Title : Lightsaber
Author : Dandelionleon
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Oh Sehun, Luhan, Vernon chwe, Kim Kai, Do Kyungsoo and other cast.
Rate : T+ (for this chapter)
Disclaimer : All of cast milik agensi mereka. Cerita milik saya.
Warning ! Typo! YAOI, bahasa kasar, adegan grepe-grepe, yang gak suka alangkah baiknya gak usah dibaca. Dari pada kamu jadi munafik (gak suka tapi dibaca mulu) mending close aja ya sayang?
.
.
Oke, happy reading!
.
.
Nyonya Park mengusap tangan basahnya pada kain serbet yang tergantung di dekat kulkas. Ia baru saja menyelesaikan tugasnya, memasak. Makanan lezat telah tersaji begitu banyak. Wanita paruh baya itu bersiap untuk ke kamar sang anak ; bermaksud untuk membangunkannya.
CKLEEEKK...
"Chanyeollie, Baekhyunnie, bangun... Sudah pa_ Ommo!"
Ibu dari Park Chanyeol itu menutup mulutnya saat melihat pemandangan di hadapannya. Chanyeol ; anaknya yang berandalan itu, memeluk tubuh mungil Baekhyun. Begitu manis terlihat. Seolah keduanya adalah pengantin baru yang masih dalam masa 'romantisme'.
"Aigoo, jika begini jadi tidak tega membangunkan mereka. Hah, baiklah."
Akhirnya, Nyonya Park memutuskan untuk turun ke bawah. Membiarkan dua pemuda yang saling berpelukan itu tetap terlelap.
Kita beralih ke arah ranjang single bed di sudut ruangan. Dimana dua pemuda; Chanyeol dan Baekhyun, sedang berpelukan, berhimpitan agar tidak terjatuh dari tempat tidur itu. Yang lebih muda mulai terusik, ia mengusakkan wajahnya pada dada bidang Park Chanyeol. Pemuda manis itu memeluk tubuh itu semakin erat. Menghirup aroma maskulin dari tubuh yang di peluknya.
Senyuman terukir di bibir tipisnya. Ia merasa nyaman, ia merindukan di peluk seperti ini.
Tunggu!
Baekhyun mulai merasa satu keanehan. Sejak kapan ia tidur dengan 'seseorang'?
PIK...
Mata sipit itu terbuka secara paksa. Ia mendongak ke atas dan wajah Park Chanyeol adalah hal pertama yang ia lihat. Baekhyun mencoba meloloskan diri dari 'pelukan maut' lelaki tinggi itu. Si phoenix mulai terusik, ia malah menurunkan posisi tidurnya hingga wajah keduanya saling berhadapan.
"Jangan bergerak. Aku masih mengantuk, bu."
sepertinya anak itu mengigau sedang tidur bersama ibunya. Itu bukan masalah utamanya sekarang! Baekhyun harus meloloskan diri dari musuhnya itu.
"L-lepaskan aku... Shit! Brengsekhh..." Ucap Baekhyun bersusah payah.
"Hmmmhh..."
Mata Baekhyun melotot horror saat pipi Chanyeol bersentuhan dengan pipinya. Dengan kekuatan penuh, Baekhyun secara refleks mendorong tubuh Chanyeol hingga terjembab ke lantai. Sayang sekali Baekhyun, sepertinya tindakanmu adalah hal salah karena tubuhmu juga ikut terseret jatuh. Ingat jika tangan keduanya masih terhubung dengan sebuah borgol. Alhasil, tubuh keduanya terjembab ke lantai yang dingin dengan posisi Baekhyun menimpa tubuh Chanyeol.
"Akkh! Shit! Yak! Menyingkir! Badanmu berat!"
Baekhyun mau tak mau bangkit disertai wajah cemberutnya. Ia hendak berjalan menuju kamar mandi, tetapi si borgol sialan itu mengukungnya agar tetap disisi Chanyeol. Baekhyun jadi bernafsu ingin memotong benda sialan itu dengan kapak.
"Aku mau ke kamar mandi. Kita harus ke sekolah bukan?"
Chanyeol mengangguk, matanya masih setengah terpejam. Tiba-tiba alisnya mengernyit. Mandi? Satu kata itu menari-nari di kepalanya. Jika tidak salah, mandi adalah membuka seluruh pakaian lalu membersihkan diri bukan?
GLEKKK... Pemuda tinggi itu menelan ludahnya kasar. Wajah yang semula dikuasai kantuk, kini berubah menjadi wajah orang hendak buang air. Ia menoleh pada Baekhyun yang tampak santai saja.
"M-mandi? Berdua?"
"Ya. Kau mestinya melihat jelas jika tangan kita masih terborgol satu sama lain." Jawab Baekhyun santai, sangat santai malah.
GLEKKK... Lagi, Chanyeol bertingkah seolah hendak di eksekusi mati.
"K-kau tidak merasa risih? Y-yeah... Maksudku, kita sama-sama lelaki_"
"Justru karena kita itu lelaki makanya aku biasa saja. Sudahlah! atau jangan-jangan..."
Wajah Baekhyun secara tiba-tiba mendekati wajah Chanyeol yang gugupnya bukan main. Mata si lelaki sipit memicing curiga.
"Kau menyembunyikan buah dada ya?" Sambung Baekhyun dengan wajah menahan tawa.
WHAT?!
Buru-buru Chanyeol menoyor kepala Baekhyun dengan telunjuknya. Sial! Apa-apaan itu? Phoenix si raja berkelahi dan ditakuti menyimpan buah dada?
"Yak! Tentu saja tidak! Kau pernah lihat kan aku membuka pakaianku waktu kita berkelahi dulu?! Heol! Seenaknya saja menuduhku!"
"Hahahahahaha..."
Sepertinya ada yang salah dengan sistem kerja otak Baekhyun. Biasanya, anak itu akan balas berkata kasar jika sudah beradu argumen seperti ini. Kenapa ia malah tertawa?
Chanyeol merasa heran dan... Terpana.
Ugh... Chanyeol, sejak kapan kau menjadi melankolis begini? Dasar payah!
"Aigoo, dasar payah! Sudahlah, aku ingin mandi sekarang juga!"
Chanyeol melengos mendengar perkataan Baekhyun. Ia ikut menanggalkan pakaiannya tetapi sialan! Pakaiannya macet di pergelangan tangan. Ia dan Baekhyun saling tatap.
"Sepertinya harus di robek." Ujar Chanyeol santai. Ia mulai mengerahkan tenaganya untuk merobek pakaiannya dan juga Baekhyun. Keduanya saling bertos ria-disertai senyuman- lalu saling membuang muka karena menyadari tingkah konyol masing-masing.
Baekhyun mulai membuka celananya, menyisakan celana bokser pendeknya yang berwarna hitam. Yang lebih tinggi justru menyaksikan kegiatan Baekhyun tesebut. Wajahnya melongo tanpa sadar.
'kulitnya mulus sekali.' batinnya.
Menyadari ada tatapan 'aneh' yang menghujani tubuhnya, Baekhyun lantas menoleh dengan gerakan slow motion pada yang lebih tinggi. Mata sipitnya melebar, menandakan bahwa ia menyadari satu hal ajaib.
"Kau gay?!" Pekiknya tanpa sadar.
"A-apa?! Yak! sedari tadi kau terus menuduhku! Enak saja!"
"Jika tidak maka cepat buka pakaianmu dan kita mandi!" Ujar Baekhyun dengan nada perintah yang ketara jelas.
.
.
Disinilah keduanya, di dalam sebuah bathup dengan ukuran pas-pasan. Baik Chanyeol maupun Baekhyun harus rela menekuk kaki masing-masing. Wajah Chanyeol memerah bukan main. Bagaimana dengan Baekhyun? Sepertinya sama saja. Keduanya berhasil 'bertelanjang' sepenuhnya. Tetapi tenang saja! Baekhyun dan Chanyeol sama-sama dilarang melihat barang pribadi masing-masing.
"Ck! Gara-gara borgol sialan ini!" Umpat Baekhyun, masih tidak terima akan kehadiran si borgol yang membuatnya terjebak disini.
"Sudahlah, lebih baik cepat bersihkan dirimu!" Sahut Chanyeol.
Lelaki tinggi itu sebenarnya ingin berteriak protes! Ia tidak leluasa berada disana. Kakinya panjang dan ukuran bathup akan jauh lebih kecil saat Baekhyun turut hadir di dalamnya. Jika mandi shower, maka siap-siap saja miliknya akan dilihat oleh sang musuh, atau sebaliknya.
Merasa pegal karena sejak tadi menekuk kakinya, Chanyeol bebrmaksud menggerakkan kakinya agar lebih rileks.
"uhm..."
Tersentak mendengar lenguhan kecil tersebut. Chanyeol menatap ke arah Baekhyun yang sama terkejutnya dengan dirinya.
Jemari kakinya menyentuh sebuah benda, hangat dan... Lembut. Jangan bilang jika itu...
"M-maaf." Ujar Chanyeol. Wajahnya jauh lebih merah dari pada tadi.
"K-kakimu benar-benar bodoh!" Ujar Baekhyun setengah emosi. Wajahnya merah padam bak kepiting rebus. Merasa keadaan akan terasa semakin ganjil, Baekhyun memutuskan untuk membelakangi Chanyeol saja. Sayang sekali, borgol tersebut kembali mempermainkan dirinya karena 'secara tidak sengaja', mau tak mau lengan kanan Chanyeol memeluk leher Baekhyun.
Nafas keduanya sama-sama tercekat, diameter bola mata melebar. Degup jantung yang berdentum kencang tak terelakkan lagi. Baik Chanyeol atau Baekhyun sama-sama saling tidak mengerti dengan reaksi tubuh mereka. Perlahan nafas Chanyeol menjadi cepat saat Baekhyun mencoba menggeser letak duduknya. Akibatnya, gesekan antara kulit halus belakang tubuh Baekhyun bergesekan dengan kesejatian Chanyeol yang mulai menegak. Nafas hangat Chanyeol menggelitik, berlomba-lomba menerpa belakang leher Baekhyun.
Baekhyun menegang, kala bibir basah nan tebal Chanyeol menempel di lehernya, entah disengaja atau tidak. Sekujur tubuhnya mendadak kaku, lidahnya pun terasa kelu. Padahal bisa saja ia mengumpat atau memukul lelaki di belakangnya jika ia mau.
'Baek! Kau adalah ketua Lightsaber! Kenapa kau diam saja?!' Pekik batinnya, mencoba menyadarkan Baekhyun jika kelakuan Chanyeol sudah masuk kategori kurang ajar.
Chanyeol terlena, terbuai akan harum tubuh Baekhyun yang menggodanya. Matanya mulai terpejam, mencoba meresapi dan mengingat aroma tubuh ini. Hidung mancungnya bergerak-sesuai instingnya- di antara telinga dan leher Baekhyun. Bibirnya juga tak ikut absen untuk menjamahi leher jenjang yang lebih kecil. Bergerak dengan pelan, namun mengirimkan impuls yang begitu dahsyat kepada si pemilik leher.
Katakanlah Chanyeol gila. Ia begitu hilang kendali saat ini. Telapak tangan lebarnya mengelus dada Baekhyun dengan lembut, bibirnya masih menggoda si pemilik tubuh di bagian telinga dan leher.
Baekhyun rasa ia akan gila! Tubuhnya tak pernah terjamah siapa pun sebelum ini! Matanya ikut terpejam, bibirnya terbuka. Nafasnya memburu, seiring dengan pergerakan lelaki di belakangnya.
Tangan Chanyeol yang lain bergerak di bawah sana, memegang milik Baekhyun lalu meremasnya perlahan.
"nnhh..." Lenguhan lirih yang membuat pemuda tinggi itu hilang akal.
Baekhyun mengernyit, merasakan sakit dan kenikmatan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
'Byun Baekhyun! Sadarlah! Kau dilecehkan!' Teriak pemikiran rasionalnya.
BRUKKK...
Hampir saja, Baekhyun dilecehkan sepenuhnya. Ia menyikut perut Chanyeol hingga lelaki tinggi itu mengaduh pelan. Baekhyun mencoba mengatur nafasnya agar terlihat normal. Wajahnya memerah bukan main lagi. Ia semakin malu saat menyadari dirinya terangsang akan perbuatan tak senonoh Chanyeol padanya. Lelaki mungil itu menekuk lututnya, menyembunyikan wajah di antaranya.
Kecanggungan menghinggapi. Chanyeol juga tak mengerti mengapa ia bisa hilang kendali padahaal kenyataannya Baekhyun hanyalah seorang lelaki yang tidak memiliki benda bulat kenyal menggoda atau lekuk tubuh bak kaum hawa. Chanyeol rasanya akan gila jika seperti ini.
"Maaf Baekhyun, aku... Hilang kendali."
"Cih! Sudah kuduga jika kau itu gay." Sahut Baekhyun sakartik.
Kata maaf berulang-berulang Chanyeol lontarkan. Sampai ia lelah sendiri karena Baekhyun tak kunjung menyahutnya lagi. Matanya melihat sesuatu yang membuat hatinya terasa nyeri.
Punggung Baekhyun tidak semulus yang ia kira. Bekas luka begitu banyak tertoreh di sana. Mungkinkah itu perbuatan ayah Baekhyun? Lelaki itu pasti telah menderita banyak selama ini.
Telapak tangannya mengelus punggung itu pelan. Ia bisa merasakan ketegangan dari pemuda Byun. Tetapi itu tak bertahan lama.
"Hentikan! Aku tidak sudi kau lecehkan lebih jauh!" Teriak Baekhyun.
"Jangan berfikir yang tidak-tidak. Aku hanya ingin menggosok punggungmu, layaknya seorang 'lelaki'. Aku tidak memiliki maksud lain!" Ucap Chanyeol membuat alasan.
Baekhyun menelan ludahnya kasar.
'dia melihatnya. Dia melihat kulit punggungku yang cacat.'
Acara mandi pagi itu diakhiri dengan keheningan yang menyuramkan.
.
.
Tak ada yang lebih memalukan dibandingkan dengan sarapan pagi hanya mengenakan handuk. Ya, Chanyeol dan Baekhyun yang tidak bisa memakai baju, akhirnya harus rela hanya menutupi bagian privasi mereka dengan handuk. Tawa nyonya dan tuan Park tak terelakkan lagi. Chanyeol memasang wajah super datarnya. Sementara Baekhyun hanya bisa tersenyum masam.
"Tetapi omong-omong, sejak kapan kau memiliki tattoo, Chanyeol?" Tanya tuan Park dengan mata memicing, secara tiba-tiba.
Chanyeol menutupi tattoo phoenix kecil di dada sebelah kirinya.
"I-ini bukan tattoo sungguhan ayah! Ini akan hilang seminggu lagi." Bohongnya.
"Benarkah itu?" Tanya ibunya penuh selidik.
Mau tak mau Chanyeol manggut-manggut membenarkan ucapannya.
"Bibi, bolehkan aku tambah nasinya?" Sahut Baekhyun secara tiba-tiba. Atmosfer yang semulanya dingin, terpecahkan karena ucapan lelaki itu.
"Eh? Baiklah, sini sayang biar bibi ambilkan."
"Terima kasih."
Chanyeol melirik Baekhyun, seperti biasa dengan cara sembunyi-sembunyi.
'Dia mencoba menyelamatkanku?'
Sepertinya Chanyeol semakin jatuh ke dalam pesona Byun Baekhyun yang mematikan.
.
.
"Ya Kai, aku tidak bisa masuk. Ck! Ayahku tidak memperbolehkanku keluar rumah. Apa?! Ke rumahku? Tidak usah! Banyak penjaga diluar. Sudahlah, aku ingin istirahat. Katakan pada Sehun untuk mengumpulkan tugasku! Ku tutup."
"Siapa? Kai?"
Baekhyun mengangguk. Ia mencoba menyamankan tubuhnya di atas ranjang. Perlu diketahui jika dirinya dan Chanyeol tidak bisa ke sekolah karena tidak mungkin mereka mengenakan handuk kesana. Akhirnya mereka terkurung dirumah, dikamar Park Chanyeol, berbaring di atas ranjang sempit.
Keduanya kembali mengheningkan cipta. Bermain dalam fantasi masing-masing. Lengan kurus Baekhyun bersinggungan langsung dengan lengan berotot Chanyeol. Hangat. Seulas senyum tipis terukir dibibir yang lebih tinggi.
"Baek? Bolehkah aku bertanya satu hal?"
"Silahkan saja." Jawab Baekhyun dengan intonasi tenang seperti biasa.
"Bekas luka di punggungmu itu, kenapa?"
Chanyeol mengira Baekhyun takkan menjawabnya, tetapi ekspetasinya berbanding terbalik. Pemuda mungil itu justru menceritakan semuanya.
"Ku harap kau tidak akan tertidur mendengarnya. Ayahku adalah sosok yang baik, dia begitu menyayangi ibu dan aku. Pada suatu peristiwa, ayahku menjadi orang lain. Dia berubah tidak menyukaiku. Dia menjadi sosok yang keras, pemarah dan memukulku. Sejuta kali aku berbuat baik, maka akan selalu tampak seperti ada noda dalam perbuatanku. Dia membenciku. Hasilnya seperti yang kau lihat. Tubuhku menjadi sasarannya. Yeah, Aku tidak peduli. Toh, lelaki pantas menerima pukulan agar bisa menjadi lelaki yang kuat bukan?" Tersadar akan ucapan panjang lebarnya, Baekhyun menepuk bibirnya. Kenapa ia bisa menceritakannya semudah itu pada lelaki yang notabenenya adalah musuhnya sendiri?
"..."
"Ck! Kau boleh tertawa jika kau mau."
Baekhyun menoleh ke sebelahnya, yangmana Chanyeol juga sedang menatapnya. Tanpa kata, akhirnya mereka hanya saling bertatap. Seolah keduanya sedang berkomunikasi dengan tatapan semata.
CTAKKK... Jitakan maut mendarat di dahi Baekhyun.
"Sudah begitu masih saja sok kuat, dasar bocah!" Komentar Chanyeol.
"Aish! Dasar brengsek kau!"
Kini giliran Baekhyun yang mendorong kepala Chanyeol. Keduanya tertawa keras, seolah tak ada beban sama sekali. Baekhyun, sudah lama ia tak seperti ini. Apakah pengaruh lelaki di sebelahnya itu sangat besar terhadapnya?
"Jika hatimu sakit, maka lampiaskan saja dengan kata. karena orang takkan tau isi hatimu jika kau tidak mengatakannya."
'Lelaki ini benar-benar aneh!' Ujar Baekhyun dalam hati.
Kenyamanan itu perlahan-lahan mulai menyentuh hatinya yang terdalam. Walau egoisnya menentang besar akan hal itu. Tetapi nurani Baekhyun berkata jika Chanyeol berbeda dari musuh-musuhnya yang lain.
.
.
Masalah borgol telah selesai. Tuan Park mendatangkan ahli kunci untuk menyelesaikan masalah itu. Dua pergelangan tangan yang semula bersatu kini terbebas sepenuhnya. Tetapi Chanyeol merasa ada yang lain. Satu hari berada disisi Baekhyun membuatnya merasakan sebuah kenyamanan yang aneh.
Sekarang, mereka berada di kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Baekhyun bernafas lega karena hasilnya negatif. Belum lagi, dalang dibalik semua ini sudah diketahui, Baekhyun dijebak oleh musuh-musuhnya. Tetapi tetap saja, para berandalan itu masih enggan menyebutkan jika Vernon adalah otak mereka. Maka dengan kesetiaan pada ketua mereka, Suga bersedia menjadi tumbalnya. Pertemanan yang membuat mereka terharu. Ck!
"Jangan lagi mengulang kesalahan yang sama. Jadilah anak baik." Nasehat tuan Park saat mereka berada di luar kantor polisi.
"Baik, paman!" Ujar Baekhyun malas-malasan, khas dirinya sekali.
"Nah, karena mobilmu masih dalam perbaikan. Detektif Park Chanyeol! Antarkan kasus pertamamu dengan selamat ke rumahnya!"
"A-apa? Aku? Aku bukan detektif dan si pendek ini sudah besar ayah! Dia bisa naik bus!" Protes Chanyeol.
"Ini perintah! Atau uang jajanmu ku potong!"
"Aish! Baiklah! Ck!"
Keduanya telah berada di atas motor hitam Chanyeol. Baekhyun sudah siap dengan helmnya, bersiap menanti Chanyeol menancapkan gasnya. Tetapi, hey! Pria tinggi itu malah diam saja.
"Yak! Cepat jalankan motornya! Ini sudah hampir sore sialan!"
"Setidaknya peluklah aku jika kau tidak ingin terhempas dari atas kereta ini." Ujar Chanyeol dari balik helmnya dengan ketus.
Padahal jika kalian tau, pipinya memerah. Dasar memalukan!
"Tidak sudi aku! Kau itu gay mengerikan." Komentar Baekhyun dengan pedas.
Merasa kesal, secara tiba-tiba Chanyeol menancapkan gasnya, membuat tubuh Baekhyun terhuyung ke belakang. Refleks, Baekhyun memeluk pinggang Chanyeol erat-erat. Sialan! Chanyeol menang banyak!
Pemuda tinggi itu menyeringai di balik helmnya.
Mereka sampai di depan pagar rumah Baekhyun. Baekhyun merengut, tak suka dengan kejadian di atas motor tadi. Nyawanya hampir saja melayang karena aksi kebut-kebutan Chanyeol yang patut diacungi jempol.
"Hahaha, sudahlah Ketua Byun. Kau seperti tidak pernah balapan saja. Seperti perempuan~" Ejek yang lebih tinggi, semakin menyulut emosi Baekhyun.
"Brengsek kau! Aku akan membalasmu."
"Yayaya. Sudahlah, kau cerewet sekali."
Pintu pagar tinggi mendadak terbuka. Beberapa mobil sedan hitam keluar dari sana. Salah satunya adalah mobil tuan Byun. Mobil tersebut berhenti, kaca jendela bagian belakang perlahan terbuka. Sosok tuan Byun langsung terlihat. Baekhyun menggeram melihat wajah ayahnya tersebut. Tuan Byun tampak tenang, walau wajahnya menyiratkan tanda tanya besar pada lelaki tinggi di atas motor yang ada di sebelah Baekhyun.
Pemuda itu membungkuk hormat.
"Masuklah, Ayah harus pergi ke Austria sore ini untuk urusan bisnis."
Baekhyun melengos pergi, tak mempedulikan ucapan lelaki itu atau Chanyeol yang ia tinggalkan dengan wajah penuh tanya.
Mobil-mobil tersebut berjalan kembali. Tuan Byun mencoba mengingat kembali. Rasa-rasanya ia merasa familiar dengan wajah Chanyeol. Ia terbelalak saat mengingat figur wajah itu pernah ia lihat sebelumnya.
"Cari tau tentang pemuda yang bersama Baekhyun tadi."
"Baik, tuan."
.
.
Luhan dan Kyungsoo memeluk tubuh tinggi Chanyeol saat pemuda itu hadir ke sekolah hari ini. Sehari absen, tentunya banyak pertanyaan yang memborbardir Chanyeol saat ini.
"Kau kemana kemarin?"
"Pasti membolos kan?"
"Apa jangan-jangan kau membolos bersama Byun Baekhyun?"
Pertanyaan terakhir dan itu dari Luhan membuat Chanyeol menegang. Pemuda bermata bak rusa itu menyadari ekspresi kaget Chanyeol walau tak begitu ketara. Ia tersenyum masam.
"Y-yak! Mana mungkin! Ah, sudahlah. Pasti kau merindukanku kan?" Ucap Chanyeol. Ia memeluk tubuh ramping Luhan dari samping lalu bertindak seolah-olah memiting kepala anak itu dengan lengannya.
"Ahahaha, Chanyeol, geli!"
Sepertinya Chanyeol berhasil mengembalikan mood Luhan kembali.
Baekhyun memperhatikan interaksi keduanya dengan datar. Ia tak peduli dengan pertanyaan Sehun atau Kai sekalipun.
'Ternyata, dia baik kepada semua orang.'
"Baek!? Kenapa kau ingin bertemu Chanyeol? Heol? Lihatlah, dia sedang bermesraan dengan si anak China!" Sungut Sehun penuh kekesalan.
TAP... TAP... TAP...
Suara ketukan kaki tiga pemuda itu membuat keheningan seketika. Baekhyun menyerahkan paper bag berisikan pakaian.
"Pakaianmu ke kembalikan. Terima kasih karena meminjamkannya padaku."
Wajah Luhan menegang, menatap Chanyeol penuh tanya. Tanpa sadar Baekhyun menyeringai. Sudah lama ia tidak mengerjai orang. Sepertinya ini akan menjadi sebuah hiburan, fikirnya.
"Apa? Kenapa bajumu ada pada Ketua Byun?!" Tanya Kyungsoo heboh.
Chanyeol hanya mengedikkan bahunya tak peduli. Ia kembali melanjutkan acara makannya.
"Aku menginap di rumahnya kemarin malam. Dan dia merobek pakaianku, jadinya... Yeah, dia mau tak mau meminjamkan pakaiannya padaku. Benar bukan? Chanyeol?"
UHUUUKKK...
Kai Tersedak saat hendak meminum sodanya. Ucapan Baekhyun membuat krasak-krusuk terdengar di kantin. Chanyeol yang tidak nyambung dengan 'maksud lain' dari ucapan Baekhyun tersebut bertingkah biasa saja.
"Ah, kenapa aku mengatakannya ya? Aigoo, Luhan-ssi? Wajahmu kenapa memerah?" Ucap Baekhyun disertai seringai menyebalkannya.
"T-tidak, aku permisi dulu."
Pemuda bersurai keemasan itu berlari menjauh. Kyungsoo mengejarnya. Kepergian sosok itu membuat Baekhyun tertawa terpingkal-pingkal.
"Lihatlah! Dia menangis! kkkhh... Dasar cengeng! Sepertinya dia mengira aku tidur dengan kekasihnya ini."
Seluruh murid yang semula di landa ketegangan merasa lega kembali. Ternyata Baekhyun hanya bercanda. Tetapi sepertinya itu tidak berlaku untuk Chanyeol.
"Candaanmu tidak lucu sama sekali, Baekhyun."
Baekhyun terdiam, menatap Chanyeol yang pergi menyusul Luhan. Ia terkekeh sinis.
"sudah ku duga, mereka memiliki hubungan khusus." monolognya.
.
.
Ini kali kedua, Baekhyun menerima kiriman paket. Kali ini adalah foto Baekhyun dan lelaki bernama Xiumin sedang memakai kaos sepak bola. Sepertinya foto tersebut di ambil saat mereka berada di sekolah menengah pertama. Namun kejanggalan foto tersebut yang membuat Baekhyun terpekik adalah ; wajahnya di coreti dengan spidol bertinta merah. Belum lagi ada sebuah boneka kayu dengan sebelah kaki patah.
'Hey teman lama, melupakanku? Sepertinya kau bersenang-senang diatas penderitaan orang lain. Pengkhianat!'
Isi surat tersebut bagaikan terror dirasanya. Xiumin, Kim Xiumin... Apakah ia berniat meneror Baekhyun dengan cara seperti ini?
Baekhyun memijat dahinya, ia mengernyit dalam.
"Aku bukan pengkhianat! Bukan!" Ucapnya dengan suara bergetar hebat. Kalimat itu berulang-ulang terucap darinya.
TOKK... TOKK...
"Tuan muda, Tuan muda Sehun datang berkunjung."
Baekhyun buru-buru memasukkan kembali barang-barang kiriman tersebut ke dalam kotak semula. Ia menyembunyikannya di kolong ranjang.
"S-suruh masuk."
Sehun memasuki kamar sahabatnya tersebut dengan senyuman lebar. Namun senyumannya luntur saat melihat keadaan Baekhyun. Lelaki itu tampak bergetar ketakutan.
"Baekhyun? Kau kenapa?"
GREPP... Pemuda bersurai merah itu memeluk tubuh Sehun mendadak. Wajahnya ia sembunyikan di dada bidang lelaki itu.
"Hey? Ada apa? Ceritakan padaku, hm?" Tanya Sehun lembut. Ia mengusap kepala Baekhyun.
"Kumohon, hanya sebentar saja. Jangan menanyakan apapun Sehun."
Sehun hanya bisa mengeratkan pelukannya. Ia tau, Baekhyun sedang dilanda masalah besar. Walau ia tak bisa membantu banyak, setidaknya ia bisa memberi pelukannya kapan pun Baekhyun mau.
"Tenanglah, aku ada disini."
.
.
Baekhyun berjalan tak minat. Fikirannya bercabang entah kemana-kemana. Masalah terus menghampirinya akhir-akhir ini bahkan mengekang Baekhyun untuk bersenang-senang.
Seseorang menabrak tubuhnya, namun Baekhyun hanya diam tak menanggapi. Biasanya anak itu akan menghajar siapa pun yang mengganggunya. Kali ini Baekhyun hanya ingin diam, berbicara pun malas rasanya.
Kiriman dari Xiumin, adalah hal yang membuatnya seperti ini. Bayangan masa lalu, seakan mencekiknya karena rasa bersalah.
"Astaga, aku rasa ketua Lightsaber telah kehilangan fungsi pendengarannya."
Ucapan tersebut menghentikan langkah Baekhyun. Ia menoleh, Vernon berdiri dengan wajah angkuhnya disana. Emosi Baekhyun lalu meluap begitu saja. Orang itu! Ya, dia adalah sumber masalahnya. Baekhyun jadi ingin membunuhnya.
"Ah, si pengecut yang kabur karena ada polisi. Benar-benar ketua payah yang mengorbankan anak buahnya sebagai tameng."
"Apa kau bilang?!"
Pancingan Baekhyun berhasil. Vernon mencengkram kerah bajunya. Mereka berhasil mengalihkan perhatian seluruh murid yang berlalu lalang karena tindakan mereka. Baekhyun justru semakin senang. Ia menyeringai puas. Melihat Vernon emosi adalah kesenangan tersendiri baginya.
"Kau, pengecut. Choi Vernon, kau tidak pernah berubah. Kau adalah sampah."
"Brengsek! Lalu bagaimana denganmu hah? Seseorang yang mengkhianati sahabatnya sendiri? Kau adalah penghancur mimpi sahabatmu. Hahaha, kau tidak merasa bersalah Byun?"
BUGHHH...
Pekikan siswi perempuan malah memperparah keadaan. Baekhyun menghajar Vernon membabi buta, sifat aslinya telah kembali. Vernon hanya diam, menahan rasa sakit di wajah dan tubuhnya.
"Ayo, pukul lagi aku. Itu semakin membuktikan jika kau adalah pembuat masalah. Xiumin hyung pasti semakin membencimu_"
BUGHHH...
"Tutup mulutmu keparat! Jangan pernah kau sebut namanya dengan mulut kotormu! Kau_"
"HENTIKAN!"
Perkelahian keduanya terhenti saat guru Han datang. Baekhyun memicing tajam, tak suka kegiatannya diganggu. Guru Han berusaha memisahkan keduanya. Tetapi Baekhyun terus meronta.
"Lepaskan aku! Aku akan membunuhnya!" Teriak Baekhyun.
"Aish! Yak! Bantu aku melerai anak ini!"
Chanyeol menunjuk dirinya sendiri. Matanya melotot melihat keadaan mengenaskan Vernon. Sungguh! Ia tak mengetahui apapun tentang kejadian ini. Yang jelas ia baru saja kembali dari toilet dan keadaan sudah begitu ramai seperti ada kejadian pembunuhan.
"Apa yang bisa ku bantu? Pak."
"Tahan bocah sinting ini!"
Chanyeol menarik tubuh Baekhyun yang berusaha menggapai tubuh Vernon.
"Lepaskan aku! Lihat! Dia tertawa puas!"
"Kau menyedihkan, Baekhyun." Komentar Vernon pedas, sengaja menyulut emosi Baekhyun.
"Kemari kau!"
Chanyeol yang begitu kesulitan menahan tubuh Baekhyun akhirnya membopong tubuh itu bak karung beras. Seluruh murid terkejut bukan main. Berani sekali dia, fikir mereka.
"Turunkan aku!"
PUK... Chanyeol dengan santainya menepuk bokong Baekhyun lalu berjalan meninggalkan kerumunan.
"Diam, atau aku akan melemparmu dari atas gedung."
Ucapan dingin dan penuh intimidasi dari Chanyeol membuat Baekhyun berdecih. Ia pasrah saat Chanyeol membawanya ke ruang guru. Kenapa Baekhyun selalu berurusan dengan Chanyeol?!
.
.
Hukuman telah dijatuhkan. Karena telah terlalu sering membuat kesalahan, Baekhyun akhirnya menjalani hukuman baru. Skors selama tiga hari. Chanyeol berjalan di sebelahnya.
"Kenapa kau mengikutiku?" Ketus Baekhyun.
"Siapa yang mengikutimu? Aku juga mau pulang, Byun. Dan koridor ini satu-satu jalan untuk keluar dari gedung." elak Chanyeol.
Baekhyun menghela nafasnya. Ia berjalan lagi, dan sudah tak peduli jika memang benar Chanyeol mengikutinya. Pemuda itu menunggu supirnya di dekat parkiran berada. Ia tertawa mengejek saat melihat Chanyeol mengeluarkan sepedanya.
"Apa motormu di kutuk menjadi sebuah sepeda?"
Chanyeol menyahut dengan wajah datar.
"Phoenix dan Park Chanyeol dua hal yang berbeda."
"Cih! Sok keren sekali. Kau ingin memainkan peran ganda, begitu?" ejek Baekhyun sekali lagi.
Merasa kesal, Chanyeol mendekati Baekhyun dengan menaiki sepedanya.
"Dari pada kau. Kemana mobilmu? Menunggu jemputan ya? Cih! Seperti anak TK." Balas Chanyeol sengit.
Hampir saja Baekhyun melontarkan kalimat pedasnya lagi jika Sehun dan Kai tidak menghampiri mereka.
"Baek, pulang denganku saja. Ayo?" Tawar Sehun dengan senyuman manisnya. Chanyeol memicing menatap ekspresi lain anak itu. Jangan-jangan Sehun menyukai Baekhyun?
Oh! Park! Apa pedulimu?
"Lalu, kita akan naik bertiga dengan motormu?" Sahut Kai.
"Ck! Aku lupa jika si kkamjong ini tidak membawa mobil. Maaf Baek, lagi pula kami akan ke Sincheon menemui Yongguk Hyung. Kau tidak apa-apa kan?"
Baekhyun mengangguk, tesenyum tipis.
"Ya, sudah sana! Sepertinya mendung, takutnya kalian kehujanan."
"Baiklah. Annyeong!"
Chanyeol menguap, obrolan sesama Lightsaber ternyata seperti itu? Fikirnya. Tidak ada seram-seramnya sama sekali.
"Kau mau menunggu supirmu lebih lama? Sekolah mulai sepi." Ujar Chanyeol memecah keheningan.
"Kau fikir aku takut?"
"Jika kau mau... Kau bisa naik bersamaku."
Baekhyun menatap sepeda Chanyeol meneliti.
"Maksudmu, aku duduk dimana? Tidak ada tempat duduknya, bodoh! Malas sekali aku berdiri."
Pesan masuk dari supir Kang membuat Baekhyun merubah fikirannya kembali. Ia terlihat menimbang-nimbang lagi. Jika pulang dengan Chanyeol, harga dirinya sebagai musuh Chanyeol akan tercemari. Jika tidak, ia harus rela menunggu sampai setengah jam ke depan karena Supir Kang terkena musibah. Ban mobilnya pecah saat menuju perjalanan menjemput Baekhyun.
Tidak ada yang menguntungkan.
"Baiklah, aku akan_ Yak! Kau sedang apa?" Tanya Baekhyun saat melihat Chanyeol mengikat jaketnya pada besi depan di dekat tempat duduk Chanyeol.
"Kau duduk disini saja. Saat SD, aku sering seperti ini bersama Zelo dan Kris. Ayo naik!"
Duduk, di depan? Baekhyun menggeram. Apa kata orang melihat si garang Baekhyun duduk menyamping seperti perempuan, terlebih Chanyeol yang membawa sepedanya.
"Jika tidak mau ya sudah."
Baekhyun masih diam tak bergeming. Ini pilihan yang sulit menurutnya.
"Chan! Kau tidak pulang?"
"Eh? Luhan? Aku akan pulang, kau sendiri?"
Baekhyun menatap Luhan datar. Sedangkan anak China itu menatapnya dengan tajam, membuat Baekhyun tersenyum sinis.
'Cih! Sudah berani padaku rupanya.'
"Aku baru mau pulang, tetapi supirku lama sekali menjemput."
"Bagaimana jika denganku saja?"
Mata Baekhyun melotot. Apa-apaan itu? Tadi dia menawari Baekhyun, sekarang Luhan? Dasar lelaki plin-plan!
"Kau berencana menjadi kurir pengantar manusia ya?" Celoteh Baekhyun, ketara sekali nada tidak senang di dalamnya.
"M-maksudmu, duduk di depan?" Tanya Luhan, mengabaikan ucapan Baekhyun. Pipi Luhan merona, membayangkan dirinya duduk di depan. Astaga!
"Tentu saja!" Ujar Chanyeol girang.
Baekhyun kesal! Ia paling benci di abaikan. Ia benci menjadi nomor dua! Baekhyun adalah penguasa! Begitulah dirinya.
"Baiklah_"
"Antarkan aku pulang!" teriak Baekhyun dingin. Ia sudah main duduk saja disana. Chanyeol sampai terkejut dengan jantung berdetak tak karuan. Masalahnya wajah Baekhyun begitu dekat dengannya.
"Dengar Luhan-ssi, dia lebih dulu menawariku. Jadi aku lebih berhak. Mengerti?" Ujar Baekhyun menyeringai.
Dapat Baekhyun lihat, Luhan tersenyum masam.
"Baiklah, tidak masalah. Supirku pasti menjemput sebentar lagi. Kalian pulanglah."
"Maaf, Luhan-a." Kata Chanyeol, dengan nada tidak enak.
"Tidak masalah!"
"Baiklah, kami pulang dulu. Berhati-hatilah."
Chanyeol mulai mengayuh sepedanya. Luhan mengepalkan tangannya erat saat Baekhyun dengan sengaja memegang pundak Chanyeol. Mata Luhan memanas, seiring dengan menjauhnya dua orang itu. Giginya bergemelatuk, menggeram penuh amarah.
Ia semakin membenci Byun Baekhyun.
"Awas kau! Byun Baekhyun!"
.
.
TBC
.
.
Hello? It's me... Happy weekend all. Besok imlek! Gong xi fat cai...ada yg nontong barongsai? Atau jadi barongsai? hehe, /bacot/
oke deh, maaf yg kecewa karena gak jadi NC, pfffth /di serbu masa/ ... Setelah difikir lagi, kayaknya memang terkesan maksa kalo aku buat NC chapter ini.
Buat yg udah mau review, makasih ya? Aku seneng banget! Review kalian buat aku semangat! Aaaakkkh! 700+ reviewers, gue senang gilaaaaaakkk! /ups/
oke deh, ada yg mau request chapter depan bakal gimana? /ga/ hehehe...
Udah ah, males bacotan banyak. Semoga kalian puas dgn chapter ini. Jangan lupa Reviews... Jangan jadi silent readers... Hargai dan cintailah kerja keras saya /he/ ... dan buat yang mau ngebash, tolong Login pake akun , biar kita bisa tonjok-tonjokan di PM /gak/
Chapter depan mau fast update? Review dong... :v
Oke, akhir kata... Review pliiisss...
