Author's note: Yoo, minna-san! Kembali lagi bersama Penulis di fanfic Gadis Ikon Sekolah! Mari standing applause!

Tentunya tak lupa Penulis mengucapkan pada para pembaca yang mau meluangkan waktu mengklik favorit dan follow, juga pada para pembaca yang meninggalkan jejak seperti Raden Wijaya (Uh-huh, akhirnya mereka bertemu lagi^_^), Latte-0-0 (Penulis pun juga suka membayangkan interaksi mereka. Tak sabar interaksi mereka di kapal dianimasikan), AbielFiscoJ (Yooo! Jumpa lagi! Terima kasih, terima kasih), loeybby (untuk sekarang lancar, entahlah di masa depan. Hahaha!), abizarudes (Yossh! Tatakae!), dan Ackerman20Clan (Hahaha, benarkah? Padahal di atas 4000 words, lho).

Very well. Di halaman keempat ini, Penulis akan mendeskrispsikan sedikit suasana belajar di minggu pertama masa belajar Elshin. Tentu saja fokusnya hanya pada dua tokoh utama kita. Semoga menikmati.

.

.

Disclaimer : Isayama Hajime

GADIS IKON SEKOLAH

Halaman Empat: Suasana Belajar Di Elshin Gakuen

By Josephine Rose99

Notes: Peringatan dari Penulis. Beberapa tokoh di fanfic ini memiliki sifat atau karakter yang berbeda dari manga atau anime aslinya. Singkatnya, OOC (Out of Character). Penulis memaksudkan ini sebagai pemanis atau sebagai humor belaka. Karena itu jangan protes. Kalau protes, Penulis akan lempar ke laut.

.

.

.

.

.

GADIS IKON SEKOLAH

HALAMAN EMPAT

SUASANA BELAJAR DI ELSHIN GAKUEN

By Josephine Rose99

.

.

.

Dua hari berlalu sejak itu. Sejak waktu dimana Armin pulang bersama Annie. Beruntung tidak ada bocah-bocah preman Budaya di sekitar mereka, sehingga Armin dapat bersekolah dalam keadaan normal. Sayangnya sejak itu juga Armin tak pernah bertemu lagi dengannya. Padahal anggota Survey Corps lain sampai rela lari secepat mungkin menuju gerbang belakang begitu kelas usai, tapi batang hidung Annie tak kunjung terlihat. Bisa dipastikan gadis itu juga berpikir sama, yaitu segera buru-buru pulang tanpa menghiraukan komentar teman-temannya untuk mengawalnya. Maka wajar saja mereka tak pernah bertemu, 'kan? Gedung kelas jurusan Budaya jauh lebih dekat ke gerbang belakang daripada jurusan lainnya.

Baiklah. Lupakan sejenak perkara mencari Annie Leonhart. Saat ini sang tokoh utama alias Armin sedang maraton menuju kelas matematika. Tak biasanya dia terlambat begini. Yah, itu karena kebodohannya sendiri yang salah melihat kelas. Mengira bahwa pelajaran pertama di pagi ini adalah kelas sejarah, bukan matematika. Tapi kenyataannya justru terbalik.

"Gawat! Gawat! Aku salah kelas!" tidak terlihat satupun murid di wilayah gedung kelas umum membuat kepanikan Armin menjadi-jadi. Dia melirik jam tangannya, memastikan waktu jika dia masih punya kesempatan untuk tak terlambat.

Matanya melotot begitu melihat waktu di jam tangan digitalnya menunjukkan jam 07.59.

"Tinggal satu menit lagi!?" oke, tambah kecepatan!

Kali ini Armin bisa melebihi rekor larinya yang jelek itu demi bisa mendaratkan kakinya di kelas matematika. Dia berhasil sampai di ruangan itu sebelum guru masuk. Armin akhirnya bisa bernapas lega. Tak sia-sia dia lari secepat itu meski dadanya sesak bak kena serangan asma akut. Namun bukan waktunya untuk itu. Dia harus memilih tempat duduknya, 'kan?

Bicara soal tempat duduk, mengingat hanya dirinya seorang yang terlambat, maka tersisa tiga bangku kosong lagi. Dua dari tiga bangku tersebut berada di paling belakang, bersebelahan pula. Sementara satu lagi ada di barisan ketiga, tepatnya nomor dua dari pinggir kanan kelas. Mengingat Armin bukan tipikal suka duduk di belakang, dia memutuskan untuk memilih bangku barisan ketiga itu.

Kelas benar-benar berisik. Kasak-kusuk tak jelas membicarakan apa. Tak ada satupun peduli pada Armin yang berlari kecil melewati mereka menuju kursinya. Dan bicara soal tak peduli, teman sebelah Armin juga bersikap sama. Duduk di pinggir kanan, berpangku dagu sembari memandang keluar jendela. Seorang perempuan berambut pirang yang rambutnya digulung acak-acakan yang memakai kemeja putih dibalut sweater coklat panjang dan celana hitam panjang.

Eit! Tunggu! Tahan dulu!

Bukankah ciri-ciri itu tidak asing? Armin saja baru sadar akan sosok gadis itu setelah duduk di kursinya. Pemuda ini pun menoleh cepat padanya lalu memperhatikan gadis itu dari bawah ke atas.

Serius? Annie!?

Mereka sekelas!?

"Annie?" Armin memberanikan diri memanggil nama target misi Survey Corps.

Mendengar namanya dipanggil, tentunya Annie langsung menoleh. Dan terkejutlah dia mendapati Armin sedang duduk disampingnya. Dahinya berkerut saking shocknya.

"...Kau lagi?" kebetulan macam apa ini? Setengah mati dia menghindari orang ini, pada akhirnya mereka justru menjadi 'tetangga'?

"Hehehe. Ternyata kita sekelas, Annie."

"..."

Cih, buang-buang waktu. Annie melengos, tak memedulikan senyum ramah si kenalan baru. Lagipula dia bukan orang yang mudah bergaul dan ingin bergaul. Tipe penyendiri seperti Annie lebih menyukai waktu tenang tanpa gangguan pemuda yang memiliki kesan matahari.

"Hei, karena kita sekelas, kalau ada yang tak kau mengerti, tanyakan saja," ujar Armin lagi.

"Tak butuh."

Ouch. Dingin sekali.

Baiklah. Armin tahu jika perempuan itu sudah berkata begitu, artinya dia tak ingin mengobrol lagi. Akhirnya pemuda jenius ini memilih diam.

Well, itu sampai ketika kecanggungan mereka diselamatkan oleh sapaan tidak hangat dari sang guru matematika yang masuk dengan cara barbar a.k.a banting pintu.

BRAKK!

Hampir semua murid lompat kambing dari duduknya karena serangan jantung.

Apa-apaan guru itu? Si botak bertubuh tinggi dan berwajah masam itu tampaknya bukan tipikal guru favorit siswa.

"Selamat pagi, generasi sampah!" benar-benar sapaan tidak hangat, para pembaca. Hari pertama para murid baru belajar, dia malah memberikan kesan menyebalkan.

Lalu bagaimana reaksi para bocah itu? Empat perempatan merah timbul di seluruh tubuh diiringi keluarnya aura-aura gelap. Kecuali Armin.

Pemuda ini diam membeku. Sudut bibirnya tertarik atas dan mengukir sebuah senyum hambar, "Ge-generasi sampah?" ini memang pendengaran Armin salah atau guru gila itu benar-benar memanggil mereka sampah?

"Nama saya adalah Keith Shadis! Saya berduka pada nasib kalian karena mendapatkan guru Matematika seperti saya, tapi saya takkan segan-segan! Siapapun yang tak bisa mengikuti pelajaran dengan baik, akan saya berikan nilai D!"

Kau sebut itu perkenalan, botak?! Itu bukan perkenalan! Itu ancaman!

Sip. Namanya terukir abadi sebagai guru killer yang menjadi musuh semua murid!

"JAHAAAAAATT!"

"Pria itu benar-benar seorang guru?"

Penulis bisa mendengar jeritan hati kalian, murid-murid. Sayang sekali guru Shadis tak mendengar itu.

"Kalian tak perlu memperkenalkan diri karena saya tak butuh nama kalian! Yang saya butuhkan adalah talenta kalian dalam berpikir dan menghitung!" ingin sekali murid di kelas matematika itu berteriak di telinganya bahwa mereka juga tak butuh untuk tahu namanya. Tapi tak jadi. Mereka masih murid baru, bukan murid tua. Jadi sifat barbarnya ditahan.

"Cih, dasar guru botak keriput sialan!"

Guru Shadis mengambil spidol dan sebuah buku tebal dari dalam tasnya. Kemudian dia berkata lagi, "Kalian sudah diberikan buku dari pihak sekolah, 'kan? Kalau begitu buka bab pertama! Kita akan mempelajari tentang Aljabar!"

Maka selagi guru Shadis menulis kata 'Aljabar' dalam huruf kapital di papan tulis, semua murid buru-buru membuka buku mereka menuju halaman yang dimaksud.

"Kalian sudah mempelajari rumus aljabar sejak SMP, 'kan? Jadi saya akan mengajari aljabar tingkat lanjut," ucap si botak sialan itu tanpa berpikir bahwa sebagian besar muridnya saja hampir melupakan materi itu. Benar-benar kelas dewa kematian, "...Tapi biarkan saya menguji kemampuan kalian sebentar tentang itu..."

DEGG!

Uh-oh.

Menguji? Berarti mereka akan ditanyai!? Oh, guru Shadis! Jangan tunjuk saya! Jangan tunjuk saya!

Yup, seperti itulah pikiran mereka yang kemampuan matematikanya masuk kategori jongkok. Tengkurap malah.

Mata guru Shadis masuk mode petualang. Melirik kesana-kemari, mencari korban yang cocok untuk tumbal ritual pertamanya. Dan siapakah orang paling tak beruntung itu?

"Kamu!" korban pertama sudah ditunjuk oleh jari keriput tak berkuteks tersebut.

Seorang murid perempuan berambut hitam panjang yang dikepang dua adalah target pertama sang guru galak. Tubuhnya bergetar bak ponsel mendapat panggilan masuk. Kelihatannya dia sudah tahu akhirnya di kelas ini seperti apa, para pembaca.

"Ha-Ha'iii, Sensei..." suaranya pun sampai bergetar juga. Ck ck ck ck.

"Siapa namamu?"

"Mi-Mina Carolina..."

"Beritahu saya jawaban dari soal ini," guru Shadis kemudian menulis sebuah soal di papan tulis.

.

a+b+c = 0

(a+b)(b+c)(c+a)/abc = ?

.

"Waktumu satu menit!" perkataan guru Shadis sukses membuat arwah Mina Carolina hampir keluar dari raga.

Satu menit!? Apa dia sudah gila!? Mina saja tidak tahu apa yang harus ditulis setelah kata 'diketahui' plus titik dua! Dan dia diminta menjawab soal stres itu dalam satu menit?!

Tapi apakah kalian pikir hanya Mina menjadi korban disini? Ck ck ck, naif sekali.

"Kalian juga sama! Jika dia tak bisa, maka kalian harus menjawabnya!"

"EEEEEEEEEEKKKKHHH!?"

Pada akhirnya jurang neraka kebersamaan terpampang nyata di depan mata! Walhasil, jadilah murid-murid baru berkutat dengan buku masing-masing. Mencorat-coret berbagai analisis perhitungan mereka demi menemukan satu jawaban benar. Tak ketinggalan juga pemimpin jurusan Budaya. Tangan kirinya mencengkeram rambutnya saking otaknya sulit diajak berpikir.

Armin? Keh! Kecil! Santai dengan jiwa raga paling damai di kelas itu. Tak sedikitpun jarinya bergerak meraih pena untuk ikut menghitung. Otaknya sudah cukup menjadi buku sekaligus kalkulator.

Satu menit berlalu dan saraf-saraf di otak Mina sukses terlilit. Serius, dia benar-benar tak sanggup. Intinya? Ya, bocah ini tak tahu jawabannya.

Guru Shadis melirik ke arah buku Mina yang dipenuhi coretan. Setelah matanya memastikan bahwa tak menemukan jawaban disana, lagi-lagi dia mengeluarkan bentakan no jutsu yang sukses membuat Mina terkesiap, "Dasar bodoh! Lama sekali! Seharusnya kau mengisi otakmu dengan baik, dasar murid tak berguna! Daripada di sekolah, kau lebih pantas menjadi sampah di jalanan!"

Wah, kasar sekali. Benar-benar melukai kokoro Mina paling dalam.

Setelah korban pertama tak memenuhi ekspetasi, guru Shadis mencari korban selanjutnya.

"Kamu!"

Dewi fortuna sungguh tak memihakmu sekarang, nak. Karena demi apa Annie lah korban kedua guru galak itu?

Annie bisa merasakan hawa dingin di seluruh tubuhnya. Beberapa tetes keringat bercucuran melambangkan betapa panik sekaligus takutnya dia sekarang. Meski guru Shadis berdiri di depan kelas, Annie tahu aura-aura tak enak dari guru itu berhasil merasuki mentalnya.

"Siapa namamu?"

"...Annie Leonhart, Sensei..."

"Apa jawaban dari soal yang saya tanyakan padanya tadi?"

Diam. Ya, Annie terdiam. Mana dia tahu jawaban soal sulit itu! Dalam satu menit pula! Annie pun mengalihkan pandangannya, berusaha tak menatap sang guru. Dia menunduk melihat bukunya yang dipenuhi coretan tak berguna. Itu salah. Semua analisis perhitungan itu salah.

Bagaimana ini? Dia harus menjawab apa?

"...Negatif satu."

Eh?

Armin?

Telinga Annie dapat mendengar jelas bisikan lembut itu. Suara pemuda yang paling ingin dia hindari membisikkan dua kata yang dapat membantunya keluar dari situasi sulit.

Apa Armin sedang membantunya? Sedang memberikan jawaban dari soal neraka itu?

"Negatif satu. Cepat katakan," bisik Armin lagi. Maklum, pelototan guru Shadis belum hilang juga. Dia tahu jika Annie tak segera memberi jawaban, bentakan serta penghinaan akan keluar dari mulut pria itu.

Jujur, harga diri Annie terluka. Dia tak percaya dibantu oleh musuhnya sendiri! Tapi saat ini situasinya sangat berbeda. Diam-diam Annie bersyukur Armin duduk disampingnya sehingga bisa membisikkkan jawaban benar. Maka, Annie pun mengangkat kepalanya lagi, menatap sang guru sembari mengepalkan erat kepalan tangannya.

"Ne-negatif satu, Sensei," ujar Annie pelan.

Hening. Annie tahu semua pandangan teman sekelasnya tertuju padanya karena bisa menjawab soal itu.

Tapi siapa peduli? Lihatlah senyum kecil guru Shadis yang terukir di wajah galaknya! Annie tak percaya ini! "Hooo, kamu bisa menjawab dengan benar rupanya. Bagus," begini kata guru Shadis memberi satu acungan jempol padanya, "Setidaknya ada mutiara di kelas orang-orang tak berguna ini."

Benar? Jawabannya—tidak, maksudnya jawaban Armin benar?

Annie dengan cepat menoleh pada Armin yang sekarang tersenyum padanya. Bukannya dia tak peduli pada senyum yang dia anggap menjengkelkan itu, tapi Annie sangat kagum! Benar-benar peringkat satu sekolah. Soal sesulit itu dapat Armin ketahui jawabannya dalam semenit tanpa mencoret di atas kertas!

Namun guru Shadis kembali bersuara, "Satu soal lagi. Siapa yang tahu jawabannya, silahkan angkat tangan!"

.

a dan b adalah bilangan real yang berbeda dan memenuhi a/b + a+10b/b+10a = 2.

Nilai a/b = ?

.

"Nah, saya beri waktu sekitar—"

"Shadis-sensei," siapa yang tak langsung menoleh pada Armin yang sudah mengangkat tangannya bahkan beberapa detik setelah soal ditulis!? Guru Shadis saja sampai mengernyitkan dahi saking tak percaya bahwa seorang siswa mampu menjawab soalnya dalam beberapa detik!

Reaksi Annie? Ah, gadis ini menganga disampingnya. Lagi-lagi terkejut akan kecerdasan Armin. Ternyata nilai 100 di ujian masuk waktu itu bukan sembarang hasil. Yah, jantungnya belum sesiap itu untuk mengetahui fakta IQ Armin adalah 210.

"Namamu?" tanya guru Shadis.

"Armin Arlert, Sensei."

"Apa jawabanmu?"

"4/5."

Kedua alis guru Shadis terangkat sempurna. Namun dirinya masih terdiam selagi murid-murid menanti komentarnya. Karena mereka tidak tahu apakah jawaban Armin benar atau tidak.

Huh. Bodoh sekali. Orang yang sedang kita bicarakan sekarang adalah Armin Arlert. Bukan Eren Yeager.

"...Jenius. Jawaban kamu benar," komen guru Shadis ini sukses membuat semua murid di kelas itu jawdrop.

Mari bunyikan genderang kemenangan dimana-mana demi menyambut benarnya jawaban Armin! Dia berhasil meninggalkan pamor baik pada guru kelas wajib atau umum pertamanya!

"He-hebat!" dalam satu hari ini berapa kali Annie dibuat terpukau oleh Armin? Apakah jangan-jangan soal sebelumnya juga dia jawab dalam beberapa detik?

Jenius! Dia sekelas dengan orang paling jenius yang pernah dia temui!

"Baiklah! Kalau begitu, kita kembali ke topik utama pelajaran! Dengarkan dan perhatikan baik-baik!" sahutan selanjutnya guru Shadis kemudian mengakhiri sesi mencari tumbal ritual pertemuan pertama.

"HA'I!"

.

.

.

Begitu guru Shadis meninggalkan kelas, udara-udara surga menyeruak datang mengisi kembali paru-paru. Dalam hitungan detik, hampir semua murid menjatuhkan kepala mereka ke atas meja. Memang pantas disebut kelas neraka. Tidak ada kesempatan untuk menggosip sekalipun. Guru Shadis dapat melihat seluruh isi kelas lebih teliti daripada guru lain. Yah, mereka bisa bernapas lega sampai minggu depan ketika bertemu lagi dengan si botak.

Ini saatnya Armin meninggalkan kelas matematika menuju kelas sejarah. Pemuda ini tak sabar ingin mendengar rangkuman masa lalu dari zaman manusia purba sampai zaman manusia modern. Tapi langkahnya dihentikan oleh Annie.

"Tunggu,"

Armin berhenti bergerak dalam posisi akan meninggalkan kursi. Tak mengira jika gadis itu memanggilnya. Armin menoleh ke belakang, mendapatinya sedang memberikan lirikan tajam.

"Kenapa kau membantuku tadi?" Annie langsung bertanya tanpa basa-basi. Ya, soalnya aneh, 'kan? Kenapa Armin repot-repot menolong gadis yang menebarkan aura permusuhan padanya?

Namun Armin hanya menjawab kalem, "Eh? Tak ada alasan."

"Berhenti membual. Apa kau ingin menunjukkan bahwa diriku begitu tolol sampai harus ditolong olehmu?" cih, gadis tsundere ini. Padahal kenyataannya dia tadi memang tak bisa menjawab. Ck, wanita adalah makhluk paling sulit dipahami.

"Waktu itu kau berkeringat dingin saat ditunjuk Shadis-sensei, 'kan? Mana mungkin aku tak menolong orang kesusahan yang berada di dekatku."

"...Cih. Aku tak minta bantuanmu sama sekali..."

Bagi Armin, perkataan Annie terdengar seperti rasa terima kasih. Karena itulah lagi-lagi kedua mata pemuda ini tersenyum,"Sama-sama! Katakan saja padaku kalau Annie kesulitan mengerjakan tugas. Aku pasti akan bantu," ujar Armin. Annie hanya mendengus kasar lalu melengos ke arah lain. Sikap dinginnya tak berubah meski sudah dibantu, eh?

"Setelah ini, Annie akan masuk ke kelas apalagi?" Armin merutuki kebodohannya yang malah penasaran akan jadwal Annie dibandingkan lari ke kelas sejarah. Mungkin itu karena Annie tetap diam di kursinya? Entahlah.

"...Kelas bahasa inggris dan satu praktikum peminatan. Instrumen dasar piano," dua alis Annie bertaut setelah mengatakan hal tersebut. Bertanya-tanya pada diri sendiri mengapa dirinya menjawab pertanyaan bodoh itu. Ada apa dengannya?

"Kau bisa bermain piano?"

"Hn, lumayan."

"Keren! Lain hari tunjukkan kemampuanmu! Murid jurusan Budaya ahlinya soal musik, 'kan?" bagi anak musik, pujian ini sudah seperti makan sehari-hari. Tak begitu spesial bagi Annie mengingat bakat musiknya di atas rata-rata.

Giliran Annie yang penasaran akan kelas Armin, "Kau sendiri bagaimana? Apa kelasmu selanjutnya?"

"Kelas Sejarah dan Geografi," Armin memperbaiki posisi tas pada bahunya. Sambil memegang erat strap dengan tangan kanan, Armin kemudian mengucapkan salam penutup sebelum pergi dari hadapan gadis tersebut, "Sampai jumpa lagi, Annie!"

...

~Gadis Ikon Sekolah Page Four~

...

.

.

"Yooo, Annie!" baru melangkahkan kaki ke dalam kelas bahasa inggris, Annie disambut sapaan salah satu sahabat karibnya sejak kecil. Seorang perempuan berambut coklat terang sebahu dengan memperlihatkan jelas dahinya itu memakai kaos putih polos dipadu rompi coklat gelap yang tak dikancing. Di belakangnya sedang duduk perempuan lainnya dengan bercirikan bertubuh jangkung dan kumpulan jerawat kecil di kedua pipi mengenakan kaus lengan panjang dibaluti jaket hoodie hitam serta celana panjang woodland camo.

Si perempuan jangkung menunjuk sebuah kursi di depan kirinya dan berkata, "Kami berdua sudah menyiapkan kursimu!"

"Hitch. Ymir..."

Yah, setidaknya Annie tak perlu repot mencari kursi. Maka tanpa berkomentar dia meletakkan tasnya di atas meja dan duduk di samping Hitch. Annie lalu membuka tasnya, mengobrak-abrik isinya dan menarik sebuah buku juga pena. Tentunya diiringi tatapan datar teman-temannya.

Hitch memangku pipinya. Terus memperhatikan sikap biasa Annie seolah tak ada masalah apapun, "Bagaimana pelajaran matematikamu? Kau selamat?"

Annie menutup kembali resleting tasnya, "Selamat?"

"Kudengar guru matematikamu si botak kepala batu yang suka seenaknya memberi nilai D pada siswa," lanjut Hitch lagi.

Ah, guru Shadis si sadis, huh? Jika ingin dikatakan tentunya Annie masih bisa menyelamatkan jiwa raganya dari kelas menyebalkan itu.

"Aku nyaris mati di kelas itu kalau bukan karena bantuan seseorang..." jawab Annie sekenanya.

Sekarang Ymir ikut tertarik ke dalam pembicaraan, "Ada yang menolongmu? Siapa?" ada jeda beberapa detik bagi Annie ketika dia akan memasukkan tasnya ke dalam laci meja. Ymir dan Hitch langsung menyadari hal itu.

Gawat! Annie kelepasan!

Sekedar informasi, kedua sahabat karibnya jauh berbeda darinya yang tak begitu peduli tentang masalah jurusan. Annie tahu itu. Jika Hitch dan Ymir mengetahui bahwa sang penolong adalah Armin yang notabene dari jurusan lain, dijamin nyawa si bocah lemah jenius itu takkan selamat. Annie tak bisa memberitahukan hal itu, ya setidaknya untuk saat ini. Apalagi setelah Armin menolongnya dari jurang maut, dia tak bisa memberikan masalah pada pemuda itu.

Kelihatannya ini waktunya Annie harus berbohong.

"Aku tak tahu namanya," beginilah jawaban Annie setelah berpikir ulang.

Tak menaruh curiga, Ymir terus bertanya, "Bagaimana dia menolongmu?"

"Dia memberitahuku jawaban soal dari si botak," oke, untuk satu ini, Annie mengatakan hal sejujurnya, 'kan?

"Beruntung sekali dirimu duduk di dekat murid pintar," Hitch menebarkan aura-aura sirik karena nasibnya tak semujur sang sobat akrab.

Hingga kemudian Ymir menanyakan pertanyaan paling sensitif dan paling tabu sejagat Elshin.

"Kau tahu dia dari jurusan apa?"

Insert bisu chapter dua.

Ck, kalau begini ceritanya, terpaksa Annie masuk mode berbohong next level.

"...Tak tahu."

"Heee..."

Baiklah. Percakapan mereka tampaknya harus dihentikan di saat itu juga karena sang guru bahasa inggris telah masuk menuju mejanya. Seorang pria kurus bertubuh cukup tinggi dengan tulang pipi dan rahang yang tegas. Pria itu memiliki rambut hitam tipis yang dipotong lebih pendek disampingnya. Selain itu kumis dan jenggotnya juga tipis. Harus Annie akui, gurunya kali ini terlihat lebih ramah dibanding si botak.

"Selamat pagi!" sapanya begitu berdiri di posisi.

"Selamat pagi, Sensei!"

"Bagaimana kabar kalian? Sehat?"

"Sehaaaat!"

Setelahnya, guru tersebut berjalan mengelilingi kelas sembari membagikan lembaran-lembaran kertas bermerek Sinar Neraka kepada setiap murid. Jelas para murid cengo. Mereka belum diberikan suguhan perkenalan, tapi sudah mendapatkan kertas yang entah apa tujuannya.

"Sensei, apa ini?" tanya salah satu murid curiga.

Dan jawaban sang guru sungguh menyebalkan sekali.

"Kertas."

"Orang bodoh mana yang bilang ini duit!?"

Dasar murid-murid zaman sekarang. Selalu saja menggunakan hati untuk mengucapkan ragam rutukan. Hhhh... beruntung Penulis bukanlah tipikal murid jahanam seperti ini. Selalu menjadi murid (tak) teladan yang menjadi idola para siswa (bullshit).

"Ta-tapi untuk apa, Sensei?"

"Oh, kita akan kuis sebentar. Setelah itu, kita masuk ke topik pelajaran."

Ternyata kecurigaan para murid di kelas itu jadi kenyataan, ya. Walhasil, jadilah mereka semua serempak terkena serangan jantung.

"NANIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!?"

"Sudah kuduga..." Annie yang belajar dari tragedi kelas sebelumnya tak kaget akan hal ini. Wajar bukan jika kita berpikiran buruk ketika seorang guru membagikan lembar kertas kosong? Annie hanya bisa menghela napas pasrah. Mendapat dua cobaan di minggu pertama belajar bukan hal mudah, para pembaca.

"Tak ada perkenalan, Sensei?" ini sih Hitch yang menggunakan alibi perkenalan supaya lolos dari lubang jarum.

"Nama saya Nile Dok. Tinggi 177 cm, berat 80 kg. Sudah berkeluarga. Itu saja,"

"SINGKAT SEKALIII!"

"Waktu kalian hanya 15 menit. Oh, jangan lupa kalau nilai kuis ini juga akan saya hitung sebagai poin nilai teori. Jadi, kerjakan baik-baik."

GURU SIALAN!

Sial! Kalau begini ceritanya, mereka harus cepat menjawab soal-soal itu dalam 15 menit. Aargh! Kenapa pula guru Nile yang mengajar bahasa inggris dengan mereka? Kenapa bukan guru Pixis? Pak kepsek 'kan juga guru bahasa inggris dan dipastikan sudah diakui sebagai guru favorit siswa.

Pada dasarnya Elshin memiliki banyak guru-guru tak masuk akal dalam mengajar. Buat stres!

.

Time Flies

.

.

Waktu tinggal tiga menit lagi, namun Annie dan kawan-kawan belum menuliskan jawaban setiap soal. Mereka bertiga terjebak dalam soal yang mereka anggap sulit. Murid lain juga tak ketinggalan. Tampak muka-muka berkerut pada murid-murid yang oh so mighty begonya. Tapi itu masih lebih baik, para pembaca. Kalian tanya kenapa? Itu karena Hitch dan Ymir tidak termasuk kategori. Mereka berdua justru terjebak berkat IQ merangkak ditambah pikiran yang terlalu berlebihan.

Bingung? Ambil Hitch sebagai contoh pertama.

"Sialan! Pertanyaannya terlalu sulit!" gadis ini garuk-garuk kepala sembari melotot seram pada sebuah soal.

(Describe about yourself in three words.)

Bagaimana menurut kalian? Itu bukan soal sulit, 'kan? Hanya diminta mendeskripsikan diri kalian dalam tiga kata. Tapi bocah kampret bernama Hitch ini justru pusing karena hal lain.

"Sialan kau, pak tua Nile! Tiga kata tak cukup menggambarkan diriku! Apa kau tak tahu aku adalah wanita paling cantik, rupawan, seksi, dan menggairah di seluruh duniaaaaaaaaaaaa!?"

Yup, kalian bisa tebak sendiri Hitch butuh berapa kata untuk menggambarkan dirinya.

Lalu bagaimana Ymir? Ah, si bodoh ini pusing karena soal yang berbeda.

(Name the five best memories about your ex.)

Itu benar-benar soal kuis? Serius?

Para pembaca yang pernah atau sedang berpetualang dalam dunia cinta, menjawab soal di atas sungguh mudah. Menyebutkan lima kenangan terbaik tentang mantanmu? Huh! Terlalu mudah!

Tapi itu tak berlaku bagi Ymir.

"Sebutkan lima kenangan terbaik tentang mantan, katanya!? Yang benar saja! Bagaimana caraku menjawab pertanyaan ini padahal aku tak pernah pacaran!? Guru sialan itu ingin menghinaku secara halus atau apa?!" oi, Ymir. Ekspresimu jadi menjijikkan sekali, kau tahu?

Hhhh... dasar bocah idiot. Apa salahnya dia menjawab 'I've never had any fu**ing ex, you blockhead!'? Tapi kita bersama mengetahui jika Ymir menjawab seperti ini, surat SP 1 akan ditempel di jidatnya.

Kalau Annie?

(What's the reason you chose this school over other schools? Explain in one paragraph.)

Annie tak sebego dua manusia gila disampingnya. Tak mungkin dia tak memiliki alasan memilih Elshin dibanding sekolah lain. Namun ada satu masalah. Annie tak begitu pintar merangkai kata-kata bahasa inggris menjadi kalimat. Gadis ini payah dalam grammar dari dulu hingga sekarang. Sebagai bukti, sekarang dia tak bisa menulis lebih dari 'I chose this school because'.

"Sial. Seandainya ada Armin..." benar. Jika saja Armin berada disampingnya. Mengulurkan bantuan diiringi senyuman manis itu sekali lagi. Pasti Annie takkan kesuli—

Annie menggeram.

Apa-apaan? Bisa-bisanya dia memikirkan si anak Kesehatan itu di saat seperti ini! buru-buru Annie menggeleng cepat-cepat. Mencoba mengenyahkan wajah pemuda itu dari pikirannya, "Cih, kenapa aku malah mengharapkan bocah culun itu disini?"

Tinggal satu menit lagi, guru Nile. Dan tak terlihat tanda-tanda dimana sedikit siswamu untuk mengumpulkan lembar jawaban kepadamu. Mari berpikir maklum begitu kalian melihat guru Nile menghela napas berat, kecewa pada murid baru di hari pertama mereka belajar.

"Ya ampun... kalian sungguh menyedihkan," guru Nile yang awalnya berdiri di belakang kelas kembali ke depan, "Apa boleh buat. Saya akan berikan tiga soal bonus."

Dalam hitungan detik seluruh mata siswa di kelas itu menjadi berkilat-kilat.

"OOOOOOHH!" teriak para murid dengan noraknya.

"SASUGA, SENSEI!"

Cih, ada maunya saja baru diberikan pujian. Guru Nile tentu terbiasa akan hal ini. Maka, ketika dia kembali ke kursinya, dia berkata lagi, "Soalnya akan saya ucapkan. Terjemahkan apa yang saya katakan ke dalam bahasa inggris dan tulis di belakang lembar jawaban kalian."

"HAAAA'II!"

"Baiklah. Soal bonus pertama..." guru Nile berdeham sebentar. Menarik nafas panjang sembari menatap tajam semua murid lalu bersabda, "...Encok."

Batin murid-murid yang mengharapkan soal bonus sebagai jalan terakhir mereka langsung terbanting dengan sangat tidak elit sekali.

"Bangsat! Bagaimana aku tahu!?" bagaimana Hitch tidak mengucapkan kata makian dalam hatinya? Ini pertama kali dalam sejarah hidupnya dia baru tahu ada soal bonus seperti itu!

"Seseorang, tolong ajarkan dia arti dari soal bonus!" kalau ini batin Ymir yang celingukan mencari pertolongan diiringi keinginan untuk mendamprat guru Nile dengan tenaga gorilanya.

"Soal bonus kedua..." lupakan soal pertama, teman-teman. Mungkin lebih bagus jika kita bertaruh pada soal kedua yang punya kemungkinan normal, "...Pria telanjang yang sedang berburu chesnut dan berpesta barbekyu di pinggir hutan."

Tidak! Itu bukan soal normal sama sekali!

"SOAL MACAM APA ITU!?"

"Hei, apa ini benar-benar kelas bahasa inggris!?"

"Soal terakhir..." mendadak atmosfer di kelas tersebut menjadi berat. Sangat tegang sampai terlihat keringat bercucuran di wajah siswa baru.

Asal kalian tahu, jantung para murid saat ini berdebar-debar layaknya sedang jatuh cinta. Harapan mereka pupus untuk menjawab dua soal sebelumnya yang tak masuk akal itu. Sekarang harapan mereka ditaruh setinggi mungkin pada soal terakhir.

Tapi apa? Bukan soal aneh lagi, 'kan?

"...Flugel der freiheit," pada akhirnya semua soal bonus dari guru Nile tak ada yang beres!

"BRENGSEEEEK! ITU 'KAN BAHASA JERMAN!" Ymir merasa dia berada di kelas yang salah, saudara-saudara. Dia tak menyangka mendapat soal bahasa Jerman di kelas bahasa inggris. Tampaknya perlu diadakan jajak pendapat darurat demi memastikan Nile Dok termasuk guru waras atau tidak.

"Dia itu sungguhan guru!?" sepakat dengan Ymir, Annie juga tak habis pikir akan tiga soal bonus tersebut. Gadis ini hanya mampu melongo di kursinya.

Lalu Hitch? Bocah ini sudah menjedukkan kepalanya ke meja saking stresnya, "AKU TAK BISA MENGERJAKAN TIGA SOAL BONUS SIALAN INIII!"

Benar-benar suatu ironi tak terduga. Ck ck ck ck.

...

~Gadis Ikon Sekolah Page Four~

...

.

.

Sebuah surga dunia singkat bagi para murid datang juga. Waktu pergantian jam kelas! Itu juga berlaku bagi trio gadis jurusan Budaya yang sedang melenggang menuju gedung jurusan mereka. Well, setelah berurusan dengan guru bahasa inggris sinting itu, kelas praktikum instrumen dasar piano sedang menanti.

Ah, bicara soal guru sinting alias guru Nile, tadi dedemit jantan lautan pasifik itu memberikan mereka PR. Ya, Penulis tahu. Sungguh biadab sekali bukan memberi tugas di pertemuan pertama? Meskipun PR yang diberikan bukan hal sulit karena mereka hanya diminta menulis kesan mereka tentang Elshin dalam satu lembar kertas penuh. Masalahnya mengingat kemampuan bahasa inggris mereka yang tak lebih baik dari bocah TK mengenal abjad, itu tetap merupakan tugas paling merepotkan.

"Ada apa dengan guru-guru di sekolah ini? Tidak ada satupun yang normal!" Hitch menggerutu sepanjang perjalanan.

Ymir langsung setuju tanpa pikir panjang, "Benar! Apa otak guru Nile tertinggal di rumah sampai cara mengajarnya jadi absurd begitu!?"

Terus mendengar omelan tak berarti dari mulut kedua gadis tersebut membuat Annie berceletuk dingin, "Hentikan ocehan kalian dan teruslah berjalan ke kelas kita. Kita masih ada praktikum piano."

"Iya, iya, ketua," sahut Ymir.

Tak tahukah mereka betapa muaknya Annie dipanggil ketua sejak hari pertama? Mungkin karena itulah gadis bermata sinis ini melempar lirikan tajam pada Ymir dan berkata, "Berhenti memanggilku 'ketua'."

"Kenapa? Kau 'kan pemimpin baru jurusan kita. Jadi, wajar kami ingin menomorsatukanmu supaya organisasi sialan itu tidak berulah."

"Organisasi sialan?"

"Survey corps. Apalagi?" ucap Ymir mengangkat bahu, "Mereka sedang memburumu, kau tahu? Untung saja saat ini mereka belum tahu seperti apa wajahmu."

"Cepat atau lambat, mereka akan tahu. Lagipula dengan menomorsatukanku atau terus-terusan memanggilku ketua, justru kalian lah yang ingin membuatku cepat ditemukan."

Kali ini Hitch ikut membantu filosofi Ymir, "Apa, sih? Kau takut? Kekuatanmu 'kan setara si cebol Ackerman. Apa yang perlu kau takutkan?"

"Semakin kau dikenal jurusan lain, semakin cepat pula kita hancurkan organisasi orang-orang sok kuat itu. Setelah itu, seluruh sekolah akan dikuasai jurusan Budaya!" walah. Bocah jerawat ini sampai mengacungkan tinju saking semangatnya.

Ternyata benar keputusan Annie untuk tak memberitahu mereka soal Armin. Pertempuran antar jurusan memang menjadi salah satu prioritas mereka sebelum mereka diterima di sekolah ini.

"Sebelum menyatukan seluruh sekolah, pikirkan saja bagaimana cara kita menyelesaikan PR dari Nile-sensei," ujar Annie mencoba realistis pada keadaan mereka sekarang. Ayolah, ini bukan saatnya memikirkan menaklukkan jurusan lain sementara tugas mereka belum selesai.

Tapi jawaban dari mereka benar-benar ingin mengundang tabokan dahsyat nan sakti bos besar Elshin.

"Tenang saja, Annie. PR itu akan terjawab pada waktunya!" ucap Ymir sembari mengibaskan tangannya. Sikapnya sangat santai pada pengerjaan PR dari guru gila itu.

Dan apa pula maksudnya 'akan terjawab pada waktunya'? Tak mungkin kertas mereka mengerjakan sendiri, "Apa maksudmu?" tanya Annie tak mengerti.

"Kau tahu, biasanya ide-ide luar biasa itu akan muncul di saat-saat terakhir, 'kan? Lagipula aku tak punya mood mengerjakan tugas yang bahkan tak kumengerti artinya," jawaban dari Hitch ini mengingatkan Penulis pada teman Penulis tipikal santai berguling-guling meski tugas menumpuk.

Aargh. Bodohnya Annie mau mendiskusikan soal ini dengan dua spesies badak laut seperti mereka. Hitch dan Ymir tak bisa diharapkan karena pada dasarnya mereka tak mengerti. Oh, jangan ditanya. Mereka berdua lebih mengerti bahasa satwa daripada bahasa manusia. Bahkan Annie tahu pasti mereka di rumah itu seharian hanya molor, bukannya belajar.

Tapi sepertinya sang dewi penyelamat datang menghampiri Annie. Kenapa? Pertanyaan bagus. Itu karena ketika gadis ini menoleh ke arah halaman gedung kelas umum, dia melihat sosok Armin sedang duduk di salah satu kursi taman sendirian sambil membaca buku. Rajin sekali.

Tunggu. Benar juga! Armin! Pemuda itu lebih bisa diandalkan dibanding kedua sahabatnya, 'kan? Dia bisa meminta bantuan dari Armin dan pasti PR-nya akan siap dalam waktu singkat. Namun ada satu masalah. Dia ingat betapa dinginnya dirinya menolak penawaran Armin perihal tugas sekolah. Haruskah dia menyingkirkan ego setinggi langit miliknya demi PR laknat guru Nile?

"Annie?" Hitch bingung melihat Annie mendadak bisu dan tak memperhatikan mereka.

"Kalian pergi dulu. Aku ada sedikit urusan," ujar Annie kemudian berlalu dari sana meninggalkan teman-temannya dalam kecengoan.

Hitch dan Ymir saling bertukar pandangan, tak mengerti pada perubahan Annie yang awalnya tiba-tiba membahas PR berubah menjadi urusan misteri. Padahal praktikum piano akan dimulai dalam 15 menit dan Annie pergi entah kemana. Tapi mereka memilih mengikuti saran Annie alias pergi lebih dulu ke gedung jurusan. Well, mereka berpikir Annie ingin merokok sebentar demi melepas penat mengingat mereka berdua sangat mengenal gadis itu.

.

.

.

Terlalu asyik menenggelamkan diri dalam buku membuat Armin tak menyadari kehadiran Annie di belakangnya. Pemuda bob pirang sebahu berkemeja panjang biru dan bercelana panjang hitam ini terus membaca paragraf demi paragraf pada halaman yang menampangkan lapisan tanah di sebuah bab. Itu sudah cukup membuat Annie meringis. Ternyata Armin sanggup membaca buku tebal ratusan halaman tema Geografi yang tampak tua dan usang. Apakah dia meminjamnya dari perpustakaan atau itu miliknya sendiri? Annie tak tahu. Dia juga tak mau bersusah payah meluangkan waktu membaca buku itu mengingat dia tidak gemar membaca.

"Armin," Annie akhirnya memberanikan diri memanggil nama pemuda yang sebentar lagi akan menjadi penolongnya.

"Hm?" Armin mengangkat wajahnya, sedikit terkejut. Kemudian dia berbalik dan mendapati Annie sedang menatapnya datar, "A-Annie..."

"Boleh aku duduk disampingmu?"

"Hah? Oh, tentu saja boleh! Silahkan," Armin pun sedkit bergeser dari posisinya, memberikan Annie ruang untuk duduk. Setelah Annie duduk disampingnya, dia bertanya lagi, "Ada apa? Kenapa kau tidak ke kelasmu?" yup, Armin ingat sekali jika gadis ini mengatakan dia ada kelas peminatan setelah kelas bahasa inggris. Jadi sewajarnya gadis ini sudah berada di gedung jurusannya sekarang.

Annie terdiam. Otaknya berkerja memikirkan rangkaian kata-kata untuk menyampaikan maksud menghampiri Armin seperti ini. Beruntung mereka di wilayah kelas umum, jadi tidak ada satupun yang menyadari kedua insan tersebut berasal dari jurusan berbeda. Meskipun Annie harus segera mengatakannya karena waktu semakin sempit.

Ego diri tak berlaku lagi.

"...Kau pernah bilang jika aku kesulitan mengerjakan tugas, tak masalah aku datang padamu, 'kan?" ujarnya memberikan ekspresi datar.

Armin mengerjapkan matanya.

Baiklah. Sepertinya Armin tahu apa tujuan Annie duduk menemaninya sebentar di kursi itu. Wajahnya terlihat puas. Dia tersenyum cerah. Sudut-sudut matanya tertarik mengikuti senyumnya yang tambah lebar.

Senyum Armin berubah tulus, "Annie ingin minta tolong tugas yang mana?"

Apa kalian tahu perasaan malu tiada kira tapi tak bisa berteriak di saat itu juga? Itulah yang sekarang dirasakan Annie. Inikah yang disebut karma? Dia berkata takkan pernah membutuhkan bantuan pemuda itu, namun kenyataan bermain-bermain dengannya. Annie meneguk ludah. Dia mendengus kasar lalu berdeham kikuk dan menunduk beberapa detik supaya Armin tak bisa melihat rona merah pucat di pipinya.

Ayolah, Annie! Kau sudah mempersiapkan mentalmu demi menjilat kata-katamu sendiri, 'kan?

"Setelah apa yang terjadi di kelas matematika, aku menyadari kau terlalu pintar di antara teman-teman seangkatan kita," kata Annie berusaha menjaga sikap tenangnya, "Guru kelas bahasa inggrisku, Nile-sensei memberikan PR. Dan itu dikumpulkan minggu depan. Kau tahu, aku bukan tipikal yang suka menunda jika ada kesempatan di depan mata. Maksudku... itu..." cih, kalau bukan karena memiliki kedua teman yang tak bisa diandalkan dalam pelajaran, Annie takkan bersusah-susah melakukan ini.

"...Kau ingin aku membantumu mengerjakan PR-mu?" apakah Annie semudah itu untuk kau tebak, Armin?

"...Y-ya," Annie meluruskan punggungnya, bersandar pada punggung kursi, "Kau mau? Aku akan beri imbalan."

"Hahaha! Tak perlu, Annie! Aku tak butuh imbalan. Tak masalah bagiku membantumu!" bukan tawa merendahkan yang dia berikan, Armin justru tertawa senang karena Annie akhirnya mengakui kebolehannya dalam belajar. Melihat ekspresi hangat Armin membuat gadis ini mengangkat kedua alisnya, "Bagaimana kalau siang ini? Setelah jam kelas berakhir. Sekolah masih buka sampai jam 6, 'kan? Kita akan kerjakan PR-mu di perpustakaan. Tak apa?"

"Mm. Tak apa. Kalau begitu... jam satu?"

"Oke! Sekalian aku akan mengantarmu pulang,"

Annie menautkan kedua alisnya. Dahinya berkerut begitu mendengar Armin akan menemaninya pulang seperti dua hari lalu.

"Lagi?"

"Rumah kita searah, 'kan?"

Baiklah, Armin benar soal itu. Meskipun pemuda itu tak menemaninya pulang, faktanya mereka pasti akan pulang bersama jika Annie tak buru-buru pulang demi menghindar, "Hhhh... baiklah. Terserahmu saja," kemudian Annie bangkit dari duduknya. Sebentar dia menoleh pada Armin lalu berkata lagi, "Terima kasih, Armin. Aku terbantu. Aku kembali ke kelasku dulu."

Armin pun mengangguk kecil, "Hn."

.

.

.

"Kalian lihat itu?"

Siapa yang mengira jika percakapan kecil Armin dan Annie diintai sejak awal oleh pasukan baru Survey Corps? Eren beserta kawan-kawan bersembunyi di koridor kelas umum untuk mencuri dengar komunikasi sang rekan dengan target misi. Tak dapat dilukiskan betapa bahagianya Eren yang notabene paling semangat menyelesaikan misi yang diberikan para senior organisasi melihat pemandangan itu.

Marco menyengir. Dia mengacungkan jempolnya pada Eren, "Sangat jelas."

"Kita harus melaporkan ini pada Hange-senpai dan yang lain. Kita selangkah lebih dekat pada tujuan kita," ucap Reiner tak sabar untuk melaporkan pengintaian mereka pada para pendiri.

Selangkah lebih dekat, huh?

Yah, seharusnya mereka bertanya pada Armin bagaimana caranya dia bisa memiliki hubungan dengan Annie hanya dalam empat hari bersekolah di Elshin.

Hebat sekali, Armin. Ilmu bersosialisasimu memang tak bisa dianggap remeh.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Author's note: Hmmm... Penulis bisa mencium bau-bau para pengganggu laknat yang sedikit menghambat hubungan Armin dan Annie. Semoga saja tidak terjadi, para pembaca. Anyway, sampai disini saja halaman keempat fanfic ini. Nantikan halaman lima mendatang! Jangan lupa tinggalkan komentar. Sampai jumpa!

THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!