Author's note: Setelah sekian purnama akhirnya Penulis kembali! Kenapa? Kenapa? SIBUUUUUKK! SKRIPSI! MENYEBALKAN! Tapi apa boleh buat, 'kan? Apalagi ditambah dengan keyboard Penulis yang berulah kembali. Tak bisa mengetik! Sial sekali, para pembaca. Hiks hiks. Memang sih sekarang sudah aman. Hehehehe.

Penulis meminta maaf karena membuat kalian terlalu lama menunggu. Sekaligus mengucapkan terima kasih pada para pembaca yang masih mau membaca kisah ini. Karena itu, mari kita langsung terjun saja ke halaman ketujuh. Semoga kalian menyukainya!

.

.

Disclaimer : Isayama Hajime

GADIS IKON SEKOLAH

Halaman Tujuh: Lebih Dekat

By Josephine Rose99

.

.

.

.

.

GADIS IKON SEKOLAH

HALAMAN TUJUH

LEBIH DEKAT

By Josephine Rose99

.

.

.

Malam hari yang indah. Langit biru mulai berubah kehitaman yang dihiasi berbagai bintang diiringi hembusan semilir angin. Waktu tepat untuk bercengkerama mesra bersama kekasih, namun tidak berlaku bagi si Arlert muda. Restoran tempatnya bekerja saat ini memang ramai ketika makan malam tiba sehingga Armin menghabiskan waktunya dengan mengelap peralatan makan yang sehabis dicuci. Mengelap piring, mangkuk, dan lainnya sembari memasang ekspresi menekuk.

Ah, maksud dari ekspresi menekuk ini adalah secara harfiah berkat memar dan bengkak disana-sini. Meskipun dia sudah menutupinya dengan plester atau perban, tampaknya itu tak begitu efek. Kalian bertanya kenapa? Well, tampaknya Penulis harus membawa kalian ke masa lalu sebentar selagi Armin sibuk berpamitan pulang dengan para staf restoran karena waktu kerjanya telah selesai.

Itu terjadi setengah jam lalu ketika Armin sedang melayani seorang pelanggan wanita.

.

FLASHBACK

.

"Baiklah. Anda ingin memesan apa?" Armin menyodorkan buku menu pada seorang wanita tinggi rata-rata berpakaian feminim.

"Hmm... sebentar..." sang wanita tak langsung memilih. Kedua mata lentiknya membaca satu per satu menu yang tersedia. Dan beberapa saat kemudian, dia pun mengatakan pesanannya, "Karena saya sedang diet, saya pesan sepiring nasi goreng tanpa nasi."

Sungguh pesanan yang membagongkan(?).

Sejenak jangkrik dan para kodok paduan suara.

Armin yang baru pertama kali dalam hidupnya mendengar pesanan absurd tersebut hanya bisa pasang muka (-_-).

Ingin sekali dia berlari ke dapur, mengambil penggorengan lalu menampol wajah wanita itu dengan barbar, namun ditahan. Dia bukan Eren atau Jean. Tapi dia harus bagaimana?

Nasi goreng tanpa nasi, katanya!?

"...Apa otak anda terbentur sebelum kemari?"

Ya, itu adalah balasan normal yang cukup baik. Meski si pelanggan langsung bengong.

"Hah?"

Tiba-tiba sedetik kemudian, terdengar derap kaki mendekati lokasi yang ternyata adalah Ymir dengan kecepatan eyeshield 21 sambil mendaratkan tinju sadis secara telak di wajah Armin sampai pemuda itu melesat menabrak dinding restoran.

BUAAGH!

BSYUUUUNGGG... BRUAAKKHH!

Apa-apaan aksi mengundang tontonan publik itu?

Dan seperti apakah reaksi si pelanggan? Bengong babak dua.

Tapi sebelum dia berkomentar, dia mendengar Ymir masuk mode Sebastian dari fandom sebelah sembari berkata, "Maafkan kami, nona. Dia belum lama bekerja disini, jadi kurang dalam hal sopan santun. Lalu? Pesanan anda?"

Si pelanggan tak langsung menjawab. Sempat dia melirik sebentar ke arah Armin yang sedang digotong layaknya karung beras oleh pelayan lain. Sungguh dia ingin menelepon ambulans sekarang juga karena dia tak terlalu yakin pemuda itu masih bernapas setelah terkena tinju sakti ala badak tadi.

"Sa-saya sedang diet, jadi saya pesan nasi goreng tanpa nasi."

"Oke. Jadi pada dasarnya adalah vegetable stir-fry," beri tepuk tangan pada Ymir yang ternyata mengerti maksud lain dari pesanan barusan. Setelah dia menulis pesanan wanita tersebut di buku catatan kecilnya, dia tersenyum ramah padanya.

"Mohon ditunggu."

.

FLASHBACKS END

.

Ymir brengsek. Kalau ingin memukul, perkirakan tenaga gorilamu! Lihat Armin! Babak belur bak dikeroyok ratusan preman. Bagaimana cara dia menjelaskan ini nanti pada si Kakek? Tak mungkin Armin mengatakan bahwa dirinya K.O dalam sekali pukul dari wanita. Karena meskipun lemah, begitu-begitu Armin juga punya harga diri.

Tapi mari melupakan harga diri sejenak karena ternyata pemuda satu ini hampir tak ada harga diri kalau soal bertarung. Apalagi setelah Armin menghentikan langkahnya di sebuah pertigaan jalan tatkala melihat lima laki-laki bertubuh besar dan berotot sedang merokok sambil mengobrol di depan sebuah gang. Tanpa komando kedua kaki pemuda ini langsung mengeper.

Brewok. Bersorot mata tajam. Bertato. Tindik.

Benar-benar hari sial. Armin kehilangan keberaniannya untuk berjalan pulang. Bagaimana ini!? Jika dia ingin sampai di rumah, dia harus melewati para preman itu. Bisa saja dia memutar, tapi cukup jauh dan parahnya harus melewati kuburan. Apa-apaan ini!? Di depannya tersedia kuburan versi fiksi, sementara di jalan memutar ada kuburan versi nyata. Dia harus pilih yang mana?

Ya, sebenarnya Armin terlalu berlebihan, para pembaca. Apa salahnya tinggal lewat, 'kan? Belum tentu juga preman itu tertarik mengusilinya. Namun berkat sejarah panjang kasus pemalakan serta pembulian yang dialami tokoh protagonis kita, membuat nyalinya langsung ciut!

"Armin?"

Seseorang memanggilnya dari samping. Suara perempuan. Armin pun menoleh ke kiri dan menemukan musuh organisasinya berdiri tak jauh darinya sambil membawa plastik berisi entah apapun itu dan memasang tampang bingung.

Kebetulan macam apa ini? Apa yang dilakukan gadis itu di jam segini?

"…A-Annie?" dalam sekejap perhatian si jenius teralihkan.

Annie berjalan mendekatinya sementara Armin masih mematung. Dan setelah berdiri saling berhadapan, dia bertanya lagi, "Ada apa? Kenapa kau diam di tempat seperti ini?"

"Hah? O-oh, i-itu… a-aku baru pulang dari kerja sambilan,"

"Kerja sambilan? Dari restoran seafood tempat Ymir bekerja?"

Armin mendelik.

Ternyata Annie menyadarinya!

"Ka-kau tahu darimana?"

"Jelas, bukan? Dia salah satu sahabatku dan aku lah yang menemaninya kesana saat melamar kerja."

Begitu rupanya? Jadi begitu, huh? Itulah kenapa Armin bisa mendapatkan teman satu perguruan(?) yang seperti medusa, ya? Bagus sekali. Terima kasih, Annie. Terima kasih, Eren. Terima kasih, para senior jahanam.

"Lalu apa hubungannya itu dengan kau berdiri seperti orang bodoh disini? Bukankah rumahmu harus melewati jalan ini?" Annie berubah profesi jadi interrogator.

Armin tak bisa menutupi kegugupannya. Masa' dia harus katakan bahwa dia takut pulang karena tak bisa melewati jalan yang disekelilingnya ada sekumpulan preman? Memangnya dia bocah SD? "Umm… a-aku sedang istirahat. Ehehehe…"

Hanya orang bodoh yang akan langsung percaya pada alasan klise begitu, 'kan? Terutama setelah Annie melirik ke jalan menuju rumah Armin. Membuatnya melihat kelima pria tua asyik mengobrol dengan asap rokok mengepul.

Oke. Sangat dimengerti. Annie tahu bahwa pemuda ini pengecut, tapi tak menyangka sepengecut ini. Dia menoleh kembali padanya. Memberikan ekspresi datar terbaiknya, "Kau takut melewati mereka, 'kan?"

Runtuh sudah harga diri iniiii!

Armin menangis histeris dalam hati. Merutuk kenapa dirinya tak bisa terlihat berani di depan perempuan. Di depan Annie pula! Namun dia hanya terdiam. Dia tak bisa membalas apapun. Pemuda ini hanya bisa menunduk malu sekaligus takut. Benar-benar memalukan. Ck ck ck ck.

Sama seperti Penulis yang pasrah pada sifat pecundangnya, Annie pun juga sama. Gadis itu menghela napas berat begitu menyadari fakta bahwa dirinya akan terjebak bersama pemuda menyebalkan ini untuk sementara waktu. Ya, Annie tak bisa meninggalkan Armin sendirian disini. Pemuda itu sudah banyak membantunya, jadi setidaknya kali ini dia harus balas budi. Maka dari itu, tanpa pikir panjang dia meraih tangannya, menggenggamnya, kemudian menariknya berjalan melewati jalan yang hanya diterangi lampu jalan.

Disisi lain Annie gagal menyadari sesuatu. Dia tak mengetahui bahwa dia baru saja menggali kuburannya sendiri. Tak sadar bahwa dia berhasil memberikan sengatan kejutan yang terasa aneh pada Armin. Armin sendiri berusaha tetap tenang walau jantungnya sudah lari estafet 1 km. Maklum, tak ada perempuan sebaya selain Mikasa yang mau menggenggam tangannya.

Ah, apa ini? Wajahnya terasa panas! Ya, ya! Panas sekali! Dia bahkan bisa tahu semburat merah menghiasi kedua pipinya!

Apa-apaan!? Stay cool, Armin. Stay cool. Kau gila, ya? Annie adalah targetmu. Musuh organisasi sekaligus teman-temanmu! Berhentilah salah tingkah hanya karena bisa merasakan kulit lembut gadis berkulit putih pucat itu. Hanya pegangan! Biasa saja. Bersikap biasa saja!

Well, setidaknya itulah mantera yang diucapkan Armin di dalam hati.

Lalu Annie? Gadis ini hanya fokus berjalan santai, saudara-saudara. Sangat tidak peka sekali.

Tak butuh waktu lama bagi mereka berdua sampai di titik dimana para preman berkumpul. Tidak sedikitpun Annie melirik mereka berlima, khususnya Armin yang malah jadi fokus pada tangan Annie. Yah, namanya dia juga laki-laki normal, para pembaca. Tolong dengarkan jeritan hati si jomblo yang notabene tangannya tak pernah digenggam perempuan—selain Mikasa tentunya.

Aman.

Aman. Tak ada yang terjadi. Mereka dibiarkan lolos!

Fiuh. Ternyata itu hanya Armin yang terlalu parano—

"Wah, wah. Di malam yang dingin ini ada pasangan bocah yang sedang berkencan rupanya~"

Cih. Ternyata tak semudah itu. Salah satu preman terpancing menggoda mereka. Walau Annie menghiraukan perkataan itu dan tetap berjalan sambil terus menggenggam tangan Armin. Dia tak ada waktu berurusan dengan preman bau itu. Meski pada akhirnya teman-temannya juga ikut terpancing. Bersiul-siul menjijikkan yang sukses menyakiti telinganya.

"Oh, manisnyaaa~! Sebegitu erat genggaman itu karena tak ingin ditinggal, huh?"

"Hei, genggam tanganku juga, gadis manis~!"

"Ohohoho! Pura-pura tidak dengar?"

"Yo, Romeo! Tidak masalah kita berbagi satu wanita bersama, 'kan?"

Keh! Dasar para sampah tak tahu diri. Bukannya sibuk mencari pekerjaan, malah sibuk mencari korban yang tak sesuai umur.

Sejujurnya Annie bisa saja berbalik demi mempraktikkan kemampuan bela dirinya pada mereka. Tapi dia tak mau melibatkan Armin dalam masalah mengingat pemuda itu tak bisa berkelahi sama sekali. Mati-matian dia menahan hasrat membunuh membara ini asalkan bisa lolos dari tempat itu secepat mungkin.

Masalahnya bagi Armin itu kasus yang berbeda. Pemuda yang mampu menahan emosi lebih baik dibanding siapapun ini tak bisa menerima perkataan para preman yang merendahkan gadis yang sedang menolongnya. Spontan dirinya berbalik, mengirim tatapan kesal pada preman yang awalnya dia takuti, kemudian berceletuk sebagai berikut;

"Saya rasa menggoda seorang perempuan di hadapan kekasihnya bukan sebuah etika, Paman."

Kedua mata Annie membulat sempurna mendengar perkataan Armin.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupan, Annie bisa merasakan jantungnya nyaris berhenti berdetak. Langkahnya berubah jadi melambat. Mencoba memproses kejadian yang berlangsung untuk mencari alasan mengapa pemuda itu tiba-tiba menjadi berani. Dia bisa melihat sorot mata tajam dari kedua mata yang biasa selalu lembut itu. Sorot mata tajam yang dilayangkan pada sekumpulan pria tua yang sekarang malah bengong.

"...Heeee..."

"Posesif sekali..."

Armin kembali berbalik. Dan entah kenapa justru membalas genggaman tangan Annie lalu mempercepat langkah mereka. Wajahnya sangat serius sampai tak sadar Annie sedang menatapnya penuh heran. Tapi seperti yang Penulis katakan sebelumnya. Kuburan yang sudah digali Annie, ternyata digali lebih dalam oleh Armin.

"Hei, kalian mau kemana? Tunggu dulu. Kita belum selesai bermain," gawat! Salah satu preman tampaknya tak suka dengan sikap Armin tadi!

Tak berapa lama mereka berdua bisa mendengar derap kaki mendekat ke arah mereka. Itu dia! Panggilan darurat! Otomatis Armin dan Annie menoleh ke belakang dan menemukan para preman masuk mode pengejar hutang! Tak perlu komando siapapun, mau tak mau pasangan dadakan kita ini segera kabur!

"KORAAA! KUSO GAKI DOMO!"

Sial! Sial! Kenapa jadi begini!?

"Dasar bodoh! Kenapa kau berkata begitu tadi!? Kenapa kau tidak diam saja!? Kau sebut dirimu jenius!?" benar sekali. Annie tahu para preman itu takkan mengejar mereka jika Armin tidak berkata yang tak perlu. Susah payah dia menolongnya tapi ini yang terjadi.

Namun Armin membalas perkataannya, "Apa kau tidak kesal pada apa yang dia katakan, Annie? Dia merendahkanmu!"

"Itu jauh lebih baik daripada bermain kejar-kejaran di malam hari, idiot!"

"Aku hanya mencoba melindungi harga dirimu!"

"Kau sebut ini 'melindungi'!? Lagipula seharusnya aku yang berkata begitu! Aku mencoba melindungimu tapi kau malah merusak rencananya!"

"A-aku hanya tak suka mereka bicara seperti itu, Annie! Berbagi!? Kamu bukan barang dagangan!"

Ada yang salah dengan pemuda ini, saudara-saudara. Kemana sikap takutnya tadi? Kenapa yang datang justru sikap keren yang datang seabad sekali?

Bukan Annie namanya jika dia langsung terpesona. Dia terus berlari—tentunya masih berpegangan tangan ala drama India—meskipun melirik Armin dengan dingin, "...Cih! Dasar laki-laki aneh..."

"BERHENTIII!" ternyata Om-Om kurang kerjaan itu masih betah mengejar, ya?

Lagi-lagi Annie mendecih kesal melihat situasi tak terkendali. Opsi melarikan diri bukan opsi yang bagus. Dia tidak yakin pada kekuatan fisik pemuda cengeng disampingnya itu. Dia harus cari cara lain, "Kalau begini apa boleh buat. Armin, tunda sebentar kepulanganmu. Kita harus bersembunyi,"

"Di-dimana?"

"Kemari!"

Armin melongo ketika mereka berhenti di sebuah kompleks perumahan tak jauh dari rumahnya. Berdiri di dekat dinding dengan rumah tak dikenal di baliknya. Para preman masih belum sampai. Ini saatnya untuk hilang dari kejaran mereka. Tapi itu tak menjawab kenapa Annie sengaja mengajaknya kemari.

Dan tak butuh waktu lama jawaban itu diberikan setelah Annie melompat berpegangan pada selusur dinding. Gadis itu memanjatnya! Setelah berdiri di atas sana, dia mengulurkan tangan kepada Armin. Oke, jangan sia-siakan otak jeniusmu, wahai Einstein muda karena kau sudah pasti tahu apa maksud uluran tangan tersebut. Ya, Annie mengajaknya bersembunyi di balik dinding itu sampai para preman menghilang.

Here goes nothing. Armin menerima uluran tangan itu lalu memanjat dindingnya. Sedetik kemudian, mereka berdua melompat turun dan buru-buru menempelkan punggung mereka pada dinding. Tidak mengeluarkan suara sedikitpun demi meningkatkan kesuksesan permainan petak umpet ini.

Tak lama, mereka bisa mendengar derap kaki beberapa orang mendekat ke lokasi. Suara langkah kaki yang berat. Tak salah lagi. Mereka datang.

"Sial! Kemana mereka!?"

"Aku tak sangka bocah sekecil mereka bisa lari secepat itu..."

"Mungkin mereka tetap berjalan lurus?"

"Ayo, cepat!"

Suara derap kaki itu semakin menjauh. Terkecoh pada ide sederhana Annie. Langsung saja mereka berdua menghela napas lega. Akhirnya permainan petak umpet ini berakhir.

"Sepertinya mereka sudah pergi," ucap Armin setelah suara para pengejar tidak terdengar lagi.

"Sepertinya begitu..."

"...Maaf, Annie,"

"Untuk apa?" si gadis dingin bingung pemuda disampingnya tiba-tiba minta maaf.

"Aku merepotkanmu."

"Sudahlah. Tak perlu dipikirkan," Annie bangkit berdiri kemudian menoleh padanya, "Ayo. Aku akan mengantarmu pulang."

...

~Gadis Ikon Sekolah Page Seven~

...

.

.

Tak sampai sepuluh menit perjalanan dari tempat persembunyian, kedua murid angkatan pertama Elshin ini sampai di depan sebuah rumah biru muda kecil berlantai dua dengan perkarangan bunga di halaman serta sebuah pohon chestnut yang dikelilingi selusur pagar. Asri sekaligus terkesan lembut dan hangat. Sangat Armin Arlert sekali.

Annie berdiri sambil memasukkan salah satu tangannya ke saku hoodie putihnya selagi Armin membuka gerbang, "Jadi ini rumahmu?"

Armin lalu membalas, "Oh, benar juga. Ini pertama kalinya kamu kemari, 'kan? Kamu tak ingin masuk sebentar? Sekadar berkenalan dengan Kakekku."

Memang benar apa yang dikatakan Armin. Selama misi pengintaian, Armin selalu mengantar Annie pulang jika tidak terhambat jadwal praktikum mengingat mereka berasal dari jurusan yang berbeda. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak sekalipun Annie melihat rumahnya bahkan hanya untuk sekadar mampir.

Masalahnya kita sedang membicarakan seorang Leonhart muda disini. Seorang gadis dingin kaku yang sulit bergaul. Dia tidak seramah Ymir atau Hitch dimana tipikal barbar.

"Ummm... aku..."

"Armin?"

Seketika kedua orang tersebut menoleh ke asal suara dan kemudian mendapati seorang pria tua melongok dari balik pintu rumah. Tubuhnya tak begitu tinggi. Berjanggut cukup tebal dan memakal syal hijau yang melingkar di lehernya.

"Kakek..." gumam Armin.

Hoo. Jadi itu Kakeknya? Pertama kalinya melihat pria itu bagi Annie.

"Kenapa kamu pulang lama sekali? Kakek khawatir, kau tahu?" ujar si Kakek sembari berjalan mendekati si cucu. Namun langkahnya terhenti tatkala melihat sosok Annie yang berdiri di dekat Armin. Oh, jangan langsung menilai kaki yang berhenti melangkah sementara itu sebagai masalah. Nilailah dari ekspresi shock tak terkira dan ekspresi lebay lainnya sampai harus masuk mode analyzer melihat Annie dari bawah ke atas.

Hei, hei. Apa-apaan itu? Annie biasa jika diperhatikan oleh laki-laki hidung belang atau laki-laki preman. Tapi kalau Kakek-Kakek uzur nyaris dipanggil usia itu lain cerita. Kakek Armin bukan pedofil, 'kan? Bukan seorang peleceh, 'kan? Tolong ingatlah umurmu, Kakek!

Setidaknya itulah yang dipikirkan Annie.

Dan satu pernyataan yang keluar dari mulut sang Kakek selanjutnya justru membalikkan keadaan.

"Kamu tak pernah bilang pada Kakek kalau kamu sudah punya pacar, Armin."

Hah?

Pacar?!

Armin dan Annie langsung mendelik kaget bersamaan! Tak bisa ditutupi bahwa muncul semburat tipis di kedua pipi mereka. Mau bagaimana lagi? Satu hari ini mereka disangka sebagai pasangan. Benar-benar memalukan. Menyebalkan! Jangan si Kakek juga!

"Bu-bukan, Kakek! Dia bukan pacarku!" Armin buru-buru memperbaiki situasi sebelum kesalahpahaman makin parah.

"Benarkah? Jadi alasanmu terlambat pulang bukan karena kencan?"

"Bukan! Bisakah Kakek hentikan ini? Jangan membuatnya tak nyaman!" tidak. Kau salah, Armin. Kau sendiri juga tidak nyaman. Sampai salah tingkah segala, "Ma-maaf, Annie! Kakekku terkadang memang suka begini!" ucap Armin sembari membungkuk pada Annie.

"Bukan apa-apa. Aku mengerti," merepotkan sekali. Dia bukan si kepala nanas dari fandom sebelah, tapi akan terlalu merepotkan jika dia tak maju untuk menghentikan semua kesalahpahaman omong kosong, "Saya Annie Leonhart, Kakek. Saya satu angkatan sekaligus satu sekolah dengan Armin. Salam kenal," ucapnya memperkenalkan diri.

"Ooooh! Annie Leonhart, ya? Theodore Arlert. Satu-satunya keluarga Armin saat ini," balas si Kakek ramah sementara Annie sedikit kaget mendengar pernyataannya.

Satu-satunya keluarga Armin?

Berarti orangtua Armin sudah...

Si Kakek melanjutkan lagi, "Lain kali jika ada waktu, datanglah bertamu."

"Baik, Kakek. Terima kasih," mengesampingkan rasa penasaran dan keterkejutannya, Annie memilih membalas dengan sedikit membungkukkan kepalanya.

Kakek Theo membalas salam sopan santun tersebut melalui senyuman. Tidak terlalu buruk tentang kesan pertama teman perempuan Armin. Maklumi si Kakek, saudara-saudara. Dia tahu persis ini pertama kalinya si cucu membawa teman perempuannya selain Mikasa. Untung saja dia sempat mengenyahkan teori cucunya menyimpang dari jalan lurus karena terlalu lengket dengan bocah Yeager. Syukurlah cucunya masih normal.

Seandainya kau tahu isi pikiran Kakekmu, wahai Armin. Mungkin kau sekarang akan banjir air mata akibat diragukan kenormalanmu.

"Kalau begitu, saya permisi dulu, Kakek," ucap Annie segera balik badan untuk kembali ke habitat.

Tapi Kakek Theo langsung bertanya lagi, "Kalau Kakek boleh tahu, kamu tinggal dimana, Annie?"

"...Saya tinggal di apartemen Golden Gate di dekat sini."

"Nah, karena hari sudah larut, biar Armin mengantarmu pulang. Tak baik seorang gadis pulang sendirian."

Usul yang bagus sekali, Kakek! Supaya lebih dekat! Sangat peka!

Lalu apakah Annie menerima usul itu begitu saja? Tentu saja tidak.

"Tak perlu, Kakek. Saya baik-baik saja sendiri,"

"Ah, jangan sungkan. Lagipula tempat tinggalmu juga dekat dari sini," tidak bisa. Annie kalah debat. Salahkan senyuman suci bak malaikat itu yang membuat Annie tak enak hati menolak.

Sial. Kakek-cucu sama saja.

"Baiklah! Aku akan mengantar Annie pulang dulu, Kakek," Armin sih santai jiwa raga menuruti permintaan satu-satunya keluarganya. Selain itu, mengantar Annie pulang sudah jadi kebiasaan barunya, bukan? "Ayo, Annie!" katanya lagi sumringah.

Annie cuma bisa pasang muka bête. Menghela napas pasrah karena hari ini tidak ada satupun yang mau mendengar jeritan hatinya yang—sungguh, dia ingin sendiri saja. Terpaksa dia menurut.

Walhasil jadilah malam ini seorang Armin Arlert sebagai pengawal dadakan pemimpin jurusan Budaya Elshin.

.

.

.

"Omong-omong, Annie, apa kau selalu mengikat gulung rambutmu?" tanya Armin tiba-tiba supaya bisa mengisi keheningan dalam perjalanan singkat mereka. Ya, jangan salahkan dirinya yang bosan karena Annie tidak mau mengatakan apapun. Sekadar basa-basi pun tidak. Benar-benar gadis luar biasa cuek.

"Sebegitu bosannya karena aku terus mendiamimu?" balas Annie lagi-lagi dingin, "Dari sejak kecil," ujarnya memilih melayani obrolan tak penting.

"Kenapa kau tidak menggerainya saja?"

"Kedua sahabatku pernah bilang begitu padaku, tapi kuhiraukan. Yah, kau bisa sebut bahwa aku meniru Ibuku,"

"Waaaahh. Apa Ibumu juga suka mengikat gulung rambutnya?"

"Begitulah..."

"Apa orangtuamu tak marah jika kau terlambat pulang? Mengingat kita sempat berlari kesana-kemari sebelumnya," tanya Armin khawatir. Melihat Annie sebarbar itu, apalagi orangtuanya, bukan? Bisa saja sesampainya di apartemen, Armin akan disambut rentetan tinju sakti sebagai dampak dianggap menyesatkan putri mereka! Sudah cukup Armin babak belur karena tinju badak betina dari tempat kerjanya. Dia tak mau babak belur babak dua!

Namun jawaban Annie melegakan hatinya sekaligus membuatnya bingung, "Mereka takkan marah. Tepatnya mereka tak bisa melakukannya."

"Eh? Apa maksudmu?"

"...Bukan apa-apa. Lupakan."

Mencoba menutup diri, eh? Entah kenapa itu membuat terbesit rasa kecewa di hati Armin.

Padahal dia ingin mengenal gadis itu lebih dekat demi membuktikan apa benar teori teman-temannya tentang dirinya. Tapi Annie membuat segala sesuatu semakin sulit. Tanpa tahu Armin rela diperbudak Ymir sialan itu hanya demi mendapat informasi tentangnya.

Apa maksudnya? Kenapa orangtuanya takkan marah jika dia terlambat pulang?

Pertanyaan itu tak terjawab bahkan setelah Armin mengantar Annie di gerbang masuk apartemennya. Dia hanya bisa melambaikan tangan pada gadis itu meski dia sudah berlalu meninggalkan Armin berdiri diam sendirian disana.

...

~Gadis Ikon Sekolah Page Seven~

...

.

.

Keesokan harinya di restoran seafood Bon Appetit.

Pukul 17.48 sore...

.

"Hah? Apa aku tak pernah memberitahumu? Dia tinggal sendirian di apartemennya, jenius."

Seandainya senior gila nyentrik berkacamata beridentitaskan Hange Zoe ada disini sekarang, Armin berani bertaruh dia mau membayar mahal demi infomasi tersebut.

Ya, disinilah dia sekarang. Di dapur mencuci piring bersama Ymir sementara Historia memotong sayuran menjadi bentuk dadu. Bekerja sama dengan Historia demi mendapatkan informasi soal Annie ternyata benar-benar sebuah ide bagus. Mulut Ymir jauh lebih licin mengumbar fakta pribadi soal sahabatnya ketika Historia bertanya. Yah, meski matanya melotot horor setiap kali Armin mengambil alih. Namun mari lupakan soal itu. Karena saat ini tangannya berhenti menggosok piring putih dengan spons akibat jiwanya hampir tertendang dari raga. Dan bicara soal berhenti, si jenius pirang ini yakin bahwa Historia juga menghentikan aktivitas memotong sayurannya.

"Eh?" begini gumam duo pirang bersamaan.

Ymir tidak langsung membalas gumaman itu. Lebih dulu gadis itu menghela napas berat sembari menunduk menatap mangkuk di tangannya. Perubahan perilaku itu tak luput dari pengamatan Armin. Ekspresinya seketika berubah. Dari serampangan menjadi... sedih?

Tampaknya hari ini harus diperingati. Seorang Ymir bisa memasang ekspresi selain wajah memuakkan, menjijikkan, dan mengerikan.

Diserang rasa penasaran membuat Historia kemudian bertanya, "Kenapa Annie tinggal sendiri, Ymir? Dimana Ayah dan Ibunya?"

Hening.

Jeda sejenak pada atmosfer aneh di ruangan tersebut. Ymir sendiri sibuk menumpuk mangkuk serta piring di atas meja sementara kedua orang lainnya masih menatapnya intens. Ah, dia mengerti. Kedua rekannya membutuhkan penjelasan lebih dari itu. Nah, pertanyaannya sekarang adalah bagaimana caranya menyampaikan sesuatu berbau privasi tersebut? Jika Annie tahu, dia pasti akan terbaring di rumah sakit akibat mulut ember versi Ibu-Ibu penggosip tetangga.

"Hei, bagaimana kalau aku menceritakan sebuah dongeng pada kalian?" ucapnya sembari menggulung lengan pakaiannya.

Armin otomatis mengerutkan dahi, "Apa?"

Dia tak mengerti maksud Ymir yang malah mendadak mengganti topik. Bodohnya dia sempat berharap pembicaraan ini akan berlangsung normal. Sepertinya gadis jerawat sialan itu tetap tidak waras seperti biasanya.

"Kenapa tiba-tiba..." sama seperti Armin, Historia juga tak mengerti kenapa tiba-tiba Ymir ingin menunjukkan bakat pendongeng.

"Tenang saja. Mendengarkan dongeng ini jauh lebih menarik daripada memberi informasi pada stalker sahabatku," apaan, sih? Apa-apaan pandangan sinis penuh jijik yang dia berikan pada Armin itu? Menyebalkan, "Ini dongeng pengantar tidur yang diceritakan padaku sejak aku kecil. Ceritanya lumayan membosankan. Jadi kalian pasti akan cepat tertidur. Begini ceritanya. Pada zaman dahulu kala—"

BRUGH!

"Grooooookkk..." dalam hitungan detik Armin tumbang tertidur, para pembaca. Ck ck ck ck. Benar-benar cari mati.

"SEBERAPA MALAS KAU MENDENGAR CERITAKU, ANAK KESEHATAN BANGSAT!? ITU KASAR, TAHU!" Ymir kembali pamer deretan gigi monster berkat penghinaan secara halus dari si jenius peringkat satu ujian masuk sekolah.

Historia sebagai saksi mata? Sweatdrop.

Ah, hiraukan kegilaan majikan dan pelayannya. Mari kita dengarkan dongeng Ymir.

"Pada zaman dahulu kala, tinggal lah seorang Raja dan seorang Ratu di sebuah istana megah bersama satu-satunya putri mereka. Sang Putri begitu bahagia melewati masa kecilnya dengan kedua orangtuanya yang selalu menyayanginya. Tapi suatu hari, saham bisnis yang dibeli sang Raja untuk menambah pendapatan kerajaan turun drastis. Pada akhirnya itu membuat negara mereka dililit utang besar-besaran. Sejak itu, sang Raja berubah. Sang Raja menjadi pemabuk. Hampir tiap hari dia memukuli istrinya dan meneriakinya di depan sang Putri. Meski begitu, sang Ratu tahu bahwa mereka tak bisa begitu terus. Makanya dia bekerja mati-matian untuk melunasi hutang kerajaan. Sayangnya sang Ratu kelelahan dan jatuh sakit, kemudian meninggal."

Hah? Dongeng macam apa itu?

Armin sangat yakin dia tak pernah mendengar dongeng drama seperti itu di buku dongeng manapun. Percayalah akan gelar kutu bukunya, saudara-saudara. Lalu dongeng apa ini? Original?

"Karena ditinggal oleh wanita yang dia cintai sementara hutang kerajaan terlalu besar, akhirnya kerajaan itu pun jatuh. Sang Raja semakin terpuruk. Bukannya berubah, dia justru menambah kesalahannya seperti suka berjudi. Setiap kali dia kalah, dia pasti melampiaskan emosinya pada sang Putri. Memukulinya sampai sang Putri memiliki banyak lebam di tubuhnya. Beruntung, sang Putri memiliki dua sahabat yang selalu mendukungnya sejak kecil. Karena kedua temannya juga mengetahui perubahan pada diri Raja, mereka berdua beserta keluarga mereka meminta bantuan prajurit kerajaan untuk menahan Raja atas kekerasan pada sang Putri."

"Terpaksa sang Putri tinggal di rumah salah satu sahabatnya selama setahun setelah sang Raja dipenjara. Tetapi karena mungkin dia tak ingin terus merepotkan sang sahabat, sang Putri akhirnya memulai perjalanannya sendiri. Apalagi datang pula sebuah organisasi sosial padanya karena mendengar kabar soal sang Putri dan memberinya bantuan untuk berpetualang di kerajaan musik. Bakat musik sang Putri memang luar biasa sehingga dia mendapatkan bantuan lanjutan di kerajaan lain. Apalagi hutang kerajaan juga dibayar oleh organisasi itu."

Hei. Tunggu dulu sebentar.

Firasat Armin mengatakan bahwa kisah sang Putri ini bukan kisah sembarangan. Dia tidak sebodoh itu untuk tak menyadari bahwa ada petunjuk dibalik dongeng ini.

Mungkinkah dongeng Ymir adalah...

"Ternyata mental sang Putri lebih kuat daripada dugaan kedua sahabatnya. Sampai sekarang sang Putri bisa melalui semua rintangan di hadapannya hingga mendapat posisi sebagai pemimpin di kerajaan musik. Akhirnya, sang Putri dapat hidup bahagia bersama sahabat-sahabatnya serta para pengikutnya. Tamat!"

Akhir dongeng diiringi tepuk tangan meriah dari kedua tangan mungil Historia. Gadis berambut pirang panjang tersebut tersenyum lebar saking jatuh cintanya pada cerita absurd karangan Ymir. Lain hal bagi Armin yang masih tergeletak di lantai sambil merenungkan sesuatu. Sebuah kemungkinan yang ingin disampaikan Ymir secara tak langsung melalui sebuah cerita.

"Bagaimana dongengku? Bagus, 'kan?" ujar Ymir unjuk gigi bangga.

"Bagus sekali, Ymir! Aku sampai terharu pada perjalanan putri itu!" komentar Historia semakin meninggikan kesombongannya saja. Lalu Historia menoleh pada pemuda yang dari tadi diam di lantai, "Kamu juga 'kan, Armin?"

'Bagus', huh?

Jika dia penggemar kisah fantasi seperti Eren, mungkin dia juga akan memberikan tepuk tangan pada si pembuli setia. Namun Armin tahu bahwa kisah fantasi tadi bukanlah kisah fantasi biasa. Terharu? Itu bukanlah kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaannya. Dia mengerti. Sangat mengerti.

"...Lumayan."

Armin kemudian bangkit berdiri. Tidak mempedulikan sorot mata serius Ymir yang ditujukan padanya. Diliriknya sebentar wastafel dimana seluruh peralatan makan telah tercuci bersih. Tugasnya di dapur selesai. Saatnya kembali ke ruang makan. Karena itu Armin berbalik sambil melambaikan tangan pada kedua gadis sebaya di ruangan itu.

"Ah, aku ingin ke ruang makan sebentar. Terima kasih atas dongeng membosankannya, Ymir-sama."

Pemuda itu memang pantas menyandang gelar jenius. Diam-diam Ymir memuji kepekaan pemuda itu tentang dongeng buatannya. Ya, walau itu sama sekali tak bisa disebut dongeng. Rencananya sukses. Dia berhasil menjawab pertanyaan Historia secara tak langsung demi menjaga privasi kehidupan sahabatnya. Walau dia tahu Historia pasti tak mengerti—well, dilihat dari ekspresinya tentunya, setidaknya si budak lebih pengertian dari dugaan.

"Oi, kurcaci," panggil Ymir membuat Armin menghentikan langkahnya ketika meraih kenop pintu, "Kau tidak akan berbuat bodoh setelah mendengar dongengku barusan, 'kan?" lanjutnya.

Armin tidak mengatakan apapun. Hanya berdiam diri disana.

"...Atau kau ingin mendengar sekuelnya?"

Sekuel dari dongeng si bodoh itu? Serius?

"Tidak perlu," jawab Armin singkat, "Aku sudah tahu bagaimana kelanjutannya," kemudian Armin pun menghilang dari pandangan Ymir dan Historia.

Tak dapat dielakkan. Sebuah fakta tersirat yang tak bisa dikatakan sehingga membutuhkan sebuah kamuflase.

Armin tahu bagaimana kelanjutan kisah sang Putri.

Bahwa sang Putri sedang berhadapan dengan sebuah organisasi maniak peraturan kerajaan sampai organisasi tersebut mengirim seorang mata-mata yang bahkan tak ingin disebut mata-mata. Seorang mata-mata yang harus segera melakukan sesuatu pada sang Putri setelah mendengar perjalanan hidupnya.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Author's note: Tidak ada kata selain REVIIIIIEEEEEWWWW!

THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!