Title : Lightsaber (Chanbaek)
Author : Dandelionleon
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun.
Other cast : Oh Sehun, Luhan, Do Kyungsoo, Kim Jongin (Kai), Tuan Park (OC)
Cameo : Zelo (BAP), Seo Kangjun, Minhyuk (CN BLUE).
Genre : Romance, Friendship, humor, school-Life.
Rate : T - M
disclaimer : EXO milik SM Entertainment. Story punya ane.
Warning! YAOI, Typo, Amburadul(?) , banyak mengandung bahasa kasar- mohon untuk tidak ditiru, diharapkan untuk bocah yang berumur 5 5 tahun ke bawah untuk tidak membaca! /woy/
oke... Happy reading guys...
.
.
Baekhyun mengamuk, menghajar siapa saja yang menegurnya. Beberapa orang suruhannya juga tak luput dari kekesalannya. Dirinya murka, mendapati Luhan dan Chanyeol pulang bersama. Bukan, bukan karena cemburu. Tetapi lebih kepada kesal karena rencananya untuk menghabisi Chanyeol gagal. Rencananya ia akan menyuruh beberapa orang kepercayaannya untuk menghabisi sosok Chanyeol. Bukan karena ia tak sanggup menyerang lelaki itu sendirian, tetapi Baekhyun ingin kali ini namanya bersih.
Sayangnya, Luhan si anggota club sepak bola itu mengajak Chanyeol pulang bersama.
"Sialan! Dasar tidak berguna!"
Jongin dan Sehun berlari tergopoh untuk menahan Baekhyun. Lelaki bersurai merah itu hampir saja melayangkan stick golf pada salah satu bodyguardnya.
"Baek! Tenangkan dirimu!" Teriak Jongin masih berusaha menahan tubuh Baekhyun.
"Lepaskan aku!"
"Baek! Berhenti! Kau marah tanpa alasan yang tidak masuk akal!"
Bentakan Sehun tersebut membuat Baekhyun terdiam. Otaknya mencerna tiap untai kata yang Sehun keluarkan barusan. 'alasan yang tidak masuk akal'. Ya, untuk apa ia semarah itu? Toh masih ada hari esok kan?
"Tetapi Luhan pulang bersama Chanyeol dan rencanaku gagal karenanya!"
Baik Sehun maupun Jongin saling tatap tak mengerti.
"Lalu apa yang salah? Kau bisa menghabisinya lain waktu." Tanya Jongin heran.
Baekhyun menjambaki rambutnya sendiri. Ia juga tak mengerti mengapa dirinya seperti ini. Emosinya tak bisa terkontrol akhir-akhir ini.
"Baek, aku tau kau punya masalah dan ini bukan mengenai Luhan atau anak baru itu. Kau tidak bisa seenaknya melampiaskan kemarahanmu pada orang tak bersalah." Ujar Sehun dengan nada sepelan mungkin.
"Sehun benar, jika kau ada masalah jangan pendam sendirian Baek. Ada kami."
Baekhyun menatap dua orang itu tajam, ia lantas meninggalkan ruangan tersebut tanpa sepatah kata pun.
.
.
Hidup sebagai tuan muda Byun membuat Baekhyun harus bertindak penuh dengan tata krama. Keluarga Byun yang dipandang hormat tentunya tak ingin anggota keluarga mereka menghancurkan citra baik pada orang banyak. Sedari kecil, Baekhyun hidup dengan kebosanan. Hidup dengan penuh kekangan. Hartanya memang berlimpah, namun curahan kasih sayang itu tak pernah ada. Apalagi sejak ibunya meninggal dunia. Ibunya, penerang hidupnya, orang yang paling ia sayangi di dunia ini.
Baekhyun menyalahkan dirinya sendiri atas kematian sang ibu. Kecelakaan itu terjadi karena ibunya berusaha menyelamatkan Baekhyun kecil yang tengah mengambil bolanya di jalan. Naas, sang ibu tertabrak truk demi menyelamatkan putra tercintanya.
Ayahnya mulai berubah saat itu. Rasa cintanya pada sang istri membuat lelaki itu gelap mata. Bahkan ia membenci anak kandungnya sendiri. Dari sana, Baekhyun dan ayahnya seperti orang asing. Berbicara dengan penuh kekakuan.
Menginjak usianya yang ke empat belas tahun, Baekhyun mulai keluar dari jalur lurusnya. Ia mulai berani merokok, berkelahi bahkan mabuk-mabukan, hal yang tak wajar dilakukan oleh anak seusianya.
Dua hari yang lalu, ayahnya menghubunginya. Sang ayah mengetahui belang busuk Baekhyun. Lelaki itu mengancam Baekhyun, jika saja tingkah Baekhyun masih sama, maka ia takkan segan-segan untuk memindahkan Baekhyun ke Amerika.
Baekhyun tidak peduli. Karena sesungguhnya yang ia butuhkan hanyalah kasih sayang, bukan bentakan atau makian dari sang ayah.
"Tuan muda, kita sudah sampai." Suara supir Kang menyadarkan Baekhyun. Lelaki berparas manis itu berjalan dengan gaya angkuh seperti biasa.
Rumahnya sunyi, sangat sunyi. Hanya ada beberapa maid yang berlalu lalang. Baekhyun masih tetap mempertahankan ekspresi datarnya. Benar-benar membosankan, fikirnya. Maka dari itu ia memutuskan untuk pergi lagi, tentunya tanpa ada supir yang menemaninya.
.
.
Sekolah benar-benar memuakkan, itu yang ada di kepala Chanyeol. Sungguh! semenjak kepindahannya ke SM High School, hidupnya seperti terkekang secara otomatis. Ancaman sang ayah mengenai dirinya yang tidak akan disekolahkan lagi jika masih berbuat onar membuat Chanyeol mau tak mau menurut. Heol! Tidak sekolah? Lalu masa depannya mau jadi apa? Jadi miskin? Tidak, tidak! Chanyeol tidak mau!
Jadi disinilah ia, di dalam kelas dengan wajah tertekuk sempurna. Mendengar celotehan guru fisikanya mengenai gerak lurus atau apapun itu.
Matanya menoleh ke luar kelas. Kebetulan ia duduk bersebelahan dengan jendela. Entah sial atau bagaimana, Lightsaber lewat merusak keheningan.
"Cih! Memangnya mereka idol?" Gumam Chanyeol tak suka. Ia menggelengkan kepalanya saat melihat gadis-gadis di luar sana memekik seperti orang kerasukan. Ayolah! Ini jam belajar, kenapa tak ada satu guru pun yang menghentikan hal itu?
Oh ya, mereka kan 'istimewa'!
Sial!
Chanyeol berdecak. Ditambah lagi dengan kebosanan sialan ini. Baiklah, lebih baik Chanyeol bolos saja.
HUP! Tangannya mengacung ke atas. Guru fisikanya langsung berhenti berceloteh sejenak.
"Ada apa Park Chanyeol?"
Chanyeol memegangi perutnya, memasang ekspresi kesakitan. Well, aktingnya sepertinya berpengaruh.
"Perutku sakit sekali Pak."
Syukurlah guru gendut itu bukan tipikal orang yang susah diajak nego. Dengan mudahnya ia mempercayai Chanyeol lalu mempersilahkannya ke ruang kesehatan.
Tujuan Chanyeol tentu saja tak kesana. Kakinya melangkah menuju atap sekolah yang memang tak pernah sekalipun ia kunjungi. Chanyeol anak baru, ingat itu.
Sesampainya disana, ia mengelurakan sebatang rokok dari saku kemejanya. menyalakan pematik lalu setelahnya ia menghisap benda bernikotin itu dengan santainya. Kepulan asap beberapa kali keluar dari mulutnya.
Mata bulatnya berpendar, mencari sesuatu yang mungkin menarik. Well, sepertinya ia tak sendirian disana. Seseorang tengah berdiri membelakanginya. Siswa berambut merah_ tunggu dulu...
Chanyeol berjalan hati-hati, mendekati sosok itu. Masih dengan menghisap rokoknya. Semakin mendekat dan semakin yakin dirinya jika itu sosok yang paling membuatnya jengah selama beberapa hari ke belakang ini.
"Shit! Kenapa korek ini tidak mau menyala? Sial!"
Umpatan dengan suara khas itu terdengar jelas ditelinga lebar Chanyeol. Ia hendak menepuk pundak sempit itu namun sosok itu lebih dulu berbalik hingga wajahnya membentur dada bidang Chanyeol.
"Aish! Kau mengejutkanku!" Pekik sosok itu, Byun Baekhyun.
Bukannya takut Chanyeol malah menghembuskan asap rokoknya tepat ke wajah Baekhyun. Baekhyun sedikit terbatuk, namun itu tak lama.
"Kebetulan, Aku pinjam korekmu." Ujar Baekhyun santai, seolah sebelumnya mereka tak pernah terlibat perang.
"Tidak. Anak kecil dilarang merokok." Ujar Chanyeol disertai senyuman mengejek.
Baekhyun berdecih pelan, diraihnya tengkuk Chanyeol yang mana membuat Chanyeol terpaksa sedikit merendahkan tubuhnya.
Rokok terapit dibelah bibir Baekhyun. Matanya fokus pada rokok yang terapit dibibir Chanyeol. Chanyeol menegang saat wajah Baekhyun mendekat. Mata bulatnya tak berhenti menatap wajah itu dari dekat.
Baekhyun mendekatkan ujung rokoknya pada rokok Chanyeol. Setelah selesai dengan urusannya, Baekhyun bergerak menjauh. Ia menghisap rokoknya sambil menatap ke depan.
Chanyeol masih mematung dalam posisinya. Uh well, apa-apaan itu tadi? Batinnya bertanya. Seakan tersadar dari lamunan bodohnya, ia kembali menegakkan tubuhnya seperti semula. Tak ingin kalah, ia berdiri tepat disebelah Baekhyun. Keduanya saling menghisap rokok masing-masing.
"Tidak ku sangka, lelaki berparas cantik sepertimu bisa merokok juga." Itu suara Chanyeol.
Baekhyun menoleh sekilas lalu kembali fokus dengan pandangannya semula-entah apapun itu.
"Sialan! Aku tidak cantik." Ujarnya kesal. Chanyeol balas terkekeh. Lelaki itu membuang puntung rokoknya yang memang telah habis terbakar lalu menginjaknya dengan ujung sepatunya.
"Baiklah, kau punya rokok lagi?" Tanyanya tidak tau malu. Baekhyun menoleh lagi, tanpa berkata apapun ia memberikan sebatang rokok ke tangan Chanyeol.
Chanyeol menyalakan rokoknya-lagi- dengan menggunakan koreknya. Keduanya kembali terdiam, seolah berada di dunia masing-masing.
"Omong-omong, jangan kira perang kita telah berakhir." Ucap Baekhyun, memecah keheningan.
Chanyeol mengangguk malas. Sejujurnya ia paling malas dengan perang dengan banyak episode seperti ini. Baginya, jika benci maka saling memukul lalu selesai.
"Ya, terserahmu saja Byun. Tetapi jika perangmu seperti pembullyan kemarin, maaf saja itu bukan style ku."
Baekhyun Mengerutkan dahinya, menatap Chanyeol penuh tanya. Lelaki tinggi di sebelahnya menyeringai misterius. Tak tau apa isi fikirannya.
"Melihatmu yang sepertinya tidak ingin perang ini berakhir, bagaimana jika kita beranding. Kau dan Lightsaber mu itu, serta aku dan teman-temanku."
Baekhyun masih memasang raut wajah tak mengerti. Teman-teman? Itu artinya Chanyeol juga memiliki genk seperti itu?
Seakan mengerti dengan jalan fikiran Baekhyun, Chanyeol tertawa.
"Aku punya, dan mungkin ini akan seru. Phoenix adalah ketua genk kami."
Diameter mata Baekhyun sontak membesar. Phoenix? Oh great! Setelah beberapa malam lalu ia dikalahkan dengan orang sok misterius itu, sekarang ia berhadapan dengan anak buah Phoenix? Ya sebut saja begitu, karena Baekhyun belum menyadari jika phoenix itu adalah Chanyeol.
Kesempatan emas, Baekhyun memang ingin menyerang Phoenix setelah kekalahannya yang lalu. Ia akan menunjukkan jika Lightsaber tidak bisa dipandang sebelah mata. Baekhyun pastikan itu.
"Baiklah, tiga lawan tiga. Kau sampaikan pada ketua kelompokmu itu. Tidak ada penyamaran identitas karena aku benci dengan pengecut!"
Chanyeol menatap Baekhyun tak kalah sengit. Ia membuang rokoknya yang masih tersisa setengah lagi.
"Tentu saja, dan ingat satu hal! Phoenix bukanlah pengecut!" Desisnya berbahaya.
Baekhyun tersenyum sinis, namun ia sedikit tersentak saat melihat wajah Chanyeol dalam jarak sedekat itu.
"Nanti malam, kau datangi sebuah gudang tua di dekat sekolah Hyeongsang, Gangsan-do, Hongdae. Jam 8 malam. Jika kalian tidak datang maka kalian adalah pecundang."
.
.
Baekhyun telah siap, ia mengajak Jongin dan Sehun juga beberapa anak jalanan untuk berjaga-jaga. Dan benar saja! Chanyeol mengepungnya! Lelaki itu telah siap dengan pasukannya, entahlah mungkin berjumlah sekitar dua puluh orang dan semuanya berpakaian seragam sekolah.
"Kau datang juga. Kalian bernyali besar ternyata."
Baekhyun menggeretakkan giginya. Sehun disebelahnya masih menatap Chanyeol datar, sedangkan Kai sepertinya sudah siap dengan tinjunya. Tangannya terlihat terkepal sangat kuat.
"What the hell about this heh? Kau mengepung kami?" Tanya Kai benar-benar kesal.
Bukannya menjawab Chanyeol malah tertawa.
"Kenapa? Kalian takut? Aku melakukan ini karena aku tau kalian juga membawa tim di luar sana." Kata Chanyeol dengan menekankan kata 'tim', seperti mengejek.
Baekhyun masih diam, mencoba mengontrol emosinya. Ia tau apa yg Chanyeol mau, melihatnya emosi. Baekhyun yang dikenal sangat tenang itu tentunya akan sulit menebak jalan fikirannya saat ini.
Satu sisi, Chanyeol juga tak ingin terburu-buru. Ia masing ingin bermain-main sejenak. Pemuda itu berjalan, mengitari tiga anggota Lightsaber. Ditangannya terdapat sebuah kayu. Mungkin untuk memukul? Tetapi sepertinya tidak, ia malah melemparkan kayu tersebut pada drum yang berisikan kobaran api yang berada tak jauh dari mereka berada.
"Kalian tau? Tubuhku sedikit kaku karena tidak pernah menghajar seseorang lagi." Teriaknya menggema.
"Ya, aku tau Yeol. Kau biasanya akan menghajar minimal sepuluh orang sekaligus dalam satu hari." Balas Zelo, rekan sejawat Chanyeol dari sekolah lamanya.
Sehun saling tatap dengan Kai seolah Bertanya tak yakin. 'sepuluh sekaligus'? What? Memangnya dia superhero?
"Baiklah brengsek, kami tak punya waktu untuk mendengar omong kosongmu." Baekhyun yang sejak tadi diam langsung angkat bicara. Omong-omong, sepuluh hal yang biasa bagi anak itu. Toh dia pernah menghajar lima belas preman sangar sekaligus dengan tangan kosong.
Chanyeol berjalan mendekati Baekhyun, menatap wajahnya dalam jarak sangat dekat, bahkan ujung hidung mereka saling bersentuhan. Baekhyun tak gentar sedikitpun, ia membalas tatapan tajam lelaki tinggi itu.
"Aku ingin sekali memukulmu, tetapi berjanji padaku untuk tidak mengadu pada ibumu."
Tawa teman-teman Chanyeol langsung meledak mendengar ucapan Chanyeol. Lain halnya dengan Kai dan Sehun, mereka menegang. Merasakan aura gelap dari ketua mereka. Cantik dan pendek adalah kata keramat untuknya. Dan ibu adalah kata yang paling membuatnya sentimental.
"Hey! Lihat! Wajahnya memerah, mungkin dia akan menangis lalu berlari pada ibunya! Hahaha..." Ucap Chanyeol lagi, tak menyadari jika Baekhyun benar-benar kesal.
Ingatannya kembali ke masa lalu, saat dimana dirinya diejek dengan teman-temannya yang lain.
'Tidak punya ibu!'
'Byun Baekhyun anak cengeng! Tidak punya ibu!'
'Hey! Nanti kita diadukan pada ibunya!'
'Ah, sayang sekali ibunya sudah mati. Hahaha...'
Ejekan-ejekan tersebut berputar bagaikan kaset rusak dikepalanya. Tangannya mengepal erat. Emosinya benar-benar tak terkendali dan semakin tak terkendali saat mendengar tawa mencemooh dari tiap orang disana.
BUAGHHH... Satu tinjuan keras mengenai pipi Chanyeol. Keadaan langsung senyap. Baekhyun masih menunduk, poninya menutupi sebagian wajahnya.
"Keluar sekarang!" Teriaknya lantang. Sekitar tiga puluh anak jalanan dan beberapa lagi anak sekolah lain yang tunduk pada Baekhyun keluar dari persembunyian mereka.
Baekhyun mengangkat wajahnya, menatap Chanyeol tajam. Penuh dengan kebencian.
Chanyeol terbelalak saat melihat segaris air mata di pipi sebelah kanan Baekhyun. Entahlah, itu tak terlalu jelas karena keadaan remang disana.
"Perang akan segera kita mulai, bung. SERANG!"
Baku hantam mulai terjadi. Baik dari kubu Chanyeol maupun Baekhyun saling hantam demi nama baik bos mereka. Chanyeol masih diam di tempatnya seperti orang bodoh. Saling tatap dengan Baekhyun.
Baekhyun menatapnya kelewat datar.
'Tidak mungkin kan bocah seperti ini bisa menangis? Konyol!' Batin Chanyeol.
"Baiklah, sekarang dimana Phoenix? Karena aku ingin menghajarnya."
Chanyeol tertawa mengejek lalu mendekati Baekhyun.
"Kau bisa menghajarku." Ucapnya pelan, hampir seperti bisikan.
"Aku tidak suka menghajar ikan teri, aku ingin lawan yang seimbang."
Rahang Chanyeol mengeras. Apa-apaan itu dia disamakan dengan ikan teri? Tidak adakah perumpamaan yang lebih keren?
Oke, fokus Chanyeol! Fokus! Bukan saatnya untuk membahas ikan teri atau apapun itu.
Sepertinya Baekhyun masih belum sadar jika Chanyeol adalah phoenix. Baiklah, Chanyeol akan memberi sedikit kejutan untuk pemuda mungil itu.
Baekhyun mengernyit, saat Chanyeol membuka kancing seragamnya sendiri. Kemeja tersebut tersibak hingga tubuh berbentuk tersebut terpampang jelas dimatanya.
Sial! Di banding dengan tubuh Chanyeol, tubuh kerempeng Baekhyun tidak ada apa-apanya.
"Kenapa kau membuka bajumu?" Tanyanya heran.
Chanyeol berdecak kesal, kenapa si pendek itu tidak peka sekali, fikirnya.
Jari telunjuknya mengarah pada dada sebelah kanannya. Terdapat tattoo burung phoenix berwarna hitam disana.
"Aku adalah Phoenix, Byun."
Baekhyun terbelalak tak percaya. Mata sipitnya menatap wajah Chanyeol lekat-lekat. Mata itu, mata yang sama dengan Phoenix di arena balapan waktu lalu. Oh bagus! Kenapa Baekhyun baru menyadarinya sekarang?
"Ah, benarkah? Jika begitu tutup kembali kemejamu karena aku akan menghajarmu, benar-benar menghabisimu!"
"Lakukan saja, kita lihat siapa yang lebih unggul."
Serangan pertama dilakukan oleh Baekhyun, tanpa menunggu Chanyeol memakai bajunya lebih dulu karena Baekhyun tidak peduli. Keduanya saling memukul dan menendang. Baik Chanyeol maupun Baekhyun tersungkur ke lantai kasar gudang tua tersebut beberapa kali. Keduanya bergelut, saling menghajar. Memberikan tinjuan sekuat mungkin. Mereka terus berpindah posisi. Baekhyun diatas, atau Chanyeol yang diatas. Tidak ada yang mau mengalah.
"Polisi datang!" Teriak salah satu anak jalanan yang memang Baekhyun tugaskan untuk berjaga di luar gedung tua itu.
Keadaan semakin riuh. Beberapa banyak yang berlari demi menyelamatkan diri dari tangkapan polisi. Kai dan Sehun ikut pula, namun Baekhyun masih tertinggal, bersama Chanyeol yang tak ingat keadaan sekitar.
"Baek! Hentikan itu! Polisi telah mengepung!" Teriak Sehun frustasi karena Baekhyun tak mendengarkan.
"Berhenti! Angkat tangan kalian!"
Suara lantang dari komandan kepolisian itu membuat beberapa siswa maupun anak jalanan yang teringgal disana terdiam patuh. Namun masih ada dua orang yang saling menghajar tak tau situasi.
"Park Chanyeol!"
Chanyeol terdiam. Menoleh ke samping, mendapati sang ayah tercinta berdiri dengan wajah murka.
Niatan tuan Park semula hanyalah mencari Chanyeol karena anak itu menghilang semenjak pulang sekolah. Padahal ada jamuan makan malam dengan rekan lamanya dan Chanyeol harus turut hadir pula. Sayangnya, anak nakalnya itu tengah keluyuran dan menurut hasil lacakannya, Chanyeol berada di gudang tua ini. Bagai menepuk dua lalat sekaligus, ia menemukan kerusuhan yang dibuat murid-murid SMA disana, salah satunya adalah anaknya sendiri.
"Oh, baiklah Tuan Park yang terhormat! Aku berhenti!" Ucap Chanyeol malas, ia segera bangkit dari tubuh Baekhyun yang ia duduki sebelumnya. Wajahnya hancur parah, bahkan mata sebelah kirinya membengkak. Sejujurnya jika situasi memungkinkan, tuan Park akan menertawai bagaimana rupa putranya tersebut. Namun kepalang murka, tidak mungkin ia tertawa dalam kondisi seperti ini.
"Kau juga! Bocah kecil!" Teriak tuan Park pada Baekhyun yang tak kalah hancur dari Chanyeol. Bahkan terdapat luka sobek di pelipisnya.
"Kalian semua ikut aku ke kantor!"
Puluhan murid SMA itu di arak menuju mobil reo besar yang memang dikhususkan untuk membawa tahanan. Suara sirine mobil polisi meramaikan daerah sunyi tersebut.
Chanyeol digiring masuk dengan paksa oleh anak buah ayahnya. Mereka semua dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
.
.
"Jadi, siapa ketua genk berandalan ini?"
Baekhyun mengacungkan tangannya tak peduli, tanpa ada raut wajah takut sedikit pun. Chanyeol tak mau kalah, ia juga ikut mengacungkan tangannya tinggi-tinggi, seolah ingin menjawab pertanyaan dari gurunya yang memberi kuis.
"Jadi, bagaimana dengan anggota kalian? Haruskan aku memanggil orang tua mereka semua?"Tanya Tuan Park dengan dingin.
"Tidak, anak buahku biar aku yang akan bertanggung jawab. Bebaskan mereka, dan jika kalian ingin menahanku tidak masalah."
Ucapan Baekhyun yang terdengar begitu gentle tersebut membuat anak buahnya menatapnya haru.
"Baek? Kau serius? Bagaimana jika ayahmu_"
"Diamlah Sehun. Kalian bisa pulang setelah ini." Potong Baekhyun cepat.
Chanyeol melirik Baekhyun dalam diam. Dalam hati ia memuji keberanian lelaki itu. Ia tanpa takut bertanggung jawab akan kesalahannya.
"Baiklah, aku salut dengan keberanianmu. Dan kau, bagaimana anak muda?"
Chanyeol menatap ayahnya tajam.
"Terserah padamu saja Pak tua." Desisnya sangat pelan. Baekhyun meirik dari ekor matanya. Ada hubungan apa dua orang ini? Fikirnya.
"Baiklah, teman-temanmu ku bebaskan. Dan kalian beruda, bersiap-siaplah mendekam di dalam sel selama satu malam ini."
"APA?!/APA!" Pekik Chanyeol dan Baekhyun kompak saat mendengar hukuman polisi tersebut.
"Tidak ada bantahan. Kangjun, Minhyuk, bawa dua orang ini ke sel."
"Siap Komandan!"
Chanyeol berontak, begitupula dengan Baekhyun.
"aku bisa jalan sendiri!" Pekik keduanya, lagi-lagi secara bersamaan.
Kai dan Sehun melongo menatap dua orang yang tengah digiring masuk ke dalam sel tersebut.
.
.
Malam yang mengesalkan. Tidur tanpa tempat tidur yang nyaman, banyak nyamuk yang menghisap darah, belum lagi dingin tanpa selimut. Nyeri di wajah dan bagian tubuh lainnya juga menambah penderitaan mereka malam ini. Dan yang paling parah, dua singa jantan itu berada dalam satu sel yang sama. Berdoa saja agar mereka tidak saling membunuh.
"Paman! Ayolah! Keluarkan aku dari sini! Aku butuh kamar mandi!" Teriak Chanyeol.
"Kau baru saja dari kamar mandi 5 menit yang lalu, bocah!" Balas polisi gendut itu lalu lanjut kembali memakan ramyunnya.
Chanyeol dan Baekhyun diam-diam melirik pada Ramyun tersebut. Sial! Aromanya sangat menggiurkan! Keduanya sangat lapar, omong-omong.
Menyadari dua orang itu menatapnya, polisi gendut itu akhirnya mengangguk mengerti.
"Kangjun, berikan satu porsi ramyun untuk mereka."
"Siap komandan! Tetapi kenapa hanya satu?" Tanya polisi muda tersebut.
"Sudahlah! Masih bagus aku memberikannya. Jika tidak ingat bocah tinggi itu adalah anak atasanku, mana mau aku memberikannya!"
Baekhyun menoleh pada Chanyeol. Anak atasan? itu artinya...
"Apa lihat-lihat?" Tanya Chanyeol galak.
"Kau anak polisi yang tadi?"
"Sayangnya iya. Bapak cerewet tadi adalah ayahku." Jawab Chanyeol dengan wajah tertekuk.
Bibir Baekhyun membulat membentuk huruf 'O' . Mereka duduk bersila saat semangkuk ramyun dan segelas air putih ada dihadapan mereka. Namun lagi-lagi Chanyeol protes.
"Yak! Paman Kim! Kenapa hanya satu?"
"Belajarlah berbagi Chanyeol. " Ujar si polisi gendut dengan santainya.
Baiklah, sepertinya tak ada pilihan lain. Dari pada mati kelaparan.
"Kau, ayo makan."
Baekhyun menggeleng mendengar ajakan Chanyeol. Ia menoleh ke arah lain.
"Kau saja, aku tidak la_"
KRYUUUKKK...
"_par."
Chanyeol mendengus menahan tawanya. Dalam kondisi terjepit begini masih saja sok jual mahal, batinnya mengejek.
"Kau tertawa?" Baekhyun bertanya kesal. Sial! Dia malu! Pipinya merona tak terbantahkan.
"Tidak, ayo makan saja! Kau mau mati kelaparan?"
Akhirnya mau tak mau keduanya saling berbagi makanan. Bahkan ditengah-tengah acara makan mereka, keduanya sudah saling rebut. Dan ramyun ukuran jumbo tersebut habis tak tersisa hingga kuahnya. Baekhyun minum setelah Chanyeol, karena mereka memang diberi segelas air putih saja. Polisi Kim beralasan jika mereka minum banyak maka intensitas mereka ke kamar mandi pasti sering dan itu merepotkan.
"Ah... Leganya." Lirih Baekhyun.
Chanyeol menggeleng geli, melihat mulut Baekhyun belepotan dengan kuah ramyun tadi. Saat hendak menghapus sisa kuah tersebut, Baekhyun lebih dulu menghapusnya kasar dengan punggung tangannya.
"Behenti melakukan hal seperti di drama karena aku takkan terpengaruh."
Oke! Chanyeol, memangnya apa yang mau kau lakukan tadi? Hahaha! Dasar bodoh! Maki lelaki tinggi itu dalam hatinya.
"Cih! Percaya diri sekali kau. Aku hanya ingin mematikan lampunya."
Chanyeol menekan saklar lampu yang berada tepat dibelakang Baekhyun. Keduanya sama-sama canggung. Suara-suara mulai terhenti. Beberapa polisi ada yang sudah terlelap, namun ada pula yang berusaha terjaga.
Baekhyun meringkuk dalam tidurnya. Gelap, ia benci itu. Walau lampu di depan mereka masih menyala, tetap saja di dalam sel kecil itu mati.
"Kau kenapa?" Chanyeol menyadari pergerakan gelisah Baekhyun. Ia mendekati tubuh bergetar itu.
"Hey! Kau kenapa Byun?"
"Berisik!"
Pemuda bermarga Park itu mencibir. Ia kembali berbaring, menumpu kepalanya Dengan lengan sebagai bantalannya.
KLIK... Lampu dalam sel kecil itu kembali menyala, dan tentu Baekhyun pelaku utamanya. Chanyeol meringis, ia tak bisa tidur dalam keadaan terang. Matanya sedikit bermasalah akan hal itu.
"Aish! Matikan lampunya!"
"Tidak. Aku tidak bisa tidur dalam keadaan gelap."
Chanyeol berdecak kesal. Tubuhnya bergeser mendekati tubuh Baekhyun. Kepala pemuda itu langsung masuk ke dalam Jaket hitam yang Baekhyun gunakan.
"Y-yak! Menjauh dari punggungku!"
"Diam! Lagi pula aku tidak memelukmu, jangan khawatir. Aku hanya berusaha menghindari Cahayanya."
"Tapi_"
"Aku tidak punya jaket. Tidurlah Byun, besok sekolah." Potong Chanyeol lalu berujar seolah ia adalah ayahnya Baekhyun.
Baiklah, malam pertama di dalam sel. Sepertinya itu adalah kata yang cocok untuk kedua musuh itu.
.
.
ToBeContinued
.
.
A/N : hey... Leon bawa chapter 3, gimana? Membosankan ya? /pundung/ maaf jika mengecewakan.
Ada yg usul kalo FF ini ganti rate jadi M. Dan setelah ku fikir lagi, akhirnya aku mindahin ini ke jalur M. Bukannya apa, banyak menggunakan bahasa kasar disini, jadi menurutku lebih baik pindah sebelum kena masalah. Hehehe...
Akhirnya ada yg nyadar juga kalo ff ini mirip dgn FF debutku 'who is the devil' . :'v Tapi tenang, ini beda kok. Baekhyun disini sikapnya dingin dan jarang ketawa. kalo di WITD kan dia sok2 sangar, padahal unyu2 /plaksss/ ...
Buat yg nanya siapa yg Baekhyun rindukan, udah kejawab dong disini? Dia kangen emaknye. :'v
Oke, perang chanbaek dihentikan atau enggak? Sok atuh kasih respon di review yehet? Kalian juga bisa ngasih saran dan kritik yg membangun disana. Buat yg nanya Pin author, maaf, author gak punya :'v , mau kenalan? /bhaaqq/ ke fb aja, Rizki Zelinskaya . Siapa tau kita jodoh /uhhukk/
Review lagi...
Next chapter update fast?
Review lagiiiii... /kemudian ditendang berjamaah/
Yosshh... Sekian bacotannya... Salam Yehet!
