Title : Lightsaber (Chanbaek)
Author : DandelionLeon
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun.
Other cast : Xi Luhan, Oh Sehun, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Tuan Park(OC), Tuan Byun (OC), Mama Park (OC)
Cameo : Sungjae(BTOB), Taehyung (BTS).
Genre : Romance, Friendship, lil' bit of humor, school-Life
Rate : T - M
Disclaimer : EXO milik SM entertainment. Cerita keseluruhan ide DandelionLeon.
Warning ! YAOI (percintaan sesama jenis), Typo, Bahasa kasar, Songong! Chanyeol, Dingin! Baekhyun. DLDR!
.
.
Oke... Happy virus guys... :'v
.
.
Suara ribut-ribut mulai terdengar disekitaran kantor polisi tersebut. Banyak yang berlalu lalang atau sekedar mengobrol sejenak dengan rekan.
Baekhyun mulai tersadar dari tidur pulasnya. Punggungnya terasa sedikit pegal. Mata sipitnya mengerjap, membiasakan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Pandangan pertama yang ia lihat adalah wajah tampan yang tengah terlelap tepat di depan wajahnya. Sosok itu sedikit menggeliat, namun kembali memeluk tubuh Baekhyun layaknya guling.
Tunggu dulu...
"Menjauh dariku!"
Buaghhh... Dengan dorongan supernya, sosok yang semula memeluk tubuhnya itu terantuk dengan besi sel.
"Aucch! Yak! Kenapa kau mendorongku?!" Pekik sosok itu-Chanyeol dengan wajah protes.
"Kau memeluk tubuhku! Dasar menjijikkan!"
Tuan Park memperhatikan dua bocah SMA di hadapannya dengan raut wajah datar. Tidak bisa akur, fikirnya.
"EHEMMM!" deheman keras dari sang ayah membuat Chanyeol menoleh. Lelaki jangkung itu memutar bola matanya malas.
"Ayah, sudikah engkau mengeluarkanku dari sel ini? Aku alergi dekat dengan makhluk pendek ini."
"Apa? Pendek?! Kau_"
"Tetapi kau memeluknya semalaman." Potong tuan Park dengan santai. Baik Chanyeol maupun Baekhyun langsung bungkam. Baekhyun menggerutu dengan wajah sedikit memerah. Ingat! Hanya sedikit.
"Itu tidak sengaja, aku mengira dia guling_"
"Tuan, aku harus sekolah, bisakah aku keluar sekarang?" Baekhyun langsung menyambar omongan Chanyeol. Jika terus berdebat, maka itu takkan usai.
"Baiklah, tetapi ingatlah, jangan pernah berkelahi lagi jika tidak ingin mendekam di penjara selamanya."
"Terima kasih tuan." Ucap Baekhyun dengan senyum senang. Namun senyuman itu luntur saat mendengar ucapan tuan Park selanjutnya.
"Tetapi jangan senang dulu. Kalian berdua belum bebas dari hukuman. Seusai sekolah, kalian kembali lagi kesini. Jika tidak, tanggung sendiri akibatnya."
.
.
.
Krasak-krusuk langsung terdengar ditelinga Baekhyun saat ia menginjakkan kaki di sekolah. Wajahnya yang terlihat lebam-lebam mungkin menjadi bahan gosip yang panas dikalangan beberapa murid. Ia berjalan tak acuh, dipedulikan juga tidak penting kan?
Mata sipitnya menangkap seseorang yang familiar. Si jangkung bermarga Park dengan wajah yang serupa dengannya, namun dengan sebelah mata yang sedikit membengkak.
Tetapi pemuda itu sepertinya tidak sendirian. Ia bersama Kyungsoo dan Luhan. Mereka duduk di salah satu meja kantin, terlihat membincangkan sesuatu. Bahkan beberapa kali Luhan terlihat mengusap wajah Chanyeol. Melihat hal tesebut membuat Baekhyun merasa risih. Sesaat pandangannya bertemu dengan Chanyeol. Baekhyun langsung melanjutkan perjalanannya tanpa mempedulikan Chanyeol yang masih melihatnya di ujung sana.
"Sebenarnya kau berkelahi dengan siapa? Aku curiga jika itu ketua Byun." Ujar Kyungsoo dengan wajah penasaran.
Chanyeol hanya balas menyengir. Sesekali ia akan meringis karena Luhan tengah mengobati lukanya.
"Jika itu benar, maka sebaiknya kau hentikan saja perangmu dengan ketua Byun. Aku tak mau jika kau terluka lebih dari ini." Ucap Luhan penuh kecemasan.
Baik Chanyeol maupun Kyungsoo menatap Luhan penuh tanda tanya. Kyungsoo menyadari satu hal langsung menyeringai penuh arti. Sedangkan Chanyeol, lelaki itu tampak bingung dengan perubahan raut wajah Luhan. Wajahnya memerah seperti hari lalu.
"Lu? Wajahmu merah, kau sakit?" Tanyanya polos.
Bukannya menghilang, rona merah itu justru terlihat semakin pekat saja. Wajah Chanyeol begitu dengan dengan wajahnya, membuat Luhan sesak nafas.
"Dasar bodoh! Lelaki memang tidak peka!" Kyungsoo bergumam lirih. Hey Soo, memangnya kau itu bukan laki-laki?
"A-aku t-tidak apa-apa..."
Telapak tangan Chanyeol secara refleks menyentuh dahi Luhan. Tak lama setelahnya, lelaki bermata rusa itu pingsan dengan wajah memerahnya, menimbulkan kepanikan pada Chanyeol dan Kyungsoo.
"Yak! Luhan-a! Bangun!"
.
.
Tuan Byun mendatangi sekolah Baekhyun dengan iringan beberapa Bodyguard. Beberapa murid terpekik saat melihat sosok ayah Baekhyun tersebut. Lelaki paruh baya itu duduk menunggu Baekhyun di ruang kepala sekolah. Kedatangannya yang tiba-tiba tentunya membuat Baekhyun bingung bukan main. Ia berdiri lalu membungkuk pada ayahnya tersebut.
"Kepala sekolah, bisakah anda memberiku waktu sejenak?"
"B-baik, Tuan Byun."
Pintu ruangan tersebut tertutup, menyisakan ayah dan anak tersebut disana dalam keheningan. Baekhyun masih setia dengan raut wajah datarnya. Bahkan ia sudah bisa menebak jika setelah ini tuan Byun akan menamparnya.
PLAKKKK... Rasa panas langsung menjalar. Padahal, Perih dari lebam semalam belum juga menghilang. Baekhyun memegang pipinya. Belum sempat ia berbicara, sang ayah kembali menampar pipi kanannya.
"Berapa kali ku katakan untuk tidak berbuat onar lagi hah?!"
Baekhyun diam, malas menanggapi amarah ayahnya. Tuan Byun menghela nafasnya kasar. Melihat raut wajah tanpa ekspresi sang anak membuatnya tambah geram.
"Kau seharusnya bisa membanggakanku! Bukan membuatku malu Byun Baekhyun!"
Baekhyun masih diam. Ia hanya tak ingin kelemahannya terlihat.
"Sekali lagi seperti ini, aku takkan mengampunimu. Dasr anak tidak tau diuntung!"
Tuan Byun keluar dari ruangan tersebut dengan wajah murka. Baekhyun masih terdiam disana dengan hati pedih. Ia meninggalkan ruangan tersebut seolah tak terjadi apapun baru saja. Lelaki manis itu berjalan menuju atap sekolah agar tak ada seorang pun yang mengganggunya.
Ia berdiri, menatap kosong entah kemana. Kedua pipinya benar-benar memerah. Laki-lakii itu meremas dada sebelah kirinya. Setetes air mata terjatuh dari pelupuk matanya tanpa bisa ditahan. Ia menunduk, meredam isakannya. Bibirnya bergetar.
"Aish! Kenapa setiap aku kesini selalu saja ada kau?"
Suara bass itu membuat Baekhyun terkejut. Dihapusnya air matanya cepat. Jika orang itu tau Baekhyun baru saja menangis, pasti ia akan ditertawakan.
"Cih! Pengganggu!"
Chanyeol tak mempedulikan omongan Baekhyun. Ia malah duduk bersandar pada salah satu pagar pembatas. Si jangkung mulai menyalakan rokoknya.
"Wajahmu kenapa memerah?"
Baekhyun membuang pandangannya ke arah lain. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya.
"Bukan urusanmu!"
Chanyeol diam, ia tau penyebabnya. Beberapa waktu lalu ayah Baekhyun datang ke sekolahnya. Ia melihat sendiri bagaimana rupa lelaki itu tadi. Seolah bisa menebak dengan mudah, Baekhyun pasti terkena tamparan dari sang ayah.
"terkena pukulan atau tamparan itu adalah hal wajar bagi seorang lelaki."
Baekhyun terkejut, ia langsung menoleh pada Chanyeol.
"Dari mana kau_"
"Aku juga sering mendapatkannya. Yah, kau tau? Ayahku bahkan lebih sadis dari itu. Ia bahkan sering menghukumku dengan hal-hal aneh lainnya."
tetapi ini berbeda! Teriak Baekhyun dalam hati.
"Ya, terserahmu saja."
Hening kembali menguasai. Baik Chanyeol maupun Baekhyun tak ada yang berusaha memecah keheningan tersebut.
"Selepas pulang sekolah, jangan lupa kembali ke kantor polisi."
Baekhyun menoleh sejenak ke arah Chanyeol lalu mengangguk sekenanya.
"Ya, aku tidak pikun untuk mengingatnya."
.
.
Sesuai perintah polisi-sebut saja tuan Park- tadi pagi, mau tak mau Baekhyun dan Chanyeol mendatangi kantor polisi-lagi. Tuan Park tampak takjub melihat kedatangan putranya yang biasanya akan menghindar dengan yang namanya 'hukuman'. Namun ketahuilah, Chanyeol berbuat demikian hanya karena alasan 'tidak mau kalah dari Baekhyun'. Musuhnya itu bersikap jantan dengan menerima konsekuensi atas segala perbuatannya, masa dia tidak? Ugh, bisa malu dirinya di hadapan si pendek itu.
"Baiklah, karena kalian berdua sudah datang, aku alan memberikan kalian tugas untuk melakukan bakti sosial di panti asuhan."
"APA?" Teriakan tersebut berasal dari Chanyeol. Sepertinya pemuda itu tampak kurang senang dengan 'hukuman' yang akan ia jalani selepas ini.
"Kenapa? Si kecil Byun ini saja tidak protes." Ujar sang ayah santai.
Baekhyun tersenyum masam kala mendengar panggilan 'si kecil Byun' dari tuan Park tersebut. Heh, jika yang dihadapannya itu bukan orang tua-apalagi polisi- mungkin dirinya sudah menghajarnya sejak tadi.
"Aish! Yak?! Kau kenapa diam saja? Ayo protes!" Paksa Chanyeol sambil menggoyangkan bahu Baekhyun.
"Berisik! Sudahlah, hanya mendatangi panti asuhan kan? Apa repotnya?"
Benar juga! Hanya mendatangi. Baiklah! Chanyeol akan pergi ke sana.
Pemuda tinggi itu melengos, ia mengernyit saat sang ayah memberikan satu kardus besar yang isinya entah apa ke tangan Chanyeol. Itu sangat berat omong-omong.
"Ayah! Apa ini?! astaga! Berat sekali!"
"Berat bukan? Seberat itulah beban yang ku pikul karena kelakuan bejatmu."
Ya Tuhan, Tuan Park senang sekali membandingkan Chanyeol. Kemarin dengan biji kacang hijau, sekarang dengan kardus berat. Chanyeol hanya dapat mendengus mendengarnya.
"Lalu kenapa hanya aku yang membawanya? Si pendek ini kenapa tidak?" Tanya Chanyeol lagi, dengan banyak protes tentu saja.
"Kenapa katamu? Si Kecil Byun takkan kuat. Kau tidak kasihan? Sudahlah! Cepat jalan!"
Chanyeol mendelik tajam, apalagi ketika melihat Baekhyun menyeringai ke arahnya. Apa-apaan itu? Mengangkat kardus tidak bisa? Lalu yang kemarin-kemarin membanting tubuh Chanyeol siapa? Hantu?
"Bawakan saja. Aku tidak akan kuat, Chan-yeol!"
"Awas saja kau!"
.
.
Perjalanan menuju salah satu panti asuhan memakan waktu yang lumayan lama juga, semua karena pertikaian Chanyeol dan Baekhyun di dalam mobil hingga salah satu anggota polisi muda yang bertugas menjadi sopir dadakan menjadi sesak nafas. Mereka bergulat seperti anak kecil hanya karena memperebutkan letak tempat duduk. Baekhyun memilih duduk di sebelah kiri, tepat di belakang sopir. Seperti tidak suka, Chanyeol berusaha merebut tempat itu. Ya jadi, untuk beradu argumen saja dihabiskan selama hampir dua puluh menit.
Mereka sampai di panti asuhan Eden I Ville di Hawangsimni-dong, Seongdong-gu. Beberapa anak-anak berlari-lari saat mobil mereka sampai di sana. Ada yang penasaran, malu-malu, ada pula yang tak peduli.
"Chanyeollie Oppa!"
"Aigoo~ Taerin-a."
Baekhyun terkejut saat seorang bocah perempuan kecil- mungkin berusia sekitar 7 tahun- berlari ke arah Chanyeol. Lelaki jangkung itu langsung menggendong gadis kecil itu.
'Mereka saling mengenal?' tanyanya membantin.
Tak lama kemudian, beberapa anak kecil lainnya juga mendekati Chanyeol, seolah telah mengenal lama. Si polisi muda yang bernama Sungjae disebelah Baekhyun berbisik pada pemuda manis itu.
"Dia sering kemari. Hukuman dari sang ayah, makanya dia mengenal anak-anak disini." Terangnya.
Baekhyun mengangguk mengerti. Mata sipitnya memperhatikan satu persatu bocah disana dengan wajah tak minat.
"Chanyeol-a?"
"Ah! Bibi Nam. Hari ini aku datang lagi." Ucap Chanyeol sedikit malu pada wanita paruh baya di depannya.
"Kau pasti berbuat onar lagi! Tetapi tidak masalah, dengan begitu pekerjaan di panti ini sedikit terbantu." Ucap Wanita itu dengan sedikit candaan. Mata bibi Nam menoleh ke arah Baekhyun.
"Ini siapa? Cantik sekali."
Chanyeol mendengus menahan tawa. Ingin sekali ia tertawa cekikikan di depan wajah Baekhyun. Sayang sekali situasinya sedang tak memungkinkan. Chanyeol dapat merasakan aura gelap menguar dari Baekhyun.
Lelaki bermata sipit itu tersenyum masam lalu membungkuk sekenanya.
"Nama saya Byun Baekhyun. Dan saya ini laki-laki." Terangnya dengan datar seperti biasa, namun ia menekankan suaranya pada kata 'laki-laki'.
"Ah, benarkah? Tetap saja kau cantik di mata bibi."
Chanyeol berdehem, mencoba mencairkan suasana. Takut-takut Baekhyun mengamuk disini, bisa bahaya.
"Bibi? Kami akan bekerja apa hari ini?" Tanya Chanyeol mencoba mengalihkan topik.
"Eoh? Benar! Bibi lupa! Kalian bisa membantu mengepel lalu menyiapkan makan siang."
"Baiklah, kami akan bekerja keras!" Ucap Chanyeol semangat disertai senyuman bodohnya. sebelah tangannya merangkul pundak Baekhyun secara refleks yang mana membuat si pria kecil mendelik tajam padanya. Menyadari letak tangannya dimana, Chanyeol langsung menjauhkan tangannya dengan kikuk lalu bersiu-siul.
"Dasar idiot!" Desis Baekhyun lalu berjalan mendahuluinya Chanyeol yang mencibir tanpa suara dibelakangnya.
Mengepel memang pekerjaan yang tidak terlalu sulit. Tetapi, jika kau tengah mengepel lalu bocah-bocah berlarian diantara lantai bagaimana perasaanmu? Dongkol? Hah! Itulah yang Baekhyun rasakan saat ini.
Matanya melirik sinis ke arah Chanyeol yang tengah asyik bermain-main disudut ruangan lain bersama beberapa anak yang mungkin lelaki tinggi itu kenal.
"Hahahahaha..." Suara gelak tawa beberapa anak disini membuat kepala Baekhyun rasanya hampir pecah.
Ia kembali mengepel lantai. Namun seorang anak berjalan dengan santainya. Masalahnya anak itu masuk dengan kaki kotor-mungkin habis bermain lumpur diluar sana?
"YAK! BERHENTI BERLALU LALANG! KAU KIRA AKU TIDAK CAPEK?!"
suasana yang semula riuh mendadak sunyi. Beberapa bocah meringkuk takut, bahkan ada yang menangis karena mendengar bentakan mengerikan dari ketua Lightsaber itu. Chanyeol menatap Baekhyun seolah menghakimi.
Si anak yang membuat Baekhyun marah barusan menunduk takut. Poni hitamnya menutupi sebagian matanya.
"M-maafkan aku." Cicitnya bergetar.
"Kau kira dengan minta maaf lantainya akan bersih lagi!? Dasar bodoh!"
Anak tersebut memilin ujung kaos lusuhnya. Dapat dipastikan jika anak itu menangis. Dengan keberaniannya ia mengangkat wajahnya. Baekhyun tersentak, mendapati wajah anak itu.
"Aku tidak bodoh!" teriaknya nyaring diiringi isakannya.
Wajah itu, mengingatkan Baekhyun akan figur dirinya beberapa tahun silam. Hatinya mendadak luluh. Melihat ketakutan anak itu, sama seperti melihat dirinya sendiri di masa lalu. Saat ayahnya memukuli atau membentaknya, Baekhyun akan bertingkah sama.
"Yak! Aku tau kau itu brengsek! Tetapi bisakah kau gunakan sifat brengsekmu hanya pada berandalan saja? Taehyung masih anak-anak!" Teriak Chanyeol tak suka. Ia benar-benar marah kali ini.
Baekhyun masih menatap bocah bernama Taehyung itu, ia mendekati si anak yang masih menangis terisak.
"Maafkan aku, jangan menangis lagi." Ucapnya kaku.
"Minta maaf yang bagus Baekhyun! Kau hanya menakutinya jika begitu caranya."
Baekhyun menoleh sejenak pada Chanyeol. Cerewet sekali! Fikirnya. Lelaki manis itu berjongkok, menyamai tinggi tubuhnya dengan Taehyung.
"Maafkan Hyung ne? Hyung hanya emosi tadi."
Taehyung menoleh pada wajah tampan-cantik di hadapannya. Jemari lentik Baekhyun mengusap air mata bocah itu.
"B-benarkah?"
"Iya, sekarang jangan menangis lagi okay?"
Taehyung mengangguk antusias. Dirinya memeluk tubuh Baekhyun secara tiba-tiba yang mana membuat Baekhyun terkejut bukan main.
"Aku suka hyung! Makanya aku berjalan bolak-balik agar hyung perhatikan!"
What the... Baik Chanyeol maupun Baekhyun langsung menganga mendengar ucapan bocah itu.
"Dasar! Kim Taehyung tukang modus!" Imbuh seorang bocah perempuan kecil disebelah Chanyeol.
"Oke... Sekarang saatnya kami membuat makan siang. Kalian bermain lagi oke?"
"Baik, Chanyeol hyung!" Teriak mereka kompak. Chanyeol menarik Baekhyun menuju dapur. Lelaki mungil itu sepertinya masih belum sadar akan rasa shocknya.
Si pemuda tinggi lantas memencet hindung Baekhyun. Untungnya si mungil itu segera sadar.
"Hahahaha, ketua Lightsaber mendapat pernyataan cinta dari bocah lelaki kecil." Godanya.
"Diam kau!"
"Dasar tukang marah!" Cibir Chanyeol.
"Berisik!"
Baekhyun tak mempedulikan cibiran Chanyeol di belakangnya. Tangannya sibuk mengambil beberapa bahan untuk di masak nantinya. Alisnya terlihat berkerut samar, ia tak tau mau diapakan sayur ini. Jemari lentiknya menggenggam sebuah wortel. Chanyeol menyeletuk melihat hal itu.
"kau membayangkan 'sesuatu' bukan? Dasar mesum!"
Baekhyun semakin berkerut, apa maksudnya? Fikirnya kebingungan.
Chanyeol menyeringai mendapapti raut kebingungan dari Baekhyun.
"Caramu memegang wortel sama persis seperti seseorang yang tengah menggenggam penis_"
"Diam kau!" Potong pemuda yang lebih pendek. Wajahnya terlihat memerah. Sial, kenapa lelaki disebelahnya itu menyebalkan sekali?
.
.
Satu hari yang melelahkan, tetapi menyimpan arti tersendiri untuk Baekhyun. Di panti tersebut ia menyadari akan arti kehidupan. Anak-anak yang ditelantarkan disana masih bisa tersenyum ceria, sementara dirinya sendiri? Lupakan!
Sejak kapan kau berubah melankolis begini? Bisik batinnya.
Baekhyun mendengus kasar. Dia dan anak-anak panti itu berbeda! Baekhyun lebih menyedihkan dari itu.
PUKK...
Kepala Chanyeol bersandar di pundaknya. Baekhyun berdecak sebal, sedari tadi ia terus menjauhkan kepala itu dari pundaknya. Sayang sekali, si tukang tidur itu malah kembali menjatuhkan kepalanya di pundak Baekhyun.
"Yaiikkss! Yak! Liurmu mengenai jaketku!" Pekik Baekhyun tak terima.
"Nyamm... Aku menyukaimu... Uhhmm... Sandara noona."
Baekhyun melotot, dirinya sesak napas saat Chanyeol memeluk tubuhnya erat. Sial! Lelaki itu kira Baekhyun Sandara Park? Yang benar saja!
"kaliann lucu sekali, seperti pasangan saja." Sambar Sungjae dari depan.
"Apa? Aish! Uhh... Sungjae Hyung, t-tolong... Aaakk, bantu! Aku sesak napas!"
"Aku sedang menyetir Baekhyun."
Baiklah, sepertinya tak ada pilihan lain. Yang jelas jika sudah sampai Seoul, Baekhyun takkan segan untuk menendang bokong Chanyeol. Lihat saja nanti!
.
.
Hari minggu, hari yang paling menyenangkan bagi setiap pelajar, termasuk Chanyeol. Itu artinya ia bebas dari sekolah, guru-guru dan juga Baekhyun dan Lightsabernya itu.
Omong-omong soal Baekhyun, kenapa sejak kemarin wajah itu terus menari-nari di kepalanya?
"Brengsek! Menghilang sana!" Teriaknya keras saat melihat sosok seperti Baekhyun tertidur pulas disebelahnya. Sosok itu menggeliat, matanya yang semula terpejam perlahan membuka.
"Berisik! Suaramu itu seperti penghancur!"
What the... Memangnya delusi Chanyeol sampai separah ini?
"Yak! Kau nyata? Kau nyata?" Tanyanya heboh sambil menepuk-nepuk pipi Baekhyun.
"Ck! Tentu saja_ Berhenti menepuki pipiku ! Semalam aku ketiduran, Sungjae Hyung tidak tau alamat rumahku, jadi dia mengantar kita ke rumahmu ini."
Terang Baekhyun dengan mata setengah terpejam.
Chanyeol masih mencerna ucapan Baekhyun. Seterusnya lelaki tinggi itu mengacak rambutnya frustasi. Sial! Hari minggunya jadi tidak-menyenangkan-lagi jika seperti ini ceritanya!
.
.
Baekhyun tersenyum sopan pada kedua orang tua Chanyeol. Ibu Chanyeol adalah orang yang baik dan ramah. Jika ayah Chanyeol adalah orang yang tegas, Baekhyun sudah tau itu.
"makan yang banyak Baekhyunie?" Ujar wanita paruh baya itu. Baekhyun menatapnya tak berkedip. Seperti melihat sosok ibunya.
Chanyeol mendengus, memperhatikan Baekhyun yang menatap ibunya dengan tatapan pemujaan. Padahal jika ia tau, Nyonya Park adalah orang paling cerewet di dunia bagi Chanyeol.
"Kau menyukai ibuku? Ayah! Bocah pendek ini sepertinya ingin merebut ibu dari ayah."
Baekhyun menatap Chanyeol tajam, seperti biasa. Seterusnya ia menunduk malu karena mendengar tawa ayah dan ibu Chanyeol.
"Kenapa? Apa wajah bibi aneh?"
"T-tidak, bibi mirip ibuku." Jujur Baekhyun.
'dan aku merindukan ibuku.' lanjutnya dalam hati.
"Benarkah? Baiklah, sekarang makan dulu ne? Nanti kita akan berbincang-bincang lagi."
Sarapan pagi itu terasa hening, memang begitulah tradisi keluarga Park. Saat makan tak boleh ada yang bicara. Ada waktu setelah sarapan pagi, dimana mereka akan berkumpul-pada hari libur- untuk bercerita.
Baekhyun memilih untuk membantu mencuci piring. Sebagai tamu, ia juga sadar diri. Lantai dapur yang sedikit berminyak-mungkin terkena cipratan kecil saat nyonya Park menggoreng ikan tadi- membuat Baekhyun beberapa kali hampir terpeleset. Nyonya Park mengingatkannya untuk membuka kaus kaki saja, namun Baekhyun menolak karena kakinya tak tahan dingin.
Saat hendak berbalik, tubuhnya oleng. Kebetulan Chanyeol yang hendak mengambil buah di kulkas ada di dekatnya. Lelaki yang lebih tinggi menangkap tubuhnya, namun keduanya terdiam. Bukan karena pelukan atau apapun. Tetapi_
"Yeol, bawa buah apel dan_ ASTAGA!"
_Bibir mereka bersentuhan secara tak sengaja, terlebih dipergoki oleh tuan dan nyonya Park secara langsung.
BUAGHHH! Satu tinjuan keras mengenai pipi Chanyeol hingga lelaki itu jatuh.
"Brengsek! Mati saja kau!" Pekik Baekhyun berapi-api.
.
.
Insiden sehari yang lalu membuat jiwa kebencian Chanyeol terhadap Baekhyun semakin menjadi-jadi, begitu pula Baekhyun.
Chanyeol mengusap pipinya yang sedikit membengkak. Yang dimata saja belum sembuh, sekarang pipi lagi. Bisa hilang ketampanan Chanyeol jika begini ceritanya.
"Astaga! Wajahmu kenapa lagi?" Luhan memekik heboh. Ia langsung mendekati pemuda tinggi yang untuk sementara tidak tampan itu dengan wajah panik.
"Terkena amukan setan berkepala merah." Ucap Chanyeol sengaja di keras-keraskan karena Lightsaber lewat. Baekhyun melirik dari ekor matanya dengan tajam. Sehun dan Kai saling pandang tak mengerti.
"Ck! Sudah ku bilang, jangan mencari masalah dengannya kan?"
"Iya, maafkan aku."
Pipi Luhan memerah karena sentuhan tangan Chanyeol di kepalanya. Baekhyun berdecih sinis melihat hal itu lalu kembali melanjutkan jalannya.
Chanyeol menghela nafas lega. Insiden kemarin membuat otaknya 'sedikit' bermasalah sepertinya. Bayangan wajah Baekhyun tiba-tiba hadir di benaknya. Oh gosh! Menjijikkan! Fikirnya.
"Yeol? Kenapa hanya diam? Kau tidak mendengarku ya?" Suara lembut Luhan menyadarkan Chanyeol.
"Ah? Eh... Hehehe, maaf... Bisa kau ulangi lagi?"
"Huh! Dasar! Telinga saja yang lebar, tetapi tuli!" cibir Luhan dengan santainya.
"Apa kau bilang? Kemari kau! Dasar anak rusa!"
"Hahaha, kejar aku, ayo!"
Keduanya berkejar-kejaran layaknya film India. Kyungsoo melihat hal itu hanya dapat mengelus dada.
"Mengapa teman-temanku idiot semua?" gumamnya pelan.
GREPP... Tertangkap, Chanyeol memeluk tubuh kecil Luhan dari belakang. Sementara si pemilik mata bak rusa itu bergetar di dalam pelukan pemuda phoenix.
"C-chanyeol, l-lepas_"
"Tertangkap. Kau tidak akan ku lepaskan! Rasakan ini!"
Chanyeol langsung menyerbu Luhan dengan gelitikan-gelitikan yang mana membuat Luhan tertawa keras. Tak peduli jika saat ini keduanya sudah menjadi tontonan para murid SM high school.
Luhan berjalan mundur, masih dengan Chanyeol yang menggelitiki pinggangnya.
"Ahahaha, ampun! Chanyeol tolong hentikan! Hahaha..."
"Apa? Aku tidak dengar." Canda Chanyeol.
BRUKK... Tawa kencang Luhan mendadak hilang. Tak ada suara disana. Chanyeol masih dengan raut wajah bengongnya- berdiri dengan tangan terangkat. Luhan mengerjap beberapa kali. Tubuhnya menabrak seseorang. Saat ia berbalik, matanya langsung melotot horror, mendapati Oh Sehun lah yang menangkap tubuhnya. Wajah anak itu senantiasa datar. Menatap tajam seolah bisa saja menguliti tubuh Luhan dengan tatapannya. Merasakan aura yang tak bersahabat, Luhan langsung melompat begitu saja. Membungkuk meminta maaf.
"M-maafkan aku Sehun-ssi."
Kyungsoo menatap sahabatnya itu prihatin. Bersiap-siap saja mendapat amukan, fikirnya. Sayangnya dugaan semua orang justru berbanding terbalik. Sehun malah pergi begitu saja seolah tak menaruh minat apapun untuk membalas permintaan maaf Luhan.
"Aish jinjja! Bodoh sekali aku." Bisik Luhan lirih. Chanyeol menggaruj tengkuknya. Hey, bagaimana pun itu kesalahannya juga omong-omong.
"Maaf Lu, semua karena aku." Sesalnya.
Luhan menggeleng, tidak! Itu adalah ketidaksengajaan. Lagi pula Luhan sudah siap mental jika sewaktu-waktu Sehun memberinya hukuman.
"Tidak Chanyeol, tidak sama sekali. Kau tidak salah."
"Huh... Kau bilang begitu di depanku. Baiklah, sebagai permintaan maaf, aku akan mentraktirmu makan es krim sepulang sekolah." Ucap Chanyeol semangat.
Mata Luhan langsung berbinar, ia menganggut antusias. Di teraktir Chanyeol? Kapan lagi coba?
"Benarkah!? Aku mau!"
"Hey! Aku tidak diajak?" Sahut Kyungsoo dengan wajah cemberut. Sial! Dari tadi dia seperti pelengkap penderita saja disana.
Chanyeol tersenyum lebar lalu mengangguk.
"Tentu! Anggap saja ini traktiran di hari ulang tahunku."
Baik Luhan maupun Kyungsoo langsung saling pandang. Ulang tahun katanya?
"Serius Chanyeol? Kenapa kau baru bilang? Kami tidak punya kado tau?!" Ujar Luhan.
Chanyeol terkekeh sebagai jawaban. Lagi pula ia tak begitu peduli dengan kado di hari ulang tahun. Biasanya ia akan merayakan hari ulang tahunnya dengan adu tinju dengan musuh-musuhnya.
"Woah! Ternyata makhluk sepertimu bisa ulang tahun juga." Celutuk Kyungsoo dengan wajah sok takjubnya.
"Yak!"
.
.
Baekhyun menengadah menatap langit. Awan kelabu tampak menguasai sang cakrawala kini. Bisa dipastikan dalam hitungan menit, hujan akan mengguyur. Kakinya melangkah dengan cepat menuju mobilnya yang terletak di parkiran sekolah. Berusaha menghindari hujan sebelum turun. Beberapa murid lainnya terlihat berjalan menuju gerbang, membuat kendaraan terhalang macet beberapa saat. Baekhyun melihat keluar dengan pandangan datar. Retinanya tak sengaja menangkap dua sosok yang ia kenali bagaimana rupanya. Chanyeol dan Luhan. Mereka asyik bercengkrama dengan canda. Melihat hal tersebut, ia mendengus malas.
Ponselnya berdering berisik. Diliriknya siapa penelpon yang mengganggu itu. Namun, alisnya saling menyinggung, mendapati nomor asing yang menghubunginya.
Dengan malas ia menjawab panggilan tersebut.
"Yeoboseyo."
'Ah, halo Ketua Byun. Bagaimana kabarmu?'
DEG! Suara ini...
Diameter mata Baekhyun sedikit membesar dari ukuran semula. Namun pemuda itu kembali memasang ekspresi datarnya.
"Ada perlu apa kau?"
'hahahaha... Tidak berubah, to the point sekali. Aku hanya ingin berkata jika... Aku telah kembali.'
Ekpresi geram tak tertahankan lagi di wajahnya. Baekhyun tanpa sadar mencengkram erat setir dengan tangan kirinya. Orang ini, orang yang telah lama pergi dan ia rasa telah ia singkirkan dulu.
"Lalu apa hubungannya denganku?"
'Kau tidak takut?' Tanya seseorang diseberang sana dengan nada suara main-main, mungkin mengejek.
"Aku tak pernah takut dengan hama sepertimu."
Tawa meledak di ujung sana, membuat rasa geram Baekhyun kian menjadi-jadi.
'Kita lihat saja nanti, ingat Byun! Kali ini aku akan menghancurkanmu!'
PIPP... Sambungan terputus secara sepihak. Baekhyun langsung melempar ponselnya ke dashboard Mobil. Tak peduli jika benda persegi itu rusak atau tidak.
"Brengsek!"
.
.
TBC
.
.
Rencana mau update fast, tapi kepalang di timbun tugas akhir semester. Jadinya ya begini :'v
hai? Aku senang sekali dengan respon kalian semua guys. Makasih udah ngasih apreasiasi kalian buat karya Leon yang satu ini. Cerita ini gak akan jalan kalo kalian gak ngasih respon.
Btw, yg minta moment Chanbaek, maaf ya? Cuma segini adanya yg bisa Leon bikin. Kalo banyak-banyak entar kesannya jadi maksa. Buat yg minta sedikit ChanLu moment juga udah dibuatin. Tapi, kalo gak ngefeel maaf.
Oh iya, Soal orang ketiga banyak yg nebak itu Luhan? Sehun? Kkkkk, itu masih jadi rahasia. Dandelionleon selalu buat orang ketiganya dengan sosok tak terduga loh /ditendang/
adegan pukul-pukulan masih tetap ada. Cuma mungkin intensitasnya bakal sedikit berkurang. Dan chapter depan mungkin nyeritain sedikit tentang ulang tahun Chanyeol dimana ada baekhyun disana, kkkk ... Adegan NC? Sabar woy, itu mah belakangan...
Oke, HAPPY BIRTHDAY buat MY LOVELY PARK CHANYEOL. Thanks udah lahir ke dunia ini sayang. Thanks udah jadi pelengkap di hidup Baekhyun. Saranghae...
Mau lanjut? Update fast? Review dulu dong, kkk...
Oke, see you in the next chapter guys... /potong kue bolu bareng Chanbaek/
