Title : Lightsaber
author : DandelionLeon
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun.
Other cast : Luhan, Oh Sehun, Choi Vernon, Kim Kai, Do Kyungsoo and more temukan sendiri.
Genre : YAOI, school-life, romance, drama, friendship
Rate : T - M
Warning! YAOI, TYPO, Don't like, don't read! No copas!
.
.
Aku mengutuk diriku sendiri, bagaimana bisa aku berucap semua karena pengaruh demam padahal pada kenyataannya aku hampir menikmati tubuhnya?
Aku mengerti, Baekhyun merasa sakit hati. Aku tidak bodoh untuk mengartikan ekspresi wajahnya itu. Dia keluar dari ruangan ini tanpa sepatah kata pun. Ya, mana sudi ia melirikku lagi yang dengan seenaknya mempermainkan dia.
Aku tidak bermaksud begitu, sungguh. Aku hanya tidak tau harus berbuat bagaimana lagi. Bercinta dalam situasi seperti ini sama saja dengan memanfaatkannya bukan?
Aku terkejut saat melihat siluet tubuh Luhan melintas. Kelihatannya ia masih dalam mode mengantuknya. Pemuda itu menatapku dengan senyuman, namun begitu ganjil kurasakan. Hatiku mendadak gusar, apakah ia mengetahui apa yang telah ku perbuat baru saja?
"L-Luhan... K-kenapa kau disini?"
"Aku haus, jadi aku mengambil minum. Kau sendiri apa yang kau lakukan? Bukannya kau sakit?" Tanyanya polos.
Aku hanya diam, tidak tau harus berbicara apalagi untuk membuat alasan.
"Ayo tidur, kau sedang sakit."
Luhan mendorong tubuhku. Setidaknya aku bisa bernafas sedikit lega. Sepertinya anak ini tidak mengetahui apapun.
.
.
Ini sudah hari ketiga sejak dimana kami making out di rumahku. Sosok Baekhyun seolah menghilang ditelan bumi. Ia sengaja menghindariku atau bagaimana, entahlah. Anak itu terlalu sulit untuk ditebak. Aku merasa bersalah dan juga penasaran akan dirinya.
Tidak hanya Baekhyun, Luhan juga ikut menghilang. Dari yang kudengar, dia jatuh sakit.
"Hah... Aku merindukan ketua Byun! Dia sakit ya?"
Pembicaraan teman sekelasku tak sengaja kudengar. Sakit? Mendengar hal itu membuat hatiku gusar bukan main. Aku harus menanyakan ini kepada Kai atau mungkin Sehun.
.
.
Dua pemuda itu tampak bingung dengan kehadiran Chanyeol yang tiba-tiba. Yang berkulit tan lebih dulu mempersilahkan masuk sekedar basa-basi.
"Ada apa kau mendatangi markas kami?" Tanyanya heran. Hal yang paling aneh menurutnya karena biasa Chanyeol hanya akan kemari jika ada ketua mereka disana.
"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu. Baekhyun... apakah dia sakit?"
"Untuk apa kau peduli? Dia bukan siapa-siapamu Chanyeol-ssi, tidak perlu bersikap seolah kau orang terpenting dalam hidupnya."
Chanyeol terkejut akan ucapan yang dilontarkan oleh Oh Sehun. Lelaki itu sepertinya begitu membenci Chanyeol. Namun sedikit banyaknya ucapan lelaki itu ada benarnya. Dirinya tak lebih dari sekedar partner sementara. Chanyeol terkekeh miris dalam hati. Apakah benar ia sudah sebegitu jauhnya memasuki kehidupan Baekhyun?
"Oh Sehun, tidakkah ucapanmu terlalu kelewatan bung? Maafkan dia, Chanyeol."
Kai merasa tidak enak hati saat Sehun berucap demikian. Ia mengerti ada emosi terpendam dari dua lelaki ini. Jika tetap dibiarkan beradu mulut, maka bersiap saja baku hantam terjadi.
"Tidak masalah, aku rasa dia benar. Aku bertanya karena ia orang yang berarti dihidupku, tidak peduli jika aku berarti untuknya atau tidak." Balas Chanyeol mantap.
"Heh... Lucu sekali, begitu puitis ucapanmu. Dengar Chanyeol, hidup Baekhyun begitu keras, kau hanya orang baru yang bersikap sok ikut campur!"
Chanyeol menggeram marah saat Sehun memancing emosi buruknya. Lelaki itu menarik kerah baju Sehun. Matanya menatap dengan nyalang. Kedua lelaki itu saling melempar tatapan tajam, tidak ada yang ingin mengalah. Kai menghela nafasnya, tidak habis fikir ternyata cinta bisa membuat dua manusia dihadapannya bersikap emosional begini.
"Lalu... Kau bisa mengerti dengan dirinya secara keseluruhan? Aku memang orang baru Oh Sehun, namun aku mencoba untuk menjadi sandarannya, hanya itu. Kau bersikap seperti ini karena mencintainya juga?"
Sehun terlihat kaget akan kalimat akhir Chanyeol. Ia tak pernah becerita ini pada siapapun kecuali Kai. Kenapa lelaki ini bisa tau, fikirnya.
BUGGHHH... Satu tinjuan berhasil mengenai tulang pipi Chanyeol. Sehun melakukannya dengan sengaja.
"Tutup mulutmu brengsek! Tidak usah sok tau! Sialan!"
Setelah berujar demikian, lelaki itu lantas pergi meninggalkan ruangan begitu saja.
"Maafkan dia. Sehun memang keras kepala. Kau baik-baik saja Bung?"
"Yeah, i'm okay. Aku tidak peduli akan ucapannya. Sekarang, bisakah kau menjawab pertanyaanku tadi?"
Kai tertawa renyah, ia begitu tertarik dengan hubungan Chanyeol dan Baekhyun. Keduanya sama-sama keras kepala dan juga begitu gengsi untuk mengakui jika mereka rindu.
"Dia memang sakit, hanya demam biasa."
Jadi, dia tidak hadir karena sakit? Chanyeol mengangguk dalam diam.
"Baiklah... Terimakasih infonya. Aku permisi dulu."
"Hey! Chanyeol! Kau mau kemana? Aish! Anak itu."
.
.
Baekhyun terdiam dalam kamarnya. Demam sialan tiba-tiba menyerangnya. Ini adalah hari ketiganya terbaring diatas ranjang seperti orang sekarat. Kegiatannya hanya bermain game lewat ponsel atau menonton televisi. Kehadiran sang ayah juga membuat moodnya tidak baik. Ia enggan untuk sekedar keluar kamar. Melihat wajah sang ayah membuatnya muak bukan main.
Merasa suntuk karena tak ada kegiatan sama sekali, akhirnya Baekhyun memutuskan untuk membaca buku saja, walau pada kenyataannya itu bukan gaya Baekhyun sama sekali.
TOOKK... TOKKK..
"Tuan Muda, Tuan besar ingin anda segera turun ke ruang makan." Ucap suara dari balik pintu.
Baekhyun mendengus kasar, tidak senang kegiatannya diganggu.
"Katakan padanya aku tidak mau." Teriak Baekhyun ogah-ogahan.
"Tetapi ada hal penting yang ingin segera ia bicarakan dengan anda."
Pria tua itu, begitu merepotkan. Baekhyun ingin sekali berteriak 'tidak mau' dihadapan wajahnya nanti. Benar-benar, apakah orang tua selalu seperti ini?
Sesampainya ia disana, aura gelap telah terasa. Seperti biasa, hubungan antara Baekhyun dan ayahnya memang tidak pernah baik bukan? Tuan Byun menatapnya tajam. Bibirnya menipis, menahan gejolak amarah.
Beberapa lembar foto terlempar berserakan diatas meja makan. Baekhyun bingung tentu saja. Apa-apaan itu!?
"Apa maksudmu?" Tanyanya heran kepada sang ayah.
"Kau lihat sendiri!"
Baekhyun mulai mengambil satu persatu foto diatas meja tersebut. Mata sipitnya yang semula memancarkan aura tidak peduli kini kelihatan terkejut.
"I-ini... Kenapa bisa..." Bisiknya saat melihat lembar-lembar foto yang berisikan kedekatannya dengan Chanyeol. Namun dari semua foto, yang paling menarik adalah foto dimana ia dan Chanyeol sedang berciuman di ruangan kerja ayah Chanyeol saat itu. Tidak mungkin jika orang suruhan ayahnya bisa masuk ke dalam rumah keluarga Park dengan mudah bukan?
"Kau benar-benar memalukan sekali! Anak tidak tau diri!"
BRAKKK...
Baekhyun tersentak saat tuan Byun memukuli meja dengan keras. Ia sampai terlonjak karena kagetnya. Wajah tuan Byun benar-benar tidak bersahabat. Tetapi sebisa mungkin Baekhyun tidak takut dengan itu semua. Cukup, ia sudah terlalu muak dengan ini semua.
"Kenapa kau peduli? Bukankah sejak kematian ibu kau tidak menganggapku sebagai seorang 'anak' lagi? Jangan ikut campur dengan urusanku."
"Kurang ajar! Berani sekali kau berujar begitu, hah?! Selama ini kau ku besarkan, seperti ini balasanmu?!"
Baekhyun tertawa, tertawa sakartis. Ia tertawa dengan sangat keras sampai seluruh maid yang memperhatikan kejadian riuh itu merasa khawatir.
"Kau membesarkanku? Ani, bukankah hartamu yang membesarkanku? Tuan Byun, aku sama sekali tidak pernah merasa jika kau membesarkanku. Aku bahkan tidak pernah mengenalmu lagi! Kau bukan ayahku."
Tuan Byun berjalan mendekati Baekhyun. Suatu pukulan mengenai wajah sang anak namun Baekhyun hanya diam tak membalas. Ia terlalu lemah untuk membalasnya saat ini.
"Seperti ini... Seperti ini caramu membesarkanku. Memukuliku, semua yang ku lakukan salah bukan?"
Puluhan lembar foto sengaja dilemparkan ayahnya ke wajah Baekhyun.
"Aku memukulimu karena kau tidak pernah melakukan sesuatu dengan benar! Kau lihat foto itu? Kau berciuman dengan laki-laki Byun Baekhyun!"
"Lantas... tak ada ruginya untukmu bukan?"
"Kurang ajar! Kau memang tidak pernah sadar dengan perbuatan salahmu!"
Baekhyun meringis saat sang ayah menghajarnya membabi buta. Ia jatuh tersungkur, tetapi ayahnya tetap menendangi tubuhnya. Tidak peduli kondisi Baekhyun yang sedang sakit saat ini. Para maid disana ingin menolong, namun mereka tak berani ambil resiko besar. Lawan mereka adalah tuan besar mereka sendiri. Mereka hanya bisa melihat dengan pandangan iba.
"Hentikan! Tuan hentikan!"
Baekhyun menatap seseorang yang datang menolongnya. Chanyeol berdiri mencoba melerai ayahnya. Dari sekian banyak manusia, kenapa harus Chanyeol lagi? Apakah benar jika dirinya memiliki benang merah dengan lelaki itu?
"Keluar kau! Siapa yang menyuruhmu masuk kesini? Pelayan Kang! Kenapa kau biarkan dia masuk?"
"A-aku sudah melarangnya tuan, tetapi ia berlari kesini saat mendengar keributan."
Chanyeol menatap Tuan Byun tanpa rasa takut sedikitpun. Pria paruh baya yang lebih pendek darinya itu juga menatapnya tajam. Seulas senyuman miring terpatri di bibirnya.
"kebetulan sekali, ternyata kau... Park Chanyeol."
Chanyeol terlihat terkejut saat pria itu menyebut namanya. Dalam hati ia bertanya dari mana ayah Baekhyun mengetahui dirinya? Mata bulatnya melirik kearah Baekhyun yang terbaring dengan wajah babak belur. Ia meringis melihat keadaan lelaki itu.
"Kau merusak nama baik keluarga Byun! Lancang sekali kau menyentuh anakku?"
"Jika dia memang benar anak anda, mengapa anda membuatnya menderita seperti ini?" Balas Chanyeol tenang, tanpa ada nada emosi didalamnya.
"Berani sekali kau melawanku. Kau tidak tau apa-apa, nak. Lebih baik jauhi Baekhyun dan jangan campuri masalah keluargaku."
"Tidak akan pernah. Aku akan melindunginya sampai kapanpun."
Baekhyun tercengang akan ucapan Chanyeol. Si bodoh itu benar-benar tidak melihat siapa lawannya. Baekhyun khawatir sang ayah akan melakukan hal yang tidak baik nantinya kepada Chanyeol atau mungkin keluarganya. Pemuda itu berusaha bangkit dengan sedikit tertatih. Ia segera berdiri diantara Chanyeol dan juga ayahnya.
"Jangan ganggu dia. Dia tidak mengetahui apa-apa. Kau bisa menghukumku."
Tuan Byun tertawa sinis. Dua anak muda dihadapannya benar-benar lucu ia rasa.
"Ini bukan drama. Aku tidak main-main dengan ucapanku. Tetapi jika kalian keras kepala, silahkan tanggung sendiri akibatnya."
Pria tua itu pergi berlalu meninggalkan kediaman Byun. Chanyeol dan Baekhyun masih berdiri tanpa bergerak sedikitpun.
"Kenapa kau disini?"
"Sebaiknya nanti saja ku jelaskan. Lukamu lebih baik diobati dahulu." Jawab Chanyeol.
"Kau pergi saja, aku tidak butuh_ Yak! Turunkan aku!"
Chanyeol tak mempedulikan teriakan Baekhyun. Ia menggendong tubuh ringan itu ke dalam kamar sang tuan Muda Byun. Ia segera meminta kotak obat pada salah satu pelayan.
Mereka tak berniat berbicara. Chanyeol begitu sibuk mengobati luka-luka Baekhyun. Sedangkan yang diobati justru sibuk memandangi wajah Chanyeol dalam jarak yang dekat seperti ini.
"Kau kenapa melarikan diri pagi itu dari rumahku?"
Baekhyun tersentak dari lamunannya saat Chanyeol bersuara secara tiba-tiba.
"Aku tidak melarikan diri. Aku berpamitan dengan ayah dan ibumu omong-omong."
"Tetapi tidak denganku. Apa kau marah?"
Baekhyun menelan ludahnya. Sialan! ingatan tentang kejadian itu berputar kembali di otaknya. Pipinya tiba-tiba menghangat.
"Lupakan saja, bukankah seperti itu? Kau khilaf bukan?" Jawabnya mencoba sedatar mungkin.
Chanyeol menghela nafas. Sejujurnya ia merasa tidak enak hati dengan pemuda dihadapannya kini.
"Maaf, karena kita berciuman waktu itu, kau jadi tertular demam."
Alis Baekhyun tertaut mendengarnya. Apa-apaan itu? Jadi dia meminta maaf hanya karena ia telah menularkan virus demamnya. Baekhyun fikir Chanyeol akan meminta maaf akan ucapannya waktu itu. Akan perbuatan Chanyeol yang hampir melecehkannya sepenuhnya, walau sedikit banyak Baekhyun ikut menikmati juga. Tetapi tetap saja bukan? Chanyeol yang salah, dia menarik Baekhyun ke dalam ruangan itu lalu mencumbunya begitu saja.
"Kau meminta maaf hanya karena itu setelah kau hampir saja merenggut keperjakaanku? Dasar brengsek!" Umpat Baekhyun sambil memukul kepala Chanyeol keras.
"Akhh... Kau ini benar-benar tega. Sakit sekali!"
"Lebih sakit aku. Kau tau? Karena foto sialan itu, si tua Byun jadi menghajarku seperti ini." Ucap Baekhyun.
"Foto? Foto apa?"
Baekhyun mulai menceritakan beberapa foto yang didapatkan ayahnya. Namun ia begitu curiga dengan satu buah foto. Foto dimana ia dan Chanyeol berciuman di ruang kerja pribadi tuan Park.
"Tidak ada orang selain kita saat itu." Ujar Baekhyun.
Chanyeol ikut membenarkan. Tidak ada pula yang bangun saat itu kecuali... Luhan? Chanyeol segera menepis fikirannya yang mencurigai jika Luhan adalah pelakunya. Selama ini ia mengenal Luhan adalah sosok yang baik dan juga polos. Lagipula untuk apa pula ia melakukan hal itu?
"Kau tau siapa pelakunya?" Tanya Baekhyun penasaran.
"Entahlah, aku belum begitu yakin. Sudahlah, tidak usah terlalu difikirkan. Aku akan membantumu mencari tau. Sekarang sudah selesai, kau harus istirahat!"
Baekhyun mendengus mendengar perintah Chanyeol. Mau tak mau ia berbaring juga.
"Kau fikir aku tidak lelah istirahat seharian?!" Ucapnya penuh protes.
"Ssstt... Diam atau kucium saja?"
"Brengsek kau!"
.
.
Sebuah ruangan terlihat begitu berantakan kaca cermin hancur dilantai, lampu tidur terbuang disudut ruangan dan juga benda-benda lain yang terlihat begitu berserakan. Beberapa pelayan menatap si pelaku utama takut-takut. Kemarahan tuan muda mereka begitu mengerikan rasanya.
"Hentikan Luhan!"
"arrgghhh! Diam kau Choi Vernon! Kau tidak mengerti! Hiks... Kau tidak mengerti jika aku sakit... Byun Baekhyun... Hiks... Si brengsek itu! Kenapa semua orang yang ku sayang harus mencintainya?!"
Vernon menatap Luhan dengan ringisan dibibirnya. Ia benar-benar terkejut melihat perubahan drastis Luhan. Setaunya, pemuda ini benar-benar polos dan manis dalam kesehariannya. Namun kini yang ia lihat justru adalah seorang monster berbahaya. Sejam yang lalu, ia dihubungi Luhan secara mendadak. Ia tak tau angin apa yang membuat Luhan menghubunginya setelah beberapa waktu terakhir pemuda itu memutuskan hubungan kerja sama diantara mereka. Tetapi yang ia lihat justru hal mengerikan seperti ini. Kepalanya hampir saja terlempar botol wine jika ia tak menghindar dengan cepat.
"Luhan... Dengar! Aku mengerti! Aku tau dengan perasaanmu saat ini! Melihat orang yang kau cintai bercinta memang menyakitkan! tetapi sadarkan dirimu! Kau yang seperti ini sama saja terlihat menyedihkan! Kau takkan bisa melawan Baekhyun jika kau terlihat kacau begini." Bentak Vernon. Tangannya sengaja menangkup wajah Luhan dengan kuat.
Luhan masih menangis tersedu. Emosinya mendadak tidak stabil saat melihat kejadian tempo hari. Park Chanyeol... Orang yang ia cintai bercumbu dengan Byun Baekhyun, seseorang yang begitu ia benci. Depresinya kumat beberapa hari lalu. Tempramennya berubah kacau. Ia sering mengamuk, menghancurkan benda-benda bahkan tak jarang hampir menyakiti dirinya sendiri. Kejadian serupa yang dia alami beberapa tahun lalu.
"Dia telah membuat Xiuminku menderita! Dia perusak! Aku akan membunuhnya!"
Vernon tersentak mendengar ucapan Luhan. Ia tidak tau Luhan sadar atau tidak saat mengucapkan itu. Namun sedikit banyaknya ia merasa jika Luhan tak main-main. Vernon memang membenci Baekhyun karena telah menolaknya dengan kasar. Akhir-akhir ini ia tak pernah terlihat mencari masalah lagi dengan ketua Lightsaber itu semenjak kejadian ia hampir memperkosa Baekhyun. Sedikit banyaknya ia merasa bersalah, apalagi mengingat Park Chanyeol terus-terusan di dekat lelaki itu membuatnya harus diam tanpa berbuat apa-apa. Ia tau, Phoenix berbahaya baginya. tetapi, kembali lagi, Vernon tak pernah sedikitpun berfikir akan membunuh Baekhyun. Ia tak ingin mengotori tangannya dan juga nama baiknya dengan hal semacam itu.
"Tenanglah... Semua akan baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir, Park Chanyeol bisa menjadi milikmu."
Luhan tertawa keras secara tiba-tiba. Vernon merasa lelaki ini memiliki kelainan psikis.
"Kau benar! Byun Baekhyun si bodoh itu! Dia tidak pantas dengan siapapun! Aku akan menghancurkannya dengan tanganku sendiri."
.
.
Baekhyun kembali ke sekolah setelah beberapa hari absen karena sakit. Sekembalinya ia, Sekolah seperti biasa menjadi heboh.
"Akhirnya, kau kembali juga."
Baekhyun mengernyit saat Luhan tiba-tiba menyambutnya dengan senyuman manis. Dua rekannya yang lain tak kalah bingung. Sehun menatap Lelaki itu dengan tajam. Ia tau ada maksud dibalik senyuman itu.
"kenapa kau menyambutku begini?"
"Apakah salah jika aku menyambut teman sekolahku sendiri?" Ujarnya dengan polos.
"Berani sekali kau anak China. Kau ingin di bully lagi rupanya." Ucap Kai tidak suka.
"Sudahlah Kai, tidak usah dipedulikan. Ayo pergi."
Saat mereka berjalan berlawanan arah, Luhan dan Baekhyun saling berpapasan. Lelaki bersurai emas itu berbisik lirih ditelinga Baekhyun sebelum berlalu.
"Aku akan merebut Chanyeol darimu, jalang!"
Ucapannya membuat Baekhyun terpaku. Sejak kapan Luhan yang terkenal begitu penakut menjadi berani seperti ini? Dan apa-apaan dengan sebutan jalang tadi? Rahang Baekhyun mengeras, Luhan hanya tak tau berhadapan dengan siapa, fikir Baekhyun. Namun satu hal yang tidak Baekhyun ketahui jika Luhan lebih berbahaya dari apa yang ia fikirkan.
Sementara itu, Luhan tengah tersenyum misterius di tempatnya. Kyungsoo sampai kebingungan melihat tingkah temannya itu.
"Kau masih sakit ya? Kenapa kau senyum-senyum begitu?"
"Eoh? Tidak, aku hanya senang, akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu." Ucapnya lalu memeluk tubuh Kyungsoo.
"Aku tidak dipeluk?"
"C-Chanyeol?"
Kyungsoo berdehem saat Chanyeol hadir diantara mereka. Ia menyenggol lengan Luhan. Lelaki berdarah Chinese itu tampak malu-malu dengan rona di kedua pipinya.
"Aku hanya bercanda. Apa kau sudah baikan?" Tanya Chanyeol. Tangannya mengusap rambut halus Luhan.
"S-sudah..."
Chanyeol tersenyum. Dalam hati ia bertanya-tanya. Apakah benar Luhan yang mengambil fotonya dan Baekhyun? Melihat sifat baik Luhan seperti ini membuatnya tidak yakin jika Luhan adalah pelakunya.
"Untuk merayakan kesembuhanmu, bagaimana jika kita makan tteokbokki? Aku yang akan membayar!"
Mata Luhan berbinar senang mendengar ucapan Chanyeol. Ia mengangguk antusias. Sedangkan Chanyeol diam-diam melirik tiap inci gerak-gerik Luhan. Rasa curiga itu sedikit banyak menghantuinya. Mungkin dengan cara halus ia akan menilik ini semua sedikit demi sedikit.
.
.
Baekhyun melihatnya, kebersamaan antara Luhan dan Chanyeol. Chanyeol terlihat bahagia, fikir Baekhyun. Ucapan Luhan tadi membuatnya berfikir lebih keras dan semakin yakin jika Luhan memang menyukai Chanyeol. Dugaannya selama ini memang benar. Ia terkekeh sendiri memikirkan betapa kekanakannya lelaki berdarah China itu. Ia memusuhi Baekhyun hanya karena perihal cinta. Konyol sekali baginya.
Matanya yang semula tak peduli menjadi tertarik saat melihat Chanyeol menyuapi Luhan dengan makanan. terbesit rasa tidak suka saat melihat itu semua.
"Makananmu takkan habis jika kau hanya mengaduknya begitu."
"Aku tidak berselera memakannya." Balas Baekhyun malas.
"Kau harus makan Baek, kau baru saja sembuh bukan?"
Baekhyun menatap Sehun dengan lirikan tajam. Ia paling tidak suka diatur begini. Lelaki bersurai putih itu menelan ludahnya gugup.
"O-oke, jika tidak mau yasudah."
Baekhyun kembali lagi pada rutinitas awalnya. Ia menatap dua sejoli disudut kantin yang terlihat seperti bermesraan dimatanya.
Tak sadar, ia malah meremas sendok ditangannya hingga bengkok.
"Hahh... Sialan!"
"Kau mengejutkanku! Dasar bodoh!" Umpatnya pada pelaku yang baru saja datang.
Baekhyun tercengang melihat keadaan Kai yang terlihat berantakan. Wajahnya babak belur. Sepertinya ia baru saja berkelahi.
"Kenapa denganmu? Siapa yang menghajarmu?" Tanya Sehun heran.
"sekolah sebelah mencari masalah denganku. Aish! sakit sekali Baekhyun!"
"Kenapa kau memelukku?! Lepaskan sialan!"
Baekhyun berusaha melepaskan dirinya dari pelukan maut Kai. Namun matanya tak lepas sedikitpun dari Chanyeol. Sayangnya lelaki itu sama sekali tak mau menatapnya.
'Jadi... Perhatiannya kemarin itu berarti apa?'
.
.
Baekhyun mendrible bola basket ke atas lapangan basket outdoor. Matanya menerawang jauh. Akhir-akhir ini ia tak pernah lagi terlibat perkelahian. Tangannya sedikit gatal untuk menghajar orang. Lelaki itu terkejut saat seseorang menutup matanya. Ia berusaha menyingkirkan tangan tersebut dari matanya.
"Tebak siapa aku."
"Si bodoh Park Chanyeol. Lepaskan."
Chanyeol tertawa cengengesan. Ia duduk disebelah Baekhyun tanpa disuruh lebih dulu.
"Kau bolos dari kelas?" Tanyanya berbasa-basi.
"Sudah tau masih bertanya. Kenapa kau disini? Pergi sana, tidak usah menggangguku." Ketus Baekhyun. Ia masih tidak senang mengingat kejadian tadi. Park Chanyeol itu seperti players sejati baginya. Terkadang ia begitu baik dan perhatian pada Baekhyun, namun ia juga melakukan hal yang sama pada Luhan.
Bukannya takut, Chanyeol justru mencubit pipi Baekhyun. Disaat Baekhyun hendak berteriak, ia malah mengacak-acak surai kemerahannya hingga berantakan.
"Jangan perlakukan aku seperti ini!" Teriak Baekhyun membuat Chanyeol terkejut.
"Kenapa? Kau tidak suka? Kau itu manis Baekhyun, aku jadi gemas."
Ucapan Chanyeol memang terkesan menggombal dan sekedar omongan sampah. Tetapi Baekhyun tak bisa bohong jika ia merasa berdebar saat mendengarnya.
"Omong-omong, kau sudah tau siapa pelaku yang mengambil foto kita?"
Chanyeol menoleh kearah Baekhyun lalu menggeleng, ia mengedipkan matanya jenaka.
"Tenang saja, aku akan segera mendapatkan pelakunya."
"Sombong sekali. Bagaimana bisa kau mendapatkan pelakunya jika kerjamu hanya bermesraan setiap hari." Sindir Baekhyun.
Chanyeol masih tak mengerti dengan ucapan Baekhyun. Ia teringat satu hal lalu sebuah senyuman menggoda terukir dibibirnya.
"Kau cemburu dengan Luhan?"
"Tidak! Mana mungkin aku cemburu dengan si lemah itu. Menyingkir! Jangan peluk aku!"
Bukan Chanyeol namanya jika menghiraukan ucapan Baekhyun. Ia memeluk tubuh Baekhyun dengan erat lalu setelahnya mencium kening Baekhyun.
"Hanya satu lelaki yang bisa membuatku jatuh cinta. Itu adalah kau."
Baekhyun menatap Chanyeol, mencoba menyelami kedua mata lelaki itu. Ia tak tau apakah Chanyeol membohonginya atau tidak. Sampai saat ini ia masih belum berani untuk mempercayai lelaki itu sepenuhnya.
Dilain pihak, Luhan memperhatikan interaksi Chanyeol dan Baekhyun dari kejauhan. Ia merasa kecil disatu sisi, Byun Baekhyun bukanlah tandingannya. Namun egonya berkata jika Chanyeol adalah miliknya. Luhan pasti akan mendapatkan Chanyeol secepatnya, mungkin dengan cara itu Baekhyun bisa paham bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai.
.
.
Luhan memakai pakaian serba hitam. Dia bukannya ingin mengunjungi makam. Lelaki itu memakai topi untuk menyamarkan identitasnya. Ia berjalan dengan santai menuju sebuah perusahaan besar di Korea. Hingga ia tiba di depan ruangan besar bertuliskan 'CEO room'. Ia mengetuk pintu berbahan kayu jati tersebut beberapa kali.
"Silahkan masuk."
kakinya melangkah mendekati meja di sudut ruangan. Seorang lelaki paruh baya dengan setelan jas mahalnya duduk disana. Ia menatap Luhan menanti ucapan yang akan keluar dari mulut lelaki itu.
"Bagaimana dengan lelaki bernama Park Chanyeol itu. Kapan kau akan menghabisinya?"
"Secepatnya akan saya lakukan, Tuan Byun."
Lelaki yang diketahui sebagai Tuan Byun itu menyeringai berbahaya. Tak sia-sia selama ini ia menyewa mahal jasa Luhan untuk mematai anak semata wayangnya.
"Bagus, aku menanti kabar baik darimu."
"Tentu saja."
Luhan tersenyum misterius. Sebelum menyingkirkan Chanyeol, ia akan menyingkirkan Baekhyun lebih dulu. Luhan takkan mungkin menyakiti Chanyeol begitu saja, ia menyukai lelaki itu. Tujuan utamanya menerima tugas dari tuan Byun semata-mata hanya agar ia bisa memiliki akses mudah untuk mengetahui seluk beluk Baekhyun. Pada saatnya tiba, ia akan menghancurkan lelaki itu dan Boom! Baekhyun akan kehilangan segalanya.
'Byun Baekhyun, kau membuat dua lelaki yang kucintai menderita. Kau fikir aku akan diam saja? Nikmati waktumu beberapa hari lagi.'
.
.
Hari ini adalah hari dimana pentas seni sekolah berlangsung. Seluruh siswa tampak sibuk menikmati acara sekolah. Konsepnya tidak terlalu mewah memang, namun semaraknya begitu terasa. Banyak siswi terpukau dengan penampilan Kai dan Sehun saat melakukan dance modern. Keduanya tampak begitu lincah dan seksi saat melakukan tiap gerakan.
Tak hanya anggota Lightsaber, mereka juga begitu terpukau dengan penampilan Do Kyungsoo si ketua club musik sekolah.
Suara krasak-krusuk terdengar saat ketua Lightsaber naik ke atas panggung. Ini tak biasa. Lelaki itu biasanya mana mau ikut serta dalam acara seperti ini. Apalagi pensi kali ini diadakan untuk sebuah amal. Mereka begitu antusias dan penasaran dengan penampilan Baekhyun. Tak hanya itu saja, mereka juga sibuk membicarakan penampilan Baekhyun yang terkesan baru. Lelaki itu mengecat rambutnya menjadi hitam gelap. Tak tau apa alasan yang pasti, yang jelas ia tampak dua kali lebih tampan dari biasanya.
Lantunan nada dari piano yang dimainkan Baekhyun menjadi awal dari penampilan pemuda itu. Selanjutnya suara sorak sorai memenuhi lapangan saat suara ketua Lightsaber itu terdengar. Ia menyanyikan sebuah lagu Miracles in december yang dimiliki boyband terkenal Korea Selatan, EXO.
Seluruh penonton terbius akan penampilannya. Ia terlihat begitu menghayati nyanyiannya. Suaranya begitu lembut dan menenangkan.
Standing applause Baekhyun dapatkan saat ia berakhir menyanyikan lagu tersebut. Ia tersenyum sekilas yang mana membuat fangirlnya terpekik nyaring. Itu adalah moment paling langka dimana seorang Byun Baekhyun tersenyum seperti itu.
Chanyeol memperhatikan penampilan Baekhyun dari backstage. Ia semakin terpesona dengan kemampuan yang dimiliki pujaan hatinya itu. Sekarang Chanyeol juga akan menunjukkan kemampuannya. Ia berjalan ke panggung dengan percaya diri. Tangannya membawa sebuah gitar akustik. Lelaki itu duduk disebuah kursi yang telah disediakan.
Seluruh penonton saling bergosip kembali. Malam ini sepertinya adalah malam kejutan bagi mereka semua. Park Chanyeol akan bernyanyi. Baekhyun ingin tertawa melihatnya. Ia tidak yakin Chanyeol mampu bernyanyi dengan baik. Tetapi semua opininya terpatahkan saat Chanyeol mulai memainkan gitarnya.
[listen to : EXO - Sing for you]
lagu itu adalah lagu yang sama. Chanyeol pernah memainkannya beberapa waktu lalu walau hanya instrumentalnya saja.
(Mengambil gitar tua ku, Pengakuan yang tak pernah kunyatakan.
Berpura-pura membuat satu lagu, Tentang suatu pernyataan.
Cukup dengarkan, aku akan bernyanyi untuk mu)
Suara Chanyeol menggetarkan hati Baekhyun. Ia benar-benar terpukau melihat Chanyeol malam ini.
(Aku sangat mencintaimu tapi aku tak bisa mengatakan apapun
Ini aneh karena harga diriku tak mengizinkanku
Hari ini aku akan mengumpulkan keberanian dan memberitahukanmu.
Tetapi cukup dengarkan saja, aku akan bernyanyi untuk mu)
Baekhyun tak ingin berbesar kepala. Apakah lagu itu ditujukan untuknya atau tidak. Namun pandangan mata Chanyeol yang terus tertuju padanya membuat Baekhyun merasa sedikit haru dihatinya.
(Cara mu menangis, cara mu tersenyum
Aku ingin tahu berapa banyak aku berarti bagimu
Kata-kata yang ingin ku katakan, tapi ku melewatkan kesempatan
Aku akan mengakuinya dan cukup dengarkan,
Aku akan bernyanyi untuk mu, menyanyi untuk mu Cukup dengarkan sekali lalu tersenyum...)
Seolah tertular akan senyuman Chanyeol, Baekhyun ikut tersenyum walau itu sekedar senyuman tipis.
Tepuk tangan meriah dihadiahkan untuk Chanyeol. Pemuda itu tersenyum lebar lalu turun dari panggung. Tujuan utama lelaki itu adalah Baekhyun. Ia tak sadar dirinya telah melalui Luhan tanpa melihat sedikitpun.
Luhan menatap bagaimana Chanyeol tak meliriknya. Apakah hanya ada Baekhyun dimatanya? Begitulah pemikiran Luhan. Ia menatap Chanyeol yang menarik tangan Baekhyun menjauhi kerumunan dengan penasaran. Lelaki itu berjalan diam-diam mengikuti dua sejoli itu.
"Penampilanmu keren!" Puji Chanyeol.
"K-kau juga. Aku tidak menyangka suara sebesar itu bisa bernyanyi." balas Baekhyun disertai ucapan pedas seperti biasanya.
"Lagu itu untukmu omong-omong, kau suka?"
Baekhyun menatap Chanyeol terkejut. dugaannya benar ternyata. Ia tersenyum lalu mengangguk yang terlihat lucu dimata Chanyeol.
"Omong-omong kemana rambut merahmu?"
"Aku hanya bosan menjadi pusat perhatian. Lalu, kenapa kau membawaku kesini?" Tanya Baekhyun balik.
"Aku hanya tidak suka disana karena terlalu ramai."
"Kau tidak memiliki maksud lain?" Tanya Baekhyun lagi dengan mata memicing curiga. Chanyeol menggaruk tengkuknya salah tingkah.
"Tidak! Jangan berfikiran macam-macam okay? Lagipula tidak mungkin aku melakukan sesuatu. Kau lihat? Disini juga masih banyak orang berlalu lalang!" Sangkal Chanyeol.
Baekhyun melirik ke sekitaran tempatnya berada. Namun hanya satu orang yang menarik matanya. Ia menyeringai saat menemukan Luhan bersembunyi di balik stan makanan. Ide jahil melintas diotak Baekhyun. Lelaki itu memeluk leher Chanyeol secara tiba-tiba.
"Lalu jika sunyi kau baru berani? Kau pengecut sekali Park Chanyeol. Dasar pecundang!"
Chanyeol terlihat bingung dengan sifat Baekhyun yang tiba-tiba. Matanya menatap intens ke dalam mata Baekhyun. Ia menarik pinggang Baekhyun mendekat.
"Aku tidak takut. Hanya saja aku khawatir tidak bisa mengontrolnya nanti."
Kali ini Baekhyun yang dibuat salah tingkah. Ini terlalu dekat, fikirnya. Ia mencoba melepaskan pelukan Chanyeol namun begitu erat rasanya.
"Chanyeol, aku mencarimu."
"Luhan?"
Luhan menatap Chanyeol dengan senyuman polosnya. Diam-diam ia melirik Baekhyun yang terlihat terkejut akan kehadirannya. Ia segera mendekatkan dirinya pada lelaki jangkung disebelahnya.
"Aku ingin memberimu selamat tetapi kau disini. Penampilanmu keren!"
Chanyeol tersenyum saat Luhan memujinya. Ia mengusap rambut Luhan seperti yang biasa ia lakukan. Sepertinya ia melupakan keberadaan Baekhyun sejenak. Dengan kesal Baekhyun sengaja menarik leher Chanyeol.
"Kau mengganggu kami, Luhan-ssi."
"Tapi aku hanya ingin_"
Ucapan Luhan terhenti disaat Baekhyun mencium bibir Chanyeol tepat dihadapannya. Tak hanya mencium, ia sengaja melumat bibir itu dengan caranya sendiri. Luhan semakin berang saat Chanyeol justru membalas ciuman itu. Lelaki itu tidak tahan lagi saat dua insan itu semakin panas bercumbu. Ia memilih pergi dari sana.
Lain halnya Luhan, Chanyeol justru terbuai dengan manisnya bibir Baekhyun. Ia hampir terhanyut begitu jauh. Untung saja Baekhyun segera memutuskan tautan keduanya.
"A-aku... Ke kamar mandi dulu."
Baekhyun berjalan terburu menuju kamar mandi. Ia merutuki dirinya yang begitu berani bertindak hanya karena sebuah emosi sesaat.
Chanyeol tersenyum penuh arti menatap kepergian Baekhyun. ia mengusap bibirnya lalu tertawa seperti orang mendapatkan hadiah terindah. Baginya mendapati sifat Baekhyun yang agresif adalah hal yang langka dan juga ia begitu menyukainya.
.
.
Baekhyun Mencuci wajahnya di wastafel. Ia menatap cerminan dirinya. Wajahnya memerah, apalagi ketika mengingat kejadian tadi. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya kasar.
"Dasar bodoh! Apa yang telah kulakukan, dia pasti besar kepala." Monolognya sendirian
Baekhyun menunduk sejenak, menghirup nafasnya dalam. Ia tak sadar saat seseorang berdiri di belakangnya. Saat ia mengangkat wajahnya, pantulan wajah Luhan di cermin membuatnya bingung. Belum sempat ia berucap sepatah katapun, semua keadaan mendadak gelap. Tubuhnya ambruk ke lantai.
Luhan tersenyum mengerikan saat berhasil memukul tengkuk Baekhyun hingga anak itu pingsan.
"Katakan selamat tinggal pada kehidupanmu yang menyenangkan."
Lelaki itu menyeret tubuh Baekhyun lalu membawanya entah kemana. Ia begitu senang karena berhasil melumpuhkan Baekhyun.
.
.
TBC
.
.
Hai... Maaf, aku ingkar janji karena telat banget updatenya. Sejujurnya aku baru selesai ujian, terus hibernasi seminggu, jadi ya gitu, ngaret... Hehehe...
Buat yang nagih ke fb atau twitter, ini aku udah update. Maaf kalo ceritanya gak menarik.
Btw, Luhan udah mulai menunjukkan sisi jahatnya, hohoho... Moment chanbaek agak kurang di chapter ini. Chapter depan doain aja biar jiwa malesku ilang.
Oh iya... EXO mau comeback ya? Aaaaakh.. Gue histeris liat foto teaser bekyuuun! Huhu... Oke, fangirlannya stop lin! /timpuk kepala sendiri/
thanks buat kalian yg masih setia dengan FF ini. Ditengah banyaknya author kece yang update ff keren, kalian masih mau pantengin FF bulukan ini. Aku terharu /peluk cium/
oke, sekian bacotan gue. Mau lanjut? Penasaran? Yuk... Review dulu!
Annyeong...
