Author's note: Setelah waktu berlalu, Penulis kembali! Penulis sudah tamat! Sudah melaksanakan ujian sidang akhir! JRENG JRENG JRENG!
IIIIIIT'S PARTY TIIIIIIIME!
Itu dia alasan Penulis menghilang begitu lama! Penulis ingin fokus pada studi Penulis dulu. Nah, sekarang kelar juga. Makanya Penulis kembali ke dunia fanfiction. Saatnya melanjutkan fanfic Penulis lainnya. Terutama Girls Are Better Than Boys yang hanya butuh satu chapter lagi untuk tamat. Sudah terketik setengahnya, tinggal setengahnya lagi. Kalau bukan karena idenya hilang karena ditelan aktivitas 'belajar-belajar-belajar', mungkin akan dirilis bersamaan dengan chapter ini. Jadi apa boleh buat. Tolong berikan Penulis waktu untuk menyelesaikannya dengan baik.
Terima kasih kepada para pembaca yang mau meluangkan waktu untuk membaca kisah AruAni kita ini, khususnya yang meninggalkan komentar. Maaf membuat kalian lama menunggu. Oh ya, chapter ini terpaksa dirilis ulang karena ada yang Penulis ubah sedikit di dalamnya. Entah pembaca sadar atau tidak.
.
.
Disclaimer : Isayama Hajime
GADIS IKON SEKOLAH
Halaman Tiga Belas : Kebohongan dan Kenyataan
By Josephine Rose99
.
.
.
.
.
GADIS IKON SEKOLAH
HALAMAN TIGA BELAS
KEBOHONGAN DAN KENYATAAN
By Josephine Rose99
.
.
.
Ruang kelas 1-2 jurusan Budaya sedang dipenuhi aura-aura tidak enak. Bukan aura guru killer, melainkan aura seorang perempuan yang roh kehidupannya hampir terpisah dari raganya. Setelah tersadar dari mimpi buruk, kini dia harus berhadapan dengan kenyataan terkejam dalam sejarah hidupnya.
Ymir duduk selonjoran di kursi paling depan kelas. Kedua tangannya tak bertenaga. Kedua kakinya tak mampu duduk dengan posisi manis, melainkan sedikit mengangkang layaknya gaya duduk lelaki. Wajahnya menengadah ke atas. Mulutnya menganga dan air liur menetes dari sudut bibirnya. Pandangannya benar-benar kosong.
"Ymir? Ymir? Ymir! Hei, kau dengar aku!?" Hitch mengguncang keras bahu Ymir, namun nihil. Tak ada reaksi yang bagus.
Masih keluar kata-kata tak jelas dari mulut yang hobi menghina Armin itu.
"Gragaaghsrrskfffssttgrreeekflalssft..."
Walhasil Marcel jadi garuk-garuk kepala. Dia tak tahu apa yang harus mereka lakukan selanjutnya demi membawa Ymir kembali sadar. Karena meskipun berteriak, gadis itu tak mendengarkan mereka sama sekali.
"Gawat. Dia sudah begini sejak tadi. Bagaimana sekarang?" tanya Marcel menoleh ke kanan-kiri. Bertanya pada teman-teman di sebelahnya yang mungkin punya ide.
"Sini! Biar kutabok wajahnya!" sungguh ide barbar yang datang dari sang Adik sendiri. Porco menggulung lengan pakaiannya. Bersiap mendaratkan tinjunya pada wajah jelek Ymir.
Oke, disini Penulis tampaknya mulai subjektif.
Sebelum wajah hancur Ymir semakin hancur, Pieck langsung menahan bahu Porco, "Tahan sampai disana, saudara Porco," ucapnya jengkel, "Kau gila, ya? Kau justru membuatnya makin tak sadar dengan berbuat begitu!"
"Lalu apa? Kalau tampolanku tak beraksi, bisa-bisa dia sudah di alam lain," balas Porco masih merasa yakin kalau idenya adalah satu-satunya cara.
"Bisakah kau mengerti perasaannya? Dia harus berdansa dengan cowok yang lebih pendek darinya. Parahnya, dia bukan dari jurusan kita!"
"Kalau begitu cepat sadarkan dia sebelum malam tiba! Kalian tahu kalau dia menolak, dia akan berakhir di ruang BP plus ruang kepala sekolah. Masuk mulut buaya kemudian ke mulut singa!"
"Makanya kami sedang berusaha sekarang," Pieck kemudian mengalihkan perhatiannya pada Ymir. Gadis ini berjalan mendekatinya dan berdiri tepat disamping Hitch yang sedari tadi asyik melakukan aksi 'gempa bumi', "Ymir? Ymir, kau tak perlu stres sampai seperti ini, sobat. Ini hanya hal sepele."
Kata-kata yang sangat menyentuh hati, saudari Pieck. Luar biasa.
Kau baru saja mengatakan kata tabu yang hampir membuat Hitch melemparmu keluar kelas.
Dan benar saja. Cahaya kembali diterima oleh mata Ymir. Masih dalam posisi duduk yang sama, gadis itu mati-matian menahan hasrat membunuh yang ingin sekali dia lampiaskan pada kepala sekolah botak itu yang seenaknya menentukan hadiah bonus dari kuis jahanam.
Ymir pun bergumam pelan.
"...Sepele?"
"Hah?"
"Sepele... katamu?" hanya dalam waktu sepersekian detik, Ymir langsung berdiri kemudian menarik kerah kemeja Pieck dan melototinya. Pieck yang tak sempat bersiap cuma bengong dengan sikap barbar Ymir, "AKU BERDANSA DENGAN SI BUDAK CEBOL ITU DI DEPAN SEMUA ORANG DAN KAU KATAKAN ITU HAL SEPELE!? KATAKAN PADAKU, PIECK! BISAKAH KAU MEMBAYANGKAN AKU BERDANSA DENGANNYA!? AKU YANG SETINGGI 172 CM INI BERSAMA SI CEBOL 163 CM! AKU PASTI AKAN TAMPAK LUCU KALAU BERDANSA DENGAN ORANG SEPENDEK ITU!" mendadak suara Ymir mengalahkan kemampuan gema speaker aula utama.
Mari biarkan pasukan kodok dan jangkrik paduan suara sebentar.
Beberapa detik kemudian, barulah kesunyian itu pecah. Marcel, Hitch, dan Porco langsung tertawa terbahak-bahak dengan lebaynya. Sampai menangis segala. Mereka memegangi perut masing-masing tanpa menyadari bahwa aksi mereka memancing aura membunuh Ymir yang makin mengganas saja.
"HAHAHAHAHAHA!"
"GYAHAHAHAHAHAHA!"
"HAHAHAHAHA! ADUH, PERUTKU SAKIIIIIT! AAAAAHAHAHAHA!"
"HENTIKAN TAWAMU, MARCEL! SUARA TAWAMU ITU JUSTRU MEMBANGKITKAN HASRATKU UNTUK MEMBUNUHMU SEKARANG!" Ymir menunjuk Marcel yang tawanya paling puas dengan jari tengah. Sungguh tak sopan.
"Maaf, maaf! Habisnya lucu, 'kan!?" Marcel hampir tertawa lagi di sela-sela bicaranya, "Pasti lucu melihat Armin Arlert yang jauh lebih pendek darimu mencoba merangkul punggung dan pinggangmu! HAHAHAHAHA! ITU LUCU BANGEEEEEETT!"
Bagaikan suatu ironi di atas ironi paling kejam dalam drama, Ymir termakan karma. Setelah apa yang dia lakukan pada Armin di restoran tempat mereka kerja sambilan, sekarang dia akan saling menautkan tangan pada pinggang masing-masing. Teman-temannya masih tertawa setan. Seolah-olah Isayama-sensei bertobat dan malah membuat sang tokoh utama membantai tokoh sampingan lainnya di komiknya.
"TIDAAAAAAAAKK! JIKA INI MIMPI, TOLONG SEGERA BANGUNKAN AKU! LEBIH BAIK AKU BERHADAPAN DENGAN SI BOTAK SADIS ITU DARIPADA HARUS BERDANSA DENGAN SI KURCACIIII!" teriak Ymir makin gila saja. Menatap tak percaya, tersakiti, terkhianati, dan sikap lebay lainnya.
"Awwww~! Berdansa mesra dengan Armin Arlert di depan semua oraaaang~!" Marcel masih asyik menggodanya.
"GYAAAAAAAAA! AKU MULAI BERHALUSINASI! TOLONG PANGGILKAN PETUGAS RUMAH SAKIT JIWA SEBELUM AKU MENYEBERANGI GARIS PEMBATAS!" Ymir tak mendengar godaan Marcel lagi. Dia terus bersikap layaknya korban utama dari kuis sebelumnya dibanding Armin dan kawan-kawan yang mempertaruhkan nyawa di kursi listrik.
Singkatnya? Singkatnya hatinya hancur, saudara-saudara. Ck ck ck.
"Ymir! Tenang dulu!" hanya Pieck yang masih peduli. Dia memegang kedua pipi Ymir sambil mengguncang kepalanya. Maklum, gadis itu dari tadi teriak-teriak histeris. Itu sangat berisik. Apa dia sadar kalau suaranya bisa saja sampai ke gedung guru?
Bicara soal berisik, berdiri tak jauh dari mereka seseorang yang tak sedikitpun berkomentar. Dirinya hanya berdiri bersandar pada papan tulis sembari menyilangkan tangan. Terus memberi tatapan datar pada Pieck yang kali ini menjambak rambut Ymir supaya—demi apapun, gadis itu diam.
Entah apa yang dipikirkannya, tapi tampaknya dia tak begitu tertarik untuk bergabung dalam suasana konyol sekaligus mencekam tersebut. Dia memilih pergi dari sana tanpa mengatakan apapun.
Sampai setidaknya Hitch memanggilnya.
"Annie, kau mau kemana?"
Annie terus berjalan, kemudian membalas kalem, "...Kemanapun asal menjauh darinya."
"Oi, kau tak ingin mengembalikan kewarasan Ymir?" tanya Porco menunjuk Ymir. Yah, Porco hanya heran. Bukankah Ymir ini sahabat dekat Annie? Tapi kenapa gadis itu malah cuek bebek?
"Tak tertarik."
Sungguh jawaban klise Annie. Dingin seperti biasa.
Maka, tinggal lah teman-temannya menatapnya dengan heran yang telah berlalu dari tempat itu.
.
Disisi lain
Ruang rapat OSIS...
.
.
Lain hal dengan teriakan gila di jurusan Budaya, ruang rapat OSIS lain lagi. Setelah kuis maut selesai, seluruh anggota kelas 1 Survey Corps dikumpulkan oleh Hange dan yang lainnya. Sementara para juniornya duduk, gadis berkacamata itu membuka laptopnya dan memperlihatkan beberapa foto melalui layar proyektor. Terpaksa protes Armin yang meminta 75% hadiah uang tunai kuis ditunda dulu. Karena tampaknya suasana sedang serius. Lihat saja ekspresi konyol Hange yang biasa dia tunjukkan malah menghilang.
Hange berhasil mendapatkan perhatian dari seluruh peserta rapat. Tak mau membuang waktu dan tak mau berbasa-basi, dia pun berkata, "Langsung saja. Kami baru saja mendapat laporan bahwa mereka kemungkinan akan tiba di sekolah tercinta kita ini sebelum acara penyalaan api unggun. Dari informasi tersebut, SMA Trost ternyata menjalin aliansi dengan sekolah lain, yaitu SMK Rose Selatan. Kerja sama mereka baru terjadi kemarin."
Mereka yang berpikir bahwa mungkin mereka sekarang bisa bernapas lega begitu lolos dari kuis jahanam yang dibawakan oleh pembawa acara jahanam, ternyata terlalu naïf.
Apanya yang lega? Justru sekarang mereka melototi Hange seseram mungkin sampai Hange berpikir seperti 'kenapa kalian malah melototiku?'.
"APA!?" Jean menjadi orang pertama yang menutup suasana kesunyian sesaat.
"SENPAI SERIUS!?" disusul Reiner tak kalah keras.
"SMA TROST BEKERJA SAMA DENGAN SMK ROSE SELATAN!?" diikuti Connie.
"Jadi kita akan melawan dua sekolah sekaligus!?" kalau ini Marco yang kakinya malah gemetar hebat karena tak menyangka kalau situasi mereka jadi lebih buruk.
"Ck, apa sih yang dilakukan perempuan itu sampai jadi begini!? Buat repot saja!" Eren lain soal. Pemuda ini mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
Disisi lain, Armin yang juga ikut terkejut dengan info barusan menjadi ikut berpikir keras. Dia menunduk, memikirkan apa yang dikatakan Eren sebelumnya.
Bocah Yeager itu benar. Kalau benar Annie hanya menghajar orang-orang SMA Trost, SMK Rose Selatan tak mungkin ikut campur. Ini bisa diartikan Annie pernah berurusan dengan SMK tersebut. Entah kapan dan entah dimana. Tapi meskipun begitu, apa yang dilakukan Annie sampai kedua sekolah itu memburunya sejauh ini?
"Annie..." sayang sekali. Armin tak bisa menemukan jawaban logis apapun. Otak jeniusnya tak bisa berpikir jernih ketika terkait Annie.
Sebelum mereka teriak sahut-sahutan seperti keadaan di seberang sana, Hange berdeham keras.
Maka seketika situasi ruang rapat terkendali. Mereka terdiam di kursi masing-masing. Walau para junior tersebut tak bisa menutupi kegelisahan yang terpampang di wajah.
"Kita tak bisa berlama-lama. Waktu terus berjalan. Jadi biar kukatakan hasil rundingan kami bersama Erwin saat kalian sibuk bersorak-sorak di aula tadi," katanya yang kemudian mengangkat ketiga jarinya, "Ada tiga pilihan untuk menentukan metode serangan. Pertama, kita tidak mengikuti perayaan ulang tahun sampai selesai. Kita bagi pasukan kita menjadi dua kemudian berangkat ke SMA Trost dan SMK Rose Selatan. Kita tunggu mereka keluar dari sekolah lalu kita sergap."
Armin langsung berceletuk, "Itu terlalu ceroboh, Hange-senpai. Tidak ada jaminan besar bahwa kita bisa menangkap murid-murid tersebut. Membagi pasukan kita menjadi dua itu tidak efektif. Bisa saja mereka meminta bantuan dari murid-murid sekolah yang sama walau mereka bukan anggota OSIS sekalipun. Akan jauh lebih efektif bagi kita untuk menargetkan satu sekolah saja. Tapi itu bukan pilihan karena jika kita berkonsentrasi melawan satu sekolah, sekolah lainnya dengan mudah mengacaukan sekolah ini."
"Luar biasa, Armin. Pikiranmu tajam seperti biasanya," balas Hange memberi acungan jempol padanya, "Pilihan kedua, kita bersiap di sekolah menunggu kedatangan mereka kemudian melindungi sekolah sambil menyerang mereka."
Lagi-lagi bukan sebuah pilihan bagi sang pirang jenius. Dia menemukan sebuah lubang pada rencana itu.
"Tak perlu dipertimbangkan. Menurut senpai, seberapa besar nama baik sekolah ini? Jika media mencium tawuran antar sekolah ini akibat dipicu oleh murid sekolah kita, nama baik sekolah pasti akan jatuh. Terlebih lagi Annie adalah murid beasiswa di sekolah ini. SMA Trost dan SMK Rose Selatan pasti sudah mengetahuinya, makanya mereka nekat menyerang di hari ulang tahun sekolah."
"Benar! Yang mana tampaknya pilihan kita satu-satunya adalah pilihan paling masuk akal alias pilihan ketiga atau terakhir," ekspresi Hange berubah. Senyum lebarnya berubah menjadi senyum kecut, "...Tapi aku yakin semua orang disini selain Eren, Connie, dan Sasha menyadarinya," begini katanya malah me-list orang-orang dengan kemampuan berpikir paling menyedihkan di antara mereka.
Salah satu dari tiga orang dungu tersebut alias Sasha pun buka suara.
"A-apa itu, Hange-senpai? Pilihan ketiga kita..."
Hange menarik napas panjang sebelum mengatakannya.
Sebelum mengatakan pilihan paling menyakitkan itu.
"Meminta membatalkan perayaan hari ulang tahun, mengkemas semua peralatan tempur, dan pulang ke rumah masing-masing."
Yup. Memang sebuah pilihan yang tak bisa diterima begitu saja.
Eren yang paling menantikan pertempuran ini mendelik tercengang di kursinya. Dan tentunya reaksinya juga menular pada peserta rapat lain, khususnya Bertolt yang sempat tak sadarkan diri berkat aliran listrik dari kursi jahanam buatan panitia jahanam.
"Hange-senpai, apa kau ingin membatalkan rencana ini setelah aku disetrum tanpa rasa manusiawi, kemudian tersadar di ranjang klinik sekolah, dan menyadari rambutku sudah bersaudara dengan tokoh blondie jabrik dari fandom anime sebelah!?" tanyanya nyaris ingin menerkam Hange dan melemparnya ke laut saat itu juga.
Apa-apaan? Dia tak bisa menerima ini! Senior berkacamata itu bisa sesantai jidat mengatakan dirinya berkemas dan melupakan alasan mengapa dia berakhir di klinik sekolah. Ini penghinaan!
"Tidak, Bertolt. Jika SMA Trost menjalin kerja sama dengan SMK itu, mungkin inilah pilihan paling tepat. Ini bukan tawuran antar sekolah biasa dimana kau bisa menyerang membabi buta. Kita disini mempertaruhkan nama baik sekolah," siapa sangka sang sobat baiknya aka Reiner malah setuju dengan pilihan absurd Hange? Rasanya sebuah panah telah menghujam hati Bertolt sekarang.
Inikah yang mereka sebut dengan 'persahabatan itu serapuh gelembung'?
Lupakan Bertolt yang ingin memaki Reiner saat itu juga. Historia telah mengambil kesimpulan dari perdebatan.
"Berarti kita mengambil pilihan terakhir?" tanyanya memastikan.
"Tunggu! Jadi kalian setuju dengan rencana ini? Rencana menyerah ini!?" Eren satu tim dengan Bertolt. Ini bukan Eren Yeager sekali jika menyerah sebelum bertempur.
"Benar! Benar! Pokoknya aku tak setuju!" Bertolt membuat spanduk dadakan bertuliskan 'Dengarkan Demokrasi Kaum Minoritas!' sampai mengacungkannya segala. Benar-benar niat.
Selagi Eren dan Bertolt sibuk memamerkan gigi runcing ala monster untuk melawan pendapat mayoritas yang masih kukuh untuk menyerah, Mikasa justru sibuk memerhatikan hal lain. Ini sangat langka mengingat hal yang selalu dia perhatikan adalah bocah berisik penegak keadilan. Kali ini gadis oriental manis ini memberikan tatapan serius pada Armin yang sekarang malah tersenyum.
Mikasa sama sekali tak mengerti maksud dibalik senyuman tersebut, tapi wajah Armin tak tersenyum sama sekali.
"...Ada apa?"
Mikasa yang sangat irit berbicara layaknya Emak-Emak yang menghemat keuangan keluarga tiba-tiba bersuara di tengah keributan begitu pastinya mencolok. Seketika gilanya Eren dan Bertolt berhenti.
Suasana yang hening tersebut dimanfaatkan olehnya dengan pertanyaan kedua kepada orang yang sama.
"Maukah kau memberitahu kami alasan dibalik munculnya senyum di wajahmu itu, Armin?"
Tak perlu dikomando, seluruh orang di ruangan rapat tersebut kemudian menoleh pada Armin. Dan benar saja. Mereka mendapati Armin tersenyum seperti yang dikatakan Mikasa. Namun tetap saja keringat yang membasahi dahinya itu bukan berarti pertanda baik.
Mengetahui bahwa sekarang dirinya menjadi pusat perhatian, maka Armin pun mengatakan pendapatnya.
"Aku hanya memikirkan betapa hijaunya teman-temanku ini menerima mentah-mentah satu-satunya opsi kita. Itu saja."
Apa-apaan itu? Tak biasanya seorang Armin Arlert bicara sepercaya diri itu. Biasanya juga kalau dia bicara, pasti keluar aura-aura feminim yang cocok sekali dengan pembawaannya. Sayangnya, hari ini Armin lain dari yang lain. Lebih gahar dan macho dari biasanya. Rawr~.
Connie yang tersinggung dikatai 'hijau' langsung membalas, "Apa maksudmu berkata begitu, Armin?"
"...Apa yang membuat kalian berpikir kalau kita tidak memiliki pilihan keempat?"
Pilihan keempat?
Ada satu pilihan lain diluar tiga pilihan?
"Keempat!?" teman-temannya bingung bersamaan.
"...Maksudmu?" tanya Mikasa belum mengerti.
"Daripada menunggu kita diserang atau menyerang satu target saja, lebih baik kita menyerang titik kumpul kedua sekolah tersebut. Lalu kita serang mereka dengan kekuatan penuh sembari terus membiarkan perayaan hari ulang tahun sekolah berlangsung."
"APA!?"
Hei, apa benar Armin mengajukan ide gila itu? Sebenarnya apa yang terjadi pada isi kepalanya? Armin sungguh tidak seperti dirinya hari ini. Apa ini ada hubungannya dengan kuis Rico?
Marco segera menolak mentah-mentah, "Itu terlalu ceroboh!"
"Benar! Kita kalah jumlah!" disahut oleh Historia yang pada dasarnya memang takut.
"Karena itulah aku menyebut kalian hijau. Apa kalian masih belum mengerti?" Armin kemudian menatap Hange, Levi, serta Mike yang juga balas menatapnya, "Alasan kenapa seluruh anggota Survey Corps tingkat satu dipanggil adalah untuk memastikan mungkin tidaknya pilihan keempat ini. Benar 'kan, senpai?"
"Eh?"
"Hah?"
Situasi berubah. Pandangan seluruh penonton beralih dari Armin kepada tiga senior pasukan penegak hukum dan keadilan sekolah.
Lalu apa yang mereka dapat? Jari telunjuk Hange yang mengarah pada Armin diiringi senyum unjuk gigi.
"Seperti biasa nalurimu sungguh sangat tajam, Armin! Kau memang benar!" katanya setengah teriak.
"HAH!?"
Eren mengibaskan tangannya, memberi tanda supaya pembicaraan jangan dilanjutkan lebih jauh sebelum memberinya penjelasan. Istilahnya, bocah ini panik sendiri.
"Tunggu dulu! Aku masih belum paham! Apa maksudnya dengan pilihan keempat kita, Armin? Maksudnya dengan tujuan Hange-senpai dan yang lain mengumpulkan kita? Hah? Hah!?"
Dan senior-senior yang Eren maksud tadi hanya menatap Eren dengan tatapan datar layaknya tatapan yang diberikan pada makhluk hidup primitif dari zaman megalithikum yang belum mengenal pendidikan dan cara kerja otak. Eren tak mungkin sadar dengan tatapan itu. Dia masih saja linglung dengan bodohnya.
Armin menghela napas berat, merasa lelah menghadapi kedunguan Eren yang terkadang membuatnya heran kenapa bocah itu bisa menjadi keturunan dari seorang Grisha Yeager yang seorang dokter.
"Maksudku, Eren..." Armin akhirnya meringkas inti pembicaraan, "Senpai ingin kita menjalin kerja sama dengan jurusan Budaya sampai tawuran selesai."
Layaknya mendapat hantaman telak dari takdir, Eren membeku.
Sudut bibirnya hanya mampu berkedut. Eren ingin mengatakan sesuatu, namun ragu. Dia menoleh pada Hange kemudian menoleh pada Armin. Menoleh pada Hange dan pada Armin lagi. Tadinya dia ingin mendengar bahwa ini semua hanya lelucon. Sayangnya ekspresi serius dari kedua orang tersebut membungkam pikirannya yang menurutnya tak mungkin organisasi semurni Survey Corps mau bekerja sama dengan sekelompok berandalan sekolah.
"Ja-jadi itu benar? Kita akan membuat aliansi dengan mereka?" tanyanya gemetar yang kemudian mendapat anggukan dari Armin, "Tu-tunggu dulu! Kenapa pula kita harus bekerja sama dengan jurusan Budaya!? Mereka musuh kita, 'kan!?"
"Jumlah kita masih kurang, Eren. Selain itu kita juga membutuhkan banyak petarung kuat. Jurusan Budaya memiliki banyak orang-orang seperti itu. Jika kita bekerja sama, itu bisa menjadi bumerang bagi SMA Trost dan SMK Rose Selatan," alasan logis dari Armin ini tak dapat dibantah lagi oleh Eren. Pemuda ini seketika tak suka dengan perubahan situasi yang awalnya dia mengira akan baik-baik saja.
Benar bahwa mereka butuh bala bantuan. Tentunya mereka tak bisa meminta bantuan dari murid jurusan lain. Orang-orang yang tak mengetahui penyerangan ini pasti akan curiga jika menemukan satu per satu orang di sekitar mereka menghilang. Lain hal dengan murid jurusan Budaya. Kebebasan bersikap serampangan yang mereka miliki takkan mengundang perhatian guru meski tak berada di antara kerumunan siswa yang mengikuti festival.
Tapi, tunggu. Menjalin aliansi dengan jurusan Budaya berarti...
"Kau bisa melakukannya, Armin?" celetukan Mikasa membuktikan kekhawatiran Eren.
Benar juga.
Di antara mereka semua, Armin satu-satunya yang dekat dengan Annie. Bahkan sampai pulang sekolah bersama. Gadis yang selalu menunjukkan aura penolakan terhadap orang-orang di sekitarnya itu mengecualikannya khusus pada Armin.
Tak ada jalan lain. Dari awal Armin memang diperintah untuk menggali informasi soal dirinya. Waktunya telah tiba. Armin tak bisa mundur lagi. Namun masalahnya, jika gadis itu tahu Armin anggota Survey Corps, bukankah berarti Annie akan berpikir bahwa Armin telah menipunya? Apa Levi, Mike, dan Hange serius? Armin bisa dikirim ke rumah sakit dalam dua detik!
Eren baru saja ingin menghentikan Armin berbuat ceroboh jika saja jawaban tegas dari Armin keluar dari mulutnya.
"Bisa."
Tak ada yang memungkiri bahwa mereka terpukau dengan jawaban itu. Bahkan Levi sendiri juga ikut kagum. Padahal dia yakin Armin mengetahui sendiri risiko yang dia hadapi begitu mengatakan kebenarannya.
"Kau benar-benar siap, Armin? Berterus terang akan semuanya?" tanya Levi serius.
"Ya. Semua demi nama baik sekolah ini," jawab Armin lebih serius.
Bohong.
Sangat jelas pemuda rambut pirang bob ini berbohong.
Peduli pada sekolah? Itu bukan alasan utama. Dia hanya tak bisa membiarkan Annie dilukai oleh sekumpulan pembalas dendam. Selain itu, kejadian ini bisa berdampak lebih buruk seperti beasiswa Annie yang akan dicabut. Jika itu benar-benar terjadi, maka apalagi yang tersisa? Yang benar saja. Armin tak mau itu menjadi kenyataan.
Kepalanya menunduk. Tak berani memandang teman-temannya yang kini menatapnya kasihan. Entah apa yang mereka pikirkan, tapi percayalah pikiran mereka sangat jauh berbeda dengan Mikasa.
Jika Eren dan yang lainnya kasihan pada Armin yang kemungkinan akan disambut dengan rentetan tinju dari gadis barbar itu, Mikasa justru berpikir sebaliknya. Dia tak sebodoh itu untuk tidak peka bahwa hubungan Armin dan Annie bukan sekadar mata-mata dengan targetnya. Mikasa tahu bahwa yang ditakutkan Armin adalah reaksi perasaan Annie dan bukan reaksi fisiknya.
Karena bukankah aneh? Hampir setengah semester Armin memata-matai Armin, tapi sahabatnya selalu mengatakan tak ada informasi yang berguna. Bukankah itu omong kosong? Sudah pasti sesuatu sedang ditutupi olehnya.
Tapi apa yang bisa Mikasa lakukan?
"Armin..."
Disela keheningan tersebut, Mike berujar dengan nada perintah, "Pergilah sekarang juga ke wilayah jurusan Budaya, Armin. Kita berpacu dengan waktu."
Sial.
Waktu yang diberikan pun terlalu sempit.
"Baik, sen—"
"Tunggu sebentar!" tiba-tiba Mikasa mengangkat tangannya sebelum Armin benar-benar pergi ke wilayah terlarang.
Langkah Armin terhenti. Kini pandangannya beralih pada sahabat masa kecilnya itu.
"Mikasa?"
"Saya ingin mengajukan ide. Bisakah kalian semua mendengarnya dulu?"
...
~Gadis Ikon Sekolah Page Thirteen~
...
.
.
Mikasa Ackerman.
Setelah ini, Armin akan membeli pancake kesukaannya sebanyak apapun yang dia inginkan. Walau harus menguras tabungannya, bentuk ungkapan terima kasih ini benar-benar diberikan pada perempuan itu. Idenya sangat sederhana. Tidak rumit dan mudah dimengerti, bahkan bagi trio dengan kemampuan berpikir menyedihkan sekalipun.
Kalian tahu maksud Penulis, bukan? Ya, itu hanya ungkapan halus saja. Rasanya terlalu kasar menyebut Eren, Connie, dan Sasha sebagai trio bodoh tak tertolong. Mungkin Albert Einstein sekalipun akan geleng-geleng kepala menyaksikan keidiotan mereka bertiga yang berada di ambang batas perikenormalan.
Maka disinilah Armin berada. Dirinya terus menyusuri lorong gedung praktikum yang sepi. Tak butuh waktu lama baginya yang akan masuk ke wilayah paling terlarang di seluruh Elshin. Dan kini terlihat di hadapannya ruangan yang menjadi penanda masuknya ke wilayah itu.
Gudang siaran.
Gudang yang berada tepat di sebelah ruang siaran tersebut memiliki peraturan khusus yang diketahui seluruh murid Elshin. Walau berada di wilayah jurusan Budaya, namun anggota klub siaran dan koran sekolah yang berasal dari jurusan lain diperbolehkan disana. Mungkin Armin seharusnya masuk ke klub tersebut dibanding organisasi yang isinya hanya dipenuhi orang-orang aneh. Lagipula dia akan jauh lebih aman ke jurusan Budaya jika begitu.
Bicara soal gudang siaran, tiba-tiba kenangan Armin bangkit. Dia ingat. Disinilah dirinya bertemu Annie pertama kali. Gadis pirang bermata sinis itu sedang merokok dan Armin menceramahinya.
Senyum kecil terukir di wajah Armin saat dirinya berdiri di depan gudang ini. Kepalanya mendongak sembari menatap papan nama ruangan tersebut. Entah apa yang merasukinya, Armin meraih kenop pintu gudang lalu membukanya. Ingin bernostalgia? Hanya si jenius ini yang tahu.
Namun ternyata yang menantinya di dalam gudang siaran adalah sesuatu yang terlibat dengan nostalgianya.
"Armin?"
Armin langsung mengenali suara yang menyebut namanya barusan. Dan begitu dia menoleh ke sumber suara, dia mendapati seseorang yang sangat dia kenal sedang duduk di meja sudut gudang dengan rokok di tangannya.
Siapa lagi kalau bukan Annie Leonhart?
"A-Annie!?" Armin spontan melotot, "Kau merokok?"
"Apa yang kau lakukan disini? Kau tahu bukan seberapa bahayanya jika murid-murid jurusan Budaya melihatmu?" Annie lain cerita. Dia lebih shock melihat Armin malah mampir ke jurusannya. Bodohkah pemuda itu? Walau Armin adalah orang yang dia kenal, bukan berarti Armin tetap selamat di wilayah ini.
"Itu tidak penting," Armin menggubris pertanyaan ini. Segera dia melangkah cepat mendekati gadis itu dengan wajah serius.
Annie mengernyitkan dahinya melihat reaksi Armin yang tak asing ini. Dia tak bergerak sedikitpun dari duduknya sampai kemudian Armin telah berdiri di dekatnya dan mengambil rokok dari tangannya.
Annie tak menyangka akan hal itu pun hanya bisa tercengang. Dia terngaga seolah tak percaya pemuda culun ini bisa-bisanya melakukan sesuatu yang menantang kematian.
"Hei, apa yang kau lakukan?!"
Bukan Armin namanya jika dia takut dengan ekspresi horor Annie selama dirinya benar.
"Aku bertemu denganmu di gudang ini dua kali dan dua kali pula aku memergokimu merokok. Apa kau tahu betapa berbahayanya merokok itu, Annie? Hentikan kebiasaan burukmu ini sekarang juga dan biasakan hidup sehat!" balas Armin sembari melempar rokok Annie ke lantai gudang lalu menginjak-injaknya. Annie pun semakin melotot.
Rokoknya diinjak? Apa-apaan? Rokoknya bahkan belum habis!
"Armin, kau—"
"Merokok bisa menyebabkan kanker, Annie. Mulai dari kanker paru-paru, kanker mulut, faring, kerongkongan, hati, pankreas, dan organ lainnya. Bukan hanya kanker, risiko terkena diabetes juga meningkat. Sistem imun tubuh ikut melemah. Bukan hanya itu, sentivitas lidah sebagai indera pengecap dan hidung sebagai pencium menurun. Dan tambahan untukmu, seluruh sistem kardiovaskularmu bisa rusak!"
Sejujurnya Annie tak mengerti sama sekali dengan beberapa istilah ilmiah dari perkataan Armin, tapi persetan soal itu. Annie justru memberikan tatapan menusuk. Dingin sekali sampai ke tulang-tulang, "Simpan kuliah kesehatanmu itu untuk dirimu sendiri. Kenapa kau mengurusiku? Kau bukan Ibuku."
Sungguh balasan paling bodoh, Annie. Bukannya makin takut, kejengkelan Armin bertambah. Diliriknya bungkus rokok yang terbuka di saku hoodie hijau tua Annie. Ternyata isinya masih cukup banyak. Apa gadis ini berniat menghabiskan sebungkus benda perusak ini? Memikirkannya saja membuat Armin kesal. Maka tanpa izin, Armin langsung merebut bungkus rokok tersebut dari sakunya dan berlalu dari tempat Annie. Dia harus membuang benda bodoh ini ke tong sampah diluar gudang!
Melihat bungkus rokoknya berpindah tangan membuat Annie seketika berdiri dan mengejar Armin, "Hey! Kembalikan rokokku!"
"Tidak mau."
"Kembalikan!"
"Tidak."
"Kubilang kembalikan!"
Sebelum Armin meraih pintu, Annie berhasil menangkap lengannya. Dengan kasar Annie menarik lengannya hingga pemuda itu hampir jatuh. Annie pun mengulur tangannya, mencoba mengambil bungkus rokok di gengggaman Armin. Namun Armin belum menyerah. Dia menepis tangan Annie lalu berdiri tegak kembali sebelum kemudian menarik lengannya yang masih tak ingin Annie lepaskan.
Masalahnya Armin lupa bahwa tenaga Annie sama persis dengan suku barbar zaman pra sejarah sehingga jelas sekali Armin kalah kuat. Jadi ketika Annie menariknya lagi, Armin pasti akan tersungkur jika tidak menjejakkan kakinya dengan kuat. Singkatnya? Singkatnya saat ini mereka sedang 'bergulat' demi rokok-kun. Ck ck ck ck.
"Kau benar-benar cari maut ya, Arlert?"
"Annie yang mencari maut itu sendiri! Bukan aku!"
"Berikan padaku sekarang!"
"Tidak mau! Akan kubuang benda bodoh ini ke tong sampah!"
"Apa!? Akulah yang akan membuangmu ke tempat busuk itu kalau kau tak segera mengembalikan rokokku!"
Aksi tarik-menarik ala tarik tambang tampaknya akan segera berakhir, saudara-saudara. Kalian tanya kenapa? Pertanyaan bagus. Itu karena Armin tersentak saat Annie menariknya lebih kasar, sehingga Armin terpaksa menarik tubuhnya walau kakinya harus terseret. Namun rokok yang dipegangnya malah terlepas dan tempat mendarat rokok tersebut juga sangat membuat Annie shock.
Rokok itu mendarat di tabung tinta yang berada di atas tumpukan buku. Tutupnya yang terbuka seolah mempersilahkan sang rokok untuk ikut bergabung dengan para tinta di dalamnya. Alhasil jadilah rokok Annie berubah dari putih menjadi hitam.
Gulatnya terpaksa dihentikan dulu. Dua murd Elshin ini hanya mampu terpaku di tempat.
Sudut mata Annie berkedut-kedut. Empat persimpangan merah muncul di dahinya. Kekesalannya memuncak. Langsung saja gadis ini menarik kerah pakaian Armin dan memberikan pelototan layaknya siap membunuh pemuda itu.
Seram. Seram sekali! Kaki Armin saja sampai bergetar! Ternyata Annie seseram ini saat marah, ya?
"Aku sampai menghemat uang bulananku demi bisa membeli sebungkus rokok dan kau membuangnya. Sekarang katakan. Kau ingin tinjuku atau tendanganku?" begini katanya penuh ancaman.
Dalam hati Armin sudah komat-kamit berdo'a supaya ini bukan hari terakhirnya menghirup oksigen. Tapi dia masih punya keberanian untuk menjawab, "A-aku ingin Annie berhenti merokok. Itu saja..."
"Haaaah? Kau tak dengar apa kataku tadi?"
"Pokoknya aku takkan membiarkanmu menghisap benda bodoh itu lagi," Armin kemudian merogoh sesuatu dari kantong celananya. Sebuah permen kopi dia sodorkan pada Annie meski kerahnya masih dicengkeram kuat olehnya, "Ka-kau bisa memakan permen sebagai gantinya. Ini."
"...Permen kopi? Kau menyogokku dengan ini supaya aku melupakan rokokku?" ekspresi Annie makin seram saja. Tak heran Armin berkeringat dingin.
"Tak sepahit kopi, kok! Ada rasa manisnya! Co-cobalah!"
Sial. Seandainya Armin tipikal laki-laki yang dia benci, pasti Annie sudah melemparnya keluar gudang dari jendela. Namun melihat wajah Armin yang ketakutan itu membuat Annie tak tega untuk terus melakukan tindakannya. Gadis ini pun melepas cengkeramannya pada Armin dan membiarkannya menghela napas lega sejenak. Setelahnya Annie menerima permen kopi pemberian Armin. Dia membuka bungkusnya lalu memakannya.
Annie tak begitu suka dengan kopi. Rasanya yang pahit menjadikannya salah satu minuman yang tak dia sukai, tapi permen kopi ini rasanya tak begitu buruk. Seperti kata Armin, rasa manis yang sedikit keluar dari permen ini membuat hasilnya cukup enak.
Melihat Annie tak mengatakan apapun selagi memakan permen pemberiannya, Armin jadi sedikit senang begitu tahu bahwa permennya setidaknya bisa memperbaiki suasana hati Annie, "Bagaimana? Enak, 'kan? Aku sering beli ini di minimarket di komplek tempat tinggal kita."
"Cih. Terserahmu saja..." baiklah. Annie biarkan laki-laki ini lolos kali ini. Dia muak berdebat "Jadi? Kenapa kau bisa disini, jenius? Apa mungkin kejeniusanmu berubah menjadi kebodohan karena terlalu lama di dekat Eren sampai tak tahu ini wilayah yang paling berbahaya untuk kau datangi?" lagi-lagi Annie menanyakan pertanyaan yang tidak dijawab Armin sebelumnya.
"Annie sendiri? Kupikir kau sedang bersama Hitch atau Ymir. Kenapa disini sendirian?" Armin tanya balik.
"Oh. Aku hanya muak mengurus si perempuan jangkung itu sekarang. Makanya aku disini," balas Annie kalem, "Aku benci mengatakan ini, tapi aku melihat gadis yang akan berdansa denganmu di malam api unggun akan menjadi pasien rumah sakit jiwa setempat."
Hah? Bukankah gadis itu pada awalnya memang tinggal di tempat dimana dihuni orang-orang sekaum dengannya?
"Apa? Ymir? Memang apa yang terjadi padanya?" Armin langsung pasang raut muka bête. Ya, soalnya tanpa ditanya pun, dia punya firasat bahwa reaksi perempuan jangkung sialan itu adalah sesuatu yang sangat menyakiti hati Armin. Umm, maksudnya bukan karena Armin punya secret feeling tentunya.
"Dia pingsan di aula tadi begitu namanya keluar di layar. Dan begitu bangun, hal pertama yang dilakukannya adalah bergumam tak jelas dengan pandangan kosong. Dia bahkan hampir membunuh Marcel dan Porco karena kedua orang itu terus menggodanya."
Armin sweatdrop.
Yah, sesuai dugaan sih. Mana mungkin si penindas sejati itu mau merelakan pinggangnya untuk dirangkul Armin di saat-saat yang seluruh murid nyatakan sebagai momen romantis. Dan sekadar informasi, Armin juga tak mau. Lagipula dengan Ymir yang setinggi itu, bukannya akan sulit berdansa dengannya? Tampaknya Armin memang harus melapor pada Pak tua Pixis untuk ganti pasangan.
"Be-begitu, ya?" ujar Armin pelan.
"Bagaimana denganmu?"
"Hah?"
"Kau tak masalah berdansa dengannya?"
Sangat masalah, Annie. SANGAT MASALAH.
Tapi Armin tak bisa terang-terangan begitu.
"Aku tak bisa mengatakan apapun, 'kan? Maksudku, begitulah peraturan kuis tadi. Jadi, yaaa..."
"Apa ada gadis tertentu yang sebenarnya ingin kau ajak berdansa, Armin?"
DEG!
Apakah nomor 911 bisa dihubungi untuk segera membawa Armin ke rumah sakit supaya dapat memeriksakan ritme jantungnya? Terlalu cepat. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Apakah Annie menyadari wajahnya sekarang merah padam? Tapi sejak kapan dirinya bersikap seperti ini?
Ini seperti dirinya sekarang punya perasa—
"Eh? Ah! Ti-tidak! Tidak! Tak ada! Lagipula siapa yang mau berdansa denganku? Kalau gadis itu mau, pasti dia akan jadi bahan tertawaan seluruh sekolah. Tak mungkin ada yang mau tulus berdansa dengan orang culun, pendek, tak menarik, lemah, dan cengeng sepertiku ini. Ahahaha..." ucap Armin tertawa garing sambil menggaruk tengkuknya.
Laki-laki ini merendah lagi. Annie tak suka itu. Benar dia culun, lemah, dan pendek. Tapi bicara soal pendek, Annie lebih pendek darinya. Lalu tak menarik? Mana mungkin bagian itu bisa Annie terima semenjak dirinya menemukan sisi menarik dari laki-laki yang paling dia percayai ini.
"Jangan merendahkan dirimu sendiri. Kau tidak seburuk itu, kau tahu? Kau hanya perlu percaya diri," balas Annie.
Armin sedikit termangu mendengar kata-kata seperti itu keluar dari seorang Annie Leonhart. Siapa sangka gadis yang terkenal dengan sikap dingin dan kasarnya ini, yang nyaris menghajarnya karena membuat rokoknya berganti warna kulit bisa memujinya? Tapi mendengar itu langsung darinya, entah kenapa membuat Armin lebih bahagia daripada pujian jenius yang disematkan padanya.
Gawat. Jantungnya berdebar kencang lagi.
"A-Annie sendiri akan berdansa dengan siapa malam ini? Kau pasti sudah punya... pasangan, 'kan?" sungguh, Armin sebenarnya ingin mengganti topik. Masalahnya topik yang dia usulkan malah menjadi bumerang pada hatinya.
Menanyakan pasangan dansa Annie? Bodohkah dirinya? Kenapa pula dia merasa sedih? Dengan siapa Annie berdansa, itu bukan urusannya. Namun Armin tak bisa membohongi diri begitu merasakan dadanya jadi sedikit sakit.
Beruntung suasana hatinya kembali normal begitu Annie bersuara.
"Aku tak suka dengan dansa. Lagipula aku tak bisa berdansa. Jadi aku berniat menonton saja malam ini."
Jawaban tersebut hampir saja membuat dirinya gagal menyembunyikan senyum bahagianya.
Apa yang Armin pikirkan? Dia tak mengerti.
Sayangnya topik pasangan dansa ini harus berakhir karena sedetik kemudian alis Armin berkedut, pertanda dia menyadari bahwa sebenarnya dari awal dia berhasil melaksanakan langkah pertama misinya.
Dia datang kemari bukan untuk bernostalgia. Dia datang mencari Annie.
Dia harus bicara pada gadis ini untuk menjalin aliansi. Hampir saja dia lupa. Sekarang Annie berdiri di hadapannya. Apakah dia akan membuang kesempatan ini begitu saja? Tak mungkin!
"Oh ya, Annie. Bisakah kita bicara sebentar? Sebenarnya aku datang ke jurusanmu untuk mencarimu."
Kedua alis Annie sedikit terangkat.
Armin datang mencarinya?
"Apa terjadi sesuatu?" tanyanya bingung.
Hening menyapa.
Armin menunduk. Tak mampu menatap mata Annie lama-lama.
Sekarang bagaimana? Seperti apa rangkaian kalimat yang harus dia ucapkan? Salah bicara saja, Annie akan langsung mencapnya sebagai musuh. Armin tak mau itu terjadi. Dia tak ingin gadis ini menjauhinya.
Armin mengenyahkan pikiran bodoh itu. Kalau dia mundur, Annie bisa terluka, bukan? Itu jauh lebih buruk daripada gadis ini memusuhinya. Kalau benar dirinya peduli padanya, Armin akan mempertaruhkan segalanya sekarang.
"Annie, apa kau tahu kalau sekolah lain akan datang kemari untuk mencarimu?"
Annie tak langsung menjawab. Dia terdiam sejenak.
Sekolah lain?
Apa maksudnya? Beginilah pikirnya.
"Hah? Apa yang kau bicarakan?" Annie bisa menangkap nada serius dari pertanyaan Armin tadi. Karena itulah dia berubah serius saat bertanya balik.
Armin menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Mengumpulkan keberanian sebelum berujar, "SMA Trost dan SMK Rose Selatan akan menyerang sekolah kita sebelum penyalaan api unggun. Kudengar mereka punya dendam pribadi padamu, makanya sampai nekat melakukannya."
"Apa?!"
Armin bisa melihat perubahan raut wajah Annie. Gadis ini masih memproses informasi darinya. Kini dia benar-benar percaya kalau Annie memang memiliki masalah dengan murid-murid preman itu. Karena apa? Karena sekarang Annie menggeram kesal sambil mengepalkan tinjunya erat-serat. Raut wajah kesalnya itu merusak ekspresi dingin yang biasanya selalu dia pasang.
"Sial! Orang-orang kurang ajar itu..." desisnya penuh emosi. Tinju dan tendangannya waktu itu ternyata belum cukup memberi pelajaran pada musuhnya. Dan sekarang mereka mau ke Elshin? Sungguh merepotkan.
Dia tak tahu kalau akhirnya akan begini. Sekarang dia harus bagaimana? Seluruh wilayah Elshin akan jadi medan perang gara-gara dia.
Namun tak lama kemudian, Annie langsung menoleh pada Armin dengan tampang curiga. Informasi sepenting ini bisa diketahui Armin. Ini aneh, "Tunggu. Darimana kau tahu informasi ini, Armin?"
Ini dia.
Armin tahu pertanyaan itu akan memancing pertanyaan berbahaya lainnya. Tak ada jalan lain baginya selain menjawab.
"Dari Eren dan Mikasa."
Begitu kedua nama tak asing itu disebut, Annie semakin curiga, "Eren dan Mikasa? Dan darimana pula mereka bisa tahu?"
"I-itu..."
Armin yang terdiam membuat Annie mendesaknya, "Armin?"
Jauh di dalam benak Armin, dia berpikir.
Haruskah dia mengikuti ide Mikasa ini? Apa ini memang satu-satunya cara supaya Annie tetap percaya padanya? Tapi meski dia melakukannya sekarang, gadis di hadapannya ini pasti akan tahu cepat atau lambat.
Percuma. Otak jeniusnya tak mampu berpikir jernih. Ini hal langka. Semua karena Annie. Semua tentangnya tak bisa membuat Armin mengeluarkan seluruh kemampuan logikanya.
"...Eren dan Mikasa adalah anggota Survey Corps, Annie. Mereka mendapatkan informasi ini dari senior kelas tiga, lalu memberitahuku."
Akhirnya dia mengatakan sebuah kebenaran dibalik kebohongan.
Dan selanjutnya bisa ditebak. Annie tercengang, shock, terluka, tersakiti, atau deskripsi memilukan lainnya.
Benar bahwa hubungan Annie dengan kedua orang itu tidak begitu dekat. Mereka bahkan jarang mengobrol. Tapi, Eren dan Mikasa tetaplah sahabat Armin. Bukankah ini berarti bahwa teman dari temannya adalah musuhnya? Ironi macam apa ini?
"Kau bercanda..."
"...Aku tak ingin mereka sampai membuat keributan di sekolah kita. Karena itulah aku mencarimu untuk bertanya langsung padamu tentang apa yang kau lakukan sampai terjadi hal seperti ini."
"Berarti kau sudah tahu?"
"Huh?"
"Kalau kedua temanmu itu benar-benar anggota Survey Corps, mereka pasti memberitahumu identitasku sebenarnya. Bahwa aku adalah ketua jurusan Budaya saat ini dan tentunya itu menjadikanku sebagai musuh besar mereka."
Hening lagi.
Lagi-lagi suara murid yang mengikuti festival yang terdengar samar-samar mengisi keheningan di antara mereka.
Ingin sekali Armin kabur dari tempat itu sekarang juga saking terlalu takut menjawab. Apakah bisa dia menyebut dirinya laki-laki? Cukup gayanya saja yang feminim, jangan mentalnya pula. Dia harus bicara. Katakan sesuatu!
Gagal. Gagal total. Tak satupun kata keluar. Armin hanya mengangguk. Yah, lagipula itu sudah mewakili jawaban 'ya'.
Apakah Annie puas sampai disana? Itu hanya ilusi.
"Lalu kau sendiri bagaimana?"
Serius, Annie paling tak ingin menanyakan ini. Dia terlalu takut dengan jawaban Armin. Tidak, dia tidak siap dan takkan pernah siap.
"...Huh?"
"...Apa jangan-jangan kau... juga bagian dari orang-orang itu?"
Mungkin meminta Armin mengatakan kebenarannya adalah langkah yang kurang tepat. Ini benar-benar sesuai dugaan Mikasa.
Apa-apaan wajah takut dari seorang Annie itu? Apakah dia setakut itu dikhianati oleh Armin sedari awal?
Bibir Armin bergetar. Apa dia tetap mengikuti petunjuk sahabatnya atau menghadapinya secara langsung? Tidak. Dia tak bisa. Ekspresi gadis di depannya adalah petunjuk mutlak bahwa dia tak bisa menyakiti kepercayaannya apapun yang terjadi.
"Tidak..."
Tampaknya keputusan Armin Arlert sudah bulat.
"...Aku bukan anggota Survey Corps, Annie. Tenang saja," senyum manis yang dia perlihatkan berhasil menenangkan hati Annie yang was-was menunggu.
Satu lagi.
Satu lagi kebohongan yang dia katakan padanya.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's note: Kasihan sih pada Annie yang dibohongi, tapi Armin harus profesional, 'kan? Hmmm, entah seperti apa selanjutnya hubungan mereka begitu aliansi terjalin. Meski begitu, Penulis akan menyajikan momen-momen tersebut dengan sebaik mungkin. Oh, omong-omong, terima kasih mau membaca. Sampai jumpa di halaman selanjutnya!
THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!
