Author's note: Penulis dengan berat hati mengatakan bahwa fanfic tercinta kita ini akan mengalami penundaan sementara. Why? Jari tengah kiri dan jari jempol kiri Penulis bengkak T_T. Tolong maklumi, saudara-saudara. Jadi halaman keenam akan Penulis ketik setelah jari Penulis sembuh. Tapi sebelum itu, sekali lagi Penulis mengucapkan banyak terima kasih pada pembaca setia yang masih mau membaca fanfic ini. Oh ya, untuk Ackerman20Clan, Penulis sangat memahami maksudmu. Tentu Penulis sudah menyiapkan itu, namun akan dibangun perlahan karena ini tema anak sekolahan. Kalau main tindih seperti di fanfic kita sebelumnya bisa gawat :D. Singkatnya biarkan Armin dan Annie bermain slow dan gentle, hahahaha! But thanks atas sarannya. Itu masukan yang sangat berarti.

.

.

Disclaimer : Isayama Hajime

GADIS IKON SEKOLAH

Halaman Lima: Ymir

By Josephine Rose99

Notes: Peringatan dari Penulis. Beberapa tokoh di fanfic ini memiliki sifat atau karakter yang berbeda dari manga atau anime aslinya. Singkatnya, OOC (Out of Character). Penulis memaksudkan ini sebagai pemanis atau sebagai humor belaka. Karena itu jangan protes. Kalau protes, Penulis akan lempar ke laut.

.

.

.

.

.

GADIS IKON SEKOLAH

HALAMAN LIMA

YMIR

By Josephine Rose99

.

.

.

Pengalaman pertama Armin mengajari seorang preman berjalan lancar dari dugaannya. Sempat berpikir bahwa dia akan dipelototi kedua mata setan itu namun nyatanya tidak. Selain itu, menikmati hawa dingin AC di perpustakaan sembari ditemani kamus bahasa inggris tidak terlalu buruk juga. Khususnya kekaguman Armin pada Annie karena gadis itu sangat fokus mendengarkan serta memperhatikan petunjuk darinya. Sesekali ber-hmm pendek atau mengangguk bahkan bertanya pada sesuatu yang Annie tak mengerti. Ternyata seorang Annie Leonhart tipikal pendengar baik, huh?

Tidak, tidak, tidak. Armin belum tahu saja bahwa Annie memiliki catatan buruk di sekolah berkat tindakannya seperti tidur di kelas. Ya, itu jika kelasnya dimasuki guru-guru tipikal dongeng pengantar tidur. Pernah juga dia melamun dan memandang keluar jendela sehingga tak mendengar apa yang gurunya katakan. Mungkin inilah yang membuat Penulis heran kenapa dia bertingkah baik selama Armin mengajarinya. Menghargai? Who knows.

Tapi waktu damai itu pasti akan menemui akhirnya. PR bahasa inggris dari guru bahasa inggris stres Annie telah berhasil diselesaikan. Annie memandang kertasnya yang terisi penuh dengan rangkaian kalimat dalam bahasa antah berantah. Dan untuk pertama kalinya, dia mengerti pada apa yang dia tulis. Terima kasih tiada tara untukmu, Armin. Meskipun kemudian mereka berdua harus segera meninggalkan tempat itu berkat Eren yang mengirimi pesan pada Armin lewat ponsel. Mengatakan bahwa dia dan Mikasa sedang menunggunya diluar perpustakaan.

Masih memandangi layar ponselnya, Armin berkata pada 'murid' barunya, "Annie, tak apakah kalau kau menungguku sebentar?"

"Ada apa?" balas Annie bingung sambil memasukkan buku-bukunya kembali ke dalam tas.

"Sepertinya teman-temanku menginginkan sesuatu dariku," yup, tentu saja Armin. Kamu yang jelas-jelas meminta mereka pulang lebih dulu pasti bingung kenapa dua sahabatmu rela menunggu, "Bagaimana kalau kita bertemu di belakang sekolah? Maksudku, terlalu bahaya kalau ada yang melihat kita berdua di area sekolah, 'kan?" ujar Armin berusaha menjaga janjinya.

Well, dia akan mengantar Annie pulang, bukan? Sebagai laki-laki sejati, Armin tak bisa menjilat ludahnya sendiri. Maka dari itu dia dan Annie sepakat bertemu di gerbang belakang sekolah demi menghindari saksi mata. Buktinya, belajar di perpustakaan saja mereka harus datang secara terpisah. Armin lebih dulu berada disana dan kemudian Annie menyusul. Beruntung tidak ada murid lain di sekitar tempat mereka duduk. Maklum, umumnya jam segini jarang sekali murid datang ke ruangan penuh buku itu. Merepotkan sekali.

Annie memilih untuk tidak bertanya lebih jauh. Dia pun mengangguk, "Baiklah. Jangan terlalu lama."

"Oke!"

Armin meraih tasnya lalu memanggulnya. Sebentar dia berbalik menoleh pada Annie untuk sekedar melambaikan tangan yang cuma dibalas 'hmm' pendek. Dan setelah dia mengambil kartu perpustakaan dari penjaga, Armin keluar dari tempat itu kemudian menghampiri Eren serta Mikasa yang berdiri tak jauh dari sana.

Eren mengangkat tangannya dan menyapa sang sahabat, "Yo, Armin!"

Tanpa komando Armin pun berlari kecil menghampiri pemuda itu. Tentunya sesekali menoleh ke belakang supaya memastikan Annie tak melihat mereka, "Bukankah aku memintamu pulang duluan? Kenapa kau bisa disini?" tanyanya setelah berdiri di dekat Eren.

"Hange-senpai meminta kita berkumpul di ruang rapat OSIS," balas Eren cengar-cengir tidak jelas.

Bertemu dengan para pendiri? Otak jenius anak Kesehatan itu langsung tahu bahwa ada hal penting yang akan dibicarakan sampai harus ke ruang OSIS di jam pulang sekolah.

"Sekarang?"

"Yup!"

"Omong-omong, apa yang kau lakukan bersama Annie tadi?" berbeda dari Eren, Mikasa jauh lebih penasaran akan apa yang dilakukan Armin dengan Annie di perpustakaan. Maklumi dia. Itu karena dia bersama para rekrutan baru tak bisa mendengar jelas percakapan Armin dan Annie saat jam ganti pelajaran di halaman sekolah.

"Eh? Oh, dia meminta aku mengajarinya untuk menjawab PR Bahasa Inggris," Armin menjawab sekenanya.

Mikasa sejenak mengheningkan cipta.

Armin sinting. Bisa-bisanya dia membantu musuhnya sendiri. Bukankah dulu dia pernah mengatakan bahwa dia takut berurusan dengan Annie? Lalu kenapa tindakannya sekarang berbalik 180 derajat? Mikasa jadi heran pada pola pikir si jenius kutu buku ini, para pembaca.

Lain hal dengan Eren yang malah memuji kebaikan Armin ini, "Kerja bagus, Armin! Kau hebat sekali bisa mendekatinya!" ujarnya seraya menepuk pelan pundak Armin.

"Eren, aku membantunya dengan tulus. Itu tak ada hubungannya dengan misi."

"Apapun itu, pokoknya di antara kita, kau punya benang penghubung dengan perempuan itu. Semuanya akan jadi lebih mudah."

...

~Gadis Ikon Sekolah Page Five~

...

.

.

Tepat seperti perkataan Eren, para pendiri Survey Corps telah menanti kedatangan mereka. Tiga senior tersebut berdiri di depan papan tulis dan di depan mereka dikelilingi meja serta kursi bak ruang rapat. Bukan hanya mereka, para rekrutan baru alias teman-teman baru Armin di organisasi maut itu juga duduk di ruangan itu.

Ah, tidak. Tidak semua. Kurang satu orang lagi.

Dimana gadis kecil berwajah malaikat yang berambut pirang panjang itu?

Dimana Historia?

"Hei, kalian akhirnya tiba juga. Ayo duduk!" seperti biasa Hange melempar senyum secerah mentari di musim panas.

Tanpa banyak omong pun trio sekawan duduk di tiga kursi kosong di hadapan mereka. Duduk tegak sembari memasang wajah serius diiringi lirikan sesekali oleh yang lain. Setelah itu, Mike mengambil beberapa kertas dari meja disampingnya lalu menyerahkannya pada Hange. Tampaknya kertas-kertas itulah kunci penjelasan dibalik dipanggilnya anggota baru ke habitat anggota OSIS.

Hm? Kenapa mereka tidak dipanggil ke ruangan Survey Corps saja, tanya kalian?

"Hange-senpai, kenapa kita harus bertemu disini? Apakah Survey Corps tak punya ruangan khusus?" baiklah. Pertanyaan Mikasa mewakilkan tanda tanya di pikiran para pembaca.

Hange memberi senyuman hangat, "Tentu ada. Ruangan organisasi kita berada tepat di sebelah gedung guru. Tapi kalian 'kan anggota rahasia. Bisa gawat kalau anggota rahasia kita diketahui identitasnya oleh jurusan lain, 'kan? Makanya lebih baik kita bertemu disini supaya kalian disangka sebagai anggota OSIS."

Oooh, ternyata begitu? Well, kita tak bisa menyalahkan antisipasi para pendiri tentang anggota rahasia.

Hange melipat tangannya, kemudian menoleh pada Armin. Gadis ini mengangkat alisnya sedikit, "Armin, kami mendengar dari Eren dan Mikasa kalau kau melakukan kontak dengan target. Apa itu benar?"

Sejujurnya Armin ingin bertanya kapan tepatnya dua sahabatnya membocorkan info itu, namun Armin memilih menahan diri. Ragu-ragu, Armin mengangguk, "Y-ya, senpai. Itu benar,"

"Apa kau mengenal Annie Leonhart sebelum masuk ke sekolah ini?"

"Tidak, senpai. Aku baru bertemu dengannya disini,"

"Bahkan tadi Annie Leonhart meminta bantuannya mengerjakan PR di perpustakaan, Hange-senpai," Mikasa benar-benar menghiraukan pelototan Armin. Hanya memandang lurus pada para senior kelas tiga. Dia tahu jika pemuda berambut bob pirang itu akan mengomelinya karena terlalu banyak bicara, makanya dia mengatakan hal tersebut terang-terangan sekarang. Supaya terhindar dari protes Armin tentunya.

Kelihatannya Hange tak bisa menyembunyikan kebahagiannya atas informasi tadi. Senyumnya melebar, "Benarkah? Oooh! Itu bagus sekali! Kerja bagus, Armin!" katanya senang sembari mengacungkan jempol.

Disisi lain, Levi terdiam sebentar. Dia menyandarkan punggungnya pada papan tulis, melirik satu per satu rekrutan baru, "Tunggu. Jadi singkatnya dari kalian semua, hanya Armin seorang yang bisa dikatakan punya hubungan dengan perempuan itu?"

Seluruh rekrutan pun mengangguk.

Mata Hange tak lepas dari anggukan serentak para juniornya. Dia memperhatikannya sebentar, lalu mengalihkan pandangan pada Armin lagi, "Baiklah! Kalau begitu, aku akan memberimu misi khusus, Armin!"

Tolong tampar pipi Armin sekarang juga demi bisa terbangun dari mimpi buruk ini. Pemuda ini melongo bak orang tolol melihat cengiran tanpa dosa gadis berkacamata itu.

"Eeekh?!"

"Tenang saja! Ini tidak sulit! Kau hanya perlu mencari informasi tentang Annie dari salah satu teman dekatnya,"

"Te-teman dekat Annie?"

Tidak selamanya Hange menjadi juru bicara dalam rapat itu. Mike juga ikut membantu rekannya memberikan penjelasan, "Ya. Menurut laporan dari anggota Survey Corps tingkat dua, Annie Leonhart memiliki dua sahabat sejak kecil. Nama mereka adalah Hitch Dreyse dan Ymir. Mereka berdua berasal dari satu jurusan yang sama dengannya. Dan sama seperti Annie, dua gadis ini juga punya catatan buruk selama bersekolah."

"Catatan buruk?" gumam Marco pelan.

"Ya. Seperti merokok, membolos, atau tawuran dengan murid-murid sekolah lain," Marco membulatkan bibirnya sambil angguk-angguk pelan, sementara Mike melanjutkan, "Kami memintamu untuk mengorek informasi tentang Annie dari salah satu di antara mereka berdua. Yaitu perempuan bernama Ymir."

Sasha mengangkat tangannya, "Kenapa hanya dia, Mike-senpai? Kenapa tidak keduanya saja?"

"Berbeda dengan Hitch Dreyse yang tipikal anak rumahan, Ymir bekerja sebagai anak part time di restoran seafood Bon Appetit. Restoran itu ada di blok 4 kota ini. Kau tinggal disana juga 'kan, Armin?" perkataan Mike ini sudah cukup bagi Armin untuk mengetahui bahwa Eren dan Mikasa lah yang membuat seniornya sampai tahu dimana dia tinggal. Armin hanya membisu, dia tak mampu merespon, "Cukup sulit berinteraksi dengan Hitch Dreyse jika tidak sekelas atau sejurusan. Makanya Ymir lah satu-satunya target untuk melengkapi informasi soal Annie. Dengan kata lain, tugasmu adalah untuk ikut bekerja disana sebagai anak part time dan mendekati Ymir. Itu saja."

"Heeee!?"

"Bukan 'Hee'. Pokoknya kau harus setuju. Aku tak mau mendengar kata 'tidak'," sahut Levi dingin.

"Ta-tapi, senpai—"

"Oh, ya. Persyaratan untuk kerja part time disana tidak sulit untuk disiapkan. Hanya butuh foto, kartu identitas pelajar—tentunya bagi yang masih pelajar, dan mengisi lembar biodata. Levi tadi sudah menyiapkan untukmu. Jadi, kau bisa melamar kerja disana besok!" Hange langsung memotong protes Armin dengan fakta-fakta dimana Armin tak bisa mengelak lagi.

"Se-senpai, aku bahkan belum—"

"Yosh! Semangat, Armin! Aku mendukungmu!" ternyata sang sahabat pun tak bisa diandalkan sama sekali. Tepukan semangat di pundak Armin dari Eren sukses membuatnya mati-matian meredam hasratnya untuk tak menampol pipinya. Belum lagi senyum-senyum manis Armin dapatkan dari teman-teman barunya, seakan ingin berkata bahwa mereka semua sedang mengandalkannya.

Armin tak bisa mundur. Dia hanya bisa menghela napas berat, merutuki nasib sial yang datang beruntun.

.

.

.

Trio sekawan berpisah di koridor sekolah. Saling melambaikan tangan sebelum berjalan menuju kediaman masing-masing. Apa boleh buat. Berbeda dari Armin yang tinggal di blok 4 seperti Annie, Eren dan Mikasa saling bertetangga dan tinggal di blok 2. Yah, biasanya mereka bertiga akan bertemu di stasiun lalu berangkat atau pulang bersama. Namun semenjak Armin dipaksa bergabung ke dalam organisasi maut, Armin sudah dua kali pulang bersama Annie jika dihitung hari ini. Wajar saja hal ini harus dilakukan mengingat mereka masih butuh waktu sampai dimana Armin sendiri yang mengenalkan Annie pada mereka.

Begitu berbelok meninggalkan gerbang belakang, Armin bisa melihat Annie sedang menunggunya dalam posisi bersandar pada tembok pagar sekolah. Dan seperti biasa, tak ada lagi murid-murid di sekitar mereka. Situasi sangat aman untuk pulang sekarang.

"Apa aku membuatmu menunggu terlalu lama?" Armin berlari kecil menghampiri gadis itu.

Menyadari Armin telah datang, Annie kembali berdiri tegak, "Hanya 15 menit. Bukan masalah," Annie menyamakan langkahnya begitu Armin berjalan disampingnya. Berjalan dalam diam meninggalkan Elshin Gakuen.

Cukup lama tidak ada topik bicara singkat di antara remaja tersebut. Membiarkan keheningan mereka diisi hiruk-pikuk suara kendaraan atau orang-orang yang mereka lewati. Sesekali pula melirik ke kanan-kiri demi memastikan tidak ada murid berseragam sama menyaksikan mereka pulang bersama.

Hingga tiba di sebuah perempatan jalan, Annie bertanya padanya, "Ne, Armin. Apa kau ingin menjadi anggota OSIS?"

"Eh?" Armin menoleh padanya. Dengan hati-hati dia memperhatikan raut wajah dingin itu untuk menemukan maksud tersembunyi dibalik pertanyaannya. Karena demi apapun, tak pernah sekalipun Annie tertarik mengetahui sedikit hal tentang Armin, "Ke-kenapa Annie bertanya begitu?" Armin balas bertanya.

"Tadi aku melihatmu masuk kesana bersama kedua temanmu,"

Jika Armin bukan tipikal seseorang yang mampu memanipulasi situasi, mungkin langkahnya terhenti di saat itu juga sehingga timbul kecurigaan dalam pikiran Annie.

Begitu, ya? Begitu rupanya? Ternyata Annie tidak segera pergi menuju gerbang sekolah, melainkan mengintip sedikit arah tujuan dimana Eren dan Mikasa menyeretnya. Kali ini Armin bersyukur pada tindakan cepat Hange yang diungkapkan di ruang rapat OSIS sebelumnya.

"...Tapi kalian 'kan anggota rahasia. Bisa gawat kalau anggota rahasia kita diketahui identitasnya oleh jurusan lain, 'kan? Makanya lebih baik kita bertemu disini supaya kalian disangka sebagai anggota OSIS."

Belum. Masih belum ketahuan. Entah apa yang terjadi pada Armin jika Annie mengetahui identitasnya. Bocah Arlert itu tidak punya deathwish atau semacamnya jika tinju Annie mendarat di giginya.

"Y-ya, begitulah. Aku ingin ikut organisasi itu untuk meningkatkan kemampuan sosialisasiku. Ahahaha," baiklah, suasana berganti sedikit canggung. Armin harus mencari topik lain! Apapun yang tidak menyinggung soal apa yang mereka lakukan di ruangan OSIS, "Annie sendiri? Besok akan dibagikan lembar pendaftaran klub, 'kan? Kau ingin masuk klub apa?" kelihatannya topik pendaftaran klub ekstrakurikuler menjadi satu-satunya penyelamat atmosfer berat ini.

"Mixed martial arts," jawab Annie singkat.

Sasuga pemimpin jurusan Budaya. Armin tak begitu terkejut jika musuh nomor satu Survey Corps ini punya kemampuan mengirim lawannya ke rumah sakit, "Be-bela diri? Kupikir kau akan bergabung dengan band sekolah atau organisasi musik lainnya,"

"Aku tak tertarik ikut klub koor, piano, alat musik tiup, atau semacamnya. Lagipula band sekolah itu bukan klub. Asal kita bersuara emas, mampu bermain gitar, drum, dan piano, kita bisa ditunjuk sebagai anggota,"

"Lalu? Apakah kau tertarik untuk ikut?"

"...Lumayan,"

"Atau bagaimana jika kau menyanyi disini sekarang?" entah diserang bisikan setan mana sehingga tiba-tiba Armin malah penasaran seperti apa suara Annie.

Annie mengernyitkan dahi, lalu menoleh bingung, "Hah?"

"Sedikit saja. Aku ingin mendengar suaramu," bujuk Armin lembut, "Boleh, 'kan?"

Annie termenung. Memandangi wajah Armin yang menatapnya intens. Bola matanya bergerak-gerak, bertingkah dalam gerakan tak pasti. Dia memejamkan mata, mencoba berpikir apakah dia harus mengabulkan permintaan Armin.

Yup, sepertinya tidak masalah. Mungkin setidaknya dia bisa menunjukkan kenapa dia berakhir di jurusan dimana anak-anak berbakat musik dan seni berkumpul. Bibir Annie sedikit bergetar lalu terbuka dan mengeluarkan suara nyanyian.

You

Look as good as the day I met you

I forget just why I left you, I was insane

Stay

And play that Blink-182 song

That we beat to death in Tucson, okay

I know it breaks your heart

Moved to the city in a broke-down car, and

Four years, no call

Now I'm looking pretty in a hotel bar, and

I-I-I can't stop

No, I-I-I can't stop

So, baby, pull me closer

In the back seat of your Rover

That I know you can't afford

Bite that tattoo on your shoulder

Pull the sheets right off the corner

Of that mattress that you stole

From your roommate back in boulder

We ain't ever getting older

Kemudian Annie berhenti. Suara nyanyiannya terputus sampai disana. Sengaja membiarkan lantunan lagunya tidak selesai. Keheningan memenuhi mereka berdua hingga terasa sekali ketika jantungnya berdebar-debar lembut. Sudah lama sekali Annie tidak menyanyi khusus di depan seseorang. Dan entah kenapa dia memilih Armin lah orangnya. Sebagai rasa terima kasih mengerjakan PR bahasa inggris dirasa bukan alasan tepat.

Tapi Armin tidak bergerak. Ya, pemuda itu menghentikan langkahnya. Tidak mengatakan apapun. Membiarkan Annie berspekulasi terhadap kesunyian yang Armin berikan.

"A-apa? Kenapa kau terdiam?"

"...Suaramu merdu sekali, Annie..."

"Eh?"

Persetan gadis itu adalah target misinya. Persetan gadis itu berasal dari jurusan musuh bebuyutan organisasinya. Yang Armin tahu dia sangat terpesona pada melodi yang bergema keluar dari bibir pucat Annie. Wajahnya merona, matanya berkilat-kilat menunjukkan kekaguman luar biasa, "Baru kali ini aku mendengar suara semerdu ini! Suaramu seperti penyanyi-penyanyi profesional saja! Hebat! Pantas saja kau masuk jurusan Budaya! Keren! Kau keren sekali! Aku sangat suka suaramu!"

Benar-benar pujian yang sangat indah. Annie bisa menilai tersiratnya ketulusan dibalik pujian itu. Armin mengatakan sesungguhnya. Pemuda itu langsung menyukai suaranya yang hanya menyanyikan sepenggal lagu.

Annie menoleh ke arah lain. Menautkan sedikit helai rambutnya ke belakang telinga. Berusaha menutupi salah tingkahnya karena dipuji berlebihan. Perlahan rona merah tipis menjalar di pipinya sampai telinganya ikut memerah.

Apa ini? Pujian yang biasa diterima kaum jurusan Budaya yang ahlinya dalam dunia seni apapun itu kenapa bisa membuat Annie merasa...

Lebih bahagia daripada biasanya?

"Ka-kau terlalu memujiku..." ucapnya pelan, "...Tapi... terima kasih..."

"Menyanyi lagi!"

"Huh?" Annie bengong. Sesuka apa Armin pada suaranya? Tolong berhentilah membuat Annie merasa senang sekaligus aneh dalam waktu bersamaan.

"Ayo menyanyi lagi! Aku ingin dengar lagi!"

"...Tidak mau."

"Ayolah, Annie! Sekali lagi!"

"Kubilang tidak mau."

"Lagi!"

"Tidak."

"Lagi!"

"Tidak."

Sebuah pertengkaran kecil antara dua remaja di tengah hiruk pikuk kota. Terus memaksakan pendapat sendiri sampai keinginan terpenuhi tanpa ada maksud, tujuan, dan manfaatnya. Ya, mungkin pertengkaran itu memang tak ada maksud, tujuan, dan manfaatnya. Tapi menikmati perjalanan pulang berdua diselingi perdebatan tidak ada salahnya, bukan?

Apakah Armin yang memikirkan itu? Atau Annie?

Siapa peduli?

...

~Gadis Ikon Sekolah Page Five~

...

.

.

Sialan. Kalau bukan karena mulut ember Eren, Armin takkan berada disini sekarang. Di sebuah restoran seafood bernama Bon Appetit demi menyusup masuk menjadi pekerja part time. Padahal sekarang harusnya Armin berbaring di kamar, membaca buku-buku usia ratusan abad, dan mendengarkan musik slow. Mungkin sudah waktunya pemuda ini membawa plester untuk membungkam mulut cerewet itu supaya tak melemparnya ke dalam masalah baru.

Manajer restoran berada di hadapan Armin, sibuk membolak-balikkan dokumen persyaratan lamarannya. Angin gugup menyerang Armin tatkala merasakan hawa dingin di ruangan manajer diiringi keheningan yang tercipta. Maklumi dia. Dari tadi sang manajer berkacamata kuda dan beruban itu hanya memandang dokumen lalu ke Armin. Dokumen, lalu ke Armin lagi.

Lalu apa keputusannya?

"Baiklah, kau boleh langsung bekerja disini!" jawaban dari manajer sontak membuat Armin terkesiap.

Sungguh? Langsung bekerja di hari diterima? Armin belum pernah mendengar itu, "Eh? Tak apa-apa, manajer?" tanyanya heran.

"Ya! Lagipula kami sedang kekurangan karyawan. Makanya kami sangat membutuhkan anak part time," bibir Armin hanya ber-ooh panjang sembari mengangguk mengerti. Kemudian sang manajer bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Armin seraya berujar, "Ayo ikut saya. Saya akan memperkenalkanmu pada salah satu anggota yang paling saya andalkan di restoran ini."

"Baik, manajer."

Ternyata lebih mudah dari perkiraan Armin. Sepertinya misi penyusupan ini tidak berbahaya bagi dirinya yang memang tak ingin terlibat.

Sang manajer menuntun Armin menuju ruangan khusus karyawan restoran. Dan begitu pintu dibuka, terlihat seorang perempuan jangkung berseragam khusus pelayan restoran tersebut, yaitu kemeja putih lengan panjang, celana panjang hitam dan kain hitam yang diikat menyamping di pinggulnya sedang duduk menopang dagu serta asyik pada ponsel yang sedang dia pegang. Namun kemudian dia menyadari sang atasan telah berdiri di ambang pintu beserta Armin di belakangnya, sehingga buru-buru perempuan itu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

"Manajer," sapanya mengumbar senyum sembari berdiri tegak. Tentunya manajer juga balas senyum kemudian masuk ke ruangan bersama Armin.

Di saat itulah gadis ini menyadari bahwa atasannya membawa orang asing yang tak pernah dia temui sebelumnya, "Manajer, siapa dia?"

Si manajer lantas menepuk-nepuk pelan pundak Armin seraya berujar, "Begini. Restoran sedang kekurangan karyawan, 'kan? Padahal kita sangat sibuk saat persiapan makan malam. Jadi barusan saya menerimanya sebagai pekerja part time. Singkatnya dia anggota baru kita!" manajer lalu menoleh pada pemuda bob pirang tersebut. Dia tersenyum padanya, "Ayo, perkenalkan dirimu."

Mana mungkin Armin tidak menunjukkan sopan santunnya pada anggota yang paling dipercayai si manajer. Pemuda ini langsung membungkuk hormat padanya, "Nama saya Armin Arlert. Saya bersekolah di Eldia Shingeki Gakuen. Tingkat satu dari jurusan Kesehatan. Saya akan bekerja keras sebaik mungkin disini. Karena itu, mohon bantu—"

BYUUURR!

What the-?

Armin bisa merasakan air disiramkan dari atas kepalanya saat dia masih membungkuk! Tetesan-tetesan air tersebut dapat dia lihat dari ujung rambutnya yang kemudian membasahi pakaiannya. Kedua mata birunya terbelalak, tak percaya pada sambutan yang dia terima di hari pertama ini! Apa-apaan gadis itu!?

Bukan hanya Armin, si manajer juga bengong melihat aksi yang dilakukan anggotanya, "Y-Ymir-san! Apa yang kau lakukan?"

Eh?

Siapa tadi, katanya?

"Ymir?" pikiran Armin langsung mengingat nama target misi khusus dari Hange.

Tunggu dulu! Ymir!?

Armin otomatis mengangkat wajahnya! Melihat baik-baik wajah gadis itu dengan sudut mata berkedut. Tapi yang dia dapatkan justru gadis pelayan tersebut sedang tersenyum setan padanya. Uh-oh.

"Haloooo..." ucapnya masih tersenyum iblis plus aura-aura gelap, "Ymir. Tingkat satu dari jurusan Budaya dan dari sekolah yang sama denganmu. Salam kenal."

Waktu sejenak berhenti bagi Armin.

JADI INILAH YMIR ITU!?

INILAH GADIS YANG HARUS DIA INTEROGASI SOAL ANNIE!?

"Jadi dia teman dekat Annie yang bernama Ymir!?" Armin tak tahu harus berkata apa. Dia terlalu shock!

Hei, tapi bukankah ini berarti dia telah membuka kedoknya langsung di hadapan Ymir? Bodoh! Ini semua salah Hange dan para pendiri sialan itu! Kenapa mereka tidak memberikan foto Ymir sebelumnya pada Armin? Aaargh! Kepala Armin tambah sakit sekarang! Baiklah, sekarang apa? Lanjutkan misi atau mundur?

"Ah. Senang berkenalan denganmu, Ymir. Kalau begitu saya permisi dulu," ternyata bocah ini memilih mundur, saudara-saudara. Mudah ditebak alasannya. Well, seperti dia tak ingin kepalanya menjadi sasaran air lagi? Makanya Armin segera membalik badan dan siap melarikan diri dari ruangan itu.

Siap melarikan diri, eh? Berarti kata-kata barusan memiliki makna lain, 'kan? Yup, tepat sesuai dugaan kalian. Ymir langsung menahan lengan Armin sampai pemuda itu nyaris hampir terjungkal ke belakang.

"Eit! Tahan dulu, sobat. Jangan pergi dulu," oh, tidak! Armin semakin merinding tatkala Ymir menariknya hingga dia bisa merasakan deru napas Ymir dari balik bahunya, "Sepertinya kita berdua akan bekerja sama mulai hari ini. Mohon bantuannya..." Ymir lalu memegang dan meremas kuat bahu Armin sampai berbunyi 'kretek', "...Kouhai..."

Mati! Armin akan mati! Armin akan mati di hari pertama bekerja sebagai anak part time!

Cucuran keringat dingin membasahi wajah si jenius. Tubuhnya gemetar bak dipelototi Kuchisake Onna. Dia tak mampu berpikir jernih lagi! Yang dia pikirkan hanyalah bagaimana caranya kabur dari gadis psikopat itu!

Terus, si manajer?

"Tunggu. Kalian dari sekolah kejuruan terkenal itu?" jiah, si manajer justru fokus pada hal tak penting.

"Manajer~," ohooo. Benar-benar suara rayuan level pro. Ymir melepas genggamannya dari bahu Armin dan menoleh pada si manajer, "Bolehkah saya saja yang mengajari anggota baru kita ini?"

"Eh? Ta-tapiii..."

"Ayolah, manajer. Tak apa, 'kan?"

"Bukan begitu, Ymir-san. Masalahnya..." jujur, si manajer mendadak merasa seram sendiri. Dia bisa melihat Armin berubah pucat dan menggeleng-geleng cepat di belakang Ymir. Oke, itu pertanda jelas bahwa Armin menolak keras, "...Kelihatannya laki-laki ini tidak mau. Jadi saya rasa biar saya tunjuk orang lain saja."

Armin ingin sekali bersujud syukur ketika suara hatinya dapat didengar. Tapi bocah ini terlalu naif, saudara-saudara. Apa dia pikir Ymir akan menyerah semudah itu? Lihatlah Ymir sekarang. Ekspresinya berubah ceria namun tersimpan aura-aura tak enak dibalik senyum palsu tersebut.

"Ya ampun, manajer. Laki-laki itu suka sekali bertindak berseberangan dari suara hatinya. Lihatlah," seakan ingin membuktikan perkataannya, Ymir menoleh kembali pada Armin. Menebarkan senyum manis dengan bunga-bunga musim semi sebagai latar.

Armin bergidik. Instingnya mengatakan apapun yang akan dilakukan gadis psikopat ini, pasti akan mengancam mentalnya selama bekerja di restoran itu.

"Armiin~, kamu sangat suka kalau aku yang mengajarimu, 'kaaan~?" tanya Ymir dengan nada semanis madu.

Tidak mungkin Armin tertipu semudah itu, saudara-saudara. Lagipula dia takkan mau merelakan dirinya memiliki pelatih yang punya kemungkinan bisa membunuhnya, "Hah? Mana mungkin aku senang diajari perempuan kasar sepertimu."

GREPP!

Sedetik kemudian dengan kecepatan bak Kiiroi no senko dari fandom sebelah, tangan kanan Ymir mendadak berubah menjadi lebih berotot lalu mencengkeram wajah Armin sampai urat-urat emosi timbul di wajah si pirang jenius.

"Kamu suka, 'kaaaaan~?" tanya Ymir sekali lagi.

"Hm! Hm! Hm!" bagaimana dia mengatakan pendapatnya jika mulutnya tak bisa terbuka sekarang? Terpaksa Armin hanya mengangguk cepat sebelum tangan kotor itu benar-benar menghancurkan tengkoraknya.

Argh! Perempuan jerawat sialan!

Melihat taktik liciknya berhasil, Ymir berkata pada sang atasan, "Bagaimana, manajer? Saya tidak bohong, 'kan? Seperti yang saya katakan. Dia dengan senang hati mau diajari oleh saya."

Sikap sang manajer berubah canggung. Dia bingung bagaimana menilai situasi. Namun mengingat Ymir adalah anggota kepercayaannya, dia akhirnya setuju, "Ba-baiklah kalau begitu. Ja-jangan berkelahi, ya.."

"Siaaap~!"

KLAP!

Manajer membuka pintu ruangan, bersiap keluar untuk kembali ke ruang kerjanya. Sayangnya begitu dia berdiri di ambang pintu, Armin mengikutinya dari belakang. Bocah itu berjalan santai bak sedang jalan-jalan sore di taman saja. Masalahnya tepat sebelum manajer menutup pintu, Ymir keburu mencengkeram kedua pipi Armin hingga bibir pemuda itu mengerucut lalu menarik Armin mendekat sebelum dia benar-benar kabur.

Ck ck ck ck. Sungguh sial nasibmu, nak.

"Kau mau kemana, anak Kesehatan bangsat?" inilah ujar Ymir selagi tangannya sibuk meremas pipi Armin yang banjir keringat dingin.

.

.

.

"Selama bekerja disini, kau harus memanggilku Ymir-sama," Ymir duduk sembari pasang pose angkuh seperti melipat tangan dan kakinya di hadapan Armin yang duduk bersimpuh di lantai. Pandangannya benar-benar dingin bak gunung es di kutub utara, tak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Armin hanya sweatdrop melihat tingkah gadis itu yang bisa dikatakan seperti 'who died and made you queen?'.

Namun Armin tahu bahwa dia harus bermain aman. Dia tak bisa memancing emosi gadis itu lebih jauh lagi. Untuk saat ini, misi menginterogasi harus diundur dulu demi mengutamakan keselamatan.

"Harus pakai 'sama'?" Armin mengerutkan dahi, bingung.

"Yup. Kalau kau tidak memanggilku begitu, selanjutnya air cucian piring yang akan kusiramkan ke wajahmu," oh, kasar sekali. Ingin sekali Armin menampol wajah menyebalkan itu.

"Apa kau tidak punya panggilan akrab dari teman-temanmu? Jadi, biar aku ikut memanggilmu begitu juga."

"Hmmm... memang ada, sih..." Ymir menghindari tatapan selidik Armin, "Tapi aku tak suka panggilan itu..."

"Memangnya kau dipanggil apa?"

"Bu—" si perempuan jangkung seketika menghentikan perkatannya, "Lupakan," ujarnya lagi sambil menggeleng.

Armin mengerjapkan matanya. Kelihatannya barusan sang senior sesama pelayannya memberinya sedikit petunjuk. Ini saatnya dia menggunakan otak jeniusnya.

"Buuu..." Armin melipat bibirnya, tampak sedang berpikir. Hingga kemudian terlintas sebuah kata di benaknya, "Oh, maksudmu bus—uph!" walah. Kata-katanya barusan gagal keluar berkat datangnya telapak sepatu kotor Ymir yang menginjak wajahnya. Sampai menggeseknya segala dan membuat kotoran-kotoran laknat tertinggal di wajah Armin ketika dia menarik kembali kaki sial itu.

"Kau barusan mau memanggiku jelek, 'kan?"

Tindakan Ymir ini berhasil membuat pertama kalinya Armin percaya bahwa jurusan Budaya diisi murid-murid preman! Berani-beraninya dia menginjak wajahnya yang manis itu! Mana sekarang Armin bisa merasakan butir-butir tanah menempel di bibirnya lagi! "Ka-kau benar-benar—BLEH!" sebentar, saudara. Biarkan Armin meludah dulu lalu lanjut kembali, "Kau benar-benar dipanggil begitu oleh teman-temanmu?"

"Dari sejak kecil. Karena itu jangan coba-coba memanggilku begitu."

"Oh, ya? Tapi menurutku..." selama beberapa detik Armin menghabiskan waktunya memperhatikan Ymir dari atas ke bawah. Kemudian dia berujar kalem, "...Kau tidak jelek."

Hening menyapa.

Sang calon dokter jenius itu dapat melihat Ymir kali ini menatapnya intens. Tampak keraguan di setiap sudut wajahnya seolah tak mempercayai komentar Armin tentang panggilannya dari masa lalu. Posenya pun berubah dari melipat tangan menjadi bertopang dagu. Pandangannya tak lepas dari wajah Armin yang sekarang menatapnya bingung.

"Heee..."

"A-apa?" Armin bertanya-tanya apakah dia salah bicara lagi sekaligus berjaga-jaga jika sepatu kotor itu mampir kedua kalinya.

Ymir menegakkan punggungnya, "Tidak. Hanya saja, kau orang pertama yang mengatakan itu padaku."

"Karena itu, kau harus tampil percaya diri. Jangan dengarkan orang-orang yang mengataimu. Jadi jika ada yang menyebutmu jelek, katakan begini pada mereka," Armin merebahkan tangannya di dada dan dengan tampang polos tanpa dosa dia bersabda sebagai berikut, "Kejelekan hanya di sifat saya."

BYUUURR!

Dan sesuai dugaan, Ymir sangat santai menuangkan secangkir gelas di kepala Armin dan meletakkan gelasnya di puncak kepalanya. Walhasil Armin harus mandi dua kali di restoran itu. Ck ck ck ck.

"Oke, kita kembali lagi ke topik," kata Ymir kembali melipat tangan.

"Ba-baik, Ymir-sama."

"Hhhh... kau tahu? Sebenarnya aku ingin sekali bersikap baik padamu. Tapi sayangnya—ya, kau tahu sendiri aku dari jurusan Budaya, 'kan? Dan bagi jurusan Budaya, jurusan lain itu adalah musuh. Singkatnya kau adalah musuhku. Seandainya saja kau ini pria tampan, gagah, kekar dan macho seperti tipeku, pasti aku akan melupakan perkara jurusan dan bersikap lembut padamu."

Wah, diskriminasi wajah setelah sekian lama. Armin mati-matian menahan hasrat untuk menampol Ymir bolak-balik.

"Ooooh, begitu, ya? Maafkan aku yang dilahirkan dengan wajah dibawah standar ini, Ymir-sama..."

"Kau harus bersiap-siap, Armin. Karena pelatihan dariku tidak semudah yang kau kira," aaah! Wajah iblis itu datang lagi! Firasat buruk! Firasat buruk!

Sialan! Mau apa dia!? Apa yang ingin dilakukan Ymir pada Armin? Tidak bisakah dia melihat tubuh Armin bergetar hebat ketika membayangkan ribuan siksaan yang akan dia terima?

"Kenapa aku harus berakhir seperti ini!? Ereeeen! Seandainya kau tidak mendaftarkanku ke Survey Corps, aku pasti takkan ditindas oleh perempuan tak waras ini!"

Mari berdo'a semoga mayat Armin tetap utuh sampai waktu kerja part time selesai.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Author's note: Bagi para pembaca Benang Tak Terlihat, kalian pasti tahu betapa baik sekaligus nekatnya Ymir membantu hubungan AruAni. Tapi di Gadis Ikon Sekolah lain cerita. Bocah jangkung ini akan menjadi orang nomor satu yang menghalangi mereka dalam segala cara! Hahahaha! Yaaah, meskipun entah sampai kapan prinsipnya ini akan bertahan.

Nah, sampai jumpa di halaman selanjutnya. Halaman dimana Penulis akan mengumbar siksaan Ymir terhadap Armin.

THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!