Izuna berjalan tenang di supermarket kota sembari mendorong trolli, sesekali ia mengambil beberapa benda yang dia perlukan. Belanja bulanan kali ini menjadi tugasnya, si Ibu yang meminta dan dengan berat hati ia tidak bisa menolak. Bagus sekali, akan mengkhawatirkan jika sampai teman kuliahnya ada yang tahu. Untuk itu ia mengajak Sasuke sebagai alasan. Ingatkan Izuna jika untuk ketiga kalinya ia belanja bulanan seperti ini demi Ibunya. Trolli yang dibawanya terlihat sudah cukup penuh tapi terasa masih ada yang kurang.

"Apa lagi yang perlu kita beli?"

"Sabun?"

"Sudah."

"Shampo?"

"Sudah."

"Pembersih lantai."

"Sudah."

Selebihnya Sasuke tidak menjawab lagi, memilih tidak menghiraukan kakaknya dan terus berjalan sembari memperhatikan deretan kotak susu yang tertata rapi. Di rak paling ujung, terdapat susu untuk Ibu hamil dengan berbagai merk. Kira-kira Sakura suka yang rasa apa ya? Ia tidak cukup tahu perempuan itu menyukai yang mana, lagi pula ia masih dengan Izuna. Mana mungkin Sasuke membeli benda itu di depan kakaknya. Tapi sungguh, ia sangat ingin membeli susu. Sakura harus meminum susu untuk kesehatannya dan bayi mereka. Bagaimana ini?

"Ada apa? Kau mau membeli apa sampai tercengang begitu?" Sasuke tidak tercengang, ia hanya bingung harus berbuat apa.

Izuna meneruskan langkahnya melewati Sasuke, beralih menuju rak-rak berisikan pasta gigi. Merepotkan sekali berurusan dengan kakaknya ini, dia tidak suka berbasa-basi dan kaku. Selama ini Sasuke yang banyak mengalah jika keduanya saling bertengkar. Ingat-ingat! Izuna itu tipe orang yang tidak mau mengalah. Ia hanya akan patuh pada yang mulia ratu Mikoto, tentu saja karena Ibunya itu yang paling berkuasa di rumah. Ayahnya saja yang gaharnya minta ampun akan bungkam jika Mikoto marah sampai memecahkan piring-piring kaca.

"Ibu bilang tadi kita harus membeli pasta gigi berapa? Aku lupa."

"Dua."

"Yang benar? Awas jika sampai salah."

"Pasta gigi itu tidak akan basi, kau beli selusin pun tidak jadi masalah. Kecuali jika Ibu menyuruhmu memakai pasta gigi itu untuk mencuci wajahmu, menyebalkan!"

Dasar tidak sopan, di depan umum begini dia berani sekali mengatai Izuna. "Diamlah, cepat ambil benda itu dan letakkan di trolli."

Lihat sendiri, Izuna mulai menunjukkan tingkahnya sebagai tukang perintah. Sasuke tentu menurut saja dari pada harus berdebat, setelahnya mereka melangkah menuju kasir dengan sedikit adu mulut yang tentunya dimenangkan Izuna. Sudah menjadi nasib Sasuke selalu ditindas kakaknya. Tapi meski begitu sebenarnya Izuna itu sangat menyayanginya, buktinya setiap kali Sasuke ada masalah pasti Izuna ikut memberinya jalan keluar. Setiap orang bisa saja menunjukkan rasa sayang mereka secara berbeda-beda bukan?

Antrian di kasir tidak terlalu panjang, hanya ada sekitar empat pembeli yang menunggu giliran. Dan ini semua membuat Sasuke lagi-lagi menginginkan susu tadi. Uang tabungannya bulan ini masih bisa digunakan untuk membeli keperluan Sakura dan calon anaknya. "Tumben sekali kau tidak membeli apa pun?"

"Aku sedang berhemat." Alasan saja, padahal sebenarnya pengeluaran Sasuke akan bertambah banyak lagi. "Apa ini masih lama?"

"Kau tidak lihat kita sedang menunggu antrian begini?"

Ya, Sasuke sangat tahu. "Nii-san."

"Hn?"

"Aku mau membeli sesuatu sebentar."

"Katamu mau berhemat?"

"Tidak jadi." Dia itu plin-plan sekali. Izuna mendengus jengah memperhatikan Sasuke yang mulai melangkah menjauh. "Tunggu aku di mobil."

"Ya, jangan terlalu lama."

Awas saja nanti jika Sasuke terlalu lama, Izuna akan meninggalkan adiknya itu di supermarket. Biar dia pulang dengan berjalan kaki. Waktu adalah uang, maka bagi Izuna membuang-buang waktu sama saja dengan menyepelekan hidup. Sasuke sendiri kini kembali ke rak-rak susu tadi, memilih beberapa kotak dengan varian rasa dan merk berbeda. Sungguh, ini lebih membingungkan dari pada soal matematika. Pertama kalinya Sasuke membeli susu Ibu hamil, dipandangi aneh beberapa orang pula. Ia harus cepat-cepat memutuskan, urusan belakangan Sakura suka atau tidak. Dan usai mengambil dua kotak susu, ia memandangi sekitar sembari mencoba bersikap biasa. Masa bodoh yang terpenting kebutuhan Sakura dan anaknya terpenuhi.

"Aku tidak peduli!!" Katanya menyemangati diri.

Tidak sampai di situ, penderitaannya datang kembali saat Sasuke membawa barang belanjaannya ke kasir. "Susu untuk Ibumu?"

"Iya, Ibuku sedang mengandung adikku." Adik yang mana? Mimoto saja sudah steril sejak melahirkan Sasuke. Dalam hati ia minta ampun pada Ibunya itu. Mikoto kan sudah tua sekali, dan lagi Izuna tidak akan sudi memiliki adik lagi. Sekarang ini Sasuke menerima kantung plastik berisi dua kotak susu milik Sakura begitu selesai membayar pada kasir, kemudian dengan terburu-buru ia keluar dari supermarket. Sedikit berlari menuju mobil toyota hitam yang terparkir tidak jauh darinya.

Orang itu jika terlalu lama menunggu akan mengomel tanpa henti. "Lama sekali??"

Benarkan?

Baru saja Sasuke masuk ke dalam mobil, Izuna sudah menyemprotnya dengan jengkel. "Apa yang kau beli?"

"Susu."

"Untuk siapa?"

"Untukku."

Tidak biasanya. "Oh, baguslah. Kau memang harus banyak meminum susu, tubuh kerempengmu itu benar-benar merusak mata."

Izuna sialan!

- 0 -

Memandangi makanan yang tersaji di meja, Sakura seakan tidak bernafsu sama sekali. "Ada apa denganmu? Kenapa tidak dimakan?"

"Ibu..."

"Ada apa?"

"Kenapa Ibu memasak kare?"

Mendengar gerutuan anaknya, Mebuki jadi mengerutkan dahinya heran. Tidak biasanya Sakura berkomentar mengenai makanan, anak itu bahkan terkesan tidak pemilih. "Memangnya kenapa?"

"Aku kan ingin nasi goreng." Sakura tidak menyadari jika ini semua karena bayi di perutnya.

Hanya ada ia dan Mebuki, kakaknya Sasori tengah bekerja di rumah sakit. Lalu kenapa juga ia tiba-tiba mengidam begini? Benar-benar merepotkan. "Besok Ibu buatkan nasi goreng, sekarang makanlah seadanya."

Jadi tidak bisa ya?

Mau bagaimana lagi, tidak mungkin ia memaksa Ibunya membuat nasi goreng sekarang. Sakura bermalas-malasan melahap makanan yang ada meskipun pada akhirnya tandas habis juga. Selesai makan malam, ia segera kembali masuk ke dalam kamar setelah sempat membantu Isabel membersihkan meja makan. Terasa sekali sepi, Ayahnya telah meninggal sejak beberapa tahun lalu akibat serangan jantung. Padahal waktu itu mereka telah berencana untuk menjumpai sanak keluarga mereka. Tapi Tuhan berkehendak lain. Waktu itu benar-benar menjadi masa pedih Ibunya. Dan kali ini Sakura seolah menyiapkan luka lagi.

"Kau harus bersabar sayang, besok nenek akan membuatkan kita nasi goreng." Sakura tengah duduk di atas ranjang, berguman pelan mengelus perut ratanya.

Anaknya harus bersabar. Kehamilan ini memang tidak mudah tapi ia harus melewati semuanya. Ino benar, semakin lama perutnya akan semakin membesar dan orang-orang akan tahu. Tapi mau bagaimana? Ia dan Sasuke masih ketakutan dengan pandangan orang lain. Memikirkan itu membuat Sakura merindukan Sasuke. Kira-kira apa yang dilakukan kekasihnya itu sekarang? Baru saja Sakura berniat mengambil ponselnya di nakas, benda itu sudah berdering sendiri dan memunculkan nama Sasuke di sana.

"Hei."

"Sasuke-kun, ada apa?"

"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mendengar suaramu." Dia selalu saja bisa membuat pipi Sakura bersemu merah. "Kau sedang apa di sana?"

"Aku baru saja selesai makan."

"Jadi sekarang sudah kenyang?"

"Sasuke-kun, kau jadi seperti Ibuku." Tentu saja, semua orang pasti akan kenyang sehabis makan. "Akhir-akhir ini aku merasa tubuhku semakin berisi, padahal porsi makanku sama seperti biasanya."

"Itu karena ada dia di perutmu, makanya kau jadi semakin gendut."

Diam-diam Sakura merasa ada sesuatu yang terasa mencubit perasaannya ketika mendengar ucapan Sasuke. "Jadi aku gendut ya?"

"Gendut atau tidak, bukan menjadi masalah."

"Jadi aku benar-benar gendut ya menurutmu?"

Sial! Sasuke sampai lupa jika perempuan hamil itu sangat sensitif. Sasuke memang tidak bisa melihat bagaimana reaksi Sakura, tapi ia yakin sekali jika kekasihnya itu pasti sekarang mencebik sebal sembari meremas bajunya sendiri. "Emm, maksudku..."

"KAU JAHATTT!!!" Terlanjur sudah, nasi sudah menjadi bubur. "Aku seperti ini juga kan karenamu, kenapa kau malah mengataiku gendut?"

Salah lagi. "Bu-bukan. Kau tidak gendut, kau itu menggemaskan sayang."

Bodoh sekali, ia jadi tidak bisa mengatur ucapannya begini. "Benarkah?"

"Ya, tentu saja." Anggap saja semua yang dikatakan Sasuke itu benar. Memang sih, jika diingat-ingat tubuh Sakura memang semakin berisi akibat usia kehamilannya. "Kau tidak mengantuk?"

"Belum."

"Kalau begitu sekarang tidurlah, tidak baik Ibu hamil tidur terlalu malam."

"Aku bukan Ibu-Ibu!!"

"Ya! Ya! Kau perempuan hamil, sekarang tidurlah."

Mulai saat ini ia benar-benar harus ekstra, ekstra berhemat dan ekstra bersabar. Perempuan hamil selalu menang, tidak ada istilah lain lagi. Sasuke tidak bisa menyurutkan senyumnya begitu telfon mereka terputus, Sakura benar-benar mampu mengubah harinya. Omong-omong ia sudah menyiapkan susu yang dibelinya tadi ke dalam tas. Besok tinggal ia bawa ke sekolah agar Sakura segera meminumnya. Masih dengan mengukir senyum, ia kembali fokus mengerjakan tugas sekolahnya.

"Tuhan, ku mohon mudahkanlah jalanku."

Semoga saja bisa.


To be continue...