Kerusuhan di stasiun kereta membuat Sena sedikit penasaran apa yang terjadi di gerbang masuk, saat berhasil menyelip diantara kerumunan orang. Sena dikejutkan dengan Shin.

Kerusakan tiket gerbang masuk itu dilakukan oleh seonggok siswa dari SMU Ojo yang sangat kuat.

"Shin-san?"

"Hm? Kobayakawa Sena."

Tiba-tiba ada satpam menghampiri Sena. "Ini temen anda?"

"Hieeee?!"

Setelah kejadian itu terjadi Sena dipilih untuk membukakan gerbang tiket masuk untuk Shin, tadinya mau bilang bukan teman tetapi Sena sudah terlanjur kenal sama atlit bermuka datar satu ini. Mereka menaiki kereta dengan jurusan yang sama dan gerbong yang mereka tempati sedang sepi.

Hanya ada nenek-nenek dan mereka berdua. Saat menunggu kereta sampai ke stasiun berikutnya, Sena yang sudah kepalang mengantuk akibat bangun subuh untuk latihan pagi, menjatuhkan kepalanya ke bahu Shin. Shin tidak protes, dia hanya sekedar melirik Sena sehabis itu fokus saja lihat keluar jendela yang ada di depannya.

"Shin-san ... sangat kuat ..."

Dalam tidurnya Sena bermimpi tentangnya, menurut Sena, Shin lebih kuat darinya tetapi untuk Shin sendiri Sena lebih kuat. Sena berhasil mengalahkannya di Turnamen Kanto.

"Shin-san ..."

Namanya terus dipanggil oleh Sena membuat Shin sedikit risih sekaligus penasaran Sena mimpi apa? Kenapa dia disebut terus?

Tiba-tiba Shin teringat perkataan Sakuraba.

"Kayaknya Sena suka denganmu Shin, kalau kalian oulang bareng lagi terus Sena tidur, cium deh keningnya."

"Kenapa?"

"Itu bisa membuat Sena senang dan semangat."

Itulah kilas balik singkat percakapannya dengan Sakuraba. Apakah benar? Shin tidak tau, namun patut dicoba, saat Shin hendak mencoba saran Sakuraba dia teringat perkataan Takami.

"Shin, jangan cepat percaya sama Sakuraba, dia suka sesat. Tapi soal mencium kening ... masih bisa diterima, mungkin."

Mulailah kebimbangan seorang Shin, dia ingin Sena senang tetapi Takami mewanti-wantinya. Shin menengok ke kiri dan kanan, dia akan melakukannya, dia sudah memantapkan hatinya.

Yang Shin cium bukan kening Sena tetapi pucuk kepalanya, Shin tidak mau bergetak terlalu banyak dan membangunkan Sena.

Chu, setelah melakukannya Shin kembali melihat lurus ke depan, samar-samar rona merah mewarna pipinya. Dia lega melakukan itu tidak membangunkan Sena.

"Hohoho ... anak jaman sekarang," celetuk sang nenek yang melihat Shin mencium kepala Sena.