Author's note: Penulis kembali setelah sekian lama! Huahahaha! Sibuk, sibuk. Namanya juga mahasiswa tingkat akhir. Jadi Penulis mengerjakan ini di waktu luang. Terima kasih untuk para pembaca yang mau menunggu maupun memberi komentar di halaman sebelumnya. Nah, sekarang Penulis mempersembahkan sebuah arc singkat AruAni. Arc pelajaran Biologi adalah yang pertama, bukan? Maka inilah yang kedua, yaitu arc bento. Oh, ya. Nantikan juga arc kuis nista di hari ulang tahun sekolah nantinya. Dan jangan lupa memberikan kritik dan saran. Selamat membaca.
.
.
Disclaimer : Isayama Hajime
GADIS IKON SEKOLAH
Halaman Sepuluh: Bento Adalah Musuh Berat Para Wanita
By Josephine Rose99
.
.
.
.
.
GADIS IKON SEKOLAH
HALAMAN SEPULUH
BENTO ADALAH MUSUH BERAT PARA WANITA
By Josephine Rose99
.
.
.
Mentari berada di posisi tertinggi di siang hari yang terik ini. Suasana tampak ramai dengan suara berisik para murid yang duduk beristirahat di koridor kelas. Bahkan banyak di antara mereka yang asyik berbaring di dalam kelas mengingat fasilitas kelas yang disediakan Elshin adalah ruangan ber-AC. Halaman kelas dan halaman sekolah tampak cukup bersih meski gotong royong belum selesai sepenuhnya.
Ya, beruntung sekali gotong royong hari ini dapat berjalan normal, khususnya bagi tim stand kimia. Meskipun terjadi serangkaian rencana pembunuhan antar anggota, tapi setidaknya sampai sekarang belum jatuh korban jiwa. Masih terngiang di kepala mereka tingkah aneh seorang Annie Leonhart. Beberapa kali mereka menebak perilaku menyimpang dirinya tersebut dengan alasan bodoh seperti kepala terbentur, orang yang sedang menyamar, atau datang bulan sampai kepala dari orang yang mengatakan hal tersebut alias Sasha menjadi sasaran tabokan sakti miliknya. Dan seperti yang kalian ketahui bahwa semua alasan diatas benar-benar jauh dari fakta.
Namun setelah memberikan hasil diskusi mereka sekaligus peralatan eksperimen yang terkumpul kepada sang guru, tim dadakan tersebut pun dibubarkan secara resmi. Mereka berpencar ke segala arah layaknya sekelompok hewan lepas dari kandang. Terutama Mikasa dan Armin yang terbang dan mendarat di lokasi Eren.
Maka disinilah trio serangkai Shiganshina sekarang. Duduk bersandar di koridor sekolah sembari menatap halaman. Beristirahat menunggu instruksi para guru supaya bisa membuka bekal masing-masing.
"Kita istirahat sebentar lalu silahkan makan bento yang kalian bawa!"
"Haaaaaaa'iii!"
Tidak dikatakan berapa tepat waktu 'sebentar' ini, tapi Eren dan Mikasa mengambil bento mereka dari dalam ransel. Lalu bagaimana dengan Armin? Mungkin pertanyaan Penulis ini juga menghampiri Eren dan Mikasa sehingga mereka menoleh pada Armin dengan tampang bingung.
"Are? Armin, kau lupa membuat bentomu?" tanya Eren.
Armin menggaruk pipinya canggung dengan jari telunjuk. Hanya mampu tertawa hambar, "Hahaha. Begitulah. Aku tak sempat membuatnya,"
"Kalau mau, aku bisa memberi bentoku setengah padamu," sungguh baik hati dirimu, Eren. Dermawan sekali.
Sayangnya Armin menolak halus, "Jangan, Eren. Bentomu itu hanya cukup untuk dirimu sendiri. Tak apa. Aku bisa membeli roti di kantin."
Jika kalian berpikir Mikasa memiliki sifat sekejam itu sampai menghiraukan Armin hanya memakan roti kantin sementara dirinya dan Eren menikmati bento, kalian sangat salah. Pandangan bersalah dilemparkan gadis itu pada si jenius. Mikasa menghela napas berat. Apa boleh buat. Tampaknya dia harus turun tangan.
"Tak perlu, Armin. Biar aku membuatkannya untukmu," dengan penuh kerendahan hati, Mikasa menawarkan diri sebagai juru masak pribadi Armin.
Seketika Armin dan Eren menoleh cepat padanya.
"Mikasa?"
"Aku akan meminjam dapur jurusan Tata Boga. Mereka punya dapur umum, 'kan? Bahan-bahannya juga pasti lengkap. Jadi tunggu disini," setelah berkata ini, Mikasa memasukkan bentonya kembali ke tas, memanggulnya, lalu bangkit berdiri meninggalkan kedua pemuda tersebut.
Malaikat. Mikasa benar-benar seperti malaikat! Armin sangat terharu gadis itu mau bersusah payah memasak untuknya! Maklum, selama ini dia berpikir seorang Mikasa hanya mau melakukan hal merepotkan demi Eren. Ternyata Mikasa tak seburuk itu, saudara-saudara.
"Te-terima kasih, Mikasa!"
.
Time Flies
.
Dapur Umum jurusan Tata Boga Elshin Gakuen
Dapur 2. Pukul 11.27 waktu setempat.
.
.
Hei, apa-apaan ini? Baru saja Mikasa berpikir dia akan memasak dengan tenang dikelilingi para ahli masak ternyata salah. Sudut matanya berkedut berkali-kali menyaksikan sekelompok orang yang sangat dia kenal malah bertapa di dapur 2.
Sasha? Wajar saja. Gadis rakus itu memang dari jurusan Tata Boga. Tapi sampai Historia juga? Apa yang dilakukan murid jurusan Kecantikan di tempat ini? Tidak. Itu masih belum terhitung kejanggalan jika tidak mengikutkan keberadaan sosok trio serangkai jurusan Budaya alias Ymir, Hitch dan Annie disana.
Kenapa bisa orang-orang itu berada di dapur ini!?
Dan alasan mereka di dapur tersebut juga menyebalkan sekali.
"Kalian tahu? Kurasa kita perlu melakukan jajak pendapat sekali lagi supaya memastikan apakah Pak tua botak itu benar-benar pantas menjadi kepala sekolah atau tidak," Ymir kembali asyik merutuk-rutuk. Kali ini korbannya berganti dari Armin menjadi pak tua botak alias Pixis-sensei.
"Betul, betul! Kenapa kita, para gadis harus bersusah payah membuat bento untuk para lelaki!? Aku tak percaya ini!" sahut Hitch ikut mengomel.
"Kita tidak dipaksa, 'kan? Kalau kalian tak mau, tak masalah," balas Annie jutek. Dia lebih memilih berbaring di sofa panjang di dapur itu daripada ikut bersama Sasha dan Historia yang menyiapkan bahan masakan.
Oh, begitu rupanya? Mikasa akhirnya mengerti.
Tampaknya beberapa murid laki-laki dari jurusan mereka tidak membawa bento sehingga merengek pada guru supaya para murid perempuan terpilih memasak bento untuk mereka. Makanya mereka bisa berakhir penuh nestapa di tempat ini. Namun siapa peduli? Mikasa hanya melenggang masuk menghiraukan mereka mendekati kompor yang sedang tak dipakai.
Singkatnya mereka tak menyadari Mikasa berdiri disana, ya?
"Huh. Jika memang benar begitu, berarti aku tak perlu menghabiskan waktuku untuk menyiapkan makanan mereka," menyetujui opini Annie, Hitch juga ogah menyentuh sayur-sayuran disana dan ikut berbaring di sofa lainnya.
Tunggu dulu. Jika mereka bertiga tidak memasak, kenapa mereka tetap di dalam sana? Apakah tak ada hal penting yang harus dilakukan selain mengomel bak rentenir penagih hutang terhadap nasib sial mereka?
"Omong-omong, apa yang kalian lakukan disini?" Historia mewakili kebingungan Penulis.
"Pencitraan," jawaban macam apa ini, Ymir!?
"Hah? Maksudmu?"
"Kalau para murid perempuan yang diminta memasak berkeliaran diluar, kita pasti akan berakhir di ruang guru BP, 'kan? Jadi lebih baik kami berdiam diri disini," ternyata alasan dimana dirinya dapat lolos dari ruang neraka bersama guru botak sadis sialan itu, ya?
"Dan yang pasti tujuan kami tidak sama dengan seseorang yang mengaku ahli memasak dari Tata Boga, nyatanya hanya tukang makan paling rakus," sindiran sinis ditancapkan telak oleh Hitch kepada seseorang di ujung sana yang mengaku masak, tapi nyatanya bahan-bahan masakan yang dia ambil dari kulkas berakhir di perutnya sebelum diolah di wajan.
Sebut 'seseorang' itu dengan Sasha Blouse. Dia yang asyik menjarah isi kulkas jadi berbalik kikuk, dan cengengesan tanpa rasa malu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tawa hambarnya tak terdengar jelas berkat sandwich di mulutnya yang belum dikunyahnya itu.
Disaat itulah semua orang di dapur tersebut menyadari sesuatu. Menyadari kehadiran seorang perempuan berdarah setengah Asia sedang mengambil kotak-kotak bento dari lemari. Mereka terus menatap gadis itu meski gadis itu pasang mode cuek tingkat akut dan memilih meletakkan kotak-kotak bento di atas meja kemudian menggoreng udang tepung.
"Mikasa?" Historia adalah orang pertama bersuara.
"Sejak kapan kau disitu?" disusul Ymir ikut heran tak menyadari hawa keberadaannya. Gadis ini nyaris mengira Mikasa hantu tengah hari tadi.
Dan Mikasa menjawab simple, "...Sejak kalian menggosip tak penting."
Sasha berjalan mendekati Mikasa. Melongok ke arah kuali. Sambil mengunyah plus menyembur bak dukun mengobati pasien, dia bertanya, "Memfhuat fento?"
"Ya, begitulah..."
"Biar kutebak. Untuk Eren, 'kan?" alasan klise sekali, Hitch. Siapa yang tak mengenal seorang Mikasa Ackerman, sang penguntit sejati Eren Yeager? Hitch yakin bahwa Mikasa pasti lebih memilih bocah maniak keadilan dan kebebasan itu dibandingkan uang jajan sepuluh kali lipat dari Ibunya.
Tapi jawaban dari Mikasa meruntuhkan keyakinannya.
"Tidak. Ini untuk Armin."
Langka.
Ini langka sekali.
Mikasa membuat bento untuk si kutu buku cupu itu?
"Hah? Kenapa begitu?" tanya Hitch bingung. Bukankah Eren adalah segalanya Mikasa? Armin hanya setengahnya Mikasa, 'kan? Pemuda cengeng dan lemah itu hanya nomor dua, 'kan?
Mikasa terus meladeni interogasi dadakan ala kepolisian ini sembari mengangkat udang gorengnya dari kuali, "Eren sudah dibuatkan bento oleh Ibunya. Mengingat Kakek Armin tak sempat membuatkan bento untuknya, jadi kukatakan saja padanya biar aku yang membuatnya,"
"Oooohhh..."
Tidak. Tunggu dulu sebentar. Ada yang aneh disini. Dan Historia adalah orang pertama yang menyadari hal itu.
Apa-apaan sepuluh kotak bento ini? Kenapa Mikasa bisa sesantai itu membariskan kotak-kotak tersebut tanpa merasa aneh sama sekali? Dia sedang memasak untuk satu orang, 'kan? Dan itu pun hanya seorang bocah SMK tingkat satu bertubuh kurus dan terkesan lemah. Bukan sekumpulan Emak-Emak perkumpulan arisan tetangga.
"Mikasa, apa hari ini adalah festival?" tanya Historia memastikan bahwa dirinya tak salah melihat tanggal di kalender pagi ini di rumahnya. Karena gadis pirang ini sangat yakin hari ini hanyalah hari biasa tanpa keistimewaan sedikit pun.
"Tentu saja tidak. Kenapa?"
"Kenapa kau membuat bento sampai 10 kotak? Bukankah itu terlalu banyak? Armin yang tubuhnya sekecil itu akan kau beri makan sebanyak ini?"
"Aku ingin memastikan dia tidak kelaparan,"
Saat itu juga orang-orang di dapur tersebut selain Historia akhirnya mengerti. Mereka mengerti bahwa sepuluh kotak bento tersebut akan dijejali pada seorang pemuda kecil yang sekarang asyik bercengkerama dengan Eren. Sontak mereka mengikuti jejak Historia alias menyuarakan protes.
"Ya, tapi tidak sebanyak ini juga, 'kan!? Mikasa, kau membuat bento terlalu banyak!" sahut Ymir sembari memegang kotak-kotak itu.
"Selain itu, Mikasa, kalau dia memakan bento 10 kotak ini di dekat lainnya, dia pasti dipandang anak aneh," kali ini Annie juga tak mau kalah menyadarkan kegilaan Mikasa dalam dunia perbentoan.
Lagipula Armin tak mungkin menghabiskan ini semua, 'kan? Tolong jangan samakan Armin dengan wanita terakus dalam sejarah jurusan Tata Boga alias gadis berinsial 'Sasha'(?).
"Be-benarkah?" Mikasa pun melirik ke arah kotak-kotak bento yang diambilnya, "Kurasa Armin bukan tipikal yang suka mendengar pendapat orang lain tentangnya..."
Ymir menghela napas panjang, "Hhhh... ternyata tubuhmu saja yang seperti perempuan, tapi dalamnya tidak," tak membuang waktu dan muak terus berdemo, Ymir pun mengambil spatula dari tangan Mikasa kemudian meliriknya datar, "Biar aku saja yang membuat bentonya. Berikan bahan-bahannya."
Sudut mata Mikasa berkedut.
Seorang Ymir memasak? Tak terbayangkan! Apalagi untuk Armin. Kenapa tiba-tiba gadis ini rela memasak untuk sang budak? Dia melepaskan dendam kesumat antar jurusan begitu saja hanya karena bekal makan siang?
"Hah? Memangnya kau bisa memasak, Ymir?" Mikasa langsung waspada. Dia tak yakin akan kemampuan memasak Ymir. Salah-salah gadis itu justru menabur racun tikus.
"Tentu saja bisa! Begini-begini, aku kerja sambilan di restoran, tahu!" jawabnya percaya diri sampai hidungnya memanjang bak Pinokio.
"Bukankah kau bekerja disana sebagai pelayan? Kau bukan chef,"
"Berisik! Lihatlah kemampuanku!"
.
.
Time Flies
.
.
Wah, ini benar-benar kejutan. Mikasa tak seperti biasanya.
Padahal Eren dan Armin bertaruh bahwa kebiasaan buruk gadis itu soal membuat bekal kumat di siang terik ini. Teringat akan kenangan saat piknik sekolah saat mereka masih SD dulu dimana Mikasa dengan senang hati membuat bekal untuk mereka. Mengingat betapa polos serta bodohnya mereka waktu itu, tentunya Eren dan Armin setuju saja. Tanpa mengetahui pada akhirnya mereka jadi pusat perhatian berkat bento sepuluh kotak bertingkat berukuran besar yang diberikan Mikasa pada mereka masing-masing. Menyedihkan sekali mengingat julukan trio rakus tak beralasan diberikan pada ketiga orang tersebut berkat bento bertingkat sialan itu.
Lalu apa yang di hadapan mereka sekarang menjatuhkan taruhan mereka ke posisi terbawah. Mikasa baru saja mengantar bento satu kotak ukuran biasa. Satu kotak, bukan sepuluh kotak. Mungkin karena inilah kedua pemuda miskin kharisma ini bengong beberapa detik setelah Mikasa berlalu. Berlalu? Ah, ya. Mikasa buru-buru kembali ke dapur umum Tata Boga tanpa memberitahu Armin bahwa bento yang barusan dia berikan bukanlah buatannya, melainkan buatan gadis berwajah bak tutup kloset.
"Eh? Kupikir Mikasa membuat bento menara Eiffel padamu, Armin..."
"Hn. Padahal aku sempat berpikir dia akan membuat bento sampai 10 kotak."
Tapi kenapa? Itulah saat ini yang melintas di pikiran mereka berdua.
Apakah jebakan? Tidak mungkin. Mikasa bukan orang seperti itu. Lalu apa isi dari kotak bento ini? Maka demi menjawab semua pertanyaan itu, Armin pun membuka kotak bento tersebut. Spontan kedua mata Armin mengeluarkan efek sparkle melihat empat onigiri berbentuk pisau, tamagoyaki, sosis-sosis yang dibentuk seperti kepala gurita, salad, dan beberapa potong sashimi. Benar-benar mengundang selera makan!
"Waaah! Bento yang dihiasi, ya? Uniknyaaa!" ujar Armin dengan mata berbinar-binar. Akhirnya Mikasa bisa membuat bekal normal! Yah, setidaknya beginilah pikirnya.
Eren sendiri juga cukup terkejut. Pemuda ini mengambil salah satu onigiri pisau dari kotak. Memandangnya lekat-lekat sambil berpikir.
Apa-apaan onigiri ini? Sampai ada gagangnya segala. Seumur hidup Eren tak pernah melihat nasi kepal macam ini, "Bentuknya seperti pisau dapur. Ternyata Mikasa bisa kreatif juga," cuma ini alasan dibalik nasi kepal ini yang bisa dipikirkan Eren. Namun dia tak mengelak bahwa dia juga tertarik mencicipinya, "Oh ya, Armin! Bagaimana kalau kita berbagi? Kau bisa mencicipi bento buatan Ibuku!"
"Benarkah? Terima kasih, Eren!"
Tanpa ba-bi-bu lagi, Eren kemudian meletakkan bento buatan Ibunya di dekat bento Armin. Mereka berdua mengatupkan tangan bersamaan, tak sabar menikmati makanan-makanan yang terus membuat air liur menetes.
"Mari makaaaaaan!" setelah berkata begini, Armin pun meraih onigiri berbentuk pisau dan sebentar lagi akan resmi masuk ke mulut yang terbuka lebar. Tentunya disusul Eren yang mengambilnya sedikit lebih lambat.
KRAAUSS! KRAAUSS!
KRAAAK!
Eh?
Suara apa itu?
Suara mengerikan apa itu?
Dengan cepat Eren menoleh pada sang sobat yang asyik mengunyah... PISAU!?
"A-Armin?"
Pemandangan horor macam apa ini? Lupakan soal onigiri! Butir-butir benda putih yang disebut nasi sudah hampir tak ada menempel pada benda besi di tangan Armin. Yang tinggal justru sebuah pisau dapur karatan yang berhasil melukai rongga mulut Armin sampai banjir darah!
"GYAAAAAA! ARMIN, MULUTMU BERDARAAAAAH!" teriak Eren histeris. Dan dirinya semakin histeris lagi setelah Armin langsung tumbang di tempat dengan mata memutih sampai kejang-kejang.
Hei, bekal macam apa yang kau buat, Ymir!?
.
Kembali lagi ke dapur umum Tata Boga.
.
.
Jika kalian tidak mengenal etika sama sekali, biarkan seorang Ymir mengajari kalian. Khususnya di bidang kuliner. Ketika dirimu ditawari sejumlah makanan, terimalah dan makanlah dengan senang hati tanpa banyak komentar meski itu enak ataupun tidak. Mungkin karena hal sepele inilah membuat emosi Ymir terhadap Armin yang sempat meredup kembali membara ketika dirinya melihat bento buatannya masih tersisa banyak. Ya, kecuali satu onigiri pisau dapur bekas Armin sehingga bilah pisaunya terlihat jelas.
"Hmmm... apa masakanku kurang enak, ya? Padahal aku sudah rela melupakan sejenak permusuhanku padanya, tapi kurang aja sekali dia tidak menghabiskan bento buatanku," gumamnya sembari mengusap-usap dagu, tak mengerti. Susah payah dia membuat makanan enak untuk pemuda kurcaci itu, namun inikah balasannya?
Ternyata bocah ini belum sadar, saudara-saudara.
Hitch kemudian langsung mengambil pisau dapur tersebut dari kotak. Dia melirik Ymir dengan pandangan jengkel, "Justru kau yang kurang ajar, Ymir! Apanya yang bento makan siang? Ini sih bento pemanggil maut! Kenapa kau menghiasi pisau dapur jadi onigiri?" begini sewotnya sambil mengacungkan pisau itu padanya.
Bukannya merasa bersalah, Ymir justru membalas enteng, "Aku pernah membaca di buku kalau anak paling suka bento yang bentuknya menyenangkan. Itu informasi paling mutlak diketahui oleh calon Ibu."
"Apa kau pikir Armin akan senang ketika pisau dapur karatmu ini mematahkan seluruh giginya!?" murka Hitch sampai pamer gigi drakula segala, "Lagipula mana mungkin ada Ibu normal memberikan bento seperti ini!? Apa jangan-jangan kau sendiri tak mengerti arti bento yang normal!?"
"Bagaimana kalau aku saja yang membuatkannya bento?" sahut Historia berceletuk tiba-tiba sembari menunjuk dirinya sendiri.
Dalam sekejap perhatian semua orang tertuju padanya.
"Historia?" gumam Mikasa bingung Historia mau mengajukan diri.
Tapi apa yang dikatakan Historia selanjutnya adalah fakta tak terbantahkan, "Aku bekerja sambilan sebagai chef, lho! Jangan ragukan kemampuan masakku! Aku jamin Armin akan menyukainya!"
.
.
Beberapa waktu kemudian...
Di klinik sekolah.
.
.
"Mulutmu sudah baikan?" terdengar nada khawatir dibalik pertanyaan Eren pada Armin yang saat ini berbaring di salah satu ranjang klinik.
Ya, pemuda itu dari tadi mengelus-elus pipinya, berpikir bahwa elusannya setidaknya bisa meredakan nyeri di mulutnya berkat pisau dapur jahanam kiriman malaikat maut. Sialan. Bento macam apa itu? Memangnya Armin punya dosa apa sampai harus diminta memakan pisau? Lagipula kenapa harus onigiri pisau? Karena pisau memiliki zat besi yang bagus untuk tubuh? Tidak. Jangankan zat besi. Ada zat, zat nikel, zat karbon, zat kromium, dan zat molybdenum di dalamnya. Sungguh zat-zat bejat yang berhasil membejatkan rongga mulutnya.
"Lumayan, walau masih nyeri..." balas Armin pelan. Namun matanya tak lepas dari sebuah kotak bento di atas meja di samping ranjangnya.
Jangan katakan itu adalah pengganti dari bento sebelumnya? Dan sejak kapan pula itu berada disana?
"Itu apa, Eren?" Armin mencoba memberanikan diri bertanya.
"Bento untukmu. Pengganti yang tadi. Mikasa mengantarnya kemari saat kau pingsan dan ditangani dokter sekolah," hei, jadi Eren ingin mengatakan bahwa ketakutannya menjadi kenyataan? "Ini, Armin. Mikasa mengatakan dia menjamin bento yang ini aman dari pertumpahan darah," sampai ditawari segala?
Umm...
Kalau Mikasa sudah berkata aman, berarti benar-benar aman, 'kan? Ini benar-benar bekal yang aman dikonsumsi manusia, 'kan?
"O-oke..." terpaksa Armin menerima bekal keduanya hari ini.
"Nah, sekarang kita bisa makan sambil berbagi bento. Ayo makan, Armin!"
"Hn!"
Sedetik kemudian Armin pun membuka tutup kotak bekalnya dan mendadak mematung setelahnya.
Ya. Pemuda itu mematung. Persis patung Liberty tanpa obor dan mahkota. Belum lagi ditambah backsound angin berhembus disertai dedaunan terbang. Entah apa isi dari bento tersebut, namun itu berhasil membuat selera makannya hilang sempurna.
Melihat sang sobat tak memakan bekalnya sama sekali, Eren mengernyitkan dahi.
"Armin? A-ada apa?" tanya Eren bingung.
Tapi melihat raut wajah datar Armin bak wajah default membuatnya memberanikan diri melongok ke arah kotak bekal yang dipegang Armin. Maka pemuda ini mengikuti jejak sang sobat alias memasang wajah raut datar, sedatar papan setrika milik Ibunya di rumah.
Well, siapa juga yang tak berekspresi seperti itu ketika melihat kotak bento yang isinya hanya nasi putih—itu pun hanya setengahnya—dan di atasnya ada secarik kertas bertuliskan pesan seperti berikut:
.
SEBELUM MAKAN, PANASKAN DULU KARI YANG IBU MASAK SEMALAM DI KULKAS. KALAU INGIN MENAMBAH SAYURAN, POTONG SAJA SENDIRI.
P.S : KALAU AYAH DAN IBU BERPISAH, ARMIN AKAN IKUT SIAPA? SEKADAR INFORMASI, KALAU KAMU IKUT DENGAN IBU, UANG JAJAN KAMU NAIK, LHO!
.
.
Kembali ke dapur umum Tata Boga
.
.
"Historia, ini hanya pendapatku. Hanya pendapatku. Tolong jangan tersinggung sampai memanggil pengacara kemudian kita berakhir sebagai lawan di pengadilan..." ujar Sasha sembari memegang bento buatan Historia yang baru saja dibawa balik Mikasa ke dapur umum dengan wajah bersungut-sungut, "Bento yang kamu buat memang bukan bento menimbulkan pertumpahan darah, tapi bento menimbulkan kesalahpahaman! Selain itu, bentomu itu hanya nasi! Itu terlalu sederhana!"
"Apa yang kau katakan, Sasha? Ibuku selalu begitu setiap kali aku ingin dibuatkan bento. Dia pasti akan memanaskan sisa makan malam karena menurutnya cinta yang dia berikan pada makan malam bisa menghangat lagi setelah kembali dipanasi oleh wajan."
"Tidak, tidak. Masalahnya bukan itu, teman-teman," sahut Hitch menemukan poin masalah penting dibalik bento absurd tersebut, "P.S dari pesan ini bahkan tak ada hubungannya sama sekali dengan bento! Ini sih topik drama romantis tragedi yang sering disiarkan tv malam! Kenapa kau membuat catatan seperti ini, Historia?!"
Historia pun menjawab enteng. Mengangkat bahu tanpa rasa berdosa, "Ummm... lauknya hanya kari yang dipanasi, 'kan? Jadi kupikir perlu ditambahkan lauk yang sedikit berat untuk Armin."
"Ini sih terlalu berat untuk perutnya!"
Sementara para gadis-gadis mengaku ahli memasak bersitegang, Mikasa hanya melirik mereka dengan jengkel dari sudut dapur. Gadis ini menghela napas berat. Tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Armin yang sekarang sedang kelaparan dihadapkan pada bento absurd Historia.
Ya, dari tragedi beruntun inilah akhirnya Mikasa menyadari sesuatu. Menyadari kesalahannya ketika berpikir ulang sambil bersandar pada dinding dapur. Bodohnya dia mempercayai makhluk-makhluk gaib ini membuat bento untuk Armin. Kalau akhirnya seperti ini, ternyata bento buatannya yang termasuk kategori normal!
Melihat kedua peserta gugur, Sasha segera mengajukan diri menjadi peserta selanjutnya, "Kali ini biarkan jurusan Tata Boga turun tangan!"
Sama seperti kasus Ymir sebelumnya, semua pandangan para gadis di dapur tersebut tertuju padanya. Tapi ada satu masalah, saudara-saudara.
Serius? Sasha dan memasak bukanlah sahabat baik. Gadis itu hanya bersahabat baik dengan makanan jadi.
Itulah alasan Ymir meliriknya penuh determinasi, "Kau? Gadis kentang?"
Disusul Annie menjatuhkan harga diri Sasha yang sudah jatuh makin jatuh, "Kau itu hanya ahli makan, bukan memasak."
"HEI! JANGAN MERENDAHKAN HARGA DIRI SEORANG CHEF, YA! LIHAT SAJA! AKAN KUTUNJUKKAN KEMAMPUANKU!"
Errr... entah kenapa Penulis tak bisa berharap banyak akan bekal buatannya kali ini. Semoga saja dia berhasil menciptakan bento normal.
.
Time Flies
.
Beberapa saat setelah Mikasa mengantar bento buatan Sasha kepada Eren untuk Armin...
.
.
"Armin! Lihat! Kali ini! Kali ini bentomu adalah bento paling normal di antara lainnya!" Eren menggebu-gebu sekali memamerkan kotak bekal yang dia pegang pada Armin. Seperti sedang berusaha menyakinkan Armin bahwa bekal yang diantar Mikasa aman dikonsumsi.
Tapi bukan Armin namanya jika langsung percaya. Itu pasti bekal tak masuk akal lagi! Nafsu makannya sudah hilang berkat dua bekal sebelumnya! "Eren, serius. Aku benar-benar hilang selera makan saat ini. Jadi itu untukmu saja."
"Oh, ayolah! Jangan begitu!"
"Aku tak mau! Itu pasti bento aneh lagi!"
"Tak mungkin. Mikasa benar-benar berusaha membuatkanmu bento. Dia pasti sedih jika kau tak menghabiskannya."
"Jadi kau ingin aku mati lebih dulu sebelum bento buatannya habis!?"
"Cerewet! Nah, sekarang mari kita buka!" malas bertengkar lama, Eren pun langsung membuka kotak bekal tersebut di depan Armin.
Tapi yang terjadi selanjutnya adalah sesuai dugaan, para pembaca.
Isi dari kotak bento itu malah jauh lebih buruk dari bento buatan Historia. Hanya ada uang 1,5 dollar dan secarik kertas yang tulisannya bahkan jauh lebih buruk daripada bocah SD baru belajar menulis. Eren dan Armin terdiam. Memberikan kesempatan pada pasukan jangkrik untuk mengisi suara latar adegan. Diiringi kedutan di sudut mata berkali-kali saking tak habis pikirnya pada tragedi bekal abstrak yang terus diantar Mikasa.
Dalam keheningan tersebut, Armin pun akhirnya berkicau.
"...Benar, 'kan? Aku juga bilang apa..."
.
IBU MALAS MASAK BEKAL MAKAN SIANGMU HARI INI, JADI INI IBU BERIKAN UANG UNTUKMU. BELILAH BENTOMU SENDIRI DI WARUNG MAKANAN.
P.S : AYAH DAN IBU TIDAK JADI BERPISAH, KOK. KAMI SUDAH MENYELESAIKAN SEMUA MASALAH LEWAT JALUR PENGACARA. JADI JANGAN KHAWATIR, ARMIN 3
.
Jadi pada dasarnya kau tak bisa memasak, huh? Sasha?
.
Kita kembali ke dapur umum Tata Boga yang saat ini diisi gadis-gadis jahanam.
.
.
"KAU SEBUT DIRIMU MURID JURUSAN TATA BOGA!? BENTO BUATANMU INI TIDAK MENCERMINKAN AHLI MASAK SAMA SEKALI!" sejujurnya Ymir tak memiliki hak untuk bicara mengingat bekal buatannya lebih berbahaya daripada buatan Sasha. Tapi setidaknya isinya tak sekonyol Sasha. Apa-apaan bekal kosong buatannya itu? Cuma diisi uang dan kertas pesan lecek yang usianya entah berapa abad? Karena itulah gadis jangkung ini berteriak gahar di depan wajah Sasha sampai menyembur ala dukun pada pasiennya saja.
"Apa yang kalian katakan? Bukankah ada seorang Ibu yang biasanya melebihkan uang jajan untuk anaknya kalau tak sempat memasak?" balas Sasha yang kedodolannya di ambang batas.
"Melebihkan uang jajan, katamu!? Kau cuma memasukkan uang 1,5 dollar! Beli hotdog saja tidak cukup!" teriak Hitch tak terima akan alasan Sasha.
"Ini bahkan tak bisa disebut bento, Sasha. Lihat. Isinya hanya uang dan selembar kertas dengan tulisan jelekmu," ujar Historia melongok pada isi kotak bekal buatan Sasha yang lagi-lagi dibawa kembali oleh Mikasa. Pasalnya, Historia merasa bersalah pada Mikasa yang sedang diserang mood buruk sembari berkacak pinggang di dekat mereka.
Tidak, kalian salah, teman-teman. Masalahnya bukan itu! Penulis mempermasalahkan P.S alias catatan kecil yang kalian tinggalkan di pesan kalian. Kenapa P.S dari kalian tak ada hubungannya sama sekali dengan bekal makan siang Armin? Masalah keluarganya pula. Jelas-jelas orangtua Armin sudah di dunia sana, tapi gadis-gadis bolot ini justru membuat situasi dimana orangtua Armin mendadak bangkit kembali sekaligus berubah jadi OOC.
Maka, sebelum kesalahpahaman ini semakin memburuk, Mikasa pun terpaksa mengumbar kenyataan kehidupan privasi sang sobat.
"Tidak. Kalian benar-benar keluar jalur, teman-teman. Dari awal masalah keluarga itu sangat omong kosong. Apa kalian tidak tahu kalau orangtua Armin sudah meninggal?"
"Eh?"
Seluruh gadis di ruangan itu selain Mikasa dan Annie mendadak mematung. Tak mengherankan melihat reaksi mereka seperti itu. Mikasa jelas karena dia adalah sahabat Armin sejak kecil, sementara Annie mengetahuinya dari makna tersirat perkataan Kakek Armin padanya.
Sejenak ada jeda di dapur umum tersebut. Masing-masing dari mereka memikirkan perkataan Mikasa dalam-dalam. Menyadari betapa bodohnya mereka meninggalkan catatan kecil tak masuk akal tersebut tanpa mengetahui orangtua Armin telah tiada. Ya, meski terlambat.
Sasha menjadi orang pertama yang berujar setelah keheningan itu, "Kenapa kau tidak bilang dari awal, Mikasa? Lihat, karena kau terus diam begitu, Armin tak bisa menikmati bentonya,"
Tak bisa menikmati bento, katanya? Jangan membuat Annie tertawa. Gadis kentang itu benar-benar tak tahu diri, huh? Apalagi ekspresi Mikasa makin datar setelah mendengar kata-katanya, "Dari awal dia memang takkan bisa menikmati bentonya sejak dapur ini diisi makhluk-makhluk gaib seperti kalian," begini celetuk Annie sinis.
Jadi, siapa selanjutnya?
Siapa yang harus maju demi menuntaskan misi ini?
"Sepertinya aku yang harus menutup semua kesalahpahaman ini sebelum kehidupan privasi Armin menjadi topik utama gosip para murid perempuan," dan tiba saatnya bagi Hitch menunjukkan kebolehannya dalam memasak sekaligus dalam dunia pergosipan.
Hah? Seorang Hitch memasak?
Sebagai sahabat yang paling mengenal dirinya, Ymir paling tahu bahwa Hitch merupakan ide buruk. Dia bahkan tak termasuk opsi sama sekali. Gadis jangkung berjerawat ini memandangnya dengan heran seolah Hitch adalah gadis miskin harga diri. Karena dirinya sangat yakin bahwa jika Hitch turun tangan, situasi Armin yang seperti jatuh tertimpa tangga malah selanjutnya tertimpa pesawat.
Tentunya Hitch menyadari tatapan Ymir padanya. Merasa diremehkan, Hitch langsung menyemprot, "Apa-apaan ekspresimu itu?"
"Ummm... Tidak. Memang benar kita harus mengakhiri salah paham tentang keluarga Armin, tapi aku tak yakin kau bisa melakukannya."
"Huh, jangan meremehkanku, Ymir. Selain itu, aku belum mendapat giliran dalam misi bento ini, 'kan? Jadi kalian cukup diam dan lihat saja."
.
Dan setelah Mikasa mengantar bento buatan Hitch ke klinik sekolah...
.
.
Apakah Armin langsung mencicipinya? Tidak.
Apakah dugaan Armin bahwa bento ini jauh lebih absurd dari sebelumnya? Benar.
Kalian tanya kenapa?
Itu karena isi dari bento kampret itu cuma secarik pesan dari Hitch. Tak ada isinya selain itu. Tak ada sosis, tak ada telur, tak ada sayuran, sampai tak ada nasi sedikitpun. Kedua pemuda itu membeku di tempat. Meratapi isi kotak bekal tersebut dengan tampang flat.
.
IBU SUDAH MENGIRIM AYAHMU KE NERAKA JAHANAM, JADI TOLONG JANGAN PERNAH MENYEBUT NAMA AYAHMU DI DEPAN IBU.
P.S : AKHIRNYA SEKARANG KITA BISA TINGGAL BERDUA, ANAKKU SAYANG 3! SELAMANYA IBU AKAN SELALU BERSAMAMU~!
.
Armin hanya bisa mengelus dada sabar demi menahan hasratnya untuk membunuh siapapun yang mengerjainya di siang hari penuh godaan lapar ini.
"...Eren..."
"Y-ya?"
"...Kurasa aku tak bisa makan bento untuk sementara waktu..."
.
.
.
"KORRAAAAA! BAKAYAROOOOUUUU!" teriak Ymir di telinga Hitch sampai gadis itu hampir budek. Teriakannya tampak begitu OOC di mata yang lain. Ya, dengan teriakan ala penyanyi rocknya itu, "APA BEDANYA KAU DENGAN SASHA!? KAU HANYA MEMASUKKAN KERTAS KE DALAM KOTAK BENTO TANPA MAKANAN DI DALAMNYA!"
Setuju dengan Ymir, Historia tak habis pikir Hitch begitu teganya hanya mengisi kotak bekal dengan kertas lecek. Apa dia tak tahu Armin selapar apa sekarang? "Kau sebut salah paham ini akan selesai!? Kau justru membuat salah paham itu semakin salah paham! Bagaimana kita menjelaskan ini pada Armin!?"
"Dan lagi-lagi aku akan menjadi korban karena aku terus mengaku diriku lah yang memasak bento-bento sial itu! Bisakah kalian memikirkan posisiku!?" semprot Mikasa siap-siap mengamuk.
"Hah? Apa ada yang salah dengan bento buatanku?" sungguh kepolosan tiada tara, nak Hitch. Benar-benar ingin mengundang serbuan tabokan massa.
"JELAS SALAH, BEGOOOOO!" kompak semua gadis disana selain Annie berteriak bak paduan suara gagal audisi.
"APA OTAKMU BENAR-BENAR TAK BERES, HITCH!? APA KAU TAK TAHU BENTO NORMAL ITU SEPERTI APA!?" kali ini Ymir tak bisa menahan emosinya sampai mengguncang bahu Hitch dengan hebat. Walhasil Hitch nyaris tumbang sebagai dampak dari berdisko dadakan.
Di sela-sela kegilaan tersebut, tiba-tiba Sasha mengangkat tangan kemudian berujar, "Haaaaa'ii! Izinkan saya bertanya! Kenapa bento dengan catatan P.S tidak bisa disebut normal?"
Ymir pun seketika menghentikan aktivitas gilanya sebentar untuk kemudian menoleh pada Sasha yang sekarang menatapnya bingung, "Itu karena orang kelaparan, khususnya jika mereka serakus dirimu, mereka takkan peduli pada P.S dan lebih fokus pada waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan makanan. Singkatnya, jangan menambah sesuatu yang tak perlu di kotak bento."
"KAMI TIDAK MAU MENDENGAR ITU DARI SESEORANG YANG MEMBUAT ONIGIRI DARI PISAU DAPUR!"
Skak.
Ymir tak berkutik. Sialan. Mereka benar juga. Dia tak ada hak untuk merasa benar setelah bento maut buatannya yang sukses mengantar Armin ke klinik sekolah.
Ya ampun. Buang-buang waktu sekali bagi seorang Leonhart di tempat ini, bukan? Maka dari itu Annie memilih menjauh dari orang-orang bodoh itu sebelum menularinya. Setelah mengambil sebuah kotak bento yang dilapisi kain di sudut meja dapur, Annie melangkah pergi. Tak peduli meski harus membiarkan kedua sahabatnya bersama gadis-gadis jurusan lain siap saling bunuh di dapur tersebut.
Uh-huh. Tanpa menyadari bahwa Annie diam-diam memasak di dapur lain selagi mereka fokus membuat bekal khusus untuk Armin.
...
~Gadis Ikon Sekolah Page Ten~
...
.
.
Lalu kemanakah seorang Annie Leonhart melangkahkan kaki? Ah, kalian sudah tahu, bukan?
Apalagi kalau bukan klinik sekolah.
Benar sekali. Dia tak bisa membiarkan gadis-gadis jahanam di dapur umum itu mengantar bekal maut lagi untuk Armin. Terkadang dia heran sendiri kenapa bisa memiliki ruang lingkup pergaulan bodoh begitu. Tapi berbekal ingin balas budi—atau mungkin rasa peduli?—Annie mengunjungi Armin di ruangan penuh bau obat tersebut untuk memberikan bekal buatannya.
Maka disinilah dia. Berdiri di depan pintu klinik dengan tegap sekaligus gugup. Gugup? Ah, hanya perasaan manusiawi yang susah dia jelaskan. Masih teringat perkataan Hitch tentang Armin padanya? Entahlah. Namun Annie mengenyahkan pikiran kotor itu jauh-jauh. Saat ini membantu Armin keluar dari rasa laparnya jauh lebih penting.
Annie lalu membuka pintu klinik, melangkah masuk dan mendapati Armin kini menyadari kedatangannya.
"Hei," sapa Annie.
Sungguh tamu tak terduga bagi Armin. Pemuda ini hanya bisa bergumam pelan, "...Annie..."
Melihat kondisi Armin membuat Annie meringis. Hampir setengah wajahnya selain bagian bawah hidung dan sekitar mulut diperban. Tak perlu diragukan lagi kalau itu berkat ulah onigiri pisau dapur karatan kiriman malaikat pencabut nyawa dari jurusan Budaya. Ya ampun, Ymir. Tak tahukah dirimu pada apa yang telah kau lakukan? Annie jadi merasa bersalah pada Armin.
Bicara soal Armin, ada yang aneh. Mikasa mengatakan bahwa Armin ditemani Eren di klinik ini, tapi Annie tak menemukan sosok penggila keadilan itu. Dimana dia?
"Kudengar Eren juga disini, tapi kenapa hanya kau sendiri?"
"Eren baru saja pergi ke ruang staf sekolah. Ingin meminta izin pergi ke apotek terdekat untuk membeli perban gantiku. Soalnya stok perban di klinik sekolah sudah habis."
Oh, jadi begitu, huh?
Keadaan mendukung. Bocah itu pasti akan pergi cukup lama mengingat lokasi apotek berjarak dua blok dari sekolah mereka. Cukup sulit bagi Annie mengarang alasan jika dirinya yang notabene dari jurusan Budaya memberikan bekal buatannya pada si pirang jenius jurusan Kesehatan.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Annie lagi
"...Annie, aku tak mungkin baik-baik saja jika berakhir di klinik sekolah," balas Armin malah sarkas.
Cih. Sepertinya manusia bernama Ymir itu perlu dikenai jurus tabokan sakti Annie sepulang sekolah.
Annie kemudian duduk di kursi kosong Eren yang tepat berada di samping ranjang Armin. Menopang dagunya dengan satu tangan sembari melempar tatapan datarnya seperti biasa. Armin yang ditatap seperti itu tentu merasa heran. Pemuda itu berniat bertanya perihal kedatangan Annie ini, namun gadis itu sudah berkata lebih dulu.
"Armin, aku hanya ingin kau tahu alasan dibalik kau terus menerus disuguhi bento tak masuk akal hari ini. Ada waktu?"
Kedua mata Armin mendelik.
"Hah? Kau tahu alasannya?" Armin balik bertanya. Yup, pemuda ini tak percaya Annie tahu alasan kenapa Mikasa terus mengantar bento-bento gila. Haha, tak tahu saja dia bahwa Annie menjadi saksi mata dari tempat kejadian perkara.
Singkat kata, Annie lalu menceritakan segalanya dengan detail. Dari awal Mikasa yang berniat membuat bento menara Eiffel sampai pertengkaran barbar mereka di dapur sebelum Annie meninggalkan tempat itu.
Dan otak IQ jenius Armin akhirnya mendapat kesimpulan.
Begitu, ya? Begitu, huh? Jadi intinya dia adalah korban eksperimen gadis-gadis sialan yang mengaku ahlinya membuat bekal? Jadi inilah kenapa dia berakhir tragis di ranjang klinik? Empat persimpangan merah berkedut-kedut di dahi Armin. Apa-apaan ini? Apa-apaan semua gadis itu? Apa mereka pikir semua ini hanya lelucon?
Wajahnya diperban tapi mereka masih sanggup mengirimkan bekal-bekal kematian itu padanya!? Ini bukan lawakan! Awas saja kalau mereka sampai bertemu dengannya! Jangan pernah meremehkan dendam makanan, gadis-gadis! Armin Arlert akan membalaskan dendam ini!
Tapi, tunggu dulu! Mungkinkah ini berarti kedatangan Annie kemari juga memiliki tujuan sama dengan gadis-gadis itu? Apalagi Armin sempat melihat Annie membawa sesuatu di tangan kirinya.
"Jangan katakan Annie juga membawa bento kemari," ucap Armin sambil membaca mantera penangkal kutukan(?) dalam hati.
"Tebakan bagus, jenius," Annie langsung mengangkat kotak bekalnya dan meletakkannya di dekat tangan Armin.
Percayalah, para pembaca. Bagi Armin sekarang, kotak bekal itu seperti penampakan Sadako yang siap merasukinya kapan saja. Pemuda itu langsung berkeringat dingin. Menjauhkan tangannya dari kotak bekal tersebut sambil menggeleng cepat, "Tidak! Tidak mau! Kau tahu, Annie? Kurasa aku harus mendaftarkan nama penyakit fobia baru alias bento syndrome karena sekarang aku benar-benar takut pada makanan satu ini!"
Annie menghela napas berat melihat Armin tak percaya pada bekal buatannya. Cukup menyakiti perasaannya, tahu.
Demi menghalau pikiran buruk Armin pada bekalnya, Annie lalu membuka tutup kotak bekalnya kemudian memperlihatkan isinya pada Armin, "Bagaimana? Normal, bukan?"
Sejenak Armin pun terdiam menatapi makanan-makanan di dalamnya.
Tiga telur dadar gulung. Tiga udang goreng tepung. Empat onigiri. Salad buah. Dua kroket kentang dan teriyaki.
Normal. Normal. Ini normal, saudara-saudara. Inilah bento normal itu. Mulut Armin sedikit menganga melihat hasil masakan Annie yang kembali mengundang selera makan.
"...Tak ada pisau dapur?"
"Tidak."
"Tidak ada P.S tentang perpisahan orangtuaku?"
"Tidak."
"Tidak ada P.S tentang Ibuku yang mendadak jadi son complex?"
"Tidak, dasar bodoh. Yang benar saja."
Rasanya Armin ingin memeluk Annie sekarang saking terharunya. Akhirnya dia bisa juga makan makanan normal! Bagaikan setetes air di gurun Sahara saja!
"Terima kasih, Annie! Aku benar-benar tersanjung!"
"Bukan apa-apa. Katakan saja ini bentuk terima kasihku padamu yang selalu mengajariku. Berkatmu nilaiku lulus standar sampai sekarang."
Tak butuh waktu lama bagi Armin untuk mencicipi makanan-makanan tersebut. Dari onigiri, kroket, sampai teriyaki. Semuanya terasa lezat. Mulutnya sulit berhenti mengunyah karena begitu lezatnya. Bisa dikatakan rasa masakan Annie setara dengan Mikasa yang jago memasak. Tidak, bahkan melebihinya. Mungkin inilah hasil dari hidup mandirinya selama ini. Tapi mungkin rasa lebih ini berasal dari bahagianya Armin dapat mencicipi bekal buatan Annie yang khusus untuknya.
"Hmmm! Enak sekali!" sebuah pujian paling tulus lain yang Armin lontarkan pada sang pemimpin jurusan Budaya. Armin menoleh padanya dengan mata berbinar-binar, "Annie sangat jago memasak, ya? Aku sangat suka bento buatanmu!"
Uugh. Kenapa reaksi Armin seperti itu? Membuat Annie mati kutu saja. Dia yang terbiasa dipuji semua orang akan bakatnya masih belum terbiasa dengan pujian dari Armin. Annie memundurkan sedikit kursinya, wajahnya memerah. Sial. Menghadapi pujian dari laki-laki penjilat mudah baginya, tapi lain cerita dari laki-laki tulus seperti si pirang jenius ini. Sejak awal dia memang malu memberikan bekal buatannya. Kalau begini ceritanya, Annie jadi tambah malu.
"I-itu bukan apa-apa..." cuma ini respon yang bisa dia berikan di tengah puncak malunya.
"Omong-omong kau sudah makan siang?"
"Kau tak perlu menanyakan—" yup, perkataan dinginnya ini berhenti sampai disitu berkat suara nyaring dari perutnya.
Awkward moment.
Yah, jelas saja. Tak dipungkiri lagi bahwa gadis ini lupa makan karena tingkah konyol gadis-gadis jahanam di dapur umum sekaligus fokus membuat bekal Armin diam-diam. Terima kasih, suara perut. Kau makin membuat Annie malu sekarang.
Sedangkan Armin hanya tersenyum kecil. Menggeleng pelan, mencoba menahan tawa pada buruknya Annie soal berbohong. Dan sebagai seorang pria, tak mungkin Armin menikmati bekal luar biasa ini sendirian. Maka dia pun mengambil kroket terakhirnya dan mengarahkannya pada Annie.
"Ini."
"Eh?" mata Annie melebar sempurna.
Armin ingin menyuapinya?
Tanpa rasa canggung sedikitpun? Oh, ayolah. Annie tetaplah perempuan, bukan? Apa dia tak malu sama sekali menyuapi Annie di ruang klinik yang kini hanya ada mereka saja?
"Ayo berbagi," ujar Armin lagi.
Tidak, tidak bisa. Kegugupan melanda diri Annie. Meski warna merah di wajahnya membuat tindakannya kini tak meyakinkan, itu tak menyurutkan Annie untuk bersikap dingin, "Bi-biar aku ambil sendiri," ujarnya sembari mencoba mengambil udang goreng tepung dari kotak bekal di tangan Armin.
"Memang kenapa kalau aku menyuapimu?"
Tangan Annie seketika berhenti bergerak.
Dia kembali berpikir. Annie menahan tangannya agar tidak mendamprat Armin saat itu juga. Apakah dia tak mengerti? Apakah pemuda itu tak mengerti pada situasi ini? Apa pemuda itu tak tahu betapa bedebarnya jantungnya ini?
Seolah menyadari bahwa Armin memaksa ingin menyuapinya, Annie pun mengalah. Punggungnya kembali tegak, menghadap Armin sambil memasang ekspresi biasa saja sebaik mungkin. Walau dia yakin dia gagal total menyembunyikan semburat merah pucat di wajahnya, Annie memilih membuka mulutnya. Seperti memberi sinyal supaya Armin segera menyuapinya. Dan Armin menjawab sinyal itu dengan baik. Pemuda ini kemudian memasukkan kroket ke dalam mulut Annie.
Namun, sesaat setelah kroket itu berhasil masuk, tak sengaja ketiga jari Armin bersentuhan dengan bibir Annie. Dalam sekejap Armin merasakan listrik menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia tak bisa berkata apapun melihat Annie mengunyah kroket tersebut sembari menunduk menghindari tatapannya. Namun sama seperti gadis itu, Arlert muda bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Lebih cepat dari suara hatinya untuk menggubris perasaan aneh ini. Sedetik kemudian wajahnya ikut memerah, sampai ke telinga segala. Armin segera menoleh ke arah lain. Kemanapun asal Annie tak bisa melihat wajahnya yang seperti tomat sekarang!
Hanya satu suapan namun mengubah atmosfer ruangan.
Yah, karena suasana ruang klinik itu entah kenapa terasa lebih gerah dari umumnya, bukan?
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's note: Wah wah. Suasana yang sangat menggemaskan. Penulis sampai senyum-senyum sendiri membayangkan adegan akhir halaman ini. Tapi, yah sepertinya sampai disini saja, huh? Kita berjumpa lagi di halaman selanjutnya.
THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!
