Kakei dan Akaba tengah bersandiwara layaknya di drama korea, angin sepoi menerbangkan dedaunan dan juga lagu sedih menemani kedua insan yang memiliki tinggi badan yang berbeda (lumayan jauh).
"Pssst ... kipas anginnya matiin Kuroki," pinta Takami pada Kuroki yang menjadi pemegang kipas angin agar suasana menjadi mellow.
"Akaba."
"Fuh ... maaf Kakei-kun."
"Kamu pembohong!"
"Dari awal aku sudah pernah bilang bahwa aku akan tetap memprioritaskan ini."
"Tapi ini sudah kelewatan! Janjimu hanya janji palsu."
Togano menyalakan sebuah perekam suara, ternyata itu lagu Janji Palsu yang direkam dari speaker.
"Fuh ... Kakei-kun, dengarkan aku dulu."
"Engga! Aku sudah muak."
"Kakei-kun."
"Pilih aku atau Isabel? Hayato, kamu harus memilih satu, jangan duakan aku!"
"Pssstt ... Takami akting Kakei bagus ya," bisik Unsui pada si sutradara.
"Fuh ... maafkan aku Kakei-kun, aku tidak bisa memilihmu, cintaku tetap pada Isabel." Akaba menggenjreng gitar listriknya.
"Ternyata benar, cintamu itu palsu. Kita sudah *** terus *** dan ***."
Unsui memakai peci. "Astagfirulloh, ternyata mereka suka melakukan hubungan terlarang."
Kisaragi nyeletuk, "Kakei bilang ngepet, ngamen dan ngen-nyemen."
Balik ke Akaba dan Kakei yang masih saling bertatap mata. Kakei sudah berlinang air mata buaya.
"Fuh ... cintaku padamu itu nyata Kakei-kun, tetapi aku tidak bisa meninggalkan Isabel, Isabel tetap harus diurus seperti malika."
"Kamu bohong! Sudahlah, hubungan kita sampai sini saja. Kita putus!"
Bagai tersambar petir, Akaba tak kuasa menahan rasa sakit di dadanya. Drama ini pun diakhiri dengan kandasnya kisah cinta sang pengamen jalan dan tiang listrik tercintanya.
Takami selaku sutradara bengong. "Apa yang sudah terjadi?"
