Title : Lightsaber

Author : DandelionLeon

Lead Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun

Other Cast : Oh Sehun, Xi Luhan, Kim Jongin(Kai), Do Kyungsoo, Vernon (Seventeen), and other cast temukan sendiri.

Cameo : Lee Hyukjae (SJ)

Genre : Romance, School-life, Friendship, Drama, lil' bit of humor.

Rate : T menuju M

Disclaimer : This story is mine. Seluruh cast milik Tuhan dan agensi mereka.

Warning! Typo, Diksi hancur, YAOI, Adegan

kekerasan (gak buat ditiru)

.

.

BGM : BTS - RUN

.

.

Oke, Jangan lupa review setelah baca...

.

.

Chapter 6 : Sympathetic

.

.

Baekhyun menoleh ke sekitarnya. Semua putih, namun lamat-lamat semua berubah. Pemandangan disekitar rumahnya lah yang ada dihadapannya kini. Namun, mengapa ukuran tubuhnya terasa mengecil?

"Tuan muda?"

Baekhyun tersentak saat tepukan di bahunya. Ia menoleh dengan gerakan pelan. Mengapa supir Kang masih semuda ini? Batinnya.

"Tuan dan nyonya sudah menunggu di dalam."

Baekhyun berjalan kaku, mengikuti langkah sang supir ke dalam rumah super megahnya. Matanya tak dapat tak terbelalak. Disana berdiri ibu dan ayahnya dengan senyuman.

"I-ibu?"

"Kemari sayang."

Baekhyun berlari, sekuat yang ia bisa. Namun mengapa ini terasa begitu jauh. Semakin lama, ibunya semakin jauh. Tiba-tiba ingatan mengerikan itu terulang kembali. Tubuh ibunya terbaring kaku di dalam peti mati.

"IBUUU!"

Tarikan kuat di tubuhnya membuat dirinya menjauh dari sana. Sang Ayah memukulinya membabi buta. Menendang, bahkan sabatan ikat pinggang begitu kuat mengenai punggungnya.

"Hiks... Sakit! Ayah! Ampun!" Anak itu menangis tersedu. memohon ampun dari sang ayah, berlutut dengan wajah penuh lebam. Anak kecil itu, Baekhyun, tak mengerti mengapa ayahnya yang baik menjadi seperti ini.

"Semua karenamu! Dasar anak sialan! Kau membuat istriku meninggal! Aku tidak akan pernah mengampunimu!"

Difikir secara rasional, tidaklah mungkin seorang ayah memukuli anaknya hanya karena kematian sang istri. Namun, rasa cinta yang begitu besar membuat tuan Byun gelap mata. Ia menganggap jika kematian nyonya Byun dikarenakan menyelamatkan Baekhyun dari tabrakan itu.

Mata sipit Baekhyun membesar saat sebuah pisau menyayat bahu kirinya. Ia berteriak pilu.

"AAAKKHHHH!"

BRUKKK...

Nafas lelaki muda itu tersenggal-senggal. Matanya berpendar ke seluruh penjuru ruangan. Ini bukan di rumahnya. Secara refleks, tangannya menyentuh wajah dan tubuhnya. Sial! Dia mimpi buruk. Mimpi yang selalu sama seolah menerornya.

"Kau sudah sadar?"

Suara berat itu mengejutkan Baekhyun. Alisnya bertaut, menyadari si pemilik suara ada di sampingnya dengan raut wajah datarnya. Walau tak dipungkiri pancaran matanya, ada kekhawatiran yang implisit di dalamnya.

"Kenapa kau disini?" Tanya Baekhyun dingin.

"Aku membawamu ke rumah sakit karena kau pingsan."

Pandangan lelaki tinggi itu berubah sendu, namun Baekhyun menganggap itu layaknya pandangan mengasihani. Baekhyun mencengkram sprei yang menjadi alas tempat tidurnya. Apakah Chanyeol melihatnya? Melihat bagaimana ayah Baekhyun memukulinya?

"Kenapa kau ada disana?"

Chanyeol tersentak, ia menggaruk tengkuknya kikuk. Ya, untuk apa dia disana?

"Aku ingin menanyakan perihal foto ini."

Baekhyun memperhatikan foto ditangan Chanyeol. Foto dimana Luhan berlutut di kakinya. Seringai pemuda itu mengembang. Tatapan sinisnya menghujam ke arah Chanyeol.

"Hanya karena hal ini kau mencariku? Cih! kau menuduhku sebagai orang yang menyebarkan foto ini? Begitu?"

Chanyeol bingung, sangat! Lelaki dihadapannya itu mengapa begitu sulit di tebak. Beberapa jam lalu, ia begitu lemah. Seolah ingin direngkuh dalam pelukan. Namun sekarang, ia bertingkah seolah tak ada beban, bertingkah menyebalkan seperti biasanya.

"Tentu, siapa lagi jika bukan kau? Bukankah kau begitu membenci Luhan?"

"Aku memang membenci lelaki lemah itu. Namun ketahuilah satu hal bung. Aku tak punya waktu untuk menyebarkan foto ini. Tiga bulan, itu adalah waktu yang cukup lama dan membuatku puas untuk menyiksa anak China itu dulu." Terang Baekhyun santai.

Tiga bulan? Chanyeol meringis pelan. Luhan menderita selama itu?

"Kau benar-benar brengsek." Umpat Chanyeol dingin.

"Ya, semua orang tau itu. Jika kau disini hanya untuk membela kekasihmu itu, maka pergilah. Kepalaku sakit mendengar suaramu." Usir Baekhyun. Lelaki itu merebahkan kembali tubuhnya ke tempat tidur. Berusaha memejamkan matanya.

Alis Chanyeol mengernyit. Kekasih? Kenapa bocah brengsek di hadapannya itu selalu menyebut Luhan sebagai kekasih Chanyeol?

"Ya, baiklah. Tidak peduli itu kau atau bukan, yang jelas aku masih mencurigai kau sebagai pelakunya."

langkah kaki itu perlahan mulai menjauh. Baekhyun menghembuskan nafasnya kasar. Setitik air mata jatuh ke pipinya. Ia mengusapnya kasar. Bukan! Ia menangis bukan karena perihal Luhan atau Chanyeol. Dirinya justru merasa sakit hati karena mengingat mimpinya. Juga karena perlakuan ayahnya. Itu semua terasa menyakitinya lebih dari apapun.

CKLEKK...

"Baek? Kau tidak apa? Maaf, aku terlambat datang."

Buru-buru Baekhyun mengusap air matanya. Ia tersenyum saat Sehun menangkup wajahnya dengan wajah khawatir. Kai berdiri di belakang pemuda putih itu dengan tampang malasnya.

"Jangan berlebihan. Baekhyun hanya pingsan!"

"Diamlah hitam! Baek, aku seperti ini karena aku peduli padamu."

"Cih! Drama!" Ujar Kai mengejek.

Baekhyun terkekeh. Setidaknya, ia masih memiliki dua orang sahabat yang selalu menghiburnya. Ya, sekejam apapun dunianya. Seberapa banyak orang yang membencinya, ia masih memiliki Kai dan Sehun yang selalu ada disisinya. Rasanya itu saja sudah cukup.

.

.

Berdiri di balkon rumahnya dengan wajah tertekuk, Chanyeol justru mendapat perhatian lebih dari sang ibu. Putra semata wayangnya itu sudah seperti ini sejak sehari yang lalu.

"Hey! Masuklah! Diluar sangat dingin!" Tegur ibunya.

Chanyeol hanya membalas dengan jawaban, 'nanti saja'. Anak itu lebih senang berdiri seperti idiot.

Kejadian sehari lalu seperti teror untuknya. Byun Baekhyun, sebenarnya dia itu preman atau teroris? Kenapa selalu hadir di kepala Chanyeol? Entahlah, wajah datar Baekhyun yang menahan sakit saat dipukuli kemarin membuatnya peduli. Sial sekali bukan?

"Byun Baekhyun, aku tidak tau dia itu manusia atau bukan. Mengapa ia bersikap biasa saja saat tubuhnya dipukuli seperti itu?" monolognya.

Penasaran. Pemuda bermata sipit itu membuat Chanyeol penasaran. Sikap dingin dan seolah tak peduli Baekhyun membuatnya penasaran bukan main. Apa dan kenapa lelaki itu menjadi demikian?

"Aisssh! Shit! Mengapa aku memikirkannya? Dia itu orang paling menyebalkan! Apa pedulimu Chanyeol?! Berhentilah!"

Nyonya Park memperhatikan dari dalam sana. Dan dari hasil analisisnya, Chanyeol menderita gangguan jiwa ringan.

.

.

"Chanyeol."

Si pemilik nama menoleh. Luhan berdiri menatapnya dengan senyuman manis. Sebuah kotak makan siang terdapat di tangannya.

"Mau makan siang bersama?"

Chanyeol ingin menolak. Namun pandangan memohon Luhan siapa yang tahan untuk menolaknya? Akhirnya Chanyeol pun mengangguk. Mereka duduk di bangku Chanyeol. Mata Chanyeol berbinar saat melihat makanan lezat di hadapannya.

"Woah! Sepertinya enak. Kau yang memasak?"

"Um, sebenarnya di bantu Kyungsoo juga. Ayo, makanlah."

Luhan diam-diam menatap Chanyeol yang tengah melahap makanannya. Sebuah senyuman manis terpatri di bibirnya. sebuah tawa halus dari Luhan membuat Chanyeol mengernyitkan alisnya bingung.

"Kenapa?" Tanyanya dengan pipi menggembung lucu-penuh dengan makanan.

"Kau seperti anak kecil."

DEG! Chanyeol tersentak saat tangan halus pemuda itu mengusap sisa saus di ujung bibirnya. Wajah Luhan sangat cantik jika dipandang dalam jarak sedekat ini.

BRAKKKK... Hantaman pada pintu kelas membuat dua anak adam itu tersentak. Chanyeol sampai tersedak akibat suara keras tersebut. Sementara itu, si pembuat keributan di ujung sana malah memasang wajah tak berdosa.

"Berani sekali kau menentangku." Ucap seseorang itu dingin. Seorang siswa berkacamata tebal menunduk takut. Wajahnya dipenuhi lebam-lebam, sungguh mengenaskan.

"M-maafkan aku, Baekhyun-nim."

Baekhyun tersenyum sinis. Kakinya menendang keras tubuh si culun hingga terjembab mengenai meja guru. Beberapa murid yang menonton kejadian tersebut memekik histeris, terkhusus para gadis.

Chanyeol memandang kejadian itu malas. Baru sehari lalu ia menaruh simpati pada Baekhyun, kini rasa jengkel itu muncul kembali. Anak itu seperti tidak bosan-bosan membuat keributan. Saat Chanyeol hendak bangkit, Luhan justru menahannya. Pemuda China itu menggeleng pelan, mengkode jika Chanyeol tak perlu ikut campur lagi dalam urusan Byun Baekhyun. Akhirnya si pemuda jangkung mengangguk dan memilih untuk duduk diam saja, walau sebetulnya itu bukanlah gayanya sama sekali.

"Kau kira maaf saja cukup? Dengar! Kata maafmu takkan bisa mengembalikan waktu seperti sedia kala."

Oh, apalagi ini? Byun Baekhyun memang benar-benar senang sekali membuat onar. Chanyeol benar-benar muak. Rasa simpatinya kepada pemuda itu menguap begitu saja. Rahangnya semakin mengeras saat mendengar bunyi pukulan dan tendangan. Chanyeol benar-benar tak tahan lagi rasanya. Pemuda Park itu bangkit, hendak melempar sumpit di tangannya. Sayang sekali, Sehun lebih dulu datang dan menghentikan tingkah Baekhyun sebelum korbannya mati.

"Baek! Cukup!"

Nafas Baekhyun terengah-engah. Emosi masih menggelapkan matanya. Ia diam saja saat Sehun memeluknya- bermaksud menahan gerakan Baekhyun tersebut. Mata sipit itu bertubrukan dengan Luhan yang menyaksikan kejadian itu dengan seksama. Namun itu tak bertahan lama karena Luhan memilih menunduk dibanding menatap tatapan tajam Sehun.

"Dengar culun! Jika kau berani menentangku lagi, maka tidak hanya kau yang akan ku hajar, tetapi seluruh temanmu yang ada di kelas ini!"

Seluruh murid yang semula menonton aksi dari ketua Lightsaber akhirnya membubarkan diri seiring kepergian sosok bersurai merah itu. Chanyeol menghela nafasnya kasar. Semakin lama, ia semakin kesal melihat Byun Baekhyun. Namun, tak di pungkiri pula jika sosok itu terus menghantui malamnya.

"Chan! Kau tidak mendengarku ya?"

Chanyeol tersenyum hambar pada Luhan. Nafsu makannya mendadak hilang. Ia menatap sedih pada anak culun yang tadi sempat terkena baku hantam Baekhyun. Anak lelaki berkacamata itu duduk bersimpuh, menangis dalam diam. Teman-temannya yang lain hanya bisa memberikan ucapan simpati mereka.

Byun Baekhyun, anak itu pasti sakit jiwa. Fikir Chanyeol demikian. Ia senang mencari keributan tanpa sebab, bukankah itu aneh?

"Em... Lu, bolehkan aku bertanya?"

Luhan mengernyit melihat ekspresi penasaran Chanyeol.

"Eh? Tanya apa? Boleh saja kok."

"Ini soal, Byun Baekhyun."

Gerakan tangan Luhan yang semula hendak menyuap makanan terhenti. Tangannya menggenggam sendok tersebut sangat erat. Perubahan wajah yang ketara sekali bisa di tangkap Chanyeol, entahlah itu hanya perasaannya saja atau apa.

"Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya Luhan dengan suara dinginnya.

Chanyeol berfikir, mungkin Luhan sedang dalam mood buruk untuk membicarakan Baekhyun. Akhirnya Chanyeol hanya terkekeh garing lalu tertawa keras.

"Kenapa rambutnya berwarna merah? Kau tau Lu? Dia norak sekali! Hahaha."

'Aku tau, bukan itu yang ingin kau tanyakan.' batin Luhan geram. Pemuda cantik itu tersenyum manis, berpura-pura menertawakan pertanyaan konyol Chanyeol. Namun dalam hati ia marah, sepertinya Chanyeol mulai memiliki simpati terhadap Baekhyun. Luhan harus segera bergerak cepat.

.

.

Chanyeol berjalan dengan malas-malasan menuju lapangan basket. Pelajaran olahraga akan segera di mulai. Rasa malas Chanyeol sepertinya kumat lagi. Ia hendak berbalik badan, ingin bolos. Sayang sekali, tubuh tingginya menubruk tubuh seseorang hingga terjembab ke lantai.

"Bisakah kau minggir! Tubuhmu berat jika kau ingin tau."

Upss... Chanyeol menyingkir dengan wajah datarnya. Ternyata, makhluk bersurai merah ini lagi! Kenapa dimana-mana Baekhyun selalu muncul?

"Aish! Kau lagi! Kenapa kau selalu ada disekitarku?" Bentak Chanyeol keras. Sayang, dugaan Chanyeol sepertinya tepat sasaran karena Baekhyun hanya memasang wajah datarnya.

"Kau saja yang idiot."

Setelahnya sosok kecil itu berjalan melewati Chanyeol begitu saja.

"Yak! Kau harus meminta maaf!"

Chanyeol berlari mengejar Baekhyun. Gerimis. Baik Chanyeol maupun Baekhyun terdiam di teras sekolah. Chanyeol mengusap lengannya, angin dingin tiba-tiba berhembus begitu saja. Matanya melotot saat melihat Baekhyun justru menantang hujan. Berjalan santai menuju lapangan basket outdoor berada. Seragam anak itu terlihat mulai basah.

"Yak! Dasar si tengik ini! Kau mau terkena demam?"

Ups... Sejak kapan kau mulai peduli Chanyeol?

Chanyeol menepuk bibirnya refleks.

"Berisik! Kau lalat pengganggu!"

"M-mwo? Lalat? Aish, dasar bocah tengik!" Chanyeol hendak beranjak dari sana. Namun, matanya menangkap sesuatu.

Baekhyun menengadah, menutup matanya, membiarkan air hujan membasahi wajahnya. Ternyata anak itu serius ingin bermain hujan.

Lama kelamaan, hujan semakin turun deras. Chanyeol berdecak lalu terus menghisap rokoknya. Baekhyun masih berdiri disana seperti orang bodoh. Kaki panjang Chanyeol tanpa sadar melangkah, meninggalkan tempat keringnya. Ia membiarkan seragam olahraganya ikut basah terkena tetes-tetes hujan.

"Sebenarnya otakmu itu terselip di antara belahan bokongmu ya?"

Baekhyun menatap Chanyeol datar. Sialan! Omong kosong macam apa itu? Fikirnya.

"Bukan urusanmu!"

Chanyeol mengulum senyum, tepatnya seringainya.

"Bukan urusanmu! Berisik! , sepertinya kata itu adalah jargon khas Byun Baekhyun." Ujar Chanyeol dengan nada mengejek.

Hening. Baekhyun tak menimpali ejekan Chanyeol. Dirinya lagi malas beradu argumen. Fikirannya melayang entah kemana. Tak ia pedulikan ocehan-ocehan Chanyeol di sampingnya.

"Omong-omong, soal waktu itu. Kenapa kau diam saja saat ayahmu memukulmu?"

Perhatian Baekhyun terpancing. Ia mengepalkan tangannya. Itu artinya Chanyeol menyaksikan bagaimana tuan Byun memukulnya?

"Kau melihatnya? Kau mau menertawakanku? Silahkan saja." Chanyeol melirik Baekhyun melalui ekor matanya. Masih sama, tanpa ekspresi.

"Ya, aku melihat bagaimana kau diam seperti patung yang dipukuli."

Baekhyun menunduk, menyembunyikan wajahnya. Ia tersenyum remeh kemudian.

"Tau apa kau? dasar tukang ikut campur." Balas Baekhyun dengan nada tak kalah sinisnya.

Pemuda bertubuh mungil itu berjalan menuju bangku penonton di pinggir lapangan. Ia meraih sebuah bola basket yang teronggok disana. Kemudian, Baekhyun mendrible bola menuju lapangan. Chanyeol Masih mengikutinya.

"Aku bukan ikut campur sialan! Aku hanya... Baiklah! Lupakan saja. Lagi pula menjadi lelaki akan wajar jika mendapat pukulan dari ayahmu sendiri."

Baekhyun hanya diam, tak mempedulikan bagaimana musuhnya itu berteriak seperti gadis-gadis bodoh. Ia sibuk melempar bola ke dalam ring. Saat dirasanya Chanyeol berada di sampingnya, pemuda bersurai merah itu menoleh sejenak. Nafasnya terlihat putus-putus akibat berlari tadi.

"Ternyata gosip phoenix si tukang ikut campur itu memang benar ya?" Ejek Baekhyun. Matanya tak pernah lepas dari ring di depan sana.

Chanyeol menggeram di tempatnya. Ia berjalan semakin dekat ke arah Baekhyun berada. Lelaki itu meraih bola basket di tangan Baekhyun dengan paksa lalu melemparnya entah kemana. Hal tersebut menuai protes dari yang lebih pendek tentunya. Pandangan Baekhyun menajam. Sungguh, dirinya benar-benar penat, lalu Chanyeol mengganggunya sekarang.

"Bisa kau ulangi lagi ucapanmu tadi sialan?" desis Chanyeol dingin. Matanya seolah menusuk mata Baekhyun.

"Kau. Tukang ikut campur." Ulang Baekhyun diiringi senyum menyebalkannya.

BUAGHHH... Satu tinjuan mengenai pipi kanan Baekhyun. Pemuda itu sampai terhuyung satu langkah ke belakang. Rasa anyir langsung terasa saat cairan merah itu masuk ke dalam mulutnya. Ujung bibirnya sobek, hasil dari tinjuan Chanyeol yang menggeram marah.

BUAGHHH... Suara tinjuan kembali terdengar. Kali ini bukan Baekhyun korbannya melainkan Chanyeol. Pemuda dengan mata sipit itu lanjut menendangi Chanyeol membabi buta. Sementara Chanyeol masih menerima tiap serangan Baekhyun. Detik saat Baekhyun kembali meninju pipinya, Chanyeol bangkit, ia balik menyerang Baekhyun. Keduanya adu serang di tengah hujan deras. Tentunya sudah menjadi hal wajib bagi murid-murid disana untuk menonton kejadian tersebut walau dari jarak jauh sekali pun.

Kai dan Sehun terkejut saat melihat hal tersebut. Mereka hendak berlari kesana namun guru Han lebih dulu berlari di bawah hujan dengan kayu di tangannyaa.

"Berhenti kalian!" Teriaknya keras.

Baik Chanyeol maupun Baekhyun saling menghentikan serangan masing-masing. Saat guru paruh baya itu berjalan mendekat, Mereka saling berdecih seolah kesal acara berkelahinya di ganggu.

"Kalian! Ini sudah berapa kali? Hah... ikut aku ke kantor!"

Chanyeol mendesah kasar, sementara Baekhyun mendengus sebal. Keduanya berjalan seolah mau tak mau. Hari ini, mereka kembali mendapati luka di wajah masing-masing akibat pertengkaran yang tak berarti. .

.

Tatapan tajam guru Han seolah tak menakuti Chanyeol dan Baekhyun sama sekali. Chanyeol sibuk mengusap luka di wajahnya dengan sapu tangan sambil sesekali mendesis. Baekhyun? Ia hanya duduk diam seraya melipat tangannya. Ekspresi angkuhnya masih terpasang apik seolah wajahnya tak terluka sedikit pun.

"Apa kau berencana hanya mondar-mandir disana? Aku sibuk asal kau tau." Tanya Baekhyun sakartik.

"Kau! Hah... Aku tidak tau lagi harus mengatakan apa. Dengar Baekhyun, aku sudah memberimu peringatan beberapa kali. dan sekarang kesabaranku sudah habis! Aku akan memberi tau ayahmu_"

"Apa yang harus ku lakukan? Membersihkan toilet selama seminggu? Baik, akan ku laksanakan. Tetapi, jika kau berani menyuruh Pria itu kesini, aku takkan segan mematahkan lehermu."

Guru Han secara refleks memegang lehernya. Ia menelan ludahnya kasar. Pria itu tau, Baekhyun takkan pernah main-main dengan ucapannya. Tak peduli tua atau muda, lelaki itu takkan segan menghajar siapapun yang membuat perasaannya buruk. Namun, baik guru Han maupun Chanyeol sama-sama tak mengerti. Kenapa Baekhyun tidak mau ayahnya ke sana? Bukankah hal wajar jika kau berbuat salah terlampau jauh maka gurumu akan memanggil orang tuamu ke sekolah?

Ini terjadi beberapa kali, bahkan berulang kali. Untuk pertama dan terakhir kali beberapa waktu lalu, Guru Han memanggil tuan Byun ke sekolah. Setelahnya, bukannya membaik, Baekhyun justru semakin berulah lagi. Ia yakin, ada hal buruk di antara ayah dan anak tersebut. Guru Han mengangguk paham dalam diam.

"Baiklah, hukumanmu akan ku tunda terlebih dahulu. Sekarang kau, anak baru!"

"Aku?" Tunjuk Chanyeol pada dirinya sendiri.

"Tentu saja kau bocah! Terhitung hampir tiga minggu kau berada di sekolah ini tetapi kau telah beberapa kali melakukan pelanggaran! Ah... Benar, kau berasal dari sekolah berandalan itu, pantas saja tingkahmu begini! Memangnya mau jadi apa kau di masa depan eoh?!"

CTAKKK... Pukulan dari kayu kecil di tangan Pak Han mengenai kepala Chanyeol. Pemuda itu meringis lalu menatap gurunya tersebut tajam.

"Ck! Sudahlah, jika ujung-ujungnya kau hanya ingin memberi kami hukuman, berhentilah mengoceh. Liurmu mengenai wajahku omong-omong."

Baekhyun tersenyum kecil mendengar ucapan Chanyeol tetapi Guru Han malah refleks menutup mulutnya mendengar sindirian telak untuknya tersebut.

"Baiklah, jika itu yang kalian inginkan. Aku tau, kalian saling membenci entah karena apa aku tidak peduli. Jadi, bukankah perdamaian itu indah?"

"Jika maksudmu aku dan dia harus berbaikan, maaf saja, aku tidak akan melakukannya." Ujar Baekhyun.

"Oh, benarkah? Baiklah, bagaimana dengan mengecat tembok gedung kantor dewan guru saja? Ku rasa cat tembok indoornya sudah mengelupas."

Chanyeol melotot horror. Tembok outdoor kantor dewan guru katanya? Itu benar-benar luas okay? Lagi pula, apa sekolah ini kekurangan Uang untuk membiayai tenaga kerja? Chanyeol bukan kuli bangunan, catat itu!

"Apa-apaan itu? Pak, itu tidak sebanding dengan_"

"Baiklah, itu hal yang mudah." Potong seseorang di sebelah Chanyeol dengan santainya. Hal tersebut terang saja menuai protes keras dari Chanyeol.

"Sepulang sekolah besok, kalian mulai bekerja. Tetapi dengan catatan. 'tidak ada bantuan dari siswa yang kau tindas lagi, Byun'!"

Kali ini, bukan hanya Chanyeol yang mengerang protes, melainkan Baekhyun juga. Sepertinya besok akan terasa melelahkan. Terlebih jika kau melakukannya bersama dengan musuh yang kau benci.

.

.

Mungkin jika Chanyeol boleh memilih, ia lebih mau di suruh membersihkan toilet sekolah yang bau di bandingkan mengerjakan hal merepotkan seperti ini. Masalahnya, sejak tadi Baekhyun tidak membantu sama sekali. Anak itu sibuk mendengarkan musik dari earphone nya. Merokok. Makan makanan ringan. Dan yang terparah adalah, Baekhyun baru saja menempelkan sisa permen karetnya ke tembok di hadapan Chanyeol. Padahal sejak tadi, Chanyeol sudah bersusah payah menggerus sisa cat lama yang masih menempeli tembok tersebut. Tak bisa di terima! Chanyeol sudah emosi jika begini keadaannya.

Dengan amarah yang meluap-luap, Chanyeol sengaja membanting peralatan di tangannya hingga menimbulkan bunyi nyaring di lantai. Tetapi, bukannya menoleh Baekhyun justru tak terganggu sama sekali.

Chanyeol mulai panas, ia sengaja menarik earphone yang terpasang di kedua telinga Baekhyun dengan paksa. Tatapan garangnya justru tak mendapat feedback yang seimbang. Baekhyun hanya menatapnya datar, seolah tak terjadi apa pun sebelumnya.

"Sudah puas bersantainya, Ketua?" Tanya Chanyeol dengan nada sarkatik.

"Kenapa? Ingin memarahiku? Sudah seharusnya ini kerjaanmu. Kau yang duluan memukulku kemarin." Balas Baekhyun dengan entengnya.

Chanyeol berang tentu saja. Emosinya tak bisa ia bendung lagi rasanya. Ia mengambil sekaleng cat berwarna putih lalu ia serahkan ke tangan Baekhyun. Peduli mana jika Baekhyun keberatan? Toh, Chanyeol sudah lelah sejak tadi, Baekhyun malah senang-senang saja berdiam diri.

"kau aduk cat ini, setelah itu kerjakan bagianmu. Aku akan mengecat dinding sebelah kiri, dan kau sebelah kanan."

Baekhyun mengangguk malas-malasan. Well, setidaknya Chanyeol masih bisa bernafas sedikit lega. Pekerjaannya tentu takkan sebanyak tadi.

Lima belas menit berlalu. Chanyeol hampir menyelesaikan tugasnya hingga enam puluh lima persen. Pekerjaannya kali ini sangat rapi. Maklum saja, Chanyeol biasa sering mengecat rumahnya saat tahun baru tiba. Omong-omong, apakah Baekhyun juga sudah selesai? Jika iya, maka semua akan selesai sedikit lagi. Baru saja Chanyeol menoleh, ia dikejutkan dengan pemandangan tak mengenakkan dari dinding sebelahnya.

Baekhyun bergumam-mengomel tepatnya- dengan kuas di tangannya. Beberapa tetes cat berjatuhan hingga lantai disekitarnya terlihat sangat kotor.

"Yak! Kau bodoh atau memang tidak pintar?!"

"Aish! Jangan salahkan aku! Salahkan catnya yang begitu lengket ini! sialan! Atau cat ini sudah kadaluwarsa?" Ujar Baekhyun seraya mengendus-endus cat tersebut.

Chanyeol merasa jika Baekhyun lebih bodoh darinya. Setidaknya Chanyeol masih mengerti untuk membaca aturan pakai yang tertulis di kaleng cat tersebut.

Pemuda itu ikut berjongkok di sebelah Baekhyun. Ia menarik kaleng cat tersebut ke hadapannya lalu mengaduknya dengan kayu sepanjang tiga puluh senti.

"Ambil ember hitam itu dan juga air yang ada di ember putih."

"Siapa kau berani memerintahku?" Tanya Baekhyun tak terima.

"Ambil atau kau akan ku siram dengan cat ini." Jawab Chanyeol dingin.

Baekhyun mengangguk dengan malas-lagi. Ia kembali berjongkok di sebelah Chanyeol.

"Perhatikan baik-baik. Kau harus menuang cat ini ke dalam ember hitam ini. Tidak perlu semua, lalu tuang air sekucupnya. Jangan sampai terlalu kental atau encer. nah! Seperti ini."

Baekhyun tersenyum miring. Ia memperhatikan wajah Chanyeol yang tengah serius mengaduk-aduk catnya.

"Cih! Lakukan sesukamu. Aku tidak peduli." Pemuda bersurai merah itu bangkit dari acara berjongkok rianya. Namun, Chanyeol menahan pergelangan tangannya dengan kuat.

"Tidak sebelum kau melakukan tugasmu. Buktikan jika kau memang ketua Lightsaber yang bertanggung jawab."

Dengan desahan nafas kasar, mau tak mau Baekhyun meraih kuas di tangan Chanyeol. Pemuda tinggi di belakangnya tertawa puas lalu kembali menyelesaikan tugasnya sendiri.

Sekolah sudah sepi sejak beberapa jam lalu. Murid-murid yang mengikuti ekskul juga sudah pulang sejak sejam yang lalu. Sinar oranye langit barat mulai tampak merajai cakrawala. Tak terasa Chanyeol dan Baekhyun sudah melaksanakan tugas mereka dengan baik. Mungkin sisanya, akan mereka kerjakan lagi esok hari.

Setelah membereskan peralatan ke dalam gudang, Chanyeol berjalan menuju toilet untuk mencuci tangannya. Ternyata, Baekhyun juga ada disana. Pemuda itu membuka blazernya dengan umpatan-umpatan kecil yang keluar dari bibirnya.

"Blazermu terkena cat?"

"Kau bisa melihatnya jika kau tidak buta." Jawab Baekhyun dengan nada datar, namun kata-katanya begitu pedas.

Chanyeol memilih diam. Di ladeni juga akan menambah emosi saja bukan?

Baekhyun membuka kancing seragamnya. Mata Chanyeol melotot saat anak itu melepas kemeja putihnya dengan paksa. Tersisa kaus tanpa lengan hitam yang melekat di tubuh kurus Baekhyun. Namun entah mengapa, mata Chanyeol tak bisa lepas dari sana.

"Aku akan menusuk matamu jika kau melihatku lebih lama." Ucap Baekhyun dengan intonasi datar seperti biasanya.

Buru-buru Chanyeol membuang arah pandangnya ke arah lain. Ia berjalan mendahuli Baekhyun tanpa sepatah kata pun.

Keadaan sekolah mereka benar-benar sepi. Chanyeol berjalan cepat menuju parkiran. Ah sial! Baru setengah jalan, Chanyeol lupa jika tak pernah membawa motor semenjak bersekolah disini. Semua karena ayahnya yang_ baik, tidak usah membahas tuan Park. Yang terpenting Chanyeol harus segera pulang sebelum ibunya mengamuk.

Chanyeol mempercepat langkahnya. Namun, kaki jenjangnya berhenti sejenak saat sebuah mobil porsche silver berhenti di sebelahnya.

Kaca mobil tersebut terbuka, seiring dengan tampaknya wajah angkuh Baekhyun yang tersenyum miring.

"butuh tumpangan?" ujarnya dengan nada mengejek.

Chanyeol benar-benar geram sekarang. Cukup satu harian ini Baekhyun membuatnya marah.

"Sialan kau bocah!"

Baekhyun tertawa terbahak lalu melajukan mobilnya sekencang mungkin. Mata sipitnya melihat bagaimana Chanyeol berteriak di belakang sana melalui spion. Pemuda berwajah manis itu menghela nafasnya seusai tertawa. Well, setidaknya hari ini sedikit lebih menyenangkan di bandingkan biasanya.

.

.

Park Chanyeol tak pernah merasakan hidupnya seperti ini. Ia menjadi anak yang lebih penurut semenjak bersekolah di SM high school. Mematuhi keinginan ibunya. Terakhir kali ia berkelahi hebat juga ketika berkelahi bersama Lightsaber kala itu. Akhir-akhir ini Chanyeol lebih sering menghabiskan waktunya di dalam rumah. Menonton televisi atau menghabiskan cemilan yang dibuat ibunya adalah kebiasaan Chanyeol yang baru. Ia juga sering bermain gitar untuk menghilangkan rasa bosannya.

Keadaan tersebut tentunya di syukuri sangat oleh Tuan dan nyonya Park. Tuan Park bahkan tak pernah lagi untuk membentak anaknya tersebut.

Tetapi, sekali nakal tetap saja nakal. Malam ini Chanyeol kembali bertingkah. Ia pergi keluar, balap liar lagi mungkin. Rasa bosannya tak bisa ia bendung lagi.

Pemuda itu telah berada di sirkuit balapan liar. Beberapa orang sudah meramaikan suasana jalanan tersebut. Chanyeol tiba disana diiringi pekikan genit gadis-gadis berpakaian minim.

"Yo! Phoenix!"

"Hey, Hyukjae hyung."

Dua pemuda berbeda usia tersebut saling memberi salam temu. Hyukjae tersenyum sangat lebar melihat keberadaan Chanyeol disini.

"kau tau? Hampir sebulan lamanya kau tidak bermain bersama kami disini, rasanya membosankan sekali!"

"Hahaha, kau bisa saja hyung! Siapa penantang malam ini?"

Hyukjae mendekati Chanyeol untuk berbisik.

"Kau tau Vernon Kim? milyarder muda yang tersohor itu. Keturunan amerika-Korea. Menurut kabar yang beredar, ia sempat menghilang selama beberapa tahun dalam kehidupan sosial. Dia benar-benar hebat dalam balapan motor."

Chanyeol hanya mengangguk, walau tak semua ucapan Hyukjae dapat ia tangkap.

"Lalu, berapa hadiah malam ini?"

"Vernon memberi 20 juta won untuk malam ini." Bisik Hyukjae lagi.

"M-mwo?! d-dua puluh_ woah! woah! benar-benar!" Teriak Chanyeol keras. Hyukjae memberikan tanda untuk diam pada Chanyeol.

"Yeah! Dan hebatnya lagi, dia hanya ingin kau yang menjadi lawannya malam ini. Ah! Dia disana! Vernon-ssi! Kemari!"

Chanyeol memperhatikan seorang pemuda dengan wajah western berjalan ke arah mereka. Pemuda itu memiliki potongan rambut sedikit lebih panjang darinya, khas gaya orang western pada umumnya. Dapat ia lihat dari jarak sedekat ini sekarang, Vernon memiliki lensa mata berwarna abu-abu. Hey! Kenapa jadi memperhatikan fisik orang seperti ini?

"Perkenalkan, ini Phoenix."

Vernon tersenyum, sangat tampan terlihat. Ia mengulurkan tangannya.

"Hey, senang berkenalan denganmu. Park Chanyeol."

Alis Chanyeol dan Hyukjae sama-sama bertaut. Kenapa anak itu mengetahui nama asli seorang Pheonix? Padahal hanya beberapa orang yang mengetahui identitas Phoenix.

"Ah, Aku juga. Tetapi, dari mana kau tau namaku?"

"Maaf? Ah, itu? Aku mendengar beberapa wanita disini menyebut nama aslimu. Apakah itu mengganggumu? Maaf jika begitu."

Chanyeol menggeleng cepat. Ia tersenyum agar Vernon tidak merasa sungkan untuk mengetahui nama aslinya.

"Tidak masalah. Baiklah, apakah kita bisa bermain sekarang?" Ujar Chanyeol.

Pemuda blasteran Amerika-Korea tersebut mengangguk senang. Ini adalah hal yang ia nanti sejak lama.

"Ini akan menarik." Gumam Vernon.

"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Chanyeol, karena ia merasa pernah mendengar sesuatu yang diucapkan lelaki itu sebelumnya.

"Ah? Tidak, bukan apa-apa. Ayo, kita mulai!"

.

.

To Be Continued

.

.

Hai semua, sebelumnya gue benar-benar mau minta maaf karena super telat updatenya. Banyak review yang udah nyuruh cepat tapi mau gimana lagi? Hape gue lagi masa kritis, mau ngetik gak bisa T...T

Omong-omong, gue mau ucapin Big thanks buat semua pembaca kesayangan yang udah mau review. Kalian penyemangat gue sumpah. :DD

Makasih buat yg udah ngasih nama-nama yg cocok buat musuh Baekhyun. Siapa musuhnya? Kkkk, rahasia deh XDD ...

Oke, buat next chapter gue usahain gak molor lagi. Dan... Jangan lupa buat review terus yow?!

Annyeong...