Chapter 5
A Small (Yet Massive) Sacrifice
.
Ben Solo mendaratkan TIE Fighter-nya. Di atas sana pejuang Resistance tengah bertempur dengan armada Final Order. Ledakan dan tembakan membersit di mana-mana. Kapal-kapal kecil menukik tajam, berlomba meluncurkan amunisi demi menembak jatuh kapal lawan.
Ben merasakan kehadiran Rey segera setelah memasuki atmosfer Exegol. Ia melihat X-Wing milik Luke terparkir di sebelah kapalnya. Keningnya berkerut, bukannya Rey membawa pergi TIE Whisper-nya ketika meninggalkan Kef Bir? Dikemanakan kapal itu? TIE Whisper itu bahkan lebih cepat dibandingkan Millennium Falcon, kenapa Rey malah berakhir membawa sebuah X-Wing tua?
Yah, kemungkinan Rey pergi ke planet di mana Luke berada selama pengasingannya dan beralih menggunakan X-Wing itu. Entah apa alasan gadis itu menggantinya dan entah di mana planetnya, hingga saat ini Ben tak kunjung tahu. Pria jangkung itu menggeleng, toh bukan itu yang harus ia pikirkan sekarang.
Ia berlari secepat mungkin, melompat dan mendarat dengan kasar pada batu yang dibuat menyerupai rantai raksasa.
"Ow!"
Ben penasaran apakah tulang rusuknya baik-baik saja.
Setelah berlari dan beberapa kali meluncurkan tembakan blaster pada sosok-sosok berjubah, langkah lebar Ben terhenti ketika ia bertemu dengan Knights of Ren. Sesaat Ben mengira mereka datang untuk membantunya, namun hal itu buyar begitu mereka perlahan mengepungnya. Ben tersenyum getir dalam hati, nampaknya ia sudah menjadi mantan Master bagi mereka sekarang. Ia sudah tahu ini akan terjadi, apa yang ia harapkan? Bagaimanapun mereka bukan sepenuhnya tunduk padanya, namun pada Palpatine. Ben mendengus jijik mengingat Sith kolot itu, mengingat dialah akar dari segala manipulasi yang menghantui masa remajanya, yang membuatnya membelot dan tenggelam dalam kegelapan.
Sejujurnya ia agak ragu melawan Knights of Ren. Ben sebelumnya berlatih, berjuang, dan melewati banyak hal bersama mereka. Benaknya kala itu menganggap mereka sebagai hal terdekat dari kata saudara. Namun tujuannya ke sini adalah menolong Rey, memusnahkan Palpatine. Keraguan itupun lekas memudar ketika mereka mengangkat senjata masing-masing, menghujani Ben dengan serangan. Satu-dua pukulan mendarat di wajahnya, satu lagi menghantam perutnya. Ia limbung ke depan dan berlutut, spontan menyentuh area abdomen. Sepersekian detik memastikan nyawa di dalam sana baik-baik saja.
Bertahanlah, Ben separuh meringis.
Ben bangkit perlahan dan dapat merasakan atmosfer cemooh yang tak segan dilontarkan Knights of Ren. Mereka membiarkannya berdiri, seakan mengolok Ben dan berpikir ia tak lagi sanggup menghadapi mereka.
Saudara, pantatmu, Ben. Cibir pria itu pada dirinya. Seharusnya ia sudah tahu mereka tak pernah punya respek pada dirinya. Selama ini mereka hanyalah boneka anjing tanpa hati yang menuruti tuan mereka.
Kemudian Ben merasakan Rey berada sangat dekat dengannya.
Force bond.
Ia menghadap ke depan. Mereka saling tatap. Manik hazel gadis itu bertemu dengan manik cokelatnya. Ben menangkap maksud dari anggukan gadis itu. Dia akan memberinya lightsaber di genggamannya—lightsaber milik paman dan kakeknya—melalui force bond mereka.
Ben perlahan mengangkat saber yang kini berada di tangannya. Nyala biru dan raungannya membuat Knights of Ren mundur, terkejut akan kehadirannya. Ben menyeringai dalam hati. Ia mengangkat bahu, seakan memamerkan lightsaber biru itu.
Ta-da! Lihat siapa yang punya senjata sungguhan sekarang.
Detik berikutnya ia terlarut dalam pertarungan menghadapi para mantan rekannya, dengan mantap bertekad untuk bertemu dengan Rey—dan segera mengakhiri perang ini.
.
Hal terakhir yang ia ingat adalah, ia melayang di udara. Tak lama setelahnya tubuh itu bertumbukan keras dengan batu-batu, jatuh makin dalam ke jurang. Ben dapat mendengar suara seperti patahan di sana-sini bersamaan dengan petir yang menggelegar, namun ia terlampau lemas untuk memastikan apakah itu suara batu yang pecah atau tulangnya yang remuk. Ia mendarat pada singkapan berundak dengan suara berdebum keras. Lalu sunyi. Bahkan Ben tak dapat mendengar suara napasnya sendiri.
Di situlah ia kehilangan kesadaran sebelum mampu memastikan keadaan nyawa lain di tubuhnya, sebelum ia mampu berharap agar nyawa itu baik-baik saja.
.
Ben terbangun ketika mendengar gemuruh petir yang tepat berada di sebelahnya. Tubuh bagian kanannya benar-benar berada di tepian, kakinya pun terkapar begitu saja tanpa pijakan. Salah bergeser sedikit, maka ia akan jatuh makin dalam. Dengan susah payah ia berbalik, menelentangkan tubuhnya. Kepalanya terasa sakit dan telinganya berdenging. Kemudian ia teringat sesuatu.
Bayinya! Ia memekik.
Spontan tangannya meraih ke perut. Ben mendesah lega. Dia baik-baik saja. Detik berikutnya ia dapat menemukan detak jatung makhluk kecil itu, berdenyut teratur—seakan tak terjadi apa-apa. Bahkan dengan segala buku yang ia baca dan apa yang telah dialami sebelumnya, Ben masih dibuat takjub dengan seberapa kuat janin di tubuhnya. Yah, meski begitu pun Ben tetap belum bisa berhenti berpikir apa yang terjadi padanya juga dapat berdampak pada nyawa di perutnya. Seakan sudah menjadi nalurinya untuk berpikir seperti itu. Apakah dulu ibunya juga merasa seperti ini sebelum ia lahir?
Butuh beberapa saat baginya untuk meyakinkan diri bahwa janinnya akan baik-baik saja. Tak lama setelah itu telinganya berhenti berdenging, jadi ia beralih menjangkau Rey di atas sana.
Namun nihil. Ia tidak merasakan apapun.
Ini bukan karena kekuatannya melemah, bukan?
Rasa cemas mulai menyelimutinya.
Jika ia tak bisa merasakan Rey…
Ben menapik jauh-jauh sebelum ia menyelesaikan kalimat itu. Ia harus memastikannya sendiri. Ia harus keluar dari jurang ini.
Pria itu mulai memanjat, memaksakan jemari yang bergetar hebat dan otot perutnya sebagai pusat tumpuan seluruh tubuh. Tubuhnya yang kini dalam keadaan vertikal membuatnya menyadari seberapa besar sakit yang dirasakannya. Ia merasakan setidaknya ada beberapa tulang yang patah—mungkin remuk, terutama pada bagian rusuk ke bawah karena ia nyaris tak berdaya ketika ingin menggerakkan tungkai kakinya. Sedikit demi sedikit ia naik, menyeret tubuhnya ke atas, hingga jemarinya menggapai pijakan terakhir. Ia mengerahkan kekuatannya pada tangan kanan untuk mengangkat tubuh dan menyungkur ke samping, membiarkan dirinya terjembab sewaktu sampai di sana. Ia terdiam untuk mengambil napas dan menyiapkan diri, karena setelah ini ia akan menggunakan kakinya.
Ben tertatih, tersungkur, namun terus melangkah. Ia dapat melihat Rey sekarang, tergeletak—nampak seperti tertidur pulas. Napasnya tercekat ketika menyadari tubuh gadis itu diam, sama sekali tak bergerak, tak ada barang tarik dan helaan napas sekalipun. Semakin dekat dengannya, Ben dapat melihat matanya terbuka lebar. Namun tak ada cahaya kehidupan di sana.
Dada Ben terasa semakin sesak.
Pria bersurai gelap itu merengkuh tubuh kecil Rey dan memeluknya. Tubuh dingin gadis itu bertemu dengan miliknya.
Ia baru saja menemukan dirinya kembali. Namun orang-orang yang telah berusaha menuntunnya satu per satu pergi.
Ben mengeratkan pelukannya untuk menahan tubuh yang berguncang semakin tak terkendali.
Betapa ia menyia-nyiakan usaha mereka. Ayahnya. Pamannya. Ibunya...
Dan lihat apa yang ia perbuat sekarang.
Lihat siapa yang berada di dekapannya tanpa nyawa.
Bukankah kematian Rey juga merupakan kesalahannya?
Ya—
Tidak.
Rey tidak akan menyalahkannya. Dari apa yang dilihatnya dari mata orang di sekitar gadis itu, Rey adalah gadis pemberani yang lembut. Meski agak sembrono jika sudah yakin pada suatu hal—Ben terkekeh dalam hati. Gadis itu bahkan dapat melawan sisi gelap dalam dirinya selama ini, berusaha terus berada dalam garis sisi terang. Hal yang tak dapat Ben lakukan sebelumnya. Hatinya tidak sekokoh milik Rey.
Lalu, hari ini mereka berjuang bersama. Meski sebagian hal dilakukan Rey seorang diri, namun mereka telah berjuang bersama. Dan mereka menang. Palpatine musnah. Tak ada lagi omong-kosong perang dari kolot itu. Rey layak mendapatkan yang jauh lebih baik dari ini.
Ketika itu Ben merasakan sesuatu. Terhitung kecil. Ia nyaris melewatkannya, namun ia merasakan secercah itu.
Force belum sepenuhnya membawa gadis itu pergi.
Ben dapat membawanya kembali.
Ia tahu Rey akan melakukan hal yang sama jika ia berada di tempatnya. Ia tahu Rey tidak akan ragu untuk melakukannya, maka seharusnya ini bukanlah keputusan yang sulit baginya.
Namun sesuatu membuatnya berpikir dua kali.
Dalam tubuhnya bukan hanya ada nyawanya seorang, namun ada nyawa kecil yang berpusat pada perutnya. Apakah hal yang akan dilakukannya akan berdampak pada nyawa itu?
Untuk kedua kalinya—setelah menenggelamkan Kylo Ren, Ben menghadapi perang batin hebat dalam dirinya. Satu sisi mengatakan 'tidak', sisi lain mengatakan 'ya'.
Serta-merta Ben teringat dengan apa yang pernah dibacanya beberapa minggu lalu, 'Pemberian Force mampu bertahan hidup dalam kondisi apapun. Keberadaannya tidak akan terpengaruh dengan keadaan orang yang mengandungnya, selama memiliki medium yang cukup untuk mendukung kelangsungan hidupnya.'
Pria itu membuang napas, bergetar.
Mengacu pada itu, jika benar Ben akan melakukan ini, maka janinnya akan baik-baik saja, bukan?
Bahkan jika tubuhnya teronggok tanpa nyawa, janinnya dapat bertahan selama beberapa waktu—satu-dua hari, atau mungkin beberapa hari. Selama tubuhnya masih dapat memberi energi yang cukup untuk janinnya bertahan hidup.
Dan Rey akan selamat.
Barangkali ia dan orang-orang Resistance dapat menemukan cara untuk menyelamatkan janinnya. Memindahkan janinnya ke tubuh lain misalnya.
Entahlah, apapun itu.
Waktu mereka tak banyak. Ben dapat merasakan semakin lama ia berpikir, semakin banyak potongan-potongan Rey yang dibawa Force pergi.
Ia melepaskan pelukannya, menopang tubuh bagian atas gadis itu dengan tangan dan kakinya. Ia letakkan tangannya yang lain di atas abdomennya, mencoba untuk rileks kemudian.
Ia menutup mata, berkonsentrasi untuk menggapai Force sembari menyatakan bahwa keputusannya sudah bulat—dan mempasrahkan apapun yang terjadi setelahnya. Ben tak pernah melakukan ini sebelumnya, namun beruntung Rey menunjukkan caranya ketika ia menyembuhkan luka di tubuhnya saat di Kef Bir tak lama yang lalu—walaupun terasa sudah berlalu berhari-hari lamanya.
Ben sadar dengan resikonya. Namun untuknya, ini hanyalah bayaran kecil untuk sesuatu yang lebih besar—dan lebih baik adanya. Lebih baik jika Rey kembali. Ia punya teman, sahabat, dan sekelompok besar orang yang berjuang bersamanya. Dibandingkan dengan dia yang kini kehilangan segalanya, lebih baik jika Rey yang hidup. Gadis ini pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Ia memberikan segala yang mampu ia serahkan, menyalurkan seluruhnya ke tubuh Rey. Menyalurkan seluruh life force-nya yang tersisa pada gadis itu.
Sesaat setelahnya Ben dapat merasakan hangat di atas tangannya. Sontak ia membuka matanya, menoleh, dan manik cokelatnya bertemu dengan milik Rey yang kini berkilat dengan kehidupan. Ia dapat merasakan gerakan napas pada tubuh gadis itu.
Rey! Ben menatap tak percaya. Rey pun balas menatapnya, nampak terkejut.
Gadis itu telah kembali.
Ben berhasil membawanya kembali.
Mereka saling tatap untuk beberapa saat. Setelah mencernanya, Rey kini paham apa yang baru saja terjadi. Palpatine yang musnah dan kemenangan mereka, tubuhnya yang ambruk dan terbangun dalam rengkuhan Ben.
Hatinya penuh akan rasa terima kasih pada Ben yang telah membawanya kembali. Ia tersenyum seraya memanggil nama pria di hadapannya dengan lembut, sambil menelengkup pipinya.
Ben balas tersenyum, yang kelamaan berubah menjadi kekehan—tak berhenti bersyukur gadis itu berhasil kembali. Rey tersenyum lebih lebar, sempat takjub melihat senyum tulusnya untuk yang pertama kali. Dengan manik cokelat itu, Rey seakan sedang melihat Leia yang tersenyum padanya. Dia baru menyadari seberapa mirip Ben dengan orang tuanya. Ia benar-benar anak Leia dan Han, bisiknya.
Waktu berlalu cepat ketika Rey merasakan kulit wajah Ben kehilangan hangatnya. Senyum tulus menghilang dari wajah pria berambut hitam itu, kehidupan perlahan menguap dari kilat matanya. Ia menyempatkan diri berbisik pada Rey sembari melirik kecil ke arah abdomennya,
Rey, tolong jaga dia untukku.
Sebelum tubuhnya terkulai lemah dan ambruk di tanah.
Tak bernapas.
Tak bernyawa.
