Title : Lightsaber

Author : Dandelionleon

cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Luhan, Choi Vernon, Kim Kai, Oh Sehun, Do Kyungsoo. Other cast temukan sendiri.

Genre : Drama, Romance, School-life.

Rate : M

Disclaimer : Tuhan YME, agensi mereka, cerita milik saya.

Warning! YAOI (Boyxboy), don't like? Don't read! .

.

Okay... Here we go!

.

.

(Baekhyun POV's)

.

.

Aku merasa dekat. Aku merasa hangat. Lelaki ini benar-benar membuat duniaku jungkir balik dengan sendirinya. Benteng dingin yang selama ini kudirikan dengan kokoh, seakan bisa tersamarkan dengan kehadirannya.

Ungkapan 'benci jadi cinta' kusangka hanyalah omong kosong yang tak berarti. Seolah itu hanyalah banyolan tidak penting. Nyatanya? Aku mulai termakan omonganku sendiri.

Ku pandangi wajah terlelap disebelahku. Sungguh, tak ada sedikitpun cela ku rasa. Aku tak pernah mengagumi siapa pun selama ini-terlebih lelaki. Namun wajah lelaki ini, aku tidak ingin dikatakan munafik jika berkata dia tidak menarik.

Tanganku terjulur spontan, menyingkirkan beberapa helai rambut yang mengenai wajahnya. Dia... Park Chanyeol. Kenapa dia berusaha mendekatiku? Padahal sejak awal hubungan kami tidak ada sedikitpun terfikir olehku bisa berdamai dengannya, apalagi berada begitu dekat seperti ini dengannya.

Awalnya, aku ingin mengabaikan kehadirannya yang bagaikan polusi dimana-mana. Aku menganggap dia memiliki motif tersendiri untuk mendekatiku. Sejauh ini aku hidup, orang-orang yang tulus sangat sulit ku temui, bahkan Xiumin, seseorang yang kukira malaikat yang Tuhan kirimkan untukku, ia bisa meninggalkanku. Dalam luka dan rasa penyesalan. Tetapi, sejak malam itu, secara tidak sengaja... Chanyeol datang menyelamatkanku. Seharusnya aku marah, karena ia melihat kejadian memalukan dimana seorang yang kuat seperti aku ini bisa kalah dibawah kukungan seorang lelaki. Tetapi, hatiku justru berkata lain. Rasa terimakasih selalu kuucapkan, walau tidak secara langsung. Aku mulai memiliki perasaan aneh ini.

Sejak awal, aku memang sedikit memiliki ketertarikan pada Chanyeol, karena aku tau dia adalah Phoenix. Disatu sisi aku kagum dengan caranya berkelahi, saat kami terlibat perkelahian dulu. Bagaimana dia bersikap membelaku bak pahlawan kesiangan saat Vernon menjebakku. Dan juga, bagaimana dia memperhatikanku, walau tidak secara gamblang. Rasanya, mengapa ia harus peduli? Mengapa ia mau-mau saja ikut campur dalam masalahku yang rumit? Bahkan, Sehun dan Kai tidak berani bertindak sejauh itu.

'Aku mencintaimu.'

Kalimat konyol itu... Aku tidak bodoh untuk memahami tingkah polah Chanyeol terhadapku. Hanya saja... Aku tidak ingin berbuat seolah tau. Aku tidak ingin dia menaruh rasa yang dalam padaku. Aku hanya tak ingin perasaan bodoh itu membutakannya. Karena yang ia tau dan semua juga paham... Byun Baekhyun berbahaya. Mungkin dia bisa melawan ratusan preman atau musuh-musuhku. Tetapi ada satu orang yang pasti akan menjauhkannya dariku, membuatnya celaka. Ayahku. Si tua bangka itu...

Tanpa sadar aku meremas pakaian Chanyeol. Mengingat ayahku rasanya perutku bergolak, mual.

"Baek? Kau belum tidur?"

Aku tersentak saat suara parau itu terdengar ke telingaku. Chanyeol tiba-tiba saja terjaga dari tidurnya. Dalam penerangan seadanya, aku bisa melihat ia sedang menatapku saat ini.

Aku hanya menggeleng, seulas senyum tipis ku suguhkan padanya. Seperti biasa, ia langsung ikut tersenyum saat aku melengkungkan bibirku walau sedikit. Apakah dia sebahagia itu?

"Tidurlah, sudah larut malam. Kau tidak bisa tidur, hm?" Tanyanya dengan sangat lembut. Tangannya mengusap helaian rambutku. Bisa saja aku menepisnya, namun entah mengapa aku merasa enggan. Aku cukup nyaman diperlakukan seperti ini olehnya.

Aku kembali menggeleng. Dengan pelan, direngkuhnya aku kedalam pelukan hangatnya. Setelah sebelumnya mengecup dahiku cukup lama. Aku tersentak akan perbuatannya. Dia ini... Berani sekali dia!

"Selamat malam."

Aku merasakan kenyamanan yang telah lama ku rindukan. Kenyamanan dari seorang ayah, seorang ibu dan seorang yang telah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Chanyeol, entah bagaimana caranya. Ia seolah bisa menjadi semua figur itu saat ini. Aku tak bisa berkata-kata dibuatnya.

.

.

Aku duduk di kantin bersama Kai dan Sehun. Namun sejak tadi, Sehun terus bersikap dingin kepadaku. Entahlah, mungkin perihal Aku dan Chanyeol berpelukan hingga pagi membuatnya kesal bukan main hingga kini. Moodnya semakin buruk saat tiba-tiba Chanyeol lewat bersama Luhan dan Kyungsoo. Pandangannya menajam, seolah bisa menguliti Chanyeol saat itu juga.

"Hey! Kalian tidak ingin mengikuti lomba musik sekolah kita? Pendaftarannya telah dibuka hari ini."

Aku menoleh ke arah Kai. Anak itu terlihat begitu bersemangat sekali.

"Entahlah, aku malas. Bagaimana denganmu?"

"Ayolah Sehun! Semangat! Aku tentu saja dance. Bagaimana jika kita duet?"

Kedua sahabatku ini sibuk membicarakan perihal lomba. Kai terus menerus merengek agar Sehun mau bekerja sama dengannya. Pada akhirnya Sehun menyerah juga.

"Yey! Kita tunjukkan keahlian lightsaber yang sebenarnya! Hey Baek? Kau tidak ikut?"

"Tidak, aku tidak memiliki bakat sama sekali." Celututkku tak minat.

"Kau bisa Baek! Kau pintar bernyanyi dan_"

"Mereka semua akan terserang sakit telinga jika mendengar aku bernyanyi." Ujarku setengah bercanda.

Kai menatapku nanar, sejujurnya aku benci dipandangi seperti itu. Mereka mengerti, jika aku membenci musik sejak ibu meninggal. Menurutku itu adalah Baekhyun di masa lalu. Baekhyun yang sudah mati.

Aku tersentak saat tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Spontan, aku langsung menoleh. Itu Chanyeol, dengan senyuman manisnya. Buru-buru ku pasang wajah cuekku. Aku hanya tidak ingin si bodoh ini menanam harapan tinggi jika aku bersikap baik padanya.

"Kenapa kau kemari?" Tanya Sehun, anak itu jelas sekali tidak menyukai kehadiran Chanyeol.

"Tidak, aku hanya ingin meminjam Baekhyun saja."

Sial! memangnya dia kira aku ini barang?! Tanpa persetujuan siapa-siapa, dia langsung menarik tanganku entah kemana. Awalnya aku memberontak, mencoba menarik tanganku yang digenggam erat olehnya. Namun setelahnya, aku mulai menyerah. Aku mulai lelah dan membiarkan lelaki ini membawaku kemanapun.

Alisku berkerut saat kami tiba di depan ruangan musik. Tidak ada siapapun di dalam sana. Suara sepatu kami bersentuhan dengan lantai terdengar menggema diseluruh penjuru ruangan. Mataku melirik beberapa alat musik yang ada disana, mengabaikan Chanyeol yang ternyata sudah duduk saja di sebuah bangku tepat ditengah ruangan besar ini.

Mataku melebar melihat si brengsek itu memegang sebuah gitar akustik. Aku menunduk, mencoba menghindari kontak mata darinya.

"Lagu ini adalah ciptaanku. Aku ingin kau menjadi orang pertama yang mendengarnya."

Ku rasakan pipiku panas saat mendengarnya. Sial! Mau tak mau ku tengadahkan kepalaku saat petikan gitar mulai terdengar. Aku tidak tau itu lagu apa, ia hanya memainkan instrumentalnya saja dengan gitar. Dan tebak! Itu sungguh mengagumkan sekali.

(Sungha jung - Sing for you acoustic cover)

Aku terdiam, menatap Chanyeol yang begitu menghayati permainannya. Bisa ku rasakan emosinya tertuang disana. Terlalu larut dengannya, sampai aku menyadari sesuatu. Tidak! Aku tidak boleh jatuh ke dalam pesona lelaki ini!

"Bagaimana menurutmu?"

"Ha? Biasa saja." Ujarku enteng. Sedikit banyaknya aku merasa menyesal telah mengucapkannya. Sorot mata Chanyeol meredup, namun tetap saja ia tersenyum, walau terlihat sekali dipaksakan.

"well, setidaknya aku sudah berusaha. Hey! Bagaimana denganmu? Kau bisa bermain alat musik?"

Aku menggeleng malas sebagai jawabannya. Padahal aku berbohong untuk itu.

"Yeah, preman kecil sepertimu mana tau apa itu musik." celetuknya asal.

Mataku melotot tidak suka, tetapi bukannya takut, lelaki itu malah mengusap kepalaku seenaknya saja. Aku terdiam, mencoba meredam perasaan menggebu yang merasuki jiwaku.

"aku tidak tau mengapa, aku selalu suka melihatmu."

ku dengar gumaman halusnya dalam jarak sedekat ini. Dengan cepat ku dorong tubuhnya menjauh.

"Jangan perlakukan aku seperti ini lagi, ku mohon."

Chanyeol menatapku penuh tanya. Jawabanku selanjutnya membuat lelaki itu terdiam tanpa kata, bahkan berniat mengejarku rasanya juga enggan.

"Aku tidak menyukaimu, Park Chanyeol."

.

.

Sungguh entah sial apa yang mengikutiku hari ini. Choi Vernon berdiri di hadapanku. Ingatan malam itu langsung terputar di kepalaku sampai rasanya aku ingin muntah. Aku tidak tau apa motif lelaki ini menghalangi jalanku. Aku mencoba memasang wajah setenang mungkin.

"Mau apa kau?"

"Baekhyun... Aku ingin meminta maaf_"

"Berhenti berpura-pura brengsek!"

aku tau, anak ini hanya berpura-pura baik. Dia akan melakukan hal yang sama lagi. Aku takkan termakan omongan busuknya lagi.

"kenapa Baekhyun? Kau takut aku akan melakukan hal seperti kemarin lagi?"

Seringai mengejeknya sudah cukup membuatku paham apa yang ada dalam kepalanya. Ku tepis tangannya yang mencoba menyentuh daguku. Ingin sekali ku banting tubuhnya sekarang juga. Namun aku sedang enggan membuat masalah hari ini.

"Jika kau ingin membalas dendammu, lakukan cara yang lebih terhormat sebagai seorang lelaki." Ejekku. Aku tidak peduli ia merasa kesal akan ucapanku. Yang terpenting aku sudah berhasil membuatnya merasa kesal.

.

.

Aku menyusuri jalanan Seoul seorang diri. Penat yang ku rasa mulai menghilang sedikit demi sedikit. Hingga saat malam mulai menjemput, aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Sesuatu mengejutkanku, sebuah paket lagi. Dengan terburu-buru ku buka kotak tersebut. Isinya masih sama, surat ancaman yang sengaja dibuat agar aku terpuruk dengan semua rasa bersalahku. Puluhan foto aku dan juga xiumin hyung.

'Sebentar lagi, aku akan menemuimu. Pembalasan akan terlihat menyenangkan Baekhyun.'

ku tepis segala pemikiran buruk yang menghantuiku. Jikalau benar itu Xiumin hyung, tidak masalah asalkan ia mau memaafkanku.

.

.

Hari ini, Chanyeol kembali mendekatiku. Senyumannya seolah tak bisa luntur saat serangan wajah cuek kuhadiahkan untuknya.

"Ibu menitipkan bekal untukmu."

Aku menghentikan langkahku yang semula ingin menghindarinya. Ia menatapku penuh harap seraya menunjukkan sebuah kotak bekal berwarna ungu.

Pada akhirnya aku menyerah, aku tidak bisa membiarkannya pundung dengan rasa kecewa. Ku langkahkan kakiku untuk mendekat dengannya. Senyumannya semakin melebar.

"Apa isinya? Kenapa bibi menitipkan ini?"

"Ebi katsu, ibu bilang kau begitu lahap saat makan ini kemarin."

Aku terkekeh pelan, bibi Park ternyata diam-diam memperhatikanku.

"Baiklah! Kemarikan, aku akan memakannya nanti dan jangan lupa sampaikan rasa terima kasihku."

Aku hendak berlalu meninggalkannya, sayang sekali Chanyeol menahan kepergianku. Ia menatapku penuh harap-lagi.

"Tidak bisakah kita makan berdua?"

"Apa? Hey! Kau bisa meminta ibumu membuatnya sebanyak mungkin!"

"Aku hanya ingin makan... Denganmu Baek."

Wajahku terasa sedikit panas saat mendengarnya. Chanyeol ini, selain tukang pukul ternyata hobi lainnya adalah suka modus pada seseorang. Pada akhirnya aku mengiyakan juga. Aku yakin takkan sanggup memakan bekal makan siang paket lengkap dengan nasinya ini!

Sebelumnya kami memutuskan untuk makan di atap saja, karena disana adalah tempat yang paling tenang dan sunyi. Saat diperjalanan, aku dan Chanyeol berpapasan dengan Luhan. Lelaki itu tampak sekali tidak menyukai kedekatan kami berdua sejak awal. Wajahnya benar-benar lucu saat cemburu seperi itu. Sejak dulu, aku selalu suka mengganggunya.

Dengan seringai menggoda, aku langsung mengapit lengan Chanyeol. Kurasakan tubuh lelaki disebelahku menegang.

"Ah! Luhan, k-kau ingin makan bersama kami?"

Mendengar ajakan Chanyeol, sepertinya Luhan tertarik. Buru-buru ku potong sebelum anak China ini mengiyakan ajakan Chanyeol.

"Bukankah ibu memasakkan ini untukku?" ujarku main-main.

Aura Luhan menggelap, aku tertawa dalam hati. Apalagi ketika Chanyeol berucap maaf setelahnya.

"Maaf Luhan, um... Kami... Itu..."

"Tidak masalah, aku juga sudah selesai makan. A-aku permisi dulu."

Satu yang ku herankan, kenapa Chanyeol begitu takut jika Luhan marah?

"Kau bertingkah seolah-olah sedang ketahuan berselingkuh oleh pacarmu."

Ejekanku berhasil membuat Chanyeol menoleh dengan wajah penuh tanya. Hal yang terduga selanjutnya, lelaki ini tertawa dengan keras, ia malah merusak tatanan rambutku dengan tangan kasarnya.

"Apa yang kau fikirkan? Aku hanya merasa tidak enak hati saja. Akhir-akhir ini aku jarang bersama Luhan dan Kyungsoo."

Baiklah, sebelum lelaki ini berucap lebih jauh tentang pertemanannya dengan dua lelaki pendek itu, aku segera berjalan menjauh dengan wajah super malas yang kupunya. Secara otomatis, Chanyeol segera mengekoriku.

Kami sampai di rooftop dengan nafas tersenggal-senggal karena berlari menaiki tangga. Buru-buru aku meminta botol minum di genggaman Chanyeol. Aku tersenyum setelah berhasil mengaliri tenggorokanku dengan air segar. Setelahnya, kami segera makan bekal buatan bibi Park. Seperti biasa, luar biasa enak rasanya. Aku sampai lupa diri, bahkan mengabaikan Chanyeol yang sejak tadi menatapku dengan intens.

Acara mengunyahku terhenti saat Chanyeol menarik wajahku mendekat. Tiba-tiba saja jempolnya mengusap sudut bibirku yang belepotan karena mayonaise. Ia menjilat ibu jarinya sambil menatapku setelah itu. Hey! Apa dia berniat menggodaku? Dadaku bergemuruh rasanya. Menggelikan sekali.

Selesai makan dalam keheningan. Kotak bekal telah kosong tanpa sisa. Aku bersandar pada dinding pembatas, kekenyangan membuatku merasa sangat mengantuk.

"Baek? Kau sudah tidur?"

"hng? Belum, kenapa?"

Ada jeda lama, Chanyeol masih belum menjawabku. Merasa penasaran aku segera membuka mataku. Betapa terkejutnya aku saat melihat wajah Chanyeol sudah berada tepat di depan wajahku.

"Tidak... Hanya saja, aku ingin mengatakan sesuatu."

Perasaanku mulai tidak nyaman. Aku mulai mengerti kemana arah pembicaraan kami selanjutnya. Sebisa mungkin ku pasang wajah semenyeramkan mungkin, walau itu tidak bekerja sama sekali untuk Chanyeol.

"Setidaknya jauhkan wajahmu dariku dulu. Aku risih."

Ia bergerak kikuk, lalu duduk disebelahku dengan senyuman lebarnya.

"Aku hanya ingin bertanya tentang Xiumin. Maksudku, yeah... Hubungan kalian itu seperti apa?"

"Hubungan kami? Sangat dekat. Aku begitu menyayangi dia."

"Kau mencintainya? Sebagai seorang pria?"

Aku menatap Chanyeol tak mengerti. Gerak-gerik tubuhnya mengisyaratkan jika dia salah tingkah.

"Tentu saja tidak! Aku menganggapnya seperti hyungku sendiri. Dan satu hal lagi, aku tidak menyukai pria."

Sekali lagi, aku merasa tertekan saat mengucapkan kalimat terakhir. Apalagi ketika melihat sorot mata Chanyeol yang berubah sendu.

"Termasuk jika itu aku?"

aku menatapnya lama, dengan anggukan kaku aku mengiyakan. Ia tersenyum pedih, lalu beranjak dari duduknya.

"Aku fikir, aku terlalu berharap. Sejak awal memang takkan mungkin, kau bisa memiliki perasaan yang sama denganku. Ku fikir ciuman kita beberapa waktu lalu adalah hal yang membuatku yakin jika kau memiliki rasa yang sama, kau membalas ciumanku. Tetapi... Aish, apa yang ku bilang? Hahh... Cha! Baekhyun! Mulai saat ini, anggap aku tidak mengatakan apapun sebelumnya."

Aku menatapnya tak suka saat ia tersenyum sangat dipaksakan. Apalagi ketika dia tertawa seperti orang bodoh. Sejujurnya ucapanku tidak benar. Tetapi aku masih belum yakin jika perasaanku kepadanya adalah perasaan suka. Dan juga, aku masih belum benar-benar percaya jika Chanyeol mencintaiku sebesar itu.

"Dasar bodoh!" itu adalah kalimat terakhir sebelum aku benar-benar pergi meninggalkannya di rooftop siang itu.

.

.

Chanyeol berjalan dengan wajah tak bersemangat. Berulang kali ia menabrak beberapa siswa, namun ia tak peduli bahkan jika siswa-siswa itu meneriakinya. Efek patah hati ternyata sebesar ini. Aku menatapnya dari kejauhan, sedikit rasa bersalah terbesit dihatiku. Namun aku urungkan niatku yang hendak meminta maaf padanya.

"Baekhyun, bisa temani aku ke ruang dance? Ada barang yang tertinggal disana."

Aku mengangguk, namun mataku masih menatap Chanyeol dari sini. Kakiku melangkah mengikuti Sehun menuju ruang dance. Setibanya disana, Sehun segera mencari barangnya yang mungkin saja terjatuh. Aku menunggunya bosan di salah satu bangku.

"Memangnya benda apa yang kau cari?"

"kalung! kalung pemberian ibuku."

Aku segera ikut mencari tanpa berujar apa-apa. Aku tau, Sehun sedang menatapku bingung saat ini. Tetapi aku tidak peduli dengan itu. Aku mulai mencari dimana keberadaan benda tersebut.

Hampir 15 menit berlalu, Sehun mulai lelah. Aku tetap kekeuh mencari karena aku tidak mau mendengar rengekan Sehun setelah ini. Mataku tak sengaja melirik ke kolong kursi. Sebuah benda perak menyita perhatianku. Dengan segera, aku mengambilnya. Sebuah kalung berantai tali hitam agak panjang dengan bandul berbenduk bulat, sepertinya ini mirip seperti liontin. Aku hampir terbahak mengingat Sehun si brengsek mau-maunya memakai benda sejenis liontin, walau ini dalam bentuk yang lebih maskulin dari liontin pada umumnya.

"Ketemu!" Ujarku girang. Sehun segera berlari kearahku dengan mata berbinar. Ia tersenyum sangat lebar sampai gigi-gigi rapinya terlihat. Aku tersentak saat Sehun memelukku erat.

"Astaga Baekhyun, kau benar-benar sang penyelamat!"

"Aish! jangan peluk aku! Sesak sekali bodoh!"

Si brengsek Sehun tidak mau melepas pelukannya. Alhasil aku berusaha menolaknya sementara ia terus memeluk tubuhku. Sampai keseimbanganku hilang, kami terjatuh. Sialnya aku berada dibawah. Untung saja tangan Sehun menyelamatkan kepalaku dari lantai.

Sehun menatap wajahku dengan pandangan berbeda. Aku tidak bisa membaca maksud dari tatapannya kali ini. Wajahnya berubah serius. Aku hendak mendorongnya, namun betapa terkejutnya aku saat dia mencium bibirku. Ia melumatnya, berharap jika aku membalas ciumannya. Aku mengerti dan aku sadar. Selama ini Sehun selalu bersikap berbeda denganku. Tatapannya, cara dia memperhatikanku serta godaan yang selalu Kai lontarkan bisa ku simpulkan jika ia menyukaiku. Bukannya percaya diri atau apa, namun seperti itulah kenyataannya. Tetapi aku mencoba berpura-pura tidak tau akan hal itu, karena aku memang tidak bisa membalasnya.

Sehun masih terus menciumku, sedikit lebih dalam dari sebelumnya. Mataku melirik ke arah lain, kemana saja asal jangan menatap mata Sehun. Sayangnya, pandanganku justru jatuh kepada seseorang di depan pintu yang menatap kami dengan terluka? Entahlah! Gerak tubuhku membuatku tak mengerti. Aku segera mendorong tubuh Sehun hingga terjungkal ke lantai. Aku tidak mempedulikan ucapan maafnya. Fikiranku hanya tertuju pada satu orang. Mungkin, dia tidak sengaja melihat aku dan Sehun saat dia melewati ruangan ini. Dengan segera aku berlari keluar kelas, berharap menemukannya. Nyatanya dia sudah menghilang entah kemana.

Aku tidak mengerti, atas dasar apa aku bertingkah begini? Toh, Chanyeol bukan siapa-siapaku. Aku tidak perlu takut jika dia marah bukan? tetapi tetap saja, aku merasa perlu melakukannya karena dia pasti merasa tersakiti.

.

.

Hari ini, Chanyeol tidak masuk ke sekolah. Aku tidak mengerti dengan anak itu. Jika dia marah karena hal kemarin, sungguh! Alasannya tidak ke sekolah benar-benar kekanakan sekali!

Aku terus memikirkan lelaki itu di sepanjang perjalanan aku pulang. Sialan! Kenapa pula aku harus memikirkan dia? Terlalu larut dalam pemikiran bodohku, sampai-sampai aku hampir kehilangan fokusku. Nyaris saja aku menabrak seorang penjual bunga yang hendak menyebrangi jalan.

Jantungku berdetak kencang karena shock mendadak tadi. Ku putuskan untuk menepikan mobilku lalu keluar sejenak.

"Apa yang ku fikirkan?" monologku seperti orang tolol.

Objek pandanganku tertuju pada satu arah yakni sungai di bawah jembatan ini. Jika saja orang melihatku, mungkin mereka mereka aku ingin melakukan ajang bunuh diri disini.

"Kau terlalu muda untuk bunuh diri."

Benar saja bukan? Padahal aku hanya duduk di pagar pembatas saja, tidak berbahaya kan? Aku menoleh ke arah sumber suara. Bertanya-tanya siapa pria sok tau yang menyelutuk asal tentang diriku tadi.

"Paman? Kenapa bisa ada disini?"

Aku kebingungan saat mendapati ayah Chanyeol berada di tempat seperti ini. Paman Park tersenyum lebar, mirip seperti Chanyeol.

"Mobil paman mogok saat hendak pulang ke rumah. Jadi paman bermaksud naik taksi saja. Tetapi kebetulan sekali kau disini. Ayo, antarkan aku ke rumah, bocah!"

Aku memutar bola mataku malas. Tidak ayah, tidak anak, ternyata sifatnya sama saja menyebalkannya.

Akhirnya disinilah aku, di depan rumah keluarga Park. Aku berharap tidak bertemu Chanyeol untuk saat ini. Walau sejak tadi aku begitu penasaran dengan ketidakhadirannya.

"Paman? Chanyeol... Kenapa dia tidak masuk hari ini?"

Ayah Chanyeol menoleh kepadaku saat hendak turun dari mobil. Ia mengedipkan matanya jenaka.

"Jika kau ingin tau, maka turunlah dulu. Bocah nakal itu sedang terkapar di atas tempat tidur."

Mataku membola secara spontan. Hey! Chanyeol sakit? Dengan segera aku mengangguk, mengikuti langkah paman Park memasuki rumah.

Jika saja waktu bisa ku putar ulang kembali, aku memilih tidak masuk kesini! Aku mendapati Luhan dan juga Kyungsoo berada di dalam sini. Bibi Park terlihat begitu senang atas candaan yang Luhan lontarkan. Aku tersenyum kecut ke arah Kyungsoo yang memandangku dengan terkejut. Mungkin melihatku tersenyum adalah hal baru baginya.

"Hai, Bibi."

"Oh! Hai Baekhyun! Bibi merindukanmu."

aku terkekeh melihat tingkah bibi Park. Dapat ku lihat kilatan tidak suka dari mata Luhan saat melihat interaksi kedekatanku dan Bibi.

"Baekhyun menolongku di jalan. Untung saja ada dia, jadi uangku masih aman karena tidak jadi menaiki taksi."

Aku berdecak mendengar ucapan Paman, apalagi ketika dia tertawa terbahak.

"Oh! omong-omong, siapa ini?"

"Ah, perkenalkan... nama saya Luhan dan ini Do Kyungsoo. Kami temannya Chanyeol, Paman."

"Aigoo, Kenapa kalian mau berteman dengan bocah nakal ini?"

"Ayah!"

Aku menoleh kearah Chanyeol. Dia kelihatan tidak suka dengan candaan ayahnya. Mata kami bertemu, aku hendak memberikan senyuman padanya, namun kuurungkan karena ia menatapku berbeda. Pandangannya begitu tajam dan menusuk. Tidak pernah ia menatapku begini, kecuali saat kami masih terlibat perang antar genk dahulu.

"Berhubung kalian disini, bagaimana jika kita memasak makan malam? Kalian para lelaki manis, ayo bantu bibi."

"Baiklah!" Seru Luhan dan Kyungsoo kompak. Aku mengikuti mereka malas-malasan menuju dapur. Luhan kelihatan bersemangat sekali, padahal aku yakin itu semua hanya ajang untuk menarik perhatian bibi Park.

"Wah, jadi Kyungsoo suka memasak?"

"Hm! aku sering memasak, bibi. Itu adalah hobyku."

"Kalau Luhan bagaimana?"

"Aku tidak begitu pintar memasak, tetapi aku sering belajar dengan Kyungsoo."

"Masakannya enak sekali kok Bi."

"Yak! jangan begitu Kyungsoo~"

"Aigoo, Luhan lucu sekali jika malu begini."

Aku memandang mereka datar. Kehadiranku seperti obak nyamuk sekarang. Aku terus melaksanakan tugasku untuk memotong sayuran. Mataku melirik Chanyeol yang berada di ruang televisi. Aku tersentak saat ia ternyata sedang menatapku. Pandangannya masih sama seperti tadi. Buru-buru aku menunduk.

Makan malam kali ini serasa seperti déjà vu. Hanya saja bedanya, jika kemarin aku bersama Kai dan Sehun, kali ini ada Luhan dan Kyungsoo sebagai penggantinya.

Sedari tadi aku hanya diam. aku merasa seperti terasingkan. Apalagi ketika Luhan terus melakukan aksi mengambil hati Bibi dan Paman. Namun bukan itu yang membuat moodku hancur, melainkan karena Chanyeol. Dia tersenyum pada Luhan namun tidak padaku. Ia bahkan mau-mau saja saat Luhan menyuapinya makanan. Entahlah, dia sengaja membuatku dilanda kegelisahan tak mengenakkan seperti ini atau apa.

Aku berusaha makan dengan tenang, mengabaikan tingkah polah dua manusia dihadapanku saat ini.

Malam kian menjemput. Kami terisolasi di rumah Chanyeol akibat hujan yang mengguyur dengan deras. Sebenarnya aku bisa saja pulang karena aku memakai mobil. Namun, berita tentang hujan deras beserta angin kencang yang tiba-tiba membuatku mau tak mau berada disini.

"Kalian tidurlah, Badainya takkan berhenti secepat itu."

Aku mengangguk, toh pulang ke rumah pun sama saja. Aku tidak ingin terjebak dalam badai sendirian. Kami memutuskan tidur saat pukul sepuluh malam. Chanyeol berada di ranjangnya karena yang ku tau dia masih terserang demam, walau tidak terlalu tinggi seperti tadi. Aku menatap Luhan dan Kyungsoo datar. Jika Kyungsoo menatapku segan, Luhan justru menatapku dengan menantang. Aku tidak mempedulikannya dan memilih berbaring di sebelah Kyungsoo saja.

"Tidak apa jika aku tidur disebelahmu?"

"T-tidak ketua Byun! aku justru senang!"

Aku tersenyum ke arahnya lalu berbalik memunggungi anak itu yang sedang terpesona melihat senyumanku.

Aku mencoba tertidur agar tidak mendengar obrolan singkat Luhan dan Chanyeol. Namun mata ini seolah tak mau terpejam sejak tadi! Sial sekali rasanya. Bahkan sampai ku rasakan mereka telah tertidur pulas, mataku masih tidak mengantuk sama sekali. Ku lirik jam tanganku, pukul setengah satu. Rasa haus menyerangku secara tiba-tiba, jadi aku putuskan untuk ke dapur.

Hujan masih turun dengan deras, namun badai sepertinya sudah berhenti. Selesai memuaskan dahagaku, aku berjalan menuju sebuah pintu yang menarik perhatianku yang berada tepat di sebelah dapur. Ku buka perlahan, sepertinya tidak terkunci. Oke, sepertinya aku membuka ruangan kerja Paman Park. Merasa tidak sopan jika masuk ke dalam sana, aku segera berbalik ingin menuju kamar lagi. Tetapi aku hampir terpekik saat seseorang mendorong tubuhku ke dalam ruangan ini. Ia menutup pintu rapat-rapat.

"Ch-Chanyeol... K-kenapa..."

Belum sempat aku melanjutkan omonganku, lelaki ini justru menyerangku dengan ciumannya. Ciuman penuh hasrat dan emosi. Ia mengulum bibirku kuat sekali. Aku mencoba mendorongnya tetapi tidak bisa, dia terlalu kuat. Aku tidak tau kenapa tiba-tiba saja dia bersikap begini. Apakah karena demam sikapnya menjadi aneh begini? Setahuku, dia sudah tertidur pulas sejak tadi.

Kakiku terasa lemas saat lidahnya menerobos masuk menjelajahi mulutku. Panas dari mulutnya begitu terasa. Ia mengharapkan aku menerima ajakan pertarungan lidahnya, sayangnya aku tidak mau. Aku tidak ingin terbuai.

Chanyeol merasa tidak senang, ia segera mendorong tubuhku ke atas meja kerja ayahnya. Tangannya menyingkirkan benda-benda yang ia rasa menggangu.

Ciumannya beralih ke leher serta pundakku. Pandangannya menggelap, dengan paksa ia membuka kaos yang ku pakai.

"Chanyeol hentikan." Ujarku berusaha sepelan mungkin, aku tidak ingin orang tuanya memergoki kami dalam keadaan seperti ini.

Lelaki diatasku ini tak menghiraukan perintahku sama sekali. Ia justru tersenyum, senyuman yang mengerikan.

"Kenapa Baekhyun? kau merasa jijik karena aku seorang lelaki?"

Aku mengangguk, apapun itu alasanku agar dia menjauh dariku.

"Lalu mengapa kau diam saja saat Sehun menciummu?"

Aku tersentak, aku menggeleng. Aku tidak diam, aku berusaha mencegahnya. Aku ingin berkata demikian, tetapi suaraku seolah tercekat di tenggorokanku.

Chanyeol mencium pipiku sangat lembut. Berbeda sekali dengan ciuman kasarnya tadi. Ia mendaratkan kecupan-kecupannya pada wajah, bibir dan juga telingaku yang mana membuat tubuhku menggelinjang.

"Aku mencintaimu Baekhyun... Aku begitu mencintaimu. Jangan buat aku begini... Aku tidak bisa Baekhyun..."

Aku tidak mengerti dengan apa yang ia ucapkan. Mungkin ia masih berada dalam mode demamnya.

Tubuhku meremang saat ia memasukkan putingku ke dalam mulutnya. Ia menghisapnya hingga aku bisa mendengar suara hisapannya. Wajahku memerah mendengarnya.

Aku berusaha menahan desahan memalukanku. Aku berusaha menghentikannya, tetapi tubuhku mengkhianati keinginanku. Aku justru semakin menarik kepala Chanyeol mendekat yangmana semakin membuat lelaki itu semangat untuk mencumbuku lebih jauh.

Aku tersentak saat dia meremas kejantananku dari luar celana sekolah yang masih ku kenakan.

"ahh!" desahan memalukan itu lolos begitu saja.

"Shit! Kau begitu membuatku gila."

.

.

Aku tidak tau apa yang merasuki Chanyeol. Ia menelanjangiku dengan mudahnya. Aku bergerak gelisah diatas meja keras ini. Tubuhku terangkat saat dia menggendongku, membawaku ke sofa yang berada tak jauh dari kami. Ia segera menidurkanku disana.

"Chanyeol... Hentikan kumohon... Hmpphhh..."

Aku menahan pekikanku saat dia menjilati putingku dengan pelan, seolah menggodaku. Bagian bawahku dengan memalukannya sudah ereksi dengan cepat.

"Kenapa Baekhyun? Karena kau membenciku? Apa setelah ini kau akan memusuhiku?"

aku menggelengkan kepalaku kuat saat dia meremas kejantananku. Sial! Rasanya benar-benar gila.

"Akuh... T-tidak suka keadaan seperti ini..."

Chanyeol menarikku hingga terduduk. Ku fikir dia berubah fikiran. Namun opiniku terpatahkan saat dia menarikku duduk diatas pangkuannya. Dia mengecup pundakku dari belakang. Kedua tangannya memainkan putingku dengan jahil. Aku dibuatnya gila akan sentuhan memabukkannya.

Fikiranku mulai berkabut, jika Chanyeol berniat meniduriku malam ini, aku tidak tau harus menyerahkan diriku begitu saja atau tetap menolaknya.

"Ingat sentuhanku ini Baekhyun... Rasakan bagaimana perasaanku ikut tertuang di dalamnya." Bisiknya ditelingaku dengan suara rendahnya.

Aku menunduk, menggigit bibirku dengan sangat keras. Aku malu untuk mengeluarkan desahanku.

"Kenapa? Keluarkan saja sayang..."

Gila! Ini gila! Aku menggeleng keras-keras saat ia kembali memainkan kejantanannku. Cairanku keluar, aku menjemput orgasmeku hanya dengan handjob dari tangannya.

"hmmmhh..."

Tubuhku dibalikkan dengan cepat hingga aku berhadapan langsung dengannya. Ia tersenyum begitu lembut ke arahku. Tangannya mengusap keningku yang berkeringat, menyingkirkan beberapa helai anak rambut yang menempeli keningku yang basah.

"Kau begitu sempurna."

Sungguh memalukan, tetapi aku berdebar mendengar ucapan cheesy darinya.

"Kenapa kau melakukan ini Chanyeol?"

Chanyeol menyembunyikan wajahnya di dadaku. Sesekali bibirnya akan menciumi kulit dadaku.

"Aku tidak tau, Maaf jika kau menganggapku brengsek, Baekhyun."

"Maaf Chanyeol... Justru aku yang telah menyakitimu."

Lelaki ini mengangkat wajahnya, menatapku dengan sorot mata penuh kelembutan. Tangannya mengusap punggungku dengan gerakan acak.

"Tidak... Justru aku yang meminta maaf karena hampir merusakmu."

Aku tertegun dengan ucapannya. Dia ini... Dia menahannya karena itu? Padahal aku tau, miliknya telah ereksi sejak tadi. Aku tau itu menyakitkan sekali. Tetapi, tidak mungkin jika aku menyerahkan diriku begitu saja sementara aku masih dalam sebuah dilema besar.

"Aku... Aku bisa membantumu..." Cicitku sangat pelan, tetapi aku tau jika Chanyeol bisa mendengar ucapanku.

"Membantu? Maksudmu apa, Baek_"

Aku turun dari pangkuannya. Entah ide gila darimana aku berani berbuat senekat ini. Kubaringkan tubuhku di atas sofa. Kedua kakiku sengaja ku tekuk.

"Kau... Kau bisa melakukannya." Ujarku dengan tingkah seperti gadis menjijikkan. Padahal jauh dalam hatiku, aku masih ragu.

Chanyeol menatap tubuhku penuh ketakjuban. terlihat keraguan dalam matanya, namun setelahnya ia segera membuka kaos yang ia kenakan. Ia mulai mencium bibirku. Lidahnya menyapu bibirku, sebuah sinyal untukku agar aku membuka mulutku. Kami berperang lidah. Saliva mengaliri daguku. Tangan Chanyeol tak tinggal diam, ia mengusap daerah sensitifku.

Aku menendang udara saat kepala Chanyeol berada di antara kedua pahaku. Aku bisa merasakan nafasnya yang panas mengenai lubangku.

"Nnhhh... " mataku melotot saat mengintip kegiatan Chanyeol di bawah sana. Ia menciumi serta menjilat lubang anus_sial! Aku ingin muntah sekarang juga jika membayangkannya. Namun berbeda dengan rasionalku, tubuhku justru menyukainya. Aku menggelinjang geli, merasakan friksi yang begitu nikmat saat Chanyeol memanjakan diriku. Katakanlah jika aku munafik. Aku juga tidak mengerti dengan diriku sendiri.

Jantungku berdegup begitu kencang saat Chanyeol mulai membuka celananya. Tubuhnya mengukungku. Aku tidak bisa berkutik dihadapannya. Bisa kurasakan kejantanan kerasnya menggesek lubangku. Keraguan itu muncul kembali. Aku menutup mataku rapat. Jika aku mendorong Chanyeol menjauh saat ini, dia pasti merasa aku mempermainkannya. Tetapi jika ini diteruskan, aku... Aku tidak sanggup.

Chanyeol masih menggesekkan kejantanannya. Matanya tertutup, merasakan kenikmatan, mungkin. Geraman-geraman rendahnya terdengar membuat bulu kudukku berdiri. Aku tak berani mengeluarkan suara, takut-takut jika ada yang mendengar. Tanganku mencengkram kedua pundak Chanyeol. Ketakutan itu tiba-tiba terbayang dibenakku. Aku tidak boleh percaya semudah itu, tidak!

Saat aku hendak menendang Chanyeol, lelaki itu lebih dulu menjauhkan dirinya dariku.

"Maaf Baekhyun... Jangan memaksakan dirimu. Maaf karena aku berbuat sejauh ini. Aku... Aku rasa semua karena demam yang menyerangku hingga fikiranku menjadi tidak jernih."

Sesuatu menghantam hatiku. Satu sisi aku merasa lega dan memuji bagaimana Chanyeol bisa bersikap gentleman seperti ini. Disisi lain... Kenapa aku merasa kecewa? Jadi, dia melakukan hal tadi karena pengaruh demamnya? Aku menunduk, kami sama-sama terdiam. Chanyeol segera memakai pakaiannya. Setelah itu ia memakaikan pakaianku kembali. Kami saling tatap dalam diam, seolah bisa bertelepati. Tanganku menyentuh dahinya, benar saja, panas sekali. Mungkinkah demam membuat kesadarannya menjadi tidak stabil? Aku tidak mengerti... Sungguh.

.

.

TBC

.

.

Malam guys... Saya mau ngucapin terimakasih atas respon baik di chapter sebelumnya. Terimakasih yang masih mau ngasih dukungannya buat FF ini. /big smile/

BTW untuk kedepannya, mungkin konflik tonjok-tonjokan bakal sedikit berkurang intensitasnya. Sikap dingin Baekhyun ke Chanyeol juga mulai tergerus oleh waktu /elah/... Di chapter ini saya sengaja buat Baekhyun POV, supaya pembaca sekalian bisa ngerti dengan isi hati Baekhyun yg selama FF ini berlangsung sulit banget di tebak. Maaf kalo kalian ngerasa aneh, apalagi bagian NC, sungguh... Aku gak tega buat Baekhyun di bobol secepat ini, makanya NC gagal, cuma adegan semi doang /lempar authoooor/ X))

lagian, disini itu adalah perang batin Baekhyun, dia masih ragu dengan Chanyeol, bakal murahan banget kalo dia pasrah gitu aja kan? Kalian pasti ngerti gimana perasaan dilema Baekhyun kalo ngebacanya dengan penghayatan ekstra/?

Chapter depan gimana? Ada yg mau ngasih saran? Ayang Vernon gak syuting di chapter ini, chapter depan lihat aja apa yg terjadi. Doakan ketua Byun baik-baik aja /evil smirk/

oke, sekian bacotan kamvretnya. kalo ada saran, mau kenal author atau sekedar tanya2, silahkan kirim PM. Insya Allah author bakal balas. /chu/

okey, see u in the next chapter. Love y'all...