Title : Lightsaber
Author : Dandelionleon
Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Oh Sehun, Luhan, Kim Kai, Do Kyungsoo, Choi Vernon, and other cast temukan sendiri.
Rate : T+
Genre : Romance, Drama, Friendship, School-life.
Warning! Don't like? Don't read! YAOI, adegan kekerasan, bahasa kasar, yang gak sanggup tekan close aja. Don't blame my story!
BGM : 4Men - Thorn Love
.
.
Okay... Let's read!
.
.
Chanyeol duduk seorang diri, menatap lalu lalang siswa SM high school dengan bosan. Ini sudah lewat dari lima belas menit, tetapi Baekhyun tak kunjung terlihat juga. Atau mungkin anak itu meninggalkannya? Oh great! jika benar Chanyeol adalah orang paling bodoh di dunia. Bisa-bisanya ia ditipu dengan lelaki mungil itu?!
Kehadiran Kai dan Sehun membuatnya kebingungan. Keduanya tampak seperti orang yang kebingungan.
"Baekhyun dimana?" Tanya Sehun to the point.
"Dia ke toilet, tetapi belum kembali sejak tadi." Jawab Chanyeol seadanya.
"Dia juga tidak menemui kami. Apa mungkin dia pulang ke rumahnya?"
Sehun menidakkan opini Kai tersebut. Searogannya Baekhyun, ia takkan pernah melupakan ucapan pamit kepada teman-temannya.
"Sepertinya ia terjebak di dalam kamar mandi." Ujar Chanyeol main-main. Tetapi reaksi Sehun justru diluar dugaan. Ia merasakan suatu hal janggal disini.
"Sejak kapan dia pergi?" Tanyanya lagi, mencoba menginterogasi Chanyeol.
"Sejak lima belas menit lalu_"
"Chanyeol! Kau melihat Luhan?"
Ketiga pemuda itu menoleh kepada Kyungsoo yang setengah berlari. Pemuda itu mencoba mengatur nafasnya saat tiba dihadapan Chanyeol dan yang lain.
"Tadi dia kesini lalu dia pergi saat..."
Ucapan Chanyeol menggantung. Ia melupakan satu hal. Terlalu larut mencium Baekhyun, ia sampai melupakan keberadaan Luhan disana.
"Saat? Ayolah! Jangan menggantung ucapanmu! Aku berniat mengembalikan ponselnya. Sepertinya ia tidak sadar jika ini tinggal." Terang Kyungsoo panjang lebar.
Sehun langsung menyambar benda persegi itu. Rasa khawatir tiba-tiba menyerangnya. Ia mencoba membuka password ponsel tersebut. Beberapa kali hingga berhasil! Tidak mudah baginya untuk memecahkan masalah sandi seperti ini.
Dari awal, tidak ada yang mencurigakan. Ketiga pemuda lainnya mulai penasaran dan ikut melihat isi ponsel Luhan. Walau masing-masing dari mereka masih tidak mengerti dengan tujuan Sehun menilik isi ponsel Luhan.
Sebuah folder mencurigakan mereka buka. Chanyeol terkejut bukan main saat melihat beberapa fotonya disana, tentunya foto yang tidak ia sadari kapan diambilnya.
"I-ini..."
"Huh... Sudah kuduga. Luhan memang mencintaimu, Chanyeol."
Ucapan Kyungsoo membuat Kai dan Chanyeol terkejut bukan main, tetapi tidak dengan Sehun yang bersikap tidak peduli sama sekali.
"Hey! Kenapa ada foto kau dan Baekhyun berciuman?!" Pekik Kai heboh. Sehun meliriknya tajam sejenak. Pada akhirnya Kai memilih bungkam.
Y
Chanyeol tak mempedulikan tatapan menuntut jawaban atau menggoda dari Kai atau Kyungsoo. Rasa curiganya kemarin sepertinya terjawab saat ia melihat sebuah foto dimana ia dan Baekhyun making out di rumahnya.
Sejujurnya Sehun meradang melihat foto tersebut. Namun ia belum puas. Ia masih curiga dengan Luhan.
"Ternyata, diam-diam kau berani juga ya." Ejek Kyungsoo pada Chanyeol.
Sehun kembali melihat isi ponsel Luhan tanpa mempedulikan suara-suara disampingnya. Ia ingin rasa penasarannya terjawab sekarang juga.
Sebuah folder dengan nama 'My gege' menyita perhatiannya. Ia langsung membuka dan tebak apa yang mereka lihat?
"X-Xiumin?"
Baik Kai maupun Sehun saling bertatapan penuh arti. Jika Xiumin mengenal Luhan, itu artinya Luhan pasti mengetahui perihal kedekatan Baekhyun dan Xiumin beberapa waktu yang lalu bukan?
Ponsel itu tiba-tiba bergetar, menandakan sebuah panggilan masuk. Namun yang menarik bukan itu, melainkan nama yang tertera disana.
'Mr. Byun'
Sehun tidak yakin jika yang dimaksud adalah ayah Baekhyun, tetapi apa salahnya dicoba? Ia menekan tombol hijau setelah sebelumnya memberi isyarat pada yang lain agar diam.
"Luhan... Apa kau sudah membereskan Park Chanyeol?"
Tidak hanya Sehun, baik Kai, Kyungsoo dan yang utama Chanyeol terkejut bukan main. Membereskan? Apa maksudnya itu? Sehun mematikan panggilan itu sepihak tanpa berniat sama sekali untuk menjawabnya. Suara itu sudah jelas suara tuan Byun.
"Jadi selama ini... Luhan adalah bawahan tuan Byun? Dia mata-mata?" Ucap Kai lirih hampir seperti bisikan, masih tidak percaya.
"Luhan tidak mungkin sejahat itu! Memangnya kalian tidak bisa melihat? Dia anak baik-baik!" sergah Kyungsoo, tak terima jika Luhan-temannya- dikatakan melakukan pekerjaan yang tidak baik.
Sehun segera menatapnya dengan tajam, bibirnya mengulas senyuman mengejek.
"Kau tau serigala berbulu domba? Kau tidak bisa menilai seseorang hanya dari luarnya. Luhan itu ternyata buruk ya?"
"Sialan! tau apa kau tentangnya?!" Teriak Kyungsoo penuh emosi, ia sampai menarik kerah baju Sehun sangking kesalnya.
"Kau yang tidak tau apa-apa! Sialan!" Balas Sehun tak kalah keras.
Merasa keadaan akan panas jika tidak dihentikan, Kai berinisiatif untuk melerai keduanya.
"Sudahlah Sehun! Dia memang tidak tau apa-apa tentang ini. Sekarang lebih baik kita cari Baekhyun, acara puncak akan segera dimulai."
"Huh! Dasar tidak berguna!" Umpat Sehun dingin sebelum berlalu.
"Kau yang tidak berguna! Brengsek!" Teriak Kyungsoo seraya meloncat-loncat kecil. Ia mengacungkan jari tengahnya.
Chanyeol sedari tadi hanya terdiam. Ia sudah tau apa maksud Kai dan Sehun perihal Xiumin. Baekhyun dihantui rasa bersalah sejak lama. Jika Luhan dan Xiumin memiliki hubungan dekat, itu artinya Luhan tau tentang cerita masa lalu Baekhyun.
Chanyeol juga merasa kecewa. Luhan, ia telah menganggap baik lelaki itu, tetapi ternyata ini balasannya? Luhan adalah musuh dalam selimut.
"Chanyeol, aku permisi dulu okay? Aku ingin mencari Luhan. Nanti kita bertemu di depan panggung."
"Baiklah."
Lelaki itu kembali terdiam, menerka kejadian yang berhubungan dengan Luhan selama ini. Tidak ada tanda-tanda mencurigkan dari anak itu. Atau mungkin selama ini dia telah ditipu?
.
.
Baekhyun merasakan kepalanya berat. Ia mulai sadar dari pingsannya. Mata sipitnya mulai mengerjap. Ia memperhatikan sekitarnya. Tempat asing, sebuah ruangan dengan cahaya temaram. Sepertinya tempat ini bukanlah hunian yang layak, tepatnya ini gedung lama yang tak terpakai lagi. Pemandangan yang pertama ia lihat adalah pilar-pilar dengan cat mengelupas bahkan sebagian telah retak dan ditumbuhi lumut-lumut. Mungkin tempat ini adalah gedung yang gagal dibangun.
Tubuhnya terasa sakit, ia mencoba menegakkan duduknya. Saat telah tersadar sepenuhnya, Baekhyun baru tau jika dirinya diikat dengan sebuah tali rafia pada kursi yang ia duduki.
"Sial!" Umpatnya pelan.
Baekhyun kembali mengingat kejadian sebelum ia berada disini. Ia berada di sekolah, pentas seni, ciumannya dengan Chanyeol dan toilet sekolah. samar-samar ia mengingat jika tubuhnya dipukul oleh suatu benda. Namun wajah seseorang yang memukulnya belum bisa Baekhyun tebak siapa karena sosok itu mengenakan topi.
"Siapa yang membawaku ke tempat sialan ini?!" Desisnya.
"Ah... Sudah bangun rupanya."
Suara yang begitu familiar menyentaknya. Ia menoleh dengan gerakan pelan ke arah sumber suara. Mata Baekhyun langsung melotot, antara percaya dan tidak mengerti.
"Luhan?"
"Ternyata kau mengenalku. Bagaimana rasanya pingsan selama hampir lima jam disini?"
Lima jam?! selama itu? Tidak! bukan saatnya membahas itu sekarang. Pertanyaan terbesar Baekhyun adalah, apa motif Luhan membawanya ke tempat seperti ini?
"Apa maksudmu membawaku kesini? Apa semua karena masalah Chanyeol?" Tanya Baekhyun dengan suara tenang.
"Kenapa ya? Alasannya begitu banyak jika kau ingin tau, ketua Byun." Jelas Luhan, dengan nada mengejek dibagian akhir kalimatnya.
"Sudahlah, aku sedang tidak mood untuk bermain-main. Jika kau melepaskanku sekarang, aku takkan menghajarmu."
Tawa meledak dari mulut Luhan. Lelaki itu sampai memegangi lututnya. Baekhyun menatapnya tak mengerti. Apa yang lucu? Fikirnya?
"Brengsek! Apa yang lucu? Lepaskan ini Luhan!"
Tawa Luhan terhenti secara mendadak. Raut wajahnya berubah datar, matanya menatap wajah Baekhyun lurus-lurus. Langkah kakinya semakin mendekat pada sang sandera. Ia memegang dagu Baekhyun.
"Kau ingin aku melepaskannya? Jangan memerintahku, Byun Baekhyun." Ia lantas menghempaskan wajah Baekhyun setelah berucap demikian.
Baekhyun terkekeh pelan. Dia tak pernah takut dalam situasi seperti ini karena sebelumnya ia pernah mengalami hal yang lebih parah.
"Kau fikir aku takut Luhan? Kau benar-benar menyedihkan jika hanya karena Chanyeol kau menculikku seperti ini_"
PRAAANNNGGGG...!
Baekhyun terdiam saat Luhan membanting botol yang semula dipegangnya.
"Semua karenamu sialan! Bagaimana rasanya melihat penderitaan orang lain, eoh? Menyenangkan?!"
Sisi lain Luhan terlihat sekarang. Pemuda itu tampak diliputi amarah yang besar. Baekhyun masih bungkam, tak tau harus berucap apa.
"Baekhyun... Baekhyun... Baekhyun... Kenapa semua orang yang ku suka malah menyukaimu? Padahal kau begitu jelek! Ah~ tidak... Kau cantik. Jadi, bagaimana jika aku menghancurkan wajahmu lebih dulu?"
Wajah Baekhyun yang semula begitu tenang berubah waspada saat Luhan mengarahkan salah satu pecahan botol kaca ke arah wajahnya.
"Kau tidak akan berani melakukannya. Caramu benar-benar rendahan Luhan. Jika kau melakukan hal seperti ini, pantas saja orang yang kau suka tak pernah memandangmu."
"Diam jalang! Kau fikir aku tidak berani?"
Jakun Baekhyun naik turun seiring mendekatnya kaca tersebut ke kulit wajahnya. Ia hampir menjerit saat Luhan serius menyayat kulit pipi sebelah kanannya. Darah mengalir dari sana.
"Ah... Wajah ketua Byun mengeluarkan darah. Aku menyesal sekali. Bagaimana jika aku menambahnya lagi?"
Saat Luhan hendak melakukan kegiatan menghancurkan wajah Baekhyun lagi, Baekhyun lebih cekatan untuk menghindar. Ia menghantam kepala Luhan dengan kepalanya sendiri. Keduanya merasakan sakit yang sama, Luhan merasakan pening yang luar biasa. Ia menatap Baekhyun tajam lalu menendang perut anak itu secara tiba-tiba.
"Brengsek! Kau berani kepadaku?!"
"Kau bukan siapa-siapa Luhan. Aku tidak takut padamu."
Kata-kata Baekhyun semakin membuat Luhan berada di puncak emosinya. Ia memukuli wajah Baekhyun membabi buta, menendang perut anak itu, bahkan beberapa kali Baekhyun tersungkur disertai kursi yang terikat dengannya.
Luhan kembali memukuli wajah Baekhyun tanpa ampun.
"Rasakan ini! Bagaimana? Sakit?! Seperti ini rasanya Baekhyun! Kau memukuliku tanpa perasaan! sekarang aku yang berkuasa!"
Baekhyun merasakan sakit yang luar biasa. Tidak! Ia sudah sering dipukuli seperti ini. Bahkan luka bekas pukulan sang ayah kemarin belum juga sembuh, kali ini Luhan mengoyaknya kembali. Dibatas kesadarannya, Baekhyun berharap jika Luhan menghentikan ini, atau ada seseorang yang menolongnya.
'Chanyeol...'
.
.
Chanyeol berulang kali menghubungi nomor ponsel Baekhyun. Terhubung, namun tak juga diangkat. Ia gelisah bukan main. Sejak menghilangnya Baekhyun di sekolah, dirinya merasakan khawatir yang luar biasa. Apalagi Kai dan Sehun juga tidak menemukannya sama sekali.
Panggilan masuk dari Kai dengan cepat ia angkat.
"Halo Kai, bagaimana? Apa Baekhyun ada di rumahnya?"
'Tidak Chanyeol. Pelayannya bilang, Baekhyun tidak kembali ke rumah sama sekali.' Jawab Kai dengan penuh penyesalan.
"Aish! Kemana anak itu, tidak ada tempat lain yang mungkin ia kunjungi?"
'Sehun sudah mengecek ke markas dan tempat-tempat lain yang mungkin saja Baekhyun datangi, tetapi sama sekali tidak ada. Sekarang kau dimana?'
"Aku dirumah, bagaimana denganmu?"
'Aku dan Sehun berada di depan rumah Baekhyun. Jika kau mau, kau bisa menemui kami disini.'
"Baiklah, aku segera kesana."
.
.
Chanyeol tiba dengan raut wajah khawatir. Sehun dan Kai juga menampilkan mimik yang sama. Chanyeol segera menuruni motornya.
"Belum ada perkembangan?" Tanya Chanyeol terburu-buru.
"Aku sudah menghubunginya, dan terus menghubungi tetapi tidak diangkat sama sekali." Jawab Kai lesu.
"Kita harus lapor polisi saja, ayahku akan menangani ini."
"Tidak. Kita belum tau Baekhyun benar diculik atau tidak. Lagipula ini belum sampai 24 jam sejak kehilangan Baekhyun. Hanya ada satu cara, selagi ponselnya aktif, lebih baik kita lacak dengan menggunakan GPS saja."
"Aku setuju dengan Sehun. Jika sudah menemukan keberadaannya, kita segera kesana." Ucap Kai mendukung Sehun.
Chanyeol hanya mengangguk seadanya. Sehun mulai membuka aplikasi di ponselnya. Mereka berharap ini berhasil, karena demi apapun ini adalah satu-satunya cara untuk menemukan Baekhyun.
"Ketemu! Ini... .. Kenapa jauh sekali?"
"Perasaanku tidak baik. Kita kesana sekarang. Sebaiknya kita menaiki satu kendaraan saja." Usul Chanyeol.
Mereka menitipkan kendaraan mereka kepada pelayan di rumah Baekhyun. Ketiganya berangkat menggunakan mobil milik Kai. Tiga pemuda itu berharap Baekhyun dalam keadaan baik-baik saja.
.
.
Baekhyun mencoba meraup kesadarannya kembali. Ia memperhatikan Luhan sedang membakar beberapa potong kayu yang entah darimana ia dapatkan. Lelaki bersurai emas itu menoleh kebelakang saat merasa diperhatikan.
"Ah, sudah bangung ternyata. Ini sudah pukul setengah dua dini hari omong-omong."
Dahi Baekhyun berkerut mendengar ucapan Luhan yang tidak penting menurutnya itu.
"Bagaimana jika ku perkenalkan dengan seseorang? Mungkin kau akan merasa lebih baik."
Baekhyun diam tak bersuara. Bibirnya sobek dan terasa perih jika digerakkan. Ia mengikuti saja alur permainan Luhan. Pemuda itu membawa seseorang menggunakan kursi roda. Sosok itu mengenakan jaket tebal dan juga topi beanie hitam. Baekhyun masih menatapnya samar-samar. Sampai ketika seseorang itu mengangkat wajahnya, ia terkejut bukan main.
"X-Xiumin hyung." Ujarnya dengan suara bergetar. Sosok itu hanya diam, menatap Baekhyun datar.
"Kau masih mengingatnya Baekhyun? Ya... Dia, hyung tersayangmu bukan? Hahaha."
Baekhyun menatap sosok itu dengan mata berkaca-kaca. Bagaimana bisa, Xiumin terlihat begitu kurus dan pucat. Pandangan matanya begitu kosong.
"H-hyung..." Ucap Baekhyun lagi dengan suara lirih menahan tangis.
"Kau tau Baekhyun? Dia seperti ini karenamu. Kau membuatnya menderita."
"Aku tidak melakukannya!" Pekik Baekhyun. Setetes air mata terjatuh begitu saja. Luhan yang melihat hal tersebut tertawa senang.
"Kau melakukannya brengsek! Aku tau semuanya! Xiumin menyelamatkanmu bukan? Karena menyelamatkanmu, ia tidak bisa berjalan lagi. Impiannya untuk menjadi seorang pemain bola menjadi musnah. Saat itu, ia begitu terpuruk. Ia semakin terpuruk saat melihat ayah dan ibu kami meninggal dunia karena kecelakaan. Hiks... Hiks... Tetapi kau malah meninggalkannya dalam keterpurukan!"
"Tidak! Tidaaak! Bukan aku!" Teriak Baekhyun, ia menutup kedua telinganya dengan tangannya. Kepalanya menggeleng dengan keras. Sedangkan matanya terus menangis.
"Kau melakukannya! Kau membuatnya seperti ini. Padahal jika kau ingin tau, Xiumin begitu mencintaimu! Dia tidak sadar jika aku mencintainya lebih dari apapun."
Baekhyun Menatap Luhan sejenak. Luhan mencintai Xiumin dan Xiumin mencintainya? Tubuh Baekhyun melemas rasanya. Semua begitu mengejutkan baginya.
"K-kau siapanya Xiumin hyung eoh?! Jangan sok tau!"
"Aku kembarannya, Byun Baekhyun. Kenapa? Kami tidak mirip? Kau terlalu bodoh untuk menyadari semua ini! Kau tau? Aku mencoba membalaskan dendamnya kepadamu. Aku memasuki sekolah brengsek itu. Ternyata dugaannya benar, kau tak lebih dari seorang keparat yang suka menindas!"
Baekhyun menggeleng, pandangan matanya menjadi tak fokus. Ia kembali menatap Xiumin yang terlihat diam, menatapnya tanpa ada ekspresi sama sekali.
Ingatan Baekhyun kembali pada kejadian beberapa tahun silam. Dimana Xiumin masih berada disisinya. Saat dimana Choi Vernon menculiknya lalu Xiumin menyelamatkannya.
"Vernon! Jangan sentuh dia!"
"Xiumin hyung!"
"Jangan mendekat Xiumin, atau aku akan menyakitinya!" teriak Vernon mengancam.
Baekhyun masih tidak peduli. Ia berusaha meloloskan diri dari Vernon namun tidak bisa. Saat Xiumin mendekat, Vernon memerintahkan anak buahnya untuk memegangi pemuda itu.
"jangan sakiti dia! Cukup aku yang kau sakiti, bangsat!" Teriak Baekhyun menjadi-jadi.
Vernon marah, ia merasa benci dan cemburu. Hanya karena Xiumin, Baekhyun jadi melupakannya.
"Oh, ternyata kau sangat menyayangi dia eoh? Baiklah Baekhyun. Jika lelaki ini cacat, apa kau masih ingin berada didekatnya?"
Mata Xiumin menatap Baekhyun penuh tanya. Baekhyun mengangguk keras, membuat senyuman tipis terukir dibibir Xiumin. Melihat hal itu, Vernon murka. Ia lantas beralih mendekati Xiumin. Lelaki itu mulai memukuli Xiumin membabi buta. Sempat terjadi baku hantam, namun Xiumin kalah telah karena ia harus melawan Vernon beserta anak buahnya sekaligus. Lelaki itu jatuh tersungkur. Baekhyun masih berusaha menolongnya sekuat tenaga yang ia punya. Lelaki itu tak segan menghantam tubuh para anak buah Vernon yang mencoba menahannya agar diam ditempat.
"Jika dia sangat berarti untukmu, maka melihat dia menderita tak ada salahnya bukan?"
KRAKKK...
"ARGGGHHHHH!"
"Hyuuuung!"
Baekhyun jatuh terduduk saat Vernon beserta anak buahnya sengaja menyiksa Xiumin tepat di depan mata Baekhyun. Ia memukuli kedua kaki Xiumin dengan tongkat baseball. Kemungkinan yang terparah adalah kaki Xiumin takkan bisa berfungsi dengan baik lagi.
"Bagaimana Baekhyun? Jika kau tidak ingin melihatnya tersiksa lagi, kau harus menyerah akan kekuasaanmu dan terus berada disisiku."
Baekhyun menatap Xiumin yang masih berteriak, meraung dan merintih di ujung sana. Tubuhnya seakan tak bisa digerakkan. Tanpa sadar ia menggeleng-geleng. Ia bangkit dari duduknya. Baekhyun menyerah, ia tak bisa melihat sosok yang telah ia anggap seperti hyungnya sendiri harus menderita. Maka dari itu Baekhyun hendak mengiyakan permintaan Vernon. Namun sayang, disisa kesadarannya, Xiumin masih bisa menyuruh Baekhyun pergi demi keselamatan lelaki mungil itu. Lelaki yang ternyata telah ia cintai sejak lama.
"Pergilah Baekhyun... A-aku, baik-baik saja. "
"Tidak hyung! A-aku tidak mau!"
"Jika kau masih menganggapku sahabatmu, maka pergilah! Kita bisa bertemu lagi!"
Baekhyun berjalan mundur, ia ketakutan sekali saat itu. Lelaki itu perlahan mulai berlari, mencari pertolongan agar Xiumin segera dilarikan ke Rumah Sakit. Namun, Baekhyun sama sekali tidak pernah menemui Xiumin karena merasa bersalah hingga saat ini.
Baekhyun tersentak dari lamunan masa lalunya saat Luhan menepuk pipinya lumayan keras. Ia memandang Xiumin penuh kerinduan. Ia ingin memeluk sosok itu.
"Jika benar Xiumin mencintaiku, pengorbanannya benar-benar hebat. Kau tau Luhan? Sosokmu sekarang jauh berbeda dari kembaranmu ini. Kau mengingatkanku pada seseorang."
"Cih! Masih bisa bicara rupanya eoh? Kau tidak mengerti tentang aku Byun Baekhyun, jadi jangan sok menilaiku!"
Baekhyun diam, ia menghela nafasnya berat. Sejujurnya ia sudah tidak mampu lagi duduk dalam posisi seperti ini. Belum lagi luka yang ia alami cukup parah. Baekhyun tersenyum sangat manis sebelum berujar kemudian.
"Lebih baik, antarkan hyungmu ke tempat yang lebih baik. Dia kedinginan Luhan. Dan... Segera selesaikan masalahmu denganku."
Luhan tertawa, ia mendekati Xiumin lalu mencium pipi kakak kembarannya itu.
"Gege bilang dia masih ingin disini, kau jangan mengaturku, Byun! aku akan meluruskan masalah ini di depan gege."
Baekhyun mengangguk pasrah. Saat seseorang muncul dibelakang Luhan, Baekhyun terkejut bukan main. Choi Vernon. Jadi... Lelaki itu bekerjasama dengan Luhan?
"Apa kabar Baekhyun? Kau kelihatan buruk."
"Apa maksud semua ini? Kalian bersekongkol?!"Tanya Baekhyun dengan amarah yang hampir meledak.
"Ya, kurang lebih seperti itu." Jawab Vernon main-main.
"Luhan-ssi, kau adalah manusia terbodoh yang pernah ku temui. Kau berkomplotan dengan orang yang telah membuat Hyungmu tidak bisa berjalan lagi!" Teriak Baekhyun.
Luhan terkejut. Ia memandang Vernon menuntut jawaban. Sedangkan sang tersangka hanya mengedikkan bahunya tak peduli seolah kejadian itu hanyalah hal sepele baginya.
Luhan terdiam, tak ada yang tau apa isi kepala anak itu. Selanjutnya ia menyeringai tajam.
"Itu urusan nanti." Bisiknya lirih.
"Jadi Luhan... Apa maksudmu mengajakku kesini?" Kali ini Vernon yang bertanya. Sejujurnya ia mulai merasakan keanehan dari lelaki disebelahnya. Ia merasa tingkah Luhan semakin parah dari waktu ke waktu dan ini adalah puncaknya. Lelaki berdarah China itu menyuruhnya membawa Xiumin ke daerah tersebut tadi. Sungguh kejutan yang sangat luar biasa. Vernon tidak menyangka jika Xiumin adalah kakak kembaran dari Luhan, rekannya sendiri.
"Kau menyukai pemuda bodoh ini bukan? Aku hanya ingin menyaksikan hiburan singkat. Habisi dia didepanku."
Baekhyun menatap keduanya tajam. Ia tau dirinya tak bisa berbuat apa-apa dalam tangan terikat seperti ini.
Vernon mengangguk singkat, walau dalam hati ia begitu sebal karena Luhan berani memerintahnya seenaknya saja. Ia mendekati Baekhyun. Memandang wajah babak belur itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Aku tidak tertarik! Dia terlalu berantakan malam ini." Ucap Vernon seraya menegakkan tubuhnya yang semula membungkuk.
Baekhyun melirik pemuda blasteran itu diam-diam. Entah Vernon bermaksud menolongnya atau tidak, yang jelas Baekhyun bersyukur karena lelaki itu tak jadi menyentuhnya sesuai perintah biadab Luhan.
Luhan menggeram di tempatnya.
"Kau berani membantahku?"
Vernon mengangguk santai, tidak tau jika Luhan memiliki sebuah pisau lipat ditangannya. Pemuda itu menusukkan benda metal itu ke perut Vernon. Baekhyun shock melihat kejadian itu.
"Mati saja kau, dasar tidak berguna. Kau dan pemuda sialan ini sama saja." Desis Luhan berbahaya.
Vernon ambruk ke lantai. Perutnya mengeluarkan cairan pekat berwarna merah. Ia masih berusaha tetap dalam kondisi sadar walau lama kelamaan, kehilangan darah membuatnya pening luar biasa.
"Baiklah, sekarang tinggal kau dan aku, Byun Baekhyun."
Baekhyun menatap Luhan berang. Baekhyun mengira ayahnya adalah makhluk paling tidak punya hati di dunia ini. Nyatanya? Luhan adalah sosok itu. Ia lebih menyeramkan dari monster sekalipun.
"Kau monster Luhan!" Teriaknya kesal.
"Yayaya. Terserah apa julukanmu untukku, jalang!"
"Kenapa kau begitu membenciku? Padahal kau tau jika Xiumin hyung kehilangan fungsi kakinya karena Choi Vernon bukan?!" Tanya Baekhyun lirih. Ia tak mengerti dengan jalan fikiran Luhan yang tidak bisa berfikir luas, menurutnya.
"Kau ingin tau Byun Baekhyun? Pertama, karena Xiumin hyung mencintaimu dan juga kau tidak mempedulikannya setelah dia cacat! Kedua, karena kau telah membullyku dan juga anak-anak lemah lainnya, kau tau Baekhyun? Tingkahmu benar-benar membuatku muak! Kau bertingkah seolah kau adalah yang terkuat!"
Baekhyun masih diam, menerima setiap pengakuan Luhan tersebut. Ia membenarkan beberapa ucapan Luhan.
"Kau benar, aku terlalu angkuh dan merasa hebat akan kekuatanku. Namun ketahuilah Luhan, aku bukannya tidak mempedulikan Xiumin hyung. Hari dimana aku memiliki keberanian untuk menemuinya, ia justru menghilang ditelan bumi. Aku mencarinya kemanapun, namun tetap nihil."
"Alasan! Kau cukup diam! Kau mau tau apa yang selanjutnya? Karena kau telah merebut Chanyeol dariku! Dan kau ingin tau satu hal Baekhyun? Aku membencimu karena kedekatanmu dengan Chanyeol, dia harus menerima konsekuensinya."
Baekhyun tidak mengerti akan ucapan Luhan itu. Konsekuensi apa maksud lelaki ini?
"Ayahmu, memerintahku untuk melenyapkannya. "
DEG!
Sudah Baekhyun duga. Ayahnya takkan tinggal diam. Ia akan menghancurkan lawannya sampai ia puas. Bahkan pada anaknya sendiri ia tega, apalagi terhadap orang lain?
"J-Jadi... Kau orang suruhan ayahku? Jadi selama ini..."
"Yeah, kau terlalu lamban untuk menyadari itu. Tetapi tenang saja, aku tidak akan pernah sudi melenyapkan orang yang ku cintai. Si tua bangka itu justru akan melihat mayat anaknya sendiri besok."
Baekhyun lagi-lagi dibuat kaget dengan ucapan yang Luhan lontarkan. Mayat? Apa lelaki itu berniat untuk membunuhnya?
"Kau gila Luhan! Kau sakit jiwa!" Teriak Baekhyun panik saat Luhan mengeluarkan pistol dari saku celananya. Sejahat apapun Baekhyun, dia tidak pernah membawa benda seperti itu.
"Tenang saja Baekhyun, aku tidak langsung menembakmu. Aku akan bermain-main dulu, dimulai dari yang ringan saja."
"A-akhh! Lepaskan!"
Luhan tak mengindahkan Ucapan Baekhyun. Ia menarik rambut Baekhyun dengan keras. Selanjutnya ia kembali memukuli Baekhyun dengan emosi yang telah lepas sepenuhnya. Ia bagaikan banteng yang tengah mengamuk.
"Ternyata memukul rasanya seperti ini? Hahaha!"
Baekhyun tidak sanggup lagi. Tubuhnya mati rasa. Ia ingin semua ini berakhir. Namun Baekhyun tidak ingin menyerah. Baekhyun tidak ingin mati. Pemuda itu tersungkur saat Luhan membalik kursi yang Baekhyun duduki. suara pukulan Luhan dan juga rintihan menyedihkan dari Baekhyun yang terdengar.
Mata sipit Baekhyun melirik Xiumin yang masih duduk di kursi rodanya dengan samar. pemuda itu masih diam, sedangkan Vernon sepertinya telah pingsan karena kehilangan darah. Baekhyun berharap Tuhan mau mengulurkan tangan-Nya untuk menolong Baekhyun sekali saja. Walau itu terdengar mustahil untuk manusia yang penuh dengan dosa sepertinya.
"Baiklah, kita akhiri sekarang. Aku mulai lelah."
Baekhyun tidak tau, apakah ini akhir dari dunianya atau tidak. Wajah yang ia ingat saat ini adalah wajah ibunya yang begitu teduh tersenyum padanya. Lalu wajah Kai yang selalu melucu agar Baekhyun tertawa. Kemudian Sehun, lelaki yang selalu memberinya pelukan saat Baekhyun dirundung masalah dan yang terakhir... Chanyeol... Lelaki yang berhasil membuatnya tersenyum dengan tulus semenjak kematian ibunya.
DOOORRRR!
Baekhyun berfikir jika Tuhan terlalu baik hati karena membiarkan ia tak merasakan rasa sakit. Atau mungkin ia telah mati?
"G-gege..."
Baekhyun berkerut mendengar suara Luhan yang terdengar samar ditelinganya. Ia mencoba melirik ke depannya. Baekhyun terdiam, tak mampu berucap saat melihat Xiumin terduduk dengan kursi rodanya tepat dihadapan Baekhyun.
Kita kembali pada beberapa menit yang lalu. Saat Luhan hendak menarik pelatuknya, Xiumin menatap interaksi adiknya itu terheran. Tubuhnya tidak lumpuh, hanya kakinya saja yang mengalami hal itu. Xiumin juga tidak gila seperti yang Luhan katakan. Ia masih bisa mencerna sedikit yang terjadi disekitarnya, walau responnya tak sebesar sebelum ia mengalami depresi. Hatinya tergerak, melihat tubuh seseorang didepannya dihantam oleh sang adik membabi buta. Lamat-lamat, ingatannya kembali, wajah itu...
'Baekhyun.'
Xiumin dengan cepat memutar kedua roda kursinya agar berada dihadapan Baekhyun.
Timah panas itu mengenai punggungnya, menembus ke paru-paru. ia tersenyum lirih, menatap wajah Baekhyun yang shock berada beberapa senti darinya. Tangannya bergetar, mencoba memegang pipi Baekhyun yang dipenuhi luka dan memar. Lelaki itu tau, Baekhyun tengah menangis.
"Hyung..." Ucapnya dengan suara yang mengecil. Tenggorokannya seakan tercekat.
"J-Jangan menangis, Baekhyunnie."
"Hyung... Xiumin Hyung... Maafkan aku... Hiks... Maafkan aku! Aku tidak bermaksud meninggalkanmu dalam keterpurukan. Aku_"
"Ssst... Aku tau kau adalah pemuda yang berhati baik. Aku senang, kau masih baik-baik saja."
Baekhyun menggeleng dengan mata yang telah berair. Ia semakin panik saat Xiumin memuntahkan darah dari mulutnya.
"A-aku.. Uhhuk... Aku senang. Akhirnya, aku bisa melihatmu lagi, uhhukk... Sepertinya sudah tidak lama lagi..."
"Jangan berkata yang tidak-tidak! Luhan! Panggil ambulans!"
Luhan berdiri mematung, fikirannya mendadak kosong. Ia menatap tak percaya kedua tangannya. Pistol yang semula dipegangnya terjatuh ke lantai. Lelaki itu menangis, kepalanya menggeleng, menolak pemikiran yang menuduh dirinya.
'Kau pembunuh, Luhan...'
"Tidak... Bukan..." Ucapnya tidak jelas.
"Apa yang kau lakukan brengsek!" Teriak Baekhyun tidak sabaran.
"Uhhukk... Luhannie." Pinta Xiumin susah payah dengan suara yang terputus-putus.
Luhan mengikuti permintaan kakaknya itu. Ia berdiri dengan kepala menunduk.
"J-Jangan salahkan dirimu atas ini. Aku hanya ingin... K-kau hidup lebih baik setelah ini. Lupakan dendammu... Demi aku. Aku menyayangimu, saudaraku... Adik kecilku, Xiaolu."
Luhan tak dapat menahan air matanya lagi. Xiaolu, panggilang kecil Xiumin untuknya. Ia menangis keras, menyadari tubuh Xiumin tidak bernapas lagi. Kulitnya mulai mendingin. Luhan memeluk tubuh itu erat. Ia menangis sejadi-jadinya.
"Jangan tinggalkan aku, gege. Bangun!"
Baekhyun ikut menangis, ia tak bisa berbuat apapun. hatinya teriris melihat kejadian seperti itu secara langsung. Hyung tersayangnya telah pergi. Padahal mereka baru bertemu setelah sekian lamanya. Kenapa ia harus melihat Xiumin menderita didepan matanya? Satu hal yang membuatnya begitu merasa haru dan sedih, Xiumin merelakan nyawanya sampai detik akhir demi seseorang yang ia cintai.
"Semua karenamu, hiks... Karenamu! Kau yang seharusnya mati, Byun Baekhyun! Berapa banyak orang lagi yang harus mati karenamu hah?! ibumu, lalu sekarang kakakku merelakan nyawanya demi manusia tidak berguna sepertimu!"
"Maafkan aku... Maafkan aku..."
"Kau! Keparat! Mati saja kau!"
Luhan Hendak melayangkan pukulannya lagi, tetapi Kakinya tertahan karena seseorang memegangnya. Ia menatap berang si pelaku.
"Choi Vernon brengsek! Ternyata kau masih hidup? Lepaskan aku!"
Vernon berusaha bangkit dari berbaringnya. Wajahnya kelihatan sangat pucat. Ia menatap Luhan tajam lalu meninju rahang Luhan disisa kekuatannya.
"Kau sinting Luhan. Hentikan semua ini!"
"Berhenti kau bilang? Setelah semua ini terjadi? Tidak! Tidak akan!"
Vernon melotot saat Luhan meraih pistolnya kembali yang semula terjatuh. Ia hendak mengarahkannya kepada Baekhyun lagi.
DOORRR!
"ARGGHHH!"
Baekhyun menoleh pada tiga pemuda yang baru saja tiba di ujung ruangan. Sehun, sengaja menembak tangan Luhan hingga tembakan pemuda China itu gagal terjadi.
"Brengsek, kalian!"
Sehun meradang melihat kondisi Baekhyun. Baik ia maupun Kai dan Chanyeol terkejut saat melihat salah seorang lagi di kursi roda.
"Itu Xiumin bukan?" Tanya Kai antara percaya dan tidak.
Yang berambut putih melangkah, mendekati Luhan. Ia mencengkram rahang pemuda itu kasar.
"Seharusnya kuhabisi saja kau sejak dulu!"
Luhan meringis kesakitan. Ia menatap mata Sehun yang memandangnya seolah ingin membunuh.
"Heh... Lalu apa? Kau mau membunuhku sekarang karena aku sudah menghancurkan sahabatmu itu? Silahkan saja_Aakhh!"
Sehun mendendang Luhan hingga tersungkur lalu menginjak tangan lelaki itu yang tadinya tertembak.
"Sakit? Kau jangan bermain api denganku Luhan. Kau telah menyakiti orang yang kucintai! Kau tak lebih dari seekor rusa yang ingin berubah menjadi harimau. Jangan bermimpi!"
Luhan merintih saat Sehun semakin keras menginjak kakinya. Ia menatap lelaki itu tajam. Pandangan matanya beralih kepada sosok yang berdiri terpaku menatapnya. Ia mengeluarkan pandangan memohonnya kepada lelaki itu.
"Hentikan Sehun, kau menyakitinya."
Ucapan Chanyeol membuat Luhan tersenyum kecil. Ia berpikir Chanyeol masih memiliki rasa khawatir padanya. Sedangkan Baekhyun menunduk dalam. Ia tak menyangka jika Chanyeol akan membela Luhan seperti itu.
"Menyakitinya kau bilang?! Kau lihat sendiri Park Chanyeol, Baekhyun lebih tersakiti dibandingkan si keparat ini!" Balas Sehun tak terima, ia semakin menjadi-jadi untuk menyiksa Luhan.
Chanyeol menatap Luhan sedikit lama. Ia akan mencari cara agar Luhan tidak berbuat aneh lagi dengan caranya sendiri.
"Dia... Sssh.. Dia sakit jiwa Park Chanyeol! Cepat bawa Baekhyun dari sini."
Alis Chanyeol tertaut mendengar ucapan Vernon. Ia semakin terkejut melihat perut anak itu terus mengeluarkan darah. Ia semakin yakin jika Luhan adalah pelakunya. Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya diiringi tawa hambar.
"Luhan-a... Kenapa kau melakukan ini? Aku mengira kau adalah seseorang yang baik hati, seseorang yang harus ku lindungi. Ternyata aku salah."
Senyum yang semula terukir dibibir Luhan luntur. Perasaan senang yang tadinya membuncah dihatinya menjadi raib. Ia menatap Chanyeol dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak Chanyeol... Aku hanya_"
"Hentikan Luhan, cukup. Aku kecewa padamu."
Hancur! Luhan merasakan dunia tak berpihak lagi padanya. Bahkan seseorang yang membuat harinya mulai berwarna kini membencinya. Ia diam saja saat Sehun tersenyum mengejek kepadanya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan apapun juga. Matanya melirik Baekhyun, gigi lelaki itu bergemelatuk. Alam bawah sadarnya membisikkan jika semua karena Byun Baekhyun. Ia bangkit merintih saat semua orang terfokus pada Baekhyun. Sehun membuka tali ikatan Baekhyun. Sementara Kai dan Chanyeol membantunya berdiri.
Luhan merangkak, mencoba meraih pistolnya lagi yang terletak lumayan jauh darinya. Jika Chanyeol membencinya, Xiumin telah mati ditangannya, maka ini adalah akhir bagi Luhan.
Vernon mengintip kelakuan Luhan dalam keadaannya yang setengah sadar. Pemuda itu yakin Luhan belum jera sebelum Baekhyun mati. Ia segera menarik pistol Luhan sebelum anak itu sempat menarik pelatuknya.
"Lepaskan aku!"
"Kalian! Cepat bawa Baekhyun dari sini!"
Chanyeol melihat Luhan. Pemuda itu berteriak mengerikan. Ia seperti sosok lain yang tidak Chanyeol kenal. Apakah Luhan memang seperti ini?
"Kau bawa Baekhyun, aku akan mengatasi pemuda ini." Ujar Sehun. Kai menggeleng. Tidak setuju jika Sehun menangani Luhan seorang diri, walau masih ada Vernon disana tetapi tetap saja, pemuda itu dalam kondisi yang tidak baik.
"Kai, kau bawa Vernon. Dan kau Chanyeol, tolong selamatkan Baekhyun."
Chanyeol mengerut mendengar permintaan Sehun. Ia tau, Sehun bisa melawan, Namun sosok Luhan saat ini membuatnya tak sepenuhnya yakin jika dia bisa mengatasi ini seorang diri.
"Aku tetap disini!" Ujar Kai menuntut. Ia tak ingin meninggalkan Sehun seorang diri, itu terlalu beresiko.
"Tidak masalah, aku akan menyusul kalian semua."
Sehun dengan cepat meraih Luhan ke pelukannya, ia mengunci pergerakan tangan anak itu. Vernon tampak lemah lalu dipapah oleh Kai.
Keempat orang itu berlalu. Chanyeol menggendong Baekhyun. Ia mengecup pelipis Baekhyun.
"Tenanglah... Aku disini. Maaf Baekhyun... Aku terlambat menemuimu."
Luhan menatap pemandangan itu sedih. Ia menunduk dalam. Apakah tidak ada lagi seseorang yang bisa mencintainya seperti itu?
"Kenapa kau Diam? Bunuh saja aku." Ujarnya lirih kepada Sehun.
Sehun hanya diam tak bersuara di belakang lelaki itu.
"Aku tidak ingin nama baikku dan juga keluargaku tercoreng hanya karena lelaki sepertimu. Kau tau Luhan? Kau terlalu obsesif sampai melakukan hal nekat seperti ini karena masalah cinta."
"Kau tidak mengerti! Bagaimana sakitnya cinta tak terbalas... Tak ada seorangpun yang mencintaiku."
Sehun mendesah pelan. Ia paham bagaimana rasanya. Sangat paham malah, namun ia takkan bertindak segila ini demi mendapatkan cintanya.
"Aku sangat tau rasanya. Tetapi, Bukan seperti ini caranya. Sekarang, lebih baik kau ikut aku. Kau harus menyerahkan dirimu ke kantor polisi."
Luhan menunduk lagi. Ia tak yakin akan pilihannya.
"Baiklah... Tetapi aku mohon, makamkan Xiumin gege dengan baik."
Sehun mengangguk sekenanya. Mereka mulai berjalan beberapa langkah. Namun, Sehun tidak tau jika Luhan adalah pemuda dengan pemikiran yang sulit ditebak. Ia menyikut perut Sehun keras lalu berlari.
"Luhan! Berhenti kau! Brengsek!"
.
.
Chanyeol baru selesai menelepon pihak kepolisian beserta tim medis. Beberapa menit lagi mungkin mereka baru tiba dilokasi.
Baekhyun meminta turun dari gendongan lelaki itu saat mereka hendak menyebrang jalanan untuk menuju mobil Kai berada. Sedikit lamban memang.
"Lebih baik ku gendong saja Baekhyun."
"Tidak... Aku tidak mau merepotkanmu." Ucap Baekhyun keras kepala.
Sementara itu, disisi Lain...
Luhan memasuki mobilnya. Pipinya telah basah dengan air mata. ia menghidupkan mesin mobil lalu menjalankan mobil tersebut.
"Kau harus mati Baekhyun... Mati..."
Lelaki itu melihat bagaimana Baekhyun berjalan disekitar jalanan yang lengang. Ia menyeringai seperti iblis yang mendapatkan mangsa untuk digoda. Lelaki itu menancap gas dengan kecepatan kencang.
"Katakan selamat tinggal pada dunia! Hahahaaha!"
CKIIITTTT...
BRAAAAKKKK...
Tubuh seseorang yang ditabraknya terhempas. Ia tertawa puas bak orang gila. Matanya menangkap pemandangan didepannya. Kai, Sehun bahkan Vernon berlarian menuju korban tabrak Luhan.
Dahi Luhan berkerut, melihat Baekhyun justru terbaring dipinggiran jalan.
'Mengapa mereka tidak berlari kearah Baekhyun?' fikirnya dalam hati. Lelaki itu terdiam saat melihat keadaan yang sebenarnya.
"PARK CHANYEOOOLLL!" Teriakan Baekhyun membuatnya merasakan sakit dikepalanya.
Hari ini... Ia telah berbuat kesalahan. Ia telah membunuh dua orang yang ia cintai.
.
.
TBC
pertama-tama, Aku gak mau dibilang tukang php gegara males update cepat.
Ini spesial buat kalian, klimaks dari FF ini... Maaf buat Luhan stan, dengan terpaksa aku buat karakter dia kekgini.
Chapter depan bakal sedih-sedihan... Chanyeol mati atau enggak? /plakk/ becanda... Doain dia selamat ya?
Okay... Next chapter, tembus angka seratus lebih, aku update lagi /enggak/ kkk...
Okay lagi... Review boleh?
