Title : Lightsaber (Chanbaek)
Author : Dandelionleon
cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun
other cast : Oh Sehun, Luhan, Kim Jongin, Do Kyungsoo.
Cameo : Luna (FX), Yongguk (BAP) , Jeong Wonwoo (Seventeen).
Rate : T
Genre : Romance, Friendship, Humor, School-life.
Disclaimer : God
Warning ! YAOI, Typo, DLDR!
.
.
Oke... Selamat membaca guys...
.
.
Chanyeol tidak tau, ternyata artian 'perang' bagi Baekhyun seperti ini. Pembullyan, layaknya drama Boys Before Flowers yang sering ibunya tonton. Dan sialnya, Chanyeol adalah Geum Jandi disini. Oh man! Harga dirinya seakan jatuh ke palung Mariana!
Lokernya basah. Seragam olahraganya juga pasti basah. Padahal lima menit lagi pelajaran olah raga akan segera dimulai. Tiga hari berturut-turut, Chanyeol selalu dibuat menderita- walau sebenarnya Chanyeol tak peduli sama sekali.
Hari pertama, bangkunya di beri lem. Untung saja Chanyeol orang yang cukup jeli, mengingat ia juga sering dulu mengerjai gurunya dengan cara klasik seperti itu. Setelahnya dilempari telur dan tepung, sudah pasti itu ulah murid-murid suruhan Baekhyun dan antek-anteknya. Salah seorang dari mereka mendatangi Chanyeol yang sudah seperti monster tepung itu. Dia seorang gadis cantik, namanya Luna.
"Maaf Chanyeol-ssi, aku mewakili teman-temanku yang lain ingin meminta maaf padamu. kami sebenarnya tidak ingin melakukan ini. Tetapi jika kami tidak mau, maka Baekhyun sunbae akan menjadikan kami bulan-bulanannya." sesal gadis itu.
Chanyeol tersenyum, walau tak terlihat karena wajahnya tertutupi tepung dan telur. Seperti adonan kue saja.
"Tidak masalah, Luna-ssi. Aku bisa mengatasi ini okay?"
Hari kedua, tasnya menghilang. Seluruh bukunya ternyata berada di tong sampah. Bukannya kesal, Chanyeol justru senang karena ia punya alasan agar tidak belajar.
Hari ketiga adalah ini. Mengenai lokernya yang disiram air. Chanyeol menggeram tertahan. Dengan segera ia melangkahkan kakinya. Mencari keberadaan Baekhyun yang entah dimana.
Dan ketika ia melihat si oknum yang ia cari tengah tertawa lebar di kantin sekolah, ia langsung saja ke sana. Sepertinya ia tengah bersenang-senang mengerjai seorang siswi.
"Berani sekali kau meminta maaf pada anak baru itu! Kau berpihak padaku atau padanya hah? Jawab!"
Mata Chanyeol menyipit. Bukankah itu Luna? Tanyanya dalam hati. Niatannya yang semula hanya ingin mengejek Baekhyun berubah menjadi nafsu ingin membunuh. Chanyeol Tersenyum mengejek lalu menggebrak meja tersebut hingga menimbulkan keheningan.
"Disini kau ternyata. Dua hari kau bersembunyi. Ternyata perang yang kau maksud sangat kekanakan sekali, Byun." Tak ada tawa mengejek lagi dari wajah pemuda Park. Chanyeol benar-benar geram kali ini. Ini benar-benar mengesalkan.
"Wow! Ternyata berani juga kau mendatangiku. Kenapa? Ini adalah caraku. Jika ingin bertarung, maka sebaiknya_"
BUAGHHH! Tinjuan keras mengenai pipi Baekhyun. Darah mengalir disudut bibirnya.
"Dengar, Byun. Aku sangat membenci omong kosong seperti ini. Jika kau ingin perang, maka bertarunglah dengan cara seperti lelaki. Tidak dengan membully orang lain."
Baekhyun bangkit dari duduknya. Menatap Chanyeol menantang. Diusapnya darah disudut bibirnya dengan punggung tangannya kasar.
Chanyeol menutup matanya saat mendengar isakan Luna. Gadis itu menangis pilu. Entah apa yang Baekhyun lakukan padanya. Yang jelas, Chanyeol melihat rambut panjang gadis itu tergunting tak beraturan hinga sebahu.
Chanyeol memang berandalan. Ia sangat senang berbuat onar karena itu menyenangkan baginya. Balapan liar, adalah kesehariannya di tengah malam. Tetapi tidak untuk perempuan. Chanyeol tak pernah sedikit pun menyakiti perempuan karena ia menghormati ibunya. Menurutnya, lelaki yang suka menyakiti perempuan tak lebih dari sampah.
"Itu adalah hukuman karena berani menentang Byun Baekhyun!" Teriak Baekhyun.
Keduanya telah menjadi tontonan setiap orang disana. Tak ada yang berani menginterupsi.
Pikiran Chanyeol berputar. Jika dengan tinjuan keras Chanyeol saja Baekhyun tak terkalahkan, lantas pemuda itu bisa dikalahkan dengan apa?
Sebuah ide gila terlintas di otaknya. Jika fisiknya terluka tak menghancurkan Baekhyun. Maka merendahkan harga dirinya sebagai 'orang paling ditakuti' mungkin bisa digunakan.
Tarikan Chanyeol pada Tengkuknya membuat Baekhyun tersentak. Dirinya semakin terkejut saat bibir Chanyeol menempel dibibirnya. Pemuda tinggi itu melumat bibirnya kasar. Baekhyun menolak, tentu saja! Ini sama saja seperti menjatuhkan harga dirinya sebagai ketua Lightsaber dihadapan seluruh murid SM high school.
Saat ciuman tersebut terlepas, Baekhyun terengah. Wajahnya memerah karena marah luar biasa.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan?"
Chanyeol mengusap bibirnya yang kasar dengan ibu jarinya. Ia mendekati wajah Baekhyun, membuat si pendek mengerjap gugup tanpa sadar.
"Menciummu." Jawab Chanyeol singkat.
Setelah pemuda tinggi itu melangkah santai meninggalkan kerumunan. Baekhyun masih mematung tak percaya di tempatnya.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya lirih entah pada siapa.
.
.
Malam menjemput, tak seperti biasanya Chanyeol menetap dirumah. Sejak pulang sekolah tadi ia hanya melongo seperti orang bodoh. Ibunya sampai khawatir karena Chanyeol tak menjawab satu pun pertanyaan ibunya.
Ayahnya kebetulan baru pulang kerja tersenyum senang saat mendapati anak lelakinya berada di rumah. Biasanya pada jam segini, Chanyeol sedang sibuk balapan liar atau berkelahi di luar sana.
"Kenapa dia?" Tanya tuan Park pada istrinya.
"Entahlah, sepertinya terjadi sesuatu. Chanyeol tak mau berbicara sejak tadi siang."
Chanyeol lantas beranjak ke kamarnya, malas mendengar obrolan kedua orang tuanya yang menjurus kepadanya.
Pintu kamarnya telah terkunci rapat. Chanyeol berjalan mendekati cermin. Ia menepuk kedua pipinya.
"Astaga! Sadar Chanyeol! Kau menciumnya! Isssh! Kenapa tidak kau hajar saja dia sampai babak belur?!"
Tangannya bergerak ke arah bibirnya. Seumur-umur, ia hanya pernah mencium seorang gadis. Tak pernah terfikir untuk mencium lelaki, terlebih itu musuhnya.
"Tetapi bibirnya manis juga." Bisiknya. Ia tersenyum idiot setelah itu.
.
.
"AAAKKKHHHHH! Sialaaaan! Berani sekali dia merebut ciuman pertamaku! Brengsek!"
"Baek! Berhentilah berteriak! Kau mau suaramu habis?" Itu adalah teguran Sehun yang ketiga kalinya. Sejak tadi Baekhyun terus saja berteriak. Marah-marah tidak jelas seperti nenek-nenek tua. Dan yang paling parah, Baekhyun mengumpulkan beberapa preman kota lalu menghajar mereka semua tanpa ampun.
"Berhenti kau bilang? Harga diriku Sehun! Harga diriku hancur!"
Jongin mengusap telinganya yang sedikit berdengung akibat pekikan maut Baekhyun. Lama-lama bisa tuli juga dia disini.
"Memangnya dia memperkosamu? Baek, ayolah... Itu hanya ciuman_"
"Hanya ciuman katamu? Hey bung! Jika yang menciumku seorang gadis, maka aku masih bisa berlapang dada menerimanya. Tetapi ini? Lelaki! Dan sialnya itu adalah si Park idiot itu!"
Sehun dan Jongin terkekeh kuat. Ayolah, ocehan Baekhyun membuat keduanya tak bisa menahan tawa. Biasanya anak itu hanya berlagak sok dingin, tak banyak bicara. Sekarang? Mereka seperti melihat Baekhyun dalam versi perempuan yang sedang dalam masa PMS.
"Adakah yang lucu?" Ketus Baekhyun tidak senang.
"Tidak, kau yang lucu. Sudahlah, lagi pula kau masih bisa membalasnya bukan? Dia hanya anak baru yang ingin pamer kekuatan. Dimana Byun Baekhyun yang kami kenal?"
Baekhyun terdiam, mencerna ucapan Jongin barusan. Pembalasan! Ya, Baekhyun akan mempermalukan Chanyeol setelah ini, dengan cara seperti 'lelaki' seperti yang pemuda Park itu pinta.
"Baiklah, dia belum tau siapa Byun Baekhyun. Aku akan menghabisinya tanpa ampun! Hahaha." Ucap Baekhyun final diiringi tawa seperti tokoh antagonis di dalam film kartun.
.
.
Menghabisi Chanyeol ternyata tak semudah menampar Jongin atau Sehun. Baekhyun tak tau, setiap ia ingin menghampiri Chanyeol dirinya berakhir dengan wajah memerah. Bayangan ciuman kemarin terus saja melintas dibenaknya. Oh sial! Ada apa denganku? Pekiknya dalam hati. Akhirnya pemuda pendek itu tidak jadi mendatangi Chanyeol.
Siang ini, pelajaran olahraga kelas Baekhyun sedang berlangsung. Mereka akan bertanding hapkido di ruang olahraga indoor. Baekhyun sudah siap dengan pakaian biru dongkernya.
"Baiklah, sekarang Byun Baekhyun dan Jeong wonwoo."
Siswa bernama wonwoo itu maju, walau hatinya takut tetapi ia akan berusaha untuk nilai. Baekhyun menatap anak itu tajam. Pertandingan di mulai. Di awal-awal Baekhyun selalu unggul. Namun, ketika suara decitan sepatu beradu dengan lantai lapangan basket di sebelah sana membuat fokus Baekhyun buyar. Itu Park Chanyeol, sedang bermain basket bersama Luhan dan Kyungsoo. Mereka tertawa-tawa seperti orang gila. Entah apa yang lucu.
Kesempatan tersebut tak disia-siakan wonwoo. Baekhyun yang belum sadar akan lamunannya langsung saja tumbang. Murid yang lain terbengong karena wonwoo memenangkan pertandingan, tepatnya mengalahkan si ketua. Wow!
"Byun Baekhyun! Dimana fokusmu?!" Bentak guru olahraganya. Baekhyun membungkuk, meminta maaf. Matanya menatap tajam ke arah Chanyeol yang tidak tau apa-apa diujung sana. Bahkan si jangkung itu tak sedikit pun melirik ke arah Baekhyun.
"Si brengsek itu telah membuatku malu untuk ke dua kalinya." Gumamnya.
Langkahnya tergerak menuju tempat Chanyeol berada. Ia menatap lelaki itu remeh. Melipat kedua tangannya di depan dada lalu berdecih sinis.
"Bersenang-senang eoh?"
Chanyeol sontak menoleh. Ia berdehem, mengusir bayangan-bayangan kemarin dari fikirannya.
"Apa pedulimu? Dasar pendek. Mau ku cium lagi?" Tanyanya santai tanpa menoleh sedikit pun. Ia memasukkan bola ke dalam ring.
Mungkin jika di dalam film kartun, kepala Baekhyun sudah mengeluarkan asap saat ini. Maka dengan emosi meledak-ledak, langsung saja kakinya melayang, menendang punggung Chanyeol hingga lelaki itu jatuh dengan tidak elitnya.
"Rasakan itu!" Desisnya berbahaya.
Chanyeol menatap Baekhyun tak kalah tajam. Ia bangkit dari acara tersungkurnya.
"C-chanyeol, h-hidung_"
"Diamlah Kyungsoo, bawa Luhan menjauh dari sini. Sepertinya aku akan 'mencicipi' setan kepala merah ini sekarang juga."
Kyungsoo menyerah, ia dan Luhan segera menjauh. Mereka duduk di bangku penonton. Seolah siap untuk melihat adu jotos antara Chanyeol dan Baekhyun sesaat lagi.
"Sebaiknya, hapus dulu darah bodoh di hidungmu itu sebelum kau bertindak sok akan menghajarku." Ejekan Baekhyun membuat Chanyeol mengernyit. Tangannya refleks menyentuh hidungnya yang mengeluarkan darah. Sial! Sepertinya karena terbentur dengan lantai tadi.
"Baru kali ini ada yang berani membuatku seperti ini."
"Cih! Lalu apa? Kau akan menuntutku? Atau mengadu pada ibumu?"
Chanyeol menghapus darah dihidungnya. Kakinya melangkah mendekati Baekhyun. Ia mencengkram leher baju Baekhyun hingga wajah keduanya berdekatan. Keduanya saling melempar tatapan mematikan.
"Dengar Byun! Kau hanya belum tau siapa aku. Sekarang, ayo kita berkelahi, secara jantan!"
Baekhyun menyeringai, ini yang dia tunggu sejak tadi. Tanpa aba-aba, lelaki mungil itu membalikkan keadaan. Membanting tubuh raksasa Chanyeol layaknya membanting karung beras. Ia menepuk tangannya setelah itu.
"Ck! Sudah bicaranya? Kau terlalu banyak omong."
BRUKKK... Sekarang gantian, Baekhyun terjatuh karena tendangan Chanyeol di kakinya. Gaya berkelahi keduanya memang berbeda. Baekhyun lebih teratur, sementara Chanyeol akan bertindak bar-bar saat berkelahi. Dan dimulailah adegan kekerasan tersebut. Pukulan, tendangan, saling membanting.
Wajah Baekhyun sudah mendapatkan beberapa lebam. Tak jauh beda dengan Chanyeol. Saat Baekhyun hendak menginjak perut Chanyeol, Guru olahraga Baekhyun berlari mendekat.
"Sudah! Cukup! Kalian berdua, ikut aku ke ruang guru!"
Kenapa tidak diinterupsi sejak tadi? Tanya Luhan membatin. Ia meringis saat melihat keadaan Baekhyun dan Chanyeol yang luar biasa mengerikan.
Salahkan mereka juga, berkelahi di depan guru mereka sendiri. Itu sama saja seperti menyerahkan diri ke dalam kolam hiu.
.
.
Keduanya terdiam, tak ada yang mau berbicara. Rambut Baekhyun dan Chanyeol acak-acakan. Keadaan mereka sama seperti keadaan maling yang habis dihajar masa.
"Jadi, apa masalah kalian hingga perkelahian ini terjadi?"
Baekhyun menyenderkan tubuhnya, berlagak angkuh seperti biasanya.
"Bapak tau sendiri, aku tidak suka di ganggu_"
"Tanpa di ganggu pun kau memang senang mencari masalah!" Potong guru berkumis tebal itu. Baekhyun merengut di tempatnya. Sial! Chanyeol jadi menertawai dia kan?
"Dan kau anak baru!" Tawa Chanyeol terhenti secara mendadak.
"Kau belum genap seminggu disini tetapi sudah berani membuat onar!"
Kali ini giliran Baekhyun yang tertawa keras. Ia sampai menepuk-nepuk meja sangking girangnya karena melihat wajah bodoh Chanyeol saat di bentak tadi.
"Senang kau?" Tanya Chanyeol sinis.
"Tentu saja, melihatmu menderita adalah kesenangan bagiku!"
"CUKUP! Kalian berdua akan ku berikan kesenangan yang sesungguhnya!"
Hawa-hawa tidak mengenakkan langsung menyergap Chanyeol dan Baekhyun untuk diam. Oh hukuman, selamat datang!
Dan benar saja, keduanya di hukum untuk membersihkan rumput di belakang gedung satu. Sialan! Apa sekolah ini tak punya uang untuk menyewa tukang kebun? Rumputnya begitu banyak.
"Baiklah, sekarang kau kerjakan semua ini!" Chanyeol menyerahkan peralatannya seperti cangkul kecil dan tong sampah.
"Enak saja, kau yang harus bekerja. Tak ada yang pernah berani menyuruhku seperti ini." Ucap Baekhyun datar. Selanjutnya pemuda itu memanjat pohon disana.
"Yak! Kenapa malah memanjat? Dasar kera! Aucch!"
Baekhyun menyengir tak berdosa saat melempari kepala Chanyeol dengan ranting pohon. Setelahnya ia kembali memasang ekspresi datar yang menyebalkan.
"Turun kau! Atau aku akan melapor karena kau tidak bekerja!"
"Oy! Kau dua siswa yang sedang berjalan!"Bukannya meladeni ucapan Chanyeol, Baekhyun malah memanggil dua orang siswa berkaca mata yang kebetulan sekali melintas disana.
"Suara Baekhyun sunbae, tetapi orangnya mana?" Tanya siswa yang satu pada temannya.
"AKU DIATAS SINI!" Teriaknya sebal. Dua siswa itu langsung mendekati pohon yang di 'huni' oleh Baekhyun saat ini.
"A-ada apa sunbae-nim?"
"Sekarang, cabut rumput-rumput itu. Jika tidak, maka bersiaplah rambut kalian yang akan ku cabut." Ancaman yang konyol bagi Chanyeol, tetapi tidak untuk dua siswa itu.
Chanyeol hanya terdiam, melihat dua siswa lemah itu mau-mau saja ditindas oleh Baekhyun seperti ini. Asal tau saja, Chanyeol memang berandal, tetapi ia tidak pernah menindas pihak lemah seperti ini. Ia justru sering terlibat perkelahian akibat menolong siswa-siswi lemah yang tertindas.
Dan, pemandangan di depannya membuat Chanyeol takjub bukan main. Bagaimana dua siswi bertubuh tinggi ini takut dengan bocah pendek sejenis Baekhyun? Tetapi dari pada itu, lebih baik Chanyeol kabur sekarang juga. Toh, sudah ada 'pesuruh' Baekhyun yang membersihkan halaman belakang sekolah itu kan?
"Terima kasih. Aku akan menraktir kalian berdua cola setelah ini. Aku pergi dulu."
Dan kalimat tersebut menjadi kalimat terakhir. Chanyeol segera melesat pergi. Kedua siswa tadi terdiam, namun kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Sementara Baekhyun, sepertinya anak itu sudah terlelap di salah satu dahan pohon diatas sana.
.
.
Baekhyun meringis saat Sehun mengobati luka lebamnya. Mereka saat ini berada di kediaman Sehun omong-omong. Baekhyun malas pulang ke rumahnya karena pasti para maid suruhan ibu dan ayahnya akan bertanya macam-macam mengenai lebam-lebamnya.
"Kenapa tidak kau bunuh saja anak baru itu?" Geram Sehun.
Baekhyun mengedikkan kedua bahunya.
"Kau tau sendiri dan pernah merasakan tinjunya. Walau aku malas mengakui tetapi tinjunya sangat kuat. Dan juga pertahanan dirinya benar-benar sulit untuk di patahkan."
Sehun mengangguk, menyetujui. Benar, Pukulan Chanyeol itu mengerikan. Aku sudah pernah bilang bukan jika Chanyeol akan berubah bar-bar dan tak terkendali saat menghajar siapa pun?
"Baek, kau tau? Wajahmu itu cantik sekali jika dilihat dalam jarak dekat seperti ini." Goda Sehun. Baekhyun melotot horror langsung saja memukul kepala Sehun keras.
"Sejak kapan kau menggoda lelaki hah? Ish! Dasar menjijikkan!"
"Hehehe, aku hanya bercanda. Tetapi, pukulanmu sakit sekali sialan!"
Baekhyun terkekeh pelan. Ia tau, Sehun hanya bercanda. Itu hanya cara lelaki berkulit putih itu untuk mencairkan suasana.
"Padahal aku akan mengajakmu ke arena balap malam ini. Sayang sekali, wajahmu lebam_"
"Aku mau! Aku ikut! ya? Sehunnie~"
Sehun terkesiap saat Baekhyun melakukan aegyeo. Diam-diam lelaki itu tersenyum tipis.
"Tanpa aegyeo pun, aku akan mengajakmu."
"A-apa? Sejak kapan aku beraegyeo?!" Elak Baekhyun. Sehun hanya terkekeh lalu mengusap rambut merah Baekhyun pelan.
"Ish! Berhenti bersikap seperti itu Oh Sehun! Itu menggelikan!"
.
.
Sehun mengendari Hyosung GT250 nya menembus jalanan malam kota Seoul. Baekhyun memeluknya kencang, takut-takut jika tidak berpelukan erat maka ia akan terbang dan jatuh ke aspal.
Arena balap sudah mulai ramai. Beberapa ada yang mengenal Sehun menyapa lelaki itu. Semua hening saat Baekhyun turun dan melepas helmnya. Walau dengan wajah lebam, tentunya mereka masih mengenali rupa si setan kepala merah.
Suatu hal yang jarang terjadi. Biasanya Baekhyun lebih sering bergabung dengan klub balap mobil dibanding balap motor seperti ini. Entahlah, Baekhyun hanya sedang suntuk berada di rumahnya. Melihat Sehun bertanding sepertinya seru juga.
"Hey Bro! Kau membawa tuan muda yang terhormat ternyata."
"Diam kau Yongguk." Ucap Baekhyun tak bersahabat. Lelaki bernama Yongguk itu hanya tertawa sebagai balasan.
"Baiklah, siapa penantang malam ini?" Tanya Sehun.
"Wow! Tidak sabaran sekali kau Tuan Oh. Baiklah, malam ini kita kedatangan tamu istimewa."
Alis tajam Sehun tertaut. Tamu istimewa? Sepertinya akan menarik, fikirnya.
"Kau tau? Phoenix bersedia menerima undanganku untuk bermain di jalur kita."
Phoenix? Mata Sehun terbelalak. Sudah lama ia ingin bertemu dengan sosok 'Phoenix' yang ditakuti itu. Sehun juga ingin tau, bagaimanakah rupa Phoenix. Karena, hanya beberapa orang yang pernah melihat rupa lelaki itu.
BRUUMMMM... Sura mesin motor membuat semua mata tertuju pada seseorang yang paling dinantikan itu. Itu Phoenix, dengan motor hitamnya.
"Ah! Dia datang! aku kesana dulu okay?"
Yongguk berjalan, mendekati phoenix yang masih belum melepas helmnya. Keduanya seperti membicarakan sesuatu.
Baekhyun menatap sosok tinggi itu lamat-lamat. Seperti familiar baginya, tetapi selanjutnya pemuda itu tampak tak peduli. Ia sibuk bermain game melalui ponselnya.
Beberapa saat setelahnya, Yongguk kembali dengan senyum misterius.
"Hey! Phoenix setuju untuk bertanding!"
Wajah Sehun sontak bersinar bahagia. Ini yang ia tunggu sejak lama. Namun perkataan Yongguk setelahnya membuat Sehun tak percaya.
"Tetapi ia ingin bertanding dengan lelaki pendek disebelahmu."
"APA!?" Baekhyun memekik tak percaya. Otaknya berfikir keras. Kenapa phoenix ingin dirinya yang bertanding? Padahal sudah jelas jika Sehun penantangnya bukan?
"Kenapa? Kau tidak bisa bawa motor?" Tanya Yongguk sok polos, namun terdengar mengejek.
"Sial! Aku bisa! Tetapi aku hanya bingung, kenapa dia memilihku?"
"Entahlah, mungkin karena rambut merahmu yang mencolok itu? Ayo, bersiap-siap sekarang!"
Sehun mencekal lengan Baekhyun. Menatap mata Baekhyun seolah bisa bertelepati. Ia berharap Baekhyun tak mau menerima ajakan ini. Walau Baekhyun mahir membawa motor, Sehun hanya khawatir saja.
"Tidak masalah bung. Aku bisa mengatasinya."
Baiklah. Akhirnya Sehun mengangguk pasrah. Ditilik lebih jauh lagi, ini pasti menarik. Phoenix dan setan berkepala merah. Suatu hal yang sangat langka dan pertama kalinya terjadi.
Arena balap telah dipenuhi sorak-sorai penonton yang kebanyakan berjenis kelamin pria. Baekhyun sudah siap dengan motor milik Sehun. Ia sempat menatap sekilas ke samping. Ke arah phoenix yang belum juga melepas helmnya sejak tiba disana.
Kepala yang tertutupi helm itu menoleh ke arah Baekhyun. Phoenix-atau sebut saja Chanyeol menyeringai dibalik helmnya. Suatu keberuntungan baginya karena menerima ajakan Yongguk untuk bermain di jalur ini. Tak disangka si angkuh Byun Baekhyun ada disana dengan wajah lebamnya. Baik, Chanyeol akan mengalahkan si pendek itu agar semua orang tau jika phoenix lebih hebat.
Baekhyun menutup kaca helmnya. pandangannya kembali fokus ke depan. Saat gadis di depan sana memberi aba-aba, kedua lelaki itu mulai bersiap. Dan ketika bendera hitam putih di naikkan ke atas, kedua motor tersebut melesat dengan cepat.
Baekhyun benar-benar ingin tertawa saat phoenix tertinggal jauh di belakangnya. Jadi ini phoenix si penguasa jalanan itu? Ia tersenyum mengejek.
Tetapi itu tak bertahan lama, karena setelahnya motor hitam Chanyeol dengan mudahnya melewati Baekhyun. Pertarungan baru akan di mulai.
Kedua motor itu saling berpacu, siapa yang duluan mencapai garis finish dialah pemenang yang sesungguhnya. Baekhyun tak ingin disebut pecundang jika kalah. Harga dirinya dipertaruhkan disini. Jadi lelaki itu menaikkan kecepatan motornya.
Baik Chanyeol maupun Baekhyun tak ada yang ingin mengalah tentu saja. Garis finish sudah dekat, Baekhyun dengan jantung berdebar kembali menaikkan kecepatannya. Phoenix berada tepat di sebelahnya. Saat garis finish mencapai lima meter lagi, Baekhyun semakin berdebar. Suara sorak sorai penonton terdengar riuh. Mata sipitnya yang tak fokus melirik ke sebelahnya. Phoenix berada tepat disampingnya, bahkan lelaki itu menepuk pundaknya. Astaga! Bagaimana bisa?
Chanyeol membuka kaca helmnya. Baekhyun mengerutkan dahinya, seperti familiar dengan mata itu. Kedipan nakal dari mata Chanyeol membuatnya tersentak. Fokusnya mendadak buyar. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan. Ada apa ini?
'Phoenix! Phoenix!' samar-samar ia mendengar suara beberapa gadis berteriak histeris. Sial! ia dikerjai! Phoenix lebih dulu sampai. Lelaki itu saling bertepuk tangan dengan Yongguk. Oh shit! Ini bukan masalah tropi atau uang yang akan di dapatkan pemenang. Ini soal harga diri!
Baekhyun tiba dengan wajah kusut. Ia melepas helmnya kasar, menyerahkannya ke tangan Sehun yang memang menghampirinya.
"Baek_"
"Motormu memang payah! Tidak berguna! Segera ganti motormu!" Umpatnya dingin. Sehun menelan ludahnya, ia mengangguk kaku setelahnya. Baekhyun yang marah adalah hal yang paling mengerikan okay? Bisa saja tangan Sehun patah seperti kejadian tahun lalu.
"Baik. Tetapi kau sudah berusaha okay?"
"Sial! Brengsek itu membuatku malu!" Umpat Baekhyun.
"Baek? Ayolah, ini hanya permainan. Orang-orang juga tak begitu peduli. Kalah dan menang adalah hal wajar di dalam pertandingan. Kau tenang okay?" Bujuk Sehun berusaha mengendalikan emosi Baekhyun yang hampir meledak.
"Siapa si busuk itu? Aku ingin melihat wajahnya! Lihat saja, aku akan membalas!"
Lelaki pendek itu berjalan menuju tempat Chanyeol dan Yongguk berada. Sehun mengejar Baekhyun berusaha menahan, namun apa daya? Kemauan Baekhyun takkan bisa dipengaruhi.
"Wow! Permainan yang hebat, phoenix!" Baekhyun bertepuk tangan, namun wajahnya tetap datar.
Chanyeol memutar bola matanya malas dari balik helmnya.
"Kenapa Byun? Kau seperti tidak rela jika phoenix menang?" Tanya Yongguk diiringi kekehan menyebalkan.
Baekhyun balas menyeringai, ia melipat kedua tangannya di depan dada.
"Well, aku justru senang. Dengan begini aku punya alasan untuk mengajak orang ini kembali bertanding. Kau tau Yongguk? Aku tidak akan berhenti sampai kemenangan berada di tanganku!"
'Dasar sombong! Keras kepala!' Gumam Chanyeol, tentu saja tak ada yang mendengarnya.
Baekhyun yang merasa tak direspon sama sekali oleh sosok phoenix langsung menggeram kesal. Didekatinya lelaki tinggi itu lalu berusaha membuka helmnya. Yongguk dan Sehun yang melihat hal itu langsung berusaha melerai. Astaga! Ini seperti melihat seorang istri yang ingin menggunduli kepala suaminya karena ketahuan berjudi.
"Lepas helm mu brengsek! Jangan menjadi pengecut!"
"Hey Baek, lepaskan! Kau bisa membuat kepalanya terpisah dari lehernya!" Peringatan Yongguk tak berarti apapun untuk lelaki pendek itu. Ia malah semakin gencar ingin membukanya.
Chanyeol yang merasa kepalanya sakit tidak tahan lagi untuk segera bertindak. Di cengkramnya kedua tangan Baekhyun. Sangat kuat sampai membuat Baekhyun meringis.
Jika saja mereka semua melihat, Chanyeol sedang menatap Baekhyun dengan aura membunuhnya saat ini. Lelaki itu sengaja mendekatkan wajahnya. Ia membuka kaca helmnya. Mata bulat dan poni yang sedikit terlihat menutupi alis Chanyeol membuat Baekhyun merasa deja vu.
"Hai, senang berkenalan denganmu."
Chanyeol menyeringai melihat reaksi Baekhyun. Lelaki itu tampak belum puas karena wajah Chanyeol hanya terlihat sedikit yakni dibagian matanya.
Suara itu... Baekhyun merasa begitu kenal, namun tidak bisa menebaknya. Sialnya.
"Lain kali kita akan bertanding lagi. Aku permisi... Cantik."
Chanyeol berlalu, setelah berpamitan dengan Yongguk. Sungguh, ia benar-benar hampir kelepasan tertawa saat melihat wajah bodoh Baekhyun tadi.
Setelah motor hitam itu melesat pergi, Baekhyun baru sadar dari lamunannya.
"Pffhtt... Kau dibilang 'cantik' olehnya Baek." Ucap Yongguk menahan tawa.
Baekhyun menggeram, buku tangannya sampai memutih. Siapa phoenix itu? Berani sekali ia menginjak image Baekhyun sebagai lelaki berkuasa?
"Brengsek! Aku akan mencari tau siapa itu phoenix!"
.
.
Suasana sekolah tampak rusuh. Guru-guru sedang mengadakan rapat. Jadilah seluruh murid terbengkalai, tak ada yang mengkoordinir.
Chanyeol menguap dibangkunya beberapa kali. Ia tidak tidur semalam. Ayahnya menghukumnya seperti biasa karena ketahuan keluyuran di malam hari. Chanyeol dihukum untuk menghitung berapa banyak biji kacang hijau di dalam pelastik. Sungguh, terkadang tuan Park bisa jadi kekanakan dalam memberi hukuman. Chanyeol jadi ingat kakak seniornya saat di SMP dulu. Saat masa orientasi siswa, mereka disuruh membawa seratus delapan puluh lima biji kacang hijau.
Tetapi tuan Park tidak asal saja omong-omong. Ayahnya itu berujar dengan wajah menahan kesal,
"Hitunglah, lalu lapor padaku saat kau selesai."
"Tetapi ini banyak sekali Ayah! Ini tidak berguna!"
"Ya... Memang tidak berguna. Seperti kelakuanmu. Banyak bukan? Sebanyak itulah kelakuan tak bergunamu yang membuatku geram!"
Chanyeol menepuk mejanya kesal karena kembali membayangkan kejadian semalam. Tubuhnya ia rileks kan. Punggunya pasti sakit jika tidur duduk seperti ini. Jadi ia memutuskan untuk ke ruangan kesehatan saja.
Pintu ruangan putih itu terbuka, namun sial. Beberapa siswi duduk disana sambil cekikikan. Mereka terdiam saat kedatangan Chanyeol. Bahkan ada yang tersenyum genit ke arahnya, membuat Chanyeol bergidik.
"Annyeong Chanyeol-ssi, ingin beristirahat? Ayo, bergabung dengan kami." Ucap seorang bernama Soojin. Perempuan berambut pirang itu mengedipkan matanya nakal.
Oh tidak! Bisa-bisa keperjakaan Chanyeol hilang di dalam sana. Jadi lelaki itu memutuskan untuk pergi dari sana.
Matanya membuka lalu menutup beberapa kali. Sudah beberapa ruangan ia kunjungi. Ruang teater, sayangnya anak teater tengah berlatih disana. Perpustakaan? Heol! Chanyeol malas berurusan dengan penjaga perpustakaan yang galak jika ketahuan tidur disana. Ruang tari, sepertinya banyak yang sedang berlatih disana, termasuk dua teman Baekhyun- Sehun dan Kai. Oh Baiklah, dimana lagi eoh? Ruangan olahraga? Itu juga sudah. Disana berisik. Jam bebas seperti sekarang tentunya di pakai siswa-siswi untuk bermain basket atau semacamnya. Jadi hanya tinggal satu ruangan, itu ruangan musik!
Chanyeol tersenyum lebar saat melihat ruangan itu kosong. Bagus! Istirahat yang akan menyenangkan. Chanyeol menyusun beberapa bangku lalu merebahkan tubuhnya disana. Walau sedikit sakit karena tidur diatas bangku kayu yang keras, tetapi itu tidak masalah. Saat matanya hampir terpejam sempurna, suara derap langkah kaki membuatnya terganggu.
Posisi Chanyeol yang memang berada diujung membuat sosok itu tak menyadari keberadaannya. Chanyeol mengintip diam-diam. Itu Byun Baekhyun kan?
Baekhyun duduk berhadapan dengan grand piano didekat jendela. Ia mulai menekan tuts-tuts piano dengan mahir. Jemarinya seolah menari disana.
Lagu Yiruma - Memories in my eyes, Chanyeol tau itu. Berandal-berandal begitu, ia penikmat musik klasik juga omong-omong.
Melodinya sarat akan kesedihan, Chanyeol sampai terhanyut sendiri. Hingga lamat-lamat ia tertidur pulas, seperti mendengar lullaby sebelum tidur.
Sementara itu, Baekhyun yang telah selesai dengan permainan pianonya mendesah pelan. Sorot mata yang biasanya tajam kini terlihat sendu. Ia menatap keluar jendela, ke arah langit kelabu diatas sana.
"Aku merindukanmu..." Lirihnya sangat pelan.
.
.
Chanyeol terbangung, ia tersentak. Sial! Ini sudah pukul empat sore. itu artinya sekolah telah bubar dua jam yang lalu. Kemungkinan hanya tinggal murid yang mengikuti ekskul yang tertinggal di sekolah. Chanyeol mengusak rambutnya hingga tak tertata rapi. Ia bangkit dari acara berbaringnya lalu keluar dari ruangan tersebut.
Ponselnya bergetar, pesan singkat dari Luhan membuatnya tersenyum lega. Ia segera turun ke lantai dasar. Kakinya berlari-lari kecil menuju lapangan sepak bola. Di salah satu bangku penonton Luhan duduk dengan ponsel ditangannya. Ia masih mengenakan seragam club sepak bola sekolah.
"Hey! Maaf membuatmu menunggu."
"Tidak masalah, lagi pula aku juga memang ada latihan hari ini. Ini, tasmu."
Chanyeol menerimanya lalu tersenyum. Luhan tertawa pelan lalu menunduk.
"Kenapa kau tertawa?" Heran Chanyeol.
Luhan menggeleng dengan wajah memerahnya.
"Tidak, rambutmu berantakan sekali."
Lelaki cantik itu berdiri, sedikit menjijit. Ia merapikan helaian rambut hitam Chanyeol.
Chanyeol tersentak, matanya menatap wajah Luhan dari jarak dekat. Sedikit tersentuh dengan perlakuan Luhan baru saja.
"Nah! sudah rapi kembali!"
Entah Chanyeol salah atau tidak, tetapi ia melihat kedua pipi Luhan merona. Sama persis ketika pertama kali mereka bertemu.
"Terima kasih." Ucap Chanyeol.
"Mau pulang bersama?" Tawar Luhan. Chanyeol mengangguk mengiyakan. Hitung-hitung mendapat tumpangan gratis. Karena selama bersekolah disana Chanyeol tak pernah membawa motor kesayangannya lagi. Alasannya sederhana, ayahnya melarang. Jika pada malam hari, tentu saja Chanyeol membawa motornya diam-diam, itu lain cerita.
Tak ada yang tau, mereka tak ada yang sadar jika ada seseorang yang melihat dari kejauhan dengan rahang mengeras.
"Sialan!"
.
.
TBC
.
.
Aaaaakkk! Aku senang! Respon kalian bagus-bagus! kkkk...
Oh ya, karakter Chanyeol disini memang agak 'sedikit' beda dari biasa. Kalo biasa Chanyeol yg bertindak sok dingin sama sok berkuasa, disini karakter Chanyeol itu lebih kayak berandalan-berandalan songong gitu.
Buat yang minta PHO nya uke aja, aku udah fikirin. Kalian bakal tau kalo terus ikutin cerita ini, hehe. Atau udah ada yg bisa nebak itu siapa?
Yang minta Hubungan Chanbaek tetap berantem, tenang... Itu tetap terjadi. dan soal ciuman diatas, kalian tenang aja... Itu cuma awal, awal yg ngebuat Baekhyun ngelirik Chanyeol /eaaaa
oke deh, sekian bacotan gak guna dari leon. Ada yg mau ditanya? Kirim PM aja.
Makasih buat yang udah review di chapter sebelumnya,
REVIEW lagi? biar next deh...
Doain biar gak ngaret updatenya... Oke, bye!
