Author's note: Penulis kembali! Yah, meskipun belum sehat sepenuhnya. Untung saja dulu halaman ini dicicil dan tinggal sedikit lagi selesai, makanya tidak terlalu berat. Terima kasih bagi para pembaca yang masih mau mengikuti kisah AruAni ini. Mohon dukungannya.
Ingat akan perkataan Penulis tentang menampilkan beberapa arc khusus di fanfic ini? Hmm. Pertama tentang kelas Biologi, tentang bento maut, dan sekarang kuis maut. Rencana Penulis sih ingin menampilkan arc khusus juga tentang kelas Fisika, tapi lihat nanti deh. Namanya juga fanfic sekolahan, bukan? Jika tidak ada arc tentang pelajaran dan terus cinta-cintaan, rasanya Penulis sama dengan generasi muda sekarang yang lebih peduli mencari cowok sebanyak-banyaknya dibanding ilmu sebanyak-banyaknya.
Anyway, semoga kalian menyukainya. Jangan lupa tinggalkan komentar.
.
.
Disclaimer : Isayama Hajime
GADIS IKON SEKOLAH
Halaman Dua Belas : Kuis Who Wants To Die
By Josephine Rose99
.
.
.
.
.
GADIS IKON SEKOLAH
HALAMAN DUA BELAS
KUIS WHO WANTS TO DIE
By Josephine Rose99
.
.
.
Sejujurnya, mengingat nyawa menjadi taruhan disini berkat permintaan egois kumpulan manusia yang sanggup mengklaim diri mereka senior, seluruh peserta kuis gila Rico ini tak menginginkan pertanyaan aneh yang bisa mengantar mereka lebih cepat ke kursi maut. Jantung berdebar tak karuan. Mulai berkeringat dingin. Seluruh indra difokuskan pada layar besar di depan mereka seolah tidak ada kesempatan kedua.
Namun kekhawatiran mereka berlebihan. Nyatanya soal yang keluar bukanlah soal neraka. Hanya sebuah soal yang tampak dibuat oleh kaum malas berpikir.
.
SIAPA NAMA PENJUAL KARAAGE DARI KANTIN B?
A. HANNES
B. COLT GRICE
C. MOBLIT BERNER
D. GUNTHER SCHULTZ
.
Sungguh sebuah soal yang mengundang ekspresi melongo. Itukah standar soal dari sekolah se-elit Elshin?
"WAKTU HABIS!" sontak semua peserta melotot horor pada Rico begitu gadis ini berteriak lantang tiga detik setelah pertanyaan muncul di layar.
Tak heran seluruh peserta merasa jengkel. Berbeda dari para penonton yang tertawa bak tokoh antagonis melihat nasib sial mereka. Mungkin karena itulah Marco, sebagai perwakilan satu persaudaraan peserta kuis langsung balas teriak tak kalah lantang, "WOI, SENPAI! WAKTUNYA TERLALU CEPAT! AKU BELUM SELESAI BACA SEMUANYA, TAHU!"
"Siapa peduli? Jika belum selesai baca, itu karena nasib sial berpihak padamu, bung," Rico mengangkat bahu, membalas santai tanpa memedulikan ekspresi Marco yang mendadak menjadi mode pembunuh bayaran.
"Baiklah! Ayo kita lihat siapa peserta yang berhasil menjawab dengan benar!"
Maka layar besar di dinding tersebut kemudian menampilkan data seluruh jawaban peserta akan pertanyaan pertama.
.
Eren Yeager : C (Mengandalkan perasaan)
Jean Kirstein : D (Hanya mengenal Gunther dari sekian nama)
Historia Reiss : B (Hasil arisan dadakan)
Bertolt Hoover : A (Karena sering mampir ke kantin B)
Marco Bodt : Z (Salah pencet)
Connie Springer : - (Belum sempat mengetik)
Armin Arlert : B (Mengasal)
.
"Hah? Apa-apaan layar ini? Kenapa benda ini bisa tahu alasan aku menjawab B?" bukan hanya Historia yang heran, Penulis pun juga. Darimana layar itu bisa tahu Historia menggunakan kertas-kertas kecil bekas tim arisannya sebagai petunjuk memilih jawaban yang (menurutnya) benar?
Sedangkan Connie hanya mampu menggelengkan kepala pelan. Antara takjub dan sweatdrop pada keterangan disamping jawaban mereka, "Perubahan zaman terhadap teknologi benar-benar mengerikan..." begini gumamnya pelan sambil menurunkan rasa malu.
Ya, wajar, 'kan? Berterima kasihlah pada teriakan Rico setelah tiga detik pertanyaan muncul itu hingga dia tak sempat menjawab. Setidaknya nasib Connie tidak senista Marco yang malah memencet tombol yang tak ada di antara pilihan jawaban soal.
"Armin, kau asal jawab?" Eren paling mengenal Armin dari sekian banyak orang. Tentu dia terkejut melihat alasan konyol di samping jawaban Armin. Mengasal? Seorang Armin mengasal? Itu sangat bukan Armin Arlert sekali.
"Aku tak pernah pergi ke kantin B! Darimana aku tahu nama penjual karaage disana!?" dan jawaban Armin membuat Eren malah menyengir tanpa dosa.
"DAAAANN... SIAPAKAH YANG LOLOS BABAK ELIMINASI!?"
Kemudian lampu sorot aula menyorot sosok yang paling tak disangka-sangka menjadi seorang pemenang.
Bertolt.
Ya, Bertlot. Bocah itu menang tanpa diduga. Tak heran teman-temannya menoleh padanya dan memasang wajah seperti 'what?'. Jangankan mereka, Bertolt saja bingung. Meskipun begitu, yang paling membuat dia bingung bukan karena dia menang, tapi lagu pengiring kemenangannya.
Near, far, wherever you are
I believe that the heart does go on
Once more you open the door
And you're here in my heart
And my heart will go on and on
Seumur hidup, Bertolt tak pernah mendengar sejarah lagu itu bisa dijadikan lagu pengiring kemenangan. Selagi dia shock di kursinya karena barusan terpilih menantang maut secara langsung, teman-temannya malah demo.
"Tak adil! Ini curang! Masa' soal kuisnya seperti ini!? Tak berbobot!" teriak Jean
"Heh! Ini bukan waktunya demonstrasi, bocah kelas satu! Jadi tutup mulut busukmu itu!" balas Rico teriak.
"Tidak, Jean! Bukan itu masalahnya! Kenapa backsound kemenanganku malah lagu Titanic!? Lagipula haruskah lagu itu!? Apa kau mengira aku akan mati hari ini sampai diiringi lagu itu, senpai!?"
"Yaaa, sesuai nama kuis kita, 'kan? Tak ada gunanya juga kamu protes."
Walhasil, jadilah Bertolt banjir air mata di kursinya.
Disisi lain, Historia menangis penuh haru dan syukur dalam hati. Dirinya yang biasanya peduli pada orang lain kali ini harus banting setir. Gadis tersebut menengadahkan wajahnya sambil mengelus dada.
"Untung saja aku tidak terpilih. Syukurlah..."
Tanpa memedulikan tangisan berlebihan Bertolt, Rico menunjuknya dari tengah panggung sembari berujar, "Saudara Bertolt Hoover, silahkan maju ke depan!"
Entah mengapa Bertolt merasa tubuhnya mengalami kenaikan berat badan sampai dia tak sanggup berjalan normal alias gontai layaknya orang-orang gagal wawancara kerja. Tentunya diiringi ratap kasihan dari teman-teman dan ratap psikopat dari para penonton.
Sesampainya di tengah panggung, Rico menunjuk kursi listrik yang siap mengguncang mental pemuda jangkung tersebut. Tampak sinar semangat hidup Bertolt mulai sirna dari matanya. Sementara Rico duduk di sofa nyaman, dia justru memilih berdiri. Dia mematung disana seperti orang bodoh. Tindakannya ini mendatangkan tanda tanya bagi Rico.
"Kenapa kamu belum duduk?"
"Ummm... Senpai, aku duduk di lantai saja, deh..."
"Memangnya kamu kira ini warung lesehan?! Sudah, cepat duduk di kursi ini!" bentakan Rico tak kalah dari Ibu tiri Cinderella. Bertolt terpaksa merelakan dirinya duduk di kursi jahanam sambil mengucapkan berbagai sumpah serapah dalam hati pada Rico yang tersenyum setan padanya sekarang.
"Saudara Bertolt Hoover, kita berbasa-basi dulu sebentar. Bagaimana perasaan anda saat lolos babak eliminasi?"
"Jujur, saya belum pernah setakut ini ketika mengetahui kemenangan sekaligus kematian tepat di hadapan saya."
"Ya ya, terserah kamu saja. Biarkan saya menjelaskan peraturan dari kuis maut ini," Rico kemudian mengeluarkan secarik kartu dari saku kemejanya, "Total pertanyaan dari kuis ini hanya tiga. Singkatnya, kalau kamu menjawab ketiganya dengan benar, kamu berhasil mendapat hadiah utama dan bonus tanpa harus dialiri listrik bertegangan tinggi. Tapi kalau kamu salah, segera panggil tim koran sekolah supaya mereka memiliki judul berita yang bagus di akhir kematianmu. Dan saya ingatkan sekali lagi bahwa hadiah utama kuis ini adalah uang 100 yen disertai hadiah bo—"
"Tunggu dulu! Bukannya hadiah utamanya 100 dollar!? Jangan-jangan senpai mau korupsi!? Enak saja! Nyawaku dipertaruhkan disini, sialan!"
"Aku hanya salah sebut, bocah! Maksudku, hadiah utamanya adalah uang 100 yen yang kemudian diubah kurs mata uangnya menjadi 100 dollar!"
"Halah! Omong kosong! Kau hanya mengelak!"
"Kau bawel sekali! Sudahlah, kita mulai saja pertanyaan pertamanya!"
Once more you open the door
And you're here in my heart
And my heart will go on and on
Lagi-lagu lagu latar Titanic. Dari tadi lagunya bernuansa kematian terus, ya. Terlihat sekali dari tampang Bertolt mulai bête.
"Ini dia pertanyaan pertama! Silahkan lihat di layar!"
.
SIAPA NAMA FILSUF YUNANI YANG TERKENAL JUGA SEBAGAI PENEMU GAYA APUNG?
A. ARISTOTELES
B. PLATO
C. SOCRATES
D. ARCHIMEDES
E. PYTHAGORAS
.
Hanya satu kata yang menggambarkan soal yang keluar di layar. Dan Asshole adalah kata yang tepat.
Bertolt yang lulus dari babak eliminasi dengan pertanyaan nama penjual karaage disuguhkan pertanyaan sejarah sains super sulit di babak utama. Dia tak tahu tujuan si pembuat soal, tapi ini jelas 180 derajat berbeda!
"BRENGSEEEEEEEKK! Kenapa soal utamanya lebih waras daripada soal babak eliminasi!? Hiks! Kalau soal begini sih hanya Armin yang tahu jawabannyaaaa!"
Raut muka Bertolt berubah. Bukan bête lagi, melainkan horor. Mungkin dia melihat malaikat pencabut nyawa di layar tersebut sampai wajahnya memucat sekaligus menegang. Perubahan ekspresinya itu juga ditangkap oleh Rico. Seketika senyum setan Rico semakin melebar.
"Hehehe... Ini berarti aku berhasil mendapat korban pertamaaaa~!"
Telah lewat beberapa detik setelah soal disajikan, namun Bertolt belum menjawab. Tak mau membuang waktu, Rico langsung masuk mode menekan tersangka kejahatan.
"Hei, jadi apa jawabanmu? Jangan lama-lama menjawab, ya."
"Boleh minta bantuan, senpai?" puppy eyes Bertolt beraksi.
Rico jelas tak terima. Sejak kapan ada opsi bantuan di acaranya? "Enak saja! Tidak boleh! Mencontek dilarang disini!" balasnya.
"Sekali saja, senpai! Kumohon!" Bertolt kemudian mengatupkan kedua tangannya, memohon. Demi apapun dia tak mau mati disetrum karena para senior kurang ajar itu!
"...Cih! Baiklah! Sekali saja, ya. Tapi jangan tanya pada sesama peserta! Kalau tidak, kupastikan kursi yang kau duduki mengeluarkan tegangan 1000 volt!"
"Heeeeeee..."
"Bukan 'He'! Sudah, tanya sana! Waktumu hanya sedikit. Kalau kau mendengar bunyi dering alarm, artinya waktu bertanyamu habis. Paham?"
Akhirnya ada cahaya kesempatan. Bertolt takkan menyia-nyiakan ini demi bisa lolos dalam keadaan selamat.
Tidak, kita tarik kembali kata-kata itu. Jelas Bertolt menyia-nyiakannya karena dia bertanya pada orang yang salah. Orang yang kemampuan otaknya tak jauh beda level darinya.
"Reiner, tolong aku!" ya, tepat sekali. Dia justru bertanya pada Reiner si IQ tengkurap.
Tak heran Reiner yang duduk di bangku kesebelas barisan lima langsung melotot begitu panggilan tugas datang.
"A-aku?" ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Reiner, apa kau tahu jawaban dari soal itu?"
"Kenapa kau tanya aku? Aku ini orang Eldia, bukan orang Yunani!"
"Tapi bukannya kau pernah ke Yunani, ya? Kau pernah berkunjung ke kota Athena, 'kan?"
"Itu karena Ibuku menang undian jalan-jalan ke luar negeri, bodoh! Lagipula waktu itu aku kelas 2 SD!"
"Ya sudah, terserahmu saja. Jadi menurutmu apa jawabannya?"
"...Menurutku jawabannya tak mungkin Plato atau Socrates. Kurasa jawabannya antara Aristoteles dan Pythagoras."
"Hei, bukankah Pythagoras itu nama rumus dalam matematika, ya?"
"Iya. Rumus segitiga itu. Bukannya soal pythagoras pernah keluar di ulangan Keith-sensei?"
"Oh ya, benar juga. Aku lupa. Habisnya waktu itu aku tak bisa menjawab sebagian besar soalnya."
"Hn hn! Sama! Aku juga! Sulit, 'kan?"
"Benar, 'kan? Makanya aku—"
Di tengah-tengah percakapan paling tak penting sedunia itu terdengar suara alarm yang sangat nyaring. Tahu bahwa itu pertanda waktu bertanya telah habis, otomatis Bertolt melototi Rico dengan ekspresi seolah masa depannya telah buram total.
"Heeee!? Waktunya sudah habis, senpai!?"
"KAU SUDAH MEMBACOT 10 TAHUN! SEKARANG CEPAT JAWAB!"
"Ummmm..." Bertolt pun melirik kembali ke arah layar. Memperhatikan seksama setiap pilihan jawaban, "...Saya jawab A."
Angin berhembus canggung.
Tidak ada satupun yang berani mengeluarkan suara dan terdiam sambil memasang muka tegang. Bertaruh apakah jawaban tersebut benar atau tidak.
"...A? Kenapa?" tanya Rico mendadak berubah serius.
"Insting," sungguh alasan paling tolol sedunia, saudara Bertolt. Armin sampai tepuk jidat di kursinya.
Tak hanya Armin, sudut mata Rico juga berkedut-kedut, "Hanya gara-gara itu?" tanyanya yang kemudian dibalas anggukan pelan dari Bertolt, "Baiklah. Saya kunci jawaban kamu. Sekarang kita lihat apakah jawaban kamu benar atau tidak. Jika jawabanmu benar, maka akan terdengar backsound film The Conjuring. Jika salah, maka yang terdengar adalah backsound petir di malam badai."
Pada akhirnya keduanya adalah lagu pengirim maut semua. Lalu suara apakah yang mereka dengar?
Sejujurnya Bertolt tak pernah menonton film The Conjuring, tapi dia yakin sekali suara yang dia dengar sekarang adalah suara petir bergemuruh. Diiringi kilatan lampu putih dan biru supaya memaksa suasana seolah sedang terjadi kilat menyambar kemana-mana. Ketika suara itu berhenti, Bertolt bisa melihat aura-aura iblis keluar dari tubuh Rico dan hampir seluruh penonton di aula.
Itu dia. Itu dia sinyalnya! Berarti mungkinkah?
"SALAAAH!" teriakan Rico berhasil mengguncang jiwa dan raga Bertolt hingga hancur berkeping-keping.
"YEEEEEAAAAAAAHHHH!" sorakan penonton psikopat juga tak kalah nyaring dari Rico. Mereka melompat dari kursi segala sampai mengacungkan tinju ke udara.
"Jawaban kamu salah, Bertolt Hoover! Yang benar adalah D! Archimedes! Hahahahaha!"
"NANIIIIIIII!?"
Sudut ilmu: Hukum Archimedes
"Suatu benda yang telah dicelupkan, baik sebagian atau seluruhnya ke dalam zat cair, maka zat cair akan memberi gaya apung pada benda bermassa tersebut, yang mana besar gaya apung sama dengan berat pada zat cair yang telah dipindahkan."
Archimedes menemukan prinsip hukum ini secara tidak sengaja, yaitu ketika Raja Hiero II dari Sirakusa, Yunani yang ingin membuat mahkota baru. Curiga pada si pandai besi yang membuatnya menggunakan emas asli atau bukan akibat rumor sebelum penobatannya sebagai raja, membuat sang raja meminta Archimedes, keponakannya untuk membuktikan mahkota tersebut terbuat dari emas asli atau bukan. Sang raja sekaligus Paman Archimedes ini memang sering meminta tolong padanya karena dia tahu keponakannya dikenal sangat cerdas. Namun dengan syarat; Archimedes tidak boleh merusak bentuk mahkota. Beruntung, Archimedes mendapat ide setelah melihat luapan air pada bak mandi ketika dia masuk ke dalam bak yang penuh. Archimedes pun pergi ke istana kerajaan, mengambil sebuah guci, mengisinya dengan air sampai penuh lalu memasukkan mahkota ke dalamnya. Kemudian melakukan hal yang sama pada emas batangan murni dengan berat yang sama dengan mahkota. Dari jumlah luapan air, Archimedes pun mengetahui bahwa mahkota raja tidak terbuat dari emas murni sepenuhnya dan memiliki campuran logam lainnya. Marah, raja pun menghukum mati si pandai besi karena merasa ditipu.
Kisah ini terkenal dengan kata "Eureka!" yang berarti "Aku menemukannya!" yang diucapkan Archimedes ketika melompat dari bak mandi lalu berlari telanjang ke jalan karena begitu senang.
"A-Archimedes... Archimedes..."
Gawat. Bertolt terlalu shock mengetahui bahwa tidak ada kesempatan kedua dalam hidupnya. Lihatlah dia, bergumam tak jelas dengan muka pucat.
"WAKTUNYA HUKUMAAAAAAAAN!" Rico tak memberi ampun sama sekali. Setelah dia berkata begini, gadis ini menekan tombol pada remote yang dipegangnya sedari tadi seolah dia telah menantikannya.
Maka selanjutnya bisa ditebak.
Bzzt bzzt bzzt!
DRRRRRRRRRRRRRRRRRRTTT!
BRUKH!
Bertolt tumbang. Dirinya yang baru disetrum kursi listrik jahanam tersebut tak bisa menahan posisi duduk lebih lama. Dia jatuh tersungkur dengan posisi menungging. Sungguh posisi yang sangat tidak elit. Tak lama, dirinya diseret paksa oleh panitia kuis keluar aula alias menarik kedua kakinya persis menyeret karung. Spontan tawa setan penonton psikopat mengirinya langkahnya menuju kematian. Ck ck c k.
Satu korban sudah cukup menjadi pembelajaran hidup paling penting bagi peserta lain. Seketika nyali mereka ciut.
"Heh? Bertolt salah, ya?" tanya Eren entah pada siapa.
Disisi lain, Armin menghela napas berat sambil bergumam, "Ya ampun. Padahal soalnya mudah sekali."
Apa kalian pikir Rico tidak mendengar gumaman Armin itu? Tentu saja dia dengar!
"Sudah kuduga. Armin Arlert adalah musuh terbesar kuisku ini!" beginilah batinnya sembari melempar tatapan tajam pada si jenius.
Biar Penulis beritahu kelicikan si kadal laut, Rico beserta kawanan panitia.
Begitu mereka tahu bahwa Armin mengikuti kuis, mereka sengaja membuat pertanyaan tak berbobot atau tak se-wow yang diperkirakan supaya Armin tak lolos babak eliminasi. Bisa gawat kalau Armin menang mudah, 'kan? Tapi kenapa mereka sampai berbuat sejauh itu? Itu karena sang kepala sekolah, Pixis-sensei akan memberikan tip besar pada mereka jika sampai akhir tak ada yang menang. Makanya Rico dan yang lainnya melakukan segala cara untuk menyingkirkan Armin. Benar-benar licik.
Tak apa. Rico yakin pemuda itu juga takkan lolos di pertanyaan babak eliminasi selanjutnya. Lebih baik dia fokus menjadi pembaca acara yang elegan.
"KORBAN PERTAMA SUDAH JATUH, TEMAN-TEMAN! APA KALIAN SENANG!?"
"YEAH!"
"MASIH BERSEMANGAT!?"
"YEAAAAAHH!"
"OKE! MARI KITA CARI KORBAN KEDUAAAA!"
"HUOOOOOOOOOOO!"
Bunyi suara guntur menggelegar beberapa kali. Panitia kuis sialan ini benar-benar niat.
"Peraturannya masih sama, ya! Kita mulai lagi, wahai para calon korbanku~!"
.
KAPAN TANGGAL PERNIKAHAN KEITH SHADIS-SENSEI?
A. 12 JANUARI
B. 24 MARET
C. 18 SEPTEMBER
D. 7 JUNI
.
Pertanyaan macam apa itu?!
"Haaaaah!? Mana kutahu kapan pernikahan si botak sadis itu! Diundang saja tidak!" sependapat dengan Penulis, Connie juga merutuk dalam hati. Memang tak ada satupun soal waras di kuis ini.
"Cukup! Waktu habis!" lagi-lagi hanya butuh tiga detik bagi Rico mengatakannya setelah soal keluar. Sudahlah, para peserta juga sudah berpengalaman dengan sebelumnya.
Sial.
"Jadiii~? Siapa tumbal kita berikutnyaaaa~?"
.
Eren Yeager : A (Asal tebak)
Jean Kirstein : B (Undian kancing baju)
Historia Reiss : D (Pasrah)
Marco Bodt : B (Mencontek Jean)
Connie Springer : C (Mencoba keberuntungan dalam situasi)
Armin Arlert : - (Tak tahu menjawab apa)
.
Bagaikan disambar petir di siang bolong, seluruh panitia kuis maut bengong melihat daftar jawaban para peserta. Namun pada detik selanjutnya, semua berubah.
Rico menjambak rambutnya dan menggeleng kuat seperti sedang kerasukan. Ditambah jerit tangis anggota panitia lain di sudut panggung. Belum lagi anggota panitia pria yang sibuk memukuli dinding seolah mereka sedang syuting drama bagian frustasi memergoki pasangan selingkuh. Singkatnya? Singkatnya mereka semua mendadak tidak waras. Apa gerangan?
"Hei, tingkah Rico-senpai dan panitia agak aneh, ya," gumam Marcel menatap tajam pada Rico yang kali ini menggigit pakaiannya sendiri. Pemuda ini tahu bahwa kakak kelasnya itu memang gila, tapi tak menyangka akan segila ini.
Bukan hanya Marcel. Para murid lain juga asyik kasak-kusuk.
"Ada apa dengan mereka?"
"Perlu kupanggil ambulans?"
"Tapi bukankah aneh, teman-teman? Bukannya si sadis itu..."
Selang beberapa lama, tingkah gila mereka berhenti. Berganti menjadi saling peluk sambil mengatakan 'sabar, sabar'. Entah siapa yang sedang berdukacita, Rico sebagai pembawa acara memilih melangkah ke depan panggung, berdiri tegap diiringi derai air mata lebay.
"Cih! Apa boleh buat! Saya harus tetap bersikap professional, teman-teman. Karena itu kita akan teruskan kuis maut ini. Mari dengarkan pengumuman siapa nama peserta yang lolos babak eliminasi!"
Waktu serasa berhenti.
Jantung seluruh peserta berdebar kencang sama seperti penonton. Siapa korban selanjutnya?
Dan tak disangka-sangka, lampu sorot aula kemenangan menyorot sosok yang paling dianggap bisa meraih kemerdekaan total di permainan nista ini. Sang pemuda berambut pirang pendek dengan wajah lugu dan manis.
Tepat sekali, para pembaca. Orang itu adalah Armin.
Sontak pemuda itu melotot horor. Tak percaya dia akan menang.
"...Are?"
"YA! PEMENANGNYA ADALAH ARMIN ARLERT DARI JURUSAN KESEHATAN!"
Maka lantunan lagu Titanic diperdengarkan ke seisi aula sama seperti terpilihnya Bertolt. Pastinya diiringi jeritan sekaligus desahan kecewa dari hampir seluruh penonton. Jelas, 'kan? Orang bodoh mana yang tak tahu kemampuan otak Armin? Tujuan mereka datang ke aula tersebut bukan melihat siapa pemenangnya, melainkan siksaan pada korban.
Tapi, tunggu dulu. Bukankah ini aneh? Jawaban Armin kosong dan dia menang? Ini pasti ada yang salah.
"Haaah? Armin lolos? Kenapa bisa?" Historia sendiri ikut bingung. Gadis ini melirik Armin yang sekarang mulutnya terkatup-katup persis ikan kekurangan air.
Ini tak bisa dibiarkan. Melihat kursi listrik disetel kembali oleh panitia, Armin seketika ciut. Segera dia mengangkat tangannya, "Se-sebentar, senpai!"
"Apa?" balas Rico malas.
"Ini aneh! Saya tidak menjawab apapun, 'kan!? Kenapa saya malah menang!?"
"Iya, senpai! Jawaban Armin kosong!" Eren juga ikut membela sang sahabat.
"Eh, bego! Justru jawaban Armin benar, tahu! Lihat pertanyaannya baik-baik!" sergah Rico sembari menunjuk layar jawaban, "Sebutkan kapan Keith-sensei menikah. Itu pertanyaan konyol! Memangnya Keith-sensei pernah menikah? Dia itu masih seorang cherry boy melambai sejati tak laku ditelan zaman!"
"EEEEEEEEEEKKHH!?"
Oh, begitu rupanya? Si botak sadis itu masih melajang, huh? Yah, sebenarnya itu fakta yang hanya diketahui segelintir orang di Elshin. Kalangan guru sudah mengetahui, tapi hanya para murid tingkat 3 yang kenal lama dengannya saja yang tahu. Tingkat 2 juga begitu. Hanya sedikit yang tahu. Itupun karena diberitahu senior. Benar-benar pertanyaan menjebak.
Yup, menjebak semua orang sekaligus Rico sendiri. Gadis bodoh itu lupa kalau para guru juga ikut menyaksikan kuis dari ujung panggung. Pastinya cherry boy melambai yang dia maksud juga berdiri disana. Otomatis aura-aura setan Keith membara sampai membuat guru-guru disampingnya berkeringat dingin. Diam-diam dirinya berniat mempersiapkan satu tiket gratis ruang BP untuk gadis itu.
Jangan menyalahkannya. Wajar saja dia marah. Beraninya Rico mengumbar aib yang paling ingin dia sembunyikan! Sampai menyebutnya tak laku lagi! Ini penghinaan!
Sepertinya si botak ini dendam, saudara-saudara.
Kembali ke kuis.
"Nah, saatnya giliranmu duduk di kursi listrik ini, Armin Arlert. Maju!" nada perintah Rico ini mirip dengan Ibu tiri Cinderella, pembaca.
Maka dengan tampang memelas dan kehilangan gairah hidup, Armin pun berdiri lalu melangkah lemas menuju kursi listrik. Benar-benar seperti pertaruhan nyawa dirinya duduk di kursi itu.
Tapi yang paling membuatnya jengkel adalah ekspresi Hange, Levi dan Mike dari pinggir panggung yang terlihat sumringah. Dia tahu dirinya yang bisa diandalkan, tapi bukan begini caranya. Awas saja para seniornya itu. Armin akan minta 70 persen uang hadiah kuis maut sialan ini, bukan 50 persen. Hitung-hitung sebagai biaya 'asuransi'.
Dan kuis maut ini semakin menyebalkan tatkala Rico menyodorkan segelas air aneh padanya, "Ini, Armin. Larutan KCN dengan massa molar 65, 12 gram per mol. Silakan diminum."
Hah!?
Larutan KCN, katanya!?
"Senpai menyuruhku minum racun sianida!? Aku bahkan akan mati lebih dulu sebelum babak utama dimulai!"
"Memang itu tujuanku," suara batin Rico yang memang tak bisa membohongi diri sendiri. Demi tip! "Aku hanya menawari. Kalau tak mau, ya sudah."
Kuis ini pantas dijuluki kuis maut. Dia sudah duduk di kursi listrik dan barusan ditawari racun? Lalu kenapa reaksi para guru biasa saja? Tampaknya perlu diadakan jajak pendapat akan tingkat kewarasan di sekolah ini.
"Acara gila macam apa ini?! Seandainya aku tak bergabung dengan Survey Corps, aku takkan berakhir disini!" Armin merutuk dalam hati.
Lalu apakah Rico peduli pada kefrustasian Armin? Salah. Sejak kapan dia mau peduli? Lebih baik dia fokus menghancurkan asumsi semua orang bahwa pemuda itu akan lolos dari lubang jarum.
"Armin Arlert, kau sudah mengerti peraturannya, 'kan?" tanyanya langsung ke inti.
"Be-begitulah..."
"Katakan padaku."
"Senpai memberikan pertanyaan dan aku menjawab. Simpel."
"JELAS, 'KAN!? BENARKAH DIRIMU SI JENIUS YANG SERING DIANAKEMASKAN OLEH PARA GURU!?"
"Sumpah, senpai. Pertama kalinya aku menemui pembawa acara sekasar senpai."
"Terima kasih atas pujian dan hinaannya. Kita mulai saja. Saya malas berlama-lama. Mari kita lihat apakah saudara Armin Arlert bisa mendapatkan uang tunai 100 Yuan!"
Telinga Armin tak setuli itu. Apa dia barusan mendengar 100 Yuan? Pada kasus Bertolt, gadis itu seenaknya mengganti mata uangnya menjadi Yen. Rico memang tak pantas diberikan rasa hormatnya. Dasar cikal bakal koruptor!
"Kenapa dari tadi mata uangnya terus diganti, sih? Tampaknya kuis ini berniat menipuku!"
Sekarang, apakah pertanyaannya?
.
APA BENTUK HUJAN DI PLANET VENUS?
A. BATU KERIKIL
B. KACA
C. ASAM SULFAT
D. METANA CAIR
E. BERLIAN
.
"Soal macam apa ini? Memangnya ada bentuk hujan seperti itu?" sungguh pertanyaan intelek. Jangankan para penonton, Rico saja sampai tak tahu, "Khu khu khu. Pasti bocah cupu ini tak bisa menjawab," diam-diam dirinya memuji kecerdasan teman-temannya dalam membuat soal. Pintu kemenangan selangkah di depan mereka. Yah, setidaknya begitulah pikir Rico.
"Hei, apa jawabanmu, bocah?" tanyanya dengan sangat yakin bahwa Armin tak mungkin menjawabnya.
Namun ternyata dewi fortuna tak memihak Rico. Armin justru bisa menjawab spontan. Sangat cepat.
"C. Asam sulfat."
"Eh?"
Seketika ruangan kembali dipenuhi suara grasak-grusuk. Mereka saling berbisik-bisik alias bertukar pendapat soal jawaban Armin tadi. Ya, karena mereka tahu persis bahwa soal tadi bukanlah tema pelajaran astronomi di kelas mereka. Singkatnya, tak pernah disinggung soal bentuk hujan planet selain bumi saat belajar.
Lalu darimana Armin tahu?
Sejujurnya Rico yang tak tahu jawabannya juga tak langsung percaya. Sebagai senior yang cukup dikenal dalam bidang sains, dia sama sekali tak mengerti kenapa Armin menjawab dengan raut wajah yakin begitu, "Apa kau yakiiiin~? Kau tahu apa akibatnya kalau salah, 'kan?" katanya lagi menakut-nakuti.
"Hn," Armin tak bergeming. Dia membalas tanpa rasa takut, "Hujan dalam bentuk batu kerikil itu tidak terjadi di planet Venus, melainkan planet COROT-7b karena lapisan atmosfernya tersusun dari kalium, besi, silikon monoksida dan natrium. Hujan kaca juga tak terjadi di Venus, tapi di planet HD 189733b. Untuk hujan metana cair, itu bukan terjadi di planet, namun di satelit planet. Tepatnya di satelit planet Saturnus, yaitu Titan. Sementara hujan berlian dimiliki dua planet sekaligus, yaitu Neptunus dan Uranus. Wajar saja karena susunan atmosfer di kedua planet tersebut sebagian besar adalah helium dan hidrogen. Apalagi mengingat warna biru di dua planet itu, kita bisa mengetahui bahwa ada jejak metana di sekitar atmosfernya. Itu bukti terdapat es di bagian dalamnya, bukan? Jadi jawabannya adalah asam sulfat karena awan yang terbentuk di planet Venus mengandung asam sulfat yang banyak sekali. Bahkan hujannya juga mengandung logam."
Pasukan jangkrik tiba-tiba paduan suara untuk mengisi keheningan di dalam aula.
Jangan salah paham. Keheningan itu berarti terpukau. Luar biasa terpukau. Armin sampai bisa menjabarkan setiap jenis hujan pada setiap pilihan jawaban. Secara tidak langsung mereka menunjukkan fakta bahwa Armin memang satu tingkat di atas mereka.
Jenius telah lahir!
Lalu Rico? Cuma bisa pasang muka datar plus bête.
"...Bangsat. Penjelasannya detail sekali," niatnya yang ingin menakuti lagi jadi batal. Dia sudah tahu tak ada gunanya juga menakuti Armin.
Disisi lain, Annie yang melihat itu semua dari bangkunya juga tak bisa menahan diri untuk ikut terpukau. Ya, dia terpesona. Dari dulu dia tak berhenti mengagumi kejeniusan Armin. Annie tahu itu dari seluruh tindakannya mengajari Annie hingga berhasil membuat gadis itu bisa mempertahankan nilai. Semua berkatnya. Bahkan setelah menyaksikan langsung kebolehan Armin di hadapan hampir seluruh murid Elshin, pendapat Annie tentangnya tetap tak berubah.
"Dasar. Dia tak pernah berhenti membuatku kagum..." hanya beberapa detik setelah memikirkan ini, Annie kemudian dengan cepat menggelengkan kepala, "Ah, apa yang kupikirkan!? Argh, menyebalkan!" gadis ini bisa merasakannya.
Wajahnya memanas. Panas hingga merah. Beruntung teman-temannya tak menyadari hal tersebut karena pandangan mereka terpusat pada Armin juga Rico. Jika tidak, mungkin Annie tak tahan diledek.
Kembali ke Rico.
"O-ooh... Be-begitu, ya?" sial. Beginilah jika menghadapi jenius. Rico pun tak sanggup menghadapinya lagi, "Baiklah. Kita lihat apakah jawaban Armin Arlert benar atau tidak. Jika benar, lagu dari The Notorious B.I.G berjudul Ready To Die akan terdengar, sementara jika salah adalah lagu dari Jay-Z berjudul Lost One!"
"Apa tidak ada lagu pengiring yang jauh lebih baik dari dua itu, senpai?" percuma, Armin. Protesmu digubris berkali-kali.
My s**t is deep, deeper than my grave, G
I'm ready to die and nobody can save me
F**k the world, f**k my moms and my girl
My life is played out like a Jheri curl, I'm ready to die!
Lagu Ready to die terdengar nyaring. Pernyataan bahwa Armin berhasil menjawab pertanyaan pertama.
"JAWABAN ARMIN BENAAAAARRRGGHHH!" teriak Rico nge-rock. Mungkin dia merasa dirinya Elvis Presley.
"TIDAAAAAAAAAAAAAKK!" ini sih jeritan penuh kecewa dari penonton jahanam.
SRET ! Rico berputar-putar bak pemain balet, langsung menunjuk Armin yang hampir jantungan ditunjuk dengan gaya menjijikkan itu, "Cih! Kau beruntung, Armin Arlert! Kalau begitu, kita lanjut ke pertanyaan kedua! Apakah Armin Arlert bisa mendapat uang 100 Peseta? Kita pantau terus!" Armin langsung melotot dan menganga mendengar pernyataan skandal sang senior.
"Peseta!? Apa-apaan ini?! Tadi Yuan, sekarang Peseta! Lagipula mata uang itu tak berlaku lagi sejak diganti Euro! Sialan! Senior kurang ajar ini memang berniat korupsi di depan mataku!"
.
SIAPA NAMA KAISAR CINA YANG MENDIRIKAN DINASTI SONG?
A. LI YUAN
B. SIMA YAN
C. LIU BANG
D. YANG JIAN
E. ZHAO KUANGYIN
.
Kreatif. Setelah pertanyaan astronomi, sekarang tentang sejarah dinasti kekaisaran China. Ternyata panitia kuis gila ini tak sembarang dipilih.
"Kali ini soal sejarah, ya?" Rico mengangguk-angguk membaca apa yang tertera di layar. Kemudian menoleh pada Armin, melempar tatapan remeh sekaligus mengejek, "Berani taruhan kalau kau tak tahu jawa—"
"Oh, jawabannya adalah Zhao Kuangyin. Saya pernah membacanya di buku sejarah dinasti Cina yang dibelikan Kakek saya sewaktu saya kelas 3 SD. Kalau tak salah nama lain Kaisar itu adalah Song Taizu. Dia pendiri di dinasti Song."
...
...
"...Eh?"
"Keempat pilihan lainnya bahkan tidak berasal dari dinasti Song. Li Yuan dari dinasti Tang yang berlangsung dari tahun 618 sampai 907 masehi. Sima Yan dari dinasti Jin Barat, yaitu dinasti Cina dari tahun 265 hingga 420 masehi. Liu Bang itu Kaisar dinasti Han Barat yang berdiri sejak tahun 206 sebelum masehi hingga tahun 9 masehi. Sedangkan Kaisar Yang Jian berasal dari dinasti Sui yang berdiri dari 581 sampai 618 masehi."
Lagi-lagi Armin sangat lancar menjawabnya. Dengan tampang percaya diri menatap Rico yang sudut bibirnya dari tadi berkedut-kedut seolah tak mau menerima kenyataan.
"AAARGH! SIAPA SIH YANG MEMBUAT SOALNYA!? KENAPA MEMBUAT SOAL TERLALU INTELEK BEGINI!? AKU BUTUH SOAL ABSURD, BUKAN SOAL WARAS!" beginilah jeritnya dalam hati meskipun diluar dirinya berusaha tetap tenang, "...Oke! Saya kunci jawabannya!"
Sial. Kenapa bisa laki-laki itu terpilih? Tinggal satu pertanyaan lagi dan Armin akan menang! Ini bahaya bagi keselamatan tip Rico!
"Backsoundnya masih sama, ya. Kalau benar, lagu milik The Not—"
"Ya ya ya. Saya tahu. Tak usah diulang dua kali," sela Armin jutek yang mendapat pelototan langsung dari Rico.
Lalu lagu apa yang terdengar?
Apalagi kalau bukan lagu Ready to die seperti sebelumnya? Menggema sekuat mungkin memenuhi seluruh sudut ruangan.
"ARMIN ARLERT BENAR UNTUK KEDUA KALINYA, SAUDARA-SAUDARA! HUWAAAAANNGG!" Rico menangis frustasi. Kesempatannya mendapat tip dari Pixis semakin lama semakin meredup.
Penonton yang menginginkan kematian(?) Armin balas teriak tak kalah kuat. Mereka banjir air mata di kursi masing-masing.
"NOOOOOOOOOOOOOOO!"
Hiraukan kegilaan murid-murid gila Elshin yang tak berkharisma so well macam itu.
Berbeda dari reaksi penonton jahanam, pasukan Survey Corps yang terdampar paksa dalam permainan maut ini melihat dari sudut pandang berbeda. Tinggal satu pertanyaan lagi maka mereka tak perlu melewati babak eliminasi tak berbobot buatan kawanan Rico. Dan itu juga berarti kesempatan maju untuk duduk di kursi listrik pun akan musnah.
"Sekali lagi, Armin! Sekali lagi!" Connie mengacungkan tinju ke udara, memberi semangat pada pemuda itu.
"Dapatkan uang itu, Armin!" kalau ini sih Hange yang memang dari awal tak peduli pada nyawa juniornya. Ck ck ck ck.
Apakah hanya pasukan keadilan sekolah yang bersemangat melihat keberhasilan Armin yang tinggal selangkah lagi itu? Jelas saja tidak. Di antara penonton kelas jahanam, ada juga kelas malaikat bersembunyi di dalamnya. Maka kelas malaikat itu pun menepuk tangan mereka keras-keras sesuai ritme kemudian meneriakkan namanya menjadi nyanyian.
"ARMIN! ARMIN! ARMIN! ARMIN! ARMIN! ARMIN!"
Suara di dalam aula benar-benar riuh. Armin bingung harus bertingkah seperti apa karena mendapat dukungan dan hujatan di saat bersamaan. Yah, setidaknya dia mengetahui kalau para guru mendukungnya juga. Masa bodoh memandangi Rico yang asyik menjerit tidak jelas diiringi tangis palsu.
Di kemeriahan tersebut, tak sengaja Armin melirik Annie yang duduk di kursinya. Dia tahu gadis itu duduk di dekat teman-temannya sehingga tak bisa berbuat apa-apa. Haruskah mendukung atau menghujat. Namun karena kemeriahan itulah semua pandangan tertuju pada Armin. Tak ada satupun orang disana mengawasi sekitar mereka sendiri.
Annie menyadari Armin melihatnya sekarang. Pandangan mereka bertemu.
Karena rasa kagum berlipat ganda, Annie pun tersenyum padanya. Dia mengangkat tangannya, mengepal dan menyentaknya. Kemudian Annie mengatakan sesuatu. Sesuatu yang tak dapat Armin dengar karena suara riuh penonton. Namun Armin tahu apa yang dikatakan gadis itu dari gerakan bibirnya.
"Kau bisa."
Wajah Armin memerah.
Percayalah, rasanya Armin ingin terbang saat itu juga karena mendapat dukungan dari Annie. Tapi masalahnya, perasaan fuwa-fuwa miliknya itu hancur seketika berkat teriakan ganas dari penonton jahanam.
"JANGAN MENYERAH, RICO! KITA MASIH PUNYA KESEMPATAN!"
"BUNUH DIA, RICO-CHAN!"
"HABISI DIA DENGAN PERTANYAAN TERAKHIR!"
Dasar kumpulan orang perusak suasana.
Dan pastinya Rico kembali sadar dari jerit tangis drama. Dia menoleh pada para pendukungnya. Pendukung yang selalu ada disampingnya untuk menyiksa peserta. Air mata haru pun menetes. Karena itu Rico berdiri tegak lalu berjalan menuju sudut panggung. Gadis ini menunjuk kumpulan murid di depannya dengan gaya sok.
"BENAR SEKALI! KITA MASIH PUNYA KESEMPATAN UNTUK MEMBUNUH ARMIN, BABY!"
"YEAH!"
"KELUARKAN SEMANGAT MEMBUNUH KITA!"
"RAAAAAAAAARRRRGGGHHHHH!"
Apaan, sih?
"Baiklah! Tanpa banyak bacot, kita lanjut ke pertanyaan terakhir! Pertanyaan penentuan apakah Armin Arlert berhak akan uang 50 Dinar!"
Hei, para pembaca. Kalian pasti sudah menyadarinya, 'kan? Dari tadi Rico bangsat ini asyik mengganti mata uang hadiah utama kuisnya, tapi sekarang dia mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan mengurangi jumlahnya. Mungkin ini efek dia tak rela Armin maju ke babak akhir. Ternyata sampai akhir pun dia masih berkutat dalam hal itu.
Kontan saja Armin mengamuk, "Hei, tunggu dulu! Aku sudah cukup dipermainkan dengan terus bergantinya mata uang hadiahnya! Sekarang jumlahnya pun juga berkurang? Yang benar saja, senpai! Bukankah hadiah utamanya 100 dollar!?"
"Aaaargh, bawel! Maksudku itu 50 dinar ditambah 50 dinar menjadi 100 dinar kemudian dikenai perubahan mata uang menjadi 100 dollar!"
"Omong kosong! Senpai berniat menipuku, 'kan!?"
"Tutup mulutmu! Sekali lagi kau protes, benar-benar akan kubacok dirimu!" Armin terpaksa menutup mulutnya rapat-rapat berkat atraksi gigi monster.
Ujung-ujungnya memang pakai kekerasan. Hhhh...
"Ini dia pertanyaan terakhir! SAKSIKANLAH KEMATIAN ARMIN ARLERT DI PERTANYAAN INI!"
"BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH!" beginilah aksi nyanyian pendukung Rico mengalahkan suara pendukung Armin yang kalah keras.
.
SIAPA NAMA ATLET PEMEGANG REKOR DUNIA DALAM CABANG OLAHRAGA LOMPAT TINGGI?
A. JAVIER SOTOMAYOR
B. MIKE POWELL
C. PAWEL FAJDEK
D. USAIN BOLT
E. NADZEYA OSTAPCHUK
.
Secercah harapan bagi Rico! Ternyata soal seputar olahraga!
Tentunya saat bicara olahraga, maka Armin sebenarnya...
"Bagus, teman-teman! Kita tahu pasti bahwa seorang Armin Arlert sangat lemah dalam olahraga! Kemungkinan teori pun juga bernasib sama! Dengan begini tip dari kepala sekolah benar-benar di tangan kita!" lihatlah tawa setannya itu. kedua matanya juga sampai memerah. Benar-benar terlihat seperti iblis, "Bagaimana, Armin? Apa kau tahu jawabannya?" tanyanya beralih pada Armin.
Terang saja. Sesuai dugaan Rico. Armin justru diam!
Ya, pemuda itu hanya diam. Biasanya dia akan langsung menjawab cepat, namun kali ini dia menautkan alis ketika melihat layar dimana pertanyaan tertera. Berpikir. Pemuda ini sedang berpikir keras seperti bukan dirinya yang biasa.
Apakah ini akhirnya?
Apakah ini pintu kemenangan bagi Rico dan kawan-kawan? Ataukah pintu kemenangan bagi Survey Corps?
"Gawat..." bukan hanya Rico, ternyata Eren juga meragukan kemampuan Armin menjawab soal tersebut.
Historia menoleh bingung pada Eren, "Ada apa, Eren?"
"Armin itu payah dalam olahraga. Baik praktik ataupun teori karena dia sama sekali tak suka dengan pelajaran itu. Yah, walau sebenarnya nilai teorinya masih lebih baik dari praktik."
"Kalau benar, berarti aman, bukan? Lagipula sekarang dia menghadapi teorinya," sahut Jean santai.
"Justru itu yang membuatku tak yakin dia bisa menjawabnya, bodoh."
"Huh?"
"Nilai teori olahraganya bahkan dibawahku dan Mikasa."
"...Eh?"
Seperti kata Eren. Nilai teori olahraga Armin memang memenuhi standar nilai sekolah. Tapi itu pun hanya sekadar 70 atau 70-an. Berbeda dari Eren dan Mikasa yang jago dalam hal tersebut. Ternyata manusia memang tak ada yang sempurna. Semua memiliki kelemahan.
Jadi bagaimana? Bagaimana cara Armin menjawabnya? Pemuda itu masih berpikir dan belum mengatakan apapun.
"...Pemegang rekor lompat tinggi. Aku pernah membaca ini di buku milik Mikasa. Tapi... aku agak lupa siapa nama pemegang rekor itu. Sial, apa yang harus kulakukan?" hampir buntu. Armin terus mengerahkan sel-sel otaknya untuk berpikir menemukan solusi sebelum benar-benar tak ada harapan.
Awalnya Armin melirik Rico, berniat meminta bantuan seperti Bertolt. Tapi dia buang pikiran itu jauh-jauh setelah melihat ekspresi Rico yang biasa dipasang koruptor ketika melihat tumpukan uang. Ingin minta ditabok begitu. Sangat menyebalkan sekali. Walhasil, dia memilih berusaha sendiri.
Maka sang jenius ini menilik kembali setiap pilihan jawaban yang diberikan di layar, "...Aku tak asing dengan nama Sotomayor ini. Apa mungkin jawabannya A?" memikirkan kemungkinannya pun percuma. Armin sekarang bisa merasakan keringat dingin membasahi wajahnya. Dia benar-benar tak yakin 100 persen! "Gawat. Aku tak yakin. Bagaimana kalau salah? Atau lebih baik aku bertaruh?"
Tenanglah, Armin. Dewi fortuna masih memihakmu dibanding Rico.
Benar bahwa dia belum mengenal Armin dalam waktu lama, namun setidaknya Annie menyadari perubahan gelagat Armin. Pemuda itu sedang kesulitan. Dan mengingat dirinya juga jago dalam olahraga baik teori atau praktik, maka gadis ini bersedia membantu. Mana mungkin dia membiarkan Armin mati disetrum!
Beruntung, kembali pandangan mereka bertemu ketika mata Armin menjelajahi aula. Tak mau membuang waktu, Annie menoleh ke arah lain sambil menempelkan jari telunjuknya pada pipinya yang menghadap Armin. Hanya ini satu-satunya cara supaya Rico tak menyadari.
Armin terbelalak. Dia mengerti. Sangat mengerti. Dia bukan orang bodoh. Annie membantunya memberi jawaban! Dan ternyata jawabannya itu sama seperti yang dia pikirkan! Lagi-lagi pipinya bersemu merah, antara senang menjawab soal maut atau ditolong Annie.
Maka, pemuda jenius ini menoleh pada Rico yang asyik mengatakan 'yes ' berulang kali layaknya dia sudah menang saja. Karena itulah, ketika Armin mengatakan jawabannya dengan lantang, seketika ritual tak bermutunya itu berhenti.
"Jawabannya A, senpai! Javier Sotomayor!"
"Yes! Yes! Ye...Eh?"
Rico segera melototi Armin. Senyumnya langsung hilang.
"Kau bilang apa?"
"Jawabannya A, 'kan?"
"Ke-kenapa bisa?"
"Ya, karena memang jawabannya A. Apalagi? Saya setidaknya tahu tentang teori dalam olahraga," Armin mengarang alasan. Ya, dia tak mungkin mengatakan Annie membantunya yakin dengan pilihannya, 'kan?
Hilang.
Gairah hidup Rico hilang total.
"HUWAAAAAANGG! TIPKU! UANGKUU! KENAPA KALIAN SETEGA ITU MENINGGALKANKUUUUUU!?" tak ada yang berubah di ekspresi luarnya, hanya alam bawah sadar. Mungkin terlihat seolah diluar, dia tampak tak peduli. Walau rasanya Rico ingin lari dari sana, mengambil boneka beruang kesayangannya, dan merengek di depan Pixis.
Ya, kita semua sudah tahu tujuan gadis ini. Apalagi kalau bukan demi dikasihani, lalu si Kakek botak memberikannya 'upah' atas usahanya? Tentunya ini analogi yang tak mungkin terjadi karena Pixis punya keyakinan yang teguh.
"...Yakin?" tanya Rico lagi. Bisa saja Armin mau mengubah jawabannya.
"Yakin."
"Siapa tahu salah."
"Rayuan senpai takkan bekerja padaku."
Bodohnya Rico membuang waktunya merayu Armin padahal pemuda itu bukan tipenya sama sekali. Walhasil, jadilah gadis ini menghadap penonton, menunjukkan wajah sedih bak memergoki pasangan berselingkuh dengan teman dekat, dan siap mengatakan kata-kata penutup.
"Hiks. Oke, teman-teman. Ini penentuannya. Hiks hiks. Mari dengarkan suara pengiring untuk menentukan apakah Armin Arlert selamat dari kursi listrik ini atau tidak..." ujarnya tanpa semangat jiwa muda.
Dalam hitungan detik seluruh ruangan merasakan atmosfer tegang. Bersiap-siap mendengar lagu pengiring mana yang akan menggema. Tidak ada satupun yang berani mengeluarkan suara berisiknya di tengah-tengah pertaruhan akhir ini.
Hange dan Levi juga ikut tegang. Mereka mengepalkan kedua tangan mereka erat-erat seolah tak sabar. Demi apapun, semoga uang itu jatuh ke tangan organisasi mereka! Yang benar saja perjuangan memasukkan junior mereka ke jurang kesialan berakhir sia-sia!
Kemudian, panitia pun mengumandangkan sebuah lagu yang tak disangka-sangka menjadi lagu pengiring kuis ini.
We are the champions, my friends.
And we'll keep on fighting 'til the end.
We are the champions.
We are the champions.
No time for losers
'Cause we are the champions of the world.
Eh?
Bukan Ready to die?
Yah, setidaknya lagu pengiring kemenangan kali ini lebih normal.
"SAMBUTLAH SATU-SATUNYA KORBAN SELAMAT DI BABAK UTAMA KUIS WHO WANTS TO DIE TAHUN INI, SAUDARA-SAUDARA! ARMIN ARLERT BERHASIL MENDAPATKAN UANG TUNAI 100 DOLLAR BESERTA HADIAH BONUS RAHASIAAAA!" tumben gadis ini benar mengatakan jumlah serta mata uang hadiahnya.
Semua orang bersorak sekaligus menangis jerit histeris. Tak apa. Inilah dunia yang bewarna. Tapi mungkin lebih baik kita fokus pada seluruh pendukung Armin yang kompak bangkit dari kursinya dan berlari kecil mendekati panggung demi melihat momen kemenangan lebih dekat. Tak lupa teman-teman Armin yang ikut menjadi peserta kuis berlari ke arahnya kemudian melompat dan memeluknya bersamaan sampai mereka jadi bertumpuk satu sama lain di lantai panggung.
Lalu? Hange dan yang lainnya? Mereka asyik bertos sembari mengatakan 'kita berhasil!'.
Melihat situasi tak kondusif, Rico buru-buru berkata lagi, "Pixis-sensei, silahkan maju ke depan untuk memberikan hadiah pada Armin Arlert."
Ketika nama kepala sekolah disebut, maka seluruh murid yang menghalangi jalan menuju panggung segera menyingkir. Layaknya membentuk barisan penghormatan, mereka menciptakan jalur langkah Pixis.
Pixis tentunya langsung berjalan diiringi tepuk tangan meriah para murid. Dan saat dirinya telah berdiri di tengah panggung, pria tua itu tersenyum pada Armin yang sudah berdiri tegak di hadapannya.
"Luar biasa, Arlert. Kamu berhasil menjawab ketiga pertanyaan dengan benar. Saya benar-benar kagum padamu," pujinya yang membuat Armin jadi malu-malu. Kemudian Pixis merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah amplop berisi uang 100 dollar dan menyerahkannya pada Armin, "Ini hadiah utamanya," ujarnya lagi.
"Terima kasih, sensei," jawab Armin menerima amplop tersebut sembari membungkuk hormat.
Penonton kembali menepuk tangan.
Iri. Rico iri! Meski dirinya pembawa acara professional, dirinya dongkol melihat amplop itu diberikan pada Armin. Seharusnya dia yang mendapat uang, bukan pemuda itu! Benar-benar sial! Kenapa Armin harus ikut kuisnya tahun ini? Menyebalkan!
"Nah, sekarang waktunya pengumuman hadiah bonus! Kalian masih ingat bahwa hadiah bonus akan diungkapkan begitu kita memiliki pemenang?" Rico mengambil alih setelah penyerahan uang, "Nah, informasi untuk kalian, sebenarnya hadiah bonus ini dicetuskan oleh kepala sekolah kita sendiri. Karena itu, Pixis-sensei, silahkan berikan hadiah bonus kepada sang pemenang kuis kita."
Pixis berdeham sebentar sebelum bicara, "Seperti yang dikatakan nak Rico, saya jamin hadiah bonus ini lebih kamu sukai daripada uang 100 dollar itu. Kamu penasaran apa hadiah bonusnya, 'kan?" Pixis mengangkat kedua alisnya berkali-kali.
Sial. Tingkah Pak tua itu sekarang membuat Armin tambah penasaran.
Dia memang ingat soal hadiah rahasia yang disinggung Rico. Masalahnya adalah apa hadiah rahasia itu? Sepertinya sudah jelas kalau itu bukan uang. Apa jangan-jangan tiket jalan-jalan?
"Baiklah. Hadiah bonusnya adalah..." Pixis menarik napas panjang-panjang. Menyiapkan mental mengatakan hadiah bonus yang dia siapkan khusus bagi pemenang kuis, "...Kamu akan berpasangan dengan murid perempuan satu tingkat kamu yang dipilih secara acak untuk berdansa pertama pada acara penyalaan api unggun malam ini!"
...
...
Krik-krik, krik-krik.
Untuk sejenak pasukan jangkrik paduan suara yang kemudian digantikan dengan teriakan tak percaya dari seluruh penonton.
"HAAAAAAAAAAAAAAAAAHHH!?"
Serius?
Armin? Akan berdansa dengan perempuan? Di acara api unggun?!
"Bagaimana? Kamu pasti suka, 'kan? Hahahaha! Saya juga pernah semuda kamu!" tawa Pixis.
Tidak, tidak. Bukan itu masalahnya, Pixis. Armin yang tak pernah memiliki riwayat romantis dengan perempuan tak mungkin bisa melakukannya. Dia pasti malu! Lagipula belum tentu perempuan yang terpilih nantinya mau berdansa dengannya yang notabene pendek, lugu, dan terkesan feminim
"Umm... bolehkah hadiah bonusnya saya tolak saja, sensei?"
"Hei, jangan begitu. Tidak ada penolakan. Masa' kamu mau melewatkan peluang kamu berdansa dengan perempuan yang kamu sukai?"
Kata-kata 'perempuan yang kamu sukai' langsung bergema dalam pikiran Armin.
Suka.
Suka, ya?
Armin tak menyadarinya. Mungkin tepatnya dia tak mau menyadarinya bahwa setelah Pixis mengatakan itu, dia melirik Annie yang ikut berdiri di bawah panggung. Dan dia yakin gadis itu ikut meliriknya sekarang.
DEG DEG!
Annie yang tahu bahwa dia sedang dilirik langsung berdebar tak karuan. Spontan dia menoleh ke arah lain karena melihat wajah manis Armin itu akan membuat keyakinannya melemah. Lagipula kenapa pemuda itu meliriknya? Apa ada sesuatu di wajahnya? Annie terus berpikir sekaligus gemetar tatkala memikirkan segala kemungkinan.
"...Atau kamu ingin memilihnya sendiri?" pertanyaan Pixis ini sukses membuat Armin tersentak kaget dengan wajah bersemu.
"A-ah! I-itu—bu-bukan begitu, sensei! Sa-saya hanya—"
"Ohooooo~, ada gadis yang kamu sukai sekarang, ya? Hmmm~?"
"Ti-tidak, sa-saya—"
"Kalau kamu sudah punya pacar, kamu bisa ajak dia."
"Sa-saya ti-tidak punya pacar! Su-sungguh, sensei! Saya tidak berbohong!"
Tidak berbohong, huh?
Lalu kenapa Pixis yang sekarang bisa melihat wajah merah padam milik Armin ini mengatakan sebaliknya?
"...Jadi, kamu tak masalah dipilih acak, 'kan?" Armin langsung mengangguk cepat-cepat.
Yah, bukan karena dia mau tapi supaya dia bisa kabur dari sana.
"...Baiklah. kalau itu maumu. Tapi..." Pixis lalu menunduk. Dia berbisik pelan di telinga Armin, "Kalau nama yang keluar adalah gadis yang tak kamu inginkan, kamu bisa mengatakannya pada saya di kantor saya. Secara pribadi. Harus kamu yang menolak, bukan gadis itu. Mengerti, Armin?"
Eh?
Apa katanya tadi? Boleh diganti?
Sekarang Armin memandangi kepala sekolahnya dengan wajah tak percaya. Rupanya Pixis memberikannya opsi. Sasuga, Pixis-sama! Benar-benar perhatian!
"Oke, Rico! Segera acak semua nama murid perempuan seluruh jurusan tingkat satu!" Pixis pun memberi titahnya.
"SIAP LAKSANAKAN, SENSEI!" jawab Rico memberi hormat.
Layar besar yang tertera pertanyaan terakhir kemudian berganti sistem menjadi kocokan arisan dadakan. Seluruh nama dan foto murid perempuan tingkat satu dari seluruh jurusan teracak dengan cepat.
Setelah sekitar 15 detik, barulah Rico mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Memberikan sinyal pada teman-teman panitianya untuk menekan tombol dimana foto dan nama gadis itu akan terpampang sehingga dapat dilihat oleh semua orang.
"SAATNYA MENEKAN BEL MENUJU MOMEN KEROMANTISAN REMAJA, TEMAN-TEMAN!" katanya lantang.
"SIAP!"
Tombol pun ditekan dan keluarlah foto sekaligus nama gadis yang berada di foto tersebut pada layar.
Ekspresi pertama Armin dan kawan-kawan Survey Corps melihat wajah gadis itu adalah shock berat.
Kenapa? Pertanyaan bagus, para pembaca.
.
YMIR
KELAS 1-1 JURUSAN BUDAYA
.
Disaat mereka terkena serangan jantung, bos jangkrik dan teman-teman melakukan kemampuan terbaik mereka dalam menyanyi.
Ya. Itu dia. Itulah nama yang keluar.
Ymir. Tak ada nama Ymir lainnya di tingkat satu kecuali si jangkung dari jurusan Budaya tersebut. Sang pembuli sejati Armin dari restoran makanan laut. Fotonya yang berjerawat dan beraut muka masam itu sudah jelas dikenali sebagai dirinya.
"...Eh?" Eren melotot
"Hah?" Mikasa mendadak kena serangan asma.
Bukan hanya mereka, kawanan jurusan Budaya juga bereaksi sama.
Porco mengusap-usap matanya lalu melihat ke layar lagi. Percuma. Ternyata dia memang tak salah baca. Nama sang sobat dan fotonya benar-benar terpampang disitu, "Oi, aku tak salah baca, 'kan?"
"Se-serius?" Pieck menutup mulutnya yang menganga lebar dengan tangannya.
Sementara itu, Annie dan Hitch yang notabene adalah dua sahabat dekat Ymir langsung mendelik horor pada gadis itu yang berdiri di tengah mereka. Tak jauh beda dari kedua sahabatnya, Ymir juga ikut melotot horor layaknya melihat garis akhir kehidupan.
Waspada jika sang sobat kerasukan, Hitch akhirnya memilih berkicau, "Y-Ymir. Ka-kau tak apa-apa, 'kan?"
BRUUUKH!
Belum sempat Ymir menjawab pertanyaan Hitch, gadis itu mendadak pingsan dalam waktu sepersekian detik. Pose pingsan yang sangat tidak elit. Tubuhnya terbujur kaku persis mayat dengan mulut berbuih.
Hei, dia pingsan atau mati?
"YMIIIIIR!?" kontan Hitch menjerit melihat Ymir sebentar lagi mungkin berubah menjadi mayat.
Annie yang pastinya juga terkejut segera mengguncang bahu Ymir dengan kuat. Jujur, sang pemimpin jurusan Budaya ini tak menyangka Ymir lah yang akan terpilih. Dia hiraukan rasa kecewa yang terbesit dalam pikirannya karena saat ini memastikan Ymir tetap hidup lebih penting.
"Ymir! Ymir! Bangunlah! Apapun yang terjadi, jangan pergi menuju cahaya itu!" ucap Annie panik.
Oke. Ini benar-benar sebuah ironi.
Memang kuis maut. Bahkan setelah selesai pun mendatangkan maut pula.
Terus bagaimana dengan Armin sendiri?
"Tak mungkin. Aku...AKU HARUS BERDANSA DENGAN WANITA BADAK ITUUUUUU!?" memutih. Semuanya menjadi memutih bagi Armin. Pemuda ini garuk-garuk kepala stres dengan muka pucat.
Sialan.
COBAAN MACAM APA INIIIIII!?
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's note: Saat Penulis mengetik halaman ini, Penulis tertawa keras-keras membayangkannya! GYAHAHAHAHAHA! Apa kalian suka halaman ini atau tidak?
Silahkan kirim kesan dan saran kalian. Sampai jumpa!
THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!
