Nagato berjalan mendekati Obito. "Kamu tidak berniat untuk menjadi Uchiha Madara 'kan? Dan mencoba membuat peperangan antar desa?" tanya Nagato, tatapannya sangat serius.
"Sudah-sudah Nagato, tidak baik berprasangka buruk seperti itu padanya."
"I—iya, aku tidak pernah kepikiran rencana seperti itu kok."
"Obito!"
Situasi tegang penuh dengan interogasi meleleh karena kehadiran pujaan hatinya Obito memanggil namanya dengan senyum di wajah.
"Oh ini gebetannya?" bisik Yahiko pada Nagato.
"Aku gatau, kayaknya sih iya." Nagato melirik ke Obito, "Kayaknya sih iya, dia cuman manggil doang mukanya langsung merah dan salah tingkah." Nagato bales bisik.
"Obito, mereka berdua siapa? Temanmu?" tanyanya sambil memiringkan badan ke kanan, lalu dadah ke arah Yahiko dan Nagato. Yahiko dan Nagato dadahin balik perempuan itu.
"Eh? Iya, temen dari Desa Ame."
"Huwaa~ ternyata Obito punya teman diluar desa."
"Ehehehehe … ah Rin, ada apa?"
"ITU! KAKASHI MASUK ANBU LHO!"
Ekspresi Obito berubah dalam sekejap, senyum cerahnya menjadi senyum miris. Melihat Rin mengatakan hal itu dengan riang dan terdengar sangat bahagia dengan keberhasilan Kakashi.
"O—oh … begitu ya, Kakashi sangat hebat sampai bisa direngkrut menjadi anggota Anbu."
"Kami mau memberi hadiah selamat pada Kakashi atas keberhasilannya menjadi anggota Anbu."
"Mungkin hadiah yang cocok untuk dia buket bunga dengan kertas ucapan selamat."
Rin berterima kasih dengan saran Obito dan pergi begitu saja, Nagato dan Yahiko memulai gosip anak perempuan mengenai insiden Obito dan Rin. Saling berbisik, mengomentari Obito.
"Tubuhnya bergetar, kayaknya dia mau nangis deh."
"Huum, sedih ya cerita romansanya ga kaya aku sama Konan."
"Emang kamu sama Konan kaya gimana? Konan 'kan sukanya sama aku."
"APHA?!" jerit Yahiko, terus Yahiko jongkok, jari telunjuknya ngorek-ngorek tanah sambil nangis sesegukan.
"Aku cuman bercanda," kata Nagato dengan nada kalem.
Ucapan Nagato lewat begitu saja seperti angin oleh Yahiko, dan Yahiko masih dengan acara main tanahnya sambil nangis.
Obito menghampiri Nagato dengan mata berair, terus jongkok di samping kiri Nagato, kayaknya Nagato harus bisa nenangin mereka berdua sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. Yang satu galau, yang satu lagi ulah isengnya.
"Kalian jangan galau barengan dong, ayo kita balik ke markas."
Balasan yang didapat oleh Nagato hanya suara tangisan kecil yang keluar dari kedua mulut laki-laki.
"Kalian ini … benar-benar menyedihkan hanya karena perempuan doang galaunya sampai yang ditakdirkan ga punya pasangan saja."
Akhirnya Nagato menyeret paksa Yahiko dan Obito sampai ke markas. Butuh waktu satu jam setengah untuk sampai ke markas sambil menyeret mereka berdua.
Tok, tok, tok, setelah mengetuk pintu batu tiga kali, pintu itu bergeser sendiri ke kanan. Nagato pun masuk ke dalam markas, pintu itu kmebali ke posisinya.
"Selamat datang kembali~"
"Konan?"
"Perkenalkan namanya kUCHIngHA hITACHI." Konan memperkenalkan anak kecil tadi yang dibawanya pergi.
"Eh?"
"Itachi bakal ikut masuk biar bisa mengawasi Kak Obito!" serunya sambil mengangkat sebelah tangannya ke langit.
Nagato terdiam cukup lama sampai ahirnya Gedo Mazo berteriak lagi untuk mengembalikan kesadaran Nagato yang sempat hilang. Berkat Gedo Mazo juga sesi bersedih Yahiko dan Obito bisa selesai.
Yahiko mendongak ke atas, "Hm, Konan?"
"Yahiko, kita kedatangan teman kecil dari Klan Uchiha."
Yahiko tersenyum tipis dan mengacungkan jempolnya. "Kita dapat dua Uchiha sekaligus dalam sehari…." semoga saja mereka berdua tidak dicariin sama Hokage agar nama Akatsuki tetap bersih dan tidak di cap menjadi sekumpulan penculik, Yahiko berdoa dalam hati.
.
.
.
Setelah beberapa hari Itachi dan Obito tidak menampakkan batang hidungnya di Desa Konoha, mereka sama sekali tidak dicariin oleh keluargnya malahan…
"Itachi HILANG!"
"Ah cuman Itachi dan Obito yang hilang, kami masih kamu dan Sasuke."
Shishui tepuk jidat, "Itachi aku turut berduka cita denganmu."
