Title : Lightsaber

Author : Dandelionleon

Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Oh Sehun, Luhan, Vernon chwe, Kim Kai, Do Kyungsoo and other cast.

Rate : T - M

Disclaimer : All of cast milik agensi mereka. Cerita milik saya.

Warning ! Typo! YAOI, bahasa kasar, adegan grepe-grepe, yang gak suka alangkah baiknya gak usah dibaca. Dari pada kamu jadi munafik (gak suka tapi dibaca mulu) mending close aja ya sayang?

.

.

Okay, hepi riding/?

.

.

Sepeda itu terus dikayuh dengan pelan oleh si pengendara. Chanyeol tak henti-hentinya tersenyum yangmana tampak seperti idiot dimata Baekhyun. Si penumpang terus menekuk wajahnya. Apalagi ketika Chanyeol mengerem mendadak, maka kepala Baekhyun harus rela bertabrakan dengan dagu Chanyeol atau mungkin bibirnya juga. Lelaki manis itu menghela nafasnya. Ia juga sedikit risih karena ditatap sedemikian rupa oleh berbagai orang di jalanan.

"Hey, masih lama sampainya?"

Pertanyaan itu sudah terlontar terhitung sepuluh kali. Chanyeol hanya balas mengedikkan bahunya asal. Malas menjawabnya lagi.

"Omong-omong, Kau beruntung sekali di skors tiga hari."

Baekhyun mendongak, menatap wajah tampan Chanyeol.

"Apanya yang enak? Aku pasti bosan tidak ada Sehun dan Kai."

Pemuda itu kembali mengarahkan pandangnya ke jalanan lagi secara buru-buru karena Chanyeol melihat wajahnya. Rasa menggelitik yang aneh secara tiba-tiba menggelitik hatinya dan Baekhyun benci itu.

"Ah, begitu ya. Oh! Sudah sampai!"

Baekhyun turun dari sepeda tersebut. Ia menggumam 'terima kasih' sangat pelan lalu berjalan menuju pagar rumahnya.

"Hoy! Sampai jumpa tiga hari kemudian! Aku pasti senang tidak ada kau di sekolah! Hahaha."

Teriakan Chanyeol membuat Baekhyun merengut kesal. Tanpa melihat ke arah Chanyeol lagi, pemuda itu langsung masuk setelah sebelumnya membanting pintu pagar dengan kuat hingga menimbulkan suara nyaring.

.

.

Sekolah menjadi tampak lain. Aura penguasa sekolah seolah raib begitu saja. Ini sudah hari kedua. Hari pertama, seluruh warga sekolah tentunya merasa aman dan damai. Namun di hari kedua ini, mereka tampak merasa asing. Tidak melihat rambut berwarna merah Byun Baekhyun rasanya ada yang aneh. Sebut saja mereka merindukannya, tidak seluruh murid sebenarnya. Mungkin hanya Chanyeol yang merasa begitu. Pemuda itu tampak diam, menjadi lebih malas lagi.

"Aigoo, jadi kau merindukan ketua Byun intinya?"

"Aku bukan merindukannya Kyungsoo, kenapa kau tidak paham maksud ceritaku? 'aku hanya kesal karena dia bisa bersenang-senang di rumah sementara aku harus sekolah!'"

Kyungsoo mendesah kesal, Chanyeol memang bodoh! Fikirnya. Sudah jelas lelaki itu merindukan Baekhyun. Rindu berkelahi misalnya?

"Sudahlah, akui saja. Kenapa kau bertingkah seperti gadis PMS seperti itu hah?"

"Oh shit! Aku bukan gadis, aku memiliki penis_"

"SSST! Diamlah preman cabul!"

"Apa kau bilang?!"

Kegaduhan mulai terjadi. Baik Kyungsoo atau Chanyeol sama-sama tidak mau mengalah. Hingga kedatangan Luhan membuat keduanya bungkam dengan wajah kesal.

"Hey! Ada apa ini? Kenapa wajah kalian?"

"Tanyakan pada si idiot ini! Sudah tau merindukan Baekhyun, masih saja mengelak tidak! dasar payah sekali!"

Luhan terkejut, menatap Chanyeol penuh tanya. Gurat kekecewaan terlukis di wajah cantiknya. Merasa di perhatikan, Chanyeol pun menoleh lalu tertawa hambar.

"Dan kau percaya dengan Kyungsoo? Ayolah Luhan, mana mungkin!"

Luhan tersenyum manis, namun hatinya berkata lain. Ia benar-benar merutuki, sepertinya Byun Baekhyun sedikit demi sedikit mulai menginvasi fikiran Chanyeol dan Luhan tidak suka.

"Mungkin saja benar kan? Beberapa hari ini sepertinya kau begitu dekat dengannya."

Chanyeol menguap lebar sekali. Ia bangkit dari sana lalu pamit menuju kelas. Ia hanya malas membicarakan tentang Baekhyun karena... lelaki berambut merah itu pasti semakin gencar meneror pikiran Chanyeol.

.

.

Tiga hari tanpa si ketua penguasa sekolah mungkin menjadi sebuah ketenangan bagi kaum 'penyendiri dan tertindas', sebuah kesunyian bagi fangirl si ketua Byun. Kini, sosok itu kembali lagi. Berjalan di lorong, disertai seruan-seruan penuh cinta dari beberapa gadis. Penampilan lelaki itu tampak berbeda dari sebelumnya.

Chanyeol menelan salivanya, sedikit sulit. Jantungnya berdentum keras, seiring dengan langkah Baekhyun.

Keduanya berpapasan, Baekhyun menatap Chanyeol skepstis. Lain halnya dengan yang lebih tinggi. Lelaki itu merutuki dirinya sudah gila ; gila karena terpesona pada si mungil.

Mata sipit yang biasa terlapisi eyeliner di kelopak mata atasnya semakin terlihat memukau. Sepertinya lelaki itu memakai eyeliner pada garis mata bawahnya juga. Namun bukan itu yang membuat Chanyeol rasanya akan hilang kendali. Byun Baekhyun memasang piercing di sudut kanan bibir bawahnya. Damn! Chanyeol ingin menariknya dengan bibir_ Oh Park cabul Chanyeol! Sejak kapan kau jadi begini?!

Baekhyun so damn hot and sexy! Park Chanyeol benar-benar akan berubah menjadi gay jika begini ceritanya. Persetan dengan kenormalan!

"Ada apa dengan tindikan itu?" Tanya Chanyeol sedikit menyeringai, tampan.

"Aku hanya ingin saja. Sekarang, bisakah kau minggir?"

Dengan perasaan 'sedikit' tidak rela, Chanyeol memberi jalan pada si rambut merah. Matanya terus mengawasi, menatap punggung sempit itu hingga menghilang di ujung koridor. Chanyeol menghela nafas. Ia merasa dirinya memang benar sudah gila sekarang.

.

.

Baekhyun tersentak saat pintu toilet terbuka kasar. Disana berdiri Park Chanyeol dengan seringai mautnya. Masih tak mengerti keadaan, pemuda itu masih bersikap biasa saja. Hingga saat Chanyeol menariknya ke dalam bilik toilet, Baekhyun mulai waspada. Apalagi ketika pemuda tinggi itu menciumnya kuat-kuat. dua insan bergender serupa itu saling menautkan lidah. Beradu siapakah yang paling kuat diantara mereka. Desahan nafas saling bersahut. Si dominan merobek paksa pakaian sang submisive.

"Baekhyun... Aku ingin bercinta denganmu." Bisikan menggoda, suara berat dan dalam itu membuat Baekhyun bergetar. Ia mengangguk dalam mode nafsu merajai.

"nh..." Lenguhan kecil itu membuat yang lebih tinggi semakin tergiur untuk menjamah tubuh halus di bawahnya.

"Chanyeolh..." Gila! Chanyeol tidak mengerti, dirinya bisa ereksi hanya karena hal seperti ini. Suara Baekhyun yang menyebut namanya membuat lelaki itu semakin cepat ingin menuntaskan ini. Di bukanya pakaian yang ia kenakan hingga keduanya polos tanpa busana.

"Hisap milikku, Baekhyun."

Bibir mungil nan hangat itu membungkus kesejatian Chanyeol. Lelaki tinggi itu menarik helaian rambut merah Baekhyun, menyalurkan friksi nikmatnya. Matanya terpejam rapat, mulutnya sedikit terbuka.

"Ahh, Baekhh... Kulum sayang..."

"Chanyeol?"

"Oh sial... Suara siapa itu?" Umpat Chanyeol sebal. Disaat dirinya sedang merasakan nikmatnya, kenapa ada orang yang mengetuk pintu toilet diluar sana?

DUK... DUKK... DUKK...

"Park Chanyeol!"

Suara tersebut semakin keras. Baiklah, kenapa suaranya mirip suara guru Gong?

BRAKKK...

"Berani sekali kau tidur di kelasku hah?!"

Chanyeol tersentak, menoleh dengan gerakan slow motion lalu menyengir bak kuda. Tawa memenuhi ruang kelasnya tetapi Chanyeol tak peduli. Yang ia pedulikan saat ini adalah; celananya masih menggembung. Apakah mimpi basah disiang bolong- terutama di dalam kelas- termasuk hal aneh? Ya! Itu sangat aneh. Apalagi objek mimpinya itu adalah musuhmu sendiri.

Dengan wajah memerah, Chanyeol berusaha menutupi benda kebanggaannya itu. Ia buru-buru berlari keluar kelas, ingin menuntaskan hasrat tertundanya.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Secara kebetulan atau takdir, ia bertemu si objek mimpi cabulnya. Benda kebanggaannya dibawah sana semakin tegak, dan itu sakit sekali omong-omong.

"Cih! Aku rasa area sekolah harus diperluas. Kenapa kau ada dimana-mana?" Ujar Baekhyun sinis.

"Yaya, terserahmu saja. Ini darurat, tidak penting berdebat denganmu."

Baekhyun berdecih, matanya membulat saat melihat gundukan di celana Chanyeol. Perlahan, pipi putihnya berubah warna menjadi merah.

"Ternyata selain brengsek, kau cabul juga." Komentar Baekhyun dengan wajah horror. Lelaki mungil itu buru-buru pergi dari hadapan Chanyeol.

Lain halnya dengan Baekhyun, Chanyeol justru terdiam. Memalukan! Kenapa hal seperti ini bisa dilihat oleh Baekhyun? Shit! Hilang sudah harga diri Chanyeol sebagai seorang Phoenix.

"Sejak kapan aku jadi cabul begini? Astaga!"

Lelaki tinggi itu menyeret kakinya menuju toilet dengan wajah masam dan rasa malu yang besar.

.

.

Luhan duduk termenung di taman sekolah. Dirinya melirik kesana-kemari, berharap Kyungsoo atau Chanyeol lewat dan menghampirinya. Sayang sekali itu tidak mungkin. Kyungsoo sedang berada di kelas memasak. Sedangkan Chanyeol, lelaki itu bilang ada urusan yang sangat penting yang tidak bisa di ulur-ulur waktunya. Jadilah Luhan seorang diri sekarang.

Selagi menikmati waktu santainya, tiba-tiba Lightsaber muncul disana. Rahang lelaki itu mengetat, apalagi ketika melihat Byun Baekhyun.

"Sepertinya kau benar-benar membenci Baekhyun ya?"

Luhan menoleh ke sebelahnya terkejut. Hey! Vernon duduk disebelahnya, lelaki yang katanya mengerikan itu? Ada apa ini?

"T-tidak, aku hanya kesal dengan sikap penguasanya itu." Sahut Luhan gugup.

Vernon mengangguk paham, namun satu hal yang tidak Luhan ketahui jika Vernon mengerti akan satu hal lain.

"Apa itu karena pembullyan yang pernah dilakukannya padamu?"

Secara tersentak, Luhan terkaget menatap lelaki blasteran itu.

"B-bagaimana kau tau_"

"Segala hal tentang Byun Baekhyun aku tau. Karena yah... Kau tau sendiri. Aku benar-benar membenci Byun Baekhyun sejak dulu."

Vernon melirik ke arah Luhan. Diam-diam, seringai terlukis dibibirnya. Entahlah apa yang ada dalam pemikiran anak itu.

"Kenapa kau membencinya?" Tanya Luhan, kali ini dengan nada suara yang begitu datar.

"Masa lalu. Kekuasaan, dan... Banyak lagi. Dia selalu satu tingkat diatasku dan aku benci akan hal itu."

Lama mereka terdiam dengan pemikiran masing-masing. Sampai Vernon membuka pembicaraan lebih dulu.

"Hey, bagaimana jika kita bekerja sama?"

"Apakah ini sebuah negosiasi?" Ujar Luhan skeptis.

"Yah, anggap saja begitu. Kita sama-sama membenci Byun Baekhyun. Jadi, akan sangat menguntungkan untuk kita berdua jika dia hancur."

Luhan terkejut, ia terlihat menimang-nimang ajakan Vernon. Menghancurkan Baekhyun? Itu adalah hal yang sudah lama terfikirkan olehnya. Hanya saja Luhan belum cukup berani secara terang-terangan mengajukan ajakan perang pada Baekhyun.

"Baiklah. Tetapi, bagaimana caranya?"

Seringai Vernon semakin melebar. Mendapat partner seperti Luhan sepertinya menyenangkan.

"Tidak usah terburu-buru Luhan. Dimulai dari hal yang mudah saja."

.

.

Akhir-akhir ini, Chanyeol sering melamun. Sejak insiden dimana mimpi basah itu terjadi, Chanyeol jadi lebih banyak diam. Nyonya Park tentunya penasaran sekali dengan masalah yang anaknya hadapi. Ia mendekati Chanyeol yang terbengong di depan layar televisi.

"Hey!"

"Eoh! ibu, mengagetkanku saja." Protesnya tidak suka.

"Kau kenapa hm? Akhir-akhir ini sering sekali melamun begitu. Ada masalah apa? Ceritakan pada ibu."

Chanyeol terlihat berfikir. Haruskah ia bercerita pada ibunya tentang mimpi memalukannya itu?

"Bu, jika jantung berdebar-debar, sehari tidak melihatnya rasanya rindu, wajahnya selalu ada di dalam fikiran kita, artinya apa?"

andai saja momentnya memungkinkan, mungkin nyonya Park akan tertawa terbahak mendengar pertanyaan polos putranya. Park Chanyeol si berandalan bisa bersikap seperti ini ternyata.

"Itu artinya kau jatuh cinta padanya."

Nafas Chanyeol tercekat seiring dengan jawaban dari sang ibu. Cinta? Itu tandanya dia...

"Tidak mungkin bu! Bagaimana jika dia... Lelaki?"

Nyonya Park terkejut, walau tidak ketara jelas diwajahnya. Detik selanjutnya ia tersenyum tulus, tangannya mengusap helai rambut sang anak dengan sayang.

"Cinta tak kenal batasan sayang."

"Tapi itu hal yang tabu dan aneh. Apakah aku ini tidak normal?"

"Hey! Dengarkan ibu! Tidak ada yang tidak normal sayang. Jika cinta tidak normal, kenapa Tuhan harus menganugerahkannya pada orang yang salah? Semua pasti ada alasannya Channie."

Chanyeol mengusap wajahnya kasar. Ia berbaring di paha sang ibu sebagai bantalannya.

"Jika boleh tau, siapa pemuda beruntung yang bisa menaklukan hati keras anak ibu ini hm? Apakah dia lelaki yang sangat tampan?"

"Dia sangat... Manis? Entahlah, dia begitu mungil bu. Bibirnya begitu manis namun pedas saat berkata-kata. Aku tidak tau sejak kapan tertarik padanya. Saat dia menangis, rasanya aku ingin melindunginya dari siapapun yang menyakitinya. Dia jarang sekali tersenyum lebar, maka dari itu aku berusaha membuatnya tertawa. Hahaha, bodoh sekali."

Nyonya Park tersenyum penuh arti saat sang anak bercerita tentang 'si pujaan hati'. Apalagi ketika Chanyeol tersenyum-senyum saat bercerita. Baru kali ini, Park Chanyeol bisa bertingkah demikian.

"Namanya siapa? Atau jangan-jangan dia lelaki yang tempo hari terborgol bersamamu?" Goda nyonya Park.

Chanyeol langsung bangkit dari tidurnya. Pipinya merona, walau tidak terlihat jelas. Ia mengibas-ngibaskan tangannya.

"Ahahaha, kenapa ibu berfikir jika itu dia? Aish, dia... Ah, sudahlah. Aku harus tidur, kepalaku sakit. Selamat malam bu."

Chanyeol berlari terbirit ke kamarnya, mengabaikan jika sang ibu terkikik melihat tingkah kikuknya.

Pemuda dengan tinggi seraus delapan puluh enam itu menepuk-nepuk dadanya yang bergemuruh hebat. Ia berjalan ke depan cermin, menatap pantulan bayangan dirinya disana. Tatapannya menajam, kepalanya menggeleng-geleng ringan.

"Kau sudah gila, Park. Apa yang kau ucapkan tadi?"

Malam itu Chanyeol lalui dengan perasaan bingung dan juga sulit tidur akibat ucapan sang ibu. Cinta? Tidakkah itu terlalu dini dirasakannya? Terlebih pada seorang Byun Baekhyun yang sama sekali tidak peduli tentang hal semacam itu.

.

.

Tidak hanya nyonya Park yang menjadi psikolog jadi-jadian Chanyeol, kali ini Kyungsoo juga ikut terlibat. Mengingat jika itu Luhan, pasti lelaki itu tak suka jika Chanyeol membicarakan tentang Baekhyun.

Kyungsoo tersedak minumannya di awal-awal, namun setelah mendengar penuturan panjang lebar dari Chanyeol, lelaki bermata besar itu mengangguk paham dan tersenyum.

"Kau tertarik padanya Chanyeol."

"Tetapi itu akan sangat aneh Soo, maksudku_ dia lelaki dan aku juga. Terlebih lagi, kami musuh sejak awal pertemuan."

Dasar idiot! Ingin sekali Kyungsoo mengumpat demikian pada si telinga peri itu.

"Dengar Park Chanyeol, cinta dan benci itu berbeda tipis. Apalagi, akhir-akhir ini kalian sering bersama. Ingatlah jika cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Singkatnya, awalnya kau penasaran padanya, tertarik, dan terakhir jatuh cinta."

Oke, sepertinya ucapan Kyungsoo semakin membuat batin Chanyeol berkecamuk.

"Jangan menentang perasaan sukamu. Tunjukkan lah sebelum dia jatuh hati pada orang lain. Jika kau menunggu Baekhyun yang maju duluan, maka bersiaplah menjadi bujang lapuk, hahaha."

Hampir saja sendok melayang ke kepala Kyungsoo, untung saja Chanyeol masih bisa menahan dirinya.

"Lihatlah, Kau kalah start dari Oh Sehun." Ujar Kyungsoo lagi, ia menunjuk dengan dagunya ke arah Sehun dan Baekhyun sedang bercengkrama. Baekhyun tertawa, walau Chanyeol tau bukan tertawa lepas.

"Tidakkah kau ingin berada di sisinya? Ayolah Yeol, jangan munafik!" Komentar Kyungsoo lagi, mencoba memprovokasi.

Chanyeol mengangguk, mengamini ucapan Kyungsoo. Namun, rasa ragu masih ada di hatinya.

"satu-satunya cara untuk membuktikannya adalah dengan ciuman. Itu yang sering ku baca dari novel."

Ciuman ya? Apa Chanyeol sanggup melakukannya lagi? Ayolah, yang sebelumnya itu Chanyeol di geluti rasa emosi, akal sehatnya tidak berjalan kala itu. Tetapi jika dalam keadaan sadar sepenuhnya Chanyeol melakukannya, bisa-bisa itu takkan pernah terjadi.

"Entahlah, aku permisi dulu. Terima kasih atas nasehatmu Soo."

Kyungsoo mengangguk, menatap punggung lebar Chanyeol yang mulai menjauh. Ia tersenyum kecut.

"Dasar tidak peka. Dia tidak sadar jika Luhan juga menyukainya. Hah... Cinta benar-benar pembodohan!"

.

.

Byun Baekhyun duduk di atap sekolah, kebiasaan merokoknya belum juga menghilang. Ia menatap awan kelabu di atas sana dengan kosong. Sesekali ia akan menghembuskan asap rokoknya ke atas.

KRIEETT... Pintu atap sekolah terbuka. Baekhyun menoleh, seterusnya ia berdecak lirih. Park Chanyeol lagi, fikirnya.

Chanyeol berdiri dengan jantung berdentum kuat disana. Hey! Tunjukkan jika kau lelaki Park Chanyeol!

Entahlah ini disebut kebetulan atau takdir, Chanyeol awalnya hanya ingin menghindari pelajaran Kimia di kelasnya. Lalu, secara tidak sengaja ia bertemu Baekhyun disini.

"astaga, kau lagi." Sahut Baekhyun.

"Memangnya kenapa? Ini tempat umum, tak ada larangan aku boleh atau tidak kesini." Balas Chanyeol tak mau kalah.

"Baiklah, terserahmu saja."

Chanyeol mengambil sebatang rokok di sakunya. Ia mengapit rokok tersebut pada kedua belah bibirnya. Lelaki itu merogoh saku celananya untuk mencari korek api. Tetapi, dimana korek sialan itu berada?

"Pinjam korekmu."

"Ada di saku celanaku, ambil sendiri."

Ha? Chanyeol mengerjap lucu. Ambil sendiri? Disaku celana? Baiklah, jangan menjadi idiot Chanyeol.

Dengan wajah dingin-dibuat-buat, Chanyeol mulai merogoh saku celana Baekhyun. Diluar dugaan, Baekhyun tak merasa risih sama sekali.

"Awas saja jika tanganmu menjalar kemana-mana."

Oh-uh... Baiklah. Untung saja Baekhyun mengingatkan. Jika kalian tanya mengapa Baekhyun begiitu pasrah menyuruh Chanyeol merogoh saku celananya, jawabannya adalah ; Baekhyun ingin mengerjai lelaki tinggi itu. Ia menyeringai melihat wajah dungu-menurutnya- Chanyeol.

"Heol, kau tidak tampak seperti Phoenix. Dimana sisi berandalmu bung?"

Chanyeol mulai menghisap rokoknya, ia menoleh ke samping.

"Maksudmu, aku ini tidak seperti berandalan apa?"

"Rambutmu tersisir rapi, seragam rapi, kelakuanmu seperti orang bodoh. Siapa yang akan takut denganmu?"

Bukannya marah, Chanyeol justru menyeringai.

"Ah, Kau memperhatikanku sedetail itu ya?"

"Tidak, tentu tidak!" Balas Baekhyun cepat.

"Hm, jadi... Kau menantangku eoh? Baiklah Byun Baekhyun, besok kau akan melihat sisi liarku. Jangan jatuh cinta pada pesonaku okay?" Ujar Chanyeol lengkap dengan kedipan menggoda dari matanya.

Baekhyun terdiam kaku. Oh, apa lelaki itu bermaksud menggoda Baekhyun?

"Dasar gay."

"Memangnya kau tidak?"

"Tentu saja. Aku masih mencintai perempuan asal kau tau." Jawab Baekhyun setenang mungkin.

Chanyeol membuang rokoknya yang masih tersisa setengah. Selanjutnya, ia melakukan hal yang sama pada rokok Baekhyun, membuat lelaki berambut merah itu mendelik tidak suka.

"berhati-hatilah akan ucapanmu Byun. Semakin kau menyangkal, semakin kuat bukti jika kau seorang gay."

"Tch! Hipotesis dari mana itu? Omong kosong."

Chanyeol terdiam, menatap wajah Baekhyun lamat-lamat. Cantik, sangat cantik. Lelaki dihadapannya itu sangat cantik sebenarnya, sayangnya ia selalu menampilkan ekspresi sangarnya.

"Kenapa melihatku? Jangan bilang kau menyukaiku heh?" Ujar Baekhyun, sedikit mengejek.

"Bagaimana jika itu memang benar?"

Alis Baekhyun mengerut, tak mengerti.

"Maksudmu?"

"Aku menyukaimu, bagaimana jika itu terjadi?"

Tawa Baekhyun meledak, ia merasa Chanyeol bertingkah konyol sekarang.

"Kau tanya bagaimana? Jika hal itu terjadi, aku akan memaksamu untuk berhenti menyukaiku. Karena aku tidak butuh disukai, terlebih oleh orang sepertimu."

Tangan Chanyeol mengepal, secara tidak langsung Baekhyun menolaknya bukan?

"Aku juga akan memaksamu menyukaiku jika begitu."

Baekhyun menatap wajah Chanyeol. Ia rasa Chanyeol kerasukan roh gentayangan. Sikapnya benar-benar aneh sekali.

"Shit Baekhyun, aku tidak bisa menahannya lagi."

Satu tarikan di tengkuknya membuat Baekhyun hampir memekik. Park Chanyeol menciumnya lagi. Lelaki tinggi itu meraup bibirnya, lembut namun tergesa-gesa. Tidak dapat digambarkan lagi rasanya. Rasa nikotin yang tertinggal dibibir Baekhyun membuat Chanyeol semakin gencar melumat bibir tipis itu. Ingin mencecap rasa manis pemuda itu. Baekhyun memberontak, hendak mendorong tubuh Chanyeol menjauh. Tetapi kekuatannya seakan menurun, rasanya ia melemas. Kepala Chanyeol berubah arah, semula miring ke kanan, kini berganti miring ke kiri. Lidahnya mengetuk-ngetuk belahan tipis Baekhyun. Tetapi sepertinya Baekhyun bersikeras tidak ingin memberikan akses mudah bagi Chanyeol untuk menjelajahi mulutnya lebih jauh. kedua tangan Baekhyun mencoba menjauhkan kepala Chanyeol darinya. Tetapi, tangannya ditangkap oleh lelaki tinggi itu. Ia mengisyaratkan Baekhyun untuk mengalungkan tangannya ke leher pemuda itu.

Baekhyun mulai kehabisan nafasnya, hal tersebut di manfaatkan Chanyeol untuk melesakkan lidahnya. Lelaki itu mengajak lidah Baekhyun 'bermain'

"nnhh..."

Lenguhan pelan itu membuat Chanyeol hilang akal. Apalagi ketika jemari Baekhyun menarik helaian rambutnya. Gila! Chanyeol rasa dirinya sudah tidak waras.

Merasakan kepasifan Baekhyun, ciuman Chanyeol menjadi lebih menuntut dan kasar. Ia menyedot bibir Baekhyun kuat, menimbulkan suara aneh yang membuat keduanya hampir kehilangan sisi rasional masing-masing.

Baekhyun tidak kuat lagi, ia akan mati sesak nafas jika begini ceritanya. Dengan sisa kekuatannya ia mendorong tubuh Chanyeol menjauh.

Cpkh... Decakan tersebut menandakan akhir dari ciuman mereka. Baekhyun terengah-engah dengan bibir basah dan sedikit membengkak. Tak jauh berbeda dari Chanyeol. Lelaki itu itu menatap Baekhyun intents lalu tersenyum setelahnya.

"Aku sudah tau jawabannya."

Baekhyun menoleh padanya, masih dengan tarikan nafas yang terputus-putus.

"Apa... Hhh... Kau gila?!"

"Ya, aku memang gila. Lihat, jika kau normal, kau tidak akan menerima ciumanku."

"Aku memang tidak menerimanya!" Pekik Baekhyun tak terima.

"Hah... Sudahlah, kau tau? Bibirmu benar-benar manis."

"Brengsek kau Chanyeol!"

Baekhyun bangkit dari duduknya, ia segera berlalu dari sana. Matanya berkaca-kaca. Ia merasa benar-benar seperti mendapat penghinaan. Jika kau lurus, akan sangat memalukan mendapat ciuman dari sesama jenismu.

Sementara itu, Chanyeol mengacak rambutnya frustasi. Satu fakta yang baru ia dapat setelah berciuman dengan Baekhyun adalah ; dirinya memang benar-benar jatuh cinta pada Byun Baekhyun.

.

.

TBC

.

.

Apa ini?! Chapter ini aku buat tergesa-gesa diantara tumpukan tugas dari dosen. Berhubung aku udah ada janji sama kalian buat update cepat kalo review banyak(padahal ini juga udah telat) , jadinya aku berusaha biar bisa update.

Maaf jika mengecewakan kalian /bow/

kyaaa, aku senang ngeliat reviewnya loh, Makasih semuanya.

Btw, Chanyeol udah fallin' in love sama Bekyun loh, kkkk... Gimana chapter selanjutnya? apa rencana Luhan sama Vernon buat ngancurin Baekhyun? Gimana aksi chanyeol buat deketin bekyun? Apa bekyun ngerespon? Terus, gimana nasib author? Masih jomblo atau enggak? /ditendang/ XDD

semua bakal terjawab di next chapter...

maka dari itu, review lagi dong... /chu/