, diikuti para penguntit lainnya yang menahan jerit histeris dari balik pohon. Wah, gawat gawat gawat!
"Menurut analisisku..." Annie melanjutkan penerawangannya. Dia memperhatikan Armin dari bawah ke atas, "...Biar kutebak. Kau pasti berasal dari jurusan Kesehatan. Penampilanmu seculun orang-orang pintar itu."
Wah, diskriminasi penampilan. Mengingat Armin biasa dikatai seperti itu, laki-laki itu hanya mengangkat bahu.
"Tidak semua orang culun dari jurusan itu."
"Well, mungkin. Tapi untukmu itu beda kasus," Annie melipat tangannya. Memiringkan sedikit kepalanya dan tak lupa wajah stoic ikut menyertai, "Aku ingat sekarang siapa dirimu. Begitu aku mendengar namamu, aku teringat dengan nama siswa yang menduduki peringkat pertama dalam ujian masuk Elshin. Kau jenius juga bisa mendapat nilai 100, Arlert."
Ohooo! Pujilah kejeniusan IQ tiga digit Armin Arlert sampai dirinya pun dikenali oleh pemimpin jurusan preman! Tidak sia-sia dia bertapa di gua batu(?), bersemedi mendinginkan kepala serta mengosongkan pikiran sebelum berkutat pada buku-buku. Sudah seperti pendekar abad pertengahan saja. Tapi kerja keras tak mengkhianati hasil, 'kan?
Jadilah bocah ini tertawa malu sembari menggaruk pipinya, "Ehehehe... Te-terima kasih..." satu hari ini dipuji jenius, siapa yang tidak salah tingkah?
Lalu apakah Annie peduli? Tidak, tidak, tidak. Justru gadis itu mendengus kasar, berbalik lalu berjalan meninggalkan Armin. Pikirannya bisa ditebak. Tampaknya Annie tak mau membuang waktunya mengobrol dengan jurusan musuh.
Eit, tahan dulu, Annie. Armin beserta anggota Survey Corps masih belum selesai berurusan.
"Kamu mau kemana?" Armin berlari kecil mengejar Annie hingga akhirnya menyamai langkahnya.
Dan jawaban Annie sangat singkat sekali, "...Pulang."
Jutek. Itulah kata yang mampir di pikiran Armin setelah bertemu dua kali. Benar-benar tak tertuang perasaan hangat di setiap kata gadis itu. Tak heran. Armin bisa menebak ini sebelum terjun ke garis depan. Pertemuan pertama kali pun juga tidak meninggalkan kesan baik.
"Dimana rumahmu?" pengumpulan informasi babak satu.
Armin berhasil memancing mata setan itu melirik dingin padanya, "Apa kau penguntit atau semacamnya? Menjauhlah dariku. Kau tahu sendiri aku jurusan Budaya. Kau pasti akan dibunuh kalau ketahuan berbicara denganku," spkeluasi Annie benar tentang tahunya Armin soal jurusannya. Namun gadis ini berpikir Armin mengetahuinya karena mereka bertemu di wilayah jurusannya, bukan karena informasi pendiri Survey Corps. Yah, setidaknya bukankah itu berarti aman? Karena kalau dia tahu siapa Armin, dijamin pemuda itu akan didupak-dupak sampai tak berbentuk.
Armin tak bergeming. Dia hiraukan ancaman itu dan terus berjalan disamping Annie. Benar-benar cari mati, para pembaca. Kalian bisa sebut itu karena nekat, penasaran yang mendadak datang, atau aura-aura tak enak dari penguntit lainnya.
Oke, sudah cukup. Sang pemimpin jurusan Budaya mulai muak. Emosinya mendidih. Padahal dia sudah mencoba mengusir laki-laki ini, tapi dia terus mengikutinya bak bebek jantan di musim kawin. Perlukah kemampuan bela diri Annie dipraktikkan di tempat ini?
Annie mendecih kesal. Empat perempatan merah timbul di dahinya disertai geraman. Kembali dia menatap Armin dengan pandangan membunuh, "Kau tidak mengerti bahasa manusia?"
Bagaimana, Armin? Apa kau mau mundur sekarang?
Tidak. Perhatiannya sekarang bukan kepada mata setan dingin itu, melainkan kartu tanda pengenal dan selembar karcis di saku blazer Annie. Selembar karcis dimana dia sangat mengenali itu sebagai karcis kereta api. Jadi, gadis ini akan pulang dengan ular besi itu, huh?
Tapi tunggu dulu. Kartu tanda pengenal. Karcis kereta api. Jam 3 sore.
Seluruh jaringan pembawa informasi bergerak cepat di otak Armin. Benar-benar kecepatan luar biasa supaya demi memunculkan satu analisis agar bisa menebak dimanakah seorang Annie Leonhart tinggal. Tidak terlihat sama sekali raut wajah berpikir di wajahnya, hanya raut datar sehingga Annie hampir kehabisan kesabaran.
"Hei, apa kau mende—"
"Apa kamu tinggal di apartemen Golden Gate yang ada di blok 4 kota ini?"
Annie mematung.
Penguntit di belakang sana pun ikut mematung.
Armin? Unjuk senyum kemenangan dan puas karena tebakannya benar. Rasanya lucu sekali melihat ekspresi kesal Annie sekarang yang membiarkan dirinya ditebak semudah itu.
Mulut Annie menganga mengikuti membulat sempurnanya kedua mata sinisnya. Tahu dari mana laki-laki ini? Apakah dia pernah mengatakan lokasi rumahnya? Tidak, Annie sangat yakin dia tak pernah membincangkan itu dengan Armin, "Kenapa kau bisa tahu?" tanyanya penuh intimidasi.
Sementara para penguntit di belakang mereka asyik kasak-kusuk. Jika dinilai dari balasan Annie, artinya tebakan Armin tepat, 'kan? Artinya gadis itu memang tinggal disana.
"He? Jadi disana perempuan itu tinggal?" Jean bertanya entah pada siapa.
"Tunggu. Armin tahu darimana? Kenapa dia lebih banyak informasi tentangnya daripada kita?" Mikasa sibuk menerka-nerka hal tak pasti.
Lupakan mereka. Mari kita alihkan perhatian kita pada Annie yang sekarang berganti menginterogasi Armin, "Jawab aku. Darimana kau tahu aku tinggal disana? Sebelum aku habis kesabaran dan membunuhmu disini," baiklah. Annie yakin pemuda disampingnya ini adalah penguntit sejati, sampai tahu rumahnya segala. Menjijikkan sekali jika benar begitu.
Tapi tampaknya dugaan bos besar Elshin salah besar.
"Dari karcis kereta api dan kartu pengenal di saku blazermu," jawab Armin tersenyum simpul.
"Hah?"
"Itu karcis kereta api, 'kan?"
"Lalu?"
"Hal yang membuatku yakin kau tinggal di apartemen itu adalah dari kartu tanda pengenal di saku kiri blazermu. Warna kuning kehijauan dengan pinggir abu-abu adalah ciri-ciri tanda pengenal khusus penghuni disana. Singkatnya, kau penghuni di apartemen itu, 'kan?" Annie hanya diam mendengarkan. Tak ada satupun komentar keluar. Maka Armin pun melanjutkan lagi, "Masalahnya apartemen Golden Gate ada di dua lokasi, yaitu blok 2 dan blok 4 kota Sina. Lalu darimana aku tahu kamu tinggal di blok 4? Stasiun kereta terdekat dari sekolah ini adalah stasiun Bahn. Dan jaraknya dari sekolah dengan berjalan kaki adalah kurang dari 20 menit. Sekarang jam 3 sore. Itu artinya kamu akan naik kereta dengan jadwal keberangkatan kurang dari jam 4. Satu-satunya kereta yang berangkat dengan jadwal itu hanyalah kereta api Deutsche yang berangkat jam 15.45. Kereta Deutsche hanya melewati tiga stasiun di jam segitu. Stasiun Frankfurt di blok 3, stasiun Goethe di blok 4, dan stasiun Ruheir di blok 5. Jika kita eliminasi, berarti kamu tinggal di apartemen Golden Gate blok 4, 'kan?"
What the-? What just happened?
Untuk pertama kalinya dalam hidup Annie, dia terpukau pada kemampuan berpikir seseorang. Terlebih lagi orang itu adalah musuhnya sendiri. Dia tak mampu bergerak, hanya berdiri diam disana. Dengan mata terbelalak lebar dan mulut sedikit menganga, dia tak bisa menyingkirkan pandangannya dari pemuda yang sekarang tersenyum bangga itu. Sangat sulit digambarkan oleh kata-kata. Jenius! Pemuda di hadapannya sangat jenius! Hanya itu yang dapat dia gambarkan pada diri seorang Armin Arlert.
Bukan hanya Annie, Jean juga terkagum-kagum, "Holmes! Kita melihat kelahiran seorang Holmes baru!"
"Semoga aku selalu sekelas dengannya. Kabulkan harapanku, Kami-sama," ini sih Sasha yang malah asyik mengirim do'a supaya bisa terus sekelas dengan Armin di pelajaran wajib. Tak lucu dia bisa sekelas dengan Armin di pelajaran peminatan, 'kan?
"Kenapa kejeniusannya tidak terciprat padamu, Eren?" sungguh, Jean tak habis pikir kenapa teman barunya ini tidak memiliki sedikit kemampuan Armin padahal selalu berada di dekatnya.
Tapi alasan logis diberikan Eren sehingga mampu menutup mulut cerewet itu, "Mana mungkin IQ satu digit sepertiku bisa mengikuti IQ tiga digit sepertinya," begini kata Eren tak sadar mengumbar tabir kebodohannya dalam belajar.
Kembali pada AruAni.
"Bagaimana? Apa aku benar?" tanya Armin.
Well, sebenarnya dia benar, ingin sekali Annie mengatakan itu. Namun ego tingginya menahan itu semua. Dia tidak menjawab pertanyaan itu dan memilih berjalan lagi meninggalkan Armin. Sayangnya sifat keras kepala Armin kambuh di saat tak tepat. Meski terlihat gerak-gerik Annie tak menyukai kehadirannya, pemuda itu tetap berjalan santai di belakangnya. Seolah tak ada masalah apapun ketika mengekori sang pemimpin preman sekolah. Sungguh, Annie dibuat geram olehnya.
"Baiklah, kau ingin tinju kanan atau kiri?" kalau Annie berkata seperti ini, artinya nyawa Armin takkan selamat.
"Eh?"
"Sudah kubilang, berhentilah mengikutiku."
"Aku tidak mengikutimu."
"Lalu kau sebut apa tindakanmu ini?"
"Sebenarnya rumahku berjarak dua gang dari apartemenmu. Jadi kita searah."
"Hah?" Annie tak bisa menyembunyikan keterkejutannya pada fakta dimana ternyata dia tinggal satu kompleks dengan penguntitnya sendiri.
Ternyata insting Eren tak salah. Armin adalah satu-satunya yang pantas menjadi mata-mata di sisi Annie. Punya pengalaman saling mengobrol dan sekarang arah rumah mereka sejalan pula. Tidak ada yang lebih baik jika mata-mata mengawasi target dari jarak dekat. Armin benar-benar cocok untuk misi ini.
"Ayo kita pulang bersama," tawaranmu manis sekali, Armin. Sama seperti senyummu itu. Tapi jangan salah sangka dulu. Dibalik senyum menawan itu tersimpan raa takut tiada kira, was-was kalau ada murid jurusan Budaya yang melihat mereka. Bisa-bisa Armin Arlert hanya tinggal nama.
Demi misi, Armin! Demi misi!
"Tak butuh," cih, gadis jutek ini masih keras kepala juga?
"Tak baik perempuan berjalan sendirian."
"Aku bukan perempuan lemah."
"Meski begitu tetap akan kutemani."
Tak ada gunanya melawan. Annie tahu itu. Pemuda itu takkan mau mendengar kata 'tidak' darinya.
"Terserah..." Annie menghela napas bosan dan kemudian melanjutkan perjalanannya ke stasiun bersama, tidak, tepatnya diikuti Armin. Meski sekarang Armin sedang berkutat dengan ponselnya. Tampak mengetik sesuatu.
Sedangkan Eren dan tiga penguntit saling bertatapan satu sama lain. Mereka bingung pada langkah mereka selanjutnya. Haruskah mereka mengikuti Armin dan Annie? Tapi rumah mereka dari arah berlawanan. Terutama Eren dan Mikasa yang tinggal di blok 2. Jika mereka terus mengikuti kedua orang tersebut, bisa-bisa omelan akan datang begitu mereka terlambat pulang.
"Kita ikuti?" tanya Mikasa ingin memastikan.
Selagi ekspresi mereka ragu-ragu, ponsel Eren berbunyi pertanda pesan masuk. Segera bocah ini mengeluarkan ponselnya dari kantung celananya, melihat layar ponsel untuk mengetahui sang pengirim pesan.
"Hm?"
.
From: Armin Arlert
Time: 15.07 P.M
Subject: None
Dia akan curiga kalau kalian mengikutiku. Kalian pulang saja duluan. Besok aku akan menceritakan apa yang terjadi selama aku mengantarnya ke rumahnya.
.
Tanpa pikir panjang, Eren memperlihatkan isi pesan itu pada ketiga temannya.
Mikasa tampak berpikir sejenak. Harus diakui, sang sobat masa kecilnya itu benar kali ini, "Kurasa Armin benar. Terlalu berisiko jika kita terus mengikuti mereka."
"Ya, lebih baik kita pulang saja. Aku juga sudah lapar," Sasha, sang manusia mulut karet sibuk mengelus-elus perutnya. Pikirannya saat ini mulai tak stabil. Konsentrasi mengintai Armin dan Annie hilang digantikan konsentrasi menebak makanan yang disiapkan di rumahnya. Ck ck ck .
Kemudian Jean melirik gadis itu dan meledeknya tanpa basa-basi, "Pada dasarnya kau memang selalu kelaparan tiap lima menit, perut gentong."
Well, maka di hari kedua menjadi siswa Elshin, misi pengintaian pertama mereka diakhiri dengan perjalanan pulang Armin dan Annie. Semoga mereka bisa melihat Armin besok dalam keadaan selamat.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's note: Dua tokoh utama kita bisa bertemu kedua kalinya! Baiklah, saatnya Penulis bekerja keras untuk menumbuhkan rasa cinta mereka! Terus pantau, ya!
THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!
