Title : Lightsaber
Author : Dandelionleon
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun.
Other cast : Luhan, Oh Sehun, Kim Kai, Do Kyungsoo, etc.
Cameo : Seungcheol, Hoshi, Jun. (seventeen)
Genre : Romance, Friendship, lil bit of humor.
Rate : Masih T
Disclaimer : Tuhan dan agensi mereka. Cerita sah milik saya.
Warning ! Yaoi, Typo, DLDR!
.
.
Oke, enjoy guys...
.
.
Kenangan masa lalu adalah hal yang paling berharga dari apapun juga. Waktu takkan bisa di beli dan ditukar dengan apapun itu. Bagi sebagian orang yang memiliki kenangan indah mungkin rasa-rasanya memori masa lalu adalah hal yang tak boleh di lupakan. Tetapi tidak dengan Baekhyun. Ia justru ingin melupakan semuanya. Kenangan buruknya saat ia tumbuh, hingga menjadikannya remaja dengan tingkah brengsek seperti saat ini. Tak ada yang tau, bahkan Sehun atau Jongin sekali pun. Baekhyun hanya tak ingin menjual cerita sedih pada orang-orang yangmana akan menunjukkan kelemahannya. Tidak! Baekhyun bukanlah orang yang seperti itu.
Panggilan dari seseorang itu sebenarnya tak Baekhyun pedulikan sama sekali. Toh, musuh adalah makanan sehari-harinya.
Ancaman balas dendam yang di utarakan orang itu juga tak mengusik keberanian Baekhyun sedikit pun. Hanya saja ia merasa itu akan mengganggu. Baekhyun paling muak dengan musuh yang kembali lagi. Padahal setahun silam, ia telah mengirimkan sosok itu ke rumah sakit hingga sekarat. Dan sekarang, dia masih punya nyali untuk menantang Baekhyun kembali? Hah!
Baekhyun memilih untuk berjalan-jalan sejenak melepas penatnya. Tak ada niatan sedikit pun untuk memukuli atau membully siapapun hari ini. Ia sedang tidak mood. Jadi, lelaki manis itu memilih untuk pergi ke sekitaran sungai Han saja.
Duduk di salah satu bangku, sendirian. Menatap entah kemana seperti orang tolol. Itu yang Baekhyun lakukan hingga langit telah berubah menjadi warna oranye. Dua kaleng bir sudah habis.
Membosankan! Ya, hidupnya memang amat sangat membosankan. Tak ada warna.
Beberapa orang mulai beranjak dari sana. Sementara Baekhyun masih asyik dengan dunianya sendiri. Oh, baiklah, mendengar lagu tak ada salahnya bukan?
Ia meraih earphone di dalam tasnya. Memutar lagu rock favoritnya dengan volume keras. Harap-harap saja jika gendang telinganya tidak pecah.
Beberapa panggilan tak terjawab dari Sehun dan Kai tak ia pedulikan sama sekali. Paling-paling mereka hanya ingin mengajak untuk bermain biliard atau pula sekedar berkumpul tak ada kerjaan.
Baekhyun sengaja berlama-lama disini karena ia tau, ayahnya sedang di rumah. Supir Kang yang memberitahunya tadi. Dari pada sakit kepala, lebih baik menghindari pak tua itu, fikirnya.
Perut Baekhyun mulai keroncongan, dia lapar. Akhirnya pemuda manis itu beranjak dari sana. Mencari tempat makan adalah tujuannya saat ini.
.
.
Chanyeol sudah siap dengan kemeja putih dibalut dengan sweater birunya. Celana jeans hitam yang ia pakai dengan susah payah-karena benda sialan itu begitu ramping- akhirnya terpakai juga. Sang ibu menatap putranya tersebut heran. Tidak biasanya anak itu berpakaian rapi jika tidak dalam paksaannya. Matanya memicing curiga melihat Chanyeol yang tengah memakai sepatu putihnya diiringi senandung.
"Kau mau kemana?"
"Astaga ibu! Aish... Ibu mengejutkanku!"
Nyonya Park tak mempedulikan kekagetan sang anak. Ia masih memberikan pandangan intimidasinya.
"Ck! Aku mau keluar sebentar, bertemu teman. Ibu tau bukan hari ini ulang tahunku? Mereka membuat pesta kecil-kecilan, aku tak mungkin menolaknya."
Apa? Sepertinya Chanyeol terantuk dengan pilar besar lalu amnesia. Sejak kapan berandalan busuk itu menghargai permintaan orang lain?
"Ibu tau. Tetapi tidak biasanya, atau_ Ah! Kau sudah punya pacar?" Pekikan senang nyonya Park membuat Chanyeol facepalm. Pacar? Pffth... Siapa yang peduli dengan itu?
"Pacar apa? Aku pergi bersama 'Teman' bu! lagi pula sekalian merayakan kemenangan tim sepakbola sekolah kami."
Oke, itu memang benar dan masuk akal. Nyonya Park sedikit kecewa sebenarnya. Tetapi tidak apalah, dari pada Chanyeol keluyuran dengan genk berandalannya lagi?
"Baiklah, hati-hati. Pukul setengah sepuluh kau harus ada di rumah. Ibu membuat banyak makanan enak, pula ayahmu pulang jam setengah sepuluh."
Chanyeol mengangguk seadanya, di tolak juga pasti ia akan dipaksa.
"Baiklah, aku pergi bu."
.
.
Chanyeol memasuki café dengan nuansa khas 'anak muda' di daerah Apgeujong. Alunan gitar terdengar saat ia berada disana. Teman-temannya sudah berkumpul. Ada Luhan, Kyungsoo dan beberapa lainnya yang Chanyeol tidak kenal. Luhan melambai semangat, menyuruh Chanyeol untuk bergabung.
"maaf, aku terlambat."
"Tidak masalah. Duduklah." Ujar Kyungsoo.
Suasana di meja mereka sedikit ramai. Maklum saja, jika para tim sepakbola telah bergabung, mereka akan mengoceh ini-itu seperti sekarang, termasuk Luhan. Chanyeol ikut dalam obrolan, sesekali ia akan memakan camilan di atas meja.
"Omong-omong, kami hanya bisa membawa ini. Terimalah oke?" Seungcheol menyerahkan sebuah kotak dengan kertas kado biru muda ke tangan Chanyeol. Chanyeol terkekeh, sedikit segan sebenarnya. Ia baru mengenal mereka, tetapi kado sudah diberi saja. Semua pasti ulah Kyungsoo, anak itu terlalu ember untuk berkoar-koar tentang ulang tahun Chanyeol hari ini yang sebetulnya tanpa dirayakan pun akan tetap bertambah umurnya. Tetapi biarlah, hitung-hitung dapat kado gratis, kkkk.
"Terima kasih bung! Akan ku buka di rumah."
"Tidak masalah, kita kan teman!" Sahut Hoshi si rambut hijau.
"Nah, kado dariku ini. Ya, isinya tidak seberapa memang." Kyungsoo menyerahkan kotak kado berukuran sedang berwarna kuning. Entahlah apa isinya, hanya si mata besar itu yang tau.
"Wow! Aku kira kau tidak membawanya." Ejek Chanyeol, setelahnya jitakan manis mendarat di jidat seksinya.
"Ini dariku, mungkin kau tidak akan suka." Chanyeol menoleh pada Luhan yang terlihat manis sekali malam ini. Seperti biasa, anak itu menyerahkan kadonya malu-malu, hingga mendapat godaan atau suitan dari teman-teman mereka.
"Terima kasih Luhan. Aku pasti suka."
Chanyeol mengacak surai keemasan Luhan hingga pemuda cantik itu menunduk karena malu. Apalagi ketika Jun menyorakinya.
"Huuu... Kenapa kepala kami tidak di elus seperti itu?" Tanyanya sok polos.
"kepalamu pantasnya dipukul seperti ini."
Plakkk... Seungchol memukul kepalanya dengan wajah tanpa dosa.
"Yak!"
"Em, a-aku ke toilet dulu." Izin Luhan. Yang lain hanya mengangguk mengiyakan.
Obrolan-obrolan mereka terus berlanjut. Hingga saat Chanyeol hendak melakukan sesi tiup lilin, seseorang yang ia kenal melewati meja mereka dengan wajah datar. Si rambut merah, Byun Baekhyun.
"Psst... Itu ketua Byun kan?" Bisik Hoshi sepelan mungkin. Yang lain hanya manggut-manggut. Suasana mendadak sunyi.
Mereka tanpa sadar terus memperhatikan sosok itu, termasuk Chanyeol. Ia kembali berjalan dengan bubble tea dan sebuah kantung makanan-mungkin berisikan burger atau hotdog, entahlah. Baekhyun menyedot minuman tersebut tanpa peduli jika sekelompok manusia idiot-menurutnya- terus menatapnya.
Matanya bertemu dengan mata Chanyeol. Ia tampak tak peduli, datar seperti biasa. Masih terus berjalan, hingga salah seorang tak sengaja menabraknya. Minumannya tumpah mengenai seragam sekolahnya.
"Yak! Sialan! Tidak punya mata kau?!"
"M-maafkan aku, aku tidak sengaja_"
"Cih! dasar ceroboh! Ah~ Luhan si anak China rupanya."
"M-maafkan aku Baekhyun-ssi. Aku mohon." Lelaki bersurai emas tersebut menunduk takut. Baekhyun malah menyeringai, tak peduli sama sekali.
"Bagaimana ya? Baiklah... Cium kakiku."
Seluruh pengunjung melotot horror. Cium kaki? Berani sekali bocah SMA menyuruh hal seperti itu.
Chanyeol menggeram ditempatnya. Lalu, bak pahlawan kesiangan ia mencegah Luhan untuk berjongkok. Tentu saja Baekhyun mendelik tak terima.
"Yak! Brengsek! Jangat ikut campur urusanku!"
"Tentu ini urusanku karena Luhan temanku!" Baekhyun tertegun. Bentakan Chanyeol sangat kuat omong-omong.
"Eh? T-tapi justru seharusnya aku yang meminta maaf."
"Tidak, kau tidak salah. Dengar Byun! Sekali lagi kau mengganggunya, maka aku adalah lawanmu. Sekarang ayo ikut aku."
Baekhyun menarik-narik tangannya yang ditarik paksa oleh Chanyeol. Berteriak-teriak seperti gadis memang bukan gayanya sama sekali. Jadi dia memilih untuk diam saja.
Luhan dan kawan-kawan seketika membeku saat Chanyeol membawa Baekhyun ikut serta ke acara mereka. Baekhyun hendak pergi, namun tangan Chanyeol masih menggenggamnya erat di bawah meja.
"Baiklah, kita kedatangan satu tamu. Sekarang ayo tiup lilin!" ujar pemuda Park sambil tersenyum. Baekhyun menatapnya sangat datar. Kemudian ia menyentil dengan kata-kata pedasnya.
"Cih... Ternyata phoenix si berandalan suka pesta seperti ini eoh?" terdengar sekali nada mengejek dari seorang Byun Baekhyun.
Sejujurnya Chanyeol geram, tetapi apa mau dikata? Ia sendiri yang menarik bocah berkepala merah itu bergabung bukan? Entahlah, apa alasan lelaki itu. Tetapi yang pasti jangan berharap ia memiliki rencana yang baik.
Chanyeol kembali berekspresi datar. sudut bibirnya terangkat, menyeringai tanpa Baekhyun sadari. Lelaki tinggi itu mengetikkan sebuah pesan untuk di kirimkan pada Kyungsoo dan Luhan. Sontak, kedua lelaki manis itu mendelik dengan apa yang mereka baca.
Ayo kita membuat Byun ini malu. Sebarkan pada yang lain. :DD
Sejujurnya Luhan tak setuju. Tetapi pandangan mengintimidasi Chanyeol membuatnya setuju untuk mengirimkan pesan berantai tersebut pada teman-temannya yang lain. Mereka mulai memberi kode satu sama lain.
"Ehm... Baiklah, karena Chanyeol sudah tiup lilin, sekarang bagaimana jika kita bermain game?"
Baekhyun menoleh malas pada si rambut hijau, seingatnya anak ini pernah babak belur terkena baku hantamnya dulu.
"Baiklah! Aku setuju! Bagaimana dengan truth or dare saja?" Tanya Luhan antusias.
Pemuda China itu pernah terkena bullyan Baekhyun saat ia baru pindah ke SM high school dulu. Sederhana saja, Baekhyun meminta anak itu untuk mengelap sepatunya dengan tangan Luhan karena anak itu tak sengaja menginjak kaki Baekhyun. Namun, Luhan menolak, akhirnya pembullyan itu terjadi hingga tiga bulan lamanya. Saat ia mendapat mangsa baru, maka Baekhyun akan mengganti targetnya untuk di habisi.
Rata-rata yang duduk di meja itu pernah menjadi korbannya. Hanya Kyungsoo yang tidak, karena anak itu tak pernah mencari masalah.
"Permainan bodoh apa itu?" Komentar pedas Baekhyun membuat Seungcheol tertawa remeh. Sejujurnya ia membenci Baekhyun karena pernah menghabisinya hingga salah satu rusuknya patah dulu. Jadi, sepertinya sekarang saatnya untuk mempermalukan anak itu. Persetan jika besok di sekolah mereka akan di habisi Lightsaber.
"Baiklah. Pantat botol untuk yang bertanya, mulut botol untuk yang ditanya. Setuju?"
Semua mengiyakan ucapan Kyungsoo. Permainan dimulai. Namun tak pernah sekalipun Baekhyun dapat. Baekhyun menyeringai puas. Ia sudah paham apa arti permainan menjebak ini. Mereka semua pasti ingin membuat Baekhyun terjebak.
Sialnya, mulut botol menghadap ke arahnya kini. Chanyeol menyeringai puas. Ia sengaja berpindah tempat agar bisa berhadapan dengan Baekhyun.
"Wow! Sungguh keberuntungan yang baik Byun. Sekarang biarkan aku bertanya : Truth or dare? Buktikan jika kau memang pantas di sebut sebagai 'pemberani'!"
Tatapan tajam itu seakan bisa menembus kepala Chanyeol. Baekhyun menahan amarahnya. Ia terlalu idiot karena mau-maunya bergabung dengan kelompok pecundang-fikirnya- ini.
"Dare."
Pilihan yang sangat berani. Chanyeol mengangguk puas.
"Baiklah tuan pemberani. Sekarang, bisakah kau bersujud di hadapan Luhan? Teriakkan jika kau meminta maaf."
Sial! Baekhyun hendak beranjak dari sana, namun suara Chanyeol kembali menginterupsi.
"Jika kau meninggalkan cafe ini, sudah sepatutnya gelar 'ketua Byun' mu harus dicopot!"
Baekhyun memasang wajah datarnya. Baik! Ia akan membuktikan jika dirinya bukan seorang pengecut. Namun bersujud pada seorang Luhan hanya karena permainan konyol ini, itu sangat menjatuhkan harga dirinya! Tetapi jika tidak dituruti maka ia lebih pecundang lagi namanya.
Bibir tipisnya melengkungkan sebuah senyum terpaksa. Ia berjalan mendekati Luhan yang menatapnya gugup. Baekhyun masih berjalan mendekat. Berbisik lirih.
"Luhan-ssi... Maafkan aku..."
"N-ne?"
BRUKKK... Semua melotot tak percaya. Melihat adegan 'drama' seperti ini sekali lagi. Chanyeol dan lainnya juga. Baekhyun tengah tersenyum puas menatap Luhan yang terjatuh di hadapannya.
"Dengar! Jangan harap aku akan mengikuti alur permainan bodoh kalian! Jika kalian berani menentangku, maka akan jadi seperti ini. Lelaki lemah ini! Dia bersalah! Maka dia pantas di bersujud di kakiku! Dan kau Park! Jangan kira kau bisa menang dariku! camkan itu!"
Final. Tontonan gratis tersebut telah usai. Baekhyun keluar dari cafe dengan wajah angkuhnya. Tak ia pedulikan bisik-bisik tak suka dari beberapa orang.
Chanyeol mengepalkan tangannya kuat. Mengalahkan Baekhyun memang tak semudah itu. Permainan ini sangat klasik untuk orang seperti Baekhyun.
"Aish! Luhan, kau tidak apa-apa?" Kyungsoo membantu Luhan untuk berdiri. Pemuda cantik itu menatap Kyungsoo kosong.
hal tersebut membuat Chanyeol semakin geram. Maka dari itu ia berlari mengejar Baekhyun. Tak mempedulikan teriakan protes dari yang lain.
"BYUN BAEKHYUN! BERHENTI KAU!"
Baekhyun memberhentikan langkahnya. Berbalik lalu tertawa sinis.
"Apa? Kau ingin aku meminta maaf lagi pada kekasihmu itu? Maaf saja karena_Akkkhh"
Chanyeol menatap Baekhyun tajam. Tangannya mencengkram lengan Baekhyun kuat sekali.
"Sejujurnya, ingin sekali ku habisi kau hingga sekarat. Sikapmu benar-benar membuatku muak!"
"Ssshh... Lepaskan tanganmu brengsek!"
Chanyeol tak mempedulikan desisan sakit pemuda pendek itu. Ia malah semakin mengencangkan cengkraman tangannya.
"Kau telah membuat Luhan malu. Kau harus mendapat bayaran yang setimpal atas itu!"
Baekhyun menghentikan aksi rontaannya. Ia terkekeh geli, seolah ucapan Chanyeol barusan adalah humor yang mengocok perut.
"kenapa kau membelanya? Apa dia kekasihmu? Cih! dasar para Gay menjijikkan!"
CUIIHHH... Mata Chanyeol melotot horror. Ia benar-benar merasa dihina. Wajahnya diludahi, didepan banyak orang yang berlalu lalang di jalanan. Seumur-umur, baru kali ada seseorang yang berani meludahinya. Mungkin Baekhyun tidak punya otak makanya melakukan hal seperti itu. Chanyeol murka bukan main.
"KAU!"
Bukannya takut, Baekhyun justru tersenyum puas.
"Kenapa? Merasa direndahkan? Bagaimana rasanya ludahku? Hahahaha."
Chanyeol tidak tahan lagi. Maka dari itu, ditariknya pergelangan tangan Baekhyun. Bibirnya langsung meraup bibir Baekhyun dengan kuat dan dalam. Baekhyun mencoba menjauhkan diri, namun tenaga Chanyeol begitu kuat rasanya. Alisnya mengernyit saat Chanyeol melesakkan lidahnya pada rongga mulut Baekhyun. Ciuman kasar tersebut disaksikan banyak orang. Ada yang meledek, ada yang tersenyum malu, namun ada pula yang tak peduli.
Saat ciuman paksa tersebut terlepas, Baekhyun terengah-engah. Salivanya mengalir di ujung dagu runcingnya. Chanyeol menatapnya dingin. Tangannya mengusap lelehan saliva di dagunya.
"Kau tanya bagaimana rasanya? Rasanya manis, tidak kusangka. Ucapanmu pedasmu tak sebanding rasanya dengan mulutmu. Merasa terhina, Byun?"
Chanyeol berjalan, meninggalkan Baekhyun yang mematung. Entahlah apa ekspresi pria kecil itu selanjutnya, Chanyeol tak ambil pusing. Ia juga tak mengerti mengapa mengambil jalan tengah seperti ini. Yang jelas Chanyeol merasa Baekhyun pantas mendapatkannya.
Dari depan cafe, Kyungsoo dan teman-temannya yang lain menutup mulut. Saling menatap seolah tak percaya dengan apa yang Chanyeol perbuat baru saja. Sedangkan Luhan, pemuda Cantik itu mengepalkan tangannya erat. Matanya berkaca-kaca, rahangnya mengeras. Ia menatap Baekhyun penuh kebencian.
Di tempat yang sama, Baekhyun termenung. Masih shock. Kejadian ini sama persis seperti apa yang pernah pemuda Park itu lakukan jauh-jauh hari. Tetapi, kenapa kali ini rasanya begitu... Menyakitkan? Baekhyun benar-benar merasa tertampar balik.
"Kena kau Byun Baekhyun! Kau akan hancur." Ujar seseorang di ujung sana. Ia menyeringai puas dengan apa yang ia dapatkan malam ini.
.
.
Chanyeol terduduk di ranjangnya dengan wajah kusut. Ia bahkan menolak ajakan ibunya untuk makan malam lagi. Lelaki itu mengacak-acak surainya, frustasi. Sial!
Bibir itu... rasanya Chanyeol akan gila! Ia benar-benar sudah sinting karena mencium Baekhyun, bukan memukulnya. Masalahnya ini adalah kedua kalinya. Chanyeol tak mengerti. Sebelumnya tak pernah terfikir olehnya untuk mencium seorang lelaki dan itu musuhnya sendiri. Debaran halus itu sedikit menggelitik rasanya. Chanyeol menggeleng frustasi. Dia gay? Tetapi kekasih pertamanya adalah seorang perempuan.
"Baiklah, ciuman dan orientasi seks tidak ada hubungannya! Aku hanya terbawa suasana! Aish shit!"
.
.
Baekhyun meninju samsak tinju kuat-kuat. Kejadian beberapa jam lalu, sial! Sudut bibirnya bahkan terluka. Sekuat itu kah Park Chanyeol menciumnya?
"Brengsek! Menjijikkan!"
Sehun menatap anak itu datar. Sedari tadi ia seperti penonton yang menyaksikan adegan tinju perseorangan. Ingin ia menghentikan Baekhyun, namun pasti si pendek itu akan menghajarnya juga. Jadi, biarkanlah samsak tinju itu yang sekarat.
.
.
Suasana sekolah tampak ricuh akibat sebuah foto yang terpajang di majalah dinding sekolah. Foto dimana Luhan sedang berlutut dihadapan ketua Lightsaber itu membuat bisik-bisik kasihan terdengar dari murid-murid. Tiga bulan pembullyan dahulu ternyata tak cukup untuk ketua lightsaber itu, fikir mereka semua.
Ribut-ribut tersebut membuat Chanyeol dan Luhan bingung bukan main, apalagi ketika orang-orang terdiam dan menatap Luhan dengan pandangan berbeda-beda.
Tak butuh waktu lama untuk mengerti. Ia langsung berdiri mematung melihat foto dihadapannya. Sial! Siapa yang memajang ini?
Luhan Terdiam, nafasnya terasa seperti tercekat. Semua benar-benar memalukan dirinya. Byun Baekhyun, ini pasti perbuatan lelaki itu! Luhan benar-benar sakit hati di permalukan dengan cara seperti ini. Matanya memanas, tak dipungkiri ia ingin menangis. Pemuda cantik itu menunduk dalam.
Chanyeol berang, matanya menggelap. Foto tersebut di cabutnya satu persatu dengan tenang hingga tak tesisa satu pun. Langkahnya terliha lebar-lebar. Berjalan mencari keberadaan Baekhyun. Chanyeol butuh penjelasan akan hal ini.
"Chanyeol, kau mau kemana?" Tanya Luhan dengan suara bergetar.
"Aku akan menemui seseorang. Kau tunggu disini."
Luhan menatap kepergian Chanyeol dengan kosong. Ia mengangguk seadanya.
BRAKKK... Pintu Ruangan khusus bagi Lightsaber itu terbuka kasar. Disana hanya ada Kai dan Sehun yang menatap Chanyeol kebingungan.
"Ada apa? Kau ingin mengajak duel lagi? Phoenix-ssi?"
Chanyeol tak menghiraukan pertanyaan sakartis dari Kai. Kepalanya malah celingukan mencari keberadaan si rambut merah yang sepertinya tidak ada disana.
"Dimana ketua kalian?"
"Kenapa? Jangan mencarinya." Itu Sehun. Lelaki itu seperti tak suka dengan Chanyeol.
"Jangan banyak tanya brengsek! Dimana dia?!"
Bentakan tersebut menggema. Baik Kai maupun Sehun tak ada yang berkutik. Takut-takut kejadian beberapa waktu silam kembali terjadi.
"Dia tidak datang ke sekolah." Ujar Kai dengan santainya. Pemuda berkulit Tan itu kembali melanjutkan bermain game dari ponselnya.
BRAKK... Foto-foto ditangan Chanyeol sengaja lelaki itu lemparkan di atas meja hingga jatuh berserakan. Kai mengerutkan alisnya. Sedangkan Sehun meraih satu lembar foto. Mata sipitnya melebar.
"Kalian bilang pada ketua kalian itu! Aku sudah mengingatkannya tadi malam, jangan berani sakiti Luhan lagi atau_"
"Atau apa? Kau akan menghajar Baekhyun? Kenapa kau membela anak China itu hingga seperti ini?" Tanya Sehun dingin. Kai melirik Sehun takut-takut. Ia berdehem mencoba mencairkan suasana. Sayangnya itu tak membantu sama sekali.
"Jika iya, memangnya kenapa? Aku membelanya karena dia temanku!"
"Ah~ manis sekali. Dengar phoenix! Aku juga akan melakukan hal yang sama jika kau berani menyakiti Baekhyun kami lagi!"
Chanyeol terdiam tak mengerti. Apalagi ketika Sehun pergi begitu saja. Satu hal yang ia tangkap di otaknya. Sehun menyukai Baekhyun.
"Jika kau ingin, kita bisa ke rumah Baekhyun. Kebetulan aku juga akan kesana."
Chanyeol menatap Kai bingung. selebihnya ia hanya mengangguk. Mengikuti langkah Kai.
.
.
Baekhyun berdiri diam dengan pandangan datarnya. Ayahnya memanggil dirinya tadi. Entahlah untuk hal apa, yang jelas sepertinya tidak baik. Gurat kekesalan diwajah pria paruh baya itu terbaca jelas.
"Ada apa kau memanggilku kesini?"
SRAKKK... Lembar-lembar foto terlempar ke wajah Baekhyun dengan kasar. Pemuda itu tersentak. Mata sipitnya melihat salah satu foto. Terkejut. Itu adalah hal yang wajar ia rasakan ketika melihat foto tersebut. Foto dimana Chanyeol menciumnya tadi malam. Sialan! Tanpa sadar ia meremas foto tersebut hingga kusut.
"Aku bisa menjelaskan ini_"
PLAKKK... Tamparan yang keras, rasa sakitnya merambat hingga ke telinga Baekhyun. Rasanya berdengung hebat akibat suara tamparan keras itu. Baekhyun memegang pipinya yang terasa panas. Menatap tuan Byun menantang.
"Dasar anak kurang ajar! Tidak tau diri! Kau hanya bisa memalukan aku! Dasar gay!"
"AKU BUKAN GAY! Dasar brengsek!"
BUGHH... BUGHHH...
Pukulan dengan kayu. Baekhyun memang sering mendapatkan ini. Tubuhnya serasa mati rasa. Rasa sakitnya masih sama, seperti dulu.
"Hiks... Sakit ayah! Ampun!"
"Dasar anak bodoh! anak nakal!"
Tuan Byun memukuli bocah berusia 7 tahun itu dengan kayu rotan. Para maid di rumah itu hanya bisa menangis diam. Melihat tuan muda mereka di siksa dan di pukul dengan kejam seperti itu. Baekhyun hanya melakukan kesalahan kecil. Ia mendapatkan nilai 5, tuan Byun murka akan hal itu.
"Hentikan ayah! Baekhyun minta maaf... Hiks... Sakit..."
Baekhyun menutup matanya. Ia masih berdiri tegap saat pukulan-pukulan itu semakin brutal. Seolah tubuhnya memang telah mati rasa.
"Rasakan ini!"
Jika kau tanya mengapa ia hanya diam, seolah tak berekspresi sama sekali maka jawabannya adalah, Baekhyun telah lelah menangis. Rasa sakit ini tak sebanding dengan sakit hatinya. Ayahnya sendiri memperlakukannya kasar, seolah ia adalah sampah tak berguna.
Pukulan terakhir, kayu tersebut patah saat sang ayah memukul punggung Baekhyun dengan keras. Baekhyun menutup matanya. Tuan Byun berlalu begitu saja. Meninggalkan Baekhyun yang masih berdiri dengan tegarnya.
"Baekhyun!"
Matanya menoleh dengan lemah ke arah sumber suara. Disana berdiri Jongin dan... Chanyeol? Kenapa anak itu ada disana?
BRUKKK... Selebihnya pria kecil itu terjatuh ke lantai. Ia pingsan.
Chanyeol berdiri mematung. Melihat kejadian tadi. Ia pernah mengalaminya, hanya saja tidak seperti ini. Chanyeol tau, rasa sakitnya pasti mengerikan. Namun Baekhyun dengan wajah biasa saja hanya terdiam seolah tak peduli.
"Cepat bantu aku!"
Chanyeol berjalan linglung mendekati Jongin. Desisan dari mulutnya terdengar saat melihat beberapa lebam di lengan dan wajah Baekhyun. Tanpa fikir panjang anak itu langsung menggendong Baekhyun.
"Kita akan membawanya ke rumah sakit."
Chanyeol merasa bingung. Hatinya merasakan kepedihan. Seolah hal ini terjadi padanya. Byun Baekhyun. Lelaki itu bodoh atau bagaimana? Kenapa ia membiarkan dirinya terluka seperti itu? Apa dia robot yang tidak punya rasa sakit dan perasaan? Sial! Chanyeol merasa peduli padanya.
"Bodoh!"
.
.
TBC
.
.
A/N : um, buat beberapa reader yg teliti, makasih banget udah ingetin. Hehe, aku lupa kalo udah jadiin Taetae cameo di chapter 1. yaudah deh, anggap aja taehyung ada dua versi /seketika digampar/ :v
Btw, MV exo yg baru udah keluar. TL rame, ada adegan aktor Park tonjok2an lagi katanya. Sial, kuota gue nipis :'v
Ah, maaf buat ingkar janji. Aku mau fast update tapi you know lah, tugas akhir semester ngejar gue mulu kek rentenir. T.T ini aja baru 75 persen siap semua tugas gue /malah curhat/ jadi mohon kesabaran kalian.
Maaf juga kalo kalian kurang suka dengan chapter ini. Aku buatnya ngebut soalnya, seraya dikejar tugas /lagi/
ehmm... Buat 'musuh baekhyun', ada yg mau kasih saran siapa? Review please?
Ah, Big thanks buat yang udah ngereview! Silent readers tobat lah! :DD
baiklah, udah malam, besok ujian /lagi/ ... Next chap update fast? Review dulu!
