Author's note: Penulis kembali. Ya, tapi hanya untuk sementara. Beruntung Penulis menyicil halaman ini dari dulu, jadi tinggal sedikit lagi untuk diselesaikan. Omong-omong setelah ini, Penulis akan cuti sementara. Tahu 'kan apa yang terjadi pada Penulis? Silahkan cek fanfic-fanfic Penulis yang lain. Penulis menulis pengumuman juga disana.

Terima kasih pada para pembaca dan yang mau meninggalkan komentar. Lain kali, akan Penulis balas satu per satu. Adios!

.

.

Disclaimer : Isayama Hajime

GADIS IKON SEKOLAH

Halaman Sebelas : Ulang Tahun Yang Penuh Ketegangan

By Josephine Rose99

.

.

.

.

.

GADIS IKON SEKOLAH

HALAMAN SEBELAS

ULANG TAHUN YANG PENUH KETEGANGAN

By Josephine Rose99

.

.

.

Mungkin kalian berpikir ini bukanlah hari yang spesial bagi kalian, namun tidak berlaku bagi warga Elshin. Mengapa? Itu karena hari ini adalah hari dimana mereka bisa melempar buku beserta tugas sekolah untuk menikmati 24 jam tanpa belajar.

Benar. Singkatnya, hari ini adalah hari festival ulang tahun sekolah dimulai.

Mengingat Elshin adalah salah satu SMK favorit dan elit, maka tak heran festival sekolah dibuat besar-besaran dibanding sekolah biasa. Gerbang utama sekolah dihias dengan bunga-bunga oleh pasukan jurusan Busana dan Kecantikan. Bahkan bisa dikatakan 80 persen dekorasi sekolah dilakukan atau dipimpin oleh mereka.

Dibalik gerbang, berjejer stand-stand yang didirikan oleh para siswa. Mulai dari stand makanan, minuman, aksesoris, pakaian, cinderamata, buku, dan lainnya. Tak lupa diramaikan oleh para pengunjung yang datang dari berbagai sekolah, ataupun keluarga, sampai orang-orang tak diketahui identitasnya. Tentunya para murid segera memberikan brosur dan promo tentang stand mereka. Baik itu stand di luar atau di dalam seperti rumah hantu, maid kafe, gothic kafe, ramalan, dan lain sebagainya yang tak bisa Penulis sebutkan satu per satu.

Yang pasti festival ulang tahun sekolah Elshin dapat dirangkum dalam satu kata; awesome.

Dan bicara soal festival, maka pasti ada pembukaan festival dari kepala sekolah. Murid-murid yang datang ke aula utama sebagai perwakilan teman-teman mereka yang berkeliaran di luar siap mendengarkan sebuah kalimat yang telah mereka nantikan setiap setahun sekali.

Kepala sekolah Elshin, Pixis-sensei telah berdiri di tengah panggung. Mic berada di depannya. Matanya tertuju pada raut wajah para siswa yang terlihat tak sabar. Jadi tak membutuhkan waktu lama baginya untuk berdeham kemudian berkata, "Dengan ini, saya sebagai kepala sekolah Eldia Shingeki Gakuen, menyatakan bahwa perayaan hari ulang tahun sekolah resmi dimulai!"

Tepuk tangan membahana menggaung di setiap sudut aula, sampai terdengar hingga ke luar ruangan. Ditambah sorakan para siswa yang semakin meningkatkan semangat semua orang untuk segera keluar ruangan dan menikmati festival.

Tak ketinggalan juga bagi seluruh rekrutan baru Survey Corps.

Layaknya lutung lepas, mereka berhamburan keluar bersama murid-murid lain. Tak menghiraukan tawa Pak tua Pixis yang terhibur melihat sikap kekanakan para muridnya. Namun siapa peduli? Ini hanya bisa dinikmati sekali setahun.

Saatnya berpetualang!

.

.

.

Para rekrutan baru bukannya sekumpulan orang norak yang tak pernah mengikuti festival ulang tahun sekolah, tapi hari ini lain cerita. Festival ulang tahun Elshin jauh lebih luar biasa dibanding ulang tahun SMP mereka dulu. Tak bisa dibandingkan sama sekali. Kedua mata mereka berbinar-binar melihat orang-orang berlalu lalang ditambah terciumnya semerbak aroma makanan yang mengundang bunyi perut.

Mereka serempak berhenti di tengah-tengah halaman sekolah sambil mengamati sekeliling. Celingak-celinguk dari kanan ke kiri, kiri ke kanan.

"Whuoooo! Apa ini!? Ramai sekali!" ujar Eren takjub. Dia baru tahu festival ulang tahun sekolah bisa seramai tempat wisata terkenal.

Pendapatnya juga disetujui oleh Bertolt, "Persis seperti festival kota!"

"Hei, ayo kita berkeliling! Kita datangi setiap penjual makanan disini!" bisa ditebak siapa yang mengatakan ini. Si tukang makan dari jurusan Tata Boga dengan jurus penampung perut andalannya.

"OOOOOOOUUU!" kompak mereka mengangkat tinju ke atas.

Pasukan baru Survey Corps beranggotakan Eren, Mikasa, Armin, Jean, Marco, Connie, Sasha, Reiner, Bertolt, dan Historia ini mengunjungi satu per satu stand disana. Daftar kunjungan mereka terlalu panjang. Penjual pizza, kebab, makanan vegetarian, minuman herbal, membeli gantungan tas berlambang logo Elshin, sampai mencoba topi-topi yang dijual si salah satu stand tanpa dibeli persis kebiasaan buruk Emak-Emak di mal. Setelah puas berkeliling di halaman depan sekolah, mereka bersama-sama masuk ke gedung-gedung kelas. Kecuali gedung kelas jurusan Budaya pastinya. Bisa-bisa mereka bakal dibunuh begitu menginjakkan kaki di wilayah itu.

Eren dan kawan-kawan mendatangi tiap kelas yang mempromosikan tema mereka. Contohnya ke kelas 1-2 jurusan Sosiologi untuk bergantian minta diramal soal percintaan. Bicara soal percintaan, percayalah hasil ramalan bagi Jean sangat menusuk hati. Dikatai akan jomblo lapuk seumur hidup membuat Jean mengamuk dan hampir mengajak sang peramal untuk one on one. Beruntung Reiner dan Marco segera menarik pemuda itu keluar sebelum mereka berakhir di ruang guru BP. Selain ramalan, mereka juga menjadi pengunjung kelas 2-1 jurusan Pertanian yang mengadakan maid kafe. Seketika mata Eren, Jean, Marco, Reiner, Connie dan Bertolt bersinar terang seolah menemukan setetes air di gurun Sahara. Hingga akhirnya mereka sepakat untuk uji nyali dengan masuk ke rumah hantu buatan kelas 2-2 jurusan Industri. Tempat dimana Armin, Eren, Jean, Marco dan Historia terpaksa digotong keluar karena pingsan di dalam saking takutnya melihat penampakan makhluk tak jelas yang melebihi ketidakjelasan Connie.

Tak terasa matahari berada di posisi tertinggi. Sinar mentari semakin terik sehingga pasukan kita memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon Willow di sudut halaman belakang sekolah. Duduk di atas selusur batu melingkar yang mengelilingi pohon tersebut sembari menikmati es krim coklat yang sebelumnya mereka beli.

Dalam kenyamanan di tengah hiruk pikuk festival tersebut, Historia mendadak mendapatkan sebuah ide, "Hei, bagaimana kalau kita mengajak para senior juga?"

Sasha yang baru saja menghabiskan es krimnya langsung setuju, "Benar juga. Kita bisa minta ditraktir, 'kan?" tentunya karena ada maksud tertentu, saudara-saudara.

"Kalau begitu biar aku datang ke kelas mereka untuk—" belum sempat Eren menyelesaikan kata-katanya, dia lebih dulu disela Mikasa.

"Tak perlu, Eren."

"Eh? Kenapa?"

Mikasa mengangkat tangannya dan menunjuk ke depan mereka.

"Lihat."

Spontan Eren diikuti yang lainnya menoleh pada arah yang ditunjuk Mikasa. Tepatnya di dekat kursi taman di bawah pohon maple.

Terkejutlah bahwa ternyata disana telah bertengger petinggi Survey Corps alias Levi, Mike, dan Hange yang berjongkok bak bocah-bocah kurang ajar berjudi kartu diam-diam. Namun mereka tidak sedang main kartu, melainkan sibuk menjejerkan foto-foto dari berbagai amplop coklat di depan mereka. Raut wajah mereka serius sekali, seserius ketika dirimu menyusun rencana pembantaian terhadap pembulimu.

Ini jelas aneh. Mereka tidak menikmati festival? Apakah ini yang biasa dilakukan murid kelas 3? Tapi biasanya mereka akan fokus pada ujian masuk universitas atau mencari pekerjaan. Ini kenapa melototi foto-foto? Tak mungkin foto-foto itu adalah hasil jepretan Levi dari aksi mengintip wanita di pemandian air panas. Itu sangat bukan Levi Ackerman sekali.

Jadi sebelum tambah salah paham, para rekrutan baru berjalan mendekati mereka.

"Senpai!" panggil Jean setelah mereka hanya beberapa langkah dari trio senior Survey Corps.

Kontan Hange, Mike, dan Levi mendongak. Seketika aksi melototi foto berhenti dulu.

"Oh, Jean," Hange langsung sumringah. Dia pasang senyum lebar, "Kalian suka festival ulang tahun sekolah kita?"

"Ha'i!" jawab para junior serempak.

"Kalau bisa saya ingin sekolah ini berulang tahun setiap hari!" sahut Sasha memiliki niat terselubung supaya terhindar dari kegiatan belajar-mengajar.

Lupakan soal niat terselubung Sasha. Karena ada sesuatu yang lebih penting dari itu.

"Senpai sendiri sedang apa? Tidak berkeliling seperti kami?" tanya Eren langsung ke topik utama.

"Oh, kami sedang—"

BUAGH!

BRAAAKK!

Sesungguhnya Hange berniat mengumbar kegiatan rahasia mereka, namun tinju Levi lebih cepat menonjok mulutnya hingga gadis itu terbang dan menabrak batang pohon. Mike yang disampingnya hanya sweatdrop. Dia tak mau menjadi korban kedua. Karena begitu-begitu, meskipun Levi bertubuh kurcaci dari legenda Putri Salju, dia tetaplah yang terkuat.

Sasuga, Levi-sama~!

Reiner di sudut sana cengar-cengir tak jelas melihat aksi kekanakan dua orang yang bisa-bisanya menyebut mereka sebagai senior. Tapi tidak ada sedikitpun niatnya menolong Hange sebelum mati kehabisan darah berkat mimisan. Dia lebih tertarik pada jawaban pertanyaan Eren sebelumnya.

"...Apa terjadi sesuatu, Levi-senpai?"

"Tidak ada. Ini bukan urusan kalian. Lebih kalian pergi mengisi perut karet kalian dengan makanan-makanan disana."

Kemudian datang sikap sok kuat Connie di saat yang tak tepat, "Ji-jika senpai membutuhkan bantuan kami, kami siap membantu!" ujarnya sambil menepuk-nepuk dada kuat-kuat sampai batuk-batuk dahsyat.

"Benar, senpai! Itu sudah menjadi kewajiban kami sebagai adik tingkat!" disahut oleh Historia yang malah ikut-ikutan.

Sementara Armin yang dari tadi diam saja tidak bisa menahan diri berfirasat buruk. Maklum, sejak dia bergabung dengan organisasi delusional semacam Survey Corps, hidupnya tak pernah beruntung. Justru sial beruntun. Entah apa lagi yang Survey Corps rencanakan, tapi itu pasti ada hubungannya dengan foto-foto yang buru-buru dimasukkan Levi ke amplop saat ini.

Tapi sayang sekali, Armin. Berkat kata-kata puitis Connie dan Historia diikuti tatapan berbinar-binar penuh semangat dari teman-temanmu—kecuali dirimu dan Mikasa tentunya—membuat Levi jadi sedikit terharu. Pertama kalinya dia mendapatkan junior yang berguna setelah selama ini terdampar dengan orang-orang tak berguna.

"Kalian..." Levi menahan setetes mainly tears yang ingin turun sejak tadi, "Baiklah jika kalian memaksa. Akan kukatakan," pada akhirnya Levi terbujuk rayu.

Ini spontan mendapat seruan protes dari seorang gadis yang sekarat di bawah pohon sana.

"PADA AKHIRNYA JUGA AKAN KAU KATAKAN, 'KAAAAAN!? DASAR CEBOL SIALAN!"

Menghiraukan demonstrasi di belakang sana, Levi melanjutkan kata-katanya lagi, "Tapi tidak disini."

"Eh?"

Mendapati para junior kebingungan, Mike ikut menambahi, "Ayo ikut kami ke ruang rapat OSIS. Kami akan menjelaskan semuanya disana," setelah berkata begini, Mike dan Levi segera angkat kaki dari tempat itu menuju lokasi. Diikuti oleh para junior tentunya.

Kecuali Armin.

"Emmm... Mike-senpai, yang disana tidak ditolong dulu?" ujar Armin sembari menunjuk Hange yang masih mengumpulkan napas di bawah pohon. Benar-benar ampun punya dua senior yang tak punya rasa simpati. Apa mereka tak melihat kacamata Hange sampai rusak begitu dalam sekali tinju?

...

~Gadis Ikon Sekolah Page Eleven~

...

.

.

Ruang Rapat OSIS Elshin...

.

Begitu seluruh juniornya duduk berkumpul di meja rapat, Levi meletakkan foto-foto siswa tak dikenal di tengah-tengah mereka.

"Langsung saja," ujarnya bernada serius, "Murid dari sekolah lain akan menyerang sekolah kita sore ini."

Maka Eren dan kawan-kawan langsung melotot terkejut. Seluruh dari mereka segera menoleh pada Levi dengan tampang seolah meminta penjelasan lebih lanjut.

"Hah?"

"Se-serius, senpai!?"

"Aku serius. Kalian tidak lihat wajahku yang bertekuk sampai berkeriput ini?" Levi menunjuk wajahnya yang berubah dramatis bak Kakek-Kakek 60 tahun.

Bertolt masih tidak percaya jika sekolah kesayangannya benar-benar akan digempur di hari indah seperti ini, "Ta-tapi kenapa? Kenapa mereka menyerang sekolah ini di hari ulang tahun?"

"Dari sekolah mana, senpai? Siapa orang-orang bodoh yang ingin menghancurkan sekolah kita?" sahut Connie malah berubah jadi berserk.

Melihat situasi mulai tak kondusif, Mike pun mengambil alih.

"Tenanglah," katanya sembari mengeluarkan foto-foto dari map coklat lalu meletakkannya di atas meja. Tapi foto ini berbeda dibanding foto yang ditunjukkan Levi sebelumnya. Foto-foto beberapa siswa dengan wajah bengkak disana-sini disertai pose tidak elit menjadi pertanyaan di benak seluruh junior Survey Corps.

Siapakah mereka yang ada di dalam foto-foto ini? Begitulah pikir mereka.

Ketika suasana kembali tenang, Mike melanjutkan, "Biar aku jelaskan. Dengarkan baik-baik. Kami mendapat informasi ini dari anggota Survey Corps lainnya, tepatnya murid tingkat dua. Yang akan menyerang kita adalah murid-murid preman dari Sekolah Negeri Trost. Tampaknya penyerangan kali ini benar-benar mereka siapkan sebaik mungkin demi membalas dendam meski harus mengakibatkan hubungan memburuk antar dua sekolah."

Tak mungkin Eren dan kawan-kawan tak mengenal sekolah tersebut. Sekolah Negeri Trost adalah sekolah yang berlokasi tak jauh dari Elshin. Hanya butuh kira-kira 20 menit untuk sampai kesana jika naik bus kota. Lebih hebatnya lagi, sekolah itu termasuk 10 besar sekolah dalam standar kelulusan tertinggi di provinsi.

Lalu kenapa sekolah seperti itu sampai berubah imej dan menantang sekolah mereka untuk tawuran?

"Balas dendam? Apa ada hubungannya dengan orang-orang sekarat ini?" tanya Historia sembari menunjuk foto-foto orang babak belur. Sejujurnya Historia berfirasat buruk sejak tadi, tapi dia benar-benar penasaran apakah firasatnya benar atau tidak.

Dan ternyata firasatnya benar.

"Ya. Annie Leonhart mengalahkan seluruh petinggi OSIS di sekolah itu seorang diri. Beberapa dari mereka masuk rumah sakit dan belum bisa bersekolah sampai sekarang."

Kali ini pelototan yang didapat Mike lebih menyebalkan dibanding apa yang didapat Levi.

"Haaah!?" kedua mata Jean nyaris keluar dari tempatnya.

"Annie!?" Sasha tak pernah menyangka jika seorang Annie bisa se-badass ini. Antara rasa kagum atau takut.

"Seorang diri?" diikuti Eren yang menaikkan nada suaranya satu level.

Reaksi adik kelasnya membuat Mike linglung. Ya, mereka membicarakan Annie, bukan? Seharusnya ekspresi mereka biasa saja, tapi kenapa justru terlihat norak? "Bukannya kami pernah mengatakan bahwa dia murid paling bermasalah di sekolah ini? Kami tidak terkejut dia menjadi dalang utama jika sekolah ini hancur."

Setelah Mike berkata begitu, seluruh juniornya mulai berbisik-bisik. Yup, tentunya berbisik membicarakan Annie serta perilakunya. Namun mungkin kata 'seluruh' bukanlah kata yang tepat karena hanya Armin yang terdiam memandangi foto-foto tersebut. Pikirannya berkecamuk. Memang dia belum lama mengenal Annie, tapi dia tahu pasti ada alasan jelas kenapa gadis itu melakukan hal seperti ini.

"...Annie..."

Armin tak bisa mengatakan pendapatnya di depan Mike. Belum tentu seniornya itu percaya padanya. Terpaksa dia menyimpan segalanya sendiri.

"Kau benar-benar belum mendapat informasi berharga tentang dirinya selain teman-temannya, bakat dan tempat tinggalnya, Armin?" Hange tiba-tiba datang menusuk jantung Armin dengan pertanyaan. Armin spontan berkeringat dingin.

Sial.

Levi dan Mike mungkin bisa ditangani dengan muslihat licik, namun Hange lain cerita. Meskipun seniornya tersebut memiliki jiwa psikopat ketika melakukan eksperimen, percayalah kemampuan otaknya di atas rata-rata. Berasal dari jurusan yang sama tidak menghentikan aliran informasi yang didapat Armin, yaitu identitas Hange sebagai pemenang Olimpiade Biologi tiga kali berturut-turut.

Sekarang tidak ada cara selain pura-pura bodoh. Jika seniornya tahu informasi pribadi Annie di saat tak tepat, bisa-bisa masalah semakin runyam.

"Y-ya, senpai. Tak ada informasi baru. Annie sangat tertutup."

"...Baiklah kalau begitu," memang ada jeda beberapa detik bagi Hange supaya membalas kata-kata Armin. Tapi sepertinya dia percaya. Sejenak Armin lega.

Masalahnya kelegaannya itu hanya dinikmati sebentar berkat ujaran Eren yang menggebu-gebu.

"Tu-tunggu dulu, senpai! Jika benar mereka akan menyerang sore ini, bukankah lebih baik kita memberitahu ini pada pihak sekolah? Kita minta untuk menghentikan perayaan ulang tahun ini sekarang!"

Sayangnya, sarannya tersebut ditolak mentah-mentah oleh Mike, "Tidak. Perayaan tetap dilanjutkan."

"Kenapa?!"

"Mereka menentukan hari ini sebagai hari beraksi karena perayaan ini, tahu. Kau pikir apa yang terjadi jika kita menghentikan perayaan?"

"Kita akan membuat mereka berpikir bahwa kita lengah karena asyik berpesta. Padahal kita sudah menyiapkan kejutan untuk mereka sebelum mereka menginjakkan kaki di tempat ini. Singkatnya sebuah sergapan. Dan dengan begitu pula kita akan menangkap murid-murid bermasalah tersebut dan mengirimnya ke penjara anak. Kita bisa memastikan murid-murid sekolah Trost tak berani mencari masalah dengan kita lagi," timpal Hange ikut setuju akan pendapat rekannya.

Ternyata strategi sudah disusun rapi sebelum mereka bergabung dalam misi melindungi sekolah. Sesuai dugaan dari petinggi Survey Corps. Nama mereka bukan omong kosong.

"Oh, ya. Ini informasi rahasia. Hanya kepala sekolah dan sedikit guru yang tahu. Jadi jangan beritahu pada murid-murid yang lain. Mengerti?" lanjut Levi waspada sebelum sifat penggosip para juniornya kambuh di saat tidak tepat.

"Ha'i!"

.

.

Sementara itu di halaman depan gedung aula utama Elshin.

.

.

Bersamaan dengan sampainya informasi pada anggota Survey Corps, para pentolan tingkat satu jurusan Budaya juga sama terkejutnya tatkala mengetahui pasukan musuh akan menghancurkan mereka hari ini. Berterima kasihlah pada salah satu anak buah Ymir yang menjadi agen intel, mereka akhirnya menyadari kenaifan mereka bahwa sangat tak mungkin kumpulan murid bodoh itu tak menyerang setelah Annie masuk mode berserk lalu menghajar mereka semua pada dua minggu setelah penerimaan murid baru.

Maka, disinilah mereka. Ymir, Hitch, Pieck, Marcel, dan Porco asyik menggerutu kesal di halaman gedung aula utama sekolah. Penyerangan yang terlalu tiba-tiba ini membuat mereka tak memiliki persiapan sama sekali. Sangat berbeda dibandingkan Survey Corps.

"SIALAAAAAAAAANN!" Hitch berteriak sambil mengacak-acak rambutnya seperti orang stres, "Bagaimana bisa aku sebagai sahabatnya jika tak bisa mengalahkan preman-preman sekolah seperti mereka!? Padahal sebelum Annie menyerang mereka, aku punya kesempatan menyelesaikan semuanya di detik itu!"

"Itu karena kau sudah lari terbirit-birit duluan ketika melihat ketua OSIS 190 cm itu, 'kan?" sindir Pieck tak habis pikir Hitch berlagak berakting amnesia. Apa dia lupa jika Hitch juga disana waktu itu?

Yup, benar kata Pieck. Jauh sebelum anggota OSIS sekolah itu akan mengeroyok Annie, lebih dulu mereka mengepung Hitch supaya menjadikannya sandera. Alasannya sih klise. Memanfaatkan Hitch, mereka bisa menawan Annie tanpa pertarungan. Ceritanya sedikit panjang untuk diceritakan, tapi rencana mereka tersebut gagal karena Hitch mengerahkan seluruh kemampuan lari maratonnya alias kabur.

"Padahal harusnya akulah yang melindunginya seperti pangeran berkuda putih!" gadis ini masih berlagak bodoh, eh?

"Kau itu lebih pantas disebut beban busuk daripada pangeran berkuda putih," sindiran Porco ini lebih pedas dibanding sindiran Pieck sehingga gilanya Hitch berhenti dulu.

Disisi lain, Marcel malas meladeni permainan sandiwara Hitch yang kalah jauh dibanding pemain drama kacangan. Ada hal yang perlu diurus dan jauh lebih penting tentunya, "Kita tak punya waktu! Kita harus memberitahu Annie! Kalian lihat dia?" tanyanya.

Sayangnya, sepertinya emosi Marcel harus memuncak karena gelengan santai dari orang-orang di depannya. Perempatan merah timbul seketika di dahinya.

"Apa-apaan itu!? Kenapa bisa?!" Marcel yang murka akhirnya pamer gigi monster, "Oi, Ymir! Hitch! Bukannya kalian berdua teman dekatnya?!"

Ymir kemudian menoleh padanya, langsung pasang muka bête. Heran kenapa dia malah disalahkan, "Kau tidak lihat dia menghilang sejak pembukaan perayaan ulang tahun sekolah? Kami mencarinya dari tadi, tapi tak ketemu!" balas Ymir juga tak mau kalah. Ikut pamer gigi runcing ala megalodon andalan miliknya yang selalu sukses membuat Armin mengeper.

Namun ketika Marcel berniat melempar pot bunga di dekatnya pada wajah penuh jerawat itu, tiba-tiba gerombolan murid berlari berbondong-bondong menuju aula utama. Tidak hanya murid, terlihat beberapa orang dewasa yang sepertinya adalah penjaga kedai atau stand juga ikut masuk. Tentunya aksi mereka membuat kelompok pentolan jurusan Budaya tingkat satu menyingkir, mempersilahkan mereka lewat.

Sejujurnya ada hal yang lebih membingungkan dari datangnya murid-murid berjumlah ratusan itu ke aula utama. Sebut saja itu ekspresi ceria dan tak sabaran yang terpampang di wajah masing-masing. Tapi mungkin ekspresi itu lebih tepat disebut ekspresi psikopat karena senyum jahat di wajah mereka bukan pertanda baik.

"Eh? Ada apa?" pertanyaan benak kita semua diwakilkan oleh Porco.

Hitch celingak-celinguk dari murid satu ke murid lainnya. Entah kenapa dia menyadari bahwa terlalu banyak orang mulai berdatangan, "Aneh. Hampir semua murid menuju aula utama..."

Disaat itu lah, salah seorang dari mereka menyadari sesuatu. Dan orang tersebut adalah salah satu jenius dari kalangan habitat para preman.

Sudah pasti Pieck, kan?

Pieck terkesiap lalu berujar, "Ja-jangan-jangan sudah dimulai?"

Marcel segera menoleh padanya, "Apanya yang sudah dimulai?"

"Acara yang paling dinantikan oleh setiap murid di sekolah ini setiap kali hari ulang tahun. Acara utama dengan hadiah besar."

"...Hah?"

.

.

Kembali ke ruang rapat OSIS...

.

.

"Senpai, kalau dilihat lagi, kelihatannya rencana ini sedikit terkendala," berterimakasih pada kecermatan Armin, teman-temannya kembali melihat kertas-kertas strategi beserta daftar senjata yang akan mereka gunakan ketika tawuran dimulai.

Hange pun membalas santai, "Kau menyadarinya?"

"Hn. Senpai belum membeli bubuk cabai dan tabasco dalam jumlah besar. Jadi bagaimana cara kita membuat bom cabai jika bahan utamanya tak ada?"

"Kita kekurangan dana karena sebagian besar dana dialokasikan membeli banyak pemukul kayu. Makanya bagian itu sedikit terhambat," sahut Mike sembari pasang senyum kecut.

"Jadi bagaimana, senpai? Ini 'kan senjata penting," Bertolt mulai was-was. Para seniornya ini tidak memintanya untuk mengandalkan bela diri saja, 'kan? Sekadar informasi, Bertolt hanya menang tinggi. Kalau soal bertarung, dia masih bukan tandinganThe Rock (?).

Mendadak, lampu ide Hange bersinar terang. Langsung saja dia menyeringai penuh maksud terselubung.

"Tadi kalian mengatakan bersedia membantu, 'kan?"

Sungguh, sebenarnya mereka merinding melihat seringai itu, tapi sebagai junior yang baik, terpaksa mereka mengangguk-angguk pelan.

"Nah, sekarang dapatkan uang untuk membeli bahan bom cabai ini," dan jawaban Hange sangat di luar dugaan.

Connie dengan otak jongkoknya spontan salah paham, "Senpai menyuruh kami merampok!?" begini tanyanya pakai wajah horor.

"Bodoh. Bukan itu. Kami hanya meminta kalian untuk mengikuti sebuah kuis besar-besaran di aula utama sekarang."

"Kuis?"

Hei, jangan-jangan ini adalah acara yang dimaksud Pieck sebelumnya.

Tapi pertanyaannya adalah kuis macam apa ini?

"Ya. Salah satu hadiah utama untuk pemenang kuis itu adalah uang tunai. Jumlahnya cukup besar. Jadi kami akan mendaftarkan orang-orang yang kami anggap punya peluang. Bukankah semakin banyak perwakilan kita maka semakin besar persentase kemenangan?"

"Setengah uang itu untuk si pemenang, setengahnya lagi untuk dana organisasi. Bagaimana? Kalian mau?" sahut Levi ikut menambahi.

Maka muncul sudah bola-bola mata yang dihiasi mata uang dollar dan bersinar terang melebihi sinar rembulan di malam musim gugur (halah).

"Uang!?" ini sih Marco yang sifat mata duitannya keluar di saat tak tepat.

"Mau! Mau! Mau!" diikuti Sasha yang memang ingin beli makanan lagi karena uangnya habis. Beruntung bukan jika dia dapat uang tambahan?

Walhasil, jadilah mereka berebut satu sama lain.

"Tunjuk saja aku, senpai!"

"Bukan! Aku saja!"

Dan sudah pasti...

Tanpa mengetahui maksud jelek para senpai.

...

~Gadis Ikon Sekolah Page Eleven~

...

.

.

Aula utama Elshin...

.

Wajar bukan penasaran jika teman-teman seangkatan kalian lebih banyak berbondong-bondong memenuhi aula utama sekolah dibanding berkeliaran di hari festival? Itulah yang saat ini terjadi pada kawanan Annie. Niat mereka mencari Annie hilang berganti penasaran sehingga mereka juga ikut duduk di kursi penonton. Tapi sepertinya dewi keberuntungan sedang menyinari mereka karena ketika mencari tempat duduk, mereka juga menemukan Annie disana. Gadis pirang berkulit putih pucat tersebut duduk di kursi keempat baris kedua dari depan sambil menyilangkan tangan. Wajah datarnya seperti biasa menatap panggung yang sekarang sibuk didekorasi oleh murid-murid yang mungkin bagian dari panitia acara.

Melihat sosok Annie dari belakang, otomatis Hitch berlari-lari kecil menghampirinya. Tak ketinggalan diikuti oleh yang lain. Dan setelah sampai di sampingnya, Hitch pun memanggilnya.

"Annie!"

Mendengar namanya dipanggil, Annie menoleh. Sudut matanya hanya berkedut sedikit melihat teman-temannya.

"Jadi dari tadi kamu disini?" tanya Hitch lagi.

"Ah, aku dari tadi disini karena tempat ini dingin. Tapi aku heran kenapa banyak murid datang ke aula, jadi begitulah."

"Minggir!" persis perintah bak Ibu tiri, Hitch beserta kawan-kawan langsung menyerobot kursi kosong di dekat Annie. Beruntung cukup bagi mereka sehingga mereka dapat duduk satu baris.

Tak ada dari mereka memulai pembicaraan. Semuanya diam dalam tanya menyaksikan spanduk besar dipasang pada atas panggung. Tapi masalahnya apa yang ditulis di spanduk itu membuat dahi mereka berkerut.

KUIS WHO WANTS TO DIE

Baiklah, itu judul acara yang cukup menohok hati bagi para pembaca. Siapapun yang membuat judul acara itu pasti punya selera yang buruk.

Porco mulai berkeringat dingin. Perasaannya mengatakan akan ada tragedi berdarah yang terjadi di panggung sebesar ini. Apalagi dia melihat dua kursi hitam di tengah panggung, namun hanya satu dipasang banyak kabel. Belum lagi ada layar besar di dinding panggung ditambah beberapa kursi di atas panggung yang disusun rapi.

Hal menarik apa yang di hadapannya ini sampai menarik perhatian banyak orang?

"Acara utama yang kau katakan tadi... sebuah kuis, Pieck?" tanya Porco.

"Ini bukan kuis biasa," wah, nada bicara Pieck berubah serius. Seserius ketika kamu melabrak wanita yang jauh lebih jelek darimu yang sedang menggoda kekasihmu.

Porco semakin tak mengerti, "Maksudmu?"

"Kudengar hanya orang bodoh yang mau ikut serta di kuis ini. Datangnya murid-murid ke aula utama cuma ingin melihat siapa orang-orang bodoh itu dan penyiksaannya."

"Penyiksaan? Hei, ini hanya kuis, 'kan? Apa kau pikir ini Roulette Russian?" sahut Ymir tak habis pikir. Apa ini benar-benar sekolah elit? Apa mungkin seharusnya dia pindah sekolah saja, ya?

"Berarti orang-orang bodoh itu adalah mereka?" ucap Marcel sembari menunjuk orang-orang di pinggir panggung dengan wajah pucat.

Maka, semua pandangan tertuju pada mereka.

Dibandingkan reaksi bingung Marcel dan yang lain, Annie jauh lebih terkejut mengetahui bahwa orang-orang yang Marcel tunjuk adalah sekumpulan idiot yang sangat dia kenal. Gadis ini sampai melongo.

"Armin dan teman-temannya?" begini batinnya menggema.

Lalu bagaimana reaksi para rekrutan baru organisasi penegak keadilan kita?

Tidak jauh berbeda, kedua kaki para kontestan baru kita bergetar hebat begitu melihat judul jahanam dari spanduk jahanam.

"Who wants to..." Jean tak sanggup meneruskan.

Sementara Connie menunjuk spanduk jahanam tersebut sambil terus mengucapkan do'a dalam hati. Tolong, apapun semoga bukan penistaan, "...Die?"

Lupakan kedua reaksi tak elit teman-temannya. Armin hanya butuh penjelasan sekarang, "Senpai, tolong jelaskan kuis macam apa ini."

Dan jawaban dari Hange yang sesantai berjemur di pinggir pantai sangat mematahkan semangat hidup para junior Survey Corps.

"Oh, setelah lolos babak eliminasi, kalian akan masuk babak utama. Kuis ini mengharuskan kalian duduk di kursi listrik di tengah kalau berhasil lolos. Kemudian kalian akan diberikan pertanyaan. Jika salah, kalian akan disetrum sampai tergeletak pingsan. Dan jika benar, kalian akan diberikan pertanyaan selanjutnya. Begitu terus sampai kalian bisa menjawab pertanyaan terakhir."

Paduan suara dimulai.

3.

2.

1.

"NAAAAAAAANIIIIIIIIIIIIII!?"

Sedang asyiknya mereka berteriak tak jelas di ujung panggung, salah satu senior yang pernah muncul di chapter sebelumnya melangkah masuk kemudian berdiri di tengah panggung. Berpakaian kasual, yaitu memakai kaos putih dilapisi jaket biru lengan panjang beserta jeans biru, gadis itu pun memperkenalkan diri.

"Halo, semuanya! Kalian berjumpa lagi pada pembawa acara termanis sejagat Elshin, Rico Brzenska dalam kuis yang telah kalian nantikan, yaitu WHO WANTS TO DIIIIIIEEEEE!"

"HUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!" bagaikan lutung lepas, beginilah teriakan gahar dari hampir seluruh penonton yang mengacungkan tinju tinggi-tinggi.

"RICO-CHAAAAAAAAAN!"

"RICO-SENPAAAAAAII!"

Ternyata namanya sudah dikenal, eh? Berarti Rico bisa masuk ke topik utama, "Hm hm~, sepertinya tak perlu pengenalan lagi, ya? Saya terlalu terkenal di seluruh tingkat Elshiiin~," apa-apaan dia? Sikap narsis paling menjijikkan di dunia, "Kuis bersejarah yang selalu diadakan setiap kali ulang tahun sekolah tercinta kita ini kembali membawa para korban yang siap kita setrum habis-habisan! Tapi apakah kalian tahu keistimewaan kuis kita kali ini? Itu adalah bahwa seluruh korban berasal dari tingkat satu! Sepertinya mereka belum tahu apa yang terjadi pada para korban tahun lalu, ya. Khu khu khu khu..." Rico malah tertawa setan. Tawa penuh seringai ala dedemit dari lautan Pasifik.

"Firasatku mengatakan senyum Rico-senpai itu bukan pertanda baik, teman-teman..." gumam Eren.

"Oke! Saatnya kembali ke habitat masing-masing!" sahut Marco langsung berbalik yang juga diikuti oleh teman-temannya.

Namun sayang, Levi datang menghadang.

"Hei, kalian mau kemana?" tanya Levi sambil melototi mereka. Sangat mengintimidasi sekali.

Tidak mau mati terlalu cepat, Historia langsung bersimpuh lebay, "Levi-senpai! Tolong biarkan jiwa kami tetap dalam raga kali ini! Kumohon!"

"Aku tak peduli apakah kalian akan mati dalam kuis ini, tapi apapun yang terjadi, pastikan kalian mendapatkan hadiah utamanya. Paham?" percuma. Digubris alias tak didengarkan sama sekali.

"Senpai lebih memikirkan uang daripada nyawa kami!? Apa-apaan itu!?" Historia protes tak terima.

"Hei, uang itu bukan untuk kami, tahu. Melainkan untuk meningkatkan persentase perang melawan sekolah lain. Bagaimana caranya kita bisa menang jika kita tak punya modal membeli peralatan tempur?"

"Kenapa tidak meminjam uang sekolah saja?" sebenarnya ada harapan dibalik pertanyaan Bertolt ini. Masalahnya jawaban dari pertanyaannya tidak menyenangkan hati.

"Katakan itu pada Erwin. Pirang sialan itu yang tak mau memberikan dana sedikit pun," balas Mike dengan wajah tanpa dosa.

"Tapi—"

"Mari saya perkenalkan seluruh korban pembantaian kursi listrik kita! Karena itu KELUARKAN SUARA PSIKOPAT KALIAN, TEMAN-TEMAAAAAAN!" gawat. Rico malah mempercepat waktu kematian mereka. Tidak memberi kesempatan sama sekali bagi kawanan kontestan maut untuk menyelamatkan diri.

"YEEEEEEEEEAAAAAAAAAAHHHH!"

"HUOOOOOOOOOOOO!"

"GAHAHAHAHAHAHAHA!"

Tanpa basa-basi lagi, Levi, Hange, dan Mike menendang bokong para junior mereka yang mereka rasa mampu bertahan dari kuis gila ini. Mau tak mau, sambil bersungut-sungut, para kontestan maju kemudian berbaris di tengah panggung.

Perlu Penulis kenalkan? Baiklah. Rico akan mewakili Penulis kali ini.

"Eren Yeager! Seorang murid jurusan Industri yang terkenal gila akan kebebasan!" cahaya panggung langsung menyorot Eren.

"Jean Kirstein! Murid jurusan Praktik Komersial! Si muka kuda!" kejadian sama menimpa pada Jean.

"Historia Reiss! Murid jurusan Busana dan Kecantikan yang luar biasa kawaiiiiii!" seterusnya pada Historia.

"Bertolt Hoover! Si jerapah kikuk dari jurusan Sosiologi!"

"Marco Bodt! Hanya seorang murid dari jurusan Praktik Komersial!" Rico kehabisan ide. Dia tak tahu julukan tepat untuk Marco.

Marco yang mendengar pengenalan diri ala kadarnya itu langsung senewen "Ya iyalah aku cuma murid! Apa aku terlihat seperti penjual gorengan bagimu!?"

"Connie Springer! Si botak plontos yang kejombloannya totalitas dari jurusan Pertanian!" entah kenapa orang idiot bisa terdampar dalam daftar penyelamat sekolah.

"Dan yang terakhir adalah Armin Arlert dari jurusan Kesehatan! Sang terjenius dari antara para jenius dalam sejarah Elshin Gakuen!" kalau ini memang pilihan yang tepat. Terima kasih, Hange, sampai mau memilihnya.

"Nah, kalian boleh duduk. Terserah di kursi mana saja," ujar Rico tak ingin repot.

Maka seluruh kontestan kita duduk di kursi babak eliminasi yang telah disediakan.

Setelah kontestan duduk, Rico kembali melanjutkan, "Oke, teman-teman! Demikian perkenalan singkat para peserta! Maka untuk menentukan siapa yang terpilih duduk di kursi penyiksaan demi mendapatkan hadiah utama, yaitu uang tunai 100 dollar serta hadiah bonus rahasia, para korban akan melewati babak eliminasi!"

Kali ini, Armin yang dari tadi sibuk memikirkan strategi lari jika terpilih menjadi linglung dan berpikir pada apa yang barusan seniornya tersebut katakan.

"Hadiah bonus rahasia? Apa itu?"

"Khu khu khu khu. Saya tahu kalian semua penasaran apa hadiah bonus itu, 'kaaaaaan~? Tapi jika saya ungkapkan sekarang, bukan rahasia lagi namanya. Jadi saya umumkan ketika pemenang berhasil kita dapatkan. Namun saya bisa jamin bahwa hadiah bonus ini adalah hadiah paling istimewa dibanding 100 dollar tersebut. Penasaran, 'kaaaaan~?" apaan sih? Wajah yang menjijikkan.

"Hei, para peserta? Apa kalian melihat layar PC yang di atas meja kalian?" ujarnya lagi. Kali ini para korban kuis melirik pada layar di atas meja mereka, "Di layar itu akan muncul pertanyaan dan beberapa pilihan jawaban. Ya, kalian bisa katakan bahwa soalnya adalah pilihan ganda. Karena itu, gunakan keyboard untuk mengetik jawaban kalian. Ingat, kalian harus menjawab secepat mungkin. Daaaaan semakin cepat, maka peluang kami melihat siksaan kursi listrik juga semakin besar! GYAHAHAHAHAHA!"

Entah kenapa Rico sangat OOC hari ini. Yup, tanpa mengetahui bahwa para juniornya tersebut mengirim sumpah serapah padanya.

Masa bodoh, bukan? Yang terpenting bagi Rico adalah bersenang-senang. Dan bukan bersenang-senang namanya jika bukan penyiksaan.

Benar-benar hari terindah sedunia.

"KUIS WHO WANTS TO DIE... DIMULAAAAAAII!"

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Author's note: Chapter selanjutnya adalah chapter ternista bagi teman-teman kita, para pembaca. Terus nantikan. Jangan lupa tinggalkan komentar. Sampai jumpa!

THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!