Tilte : Lightsaber
Author : Dandelionleon
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun. Oh Sehun, Luhan, Kim Jongin, Vernon Choi (as Vernon Kim), Do Kyungsoo.
Cameo : Choi Minho (Shinee), Juniel. Other cast temukan sendiri.
Genre : Romance, Friendship, lil'bit of drama and hurt. Shool-Life, Yaoi.
Rate : T menuju M
Disclaimer : This story is mine. Semua cast cuma pinjam nama.
Warning! Typo, Adegan kekerasan, umpatam kasar. Jika merasa risih dengan kata-kata kasar disini, lebih baik tekan close. DLDR!
BGM : Chanhee (Melody day) - I can't
.
.
Seperti biasa, arena balap selalu bisa meramaikan malam hari. Kedua pembalap malam ini, Chanyeol dan Vernon telah bersiap dengan motor mereka masing-masing.
Suara derum mesin motor memecah keheningan malam. Keduanya melesat, saling mendahului untuk meraih gelar sebagai pemenang.
Chanyeol, ia selalu menang dalam hal seperti ini, dimana pun itu. Phoenix memang ketua genk paling hebat menurut kabar yang beredar. Namun siapa sangka? Jika yang duluan mencapai garis finish duluan dengan mudah adalah, Vernon Kim.
.
.
Tak ada berita baik, semua adalah hal sial yang Chanyeol terima. Kekalahan, di hukum sang ayah, dan sekarang ia kembali harus melanjutkan Hukumannya yang belum selesai kemarin. Hukumannya masih sama, yakni mengecat tembok outdoor ruang guru.
Keadaan sekolah sudah sunyi. Murid-murid telah meninggalkan sekolah beberapa puluh menit yang lalu. Sayang sekali, Chanyeol masih terperangkap disana dengan sekaleng cat, kuas dan yang terburuk adalah Byun Baekhyun.
Omong-omong soal Baekhyun, anak itu terlihat lebih diam dan tidak banyak tingkah hari ini. Ia melaksanakan tugasnya dengan baik.
"Akh! Aish!"
Chanyeol sontak menoleh saat mendengar pekikan Baekhyun. Jika suasana hatinya sedang baik, mungkin Chanyeol akan menertawakan keadaan Baekhyun saat ini. Pemuda yang sering menggunakan eyeliner itu terlihat sibuk menghilangkan cat yang terkena di wajahnya.
"aigoo~ dasar bodoh." Komentar Chanyeol yang mana membuat Baekhyun meradang.
"Siapa yang kau sebut bodoh?"
"Memangnya ada orang lain disini?" Tanya Chanyeol balik.
Hampir saja tinjuan Baekhyun mengenai wajah Chanyeol, sayang sekali Chanyeol lebih dulu menahan kepalan tangan anak itu dengan wajah tak minat.
"Apa caramu mengekspresikan perasaan selalu seperti ini? Hentikan, oke? Aku tidak ingin menerima hukuman lagi."
Baekhyun masih melayangkan tatapan tajamnya dan terus berusaha melepaskan tangannya.
"Ekspresi wajahmu selalu seperti itu. Heol, kau kira aku takut? Kau malah tampak lucu seperti itu." Lanjut Chanyeol. Ia merogoh saku celananya dengan sebelah tangan.
"Lepaskan tanganku brengsek!"
"Brengsek, brengsek. Apa hanya kata itu yang bisa kau keluarkan dari mulutmu? Aish! Jangan bergerak dulu."
"Dasar kau_"
Chanyeol mengusap cat yang berada di pipi kanan Baekhyun dengan sapu tangan yang ia raih tadi dari saku celananya. Baekhyun terdiam, tak bergerak seinchi pun. Mata sipitnya menatap wajah Chanyeol dalam jarak yang begitu dekat. Ia bahkan bisa merasakan hembusan hangat nafas lelaki itu mengenai wajahnya. Keadaan yang membuatnya canggung. Jika saja Baekhyun bergerak sedikit saja, maka bisa saja insiden ciuman seperti beberapa saat lalu terjadi lagi. Ugh! Kenapa Baekhyun jadi memikirkan itu?
Chanyeol begitu fokus dengan kegiatannya. Jemarinya tak sengaja menyentuh sesuatu. Belahan tipis berwarna merah. Pemuda itu menelan ludahnya kasar. Tiba-tiba, hawa panas seolah menyergapnya. Jantungnya berdegup cepat. Matanya bergulir untuk mengalihkan arah pandangnya. Sayang sekali, tindakannya salah. Pandangannya justru bertubrukan dengan mata Baekhyun. Ia berkedip, berkedip lagi. Jantungnya semakin berpacu cepat.
'Kenapa berandalan kecil ini terlihat begitu manis?' Batinnya, melawan logikanya.
Seolah ada magnet tak kasat mata yang menarik Chanyeol untuk terus mendekat, dekat, dan semakin dekat pada Baekhyun. Sialnya, fantasinya buyar saat tendangan keras mengenai tulang keringnya. Pelakunya sudah jelas, Byun Baekhyun.
"AUCHH! YAK!" Chanyeol berteriak, memegangi satu kakinya dengan wajah kesakitan.
"Dasar bodoh!" Maki Baekhyun singkat lalu beranjak dari sana.
Satu hal yang membuat Chanyeol tersentak adalah, jika ia tidak salah lihat, wajah Baekhyun tadi... Merona?
"Ahaha, tidak mungkin! Apa yang kau fikirkan Chanyeol?" Monolognya seorang diri. Menyangkal apa yang ia lihat barusan.
.
.
Pemuda Byun sedang sibuk bermain playstation sendirian di kamarnya. Ia benar-benar kesal dengan kejadian tadi, dimana Chanyeol menggodanya dengan mendekatkan wajah mereka. Ck! Baekhyun benar-benar geli mengingat kejadian itu. Lagipula, hari ini ia sedang malas berurusan dengan siapapun. Bahkan ajakan Kai dan Sehun ia abaikan begitu saja.
Ketukan di pintu kamarnya membuat Baekhyun berdecak. Ia berjalan malas menuju pintu lalu membukanya dengan wajah malasnya. Disana berdiri tuan Kang dengan kotak sedang berwarna cokelat.
"Tuan, ada kiriman untuk anda."
"Dari siapa?" Tanya Baekhyun.
"saya tidak tau Tuan."
"Baiklah, kau bisa pergi."
Seusai tuan Kang membungkuk sopan Baekhyun masuk ke dalam kamarnya. Melihat-lihat kotak ditangannya tersebut, rasa penasarannya begitu kuat muncul. Akhirnya Baekhyun memutuskan untuk membuka isi dari paket tersebut.
"I-ini..."
Ucapannya terputus seiring dengan jatuhnya isi paket tersebut ke lantai. Tangan Baekhyun bergetar hebat. Dengan pelan, diraihnya benda berbentuk persegi itu. Itu sebuah figura, dimana ada Baekhyun dan seseorang yang telah lama menghilang dari kehidupannya.
Mata Baekhyun bergulir lagi, melihat sebuah kertas berwarna putih yang tertempel di belakang figura tersebut.
'sudah lama tidak bertemu, Byun Baekhyun... Apa kau bahagia?'
Tubuh Baekhyun melemas, ia jatuh terduduk di atas ranjangnya.
"X-Xiumin hyung..." Lirihnya sangat pelan.
Lama bergulat dengan pemikirannya pada masa lalu, suara dering ponsel pintarnya membuat pemuda itu tersadar kembali. Alisnya berkerut saat melihat si penelepon. Itu Kai. Bukankah tadi Baekhyun sudah menolak ajakan anak itu untuk keluar malam?
Dengan malas-malasan ia menerima panggilan tersebut.
"Aku sudah bilang jika_"
'Baek! Cepat datang ke markas! Kita di serang secara tiba-tiba.'
PIPPP!
Baekhyun menatap ponselnya dengan wajah bodoh. Telapak tangannya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aish! Sial!"
Pemuda pendek itu meraih jaket kulit hitamnya yang tergantung di balik pintu. Sepertinya malam ini ia harus mengotori tangannya kembali dengan berkelahi.
.
.
Kai dan Sehun terlibat dalam perkelahian lagi. Kali ini dengan sebuah genk dari sekolah Shinwa. Segerombol siswa dengan blazer hitam tersebut mendatangi markas Lightsaber dengan stick baseball atau kayu balok. Baik Kai maupun Sehun terang saja bertanya-tanya alasan apa mereka mendatangi markas seperti ini. Salah satu siswa menjawab dengan lantang sebelum perkelahian terjadi.
"Ketua kalian! kami ingin membalas dendam padanya! Dia telah membuat teman kami kehilangan fungsi kakinya!"
"Maaf? Setau kami Baekhyun tidak pernah berkelahi dengan anak dari sekolah kalian." Ujar Sehun tenang.
"Cih! Bagaimana dengan kejadian tiga hari lalu? Segerombolan murid yang mengaku sebagai anggota Lightsaber tiba-tiba menyerang teman kami. Dan itu atas perintah Byun Baekhyun, ketua kalian." Ujar seorang siswa lagi dengan suara yang lantang.
Baik Kai maupun Sehun saling tatap tak mengerti. Setahu mereka, Baekhyun tidak pernah berurusan dengan anak dari sekolah Shinwa yang terkenal elit itu. Lagi pula, anggota Lightsaber yang sebenarnya hanyalah Kai dan juga Sehun. Jika pun mereka mengadakan pesta tawuran dengan sekolah lain, maka hanya beberapa orang tertentu yang akan ikut di bawah naungan Lightsaber.
"Sudah selesai mengkhayalnya? Sekarang, bisakah kita mulai?"
Kai lengah hingga sebuah tinjuan telak mengenai tulang pipinya. Pukulan tersebut menandakan awal dari perkelahian tersebut. Mereka saling baku hantam. Untuk urusan berkelahi, Kai dan Sehun termasuk hebat karena hingga menit ini mereka belum tumbang sedikit pun. Walau beberapa kali mereka kesulitan karena siswa dari sekolah Shinwa membawa kayu atau tongkat baseball yang tentunya akan berbahaya jika mengenai mereka.
Anak-anak dari sekolah Shinwa sudah banyak yang tumbang. Namun, Kai juga Sehun lama-lama lelah juga jika terus menghadapi lawan yang takkan habisnya.
Lebam, darah dan rasa sakit telah mereka terima dalam perkelahian aneh ini. Mata Kai terbelalak saat sebuah tongkat baseball melayang ke arah Sehun. Seorang musuh mereka hendak melayangkan tongkat baseball itu ke kepala pemuda berkulit putih pucat itu.
"Sehun! Awas!"
BUGHHH...
Keadaan hening sejenak. Sehun terdiam beberapa saat untuk bisa mencerna kejadian ini. Siswa di hadapannya tiba-tiba tumbang dengan darah mengucur di kepalanya. Hampir saja, jika saja Baekhyun tidak datang, mungkin kepala Sehun akan pecah terkena pukulan.
Kai mendesah lega melihat teman mereka tersenyum miring dalam jarak sekitar dua meter dari mereka.
"Lemparan yang sempurna bung!" Puji Kai karena pemuda bersurai merah itu berhasil menghentikan aksi si pelaku dengan lemparan batu. Terdengar ekstrim? Ck! Baekhyun sudah biasa melakukan itu, tetapi ini tentu saja tidak untuk ditiru.
"Aish! Kau lama sekali hah?!" Teriak Sehun protes.
Baekhyun hanya menanggapi dengan kekehannya.
"Aku kira malam ini bisa bernafas sedikit lega. Ternyata ada segerombolan ikan teri yang mendatangi markas hiu." Ejeknya.
Mata sipitnya berpendar, menatap merendah pada murid-murid Shinwa yang sudah tumbang. Namun, ada sekitar 5 orang yang masih bertahan. Mereka menatap Baekhyun penuh kebencian.
"Jika sudah selesai membuat onar di markasku, kalian bisa pergi."
"Enteng sekali kau bicara keparat! Kau telah membuat teman kami tidak bisa berjalan lagi!"
Mendengar ucapan siswa itu, Baekhyun berfikir sejenak.
"Maaf? Aku tidak pernah berurusan dengan siapapun itu yang berasal dari sekolah kalian."
"Tiga hari lalu, kau menyuruh anggotamu untuk menyerangnya. Padahal dia tidak tau apapun saat itu! Kau kenal Lee Jinki?"
Lee Jinki? Alis Baekhyun mengkerut lagi mendengar nama asing itu. Ia rasa, dirinya tak pernah mengenal seseorang dengan mana seperti itu.
"Aku tidak pernah mengenalnya."
"Alasan! Kau hanya mencoba melindungi dirimu sendiri! Dasar pengecut!"
BUAGHHH... Baekhyun memukul wajah anak itu hingga jatuh tersungkur ke lantai. Ia benar-benar geram sekarang. Emosinya tersulut saat mendengar ucapan itu.
"Dengar bung! Kau tau jika Setan berkepala merah adalah aku? Dan kau tau? Jika aku sudah mencengkram lehermu, maka akan ku cekik sampai mati. Jadi, selagi aku berbaik hati, lebih baik kalian menyingkir sekarang!" Teriak Baekhyun.
Murid-murid Shinwa mengkerut takut. Kemarahan ketua Byun memang tak pernah main-main. Mereka bangkit lalu satu persatu mulai berhamburan keluar. Dua orang pemuda menggotong tubuh siswa yang menjadi korban pelemparan batu oleh Baekhyun tadi.
"Katakan pada teman kalian itu. Aku takkan pernah menghajar siapapun jika mereka tidak mencari masalah padaku. Dan lagi, aku tidak pernah mengenal orang itu." Ucap Baekhyun lagi pada seorang siswa bernama Choi Minho.
Minho mengangguk cepat, namun matanya masih menatap Baekhyun tajam.
"Urusan kita belum selesai, bung." Ucapnya pelan yang hanya Baekhyun yang dapat mendengarnya.
Keributan berakhir, para musuh telah pulang dengan kekalahan telak. Baekhyun duduk di salah satu sofa diikuti Kai dan Sehun. Ia menatap malas pada dua sahabatnya itu.
"Hanya urusan seperti tadi saja kalian tidak bisa mengatasinya?" Tanyanya sakartik.
"Mwo? Hanya kau bilang?! Baek! Mereka begitu ramai dan kami hanya berdua! Sehun bahkan hampir kehilangan kepalanya dan kau hanya bersikap santai begini?" Balas Kai menggebu-gebu. Sehun mencoba menahan anak itu agar tidak berkomentar apa-apa lagi.
"Tetapi, apa kau tidak merasakah kejanggalan, Baek?" Tanya Sehun dengan mimik serius.
Baekhyun mengangguk pelan. Ia juga merasa demikian. Ada asap pasti ada api.
"Tetapi aku tidak pernah tau soal ini. Apa salah satu dari kita atau anak buah kita yang lain yang melakukan ini?"
"Entahlah. Tetapi menurutku bukan. mereka takkan berani mengkhianatimu." Jawab Kai.
Getar ponsel Baekhyun membuatnya tersentak dari lamunan. Nomor tak dikenal. Dengan hati-hati ia mengangkat telepon tersebut.
"Halo_"
'Bagaimana Byun? Kau sudah menerima kado dariku?'
Suara ini... Baekhyun menggeram tertahan.
"Keparat, apa maksudmu?!"
'Wowowo, santai bung. Sepertinya ada kesalahan teknis disini. Aku mewakilimu menghajar siswa Shinwa itu. Ck! Kenapa mereka malah mendatangi markasmu ya?' Ujar seseorang diseberang sana dengan nada main-main.
"Ah, ini perbuatanmu? Bagus sekali. Aku tersanjung." Kata Baekhyun dengan rahang mengeras.
'Hahahaha, kau memang tidak berubah. Hm, aku jadi merindukanmu. Baiklah, besok satu kejutan lagi akan mendatangimu. Aku tutup.'
PIIPPP...
Baekhyun mengacak rambut frustasi. Sialan, jadi ini perbuatan 'dia' lagi?
"Baek? Kau baik?" Tanya Sehun khawatir.
"Ya, sebelum makhluk itu menghubungiku barusan. Cih! Dasar tukang adu domba!"
"Maksudmu siapa?" Tanya Sehun lagi.
"Kau ingat? Musuh kita sejak dulu? Pemimpin Black Dragon. Dia... Sudah kembali." Jawab Baekhyun.
"APA?!" Pekikan kompak Kai dan Sehun membuat Baekhyun hanya manggut-manggut dengan wajah kaget. Seterusnya ia membiarkan dua sahabatnya itu saling bergosip ria tentang ketua Black Dragon, musuh abadi Lightsaber.
.
.
Sekolah di hebohkan dengan kedatangan siswa baru yang begitu tampan. Chanyeol benar-benar merasa iri. Kenapa kepindahannya dulu tidak seheboh ini? Ia menyenggol lengan Kyungsoo yang ternyata sedang ikut menyaksikan si murid baru yang katanya tampan itu.
"Oy, apa lagi ini? Anggota Lightsaber yang baru?" Tanyanya malas.
"Bukan bodoh! Itu siswa baru yang tampan, katanya."
Jawab Kyungsoo tak kalah malas.
"Aku juga tampan, kenapa tidak kebagian adegan seperti itu saat masuk kesini?"
Kyungsoo menatap Chanyeol dengan pandangan tak bisa ditebak. Ia menarik tangan Chanyeol untuk segera menjauh dari keramaian.
"Masalahnya tidak hanya itu. Dia adalah pemimpin genk Black Dragon."
Oh, genk lagi? Chanyeol mendengus mendengarnya.
"Apa anak orang kaya sedang gila dengan 'genk' penguasa?"
"Aish! Diam dulu! Bukan itu masalah utamanya. Dia adalah musuh Lightsaber yang sesungguhnya. Dulu, dia pernah bersekolah disini. Sebuah kejadian hebat dimana perkelahian bersimbah darah itu pernah terjadi. Kubu Baekhyun dan Black Dragon sama-sama kuat. Banyak yang menjadi korbannya. Itu menjadi sejarah hitam di SM high school. Ketua Byun sempat mengirimkan si ketua Black Dragon sampai koma selama hampir setahun lamanya."
Penuturan panjang dan begitu jelas dari Kyungsoo membuat Chanyeol mengangguk-anggukkan kepalanya seolah mengerti.
"Lalu, apa yang diributkan dengan kedatangan dia?"
PLAKK... Pukulan di kepala Chanyeol membuat yang lebih tinggi meringis. Kyungsoo sebagai pelakunya hanya bisa berkomat-kamit mengutuki kelemotan Chanyeol disaat seperti ini.
"Dasar bodoh! Badanmu saja yang tinggi! Tentu saja akan terjadi peperangan lagi jika mereka bertemu kembali!" Teriak Kyungsoo, ia memukuli Chanyeol membabi buta.
"Aww! Yak! Hentikan! Sakit Kyungsoo!"
"Rasakan ini, biar mati saja kau! dan_AKKKHH! D-dia berjalan kesini Yeol!" Kyungsoo segera bersembunyi dibalik tubuh jangkung Chanyeol. Chanyeol menatap bingung kelakuan aneh Kyungsoo itu.
"Wah! Kita bertemu lagi, Park Chanyeol."
Chanyeol menatap orang didepannya. Wajah blasteran itu, bukankah orang yang telah mengalahkannya beberapa malam lalu?
"Vernon Kim?"
"Ommo! Kalian saling mengenal?" Tanya Kyungsoo heboh.
Chanyeol hanya menjawab dengan anggukan ragu.
"Ya, siapa yang tidak mengenal Phoenix?" Ujar Vernon disertai senyuman Lebarnya.
"Phoenix? Maksudmu Chanyeol? Tetapi phoenix itu kan julukan ketua salah satu genk yang begitu ditakuti?" Tanya Kyungsoo lagi pensaran dan tak percaya.
Wajah Vernon terkejut, ia terkekeh garing lalu menepuk bahu Chanyeol.
"Wah, maaf. Sepertinya identitasmu sengaja ditutupi ya? Jika begitu maafkan aku. Semoga kita bisa saling membantu."
"Baiklah."
Pemuda blasteran itu membungkuk sopan lalu berjalan meninggalkan dua orang yang masih terbengong disana.
"Apa itu? Seorang Vernon Kim membungkuk sopan? Apa selain koma dia juga terserang amnesia?" Ucap Kyungsoo takjub.
Chanyeol mengedikkan bahunya, tak peduli. Ia berjalan berlainan arah dari kelasnya berada.
"Chanyeol! Tunggu dulu! aku butuh penjelasanmu!" Teriak Kyungsoo berusaha mengejar Chanyeol.
"Ck! Apa yang perlu kau tau?"
"Itu... Kau benar si phoenix itu?" Tanya Kyungsoo ragu-ragu.
"Menurutmu bagaimana?" Tanyanya ambigu.
"Menurutku? Ya... Bagaimana ya? Sepertinya tidak."
"Jika begitu aku bukan Phoenix. Baiklah adik kecil, hyung ke toilet dulu. Annyeong." Ucap Chanyeol seraya menepuk puncak kepala Kyungsoo.
Kyungsoo terbengong sejenak. Tersadar jika ia dibodohi, pemuda itu meloncat-loncat dengan wajah kesal.
"Sialan kau! Aku bukan adik kecil!"
.
.
Baekhyun, Kai dan Sehun berjalan sambil sesekali melempar guyonan. Ketiganya berjalan santai menuju kelas mereka. Tetapi, sepertinya pagi ini sedikit lebih tenang. Biasanya, pekikan fangirl mereka akan terdengar begitu memekakkan telinga.
Jalan ketiganya terhenti sesaat berpapasan dengan seseorang. Pemuda itu menyeringai, memeluk tubuh Baekhyun secara tiba-tiba. Kai dan Sehun sama-sama terkaget melihat kejadian itu.
"Yo! Teman lama, sudah lama tidak bertemu."
Baekhyun melepas pelukan dadakan itu dengan paksa. Ia menatap Vernon nyalang, seolah bisa melubangi kepala pemuda itu dengan tatapannya saja.
"Bagaimana dengan kejutannya hari ini?"
Baekhyun menyeringai bak setan.
"Kau kira aku akan takut dengan kehadiranmu? Ini adalah kesenangan yang telah lama ku nantikan, Vernon. Sayang sekali, kau kembali dengan tubuh yang utuh. Harusnya aku buat saja kau menjadi cacat ya?"
Vernon mencengkram kerah baju Baekhyun.
"Dengar Baekhyun, mulai detik ini aku akan membuat hidupmu kembali seperti di neraka. Camkan itu!"
Pemuda bermarga Kim itu menghempaskan tubuh Baekhyun. Jika saja Sehun dan Kai tidak menangkap, mungkin Baekhyun sudah jatuh tersungkur ke lantai koridor yang dingin.
"Baiklah, nostalgia selesai. Sampai jumpa, Lightsaber!"
Usai Vernon pergi, Chanyeol berdiri di depan ketiga orang itu. Mereka sama-sama menampilkan mimik bertanya.
"Ternyata, musuhmu banyak sekali eoh?" Ejek Chanyeol.
Baekhyun menatap Chanyeol tak minat.
"Jika kau kesini hanya untuk memanasi keadaan, lebih baik pergi."
"Aigoo~ slow okay? Aku hanya ingin mengajakmu, guru Han memanggil kita berdua ke kantor. Sekarang."
Baekhyun mendesah lelah. Apalagi ini? Fikirnya. dengan langkah malas ia mengikuti langkah Chanyeol yang berjalan menuju kantor guru, meninggalkan Kai dan Sehun yang semakin bingung dengan keadaan ini.
"Sejak kapan mereka dekat?" Tanya Sehun tidak senang.
"Entahlah, tanyakan pada rumput yang bergoyang."
.
.
Dua pemuda itu menguap lebar mendapati ceramahan panjang dari guru Han yang mengenai hal itu-itu saja. Chanyeol hampir saja tidur lelap seolah mendengar dongeng jika saja hentakan di meja tak terdengar ditelinga lebarnya.
"Pak, ayolah! Kami sudah mengecat seluruh tembok dengan rapi dan benar. Sekarang apalagi?" Protes Chanyeol tak terima.
"Aish! Kau balapan liar! Apakah itu contoh seorang murid sekolah?!"
"Aku balapan diluar jam sekolah, Pak. Dan... darimana kau tau hal itu?"
PLAKK... Tepukan keras-lagi- mengenai kepala Chanyeol.
"Tadi malam sangat amat kebetulan sekali aku lewat disana. Dan betapa mengejutkannya saat aku melihat salah satu muridku mengikuti permainan berbahaya itu?!" Teriak guru Han. Mendengar hal tersebut bukannya takut Chanyeol justru menyeringai menggoda.
"Eih... Kau mengkhawatirkanku guru?"
"Diam kau bocah nakal! Astaga! Aku bisa gila jika begini. Kau juga, Byun Baekhyun!"
Kali ini giliran Baekhyun yang terkena damprat guru itu. Si pemilik nama hanya menatap gurunya minat-tak minat.
"aku?"
"Ya, kau. Seorang perwakilan siswa dari sekolah Shinwa mendatangi kepala sekolah tadi pagi. Katanya, siswa Byun Baekhyun telah membuat keonaran dengan membuat kaki salah satu murid disana kehilangan fungsinya. Apa itu benar?"
Baekhyun berdecak, ia enggan menjawab. Dibantah pun percuma, toh guru Han takkan pernah mempercayai segala ucapannya.
"Aku bukan mau mengaturmu, tetapi kelakuanmu kali ini sudah keterlaluan. Kau menghancurkan masa depan orang lain. Jika begini, terpaksa aku harus melaporkan ini pada ayahmu."
Chanyeol melirik Baekhyun diam-diam. Dapat dilihatnya wajah pemuda sipit itu menegang.
"Kenapa kau hanya diam? Kau benar-benar sudah diluar batas_"
"Apa kau berfikir jika itu aku?" Potong Baekhyun. Sorot mata tajamnya meredup.
"Apa maksudmu?" Tanya Guru Han balik, tak mengerti dengan arah pembicaraan Baekhyun.
"Jika aku berbuat baik pun maka takkan ada seorang pun yang peduli. Seperti halnya mengambar titik putih di atas kertas hitam, semua tak berarti. Sekalipun bukan aku pelakunya, kalian takkan percaya dengan ucapanku bukan?" Lirih Baekhyun.
Untuk kali pertama Chanyeol melihat sisi lain dari pemuda Byun itu. Biasanya hanya raut wajah bengis yang ia lihat dari Baekhyun. Tetapi kini, raut wajahnya terlihat melembut. Diam-diam, pemuda jangkung itu tak melepaskan pandangannya sedikit pun dari Baekhyun.
"Jika kau ingin menghukumku, baiklah itu tidak masalah. Karena aku telah terbiasa menerima hukuman sekalipun aku tidak melakukan kesalahan."
'Apa maksud ucapannya itu?' batin Chanyeol bertanya. Entah penglihatan Chanyeol yang salah atau bagaimana, yang jelas ia melihat tangan Baekhyun bergetar.
Guru Han kebingungan sendiri. Ia menggaruk tengkuknya kikuk, membuka buku catatan kenakalan siswa lalu berdehem untuk mengusir suasana canggung ini.
"Baiklah, untuk Park Chanyeol, aku hanya akan memberimu tugas untuk mengerjakan soal matematika ini."
Mata Chanyeol melotot horror saat melihat sepuluh lembar soal matematika diserahkan ke tangannya. Hey! Sekalipun dia pintar, matematika tetaplah mengerikan.
"Dan kau Baekhyun... Maaf, dengan terpaksa aku harus memanggil orang tuamu ke sekolah."
Chanyeol menoleh lagi ke arah Baekhyun. Bukan ekspresi terkejut lagi yang ia lihat, melainkan seperti sebuah ketakutan yang tersorot dari wajahnya.
"Baiklah, kalian boleh pergi. Dan ingat! Jangan membuat keributan lagi. Kembali ke kelas dan jangan membolos."
"Baik, Pak."
Sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang menyelimuti. Chanyeol tak berani mengusik Baekhyun dengan ejekan-ejekan khasnya seperti biasanya. Sepertinya ketua Byun itu tengah bermuram durja.
"Hey! Kau tidak akan mati hanya karena orang tuamu di panggil ke sekolah."
"Kau tidak akan mengerti. Ck! Sudahlah, berhenti mengikutiku!"
Mulut Chanyeol berkomat-kamit tidak jelas, tangannya membuat gestur seolah-olah hendak memukuli kepala Baekhyun.
"Siapa juga yang ingin mengikutimu? Dasar kau terlalu percaya diri!"
Chanyeol berjalan meninggalkan Baekhyun yang masih diam dengan pemikirannya sendiri.
.
.
Tuan Park sepertinya sedang berbaik hati memberi Chanyeol alat transportasi untuk dibawa ke sekolah. Walau hanya sebuah sepeda, setidaknya itu cukup baik dari pada tidak punya sama sekali. Motornya benar-benar disita pada malam dimana Chanyeol kalah balapan dengan Vernon.
Sesuatu dalam sakunya bergetar saat Chanyeol hendak mengayuh sepedanya. Decakan sebal terdengar dari mulutnya. Ia meraih benda persegi itu lalu mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa bu?"
'Chan? Bisakah kau belikan ibu mawar kuning?'
"Ha? Untuk apa?"
'Rekan kerja ayahmu ulang tahun. Jadi, nanti malam ibu dan ayah akan kesana. Tidak mungkin kan kami pergi hanya dengan tangan kosong?'
"Ibu! Kenapa tidak nanti saja?"
'aish! Ini kan sudah sore, sekalian saja. Ibu sedang repot membersihkan rumah. Sudah, belikan saja. Uangmu akan ibu ganti dua kali lipat.'
Senyum Chanyeol mendadak terlukis dibibirnya dengan lebar.
"Ibu janji ya? Dua kali lipat?! Baiklah! Aku tutup!"
Perjalanannya menuju toko bunga memakan waktu yang cukup lama karena ia mengayuh sepeda. Sesampainya disana, Chanyeol segera memasuki toko bunga tersebut.
"Selamat siang? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang florist dengan name tag 'Juniel' itu ramah.
"Ah, aku mencari bunga mawar kuning."
"Baiklah, di sebelah kiri. Silahkan dipilih dahulu."
Chanyeol hampir saja bersin-bersin melihat bunga-bunga yang begitu banyak ini. mata bulatnya melihat-lihat berbagai macam jenis bunga tersedia disini.
"Mawar merah melambangkan cinta." Ujar Juniel secara tiba-tiba. Chanyeol mengangguk paham mendengar makna bunga tersebut.
"Jika mawar kuning melambangkan persahabatan dan keceriaan. Atau juga seseorang yang telah kau anggap dekat seperti keluarga. Apa ini akan kau beri pada sahabatmu?" Tanya flosrist muda tersebut.
"Ah? Ya, begitulah. Hehehe..."
Keduanya sibuk berbincang-bincang tentang makna bunga atau cara merawatnya. Menurut Chanyeol, Juniel adalah sosok yang begitu ramah dan enak diajak berbicara. Ia memperhatikan bagaimana gadis itu merangkai bunga yang ia pilih lalu dijadikan sebuah buket cantik.
"Nah! Sudah jadi! Sekarang, kau bisa membayarnya di kasir."
"Baiklah, terima kasih."
Langkah kaki Chanyeol terhenti saat melihat sosok yang ia kenal juga berada disana dengan sebuket bunga Krisan putih.
"Byun Baekhyun?"
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Chanyeol diam-diam mengikuti kemana tujuan pemuda mungil itu. Ia membayar bunganya dengan terburu. Dengan gaya ala mata-mata, Chanyeol mengikuti arah mobil Baekhyun pergi dengan sepedanya setelah sebelumnya mengenakan jaket hitam dengan penutup kepala agar ia tak dikenali dengan mudah.
Makin lama, kaki Chanyeol rasanya begitu pegal karena mengayuh dengan mati-matian. Jalanan yang semula aspal berubah menjadi jalanan setapak yang hanya bisa dilalui satu mobil seukuran kecil saja. Pohon-pohon pinus berjejer di kiri dan kanan jalan, bergoyang mengikuti arah angin menghembusnya. Rumput-rumput hijau yang mulai sedikit layu karena musim dingin adalah jalanan yang Chanyeol lalui sekarang. tepat di sebuah lapangan yang tidak terlalu luas mobil Baekhyun berhenti. Buru-buru Chanyeol menyembunyikan sepedanya di balik semak-semak. Ia mengikuti kemana Baekhyun melangkah.
Chanyeol tertegun saat melihat gundukan-gundukan tanah berada di depan matanya.
"I-ini... pemakaman?"
Ia mengintip di balik sebuah pohon besar. Baekhyun berhenti pada sebuah makam. Pemuda itu meletakkan buket bunga krisannya disana lalu membungkuk hormat. Setelahnya ia berjongkok, mencabuti rumput-rumput liar kecil yang tumbuh diatas makam itu.
"Selamat sore, maaf... Aku baru sempat kesini. Apa kau baik disana? Hah... Sayang sekali aku begitu buruk disini." Monolog Baekhyun.
Chanyeol masih bertanya-tanya siapakah yang Baekhyun kunjungi sekarang ini. Mungkinkah kekasihnya yang telah tiada? Atau kakek dan neneknya?
"Maaf, aku tidak bisa menjadi orang yang baik sejak kepergianmu. Kau tau? Itu semua agar aku tidak dianggap lemah lagi oleh siapa saja."
Baekhyun menunduk dalam, sesaat kemudian ia mengangkat wajahnya kembali. Pemuda itu tersenyum begitu manis hingga gigi-gigi kecilnya yang rapi terlihat.
Chanyeol memegang dada sebelah kirinya. Melihat senyuman itu untuk pertama kalinya adalah hal aneh, menurutnya. Tetapi, mengapa Chanyeol menjadi terpaku oleh satu senyuman seperti itu?
"Andai kau masih disini, mungkin semua akan baik-baik saja. Tetapi kau tega meninggalkanku. Ayah sangat membenciku sejak kematianmu. Aku juga tak mengerti dengan kesalahan yang ku perbuat."
Mata sipit itu mengeluarkan bulir air mata. Chanyeol tersentak melihatnya. Baekhyun... Menangis?
"tak ada seorang pun yang mempercayaiku. Tak ada seorang pun yang peduli jika aku berbuat jahat atau baik. Mereka menganggapku iblis... Ya, aku aku itu."
"Hiks... Aku benar-benar merindukanmu... Aku kesepian tanpamu. Bisakah kau kembali? Hiks... Rasanya, kesepian ini seakan membunuhku. Hiks... K-kenapa... Kenapa kau tidak menjawabku?!" Racau Baekhyun dengan emosi yang tak terbendung lagi.
Chanyeol tidak mengerti dengan hatinya. Rasanya ada yang aneh. Perasaan aneh itu mengganggunya. Saat air mata itu luruh begitu banyak, saat itu pula ia merasakan kesakitan yang sama. Mungkinkah kau mulai peduli? Chanyeol?
"T-tidak mungkin." Bisik Chanyeol lirih.
"Maaf, aku hanya bisa menangis bersamamu. Maaf pula karena sepertinya aku tidak bisa berlama-lama disini. Ayah menyuruhku pulang cepat. Lain kali aku akan kesini lagi. Aku menyayangimu... Ibu."
Nafas Chanyeol tercekat. Ibu? Itu artinya Baekhyun tidak memiliki ibu? Teringat kejadian yang lalu, betapa jahatnya ia karena telah menyinggung soal 'ibu' dihadapan Baekhyun. Chanyeol menatap kepergian Baekhyun dengan raut wajah tak terbaca.
Mobil hitam itu telah pergi, meninggalkan Chanyeol dalam keheningan. Ia mendekati makam yang tadi baekhyun kunjungi. Matanya melihat batu nisan yang terukir dengan nama 'BYUN TAEYEON' disana. Chanyeol baru menyadari satu hal jika Baekhyun benar-benar kesepian. Hidupnya benar-benar rumit dan menyedihkan.
.
.
TBC
.
.
Yohoooo... Happy 500+ reviewers... ^o^ makasih semua atas dukungan kalian dengan FF ini. Aku terharu sumpah!
Buat yg kurang puas, maaf ya? Aku juga masih belajar, jadi ya gitu. Maaf kalo mengecewakan kalian.
Chanyeol udah mulai ada rasa deg-degan sama Baekhyun.
Ternyata musuh Baekhyun beneran Vernon, yang nebak bener, selamat! :''v
Apakah ada musuh-musuh baekhyun yg lain? Gimana hubungan Chanbaek ke depannya?
Semua bakal terungkap nanti.
Ikuti terus cerita ini dan terus reviews sebanyak-banyaknya ya?
Makasih!
