Author's note: Penulis akhirnya kembali lagi! Membawa halaman baru fanfic Gadis Ikon Sekolah, akhirnya Penulis bisa fokus pada dua fanfic Aruani kita. Terima kasih pada para pembaca yang mau meninggalkan jejak di fanfic ini. Namun sekali lagi, Penulis mengingatkan bahwa Penulis bukanlah profesional, jadi semoga kalian suka dengan halaman ini.
Tanpa banyak bacot, mari kita langsung terjun saja!
.
.
Disclaimer : Isayama Hajime
GADIS IKON SEKOLAH
Halaman Empat Belas : Perundingan
By Josephine Rose99
.
.
.
.
.
GADIS IKON SEKOLAH
HALAMAN EMPAT BELAS
PERUNDINGAN
By Josephine Rose99
.
.
.
Diselenggarakannya festival ulang tahun Elshin membuat gedung orkestra benar-benar kosong. Tepatnya bukan karena tidak ada satupun murid yang bersantai di ruangan dingin dan nyaman tersebut, melainkan karena dikunci oleh guru pengawas. Tetapi berkat permintaan Annie, dua dari murid jurusan Budaya tingkat satu meminta izin meminjam gedung itu. Berterimakasihlah pada bakat musik Annie sehingga guru pengawas langsung memberikan kuncinya hanya dengan alasan 'Annie Leonhart-san ingin latihan orkestra bersama senior tingkat dua'.
Ya, gadis itu segera menghubungi beberapa... err, anak buahnya? Entahlah. Mereka dengan tulus menawarkan diri menjadi babunya selama bersekolah disini. Lumayan mendapat pembokat gratis. Annie takkan menyia-nyiakan keuntungan ini, bukan? Pada intinya, setelah mendengar permintaan Armin, Annie menghubungi mereka untuk meminjam gedung orkestra pada guru pengawas. Alasannya sih klise. Jika di dalam kelas akan jadi pusat perhatian orang-orang lewat. Namun jika dilakukan di gedung orkestra yang di pinggir sekolah, maka dipastikan aman. Mengingat tak ada murid disana karena sibuk menikmati festival.
Tidak butuh waktu lama bagi setiap murid pentolan di jurusan musuh Survey corps ini berkumpul. Yah, mungkin akibat perintah dari Annie sendiri. Mengingat jurusan ini sangat kental akan sistem loyalitas, maka mereka berbondong-bondong masuk ke gedung orkestra. Tentu saja, teman-teman Annie pula. Alasannya cukup jelas. Mereka semua, dari Hitch, Galliard bersaudara, Pieck, dan Ymir merupakan murid-murid yang terkenal akan kepiawaiannya dalam memimpin geng-geng di jurusan itu.
Hiruk-pikuk mulai terdengar ketika setidaknya lebih dari 30 orang telah berkerumun. Hingga kemudian suara-suara berisik itu perlahan menghilang setelah sang ketua sendiri muncul. Langkah bergaya super tomboy itu cukup membuat mereka mengalihkan perhatian mereka pada alasan dibalik kenapa mereka dikumpulkan disini.
Yah, sampai kemudian pentolan utama jurusan Budaya kita menyadari sosok familiar yang berjalan di belakang gadis pendek itu. Tak terelakkan bagi Hitch dan kawan-kawan untuk langsung jawdrop dua meter.
"Itu...Armin Arlert?" layaknya mendapati pasangan sedang selingkuh, Porco terkena crucial attack. Pemuda ini bertanya-tanya apa gerangan seseorang dari jurusan lain bisa berjalan santai di dekat Annie! Dia menoleh ke kanan-kiri seolah meminta jawaban dari pertanyaan menggusarkan di dalam kepalanya.
Bukan hanya dirimu yang kebingungan sekarang, Porco. Ruangan yang tadinya hening menjadi sedikit berisik. Tapi Annie masa bodoh. Dia menghiraukan suara-suara menyebalkan itu semua dan memilih berdiri tegak di depan mereka dengan Armin disampingnya.
Lalu apakah sifat cueknya tersebut mampu membuat pentolan murid jurusan Budaya diam?
Tidak mungkin.
"Sebentar. Dia pemenang kuis tadi, 'kan?" tanya Pieck entah pada siapa sembari menunjuk Armin.
"Iya. Pasangan kencan Ymir malam ini~," Marcel lain lagi. Bocah ini malah memercik kerusuhan tanpa mengetahui gadis yang dia singgung sekarang mengaktifkan aura-aura membunuh dahsyat.
"MAU APA KAU KEMARI, KURCACI SIALAN!?" sesuai dugaan kita, saudara-saudara. Ymir menjadi orang paling sensi tatkala melihat sosok Armin sekaligus godaan Marcel yang ingin membuatnya menampol wajah bocah itu bolak-balik.
Disisi lain, Armin hanya menatap Ymir datar. Namun percayalah bahwa hatinya sedang bête saat ini. Tidak di restoran, tidak di sekolah, kenapa gadis itu selalu memusuhinya? Ini tidak adil. Bahkan Historia saja diperlakukan spesial walau dari jurusan Busana dan Kecantikan. Kenapa dirinya tidak?
"Dia mulai lagi..." Armin tidak berniat meladeni teriakan gahar sahabat Annie itu. Buang-buang waktu. Dan berhubung Arlert adalah seorang berpikir kritis, maka dia tidak tertarik berurusan dengan otak seseorang yang sedang dalam krisis.
Sedangkan Annie hanya menatap si gadis jangkung dengan lirikan tajam. Perasaannya mengatakan bahwa hubungan Armin dan Ymir bukan permusuhan jurusan semata. Soalnya setiap kali Annie berada di dekat Armin, pembuli barbar itu akan berteriak-teriak tidak jelas dan percayalah, jika bukan karena di wilayah institusi pendidikan begini, mungkin Armin sudah menjadi pasien langganan di klinik sekolah.
Ymir tidak berhenti sampai disini, teman-teman. Dia menunjuk Armin dengan jari tengah. Sungguh tidak sopan, "Hoi, Annie! Sebelum aku membejek-bejek anak ini sampai tidak berbentuk, cepat jelaskan alasanmu membawanya ke jurusan kita!"
"Bukan untuk mempercepat acara dansa romantis Ymir, 'kan? Hahahaha!" Marcel masih tertawa sok asyik.
Ymir langsung memaki dengan gaya preman, "WOI! KAU BOSAN HIDUP YA, MARCEL!?"
Sebelum benar-benar terjadi pembantaian berdarah, Annie pun mengambil alih.
"Aku tak membawanya untuk omong kosong begitu, Marcel. Aku membawa Armin kemari karena ada hal penting yang ingin dia katakan pada kalian," ucap Annie tenang sembari melirik Ymir yang sudah angkat kaki dari kerumunan. Ya, Ymir hanya ingin menghindar—pergi dan tidak peduli sama sekali pada urusan korban kemaniakannnya di tempatnya kerja sambilan. Pokoknya terserah!
Sayang sekali, Ymir. Itu semua terlambat ketika Annie mengeluarkan aura-aura tidak enak dan tentunya melempar pelototan setan terbaiknya, sehingga Ymir yang merasakan sesuatu seolah dirinya sedang menjadi target pembunuh bayaran otomatis berhenti.
"Termasuk kau juga, Ymir. Karena kau juga bagian dari jurusan Budaya," Annie menurunkan volume suaranya, namun penekanan pada setiap kata itu cukup memberikan rasa traumatis bagi Annie.
"Ingin katakan apa? Mengatakan 'maukah engkau berdansa denganku malam ini, princess?' pada Ymir dan meminta persetujuan dari kami semua?" serius, Marcel. Kau masih tidak mau berhenti?
"Hei, ambilkan aku batu, kayu, besi, atau apapun itu! Cepat! Biar kubunuh Galliard sulung bajingan ini sekarang juga!"
Melihat kondisi mulai tidak kondusif, Hitch menghela napas berat bak Ibu-Ibu lanjut usia. Dia tahu jika dia membiarkan situasi ini terus mengalir, maka dia takkan kaget menyaksikan seorang Marcel Galliard berakhir menjadi spesies punah. Yup, tampaknya Hitch harus menjadi pelerai kali ini.
"Marcel, berhentilah menggoda Ymir. Kau ini benar-benar cari mati atau apa?" ujarnya malas. Ayolah, kalian pasti mengerti. Apa Marcel tidak bisa melihat tampang Ymir berubah ganas begitu? Lagipula Hitch tidak mau mengurus Ymir yang siap mortal combat-an dengan Galliard sulung sialan itu jika benar-benar terjadi adegan saling bunuh disini.
"Maaf, maaf. Aku hanya bercanda," Marcel cengar-cengir sembari mengibas-kibaskan tangannya. Kemudian dia menoleh pada Armin, "Jadi, apa yang ingin kau katakan, Arlert?" tanyanya kali ini serius.
Ketika Marcel membuka kembali ruang diskusi, seluruh pandangan pentolan jurusan Budaya tertuju pada sang jenius sepanjang sejarah Elshin.
Mengetahui bahwa dirinya sekarang menjadi pusat perhatian, seketika Armin merasakan tubuhnya sedikit gemetar. Dia gugup.
"I-itu..." sial. Waktunya terlalu sedikit untuk menemukan kata-kata paling sesuai untuk disampaikan pada seluruh teman (bawahan) Annie. Terkutuklah Hange dan teman-temannya yang memberikannya tugas merepotkan. Harus Armin akui, perundingan ini lebih sulit daripada mempertaruhkan nyawanya di atas kursi listrik di kuis jahanam Rico.
Namun sebelum Armin memanfaatkan waktunya menyusun kalimat, Marcel lebih dulu menimpal, "Terus terang saja, meskipun sikapku terlihat santai, bukan berarti aku menerima kehadiranmu. Ini juga berlaku bagi mereka semua."
Uh-oh.
Dua kalimat tersebut cukup bagi Armin untuk menyimpulkan suasana hati Marcel.
Dia serius. Pemuda itu serius bahwa dia hanya sedang menahan diri dari menghajarnya.
Armin susah payah meneguk air ludah, namun kerongkongannya sangat defisit air saat ini. Sungguh, tadinya dia sempat menganggap Marcel akan bersikap bersahabat dengannya seperti Hitch ketika mereka satu kelompok dalam praktikum Biologi. Kalian masih ingat topik praktikum absurd mereka? Well, jauh beda dari Ymir yang bersikap layaknya menganggap dirinya sumber alergi.
Lantas Annie pun memberikan pandangan tidak suka, "Marcel..."
"Apa? Aku benar, 'kan? Lagipula dia sendirian. Murid jurusan lain tanpa pertahanan begini pasti mudah dijadikan sandera untuk menghajar orang-orang jurusannya."
"Tak usah dijadikan sandera. Hajar saja dia sekarang. Dan jika kalian tak mau melakukannya, biar aku," komentar Porco membela saudaranya.
"Tidak, biar aku saja! Jika aku merusak wajah tololnya itu, maka aku tak perlu berdansa dengannya malam ini!" tebak siapa yang mengatakan ini.
"Kau gila ya, Ymir? Kalau kau menghajarnya, kau akan berhadapan dengan Pixis-sensei. Skenario lebih buruk, Shadis-sensei. Apa kau mau wajah rusakmu itu semakin rusak karena tinju sakti si botak?" sembur Hitch judes tepat sasaran. Berhasil membuat Ymir tutup mulut sambil menebah dada tatkala mendengar sang sahabat malah menyelipkan sepenggal kalimat hinaan dalam kata-katanya barusan.
Please, para pembaca. Perasaan Ymir yang terkhianati itu sama seperti ketika kalian tahu bahwa Ayah kalian berselingkuh, terus kalian ditinggal nikah oleh honey bunny sweety kalian, terus kalian gagal lulus ujian masuk universitas, terus lamaran kerja kalian ditolak semua perusahaan, dan plus kalian akhirnya mengetahui bahwa ternyata akun kalian dijadikan objek penipuan aplikasi belanja online oleh orang tidak dikenal.
Intinya apa? Intinya ouch berkali-kali lipat tak kasat mata right in the kokoro. Ck ck ck ck.
Sejujurnya ini hal wajar. Penolakan terhadap kehadiran Armin di jurusan Budaya pasti mengundang kontroversi dari setiap murid. Terlalu naif mengharapkan bahwa setidaknya akan muncul perdamaian di tengah-tengah perang antar sekolah semudah ini.
Annie menghela napas panjang sebelum berujar dengan penuh penekanan, "Dengar..."
"Hah?"
Kurang dari dua detik, atmosfer seisi ruangan menjadi berat.
Annie menunduk. Ekspresinya tak terbaca sama sekali. Sementara yang lain menahan napas. Bukan karena supaya tidak menghirup gas beracun yang keluar dari lubang bokong Porco, melainkan bersiap untuk kabur jika Annie masuk mode berserk—tidak, dia memang sudah masuk mode itu! Lihatlah ekspresi Annie ketika mendongak yang sangat serius—atau mungkin marah? Entahlah. Namun yang pasti itu bukan pertanda baik.
"...Jika kalian berani menyentuh Armin sedikit saja..." Annie bersuara sangat dalam sembari menunjukkan wajah mengerikan yang biasanya dia tunjukkan pada musuh, "...Maka aku akan mempraktikan kemampuan bela diriku secara brutal pada wajah setiap dari kalian."
Hening. Tidak ada suara. Tidak ada selain suara napas mereka yang shock mendengar sang ketua malah melindungi murid jurusan lain.
Ini keajaiban. Lebih tepatnya keanehan.
Seorang Leonhart bersusah payah melindungi pemuda feminim itu?
Pieck menyadari keganjilan tersebut kemudian berujar, "Annie-chan, kau tahu kalau kata-katamu itu bisa membuat kami salah paham, 'kan? Apa hubunganmu dengan anak kesehatan ini?"
"Tak ada hubungan apa-apa. Sudahlah, ada yang lebih penting dari itu. Jadi biarkan Armin menyelesaikan perkataannya dan jangan menyela."
Demikian penyebab kenapa sekarang Armin kembali menjadi satu-satunya sasaran pandangan tajam sekaligus tidak suka dari murid jurusan dimana tempat berkumpul para ahli seni tersebut.
Ini bukan saatnya mengacaukan momen ini. Armin memahami hal itu. Pemuda ini pun menarik napas panjang, mencoba menenangkan deru jantungnya. Dia tak bisa berlama-lama. Survey corps menunggu hasil memuaskan setelah dia meninggalkan wilayah jurusan ini.
Setelah berhasil mengendalikan diri, Armin kemudian mengatakan beberapa kalimat pembuka.
"...Aku tahu kalian semua tak menyukai keberadaanku di tempat ini, tapi ada yang harus kusampaikan pada kalian. Ini terkait Annie, ketua kalian sendiri."
Pieck mengernyitkan dahi, "Soal Annie-chan?"
Armin pun mengangguk kecil, "Hn," lantas setelahnya gugup datang menyerang, "Se-sebenarnya... ummm..."
Lagi-lagi kata-kata lenyap berganti kesunyian.
Penulis paham bahwa kalian sedang menahan diri untuk menghajar bocah ini, namun baginya menyampaikan pesan dari para senior serta kenyataan pahit tentang sekolahnya membutuhkan nyali lebih besar daripada kalian kira.
Armin mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tangannya memerah. Kedua alis tebalnya bertaut. Dia menjadi lebih tertekan dari biasanya, namun ekspresi serius yang dia tunjukkan membuat orang-orang jurusan Budaya di hadapannya tetap terdiam.
"...SMA Trost dan SMK Rose Selatan akan datang tawuran di sekolah kita sebelum acara api unggun dimulai."
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, wajah pentolan para preman tersebut menggambarkan ekspresi yang idiot sekali. Tiba-tiba mendapatkan serangan kejutan seperti informasi barusan tidak dapat membuat siapapun menyalahkan mereka, bukan? Mulut mereka menganga lebar bak kuda nil, mengundang lalat-lalat untuk hinggap di gua bau penuh lendir itu.
Akan tetapi tampang bodoh tadi segera hilang, tergantikan oleh raut wajah tertohok yang justru membuat wajah bodoh sebelumnya terlihat semakin bodoh. Oh, ayolah! Kalian pasti mengerti bagaimana perasaan mereka dimana seharusnya mereka bersenang-senang menikmati festival ulang tahun sekolah, berubah drastis menjadi peringatan pembantaian massal.
"Apa!?" teriak salah satu murid laki-laki setinggi rata-rata.
"Serius!?" disusul oleh murid lainnya.
"Tunggu! Kenapa mereka melakukan itu? Apa yang terjadi!?"
"Dasar bodoh! Tidak penting apa alasan mereka! Yang terpenting adalah bagaimana soal nasib festival kita!?"
Begitulah suara-suara bersahutan di kerumunan. Mengatakan komentar masing-masing sembari mencari jawaban dari sekitar sehingga pandangan mereka terhadap Armin pun lepas. Yah, setidaknya itu tidak berlaku bagi teman-teman sekelas Annie. Postur tubuh mereka menunjukkan sikap tenang sebelum diterpa badai. Well, bukan berarti mereka bisa menyembunyikan perasaan terguncang seperti yang lain.
Mereka memang tercengang, namun bukan karena informasinya, melainkan pada fakta 'kenapa Armin Arlert tahu soal itu?'.
Sikap kalem ini tidak lepas dari pengawasan Annie. Masih berdiri tegak sembari melipat tangan, gadis ini bertanya penuh kecurigaan, "...Jangan-jangan... kalian sudah tahu dari awal?"
"Begitulah," jawab Porco enteng.
"Apa?" Annie mendelik horor, "Tunggu. Lalu kenapa kalian tidak mengatakan apapun padaku?"
"Kami saja baru tahu informasi ini pagi tadi. Dan waktu kami ingin memberitahumu, kau malah menghilang, nona," Hitch segera menyahut sebelum sang sahabat salah paham. Annie hanya mendecih kesal.
Pentingkah semua percakapan ini? Tidak bagi Pieck. Berterimakasihlah pada kejeniusan yang tidak kalah dari murid andalan jurusan Kesehatan tersebut. Gadis bermata malas ini langsung mencium bau-bau tidak beres. Lirikan tajamnya sekarang tertuju pada Armin seolah menuntut kata-kata lebih dari sekadar penyampaian. Tentu saja Armin menyadari pandangan penuh kecurigaan dari Pieck.
Namun sebelum dia melanjutkan, Pieck lebih dulu memotong, "Dari mana kau tahu soal ini, Arlert? Ini informasi rahasia. Kurang dari 5 persen siswa di Elshin yang tahu soal penyerangan ini,"
Seketika suara yang saling bersahutan hilang ditelan bumi.
Pieck tahu sekarang adalah momen pribadi. Ini kebetulan bagus. Saatnya menunjukkan betapa tajam pikiran yang dia miliki, "Aku dan teman-temanku saja baru tahu beberapa jam lalu. Berhubung ini berkaitan dengan Annie-chan, sudah sewajarnya kami, murid-murid jurusan Budaya lebih dulu mendapatkan informasi ini. Lalu kenapa orang luar sepertimu bisa memperolehnya juga?"
Senyum menantang tidak akan pudar dari wajah Pieck sampai dia mendapatkan jawaban yang memuaskan. Walau kini disampingnya bergerombol orang-orang berkeinginan sama, Pieck tidak memilih mundur menekan Armin sampai pemuda itu berkeringat dingin. Sasuga, jurusan Budaya. Kalau soal begini memang ahlinya. Yah, namanya juga teman-teman Annie. Armin takkan heran jika menjumpai gadis berwatak sama.
Armin menunduk, berdeham sebentar. Lantas kemudian mendongak memandang gadis yang sedari tadi menunggunya bicara, "Baiklah. Sebelum itu, ada yang harus kujelaskan..."
Okay, here goes nothing.
"Aku kemari menggantikan Mikasa. Info ini juga kuketahui darinya. Tapi karena aku tahu akan ada perkelahian jika Mikasa kemari menemui kalian, aku lalu menawarkan diri menggantinya."
"Mikasa? Siapa dia?" Pieck kehilangan petunjuk. Siapa pula Mikasa ini? Tak pernah mendengar nama itu.
Armin tadinya mau membalas, tetapi Hitch segera menyeletuk, "Salah satu temannya. Mereka selalu bersama-sama dengan bocah Eren,"
"Kau kenal, Hitch?" tanya Marcel heran Hitch bisa mengenal baik orang-orang di luar teritori.
"Aku sekelas dengan mereka di beberapa pelajaran,"
"Lalu ada apa dengan Mikasa ini sampai kau menggantikannya?" pertanyaan bagus, Pieck. Sangat bagus bagi Armin sampai dirinya tidak berkutik.
Baiklah, sejujurnya mudah saja mengatakan alasan mengapa Mikasa tidak datang bersamanya. Namun mengingat nyali bocah pendek ini malah menciut, mendadak pikirannya kosong. Ratusan alasan karangan terbaiknya lenyap ditelan kabut.
Tsk. Sekarang bagaimana? Berpikir, Armin! Gunakan IQ diatas 200-mu itu! Jangan sia-siakan julukan jenius sepanjang sejarah Elshin!
Tidak, percuma. Tidak ada satupun rencana yang cukup bagus supaya membuatnya terhindar dari situasi hidup-mati ini. Sial, tahu begini dia mengajak Mikasa dan Eren saja. Kenapa pula dia tadi berlagak bisa menangani semuanya sendirian? Armin tidak bisa menerima ini. Selalu saja kesialan menguntitnya kemana-mana. Dari disangka perempuan (bocah ini sering menerima confession dari laki-laki normal sampai LGBT), diejek kurcaci oleh seekor setan betina(?), terpaksa menjadi korban para senior demi mengikuti kuis jahanam yang dibawakan senior jahanam, terus malah harus berdansa dengan setan betina yang sama yang mengejeknya kurcaci, terus dia harus terjebak dalam situasi dimana jika dia mengatakan kebenarannya, maka dia resmi menjadi samsak gratis satu jurusan.
Hanya satu kalimat yang cocok menggambarkan ini. WHAT THE HELL!?
Sayang sekali, Armin. Memang tidak ada jalan selain kembali ke rencana awal. Risiko akan dihabisi sekaligus dijauhi Annie tepat di hadapannya, namun tidak ada gunanya ragu. Armin juga tidak bisa membiarkan keheningan ini berlangsung lama.
"...Mikasa anggota Survey corps."
Selama ini Armin berpikir bahwa nama besar Survey corps di sekolah ini merupakan sesuatu yang biasa saja baginya. Mungkin dampak Levi dan kawan-kawan menjadikan kepala setiap murid nakal sebagai sasaran gagang sapu membuat murid-murid lain tidak mau berurusan dengan mereka. Namun untuk yang satu ini adalah pengecualian.
Apa-apaan ini? Kenapa suasananya jadi berat begini? Tidak, ini jauh lebih berat daripada ditatapi oleh mata setan Annie. Lihatlah ekspresi terpukul setiap dari mereka yang melempar pelototan terbaik seakan melihat Armin sebagai villain utama di dalam sebuah komik.
Dia tahu situasi ini akan semakin memburuk jika dia melanjutkan kata-katanya, namun Armin memilih terus maju, "...Bukan hanya Mikasa, Eren juga. Dan beberapa teman-temanku bergabung dengan organisasi itu..."
Tidak sampai dua detik setelah Armin selesai bicara, hampir seluruh dari mereka terkesiap, shock berat setelah mengetahui identitas dari sumber darimana informasi ini didapatkan. Khususnya Pieck dan yang lainnya.
Lantas mereka melirik Annie dengan tajam. Tidak percaya sekaligus terluka karena gadis tersebut malah begitu santai membawa Armin ke jurusan mereka. Apakah ini artinya kepercayaan yang mereka taruh pada gadis itu bukan apa-apa baginya?
Porco menjadi orang pertama mengeluarkan protes. Emosinya tidak terbendung lagi! "Annie, apa yang kau pikirkan!? Kau membawa musuh kemari!? Yang benar saja!"
"Hei, tunggu dulu—" Armin bahkan tidak diberikan kesempatan bicara lagi berkat suara protes datang berbondong-bondong.
"Aku tak menyangka anggota Survey corps bertindak setolol ini. Nyalimu hebat juga datang kemari sendirian, sialan," sahut murid lainnya.
Kondisi memanas. Tidak ada ruang bagi Armin menghentikan seruan demo yang kini mutlak diresmikan sebagai ancaman.
"Survey corps! Dia anggota Survey corps!"
"Jangan kau kira ada kesempatan mendekati kami, apalagi ketua!"
"Bunuh dia! Bunuh!"
"Hei, bawakan alat musik di ruang peralatan gedung ini! Kita tak perlu memedulikan berapa harganya selama kita bisa menghancurkan kepala si brengsek yang menganggap dirinya penegak keadilan sekolah!"
"Tunggu apa lagi? Habisi dia!"
"Tidak salah aku mencurigaimu, kurcaci! Ternyata kau ada maksud tersembunyi terhadap Annie! Pantas saja kau—"
"DIAM!"
Bentakan Annie otomatis membuat teman-temannya yang sedari tadi menyudutkan tamu pribadinya menjadi terkesiap. Sejenak bulu kuduk merinding karena tidak biasanya seorang Annie yang dikenal tenang dan dingin bisa emosional dalam waktu singkat.
Bukan hanya orang-orang jurusan Budaya, Armin sendiri hampir terkena serangan jantung tatkala mendengar Annie membentak begitu. Raut wajahnya sudah menyeramkan sekali, was-was jika Annie benar-benar menunjukkan kemampuan bela dirinya pada orang-orang di depannya. Yah, walau sebenarnya Armin belum pernah melihat Annie bertarung dan dia juga tidak berminat menyaksikannya.
Setelah suara-suara berisik tidak terdengar lagi, barulah Annie menurunkan bahunya yang menegang. Dia membiarkan pandangannya tetap tertuju pada mata teman-temannya yang kini menatapnya seolah tidak percaya. Entah karena suara meninggi ataukah sikap protektifnya pada Armin.
Annie menghela napas panjang, "...Sudah kukatakan di awal, bukan? Jangan sentuh Armin dengan tangan kotor kalian."
Jika Porco sekadar antek-antek jurusan biasa, dia tak mungkin memiliki cukup nyali untuk membalas perkataan Annie. Beruntung pemuda ini cukup terpandang di antara orang-orang tersebut sehingga dia menunjuk Armin dengan penuh murka, "Oi, Annie, apa-apaan kau? Dia itu Survey corps! Kau adalah target utama mereka! Bisa-bisanya kau lebih mendengarkan musuhmu dibandingkan teman-temanmu sendiri! Apa kau kehilangan akal sehat?"
"Armin bukan anggota Survey corps! Hanya teman-temannya yang bergabung, bukan dia!"
"Omong kosong! Kau pikir kami mempercayainya!?"
"Bagaimana mungkin dia tidak terlibat dengan organisasi sok penegak keadilan itu, sementara teman-temannya sendiri bergabung? Itu mencurigakan, Annie!" analisis yang bagus, Ymir. Aneh jika seseorang tidak terbawa arus ketika arus tersebut terlalu kuat untuk dia tahan.
Armin meneguk ludah kesekian kali. Serius, dia takut jika Annie curiga padanya setelah mendengar kata-kata Ymir meskipun gadis itu sendiri tidak salah. Berterimakasihlah pada Eren yang seenaknya mendaftarkan dirinya ke organisasi delusional begitu. Sial.
Namun siapa sangka Annie justru kukuh membelanya?
"Kalian tahu 'kan kalau organisasi bodoh itu memilih anggotanya dari kemampuan fisiknya? Sekarang lihat Armin baik-baik. Apa menurut kalian fisiknya terlihat menarik bagi orang-orang itu?" balasan Annie mengenai sasaran.
Seketika para bos geng di jurusan Budaya memandang Armin dari bawah ke atas. Untuk sesaat Armin merasa risih diperhatikan lekat-lekat.
Kemudian muncul sebuah kalimat secara serempak di pikiran mereka setelah beberapa saat menganalisis.
"Be-benar juga..." beginilah batin mereka sweatdrop parah.
Seumur-umur Survey corps tidak mungkin mengubah peraturan mutlak mereka, yaitu 'harus memiliki kemampuan bela diri yang cukup untuk menghabisi leher orang-orang dalam sekali serang'. Secara lawan utama mereka adalah sekumpulan preman. Dan jika seorang Armin Arlert diterima, sejak kapan organisasi berkedok pahlawan dengan tujuan ideal bisa berganti sebagai perkumpulan tukang sirkus? Uh-huh, setidaknya beginilah pikir preman-preman sekolah ini tanpa mengetahui kenyataan.
Walau pikiran ini sempat terlintas, akan tetapi ada seekor kutu air mengangkat tangan layaknya sedang diabsen ketika pembagian harta warisan.
"Bisa saja fisiknya menipu, ketua. Buktinya ketua sendiri juga begitu. Postur kecil ketua pernah menipu sebagian dari kami. Nyatanya bela diri ketua diatas rata-rata," ujarnya masih meragukan Armin.
"Aku yakin Ymir bisa menjadi saksi akan hal ini," kali ini Annie melempar tatapannya pada makhluk... kingdomnya tidak jelas apa, yang penting bergerak, bernapas, dan hiduplah, "Ymir, kau bekerja bersamanya di restoran, 'kan? Aku mendengar dari Armin kalau kau selalu memberikan pekerjaan aneh-aneh padanya," mau tak mau Annie jengkel mengatakan ini. Memang Armin tidak pernah berkata terus terang, namun mengingat gadis ini tahu betul perangai Ymir yang kental akan riwayat konyol perang antar jurusan di Elshin, tak mungkin dia tidak bisa menebak apa yang dilakukannya selama kerja sambilan.
Ymir disini langsung mengaktifkan death glare dari mata sinisnya pada sang korban langganan buli, "Oooohh, rupanya Arlert-chan tipe pengadu, ya~?"
Diberi pandangan begitu, tak elak kedua kaki Armin bergetar hebat. Yah, siapa juga yang tidak takut ketika dirimu terjebak seperti tikus di pojokan? Mana Armin belum resign dari restoran itu. Bisa-bisa setelah tawuran tamat, nyawanya yang selanjutnya bakal tamat.
"Kau sendiri yang mengadu padaku, dasar bodoh. Kau sering mengatakan kalau kau punya mainan baru, 'kan? Begitu aku tahu kalau Armin juga part time disana, aku langsung tahu Armin adalah mainan yang kau maksud," sembur Annie judes tepat pada target. Ymir hanya bisa bercih-cih ria di tempat.
Hitch menaikkan sebelah alisnya, "Kalian teman kerja?"
"Aku tak pernah ingat kapan aku berteman dengan si banci pendek itu," ucap Ymir malah rasis. Sementara Armin mati-matian menahan hasratnya untuk melempar sepatu ke wajah gadis dedemit ini.
"Bagaimana menurutmu tentang fisiknya, Ymir?" Annie langsung menyela sebelum pembicaraan melebar kemana-mana.
Ymir benci mengakui ini, namun mengingat sang ketua sekaligus sahabat sendiri menuntutnya jujur, benar bahwa dia tahu betul fisik Armin luar dalam. Tidak sia-sia menjadikan ember berisi air dengan berat berkilo-kilo sebagai barbel dadakan. Dari situ saja Ymir tahu bagaimana power seorang Arlert setelah dia K.O tidak sampai satu menit.
"I-itu..." gumam Ymir dengan tatapan mengejek sekali, "Y-ya... dia memang lemah, sih. Mudah sekali dirinya tergelepar setiap kali aku membulinya," begini katanya tanpa merasa bersalah telah menyebabkan pengalaman traumatis pada anak orang lain.
Annie menghela napas pasrah. Andai saja masalah dirinya tidak serumit ini, pasti sudah dia tampol wajah perempuan itu.
"Jangan lakukan itu lagi padanya. Mengerti?"
"Hah!? Kau membela kalelawar gua ini daripada sahabatmu sendiri?"
Sudut bibir Armin terangkat.
Siapa tadi yang dia katakan kalelawar gua?
"Intinya," malas meladeni Ymir, Annie membawa pembicaraan kembali ke pokok masalah, "Akan ada tawuran besar-besaran di sekolah ini. Kedua sekolah itu bekerja sama untuk mencariku. Yah, kurasa itu karena aku menghajar petinggi OSIS dari sekolah mereka."
"Dan itulah yang ingin kuketahui darimu. Kenapa kau menghajar mereka, Annie-chan? Apa kau sebodoh itu menyerang sekolah lain ketika kau sendiri masih murid baru?" tanya Pieck sensi. Maklum saja, tampaknya dia masih gondok pada fakta dimana dia akan bergelut dengan murid-murid sekolah lain berkat ulah Annie. Padahal dia masih ingin menikmati festival. Belum lagi mencari pasangan supaya bisa tampil di acara api unggun. But gee, thanks, Annie. Kau menghancurkan impian gadis ini semudah itu.
Tentunya tidak ada yang mau menyalahkan opini tersebut, namun Hitch yang juga ada di lokasi kejadian mencoba meluruskan, "Dia punya alasan untuk itu, Pieck. Kau pikir Annie mau repot-repot pergi ke sekolah lain sementara jaraknya sejauh itu hanya untuk berkelahi?"
"Lalu apa itu?"
"Itu alasan pribadi. Aku tak bisa mengatakannya pada kalian," tipikal Annie. Paling tidak mau urusan privasi menjadi konsumsi publik.
Seketika Pieck bête di tempat. Padahal dia hanya ingin tahu alasan dibaliknya terjadi semua ini. Ayolah, dia punya hak, bukan?
Disisi lain, salah satu pemimpin geng yang berdiri di belakang Marcel belum menemukan tujuan utama mengapa orang jurusan Kesehatan berani mampir. Karena itulah dia melongok dari bahu Marcel supaya wajahnya mendapat perhatian dari Annie, "Jadi dia kemari hanya untuk mengatakan ini, ketua?" tanyanya sembari menunjuk Armin.
"Tidak, Armin kemari sebagai kurir negosiasi."
"Maksudmu?" Hitch tidak mengerti sama sekali maksud dari 'negosiasi' ini.
Negosiasi? Pemuda feminim itu datang melalui death route untuk diskusi tentang sesuatu? Apakah sedesperate itukah dirinya sampai senekat itu datang menemui orang-orang yang siap mengirimnya ke rumah sakit kapan saja?
Firasat buruk Hitch semakin buruk tatkala Armin menyela pembicaraan.
"Jumlah murid yang akan menyerang sekolah kita lebih banyak dari Survey corps. Lalu para senior kelas tiga meminta kedua temanku untuk menemui Annie supaya dapat berunding dengannya. Namun seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tahu hubungan Survey corps dengan jurusan kalian tidak baik, jadi aku menawarkan diri kemari. Selain itu, aku juga mengenal ketua kalian karena kami sering sekelas."
Otak Pieck bukan pajangan yang perlu diremehkan hanya karena sosok si jenius dari dunia Kesehatan tersebut. Tidak butuh waktu lama baginya mengerti maksud Armin dari penjelasannya barusan. Matanya terbelalak setelah memproses informasi. Awalnya dia tidak ingin hipotesisnya benar-benar terjadi, namun dia tidak bisa menahan diri bermain tebak-tebakan.
"Jangan bilang..."
"Sesuai dugaanmu. Survey corps menginginkan kerja sama jurusan Budaya untuk menghalau murid-murid kedua sekolah tersebut. Aliansi sementara."
Hipotesis Pieck tampaknya terlalu jitu untuk disebut sebagai tebakan. Dan bagaikan mendapat serangan Kira dari fandom sebelah, satu per satu murid-murid andalan jurusan Budaya melongo dengan wajah tolol.
.
.
Sementara itu di halaman ruang OSIS...
.
.
Mengetahui bahwa mengirim Armin sendirian ke sarang musuh merupakan langkah paling ceroboh sekaligus satu-satunya harapan melindungi sekolah. Levi, Mike, dan Hange sudah mencoba menenangkan, mengatakan semuanya akan baik-baik saja mengingat pemuda jenius berkacamata itu pandai mengobral kata-kata. Namun kegelisahan di hati teman-teman Armin terhadapnya tidak hilang begitu saja. Mungkin ini adalah alasan utama mengapa mereka tidak bergabung dengan Hange dan yang lain membeli es krim selagi menunggu Armin kembali.
Singkatnya, sembilan orang anggota baru Survey corps ini menjadikan halaman ruang OSIS sebagai tempat mereka... bersemedi? Entahlah. Mereka duduk bersila membentuk lingkaran. Kepala mereka tertunduk sembari memejamkan mata.
Tahan dulu sampai disana analisis kalian, para pembaca. Jangan pernah mengira sembilan orang ini sedang berdo'a. Mereka tidak mengucapkan mantera apapun tentunya, melainkan terus memikirkan nasib Armin yang belum juga balik padahal setengah jam telah berlalu. Sempat pikiran absurd mampir di pikiran mereka. Armin tidak tewas, 'kan? Soalnya tidak logis saja mereka beralih profesi sebagai petugas forensik TKP pembunuhan.
"Apa menurutmu Armin akan baik-baik saja?" Eren menjadi manusia pertama berkicau, "Ini terlalu lama. Kurasa sebaiknya kita jemput saja dia, Mikasa,"
"Armin ahlinya berkata-kata. Apalagi dia kenal dekat dengan Annie. Dia pasti tak menemukan masalah," Mikasa tetap kukuh, tetap percaya sahabatnya tersebut akan kembali hidup-hidup.
"Tetap saja aku tak yakin apa jurusan Budaya mau bekerja sama dengan kita," kali ini Connie menimbulkan pesimisme di antar kumpulan orang-orang penegak keadilan ini.
Reiner mendengus. Dia mendongak, menatap langit, "Kita tunggu saja. Kita percayakan semuanya pada Armin."
"Perlukah aku meminjam kotak P3K dari klinik sekolah? Siapa tahu Armin kembali dalam keadaan sekarat," ini sih Sasha yang malah memperkeruh suasana.
"Eeeh? Daripada kotak P3K, bukankah jauh lebih baik jika kita pinjam kantong mayat dari kantor polisi?" bagi kalian yang menganggap seorang Historia adalah reinkarnasi malaikat, segera singkirkan pikiran itu jauh-jauh. Bisa-bisanya bocah ini mengusulkan ide terkonyol sejagat.
Lalu reaksi yang lain? Mereka hanya sweatdrop di tempat berkat menyaksikan betapa ekspresi Historia sangat santai saat mengatakan hal tak masuk akal begitu. Ck ck ck ck.
.
Hiraukan pembicaraan konyol di atas. Bagaimana jika kita mengalihkan perhatian kita pada Armin yang masih terkepung?
.
.
Mari kita lakukan reka ulang kejadian.
Alis para pentolan cenat-cenut mendengar pengajuan kerja sama dari musuh alami. Dengan santai mengirim salah satu perwakilan mereka, lalu berharap akan dimulai momen penandatanganan surat damai? Hell no! Sebagai jurusan mayoritas berisikan preman sekolah, jelas mereka tersinggung. Ini sama saja diremehkan. Maka suara-suara tidak setuju kembali bergelora.
"Aliansi, katamu?"
"Siapa juga yang mau bekerja sama dengan teman-temanmu, orang Kesehatan? Kami bisa menangani mereka sendiri!"
"Kau hanya membuang waktumu datang ke tempat ini!"
Beginilah protes mereka lagi sebelum Pieck mengangkat tangannya seolah meminta mereka berhenti.
"Tunggu dulu, teman-teman. Sejujurnya itu bukan ide buruk,"
"Pieck!"
"Coba pikirkan baik-baik," ya ampun, ini membuatnya malas saja. Haruskah dia menjadi guru dadakan demi menjelaskan situasi mereka saat ini? "Menangani satu sekolah saja sudah sulit, apalagi dua sekolah. Memang benar jumlah kita lebih dari cukup, tapi kita tidak mungkin bertarung semuanya. Jangan lupa bahwa kita ada acara penyalaan api unggun malam ini. Bukankah mencurigakan jika seluruh murid jurusan Budaya menghilang?"
Tidak satupun dari mereka membalas komentar tersebut. Anggapan Pieck terhadap seluruh gambaran masalah ini terlalu tepat. Diam-diam mereka menyetujui pendapatnya.
Pieck menghela napas berat sebelum melanjutkan, "Jika kita tidak ingin menyeret ketua kita ke kursi penyiksaan di ruang BP atau lebih buruknya lagi, diskors..." kali ini dia tak tahan melirik Annie dengan jengkel walau yang ditatap malah berdiri santai masa bodoh, "...Sebagian dari kita harus tetap mengikuti festival, sementara sebagian lagi mengusir SMA Trost dan SMK Rose Selatan. Dengan begitu, kita bisa mengalihkan perhatian guru dan murid-murid lainnya."
"Belum lagi jika kita mendapat bala bantuan kuat seperti orang-orang Survey corps. Mereka pasti bisa menutupi masalah tawuran ini dari siswa-siswa lain yang tak tahu apa-apa. Itu maksudmu 'kan, Pieck?" sambung Marcel mengangguk-angguk, mulai memahami arah pembicaraan.
"Benar sekali," syukurlah ada orang waras yang memiliki pandangan sama dengannya, "Ini hanya aliansi sementara. Hanya untuk tawuran sekali ini saja. Bukan berarti kita akan bersulang tanda perdamaian dengan... 'teman-teman' Armin..." kode cukup jelas bagi Armin dari kata 'teman-teman' barusan.
Benar sekali. Tidak mungkin Armin tidak pernah mendengar nama Pieck Finger.
Guru-gurunya sering menyebut nama gadis itu setiap kali Armin menunjukkan kejeniusannya. Tentunya bukan untuk dibandingkan, namun para guru selalu mengatakan 'Pieck memang cerdas, tapi saya tak menyangka kamu melampaui kata cerdas, Arlert'. Dari sanalah Armin tahu bahwa di antara kawanan Annie, ada sebuah mutiara yang belum menunjukkan kebolehannya.
Ini memang pertama kalinya mereka bertemu. Dan dari sekali pertemuan ini, Armin tahu gadis ini tidak mempercayainya sama sekali. Dia curiga padanya. Yah, tidak ada yang menyalahkanya soal itu.
Sementara Armin asyik berperang dengan pikirannya, Annie menunjukkan senyum tipisnya. Cukup lega bahwa ada pendukung di antara pemberontak.
"Aku bersyukur kau mau berkepala dingin menanggapi ini, Pieck," ucapnya penuh bangga, "Singkatnya, inilah alasanku membawa Armin kemari. Sebagai simbiolis aliansi kita dengan Survey corps. Kita tidak bisa berlama-lama. Dalam hitungan jam, pasukan orang-orang bodoh itu akan datang. Jadi, aku, Marcel, Pieck, dan Hitch akan menemui Survey corps di ruangan mereka setelah ini. Sedangkan sisanya boleh bubar dan tunggu informasi dari kami. Paham?"
Hening menyapa.
Ternyata tidak semudah membalikkan tangan, huh? Terpaksa Annie menggunakan cara yang digunakan pemimpin terdahulu jurusan Budaya. Cara terampuh jika berhadapan dengan teman-teman yang tidak sependapat denganmu.
"...Itu jika kalian benar-benar peduli pada pemimpin kalian. Maksudku, aku juga butuh dilindungi, kalian tahu?" begini gumamnya mengerucutkan bibir, pasang muka menggemaskan, dan mengusap-usap lengannya sembari menoleh ke arah lain.
What the-?
Apa-apaan sikap girly yang tidak cocok untuknya itu? Biasanya juga kalau pendapatnya ditentang, dipastikan tampang 'shut up or I'll kick your ass' selalu terlihat di wajah seramnya. Nyaris Hitch, Porco, Marcel, Pieck, dan Ymir muntah di tempat melihat Annie yang bertingkah sok imut-imut, namun terlihat amit-amit.
Masalahnya perilaku Annie ini berdampak positif pada mayoritas target. Walhasil, timbul sudah mata love-love beserta iringan sparkle-sparkle di mata para gelandangan jomblo dari lahir tampang berkedok kriminal.
"Paham, ketua!" Hitch semakin menahan serangan mulas di perutnya ketika melihat teman-temannya setuju tanpa pikir panjang. Malah wajah mereka merona dan mendengus-dengus mesum begitu.
Annie sialan. Ilmunya tidak dibagi-bagi.
Well, setidaknya ini adalah keuntungan tersendiri menjadi pemimpin jurusan Budaya. Kini Annie berganti ekspresi, dari sok imut menjadi poker face. Gadis pendek itu menatap Armin di sebelahnya yang masih terpaku melihat perubahan drastis perilakunya, "Armin, aku ingin bicara dengan teman-temanku. Tidak apa kau kembali ke jurusanmu seorang diri? Jangan khawatirkan teman-teman jurusanku. Mereka takkan menyentuhmu," bahkan nada suaranya kembali datar.
Sadar bahwa tugasnya selesai, Armin pun mengangguk kecil. Lagipula tidak ada untungnya juga berlama-lama disini. Dia harus menyampaikan kemajuan rencana mereka pada para senior bossy itu.
"...Baiklah..."
Diiringi tatapan siap terkam dari orang-orang di ruangan tersebut, Armin berjalan melewati kerumunan menuju pintu keluar. Dan ketika dirinya berdiri di ambang pintu, dia menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang. Mendapati Annie yang mengangguk padanya seolah ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Senyum kecut Armin muncul. Perasaan bersalah menguasai hatinya. Ide Mikasa memang bagus untuk menyelamatkan nyawanya, tapi kenapa perasaan gundah ini belum juga hilang. Terus membohongi gadis itu... apakah akan berakhir baik?
Pikiran tersebut menyelubungi kepalanya bahkan setelah dia meninggalkan gedung orkestra.
Setelah kepergiannya, andalan-andalan Annie belum beranjak dari tempat masing-masing. Itu karena Annie memberi kode, sebuah tatapan yang bermaksud untuk tetap disana sampai Armin benar-benar pergi jauh. Sepertinya dia berjaga-jaga jika bawahannya mencoba menghabisi pemuda itu dari belakang. Mungkin sekitar lebih dari satu menit hingga Annie memperbolehkan mereka pergi.
Sesuai perkataan Annie sebelumnya bahwa hanya dirinya, Hitch, Pieck dan Marcel yang tetap tinggal, Hitch langsung bergerak mendekatinya. Memanfaatkan suara derap kaki serta gerutu yang bersahut-sahutan, kini dirinya menarik lengan Annie, membawanya menjauh dari Pieck dan Marcel.
Merasa cukup aman, Hitch meraih bahu pakaian Annie, menariknya cukup dekat supaya dapat berbisik di telinganya. Annie cukup bingung dengan tindakan Hitch ini. Ada perlu apa sampai kedua teman mereka tidak perlu mendengar?
"Apa kau percaya padanya?" bisik Hitch berdesis menahan emosi.
Kedua alis Annie terangkat.
Oh. Jadi ini yang ingin dia bicarakan?
"Benar kalau salah satu syarat mutlak untuk bergabung dengan organisasi itu adalah soal fisik, tapi kau tahu sendiri tentang kecerdasan Armin! Bisa saja dia bukan bertindak sebagai tukang pukul mereka, melainkan sebagai mata-mata!"
"Setahuku kau pernah mengatakan kalau kau tak peduli soal sejarah perseteruan jurusan kita dengan Survey corps, Hitch,"
"Aku memang tidak peduli, tapi aku tetap tak mau jika Armin mendekatimu hanya untuk mengorek informasimu, idiot! Memangnya kau mau dimanfaatkan?" siapa sangka setelah insiden pengungkapan identitas tadi membuat Hitch tidak berpihak pada Annie? Ini sangat aneh! Hitch tidak sebodoh itu untuk langsung percaya bahwa Armin hanya kurir informasi. Dia mencium ada sesuatu yang tidak beres, "Aku sudah tanya soal Armin pada Ymir barusan. Dia juga curiga kalau Armin bagian dari mereka karena dia sering bertanya soal dirimu,"
"Apa ini? Bukankah katamu dia mendekatiku karena suka padaku?"
Hitch mengerjap-kerjapkan mata, terpaku sesaat. Dan dalam waktu kurang dari tiga detik, senyum iblisnya muncul.
Sial. Firasat Annie jadi buruk. Mau apalagi perempuan ini? Lagipula dia benar, bukan? Spekulasi gila Hitch itu sempat menjadi trending topic di pikirannya selama berhari-hari. Lalu apa-apaan aura mesum yang keluar dari tubuhnya itu?
"Oooohh~, jadi kau masih kepikiran soal itu, Annie~?" ujar Hitch dengan nada ledek sambil menaik-turunkan alisnya.
Sontak Annie kikuk. Namun bukan Annie namanya jika dia tidak bisa mengontrol emosi. Kesalahan besar ketika dirinya seperti orang lain saat dia, Hitch, Ymir, Sasha, Armin, dan Mikasa mengatur stand tempo hari. Harus tampak angkuh! Jangan mau kalah dari hasutan Hitch!
"Bukan itu maksudku. Maksudku kau tiba-tiba berpikir 180 derajat berbeda tentang Armin," Annie mendengus, dia menoleh ke arah lain. Mati-matian menahan pipinya yang sedikit memanas. Pokoknya Hitch tidak boleh sampai melihatnya! Bisa-bisa dia jadi target godaannya dalam beberapa minggu ke depan.
Hitch yang mengenal Annie tidak dalam waktu sebentar ini jadi geleng-geleng kepala. Lagi-lagi bersikap sok cool, huh? Tampaknya dia harus memberikan kalimat-kalimat bijaknya sekarang.
"Sobat..." Hitch merangkul pundak Annie, "Tidak ada yang bisa mengetahui isi seseorang secara pasti sampai kita melihat bukti dari kata-katanya..."
...
~Gadis Ikon Sekolah Page Fourteen~
...
.
.
Salah satu kebiasaan buruk Hange adalah bertaruh. Kebiasaan buruk sekaligus keahlian ini membuatnya tidak pernah kalah dari Levi.
Armin telah mengirimkan pesan padanya, mengatakan bahwa dia berhasil membujuk Annie serta teman-temannya bergabung dalam rencana ini. Ribuan pujian dia sanjungkan pada jenius itu. Well, setidaknya Levi dan Mike berhutang satu paket pizza padanya.
Kini dia melirik Mike yang duduk di kursinya, pasang muka bête. Maklum, membeli satu paket pizza super mahal berhasil merontoki isi dompetnya. Hange sialan! Setiap bertaruh, tidak pernah kira-kira pasang taruhan.
"Kenapa tampangmu seperti itu, Mike? Kau harusnya senang semuanya berjalan lancar, tahu,"
"Tutup mulutmu, Hange. Kau menyuruhku bahagia disaat kau merampok jatah uang jajanku selama sebulan?" sembur Mike judes.
"Siapa suruh meragukan Armin? Juniorku satu itu selalu jago kalau soal hasut-menghasut," hidung Hange memanjang 30 cm.
Levi mendengus kasar. Sembari memangku dagunya, dia masih menatap pintu ruangan khusus Survey corps, "... Mereka lama sekali. Kau yakin bocah itu berhasil, Hange?"
"Apa maksudmu, kawan? Aku sudah katakan Armin mengirimiku pesan, mengatakan jika dia sudah menangani bagiannya, 'kan? Kita tunggu saja. Annie Leonhart akan menunjukkan batang hidungnya pada kita,"
"Apa tak masalah rencana ini dirundingkan di ruangan khusus organisasi kita? Kenapa tidak kita lakukan di ruang OSIS?" pertanyaan bagus dari Saudara Levi.
Tepat sekali, saudara-saudara. Kali ini, sejak Eren dan kawan-kawan bergabung, tak pernah sekalipun mereka menggunakan ruangan dimana seluruh keadilan sekolah berkumpul menjadi satu. Tentunya alasannya sendiri kalian juga tahu. Untuk menutupi identitas bocah-bocah kelas satu ini demi misi penyusupan. Namun hari ini beda dari hari lain. Lalu kenapa?
"Jika kita ingin mendapatkan kepercayaan sementara dari Annie Leonhart, kita terpaksa membuka topeng anak-anak kelas satu kita," ucapnya melirik Eren, Mikasa, Marco, Sasha dan seterusnya yang duduk di sekitar mereka, "...Kecuali Armin. Sesuai ide Mikasa, kita harus meninggalkan satu orang yang kita kamuflase bukan bagian dari Survey corps."
Ide Mikasa, ya?
Benar juga. Eren teringat pada saran Mikasa sebelum Armin pergi menemui Annie. Sambil diam-diam melirik Mikasa yang duduk disampingnya, Eren bertanya-tanya.
Kenapa Mikasa mengusulkan itu? Apa salahnya jika lebih baik Armin jujur dari awal? Setakut itukah Mikasa dan Armin jika Annie mengambil jarak?
Eren ingin menanyakan itu langsung supaya penasarannya terjawab. Namun begitu mulutnya terbuka, tiba-tiba terdengar suara deritan pintu tanda dibuka. Tidak lama kemudian, matanya terbelalak tatkala melihat sosok Annie bersama ketiga temannya masuk ke dalam ruang rapat. Wajah serius keempat orang tersebut sukses membuat Eren dan yang lainnya sontak berdiri hampir bersamaan.
Baiklah. Eren kenal dengan Hitch karena mereka satu kelompok di praktikum Biologi. Tapi... siapa dua orang lainnya?
Pemuda berhidung mancung dan berambut hitam pendek yang disisir ke belakang. Perempuan pendek dengan rambut hitam panjang sebahu yang acak-acakan serta mata malasnya itu. Pertama kalinya Eren melihat mereka.
Selagi Eren sibuk menerka-nerka identitas pasukan tambahan Annie, Hange justru merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Menunjukkan postur bersahabat sekaligus senyum hangat lalu berkata, "Selamat datang, teman-teman dari jurusan Budaya! Kami, Survey corps menyambut dengan senang hati kedatangan kalian!"
Tidak ada satupun, bahkan Annie menjawab sambutan tersebut. Suasana tegang langsung menyelimuti ruangan.
Hange tolol itu. Bisa-bisanya bersikap ramah pada musuh. Karena itulah Mike memilih memandang gadis pendek yang berdiri paling depan dari atas ke bawah. Ya, itu adalah Annie sendiri.
Selama ini Mike hanya mengenal Annie dari foto yang diambil Armin diam-diam, tapi ini pertama kalinya bertemu langsung. Demi memastikan dirinya tidak salah mengenali, Mike bertanya, "Kau Annie Leonhart?"
Menyebalkan sekali. Beginilah pikir Annie. Jadi dia akan diinterogasi sekarang?
"Benar," jawabnya singkat.
Sama seperti Mike, ada anggota baru kita juga baru mengenalinya. Makanya dia-ah, maksudnya Marco sedikit tercengang begitu mengetahui bahwa seperti inilah sosok yang memimpin jurusan Budaya tiga tahun ke depan. Serius?
Gadis kecil begini? Pasti ada yang salah.
"Dia Annie Leonhart?" Marco berbisik pada Jean. Dia hanya ingin tahu apakah penglihatannya salah atau bagaimana. Masa' sih musuh utamanya adalah gadis yang tingginya sependek ini?
Sementara Jean membalas ketus, "Kau tidak pernah melihatnya?"
"Mana mungkin. Kau lupa waktu kita berusaha mencegatnya di gerbang sekolah? Aku, Connie, Historia, Bertolt, dan Reiner tetap di gerbang depan, sedangkan kau dan yang lainnya menyusul ke gerbang belakang. Selain itu, aku tidak pernah sekelas dengannya. Jadi bagaimana mungkin aku bisa tahu kalau gadis pendek begitu adalah big boss jurusan preman-preman sekolah ini?"
Ah, benar juga. Penulis ingat pembagian tim A dan B buatan dadakan Eren demi mengejar Annie. Saat itu Marco dan kawan-kawan tidak punya kesempatan melihat Annie dari dekat.
Bicara soal 'kawan-kawan', tidak ada yang menyadari tatapan Bertolt pada Annie dalam diam. Pemuda jangkung ini hanya terpaku seperti orang idiot, memandangi gadis itu lekat-lekat. Entah apa yang ada di dalam hatinya, namun Bertolt tidak mengerti. Kharisma Annie yang baru melangkahkan kakinya di tempat ini begitu... unik.
Ini pertama kalinya Bertolt menemui gadis gagah. Singkirkan jauh-jauh nuansa feminim yang selalu ada pada diri setiap gadis, karena kali ini Bertolt menemukan sesuatu yang berbeda dari diri Annie.
Gadis itu membuatnya...
...Terpesona?
"Bisakah kita sudahi basa-basinya? Ada hal yang jauh lebih penting untuk dibahas sampai kalian mengirim Armin ke jurusanku, 'kan?" pikiran aneh Bertolt langsung lenyap begitu Annie menyeletuk tidak sabaran. Ya, gadis ini muak berlama-lama di sarang musuh jurusannya, 'kan? Mana dia belum makan siang.
"Maaf jika kami mengirim orang luar untuk bicara denganmu, Leonhart. Tadinya aku ingin mengirim Eren dan Mikasa. Tapi karena aku tak mau memicu perang, akhirnya Armin yang pergi. Untung saja dia tak menolak," jelas Hange basa-basi.
Pieck pun menyahut dari belakang Marcel, "Berarti si pirang berkaca mata itu bukan bagian dari kalian?"
"Bukan. Dia anggota OSIS,"
"OSIS?"
"Ya. Dia baru bergabung tahun ini."
Armin Arlert? Seorang OSIS?
Jadi apa yang dikatakan Armin sebelumnya itu benar? Tapi hubungan OSIS dan Survey corps sangat dekat. Sudah seperti saudara jauh. Meskipun begitu, benarkah Armin tidak punya hubungan apapun dengan organisasi yang berlagak seperti pahlawan ini?
Perang batin terjadi pada diri Annie, Pieck, Marcel dan Hitch. Sampai kemudian perhatian mereka teralih saat Hange mengambil spidol dan mulai menulis di papan tulis di belakangnya.
"Baiklah, kita akan mulai negosiasinya. Ketua jurusan Budaya dan perwakilan, silahkan duduk."
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's note: Sampai jumpa di halaman selanjutnya. Jaa ne!
THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!
