Title : Lightsaber
Cast : PCY , BBH, Oh Sehun, Luhan, Choi Vernon, Kim Kai, Do Kyungsoo.
Cameo : Irene RV
Genre : Romance, drama, School-life, friendship.
Rate : T / M
Warning ! YAOI, TYPO, DON'T LIKE, DON'T READ!
.
.
OKAY... Happy reading!
:
:
Anak lelaki kecil itu tertawa riang bersama sang ibu. Wanita muda itu tersenyum lembut melihat keceriaan sang anak. Padahal suaminya telah melarang mereka pergi keluar rumah karena fisik sang istri sedang melemah. Namun karena keras kepalanya, akhirnya suaminya menyerah juga. Alhasil, ia dan juga anaknya yang berusia enam tahun itu berada ditaman saat ini.
"Baekkie, jangan bermain terlalu jauh sayang."
bocah lelaki manis itu menatap ibunya sejenak lalu tersenyum sangat manis. Ia kembali bermain bola, menendang-nendangnya.
"Baekhyun, kemari sayang."
"Ada apa ibu?" Tanyanya dengan suaranya yang khas seperti anak kecil.
"Ayo kita pulang, sepertinya sebentar lagi hujan."
Baekhyun kecil diam, ia menunduk lalu melihat wajah ibunya. Begitu seterusnya.
"Ada apa? Baekkie tidak mau pulang?"
"Baekkie ingin main dengan ibu disini."
Nyonya Byun terlihat berfikir. Ia tau, Baekhyun merasa bosan terus-terusan berada di rumah. Anak itu bahkan bersekolah secara homeschooling dikarenakan demi keselamatan pewaris Byun itu. Nyonya Byun menatap kepala pelayang Jung seolah memberitahu ia akan sedikit menambah waktu disana. Pria itu mengangguk diiringi senyuman sopannya.
"Baiklah! Ayo kita bermain!"
Ibu dan anak itu bermain lempar bola dengan bahagia. Baekhyun kecil akan bersemangat saat bola melesat jauh, ia akan dengan senang hati mengambil bola tersebut.
"Ayo lempar lagi sayang?"
Baekhyun melemparnya terlalu kencang hingga bola tersebut terjatuh jauh dari mereka. Ia berlari diiringi tawa senangnya menuju bolanya berada. Nyonya Byun mengikutinya dari belakang, begitupula pelayan Jung.
Bocah lelaki itu terus berlari, mengejar bolanya yang berada di pinggiran jalan. Baekhyun tidak mempedulikan teriakan ibunya yang memintanya untuk berhenti saat itu. Memang dasarnya Baekhyun itu terlampau aktif, ia mengira sang ibu sedang bermain kejar-kejaran dengannya.
"Baekhyun! Berhenti sayang!"
Terlalu polos, Baekhyun tak mengerti jika saat itu ada bahaya mengintainya. Sebuah kebodohan yang ia sesali seumur hidupnya. Jika saja ia tak merengek pada sang ibu untuk pergi ke taman, maka semua takkan terjadi. Jika saja ia menjadi anak penurut, maka semua takkan terjadi. Jika saja Baekhyun bisa memilih, lebih baik ia mati dibandingkan kehilangan sosok ibu untuk selamanya.
BRAAAKKKK...
Tubuh itu terpental lumayan jauh, suara debuman keras seakan memekakkan telinga. Baekhyun kecil terduduk di pinggir jalan dengan pandangan kosong. Ibunya berdarah, tidak membuka matanya. Kenapa semua orang berlari kearah ibunya?
"Ibu?... IBUUUUU!"
.
.
Dua ambulance dan mobil polisi memenuhi jalanan sunyi itu. Tubuh Vernon diangkat dengan tandu menuju ambulance yang lebih kecil. Lelaki itu sudah pingsan dengan wajahnya yang pucat. Sedangkan Chanyeol mendapat penanganan yang lebih serius.
Baekhyun memperhatikan lelaki disampingnya itu tanpa bisa berujar apapun. Ia terlalu lemas untuk melakukannya. Rasa sakit ditubuhnya terasa kian menjadi-jadi. Ia hanya bisa melihat bagaimana tim medis berusaha menghentikan pendarahan dikepala lelaki itu.
Hati Baekhyun pedih melihatnya. Air matanya tumpah tanpa bisa ditahannya lagi. Tangannya mencoba memegang tangan Chanyeol. Setelahnya ia juga ikut terlelap akibat dari obat bius yang baru saja disuntikkan pada tubuhnya.
'Kau harus bertahan'
.
.
Tuan Byun berjalan cepat hingga suara hentakan kakinya terdengar menggema disepanjang koridor rumah sakit. Ia terkejut bukan main saat dihubungi pihak rumah sakit bahwa putranya mengalami kecelakaan. Lelaki itu melihat dua teman anaknya- Kai dan Sehun- terduduk lemas didepan ruang ICU.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya tanpa basa-basi.
Sehun menatapnya tajam. Ia benar-benar geram pada pria paruh baya dihadapannya.
"Baekhyun diculik oleh orang suruhan anda. Anda tau? Dia hampir sekarat karena mendapati banyak luka." Ucap Baekhyun dengan nada sinis.
Kai berdehem untuk mencairkan suasana tegang ini.
"Baekhyun sedang ditangani dokter, Paman." Sambung Kai singkat. Jujur saja, ia bingung akan berkata seperti apa pada pria didepannya. Kai terlalu canggung pada ayah Baekhyun.
"Aku akan melaporkannya pada polisi."
Tuan Byun terduduk dibangku tunggu. Ia segera menghubungi polisi untuk mencari keberadaan Luhan. Namun Sehun lebih dulu menginterupsinya.
"Tidak perlu, Kami sudah melapornya lebih dulu. Luhan sedang dalam masa pencarian. Lagipula, tidakkah anda malu? Anda melaporkan anak buah anda sendiri padahal otak semuanya adalah anda_"
"Oh Sehun! Cukup!" Ucap Kai sebelum pertengkaran terjadi.
Pria itu menunduk. Ya, Sehun memang benar. Dirinya seharusnya malu! Ia telah membuat anaknya berada dalam celaka.
"Anda seharusnya senang paman. Sekali tepuk, dua lalat kena. Tidak hanya Chanyeol yang berada diambang maut, tetapi Baekhyun juga berada dalam celaka itu."
"Apa maksudmu, Oh Sehun?"
"Maksudku? Bukankah anda membenci Baekhyun, anda seharusnya senang jika ia mati_"
PLAKKK...
Tamparan keras mengenai pipi Sehun. Ia terdiam saat Tuan Byun menatapnya tajam.
"Jaga ucapanmu anak muda. Aku tidak setega itu untuk membuat anakku sendiri mati!"
Sehun terkekeh lirih. Ia masih menatap lelaki itu dengan menantang.
"Lalu... Mengapa anda selalu menyiksanya?"
Ucapan terakhir Sehun sebelum berlalu itu menohok nurani Tuan Byun. Kilas balik tentang masa lalu membuatnya tak bisa berkata-kata. Apa yang telah kulakukan selama ini? Batinnya bertanya.
Ruangan Baekhyun terbuka, dokter keluar dari sana yangmana langsung mendapat pertanyaan dari Ayah Baekhyun.
"Anakku... Bagaimana?"
"Dia mengalami luka dalam yang cukup parah dibagian perutnya. Namun semua akan pulih dalam beberapa hari ke depan. Baekhyun-ssi mengalami shock berat. Anda sudah bisa melihatnya."
Pria paruh baya itu berjalan memasuki ruangan seorang diri. Kai sengaja tidak masuk karena ingin memberi privasi pada keduanya.
Tuan Byun melangkah mendekati sang anak yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan bantuan alat pernapasan. Wajahnya terlihat memprihatinkan dengan luka-luka lebam. Ia memegang telapak tangan sang anak. Pria tua itu menangis menyaksikan keadaan sang anak. Baekhyun yang terkenal keras kepala nyatanya hanyalah anak yang rapuh. Tuan Byun menepuk dadanya sendiri untuk meredam tangisnya.
'Aku begitu bahagia memiliki putra semanis Baekhyun. Berjanjilah untuk menjaganya.'
Ucapan sang istri beberapa tahun silam semakin membuat rasa bersalah itu kian menjadi. Dia telah berkhianat pada janjinya sendiri. Ia telah menelantarkan Baekhyun. Ia tak memperhatikan perkembangan Baekhyun, menekan anak itu dalam perintahnya hingga sang anak beubah menjadi pembangkang.
"Ayah... Hiks... Ayah jangan pukuli Baekkie lagi."
"Ayah... Baekkie mendapat juara satu!"
"Ayah, Kenapa ayah meninggalkan Baekkie?"
"Ayah, aku bukan robotmu!"
"Tuan Byun, anggap saja aku bukan anakmu lagi."
Tuan Byun merasa bodoh. Ia gelap mata, karena kehilangan cintanya, ia bahkan mengecap sang anak sebagai pembawa sial. Beberapa potong kalimat yang dilontarkan Baekhyun kecil hingga ia dewasa menyadarkannya jika dirinya dan Baekhyun sudah memiliki jarak yang amat jauh.
"Maafkan aku... Maafkan ayah sayang."
Tuan Byun mengecupi tangan Baekhyun. Mengapa ia bisa menyiksa Baekhyun selama ini padahal nyatanya Baekhyun adalah buah cintanya sendiri? Bahkan, nyawa anak itu hampir melayang karena ulahnya sendiri.
Malam itu, pria tua itu menghabiskan dirinya untuk menjaga Baekhyun dalam rasa bersalahnya.
'Jiwoo-ya... Maafkan aku karena telah menyakiti anak kita.'
.
.
Baekhyun terbangun, tersentak tepatnya. Ia melirik sekelilingnya. Tidak ada siapapun disini. Ia tersenyum lirih, ternyata keberadaan ayahnya hanya ada dalam mimpi saja. Lagipula, tidak mungkin ayahnya bersikap lembut dan menangis kepadanya? fikirnya.
Seorang perawat memasuki ruangan Baekhyun untuk memeriksa keadaannya.
"Astaga! Kau sudah sadar? Aku akan memanggil dokter_"
"Ini... Sudah berapa lama aku disini?"
"Eh? Tiga hari. Baiklah, aku memanggil dokter dulu."
Tiga hari? Baekhyun tidur selama itu? Ia meringis merasakan nyeri ditubuhnya. Luhan... Semua karena si brengsek itu!
Baekhyun menyadari satu hal. Kenapa ia bisa ada disini... Penculikan, Xiumin, Chanyeol...
Tanpa peduli teriakan perawat yang memintanya berhenti, ia terus berjalan menuju tempat resepsionis berada. Langkah tertatihnya terhenti saat ia berpapasan dengan Kai.
"Baekhyun?! Kau sudah sadar? Kenapa kau disini?!"
"Dimana Chanyeol?"
Ekspresi Kai yang semula senang kini meredup. Ia bahkan enggan untuk berucap. Lelaki itu memeluk Baekhyun erat.
Tidak! Baekhyun mencoba mengusir fikiran buruknya. Apa-apaan itu? Kenapa Kai memeluknya seolah Baekhyun...
"Chanyeol baik-baik saja kan?"
Kai masih diam, ia masih tak mau menjawabnya. Lelaki itu justru mengajak Baekhyun menuju ruangannya kembali.
"Lebih baik kau beristirahat dulu. Kau tidak bisa bertemu dengannya sekarang."
Baekhyun ingin protes, tetapi Kai dengan cepat memotongnya.
"Kau harus pulih baru kita mengunjunginya."
.
.
Terhitung hampir seminggu Baekhyun di rumah sakit, ia sudah bisa keluar kemarin. Namun, sampai detik ini ia belum pernah bertemu Chanyeol. Selama itu pula ia merasakan perasaan khawatir luar biasa. Bagaimanapun juga, Chanyeol kecelakaan karena menyelamatkannya kan?
Pakaian serba hitam telah dikenakannya. Matanya menerawang kosong. Tangannya memegang sebuket bunga krisan putih. Kai dan Sehun berjalan di sebelahnya.
Ia terdiam, menatap gundukan tanah yang masih merah dihadapannya. Lelaki itu berjongkok, ia meletakkan buket bunganya tepat diatas makam tersebut.
"Aku datang... Maaf lama membuatmu menunggu." Bisiknya sangat pelan.
Ia menghembuskan nafasnya, mencoba menghilangkan sesak di dadanya. Lelaki itu menunduk dalam. Bibirnya ia gigit kuat-kuat.
"Pada akhirnya, semua orang merelakan hidupnya hanya untuk manusia tidak berguna sepertiku. Mengapa kalian semua menyelamatkanku? Seharusnya aku yang mati 'kan?" Ujarnya dengan suara bergetar.
"Maafkan aku... Dan terimakasih karena telah mencintaiku sedalam ini. Aku menyayangimu, Xiumin Hyung."
Kai dan Sehun mengusap pundak Baekhyun yang bergetar. Ketiganya menghabiskan beberapa belas menit disana untuk berdoa. Setelahnya, ketiga pemuda itu pergi dari sana menuju tempat lain.
.
.
Baekhyun pov's
aku tak pernah berlaku secengeng ini sejak usiaku beranjak dewasa. Namun, saat melihat tubuhnya terbaring kaku dengan bantuan alat medis rasanya aku tidak sanggup menahan air mataku lagi.
Park Chanyeol, lelaki bodoh itu... Mengapa ia menyelamatkanku saat itu? Mengapa ia mendorongku menjauh dan membiarkan dirinya tertabrak? Apakah ia senang tidur begitu lama seperti ini?
Dulu, aku tidak pernah percaya dengan omong kosongnya yang mengatakan jika dia mencintaiku. Aku tau, itu hanya perasaan emosi sesaat. Kami masih berada dalam emosi yang labil. Aku takut, jika aku menggantungkan harapan namun pada kenyataannya itu semua hanyalah angan semu darinya.
Tetapi, malam itu, ia bahkan berani mempertaruhkan nyawanya demiku. Demi aku si orang yang baru dikenalnya. Aku si brengsek yang pernah menjadi musuh bebuyutannya. Aku yang tidak berguna. Cih! Dia berhasil membuatku tersentuh bahkan berterimakasih. Tetapi taukah kau Park Chanyeol? Aku semakin bersalah rasanya. Ucapan Luhan kala itu benar. Ibu, Xiumin hyung bahkan Vernon dan sekarang kau... Aku terlalu jahat membuat kalian berada dalam masa sulit. Padahal pada kenyataannya aku yang harus mati.
Namun satu hal, aku takkan menyia-nyiakan hidup yang telah ibu dan Xiumin hyung perjuangkan demiku. Dan kau... Aku tidak ingin kehilangan lagi karena aku belum sempat membalas rasa cintamu.
Ini sudah hampir sebulan lamanya. Chanyeol koma akibat benturan keras dikepalanya. Ia kehilangan banyak darah saat itu.
"Hey... Kau masih betah tidur terus? Ayo bangun dan kita berkelahi lagi."
"..."
Seperti orang bodoh, aku seperti berbicara pada mesin deflibilator. Ibu Chanyeol dan Ayahnya menatapku geli, walau aku tau mereka menyimpan luka yang besar karena melihat sang anak tak kunjung sadar dari tidur panjangnya.
Aku menunduk dalam, jujur... Aku merindukan lelaki bodoh ini!
"Jika kau tidak bangun, maka biarkan aku ikut bersamamu juga." Bisikku.
.
.
Author pov's
.
.
Pengadilan tinggi Seoul sedang mengadakan sidang untuk terdakwa Luhan atas kasus yang dilakukan pemuda itu.
"Saudara Luhan didakwa atas perbuatan penculikan, penganiyaan, penggunaan senjata api secara ilegal, pembunuhan dan juga tabrak lari. Aku berharap yang mulia bisa menjatuhinya dengan hukuman seberat-beratnya, seperti penjara seumur hidup. " ujar Jaksa penuntut umum kepada Hakim.
Pengacara Luhan sontak angkat bicara. Ia akan membela kliennya.
"Interupsi! Saya ingin mengajukan pembelaan. Saudara Luhan masih berada dibawah umur yang mulia. lagipula, saat ini dokter memvonisnya mengalami gangguan kejiwaan. Apa itu tidak terlalu memberatkannya? Saya berharap anda bisa mempertimbangkannya lagi."
Hakim terlihat berdiskusi dengan beberapa rekannya.
"Baiklah... Hakim telah memutuskan, saudara Luhan, tersangka penculikan, pembunuhan, penggunaan senjata api ilegal dan juga melakukan aksi tabrak lari, dikarenakan kondisinya saat ini. Kami telah menimbang dengan sangat, Saudari Luhan bebas dari Hukuman. Sidang ditutup."
TOKK... TOKK... TOKK...
Bersamaan dengan ketukan palu itu, beberapa saksi mata seperti Choi Vernon maupun Sehun dan Kai membubarkan diri. Mereka akhirnya bisa lega karena kasus ini dapat terselesaikan juga. Sungguh, hal yang cukup sulit menemukan keberadaan Luhan yang bersembunyi dari kejaran polisi.
"Aku tidak menyangka, kau bersedia menjadi saksi atas ini semua." Ucap Kai pada Vernon. Lelaki blasteran itu tersenyum simpul.
"Sudah seharusnya aku membantu Baekhyun. Disatu sisi aku merasa bersalah, karena... Akar dari semua masalah ini adalah aku. Aku juga merasa bersalah pada Luhan."
"Sebenarnya tidak adil melihatnya dibebaskan dari hukuman. Tetapi, ia telah mendapatkan hukuman yang pantas untuknya. Tuhan itu adilkan?" Ujar Sehun.
Kai hampir terbahak melihat Sehun berujar bijak seperti itu. Ia menepuk pundak Sehun keras yangmana membuat siempunya meringis kecil.
"Ahahaha, Sehun-ssi, kau benar-benar imut sekali, benarkan Vernon?"
"Err... Aku tidak merasa dia itu imut. Dia tetap manusia terdatar yang pernah kutemui." jawab Vernon mengejek.
"Brengsek Kalian! Aish! Aku pergi dulu!"
"Yak! mau kemana kau?!"
Sehun berbalik badan lalu tersenyum misterius.
"Mengunjungi seseorang."
.
.
"Xiumin gege, Xiaolu akan membuatkanmu teh hijau."
Sehun menatap datar pemandangan dihadapannya. Luhan... Lelaki itu tampak kurus dengan wajah pucat. Ia sedang bermain bersama boneka beruangnya. Itu adalah pemberian Sehun beberapa hari lalu karena Luhan terus mengamuk meminta Xiumin kembali.
Konyol memang, kenapa Sehun harus peduli pada lelaki brengsek seperti Luhan?
"Tuan Sehun, anda ingin mengunjungi Luhan?"
Ia melirik pada perawat bernama Irene yang memang ditugaskan untuk merawat Luhan itu.
"Aku hanya ingin melihatnya saja, memastikan dia berulah atau tidak."
Irene mengangguk lalu kemudian ia mengajukan satu pertanyaan yang membuatnya penasaran.
"Omong-omong, aku sudah tau tentang kasus Luhan-ssi. Ada satu pertanyaan yang membuatku penasaran. Kenapa anda begitu peduli padanya?"
Sehun diam, ia tersenyum tipis setelah itu.
"Ya, seharusnya aku marah padanya karena telah membuat orang yang kucintai celaka. Tetapi... Manusia harus melihat hal pada dua sisi agar tidak timpang sebelah. Dibalik kejahatannya, ia menyimpan luka. Aku pernah memiliki seorang saudara dan dia mengalami hal yang sama dengan Luhan, dia mengalami sakit pada kejiwaannya."
Irene mengulas senyum penuh arti. Ia menatap Sehun seolah berkata, 'Apakah benar hanya karena itu?'
"Kenapa kau melihatku begitu? Aku hanya berbuat seperti hubungan sosial antar manusia. Dia tidak memiliki keluarga lagi!"
"Baiklah, baiklah... Tidak usah emosi juga kan menjawabnya? Memangnya aku ada berucap apa? Dasar menyebalkan sekali!"
Sehun memandang cengo perempuan berseragam putih itu. Irene meninggalkannya dengan pertanyaan besar.
'Kenapa perempuan itu sensitif sekali? Dasar merepotkan!' Cibirnya dalam hati.
.
.
Baekhyun tak menyangka, hidup bisa menjadi seperti drama rumit seperti ini. Hari ini ia kembali mengunjungi Chanyeol kembali. Tidak ada siapapun diruangan itu, hanya ada dia dan Chanyeol.
Lelaki itu tampak tak bergairah sedikitpun. Ia mengganti bunga mawar yang telah layu di vas bunga lalu duduk disebelah Chanyeol.
"Yak! Bangun sialan! Aish... Aku bosan sekali melihatmu tidur terus...!"
"Kau tau Chanyeol? Luhan... Dia didiagnosis mengalami gangguan kejiwaan. Ck! Aku merasa kasihan padanya." Jawab Baekhyun lirih.
Pemuda itu benar-benar shock saat tau jika Luhan gila. Emosinya yang semula ingin membunuh Luhan meluap saat melihat keadaan pemuda itu. Bagaimanapun juga, Baekhyun masih memiliki hati untuk tidak menyerangnya waktu itu.
CKLEKKK...
Baekhyun menoleh pada si pembuka pintu. alisnya mengernyit saat melihat ayahnya berada disana, disertai senyuman pula. Sejak Baekhyun sadar, sang ayah telah merubah sikapnya. Ia seperti sosok ayah yang selama ini hilang dikehidupan Baekhyun. Tetapi tetap saja, Baekhyun masih enggan berbicara pada pria itu. Rasa marahnya masih mendominasi. Ia kecewa pada ayahnya karena telah melakukan hal sekeji ini, ingin membunuh Chanyeol. Padahal Chanyeol tidak bersalah sama sekali. Baekhyun bahkan diam saja saat Tuan Byun meminta maaf kepadanya hingga meneteskan air mata. Bagi Baekhyun, ucapan maaf sang ayah tidak berarti. Tak sebanding dengan perbuatan kejam yang telah ia lakukan selama ini.
"bagaimana keadaan Chanyeol?"
Baekhyun diam, seolah tak ada siapapun disana. Ia beranjak dari kursinya lalu mengecup punggung tangan Chanyeol.
"Besok aku kesini lagi." Ujarnya lembut.
Tuan Byun menahan tangan anaknya yang semula ingin menghindarinya lagi.
"Baekhyun, tolong katakan sesuatu. Jangan mendiami ayah seperti ini, ayah tau... Ayah bersalah jadi_"
"Jadi lebih baik kau diam saja. Bagaimana rasanya memiliki rasa bersalah? Itulah yang kualami selama bertahun-tahun." Ujar Baekhyun datar, ia bahkan tak ingin melihat wajah ayahnya sedikitpun.
"Baekhyun... Maafkan ayah nak."
"Berucap memang mudah, tetapi luka takkan sembuh hanya dengan kata maaf yang terlontar. Tidak semudah itu."
Tuan Byun terdiam, ia membenarkan perkataan Baekhyun. Namun apa yang bisa diperbuatnya lagi selain meminta maaf?
"Jika saja ayah bisa mengembalikan waktu, ayah pasti melakukannya, tetapi semua takkan mungkin Baekhyun."
"Lalu apa? Ayah ingin aku menerimanya begitu saja?! Ayah tidak mengerti perasaanku!" Balas Baekhyun dengan suara meninggi.
Tuan Byun diam saja saat anaknya itu meneriakinya bahkan saat kerah bajunya ditarik seperti itu. Ayah dan ibu Chanyeol yang kebetulan baru tiba disana terkejut menyaksikan pertengkaran mulut antara Baekhyun dan ayahnya. Tuan Park segera melerai keduanya.
"Baekhyun! Hentikan perbuatanmu! Dia ayahmu!" Ucapnya tegas. Baekhyun tertawa remeh lalu melepaskan cengkramannya. Ia keluar dari ruangan itu dengan emosi yang menggebu.
"Aku akan berbicara dengan Baekhyun." Ujar nyonya Park. Ia mengejar kepergian Baekhyun setelahnya.
"Aku merasa gagal menjadi seorang ayah." Lirih tuan Byun sedih.
"Sudahlah. Terkadang ada kalanya seperti itu. Aku juga pernah merasakan hal yang sama." Ucap Tuan Park mencoba menenangkan Ayah dari Baekhyun itu.
.
.
Nyonya Park berjalan dengan mata mencari keberadaan Baekhyun. Ia tersenyum simpul saat melihat pemuda itu sedang duduk dikursi taman rumah sakit. Wanita paruh baya itu mendekatinya lalu duduk disebelah Baekhyun.
"Dia berucap maaf setelah berbuat seperti ini."
Nyonya Park tersenyum lalu mengelus kepala Baekhyun. Ia membiarkan Baekhyun terus mengeluarkan keluh kesahnya.
"Dia tidak tau, selama ini aku merasakan hidup seperti di neraka. Dia tidak mengerti bibi."
"Baekhyun... Bagaimanapun juga, dia adalah ayahmu. Seberapa besar kesalahan yang ia perbuat, ia telah menyesali itu bukan?"
"Tetap saja, dia menaruh dendam padaku karena kematian ibu hingga membuatku menderita!"
Nyonya Park mendesah pelan. Baekhyun sama persis seperti putranya, keras kepala. Perlu hati yang sangat sabar untuk menghadapinya.
"Lalu, kau juga tidak mau memaafkannya? Itu sama saja dengan menumbuhkan dendam baru. Lalu kebencian itu akan mendarah daging hingga kalian sama-sama tersakiti bukan?"
"Kenapa bibi membelanya? Padahal bibi tau sendiri jika dia memiliki rencana untuk membunuh Chanyeol."
Wanita itu merengkuh Baekhyun dalam pelukannya. Ia bisa merasakan tubuh Baekhyun menegang sejenak.
"Terkadang, kita perlu mengalah dengan emosi buruk kita agar keadaan tidak semakin runyam. Semua bukan salah ayahmu atau siapapun. Ini semua adalah takdir Tuhan untuk kita semua sayang."
Baekhyun terdiam, ia tau... Dirinya sungguh kekanakan karena mendahului egonya. Pemuda itu memeluk Nyonya Park erat, seolah menyalurkan rindunya untuk memeluk seorang ibu. Ia menangis diam-diam dalam pelukan itu.
"Aku tidak tau harus bagaimana."
"Memaafkan... Hanya itu yang bisa menghapus kebencian dihatimu."
Getaran ponsel nyonya Park menghentikan sesi drama keduanya. Wanita itu mengangkat panggilan dari sang suami lalu ekspresi wajahnya berubah.
"A-apa? Chanyeol kenapa?! Baiklah, aku akan kesana!"
"Bibi? Ada apa?"
"Chanyeol! Ayo kita kesana Baekhyun!"
Baekhyun terdiam didepan pintu ruang rawat Chanyeol. Ia melihat ayahnya dan ayah Chanyeol duduk dengan kepala menunduk.
"Bagaimana? Chanyeol kenapa?"
"Tadi dia menunjukkan pergerakan pada jarinya. Namun, tiba-tiba denyut jantungnya melemah." Terang tuan Park khawatir.
Nyonya Byun terduduk lemas. Baekhyun menelan ludahnya. Ini sama seperti Chanyeol mengalami masa kritisnya seminggu lalu. Baekhyun terus berdoa dalam hati.
'Jangan pergi... Kumohon."
Dokter Yoon keluar dengan raut wajah tak terbaca. Baekhyun dan yang lainnya menanti ucapan dokter itu harap-harap cemas.
"Dokter, anak saya..."
"Ini sebuah keajaiban dari Tuhan. Park Chanyeol berhasil melewati fase kritisnya. Kami masih memberinya obat bius karena ia berteriak kesakitan tadi. pengaruh obatnya akan hilang dalam beberapa jam kedepan. Saya permisi dulu."
"Terimakasih dokter!" Ucap Nyonya Park penuh rasa syukur.
Baekhyun tersenyum sangat lebar. Ikatan dihatinya seolah terlepas hingga rasa ketakutan dan sesak itu menghilang. Ia memasuki ruangan itu diikuti orang tua Chanyeol dan juga Tuan Byun.
Rasa itu membuncah didadanya, rasa ingin memeluk Chanyeol. Ia ingin melihat mata itu membuka dan menatap matanya seperti sedia kala.
'Park Chanyeol, aku merindukanmu.'
.
.
Baekhyun makan dengan lahap dikantin rumah sakit. Sehun dan Kai begitu senang melihat Byun Baekhyun kembali bersemangat lagi. Keduanya langsung mendatangi rumah sakit saat dikabari jika Chanyeol sudah siuman dari komanya. Mereka sedang menikmati makan siang omong-omong.
"Kau tau Baek? Para fansmu mengeluh karena kau tidak muncul disekolah setelah seminggu membolos!" Keluh Sehun dengan nada main-main.
"Ya, Sehun benar sekali! Cepatlah kembali ke sekolah! Sehun sampai tidak bisa membalas pesan Irene karena kewalahan melayani pertanyaan fansmu!" Ejek Kai yang dihadiahi tatapan melotot ala Sehun.
"Irene? Itu siapa?" Tanya Baekhyun dengan mulut penuh makanan. Sehun segera mengelap sisa makanan di sudut bibir Baekhyun.
"Telan dulu makananmu!" Perintahnya.
"Siapa Irene?" Tanyanya tanpa mempedulikan ucapan Sehun.
"Irene itu calon kekasih Sehun, dia perawat. Kkkk... Oh Sehun, kau benar-benar pintar mencari pasangan ya? Yang aku tau, perawat itu seksi loh... Hahahaha!"
Baekhyun menatap Sehun tak percaya lalu ikut-ikutan menertawakan Sehun, walau ia tak tau siapa itu Irene. Ia hanya sedang ingin tertawa saja.
"Bukan Baek! dia perawat Luhan, aku hanya bertukar pesan karena ingin mengetahui perkembangan Luhan. Takut-takut saja kan anak itu melarikan diri dari rumah sakit?!" Elak Sehun.
"Eyy... Ternyata Sehun memiliki cinta dua hati~" Ejek Kai lagi. Ia sangat suka melihat wajah kesal Sehun.
"Em, permisi... Chanyeol sudah siuman ya? Kamarnya dimana?"
Ketiga pemuda itu menoleh. Itu Kyungsoo, menatap genk Lightsaber itu segan. Baru kali ini dia berani mengajak tiga orang itu berbicara. Sehun memiringkan kepalanya lalu menatap Kai dengan seringainya.
"Kim Kai, biar dia yang mengantarmu."
Mata besar Kyungsoo semakin membesar saat mendengar ucapan Sehun. Sedangkan Kai tengah terbatuk-batuk karena tersedak dengan jus jeruknya. Ia menatap Sehun lalu mulutnya berkomat-kamit tidak jelas.
"Kai sepertinya akan sangat senang menjadi tour guide dadakanmu." Goda Sehun.
Si pemuda berkulit tan memukul kepala Sehun keras.
"Wah... Aku tidak tau jika cassanova wanita menyukai seorang lelaki." Ejek Baekhyun ikut-ikutan.
"Yak! Kenapa kalian jadi Mengejekku! Aish! Err... Kyungsoo-ssi, maaf, mereka memang sedikit... Yeah kau tau kan?"
"Aku tidak tau." Jawab Kyungsoo polos.
Dua rekan Kai terlihat menahan tawanya. Baekhyun lebih dulu menghentikan acara menggoda Kai. Ia melirik nama si pemanggil di ponselnya. Itu Nyonya Park. Baekhyun sesegera mungkin mengangkatnya.
"Ada apa bibi?"
"..."
"Benarkah?! B-baiklah, kami akan kesana."
"Ada apa Baek?" Tanya Sehun kebingungan.
"Chanyeol.. Dia sudah sadar!" Ucapnya dengan senyuman penuh kelegaan.
.
.
Pemuda itu menatap ayah dan ibunya dengan lemah. Ia masih berusaha membiasakan penglihatannya. Dokter Yoon memeriksa penglihatan Chanyeol dengan senter kecil ditangannya. Semuanya normal.
"Denyut nadinya normal, responnya juga baik. Sampai sejauh ini mungkin Chanyeol hanya akan sedikit kesulitan berjalan karena tulang kakinya masih dalam masa pemulihan. Saya permisi dulu. Jika ada hal yang terjadi, hubungi kami."
"Terimakasih dokter..."
Tuan Park dan istrinya segera melihat keadaan sang anak. Chanyeol melirik mereka. Gerakan tangannya yang lemah segera membuka masker oksigennya.
"Hey, jangan dibuka dulu." Sahut seorang perawat yang masih berjaga disana.
Chanyeol mengurungkan tangannya diudara. Ia masih terlalu lemah untuk bernapas tanpa menggunakan alat bantu dari oksigen.
"Saya akan segera memindahkannya ke ruangan rawat." Ujar kedua perawat itu. Mereka mulai mengganti masker oksigen Chanyeol dengan yang lebih sederhana. mereka mendorong ranjang Chanyeol menuju ruang rawat.
Sementara itu, Baekhyun dan ketiga temannya berjalan menuju ruangan Chanyeol berada. Alisnya mengernyit saat melihat ruangan ICU itu sudah tidak ditempati lagi. Ia segera bertanya pada salah seorang perawat disana.
"Maaf, kemana perginya pasien bernama Park Chanyeol?"
"Ah, dia sudah dipindahkan ke ruangan seratus tiga."
"Baiklah, terimakasih."
Jantung Baekhyun berdegup seiring dengan langkahnya yang semakin dekat dengan ruangan Chanyeol berada. Ia mencoba biasa saja, namun tidak sanggup rasanya ia menahan gejolak didalam dadanya.
Pintu itu dibuka oleh Kyungsoo. Lelaki pendek itu segera berlari mendekati ranjang Chanyeol. Disana sudah ada tuan dan nyonya Park. Kai dan Sehun ikut mendekat. Sementara Baekhyun masih berdiam diambang pintu.
"astaga! Aku senang sekali! Ku kira kau tidak akan bangun lagi!" Oceh Kyungsoo.
"Hey bro! Kau membuat kami menunggu terlalu lama!" Canda Kai.
Lelaki itu tersenyum lemah, Baekhyun hanya bisa mendengar kata 'maaf' terucap lirih dari bibirnya yang pucat. Ia tersenyum kecil, sebuah rasa senang hinggap dihatinya.
"Baekhyun! Apa yang kau lakukan disitu? Kemari nak."
Baekhyun tersentak saat Tuan Park mengajaknya bergabung. Pandangan matanya bersibobrok dengan Chanyeol. Jantungnya memompa keras tanpa bisa ia tahan. Ia menelan ludahnya, mencoba menghilangkan degupan keras dijantungnya. Ia melangkah, mendekati ranjang Chanyeol berada. Lelaki itu masih menatapnya tanpa ekspresi. Jujur saja, Baekhyun sedikit gugup melihat sorot mata yang telah lama ia rindukan itu.
"Chanyeol bodoh!..."
"B-Baekhyun..." Ujarnya lemah sedikit terbata. Tanpa disangka, Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun. Ia tersenyum lebar.
"Aku sangat merindukanmu." Ujarnya lagi lirih.
"Ayo Baek, peluk Chanyeol. Bukankah kau bilang ingin memeluknya?" Goda Kai menyebalkan. Kenapa lelaki itu berubah dua kali lipat lebih menyebalkan hari ini?!
"Benarkah itu?" Tanya Chanyeol penasaran.
Baekhyun masih diam, sampai selanjutnya ia memeluk Chanyeol secara tiba-tiba. Chanyeol mulanya terkejut, tetapi detik selanjutnya justru tersenyum lembut. Lelaki itu mengusap kepala Baekhyun yang berada diatas dadanya.
"Kau membuatku hampir mati karena memikirkanmu!" Ucap Baekhyun penuh kekesalan.
Chanyeol terkekeh pelan. Ia mencuri ciuman kecil ke puncak kepala Baekhyun.
"Memikirkanku? Kenapa?"
Merasa kesal atas respon Chanyeol, Baekhyun segera melepaskan diri dari pelukan lelaki itu. Ia menatap Chanyeol tajam seolah ingin menguliti lelaki itu hidup-hidup.
"Kenapa kau Bilang? Tentu saja aku khawatir jika kau mati, maka aku akan terus hidup dalam rasa bersalah!"
Chanyeol tersenyum, namun itu terlihat sekali dipaksakan. Sejujurnya ia ingin mendengar dari mulut Baekhyun jika lelaki itu memikirkan Chanyeol karena takut kehilangannya. Karena Baekhyun mencintainya. Tetapi sepertinya Chanyeol berharap terlalu banyak. Ia segera mengalihkan atensinya pada Kyungsoo dan juga Kai.
"omong-omong, dimana Luhan?"
Baik Sehun maupun tiga pemuda lainnya membeku. Apakah Chanyeol tidak ingat dengan Luhan yang telah mencelakai dirinya?
Baekhyun membuang wajahnya kearah lain. Disaat seperti ini, Chanyeol justru memikirkan Luhan. Sebenarnya Chanyeol itu menyukai dia atau Luhan sih?
Sehun menjelaskan secara rinci tentang keadaan Luhan. Chanyeol semula shock, ia tak menyangka Luhan akan berakhir seperti ini. Menghabiskan sisa hidupnya didalam rumah sakit jiwa. Ada sedikit iba, namun Chanyeol yakin, itu adalah hal yang pantas karena perilaku Luhan sudah diluar batas. Matanya kembali melirik Baekhyun. Lelaki itu tak menatapnya sama sekali. Ia mengerti betul jika Baekhyun tidak menyukai Luhan. Lelaki itu menggelengkan kepalanya geli.
"Ketika aku keluar dari sini, bisakah kalian mengantarku untuk melihatnya?"
Permintaan Chanyeol itu direspon Baekhyun dengan ekspresi luar biasa. Lelaki itu melotot dengan wajah memerah padam. Ia segera keluar dari ruangan membuat mereka semua kebingungan. Terkecuali Chanyeol.
"Ada apa dengan ketua Byun?" Tanya Kyungsoo lirih.
Chanyeol hanya menyimpulkan senyuman penuh arti. Ia tau, Baekhyun cemburu.
.
.
Chanyeol menghabiskan waktu hampir dua bulan lamanya di rumah sakit. Akhirnya lelaki itu bisa keluar dari sana tepat hari ini. Chanyeol sudah bisa berjalan lagi berkat Baekhyun yang bersikeras mengajarinya berjalan setiap harinya.
Lelaki itu memandang rumahnya penuh kerinduan. Hah... Ia menghela napasnya sejenak. Ia jadi rindu masakan ibunya, omelan ibunya atau candaan menyakitkan hati dari sang ayah. Ia juga merindukan rekan satu genknya untuk berkelahi lagi. Sepertinya untuk hal yang satu itu ia tak pernah kapok.
"Besok kau istirahat dulu, kau tidak usah masuk sekolah."
"Apa? Kenapa? Bu, aku sudah lama beristirahat! Ayolah~"
Sang ibu tetap menggeleng dan Chanyeol terus merengek. Pada akhirnya Nyonya Park tetap tidak bisa menolaknya. Rengekan Chanyeol benar-benar terdengar mengganggu!
"Baiklah! Silahkan sekolah, tetapi jangan berbuat onar disekolahmu!"
"Ayayay, siap kapten!" Ujar Chanyeol malas.
Ia berjalan memasuki kamarnya, namun lelaki itu terkejut saat melihat Baekhyun, Kyungsoo, Kai dan Sehun berada disana. Kamarnya telah dipenuhi balon warna-warni.
"Surprise!" Pekik mereka bersamaan, minus Sehun yang terlihat diam saja. Sepertinya anak itu dipaksa untuk melakukan hal konyol ini. Hanya Kai dan Kyungsoo yang terlihat bersemangat. Baekhyun seperti biasa, masih mengandalkan wajah jaga image miliknya itu.
"Kenapa kalian disini?"
"Kenapa? Kami kan ingin memberi kejutan!" Rajuk Kyungsoo sebal.
"Ah, pantas saja kalian tidak ada di rumah sakit." Gumam Chanyeol pelan. Ia tesenyum lebar menatap mereka semua. Netranya terhenti pada satu orang, Byun Baekhyun. Lelaki itu terlihat gelagapan saat Chanyeol menatapnya.
"Apa lihat-lihat?"
Chanyeol mengedikkan bahunya lalu tersenyum manis pada lelaki itu.
"Baiklah, untuk merayakan kepulanganmu bagaimana jika kita makan malam bersama? Kyungsoo sudah memasak banyak. Aku tidak tau ternyata ia pintar memasak." Cetus Kai spontan, mengundang deheman menggoda dari Sehun.
"D-dari pada membahas itu. Ayo kita kebawah saja?!" Ujar Kyungsoo. Anak itu terlihat lucu saat berjalan dengan terburu menuju lantai bawah.
Malam itu mereka lalui dengan makan malam bersama lalu disusul dengan permainan konyol ide dari Kai.
"Yang kalah harus menarikan tarian girl group!"Pekik lelaki itu kelewat semangat. Kemana perginya Kai yang cool? Kyungsoo sampai mengernyitkan hidungnya melihat tingkah lelaki itu.
Permainan yang akan mereka lakukan adalah hal yang sangat sederhana. Permainan favorit Kai saat SD katanya. Mereka akan melakukan hompimpa lalu mengeluarkan jari dalam jumlah yang mereka inginkan. Saat semua jari terhitung- misalnya berjumlah lima yang berarti huruf E - maka mereka harus menebak nama hewan yang berinisial seperti itu. Sehun sampai berulang kali merotasikan matanya mendengar penjelasan Kai tentang permainan yang entah apa namanya itu.
"Baiklah... sebelas! Huruf K , Kambing!" Ucap Kai.
"Kerbau!" Kyungsoo tak kalah semangat.
"er... Kucing?" Itu Chanyeol.
"Kelinci." Ujar Sehun singkat.
Baekhyun terlihat masih berfikir. Padahal masih banyak nama hewan dari huruf K. Kepalang fikirannya kosong saat Chanyeol tak henti menatapnya, otak Baekhyun seolah menciut menjadi sebesar kerikil.
"Lima... Empat... Tiga... Dua... Satu! Haha! Kau kalah Byun!" Ujar Kai semangat.
Baekhyun merengut tak santai. Ia memandang Kai seolah ingin menguliti lelaki itu hidup-hidup. Masih diawal permainan, kenapa dia sudah kena?!
"Semua karenamu!" Desisnya seraya menatap Chanyeol. Chanyeol menunjuk dirinya sendiri tak mengerti.
"Aku? Kenapa aku?"
"Sudahlah, Baekhyun cepat lakukan!" Potong Sehun tidak sabaran.
Baekhyun berdiri malas-malasan. Sejujurnya ia malu melakukan hal seperti ini. Ia terlihat berfikir tarian apa yang akan ia lakukan.
"tarian apa? Aku tidak tau!"
"Sexy dance! First love after school mungkin?" Kai hampir terkekeh akan idenya sendiri.
"Itu pole dance Kai idiot. Apa kau melihat ada tiang disini?!" Balas Baekhyun tak terima.
"Chanyeol kan ada! Kau bisa menjadikannya pole dancemu, hahaha."
Baekhyun benar-benar akan menggunduli Kai jika dia bertingkah sekali lagi. Kali ini termaafkan! Ia melirik ke arah Sehun yang sudah memutar lagu A-pink No No No.
Baiklah, Baekhyun pernah melihat mereka menari. Ia mulai melakukan gerakan dengan wajah datar dan tubuh yang kaku.
"Yak! kau bergerak seperti nenek-nenek encok!" Protes Kai tidak puas.
Wajah Baekhyun memerah saat Chanyeol, Sehun bahkan Sehun menertawainya. Sialan! Mereka benar-benar mengerjai Baekhyun ternyata. Baiklah! Ia menatap Chanyeol tajam hingga lelaki itu melakukan gerakan seolah mengunci mulutnya.
"Aku tidak suka lagunya!"
Sehun memutar lagu kedua. Kali ini lebih sialan. Sistar - Alone. Apa-apaan itu? Baekhyun menarik napasnya, tidak ingin dikatai nenek-nenek encok lagi, akhirnya lelaki itu memutuskan untuk menari lebih baik.
Wajah Baekhyun yang memang tergolong sexy sengaja ia perlihatkan. Ia mulai menggerakkan tubuhnya seperti halnya koreografi lagu tersebut. Sehun meneguk ludah kasar melihat tubuh mungil itu meliuk-liuk dengan lincah. Kai menatapnya seperti bocah idiot. Kyungsoo menatap ketua Byun dengan mata berbinar sambil sesekali bertepuk tangan kecil. Sementara Chanyeol hanya diam, memasang raut datarnya. Padahal jika diperhatikan secara seksama, hidung lelaki itu sudah kembang kempis sejak Baekhyun melakukan gerakan awal.
Jakunnya naik turun saat mata brengseknya jatuh kepada bokong Baekhyun berada.
'sial... Sial... Baekhyun! Berhenti menari!' teriaknya membatin.
Lagu selesai. Kyungsoo tersenyum lebar. Ia bertepuk tangan heboh lalu memberi Baekhyun dua jempol.
"Sudah puas kalian menyiksaku?!"
Mereka semua menggeleng kompak, bahkan Kyungsoo juga ikut-ikutan? What the... Baekhyun mendengus kasar.
"Baiklah, ayo lanjutkan lagi!"
Mereka kembali bermain hingga pukul sebelas malam. Kai, Sehun dan Kyungsoo memutuskan untuk pulang dan tidak menginap. Sementara lain halnya dengan Baekhyun. Anak itu tetap tinggal atas kemauan Chanyeol.
"Aku mau pulang! Besok kita bisa bertemu kan?" Pinta Baekhyun. Ia ingin sesegera mungkin pulang ke rumahnya.
"Kau bilang kau merasa bersalah karena telah membuatku celaka? Sekarang, ayo... Turuti semua keinginanku!"
"Cih! Otakmu picik sekali Park! ternyata kau tidak ikhlas membantuku?" Tanya Baekhyun tak percaya.
Chanyeol justru tertawa senang karena berhasil menggoda Baekhyun. Ia menarik tubuh Baekhyun mendekat lalu menyelimuti tubuh itu dengan selimutnya.
"Aku hanya bercanda. Kau sensitif sekali hm?"
"Yak! Berhenti... Hahaha... Park! Geli... Hahaha..."
Chanyeol semakin bersemangat melakukan aksinya untuk menggelitiki Baekhyun. Ia berhenti saat Baekhyun mencubit lengannya dengan keras. Lelaki bermata sipit itu menatap Chanyeol nyalang.
"Apa-apaan kau?!"
"Menggelitikimu, apalagi? Dari pada aku menciummu?"
Baekhyun merotasikan matanya kesal. Chanyeol ini, sudah pernah berada diambang kematian nyatanya belum berubah juga menyebalkannya.
CUP... Kecupan beberapa detik dibibir Baekhyun membuat lelaki itu terkejut bukan main. Pipinya memerah saat wajah Chanyeol masih berada tepat didepannya. Bukan hal itu pula yang membuatnya gugup, tetapi pandangan intens Chanyeol membuatnya sesak napas.
"Masih sama rasanya." Bisik Chanyeol lirih.
Baekhyun membuang arah pandangnya ke arah lain. Mulutnya berkomat-kamit tidak jelas.
"Baek, kau masih ingat dengan ciuman terakhir kita sebelum aku kecelakaan?"
Ah, ciuman itu. Tentu saja Baekhyun ingat. Baekhyun menggeleng, berpura-pura kejadian itu tidak pernah terjadi sebelumnya.
"Kau yakin tidak ingat?"
"Memangnya kita pernah berciuman saat itu? Ayolah, mungkin kau hanya bermimpi."
Sepertinya kau salah besar berkata seperti itu, Baek. Chanyeol menatap lelaki yang lebih mungil darinya itu datar.
"Baiklah, aku akan mengingatkanmu."
"Ha? Apa maksudmu_"
Pertanyaan Baekhyun terpotong saat Chanyeol segera menarik tengkuknya lalu mencium bibirnya hangat. Lelaki itu begitu lembut melumat bibir Baekhyun, menyalurkan rasa rindu pada lelaki yang ia cintai itu.
Baekhyun masih belum membalas, ia terlalu bingung dengan keadaan ini. Namun disaat Chanyeol mulai menuntut dalam ciumannya, akhirnya Baekhyun menyerah. Ia segera membalas ciuman Chanyeol. Tak ada nafsu, yang ada hanya kasih sayang yang tertuang. Diam-diam Baekhyun mengulas senyumannya. Chanyeol menjauhkan dirinya saat Baekhyun mendorongnya pelan.
Dua lelaki itu saling berpandangan lama. Bibir mereka sama-sama mengulas senyuman. Jemari Chanyeol sengaja mengelus pipi halus Baekhyun hingga si empunya memejamkan mata.
"Saranghae." Bisik Chanyeol lembut.
Baekhyun membuka matanya, ia balas mengelus wajah Chanyeol.
"Nado... Saranghae."
Ucapan Baekhyun malam itu sukses membuat bola mata Chanyeol hampir keluar karena tak percaya.
"A-apa Baek?"
.
.
TBC
.
.
Well... maaf buat keterlambatannya. dan chapter ini semoga memuaskan kalian. Sebenernya aku blm mau update, tapi yeah... Aku gak bisa mengabaikan keinginan kalian buat baca lanjutannya. Hehe.
Terima kasih banyak buat yang masih dukung FF ini. Apalagi di chapter kemarin reviewnya bener-bener meningkat! Happy 2k+ yeah! /loncat/ kkkk...
Konflik kelar, yg minta luhan gak sama sehun udah diturutin. Yang minta moment kaisoo juga udah walau nyempil dikit doang. Yg minta ceye gak mati juga udah aku turutin. Yang minta NC mana suaranya? Chapter depan adalah milik kalian guys! /senyum mesum/
PS : buat Luhan stan, maaf buat dia jadi gila...
PSS : mohon review lagi ya buat kelanjutan FF ini.
Terimakasih...
