Disclaimer: Star Wars dan seisinya bukan milik saya. Kalo punya saya, fanfic ini udah saya jadiin canon.
Warning: Non-slash mpreg.
Chapter 2
A Gift from the Force
.
Beberapa saat para petinggi First Order berkumpul di ruangan itu, menunggu hingga sosok Kylo Ren datang menampakkan batang hidungnya. Sang Supreme Leader datang dengan tampilan barunya, mask hitam yang tempo hari dihancurkannya hingga berkeping-keping kini telah utuh kembali, dilekatkan dengan garis-garis merah yang tampak menyala ketika berpadu dengan nuansa hitam interior kapal.
Pertemuan diakhiri dengan Kylo yang menggunakan kekuatannya untuk mencekik salah satu petinggi lantaran ia kentara meragukan keputusan sang Supreme Leader. Sebelumnya Kylo juga membuktikan bahwa ada mata-mata dalam First Order sehingga gerak-gerik mereka kini diketahui pihak Resistance. Sebetulnya Kylo sudah menebak siapa mata-mata di antara para petinggi. Spekulasinya diperkuat jelas ketika ia merasakan kegelisahan pada Jenderal Armitage Hux, terlebih saat Kylo melemparnya pertanyaan. Entah mengapa Kylo tidak langsung membunuh jenderal yang beberapa tahun lebih tua darinya itu. Ia ingin satu atau dua kali lagi bermain-main dengan raut gugup Hux setiap dia membahas tentang mata-mata di First Order, sebelum akhirnya pria berambut ginger itu tertangkap basah dan Kylo bunuh dengan sekali tebas.
Ketika pertemuan selesai, Kylo bergegas kembali ke ruangannya seorang diri. Ia memerintahkan The Knights of Ren yang mengawal untuk meninggalkannya. Pria itu benar-benar sedang ingin sendiri. Konflik dalam hatinya lagi-lagi muncul, membuat emosinya naik-turun dengan pesat layaknya gelombang di laut lepas. Ia tentu tak ingin ksatria Ren yang lain merasakan konfliknya, yang tak lain merupakan Supreme Leader dan Master mereka.
Ia mendudukan dirinya. Rasa lelah mulai merasukinya, ia kemudian memejamkan mata dan berusaha bernapas dengan stabil.
It is a gift for you. Take care of it, it may save your life.
(Ini adalah pemberian untukmu. Jagalah dia, dia dapat menyelamatkan nyawamu.)
Kylo tersentak setengah memekik ketika suara itu menggema di dalam pikirannya. Suara itu, yang Kylo yakini sebagai Force, sudah beberapa kali berbisik padanya selama dua bulan terakhir.
Pria itu paham apa maksud dari bisikan tersebut, karena ia dapat merasakan kehadiran Pemberian itu. Ia merasakan itu di dalam dirinya.
Kylo tak mengerti mengapa Force memberinya Pemberian itu. Dari sekian banyak individu yang force sensitive, mengapa dirinya? Jelas-jelas ia berada di tengah-tengah peperangan yang tak kunjung usai, terlebih dirinya merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dari pihak kegelapan. Rasa-rasanya Pemberian ini lebih pantas diberikan untuk pihak sebaliknya.
'It may save your life'. Bagaimana bisa Pemberian ini dapat menyelamatkannya jika kehadirannyapun kembali memicu konflik dalam dirinya, bahkan terasa amat lebih besar dibanding yang pernah Kylo rasakan sebelumnya? Seakan Pemberian dan mimpi yang dialaminya membangunkan kembali sisi terang di dalam dirinya, memberontak hendak menenggelamkan sosok Kylo Ren dan menggantikannya dengan sosok Ben Solo yang selama ini ia yakini telah lama mati.
Atau, memang itukah tujuan sebenarnya Pemberian ini diberikan? Untuk mengembalikannya pada sisi terang Force? Untuk berpulang dan kembali pada ibunya?
Kylo menghela napas memikirkannya. Ia menatap lamat-lamat mask hitam dipegangannya yang telah ia lepaskan dari kepalanya sejak tiba di ruangan. Mask hitam yang selama ini menjadi jati dirinya. Cucu dari Darth Vader. Anggota sekaligus Master dari Knights of Ren.
Tak lama kemudian ia merasakan kehadiran individu lain di sekitarnya. Sesaat ia terdiam, sebelum mengalihkan wajahnya pada sosok gadis bermata hazel yang muncul di hadapannya melalui force bond.
Rey, bisiknya dalam hati.
"Ben." Seperti Kylo, Rey tengah duduk. Entah di planet mana gadis itu berada.
"Tampaknya kau rajin berlatih dengan jenderalmu. Maaf jika tempo hari aku mengganggumu, aku tak bermaksud begitu." Balas Kylo. Meski tubuhnya terasa lelah, suaranya terdengar sangat kokoh.
"Kau memodifikasi topengmu?" Tanya Rey, menyadari perubahan pada mask hitam di pegangan Kylo.
"Kau dapat melihat sekitarku?"
"Tidak, seperti biasanya. Hanya kau." Rey mengangkat bahu pelan. Mungkin lain kali ia akan berusaha lebih keras agar ia dapat melihat di mana lawan bicaranya berada. Sejauh ini ia hanya dapat melihat dan merasakan kehadiran Ben seorang, tanpa siapapun di sekitarnya. Namun Rey tertegun ketika ia menyadari ada sesuatu yang berbeda pada force bond kali ini, "Ben, apakah ada orang lain yang sedang bersamamu? Aku dapat merasakan satu nyawa selain milikmu." Rey mengerutkan keningnya. Ia baru sadar bahwa ada sesuatu lain selain Kylo yang ia rasakan kehadirannya.
"Tergantung dari prespektifmu." Kening Rey semakin berkerut heran mendengar jawaban pria berambut hitam itu. "Sejak aku dapat merasakan kehadirannya, setiap kali kita berkomunikasi, aku berusaha menyembunyikannya darimu. Namun kali ini tidak, aku membiarkanmu ikut merasakannya."
"Apa maksudmu?"
Kylo hanya diam. Dia tahu Rey tidak sepenuhnya berkonsentrasi pada nyawa tersebut. Ia hanya merasakan kehadirannya. Jika Rey lebih memperhatikan, dia akan segera tahu dimana keberadaannya, dan jika saja ia berkonsentrasi pada pola energi Force dari nyawa itu, ia akan tahu milik siapa nyawa itu.
Melihat Kylo yang tidak berniat memberi jawaban, Rey mencoba mencerna kembali ucapan pria itu dan berkonsentrasi mencari di mana nyawa lain itu berada. Beberapa saat Rey mencoba, namun hal itu hanya membuatnya semakin bingung. Kehadiran nyawa selain milik Kylo Ren tidak dapat ia rasakan di manapun, kecuali di tubuh pria itu sendiri. Bagaimana mungkin Rey dapat merasakan dua nyawa berbeda dalam satu individu? Hal itu hanya terjadi jika—
Ketika itulah tangan Kylo yang terbalut jubah hitam bergerak perlahan, dan yang membuat Rey membulatkan matanya, tangan pria itu berhenti tepat di atas perutnya. Entah hanya perasaan Rey saja, namun Kylo seakan-akan melengkup perutnya yang rata itu dengan protektif.
Seketika Rey tersadar,
"Ben... kau hamil?"
