Author's note: Terima kasih untuk kalian semua yang mau menyempatkan diri membaca kisah tak jelas ini sekaligus yang mau meninggalkan jejak. Maka, Penulis mempersembahkan halaman kedelapan fanfic kedua Penulis bertema Attack on Titan. Kisah drama cinta yang dibungkus dengan komedi garing. Penulis tak menjamin kalian suka, tapi semoga terhibur.

Jangan lupa sampaikan saran, kesan atau kritiknya, ya. Asal jangan menggunakan kalimat menghujat. Mari kita semua menjadi warganet yang baik.

.

.

Disclaimer : Isayama Hajime

GADIS IKON SEKOLAH

Halaman Delapan: Masalah Biologi

By Josephine Rose99

Notes: Peringatan dari Penulis. Beberapa tokoh di fanfic ini memiliki sifat atau karakter yang berbeda dari manga atau anime aslinya. Singkatnya, OOC (Out of Character). Penulis memaksudkan ini sebagai pemanis atau sebagai humor belaka. Karena itu jangan protes. Kalau protes, Penulis akan lempar ke laut.

.

.

.

.

.

GADIS IKON SEKOLAH

HALAMAN DELAPAN

MASALAH BIOLOGI

By Josephine Rose99

.

.

.

Hari-hari telah berjalan sejak Armin mengetahui sedikit jejak kehidupan sang target organisasi Survey Corps. Tidak banyak yang berubah juga sejak hari itu. Segalanya berjalan seperti biasanya. Belajar, menemui Annie di gerbang belakang sekolah lalu pulang bersama, kerja sambilan diiringi siksaan Ibu tiri jahanam yang tak bosan-bosannya memamerkan seringai iblis mengerikan, pulang, belajar, kemudian tidur. Perjalanan hari yang normal, katakan saja begitu. Ah, jangan lupakan interogasi yang dialami Armin hampir setiap hari karena para senior kampretonya ingin tahu apakah misi pengintaian berhasil mendapatkan hasil atau tidak.

Anehnya, sampai detik ini Armin menutup mulutnya rapat-rapat tentang informasi dari Ymir waktu itu. Dia sendiri juga tak tahu alasannya. Mungkin dia belum menemukan waktu yang tepat? Entahlah. Yang pasti, dia bersyukur Historia tidak mengucapkan apa-apa mengingat dia sama sekali tak mengerti pesan tersirat dongeng Ymir. Singkatnya, di Survey Corps hanya dia yang tahu soal ini. Untunglah Armin bukan tipe mulut ember.

Bicara soal 'berjalan seperti biasanya', maka sekelas (lagi) dengan Annie juga termasuk hal biasa. Sekadar informasi bagi kalian semua, dari sepuluh mata pelajaran wajib tingkat satu Elshin, Armin dan Annie sekelas di tujuh pelajaran. Ajaib sekali, bukan? Takdir atau apapun itu, tapi mau tak mau mereka jadi sering bertemu. Apalagi mereka cukup sering ditempatkan pada satu kelompok belajar. Marvelous, Armin. Marvelous.

Apakah dia harus senang?

Mari kita beri contoh seperti di hari Kamis ini. Di kelas E dimana Armin dan kawan-kawan sedang ada kelas praktikum Biologi. Hm, 'kawan-kawan'? Ya, hari ini bukan hanya Armin seorang berjuang di kelas tersebut. Melainkan bersama Eren, Connie, Jean dan Reiner. Empat makhluk gaib ber-IQ jongkok itu tampaknya harus berterima kasih karena bisa satu kelas dengan si jenius Einstein.

"Sialan. Aku masih tak percaya sekelas dengan Annie di kelas Biologi..." Eren merutuki nasibnya yang tak tahu disebut kesialan atau keberuntungan. Matanya terus saja melirik Annie yang duduk disamping seorang perempuan tak dikenal, tapi asyik berbisik alias mengobrol pelan dengan Annie di pinggir belakang kanan kelas.

Ya, karena berbeda dengan Armin, Eren selama ini berpikir dia hanya akan sekelas dengan pemimpin jurusan Budaya itu di kelas Fisika. Siapa sangka Biologi juga?

"Bersikap biasa saja, Eren. Jangan pernah menyinggung soal Survey Corps di depannya," bisik Armin was-was kalau jiwa penantang maut teman masa kecilnya tiba-tiba kumat.

Reiner tak lain kasus. Yang dia pelototi dari tadi bukan pembimbing praktikum, namun Annie, "Tapi Eren benar. Aku terkejut bisa sekelas dengannya..."

"Satu target dalam sarang. Apa rencana kita sekarang?" jiah. Connie malah satu aliran dengan Eren. Lihatlah mata berbinar-binar bocah Yeager itu. Terharu memiliki teman seperjuangan.

Mendengar kicauan-kicauan berisik dari teman satu organisasi membuat Jean segera bertindak, "Ssst! Diam dan dengarkan Rico-senpai!"

Mari Penulis menjabarkan sedikit informasi tentang praktikum Biologi tersebut.

Berbeda dengan pelajaran umum, kelas praktikum dipimpin oleh siswa senior yang dipercaya oleh si guru terkait. Dan dalam kelas praktikum dunia sains ini, murid kelas dua yang sering memenangkan perlombaan biologi, yaitu Rico Brzenska menjabarkan materi praktikum pertama mereka. Gadis tinggi rata-rata berambut keabuan dan berkacamata tersebut kemudian menuliskan sebuah kalimat di papan tulis.

.

MASALAH BIOLOGI DI SEKITAR KITA DAN CARA MENGATASINYA

.

Setelah menulis topik praktikum, Rico berbalik menghadap seluruh junior lalu berujar, "Karena ini praktikum pertama kita, saya tidak memberikan tugas terlalu sulit. Saya akan membagi satu kelas ini menjadi beberapa kelompok. Saya sendiri juga yang menunjuk ketua kelompoknya. Selama 30 menit, kalian harus memilih satu masalah biologi di sekitar kalian lalu uraikan solusinya kemudian presentasikan di depan kelas. Itu saja. Kalian mengerti?"

Penjelasan yang singkat, padat dan mudah dimengerti. Topiknya juga cukup mudah. Pantas seluruh junior mengangguk mantap.

"Mengerti, senpai!"

"Bagus! Kalau begitu, dengarkan saya baik-baik. Saya akan memanggil nama ketua kelompok untuk maju ke depan dan mengambil kertas yang bertuliskan nama anggotanya," segera dia mengeluarkan secarik kertas dari sebuah map biru. Kelihatannya itu adalah kertas berisi daftar murid yang dipercaya bisa menjadi ketua, "Ketua kelompok satu, Eren Yeager! Ketua kelompok dua, Floch Forster! Ketua kelompok tiga, Marlo Freudenberg! Ketua kelompok empat, Flegel Reeves! Ketua kelompok lima, ..." ucap Rico layaknya seorang Emak yang mengabsen kehadiran anak-anaknya untuk membagikan warisan si waktu panggilan mautnya,

Tidak perlu rekaman segala bagi tim amatir pasukan pengintai untuk kehilangan ketenangan serta kewibawaan. Rasanya mereka ingin operasi plastik saat itu juga mendengar seekor(?) Eren bisa ditunjuk sebagai ketua. Yah, namanya juga murid baru dimana Rico juga tak begitu mengenal kemampuan setiap praktikannya. Tapi bagi pasukan Eren, mereka sangat mengerti bahwa ada kesalahan besar memasukkan nama Eren dalam daftar ketua.

"Haaah?" ini sih ekspresi lebay Connie yang hampir jantungan di kursinya.

"Eren menjadi ketua?" berbeda dengan Connie, ekspresi Jean terlihat mengejek sekali. Ya, dia menahan tawa sekaligus siap-siap kabur ala banci perempatan jalan terkena razia polisi jika Eren berubah berserk.

Sedangkan Reiner linglung, menoleh dari Eren ke Armin dan dari Armin kembali ke Eren, "Tidak salah? Menurutku lebih cocok Armin, 'kan?"

Terus, bagaimana reaksi Armin? Well, biasa saja. Santai bak di pantai. Eren? Dia tersinggung, meletup-letup siap meledak. Ck ck ck ck.

Tapi protes pun tak mengubah situasi. Terpaksa dengan berwajah bersungut-sungut, Eren maju ke depan menghampiri Rico. Sesampainya dia disana, sang senior perempuan tersebut memberikan selembar kertas bertuliskan nama anggota padanya. Setelah itu, Eren kembali ke tempat dimana teman-temannya menunggu.

"Hmmm..." Eren bergumam panjang melihat daftar makhluk yang bernasib sial harus sekelompok dengannya.

Penasaran karena Eren tak kunjung duduk dan malah berdiri sok berpikir, Jean berinsiatif berdiri mendekatinya, "Ada apa? Cepat katakan pada kami siapa saja anggotamu," lalu bocah bermuka kuda ini melongok ke arah kertas pembawa bencana.

.

KELOMPOK SATU

Ketua Kelompok: Eren Yeager

Anggota:

Annie Leonhart

Armin Arlert

Connie Springer

Hitch Dreyse

Jean Kirstein

Reiner Braun

.

Serius?!

Kenapa bisa pasukan penjaga keadilan sekolah satu kelompok dengan musuh abadinya!? Kebetulan kah!?

Sama seperti yang dirasakan Penulis, Jean juga megap-megap persis ikan koi kekurangan cinta melihat deretan nama absurd di kertas absurd di hari yang luar biasa absurd. Dia membacakan nama-nama tersebut dengan intonasi dan ekspresi lebay layaknya sedang membaca puisi. Sungguh... tak penting.

"Anggota kelompok macam apa ini?" ucapnya masih tak percaya.

Reiner, Connie dan Armin juga sama. Tak ada bedanya. Mereka melotot horor begitu tahu sekelompok praktikum dengan pemimpin jurusan Budaya. Apakah ini artinya misi harus dijalankan bersamaan dengan aktivitas diskusi?

Sementara Eren garuk-garuk kepala. Dia bingung sendiri. Pikirannya kalut. Kenapa bisa nasibnya lebih sial dibanding ditunjuk sebagai ketua? "Bagaimana sekarang? Aku agak canggung jika bicara dengan perempuan itu..." katanya benar apa adanya.

Mengobrol dengan Annie saja tak pernah! Apalagi memulai pembicaraan! Bisa-bisa dia salah bicara dan identitas mereka terbongkar! Yang benar saja kepalanya jadi tumbal dua sapu sialan milik si cebol!

Disisi lain kepekaan Armin muncul. Pemuda ini menghela napas berat. Mengetahui bahwa harus dirinya yang maju lebih dulu demi memuluskan diskusi kelompok. Lagipula hanya dia di antara mereka yang bisa dikatakan—ehem—punya hubungan dengan Annie.

"Biar aku saja yang mengajaknya. Sementara kalian menyusun kursi kita menjadi lingkaran," ucap Armin sambil beranjak dari kursinya.

Lihatlah ekspresi lega Eren. Senyum lebarnya itu sampai tak terkontrol. Syukurlah dia tak harus menemui Annie untuk memintanya bergabung, "Oke! Kami mengandalkanmu, Armin!"

Nah, sekarang apa?

Ya, apalagi selain berjalan melewati sekumpulan siswa yang berkeliling mencari anggota kelompok untuk menemui Annie di seberang kelas? Gadis itu tidak bergeming sedikit pun di kursinya. Tetap mengobrol bersama seorang perempuan berwajah oval, bermata hazel, dan berambut coklat muda bergelombang sebahu. Ciri-ciri yang tak asing.

Ah, dia ingat sekarang! Gadis itu adalah salah satu sahabat Annie selain Ymir! Hitch Dreyse dari jurusan Budaya. Armin tak pernah meragukan ingatannya. Wajah gadis itu pernah diperlihatkan Hange di ruang rapat OSIS melalui dokumen sekolah ketika Armin menerima misi penyusupan.

Ternyata dia sekelas dengan mereka berdua di kelas ini!? Keajaiban yang sangat mengerikan.

"Hey, Annie," entah keberanian macam apa yang datang menghampiri sehingga Armin sanggup menyapa Annie yang asyik mengobrol.

Melihat aktivitas bercengkeramanya diganggu, membuat Annie pun menoleh. Seketika kedua mata dinginnya membulat begitu melihat Armin telah berdiri di dekat mereka.

"Armin.." gumamnya pelan.

Perhatian sang sahabat teralihkan. Hitch pun juga ikut melirik Armin. Seorang pemuda yang tak pernah dia temui atau dia kenal sebelumnya. Siapa gerangan pemuda ini bisa mengenal sang sahabat? Begitulah tanyanya dalam hati.

"Kau kenal dia, Annie?" tanya Hitch menunjuk Armin dengan jempol kanannya.

Sialan! Susah payah Annie menjauhkan Armin dari jurusan Budaya, tapi kenapa bisa akan tiba hari dimana Armin bertemu kedua teman dekatnya dalam waktu singkat!? Sekarang bagaimana!? Berbohong pun percuma!

"Kami sekelas di pelajaran umum lain," hanya itu alasan paling logis yang dipikirkan sang penakluk jurusan preman ini. Dia tak mungkin mengatakan kalau awal pertemuan mereka di gudang siaran dalam kondisi tak bersahabat.

"Ooohh..." Hitch hanya ber-oh panjang. Tapi mendadak dia penasaran ada laki-laki yang berani menyapa Annie. Terutama bentuk dan penampakannya begini. Pemuda kemayu yang terkesan lemah, huh? Ini langka, saudara-saudara. Karena itulah interogasi pun dimulai.

"Siapa namamu?" tanyanya langsung ke inti.

Berkali-kali Armin meneguk ludah canggung. Dia ingin meminta bantuan Annie sekarang tapi gadis itu malah menoleh ke arah lain. Tak sanggup melihat kondisi yang kemungkinan akan berubah menjadi medan perang.

Kalau begini, terpaksa Armin harus jujur! "Na-namaku... Armin Arlert..." suaranya tercekat, para pembaca, "Namamu?" basa-basi, saudara-saudara. Basa-basi.

"Aku Hitch. Hitch Dreyse," balas Hitch kalem, "Jurusanmu?" tidak! Pertanyaan paling sensitif diajukan!

Gawat, gawat, gawat! Masa' dia harus mengatakan blak-blakan kalau dia dari jurusan Kesehatan!? Armin mulai berkeringat dingin. Wajahnya memucat. Dia benar-benar gugup!

"I-itu—"

"—Jadi? Ada apa? Kau sampai datang kemari."

Eh? Apakah yang barusan menolongnya itu adalah pemimpin preman sendiri?

Annie sengaja memotong cepat supaya perkara jurusannya tetap menjadi rahasia? Tapi kenapa? Bukankah wajar di kelas umum mereka bisa sekelompok dengan jurusan berbeda?

Tapi ini bukan waktu yang tepat. Armin segera mengikuti arus serta rencana Annie supaya lepas dari jeratan interogasi Hitch. Karena Armin tak berani bertaruh pada sikap Hitch begitu dia tahu bahwa pemuda yang mendekati Annie adalah dari jurusan berbeda. Bisa saja sikapnya sama bahkan melebihi sikap kecoa rawa dari restoran seafood! "O-oh! I-itu... kelihatannya kau dan temanmu ini sekelompok denganku. Jadi bagaimana kalau kalian bergabung bersama kami disana?"

"Hah? Benarkah?" Hitch langsung terkejut mendapati dirinya sekelompok dengan laki-laki kenalan Annie.

"Hhhh... kenapa aku selalu berakhir bersamamu di pelajaran umum?" oi, Annie. Apa kau sadar bahwa gumamanmu ini hampir membuat Hitch salah kaprah? Namun biarlah. Annie juga tipikal perempuan tak peduli, 'kan? "Lalu? Siapa anggota lain?"

"Emm... Mereka ada disana," balas Armin menunjuk Eren dan teman-temannya di seberang kelas. Mata Annie dan Hitch pun tak elak mengikuti arah jari pemuda jenius tersebut, "Bagaimana kalau kalian mengikutiku saja? Akan kuperkenalkan mereka pada kalian."

.

.

Eren, Connie, Reiner dan Jean sedikit mendongak menatap kedua gadis yang berhasil diseret oleh Armin. Ekspresi mereka tak terbaca. Salut dipenuhi kekaguman karena koneksi seorang Armin sangat di atas angin. Ternyata mereka tak bisa meremehkan seseorang dari penampilan, ya?

"Teman-teman, ini Annie dan Hitch. Ayo perkenalkan diri kalian juga pada mereka," ucap Armin setelah dia dan kedua gadis tersebut duduk di kursi yang telah disediakan tim Eren.

Sip! Waktunya kecanggungan minggir jauh-jauh. Mereka harus bersikap normal seperti biasanya seolah mereka tidak memiliki masalah sedikitpun.

"Be-benar juga," Eren ambil alih. Berdeham bak mempersiapkan suara kemudian berkata, "Namaku Eren. Aku menjadi ketua kelompok satu, yaitu kelompok kita bertujuh."

"Reiner Braun," Eren menunjuk Reiner yang memberikan cengiran terbaiknya.

"Connie Springer," kemudian si botak plontos dengan wajah bodohnya.

"Dan Jean Kirstein," terakhir pada Jean yang memasang senyum kecut.

"Yo, salam kenal. Namaku Hitch. Ini sahabatku, Annie," Hitch ikut memperkenalkan diri mewakilkan Annie. Maklum, gadis cuek tingkat akut itu hanya mengangguk pelan disampingnya. Sama sekali tak punya niat untuk mengakrabkan diri.

Akhirnya bisa berjalan normal juga. Pertumpahan darah tertunda.

"Baiklah. Perkenalan kita singkat saja. Karena kita harus memilih masalah biologi di sekitar kita sebelum waktu habis," ujar Reiner muak basa-basi.

"Tapi apa, Reiner? Masalah biologi apa?" balas Connie tak punya ide sedikitpun. Well, memang tak ada yang bisa diharapkan dari otak jongkoknya.

Namun dalam kesulitan menemukan topik tersebut, tiba-tiba Eren mengangkat tangannya. Semua orang di kelompok itu pun menoleh.

Apa-apaan itu? Ekspresinya serius sekali. Aura-aura gelap menyelubungi seluruh tubuhnya seolah sekarang dia masuk ke mode tempur. Belum lagi dedaunan beterbangan di sekitarnya padahal jelas-jelas mereka sedang duduk di kelas. Backsound pembukaan lagu opening pertama dari anime pemburu raksasa entah apapun itu mendadak terdengar. Apaan, sih? Kenapa deskripsi atmosfer Eren jadi lebay begini? Silahkan standing applause(?).

Takut-takut Reiner memanggil nama sang ketua sebelum dia benar-benar dirasuki, "E-Eren?"

Mendadak nada suara Eren berubah. Suaranya jauh lebih dalam sedalam sumur tetangga, sok sexy as hell, "Sebagai ketua, aku ingin mengusulkan satu masalah biologi yang harus segera kita pecahkan..."

Apa?

Masalah apa yang akan dia usulkan?

Semuanya menanti kalimat keluar dari mulutnya dengan tegang, kecuali Annie yang cuma pasang muka datar.

Eren menopang kedua sikunya pada meje, melipat jari-jarinya, menutupi setengah wajahnya yang masih serius. Kemudian dia mendongak menatap langit-langit kelas. Malah berubah jadi dramatis pula, para pembaca. Ingin sekali Connie melempar sepatunya pada pemuda sok berperan protagonist itu, namun ditahan. Kenapa? Karena niat nistanya berhenti di tengah jalan begitu mendengar usul masalah dari Eren.

"...Masalah keperjakaan Jean Kirstein."

...

...

..

"...Hah?"

"Hah?"

"Eh?"

"Apa?"

"Errr..."

"..."

Tunggu. Barusan dia bilang apa?

Masalah keperjakaan Jean, katanya?

DIA SERIUS INGIN MENGANGKAT TEMA KUTUKAN SEUMUR HIDUP BOCAH BERMUKA KUDA LUMPUR ITU DI PRAKTIKUM SEKOLAH!?

Apanya yang berjalan normal!? Ini tidak normal sama sekali, Eren!

Eit, eit, eit. Jangan salah paham dulu, para pembaca. Kenapa? Pertanyaan bagus. Itu karena reaksi para anggotanya berbeda 180 derajat dari Penulis.

Connie misalnya.

"Aku benci mengatakan ini, Eren. Tapi kurasa masalah satu itu sangat tak mungkin kita dapatkan solusinya," ujar Connie mencoba bersikap paling bijak.

"Aku setuju dengan Connie. Masalah itu terlalu sulit," serius. Reiner menunjukkan ekspresi paling serius di antara ekspresi serius yang biasa dia tunjukkan selama ini. Bocah pirang ini malah mengangguk-angguk setuju.

Sementara Jean sebagai korban skandal dunia keperjakaan tersinggung berat. Tiba-tiba pemandangan berubah menjadi setting khas pre-battle scene. Dengan api berkobar-kobar menyelimuti seluruh tubuhnya, Jean langsung menggebrak meja pakai gaya preman pasar sembari mati-matian menahan semburat merah di wajahnya entah karena malu atau murka "KALIAN INGIN BERCANDA PADAKU ATAU APA, SIALAN!?"

Beruntung tindakan brutalnya ini lolos dari pengawasan Rico. Maklum, gadis bermata empat itu lagi asyik sms-an dengan Ian Dietrich di kursinya. Sungguh senior tak patut ditiru. Ck ck ck ck.

Kita kembali ke kelompok satu.

Komentar dari pihak terkait telah diajukan, namun Eren tak bergeming. Dia akhirnya mengeluarkan jurus membujuk rayu maut miliknya yang terpendam, "Pikirkan baik-baik, Jean. Seandainya kita mendapatkan penyelesaian dari masalahmu, apa yang akan terjadi?"

Jean langsung kehilangan kata-kata. Tubuhnya bergetar. Perlahan tangan kanannya mencoba menutup mulutnya yang membentuk huruf O. Reaksi berlebihannya itu spontan menjadi trending topic di kelompok terabsurd dalam sejarah kelas praktikum Biologi.

"Tak mungkin..." Jean bergumam shock bak tokoh Emak-Emak mendapati sang suami selingkuh dengan teman dekatnya sendiri.

Connie tak ketinggalan. Dengan muka horor dia melototi Jean, "Di-dia akan lulus..."

"...Dari keperjakaannya?" sambung Reiner mengakhiri percakapan konyol trio serangkai.

Kalian ingin tanya seperti apa wajah Jean sekarang? Cih, apalagi kalau bukan senyum sombong setinggi langit seolah telah melihat gerbang kemenangan di depan mata? Sungguh sangat mengundang lemparan sepatu busuk ke wajah menjijikkan tersebut.

Hei, tunggu dulu sebentar!

Jadi serius? Mereka serius ingin membahas masalah konyol seperti itu? Situasi semakin tak kondusif! Tak ada jalan bagi Armin selain menyelamatkan otak polos para Juliet sebelum terkontaminasi!

"Tunggu dulu, Eren! Aku mengajukan protes!"

"Kenapa?" Eren otomatis melempar pandangan tak suka.

"Kalian benar-benar ingin membahas tentang itu di depan Annie dan Hitch? Masih banyak masalah biologi selain itu! Seperti pencemaran lingkungan, kelainan pembentukan molekul haemoglobin, berkembangnya virus penyakit di tubuh manusia, dan sebagainya!"

"Armin, kau sebut dirimu jenius? Apa kau tak mendengar apa yang dikatakan Rico-senpai? Kita diminta membahas masalah biologi di sekitar kita. Dan sekarang, masalah biologi yang paling dekat di sekitar kita adalah Jean. Bukan limbah di sungai sana atau haemo apapun itu yang tak bisa kita lihat,"

"Keperjakaan 'kan juga tak bisa dilihat!"

"Tapi bisa kurasakan. Sangat pekat sekali," tolong, Eren. Tolong jangan pasang muka serius yang sama sekali tak cocok denganmu itu.

Kalah. Armin telah kalah debat. Semua sia-sia. Tak ada gunanya dia melawan hasil suara pemilu mayoritas. Jadilah pemuda pirang ini menepuk dahinya pasrah.

Sedangkan salah satu Juliet yang otaknya sedang diperjuangkan alias Annie hanya mendengus bête. Heran kenapa dia berakhir di kelompok tak masuk akal. Jadi inikah teman-teman Armin? Berpikir bahwa dia akan masuk ke kelompok dipenuhi orang-orang berkacamata tebal ternyata salah.

"Lingkungan pergaulanmu ternyata lebih bodoh daripada yang kukira, Armin," sindir Annie dengan suara berbisik sembari melirik Armin datar.

"Hahahaha..." Armin insert tawa garing chapter satu.

Satu orang jenius pasti kalah melawan seribu orang bodoh. Istilah itu berlaku dalam diskusi kelompok kali ini. Melihat sang teman masa kecil sudah tak mau peduli lagi, Eren membutuhkan dua suara terakhir demi bisa menokok palu akhir persidangan.

"Kalian berdua bagaimana?" tanya Eren pada Hitch dan Annie yang dari tadi tak berkicau.

"Terserah," jawaban khas Annie sekali.

"Tak masalah bagiku," pikiran terbuka Hitch pada dunia lawan jenis.

"Oke, semuanya setuju. Mari kita bahas topik masalah kelompok kita, yaitu masalah keperjakaan Jean," Eren langsung memukul meja tiga kali sebagai ganti palu hakim.

Kelihatannya mereka serius benar-benar mau membahas ini, saudara-saudara. Hhhhh...

Reiner menyandarkan punggungnya pada kursi. Menjengitkan kaki kursi sebagai salah satu tindakan berpikir. Pemuda ini menyilangkan tangan, menatap langit-langit kelas sembari mengetukkan jari telunjuknya pada lengan, "Hmmm... cara supaya Jean tidak perjaka lagi, huh?"

"Namun, teman-teman... sebelum kita mencari solusinya, lebih baik kita membahas sumber masalahnya," bisa-bisanya makhluk gila keadilan ini lebih serius berdiskusi dibanding Armin. Armin sendiri saja heran bukan kepalang. Kenapa pemuda itu tak bisa serius seperti ini sedikit saja saat belajar biasa? Pasti dia tak perlu lari ke rumah Armin untuk menyalin PR.

Sedangkan Connie langsung mengacungkan jempol pada si ketua kelompok, "Cerdas, Eren. Kita tak bisa mencari solusi jika tak mengetahui sumbernya."

Eren pun segera mengeluarkan kertas gambar A3 dari dalam tasnya beserta sebuah spidol hitam. Masih dengan raut wajah serius, pemuda itu menuliskan sesuatu sebelum menunjukkan pada seluruh anggota kelompok.

"Menurut analisisku, inilah penyebab Jean Kirstein masih perjaka sampai sekarang..."

Baiklah. Apa yang dia tulis, para pembaca?

.

PENYEBAB KEPERJAKAAN JEAN KIRSTEIN

1. SAKIT

2. LUAR BIASA SAKIT

3. SAKIT AKUT

4. PENYAKIT KELAMIN

.

"Nah, setidaknya ada tiga ini," ujar Eren sangat santai mengetuk-ketuk spidolnya pada kalimat-kalimat pengumbar aib tersebut.

"Tunggu, Eren. Ada empat penyebab yang kau tulis disitu," Reiner mengangkat tangan dan memberi sanggahan logis.

Sementara Annie sweatdrop di kursinya. Ini memang matanya buta atau kemampuan berbahasa Eren jauh dibawah bocah TK? Sakit, luar biasa sakit, sakit akut dan penyakit kelamin. Bukannya itu sama saja? "Yang kulihat hanya satu..." gumamnya mencoba menyadarkan kebodohan sahabat Armin.

"Ini hanya perasaanku atau kalian sedang menghinaku secara halus?" kalau ini Jean mendadak peka dijadikan tumbal ritual pemecah masalah yang harus mengorbankan harga dirinya.

Tidak ada protes perkara sumber masalah membuat Eren masuk ke tahap berikutnya.

"Dan ini adalah solusi dari keperjakaan sobat kita," ucapnya menulis di kertas gambar merek Sinar Neraka tersebut, kemudian menunjukkannya lagi.

.

SOLUSI SUPAYA JEAN LULUS DARI KEPERJAKAAN

1. SEWA PEREMPUAN MEMAKAI UANG RAMPOKAN

2. MENYERANG PEREMPUAN MEMBABI BUTA

.

Hah?!

Solusi macam apa itu!?

"Bagaimana menurut kalian?" tanya Eren meminta pendapat ala demokrasi.

"Jenius, Eren. Solusi darimu benar-benar tepat," Reiner angguk-angguk setuju.

"Aku sependapat," disambung Connie bak anggota dewan yang malas berkomentar panjang saat rapat membuat UU.

Mereka setuju begitu saja pada solusi konyol itu!? What the hell!?

"TUNGGU DULU! BAGAIMANA DENGAN MENDAPATKAN PACAR ATAU ISTRI!?" Jean buru-buru mengeluarkan pendapatnya sebelum dia benar-benar diminta melakukan salah satu dari daftar solusi kampreto itu atau mungkin lebih buruk—keduanya demi bisa lepas dari kutukannya.

Mengingat Eren melakukan diskusi ini dengan prinsip demokrasi, akhirnya dia menambah saran Jean dan menulisnya di nomor tiga.

.

SOLUSI SUPAYA JEAN LULUS DARI KEPERJAKAAN

1. SEWA PEREMPUAN MEMAKAI UANG RAMPOKAN

2. MENYERANG PEREMPUAN MEMBABI BUTA

3. MENDAPATKAN PACAR ATAU ISTRI DENGAN SOGOKAN, HIPNOTIS, ATAU OBAT-OBATAN TERLARANG

.

"Baiklah. Inilah tiga solusi hasil diskusi kita," ujar Eren menutup sesi solusi masalah biologi kelompok mereka.

Helo, Eren. Apa kau pikir Jean sebodoh itu sampai tak menyadari tambahan kalimat yang engkau tulis?

"Hey, kalian tahu? Menurutku ada yang tak perlu ditambahkan di akhir kalimat nomor tiga..." ucap Jean entah pada siapa. Well, siapapun yang mendengar lah!

Sayang sekali, Jean. Masalahnya sekarang adalah tidak ada satupun mau mendengar jeritan siksaanmu.

Eit, jangan salah. Beruntung Reiner menggunakan otaknya yang biasanya hanya dipakai 0,00001 dari 100% kemungkinan. Dia menganalisis setiap solusi yang tertulis di kertas tersebut dan akhirnya menemukan sebuah kejanggalan.

"Sebentar, Eren. Dari tiga opsimu ini, bisa disimpulkan kalau kita menggunakan tindak kejahatan, 'kan? Apa kau yakin?" pendapat Reiner ini berhasil menyadarkan seluruh anggota kelompok kecuali Armin dan Annie tentunya karena mereka memang tak tertarik sama sekali.

Dahi Eren pun berkerut. Sekali lagi dia melirik pada kertas gambarnya, menilik kembali tentang tiga solusi yang dia tulis. Ternyata Reiner benar. Kenapa dia tak menyadari bahwa solusi-solusi tersebut akan membuat Jean berurusan dengan aparat keamanan?

"Benar juga..." gumamnya baru sadar.

Connie pun berpikir sama. Berurusan dengan jurusan Budaya saja sudah repot, apalagi para polisi? "Ini masalah norma masyarakat, teman-teman."

"Jadi, singkatnya..." eh? Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba Hitch ikut menimbrung dalam diskusi masalah kutukan abadi Jean?

Annie saja sampai menoleh cepat padanya. Alisnya berkedut-kedut seolah tak percaya ketidakwarasan sang sahabat kumat di saat tak tepat. Namun Eren, Reiner dan Connie mendengarnya dengan baik. Ketiga pemuda tersebut menatapnya sangat serius seolah ini masalah gawat yang harus ditemukan pemecahannya.

Tapi sabda yang keluar dari mulut Hitch justru menyegel kutukan Jean lebih kuat dari sebelumnya, yaitu sebagai berikut;

"...Masalah keperjakaan Jean Kirstein SANGAT MUSTAHIL UNTUK DISELESAIKAN."

BRAKK!

Connie dan Reiner langsung memukul meja dengan frustasi. Mereka mengepalkan tangan erat sekaligus menggeretakkan gigi kuat-kuat seolah telah gagal dalam misi pertama mereka. Sial! Sial! Padahal tinggal sedikit lagi mereka bisa menyelamatkan Jean dari kesialan abadi, tapi haruskah semuanya berakhir begini!?

Apaan, sih?

"Sialan! Kita kehabisan ide! Bagaimana sekarang?!" Reiner mencengkeram rambutnya begitu kuat, para pembaca. Sangat lebay sekali. Ekspresinya tersebut benar-benar minta ditabok.

Sementara Connie menelungkupkan wajahnya pada meja. Memukul kedua kepalannya lagi pada meja sebagai bentuk rasa peduli kepada Jean, "Masalah ini memang mustahil menemukan jalan keluar!" tidak, salah. Itu bukan rasa peduli, teman-teman. Itu justru mengejek terang-terangan.

Beginilah jika dirimu terjebak dalam lingkungan gersang akan kewarasan. Jean, pemuda yang aibnya telah diumbar sampai harus menerima semua ejekan halus dari teman-temannya mati-matian menahan hasrat membunuh yang sudah berkobar sedari tadi. Berani-beraninya mereka mengatakan itu. Dia yang tak punya harga diri sejak awal semakin tidak memiliki! Minus malah!

"Bajingan kalian semua..." desisnya emosi tingkat Dewa.

Eren, disisi lain mencoba bertindak sebagai ketua yang bijak. Mana bisa dia membiarkan diskusi ini menemui jalan buntu, "Tunggu. Jangan menyerah secepat itu, teman-teman," katanya sembari meletakkan kertas gambarnya di mejanya. Menatap dua anggota yang asyik menangis lebay ala buaya darat, satu anggota sudah siap-siap lari ke kantin untuk meminjam pisau milik Ibu kantin, satu anggota yang pasang muka sok bersimpati, dan dua anggota yang sweatdrop babak dua, "...Aku pernah membaca di sebuah buku yang bisa membimbing kita menuju solusi. Cara menyelesaikan masalah tidak harus selalu melihat dari satu sudut pandang. Cobalah melihat dari sisi lain. Contohnya, jika mobil kita mogok di tengah jalan dan tak ada bengkel di sekitar, kita bisa mengambil kesimpulan 'apakah kita perlu mobil itu menuju tujuan?'. Dengan kata lain, kita bisa naik taksi atau menelepon seseorang untuk mengantar kita."

Hah? Buku macam apa pula itu?

"Oooh, jadi begitu. Intinya, kau ingin mengatakan..." Hitch langsung mengerti apa yang ingin dikatakan Eren. Makanya makhluk ini mengatakan sesuatu yang menyakiti kokoro Jean yang paling dalam, "Apa teman seks dibutuhkan oleh seorang Jean Kirstein demi bisa membuatnya menjadi laki-laki sejati? Begitu?"

Syukurlah ada yang bisa memahami maksudnya! Eren pun tersenyum bangga pada perempuan itu, "Sepertinya Armin telah mendapatkan rival dalam hal kecerdasan, Hitch."

"CERDAS JIDAT KALIAN!" demi Dewa Jashin dari fandom sebelah, Jean tampaknya hobi sekali membentak ala Ibu tiri sembari pamer gigi-gigi runcing persis monster laut begitu. Ya, dia tak bisa disalahkan, sih, "BISA-BISANYA KALIAN MENYIMPULKAN OPSI BODOH TAK MASUK AKAL BEGITU!"

Menggubris Jean, Eren kemudian beralih pada sang sahabat, "Armin, bagaimana menurutmu?"

"Eh?"

Tak waraskah dirimu, Eren? Sampai minta pendapat Armin segala? Dari awal saja dia tak setuju pada judul masalah mereka, apalagi dimintai pendapat.

"Kau adalah satu-satunya yang paling waras di antara kita. Siapa tahu solusimu jauh lebih bisa diterima Jean," err, ini adalah pengakuan diri yang cukup baik sebenarnya.

Sementara itu, Annie yang duduk disamping pemuda itu hanya terdiam. Perasaannya mengatakan bahwa apapun yang akan dikatakan Armin adalah hal yang membuat rasa kagum Annie pada pemuda itu sirna seketika. Ya, dia pernah mendengar hasil penelitian dimana jika seseorang tinggal di lingkungan bodoh, setidaknya ada sedikit kebodohan menular pada seseorang tersebut. Itu tak terkecuali bagi Armin.

"Mengingat aku selalu berpikir lebih ilmiah, aku akan mencoba memberi solusi secara ilmiah pula," lihat? Benar, 'kan? Ternyata pemuda cerdas ini meladeni desakan Eren juga.

"Apa itu?"

"Kesalahan pengukuran."

"Hah? Ke-kesalahan pengukuran?"

Oke, itu sangat ilmiah sekali.

Tapi apa sih maksudnya kesalahan pengukuran itu? Segitu ngefansnya pada dunia ilmu pengetahuan sampai gaya bicaranya jadi intelek.

Sedangkan Jean membisu mendengar pendapat Armin. Tapi dia bersumpah dalam hati, demi gunung gonjang-ganjing bahwa dia akan mematahkan seluruh tulang pemuda itu jika dia berani melukai perasaannya! Karena dia yakin di dalam otak Armin telah terangkai sepenggal kalimat makian halus dan sayang sekali kalau tak disampaikan, 'kan?

Kalau Annie lain cerita. Gadis ini sama sekali tak mengerti akan pendapat Armin, "Maksudmu?" tanyanya bingung.

"Kita ambil contoh dari kesalahan pengukuran, yaitu kesalahan pengamatan waktu," wow, sangat sains sekali, Armin-sama! "Annie, sekarang jam berapa?" tanyanya sembari melirik Annie.

Apa hubungannya waktu yang tertera di jam dengan kesalahan pengukuran? Namun Annie memilih menjawab pertanyaan tersebut dan menghiraukan kebingungan di kepalanya.

"Jam 08.21," jawabnya setelah melihat jam tangannya.

"Hitch?"

Hitch juga?

"...Kalau aku jam 08.19," ujar Hitch.

"Bagaimana denganmu, Connie?"

Sekarang Connie?

"Kalau aku 08.22," balas Connie ikut arus.

"Itulah yang disebut kesalahan pengukuran dalam skala kecil. Meskipun setiap orang memiliki alat pengukur sama, namun bisa saja hasilnya berbeda."

"Oooooohhh..." begini gumam keenam orang lainnya mengerti.

Benar juga. Mereka sama-sama menggunakan jam tangan, tapi waktu yang ditunjuk oleh jam tangan tersebut berbeda-beda. Memang hanya berbeda beberapa menit. Jadi inilah dunia fisika perkara salah pengukuran skala kecil? Sasuga, Armin. Tak sia-sia dia bertapa di gua batu ditemani tumpukan buku-buku rumus perhitungan(?).

Hei, sebentar. Itu masih belum menjawab solusi masalah Jean, bukan? Waktu berbeda di jam setiap orang tak memberi petunjuk sama sekali.

"Lalu apa hubungannya dengan keperjakaan Jean?" Hitch mewakilkan kebingungan anggota kelompok satu.

"Yah, itu... kalian tahu..." Armin menarik napas dalam-dalam sebelum berkata santai penuh wibawa, "Menurut hasil penelitian Max Planck Institute Jerman tahun 2005, perbedaan genetik antara manusia dengan simpanse itu hanya 1,01%."

"APA KAU INGIN BILANG KALAU AKU HARUS PACARAN DENGAN SIMPANSE!?"

Benar, 'kan!? Lagi-lagi dia dihina! Sepertinya Jean harus melaksanakan sumpahnya begitu kelas praktikum busuk ini selesai! Dia bukan pengikut sejati teori Darwin sampai harus dijodohkan dengan makhluk berbulu yang hobi bergelayut di dahan pohon itu!

"Pfft!"

Hei, siapa itu? Suara siapa itu yang menahan tawanya mati-matian?

Tanpa petunjuk pun, Hitch sudah tahu bahwa itu adalah suara sahabatnya sendiri! Diliriknya gadis pendek yang duduk di sebelahnya sedang menoleh ke arah lain sambil menutup mulutnya. Spontan saja Hitch hampir terkena serangan jantung! Bagaikan suatu ironi di atas ironi, bagaikan masa depan terenggut sadis berkat tendangan di selangkangan, bagaikan Kira di fandom sebelah telah bertobat dan kembali ke jalan yang benar, ANNIE TERTAWA!

Dan itu semua berkat lelucon si pemuda kemayu!? Ini gila! Dia saja hampir tak pernah melihat gadis dingin, sedingin es di kutub utara itu tertawa! Dia yakin jika Annie tak menahan tawanya tersebut, pastilah dia sekarang tertawa terbahak-bahak. Mencoba menjaga imej pun gagal karena itu tak lolos dari intaian kedua mata Hitch.

Sebenarnya ada hubungan apa antara sahabatnya dengan Armin? Beginilah tanyanya terus dalam hati.

Tapi sejujurnya dia juga ingin tertawa ngakak, sih. Siapa juga yang takkan tertawa melihat Jean disamakan dengan simpanse? Ya, masalahnya teman-teman pemuda itu tidak tertawa sedikit pun, melainkan langsung pasang muka horor, sok terkejut seolah mendapat kabar penundaan jadwal tayang anime kesukaan mereka saja.

Baiklah. Soal Annie nanti dulu. Hitch dan kawan-kawan harus serius menyelesaikan masalah kelompok mereka dulu.

"Hei, kalian. Memangnya dari awal apa perlu Jean menghilangkan keperjakaannya? Apa kalian tak kasihan pada wanita malang itu?"

"Hitch benar, teman-teman. Aku tak bisa membayangkan penderitaan wanita itu jika dia menjadi kunci solusi masalah biologi Jean," balas Eren satu jalur dengan Hitch. Membayangkan perempuan yang mau dibayar demi membuat Jean lepas dari kutukan, itu adalah hal tak termaafkan.

"Kalian jangan lupa bahwa seks bertujuan untuk meninggalkan keturunan. Makanya kita harus mempertimbangkan apakah itu layak untuk Jean atau tidak," sungguh teori yang sangat bisa kita terima, saudara Connie.

"Sepertinya masalah ini menemui jalan buntu. Kita harus memikirkan cara lain," sambung Reiner ikut-ikutan.

Empat persimpangan merah berkedut-kedut timbul di dahi Jean melihat keempat anggota kelompok setega itu berdiskusi tentang masalahnya tepat di depan matanya. Dan bukannya mencari solusi, percakapan mereka justru bermakna bahwa seumur hidup pun Jean takkan memiliki kekasih.

"Aku disini bukan hanya untuk mendengarkan kalian menjelek-jelekkan diriku, bangsat..." beginilah desisnya menahan emosi, siap-siap menerkam mereka satu per satu.

Dan sepertinya dewi keberuntungan benar-benar tak berpihak pada salah satu tokoh protagonis kita ini. Kenapa? Berterima kasihlah kepada seruan Rico dari depan kelas setelah puas sms-an dengan Ian meskipun berakhir duka karena pemuda itu tak peka akan perasaannya(?).

"YAK! WAKTU HABIS!" begini teriaknya tanpa menyadari bahwa seruannya ini terasa seperti panggilan absen para penghuni neraka baru, "Saya akan memanggil kelompok satu untuk mempresentasikan topik masalah mereka. Silahkan maju!"

TIDAAAAAAKKK!

Buru-buru Jean melompat dari kursinya, siap menyarangkan tinjunya pada wajah Eren! Apapun yang terjadi, dia tak bisa membiarkan laki-laki sialan ini mempresentasikan aibnya di depan kelas! Eren langsung melotot horor!

Seketika seluruh anggota kelompok satu melongo melihat aksi gila Jean. Namun beruntung Reiner bertindak cepat alias memegang kedua kaki pemuda itu sampai dia jatuh tidak elit di atas meja. Sayang sekali karena semua tak berhenti sampai disana, saudara-saudara. Kenapa? Pertanyaan bagus. Itu karena Jean gila itu malah memberontak bak orang kesurupan meski Reiner mati-matian menahannya dari atas.

"TAHAN DIA!" keadaan berubah menjadi medan pertempuran! Layaknya komandan pasukan tempur, Eren langsung memberikan perintah.

Tanpa banyak komentar, Connie, Hitch dan—kenapa pula Armin dan Annie ikut segala? Yah, singkatnya keempat orang tersebut menahan tangan, badan, dan kaki Jean sampai pemuda itu meronta-ronta. Ck ck ck ck.

"LEPASKAN! LEPASKAN AKU, DASAR KALIAN LIMBAH BERACUN!"

Digubris, para pembaca. Mereka cuek tingkat akut.

Namun Jean masih belum menyerah!

"BAJINGAN KALIAN SEMUA! KALIAN BENAR-BENAR AKAN MEMPRESENTASIKAN KUTUKANKU DI DEPAN KELAS!?" teriak Jean gahar.

"Tutup mulutmu, Jean! Ini adalah perintah komandan!" Eren balas teriak tak kalah gahar pula.

"Kau cukup diam dan terima saja nasibmu, keparat!" sahut Connie sudah tak tahan lagi menahan Jean. Dia memberontak terlalu kuat! Sial, tangannya pegal!

"PERSETAN KALIAN! GANTI TOPIK ITU SEKARA—"

BRUGH!

Hee? Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba bocah itu pingsan di sela-sela protesnya?

Kedua bola mata Jean sampai memutih segala. Air liur menetes dari sudut bibirnya. Mulutnya pun sedikit menganga. Tapi dari segala keanehan itu, ternyata yang paling aneh adalah keberadaan sapu tangan putih bercorak bunga mawar di sekelilingnya di dekat mulutnya.

"Eh?" Annie mendadak cengo kenapa Jean berubah jadi bersikap ala mayat.

"Jean?" Armin mencoba menyebut namanya. Siapa tahu pemuda itu benar-benar mati, bukan?

Nihil. Tak ada jawaban. Tapi Armin berani bersumpah dia sempat memeriksa denyut nadi Jean dan faktanya dia masih bernapas. Jadi pemuda ini benar-benar pingsan? Hei, kenapa bisa? Bagaimana caranya?

Ah, soal itu, bagaimana jika kalian bertanya sendiri pada Hitch yang perlahan mengambil sapu tangan putih yang ternyata miliknya itu sembari memasang ekspresi bak pembunuh berantai?

"...Permainan lempar saputanganku berhasil..." begini gumamnya pelan tanpa rasa dosa.

Sebagai sahabat lama Hitch, akhirnya Annie mendapat pencerahan dibalik pingsannya Jean.

Jangan-jangan saputangannya dilumuri obat bius!?

Wah, ini sih tindakan kejahatan menyalahi UU penggunaan obat namanya.

.

.

"Kelompok kami membahas tentang masalah keperjakaan Jean Kirstein yang tak pernah menemukan solusi. Dan sebagai teman baik hati paling setia di muka bumi, kami mencoba mencari solusi terbaik. Dan hasil diskusi kami menyatakan bahwa masalah tersebut disebabkan suatu penyakit yang merajalela dalam tubuhnya sedari kecil, seperti sakit, luar biasa sakit, sakit akut dan penyakit kelamin. Kemudian, kami sependapat jika pemecahan masalahnya adalah dengan tiga cara, yaitu menyewa perempuan dari uang hasil rampokan, menyerang perempuan membabi buta, atau mendapatkan pacar atau istri menggunakan uang sogokan, hipnotis dan obat terlarang. Namun, kami menyadari bahwa ketiga pemecahan masalah tersebut sangat kontroversi. Sehingga kami menemukan jalan lain dimana masalah Jean Kirstein dapat dipecahkan secara psikologis, yaitu menilai dari sudut pandang lain dimana Jean Kirstein tak memerlukan teman seks demi menjadi pria sejati ataupun cara ilmah, yaitu membuat Jean Kirstein memiliki hubungan romansa dengan simpanse mengingat DNA antara manusia dan simpanse hampir genetik mendekati 1,01%."

Ya ampun.

Mampus saja sana. Harga diri luntur sudah.

Walaupun Jean diikat dan mulutnya ditempel plester kemudian dibawa ke depan kelas secara paksa oleh Eren, itu tak cukup efektif menyelamatkan rasa malu luar biasa Armin dan Annie. Kedua insan ini terpaksa menunduk supaya—demi apapun setidaknya bisa menutupi semburat merah padam di wajah mereka! Eren sinting! Dasar tak tahu malu! Bisa-bisanya dia menjelaskan hasil diskusi mereka panjang lebar dengan muka kalem! Awas saja kau, Eren! Kau sekarang telah masuk dalam daftar hitam milik Annie!

Dan yang paling membuat AruAni heran adalah... kenapa sikap satu kelas biasa saja!? Kenapa mereka sangat serius mendengarkan!? Bahkan Rico sampai angguk-angguk seolah sangat tertarik pada uniknya masalah yang kelompok mereka pilih! Ternyata satu kelas ini sama tak beresnya dengan si bocah Yeager!

Sialan!

...

~Gadis Ikon Sekolah Page Eight~

...

.

.

Kelas praktikum Biologi berakhir damai sekaligus nista. Tentu saja nista karena kelompok satu dinyatakan mendapat nilai tertinggi di antara seluruh kelompok. Berbagai pujian disanjungkan pada si ketua busuk, alias Eren yang hidungnya langsung memanjang persis Pinokio. Sayang sekali hal itu tidak bisa dirasakan Armin dan Annie yang mati-matian menahan hasrat untuk kabur dari kelas tersebut.

Maka mereka pun berpencar mengingat seluruh anggota kelompok satu berasal dari jurusan berbeda. Berlaku pula bagi Hitch dan Annie. Mereka berjalan melewati koridor sekolah sembari sesekali menghindari beberapa murid berlarian menuju kelas berikutnya. Benar bahwa mereka juga tak bisa membuang waktu. Ada pelajaran partitur dengan Kitz-sensei.

"Hei, Annie. Ini mungkin terkesan tiba-tiba sekaligus aneh, namun jawab jujur. Tidak ada rahasia antar sahabat," mendadak Hitch membuka topik pembicaraan di keheningan antara mereka.

Seketika Annie pun meliriknya yang berjalan disampingnya. Kedua alisnya bertaut. Bingung kenapa Hitch tiba-tiba berkata begitu, "Ada apa, Hitch? Firasatku jadi buruk,"

"Tenang. Ini bukan pertanyaan sulit dimana kau harus memasukkan berbagai rumus untuk menemukan jawabannya," balas Hitch santai mengangkat bahu. Kemudian dia pun melanjutkan, "Apa Armin Arlert bagimu?"

"!?"

Sial. Jantung Annie hampir saja berhenti mendengar pertanyaan itu.

Apa Armin baginya? Yang benar saja!

"...Aku tak tahu apa yang kau bicarakan."

"Araaa~! Jangan pura-pura bodoooh~! Kau pikir aku tidak mencuri dengar obrolanmu dengan laki-laki itu di halaman kelas praktikum tadi? Kau memintanya menunggumu seperti biasa di gerbang belakang sekolah, 'kaaaan~?"

DEGG DEGG!

KETAHUAN!? SUNGGUH, SECEPAT INI!?

Gaaaaah! Tamat sudah riwayatmu, Armin! Annie paham betul bahwa sahabatnya ini tak kalah ember dari Ymir. Hanya butuh waktu singkat baginya untuk menyebarkan informasi ini dan Armin akan berakhir di rumah sakit!

Bodoh sekali! Annie menyesali kebodohannya yang menghampiri Armin sesudah praktikum tak bermutu itu selesai! Ya, mau bagaimana lagi? Dia harus mengatakan pada pemuda itu bahwa dia akan pulang sedikit lebih lama dari biasanya karena pertemuan antara senior-junior jurusan Budaya. Dia tak mungkin membuat Armin tak memahami alasan kenapa dia tak menemukan Annie di gerbang belakang.

Baiklah, alasan apalagi kali ini supaya bisa lolos dari lubang jarum?!

"Jawab jujur, Annie. Apa maksudnya 'seperti biasa'? Apa ini bukan pertama kalinya kau pulang bersamanya?"

Annie mati kutu.

"I-itu..."

Ah, cengiran itu! Senyuman iblis itu akhirnya muncul! Pertanda tak baik!

"Jangan-jangan kalian berpacaraaaann~?"

Haaaaahh!?

Pacaran? Hitch sudah gila, ya?!

"Dia bukan pacarku,"

"Heeeeee. Kalau benar begitu, bisakah kau menjelaskan sikap kikukmu iniiii~?"

Apa?

Kikuk? Annie tak menyadarinya.

Benarkah dia kikuk? Oh, ayolah! Hanya karena Armin!? Apa bagusnya pemuda itu sampai membuatnya kikuk begini!?

Target di depan mata dan Hitch tak mengendurkan serangan. Senyum iblisnya semakin melebar tatkala meledek habis-habisan sahabatnya yang pura-pura melengos menghiraukannya.

"Kau tak perlu khawatir, Annie. Rahasiamu aman bersamaku. Aku jamin Ymir takkan tahu soal ini. Karena kalau dia tahu bahwa kau sedang jatuh cinta pada laki-laki yang bukan berasal jurusan Budaya, laki-laki bernama Armin itu pasti akan mati,"

"Tutup mulutmu, Hitch. Aku tak jatuh cinta padanya dan takkan pernah. Aku tak tertarik pada dunia percintaan sedikit pun," balas Annie jutek. Mengesalkan sekali mendengar ledekan menyebalkan dari mulut sial Hitch.

"Oh, ya? Tapi kalau benar laki-laki itu mendekatimu, berarti dia mungkin suka padamu, 'kan?"

Eh?

Teori bodoh macam apa itu? Annie saja sampai melotot saking kagetnya jika hal itu benar-benar kenyataan.

"Baiklah, kalau kau masih belum mau jujur," Hitch menyerah kalah sementara, "Tapi aku akan mengawasi kalian. Aku berani jamin kalau laki-laki itu akan mengubah sifat dingin dan keras kepalamu ini."

Huh, jaminan konyol.

Annie yakin 100% itu takkan terjadi.

Tak ada satupun laki-laki di dunia ini yang mampu menaklukkan hatinya.

Takkan ada.

Tapi... benarkah?

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Author's note:

THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!