Lagi-lagi Yahiko tertidur di sofa ruang tengah, tenggelam dalam mimpi manisnya, terbukti, dia mengggumankan nama Konan sesekali. Sementara Nagato dan Obito memasang wajah masam, rinnegan milik Nagato dan sharingan milik Obito, memperhatikan Yahiko lekat-lekat. Sudah 25 menit mereka menunggu Yahiko bangun dari tidur pulesnya, apalgi sambil nyebut nama Konan yang kadang bikin hati Obito sakit hati.

Mengingat cintanya bertepuk sebelah tangan.

Konan dan Itachi sudah berangkat menuju Desa Iwa.

"Yahiko…," Nagato menggeram kesal.

"GRRROOOOARRR!"

"HUWA! ADA APA?! MUSUH?!" Yahiko menjerit keras dan loncat dari sofa sambil pasang posisi bertarung.

"Gedo Mazo mengaum aja lu bangun," Obito mengetuk-ngetukkan sepatu sendal miliknya.

"Emang ga ada apa-apa?"

"Yahiko,"

"Ya Nagato~?" Yahiko memasang ekspresi sesedih mungkin, meskipun jatuhnya bukan merasa kasihan tetapi ingin menshinra tenseinya dalam sekejap.

"Konan sama Itachi udah berangkat ke Desa Iwa."

"Dannn?~"

"KETUA SABLENG! LU MAU NYARI ANGGOTA BARU TAPI KERJAAN MOLOR MULU!" sembur Obito. "UDAH TELAT INI! HARUSNYA KITA BERANGKAT BARENGAN SAMA KONAN DAN ITACHI!" Obito mendengus kesal dan membatin, cewe secantik Konan kok bisa sih suka sama cowo kek dia.

"KONAN SUKA SAMA GUA KARENA GUA LEBIH GANTENG DARI LU BERDUA!" Yahiko balas teriak. "LU-LU PADE!" jari telunjuknya menunjuk Nagato dan Obito secara bergantian, "BISA MERAMAL MASA DEPAN! GUA DIBERI KELEBIHAN UNTUK BISA MENDENGAR SUARA HATI KALIAN! MWAHAHAHAHA!" Yahiko ketawa puas banget.

Yahiko belum tahu saja nanti dia akan mendapat anggota baru berambut klimis yang akan memberikan hidayah dan menyebarkan anutannya pada anggota lain.

Nagato dan Obito kompak menghela nafas, mereka mencengkram leher jubah Yahiko erat, dan menyeretnya keluar goa.

"Daripada jalan kaki, kenapa tidak menggunakan Gedo Mazo?" saran sang ketua.

Nagato dan Obito ingin menolak saran Yahiko tapi ada benarnya juga. jadilah mereka menuju Desa Suna menggunakan Gedo Mazo. Mereka adalah tim termager untuk pencarian anggota. Di masa depan nanti mereka bertiga dilarang keras untuk satu tim untuk misi pencarian duit, karena ga akan bener alias Gedo Mazo tidak menjadi dekorasi goa lagi—dipake terus.

"Nikmat juga melihat pemandangan langit biru seperti ini~" ucap Obito santai.

Mereka berdua sekarang sedang tiduran di telapak tangan Gedo Mazo. Tinggal menunggu sampai padang pasir saja, karena mereka tdak membawa peta, peta hasil nyolong dari ruang Hokage dibawa oleh Konan.

Mengandalkan feeling dan arah angin berhembus, untungnya mereka punya kompas. Palingan mereka akan sampai di Desa Suna satu minggu kemudian.

"Hoaamm…," Yahiko menguap lebar dan kembali memejamkan kedua matanya.

Yahiko kembali bobo ganteng, Obito ngehalu Rin, Nagato ngelamunnin masa depan Organisasi Akatsuki buatan sahabatnya itu.

"Konan…,"

"Rin … aku padamu, ketika aku kembali ke Konoha, aku akan langsung ditunjuk menjadi Hokage sekaligus suamimu, hehehe…." Obito bermimpi sampai mengeluarkan setets air ludah dari mulutnya.

"Merengkrut tukang boneka sama tukang petasankah … apa jadinya Akatsuki nanti? Organisasi pembawa kedamai berlabel guru TK?" ucapnya lirih sambil tertawa renyah.

Oh Nagato, paling nanti organisasi kalian akan berubah menjadi sirkus penghibur di dunia ini—dunia fanfiction.

Dan benar saja tim termager ini baru sampai di padang pasir satu minggu kemudian.

"Kita dimana cuy?" tanya Obito.

Nagato pake kacamata hitam, "Yang aku tau pasti kita sudah sampai di wilayah Desa Suna."

Mata Yahiko menyapu sekelilingnya sambil menyipitkan kedua matanya, "Rekor, kita baru sampai sini satu minggu kemudian menggunakan Gedo Mazo dan aku sangat lapar sekarang."

"Gahhhh…." Gedo Mazo ikut komentar.

Brukh, mereka bertiga pingsan di tengah padang pasir dan Gedo Mazo kembali menjadi dekorasi goa.

Sementara itu Konan dan Itachi….

"Ada yang kenal Deidara?" gumam Konan ketika berhasil masuk ke dalam Desa Iwa.

Konan bagaikan tamu yang masuk ke dalam rumah orang tanpa disambut oleh sang empu, dia berjalan jinjit terus melirik ke kanan dan kiri pelan.

Cantik tapi sengklek itulah Konan kita tercinta.

Bagusnya mereka sudah mendapat nama calon member, engga kaya tim termager.

"Kakak-Kakak, ada kenal Deidara?" tanya Itachi sambil menunjukkan foto Deidara lagi pose syantik dengan burung nendo miliknya.

"Dia suka ada di kuil ujung desa,"

Itachi menghirup nafas lega, dari sekian banyak Kakak yang mengelilingi dirinya, Kakak berambut hitam pendek calon Tsuchikage masa depanlah yang membalas pertanyaannya.

"Makasih ya kak~"

"Sama-sama dek, hati-hati tuh hemaprodit nyasar suka ngelemparin petasan!"

"Aku punya mang-eko sharingan kak, petasan doang, kecil!" Itachi kembali ke tempat Konan, dia masih berjalan jinjit dan bertanya dengan pelan pada warga sekitar.

Itachi gatau kuil ujung mana, semua kuil yang ada di Desa Iwa, Itachi dobrak semua sampai biksu yang lagi bertapa pun diganggu cuman buat nanya perihal Deidara.

BRAKKK! Itachi mendobrak kuil terakhir.

Konan memakai topi dan melempar sebuah bola tanah ke arah seseorang yang sedang duduk sambil memejamkan mata, persis dengan foto yang Itachi punya.

"ITACHI AKU MEMILIHMU!"

"Kak Konan! Ini bukan P**mon."

Konan cuman nyengir.

"Aku! UCHIHA ITACHI AKAN MELAWANMU! KALAU KAMU kALAH! KAMU BERGABUNG DENGAN KAMI!"