Hari ini Sena joging bersama Monta dan Riku, di tengah-tengah acara jogingnya mereka berniat untuk istirahat sebentar, usul dari Riku ini. Riku sedang dalam mode anak senja.

Mereka pun duduk di atas rerumputan dekat sungai yang mengalir indah ke samudra.

Lagi asik-asiknya menikmati langit sore dan matahari yang hendak tenggelam, muncullah manusia bergelar "Perfect Player".

"Shin-san!" Sena melambaikan tangannya, mulutnya membentuk senyum lebar.

Monta dan Riku melirik pada orang itu, lalu Riku pun berbisik, "Bentar lagi peran kita sebagai obat nyamuk akan mulai."

"Iya max!"

Mereka berdua pun melihat ke Sena yang berlari kecil menghampiri Shin, keduanya sangat fokus menonton Sena dan Shin adegan demi adegan.

Mereka kompak menggigit bibir bawah mereka saat melihat Sena dengan mesranya memeluk si Perfect Player.

Tanda iri, nasib jomblo. Maklum, mereka bukan lonte.

"Mesra banget mereka."

"Sena kayaknya lupa ada kita."

"Monta, mending kita lanjut lari yuk."

"Ayuk, tinggalin aja Sena max."

Saat mereka berdua berbalik, mereka dikejutkan dengan keberadaan dua manusia baru, mantan model dan koboi bermuka tua.

"Eh Kak Sakuraba kok ada disini?"

"Bukannya Kak Kid tadi lagi ngopi sama Hiruma?"

Sakuraba menggelengkan kepala. "Gatau, narator nyuruh kita masuk." Sakuraba nunjuk Kisaragi.

"Kayaknya aku di santet."

Empat nyamuk ini pun melihat ke Sena dan Shin masih sibuk pelukan dengan mesra.

Keempat nyamuk ini pun saling melirik, lalu memalingkan wajah dengan cepat.

"MUKYAAA! KENAPA KITA HARUS SOK MALU-MALU GINI SIH?! LAWAN MAINKU KAK MAMORI KEK!"

Riku diem saja, tidak ada perempuan yang muncul di benaknya, Suzuna kan sama Sena kalau Mamori sama Hiruma. Tidak ada perempuan lain, manajer perempuan sudah punya pasangannya.

"Ayo pulang Riku."

"Aku mau pulang, dadah, Riku, Monta dan Kid."

"MUKYAAAAA! AKU PULANG NGEJOMBLO GITU?!"

"Kisaragi lowong, menurutku."

"Kisaragi sama Gaou max! Kenapa Marco ada disini?"

Marco mengangkat kedua bahunya.