Title : Lightsaber

Author : DandelionLeon (sebut aja Leon XD)

cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun.

Other cast : Oh Sehun, Luhan, Vernon Choi, Kim Jongin(Kai), Do Kyungsoo, and other cast.

Cameo : Sungjae (Btob), Minhyuk(Btob), Suga (BTS)

Genre : Romance /maybe/ , Drama, lil' bit of humor, School-life.

Rate : T menuju M

Disclaimer : God and their agency. The story is mine.

Warning! Adegan kekerasan, umpatan kasar (jika kalian tidak suka, harap jangan dibaca), tidak untuk ditiru, 18+ , YAOI, DLDR!

.

.

Oke... petualangan dimulai!

.

.

Chanyeol merenung didalam kelas. Ocehan guru sejarah di depan sana tak ia hiraukan sama sekali. Bayangan wajah Baekhyun kemarin terus membayangi kepalanya. Lelaki itu jadi sulit untuk tidur semalam. Hey! Apakah Chanyeol telah terdeteksi mengidap penyakit cinta? Uhhukk...

Sayangnya, egonya masih saja menolak jika dirinya mulai menyukai Baekhyun yang notabenenya seorang lelaki. Dia masih mendeklarasikan dirinya itu lurus. Namun hati kecilnya yang lain membisikkan sesuatu. Sesuatu yang mengatakan jika hatinya mulai tergelitik saat melihat sisi lain dari seorang Byun Baekhyun.

"Park Chanyeol-ssi?"

Lelaki itu masih melamun, tak sadar jika sang guru telah menatapnya penuh emosi dalam jarak dekat. Hingga suara gebrakan di mejanya membuat lelaki itu gelagapan dan tentunya menjadi bahan tertawaan satu kelas.

"Berani sekali kau melamun di jam pelajaranku?!"

"A-ah... Maaf pak, saya hanya_"

"KELUAR KAU SEKARANG JUGA!"

jika siswa baik-baik mungkin akan menangis jika diusir dari kelas, sayangnya Chanyeol justru tersenyum senang. Ia keluar dengan wajah bahagia, meninggalkan gurunya yang kebingungan melihat reaksi Chanyeol yang begitu diluar dugaan itu.

"Dia bahkan tidak memohon padaku?" Monolog guru itu seraya menggaruk pelipisnya.

.

.

Tuan Byun memasang senyuman palsunya saat guru Han terus memberi tau kesalahan yang Baekhyun perbuat beberapa waktu ini. Dirinya menggeram penuh murka. Kesibukannya terganggu hanya karena kelakuan bejat anaknya yang tidak pernah berubah itu.

"Aku juga tidak mengerti apa motif Baekhyun memukuli anak dari sekolah Shinwa itu Tuan." Lanjut guru Han setelah berbicara panjang lebar sejak tadi.

Tuan Byun menatap sekretarisnya. Ia memberi kode pada lelaki paruh baya itu.

"Aku sudah menyuruh sekretarisku untuk mengirimkan biaya pengobatan bagi siswa bernama Lee Jinki itu. Selebihnya terserah kau saja, tuan Han."

Pak Han mengangguk ragu. Ia merasa ada sesuatu yang ganjil antara Tuan Byun dan anaknya. Merasa penasaran, akhirnya guru Han pun bertanya.

"Ehm, maaf. Jika saya boleh tau, kenapa Baekhyun sepertinya enggan sekali jika saya memanggil anda kesini?"

Tatapan tajam Tuan Byun langsung teruju pada guru itu. Ia tersenyum setelahnya.

"Aku rasa hal wajar bagi setiap anak jika takut orang tuanya mengetahui kejahatan mereka bukan? Ah, aku ada rapat penting, bisakah aku permisi?"

"Eh? Baiklah, terima kasih telah datang Tuan."

Suara ketukan sepatu pantofel dilantai membuat koridor yang semula sepi menjadi riuh. Tuan Byun bersama para bodyguardnya hendak berjalan menuju parkiran berada.

Sehun yang baru saja keluar dari toilet mengernyit bingung melihat segerombol pria dengan pakaian jas formal berada di sekolahnya. Mata sipitnya terbelalak saat rombongan itu semakin mendekat ke arahnya.

'Ayahnya Baekhyun?' Batinnya bertanya.

Ia membungkuk saat tatapan tajam pria paruh baya itu menuju ke arahnya. Tuan Byun hanya balas senyuman tipis lalu berlalu begitu saja. Begitu ayah dari sahabatnya itu berlalu, buru-buru ia berlari menuju kelas untuk memberitahukan hal ini pada Baekhyun.

"Yak! Ayahmu ada disini." Bisiknya, karena kondisi kelas saat itu juga dalam proses belajar.

Sehun dapat merasakan ketegangan sesaat dari tubuh Baekhyun. Tapi itu tak bertahan lama karena setelahnya Baekhyun kembali bersikap seperti biasa saja.

"Ck! Dasar orang tua merepotkan!" Desisnya sebal.

Baekhyun tak peduli, toh pukulan akan ia terima seperti biasa. Ia bahkan telah muak mendapati hal seperti itu.

Bel pulang sekolah terdengar begitu nyaring, membuyarkan lamunan Baekhyun. Para murid bersorak sorai karena 'jam neraka' mereka hari ini telah usai. Baekhyun memasukkan bukunya ke dalam tas dengan cepat lalu berjalan keluar kelas dengan santai.

"Hey! Setelah ini kita main game di rumah Sehun, bagaimana?"

"Yak! Enak saja kau Kai, memangnya rumahku game center? Kau selalu membuat kamarku menjadi kapal pecah. Tidak! Aku tidak mau!" Protes Sehun dengan ajakan semena-mena Kai tersebut.

"Kalian pergi saja. Aku sedang malas." Sahut Baekhyun lalu berjalan mendahuli dua temannya yang berteriak protes.

Beberapa langkah Baekhyun berjalan, ia telah di hadapkan dengan musuh bebuyutannya, Vernon. Lelaki blasteran itu menyeringai, sangat menyebalkan sekali di mata Baekhyun.

"Apa maumu?" Ketus Baekhyun. Sungguh! Ia benar-benar lelah menghadapi hari ini.

"Astaga, kau benar-benar tidak pintar berbasa-basi! Aku hanya ingin mengajakmu 'bermain', anggap saja kita bernostalgia."

Bermain? Baekhyun mengerti dengan maksud lelaki ini. Ia ingin mengajak Baekhyun balapan mobil seperti dulu. Namun, bukan Vernon namanya jika tak memiliki maksud dan tujuan menghancurkan Baekhyun dalam setiap ajakannya.

"Maaf, aku sibuk."

Baekhyun benar-benar malas menanggapi makhluk sejenis Vernon. Ia rasa berkelahi dengan Vernon di masa lalu sudah cukup membuatnya puas.

"Ck! Kau benar-benar telah berubah menjadi pengecut!"

Emosi Baekhyun memuncak sesaat mendengar ucapan lelaki di depannya itu. Hampir saja ia mengiyakan ajakan Vernon jika saja musuhnya yang lain tidak datang mengganggu. Chanyeol menubruk tubuhnya dari belakang secara tidak sengaja. Alhasil, Baekhyun jadi sedikit tersungkur ke arah Vernon berada.

"Ups.. Sorry, Luhan mendorongku terlalu kuat." Ujar Chanyeol. Sejujurnya saja, jantungnya terus berdetak dengan cepat saat melihat jika Baekhyun yang ia tubruk.

Luhan menatap Baekhyun sangat datar. Ia benar-benar benci melihat makhluk itu. Si penghancur, apalagi saat ini Luhan mulai merasa jika Chanyeol sering menceritakan tentang Baekhyun, walau bukan cerita melankolis melainkan keburukan lelaki sipit itu.

"Aigoo, Phoenix dan kekasihnya eoh?" Ucap Vernon secara tiba-tiba.

Mendengar kata 'kekasih' membuat Chanyeol mengernyit semakin bingung. Hey! Kenapa semua orang mengatakan jika Luhan adalah kekasihnya?

"Apa? Phoenix?" Tanya Luhan, sama seperti reaksi Kyungsoo kemarin.

"Ahahaha, tidak. Kau salah orang, Vernon-ssi." Ujar Chanyeol, disertai penekanan saat mengucapkan nama Vernon.

Vernon tertawa, entah hal apa yang lucu. Ia merasa sangat lucu melihat orang-orang ini. Bajingan-bajingan yang bersikap konyol seperti Chanyeol sangat membuat dirinya terhibur.

"Ah, baiklah. Terserah apa kata kalian. Dan Baekhyun, aku menunggu. Kau pasti datang jika tak ingin disebut sebagai pengecut."

Vernon pergi. Menyisakan tiga orang disana dengan raut wajah berbeda. Chanyeol melirik Baekhyun diam-diam.

"Apa maksudnya?" Tanya Chanyeol entah pada siapa.

"Bukan urusanmu."

Si rambut merah berlalu, berjalan menuju tempat mobilnya berada. Alangkah terkejutnya ia saat melihat mobilnya tidak ada di mana pun. Dua orang berjas hitam tiba-tiba menghadang jalannya.

"Tuan muda, mobil anda telah di bawa ke rumah. Anda harus pulang bersama kami karena tuan besar telah menunggu."

Brengsek! Apa-apaan mereka ini?

"Jangan kalian kira aku sudi menuruti perintah tuan kalian itu!"

Empat orang bodyguard muncul secara tiba-tiba. Baku hantam tak terelakkan lagi. Baekhyun berusaha keras melawan orang suruhan ayahnya tersebut. Beberapa menit berlalu, hingga Baekhyun tersungkur karena tengkuknya sengaja dipukul oleh seorang bodyguard itu. Mereka membawa tubuh lelaki itu ke dalam mobil dan bersiap menuju mansion Byun berada.

Chanyeol, lelaki itu melihat semuanya. Ia hendak menolong Baekhyun namun Luhan dengan segera menahannya.

"Untuk apa kau mengejarnya? Dia musuhmu, Yeol."

Ya, sedikit banyaknya Chanyeol membenarkan ucapan Luhan. Hubungan dia dan Baekhyun benar-benar buruk. Mungkin kata 'musuh' adalah kata yang paling tepat sebagai gambarannya. Tetapi rasanya tetap saja, ia seperti tidak rela.

.

.

Baekhyun menendangi apapun yang ia lihat. Ia benar-benar muak sekarang. Dirinya dipaksa pulang seolah ia akan lari dari masalah saja. Matanya menatap tajam sang ayah yang juga menatapnya serupa. Ia berjalan mendekati orang tua tunggalnya itu.

"Kau fikir aku anak kecil yang tidak mengerti jalan pulang?" Pertanyaan sakartis Baekhyun membuat tuan Byun menggeram marah.

PLAKKK... Tamparan yang begitu keras. Suaranya bahkan terdengar menggema, memenuhi ruangan disana.

PLAKKK... Sekali lagi. Kali ini Baekhyun menatap ayahnya dengan menantang.

"Apa hakmu menamparku seperti itu?" Tanyanya dingin.

"Kau masih bertanya?! KAU! Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi manusia sampah seperti ini! Dan kali ini apa? Kau membuat anak orang tidak bisa berjalan lagi? Sebenarnya apa maumu anak kurang ajar?!"

Baekhyun tertawa remeh. Ia mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya.

"Lalu apa pernah kau mengajariku hal yang baik? Kau selalu memukulku, berucap kasar padaku. Setidaknya, itulah yang aku ingat dan ku lakukan. Perilaku orang tua akan senantiasa diikuti anaknya. Seharusnya kau paham, Tuan Byun."

"Kau_"

"Dan satu lagi, aku tidak pernah melakukan hal itu. Aku dijebak."

"Alasanmu saja! Selain berandalan, ternyata kau benar-benar seorang pembohong ya? Dasar anak pembawa sial! Kau membuat nama baikku rusak!"

Anak pembawa sial? Baekhyun tersenyum pedih. Jika saja ia seorang perempuan, mungkin tangisanlah yang akan selalu menjadi pengiring hidupnya.

"Dimatamu, aku tak pernah benar. Benarkan, ayah?"

Tuan Byun tersentak. Wajah terluka anaknya membuat lelaki paruh baya itu terkejut bukan main. Semenjak beberapa tahun silam, kini ia kembali melihat ekpresi itu. Namun secepatnya ia menampiknya. Bayangan dimana sang istri terluka hingga menemui ajalnya membuatnya kembali memasang tameng dinginnya.

Baekhyun berjalan hendak keluar. Keadaan di dalam sini membuatnya sakit hati bukan main. Apakah kau tau bagaimana rasanya di sebut sebagai 'pembawa sial' oleh ayahmu sendiri? Itu ... Benar-benar menyakitkan rasanya, sekalipun untuk level berandalan seperti Baekhyun.

"Mau kemana kau?!" Teriak sang ayah.

"Kau tidak perlu tau."

Final. Baekhyun pergi setelahnya. Mungkin hanya satu tempat yang bisa membuatnya bisa melampiaskan emosinya saat ini. Menerima ajakan Vernon untuk balap liar tidak ada salahnya bukan?

.

.

Tuan Park menyesap kopi seraya membaca kasus kriminal yang terjadi di daerah distriknya selama sepekan terakhir. Ia mendesah lega, setidaknya nama sang anak tak tertera disana seperti biasa. Kepindahan Chanyeol benar-benar membawa perubahan besar ternyata.

"Komandan Park, ada sebuah laporan penting."

"Eoh? Apa itu? Sungjae-ssi."

"Di kawasan Dongdaemun-gu , beberapa genk berandalan berkumpul untuk mengadakan balap liar. Aku khawatir ini akan membuat arus lalu lintas menjadi berbahaya."

Tuan Park memijat tengkuknya. Sial sekali, para gangster kota benar-benar membuat kerjaannya sulit setiap hari.

"Mereka dari kalangan mana?"

"Anak sekolah, Pak."

Hembusan kasar pria paruh baya itu terdengar keras. Ia berharap semoga Chanyeol tak ikut andil disana.

"Siapkah beberapa regu untuk bersiap ke sana. Jika perlu, tangkap mereka semua."

"Baik!"

.

.

Kedatangan Baekhyun seorang diri membuat Black Dragon bersorak sorai senang. Ketua Lightsaber itu mendatangi markas musuh seorang diri!

"Woah! Akhirnya, kau datang juga."

"Tidak usah banyak omong. Sekarang, bisakah kita masuk pada acara inti?"

Vernon tertawa, menyebalkan seperti biasanya. Ia memberi kode pada seorang anak buahnya yang tak Baekhyun mengerti apa maksudnya.

"Baiklah. Kali ini apa yang kita taruhkan eoh? Ah! Uang! 50 juta! Bagaimana?"

"Aku tidak peduli brengsek. Cepat lakukan saja!"

"Oke, sebelum itu..."

PUK... Baekhyun terkaget saat musuhnya itu memeluknya secara tiba-tiba.

"... Berhati-hatilah." Ujar Vernon disertai seringainya.

Baekhyun tak peduli. Fikirannya sedang kacau saat ini. Ia bahkan tak menaruh curiga sedikit pun. Tanpa ia tau jika dirinya telah masuk ke dalam bahaya malam ini.

Mobil mereka saling berderum keras. Keduanya menanti aba-aba race girl di depan sana untuk mengangkat bendera start ke atas. Hingga saat suara sorakan memenuhi daerah disana saat race girl melempar bendera hitam putih itu, mobil keduanya melesat dengan sangat kencang.

"Berhati-hatilah, Byun Baekhyun." monolog Vernon dengan nada mengejeknya. Entahlah apa yang ia rencakan.

Mobil keduanya saling mendahului. Baekhyun selalu berhasil menghalangi jalan Vernon. Tak peduli jika kecepatan yang ia gunakan akan sangat berbahaya. Mengingat mereka bertarung di jalan raya dimana kendaraan umum lainnya juga melintas disana.

Tempat semula mulai dekat. Vernon tersenyum miring. pertunjukan ini akan segera terjadi. Melihat Baekhyun hancur, fikirnya. Sayang sekali, sepertinya ia akan gagal melihat 'hal menarik baginya' itu sekarang. Seorang anak buahnya menghubunginya.

'Hyung! Kau pergi saja! Kita dihadang polisi!'

'Yak! Cepat ikuti aku! Dasar anak kurang ajar kalian!'

Vernon berdecih sinis. Itu tadi pasti polisi. Tak mau terkena pula, Vernon memilih untuk putar arah.

"Ck! Sial sekali. Tetapi, setidaknya Baekhyun yang akan mewakiliku ke penjara... Atau justru rumah sakit? Pfffthh... Hahahaha..." Lelaki itu tertawa seperti seorang psikopat gila.

Baekhyun kebingungan melihat musuhnya justru berbalik arah disaat garis akhir telah di depan mata. Oke, sekarang ia mulai mengerti. Puluhan polisi telah mengepung tempat itu. Dengan segera ia ingin berhenti lalu memutar arah, sama seperti yang Vernon lakukan. Namun ada kejanggalan disini. Baekhyun mencoba menginjak rem, tetapi...

"Oh Shit! Bajingan itu telah merencanakan ini!"

Rem mobilnya tidak bisa berfungsi. Baekhyun baru menyadari ini. Salah seorang suruhan Vernon tadi bisa saja memutus tali rem mobilnya saat Baekhyun sibuk mendengar omongan tidak bermutu dari Vernon. Licik sekali.

Baekhyun benar-benar putus asa. Mungkin pilihannya hanya dua, berakhir di rumah sakit atau penjara. Lelaki itu terlalu sibuk dengan remnya hingga sebuah truk dari arah depan hampir saja menabraknya jika Baekhyun tidak membanting stir ke arah kanan. Mobilnya berhenti, menabrak sebuah pagar pembatas jalan raya. Beberapa orang berdatangan untuk melihat hal tersebut. Salah seorang polisi segera mengisyaratkan teman-temannya yang lain untuk mendatangi lokasi kejadian itu.

"Seorang lelaki, kepalanya berdarah!"

Baekhyun bisa mendengarnya samar-samar. Ia mencoba bangkit lalu bergerak keluar dari mobilnya yang sudah hancur bagian depannya. Kepalanya benar-benar terasa pusing.

"Anda tidak apa-apa?"

Baekhyun menoleh pada polisi muda itu.

"Astaga! Bukankah, kau Byun Baekhyun? Teman Chanyeol itu kan?"

Baekhyun memandang si polisi, mencoba mempertajam matanya. Ah, itu Sungjae, anak buah ayahnya Chanyeol jika Baekhyun tidak salah.

"Yak! Sungjae! Apa yang kau lakukan?! Cepat bawa anak itu ke mobil! Siapa tau dia salah satu dari genk berandalan juga?!" Teriak Minhyuk seraya menggiring seorang lelaki yang diketahui sebagai anak buah Vernon itu.

Sungjae akhirnya menuruti hal tersebut. Ia membawa Baekhyun menuju mobil yang ia bawa untuk segera menuju ke kantor polisi.

.

.

Chanyeol baru saja pulang dari acara 'berkumpul dengan anggota Phoenix'. Tetapi ibunya tiba-tiba saja menyuruhnya ke kantor sang ayah untuk mengantarkan baju hangat dan obat. Sepertinya ayahnya akan lembur malam ini, maka mau tak mau Chanyeol kesana juga.

Sesampainya di depan kantor, ia kebingungan melihat kantor yang begitu padat.

"Hey, Yeol?"

"Oh? Minhyuk hyung, ada apa ini?"

"Ck, geng berandalan di daerah mengadakan acara balap liar. Salah seorang detektif bilang bisa saja mereka juga melakukan transaksi narkoba disana. Ah! Ada apa kau kesini?"

Chanyeol terbengong sendiri mendengar penjelasan Minhyuk. Ia tersentak saat tepukan di bahunya menyadarkan lelaki itu.

"Ah? Aku ingin mengantar obat ayah. Beliau dimana?"

"Sedang 'menggurui' anak-anak nakal itu. Kau kesana lah."

Chanyeol berjalan mendekati ayahnya berada. Tuan Park sepertinya tengah serius memarahi beberapa orang disana. Namun ia mengernyit saat melihat Byun Baekhyun juga ada, duduk di sebuah bangku dengan kepala terlilit perban. Ekspresi anak itu terlihat begitu datar.

"Ayah, ini titipan dari ibu." Bisik Chanyeol.

Tuan Park hanya balas mengangguk sekenanya. Ia kembali menceramahi anak-anak nakal itu dengan sesekali membentak mereka.

"Siapa ketua kalian?!"

"Huh, Pak... Aku sudah bilang jika ketua kami tidak tau apa-apa tentang ini!" Ujar seorang lelaki membela ketua mereka.

"Dasar anak-anak kurang ajar! Aish!" Tuan Park terlihat terengah-engah. Chanyeol dengan sigap mendudukkan ayahnya di kursi. Ia menatap para berandalan didepannya (padahal dia juga berandalan) dengan tatapan tajam. Mereka semua mendadak takut saat melihat tatapan mengintimidasi dari Chanyeol.

"Apa kalian tau siapa aku?" Tanyanya sok keren, membuat Tuan Park dan Baekhyun memutar bola mata mereka jengah.

"K-kau, polisi?" Ujar seorang lelaki takut-takut.

Chanyeol tersentak, ia melihat penampilannya saat ini. Kaos hitam, jaket kulit hitam, dan celana hitam. Ia lalu memegang rambutnya yang hitam dan ditata secara hair up. Phoenix yang terkenal itu tidak berpenampilan seperti ini. Pemuda itu menyeringai setan.

"Ya, aku adalah seorang detektif!"

Tuan Park menepuk wajahnya. Kebodohan apalagi yang akan Chanyeol lakukan? Mana ada detektif yang mengaku dirinya seorang detektif?

"Anak-anak, kalian tau? Balapan itu sangat dilarang? Terlebih dengan transaksi narkoba!"

Eh? Tuan Park kebingungan sendiri. Narkoba? Info dari mana itu? Fikirnya. Ia segera bertanya pada anak buahnya dan benar saja, setelah ditelusuri, sekelompok berandalan ini memang hendak melakukan transaksi haram itu.

"Aku paling benci dengan berandalan yang mengkonsumsi benda laknat seperti itu. Kalian fikir kalian itu keren, eoh? JAWAB AKU BRENGSEK!"

Semua yang ada disana tersentak kaget saat teriakan disertai gebrakan meja oleh Chanyeol menggema.

"K-kami... Kami hanya melaksanakan perintah saja."

"Siapa yang menyuruh kalian?" Tanya Chanyeol dingin.

Mereka berbisik saling berdiskusi. Dan jawaban dari anak berrambut putih disana membuat Chanyeol terkejut bukan main.

"Dia! Byun Baekhyun adalah pelakunya! Dia sengaja membuat hal ini tampak seperti balap liar semata. Padahal itu hanya kedok untuk melakukan transaksi."

Baekhyun lantas bangkit, hendak meninju wajah anak itu. Namun suara tuan Park menghentikannya.

"kau yang berambut merah! Sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya."

Baekhyun menunjuk dirinya sendiri seolah bertanya 'aku?' dengan wajah bingungnya.

"Iya, kau! Aku akan bertanya secara baik-baik, apakah itu semua benar?"

"Tentu saja, dia sering membelinya. Dia itu kan pemakai narkoba!" Provokasi lelaki tadi lagi.

"Kau, siapa namamu?" Tanya Chanyeol dingin.

"S-Suga."

"Tuan Park bertanya pada Baekhyun, bukan pada kau!" Lanjut Chanyeol lagi.

"Cih! Aku memang berandalan, tetapi untuk hal seperti itu adalah hal rendah bagiku. Jika aku ingin, aku akan membeli langsung ke penyalur asli, bukan dengan cara seperti ini."

Chanyeol membenarkan ucapan Baekhyun itu.

"Benar Aya_ maksudku Tuan Park. Lagi pula ada yang janggal disini, jika Baekhyun sebagai konsumennya, para bocah tengik ini adalah penyalur, itu artinya siapa produsennya?"

Suara krasak-krusuk terdengar lagi. Tuan Park akhirnya menyuruh anak buahnya untuk mendiamkan berandalan nakal di depannya.

"Coba saja periksa, siapa tau kan dia menyimpan barang haram itu?!" Ujar seorang dari mereka dengan lantang.

Akhirnya pemeriksaan akan dilakukan. Baekhyun tidak peduli, toh ia tidak bersalah, fikirnya. Sungjae dan Minhyuk yang memeriksa kantong anak itu terdiam sesaat. Minhyuk mengeluarkan beberapa benda dari dalam kantong Baekhyun seperti dompet, ponsel dan... Sebuah serbuk putih di dalam plastik kecil.

"ini apa?" Tanya Tuan Park dingin.

Baik Baekhyun maupun Chanyeol terbelalak tak percaya. Chanyeol menatap Baekhyun dengan pandangan bertanya.

"Aku berani bersumpah! Ini fitnah! Aku tidak pernah melakukan hal ini!"

"Kau bersikeras sementara bukti ada ditanganmu!" Bentak Minhyuk.

"Aku memang tidak mengkonsumsi ini! Aku dijebak."

"Kau tidak mau mengakuinya?" Tanya tuan Park santai.

"Aku tidak akan pernah mengakui kesalahan yang tidak ku lakukan."

Melihat kesungguhan Baekhyun membuat Chanyeol sedikit banyaknya percaya.

"Kita adakan saja tes darah. Selama itu pula, kita akan menyelidiki pelakunya."

Tuan Park melirik anaknya lalu tersenyum-senyum sendiri.

"Apa ini kantormu?" Tanyanya mengejek.

Chanyeol tersentak lalu gelagapan setelahnya. Padahal jika ia tau, sang ayah merasa senang dengan sikapnya. Ia benar-benar terlihat seperti polisi saja. Dan omong-omong, tuan Park memang berkeinginan menjadikan putranya itu sebagai penerusnya, walau Chanyeol menolaknya berkali-kali.

"Ahahaha, maaf Tuan Park. Aku hanya bercanda. Jadi, bagaimana selanjutnya? Apa kau akan bertanggung jawab pada tersangka Byun Baekhyun jika kita tidak memenjarakannya?" Ujar sang Ayah.

Chanyeol mengangguk antusias. Baekhyun menatap anak itu sangat tajam. Disituasi seperti ini masih saja Chanyeol bodoh itu bercanda, fikirnya.

"Sungjae, bawakan borgol."

Sungjae segera menyerahkan borgol itu ke tangan sang komandan.

KLIK... Satu borgol berhasil memborgol lengan kiri Baekhyun.

"Kemari, detektif muda."

Dengan bodohnya Chanyeol mengikuti ucapan sang ayah tanpa tau rencana terselubungnya.

KLIKK... Satu borgol lagi memborgol pergelangan kanan Chanyeol. Alhasil, Baekhyun dan Chanyeol berada dalam satu borgol yang sama, bisa kalian bayangkan?

Baekhyun melotot protes. Para berandalan yang menyaksikan kejadian itu menganga. Chanyeol berkomat-kamit menyumpahi sang ayah.

"Tuan Park, ini tidak lucu. Dimana kuncinya?" Tanya Chanyeol dengan gigi rapat.

"Ah... Ini! Eh? Dimana ya?" Sungjae mencoba mencari kunci borgol itu di saku celana dan bajunya. Sayangnya nihil.

Minhyuk melihat nomor yang ada di borgol perak itu. 412. Ia menepuk kepala Sungjae dengan keras setelahnya.

"Bodoh! 412 memang kehilangan kuncinya. Kenapa kau mengambilnya?"

"MWO!" Teriakan keras yang dihasilkan Tuan Park, Chanyeol dan Baekhyun mengharuskan orang-orang disana menutup telinga mereka.

Chanyeol menatap ayahnya tajam, Baekhyun menghela nafasnya lemas. Sedangkan tuan Park hanya tertawa sekeras mungkin.

"Ck! Padahal aku hanya bercanda. Sudahlah, sebaiknya kalian pulang."

"Apa? Pulang? Enteng sekali anda bicara? Kemana kami harus pulang?" tanya baekhyun geram.

"Ya, itu terserah kalian saja. Chanyeol, bawa kasus pertamamu ini dan jaga dia jangan sampai kabur."

Chanyeol mendesah pasrah. Sialan! Ia dikerjai ayahnya. Dengan wajah datar, ia menarik tangan Baekhyun agar segera keluar dari sana.

"Apa itu? Kenapa dia bebas?!" Protes Suga tak terima dan di angguki temannya yang lain.

"kasusnya berat, detektif Park yang akan menangani. Sungjae! Bawa bocah-bocah nakal ini ke sel sekarang juga! Esok hari baru boleh keluar! Itu juga jika orang tua mereka datang."

"Siap!"

Minhyuk menatap bosnya khawatir.

"Pak, apa tidak masalah Chanyeol yang menangani?"

"Hahaha, tenanglah Minhyuk. Aku tau, Chanyeol bisa mengatasinya. Dan lagi, aku tidak begitu yakin jika anak berambut merah tadi adalah pelakunya. Aku pernah melihatnya menerima hukuman anak buahnya secara suka rela. Ia tipe anak yang setia pada rekannya."

.

.

"Yak! Pelan-pelan sedikit! Kau fikir aku ini kerbau yang bisa kau tarik seenaknya?!" Teriak Baekhyun.

"Aish! Berisik sekali kau! Diam dan ikuti saja aku!"

"Kemana?!"

Benar, kemana mereka akan pergi? Chanyeol mengusap wajahnya dengan tangan kirinya.

"Ke rumahku saja, bagaimana?"

Baekhyun berfikir sejanak. Ayahnya memang sedang dirumah. Lagipula ia sedang malas berada disana, maka dari itu ia menyetujui ajakan Chanyeol begitu saja.

"Ayo kita naik motorku_ Shit! Bagaimana aku mengendarainya?! Mana mobilmu?"

Baekhyun mengedikkan bahunya asal. Mobilnya sudah hancur oke? Paling-paling sedang dalam perjalanan menuju bengkel.

"Kecelakaan, mobilku rusak."

"Oh, great! Hah... Sepertinya kita harus naik bus saja."

Kedua lelaki itu menanti bus di sebuah halte. Beberapa pasang mata menatap mereka aneh karena borgol yang berada di tangan keduanya. Mau tak mau Chanyeol menutupinya dengan sapu tangannya. ia menggenggam telapak tangan Baekhyun.

"Begini lebih baik." Gumamnya.

Mereka menaiki bus lalu mulai mencari tempat yang bisa mereka duduki. Sayang sekali, bus begitu padat. Alhasil keduanya harus rela berdiri berdesakan dengan penumpang lainnya.

Jantung Chanyeol berdegup cepat. ia berharap tidak akan terjadi kejadian seperti di drama. Contohnya saja_

CKIIITTT...

Bus yang berhenti mendadak misalnya. Baekhyun terkejut, ia berada di pelukan Chanyeol sekarang. Keduanya menjadi bahan tontonan beberapa orang. Dengan kesal Baekhyun segera menjauhi tubuh Chanyeol. Ia berdehem mengusir kecanggungan.

Chanyeol berharap, mereka segera sampai di rumah agar tidak ada kejadian 'sialan' lainnya.

.

.

Nyonya Park begitu senang dengan kedatangan Baekhyun. Ia begitu menyukai pemuda manis tersebut. Chanyeol telah menceritakan kejadian tadi secara detail. Hasilnya? Nyonya Park hanya tertawa mengetahui kelakuan jahil suaminya.

Mereka berada di ruang makan saat ini, menikmati makanan yang tersedia. Atau... Hanya nyonya Park dan Baekhyun yang makan karena Chanyeol justru kesulitan makan dengan tangan kiri.

"Makanlah yang banyak, Baekhyunnie? Bibi sengaja memasak masakan enak ini. Kau suka sup ikan?"

"Ne? Ah, suka. Terimakasih, bibi." Ucap Baekhyun tersenyum tulus.

Chanyeol tersedak dari acara minumnya saat melihat hal itu. Wajahnya mendadak merah, hasil dari tersedak dan juga melihat senyuman cantik Baekhyun yang baru pertama kali ia lihat.

"Omong-omong, apa ayahmu tidak marah jika kau menginap disini?"

Gerakan tangan Baekhyun terhenti. Ia menggeleng cepat setelahnya.

"Ayahku orang yang sibuk."

"Bagaimana dengan ibumu?"

"Ibu!" Ucap Chanyeol mengintrupsi. Ia melirik Baekhyun yang kembali melahap makanannya dengan santai.

"Dia sudah meninggal..."

"A-ah... Maaf jika begitu."

Suasana mendadak mencekam beberapa saat. Sampai Chanyeol mencoba mencairkannya.

"Bu, aku tidak bisa makan! Aku lapar!"

"Ah... Ahahaha... Kasihan sekali, Chanyeollie tidak bisa makan dengan tangan kiri ya? Sini, ibu suap_"

"Eitss... Tidak mau! A-aku sudah besar!"

Ya, mana mau berandalan garang nan melegenda seperti phoenix makan disuapi ibu. Apalagi di depan musuhnya sendiri.

Chanyeol terkejut saat ebi katsu yang terapit dengan sumpit besi tersodor di depan mulutnya.

"Makanlah." Ujar Baekhyun dengan wajah datarnya.

DEG! DEG! DEG!

'S-sial... Kenapa jantungku seperti ini?!' pekik Chanyeol.

"Kenapa_"

"Aku tidak suka mendengar orang mengeluh ketika aku sedang makan."

Akhirnya Chanyeol membuka mulutnya. Ia melahap katsu tersebut tanpa melepas pandangannya dari Baekhyun sedikit pun. Nyonya Byun memekik kecil dalam hati. Ini begitu manis, fikirnya. Terlebih karena wajah Baekhyun yang seperti perempuan itu. ia mengeluarkan ponselnya diam-diam dan mengabadikan foto dimana Baekhyun menyuapi Chanyeol dengan Chanyeol menatap intens ke arah Baekhyun. Tentunya tanpa kedua pemuda itu sadari.

Mata Chanyeol melotot saat Baekhyun menyuap makanan bekas sumpitnya.

'I-itu ciuman secara tidak langsung kan?' tanya Batinnya lagi.

Heh! Padahal ia telah mencium Baekhyun dua kali kan? Apa hebatnya ciuman secara tidak langsung?

Baekhyun kembali menyuapi Chanyeol, sampai makanan mereka tandas.

"Bibi, aku akan membantu mencuci piring." Tawar Baekhyun saat acara makan mereka telah selesai.

"Ah, tidak usah! Kalian ke kamar saja. Dengan kondisi tangan begitu akan sulit. Sudah, tidur sana!"

"Sudahlah pendek, tidak usah sok rajin. Ayo, ke kamarku!"

Baekhyun meminta maaf lirih pada nyonya Park. Ia mengikuti langkah Chanyeol.

Pemandangan yang ia lihat adalah sebuah kamar yang tidak terlalu luas dengan cat berwarna abu-abu muda. Di beberapa sisi dinding terdapat tempelan poster pemain basket atau pembalap. Tempat tidur Chanyeol berada di sebelah kanan, single bed yang di lapisi sprei putih polos. disebelahnya terdapat meja belajar yang tersusun buku-buku disana. Lalu, ada satu set drum dan gitar klasik di sudut kiri kamar. Kamar ini begitu rapi.

"Maaf, kamarku tidak sebagus kamarmu."

"Ya, bukan masalah."

BRUKK... Baekhyun secara tiba-tiba membaringkan tubuhnya di atas ranjang Chanyeol. mau tak mau Chanyeol ikut tertarik dengan keadaan terjatuh di atas tubuh Baekhyun.

"Aish! yak! Menyingkir dari tubuhku!" Bentak Chanyeol.

Chanyeol berdecak kesal, ia berguling ke samping.

"Bisakah kau bergeser? Ini sempit! Aku bisa terjatuh ke lantai!" Ujar Chanyeol kesal.

"Ranjangmu saja yang kecil."

Akhirnya setelah berdebat tentang 'wilayah kekuasaan' mereka ujung-ujungnya tidur secara berdempetan.

"em... Baek? Apa benar kokain tadi adalah milikmu?"

Baekhyun menoleh ke samping. Keduanya bertatapan lumayan lama, menanti jawaban Baekhyun.

"Aku tidak melakukannya. Seburuk apapun kelakuanku, aku tidak akan sudi menyentuh barang itu."

"Lalu... Menurutmu siapa pelakunya?"

"Sudah jelas, itu Vernon. Aku curiga saat di arena balapan tadi. Pertama, dia mengajakku bertanding dengan baik-baik. Kedua, aku yakin benar jika ia menyuruh anak buahnya memotong tali rem mobilku saat aku berbincang dengannya. Alhasil, aku kecelakaan." Jelas Baekhyun enteng.

"Apa? Kecelakaan katamu?" Pekik Chanyeol heboh.

"Ck! Suaramu menyakiti telingaku sialan! Ya, aku menabrak pagar pembatas jalan. Dan soal narkoba itu, dia memelukku tak biasanya. Aku yakin, si licik itu menyelipkannya ke saku jaketku. Cih! Kelakuannya benar-benar terbaca sejak dulu."

"Baiklah... Besok sepulang sekolah akan diadakan tes darah. Kau akan bebas hukuman jika hasilnya negatif."

"..."

Merasa tak ada jawaban, Chanyeol menoleh secara tiba-tiba. Baekhyun telah terlelap, mungkin terlalu lelah.

Tanpa sadar Chanyeol terkekeh. Tangan kirinya tergerak untuk mengusap kepala Baekhyun. Ia meringis melihat perban yang meliliti dahi anak itu.

"masih saja bersikap sok kuat. Jika orang biasa, mungkin sudah berada di rumah sakit karena luka seperti ini. Apa kau terbiasa menerima rasa sakit?" Monolog Chanyeol.

Menyadari kelakuan 'dramatisnya', Chanyeol segera menepuk bibirnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya kuat. Hendak berbalik ke posisi lain, sayang sekali, tangannya terborgol, mengharuskannya untuk terus menghadap ke arah Baekhyun yang tertidur dengan posisi meringkuk.

Senyum tipis Chanyeol kembali terkembang, tanpa ia sadari sekali lagi.

"Selamat malam, Baekhyun."

.

.

TeBeCe

.

.

Lalalala. Akhirnya chapter 8 rampung juga guys... Ini berkat doa kalian. Huhu, makasih atas dukungan kalian okay?

Maaf jika chapter ini gak menarik, hehehe.

Yang minta moment chanbaek, udah aku suguhin. Yang minta NC? Insya Allah chapter depan, hohohoh /senyum mesum/

Oke deh, mau cepat update? Mana reviewnya? Kkkk /modus/ ...

BIG THANKS buat readers setiaku, yang udah mau review walau cuma bilang 'next' makasih! Dan silent readers, bertobatlah... Hahahaha...

Oke, gimana cerita selanjutnya?

Penasaran?

Gimme a revie please? /aegyeo bareng suman/