Author's note: Terima kasih, terima kasih untuk para pembaca sekalian. Baik yang sekadar numpang lewat, pembaca diam maupun pembaca yang meninggalkan komentar. Penulis tetap terharu pada kontribusi kalian semua demi keberlangsungan fanfic ini. Jadi, mari Penulis persembahkan halaman kesembilan fanfic kedua Penulis tema Shingeki no Kyojin ini. Semoga kalian menyukainya!
.
.
Disclaimer : Isayama Hajime
GADIS IKON SEKOLAH
Halaman Sembilan: Perasaan Mengambil Keadaan
By Josephine Rose99
.
.
.
.
.
GADIS IKON SEKOLAH
HALAMAN SEMBILAN
PERASAAN MENGAMBIL KEADAAN
By Josephine Rose99
.
.
.
Hitch bukanlah Lester yang ahli menganalisis setiap titik serang dalam setiap misi perampokan atau pembunuhan kepada tim-timnya sampai menempel beberapa foto, dokumen atau serangkaian pilihan di papan tulis pribadi. Tapi kali ini dia meminjam metode tokoh fiksi tersebut supaya lebih memahami setiap langkah yang dia ambil. Dalam keheningan malam yang hanya ditemani suara detak jam, gadis ini menatap dalam-dalam foto-foto dan cetakan dokumen yang dia tempel di papan tulis yang dia pasang pada dinding kamarnya.
Bukan berarti dia menjadi penguntit level kakap, namun dia tahu bahwa dia harus melakukan ini. Foto-foto Armin beserta dokumen tentangnya berhasil dia dapatkan dari preman-preman geng yang berhasil dikalahkan Annie di tempo hari. Kalian bertanya kenapa preman-preman geng itu menurut padanya? Berterima kasihlah pada bakat pengancam alami miliknya sehingga para preman itu segera mencari tahu informasi soal Armin. Hebat sekali, saudara-saudara, para preman itu berhasil melaksanakan misi tersebut tak sampai seminggu.
"Hmm... Armin Arlert, huh?"
Belum terlalu lengkap. Meski begitu, setidaknya ini bisa menjadi sebuah acuan untuk memutuskan kesan dirinya terhadap pemuda yang akhir-akhir ini dekat dengan Annie.
"Berhasil mendapatkan peringkat satu di ujian masuk Elshin. Nilai sempurna pula..." Hitch geleng-geleng kepala pelan melihat foto hasil ujian masuk Elshin dulu. Kemudian dia beralih pada foto rumah Armin yang tepat di samping foto hasil ujian tersebut, "...Hanya tinggal bersama Kakeknya di jalan Secht blok 4 nomor 38 sejak kedua orangtuanya meninggal... Heee, berarti rumahnya dekat dengan apartemen Annie, ya?"
Sampai informasi pribadi juga? Benarkah para preman itu hanya sekadar preman? Hasil penyelidikan mereka setingkat agen intel saja.
Kali ini mata Hitch beralih pada foto berikutnya dimana Armin berdiri di tengah dua orang dewasa sambil memegang piala dan mengalungi medali emas, "...Benar-benar pemilik IQ 210. Sejak SD selalu mendapat peringkat satu di sekolahnya bahkan memenangkan olimpiade matematika di kelas 6 dan fisika di kelas 2 SMP tingkat internasional."
Setelah lima menit berkutat dengan papan tulis di hadapannya, Hitch merasa belum puas. Dia mengistirahatkan diri, membaringkan tubuhnya di ranjang sembari menopang belakang kepala dengan kedua tangannya.
"Tapi ini masih belum cukup. Informasinya kurang. Aku harus cari tahu tentangnya lebih detail lagi," komentar gadis itu dalam hati, "Meskipun begitu, ada satu kejanggalan. Laki-laki ini tiba-tiba mendekati Annie sampai menemani pulang segala. Memang rumahnya dan apartemen Annie searah, tapi ini terlalu mencurigakan..."
Wajah Armin dan Annie melintas di pikirannya. Saling mengobrol santai bahkan sesekali bercanda. Ingatannya tak salah melihat bahwa ekspresi Annie lebih lembut daripada biasanya. Pertama kali baginya menyaksikan sang sahabat mau terbuka pada laki-laki. Selama ini dia selalu berpikir takkan datang waktu dimana Annie melepaskan diri dari trauma keluarganya. Ternyata terlalu berlebihan menganggap Annie takkan mungkin mempercayai laki-laki lagi.
Tidak, ini masih terlalu cepat. Hitch belum menemukan bukti jelas untuk menaruh harapannya pada Armin. Dia butuh momen membuktikan hal tersebut.
Kalian bertanya soal sejarah perang jurusan? Huh, masa bodoh. Sejak kapan dia tertarik memikirkan itu? Dia bukanlah Ymir. Dia hanya ikut-ikutan karena baginya sangat seru menyaksikan pertengkaran yang penuh aksi sekaligus drama. Kalian sebut dia psikopat, Hitch juga tak peduli. Lagipula kalaupun dia peduli, Annie tetap menjadi prioritas utama. Yang benar saja dia mendahulukan jurusan dibanding sahabat, bukan? Dia tak sebodoh itu.
Armin Arlert.
Orang yang sebentar lagi akan menjadi harapannya.
"...Apa sebenarnya tujuan Armin Arlert ini?"
.
.
.
Malam dimana pertama kali bagi seorang Annie Leonhart menghabiskan waktunya untuk berpikir keras. Bukan karena tugas menumpuk, melainkan perkataan sang sahabat tempo hari membuat jantungnya berdebar tak karuan. Membuat dirinya tak ingin melakukan apapun selain memikirkan segala kemungkinan apakah perkataan Hitch saat itu kenyataan atau sebaliknya.
Sudah lama sekali baginya tidak berpikir keras tentang seseorang semenjak menerima fakta dimana dia akan menghabiskan waktu di apartemennya seorang diri. Mungkin karena itulah dia benci berdiam disana. Annie lebih menyukai waktunya di sekolah. Meskipun sebagian besar diisi hal-hal omong kosong, tapi itu jauh lebih baik daripada membisu karena tak memiliki teman mengobrol. Waktu berharganya bertemu teman-teman. Bertemu para senior. Bertemu para guru.
Bertemu dengan Armin.
Ya, pasti pemuda itu tak menyadarinya. Dia tak sejenius kelihatannya sehingga tak mengetahui bahwa Annie sering memikirkannya karena takut pemuda itu terluka akibat ulah jurusannya sendiri. Begitu banyak usaha Annie membuat hal itu tak terjadi.
Armin pasti tak tahu bahwa Annie melarang seluruh murid jurusan Budaya pulang lewat gerbang belakang berkat kalimat-kalimat tak masuk akal seperti, 'Jurusan Budaya adalah jurusan terdepan. Sudah sepantasnya kita semua pulang melalui gerbang depan sekolah. Tunjukkan kita nomor satu di sekolah ini,'. Jangan tanya kenapa mereka semua menurut padanya tanpa protes melainkan teriak-teriak menggila seolah mereka keturunan Tarzan.
Armin pasti juga tak tahu bahwa Annie melarang murid jurusan Budaya mengikutinya pulang demi memastikan tak ada penguntit. Armin pasti juga tak tahu bahwa Annie tidak mengambil kelas tambahan klub bela dirinya supaya cepat menemui Armin setiap kali dia pulang lebih lama.
Sebuah kebiasaan baru. Annie juga tak menyangka dirinya melakukan itu tanpa sadar hanya demi seorang pemuda yang tak lama dia kenal. Namun dia tahu ada sesuatu dalam diri Armin yang membuatnya nyaman. Ini bukan soal senyumnya yang hangat itu, tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang tak bisa Annie deskripsikan dan dia tak tahu itu apa.
Lalu apakah itu benar? Apakah yang dikatakan Hitch benar? Itu bukan asumsi konyolnya, 'kan?
Alasan pemuda itu sangat ingin mendekatinya, membantunya, mengenalnya adalah karena memiliki perasaan spesial itu padanya? Padanya, gadis dingin yang tak memiliki pesona khusus—well, menurutnya—apapun? Dia yang dijuluki Ratu Es? Dia yang menaklukkan banyak geng preman maupun murid sekolah lain dengan kekerasan? Dia yang tak memiliki sisi lembut ini bisa disukai oleh pemuda sepertinya?
"...Armin suka padaku? Benarkah?"
Dia terus menanyakan itu dalam hatinya. Dan lagi-lagi jantungnya tak mendengarkan sampai memilih berdebar-debar sendiri. Annie berusaha mengubah posisi berbaringnya di atas ranjang, namun nihil. Semakin dia berusaha mengenyahkan pikiran bodoh ini, semakin sulit pula matanya terpejam. Demi apapun, dia hanya ingin tidur!
"Me-memang benar laki-laki itu mendekatiku. Terkesan terlalu memaksa sampai ingin selalu mengikuti. Ja-jangan-jangan Hitch benar? Armin memiliki perasaan padaku?" gagal total. Matanya benar-benar tak mau terpejam. Rasa kantuk mendadak hilang. Mengesalkan sekali.
Tolong jangan menyalahkannya. Jangan salahkan dia yang terlalu terbawa perasaan karena laki-laki. Dia hanyalah seorang bocah SMA labil yang baru pertama kali terjun pada dunia tak dikenal. Selama ini laki-laki yang ada di dekatnya selalu menunjukkan perasaan kagum, hormat, bahkan takut. Bukan suka! Atau mungkin dia sendiri yang tak peka? Entahlah!
"Cih! Konyol sekali! Untuk apa aku memikirkan itu? Aku masih banyak tugas yang harus kukerjakan dibanding memikirkan hal konyol seperti itu," langkah cukup tepat berusaha diambil Annie. Gadis ini pun bangkit dari baringnya kemudian duduk di pinggir ranjang, siap melangkahkan kaki menuju meja belajar.
Sayang sekali usaha itu gagal. Saat akan beranjak dari sana, lagi-lagi wajah Armin yang tersenyum padanya melintas di kepalanya. Belum lagi kalimat sial alias 'Tapi kalau benar laki-laki itu mendekatimu, berarti dia mungkin suka padamu, 'kan?' terngiang berkali-kali dengan keras. Sial!
Annie dapat merasakan wajahnya memanas!
"Sialaaaan! Kenapa jadi kepikiraaaaaan!?"
Well, sepertinya pemimpin jurusan Budaya akan terjaga cukup lama di malam yang indah ini.
...
Gadis Ikon Sekolah Page Nine
...
.
.
Para murid kelas I Kimia terkejut menghadapi kenyataan dimana sang guru menutup kelas lebih cepat dari biasanya. Kasak-kusuk tak terhindari. Pertanyaan gila seperti apakah otak sang guru tertinggal di rumah mengalir dari mulut ke mulut. Namun alasan yang dikatakan sang guru justru sebuah perintah yang harus disampaikan dari sang kepala sekolah. Sebuah perintah demi kebaikan sekolah.
Dan itu adalah...
"Haaah? Gotong royong, sensei?"
"Ya. Untuk persiapan hari ulang tahun sekolah."
Hari ulang tahun Elshin? Apakah sudah sedekat itu?
"Eh? Sekolah ini punya hari ulang tahun, ya?" ini sih gumaman seorang murid bodoh yang kebodohannya tak bisa tertolong.
Telinga sang guru ternyata lebih tajam dari perkiraan. Dia mendengar gumaman tersebut lalu berceletuk sinis, "Apa kau pikir hanya dirimu saja yang bisa berulang tahun? Sekolah ini juga bisa, tahu. Ya, meskipun sensei tak peduli. Sensei dapat hari bersantai dan gaji sensei mengalir," sungguh guru penerima gaji buta yang tak patut ditiru.
Seorang murid mengangkat tangannya, "Apa gotong royongnya hari ini, sensei?"
"Tahun depan. Ya, tentu saja hari ini," kata sang guru menghiraukan sweatdrop massal para muridnya, "Oh ya, sistem gotong royong di sekolah ini agak berbeda. Biasanya di sekolah lain gotong royong dilakukan murid di wilayah kelasnya masing-masing, 'kan? Tapi di Elshin, kalian akan membersihkan wilayah dimana kalian sedang belajar. Singkatnya, jika kalian masuk kelas Sejarah, berarti kalian akan membersihkan kelas itu dan sekitarnya bersama teman-teman satu kelas kalian meskipun berbeda jurusan."
"Kenapa tidak sekarang saja, sensei?"
"Kamu berniat mengusir saya, ya? Ya, walau saya juga muak melihat wajah bodoh kalian terlalu lama," sungguh jawaban yang mengundang tatapan sinis maut dari setiap murid di kelas itu.
Muak, katanya? Bukan hanya berlaku padamu, sensei. Semua murid di kelas itu kecuali si jenius nilai sempurna juga muak pada dirimu.
"Guru brengsek!" para murid yang merasa tersinggung membatin jengkel seperti ini.
Setelah puas melampiaskan sindiran kepada para murid, guru sial tersebut ternyata meninggalkan kelas juga. Dia mengambil buku-buku di atas mejanya lalu melengos pergi diiringi tatapan bête dari murid-murid. Tapi ketika dirinya akan membuka pintu kelas, tiba-tiba dia teringat akan sesuatu yang lupa dia sampaikan.
"Benar juga..." sang guru pun berbalik, "Saya lupa mengatakan ini, tapi apakah kalian tahu sekolah ini mengadakan prom saat ulang tahun?"
Mendadak angin berhembus.
Dalam waktu singkat semua murid membisu. Tak ada yang berkomentar karena sibuk melototi si guru kampret yang balik melotot. Walhasil, jadilah mereka saling melotot lebay dan sok asyik sampai akhirnya satu per satu murid mulai bersuara.
"Prom?"
"Prom?"
Si guru kemudian membalas kalem, "Ya, semacam pesta dansa murid."
"EEEEEEKHH!?"
"BENARKAH ITU, SENSEI!?"
"Tapi, bukannya prom hanya dilakukan untuk murid yang sudah dinyatakan lulus SMA ya, sensei? Kami 'kan masih kelas satu."
"Kalau prom satu itu adalah prom privasi murid kelas tiga. Ini tidak. Perayaannya diadakan di halaman tengah sekolah dari pagi hingga malam. Selain itu, menurut saya itu bisa dikatakan prom karena banyak juga murid-murid yang menari bersama di sekitar api unggun," jadi pada dasarnya si guru kimia sialan ini menilai suatu perayaan dapat disebut prom dari adanya pesta dansa atau tidak. Sangat pikiran yang tidak relevan sekali.
Sayangnya itu tidak menurunkan semangat para murid mendapatkan pasangan mereka.
"OOOOOOOOOHHH!"
Lihatlah mata mereka yang berbinar-binar, khususnya para lelaki. Nafsu dan gairah mereka tampaknya bisa mereka lampiaskan demi menjalankan satu misi paling penting di kehidupan. Maklum, mereka tak ada bedanya dari target kelomok satu praktikum biologi berkat kutukan keperjakaan sedari lahir.
"Uh-huh. Karena itu, bersemangatlah mencari pasangan dansa kalian, anak-anak," ucap sang guru sebagai ganti salam perpisahan sementara karena harus segera melarikan diri dari kelas busuk itu menuju ruang guru.
Maka, misi bersih-bersih pun dimulai.
.
.
"AKU BENCI BERSIH-BERSIH!" benar-benar guru menyebalkan. Menyuruh seorang Ymir membersihkan halaman kelas kimia I dari rumput-rumput di bawah terik sinar matahari? Apakah dia tak tahu betapa banyak botol sun block yang dia lumuri setiap hari di kulitnya? Apakah dia tak tahu betapa dia ingin mendapatkan kulit putih meski bertahun-tahun terjebak di kulit coklatnya? Apakah dia menghargai usahanya sama sekali? Persetan dengan hari ulang tahun sekolah! Berikan dia kenyamanan di ruang kelas ber-AC itu!
Apa-apaan Ymir ini? Mengomel-ngomel bak Ibu-Ibu pemilik kos menagih uang sewa bulanan dari anak-anaknya. Mungkin inilah yang membuat telinga Annie tak tahan mendengar keluhan tak bermutunya sehingga melempar pandangan membunuh pada gadis tersebut.
"Gerakkan tanganmu dibanding mulutmu," ujar Annie dengan nada sangat dingin.
"Oh, ayolah, Annie! Aku saja jarang membersihkan kamarku, tapi kenapa sekolah ini menuntutku membersihkan halaman kelas!? Daripada aku membersihkan tempat ini, lebih baik aku membersihkan kamarku yang sudah seperti kandang babi itu!" tanpa sadar perempuan yang hobi memperbudak Armin ini mengumbar aibnya dengan suara keras. Tak sadar bahwa setiap orang yang kebetulan lewat mendengarnya sampai memandangnya jijik bak sampah organik di septic tank.
Sejujurnya Hitch tak tertarik masuk ke dalam percakapan buang-buang tenaga seperti ini, tapi sama seperti Annie, lama-lama dia tak tahan mendengar keluhan Ymir. Sambil mencabut rumput, gadis ini memberikan sebuah ancaman, "Tolong jangan memancingku membunuhmu disini, Ymir. Kau tak ingin ada pertumpahan darah disini, 'kan?" setelah berkata begini, Ymir langsung berhenti berkicau. Kembali mencabut rumput sembari merutuki guru sial yang asyik minum cola dingin di ruangannya.
Tak sampai lima menit setelah Ymir berhenti berkicau, tampaknya keinginannya didengarkan oleh dewi keberuntungan berkat panggilan seorang murid sekelas mereka dari belakang mereka.
"Hei, kalian bertigaaa! Tolong masuk ke dalam kelas! Ketua memanggil kalian!"
Spontan tangan trio serangkai jurusan Budaya ini berhenti melanjutkan tugas mencabut rumput.
Dipanggil ketua kelas, katanya? Hei, apakah mereka berpikir hal sama seperti Penulis? Ini kelihatan seperti panggilan tugas darurat layaknya panggilan perang.
"Cih, mereka mau menyuruh kita mau melakukan apalagi?" Ymir masih bersungut-sungut meski memilih mengikuti Annie dan Hitch menuju ke dalam kelas. Perasaannya mengatakan bahwa ketua kelas sialan ini pasti akan memberikan tugas merepotkan dibanding berkotor-kotor di bawah sinar mentari.
.
.
.
Mungkin sudah saatnya Ymir beralih profesi menjadi peramal. Firasatnya benar-benar terjadi.
Kelompok paling terburuk sedunia setelah kelompok satu versi praktikum biologi kelas E resmi terbentuk di kelas kimia I.
Kelompok? Ah, jika kalian bingung, sebenarnya ketua kimia kelas I diminta sang guru untuk membentuk sebuah kelompok khusus yang bertanggung jawab dalam hal pendirian stand kimia berdasarkan nilai serta kreativitas di hari ulang tahun sekolah. Dan setelah melihat daftar nilai kimia sementara seluruh murid kimia kelas I, sang ketua memutuskan kelompok khusus ini dibuat atas hasil analisa dimana terdiri dari enam orang.
Kalian ingin tahu siapa saja mereka? Mari kita absen satu per satu.
Armin Arlert. Jelas saja tanpa perlu cari alasan.
Mikasa Ackerman. Tak sejenius makhluk satunya, gadis ini memang cukup jago dalam hal analisis atau berhitung. Tak seperti Eren yang terlalu bergantung pada mereka berdua.
Sasha Blouse. Nilai tingginya murni karena mencontek Armin dan pemuda itu tak bisa menolak berkat serangan puppy eyes maut miliknya.
Annie Leonhart. Berkat berguru di gua batu(?) bersama Armin, kecerdasan pemuda itu menular padanya. Meskipun sampai sekarang dia masih dibantu, tapi bukan berarti Annie mencontek.
Ymir. Siapa sangka sang majikan dan budaknya berada dalam satu kelompok yang sama? Oh, omong-omong nilai tingginya itu adalah omong kosong. Gadis yang lebih mengerti bahasa satwa dibanding bahasa manusia ini mengikuti metode Sasha alias mencontek Annie.
Hitch Dreyse. Satu aliran dengan Ymir. Pemalas sepertinya mana mungkin mendapat nilai A- dalam kimia. Sudah pasti dia mengekori Annie demi bisa melihat PRnya.
Bagaimana? Benar-benar kelompok terburuk di dunia, bukan?
"Nah, aku menjadikan kalian satu kelompok untuk membuat stand kimia yang menarik di hari ulang tahun sekolah. Oh ya, omong-omong aku menunjuk kalian karena nilai kimia kalian berenam paling tinggi di antara murid lainnya. Jadi, kuserahkan pada kalian! Aku harus menemui guru untuk memindahkan beberapa buku ke perpustakaan!" dasar ketua tak bertanggung jawab. Bisa-bisanya dia kabur secepat kilat menghiraukan percikan api dari pandangan bertabrakan dari beberapa orang di tim itu.
Maka seperti inilah sekarang. Lima orang tersebut berdiri mengelilingi meja guru di depan kelas. Membiarkan murid lainnya sibuk bersih-bersih karena hasrat membunuh seseorang di tim tersebut terlalu membara sebagai dampak tak terima bisa satu tim dengan laki-laki yang paling dia benci.
Eh, tunggu. Lima orang?
Dimana satu lagi? Dan siapa?
"HAAAAAHH!? KENAPA AKU HARUS SEKELOMPOK DENGAN KURCACI SIALAN INIIII!?" sesuai dugaan, Ymir langsung mengomel ala Ibu-Ibu demonstran sembari menunjuk Armin dengan jari tengah. Sangat tidak sopan.
Tentu Armin tak terima harga dirinya dijatuhkan (lagi) oleh perempuan itu. Tiga persimpangan merah timbul berdenyut-denyut di dahinya, "Siapa yang kau panggil kurcaci?" sahut Armin mencoba bersikap tetap tenang meski rasanya saat itu juga dia ingin menabok mulut sial itu pakai sepatu bolak-balik.
"Eh? Ymir, kau kenal dia?" ini sih Hitch yang tak tahu apa-apa. Well, selama di kelas kimia, tak pernah sekalipun dia melihat konversasi antara Ymir dan Armin. Lalu dari mana gadis itu mengenalnya?
"Dia budak baruku di restoran tempat aku kerja sambilan," jawaban Ymir ini otomatis membuat Hitch sweatdrop.
"AKU BUKAN BUDAKMU, IBLIS BETINA!"
"KAU INGIN AKU MEROBEK MULUT BUSUKMU ITU DISINI, HUH!? KECEBONG!"
Aura permusuhan ditunjukkan terlalu terang-terangan. Bisa-bisa sebelum memutuskan apa yang ingin dipersiapkan malah akan ada yang terbunuh. Khususnya Mikasa dimana mode protektifnya aktif tatkala melihat deretan gigi seram Ymir ditujukan kepada Armin.
Mikasa langsung maju melindungi Armin yang dibelakangnya. Sorot mata dingin, sedingin es miliknya bertabrakan dengan pandangan setan dari si gadis jerawat. Kemudian dia berkata penuh penekanan, "Jangan berani meletakkan jari kotormu pada sahabatku."
Bukannya takut, Ymir justru menantang pakai gaya preman, "Oooh! Sepertinya aku harus menyingkirkanmu lebih dulu ya, Ackerman?! Ayo, sini kalau berani!" begini katanya sampai memukul meja segala.
Walhasil jadilah dua wanita barbar tersebut saling melotot horor satu sama lain.
"Emm, tu-tunggu dulu sebentar..." Sasha mengambil peran setelah sekian lama tak diperlihatkan di fanfic ini. Mencoba bersikap bijak seperti Armin mengingat sekarang pemuda itu karena sibuk meringkuk di belakang Mikasa, "Kita diminta untuk diskusi, bukan pembantaian satu sama lain. Jadi, untuk satu momen saja, tolong tahan emosi kalian. Oke?"
Hitch menghela napas berat, "Sasha benar. Lupakan perkara jurusan, Ymir. Kau tak ingin berurusan dengan guru karena tugas ini tak selesai, 'kan?"
Sial. Susah payah Ymir mengumpulkan hasrat membunuhnya supaya dapat dilampiaskan pada si budak baru. Siapa sangka pemuda lemah itu memiliki pengawal bak gorila begini? Tak mengelak gadis jangkung ini mendecih-decih kesal sembari membuang muka.
Melihat emosi sang sahabat berhasil dikendalikan, Hitch pun mengambil alih, "Baiklah, kita mulai saja rapat kecilnya. Jadi, kita ingin tema stand kimia itu a... eh? Eh? Are?" bukannya fokus pada tugas yang diberikan, Hitch malah celingukan. Benar, dia tak sengaja melirik sebelahnya dan mendapati tak seorang pun disana kecuali Ymir.
Ya, gadis ini baru menyadari bahwa ada satu perempuan yang seharusnya ada disampingnya justru menghilang.
Annie?
Tunggu dulu. Dimana perempuan itu? Apa jangan-jangan dia masih diluar? Tapi bukankah Annie berjalan disampingnya ketika masuk kelas tadi?
"Lho? Dimana Annie?" tanyanya mencari-cari keberadaan gadis tersebut. Berterima kasihlah pada perilaku Hitch layaknya Ibu kehilangan anaknya, walhasil seluruh anggota tim perencanaan stand kimia kecuali si tukang makan juga ikut mencari Annie.
Si tukang makan? Sasha?
Ah, sekadar informasi, sejujurnya Sasha tahu dimana Annie dari tadi. Dia tahu kalau gadis itu sejak awal memang tak berdiri mengelilingi meja guru. Heran kenapa kedua orang yang mengaku sebagai sahabatnya ini sampai tak sadar. Maka dari itu Sasha menunjuk sosok penampakan yang dicari-cari berdiri tak jauh dari mereka sembari berkata santai, "Oh, dia disitu dari tadi."
"Hah?"
Seketika keempat orang tersebut menoleh mengikuti arah telunjuk Sasha dan mendapati Annie berdiri menyilangkan tangan sembari bersandar di pojokan kelas. Baiklah, telah terjadi sesuatu yang mencurigakan disini.
Sedang apa perempuan itu disana?
Apa-apaan aura tidak bersahabat itu? Dan kenapa pula Annie menjauhkan diri dari rapat? Seperti bukan dirinya.
"Annie?" panggil Hitch berjaga-jaga jika sang sahabat mulai dipertanyakan tingkat kewarasannya.
"Hei, sedang apa kau di pojokan begitu?" Ymir mengernyitkan dahi.
Namun Annie tidak bergeming. Meski seluruh pandangan heran ditujukan padanya, sang pemimpin jurusan Budaya tetap kukuh pada prinsipnya supaya tak mendekati meja guru. Annie berusaha mati-matian menghiraukan atmosfer aneh yang dia rasakan saat ini.
"Ti-tidak ada apa-apa," jawab Annie tanpa pikir panjang. Mau bagaimana lagi? Dia juga tak punya banyak waktu berpikir supaya mendapat alasan.
Hitch bengong selama beberapa detik. Apa maksudnya 'tidak ada apa-apa'? Bukankah gadis itu menjauhi rapat berarti ada apa-apa? Hitch memperhatikan Annie mulai bertingkah aneh, lebih aneh dari biasanya. Namun waktu mereka tak banyak. Hitch tak punya hobi berurusan dengan guru. Kalau begini tugas harus diprioritaskan lebih dulu, bukan?
"Bisakah kau lebih mendekat, Annie? Kita akan mulai rapatnya," desak Hitch mulai malas berdiri lama-lama.
Dan apakah Annie langsung setuju untuk mendekat? Salah besar.
"Ti-tidak. Aku berdiri disini saja. Aku lebih suka di pojokan. Di pojokan itu dingin dan membuatku tenang..."
Hah? Alasan bodoh macam apa itu? Seorang Annie menyukai suhu dingin? Annie Leonhart, gadis yang lebih memilih meringkuk di balik selimut selama musim dingin bak tupai hibernasi itu tiba-tiba suka dingin? Jangan katakan pada Ymir kalau kepala gadis itu terbentur sebelum berangkat ke sekolah, "Kau bicara apa, bodoh? Kita tidak sedang bermain kucing-kucingan! Rapatnya takkan dimulai kalau kau jauh begitu!"
Mengesalkan.
Ini sangat mengesalkan!
Kenapa tidak ada satupun yang menyadari apa yang saat ini Annie rasakan!? Tidak. Justru semakin bermasalah jika mereka tahu! Tapi Annie harus berbuat apa? Dia juga tak tahu kenapa keberaniannya hilang saat berkumpul untuk rapat kecil ketika matanya menangkap sosok Armin di antara anggota tim!
Ini semua gara-gara perkataan Hitch waktu itu. Sialan! Dia jadi terus memikirkan kemungkinan tersebut. Bagaimana ini? Dia benci akan pandangan-pandangan orang-orang terhadapnya seolah dirinya orang aneh.
"Sialan. Sialan. Dadaku sakit..." berkali-kali Annie mengucapkan mantera demi menenangkan jantungnya yang lari estafet 10 km, namun gagal total, gagal total, dan gagal total. Seolah jantungnya akan menyeruak dari dada sehingga dia dapat merasakan perasaan tak nyaman ini. Dia tahu. Annie tahu bahwa wajahnya mulai memerah sehingga mati-matian menahannya sebelum orang-orang menyadari. Sambil merasakan perasaan aneh tersebut, Annie melirik Armin yang ternyata juga sedang menatapnya sekarang. Tanpa ba-bi-bu jantungnya berdebar makin keras! "Aaargh! Berada di satu ruangan dengannya saja membuatku tak nyaman begini! Jika aku terlalu mendekat, aku pasti akan mati! Sialan, apa yang terjadi padaku!?" gawat. Gadis ini mulai menggila, para pembaca. Annie geleng-geleng kepala cepat persis para generasi muda mabuk di klub disko.
Tak ada yang menyalahkan suasana tiba-tiba menjadi canggung. Apa-apaan perilaku Annie yang tak sesuai karakternya itu? Tak heran mereka saling melirik satu sama lain dengan bingung seolah meminta penjelasan logis pada kejadian aneh di depan mata.
Salah satunya adalah Armin. Dia memang belum mengenal Annie sepenuhnya, tapi itu tak membuatnya tak peka pada perubahan sikap Annie. Kemana sikap dingin dan cuek gadis itu? Beginilah tanyanya terus dalam hati.
"Annie, kau tak apa-apa? Apa kau sakit?" sikap perhatian pemuda ini mulai lagi. Tak sadar bahwa sikap perhatian tulusnya ini meningkatkan persentase kegagalan mantera Annie terhadap debaran jantungnya.
Tentunya perilaku hangat Armin barusan tak lepas dari sorotan Mak Lampir di depannya. Dengan gigi runcing bak monster, Ymir langsung menunjuk Armin tak sopan, "Hei, jangan sok perhatian pada Annieku, dasar belut rawa!"
"Bisakah kau berhenti menyamakanku dengan binatang?!" Armin balas teriak.
Perkelahian antara majikan dan budaknya memasuki babak ketiga. Tidak ada waktu meladeni pertengkaran bodoh kedua orang tersebut. Hitch masa bodoh pada dua orang yang saling pamer gigi monster, sementara dia ingin segera menyelesaikan tugas kampret ini. Dan jika ingin segera selesai, Annie tampaknya harus dipaksa bekerja sama. Maka dari itu Hitch mengangkat tangannya, memberikan sinyal pada sang sobat lama untuk bergabung, "Tolong mendekatlah, Annie. Cukup sulit jika kau tak disamping kami, 'kan? Ayo!"
Tak ada jalan mundur. Annie dihadapkan pada pilihan sulit. Apakah dia harus mendekat walau membiarkan dirinya terkena serangan jantung atau tetap berdiri seperti keledai di pojokan kelas, tapi dikirim ke ruang BP dalam sekejap. Tidak, tidak. Opsi ruang BP terpaksa dihapuskan dari daftar pilihan karena makhluk yang mendiami ruangan horor itu adalah Keith Shadis, si guru matematika. Tak diketahui alasan dibalik terpilihnya guru sangar itu sebagai guru BP, tapi itu sangat mengganggu jiwa raga seluruh murid Elshin. Cukup sudah Annie bertemu dengan guru itu di kelas, jangan sampai di ruang BP juga!
Apa boleh buat. Mau tak mau Annie mengambil opsi satu. Mendekatkan diri, bergabung ke pasukan dadakan guru kimia mereka. Disingkirkannya jauh-jauh pikiran bodohnya berkat perkataan Hitch tempo hari. Annie pun berjalan gontai menuju meja guru.
Masalahnya yang terjadi selanjutnya benar-benar diluar dugaan, saudara-saudara. Telah terjadi suatu insiden begitu Annie sampai di dekat meja guru.
Itu karena Annie bukannya berdiri disamping Hitch, namun malah berdiri alias menjepitkan diri di tengah-tengah Mikasa dan Armin sampai kedua bahunya menempel dengan bahu kedua orang tersebut.
Tak heran anggota lainnya langsung mendelik terkejut melihat perilaku Annie makin aneh dari detik ke detik. Ck ck ck ck.
Dalam keheningan canggung itu, Sasha pun berujar, "Errr...Annie, kami memang memintamu mendekat, tapi tak sedekat ini."
"...Ini karena rapat penting demi menjaga nama baik sekolah..." suara sinis nan dingin Annie hilang ditelan zaman(?). Berganti menjadi suara bisikan nyaris tak terdengar.
Hitch segera menyadari keanehan suara Annie, para pembaca, "Hei, ini hanya perasaanku atau suaramu malah mengecil setelah mendekat?"
Bukan hanya Hitch, Armin pun tak ketinggalan menangkap keanehan gadis disampingnya itu. Pemuda ini menoleh padanya, menatap wajahnya lekat-lekat sembari bertanya lembut, "Annie, kau benar tidak apa-apa? Kau bertingkah aneh akhir-akhir ini..."
Gagal.
Gagal total! Pertahanan Annie runtuh! Oh, jangan salahkan dia. Salahkan wajah manis pemuda cerdas itu! Sialan kau, Armin! Padahal Annie sudah memasang benteng pertahanan penuh, tapi kenapa kau semudah itu menghancurkannya!?
"Dekat sekali!" Annie sampai menahan napas karena wajah Armin hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.
"KORAAA, KURCACI! JAUHKAN BAHU KOTORMU DARI BAHU ANNIEKU! KAU INGIN MENGAJAKKU BERGULAT DISINI RUPANYA, HAAHH!?" emosi Ymir meledak lagi menyaksikan sahabatnya menempel di bahu si budak baru. Jelas saja dia langsung mengamuk gahar.
Armin mengibaskan kedua tangannya cepat-cepat sebelum dia dilalap, "Tu-tunggu dulu! Ini bukan salahku! Annie sendiri yang datang mendekat!"
Sedangkan Hitch hanya menatap Ymir dengan lirikan heran dan tajam. Perasaannya mengatakan bahwa apapun yang terjadi pada Annie yang berhubungan dengan Armin, itu adalah hal yang membuat Ymir berubah ala Emak-Emak takut ditinggal kawin anaknya 100%. Tidak memiliki hobi menyaksikan pertarungan maut antara megalodon dan tikus got, Hitch menyela dengan helaan napas berat, "Hhhh... tak bisakah rapat ini berjalan normal sedikit saja, teman-teman?" kemudian Hitch mengangkat wajahnya, menatap dua dari trio serangkai pasukan kota Shiganshina dengan datar, "Armin, Mikasa, jika kalian tak keberatan, tolong bergeser sedikit dari Annie. Karena aku tak bisa menjamin apa yang terjadi jika lutung buas ini lepas kendali akibat salah paham."
.
Time Flies
.
Tak sampai 15 menit, tim dadakan stand kimia akhirnya telah menemukan hasil diskusi walau diselingi kata-kata sinis, makian, dan penyebutan hampir seluruh jenis binatang dari kebun binatang terdekat. Well, setidaknya berikan tepuk tangan meriah untuk mereka.
"Berarti kita bagi tugas, ya? Tim satu menuju perpustakaan mencari teori-teori yang bisa dipraktikkan dengan alat-alat sederhana secara langsung dan tim dua menemui Paman penjaga gudang peralatan sekolah dan ketua laboratorium kimia untuk memastikan barang-barang apa saja yang ada dan tidak ada," ujar Hitch mendadak malah jadi pemimpin.
"Oke! Ayo, kita lakukan!" sahut Sasha mengangkat tangan banzai.
"Tim dua adalah aku, Ymir dan Hitch. Sedangkan kalian bertiga adalah tim satu. Ada keluhan?" tanya Annie pasang mode cool. Berusaha menutupi kegugupannya yang semakin menjadi.
"Tidak ada," balas anggota lain kompak.
Maka dalam sekejap keenam pasukan Sekigahara(?) ini pun berpencar. Mereka berjalan keluar dari kelas kemudian berjalan menuju tujuan masing-masing. Mikasa dan yang lainnya berbelok ke kiri dari kelas, sementara Ymir dan yang lainnya berbelok ke kanan mengingat itulah arah menuju laboratorium sekaligus gudang peralatan.
Namun sebelum mereka benar-benar berpisah, Annie menghentikan langkahnya, menatap punggung Armin dalam diam. Dia biarkan kedua sahabatnya berjalan di depannya tanpa mereka sadari. Melihat Armin berjalan santai sambil bercengkerama dengan kedua gadis di sebelahnya membuatnya sedikit iri. Ya, walau dia tak mau langsung mengakuinya. Tapi disisi lain dia bersyukur akan pembentukan tim ini. Karena ini berarti dia tak bisa di dekat Armin sementara waktu.
"Ya, benar. Ini langkah paling jitu," Annie membatin mengiyakan keputusannya membagi kelompok menjadi dua, "Jika laki-laki lemah dan penakut itu pergi dariku, aku bisa bersikap tenang seperti biasa. Dengan begitu, aku tak perlu memikirkan teori bodoh Hitch berlebihan..." Annie pun berbalik. Berjalan menyusul Ymir dan Hitch dari belakang, "...Tepat sekali... Jika dia pergi..." tapi masalahnya langkahnya perlahan melambat. Sangat lambat sampai tak bisa berjalan beriringan dengan dua anggota tim satu lainnya, "...Jika dia pergi... Jika dia pergi... Jika dia benar-benar pergi?... Hah? Armin akan benar-benar pergi?" jiah, pertahanan imannya kembali terguncang, saudara-saudara. Kali ini langkah kakinya benar-benar berhenti. Dia berdiri bak orang bodoh di koridor dengan ekspresi yang sulit dideskripsikan. Takut, bingung, kecewa atau semacamnya.
"Apa boleh buat. Lebih baik aku mengikutinya ke perpustakaan saja," alhasil jadilah gadis ini berbalik arah, berlari mendekati tim dua kemudian berjalan di belakang mereka. Ck ck ck ck.
Seketika aksinya barusan disadari oleh kedua tim. Baik tim satu yang sadar ada makhluk gaib sedang mengikuti dan tim dua yang sadar bahwa satu anggota menghilang. Mereka berbalik menatap Annie dengan alis bertaut dan sudut mata berkedut.
Hei, apa-apaan pemimpin jurusan Budaya ini!? Sekarang perilakunya jauh lebih aneh dari Sasha ketika di depan makanan!
"KORRAAA, ANNIE! MAU KEMANA KAU!? GUDANG PERALATAN DAN LABORATORIUM BUKAN KE ARAH SANA!" teriak Ymir menunjuk Annie yang sekarang diam saja di tempat mengingat kedua tim juga diam di posisi masing-masing.
Sasha juga tak nyaman akan tingkah tak biasa Annie, maka dia pun bertanya awkward, "A-Annie? Ada apa denganmu? Bukannya kau adalah bagian tim dua?"
"Menemui Paman penjaga gudang dan ketua lab itu kurasa cukup dengan dua orang. Sementara buku-buku fisika di perpustakaan itu beragam, jadi kalian butuh banyak orang. Karena itu aku memutuskan untuk ikut," sungguh jawaban logis sekali yang kau utarakan, saudari Annie. Segitunya demi ingin berganti tim.
"Tak masalah bagiku jika kau ikut. Semakin banyak orang, maka semakin cepat pula kita selesai," jiah. Bukannya menolak, Armin justru senang. Tak dapat dielakkan bahwa dia memang ingin dekat dengan gadis itu. Jika Annie masuk ke tim satu, artinya dia punya banyak waktu mengobrol dengannya, 'kan? Dia sendiri tak tahu penyebab keinginan tak masuk akalnya tersebut, tapi Armin sama sekali tak membencinya.
Ya, masalahnya ada seekor tikus rawa yang merusak situasi fuwa-fuwa antara dua sejoli berinsial A itu.
"APA MAKSUDMU MENGATAKAN ITU, SUNGUT KECOA!?"
Siapa peduli akan teriakan sangar ala Ibu tiri barusan? Annie asyik—ehem—terpesona dengan senyuman lembut maut milik Armin. Tak dipungkiri muncul semburat merah tipis di kedua pipinya.
"Armin..."
Apa-apaan? Kenapa karakternya berubah OOC? Ya, beginilah cin—tidak, tidak! Buru-buru Annie menyingkirkan pikiran anehnya itu sebelum dia benar-benar K.O di hadapan pemuda itu. Namun dia harus melakukan apa? Dia hanya sanggup menyebut pelan nama pemuda itu sembari mencoba menenangkan debaran jantungnya.
"OI, ANNIE! APA-APAAN WAJAH SENANGMU ITU!? TUGASMU BUKAN MENCARI TEORI MEMBOSANKAN DI RUANGAN PENUH BUKU! CEPAT KEMARI!" cih, Ymir dari tadi tak bosan-bosannya teriak. Mungkin saat Ibunya sedang mengandungnya, wanita itu mengidam toa kali, ya?
Annie berbalik menghadap Ymir yang masuk mode preman sementara Hitch sweatdrop entah babak kesekian. Kemudian gadis ini pun berujar enteng, "Tapi aku ingin ke perpustakaan."
Ah, jawaban paling buruk sedunia. Lihatlah raut muka datar Hitch sedangkan makhluk gaib di sebelahnya malah berubah spesies dari homo sapiens menjadi kuchisake onna.
"Bagaimana kalau aku saja menggantikan Annie di tim kalian? Tidak masalah, 'kan?" Sasha mengajukan penawaran sebelum Armin benar-benar dibunuh oleh gadis jangkung itu.
"Aku lebih tidak mau lagi kalau satu tim dengan gadis penggila kentang!"
Protes Ymir barusan akhirnya lantas membuat Hitch menoleh padanya dan menampol wajahnya dengan batangan kayu comotan entah dari mana.
PLETAKK!
BRUGHH!
Bisa ditebak, para pembaca, Ymir langsung ambruk pingsan dengan tidak elit persis kecoa dilindas traktor dan takdir si kecoa semakin menyedihkan ketika kucing tetangga lewat menginjak-injaknya.
"Ayo, Sasha. Berhubung aku dari jurusan Budaya, tak seharusnya aku melakukan ini, tapi apa boleh buat. Kali ini jurusan Budaya dan jurusan Tata Boga gencatan senjata," ujar Hitch santai, yang langsung menyeret kaki Ymir tak sopan layaknya karung beras menuju laboratorium.
Benar-benar jurusan Budaya. Semuanya berisi orang-orang barbar. Tak heran mengapa jurusan itu dicap sebagai jurusan paling merepotkan di antara semua jurusan. Dan seorang Annie menjadi pemimpin orang-orang seperti itu? Luar biasa sekali dirimu, Annie. Mari kita berikan tepuk tangan untukmu.
"O-oke," jawab Sasha takut-takut. Ya, dia berjaga saja kalau dia berakhir sama seperti Ymir. Akhirnya gadis ini pun berlari-lari kecil menyusul mereka berdua, meninggalkan Armin, Annie dan Mikasa yang masih melongo dan mencoba memproses apa yang barusan terjadi.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's note: Baiklah. Halaman satu ini resmi menjadi langkah awal dimana hubungan tokoh protagonis kita dimulai. Mari terus kita awasi. Jangan lupa tinggalkan komentar.
THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!
