Title : Lightsaber
Author : DandelionLeon
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Choi Vernon, Luhan, Oh Sehun, Kim Jongin, and other cast temukan sendiri.
Genre : Romance/? , Drama, Friendship, School-life
Rate : T - M
Disclaimer : this story is mine. Cast disini cuma pinjam nama.
Warning! Yaoi, Typo, Bahasa kasar, alur gak jelas, dimohon tinggalkan jejak dengan review yang baik, tidak menerima judge.
.
.
Luhan mengintai kediaman Byun dari jarak jauh. Seulas senyum licik terpatri di bibirnya. Rencana Vernon benar-benar briiliant menurutnya. Memancing musuh dengan sesuatu yang berharga dari miliknya. Terdengar klasik, namun sepertinya itu berhasil karena kini Baekhyun berjalan terburu menuju mobilnya.
Alih-alih merasa begitu senang, Luhan justru merasakan suatu keganjilan. Rasa penasaran membebani pemikirannya tentang siapa sosok masa lalu Baekhyun yang dimaksud Vernon sebenarnya. Namun siapa yang peduli? Yang terpenting dengan ini Baekhyun akan hancur, itu yang ia inginkan sejak dulu.
Vernon sengaja mengirimi Baekhyun pesan. Mengatakan jika ia adalah 'teman lama' yang dimaksud pemuda itu. Reaksi luar biasa, Baekhyun terpancing dengan mudah. Sepertinya pemuda itu tidak curiga sama sekali. Jika sang mangsa telah masuk ke dalam perangkap, maka tinggal menjalankan misi utama mereka.
'Dengan cara apa menghancurkannya? Byun Baekhyun takkan tumbang hanya karena pukulan.'
Seringai Vernon melebar, saat mendengar pertanyaan Luhan. Ia mendekatkan wajahnya pada pemuda berwajah cantik itu.
'Harga diri adalah hal terpenting di hidupnya. Aku akan menghancurkan harga dirinya, dengan demikian kesombongan Baekhyun akan hancur.'
Luhan masih tak mengerti akan perkataan Vernon tersebut.
'M-maksudmu... Kau akan_'
'Mungkin mencoba tubuhnya sekali takkan masalah bukan? Aku yakin, Byun Baekhyun akan merasa hancur.'
Luhan tersentak dari lamunannya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Perkataan Vernon tentang rencana busuknya membuat Luhan bergidik ngeri. Terlalu lama berkutat dengan pemikirannya, ia sampai lupa jika Baekhyun sudah pergi menjauhi kediamannya. Luhan segera menghubungi Vernon di markas utama.
.
.
Baekhyun Mengendarai mobil dengan pemikiran berkecamuk. Deretan pesan singkat yang ia terima tadi membuatnya diliputi perasaan senang namun juga bimbang. Sejujurnya ia merasa kebingungan, hampir tiga tahun berlalu dan baru kini Xiumin menghubunginya?
'Hai Baek? Bagaimana kabarmu? Aku sedang di Korea sekarang. Bisakah kita bertemu? Aku ingin membicarakan satu hal. Temui aku di Eclaire café di daerah Hongdae. Aku merindukanmu, Xiumin.'
Baekhyun tesenyum tipis, ia akan meluruskan masalah yang belum ia selesaikan sebelumnya.
CKIITTTT...
Terlalu asyik dalam dunianya, hingga fokusnya hampir buyar. Jantung Baekhyun berdetak cepat saat menyadari jika ia hampir menabrak seseorang. Dengan cepat Baekhyun keluar dari mobilnya, ia ingin melihat keadaan seseorang yang hampir menjadi korban tabrakannya.
"Ommo! Bibi Park?"
Wanita paruh baya itu terkejut melihat kehadiran Baekhyun. Ia bersusah payah bangkit dengan bantuan Baekhyun. Wajah nyonya Park terlihat pucat. Melihat hal tersebut, Baekhyun segera membawa wanita itu duduk di depan pertokoan. Orang-orang yang semula ramai mulai membubarkan diri.
"Maafkan aku, bibi. Aku terlalu terburu-buru."
"Tidak apa-apa, bibi hanya terkejut."
Baekhyun menatap nyonya Park dengan rasa bersalah. Ia tersenyum tipis saat wanita itu menepuk tangannya pelan.
"Ibu! Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?!"
Baekhyun terkejut saat Chanyeol datang secara tiba-tiba dengan menenteng plastik belanjaan. Penampilannya benar-benar berbeda dari Chanyeol yang biasanya. Ia hanya mengenakan kaos oblong biru dengan celana selutut hitam dan sendal jepit. Jika keadaannya memungkinkan, mungkin Baekhyun akan mengejek Chanyeol habis-habisan. Phoenix si anak yang patuh terhadap ibunya.
"Sudah, tidak apa-apa_"
"Tidak apa-apa bagaimana?! Jika ibu tertabrak bagaimana?! Siapa pelakunya? Aku akan_ Hey! Kenapa ada makhluk ini?"
Baekhyun menatap Chanyeol dengan datar. Ia kembali mengelus pundak nyonya Park.
"Jangan bilang jika si pendek ini pelakunya?"
"Ya, aku tidak sengaja." Ucap Baekhyun mengakui.
Chanyeol menatap ibunya shock. Kenapa dunia itu begitu sempit? Kenapa si pendek ini selalu ada dimana-mana?
"Bibi, sepertinya aku harus pamit. Ada suatu hal yang harus ku temui secepatnya. Lain kali aku akan menjengukmu ke rumah."
"Iya, berhati-hatilah jika berkendara."
Baekhyun membungkukkan dirinya. Ia menatap Chanyeol sejenak lalu berjalan terburu menuju mobilnya.
"Yeol? Ayo, kita pulang."
Chanyeol mengangguk pelan. Saat hendak meninggalkan tempat tersebut, matanya melihat benda persegi panjang berwarna keemasan. Ia segera meraihnya lalu mulai mengotak-atik benda tersebut.
"Punya Baekhyun?"
Ia menghela nafas pelan, sepertinya hidupnya memang selalu terkait dengan Baekhyun akhir-akhir ini. Entahlah itu bisa disebut sebagai kemalangan atau justru keberuntungan.
"Setelah ini, aku akan mengantarkannya."
.
.
Chanyeol telah selesai dengan urusannya untuk mengantar sang ibu sampai ke rumah dengan selamat. Ia izin pamit setelahnya untuk mengantar ponsel Baekhyun kepada orangnya. Namun, baru saja ia meninggalkan kediamannya sejenak, ia tak tau akan pergi kemana.
Pemuda itu lalu mencoba mengecheck isi ponsel Baekhyun. Dimulai dari daftar panggilan masuk dan keluar. Lalu pesan masuk. Satu pesan masuk terakhir menarik perhatiannya. Ia tersenyum senang, baiklah... Sepertinya tidak akan sulit menemukan anak itu.
"Hongdae ya? Baiklah."
.
.
Café tersebut terlihat cukup ramai. Banyak muda-mudi yang menhabiskan waktu disana. Entah itu untuk kencan, minum kopi, berkumpul bersama teman atau sekedar menikmati fasilitas Wi-fi gratis. Baekhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru café. Seorang pelayan menghampirinya.
"Anda bernama Byun Baekhyun? Silahkan ikuti saya, Teman anda sudah menunggu anda."
Baekhyun mengikuti si pelayan tanpa rasa ragu sedikit pun. Ia tidak sabar ingin bertemu Xiumin secepatnya. Tetapi yang ia dapati justru kekosongan.
"Dimana dia?" Tanyanya heran.
"Ah, dia sedang ke toilet. Tuan Xiumin sudah memesankan minuman kesukaan anda."
Baekhyun duduk, ia tersenyum kecil saat melihat espresso hangat sudah tersaji di atas meja.
'Ini memang Xiumin hyung, dia masih mengingat minuman kesukaanku.' Batinnya bersorak senang.
Byun Baekhyun itu hanya terlihat kuat di depan. Namun, ia tetaplah seseorang yang polos. Pemuda itu tanpa rasa curiga langsung menikmati secangkir espressonya. Berulang kali ia mengecheck arloji di tangannya, namun kedatangan Xiumin tak kunjung ada. Rasa kantuk yang hebat tiba-tiba menyerangnya. Di sisa kesadarannya, Baekhyun baru menyadari keganjilan dari ini semua. Sepertinya, ia dijebak.
Salah seorang pemuda mendekati meja Baekhyun. Ia segera memapah tubuh itu seolah sedang membawa temannya agar tidak dicurigai sama sekali. Setelah sampai di depan Café tersebut, sekitar empat lelaki lainnya membawa tubuh Baekhyun masuk ke dalam sebuah mobil hitam. Mobil tersebut melaju dengan kencang menuju suatu tempat.
Chanyeol baru saja tiba disana, matanya membola saat melihat Baekhyun dibawa dengan sebuah mobil. Fikirannya mengira jika itu orang-orang suruhan tuan Byun.
"Baekhyun!"
Ia mencoba berteriak, walau nihil hasilnya.
Tanpa fikir panjang, Chanyeol segera melajukan motor hitamnya dengan kecepatan kencang.
Bukan hal sulit baginya mengejar keberadaan mobil tadi. Orang-orang tadi bergerak pada jalan satu jalur. Ingatan Chanyeol begitu kuat, ia sudah menghafal nomor plat mobil tadi, sehingga tak mudah mencarinya.
Jarak lima meter saat lampu merah, mobil tersebut langsung ia lihat. Ia berpura-pura tidak melihat, bertindak tidak mencurigakan. Dari balik kaca helmnya ia bisa melihat, Baekhyun pingsan dalam dekapan seseorang. Perasaan tidak suka langsung menghantuinya.
Lampu hujau menyala, menandakan seluruh kendaraan harus segera melaju. Chanyeol mulai melakukan aksi pengintaiannya. Entahlah kemana tujuan mereka sebenarnya. Hampir sepuluh menit, hingga kini Chanyeol berada di kawasan perumahan elit Gangnam. Mobil tadi berhenti di sebuah rumah berpagar tinggi. Ia berdecak karena tidak bisa masuk ke dalam sana.
"Sial! Ayo berfikir Chanyeol!"
Chanyeol memilih memarkirkan motornya di tempat yang ia rasa aman. Ia berjalan menuju depan pagar tinggi rumah tersebut. Mencoba mengukur apakah ia bisa melompatinya. Seulas senyuman miring terlukis di bibirnya.
"Baiklah, pagar ini takkan bisa mengalahkan Phoenix."
Sementara itu di dalam kawasan rumah tersebut. Baekhyun di bawa pada sebuah kamar. Seseorang telah menunggunya disana.
"Vernon-ssi, kami telah membawanya."
"Baik, letakkan dia di atas ranjangku. Jangan sampai menyakitinya."
Para suruhan lelaki itu menuruti perintah Vernon. Setelahnya mereka memutuskan untuk pergi keluar, memberi privasi pada tuan rumah mereka.
Lelaki berwajah kebarat-baratan itu mendekati Baekhyun yang teridur dengan pulasnya. Ia mengelus wajah halus Baekhyun.
"Kau benar-benar cantik, Baekhyunku. Sayang sekali, kau terlalu angkuh hanya untuk menerima perasaanku."
"..."
"Kau normal, hahaha. Ya... Normal. Tetapi, malam ini aku akan mematahkan segalanya. Kau akan merasakan penghinaan luar biasa setelah ini."
Pemuda itu mulai mendekatkan wajahnya. Bibirnya menyentuh bibir manis Baekhyun. Merasa candu, kecupan tak cukup ia rasa. Maka, pemuda itu mulai melumat bibir tersebut dengan menuntut.
Si rambut merah mulai terusik dari tidurnya. Lamat-lamat kesadarannya mulai kembali. Alisnya tertaut melihat seseorang berada dalam jarak yang begitu dekat dengannya. Seakan tersadar, Baekhyun segera mendorongnya menjauh. matanya menajam menatap siapa sosok yang baru saja menciumnya kini.
"Menjauh dariku brengsek!"
"Hey! Santai saja okay? Aku tidak akan melukaimu."
Baekhyun tersenyum mengejek.
"Apa ini cara terakhirmu untuk menjatuhkanku Choi Vernon? Tidakkah ini terlalu rendahan?" Komentar Baekhyun sinis.
Vernon segera memerangkapnya saat Baekhyun mencoba beranjak dari atas ranjangnya.
"kenapa? Aku tidak peduli. Kau tau? Sudah lama aku ingin melakukan ini."
"Kau sakit! Lepaskan aku!" Bentak Baekhyun saat Vernon menahannya semakin kuat. Kekuatannya pergi entah kemana, seolah raib begitu saja. Rasa pening seolah masih menguasai kepalanya.
"Dengar Baekhyun! Ini wilayah kekuasaanku, kau tak bisa pergi dari sini tanpa seizinku!"
"Kau_ lepaskan aku! Apa maumu?!"Tanya Baekhyun penuh emosi. Ia mencoba menghindari Vernon yang mencoba menciumnya kembali.
"Mauku? Bercinta denganmu mungkin?"
"Lebih baik aku bertarung sampai mati dari pada melakukan hal menjijikkan seperti itu! Tidakkah kau sadar? Aku tidak pernah menyukaimu!"
Pandangan Vernon menggelap, ia menggeram. Tangannya mencengkram pipi Baekhyun.
"Maka dari itu, aku akan membuatmu menyukaiku!" Bentaknya keras.
Baekhyun terkejut bukan main. Ini bukan Vernon yang biasanya. Tidak ada tawa menyebalkan atau seringai mengejek. Baekhyun jadi teringat akan kejadian itu kembali.
"Kenapa diam? Kau takut? Dimana sisi 'ketua' yang kau miliki Baekhyun? Ayo, lawan aku."
PLAKKK...
Sebuah tamparan mengenai pipi Vernon. Baekhyun menatapnya begitu tajam. Ia benar-benar muak dengan ini semua.
"Kau kira aku takut padamu? Jangan mimpi!"
Pemuda di depannya menatap Baekhyun berang. Ia bangkit dari duduknya lalu membuka laci nakas untuk mengambil sesuatu.
"Kau yang memaksaku melakukannya."
Diameter mata Baekhyun melebar. Ia hendak berlari namun terjatuh, kepalanya begitu pusing. Entah obat apa yang ditaruh pada minumannya tadi. Lelaki itu jatuh terduduk dilantai. Mengundang gelak tawa Vernon.
"Kehilangan kekuatan eoh? Obat itu seharusnya akan membuatmu tertidur sampai pagi hari. Sayang sekali, kau cepat sekali sadarnya."
Baekhyun merasakan perih dipipinya saat tamparan itu mengenai pipinya. Ia menatap Vernon tak terbaca. Pemuda itu mencoba memberontak saat Vernon menariknya paksa ke atas ranjang. Tangannya diikat dengan seutas tali.
Baekhyun mencoba tenang, walau ia mulai khawatir. Apalagi ketika Vernon mulai membuka kancing kemejanya dengan paksa.
"L-lepaskan_"
Baekhyun merasa jijik saat pemuda diatasnya melayangkan ciuman pada seluruh lehernya. Ia benar-benar merasa terhina, takut dan merasa jijik. Baekhyun berharap akan ada yang menolongnya, sekalipun presentasinya begitu kecil.
.
.
Chanyeol berjalan dengan penuh hati-hati. Penjagaan di rumah luas ini begitu ketat ternyata. Sepertinya pemilik rumah ini benar-benar kaya. Chanyeol bersembunyi saat dua orang pemuda melewati lorong yang semula ia lalui. Ia bersembunyi di balik guci besar.
"Menurutmu apa yang akan dilakukan tuan Vernon pada pemuda tadi?"
"entahlah, aku juga bingung mengapa ia membawanya ke kamar."
"Hey! Jangan katakan jika dia ingin menikmati tubuh itu!"
Tubuh Chanyeol menegang saat mendengar potongan percakapan dari dua orang tersebut. Vernon? Jadi pelaku penculikan ini adalah Vernon? Lalu, maksudnya menikmati...
"Sial!" Bisik Chanyeol lirih.
Sekelebat pemikiran mengerikan menghampirinya. Ia harus mencari letak kamar Vernon berada. Tidak! Baekhyun tidak boleh terluka. Geraman marah terdengar dari mulutnya.
Chanyeol menaiki tangga dengan waspada. Ia melirik kesekitarnya. Tidak ada orang disini. Matanya mulai menelusuri beberapa pintu disana. Ia mulai frustasi.
"Aish! Kenapa banyak sekali pintunya?"
Chanyeol menghela nafasnya berat. Ia mulai melangkah lagi. Namun saat hendak melewati sebuah kamar, ia mendengar suara lirih.
"Nhh... Lepaskan... Brengsekhh..."
Rahang Chanyeol mengetat, tangannya mengepal dengan erat. Ia berjanji akan membunuh Vernon setelah ini.
Ia mencoba membuka kenop pintu itu, sayang sekali terkunci. Chanyeol mulai frustasi.
"Baek?! Baekhyun?! Kau di dalam?!"
Ia menggedor pintu tersebut membabi buta, tak peduli jika penjaga di rumah ini memergokinya.
"Brengsek! Buka pintunya! CHOI VERNON! KELUAR KAU KEPARAT!"
Chanyeol mulai berang saat mendengar suara aneh dari dalam sana. Tak hilang akal, ia mulai menendangi pintu kayu tersebut dengan seluruh kekuatannya.
"Argghhh!"
BRAKKK...
Matanya menggelap saat melihat pemandangan dihadapannya. Baekhyun tampak begitu berantakan. Pakaiannya telah raib, menyisakan celana dalamnya. Tangannya terikat, begitu pula dengan kakinya. Lebih merasa marah saat melihat Vernon menikmati tubuh itu.
Ia menelan ludahnya, Chanyeol segera menarik paksa pundak telanjang Vernon. Tanpa aba-aba langsung menghadiahi wajah pemuda itu dengan pukulan kerasnya.
"Hey! Kau! Kenapa kau kesini? Dasar pengganggu!"
BUGGHHH..
"Diam kau keparat!"
Chanyeol membanting tubuh itu ke dinding. Ia mulai menendangi tubuh Vernon brutal. Tak memberi kesempatan sedikit pun pada sang musuh untuk membalas.
Tubuh Vernon melemas, darah segar keluar dari mulutnya saat Chanyeol tak henti-hentinya menendang ulu hatinya. Chanyeol meraih vas bunga di dekatnya. Ingin memukul kepala Vernon. Tetapi sebuah suara menghentikan aksinya.
"C-cukup... Hentikan..."
Tangan Chanyeol bergetar. Ia menutup matanya rapat. Ia kembali meletakkan vas bunganya di tempat semula. Ia menatap rendah tubuh Vernon yang terkapar.
"Kau tau? Seorang lelaki sejati takkan melakukan hal seperti ini. Kau benar-benar rendah!"
Chanyeol beralih, ia mendekati Baekhyun. Pemuda itu membuka tali yang mengikat tangan dan kaki Baekhyun. Ia mengepalkan tangannya erat saat melihat beberapa 'tanda' di leher Baekhyun.
Pemuda itu membuka mantel yang ia kenakan lalu memakaikannya pada tubuh Baekhyun. Setelah selesai memakaikan celananya, Ia mengangkat tubuh itu.
Chanyeol berjalan santai, wajahnya terlihat begitu datar. Ia menatap beberapa penjaga yang menghadangnya.
"Menyingkir kalian." Ujarnya dingin.
"Polisi akan segera sampai sekitar lima menit lagi. Jika kalian tetap menahan kami, maka bersiaplah mereka akan menangkap kalian atas laporan penculikan."
"..."
Tak ada sahutan sama sekali dari seluruh penjaga tersebut.
"Tuan Muda kalian sudah terkapar. Lebih baik urus saja dia."
Chanyeol tersenyum penuh kemenangan saat mereka membiarkan Chanyeol dan Baekhyun pergi dari sana.
Baekhyun hanya diam, membiarkan Chanyeol membawanya. Entah mengapa, ia merasakan kenyamanan saat berada di pelukan lelaki ini.
"Kau bisa naik motor ini?" Tanya Chanyeol setengah berbisik.
Baekhyun hanya mengangguk pelan. Ia menaiki motor tersebut. Tangannya mengerakan mantel yang ada di tubuhnya.
"Peluk aku." perintah Chanyeol lagi.
Baekhyun melakukannya, tanpa protes sedikit pun. Chanyeol yakin, pemuda di belakangnya kini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja saat ini.
.
.
Baekhyun menolak pulang ke rumahnya. Ia tak ingin bertemu sang ayah. Maka dari itu Chanyeol berinisiatif membawa pemuda itu ke markasnya, tempatnya biasa berkumpul dengan teman-temannya. Kebetulan, disini sunyi. Chanyeol tau, Baekhyun butuh tempat sepi sekarang. Ia tak akan membawa Baekhyun ke rumah. Beribu pertanyaan dari orang tuanya pasti langsung memborbardir, mengingat keadaan Baekhyun yang begitu kacau.
"Istirahatlah. Ini tempat tidurku. Aku akan tidur di luar."
Baekhyun masih diam, tak berbicara sedikitpun. Kepalanya masih tertunduk dalam-dalam.
"Katakan sesuatu Baek, ku mohon. Ini bukan dirimu!"
Chanyeol tersentak, suara isakan Baekhyun seakan menyayat hatinya yang terdalam.
Tangisan Baekhyun pecah setelahnya. Terdengar begitu pilu. Chanyeol menatapnya dengan mata sendu. Dengan segera ia memeluk tubuh tersebut dalam pelukannya.
"Menangislah..."
"A-aku benci... bajingan itu benar-benar... Menjijikkan..."
Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya. Di usapnya rambut Baekhyun pelan. Ciuman-ciuman ringan ia daratkan di puncak kepala anak itu.
"Ssshh... Ada aku disini, jangan menangis, hm?"
Suara tangisan tersebut terdengar kian besar. Memenuhi heningnya malam disekitar mereka. Chanyeol membiarkan Baekhyun menangis dalam pelukannya.
'Bagilah rasa sakitmu padaku...'
.
.
Tangisan Baekhyun mereda, nafasnya mulai terdengar teratur. Ia merasa nyaman dalam pelukan pemuda tampan itu. Tepukan-tepukan kecil di punggungnya membuat Baekhyun merasa begitu tenang
"Maaf..."
"Untuk apa?" Tanya Chanyeol bingung.
"Kau boleh menertawakanku. Ketua lightsaber tak sehebat yang terlihat." Ujar Baekhyun lirih.
"Bahkan seorang pembunuh pun memiliki kelemahan, kau tidak perlu malu menunjukkannya."
"Aku benci choi Vernon." Bisik Baekhyun.
"Aku ingin menghilangkan bekasnya, ini menjijikkan!"
Baekhyun menggosok lehernya keras hingga menimbulkan ruam merah yang semakin mencolok.
Chanyeol segera menangkap tangan itu. Ia mengecupnya dengan lembutnya.
"Jangan menyakiti dirimu sendiri."
"Tidak! Aku ingin menghilangkannya, aku merasa... Aku... Aku begitu lemah, kenapa aku tidak bisa melawannya? Bodoh!"
Chanyeol menggeram, kepalan tangannya mengerat. Ia bersumpah, Choi Vernon takkan hidup tenang mulai sekarang.
"tidurlah Baek, kau harus mengumpulkan tenagamu untuk melawan Vernon."
Baekhyun menoleh pada Chanyeol. Lelaki ini, kenapa ia peduli sekali kepadanya? Selama ini, Baekhyun tak pernah menunjukkan sikap baiknya sama sekali bukan?
"Kenapa kau peduli kepadaku?"
Sejenak Chanyeol tersentak mendengar perkataan Baekhyun, namun pada detik berikutnya senyumnya terkembang dengan lembut.
"Jika aku mengatakannya kau takkan menganggap itu serius. Kau tau sendiri jawabannya."
Baekhyun terdiam, hingga Chanyeol pergi meninggalkannya sendirian di kamar berukuran kecil tersebut. Mengetahui jawabannya? Baekhyun tak bodoh untuk menangkap arti tatapan atau perilaku Chanyeol akhir-akhir ini kepadanya. Mungkinkah... 'dia menyukaiku?'
.
.
Insiden kemarin membuat Chanyeol berubah lebih perhatian terhadap Baekhyun, walau tak secara gamblang ia melakukannya. Baekhyun sudah kembali seperti biasa, walau sikap diamnya semakin menjadi-jadi. Kai dan Sehun langsung memberi pertanyaan beruntut perihal kejadian kemarin. Chanyeol sengaja memberitahu dua orang itu agar mereka bisa menjaga Baekhyun lagi.
"Aku tau, dia terlihat kuat. Namun, ada saat dimana ia tak bisa berbuat apa-apa. Jadi, kalian sebagai sahabatnya ku harap bisa selalu ada di dekatnya."
Sehun berdecih kala itu, terlihat tidak senang dengan ucapan Chanyeol. Memangnya siapa dia berani memerintah? Begitulah pemikirannya yang didasari kecemburuan itu.
Tetapi tetap saja, baik Kai maupun Sehun begitu berang terhadap Vernon dan berucap syukur karena Chanyeol datang disaat yang tepat. Kejadian seperti ini tak pernah sekalipun terpikirkan oleh mereka, sama sekali tidak.
"Choi Vernon... Aku akan menghancurkannya."
"Sudahlah Sehun, jangan terlalu terbawa emosi. Kita lakukan dengan cara halus."
"Tidak Kai, aku setuju dengan Sehun. Manusia sepertinya harus kita hancurkan dengan kasar sebelum dia bertindak aneh lagi." Ujar Chanyeol.
Kai terlihat menimbang-nimbang ucapan Chanyeol. Tidak! Choi Vernon adalah orang yang sulit ditebak dan berbahaya. Koneksinya begitu luas. Mereka harus membuat taktik jitu untuk menghancurkannya sebelum menyerang. Tidak bisa melawan dengan emosi yang menggebu-gebu seperti ini.
"Dia berbahaya, kita tidak bisa menyerangnya begitu saja kawan."
Mereka bertiga menghela nafas panjang. Perbincangan mereka sepertinya nihil akan hasil. Lamunan mereka tersentak sesaat Baekhyun masuk dengan raut wajah heran. Ia menatap Chanyeol cukup lama.
"Sejak kapan kalian dekat?"
Chanyeol mengedikkan bahunya asal. Mata Baekhyun masih memperhatikan raut wajah Chanyeol dengan jelas. Mencoba mencari tau hal apa yang membuat Chanyeol bisa seakur ini dengan Kai, apalagi Sehun yang diketahui selalu panas jika berdekatan dengan Chanyeol. Lama ia berfikir, akhirnya jawaban itu muncul. Chanyeol pasti sudah memberitahukan kejadian kemarin, batinnya gusar.
Sehun berdiri dihadapannya dengan wajah dingin. Seolah ia bisa saja menguliti Baekhyun hanya dengan tatapannya saja.
"Sehun, kenapa kau_"
"Kau benar-benar sialan Baek."
"..."
"Bisa-bisanya kau tidak memberitahukan kejadian seperti itu pada kami?"
Nada suara Sehun terdengar sangat datar, sarat akan kemarahan tersirat di dalamnya. Baekhyun mengerti itu.
"Aku hanya tidak ingin kalian menganggapku lemah dan_"
"That's bullshit Baekhyun! Berhenti mencari alasan! Kami sahabatmu! dan berhenti memasang topeng seolah kau baik-baik saja!"
Teriakan Sehun menggema, mengejutkan nurani Baekhyun. Ia bahkan tak berani hanya untuk mengangkat wajahnya. Baru kali ini Sehun berani membentaknya. Sehun yang ia kenal memang memiliki tempramen buruk, namun tidak jika itu dengannya. Maka dari itu, Baekhyun merasakan rasa kaget yang luar biasa.
"Sehun cukup! Baekhyun mungkin butuh waktu untuk menceritakannya." sahut Kai menengahi agar Sehun tidak membentak Baekhyun lebih dari itu.
"Kenapa kau hanya diam? Dimana letak kekuatanmu itu eoh? Apa ketua lightsaber tidak kuat hanya untuk sekedar bercerita?" Pertanyaan sakartik tersebut membuat Kai hendak melerai kembali namun Baekhyun lebih dulu untuk angkat suara.
"Lalu... Aku harus apa? Aku harus menceritakan semua kesakitanku? Menangis dengan menjijikkan lalu aku akan dianggap lemah lagi. Aku malu Sehun! Aku merasa terhina! Kau tidak akan mengerti!"
Sehun yang semula ingin marah kembali terdiam saat Baekhyun mengangkat wajahnya yang basah. Ia mengerti, sangat mengerti bagaimana penderitaan lelaki itu selama ini. Disakiti oleh orang-orang yang begitu ia sayangi, rasanya pasti menyakitkan. Sehun seharusnya merangkul Baekhyun, bukan menyudutkannya seolah Baekhyun tak menganggap keberadaan mereka sama sekali.
Lelaki berkulit putih pucat itu hendak mengusap wajah Baekhyun, namun dengan cepat ditepis oleh tangan kurus pemuda manis itu.
"Aku tidak mengerti, aku... Aku benci dengan diriku sendiri."
Suara Baekhyun mengecil, menahan suara tangis yang akan keluar. Chanyeol menatap Baekhyun tanpa bisa diartikan apa maksud dari pandangannya itu. Ia mencoba mengejar Baekhyun saat pemuda itu memilih berjalan keluar setelah sebelumnya membanting pintu dengan kuat. Sehun jatuh terduduk, memijit kepalanya yang terasa sakit.
"Kenapa dia berucap seperti itu?" Satu pertanyaan itu terlontar dari bibir Chanyeol secara spontan.
Kai menoleh, hendak menjawab pertanyaan Chanyeol sebisanya. Namun, Sehun lebih dulu memotong.
"Dia membenci dirinya sendiri. Baekhyun menganggap orang-orang yang ia sayangi menghilang karena dirinya. Dia seperti hidup dibayangi rasa bersalah dan penyesalan." Lirih Sehun.
Ini kali pertama Chanyeol melihat bagaimana terlukanya seorang Oh Sehun. Pemuda yang biasa dikenal arogan dan dingin itu terlihat sangat menyedihkan.
"Ibunya meninggal karena menyelamatkannya dari kecelakaan. Dia merasa jika semua karena kesalahannya. Sehingga, ayahnya harus kehilangan orang yang ia cintai. Tidak hanya itu, Baekhyun juga pernah melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya. Dulu, dia memiliki seorang sahabat yang sudah ia anggap seperti hyungnya, mataharinya, cahayanya. Namun, lagi-lagi Baekhyun merasa jika dia penyebab orang itu kehilangan mimpinya."
Chanyeol pernah mendengar cerita ini sebelumnya. Cerita terakhir membuat rasa penasarannya menjadi-jadi. Ia mencoba bertanya, namun Kai lebih dulu menyambung cerita Sehun.
"Namanya Kim Xiumin, dia siswa pindahan dari China. Hanya dia yang mampu membuat Baekhyun menjadi Baekhyun yang ceria. Namun, pada suatu ketika, Cho Vernon menghancurkannya."
Chanyeol terlihat kaget saat mendengar nama itu. Lagi?
"Dia begitu menyukai Baekhyun karena pernah sekali Baekhyun menyelamatkannya dari incaran siswa nakal sekolah. Rasa kagum itu berubah menjadi cinta. Ia begitu terobsesi kepada Baekhyun hingga selalu menempeli Baekhyun kemana saja. Pada akhirnya ia mengaku, ia mencintai Baekhyun. Baekhyun yang normal terang saja membenci itu. Ia memaki Vernon, mengusirnya menjauh. Yang membuat Vernon merasa terkhianati adalah, kedekatan Baekhyun dan Xiumin. Sejak itu ia berusaha menghancurkan kedekatan mereka berdua."
"Jadi... Dimana Xiumin sekarang?"
"Tidak ada yang tau, sejak kejadian itu dia menghilang. Xiumin begitu mencintai sepakbola, namun pada satu ketika Vernon mencoba mencelakainya. Baekhyun menolongnya saat itu. Tetapi... Aku tidak tau pasti. Pada akhirnya, Xiumin harus merelakan kakinya lumpuh."
Chanyeol mengusap wajahnya kasar. Jadi, semua berawal dari cinta? Tidakkah ini begitu ironi? Chanyeol terkekeh tak percaya. Baekhyun... Jadi ini masalah terberat yang ia punya? Chanyeol mengutuk kebodohannya yang tidak bisa menyimpulkannya sejak awal.
"Aku akan mencari keberadaan Baekhyun."
Setelahnya Chanyeol keluar untuk mencari keberadaan Baekhyun. Tujuan utamanya sudah jelas, rooftop. Sesampainya disana, ia melihat Baekhyun menangis, tidak seperti kemarin. Kali ini benar-benar seperti ia mengeluarkan semua emosinya yang terpendam sejak lama.
"Pergi dari sini! Kau akan menrtawaiku bukan?"
Bukannya menjauh, Chanyeol justru berjalan mendekati Baekhyun. Ia segera berlari memeluk tubuh Baekhyun. Walau beberapa kali Baekhyun mencoba melepaskan pelukan itu, pada akhirnya lelaki itu menyerah. Ia menjadikan dada Chanyeol sebagai sandarannya.
"Aku benci semua ini! Kenapa aku tidak bisa lepas dari bayang-bayang mengerikan ini? Apa salahku? Tidak cukupkah pukulan dari ayah yang selalu ku terima? Sakit sekali! Kenapa Vernon masih ingin melihatku hancur? Dan saat begini, Sehun justru menyalahkan aku."
Chanyeol hanya diam, tak berniat memberi ocehan berupa ucapan empati atau apapun itu. Yang ia tau, Baekhyun hanya butuh pelampiasan amarah.
Baekhyun menjambaki rambutnya sendiri hingga terlihat berantakan. Chanyeol mencoba menghentikannya. Ia tak ingin Baekhyun menyakiti dirinya sendiri. Namun, Baekhyun masih kekeuh melakukan aksinya itu.
"Berhenti menyakiti dirimu sendiri Baekhyun! Kau tidak bersalah! Semua terjadi bukan karena kau! Semua adalah takdir Tuhan."
Baekhyun tertawa keras, membuat Chanyeol kebingungan.
"Takdir Tuhan eoh? Lalu mengapa aku?!"
"Dia merasa kau adalah anak yang kuat... Kau kuat makanya diberi cobaan seperti ini."
Baekhyun hendak menangis lagi, namun Chanyeol segera menciumnya. Baekhyun terkejut, namun setelahnya justru ia membalas ciuman Chanyeol. Lelaki jangkung itu terkejut bukan main. Baekhyun menciumnya tak beraturan dan begitu menuntut. Mungkin, ia hanya sedang melampiaskan emosinya. Keduanya bertaut dalam sebuah ciuman panjang nan dalam. Hingga tak menyadari, jika Sehun menatap keduanya terluka dari pintu atap. Lelaki bersurai putih itu memutuskan untuk pergi. Pergi dengan lukanya.
.
.
Luhan menggeram tidak terima. Rencana Vernon gagal total, itu yang ia ketahui. Padahal ia ingin sekali melakukan sebuah pesta jika perlu. Namun nyatanya? Baekhyun masih terlihat baik-baik saja. Yang lebih membuatnya tidak suka adalah, Chanyeol kian hari semakin menjauhinya dan justru selalu menempeli Baekhyun kemana-mana.
Ia menoleh kesana-kemari, melihat tidak ada orang disekitar ruang musik, lelaki itu menghubungi nomor Vernon, untuk yang kesekian kalinya hari ini.
"Kenapa kau bisa gagal! Aku membencinya!"
'...'
"Aku ingin melihat dia menangis! Kau tau bukan? Aku membenci Byun Baekhyun! "
'...'
"Jika kau tidak mau menyakitinya lagi, aku akan bertindak sendiri."
Lelaki itu hendak meninggalkan ruangan musik, namun sebuah lengan menghalangi jalannya. Sosok itu menatapnya sangat tajam. Ia segera memojokkan tubuh Luhan ke dinding.
Lelaki bersurai emas itu pucat pasi. Tangannya bergetar.
"Jadi, kau bekerja sama dengan Vernon?"
"..."
"Jawab aku jalang!"
Luhan menutup matanya saat Sehun membentaknya tepat di depan wajahnya.
Lelaki itu mengangkat wajahnya. Sehun sempat tersentak saat melihat perubahan raut wajah Luhan yang terlihat biasa saja.
"semua orang membenci Byun Baekhyun, jika kau ingin tau. Oh Sehun-ssi. Aku hanya ingin memberinya pelajaran... Agar dia mengerti bagaimana rasanya dihancurkan."
Sehun mengerutkan alisnya tak mengerti. Ia bahkan hanya terdiam saat Luhan pergi meninggalkannya disana. Luhan, lelaki itu benar-benar diluar dugaannya. .
.
Baekhyun mendengus jengkel saat Chanyeol mencoba mengiburnya dengan bertingkah konyol. Ini sudah hari ketiga sejak insiden dimana ia menangis dengan tidak tau malu di atap, di hadapan seorang Park Chanyeol. Sejak itu, Chanyeol selalu saja mengikutinya. Bertingkah seolah mereka adalah sahabat sejak masih balita.
"Baiklah, kau tidak tertawa juga. Bagaimana jika..."
Mata sipit Baekhyun membulat lucu saat Chanyeol mendekatkan wajahnya secara tiba-tiba. Bayangan ia mencium Chanyeol dengan agresif beberapa waktu lalu seolah kembali terngiang. Kedua pipi putihnya sontak memerah, semerah warna rambutnya.
"... Es krim? Kau mau?"
Baekhyun mendesah lega saat lelaki tinggi itu kembali menjauhkan wajahnya.
"kau fikir aku anak kecil? Sudahlah, hentikan. Aku tidak butuh hiburan seperti ini. Kau tau? Kau begitu ketara jelas."
"Maksudmu?"
"Kau menyukaiku bukan? Hentikan semua ini oke? Jauhi aku."
Chanyeol segera menahan lengan kurus Baekhyun yang hendak pergi. Ia menatap Baekhyun dengan begitu teduh.
"setidaknya hanya ini yang bisa ku lakukan."
Baekhyun terkejut mendengar kalimat itu. Kalimat serupa yang pernah Xiumin katakan saat lelaki itu berusaha menjadi teman Baekhyun dulu. Keterkejutan Baekhyun tergantikan oleh senyuman getir.
"aku orang yang berbahaya, Chanyeol. Berhentilah memperhatikanku. Aku hanya tidak ingin bergantung lalu ujung-ujungnya akan ditinggalkan."
pegangan tangan Chanyeol terlepas. Baekhyun tidak ingin kehadirannya. Chanyeol paham, lelaki itu tidak menyukai kedekatan seperti ini.
"Park Chanyeol bodoh!"
.
.
Hari ini, Vernon kembali masuk ke sekolah. Beberapa lebam samar masih terlihat di sekitar wajahnya. Misuh-misuh disekitarnya tak ia pedulikan sama sekali. Ia hanya ingin menemui Park Chanyeol.
Tak disangka, orang yang ia cari ada dihadapannya dengan raut datar. Tak ada keramahan seperti hari sebelumnya.
"Sampah sepertimu seharusnya ku hancurkan saja sekalian."
Vernon menyeringai mendengar ucapan Chanyeol yang penuh emosi itu.
"Apa kau marah karena hal kemarin? Kau menyukai Baekhyun?"
"Tentu saja, aku bahkan mencintainya." Balas Chanyeol.
Luhan yang secara kebetulan berada disana terdiam. Awalnya ia ingin mendatangi Vernon, namun diurungkannya.
Vernon mengkerut marah. Ia hendak menyerang Chanyeol namun dengan gesit Chanyeol mengelak.
"Jangan bermain-main denganku, kau hanya belum tau benar siapa aku, Vernon-ssi."
Chanyeol segera berlalu dari sana, membuat erangan kecewa dari murid-murid yang gagal melihat pertarungan terdengar. Ia melihat Luhan, hendak menyapanya seperti biasa. Tetapi, Luhan justru mengabaikannya dan pergi begitu saja. Samar-samar di ujung koridor, Luhan menghampiri Vernon.
"Kau kemana saja, selemah itukah dirimu?" Ejek Luhan.
Vernon berdecih tak terima, ia melirik Luhan sinis.
"Terserah apa katamu."
"Kau akan menyerah?"
Vernon menatap Luhan tak mengerti. Tentu saja tidak sebelum Baekhyun hancur. Tetapi, rasanya ia sudah tak memiliki muka lagi untuk menatap Baekhyun. Ia memang begitu rendahan karena menggunakan cara paling kotor seperti itu untuk menyerang lawannya.
"Kau diam, artinya iya. Baiklah... sepertinya, kerjasama kita sampai disini saja. Aku tidak ingin membuang-buang waktuku."
Ia hanya dapat menatap punggung Luhan yang mulai menjauh.
"Tidak secepat itu, Luhan."
.
.
Baekhyun menatap kosong lembaran foto yang berserak diatas ranjangnya. Ini kali kesekian paket-paket itu terkirim kepadanya. Ia semakin yakin jika sang pengirim bukan Xiumin. Awalnya dugaannya jatuh kepada Vernon, mengingat ia dijebak dengan cara yang sama kemarin. Namun, jika itu Vernon... Identitasnya sebagai Xiumin palsu sudah Baekhyun ketahui bukan? Jadi... Apa gunanya dia melakukan hal seperti ini lagi?
"Tuan muda, Tuan muda Sehun dan Tuan muda Kai datang berkunjung."
Mendengar suara kepala pelayan Jung, Baekhyun sontak terburu-buru memasukkan foto-foto itu ke dalam kotak yang semula menjadi tempat paket tersebut. Ia segera berjalan keluar, menemui dua sahabatnya tersebut.
"Hey Baek? Kau terlihat cantik tanpa eyelinermu."
Baekhyun menatap Kai tajam, yang dihadiahi kekehan geli dari pemuda berkulit kecoklatan itu.
"Tidak ingin berjalan-jalan hari ini?"
"Aku malas keluar Sehun."
"Wow... Apakah sekarang kau mulai betah berdekatan dengan ayahmu?" Sindiran Kai justru membuat mood Baekhyun tidak baik. Orang tuanya itu sudah beberapa hari selalu di rumah. Aksesnya untuk keluar menjadi semakin sedikit mengingat pengawasan tuan Byun semakin menjadi semenjak Baekhyun menghilang satu malam saat penculikan itu terjadi. Tuan Byun memang tidak mengetahui akan hal tersebut. Ia hanya tak ingin Baekhyun melarikan diri dari rumah. Hanya itu. Konyol!
"Jadi, apa kita berniat duduk diam disini saja?" Pertanyaan Kai yang selanjutnya membuat Baekhyun tambah jengkel.
"Sebenarnya ibu Chanyeol mengundangku ke rumahnya untuk makan malam."
Kai mengernyit saat melihat gerak-gerik Baekhyun. Lelaki itu tampak menggaruk pipinya, seperti orang salah tingkah. Matanya beralih melirik Sehun. Pemuda bersurai white blonde itu terlihat diam, namun rahangnya mengeras. Kai jadi ingin menggoda keduanya.
"Aww... Jadi, sudah sedekat apa kau dengan Chanyeol? Bahkan kau sudah mengenal orang tuanya? Chanyeol bergerak cepat ternyata, tidak seperti seseorang."
Baekhyun menarik rambut Kai tanpa perasaan. Raut wajahnya terlihat begitu datar.
"sialan kau Kai! Aku hanya menghormati ibunya! Aku tidak ada hubungan apapun dengan si brengsek itu!"
Sehun tersenyum masam mendengarnya. Tidak ada hubungan apapun ya? Jadi... Mereka berciuman dengan intim beberapa waktu lalu apa maksudnya? Sehun tidak bodoh untuk menyadari jika Chanyeol tertarik dengan Baekhyun. Apalagi akhir-akhir ini, lelaki jangkung itu semakin gencar menebar afeksinya kepada Baekhyun seorang. Apa Baekhyun bermaksud merahasiakan hubungannya dan Chanyeol? Atau lelaki itu hanya berniat mempermainkan Chanyeol saja? Itu memang bukan urusan Sehun. Tetapi, rasa tidak rela yang membuat Sehun seperti ini.
"Hey! Kenapa kau melamun? Bantu aku menggunduli rambutnya!"
"Baek... Bagaimana jika kami juga ikut ke rumah Chanyeol?" Ucapan Sehun membuat Kai dan Baekhyun berhenti dari aksi mereka masing-masing. Kai menatap Sehun memicing penuh arti. Sedangkan Baekhyun terlihat berfikir.
"Um... Y-yeah, baiklah. Tetapi jangan mengacau disana!"
Sehun menyeringai, baiklah Park Chanyeol... Aku akan menghancurkan usahamu untuk mendekatkan Baekhyunku dengan keluargamu. Batinnya licik.
.
.
Ibu Chanyeol terlihat senang mendapati Baekhyun datang bersama dua temannya. Suasana rumah mereka jadi tampak ramai. Kai terus berbincang dengan ayah Chanyeol mengenai permainan catur dan kejahatan kriminal, membuat Tuan Park begitu senang karena memiliki teman bicara yang klop.
'Dasar penjilat!' setidaknya itulah batin seseorang yang kini menatap dua tamu tak diundang itu dengan geram. Lain halnya dengan Kai, Sehun justru sibuk duduk di sebelah Baekhyun. Mereka bercerita-entah apa-dengan sangat seru.
Chanyeol terdiam di dapur, membantu ibunya memasak. Ia terjebak dengan pisau dapur dan semangkuk sayuran yang harus di potong.
"Chanyeollie, potong yang benar! Nanti tidak enak di pandang jika potongannya tak beraturan seperti itu!"
Chanyeol menghela nafasnya kasar. Ia memotong wortel dengan keahliannya. Sang ibu tersenyum saat Chanyeol kembali fokus. Namun itu tak berlangsung lama karena Baekhyun tertawa keras, mengalihkan fokusnya. Tak menyadari jika ia telah mengiris jarinya.
"Astaga! Tanganmu!"
Pekikan nyonya Park membuat atensi orang-orang di ruang tengah kembali kepada dua orang di depan sana.
"Aish! Darahmu mengenai sayurannya kan?" Omel ibu Chanyeol.
Chanyeol menggeram, bukannya mengkhawatirkan jariku, malah mengkhawatirkan sayuran!
Chanyeol meninggalkan dapur, berjalan menaiki tangga menuju lantai atas. Tak ia hiraukan teriakan sang ibu yang menyuruhnya turun.
Lelaki iitu membanting tubuhnya diatas ranjang. Ia meringis saat melihat ujung telunjuknya sobek dan mengeluarkan darah. Perih sekali rasanya. Tetapi ia sama sei tak berniat membersihkannya. Ia hanya tak ingin berada dibawah seperti orang tolol.
Melihat tawa Baekhyun saat bersama Sehun membuat dadanya sesak. Baekhyun pernah tertawa saat bersamanya, namun bukan tawa lepas saat bersama Sehun. Memikirkan hal itu membuat kepalanya sakit. Ia memutuskan untuk tidur lalu bangun saat makan malam tiba.
Chanyeol turun ke bawah dengan wajah segar. Ia telah mengganti pakaiannya dengan kaos tanpa lengan berwarna hitam dan juga celana rumahan berwarna senada. Ia menyisir rambutnya yang masih basah dengan jemarinya. Baekhyun menatapnya lama sekali, entah apa yang ada difikiran lelaki mungil itu. Namun saat pandangan keduanya beradu, yang bersurai merah buru-buru mengalihkan perhatiannya lagi ke arah Sehun.
Makanan enak sudah tersaji diatas meja. Tuan Park duduk di bangku utama, disisi kanannya ada Kai, disisi kirinya nyonya Park. Lalu, disebelah sang ibu ada Baekhyun lalu Sehun. Chanyeol berdecak melihat Sehun yang sepertinya terus menempeli Baekhyun seperti perangko sejak tadi. Chanyeol duduk dihadapan Baekhyun.
"Aigoo, pangeran baru saja bangun tidur." Godaan Tuan Park membuat Sehun dan Kai hampir saja meledakkan tawa mereka.
"Ayah, berhenti mempermalukanku." Desis Chanyeol tidak suka.
"Kau tidak sopan, meninggalkan tamumu dengan cara tidur seperti itu." Komentar ibunya.
Chanyeol memutar bola matanya malas.
"Sudahlah, aku lapar. Bisakah kita makan saja?" Protes Chanyeol.
Mereka makan dengan khidmat. Kai beberapa kali memuji masakan ibu Chanyeol yang begitu enak.
"Astaga! Ayam goreng madu ini enak sekali! Bibi... Jadilah ibuku!"
Chanyeol mendelik menatap Kai.
"Kai punya ibu sendiri. Jangan rebut ibuku!" Ujarnya tak terima.
Kai hanya terkekeh sebagai respon. Ia kembali melanjutkan makannya.
Mata Chanyeol menatap ke depan. Sial! Apa-apaan itu? Sehun terlihat meletakkan beberapa potong daging ke atas nasi Baekhyun yangmana dihadiahi senyuman dari Baekhyun.
Baiklah, sepertinya rasa cemburu membakar Chanyeol. Ia makan dengan cepat hingga tersedak dengan tidak elitnya. Kai disebelahnya langsung memberikannya segelas air. Padahal ia ingin Baekhyun yang melakukan itu!
"Dasar bodoh!" ucap Baekhyun enteng.
Memalukan! Park Chanyeol bodoh! Chanyeol terus mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Ia terus bertingkah bodoh sejak tadi. Dimana harga dirinya sebagai Phoenix?!
"Omong-omong, setelah ini kalian menginap saja bagaimana?"
"Ibu! Mereka punya rumah dan_"
"Baiklah, kami akan tidur disini Bibi."
Oh, jika Baekhyun yang bilang, maka Chanyeol tak bisa protes lagi.
Setelah usai dengan urusan mengisi perut. Keempat pemuda itu membantu nyonya Park membersihkan meja dan mencuci piring.
Kini, keempat pemuda tampan itu berdiam di kamar Chanyeol. Chanyeol menggelar kasur lipat, karena tidak mungkin jika mereka berbagi tempat tidur mengingat ranjang Chanyeol benar-benar sempit.
"Aku tidur diranjang saja!" Putus Kai seenaknya. Dia berasalan tidak bisa tidur dilantai karena rentan terkena masuk angin. Padahal mereka semua tau itu semua hanya akal-akalan Jongin belaka. Chanyeol membawa bantal gulingnya, hendak tidur di dekat Baekhyun, namun Sehun lebih dulu mengambil tempatnya.
"Maaf, aku didekat Baekhyun."
"Yak! Ini kasurku, kenapa kau yang mengatur?"
Baekhyun mendengus kasar mendengarnya. Mereka ini benar-benar!
"Sudahlah! Aku ditengah saja!"
Kai langsung menyahut ketika Baekhyun mengatakan kalimat itu.
"Hati-hati Baek, kau akan diserang oleh mereka!"
Baekhyun tak menanggapi ucapan Kai sama sekali, ia merebahkan tubuhnya lalu menarik selimut hingga sebatas dada. Sehun ikut berbaring disebelahnya, namun tidak dengan Chanyeol. Lelaki itu justru hanya duduk diam, menatap interaksi Sehun maupun Baekhyun. Baekhyun terlihat biasa saja saat Sehun memeluknya. Melihat hal itu, Chanyeol menggeretakkan giginya. Ia menjatuhkan tubuhnya secara tiba-tiba, tubuhnya beringsut mendekati Baekhyun.
"Kenapa kalian dekat-dekat?"
Chanyeol mengedikkan bahunya. Ia justru memindahkan tangan Sehun lalu menggantinya dengan tangannya sendiri.
"Yak! Jangan peluk Baekhyun seenaknya!"
Kai terkekeh melihat interaksi dibawah sana. Sehun yang ia kenal dingin berubah menjadi begini jika cemburu.
"Baekhyun saja tidak menolak. Benarkan, Baekhyun?"
Baekhyun terdiam kaku saat Chanyeol berucap di telinganya. Pelukan hangat Chanyeol membuatnya tak bisa bergerak sedikit pun.
"Kami sudah pernah tidur seperti ini. Jadi kau menjauh saja, kepala putih!"
"A-apa?"
"Jika kalian masih mengoceh, maka ku pastikan mulut kalian takkan bisa bergerak karena aku akan meninju rahang kalian."
Ucapan Baekhyun membuat Sehun dan Chanyeol terdiam kaku. Lama kelamaan mereka mulai merasakan kantuk. Baekhyun tersenyum kecil saat Sehun dan Chanyeol mulai tertidur. Walau ia harus rela tubuhnya menjadi guling kedua lelaki itu, tidak masalah, fikirnya.
"Selamat malam, teman-teman."
.
.
TBC
.
.
Pertama-tama maaf, udah buat FF ini terbengkalai sebulan lebih lamanya.
Kedua, maaf lagi karena isi ceritanya semakin lama semerawut kayak gini.
Ketiga, maaf karena kalian pasti kecewa.
Aku juga gak ngerti, banyak yg bilang gaya penulisan aku gak kayak sebelumnya T-T, aku sadari itu. Makin hari kok nambah hancur gini. Sumpah! stuck ide ngebuat aku kekgini.
Aku usahain dua atau tiga chapter lagi bakal aku tamatin. Aku mudah bosan, jadi gini... Maaf ya guys...
Buat selanjutnya, aku gak tau jadi puncak klimaks atau enggak. Dan NC, chapter depan aku usahain buat. Aku cuma gak mau nambahin NC disini yangmana jadi terkesan maksa gitu.
Problem Baekhyun yg sebenarnya udah mulai kelihatan kan?
Next chapter masih mau lanjut?
Dimohon kritik dan saran yg membangun di kotak reviewnya teman-teman...
See you...
