Malam ini dipenuhi suara kembang api yang berhamburan di langit bak bintang kedua, rumah-rumah yang ada di komplek juga ada yang menyalakam kembang api sampai membuat berisik sekitar.
"Akaba, engga keluar liat kembang api?" tanya pemuda bersurai biru yang baru saja masuk ke ruang TV sambil menjinjing plastik berisi minuman kaleng.
Pemuda bersurai merah yang lebih pendek darinya berhenti memainkan gitar, lalu melihat ke pemuda surai biru itu. "Fuh ... Kakei-kun mau melihatnya?"
Kakei diem. "Engga ..."
"Fuh ... Kakei-kun tidak jujur, aku bisa menebaknya dari iramamu sekarang."
"Berhenti menggunakan bahasa musik itu."
Akaba mengabaikan perkataan Kakei. "Fuh ... jadi mau lihat atau tidak?"
Kakei mengangguk cepat.
"Mau di balkon kamarku atau di luar?"
"Dimana saja."
"Fuh ... kalau begitu duduk di pangkuanku."
"Mati sana."
Akhirnya mereka berdua menikmati kembang api dari balkon, kembang api yang sangat indah, berbagai bentuk dan sangat mempesona, mewarnai langitnya malam tanpa mengganggu bintang yang bersinar.
"Kakei-kun."
"Hm?"
Tiba-tiba saja Akaba menyetuh wajahnya dan Kakei merinding, tangan Akaba sangat dingin. Bukan itu! Akaba menyentuh wajahnya, Akaba menyentuh wajahnya, Akaba menyentuh wajahnya!
Bagaimana bisa? Dia naik kardus kah? Ehem.
"A ... apa?"
"Shun."
"Kenapa tiba-tiba-mmph?!"
Mata biru Kakei terbelalak saat Akaba mencium bibirnya. Keterkejutan itu membuat Kakei mendorong Akaba menjauh. Kakei mengusap bibirnya menggunakan punggung tangan.
"Apa yang ..."
Akaba tanpa bilang apapun, dia berbalik badan lalu kembali masuk dan pergi ke lantai bawah.
"Oi! Harusnya aku tidak mengiyakannya."
Kakei merasakan sesuatu di jari manisnya, saat tangan kanannya diangkat, di melihat cincin tersemat di jari manisny itu.
"Sejak kapan ...?! Dasar laba-laba menyebalkan."
