Title : Lightsaber
Author : Dandelionleon
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun.
Other cast : Chwe Vernon, Luhan, Oh Sehun, Kim Jongin, Do Kyungsoo. And other cast temukan sendiri.
Rate : T menuju M
genre : Romance, school-life, drama, family, friendship.
Warning! Typo, diksi berantakan, cerita cinta lelaki SMA (apa ini), dan jika tidak suka, harap jangan lanjut untuk membaca.
P.S : tidak diperbolehkan meninggalkan SPAM dengan komentar yang menjatuhkan!
Disclaimer : C'est histoire appartenir à Dandelionleon. Les acteurs/actrises est proprieté par Leurs 'agency'.
.
.
Okey... Heppi riding gaisss...
.
.
Chanyeol paham, dirinya memang sudah gila. Berulang kali ia menyangkal, maka kenyataan semakin memukul telak dirinya. Entahlah, Chanyeol rasa orientasi seksualnya sudah menyimpang. Jika tidak, mengapa dia bisa mencium Baekhyun seintim itu? Kenapa jantungnya berdebar saat tubuhnya bersentuhan dengan Baekhyun? Kyungsoo benar, cara ini benar-benar manjur membuktikan jika dirinya telah jatuh pada pesona Baekhyun.
Pepatah yang mengatakan jika cinta dan benci berbeda tipis, itu memang benar tenyata. Chanyeol menyesali mengapa ia membenci Baekhyun dulu. Sial sekali, ujung-ujungnya dia memang jatuh cinta pada lelaki manis bersurai merah terang itu.
Semenjak hari itu, bukannya semakin menjauh dari Baekhyun, Chanyeol justru semakin sering memperhatikan Baekhyun. Walau beberapa kali adu mulut tak bisa terelakkan diantara keduanya. Kebiasaan menatap Baekhyun tersebut disadari Kyungsoo dan Luhan. Seperti saat ini, lelaki jangkung itu acap kali mencuri pandang pada Baekhyun yang duduk di meja sebrang sana. Ketika Baekhyun tersenyum bersama rekannya ; Kai dan Sehun, maka Chanyeol juga ikut tertular untuk tersenyum.
"Kau memang sudah sakit jiwa! Berani sekali kau menyukai ketua Byun!" Seperti biasa, Kyungsoo selalu berkomentar pedas.
Lain halnya dengan Kyungsoo yang sepertinya damai-damai saja jika Chanyeol menyukai Baekhyun- walau komentar pedasnya selalu terlontar, Luhan justru memendam rasa benci. Sudah ku katakan jika dia memiliki perasaan yang lebih terhadap Chanyeol.
Niatannya untuk menghancurkan Baekhyun seketika semakin besar saja. Ia menatap Baekhyun dengan pandangan marah. Namun, Luhan tak bisa terang-terangan menyerang Baekhyun disini. Ia masih tau diri jika dirinya hanyalah korban bullying Baekhyun. Luhan tak berani ambil resiko akan terkena pembullyian untuk yang kedua kalinya.
"Uhhukk... Uhhukk..." Pemuda asal China itu tersedak secara tiba-tiba hingga wajahnya terlihat memerah. Chanyeol yang terkejut langsung mengalihkan pandangannya ke arah Luhan lalu menyerahkan segelas air mineral.
"Sudah baikan?" Tanyanya sesaat setelah Luhan selesai meneguk air pemberian Chanyeol.
"Hm, sudah. Ah iya, Chan... Selepas pulang sekolah ini kau ada acara?"
"Pulang sekolah? Tidak ada, kenapa?"
"Bisa kau temani aku ke toko buku? Ada yang ingin ku beli."
Chanyeol sedikit menimang-nimang ucapan Luhan, jika ia menolak, ia akan merasa tidak enak pada Luhan.
"Baiklah."
Senyum Luhan terkembang dengan lebar, rona merah samar terlihat di pipinya.
"Baiklah, kalian memang tidak setia kawan. Kencan saja sana!" Ucap Kyungsoo, berpura-pura merajuk.
Chanyeol hanya terkekeh garing. Jika kalian anggap Chanyeol terlalu peduli pada Luhan, jangan salah sangka jika ia memiliki perasaan lebih pada pemuda itu. Ia hanya ingin melindungi Luhan saat melihatnya untuk pertama kali, hanya itu.
Sayangnya, Luhan mengartikan segala perhatian Chanyeol menjadi lain.
Di lain tempat, Baekhyun secara tak sengaja menatap ke arah meja Chanyeol berada. Melihat interaksi antara Chanyeol dan Luhan membuatnya mengernyit bingung.
'Apa pekerjaannya memang menebar pesona kepada semua orang?' ujarnya membatin.
"Ck! Lihatlah, phoenix dan pemuda China itu pasti memiliki hubungan khusus. Menjijikkan sekali."
"Aigoo, lalu apa masalahnya untukmu Oh Sehun? Kau cemburu?"
Sehun berdehem keras, ia tertawa kencang setelahnya. Menganggap jika ucapan Kai adalah lelucon paling konyol yang pernah ia dengar. Lelaki itu bahkan sampai menepuk-nepuk meja.
"apa? Cemburu? Kim Kai, aku masih suka perempuan." Elaknya.
"Benarkah? Tetapi kau tidak pernah kencan dengan perempuan. Aku yakin kau Gay! Albino-ssi." Balas Kai tak mau kalah.
"Jika pun aku ini Gay, aku lebih baik memilih Baekhyun."
Siulan menggoda dari Kai membuat Baekhyun terkekeh geli. Ia menggeleng kuat-kuat.
"Pengakuan tidak langsung." ejek pemuda berkulit tan itu.
"Apa-apaan itu? Kau kira aku sudi menjadi kekasihmu?" Sahut Baekhyun tak terima. Ia menatap Sehun dengan tajam.
"Siapa yang bilang kau akan jadi kekasihku? Oh! Apa kau ingin menjadi kekasihku?" Ujar Sehun lagi, berpura-pura shock mendengar ucapan Baekhyun tadi.
"Pengakuan tidak langsung bagian dua." Komentar Kai tidak penting.
"Aish, sudahlah. Kalian memang aneh." Ucap Baekhyun, ia memakan ramyunnya dengan lahap.
Pandangan matanya seketika teralih ke arah Chanyeol. Sayang sekali, Chanyeol juga sedang menatapnya. Buru-buru Baekhyun menunduk, menatap mangkuk ramyun rasanya lebih nyaman dibanding melihat Chanyeol di ujung sana.
"Baek? Wajahmu tiba-tiba memerah, kau sakit?" Tanya Sehun khawatir.
"Ah? T-tidak, hanya sedikit kepanasan, ya... Kepanasan."
"Kau mencurigakan." Ujar Kai dengan mata memicing sok curiga.
"Diamlah Kai."
Obrolan singkat, atau sebut saja argumen tidak bermutu Lightsaber terhenti saat Chanyeol melewati meja mereka dengan santai. Baekhyun hanya terdiam kaku, tidak melirik ke sampingnya sama sekali. Terkecuali saat mendengar suara rintihan dari Luhan. Sepertinya pemuda itu terjatuh.
"Ups... Maaf, kaki ku tidak sengaja." Ujar Sehun datar, matanya menatap Luhan dengan tajam. Ia menyeringai saat Kai tertawa menepuk bahunya.
"Sebenarnya apa masalahmu?" Kata Chanyeol buka suara, wajahnya menunjukkan mimik tidak suka.
"Masalahku? Entahlah, aku hanya tidak suka dengan lelaki ini."
"Oh Sehun, sudahlah. Lebih baik kita pergi saja. Selera makanku menjadi hilang."
Sehun menoleh ke arah Baekhyun. Pemuda manis itu sudah melenggang pergi begitu saja setelah mengucapkan serentetan kalimat tadI. Baekhyun tidak mengerti mengapa, ada rasa ketidaksukaan yang aneh terhadap Luhan, tepatnya lelaki itu selalu ada disisi Chanyeol. Baekhyun merasa, ia membenci semua yang ada pada diri Chanyeol, atau siapapun yang berdekatan dengan lelaki itu. Rasa benci yang aneh dan sulit tuk di jabarkan.
.
.
Akhir-akhir ini, hujan senantiasa mendominasi kota Seoul. Beberapa orang terisolasi di suatu tempat tertentu, sebut saja salah satunya Baekhyun. Tidak, dia bukannya tidak membawa mobil, hanya saja kebingungan berjalan menuju parkiran berada.
"Apa ku terobos saja?" Monolognya seorang diri.
Tak lama, ia justru masih menetap di tempatnya berdiri. Seperti biasa, sepuntung rokok senantiasa terapit di belah bibir tipisnya. Asap-asap tersebut mengepul saat pemuda itu menghembuskannya dengan sengaja.
"Hujan."
Suara bass tersebut memaksa Baekhyun untuk menoleh, walau tak ketara dengan jelas. Chanyeol disana, berdiri dengan ponselnya ditangannya. Lelaki itu sepertinya sibuk berkirim pesan hingga tak menghiraukan keberadaan Baekhyun di sebelahnya.
"Aish, dasar si brengsek ini. Sudah ku katakan tidak mau."
Gumaman Chanyeol terus terdengar sampai telinga Baekhyun. Mungkin lelaki tinggi itu memang begitu hobi bergumam. Lama dengan urusan ponselnya disertai rutukan-rutukan dari mulutnya, akhirnya benda persegi panjang itu masuk ke dalam saku jaketnya.
Mata Besar itu melirik Baekhyun yang tak sengaja juga sedang melihatnya. Yang lebih kecil lebih dulu memutuskan kontak mata mereka. Raut wajahnya kembali tenang. Walau tak bisa di pungkiri, bayangan ciuman waktu itu seakan menodai fikirannya.
"Pantas saja ada aura tidak mengenakkan, ternyata ada makhluk gaib disini."
Mendengar ucapan tersebut, Baekhyun lantas menoleh dengan sengit.
"Jika kau tak ingin api rokok ini mengenai wajahmu, lebih baik diam saja."
Tawa Chanyeol meledak, tidak! Bukannya lucu. Hanya saja... Entahlah, rasanya Chanyeol benar-benar ingin tertawa saat ini.
"Aku harap kau tersedak dengan lolipopmu." Sinis Baekhyun.
Menyadari rasa ketidaksukaan dari lelaki di sebelahnya, Chanyeol segera menutup mulut. Ia mengulum lolipopnya kembali. Lelaki tinggi itu berjalan mendekati Baekhyun. Dengan tidak sopannya, ia meraih rokok Baekhyun lalu membuangnya ke tengah hujan.
"Yak! Apa-apaan kau ini_mmm."
"Orang pendek di larang merokok, nanti kau semakin pendek."
Baekhyun terbengong, lidahnya yang semula ingin bergerak mengucap kata seakan kelu. Lolipop di mulutnya terasa hangat. Bekas bibir pemuda jangkung itu masih terasa disana. Perasaan aneh itu kembali menyeruak ke dalam hatinya yang terdalam.
Seseorang memperhatikan interaksi keduanya dari balik mobil. Lelaki itu segera menghubungi nomor kontak penting di ponselnya. Tanpa menunggu lama, seseorang di sebrang sana langsung mengangkat panggilannya.
"Ya Tuan, dia bersama lelaki yang kemarin lagi. Nama pemuda itu Park Chanyeol."
'Cari tau lebih lanjut.'
"Baik tuan."
.
.
Ajakan rekan lama memang tak bisa di hindari. Jika kau menolak, maka kau dianggap sombong. Maka dari itu, akhirnya Chanyeol menerima ajakan Zelo untuk menonton konser band rock favoritnya. Oke, Chanyeol sejujurnya tidak suka dengan keributan. Jika membuat keributan, dia suka.
"Yak! Tempat sialan ini membuat telingaku hampir pecah!" Teriak Chanyeol, maklum saja, suaranya takkan bisa terdengar jika ia berbicara dengan volume suara yang lemah.
"Sudahlah! Nikmati saja! Kau akan melihat hal menarik setelah ini Yeol!"
Mereka berada di salah satu club di daerah Hongdae. Tempat ini sudah di sesaki dengan puluhan bahkan mungkin ratusan orang yang kebanyakan perempuan. Teriakan-teriakan khas fangirl membuat Chanyeol risih bukan main. Bahkan beberapa kali, kakinya terpijak oleh beberapa orang.
Lagu beraliran keras itu terus terlantun. Vokalis di depan sana bernyanyi- tepatnya berteriak seperti orang gila. Ini benar-benar sialan!
Puncaknya ada pada bagian akhir, saat dimana sang vokalis menarik seorang perempuan berpakaian minim. Mata Chanyeol hampir keluar dari rongganya saat melihat dua orang di depan sana berciuman dengan panas. Apalagi tindakan anarkis gadis-gadis dan sorak sorai menggoda lelaki disana membuatnya tidak tahan lagi.
"Kau berniat mengajakku menonton video porno secara langsung?! Brengsek kau!"
"Yak, Chanyeol-a, tunggu! Kau mau kemana?"
Setelah terbebas dari padatnya lautan manusia, Chanyeol bisa menghirup udara segar juga pada akhirnya. Zelo mengejarnya dengan nafas terengah.
"Hey man! Ada apa denganmu_"
"Lain kali jangan pernah membohongiku. Aku tidak suka melihat hal seperti itu."
Bukannya takut, Zelo justru tertawa geli. Hey! Chanyeol itu rajanya video porno saat SMP. Jadi... Kenapa dengan dia?
"Apa kau sudah bertobat sejak masuk SM high school? Kemana phoenix kami yang liar?"
"Omonganmu seolah aku sering melakukan hal cabul saja. Sudahlah, aku mau pulang saja."
Zelo masih mengikuti langkah Chanyeol. Beberapa pertanyaan terus terlontar dari bibirnya.
"Hey, apa kau mau pulang? Come on dude! Kita belum berpesta minuman, teman-teman kita yang lain sudah menunggu di markas."
Langkah Chanyeol terhenti, ia menoleh dengan wajah tak minat.
"aku lelah, aku butuh istirahat Zelo."
"Yayaya, alasanmu selalu seperti itu. Park Chanyeol, ternyata jarak bisa mengubah sikapmu. Kau benar-benar tidak asik!" Ujar lelaki itu. Sepertinya Zelo benar-benar tidak suka dengan sikap Chanyeol yang sekarang. Ia hanya merasa Chanyeol berbeda dari Chanyeol yang ia kenal dulu.
Niatannya hanya agar Chanyeol merasa tidak enak dan akhirnya mengikutinya kembali. Sayangnya, Chanyeol justru berlari berlainan arah.
"Tolong!"
Mendengar jeritan meminta tolong, lantas Zelo langsung berdecak. Satu hal yang tidak berubah dari Chanyeol, ia tidak bisa melihat orang lain menderita.
"Aish, si brengsek itu!"
Sementara itu, disisi lain, Chanyeol benar-benar tidak menyangka melihat orang di depannya.
"Luhan?"
Lelaki cantik itu terisak pelan. Dua orang pria berbadan kekar memegang tangannya.
"Mau apa kau anak muda? Pergi dari sini. Ini bukan urusanmu."
Kilat mata Chanyeol berubah. Tatapannya berubah dingin. Di dekatinya dua lelaki itu lalu menyentak tangan mereka dari tubuh Luhan.
"Tentu ini urusanku karena Luhan adalah temanku."
Luhan berdiri dengan tubuh bergetar, ia mendekat ke arah Chanyeol dengan cepat.
"Ah, sudah berani rupanya. Baiklah, jika begitu, terima ini!"
BUAGHH...
"Tidak secepat itu pak tua."
Salah satu pria tersebut tersungkur. Gerakannya kalah cepat dari Chanyeol. Tendangan, pukulan terus dilayangkan Chanyeol bertubi-tubi. Melawan dua orang seperti ini tidaklah sulit untuk dirinya. Walau beberapa kali Chanyeol sempat mendapat pukulan juga di wajahnya, tetapi Phoenix tetaplah Phoenix. Ia takkan bisa tumbang hanya dengan sekali pukulan saja.
"Chanyeol awas!"
Sebuah balok kayu mengarah ke kepala Chanyeol. Sayangnya, keinginan si pria asing itu untuk menghantam kepala Chanyeol dengan kayu gagal. Zelo lebih dulu memukul tengkuk pria itu hingga pingsan.
"Jika kau berani mengganggunya lagi, maka bersiaplah mati di tanganku." Ujar Chanyeol dingin. Pria asing yang masih tersadar itu mengangguk lalu lari terbirit-birit.
"Lu, kau tidak apa-apa?"
GREPPP...
"Hiks... Aku takut..."
Chanyeol terkejut bukan main saat Luhan memeluk tubuh Chanyeol sangat erat. Telapak tangannya hendak membalas pelukan tersebut namun ia enggan.
"Hey, kau mengenalnya Yeol?"
Chanyeol menoleh ke arah Zelo lalu mengangguk mengiyakan.
"Sudah, jangan menangis lagi. Sekarang, kenapa kau bisa disini? Bisa ceritakan padaku?"
Dengan perlahan Luhan melepas pelukannya. Ia menatap wajah Chanyeol lamat-lamat.
"Aku tidak tau. Tadinya aku hanya lewat disini tetapi dua pria tadi tiba-tiba saja menarikku."
Zelo memperhatikan dua orang di hadapannya. Namun fokus utamanya bukan hal itu, melainkan wajah Luhan. Ia merasa tidak asing dengan wajah itu.
"Yasudah, yang penting kau baik-baik saja sekarang. Ayo, biar ku anta pulang."
Satu yang tak Chanyeol ketahui, jika Luhan diam-diam menyeringai. Entahlah, mungkin itu adalah satu dari banyak rencana yang ia punyai.
.
.
Baekhyun baru saja selesai dari acara membersihkan diri. Lelaki itu sibuk mencari pakaian sekolahnya di dalam lemari. Terlalu sibuk mencari hingga tak sengaja siku tangannya menyenggol sebuah kotak persegi berwarna kecoklatan yang terselip diantara tumpukan baju. Kotak tersebut terjatuh, menimbulkan suara yang mengejutkan dalam keheningan pagi itu. Seluruh isinya tersebar, puluhan lembar foto dan juga beberapa benda asing ada disana.
Pemuda bermata sipit itu berjongkok untuk mengumpulkan benda-benda yang berserakan tersebut. Tetapi, gerakan tangannya terhenti saat melihat objek yang berada di tiap lembar-lembar foto itu. Dirinya yang semula bertingkah terburu-buru menjadi enggan untuk melakukan hal lain selain melihat foto-foto tersebut. Kenangan masa lalu itu tiba-tiba terulang kembali bagaikan film.
Flashback...
Aku seorang yang beruntung, begitulah anggapan orang-orang. Sejak kecil, aku terbiasa hidup dalam kemewahan. Si putra tunggal keluarga Byun yang akan mewarisi kekayaan di saat aku dewasa nanti. Semula, aku juga berfikir demikian. Disaat ibu masih ada disisiku semua terasa lengkap. Ayah yang masih menyayangiku dan ibu yang selalu memperhatikanku.
Semua berubah, disaat ibu pergi untuk selamanya. Ayah menitik beratkan kesalahan padaku. Aku yang masih lugu saat itu tak mengerti. Semakin hari, aku baru paham jika kecelakaan itu yang membuat ayah menyalahkanku. Aku yang terlalu aktif tak mendengar omongannya. Aku terus bermain hingga tak sengaja bola kesayanganku menggelinding ke jalanan. Baekhyun si polos dengan santainya mengambil bola tersebut. Baekhyun yang bodoh! Ibu menyelamatkan Baekhyun yang bodoh ini, hingga ia harus merelakan nyawanya demi aku.
Sejak saat itu, ayah bertingkah dingin padaku. Seolah aku hanyalah orang asing. Ia memang tetap memberi segala kebutuhanku. Hanya saja perhatian itu tidak ada lagi. Waktuku lebih banyak bersama kepala pelayan Jung. Hidupku selalu diatur. Belum lagi, ayah selalu melampiaskan emosinya dengan memukulku. Bahkan pada satu moment, ia hampir membunuhku...
Terlalu ironi hidup ini bukan?
Aku mulai muak dengan semuanya. Aku benci, hidup seperti ini tidak akan membuatku bahagia. Saat aku berada di junior high school, aku mulai berubah. Berkelahi, merokok bahkan membully orang yang lemah adalah kebiasaanku sejak itu. Tak ada yang mau berteman denganku, mereka bilang aku mengerikan. Tetapi, hanya ada satu orang yang berani mendekatiku. Dia seperti hyung yang selalu memperhatikanku. Sejak itu, dia seolah menjadi cahaya hidupku yang baru.
"Hey, perkenalkan, aku Kim Minseok."
"Pergi."
"Aigoo, wajahmu terlalu imut untuk menjadi berandalan."
"Ku bilang pergi! Sialan!"
Dia tak pernah peduli dengan ucapan kasar yang ku lontarkan. Minseok hyung, dia adalah seseorang yang berarti bagiku.
Namun... Aku memang perusak. Aku menghancurkan mimpi besarnya. Sejak itu, dia mulai menjauh, dia menghilang... Dia ... Entah dimana dia saat ini. Aku benar-benar merindukannya...
Flashback (Off)
Baekhyun terduduk, memejamkan kedua matanya erat. Tidak, ia tak boleh bersedih lagi. Itu bukan dirinya sama sekali. Masa lalu hanyalah sebuah pelajaran, bukan untuk ditangisi terus menerus.
TOK... TOKK...
"Tuan muda, saya membawa paket yang dikirimkan untuk anda."
Baekhyun berdiri, membenahi bathrobe hitamnya. Ia berjalan menuju pintu lalu melihat kepala pelayan Jung sudah berdiri disana. Pria paruh baya itu menyerahkan paket berbungkus kertas kecoklatan.
"Dari siapa?"
"Tidak ada nama pengirimnya, Tuan muda."
"Baiklah, kau boleh pergi."
Langkah kaki Baekhyun terburu menuju ranjang berada. Di bukanya bungkusan tersebut. Hal tak terduga, Baekhyun menjerit saat melihat sebuah boneka berlumuran darah. Kapas-kapas boneka tersebut keluar. Tubuh Baekhyun bergetar, sebuah surat di dalam amplop hitam menjadi perhatiannya sekarang. Masih dengan keadaan gemetar, ia meraihnya, membuka amplop tersebut lalu mulai membaca surat-surat yang ada disana.
Kebahagiaanmu adalah kesialan bagiku. Kau adalah penghancur mimpi orang lain demi mimpimu sendiri! Semua orang membencimu Byun Baekhyun! Kau pembawa sial!
Alis Baekhyun berkerut, memikirkan siapa si pengirim surat ini. Minseok? Mungkinkah? ...
.
.
"Ini benar-benar aneh." Komentar Sehun lebih dulu. Ia memberi surat itu ke tangan Kai. Pemuda berkulit tan itu juga membaca dengan seksama surat tersebut.
"Ia menggunakan huruf-huruf yang di ambil dari koran. Mungkin ia sengaja melakukannya agar tulisannya tidak bisa kita deteksi."
Baekhyun menunduk, memijat pelan tengkuknya. Ia benar-benar bingung soal ini.
"Menurutku sudah jelas. Yang mengetahui perihal hubunganmu dan Minseok adalah kami dan Vernon. Tidakkah kau berfikir jika itu dia?" Ujar Kai.
Vernon? Mungkinkah lelaki itu? Tetapi...
"Atau, ini memang Minseok hyung_"
"Jangan gila Baek! Minseok takkan mungkin melakukan ini! Jika memang dia, kenapa baru sekarang ia menerormu? Kenapa tidak dari dulu?" Potong Kai cepat.
"Aku akan mencari tau hal ini. Jika pelakunya ku ketahui, aku takkan segan untuk menghancurkannya."
Kai dan Baekhyun saling tatap mendengar ucapan Sehun tersebut. Baekhyun lebih dulu mengangguk, ia sudah pasrah dengan keadaan ini. Kata-kata itu, jujur saja... Baekhyun merasa sakit membacanya. Ia benar-benar tidak suka disebut pembawa sial. Dan juga yang terpenting, rasa bersalah Baekhyun benar-benar menghantuinya.
.
.
Tak ada yang berubah, sekolah terlihat damai-damai saja akhir-akhir ini. Lightsaber tidak berulah seperti dulu. Itu menjadi sebuah keuntungan bagi siswa-siswa yang tertindas. Banyak rumor mengatakan jika ketua Byun sedang vakum dari kegiatannya. Chanyeol melihat pemuda berambut merah itu di ujung koridor. Tak lupa sepuntung rokok seperti biasa selalu terapit di kedua belah bibir manisnya.
"Hey! Kalian berdua!"
Teriakan guru Han membuat dua pemuda itu menoleh. Yang tinggi menatap penuh tanya, sementara yang lebih pendek memandang dengan malas, tak bersemangat sama sekali.
"Aku tidak melakukan kesalahan apapun Pak." Ucap Baekhyun tidak bergairah.
"Bukan soal itu. Aku ingin meminta bantuan pada kalian berdua. Tolong bawakan buku yang ada di mejaku ke perpustakaan lalu susun dengan rapi."
"Tapi kenapa kami? Kenapa tidak_"
"Diamlah Tuan Park, anggap saja karena menurutku kalian adalah siswa 'terkuat' untuk mengangkat buku-buku itu." Ujar guru Han dengan mempertegas kata terkuat disana.
"Aish... Merepotkan saja!"
Dan disinilah keduanya. Di ruangan yang paling Baekhyun benci. Bau buku-buku sudah tercium dari arah pintu masuk. Beberapa nerd terkejut saat melihat kedatangan Byun Baekhyun disana.
Lelaki itu berjalan dengan wajah angkuhnya, seperti biasa, ingin mempertahankan gelar sebagai pihak yang paling ditakuti. Melihat hal tersebut, Chanyeol justru menggeleng pelan. Lama-lama, ia jadi merasa sikap Baekhyun bukannya mengerikan, melainkan kekanak-kanakan.
Keduanya telah sampai pada rak yang dituju. Sial sekali memang, letak buku sosiologi berada pada rak yang sangat tinggi. Mungkin, tangga adalah solusi utama untuk menjangkaunya.
"Siapa yang akan memanjat?"
Pertanyaan tesebut spontan saja keluar dari bibir Chanyeol.
"Aku saja, kau susun saja di bagian bawah."
Ingin rasanya Chanyeol tertawa. Hey, Baekhyun itu sombong sekali, sudah tau pendek, masih saja sok merasa tinggi.
Lelaki bersurai merah itu mulai menaiki tangga satu persatu. Sudah sampai pada puncak yang paling atas, Baekhyun justru berdiri tanpa bergerak sedikit pun. Perlahan ia menoleh ke bawah, hendak memanggil Chanyeol maksudnya. Tetapi malang sekali, ia justru merasa pusing bukan main.
"Hey! Ambilkan buku disana!"
Chanyeol hanya diam, melanjutkan untuk menyusun buku di bagian bawah.
Merasa kesal karena tidak di pedulikan, Baekhyun mulai memanggil lagi. Kali ini dengan suara yang lebih lantang.
"Yak! Kau tuli hah?!"
Pemuda jangkung dibawah sana mendongak, memasang wajah datarnya. Ia mengembangkan senyuman sinisnya.
"Maaf? Kau memanggilku? Aku punya nama, Byun!"
Kaki-kaki Baekhyun mulai lemas. Ia gemetaran sejak tadi. Satu hal kelemahannya yang tidak di ketahui orang banyak, Baekhyun takut ketinggian. Lain halnya dengan rooftop sekolah (dia tidak berdiri di pinggirannya kan?).
"Ambil saja cepat, apa sulitnya heh?"
Kali ini Chanyeol tersenyum tampan, ia mengedikkan bahunya tidak peduli.
"Kau memerintahku, aku tidak suka Baekhyun. Panggil namaku dan memohonlah seperti manusia normal."
"Apa? Jadi maksudmu aku tidak normal?"
"Ya, bisa jadi begitu kan?"
Gemelutuk dari kedua gigi Baekhyun terdengar. Jika saja keadaannya tidak genting begini, Baekhyun takkan pernah mau berucap lembut di hadapan Park fuckin' Chanyeol!
"Baiklah... Park Chanyeol, t-tolong ambil buku di bawah sana dan serahkan padaku."
Cih! Benar-benar! Egonya tinggi sekali. Chanyeol benar-benar semakin ingin menghancurkan ego tinggi seorang Byun Baekhyun.
"benar-benar... Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan melempar satu persatu dan kau harus menangkapnya."
"Ya, cepatlah! Aku lelah sialan!"
lemparan Chanyeol begitu tinggi, pada lemparan pertama Baekhyun bisa menangkapnya dengan mudah. Hingga pada lemparan kelima, itu terlalu jauh. Tangan Baekhyun berusaha menangkapnya. Sayang sekali, ia lupa mengeratkan pegangan tangan kirinya pada anak tangga. Tubuhnya oleng ke belakang. Pemuda itu ingin berteriak, tetapi suaranya seakan hilang begitu saja.
"Awas!"
BRUKK...
Desisan sakit terdengar begitu jelas. Chanyeol merasakan jika punggungnya seperti hampir patah. Belum lagi beban manusia di atas tubuhnya sekarang.
"Sial, apa kau bodoh hah?! Bagaimana jika tubuhmu menyentuh lantai? Tulangmu bisa patah!"
"Aish! Itu bukan urusanku! karena..."
"Karena?"
Bukannya menjawab, Chanyeol justru diam. Menatap wajah Baekhyun dalam jarak dekat. Telapak tangan besarnya bergerak mengelus pipi Baekhyun. Hampir saja kejadian kemarin-kemarin terulang kembali. Tetapi Baekhyun memilih untuk menyingkir lebih dulu.
Baekhyun menyingkir dari atas tubuh Chanyeol. Sejujurnya, ia juga tidak mau kejadian ini terjadi. Aigoo, kenapa jadi mirip seperti drama korea? Menggelikan sekali! Dengan kikuk ia menggaruk kepalanya. Ya! Kenapa Baekhyun bertingkah seperti itu?
"Kau benar-benar aneh!"
Deheman suara Chanyeol sengaja ia keraskan. Lelaki tinggi itu tertawa garing. Ia benar-benar merutuki dirinya yang bisa-bisanya terbawa suasana seperti tadi.
" Aneh bagaimana? Bisa kau jelaskan lebih rinci?"
Wajah Baekhyun menunjukkan kebingungan atas ucapannya sendiri. Aneh. Dari segi hal apa? Wajah? Tidak! Tingkah laku? Mereka satu spesies kan? Lalu apa?
"Fikir saja dengan otakmu." Ujarnya datar. Buru-buru ia meninggalkan perpustakaan agar tidak berdekatan dengan si jangkung yang masih terbengong melihat kepergian Baekhyun.
.
.
Dua bulan lalu tuan Byun berangkat ke luar negeri untuk urusan bisnisnya. Selama itu pula ia tak pernah absen untuk menyuruh orang suruhannya memata-matai anaknya. Sosok pemuda bernama 'Park Chanyeol' yang ia lihat beberapa waktu lalu membuatnya was-was. Selama ini ia memang tak pernah mempedulikan kegiatan Baekhyun maupun siapa saja yang berteman dengan anaknya. Namun, seberapa besarnya pun rasa tidak sukanya pada Baekhyun, anak itu tetaplah anaknya. Maka dari itu ia tak ingin Baekhyun menyimpang dan mempermalukan nama baiknya.
Tangannya meremas kuat beberapa lembar foto yang ia dapatkan dari bidikan orang suruhannya. Semuanya adalah foto Baekhyun dengan Park Chanyeol.
"Bagaimana latar belakang keluarga anak ini?"
"Ayahnya seorang inspektur kepolisian di distrik . Sedangkan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa."
Polisi? Jika tuan Byun ingin menghancurkannya, terang saja tidak mungkin. Akan sangat berbahaya.
"Tetapi sejauh ini, sepertinya tuan muda memang tidak memiliki hubungan apapun dengan Park Chanyeol, tuan."
Pria paruh baya itu mengusap tengkuknya. Akhir-akhir ini pekerjaan kantor begitu banyak, fikirannya begitu banyak dan semakin rumit dengan kelakuan sang anak.
"Awasi terus Baekhyun. Dan... Beri sedikit pelajaran pada bocah bernama Chanyeol itu."
.
.
Vernon dan Luhan berada di ruangan olahraga. Keduanya seperti sedang sibuk membicarakan suatu hal. Entah hal penting apa itu hingga membuat keduanya harus berbicara di tempat sepi seperti ini.
"Jadi... Apa alasanmu membenci Baekhyun?"
Vernon memainkan bola basket di tangannya. Sesekali akan tertawa, entah karena apa.
"Alasan konyol sebenarnya. Dulu, aku pernah menyukainya."
Luhan terbatuk, tersedak dengan minumnya saat mendengar ucapan Vernon. Menyukai? Lantas... Mengapa ia terus menerus menyakiti Baekhyun sampai saat ini?
Seolah mengerti dengan kebingungan Luhan, Vernon kembali melanjutkan ceritanya.
"Namun, pada satu moment, dia begitu arogan. Aku selalu ditindak oleh beberapa pihak karena aku tidak murni orang Korea. Mereka menyebutku manusia Asing. Saat itu kami masih kelas 3 SMP. Namun Baekhyun menyelamatkanku, tanpa sengaja. Sejak itu, aku selalu mengekorinya kemana saja. Tetapi... Dia ternyata membenci hubungan sesama jenis. Aku dipermalukan di depan semua orang. Aku semakin tertindas, sejak itu aku balik membencinya. Aku ingin dia dipermalukan juga. Tetapi sayang, dia semakin bersinar dan hebat dalam segala hal. Aku tidak bisa mengalahkannya. Segala cara ku lakukan, bahkan menghancurkan impiannya. Temannya."
"Teman?"
"Ah... Sudah, lupakan saja. Sekarang giliranmu."
"Tidak banyak, aku benci karena dia begitu menyebalkan. Hanya itu. Pembullyan itu yang membuatku membencinya. Jadi... Apa rencana kita?"
Vernon tersentak dari lamunannya. Merasa penjelasan Luhan kurang memuaskan rasanya.
"Rencana? Baekhyun takkan mempan di lawan dengan kekerasan, dia lebih unggul. Lightsaber tak selemah itu untuk ditaklukan."
Alis berkerut, sedikit banyaknya ia menyetujui ucapan Vernon. Baekhyun itu kuat, tidak mudah menjatuhkannya.
"Bukankah kau banyak uang? Kenapa tidak hancurkan dengan uangmu?" Usul Luhan.
"Uangku? Ayolah, Kekayaan keluarga Byun setara dengan kekayaanku, itu tak ada artinya sama sekali. Hanya ada satu cara. Kita hancurkan dengan kelemahannya."
"Kelemahan? Apakah iblis seperti dia memiliki kelemahan?" Perntanyaan sakartik Luhan membuat Vernon tertawa. Luhan, wajahnya saja yang polos, ternyata sifat aslinya seperti ini? Memang benar kata pepatah, jangan menilai sesuatu dari luarnya saja.
"Iblis? Hahaha, dia tidak sejahat itu Luhan. Jika kau tau, dia hanyalah pemuda rapuh yang bersembunyi dibalik topeng iblisnya."
Ucapan Vernon membuat Luhan memutar bola matanya malas. Menurutnya ucapan Vernon terlalu bertele-tele sekali.
"Baiklah, jadi apa Kelemahan dia?"
"Hanya seorang teman lama. Teknik klasik, berikan dia umpan lalu disaat dia telah berada di dekat jaring, tangkap dia."
Luhan mengangguk pelan, walau benaknya begitu penasaran dengan siapa 'teman lama' yang di maksud Vernon disini. Sebuah perasaan tidak menyenangkan tiba-tiba merayap di hatinya.
"Satu lagi Luhan, kau tidak bisa mundur jika terjadi sesuatu yang tidak menguntungkan. Ah... Aku juga tau, kau menyimpan rasa pada Park Chanyeol, benar? Ku lihat lelaki itu sepertinya menyukai Baekhyun."
Tatapan Luhan berubah datar, tangannya mengepal erat. Seulas senyum sinis terkembang di bibirnya.
"Aku bukan orang yang ingkar janji."
.
.
Chanyeol mendatangi kelas Baekhyun, menimbulkan kehebohan bagi murid lainnya. Lelaki itu menepuk kepala Baekhyun hingga pemuda itu tersadar dari tidurnya.
"Aish... Kenapa?"
"Ikut aku, penting!"
Tanpa aba-aba Chanyeol segera menarik tangan Baekhyun menjauhi kelas. Mereka berlari-lari di sepanjang koridor. Tujuan utama Chanyeol adalah atap sekolah. Namun, secara mendadak ia menghentikan langkahnya.
"Kau ini kenapa? Apa maksudmu_"
"Sst... Diam."
Lelaki itu mendorong tubuh Baekhyun, tepatnya menghimpitnya di dinding. Derap langkah terdengar, beberapa orang berjas ada disana.
Chanyeol membekap mulut Baekhyun dengan tangannya. Matanya tak henti-hentinya mengawasi orang-orang disana. Mereka bersembunyi di baliik tangga.
Baekhyun mendongak, ingin protes sebenarnya. Namun, melihat wajah itu dalam jarak sedekat ini membuatnya enggan melempar protes, terlebih mulutnya memang tidak bisa berbicara sekarang. Ia bisa merasakan nafas hangat itu kembali menyapu wajahnya dengan pelan. Ini adalah sosok Phoenix, sisi lain dari seorang Phoenix yang dingin dan menakutkan.
"Mereka datang." Bisik Chanyeol.
Salah satu pria berjas disana sepertinya menyadari keberadaan Baekhyun. Ia berjalan mendekati dua orang itu. Maka dengan cepat, Chanyeol segera memeluk Baekhyun, memposisikan kepalanya di ceruk leher Baekhyun. Baekhyun terkesiap, tangannya refleks mencengkram rambut Chanyeol. Apalagi ketika tak sengaja bibir tebal itu menyentuh lehernya.
Si Pria berjas terkejut melihat posisi intim dua siswa di hadapannya. Ia sampai lupa tujuan awalnya. Dengan kikuk, pria itu menggaruk tengkuknya lalu segera berlalu dari sana.
"Dasar anak-anak zaman sekarang, tidak tau tempat." komentarnya sebelum pergi.
Disaat pria-pria itu pergi, Chanyeol segera melepas 'pelukannya'. Ia menghembuskan nafasnya kasar lalu tersenyum lega.
Baekhyun berdehem, mengusir perasaan aneh dihatinya.
"Apa maksudmu? Dan siapa orang tadi?"
"Itu, mereka orang suruhan ayahmu. Secara tak sengaja, aku mendengar percakapan guru Han dan ayahmu. Ayahmu bilang dia akan membawamu pulang, ingin membicarakan suatu hal. Aku tingin kau_"
"apa hobimu mencampuri urusan orang lain?"
"Baek, bukan begitu_"
"Cukup, Park Chanyeol. Kau seolah bertingkah tau dengan semuanya. Berhenti bersikap seperti itu, urus urusanmu sendiri!" Teriak Baekhyun tidak suka.
"Aku hanya tidak ingin kau terluka! Aku tidak ingin kau dipukuli lagi, aku tidak ingin kau merasakan sakit lagi, kenapa kau tidak mengerti?!" Balas Chanyeol sengit, nafasnya terengah-engah, menahan emosi.
"Kau mengasihaniku? Itu bukan urusanmu Chanyeol. Kau tidak usah memberi simpati, itu hanya akan membuatku tampak menyedihkan." Ujar Baekhyun, kali ini dengan nada suara yang lemah.
"Aku tidak... Aku hanya ingin melindungimu, itu saja..."
Baekhyun terkekeh geli, bukan! Ia hanya bersandiwara. Sejujurnya, ada perasaan hangat. Ternyata di dunia ini masih ada yang ingin melindunginya?
"Tidak perlu, aku cukup kuat melindungi diriku sendiri."
"Tetapi matamu berkata tidak." Lirih Chanyeol.
"Hentikan! Jangan pernah bertindak seperti ini lagi, kau begitu menjijikkan."
Chanyeol menatap kosong punggung Baekhyun yang menjauh. Ia meremas dada sebelah kirinya. Rasanya, kenapa begitu sakit? Baru kali ini dia merasakan perasaan sakit yang seperti ini.
"Aku hanya ingin mengatakan, jika aku melakukannya karena aku peduli dan... Aku menyayangimu. Dasar bajingan tengik!"
Seseorang di atas tangga membelalakkan matanya. Ia mendengar semuanya. Sedekat itukah hubungan mereka sekarang? Orang itu meneteskan air matanya. Menatap sendu lelaki dibawahnya.
"Sepertinya Byun Baekhyun telah berhasil menghancurkan impianku... Lagi." Ucap lelaki bersurai keemasan itu.
.
.
Perkataan Chanyeol tadi siang membuat Baekhyun dilanda perasaan hangat dan kesal di saat bersamaan. Ia menatap pantulan dirinya di depan cermin.
'Apakah, tatapan mataku begitu jelas jika aku terluka?'
Baekhyun memegang pipinya, bekas tamparan sang ayah masih terjiplak jelas disana.
'Dia berniat melindungiku.'
Baekhyun menunduk sedih. Tadi siang, saat ia sampai di rumahnya, tuan Byun kembali memukul dirinya dengan alasan jika Baekhyun mempermalukan dirinya. Mata sipit Baekhyun masih merekam dengan jelas, kemarahan sang ayah disebabkan oleh lembaran fotonya bersama Chanyeol.
"Kau ingin menjadi menyimpang? Tidak cukupkah kau membuatku sengsara?!"
'Justru kau yang membuat hidupku sengsara, ayah...'
Baekhyun menengadahkan wajahnya agar air matanya tidak menetes.
"Brengsek!" Umpatnya, menyalurkan emosi yang ia miliki.
Ponselnya berbunyi, Sebuah pesan singkat. Seseorang yang tak dikenal menghubunginya. Ini nomor baru.
Dengan rasa penasaran, ia mulai membaca pesan tersebut. Tak butuh waktu lama, Baekhyun segera berlari, mengambil kunci mobilnya. Ia segera pergi menuju tempat yang ditujunya. Menemui seseorang yang telah lama ia rindukan...
.
.
TBC
.
.
Long time no see guys! Maaf buat keterlambatannya. Sumpah, aku lagi sibuk ujian formatif, jadi ya gitu. Lagian, sempat kena virus 'stuck', makanya gini... Maaf ya? Padahal aku udh janji update fast kemarin itu. Huhu...
Semoga chapter ini bisa memuaskan kalian.
Buat yang reviews, thanks ya ? Kalian itu yang buat aku semangat lanjutin ini lagi.
Chapter depan mungkin bakal jadi adegan klimaks, atau semi-klimaks(?) , hehe... Tunggu aja deh rencana Vernon berjalan.
Oke, sekian bacotannya.
Buat yang mau berteman dengan author dandelionleon, silahkan berteman di :
Fb : Rizki Zelinskaya
Twitter : Yeollo_Banana (tambahkan tanda 'at' di depannya)
oke, see you in next chapter!
