Pagi ini, hujan mengguyur kota dengan begitu derasnya disertai angin kencang. Jalanan yang biasanya padat kini terlihat cukup sepi, hanya beberapa kendaraan saja yang berlalu lalang. Sasori memelankan sedikit laju motor besarnya untuk berhati-hati di jalanan yang licin. Aktifitas semua orang jelas sekali terhambat karena hujan, tidak terkecuali Sasori dan adiknya. Saat ini keduanya tengah dalam perjalanan menuju sekolah Sakura dengan mengenakan jas hujan kelelawar yang melindungi tubuh mereka dari derasnya hujan.
"Pukul berapa sekarang?"
Samar-samar Sakura mendengarkan Sasori bertanya dengan nada yang cukup tinggi, ia lalu mengeratkan pelukannya pada perut kakaknya itu. "Enam lebih lima belas."
"Lain kali jangan bangun kesiangan seperti ini lagi, kau tahu terkadang hujan bisa datang tiba-tiba tanpa permisi."
Dua kali. Ibunya sudah mengomelinya tadi, sekarang kakaknya pun ikut mengomel juga. Tahu begini lebih baik Sakura pura-pura sakit dan tidak sekolah saja. Sebenarnya memang salahnya sendiri karena tidak mau menuruti perintah Sasuke untuk tidur lebih awal, ia benar-benar tidak bisa memejamkan mata dan malah bermain zuma. Wanita hamil memang sulit dimengerti sikap serta inginnya. Sasori sama sekali tidak pengertian, Sakura jadi sebal sendiri. Beberapa menit terlewati, motor besar Sasori kini berhenti tepat di depan gerbang sekolah adiknya. Sakura terburu-buru turun untuk mencari perlindungan, disusul Sasori yang mengikutinya dengan membawa satu kantung plastik berisi kotak makan. Tadi ia tidak sempat sarapan sehingga ibunya membawakannya bekal, nasi goreng hangat yang diinginkan Sakura semalam.
"Ini, bekalmu." Sakura menerimanya dengan sigap. "Ya sudah, cepat masuk sana."
Sasori itu sangat tampan, usianya sudah matang, tubuhnya bagus dan banyak wanita yang mendekatinya. Tapi hingga detik ini dia tidak kunjung menikah. Sakura tidak berbohong, temannya saja banyak yang menyukai kakaknya itu. Lagi-lagi Sasori tidak peduli dan menganggap semuanya sebagai angin lalu. "Nanti kau bisa menjemputku atau tidak? Kalau tidak ya sudah nanti aku ikut temanku."
"Akan aku jemput."
Tidak mau memusingkan tentang Sasori, Sakura beralih melangkah masuk ke dalam gerbang sekolah. Sudah banyak sekali siswa-siswi yang tiba di sana meskipun hujan membatasi. Di antara kerumunan, ia menemukan Ino yang tengah duduk berdua dengan Shikamaru. Perempuan itu menulis sesuatu di bukunya dan Shikamaru yang membuka kitab bahasa. Sesekali terdengar gerutuan dari Ino yang ditujukan pada kekasihnya sendiri. Seperti tidak ada gunanya, Shikamaru itu tipe laki-laki penyabar, Ino mencaci makinya pun tidak akan berpengaruh apa-apa. Dasar! Sakura mengeryit sesaat kemudian melangkah mendekati mereka.
"Hai, kalian sedang apa?"
Shikamaru yang pertama mendongak, sedangkan Ino sama sekali tidak merubah posisinya. "Dia belum mengerjakan tugas, merepotkan sekali."
"Bagaimana bisa kau belum mengerjakan, Ino?"
"Diamlah, aku ini benar-benar lupa. Hei Shikamaru, cepat baca itu."
Pasangan aneh. Sakura melihat Shikamaru seperti teman Ino bukan kekasihnya, meskipun sebenarnya Shikamaru itu kakak kelas mereka. "Mmm, kalian melihat Sasuke-kun tidak?"
"Dia baru saja lewat, mungkin sekarang ada di kelas."
"Kau tidak masuk ke kelas, Ino?"
"Kau duluan saja, nanti aku menyusul."
Menanggapi ucapan Ino, Sakura berlalu menuju kelasnya. Masih belum terlalu ramai, sebagian teman sekelas Sakura memilih di luar. Sasuke yang tengah duduk sendiri di bangku deretan nomor dua tersenyum begitu mendapati keberadaannya. "Hai, kemarilah."
Lantas ia mengangguk antusias menuruti perintah Sasuke dan duduk di sebelahnya. Alis Sakura sedikit tertaut begitu melihat laki-laki itu membuka tas ranselnya sendiri, menunjukkan isinya pada Sakura. "Susu?"
"Ya, kemarin aku ke supermarket dengan kakakku. Sekalian saja aku membelikanmu susu."
"Coba kulihat." Dua kotak susu rasa coklat yang masih tersegel, Sakura mengambilnya dan segera memasukkan benda itu ke dalam tas miliknya. "Terima kasih."
"Hanya terima kasih?"
"Maksudmu?"
"Aku tidak diberi apa pun ya?" Dasar laki-laki penggoda.
Sakura mendengus malas menanggapinya. "Kau kan sudah ku biarkan bebas, kenapa masih saja meminta imbalan padaku?"
"Be-bebas apanya?"
"Iya bebas, memangnya kau mau mengandung anak kita?" Sasuke langsung cemberut dan memasang wajah kecewa. Ia harus selalu mengingat slogan Wanita selalu benar! Dipandanginya wajah Sakura, pipinya semakin tembam saja. Sasuke jadi gemas dan tidak tahan ingin mencubit pipinya. "Sakit!! Kenapa kau malah mencubitku?"
"Kau menggemaskan sekali, aku jadi tidak tahan." Benar, Sasuke tidak berbohong jika Sakura berubah menjadi menggemaskan semenjak dia hamil. "Omong-omong, aku semalam membaca artikel lagi. Wanita hamilkan biasanya mengalami morning sickness, kau mengalaminya tidak?"
"Ssstt, suaramu jangan terlalu keras." Anak mereka itu sangat pengertian dan tidak rewel, sejak awal kehamilannya Sakura sama sekali tidak kerepotan. Perempuan itu baru sadar tengah mengandung ketika dirinya mengalami telat menstruasi. "Sasuke-kun."
"Ya?"
"Kita... Apa akan terus seperti ini?" Semua orang akan tahu. Hujan yang masih turun dengan lebatnya seolah menyadarkan, Sasuke tersenyum tipis kemudian menunduk tak kuasa. Ia sangat takut! Kalau saja waktu itu mereka bisa menahan diri, masa depan cerah akan menanti. Sama-sama merasakan sakitnya, Sakura menggenggam erat jemari Sasuke. Mereka sudah berjanji akan melewatinya bersama, apa pun yang terjadi. "Sasuke-kun, apa sebaiknya kita..."
Ia bersumpah bahwa siapa pun tidak akan pernah bisa berdiri dengan luka. "Apa pun yang terjadi dia harus tetap lahir."
Ya! Sakura juga menginginkannya. Tapi melihat keadaan? Apa bisa?
- 0 -
Semenjak obrolannya dengan Sakura pagi tadi, Sasuke terus saja memikirkan bagaimana cara agar mereka tetap bersama dan menjaga anak mereka. Konsekuensi terburuk, Sasuke akan habis di tangan Ayahnya sendiri. Fugaku tidak akan berpikir panjang lagi harus menghukum anak memalukan sepertinya yang telah mencoreng nama baik keluarga. Saat ini mereka masih dalam kedamaian, tetapi luka itu kini tersemat, bersiap memberikan pukulan menyakitkan. Lagi-lagi ia diliputi rasa menyesal, kenapa selalu berada di akhir?
"Izuna, kau ini sudah besar. Kenapa masih saja bersikap manja begitu?" Mendengar suara berat Ayahnya, Sasuke tersadar dari segala ilusi.
"Memangnya kenapa? Aku kan anaknya."
"Ku tanya usiamu sekarang berapa?"
"Dua puluh dua."
"Kau sudah tua! Bersikaplah dewasa dan beri contoh yang benar pada adikmu." Puas sekali.
Sasuke susah payah menahan tawa ketika tahu Fugaku mengomeli Izuna yang tengah tiduran di paha Ibunya sembari bermain ponsel. Sedari tadi mereka memang berkumpul di ruang keluarga. Ibunya sendiri santai-santai saja, fokus menonton televisi. Di layar datar berukuran lumayan besar itu menampilkan berita malam mengenai kenakalan remaja. Mulai dari narkoba, perkelahian, hingga seks bebas sekalipun. Ayahnya seringkali menangani masalah demikian. Berkali-kali Sasuke dan Izuna mendengarkan, mereka harus berhati-hati dengan lingkungan serta pergaulan.
"Sekarang benar-benar marak sekali pergaulan bebas, kalian harus lebih berhati-hati."
"Sasuke saja yang suruh berhati-hati, dia kan nakal sekali." Sial! Mulut kakaknya itu manis sekali.
"Diamlah!" Syukur Fugaku mengomeli Izuna lagi.
Jujur saja.
Semuanya fatal, Sasuke yang paling bersalah karena telah membiarkan nafsu berkuasa. Bukan hanya keluarganya yang akan kecewa nanti, tapi juga keluarga Sakura. Ibu dan kakak laki-lakinya Haruno Sasori, Sasuke tidak bisa berpikir lebih jauh lagi.
Semakin dingin, Sakura merasakan bibirnya bergetar hebat. Sasuke yang melihatnya tidak bisa berbuat banyak, ia sendiri juga kedinginan tetapi berusaha sekuat tenaga menopang tubuh sendiri. Perjalanan ke puncak yang memakan waktu berjam-jam, ditambah lagi hujan lebat yang mengguyur muka bumi mengakibatkan mereka harus berteduh di pondok kosong. Tidak disangka-sangka Sakura terserang demam tinggi, acara mereka menghabiskan minggu berdua akhirnya berakhir buruk tidak sesuai rencana. Sasuke memperhatikan dengan lekat wajah Sakura yang benar-benar pucat pasi. Gadis itu memang rentan sekali terserang penyakit, tahu begini lebih baik ia membatalkan saja rencana mereka.
"Sasuke-kun, dingin."
Bagaimana ini? Seluruh tubuhnya juga basah kuyup sama seperti Sakura, hanya tersisa jaket kulitnya yang teronggok di meja berdebu. "Ak-aku... Sepertinya kita harus melepas baju basah ini."
Melepaskan baju dan telanjang berdua di tempat sepi? Jadi, setan mana yang merasukinya kali ini?
"Melepas baju?" Sakura bertanya dengan menakutkan alisnya. "Ta-tapi..."
"Kau demam Sakura, jika kau masih mengenakan baju basah itu maka sakitmu akan bertambah parah lagi."
Takut-takut ia menuruti, pada akhirnya mereka saling membelakangi dan melepas baju masing-masing. Menyisakan Sakura yang mengenakan dalaman, sedangkan Sasuke mengenakan boxer hitam saja. Ada rasa gelisah, Sakura kembali menggigil memeluk tubuhnya sendiri. "Sasuke-kun, bisakah kau memelukku. Aku dingin..."
Apa boleh? Ia takut sekali sebenarnya. Takut Sakura akan marah karena melihat tubuhnya. Takut akan tergoda pula. "Ta-tapi."
"Ku mohon, aku benar-benar kedinginan."
Tidak serta merta menerima, Sasuke menyerahkan jaket kulitnya pada Sakura. Setidaknya dia akan merasa lebih baik menggunakan itu. "Te-terima kasih."
Sakura beringsut ke sudut ruangan, masih memeluk dirinya yang hanya terlindungi jaket kulit milik Sasuke. Ini sangat memalukan! Berpenampilan seperti ini di depan laki-laki. Sepersekian menit keduanya menjaga jarak dan terpaku pada kediamannya masing-masing. "Sakura."
"Y-ya?"
"Aku... Bolehkah aku memelukmu?"
Rasanya aneh sekali ditatap lain oleh Sasuke, tapi Sakura mencoba tidak peduli. Ia mengangguk lemah menanggapinya, membiarkan Sasuke menerjangnya dengan pelukan erat. Mustahil sekali tidak ada gairah yang mulai meletup pada mereka. Sasuke dan Sakura jelas sekali ingin, godaan-godaan untuk berbuat lebih sepertinya memberikan sensasi kursi pesakitan. Entah kenapa Sakura tidak bisa menurunkan pandangannya dari Sasuke. Betapa ini sangat menyiksa, keduanya bahkan merasa semakin tidak tertahankan. Sasuke ingin sekali mencium Sakura, menciumnya sedalam mungkin.
Sampai pada batasnya, si laki-laki yang mengawali. Sakura meremas kuat jaket milik Sasuke begitu bibirnya dilumat dengan sangat lembut. Dosa dan aturan-aturan agama saat ini dilupakan, mereka berdua telah terbawa indahnya duniawi. "Ku mohon, aku minta maaf karena tidak bisa menahan diri."
Sakura terheran sesaat ketika Sasuke masih sempat meminta maaf padanya. Keadaan di luar semakin mendingin, tetapi hawa dalam tubuh mereka semakin panas dan menggebu. Kembali dipertemukan realita, Sasuke bertindak berani menyentuh tubuh sensitif Sakura dengan bibir yang masih saling mencecap mesra. Ini kali pertama mereka berlaku seintim ini, Sasuke sangat malu tetapi tidak bisa menghentikan tindakannya. Terasa hangat, ia bisa merasakan suhu tubuh Sakura yang menempel pada tubuhnya.
"Sakura, maaf."
Hanya deru napas yang saling memburu, hatinya bergejolak menerima sentuhan tangan Sasuke di dadanya. Sakura ingin menjerit tapi urung, bibirnya terus saja dikulum oleh bibir laki-laki itu. Telah ditenggelamkan nafsu, mereka sama-sama ingin tahu. Sasuke mengingat bagaimana wanita dan pria saling memuaskan diri di video panas yang ditunjukkan Naruto. Dia sering sekali membahas hal jorok, sialnya Sasuke kurang mengerti. Alhasil tiap kali ada koleksi film biru di ponselnya, Naruto akan mencekoki pikiran Sasuke dengan itu. Berakhir bukan pada keputusan logika, Sasuke telah mengambil kesucian Sakura. Dia mengerang tidak tahan merasakan setiap getarnya.
"Sasuke-kun, ini sakit sekali." Begitu saja mengalir, Sakura merasakan sakit yang tidak terkira hingga ia tidak mampu menahan tangis.
Abadinya tidak mungkin bisa terjamah, Sakura bukan lagi seorang gadis. Ia telah menjadi wanita meskipun belum saatnya. Lalu mereka berdua mulai menikmati setiap detik, Sakura terus-menerus mendesah karena Sasuke memberinya bahagia di antara luka. Dan kesalahan fatalnya, tidak ada yang tahu harus menghentikan ini dengan cara semestinya.
Petaka.
Celaka.
Sasuke melepaskan dirinya pada Sakura.
"Kau lihat, karena ulahmu Sasuke-kun jadi diam begitu." Lagi-lagi ia dipertemukan realita.
Masih sama, Sasuke termenung dalam diamnya. Izuna tetap tiduran di paha Mikoto, sedangkan Fugaku duduk santai di sofa minimalis. "Apa? Yang benar saja? Jangan berlebihan Ibu, Sasuke yang diam tapi Ibu malah menyalahkan ku."
Baiklah Sasuke, dia harus menghentikan kebiasaan buruk nya ini. Jangan sampai ada yang curiga selagi ia masih tidak bernyali mengatakan dengan jujur. "Kau kenapa, apa ada masalah?"
"Tidak, Ayah."
"Kalau begitu jangan terlalu banyak melamun."
To be continue...
